Menyelami Topik Pendidikan dari Artikel per Artikel

Minggu keempat tugasnya para volunteer untuk kronik 10 artikel peristiwa dan rekaman podcast bertopik aku dan buku pertamaku. Majalah dari Institut Ilmu Al-qur’an aku jadikan bahan untuk kronik 8 artikel, sisanya aku ambil dari majalah Times. Tidak bisa menscan majalah sebanyak minggu lalu, karena aku baru saja pulang dari Semarang hari Rabu dan dalam posisi belum menuliskan naskah podcast. Jadi, aku tentukan seperti itu saja strategi manajemen waktuku. 

Sepertinya, pengalaman mengkronik ini tidak hanya melatih kesabaran dalam menyelami rutinitas membosankan. Namun, pengalaman ini telah membongkar sekat pemahamanku akan topik yang aku senangi, pendidikan. Teringat sekali tujuan mendaftar di RadioBuku untuk belajar podcast. Bayanganku, podcast sangat berpotensi untuk menciptakan suasana perubahan di kalangan guru. Judul esaiku saja “Esai Opini: Mengulik Fenomena Perkembangan Podcast hingga Potensinya terhadap Perbaikan Kualitas Pendidikan”. Ini judul esai sebelum aku mendapatkan materi kepenulisan dari Gus Muh, makanya masih terlihat seperti judul skripsi, khas dengan titik duanya.

Persepsiku terbentuk dari pengalaman kerja sebelumnya. Reformasi kebijakan pendidikan Indonesia mengalami stagnasi karena tidak ada mekanisme di sekolah yang mendorong antar guru untuk dapat saling berdiskusi. Sederhananya, guru-guru tidak biasa mendiskusikan tentang praktik pengajaran, pedagogi-pedagogi baru, dan pembaruan dunia pendidikan. Meskipun banyak anggaran pemerintah digelontorkan untuk pelatihan pengembangan profesionalisme para kepala sekolah dan guru, output pelatihan tidak dapat membudaya di sekolah. Boro-boro membudaya, sosialisasi di sekolah pun belum tentu. 

Setelah mengkronik 20 artikel, persepsiku akan tema pendidikan semakin luas. Aku merasa setelah ini aku aka nada di fase menyelami lebih dalam topik pendidikan yang luas. Total ada enam majalah yang telah aku scan dan kebanyakan bertemakan pendidikan agama Islam, meskipun tidak semua. Persepsiku dapat terbongkar berawal dari banyaknya informasi baru yang aku dapat tentang pendidikan kewarganegaraan, pendidikan agama, pendidikan dan gender, pengaruh peran orang tua dalam pendidikan, pendidikan dan identitas, pendidikan di masyarakat, pergerakan intelektual kampus, hingga transformasi kelembagaan pendidikan. 

Seusai membaca artikel demi artikel, aku menyadari bahwa zaman sebelum media sosial booming (setidaknya tahun 1995 – 2007), orang-orang sangat mengandalkan koran dan majalah untuk menyampaikan opini dan kegiatan. Budaya menulis di sekitar 15 – 27 tahun yang lalu masih kuat karena orang-orang terdorong untuk menulis secara utuh dalam sebuah artikel. Hal-hal yang dituliskan di majalah pun menurutku hal yang esensial, disertai kalimat baku. Sekarang, kecenderungan dan strategi penyampaian telah terdisrupsi, cenderung pendek-pendek dan menggunakan bahasa yang “gaul”, tidak baku tidak masalah. Apakah ini buruk? Entahlah, tetapi yang jelas kebanyakan orang dan generasi muda sekarang tidak tahan membaca dan menulis banyak. Ini tantangan literasi kita.

Dalam bab Pendidikan, Masyarakat dan Negara dari buku yang aku pinjam dari Radio Buku minggu ini yang berjudul Pendidikan Nasional dalam Reformasi Politik dan Kemasyarakatan, disebutkan bahwa “ilmu bahasa menjadi dirigen dari koor-koor ilmu lain untuk meramaikan ruang kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia.” Setelah aku refleksikan, sepakat juga, dan berkaitan dengan tantangan literasi kita. Persepsiku dulu berfikir bahwa bahasa hanya sebagai alat komunikasi sesama. Namun, sepertinya kok lebih dari itu. Bahasa adalah pintu pertama kita mencicipi pendidikan.

Aku melihat bahasa adalah media terpenting untuk kita dapat berkembang. Orang dengan tutur yang teratur tentunya karena ia mampu meresap bacaan yang lebih banyak, baik dari tulisan maupun keadaan. Bacaan yang meresap tentunya direfleksikan dan diolah di dalam fikiran. Mungkin, ketika bacaan ini mampu membentuk diri seseorang, hal ini dikarenakan proses refleksi melibatkan dialog dengan diri sendiri, sehingga bercampurlah bacaan tersebut dengan proses mengolah rasa. Begitulah analogi yang terfikir di dalam kepalaku sementara terkait esensi literasi. Aku jadi paham mengapa hal yang menjadi tolak ukur pendidikan adalah literasi. Sebab, sebelum mampu berfikir, maka harus mampu berbahasa. 


Posted

in

by