Masih Mencari Sang Serigala Betina

Ester Lianawati membagikan sebagian hidupnya, yakni psikologi dan feminisme dalam buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan. Psikologi ia gunakan untuk membaca perilaku manusia, sedang feminisme ia tuliskan sebagai cara untuk memahami diri sebagai seorang perempuan. Kedua pisau analisis itu, yang membuat buku ini terasa unik dan spesial, terus mengeksplorasi area gelap bernama patriarki.

Tubuh perempuan sebagai objek yang estetis

Masyarakat menuntut perempuan untuk memenuhi standar kesempurnaan. Perempuan harus cantik, sealamiah mungkin. Kalaupun tidak cantik, ia harus mengompensasinya dengan pencapaian lain, seperti prestasi atau bakat tertentu.

Perempuan mesti menikah pada usia tertentu dan harus perawan. Ia juga harus bisa memberi keturunan. Ketika punya anak, perempuan wajib mengurus anak sekaligus suami dengan baik.

Setelah melahirkan, perempuan harus merawat tubuh agar badannya tidak melar dan luka di tubuhnya bisa disamarkan. Ia dituntut pula untuk melakukan perawatan kekencangan otot-otot vagina agar suami tidak pergi pada perempuan lain yang lebih muda. Daftar budaya yang sakit ini sungguh masih sangat panjang. Ester sendiri menyebutkan bahwa perempuan dituntut memenuhi tiga peran sekaligus, yakni jadi perawan, ibu, dan pelacur.

Tak heran, gangguan psikologis lebih banyak dialami oleh perempuan. Terkait masalah diet dan bobot tubuh, bahkan 90% terjadi pada perempuan. Sebanyak 1 dari 50 perempuan tercatat mengalami gangguan persepsi tubuh karena merasa terganggu dengan sedikit kekurangan atau kekurangan yang sama sekali tidak ada. Ia akan menghabiskan banyak waktu sehari-hari untuk memikirkan kekurangan imajinatif itu.

Tubuh dan kecantikan memang jadi urusan utama perempuan. Hal ini karena tubuhnya bersifat potongan-potongan estetis: bibirnya yang penuh, payudaranya, rambutnya, lehernya, dan lain-lain.

Perempuan yang jadi cemas karena merasa dirinya tidak sempurna akhirnya jadi target pasar paling berpotensi. Salon kecantikan, klinik pelangsingan tubuh, sampai toko pakaian dan pernak-pernik. Semuanya membutuhkan upaya dan uang.

Perempuan sendiri telah menginternalisasikan nilai-nilai masyarakat menjadi nilai-nilai mereka. Dengan kata lain, perempuan telah mereduksi diri pada penampilan dan mengkorporasikan tubuhnya. Melansir karya The Second Sex, buku ini menuliskan bahwa ketika berdandan, perempuan sedang beralienasi dalam imajinya dan tidak menyadari hal ini. Parahnya, mereka justru membangun ilusi seolah telah menemukan dirinya dan yang ia tampilkan adalah dirinya yang sejati.

Sama seperti buku karya Ester ini, pertanyaan selanjutnya, bagaimana jika perempuan tidak berdandan untuk memuaskan masyarakat patriarkal? Bagaimana jika perempuan ingin cantik untuk kepuasannya sendiri? Saya sendiri sungguh ingin tahu batasan antara keduanya.

Kecerdasan bukan hanya milik laki-laki

Ester membahas kecerdasan dalam subbab “Otak, Seks, dan Ideologi”. Topik ini sungguh menarik perhatian saya sejak kalimat dalam paragraf pembukanya, “Pikiran tidak berjenis kelamin.”

Otak dilihat sebagai sesuatu yang kodrat. Lantas masyarakat meyakini bahwa laki-laki lebih pintar matematika, sedang perempuan unggul pada bidang bahasa. Perempuan lebih cerewet dan laki-laki senang berkompetisi. Laki-laki sulit mendengarkan dan perempuan tidak membaca peta. Masih ada sederet labeling karena keyakinan akan relasi kecerdasan dengan jenis kelamin tadi.

Buku ini membahas pengujian para dokter yang sesungguhnya hanya mencari data sesuai dengan keyakinannya, dalam hal ini meneguhkan inferioritas perempuan. Khusus untuk pengujian neurologi, praktik semacam ini disebut neuroseksisme.

Kajian-kajian terbaru nyatanya telah banyak membantah temuan tersebut. Ketika melihat otak manusia, kita tidak dapat menebak itu milik laki-laki atau perempuan. Tidak ada perbedaan dalam aspek kognitif maupun sensorial yang berbeda karena proses setelah kelahiran justru lebih penting, yaitu pengaruh sosiokultural.

Masyarakat lebih cenderung melakukan interaksi fisik pada anak laki-laki. Permainan bola secara kolektif dan semacamnya berperan dalam orientasi spasial. Sementara itu, anak perempuan lebih sering diajak berbicara dan cenderung bermain di rumah, seperti boneka atau masak-masakan. Ketika anak laki-laki bermain di rumah pun, permainan yang diberikan adalah mobil, lego, atau kereta. Semuanya terkait dengan arah, gerak, dan posisi.

Interaksi seseorang dengan lingkungan semacam itulah yang berperan penting dalam pembentukan otak. Perkembangan otak sendiri tidak pernah berhenti selama seseorang masih hidup. Bayangkan, bagaimana pembentukan otak seorang perempuan jika hidupnya teralienasi?

Perempuan, jadilah liar!

Ester dalam subbab “Perempuan-Perempuan Penyihir” menjelaskan tiga golongan perempuan yang dibantai oleh masyarakat patriarkal saat ini. Salah satunya adalah perawan tua dan janda muda.

Perempuan yang melajang dianggap tidak lengkap karena aturan manusia hidup berpasangan. Berapa pun usia perempuan lajang, masyarakat tidak pernah bisa menerima kalau mereka mampu bahagia, bahkan jika dibanding perempuan yang menikah dan punya anak. Kehidupan perempuan lajang dianggap kering dan depresif.

Ester sendiri menggolongkan desakan semacam itu sebagai bentuk kekerasan psikologis. Baginya perempuan tidak tertekan oleh kelajangannya, tetapi oleh pandangan dan perlakukan masyarakat terkait statusnya itu. Perempuan umumnya juga masih menerima tuntutan tersebut sebagai sebuah keharusan. Mereka dituntut untuk tidak boleh pemilih, harus memiliki karakter menyenangkan, sampai tidak boleh terlalu pintar.

Perempuan yang lajang diasumsikan belum mengenal kehidupan seksual, berbeda dengan janda. Perempuan yang berstatus janda akan dianggap ancaman karena dinilai sudah mengenal nikmatnya hubungan seks. Ia dicurigai akan mengganggu suami orang, apalagi kalau dia masih muda dan cantik.

Agar mereka tidak menimbulkan kericuhan di masyarakat, para janda ini diharapkan dapat segera menikah kembali. Sebagai janda yang dianggap bekas, mereka sebaiknya juga tidak terlalu pilih-pilih. Laki-laki yang mau menikah dengan janda sendiri kerap dianggap telah menyelamatkan hidup mereka.

Banyaknya persoalan yang dihadapi perempuan sesungguhnya karena mereka dilihat semata-mata sebagai rahim dan vagina. Tuntutan sedemikian besar pada perempuan selalu berawal dari tubuhnya dan dianggap sebagai takdir.

Untuk itu pula, Ester menulis karya ini. Ia ingin pembaca, khususnya perempuan, mengintepretasikan ulang tubuhnya untuk bisa menyelidiki diri dan melihat jauh ke dasar hati. Ia ingin para perempuan bisa menemukan kekuatan yang mampu membebaskan jiwa.

Usai membaca buku ini, jujur saja, saya sendiri memang belum bisa menemukan sang serigala betina. Masih perlu banyak buku yang perlu dibaca, diskusi yang perlu diikuti, atau apapun itu agar pikiran saya terus tergelitik. Hingga suatu saat nanti, serigala betina yang jadi saya yakini ada dalam tubuh ini, bisa terbangun dari tidur panjangnya. (Delima Purnamasari)


Posted

in

by

Tags: