Refleksi tentang Rutinitas dari Kegiatan Arsip dan Siniar di Pekan Ketiga

Tidak terasa para volunteer sudah memasuki pekan ketiga, dengan kegiatan yang ku tunggu-tunggu, yaitu siniar. Sebelum berbicara tentang siniar, ada poin penting menarik yang aku dapatkan dari kegiatan lainnya di pekan itu, yaitu arsip. Konon katanya kegiatan ini sangat membosankan karena tugasnya sangat sederhana, yaitu membuka penutup mesin scan, dan memindai satu per satu halaman majalah yang menjadi tugas kita saat itu. Seperti abang-abang fotokopian katanya. Bukan konon katanya lagi, memang aku akui mengarsip memang pekerjaan membosankan karena itu tergolong kegiatan rutinitas. Namun, aku menemukan poin menarik juga penting dari kegiatan ini, yaitu rutinitas itu sendiri. 

Pengamatanku sejauh aku hidup ini, rutinitas sering menjadi pintu masuk permasalahan sebuah sistem. Ketika kita larut dalam pekerjaan yang mudah, kita menjadi nyaman dan malas berfikir, dan masalah pun terjadi, yaitu otak yang memancing kesadaran dan kreativitas, alias high order thinking kita menjadi menurun. Kegiatan mengarsip kemarin cukup bisa membuat aku merasakan seperti seorang ASN yang sedang mengerjakan pekerjaan administrasinya. 

Namun, aku berfikir bukankah pekerjaan rutinitas itu sangat diperlukan? Apalagi jika berkaitan dengan permasalahan yang berkaitan dengan publik. Contoh saja arsip ini. Jika tidak ada orang yang berani meresikokan dirinya terjerumus dalam biang rutinitas, manfaat dari arsip, yaitu sumber pengetahuan yang long-lasting, tidak akan tercapai kan? Jika tidak ada yang mengurusi perihal surat menyurat dan legal formal di lembaga publik seperti kesehatan dan pendidikan, tentunya alur informasi di dalam sistem tidak bisa berjalan dengan baik. 

Sampai sini aku merefleksikan bahwa manusia perlu untuk dealing dengan rutinitas dengan menjaga kesadaran dirinya, bukan menghindarinya. Kenapa pikiranku menganggap ini sangat penting? Mungkin karena aku sering merasa khawatir dengan dampak negatif dari rutinitas itu sendiri jika tidak dibarengi dengan kesadaran diri, yaitu kebosanan hingga berujung ke kesehatan mental. Permasalahan mental ini aku lihat trennya menjadi penyebab permasalahan sosial lainnya, contohnya saja masalah klitih yang kerap terjadi akhir-akhir ini di Jogja.

Refleksi ini membuatku semakin yakin bahwa sejatinya sekolah memiliki peran penting untuk berlatih kesadaran diri. Kesadaran akan kelebihan dan kekurangan, minat bakat, serta potensi yang ada di dalam diri. Sebab, ilmu pengetahuan sudah turah-turah tersedia di jaringan internet. Untuk mengakses skill tertentu pun sudah banyak komunitas dan lembaga pelatihan secara online atau offline yang menyediakannya. Lalu, apa relevansi sekolah? Bisa jadi ya ini, mendidik untuk menemukan dirinya. Berkat kesadaran itu, menurut hematku itu bisa membuat generasi ke depan setidaknya punya pertahanan untuk survive di kehidupan yang semakin absurd.

Kembali lagi ke konteks, yaitu kegiatan arsip di Radio Buku untuk pekan ketiga. Kegiatan kemarin aku berusaha untuk mengambil hikmahnya, yaitu berlatih untuk bisa dealing dengan rutinitas. Di hari selasa, aku mengobrol dengan Hanif, atau kerap dipanggil Suket. Dari panggilannya, sepertinya nama panggilan itu cocok dengan profil kepribadiannya yang sangat njawani dan tentunya rendah hati. Dia salah satu volunteer batch 8 juga, dan dulu bersekolah di pesantren di Jombang.

Ada pembicaraan menarik juga di sela kebosanan memindai majalah. Dia menanyakan pendapatku terkait anak yang terlalu terbebani dengan ekspektasi orang tua, dan praktik pendidikan yang menggunakan media kekerasan. Entah mengapa, jika ditanya tujuan manusia hidup untuk apa, ya untuk menemukan siapa dirinya. Bagiku, dari situ kebahagiaan diri akan muncul. Jadi, ketika ditanya dua pertanyaan di atas oleh Suket, bagiku peran orang tua tidak lagi dapat berekspektasi sesuai frame pemikiran orang tua, tetapi cukup memberikan arah kepada anak untuk dapat menemukan potensi dirinya sesuai denga frame pemikirannya. 

Begitu juga dengan jawaban terkait pendidikan yang menggunakan kekerasan. Cukup menarik untuk menyadari bahwa ternyata ada orang yang lebih bisa dididik dengan kekerasan sehingga menjadi sadar dibanding dengan tidak kekerasan. Bagiku, ini adalah penemuan kasuistik. Jadi, jawabanku atas pertanyaan itu kepada Suket adalah untuk kasus tertentu, asal alasan dan hipotesa menggunakan metode kekerasan itu sejalan dengan upaya menemukan kesadaran diri, sah-sah saja, meskipun aku tetap berpendapat awal bahwa metode kekerasan tidak seharusnya digunakan di pendidikan. Meskipun kita berbeda pendapat akan hal ini, tetapi aku senang bisa berdialektika sehat, mungkin ekosistem ini yang seharusnya dibangun di perkantoran agar pikiran tetap sehat ketika dealing dengan rutinitas.

Kegiatan siniar, tidak ada yang berkesan selain menjajaki studio Radio Buku dan esai yang kutemukan dan kubacakan untuk tugas. Sayangnya, karena aku tidak bisa hadir kelas hari Sabtu, jadi kejadian yang berkesan buatku adalah ketika di dalam studio saja. Esai yang kubaca adalah karya Yudi Latif, menjelaskan tentang menemukan kepahlawanan dalam diri. Aku sependapat dengan tulisan beliau bahwa pendidikan erat kaitannya dengan transformasi sosial di masyarakat. Perubahan sosial dapat terjadi jika masyarakatnya adalah masyarakat yang mandiri untuk dapat berkembang, dan juga berdaya setidaknya untuk dirinya sendiri. Beliau menggunakan perumpamaan peran altruist dan magician. Di tengah hiruk pikuk yang tercipta akibat sikap rakus manusia akan kekuasaan, peran manusia yang altruist adalah obatnya. Sedangkan, untuk terwujudnya perubahan sosial itu sendiri, maka sikap-sikap yang terkandung pada magician lah yang terjadi, yaitu mereka yang aktif sebagai pembuat perubahan dan percaya akan kekuatan visi akan menciptakan momentumnya tersendiri. Aku baru menemukan esai terbaik sepanjang masa ku.


Posted

in

by