Mengingat yang Sudah Sepantasnya Diingat

Ingatan soal perempuan dalam sejarah Indonesia selalu ditempatkan pada pinggiran. Bahkan, dalam beberapa hal sudah disingkirkan. Misalnya ketika membahas tentang sejarah penggerakan di Indonesia, atau kala membicarakan sejarah diplomasi politik. Hampir tidak ada nama perempuan yang terdengar. Semuanya disesaki laki-laki, laki-laki, dan laki-laki.

Laki-laki sudah mengokupasi habis-habisan posisi perempuan dalam gelanggang sejarah Indonesia. Budaya patriarki membabat habis peran perempuan dalam cerita-cerita lahirnya bangsa. Sampai-sampai, suara dan jejak perempuan hanya lirih terdengar. Boleh saja kisah dan peran perempuan disingkirkan, namun ia tidak akan pernah hilang.  

Buku karya Kolektif Ruang Perempuan dan Tulisan ini, mengajak untuk menyelami kembali pikiran, aktivisme, dan karya dari perempuan-perempuan Indonesia. Perempuan-perempuan yang kisahnya terpatri dalam buku ini mungkin namanya jarang sekali terdengar, tetapi perannya tidak bisa disepelekan. Mulai dari Rukiah Kertaparti, Sugiarti Siswadi, Charlotte Salawati hingga Intan Naomi. Beberapa nama itu punya bagian tersendiri dalam perjuangan perempuan yang kini tak memiliki posisi dalam narasi besar sejarah Indonesia.

Revolusi Juga Milik Perempuan

Buku Yang Terlupakan dan Dilupakan dibuka dengan tulisan soal Rukiah Kertapati. Nama Rukiah hampir tidak di terdengar dalam narasi perjalanan Indonesia. Namanya dihilangkan oleh Orde Baru karena dituduh terlibat dalam Gerakan 30 September 1965. Bahkan, sampai hari ini pun, banyak orang yang tidak tahu siapa Rukiah Kertapati. Padahal, perannya dalam gerakan perempuan, pendidikan, dan literasi begitu dahsyat.

Rukiah Kertapati adalah istri dari seorang pejuang politik dari masa kolonial hingga paska kemerdekaan, yakni Sidik Kertapati. Rukiah dikenal sebagai tokoh Lekra yang mengusulkan Turba pada Kongres Lekra di Solo tahun 1959. Peran Rukiah pada era itu tak bisa dipandang sebelah mata. Pada tahun 1945, ia mengajar sebagai guru di Sekolah Gadis, Purwakarta. Selain itu, Rukiah juga menulis dan membuat karya-karya tentang kritik sosial politik.

Tumbuhnya Rukiah menjadi penulis dimulai pada tahun 1945. Beberapa bulan paska proklamasi kemerdekaan, banyak bermunculan laskar-laskar pejuang kemerdekaan yang selalu berteriak: “Revolusi! Revolusi!” Bahkan hingga empat tahun setelahnya, yaitu 1949. Tahun 1945-1945 dikenal sebagai masa Revolusi Fisik. Perjuangan kembali untuk mempertahankan kemerdekaan dari serangan kolonialis-imperialis.

Ketika gejolak revolusi mulai membanjiri berbagai daerah, Rukiah yang tinggal di Purwakarta turut menyumbang perannya. Di umur 19 tahun, ia mendaftar sebagai Palang Merah dan mulai menulis puisi yang bertemakan perjuangan. “Keluhku” dan “Ilham” menjadi puisi pertama Rukiah yang dikirimkan untuk Gelombang Zaman.

Puisi menjadi gerbang awal Rukiah menulis karya-karya selanjutnya. Karyanya yang paling terkenal berjudul Kejatuhan dan Hati. Kejatuhan dan Hati adalah novel yang terbit pada tahun 1950. Novel pertama Rukiah ini menggambarkan revolusi dari sudut pandang perempuan biasa dan menanyakan kembali soal “Revolusi Nasional”

Rukiah menanyakan: “Revolusi untuk siapa?” “Siapa yang berperan dalam revolusi?” Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dari kegundahan karena revolusi selalu mengedepankan kekerasan sebagai satu-satunya jalan. Selain itu, ia juga mengkritik sikap heorisme yang selalu ditunjukkan laki-laki. Siap berkorban apapun demi tercapainya revolusi.

 Rukiah menganggap bahwa heroisme seperti itu adalah heroisme buta. Pada akhirnya perempuan juga yang menjadi korban dari heroisme buta. Perempuan ditinggal untuk mengurus rumah dan keluarga, sambil harap-harap cemas akan kembalinya suami mereka. Tidak berhenti di situ, banyak juga laki-laki yang sudah beristri dan memilih untuk bergerilya, akhirnya menikah lagi dengan perempuan lain tanpa sepengetahuan istrinya. Rukiah mengkritik keras-keras hal itu.

Menurut Rukiah, revolusi tidak seharusnya dibangun dengan narasi kekerasan, angkat senjata, dan gerilya. Ia juga menanyakan apa gunanya revolusi jika hak-hak perempuan tidak terpenuhi dan bahkan menambah beban seorang perempuan. Rukiah bukannya tidak setuju dengan revolusi, namun ia menolak habis-habisan bahwa revolusi harus dengan kekerasan.

Selain Rukiah, ada tokoh lain yang mungkin namanya jarang sekali terdengar. Ia adalah Sugiarti Siswadi, sobat karib Rukiah Kertaparti yang sama-sama aktif di Lekra. Sugiarti malang melintang dalam dunia pergerakan, mulai dari pergerakan perempuan, pergerakan nasional, hingga pergerakan internasional. Perempuan kelahiran Klaten ini, memiliki peran yang luar biasa besar dalam gerakan Internasionalism dan kebudayaan.

Pada tahun 1932, Ki Hajar Dewantoro melakukan sebuah pidato tentang tiga pokok peran perempuan di Taman Siswa. Sugiarti bersama Rukiah dan Maria Ulfah ikut menyusun naskah pidato yang Ki Hajar lontarkan. Dari situ, karir Sugiarti mulai perlahan-lahan melejit, buku ini tidak menjelasan kapan tepatnya Sugiarti berkecimpung dalam gerakan kebudayaan dan politik.

Dalam Kongres Lekra I di Solo tahun 1959, Sugiarti terpilih menjadi bagian dari Lekra. Terpilihnya Sugiarti berbarengan dengan sederet nama yang sudah sering kali terdengar di telinga, seperti Affandi, Agam Wispi, Njoto, Joebaar Ajoeb, dan Pramoedya Ananta Toer. Tepat di tahun yang sama, perempuan yang kerap disapa Mbak Gig ini ditunjuk oleh Soekarno untuk menyaring pemikiran politik guna persiapan pergerakan Front Nasional.

Aktivisme Sugiarti dalam kebudayaan dan politik terus berlanjut di tahun-tahun selanjutnya. Selain itu, ia juga aktif menulis untuk beberapa surat kabar di berbagai negara. Puisinya pertama kali terbit di De Waarheid pada 1955, sebuah koran asal negeri Belanda. Sugiarti menulis puisi dengan judul “Vrijheid” yang dalam bahasa Indonesia berarti Kemerdekaan.

Karir Sugiarti dalam kepenulisan sama moncernya dengan aktivismenya. Masih di tahun yang sama, 1959, ia bersama Rukiah menjadi tim redaksi majalah Api Kartini. Api Kartini adalah majalah milik Gerwani yang memuat isu-isu mengenai perempuan, mulai dari persoalan rumah, hingga persoalan politik.

Dalam Api Kartini, Sugiarti banyak menerjemahkan karya-karya sastra dari negeri-negeri komunis. Tulisan-tulisan Sugiarti yang termaktub dalam Api Kartini bisa merepresentasikan pikiran dan gagasannya mengenai perempuan dan anak-anak. Cerpennya yang berjudul “Budak Ketjil,” “Orang-orang Sebatang Kara,” “Soekaesih,” dan “Rumah jang Kesembilan” berkisah tentang perempuan dan anak yang menjadi korban keadaan (re: revolusi).

Tak lupa, ada satu lagi karya Sugiarti yang dicetak buku bersama nama-nama besar seperti Sitor Situmorang, S. Anantaguna, Agam Wispi, Sobron Aidit, dan Multatuli. Karya cerpen itu berjudul Sorga di Bumi. Cerpen ini menceritakan tentang kisah anak-anak dan perempuan kelas bawah yang selalu diming-imingi ganjaran surga ketika melaksanakan ibadah, salah satunya Puasa Ramadhan. Namun, salah satu tokoh anak dalam karya ini mengatakan: “Kalau Mbok puasa maka tidak kuat untuk mencuci dan menyapu kebon. Dan kalau dipaksa puasa, pekerjaan tidak akan selesai dan Ibunya akan marah-marah”

Pada bab selanjutnya, seorang tetangga juga menimpali apa yang anak kecil itu katakan. “Wal tidak bakal kuat mengangkat alu. Lagi pula, puasa Ramadhan cuma setahun sekali, sedangkan Wak puasa saban hari..” Dari karya Sorga di Bumi sangat terlihat bagaimana Sugiarti menggambarkan kondisi orang-orang kecil dengan sederhana. Meski sederhana, deskripsi yang dituliskan Sugiarti begitu rinci.

Selain menulis, Mbak Gig pernah aktif sebagai pengajar di Akademi Ilmu Sosial Ali Archam. Sembari mengajar, ia juga rajin melakukan Turba. Posisinya sebagai wakil ketua Lestra (Lembaga Sastra) membuatnya selalu mendapingi para sastrawan-sastrawan Lekra yang melakukan Turba di berbagai daerah. Salah satu karya Sugiarti yang berjudul “Pengadilan Tani” mengisahkan tentang aksi sepihak BTI dalam merebut tanah dari para tuan tanah di Klaten.

Selanjutnya, ada Charlotte Salaswati (CS). Perempuan yang lahir di Sulawesi Utara ini adalah tokoh perempuan yang dinafikkan dalam sejarah Indonesia. Namanya sangat asing di telinga ketika membicarakan sejarah besar Indonesia, padahal perannya juga tak jauh besar dibanding tokoh-tokoh laki-laki.

Perjuangan CS dimulai di kampung halamannya, Sulawesi. Berbagai hal telah dilakukan oleh CS, mulai dari pendidikan, sosial, hingga politik. Pendidikanlah yang membukakan jalannya menuju berbagai perjuangan. Ia menempuh pendidikan sekolah guru di Normalschool, Sasaran, Tonando, pada tahun 1922-1926. Setelah lulus, ia kembali bersekolah lagi. 1934-1935, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Bidan. Hal itu yang membuat CS mempunyai beragam mengenai perempuan.

Perjalanannya dimulai sebagai pengajar di Sekolah Perempuan pada 1926. Ketika mengajar, CS selalu menekankan pada pentingnya pendidikan bagi masyarakat, dan harus berperan aktif dalam pergerakan. Kiprahnya dalam pendidikan dianggap membahayakan oleh pemerintah kolonial, oleh sebab itu, ketika CS diangkat sebagai kepala sekolah, dilakukan pengawasan ketat terhadapnya. Meski begitu, perempuan kelahiran 1909 ini tetap keras kepala dan terus memberikan pendidikan yang membebaskan serta mulai menulis artikel-artikel perlawanan terhadap kolonial.

Akhirnya, pada 1928, CS diberi hukuman larangan mengajar oleh pemerintah kolonial. Hukuman itu tidak membuat jera, bahkan menambah semangat CS untuk tetap memperjuangkan pendidikan dan kemerdekaan. Dua tahun setelah hukuman dijatuhkan padanya, ia kemudian berpindah ke Makasar. Di Makasar, CS mulai melebarkan sayapnya ke gerakan perempuan. Pada tahun yang sama, Serikat Istri Sebelas (SIS) menunjuknya sebagai Ketua.

Masih di tahun yang sama, ia mendirikan sekolah partikelir untuk masyarakat yang tidak bisa mengenyam pendidikan formal milik pemerintah. Peran sekolah partikelir di era itu sangat signifikan dalam membentuk imajinasi tentang bangsa dan masyarakat yang terjajah. Namun, pada tahun 1933, pemerintah kolonial mengesahkan kebijakan mengenai pembubaran sekolah-sekolah partikelir. Kebijakan itu disebut Ordonansi oenderwijs.

Munculnya aturan represif itu membuat CS mencari celah lain untuk berjuang. Ia mulai menulis artikel yang mengkritik Ordonansi oenderwijs dan tetap mengajak perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. Artikel pertamanya membuka jalan untuk kiprah dalam politik dan kepenulisan secara bersamaan.

Setelah empat tahun bergabung dengan Persatuan Celebes (PS) selama empat tahun, CS diangkat menjadi anggotan Partai Indonesia (Partindo). Partindo yang berhaluan nasionalis dan mendirikan Taman Siswa-School pada 1933 membuat CS kembali menemukan tempat untuk berjuang dalam pendidikan dan politik. Setelah Partindo dibubarkan pada 1936, CS menjadi juru tulis dan komisi partai Parindra (Partai Indonesia Raya). Kemudian, paska kemerdekaan ia bergabung Partai Kedaulatan Rakyat (PKR).

 CS berada di PKR selama tujuh tahun sejak 1946. Sejak saat itu juga, ia mulai menekuni kepenulisan dan jurnalistik. Wanita adalah majalah pertama yang dipimpin oleh CS. Majalah yang membahas topik mengenai perempuan, politik, dan kebudayaan ini hanya bertahan satu tahun, yakni 1948-1949. Umur singkat Wanita dikarenakan CS sebagai pemimpin redaksi dipenjara oleh pemerintah kolonial karena tulisan-tulisannya.

Setelah menjadi pemimpin redaksi Wanita, ia kemudian bergabung dengan anggota dewa NIT. Pilihan CS untuk masuk dalam “dewan kolonial” ditentang teman-teman seperjuangannya. Namun, ia percaya bahwa itu adalah salah satu cara melawan kolonial dari dalam dan perjuangan tanpa kekerasan. Tendensi anti kekerasan sangat terlihat dalam pilihan CS untuk melawan kolonial.

Bergabungnya CS dalam “dewan kolonial” membuatnya dipilih sebagai wali kota Makassar. Ia menjadi wali kota dari tahun 1949 sampai 1950. Karir politik perempuan Sulawesi ini tidak hanya di wilayah lokal, tetapi juga merambah ke tingkat nasional. CS ikut sebagai pencetus Gerakan Wanita Sedar (Gerwis) yang kemudian bertransformasi menjadi Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia). Kala itu, tahun 1950, bersama S.K. Trimurti, Tris Metty, Sujinah, Suharti, dan CS menginisiasi bentuk organisasi perempuan yang memperjuangkan hak sekaligus melawan penindasan kolonial.

Di Gerwani, CS menjadi anggota yang vokal terhadap berbagai hal. Mulai dari poligami, kekerasan dalam rumah tangga, hingga politik. Contohnya, ketika tahun 1953, Soekarno berencana untuk menikah dengan Hartini, sedangkan Fatmawati masih menjadi istri sahnya. Menanggapi hal itu, Gerwani terpecah menjadi dua: pro dan kontra.

Mereka yang “menutup mata” akan rencana poligami Soekarno berpendapat, jika “melawan” terhadap Soekarno, maka perjuangan melawan neo-imperialis dan usaha dekolonisasi akan terhambat. Sedangkan kubu sebaliknya memilih sikap tegas, yakni menolak—CS berada dalam kelompok yang menolak tegas rencana poligami Soekarno.

Sepak terjang CS ketika menjadi anggota Gerwani membuatnya didapuk menjadi wakil ketua. Pada Kongres Gerwani III tahun 1954, ia dipilih menjadi wakil ketua sampai tahun 1962. Ketika diposisi sebagai waki ketua, CS tetap vokal terhadap kebijakan yang merugikan rakyat. Misalnya ketika kenaikan harga pangan tahun 1959. CS dan anggota Gerwani melakukan demonstrasi besar-besaran menuntut pemerintah untuk mengendalikan permasalahan. Tidak berhenti di situ, CS sebagai perwakilan Gerwani, melontarkan protes langsung kepada Soekarno selaku presiden.

Rukiah, Sugiarti, dan CS telah membuktikan bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ketiganya sepakat bahwa jalan menuju kemerdekaan, jalan menuju revolusi, dan jalan menuju kebebasan tak melulu menggunakan kekerasan. Dan yang terakhir, revolusi tidak hanya milik mereka yang angkat senjata, namun juga untuk mereka yang memperjuangkan hak-hak kaumnya.

Ibu Bukan Hanya Persoalan Rumah

Peran Ibu sering diasosiasikan dengan pekerjaan rumah dan ranah domestik. Narasi itu dibentuk dan dipelihara ketika Orde Baru menancapkan kekuasaannya di Indonesia. Kemudian, secara tidak langsung nilai-nilai Ibu yang dibentuk Orde Baru terinternalisasi dalam masyarakat. Bahkan sampai hari ini, masih banyak yang mengamini konsep Ibu menurut Orde Baru.

Namun, jika menarik konsep Ibu jauh sebelum Orde Baru, akan terlihat bagaimana perbedaan yang sangat mencolok. Misalnya Kartini, ia mengamini bahwa Ibu adalah menjaga, merawat, dan mendidik. Akan tetapi, bukan hanya mendidik, merawat, dan menjaga keluarga di rumah, namun dalam segi yang lebih luas, yakni negara dan bangsa.

 Konsep ibu yang diyakini Kartini pada akhirnya—secara langsung atau tidak langsung—memengaruhi gerak dan pemikiran perempuan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Dunia pendidikan pada era kolonial tentu terdapat berbagi pengotak-kotakan: Eropa, Indo, pribumi. Dari pengotakan itu, masih terjadi lagi pengotakan lain: laki-laki dan perempuan. Terlalu banyak sekat-sekat yang membuat rakyat pribumi sulit mengakses pendidikan, apalagi seorang perempuan pribumi.

Tokoh-tokoh perempuan yang ditulis dalam buku Yang Terlupakan dan Dilupakan ini tidak hanya mereka yang aktif dalam politik atau pergerakan, tetapi juga mereka yang sadar akan pentingnya pendidikan. Bahkan, hampir separuh hidupnya didedikasikan untuk pendidikan.

Pertama, adalah Hamidah/Fatimah Hasan Delais. Perempuan yang lahir pada 13 Juni 1915 ini adalah guru sekaligus penulis. Setelah selesai mengenyam bangku pendidikan pada 1930, Fatimah mengajar di Sekolah Rakyat. Pada tahun yang sama, ia dipercaya sebagai guru Bahasa Inggris di Palembang Institute. Setelah lima tahun mengajar di Palembang Institute, anak bungsu dari empat bersaudara ini tercatat sebagai pengajar di Taman Siswa Palembang pada 1935. Ia adalah satu-satunya pengajar perempuan di sana.

Pengalaman Fatimah yang mendapat pendidikan Barat membuatnya paham akan situasi negerinya. Negeri yang dijajah dan ditindas oleh bangsa asing. Berangkat dari situ, ia sangat getol menanamkan nilai-nilai nasionalisme ketika mengajar di Taman Siswa. Bahkan, ketika pemerintah memerintahkan sekolah-sekolah untuk libur karena peringatan ulang tahun Ratu Willhelmia, Fatimah dan jajaran guru lain menolak meliburkan kegiatan belajar. Akibatnya, pemerintah kolonial menghentikan secara resmi Taman Siswa Palembang. Meski demikian, Fatimah dan guru-guru lain tetap mengajar di luar kelas.

Semangat mengajarkan nasionalisme tidak hanya di ruang kelas, tetapi juga di rumah.  Fatimah menanamkan nilai-nilai nasionalisme pada anak-anaknya, salah satunya dengan penggunaan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Meski Fatimah menggunakan bahasa Belanda ketika ada teman atau kerabatnya yang datang ke rumah, ia tetap menekankan penggunaan bahasa Indonesia untuk keluarganya.

Kiprah Fatimah menjadi guru tiba-tiba terhenti ketika mendengar kabar bahwa aka nada Perang Asia Timur Raya pada 1942. Ia bersama suaminya, Hasan Delais, memutuskan untuk mengungsi ke Bengkulu karena Plembang telah diduduki Jepang. Kedatangan Jepang membuat Fatimah dan Delais jatuh terpuruk karena kondisi Ekonomi. Sekolah yang dulu digunakan untuk mengajar, ditutup paksa oleh Jepang. Setelah kondisi membaik, Fatimah merintis Sekolah Rakyat untuk anak-anak yang sulit mengakses pendidikan.

Sekolah Rakyat milik Fatimah berdiri hingga kemerdekaan. Kemudian, pada tahun 1949, sekolah itu diserahkan kepada pemerintah Indonesia. Pada tahun 1953, Fatimah divonis penyakit dan meninggal di tahun yang sama.  

Selanjutnya, perempuan yang menulis karya Manusia Bebas, yaitu Suwarsi Djojopuspito. Suwarsih Djojopuspito adalah istri dari Soegondo Djojopuspito, seorang tokoh pemuda yang memimpin Kongres Pemuda Indonesia kedua. Sepasang suami istri ini adalah guru, sebagian hidupnya didedikasikan untuk pendidikan masyarakat pribumi.

Mulanya, Suwarsih mendapat pendidikan Barat karena Ayahnya seorang aristocrat, dan memasukannya ke Sekolah Kartini pada 1918. Kepiawaiannya dalam menerima pengetahuan di Sekolah Kartini membuat anak bungsu dari dua bersaudara ini melanjutkan sampai tingkat MULO.

Setelah selesai mengenyam MULO, Suwarsih mengikuti pelatihan guru Eropa di sebuah kampus di Surabaya. Selama tiga tahun, 1928-1931, ia bolak-balik Bogor-Surabaya. Pada periode itu, ia juga sering singgah di Bandung untuk mendirikan Sekolah Liar bersama Kakaknya, Suwarni Pringgodigdo. Setahun berselang, tepatnya pada 1932, ia memilih tinggal di Bandung bersama suaminya.

Perjalanan menjadi seorang “pembebas” dimulai dari sini. Bersama Soegondo, Surwarni sering hidup berpindah-pindah tempat. Mulai dari Bandung, Bogor, Semarang, Jakarta, hingga Yogyakarta. Perpindahan itu bukan semata-mata tanpa alasan, mereka berusaha lari dari penangkapan dan penggrebekan.

Penangkapan dan penggrebekan seringkali mengintai Suwasih. Hal itu dikarenakan, sejak 1932, ia aktif mengajar dan mendirikan Sekolah Liar. Pelarangan Sekolah Liar telah ditetapkan oleh pemerintah kolonial, satu tahun sebelum Suwarsih membentuk Sekolah liar bersama kakaknya.

Selain sebagai pengajar di Sekolah Liar, Suwarsih juga pernah singgah di Perguruan Rakyat, Taman Siswa, Pasundan Istri, dan HIS. Privilese Suwarsih yang menguasai berbagai bahasa, seperti Inggris, Belanda, Jerman, Prancis, Indonesia, dan Sunda membuatnya bisa mengajar di berbagai tempat. Keahlian berbagai bahasa yang dimiliki Suwarsih membuatnya mampu menerjemahkan karya sastra berjudul Lives of Girls Who Became Famous milik Sarah Knowles Bolton. Dalam terjemahan itu, ia menyelipkan esai mengenai Kartini. Esai buatan Suwarsih berangkat dari interpretasinya terhadap surat-surat Kartini. Suwarsih lebih dulu menulis mengenai Kartini daripada Pramoedya Ananta Toer.

Biarkan Perempuan Menentukan Jalannya Sendiri

Kami bukan lagi

Bunga pajangan

Yang layu dalam jambangan

Cantik dalam menurut

Indah dalam menyerah

Molek tidak menentang

Ke neraka mesti ngikut

Ke sorga hanya menumpang

Sugiarti Siswadi, 1959

Puisi Sugiarti di atas, sudah menggambarkan bagaimana kehidupan perempuan yang terkekang dalam berbagai hal. Mulai dari hanya dianggap pemanis, penurut, hingga harus tunduk dan patuh. Persoalan itu menjadi hal yang jarang disorot dalam permasalahan era kolonial. Semuanya tertutupi dengan permasalahan lain yang dianggap lebih penting dari persoalan perempuan.

Karya Fatimah Hasan Delais berjudul Kehilangan Mestika, menggambarkan kondisi perempuan yang tak bisa lepas dari keluarga dan tradisi adatnya. Tradisi pingitan yang masih berlaku dalam keluarga-keluarga ditentang habis oleh Fatimah. Sebagai perempuan yang mendapat pendindikan, ia memiliki beban untuk membebaskan perempuan-perempuan lain yang dipaksa dipingit. Ia menuliskannya dengan sangat lembut namun menohok:

Kebanyakan daripada adat yang diadatkan disangkakan mereka sebagian juga daripada syariat agama. Gadis-gadis mesti dipingit, tak boleh keliatan oleh orang yang bukan keluarga lebih-lebih oleh laki-laki. Adat inilah yang lebih dulu harus diperangi. Inilah yang kucita-citakan. Aku ingin melihat saudara-saudaraku senegeri berkeadaan seperti saudara-saudara di tanah Jawa. (hlm. 15)

Usaha-usaha Fatimah dalam mendobrak adat yang kolot tidak dilakukan dengan cara keras, namun dengan persuasi yang sangat lembut. Selain mengkritik habis-habisan pingitan, ia juga selalu menyuarakan kemerdekaan bagi perempuan. Kemerdekaan untuk memilih pendidikan. Kemerdekaan untuk keluar rumah. Dan, kemerdekaan untuk memilih pilihannya.

Dalam bab berikutnya, novel yang dicetak lebih dari 10.000 eksemplar ini, membicarakan mengenai kekangan atas pilihan perempuan. Diterangkan bahwa Fatimah sudah berhasil memberikan pendidikan bagi para perempuan, dan membuka ruang-ruang belajar. Namun, persoalannya tidak berhenti di situ.

Ketika Fatimah dilamar seorang laki-laki bernama Ridhan, ia sangat senang dan antusias. Namun, ternyata keluarga Fatimah tidak menyukai keputusan itu, dan berusaha menggunakan cara-cara halus untuk memisahkan mereka. Pernikahan sudah terlaksana, dan karena sering disibukkan urusan bisnis, Ridhan sering meninggalkan Fatimah di rumah.

Suatu ketika, kala Ridhan pergi untuk urusan pekerjaan, setelah berhari-hari, Fatimah tidak mendapat kabar soal Ridhan. Hal itu menjadi pertanyaan Fatimah, karena Ridhan sering mengirim surat sekadar menginformasikan kabar. Sebuah kabar tak mengenakkan tiba-tiba datang ke Fatimah, Ridhan meninggal. Sontak, ia terkejut dan bersedih. Ternyata, selama Ridhan pergi, keluarganya menutup-nutupi kabar Ridhan, agar Fatimah tidak tahu kondisi Ridhan. Kisah itu menunjukkan kuasa orang-orang penganut adat yang mengintervensi kebebasan pilihan individu.

 Selanjutnya, karya milik Suwarsih Djojopuspito yang berjudul Manusia Bebas, juga menggambarkan kehidupan seorang perempuan. Suwarsih berusaha menjelaskan kisah-kisah perempuan nasionalis yang masih saja terkungkung oleh budaya-budaya kolot. Misalnya, suami yang selalu bisa mengambil keputusan, istri tidak memiliki hak dalam ranah itu.

Tokoh Sulastri yang seorang pengajar Sekolah Liar, menikah dengan Sudarmo yang juga belatar belakang sama. Ketika dalam masa ekonomi yang sulit, Sudarmo ditawari pekerjaan sebagar kerlk, namun ia menolak karena tidak mau bekerja dengan kolonial. Dalam situasi itu, Sulastri, sang istri, tidak memiliki ruang untuk mengutarakan pendapatnya dan memberi masukan. Suami merasa semua sudah ia wakilkan.

Selain itu, kala Sulastri dan Sudarmo bertengkar hebat, juga terlihat sisi patriarki yang ditunjukkan Sudarmo. Ia selalu marah-marah dan berkata kasar kepada Sulastri, serta posisinya sebagai laki-laki selalu benar. Meski Sudarmo dianggap sebagai tokoh yang melek akan pergerakan dan pandangan modern, namun nyatanya ia masih saja tunduk pada kepatuhan “tradisional” ketika menikah. Bahkan, menikah dengan laki-laki yang paling “sadar secara sosial” sekalipun, masih belum cukup membebaskan perempuan dari runtutan kepatuhan.

Kisah yang terukir dalam dua karya di atas, tidak hanya persoalan fiksi, namun itu adalah bentuk realitas yang terjadi. Penggunaan metode semi autobiografis yang dipakai penulis-penulis perempuan pada era itu membuat tulisannya berasa jujur dalam menggambarkan realita yang sebenarnya.

Kukungan adat yang membelenggu perempuan benar-benar terjadi di Minangkabau, salah satu tokoh yang keras menolaknya adalah Saadah Alim. Ia adalah penulis, pemikir, dan jurnalis. Saadah mendirikan majalah Soeara Perempuan pada 1917. Majalah itu diidentikkan dengan feminis gelombang kedua di Minangkabau, setelah sebelumnya ada Soenting Melajoe.

Saadah begitu keras menentang adat yang membelenggu perempuan. Ia pernah menulis begitu keras dalam Soeara Perempuan pada tahun 1918: “Dalam adat, perempuan memiliki status yang tinggi, namun hidup seperti burung di dalam sangkar. Inikah kesetaraan?” Bagi masyarakat ketika itu, adat adalah nomor satu, adat adalah yang paling tinggi. Jika ada yang menentangnya, maka ia dianggap hina.

Soeara Perempuan yang menggunakan slogan vrijhed atau freedom ditentang oleh Soenting Melajoe. Soenting Melajoe adalah media milik Rohana Kudus yang masih berorientasi pada adat Minangkabau dan sangat kooperatif dengan pemerintah kolonial. Dua media itu seringkali berdebat tentang posisi perempuan dan permasalahan perempuan lain.

Menurut Saadah, kebebasan perempuan Minangkabau haruslah seperti perempuan-perempuan Eropa. Kebebasan yang dimaksud adalah bebas memperoleh pendidikan dan memilih jalan hidup. Dengan kata lain, perempuan harus lepas dari kungkungan adat dan ninik mamak (pemuka adat) untuk mencapai hidup yang lebih baik.

Permasalahan adat, keyakinan, dan kekangan kolonial membuat perempuan bertubi-tubi ditindas dan ditindih. Pun, dalam masalah perkawinan. Perkawinan di masa kolonial banyak mengorbankan perempuan: dicerai sepihak, dipaksa kawin, pernikahan anak, poligami sepihak, dan kekerasan. Nasib buruk perempuan di era penjajahan menjadi dorongan seorang Maria Ulfah untuk berjuang membela perempuan.

Maria Ulfah atau biasa disapa Letje adalah perempuan yang fokus dalam memperjuangkan hak-hak perempuan dalam perkawinan, lebih spesifiknya dalam bidang hukum. Letje memulai karir sosialnya dengan bergabung bersama Istri Indonesia. Dalam Kongres Perempuan Indonesia II pada tahun 1935, Letje duduk sebagai penasehat. Pembahasan dalam kongres itu seputar masalah perkawinan dan masalah dasar perempuan.

Dalam Kongres Perempuan II, perdebatan tentang urusan perkawinan sangat epik nan menarik. Datang dari beberapa kelompok, mulai dari yang sepakat dengan poligami, sampai yang sangat menolak tegas poligami. Mulai dari gerakan sayap Islam, hingga gerakan sekuler. Perdebatan tentang aturan berpoligami menjadi kemelut panjang dalam kongres ini. Hingga pada akhirnya, Letje yang bertugas sebagai penasehat berusaha menengahi perdebatan sengit itu.

Berangkat dari Kongres Perempuan II, Letje fokus pada aturan hukum yang mengatur mengenai perkawinan. Ia juga bertemu dengan berbagai pemuka agama untuk berdiskusi perihal undang-undang yang akan dibuatnya. Letje merasa bahwa nilai-nilai agama tidak seharusnya dimasukkan dalam undang-undang yang sifatnya universal untuk semua orang, bukan hanya untuk umat agam tertentu. Namun, pandangan itu ditolak oleh kelompok Islam yang kala itu merasa tidak membutuhkan undang-undang perkawinan, karena Islam sudah menganturnya.

Dua dekade berlanjut, Letje masih di jalurnya, yakni perjuangan hukum perkawinan bagi perempuan. Pada tahun 1950, Fraksi Wanita di DPR mengusulkan menyusun undang-undang perkawinan yang baru. Oleh karena itu, dibentuklah Panitia NTR (Nikah-Talak-Rujuk). Letje masuk dalam komite ini bersama Nani Suwondo, Sujatin Kartowirjono, dan dua orang agamawan.

RUU dari Komite NTR selesai pada April 1954. Isinya mencakup berbagai hal: perkawinan yang didasarkan suka sama suka, poligami diizinkan dengan syarat suami berlaku sama baik pada istrinya dan melalui persetujuan istri sebelumnya. Namun naas, RUU ini tidak ditersukan ke parlemen. Sebaliknya, pemerintah justru berlaku sebaliknya, mengajukan UU lama tentang perkawinan. Hal itu dibarengi juga dengan rencana Sukarno untuk menikahi Hartini.

Kisah-kisah perempuan di atas menunjukkan berbagai perosoalan. Akses pendidikan terbatas, kekangan adat yang merugikan, dan masalah perkawinan serta poligami. Hari ini, mungkin masih banyak perempuan-perempuan yang merasakan pengalaman serupa, yang masih belum bebas untuk menentukan pilihannya. Maka dari itu, perjuangan hak-hak perempuan masih harus dirawat dan dilanggengkan hingga semua perempuan tidak terkekang.


Posted

in

by

Tags: