Pada Sebuah Kunjungan yang Tiba-tiba

DPAD DIY | Selasa, 13 September 2022 | 13.00 – 15.00 WIB 

Jadi, DPAD itu singkatan dari Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah. Sengaja kujabarkan, sambil menguji ingatanku yang memang sedikit menyedihkan jika bersinggungan dengan akronim. Perjalanan ke sana adalah perjalanan yang sedikit tiba-tiba. Oleh teman-teman fasilitator secara mendadak mengganti agenda pekan kedua, yang tadinya melakukan penyusunan pustaka menjadi kegiatan kunjungan ke berbagai tempat dan komunitas. Kegiatan ini dianggap dapat menjadi sumber informasi menambah pengetahuan seputar sejarah dan kebudayaan hingga perihal media kepenulisan di Yogyakarta. Tentu saja ini menjadi opsi yang jauh lebih menyenangkan. Kunjungan ke DPAD DIY pun menjadi kunjungan hari pertama. 

Fokus pada sebutan Perpustakaan dan Arsip, tadinya aku berpikir ketika sampai di sana akan berhadapan dengan buku-buku atau bundelan arsip sejarah. Big No! Ketika aku diminta untuk melepas alas kaki dan kemudian diberikan sebuah name tag dengan tali kalung berwarna merah, menjadi tahulah aku bahwa bentuk arsip yang dimaksud semacam arsip modern dengan tampilan audio-visual yang memukau. Diorama Arsip Jogja, begitu nama bangunan itu dikenal. Bangunan yang pada Februari 2022 lalu baru saja diresmikan oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Bowono X ini memang bisa disebut bukan sembarang bangunan arsip. 

Jika memakai istilah Berryl, salah seorang teman fasilitator, Diorama Arsip Jogja merupakan kolaborasi maha karya dari para sejarawan dan seniman. Tak terkecuali adanya peran-peran dari kalangan lain, tentu saja. Siapa pun mereka yang telah berkontribusi di sana, aku merasa berterima kasih. Ya, aku sendiri. Tanpa merasa sedang mewakili siapa pun yang pernah dibuat terpukau oleh keindahan Diorama Arsip Jogja. Mau mewakili bagaimana? Tulisan ini hanya boleh mewakili diriku sendiri, dan sejujur-jujurnya hanya mewakili kebutuhan tugas jurnal di pekan kedua. Ups, hehe. Begitupun, aku mencoba menuliskannya dengan sebaik-baiknya meski sudah lewat batas deadline berkali-kali. Duh, jadi membobo ya? Mem-Bongkar Bobrok. 

Apa yang kusebutkan sedari tadi dengan kata “terpukau” atau “memukau” sulit sekali rasanya digambarkan lewat tulisan. Entahlah. Terasa sulit atau aku saja yang memang sedang malas mengolah kata per kata, kalimat per kalimat. Belum lagi, ada pula perasaan lain yang kukhawatirkan. Terpukau, bukankah seringkali adalah perasaan yang berlebih-lebihan? Yang hanya sekelebat hadir, lalu sirna begitu saja. Cukup menunggu seminggu-dua minggu berlalu. Maka, sirna. 

Hari ini, saat jurnal mingguan ini kutulis, tepat seminggu setelah kunjungan ke DPAD DIY. Tapi, lihatlah. Aku masih menyebut dan mengungkap kata itu lagi. Terpukau. Memukau. Ah, aku ingin menyingkirkan kata ini. Atau jangan-jangan ini serupa dengan perasaan teman-teman Tiktokers tiap habis meriviu sebuah produk, “Kualitasnya memang sebagus itu, Gaiiss!” Entahlah. Dari pada aku pusing-pusing memikirkannya, saranku, jika kamu tinggal di Jogja atau sedang singgah ke Jogja sempatkanlah berkunjung ke Diorama Arsip Jogja dan rasakan sendiri keterpukauan itu. Lokasinya berada di Jalan Raya Janti, Banguntapan, Bantul. Hampir berseberangan degan SPBU Pertamina 44.552.03 dengan harga pertalitenya sepuluh ribu per liter sejak Jokowi mengumandangkan surat Kenaikan Harga BBM.  

Ada 18 jejak sejarah dan peristiwa yang dihadirkan Diorama Arsip Jogja dalam 18 ruang yang berbeda. Dimulai dari sejarah abad ke-15, sejak Kepemimpinan Panembahan Senopati saat mendirikan Kerajaan Mataram hingga peristiwa Keistimewaan Yogyakarta. Beberapa di antara ruang ini terlihat seperti museum pada umumnya. Berisi benda-benda dan peristiwa sejarah yang diberi keterangan secukupnya. Tapi, beberapa ruang benar-benar dikerjakan dengan kreativitas yang total dari para sejarawan, terutama seniman. Menjadikan Diorama Arsip Jogja sebagai media belajar sejarah dan kebudayaan Yogyakarta yang cukup menyenangkan. Beruntung rasanya bisa menikmati fasilitas sebagus ini di kota Yogyakarta. 

Meski ada begitu banyak kata terpukau dan memukau, tetap saja, salah satu kelebihan manusia kan jeli melihat kekurangan ya? Tapi, ini tidak disengaja lho ya. Bukan maksudku begitu. Tapi, nganu. Dalam salah satu ruangan, ada suasana yang didesain menggambarkan sistem kerja paksa pembuatan rel kereta api pada masa penjajahan dulu. Saat aku menyusuri lantai ruangan yang telah disulap menjadi rel kereta api berlapis kaca tebal yang bening itu, tiba-tiba saja dinding di sekelilingku yang merupakan full screen peristiwa penjajahan tersebut berputar sejadi-jadinya. Peristiwa demi peristiwa sejarah berganti. Kelaparan, kematian, kerja paksa, perlawanan. Hingga di dinding muncul pula surat-surat atau tulisan-tulisan yang menyerukan perlawanan di masa-masa sulit tersebut.

Salah satu yang muncul adalah isi surat perlawanan dari R.A Kartini yang pada masa itu meresahkan dirinya akan adat nikah paksa yang dialami perempuan di usia mereka yang masih muda bahkan harus siap pula jika dipoligami. Kartini sangat berempati karena ia sendiri tengah mengalaminya. Di sisi lain, ia memang memiliki jiwa dan pemikiran yang berani serta ingin merdeka menyuarakan hak-hak sesama kaum perempuan. Pada teks yang sebenarnya, isi surat yang dituliskan oleh Kartini berbunyi seperti ini, “Bukanlah laki-laki yang hendak kami lawan, melainkan pendapat kolot dan adat usang.” Tapi apa yang tertulis di dinding diorama itu terjadi typo pada kata “usang” menjadi “uang”. Cobalah baca ulang dengan kata uang, maknanya jadi berbeda. 

Aku menganggap itu ketidaksengajaan, pun aku menyadari ada typo di sana juga sebagai ketidaksengajaan. Tadinya aku hanya penasaran kenapa Kartini menulis kalimat seperti itu, apa yang terjadi? Saat kucari tahu dengan pencarian via google, alasannya ya seperti yang kujelaskan di paragraf sebelumnya. Kartini resah, perempuan-perempuan dipaksa nikah muda. Sesaat memerhatikan isi surat yang ditulisnya untuk teman Belandanya itu, aku baru menyadari bahwa diksi yang sebenarnya ditulis Kartini adalah adat usang, bukan adat uang. 

Terlepas dari kekurangan kecil itu, jika dibanding dengan kemegahan visual yang disajikan Diorama Arsip Jogja, kami selaku teman-teman dari volunteer batch 8 bersama teman-teman fasilitator Radio Buku, sesaat setelah mendiskusikan kunjungan kami, mengaku masih ada keganjalan dan kekuranglengkapan sejarah di sana. Terutama pada peristiwa-peristiwa kelam 1965 yang terjadi di Yogyakarta. Tapi, begitulah. Alih-alih menuntut keadilan sejarah terhadap ratusan ribu nyawa sipil yang terenggut pada masa itu, mendapat hak untuk mengetahui kebenaran sejarah saja, apakah kita sebenarnya layak? ***

Langgar.co | Rabu, 14 September 2022 | 13.00 – 16.00 WIB 

Siang baru saja semakin membakar pada tengah hari sekitar pukul dua belas. Aku menyalakan motor untuk menempuh sebuah kunjungan yang tiba-tiba lainnya di hari kedua. Berbenah dari hari-hari sebelumnya, kali ini aku tak ingin terlambat. Panas seterik itu pun kutempuh. Berangkat dari Tamantirto Kecamatan Kasihan menuju Kecamatan Piyungan di Bantul, kira-kira sejauh 15 km perjalanan. Sebenarnya aku ingin mengeluh. Sebagai veteran kaum rebahan, jujur-jujur saja, sesaat sebelum motor melaju, aku menatap kaca spion sambil menggumam, “demi apa aku harus panas-panasan di jalanan sana?”

Seperti biasa, aku mengandalkan navigator dari G-Maps. Beruntung naluriku sedang bisa diajak bekerja sama sehingga meski sudah menempuh tiga perempat perjalanan aku belum juga membuat catatan kesasar. Tapi, kesabaranku akhirnya mulai diuji ketika Mba Navi (gator) menuntunku melewati jalan pintas daerah perkampungan. Jalanan aspal yang terhampar di depanku seperti tak ada ujungnya, sama seperti terik di atas kepalaku pun tak kunjung mereda walau hanya sekian menit saja. Tibalah aku sampai di suatu pertigaan, lantas membuat catatan kesasar pertamaku. Itu tiga buah jalan jumlahnya. Satu ke kanan, satunya ke kiri, dan yang satunya lagi tikungan tajam ke kiri. Aku tanpa sadar mengambil jalan yang menikung ke kiri, padahal harusnya belok kiri. Mba Navi mengomel, lembut saja. Tapi aku membalas omelannya dengan kasar sambil sesegera mungkin putar balik. 

Di jalan yang sebenarnya setelah belok kiri, bisa dipastikan raut wajahku sudah tidak enak dipandang. Aku menghela napas berulang kali, sambil mencoba menyabarkan diri sendiri. Motorku melaju terus. Sesekali aku memerhatikan sekitar. Mencoba menikmati perjalanan yang karena belum pernah kulalui jadi terasa begitu lama dan tak tahu kapan sampainya. Lalu, tiba-tiba di kejauhan sana aku melihat bukit-bukit menjulang. Awan biru sedikit berkabut mengelilinginya. Jalanan aspal yang menjulang panjang ke sana memang masih terlihat tanpa ujung, tapi bukit-bukit itu, dan awan birunya menenangkan kekesalanku. Aku hampir gagal fokus, jangan sampai tanpa sadar, tahu-tahu aku sudah mengganti jalur untuk bertamasya.

Tujuanku jelas bukan ke sana, ke bukit itu, sebab ini bukan perjalanan piknik. Aku tersadar oleh panggilan Mba Navi lantas melanjutkan perjalanan mengikuti perintahnya. Hasilnya, total ada tiga sampai empat kali catatan kesasar yang aku buat sebelum akhirnya sampai di pekarangan Langgar.co. Jangan tanya total makian dan helaan napas yang kulayangkan. Asal sudah sampai saja, dan untung-untung belum terlambat, aku memaafkan perjalanan itu pastinya. Mesin motor kumatikan, helm kulepas. Menghirup udara secukupnya, dan melihat beberapa teman yang sudah sampai, ya, aku pasti memaafkan perjalanan itu. 

Bersamaan tiba denganku di pekarangan Langgar.co, ada Raffi dan Nardi. Juga Celli. Tapi jelas saja, kami tidak bisa mendahului kedatangan Gilang sebagai tamu pertama Mas Irfan Hafifi, pengelola Langgar.co. Mereka tampak sudah bercakap-cakap banyak. Mas Irfan menyambut kami dengan ramah dan santun. Teman-teman lain mulai berdatangan, ruangan kecil Langgar.co itu menjadi penuh nan padat. Begitu sederhananya, Mas Irfan memohon maaf dan memberi penjelasan bahwa Langgar.co memang bukan bangunan yang besar. Sebagaimana ia menjelaskan waktu pertama kali membuat Langgar.co pun tanpa mimpi yang besar dan muluk-muluk. Sesederhana niatnya, begitu pulalah rumah Langgar.co didirikan. 

Sejak pertama kali didirikan pada tahun 2019 sampai sekarang, selain menerbitkan dan menjual buku, Langgar.co konsisten membuat website sebagai media kepenulisan berbasis non-profit. Sebuah keputusan yang benar-benar melawan logika media online. Tanpa monetisasi, clickbait, maupun iklan. Beberapa penulis yang tulisannya dimuat di Langgar.co biasanya dihadiahi buku. Begitupun, meski tanpa reward, Mas Irfan mengaku masih terus menerima tulisan-tulisan dari mereka yang ingin buah pemikirannya diterbitkan di Langgar.co. Pemilihan tulisan tersebut tentu saja dikerjakan secara serius, tetap dikurasi sebaik-baiknya oleh tim yang sudah dipercaya. 

Langgar.co memperkenalkan diri sebagai Suluk Kebudayaan Indonesia. Bukan tanpa alasan Irfan Hafifi menyoroti tema kebudayaan Indonesia menjadi kerja-kerja mulia di Langgar.co. Sudah sejak lama perihal ini diresahkan oleh beliau. Melihat perilaku tiap generasi dari masa ke masa, Irfan Hafifi meyakini ada keterasingan yang menguak dalam diri setiap orang yang telah menjauhkan mereka dari kemanusiaan. Dalam istilahnya, ia sebut Manusia Membebek. Orang-orang seperti tak punya jati diri, dan hanya mengikut apa yang sedang trend atau populer. Kalau pun tidak, mereka hanya hidup sebagaimana harus bertahan hidup tanpa mengenali dan mengembangkan potensi kemanusiaan dalam dirinya.

Kebudayaan sendiri memang jalan kemanusiaan, terang Irfan Hafifi. Setidaknya seperti itulah jalan kebudayaan yang dikerjakannya lewat Langgar.co. Berkebudayaan berarti mengolah cita, rasa, dan tekad dalam diri untuk kemanusiaan hingga kelak memunculkan produk kekaryaan, baik itu benda, gagasan, laku, termasuk tulisan. Produk yang lahir dari proses semacam ini, sudah tentu akan merangkul. Siapa saja yang sadar dan tergerak untuk memulai proses berkebudayaan yang demikian, Irfan Hafifi siap pasang badan membantu. Pintu Langgar.co akan selalu terbuka menjadi wadah untuk menciptakan kebudayaan (kemanusiaan) Indonesia yang lebih baik. Semua tentu saja dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. 

Jelas itu tamparan yang cukup keras bagiku. Apalagi mendengar Irfan Hafifi secara gamblang mengaku juga sedang dan terus mengerjakan jalan kemanusiaan yang dimaksudkannya bersama Langgar.co. Proses ke sana, ia pernah mengaku hampir gila. Bagaimana mengolah nilai kemanusiaannnya disamping kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan bukan hal yang mudah. Banyak hal yang meresahkan dirinya dan mengganggu pikirannya. Tak pelak, jalan spiritual memberi petunjuk yang kuat sebelum akhirnya meyakinkan dirinya untuk berkarya lewat Langgar.co. Penuh kesadaran dan kesederhanaan. 

Sepanjang cerita dan diskusi yang terjadi dari siang hingga sore itu, banyak kekaguman yang muncul atas perjalanan Irfan Hafifi, tak terkecuali Langgar.co. Ia tidak bercerita tentang pencapaian-pencapaian yang membuat kagum, melainkan cerita yang membuka lapisan-lapisan yang selama ini masih membutakan penglihatan dalam memandang hidup dan kemanusiaan. Bagiku, setidaknya seperti itu. Dan ini menjadi salah satu pertemuan yang istimewa. Tak banyak orang di luar sana yang ketika ditemui akan bercerita tentang hakikat dari hidup. Irfan Hafifi tahu itu penting dan mendasar. Semua yang mendengar seakan disuruh pulang ke rahim ibunya sebelum memutuskan untuk benar-benar ingin menjalani hidup ini. 

Mungkin seperti itulah kesadaran  datang. Ia tidak tiba-tiba, namun berulang. Kadang perlahan. Aku bersyukur akan hari itu. Untung saja aku sudah memaafkan perjalanan yang terik, beserta makian, beserta helaan napas kekesalan. Ya, beruntunglah. Aku sudah memaafkan mereka sekalian, menghempaskannya di pekarangan sebelum memasuki pintu Langgar.co. *** 

Radio Buku | Sabtu, 17 September 2022 | 15.00 – 17.00 WIB 

Mungkin kelas kali ini bisa dibilang sebagai materi pengantar podcast, karena buatku ilmu-ilmu yang disampaikan masih terdengar baru. Sebelumnya aku sama sekali belum pernah mengulik dunia peraudioan. Mungkin beberapa kali hanya menjadi pendengar yang baik, bahkan setelah media podcast meledak diulik dan diolah oleh sebagian orang sebagai media berkarya, aku juga belum meramahkan telingaku dengan media yang satu ini. Belum punya catatan nama-nama podcaster yang diidolakan. Sampai akhirnya kelas ini tiba, dan Mbak Endah sang pemateri memperkenalkan seni yang berwujud dalam bentuk audio ini. 

Dimulai dengan memperkenalkan radio sebagai seni media audio yang lebih sesepuh sebelum podcast. Mba Endah banyak berbagi pengalamannya ketika menjadi penyair. Mba Endah sendiri merupakan sosok yang mengelola audio sejak awal ketika menjadi Radio Buku. Digandeng oleh Gus Muh, waktu itu untuk pertama kalinya membuat siaran membicarakan buku di Radio Buku.


Posted

in

by