Saya lahir sehari setelah hari ulang tahun Dr. K.H. Mustofa Bisri atau yang akrab disapa Gus Mus yang ke-56 tepatnya pada 11 Agustus tahun 2000. Saya lahir dan dibesarkan di Pati sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkan studi dan hidup di Yogyakarta, salah satu kota yang lekat akan nilai historis di setiap sudut kotanya. Sebelumnya saya adalah anak ke-2 dari dua bersaudara yang dibesarkan oleh ibu seorang diri kerana bapak telah lebih dahulu berpulang ke tempat yang seharusnya beliau berada di usiaku yang baru menginjak 7 tahun waktu itu. Tentu bukan hal yang mudah, apalagi harus besar dengan melihat orang-orang di sekitar hidup bahagia dengan anggota keluarga yang lengkap.

Saya tumbuh besar dengan biasa-biasa saja dan merasa cukup dengan semua itu. Namun, saya bersyukur karena saya hidup di lingkungan orang-orang hebat yang mengenalkan saya kepada banyak jenis karya audio, visual, maupun audiovisual. Sejak SMP saya selalu jatuh cinta dengan musik metal terutama Avenged Sevenfold yang menjembatani saya untuk masuk lebih dalam mengenal musik tersebut hingga sekarang. Saya selalu merasa bahwa lirik-lirik di lagu metal terasa lirih dan lugas dengan balutan tempo yang keras dan permainan melody gitarnya yang makin menghidupkan suasana. Selain itu, dunia kuliah mulai membbawa saya ke ranah film, mengenal banyak sekali opini-opini hebat yang dibungkus dengan seni audiovisual yang kompleks namun tetap sederhana.

Pencapaian selama hidupku juga tidak begitu banyak, sejak SD-SMA saya hampir tidak pernah merasa telah mencapai sesuatu meskipun kerap mengikuti lomba-lomba baik akademik maupun non-akademik. Hingga akhirnya tahun 2020 saya membuat film pendek pertama dengan judul GEGER, yang hingga saat ini masih didistribusikan ke beberapa festival film pendek. Di beberapa waktu belakangan saya juga ikut terlibat dalam pembuatan beberapa judul film pendek seperti Sugeng Tanggap Warsa, Keling, dan Yulia First Love karya teman-teman Cinema Komunikasi UMY. Film terakhir yang baru saja saya buat bersama mereka adalah Elusif yang di bulan Agustus kemarin baru discreeningkan untuk pertama kalinya. Selain hal-hal yang sudah saya sebutkan barusan saya hanyalah mahasiswa biasa yang sedang struggle dengan tugas akhir dan mencoba tetap bertahan hidup agar tidak mati terkubur eksistensi zaman.

Ageng Indra

Ageng Indra

Editor dan penerjemah. Pengampu Klub Baca dan Klub Nonton.