Saya merupakan anak bungsu dari keluarga petani yang lahir pada tanggal 15 Juli tahun 2000. Nama saya mungkin sedikit terdengar aneh dengan dua huruf konsonan yang berjajar yang sampai sekarang saya tidak tau bagaimana cara bacanya akan tetapi nama ini adalah pemberian dari kakek saya. Nama ini diambil dari nama seorang reporter kenamaan RCTI dengan harapan dengan memberikan nama tersebut saya dapat menjejaki karir seperti hal nya Zsa Zsa Yusharyahya yang merupakan reporter kenamaan pada tahun 70-an tersebut. Ayah saya merupakan seorang petani dan ibu saya merupakan seorang guru di sebuah taman kanak-kanak, meskipun ayah saya seorang petani tapi ia tak pernah menginginkan anaknya menjadi seorang petani meskipun masa kecil saya banyak dihabiskan di sawah untuk membantu sang ayah.

Saya tumbuh dalam keluarga dan pendidikan yang sangat kental dengan nuansa keislaman bahkan masa SMP dan SMA saya habiskan di pesantren tapi disitulah semua perjalanan pencarian makna itu bermula. Semenjak SMP saya sudah mulai suka membaca karena memang tidak ada hiburan lain selain membaca ketika dipesantren. Ketika dipesantren saya dipertemukan dengan berbagai macam manusia yang mengharuskan saya belajar memahami karakter dan menghargai perbedaan. Di pesantren saya mulai menggandrungi kegiatan traveling, backpacking, dan hiking dan hal-hal tersebut yang menjadikan saya mencintai Indonesia yang kaya akan kebudayaan dan keindahan alamnya.

Diperkuliahan saya mulai mengenal topik tentang ideologi, politik, dan gerakan dan topik-topik tersebut lah yang saya dalami hingga sekarang. Semua topik tersebut saya kenal di Himpunan Mahasiswa Islam atau biasa dikenal dengan HMI dan disitu pula menjadikan saya mencintai dunia diskusi dan membaca. Keinginan awal saya untuk menulis dimulai setelah membaca tetralogi pulau buru yang menjadikan saya berpikir bahwa dengan menulis saya dapat menyebarkan gagasan saya kepada khalayak yang lebih luas. Semangat untuk berbagi ilmu lah yang menjadikan saya lebih mantap untuk mulai menulis.

Saya juga merupakan seorang pengajar dan pembina asrama di sebuah pesantren di daerah peninggalan kerajaan mataram islam yaitu Pleret. Ketika menjadi seorang pengajar saya semakin sadar bahwa sistem pendidikan di Indonesia tidak efektif. Semenjak saya menyadari hal itu saya mulai mendalami tentang pendidikan. 

Ageng Indra

Ageng Indra

Editor dan penerjemah. Pengampu Klub Baca dan Klub Nonton.