Para Perempuan yang Abadi dalam Kekekalan

Kartini merupakan sosok perempuan yang paling sering disebut lagi digaungkan namanya. Terlebih ia dikenangkan dalam buku-buku sejarah, lisan, hingga lagu wajib nasional. Namanya yang mendapat banyak tempat tersebut, menjadikan sosoknya seolah-olah menjadi perempuan yang paling berkontrubusi dalam sejarah Indonesia. Barangkali demikian pemikiran saya sewaktu belajar di bangku sekolah hingga akhir-akhir menjelang kelulusan sekolah. Kemudian saya dikenalkan oleh tokoh-tokoh perempuan lain, yang juga sama-sama melawan dan memperjuangkan apa yang menjadi haknya, Marsinah. Paling tidak begitulah gambaran saya sebelum kemudian berkenalan dengan tokoh-tokoh perempuan lain hingga kemudian mengantarkan saya pada muara kenalan baru dengan tokoh-tokoh perempuan baru.

Iya, membaca Yang Terlupakan dan Dilupakan adalah suatu kesempatan yang bisa saya peroleh. Membaca pengantarnya yang ditulis secara kolektif oleh Dewi Kharisma, Michellia, Dewi Noviami, dan Indraswari Agnes sedikit banyak memberikan gambaran dan posisi perempuan yang akan diulas dan dibaca di buku ini. Saya berterima kasih betul atas apa yang dilakukan oleh Ruang Perempuan dan Tulisan dan sepakat serta mengamini tujuan yang hendak diwujudkan, yaitu sebagai kerja sebuah mesin pengingat. Pun juga pengatar yang ditulis oleh Ayu Ratih dengan melontarkan pertanyaan perihal ingatan terhadap karya macam apa yang mampu bertahan lintas zaman? Pertanyaan tersebut terjawab dengan gamblang lagi lugas dalam tulisan-tulisan sepuluh perempuan yang melakukan pembacaan atas sepuluh tokoh-tokoh perempuan penulis di buku ini.

Sepuluh perempuan penulis yang lahir dan hadir dari berbagai zaman dan tantangan yang berbeda. Besar di lingkungan yang berbeda pula, menjadikan pembacaan akan para perempuan tersebut menjadi begitu heterogen. Tersebab heterogenitas tersebut, bukan berarti kemudian tak ada kelindan antar ke semuanya. Terdapat kesamaan dan benang merah yang saling bertalian satu sama lainnya, perihal perempuan. Pembacaan akan catatan sepuluh perempuan di buku ini merupakan gambaran gerakan perempuan yang ingin menuju kemerdekaan. Kemerdekaan atas dirinya sendiri, pilihan hingga hak-haknya yang banyak tak disadari belum bisa didapatkan secara penuh, bahkan hingga hari ini.

Sebagaimana Ayu Ratih yang sepakat dengan hadirnya misi buku ini -menjadi mesin pengingat, saya juga turut serta menyetujui hal tersebut. Membaca buku ini, saya hendak membagikan refleksi saya atas pembacaan dari mesin pengingat yang menjelma menjadi suatu kekelan.

Keterhubungan para perempuan

Saya dibuat tergugu setiap selesai membaca tulisan pembacaan para perempuan di buku ini. Bahkan, saya dibuat menangis tersedu sedan setelah membaca ulasan perempuan-perempuan tersebut. Lebih tepatnya adalah saya menangis setelah membaca tulisan Giovanny perihal S.Rukiah dan Isyana Artharaini mengenai Suawarsih Sjojopuspito.

Dalam refleksi saya, kedua tokoh tersebut memiliki kesamaan yang cukup mirip. Keduanya menerbitkan novel semi-otobiografi tentang diri mereka. “Kejatuhan dan Hati” karya S.Rukiah adalah potret dari sedikit banyak akan hidup yang ia jalani. Begitu juga dengan Soewarsih yang menulis Manusia Bebas merupakan gambaran kehidupan yang ia lakoni. Kedua novel tersebut memiliki kesamaan dalam penokohannya, yaitu perempuan yang menjadi lakon utamanya.

Jikalau Kejatuhan dan Hati menurut Giovanny dalam pembacaannya adalah melihat peristiwa Madiun 1948 dari sudut pandang dan kegalauan seorang perempuan muda yang simpatik terhadap revolusi, dan di lain sisi juga menjadi krisis personalnya. Tokoh Susi, seorang perempuan dalam ceritanya tak banyak dihargai usahanya dalam gerakan revolusi yang saat itu ia menjadi Palang Merah. Gambaran mengenai relasi kuasa yang timpang digambarkan dengan jelas oleh Rukiah. Di Novelnya yang lain, Tandus, ia mendapati kritikan dari H.B Jassin yang menyiratkan adanya deskriminasi gender dalam dunia sastra. Ia melihat karya Rukiah sebagai karya yang masih terkungkung pada pengalaan pribadi yang terbatas, alih-alih terangkat menjadi sesuatu yang universal. Apa yang dikritikkan Jassin menimbulkan bias patriarki dalam institusi sastra, dan bahkan hal tersebut dijadikan acuan.

Jikalau Rukiah mendapatkan kritik yang bias patriarki, berbeda halnya Suwarsih yang dalam Manusia Bebasnya yang mendapatkan respon positif dari H.B Jassin. Bahkan dialah yang meminta secara personal -melalui suratnya- untuk menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Indonesia -Manusia bebas terbit kali pertama dalam bahasa Belanda dengan judul Buiten het Gareel. Meskipun mendapati respon yang berbeda, apa yang ditulis Suwarsih dalam bukunya tak jauh beda dari apa yang juga ditulis oleh Rukiah. Manusia Bebas menggambarkan pergaulan Sulastri dan Sudarmo di kalangan proletar intelektual. Di dalam bukunya, ia menceritakan perihal perempuan yang masih mendapati kesenjangan dan deskriminasi, sekalipun perempuan tersebut mengikatkan dirinya dengan pria yang paling “sadar secara sosial”. Ternyata hal tersebut tidak cukup menjamin kebebasan perempuan akan dirinya sendiri, ia masihlah dituntut untuk selalu tunduk di bawah kepatuhan.

Yang paling membuat saya tergugut ketika membaca Suwarsih adalah bagaimana ia mencoba memotret perempuan-perempuan di masa itu dengan apik lagi lengkap. Oleh Shackford-Bradley, Suwarsih berkeinginan untuk menghasilkan prosa dan potret perempuan-perempuan nasionalis. Dan puncaknya adalah ketika ia mendeskripsikan sosok Inggit atau Zus Karno yang dengan jelas ia menulis “alangkah luwes dan halus perempuan cantik ini.”

Dalam kacamata saya, sosok Suwarsih adalah potret perempuan cerdas lagi realistis. Ia yang dibesarkan di lingkungan yang berpendidikan dan mahir dengan berbagai bahasa, mengantarkannya untuk menerbitkan buku-buku terjemahan. Bagi saya, ia adalah potret dari kekejaman bangsa ini yang hanya mencari peruntungan dari manusia-manusia yang menapak di atasnya. Ia dengan gamblang menyebut diri dan suaminya -Soegondo Djojopuspito- sebagao gombal yang dibuang setelah ia membayar mahalnya kebebasan.  

Setelah dua tokoh tersebut, saya diajak memahami Omi Intan Naomi oleh Rain Chudori. Omi adalah perempuan yang dalam kacamata saya memiliki jalan yang cukup berbeda dari sembilan perempuan di buku ini. Ia merupakan perempuan yang cerdas lagi berbakat sedari ia masih berusia belia. Merefleksikan perjalanan hidup Omi mengantarkan saya pada satu kesimpulan subjektif perihal perubahan. Perubahan adalah suatu hal yang abadi lagi kekal.

Omi yang terlibat aktif dalam kegiatan seni, sastra, pertunjukan teater hingga perhelatan percetakan atau penerbitan yang penuh dengan riuh gaduh orang-orang berlalu lalang. Kesemuanya itu menjadi padam, bahkan tak pernah dirasai Omi selepas ia berkenalan dengan internet. Komputer bekas yang dibelinya dari hasil kiriman rutin artikelnya, mengantarkan ia pada media yang bernama blog untuk menyebarluaskan karyanya. Dari penuturan Bunga Jeruk, hadirnya internet membuat Omi sering menghabiskan waktunya untuk berselancar ke dunia maya.

Meskipun demikian ia juga sempat menerbitkan buku non-sastranya yaitu Anjing Penjaga: Pers di Rumah Orde Baru dan The Sound of Silence and Colors of the Wind between the Tip of a Cigarette and Fire of the Lighter: 17 Years of Ugo Untoro’s Fine Arts (2008). Pribadi Omi yang menurut Bunga Jeruk sebagai seseorang yang berpendirian teguh, bersemangat, dan penuh perhatian merupakan bentuk representasi yang berbeda akan gambaran perempuan yang dikontruksi oleh masyarakat sebagai individu yang lemah, tak berdaya, dan selalu ditindas. Pun juga bagaimana sikap Omi ketika menyikapi hubungannya dengan Ugo adalah representasi perempuan yang merdeka atas pilihannya sendiri.

Omi dengan cinta tak bersayaratnya dalam puisi-puisinya mengajak para pembaca untuk merenungkan kembali arti cinta yang sebenernya. Cinta yang memberi lagi menerima, tidak pilih kasih bagi sesiapa dan apa. Rain Chudori menginterpretasikan penggambaran cinta oleh Omi dalam karya puisinya dapat dimaknai sebagai praktik cinta tanpa syarat, yang ekspansif dan abadi.

Perempuan dan ketertindasannya di tiap zaman

Di setiap tulisan dari sepuluh perempuan penulis, mereka memiliki keterhubungan dan kelindan yang sama yaitu soal perempuan. Sepuluh perempuan yang berbeda zaman, mereka konsisten atau seakan memiliki kesamaaan perihal isu perempuan yang bisa ditemui di tiap-tiap tulisan atau gerakan para perempuan tersebut. Isu perempuan yang terentang dari berbagai zaman merupakan sebuah gambaran bahwa perempuan belum benar-benar mendapatkan hak atas kemerdekaan dirinya secara penuh. Perempuan masihlah tertindas, terpinggirkan, terkungkung dalam kepatuhan dan norma adat-istiadat, serta masih dipandang sebagai objek yang fungsionalnya sebatas untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan laki-laki. Perempuan tak benar-benar mendapat hak atas keputusan-keputusannya sendiri. Yang mereka dapati adalah pilihan-pilihan yang diajukan oleh pihak lain (laki-laki dan pihak yang mempunyai kuasa lebih).

 Belum lagi dengan patriarki yang kental sedari sebelum zaman penjajahan hadir, hingga hari ini perempuan masihlah terus bergelut untuk kemerdekaannya sendiri. Sistem yang demikian itu menjauhkan perempuan akan pemahaman atas dirinya sendiri, hingga kemudian mereka merasa bahhwa adat istiadat, norma, dan kepatuhan yang dirumuskan oleh masyarakat sudah menjadi bagian dari mereka sendiri. Yang bahkan hal-hal semacam itu dalam pandangan perempuan -yang tertindas- tidak semestinya dipertanyakan.

Oleh karenanya, membaca buku ini mengajak sesiapa untuk kemudian merefleksikan ulang perihal perempuan yang merdeka atas dirinya sendiri. Sebagaimana pertanyaan yang diajukan Ayu Ratih di pengantar buku ini, maka dengan penuh saya menjawab bahwa ingatan yang dituangkan dalam buku ini adalah potret dari gambaran yang dapat melintasi zaman.


Posted

in

by

Tags: