Kronik II: Perang Vietnam 1965 – Gilang Andretti

23/06/65

New Times mengabarkan bahwa pada Solidaritas Serikat Buruh Internasional Kedua dengan Vietnam pada 2-7 Juni 1965 menyerukan bahwa Amerika Serikat adalah aggressor, mendukung penuh kemerdekaan penuh rakyat Vietnam. Selain itu, pemimpin delegasi Soviet –  Kamran Gusseinov – menyakinkan rakyat Vietnam bahwa Soviet senantiasa selalu berada di belakang perjuangan mereka. Untuk mewujudkan hal itu, ia memberikan hadiah berupa obat-obatan, bahan makanan, kain, sepeda, sepeda motor, dan mobil senilai 800.000 rubel kepada Vietnam Selatan dan Vietnam Utara. 

(Anonim, “Hands Off Vietnam,” New Times, No. 25, 23 Juni 1965, hlm. 10)

23/06/65

Pentagon “mengeluarkan” sebuah strategi baru untuk menghadapi babak lain dari Perang Vietnam. Sebab, jumlah pasukan yang dikirim terus bertambah – sebelumnya jumlah pasukan tidak kurang dari 60.000 – bahkan pada 9 Juni 1965, sudah ada 50.000 pasukan angkatan darat dan laut yang terlatih untuk berperang di hutan-hutan. Mereka di siapkan di Okinawa, Jepang dan tinggal mengirim ke Vietnam Selatan. Strategi baru ini dikeluarkan karena, pertama, kemampuan tentara boneka kepunyaan Saigon menurun. Misalnya, desersi masal, miskomunikasi antar pasukan hingga pertengkaran antara para pemimpin. Kedua, serangan-serangan udara dinilai oleh Amerika tidak efektif. Hal ini diperparah seiring datangnya musim penghujan. Oleh karena itu, Pentagon dan State Department ingin mengalihkan beban perang kepada angkatan darat mereka di Vietnam Selatan.

(Dmitry Volsky, “New Pentagon Plans,” New Times, No. 25, 23 Juni 1965, hlm. 11-12)

23/06/1965

Pada 11 Juni 1965, sewaktu duta besar Amerika untuk Vietnam Selatan – Maxwell Taylor – pulang ke negerinya, pemerintahan Phan Huy Quat yang hanya berkantor selama empat bulan menjadi kabinet Saigon ke-11 yang lengser selama kurun waktu 20 bulan. Maxwell mengakui bahwa pembentukan pemerintahan sipil yang kuat telah gagal. Alasan utama kabinet Quat jatuh karena adanya desakan yang kuat dari Menteri Dalam Negeri dan Ekonomi. Keduanya memiliki pendukung masing-masing, Quat didukung oleh Phan Kac Suu – kepala negara sementara. Sementara itu, Menteri Dalam Negeri dan Ekonomi didukung oleh organisasi Katolik Roma dan Asosiasi Katolik di Vietnam Selatan. Hal ini kemudian diikuti demonstrasi dan pertemuan bertema anti-pemerintahan yang menyebabkan kerusuhan dengan polisi. Namun, hal ini tidaklah mengejutkan.

(Anonim, “Putsch No. 11” New Times, No. 25, 23 Juni 1965, hlm. 24)

30/06/1965

Hall of Columns yang termasyur di Moscow terisi penuh pada 17-18 Juni 1965 karena sebuah konferensi diadakan di sana. Sekitar 500 delegasi dan beberapa ratus tamu dari beberapa negara juga turut hadir. Mereka akan memilih delegasi Soviet untuk menghadiri World Peace Congress di Helsinki antara 10-15 Juli 1965.  Pada pemilihan ini Nikolai Tikhonov terpilih sebagai ketua, dan Mikhail Kotov sebagai sekretaris.

Di samping memilih anggota delegasi, mereka membicarakan tugas perjuangan selanjutnya untuk melawan agresi imperialis dan mendukung pembebasan nasional, perdamaian, dan pelucutan senjata. Masalah seputar Vietnam adalah hal yang paling menonjol dari setiap pidato. Misalnya, Alexei Danilin – seorang mekanik dari First Moscow Watch Factory – menyatakan pada konferensi bahwa ia menginginkan dunia mendengar suara pekerja Moskow yang mendukung penuh perjuangan saudara dari Vietnam. Selain itu, perwakilan dari South Vietnam National-Liberation Front – Dang Quang Minh – menjelaskan perjuangan dan keberanian rakyat Vietnam dalam perjuangannya melawan agresi Amerika, bahkan mendapatkan applause berdiri.

(V. Rosen, “Soviet Peace Movement Conference,” New Times, 30 Juni 1965, No. 26, hlm. 12-13)

30/06/1965

Pasukan pembebasan telah berhasil mendirikan pemerintahan yang mengadministrasi empat perlima penduduk Vietnam. Selain itu, pemerintahan yang mereka dirikan relatif stabil, hal ini berbanding terbalik dengan apa yang terjadi di Saigon. Sebab, di Saigon sudah terjadi beberapa kudeta dan kontra-kudeta dengan sangat cepat, sehingga sulit untuk mengetahui orang-orang yang sedang berkuasa. Sementara itu, kepala administratif di zona yang telah dibebaskan dipegang oleh komisi atau “embrio” menteri. Contohnya, komisi untuk urusan militer, informasi, kesehatan, kebudayaan dan pendidikan, hingga ekonomi. Hal itu berlaku di tingkat provinsi hingga nasional, sementara itu di tingkat pedesaan komisi direpresentasikan oleh sebuah tim dan grup yang menerapkan kebijakan dari pusat. Setelah suatu desa dibebaskan seluruh populasi diharapkan ambil bagian dalam memilih Self-Management Committee. Namun, yang seringkali terjadi adalah setelah pembebasan terjadi organisasi wanita dan pemuda yang mengambil inisiatif untuk memilih komite dan mengorganisasi pertahanan diri. 

(Wilfred Burchett, “People’s Government in South Vietnam,” New Times, 30 Juni 1965, No. 26, hlm. 5-7)

07/07/1965

Pada 24 Juni 1965, pemerintahan Saigon baru yang dipimpin oleh Nguyen Cao Ky menginformasikan beberapa kebijakan baru. Pertama, ia menyatakan “keadaan perang,” di seluruh Vietnam Selatan dan pemerintahannya menganggap semua penduduknya memiliki potensi untuk berkhianat. Kedua, ia mengumumkan jam malam yang di mulai pada pukul 22.00 hingga pukul 02.00 dini hari. Ketiga, ia memutuskan hubungan diplomatik dengan Perancis karena dinilai telah membantu Vietnam Utara. Keempat, ia mengumumkan bahwa per 1 Juli 1965 ia memutuskan untuk menutup 36 kantor surat kabar selama bulan Juli. Hanya ada dua surat kabar yang diperbolehkan beredar, dan keduanya milik pemerintah. Satu surat kabar khusus untuk front dan satu surat kabar khusus untuk “bagian belakang.” 

Kebijakan ini memberikan gambaran yang sangat baik mengenai apa yang terjadi di Saigon. Misalnya, atmosfer yang penuh dengan bahaya “ledakan” politik hingga ledakan yang sesungguhnya. Bahkan pada hari pengumuman tersebut, sebuah ledakan muncul di sebuah club tempat perwira-perwira Amerika minum-minum. Hal ini membuat perwira-perwira Amerika takut dan menghindari restoran dan tempat hiburan. 

(D. V., “Vietnamese Pompeii,” New Times, 7 Juli 1965, No.27, hlm. 14)

07/07/1965

Sekitar April 1965 di Amerika, tepatnya di Universitas Michigan terjadi demonstrasi yang dimotori oleh mahasiswa dan anggota-anggota fakultas. Aksi ini terkonsentrasi untuk melawan kebijakan perang Amerika di Vietnam. Aksi-aksi ini terus berlanjut, bahkan lebih besar, pada 15 Mei 1965 di Sheraton Park Hotel, Washington terjadi demonstrasi yang dihadiri oleh 150.000 mahasiswa yang berasal dari puluhan universitas dan kampus. Tujuan mereka tetap sama, menentang kebijakan perang Amerika di Vietnam. Demonstrasi ini juga dihadiri oleh beberapa pembicara di antaranya, Prof. Hans Morgenthau dari Chicago yang cukup populer di lingkungan akademik karena mengkritik sistem administrasi. Selain itu, hadir pula Prof. Mary Wright dari Universitas Yale, George Kahin dari Universitas Cornell, dan William Williams dari Universitas Wisconsin. Demonstrasi lain terjadi pada akhir Mei di Berkeley yang dihadiri oleh 10.000 orang, lalu pada 8 Juni di Madison Square Garden, New York juga terjadi demonstrasi yang dihadiri oleh 18.000 orang dan disokong oleh National Committee for a Sane Nuclear Policy. Bahkan demonstrasi juga terjadi di depan kantor Pentagon tidak lama setelah McNamara – Defence Secretary – mengumumkan pengiriman 20.000 yang akan ditugaskan di Vietnam. Bahkan pada demonstrasi ini McNamara mengundang lima orang perwakilan dari massa demonstrasi ini, tetapi tidak berhasil merubah apapun. 

Aksi-aksi demonstrasi tidak memberikan hasil yang nyata karena kurang terorganisir dan tidak memiliki satu tujuan yang sama. Misalnya, beberapa demonstrasi terjadi karena ketakutan bahwa Perang di Vietnam akan mengarah pada peperangan yang lebih besar dan sebagian mewajarkan kehadiran Amerika di Vietnam yang dinilai sebagai tindakan untuk membendung komunisme. Namun, satu hal yang patut diapresiasi adalah pembentukan opini di Amerika tersebut. Sebab, sebagian besar warga Amerika tidak memiliki informasi yang terpercaya terkait perkembangan dunia dan peran yang dimainkan oleh pemerintahannya. Sebuah poling mengatakan bahwa 41% warga Amerika tidak memiliki pandangan yang jelas terkait dengan kebijakan pemerintahannya di Vietnam.

(Stanislav Kondrashov, “Fears and Doubt,” New Times, 7 Juli 1965, No. 27, hlm. 9-11)

14/07/1965

Duta besar Amerika untuk Saigon – mungkin pada April 1965 atau bulan sebelumnya – mengatakan bahwa Amerika harus “belajar” berperang tidak hanya di Vietnam. Akan tetapi dimanapun di seluruh negara yang belum berkembang. Hal ini nampaknya terjadi di kemudian hari, Ross Mark – koresponden London Daily Express – pada 22 April 1965 melaporkan bahwa Amerika menggunakan perang Vietnam sebagai tempat pengujian dari gudang senjata mematikan milik mereka yang pernah diperlihatkan dalam perang. Sementara itu Sunday Times menuliskan bahwa menurut Pentagon, perang di Vietnam merupakan kesempatan emas untuk menguji coba senjata rumit yang telah mereka kembangkan setelah melalui satu dekade kemajuan teknologi. Selain itu, New York Herald Tribune pada 11 April 1965 mengabarkan bahwa tidak ada yang “memalukan” dalam penggunaan senjata kimia dan biologi yang dilakukan oleh pasukan Amerika. 

Selain uji coba senjata, Amerika juga menggunakan perang Vietnam sebagai uji coba taktik. Amerika sedang menguji coba taktik perang lokal dan terbatas dalam rangka melawan taktik perang pembebasan nasional. Untuk menggunakan taktik ini, Amerika melatih pasukan yang dirancang untuk berperang dalam kondisi dan cuaca tertentu, pasukan ini kemudian juga ditugaskan untuk menjalankan taktik bumi hangus. Dengan demikian, pasukan Amerika mencoba untuk “mengasapi” tempat persembunyian pasukan gerilya Vietnam dengan menggunakan bom palem dan fosfor. Bahkan bom palem sanggup membakar tanaman padi yang masih basah, sedangkan bom fosfor dapat mengubah manusia menjadi obor yang menyala.

(Victor Glazov, “Pentagon’s Indo-Chinese Testing Ground, New Times, 14 Juli 1965, No.28, hlm. 16-17)

21/07/65

Koresponden New Times – Albert Pin – mewawancarai Dang Quang Minh, seorang kepala dari Permanent Mission of the South Vietnam National-Liberation Front di Uni Soviet. Dang menjelaskan bahwa pada akhir Juni Amerika melakukan serangan di War Zone D, yang berjarak 30 mil dari Saigon. Pada serangan ini, Amerika mengerahkan 3000 pasukan penerjun payung yang mendapatkan bantuan dari pasukan Saigon dan Australia. Namun, serangan ini mengalami kegagalan. Pada Juli 1965 serangan kembali dilakukan, tetapi tetap menemui kegagalan. Kegagalan ini sebenarnya hanyalah salah satu mata rantai dari berbagai kegagalan Amerika. Pada Mei 1965, pasukan pembebasan (Vietnam Utara) berhasil meraih keberhasilan yang impresif di Song Be dan Quang Ngai. Kemenangan pada Mei begitu impresif karena pasukan pembebasan berhasil membuat Amerika mengalami kekalahan yang hebat selama dua bulan terakhir. Pasukan pembebasan berhasil mengalahkan 14 batalyon dan 55 kompi. Totalnya 20.000 pasukan dan perwira Amerika selama empat bulan pertama tahun 1965.

Sementara itu, kondisi Saigon menjadi tidak aman, pasukan pembebasan jalur komunikasi utama, sehingga banyak daerah yang tidak dapat berkomunikasi dengan markas pusat. Selain itu, pasukan pembebasan juga merusak jalan-jalan utama, sehingga pasukan Amerika disibukkan untuk mensuplai ulang pasukan mereka yang terisolasi dari jalur udara. Kondisi ini membuat Presiden Johnson pada 8 Juni 1965 hendak menambahkan jumlah pasukan di Vietnam. Saat ini, jumlah pasukan sudah mencapai 60.000 dan hendak ditambah menjadi 250.000. Di samping perang, pasukan pembebasan juga menjalankan program politik, mereka sudah mendistribusikan 2 juta hektar tanah kepada petani. Standar kehidupan di pedesaan sudah lebih tinggi daripada saat perang melawan Perancis dan masa awal perang melawan Amerika. Hal itu membuat orang-orang Vietnam yakin untuk terus melawan, mereka juga yakin bahwa mereka tidak sendirian dalam perang ini. Sebab, ada Uni Soviet dan negara sosialis lain yang membantu mereka. 

(Albert Pin, “The Military Situation in South Vietnam,” New Times, 21 Juli 1965, No. 29, hlm. 15-16)

21/07/1965

Pada 8 Juli 1965, Washington secara mengejutkan mengumumkan bahwa Duta Besar Amerika untuk Vietnam – Maxwell Taylor – mengundurkan diri, sebagai gantinya Washington menunjuk ulang Henry Cabot Lodge. Hal ini dinilai sangat mengejutkan, sebab setahun lalu saat Taylor ditunjuk, ia dinilai sebagai “penyihir” yang mampu membalikkan keadaan di Vietnam, bahkan petinggi Pentagon yang merupakan pemikir strategi perang, sekaligus penulis teori “perang terbatas” mengatakan bahwa Taylor adalah sosok yang tepat untuk memenangkan Washington di belantara Indo-China. Saat menjabat sebagai Duta Besar, Taylor memiliki tujuan yang ambisius, ia ingin menciptakan representasi pemerintahan yang stabil dan menciptakan perlawanan yang efektif terhadap pasukan pembebasan. Pemerintahan yang dibantu oleh penasihat Amerika itu diharapkan dapat memilih momen yang tepat untuk melakukan serangan total terhadap pasukan pembebasan. Akan tetapi, semua rencana tersebut gagal total. Hal ini terjadi karena, terjadi sembilan kali kudeta dan disintegrasi pasukan Saigon. Sehingga, pasukan Amerika yang harus berperang dan mengalami kekalahan. Keadaan bertambah buruk, bahkan markas pasukan Amerika tidak aman, serangan udara yang diharapkan Taylor tidak menghasilkan efek yang signifikan. 

Sementara itu, taktik perang terbatas yang dibawa Taylor sama sekali tidak terlaksana. Justru pasukan Amerika terjun dalam peperangan “tanpa batas” dan dihantui oleh kekalahan. Berbagai kegagalan dan kekalahan beruntun yang diderita oleh Amerika di Vietnam-lah yang menyebabkan pengunduran diri yang mendadak dari Taylor. Sementara itu, pengganti Taylor – Lodge – dinilai lebih memiliki pemahaman yang baik terhadap Vietnam. Selain itu, Lodge juga berhubungan dengan sebagian besar jendral Saigon yang merasa risih dengan usaha Taylor untuk menciptakan pemerintahan sipil. Dalam hal strategi militer, Lodge ingin mengepung pasukan pembebasan dengan cara menempatkan pasukan Amerika di Laos, Thailand, dan kemungkinan juga dari Kamboja. 

(D. Volsky, “Change of Guard in Saigon,” New Times, 21 Juli 1965, No. 29, hlm. 16-17)