Untuk Tugas UTS (Ujian Tengah Semester)

Penulis memang sengaja memberi judul esai ini sedemikian rupa, mumpung belum seserius UAS (Ujian Akhir Sesmester) dan bingung akan diberi judul apa. Tugas di luar mata kuliah sejarah selalu menjadi tantangan tersendiri bagi penulis. Sebab, asal-usul penulis yang bukan berasal dari Jurusan Sastra Indonesia, melainkan Jurusan Sejarah. Walaupun letak jurusan bertetangga, soal ilmu terasa asing sekali atau penulis yang mungkin tidak pernah bergaul? Penulis berpendapat demikian karena diminta untuk “berkenalan” dengan pemikiran Linda Hutcheon mengenai posmodernisme. Setelah itu, pemikiran Linda Hutcheon dikaitkan dengan kumpulan cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Saksi Mata.” Tugas kait-mengaitkan itu digunakan untuk nilai UTS mata kuliah Sastra Sejarah. Untungnya, untuk tugas ini diperkenankan untuk memilih tiga hingga lima cerpen saja dari total keseluruhan 13 cerpen yang termuat dalam kumuplan cerpen ini (Ajidarma, 1999: vii).

Secara umum, kumpulan cerpen ini berkisah mengenai keadaan Timor Timur sewaktu aneksasi yang dilakukan oleh Indonesia. Secara khusus, beberapa cerpen yang dituliskan oleh Seno ini mengacu pada Insiden Dili atau Pembantaian Santa Cruz 1991. Oleh karena itu, perlu diketahui terlebih dahulu latar sejarah terkait dengan peristiwa ini. Aneksasi Indonesia terhadap Timor Timur tidak dapat dilepaskan dari gejolak politik di Portugal. Pada pertengahan 1970-an sebuah kudeta dilancarkan untuk menggulingkan pemerintah Portugal. Gerakan kudeta ini dikenal sebagai Revolusi Anyelir atau Revolusi Bunga. Gerakan kudeta berlangsung sebanyak dua kali, percobaan pertama terjadi pada 16 Maret 1974, tetapi gagal karena kebocoran informasi. Percobaan kudeta kedua dilaksanakan pada 25 April 1974 dan berhasil menggulingkan Perdana Menteri Portugal Caenano dan Presiden Americo Thomas. Percobaan kudeta ini digagas oleh angkatan bersenjata Portugal. Mereka tidak puas dengan kebijakan pemerintah yang berusaha meredam gerakan kemerdekaan di wilayah koloni-nya dengan cara mengirimkan kekuatan militer (Prakasa, 2003: 8-11).

Timor Timur yang merupakan koloni Portugis berusaha untuk memanfaatkan situasi tersebut untuk mencapai kemerdekaan. Pada pertengahan 1970-an, tiga partai politik besar didirikan di Timor Timur. Tiga partai politik tersebut adalah UDT (União Democrática Timorense), ASDT (Associação Social Democrática Timor) yang kemudian berubah menjadi Fretilin (Frente Revolucionária do Timor-Leste Independente), dan Apodeti (Associaçao Popular Democrática Timorense). Konflik ketiga partai ini tidak dapat dihindarkan. Pada Agustus 1975, UDT bergerak untuk melakukan gerakan pembersihan terhadap komunisme. Gerakan ini berhasil mengusir Fratilin dari Dili. Namun, Fratilin memiliki basis yang kuat di luar Dili yang tidak mampu ditaklukkan oleh UDT. Namun, Dili hanya dapat dipertahankan selama beberapa minggu saja oleh UDT, hingga akhirnya dikuasai oleh Fretilin (Kammen, 2015: 121-126).

Kemenangan Fretilin merupakan pintu masuk aneksasi Indonesia terhadap Timor Timur. Indonesia merasa khawatir terhadap infiltrasi komunisme sebagai akibat dari kemenangan Fretilin atas UDT (Ishizuka, 2004: 272). Invasi Indonesia terhadap Timor Timur dimulai pada awal Desember 1975 dengan penaklukan terhadap Dili. Setelah proses invasi selesai, Indonesia menetapkan Timor Leste sebagai provinsi ke-27 pada pertengahan 1976 (Papua New Guinea Post-Courier, 19 Juli 1976). Setelah itu, berbagai tindakan kekerasan terhadap masyarakat setempat seringkali terjadi, mulai dari penghilangan paksa hingga pembunuhan.

Di sisi lain, pendekatan postmodernisme Linda Hutcheon dapat diterapkan dalam analisis karya sastra. Karya sastra yang memiliki kecenderungan postmodern memiliki sifat parodis. Sifat ini ditunjukan dengan cara menyimpangi teks-teks yang pernah ditulis sebelumnya. Hal ini digunakan untuk menyampaikan gagasan dari pengarang dan jauh dari unsur nostalgis. Selain itu, karya sastra yang bersifat postmodern memiliki kecenderungan untuk menggoyahkan pusat. Akan tetapi, tidak memiliki anggapan bahwa pusat harus dihancurkan, pusat harus dipertanyakan dan dipersaingkan agar tidak menjadi dominan, sehingga pinggiran dapat diakui kehadirannya (Supriyadi, 2016: 3).

Karya yang bersifat posmodern menggunakan fakta sejarah yang ditampilkan tidak utuh dan disisipi teks lain. Sehingga, fakta sejarah dan fakta fiktif seringkali dicampuradukkan hingga menjadi kabur. Pencampuran antara fakta sejarah dan fakta fiksi ini tidak hanya dipandang sebagai kreatifitas pengarang. Akan tetapi, berusaha untuk menunjukkan kepentingan politik pengarang untuk menggambarkan sekaligus mengkritisi kondisi di masa kini. Oleh karena itu, karya semacam ini harus dipandang sesuai dengan waktu produksi atau penulisannya. Tanpa mengetahui hal ini, pembaca hanya akan terjebak pada nostalgia di masa lalu dan tidak mengerti bahwa penggunaan masa lalu sebagai cerita juga digunakan sebagai kritik terhadap masa kini (Meidiana, 2016: 13-14 & 18). 

Dengan demikian, penulis memilih karya yang berjudul Saksi Mata, Maria, dan Pelajaran Sejarah. Cerpen Saksi Mata berkisah mengenai seorang saksi yang hendak memberikan kesaksiannya di dalam pengadilan. Namun, saksi mata yang datang tidak dalam kondisi yang biasa. Ia buta, mata telah dicongkel dengan sendok oleh “ninja.” Namun, saksi mata tersebut merasa kejadian yang menimpa dirinya terjadi di alam mimpi. Dia akan memberikan kesaksian tentang pembantaian, sebab tidak ada yang mau bersaksi selain dia, tetapi persidangan ditunda. Pada malam harinya, saksi mata ini bermpimpi bahwa lidahnya kini yang diambil menggunakan catut (Ajidarma, 1999: 1-11).

Secara historis, cerpen ini sangat kabur dan seakan-akan tidak menunjukkan adanya fakta sejarah. Sehingga, cenderung seperti parodi atau lelucon, karena fakta fiksinya sangat mendominasi. Namun, bila dicermati lebih detail, Seno memberikan sebuah petunjuk mengenai Pembantaian Santa Cruz.

“Saudara masih ingat bagaimana pembantaian itu terjadi?”

“Saya Pak.”

“Saudara masih ingat bagaimana mereka menembak dengan serabutan dan orang-orang tumbang seperti pohon pisang ditebang?”

“Saya Pak.”

“Saudara masih ingat bagaimana darah mengalir, orang mengerang, dan mereka yang masih setengah mati ditusuk dengan pisau sampai mati?

“Saya Pak.”

….

Sewaktu pembantaian ini terjadi, tentara Indonesia menembaki massa pro-kemerdekaan dengan membabi-buta dengan senapan mesin selama beberapa menit ke tengah kerumunan. Hal ini membuat massa lari berhamburan dan mengalami luka tembak pada bagian punggung. Sedangkan tentara yang lain menendang serta menusuk orang-orang yang terluka dan beberapa orang yang tengah bersembunyi di pemakaman (Agung, 2018). 

Cerpen ini menjadi semakin tampak sebagai sebuah karya posmodern bila dikaitkan dengan pemikiran Seno yang ia tuliskan pada sebuah artikel setelah cerpen ini terbit. Artikel tersebut berjudul “Kehidupan Sastra dalam Pikiran”, yang diterbitkan oleh Kompas pada 3 Januari 1993 atau setahun sesudah cerpen ini diterbitkan oleh Suara Pembaruan. Seno berpendapat bahwa jurnalisme yang berisikan fakta dapat diembargo, dimanipulasi, dan terikat oleh berbagai kepentingan. Namun, sastra berisikan kebenaran hanya terikat oleh kejujurannya sendiri. Sehingga, menutupi fakta hanyalah tindakan politik sedangkan menutupi kebenaran adalah tindakan manusia yang paling bodoh (Kompas, 3 Januari 1993).

Cerpen Saksi Mata menjadi sebuah karya postmodern yang parodis sekaligus sarkastik bila disandingkan dengan pemikiran Seno tersebut. Cerpen ini menjadi sarkastik ketika ninja atau orang-orang berpakaian hitam yang hanya tampak matanya saja melakukan berbagai kekerasan terhadap saksi mata yang hendak memberikan kesaksiannya. Tujuannya untuk membungkam saksi mata ini. Namun, kebenaran tidak pergi kemana-mana, ia tetap berdiam disitu bersama-sama dengan mata yang tetap tercongkel dan lidah yang tercabut. Oleh karena itu, cerpen ini sangat sarkastik kepada orang atau kepentingan yang tidak menginginkan atau merasa dirugikan jika peristiwa pembantaian tersingkap. 

Selanjutnya adalah sebuah cerpen yang berjudul Pelajaran Sejarah. Cerpen ini berkisah tentang seorang guru sekolah dasar yang mengajak murid-muridnya belajar di luar kelas. Ia membawa murid-muridnya ke sebuah pemakaman untuk mempelajari sejarah. Ini merupakan tahun kedua ia mengajak murid-muridnya ke pemakaman itu setiap November. Sebenarnya tidak hanya belajar, Guru Alfonso juga ikut mengenang kejadian penganiayaan dan pembunuhan di pemakaman tersebut. Sebab, Guru Alfonso merupakan salah satu penyintas dari kejadian tersebut (Ajidarma, 1999: 65-71).

Cerpen ini merupakan sebuah karya postmodern yang kritis, ia mencoba untuk menuliskan sejarah yang berbeda dengan penulisan sejarah resmi. Ia menyelipkan percakapan bahwa antara Guru Alfonso dan muridnya. 

“Kenapa kita belajar sejarah di luar kelas?”

“Karena tidak semua hal bisa diajarkan dalam kelas.”

“Pelajaran sejarah macam apakah yang harus diajarkan di luar kelas?”

“Tentu saja pelajaran sejarah yang tidak bisa diajarkan di dalam kelas.”

“Tapi sejarah macam apakah yang tidak bisa dipelajari di dalam kelas?”

….

Seno berujar bahwa pelajaran sejarah yang diajarkan di dalam kelas tidak akan efektif. Sebab, kurikulum Indonesia waktu itu tidak memungkinkan seorang guru untuk mengucapkan apa yang dipikirkannya dengan bebas. Seno menyampaikan bahwa diperlukan suatu perjuangan bersama untuk mengajarkan sejarah pada tingkat Sekolah Dasar (Susanto, 2008: 65-66, 69-70).

Di sisi lain, cerpen ini berusaha untuk memberikan fakta sejarah Pembantaian Santa Cruz. Namun, Seno merasa bahwa penulisan pembantaian secara terang-terangan tidak memungkinkan, sebab akan kena sensor. Oleh karena itu, ia menggunakan akal bulus untuk mengelabui sensor. Seno bersikeras menggunakan akal bulusnya supaya pendapatnya mengenai kekejaman yang dilakukan oleh aparat keamanan dapat dipertahankan dalam cerpen ini (Susanto, 2008: 66-67). Seakan-akan ada usaha Seno untuk menjaga ingatan pembaca akan peristiwa pembantaian tersebut dan peran aktif aparat keamanan dalam proses pembantaian. Tekad Seno yang bersikeras memasukkan pendapatnya bertentangan dengan pernyataan pemerintah yang ingin mendiskreditkan pembantaian ini. Menteri Luar Negeri Indonesia Ali Alatas menyatakan bahwa pembantaian itu merupakan “kerikil di dalam sepatu”, sedangkan Presiden Soeharto menyatakan bahwa peristiwa itu merupakan “jerawat di wajah kita” (Santoso, 1996: 91). 

Berikutnya cerpen yang berjudul Maria yang berkisah tentang seorang ibu yang merindukan anaknya. Maria merupakan nama dari ibu tersebut, dikisahkan bahwa ia hanya hidup bersama adiknya Evangelista. Suaminya wafat sewaktu terjadi aneksasi Indonesia terhdap Timor Timur. Ia memiliki dua anak, Ricardo dan Antonio. Ricardo pergi meninggalkan ibunya untuk membalas dendam atas kematian ayahnya. Sedangkan Antonio sudah setahun lamanya menghilang tak ada kabarnya setelah terjadinya peristiwa itu. Akhirnya Antonio pulang, namun tidak ada yang mengenalinya, bahkan ibunya, Maria. Antonio pulang dengan wajah yang rusak dengan pakaian yang lusuh (Ajidarma, 1999: 27-35).

Cerpen ini merupakan sebuah karya yang cenderung nostalgis. Cerpen ini tidak mencoba mengkritisi Pembantaian Santa Cruz secara khusus. Namun, mencoba untuk menggali efek buruk dari pembantaian tersebut dari sudut pandang seorang ibu yang kehilangan anaknya. Seno ingin menunjukkan bahwa banyak orang menderita karena kekuasaan yang menindas. Hal ini berangkat dari beberapa fakta yang didapati oleh Seno bahwa hampir seluruh keluarga di Timor Timur dalam keadaan yang tidak lengkap. Banyak keluarga yang kehilangan anak, hingga keponakan yang rata-rata adalah lelaki. Bahkan memiliki anak perempuan adalah sebuah berkah tersendiri, karena perempuan jarang dikaitkan sebagai aktivis anti-integrasi (Ajidarma, 1997: 33-34). 

Secara historis, penangkapan dan penghilangan tidak sepenuhnya terjadi setelah Pembantaian Santa Cruz. Jauh sebelum pembantaian terjadi, penghilangan dan pembunuhan terhadap rakyat Timor Timur sudah terjadi. Pada 1980, sebuah daftar yang berisikan orang-orang yang ditembak atau dihilangkan dibawa ke Lisabon oleh seorang pengungsi. Bahkan pada 1981, DPRD Timor Timur menyampaikan berbagai keluhan lisan maupun tulisan mengenai kasus penyiksaan, pembubuhan hingga perlakukan kejam yang dilakukan aparat kepada Presiden Soeharto. Aparat keamanan menyasar pendukung Fretelin hingga orang-orang yang berpendidikan seperti murid seminari, perawat, pejabat publik dan guru. Mereka akan dibawa ke koramil untuk diinterogasi. Apabila yang ditangkap orang penting dan berpengaruh, maka akan ditahan beberapa bulan. Selanjutnya dikirim ke Dili dan ditahan di San Tai Ho. Setelah enam bulan penahanan, orang-orang ini akan menghilang tanpa jejak (Taylor, 1998: 178-180).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dua karya yang berjudul Saksi Mata dan Pelajaran Sejarah bersifat posmodern dan kritis, sedangkan satu cerpen yang berjudul Maria cenderung nostalgis. Baik karya yang bersifat posmodern, kritis maupun nostalgis, Seno tetap berusaha menyisipkan berbagai fakta sejarah ke dalamnya. Baik fakta sejarah tentang kekerasan aparat keamanan di Timor Timur secara umum maupun  fakta sejarah yang terkait dengan Pembantaian Santa Cruz secara khusus. Sebab, dalam pemberitaan dan keterangan-keterangan resmi terkait dengan Pembantaian Santa Cruz, dinyatakan bahwa, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) bersikap pasif dan cenderung melakukan aksi itu untuk melindungi diri. Oleh karena itu, pers diminta untuk menulis berita “seperti biasa” untuk menjaga stabilitas nasional (Ajidarma, 1997: 62-63).

Di sisi lain, penulis berpendapat bahwa karya ini merupakan bentuk dari rasa marah, kecewa, dan frustasi Seno setelah “pemecatannya” dari Jakarta Jakarta (JJ). Bila dicermati lebih jauh, seluruh cerpen ini ia tuliskan setelah pemecatannya dari JJ pada 14 Januari 1992. Ia dipecat bersama-sama dengan Waskito dan Usep karena pemberitaan mengenai Pembantaian Santa Cruz yang sempat terekam oleh kamera wartawan. Sehingga, tidak mengherankan bila Seno berusaha menampilkan sebuah adegan kekerasan dan kebrutalan yang dilakukan aparat keamanan secara jujur, gamblang, dan vulgar. Walaupun dengan berbagai akal bulus untuk mengelabui sensor. Sebab, pemberitaan melalui jalur jurnalistik yang terkekang oleh berbagai kepentingan hanya akan menimbulkan berbagai masalah, maka Seno berusaha memberitakannya melalui jalur sastra yang hanya terkendala oleh kejujurannya sendiri.

Daftar Pustaka

Surat Kabar

Papua New Guinea Post-Courier, 19 Juli 1976.

Artikel Jurnal 

Ishizuka, Katsumi. “Australia’s policy towards East Timor”, dalam Jurnal The Round Table, Vol. 93, No. 374, 2004.

Prakasa, Yoga. “Indonesia’s Annexation of East Timor: The Connection with the Carnation Revolution and the US Involvement”, dalam jurnal (tidak tersedia), Vol. (tidak tersedia), No. (tidak tersedia), 2003.

Supriyadi, “Postmodernisme Linda Hutcheon: Poetics of Postmodernism (1989) dan Politics of Postmodernism (2002)”, dalam Jurnal Poetika, Vol. 4, No. 2, 2016.

Buku

Aboeprijadi Santoso. 1996. Jejak-jejak Darah: Tragedi & Pengkhianatan di Timor Timur. Yogyakarta: Pijar.

Budi Susanto. 2008. Membaca Postkolonialitas (di) Indonesia. Yogyakarta: Kanisius.

Kammen, Douglas. 2015. Three Centuries of  Conflict in East Timor. New Jersey: Rutgers University Press.

Seno Gumira Ajidarma. 1997. Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Seno Gumira Ajidarma. 1999. Saksi Mata: Kumpulan Cerpen. Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya.

Taylor, John G. 1998. Perang Tersembunyi: Sejarah Timor Timur yang Dilupakan. Jakarta: Forum Solidaritas untuk Rakyat Timor Timur.

Skipsi, Tesis, dan Disertasi

Anan Meidiana. “Novel Arus Bawah Karya Emha Ainun Nadjib: Analisis Postmodernisme Linda Hutcheon”. Skripsi S-1. Jurusan Sastra Indonesia. Fakultas Ilmu Budaya. Universitas Gadjah Mada. 2016.

Situs Web

Seno Gumira Ajidarma, Kehidupan Sastra dalam Pikiran, 3 Januari 1993, dalam https://sukab.wordpress.com/2008/06/05/kehidupan-sastra-dalam-pikiran/, diakses pada 1 Oktober 2021.

Agung D. H, Tragedi Santa Cruz dan Sejarah Kekerasan Indonesia di Timor Leste, 12 November 2018, dalam https://tirto.id/tragedi-santa-cruz-dan-sejarah-kekerasan-indonesia-di-timor-leste-b4FM, diakses pada 1 Oktober 2021.


Posted

in

by