-->

Kronik Buku Toggle

Perpustakaan SD Al Hikmah Raih Juara Nasional Gelar Pesta Baca

Tak sia-sia SD Al Hikmah Surabaya getol mengkampanyekan budaya membaca bagi seluruh civitasnya. Rabu (05/12) perpustakaan SD Al Hikmah Surabaya dinobatkan sebagai Juara I Lomba Perputakaan SD tingkat Nasional yang diselenggarakan Diknas pusat di Jakarta, pada 26-30 Nopember.

Kemenangan itu diraih setelah menyisihkan sekurangnya 90 peserta lain dari seluruh Indonesia. “Kemenangan ini tidak kami duga. Apalagi 6 besar peserta finalis, fasilitas perpustakaannya jauh lebih baik dari perpustakaan kami,” tutur Drs. GATOT SULANJONO, Kepala SD Al Hikmah, Rabu (05/12).

“Tapi nampaknya juri memilih kami, justru karena kekuatan program kami dalam hal kampanye budaya membaca,” lanjut GATOT SULANJONO pada suarasurabaya.net. Perpustakaan yang berdiri sejak SD Al Hikmah berdiri tersebut, saat ini memiliki koleksi 14.193 judul dengan total 34.000 eksemplar buku. Tersedia pula jaringan internet yang memungkinkan pengunjung mencari informasi lebih luas.

Menurut WIDHI NUGROHO, Kepala Perpustakaan SD Al Hikmah, rata-rata setiap hari tak kurang 600 – 700 siswa mengunjungi perpustakaan. “Ini patut kami syukuri. Artinya, keinginan kami untuk menjadikan perpustakaan sebagai jantung sekolah, kian tercapai,” terang WIDHI NUGROHO.

Banyak program yang digencarkan untuk sukses ini. Antara lain, memasukkan pelajaran membaca menjadi pelajaran ‘resmi’ untuk kelas bawah, ada program wajib baca dan resume buku, sampai pemberian hadiah untuk siswa yang meminjam terbanyak. Untuk guru juga demikian.

Mensyukuri anugerah juara, Kamis (06/12) besok renacananya, mulai pukul 13.00 wib sampai dengan pukul 15.00 wib, seluruh siswa (red: total 1153 siswa) menggelar pesta baca. Direncanakan, siswa kelas 1 menggelar acara Kenduri Buku, siswa kelas 2 memilih mengadakan Parade Dongeng, kelas 3 memainkan Mokoku (mobil toko buku, semacam perpustakaan keliling). Sedangkan siswa kelas kelas 4 dan 5 ditantang untuk membuat buku kreatif, dan kelas 6 menggelar Parade Story Telling tentang buku.(tok)

suarasurabaya.net 05 Desember 2007


Tak sia-sia SD Al Hikmah Surabaya getol mengkampanyekan budaya membaca bagi seluruh civitasnya. Rabu (05/12) perpustakaan SD Al Hikmah Surabaya dinobatkan sebagai Juara I Lomba Perputakaan SD tingkat Nasional yang diselenggarakan Diknas pusat di Jakarta, pada 26-30 Nopember.

Kemenangan itu diraih setelah menyisihkan sekurangnya 90 peserta lain dari seluruh Indonesia. “Kemenangan ini tidak kami duga. Apalagi 6 besar peserta finalis, fasilitas perpustakaannya jauh lebih baik dari perpustakaan kami,” tutur Drs. GATOT SULANJONO, Kepala SD Al Hikmah, Rabu (05/12).

“Tapi nampaknya juri memilih kami, justru karena kekuatan program kami dalam hal kampanye budaya membaca,” lanjut GATOT SULANJONO pada suarasurabaya.net. Perpustakaan yang berdiri sejak SD Al Hikmah berdiri tersebut, saat ini memiliki koleksi 14.193 judul dengan total 34.000 eksemplar buku. Tersedia pula jaringan internet yang memungkinkan pengunjung mencari informasi lebih luas.

Menurut WIDHI NUGROHO, Kepala Perpustakaan SD Al Hikmah, rata-rata setiap hari tak kurang 600 – 700 siswa mengunjungi perpustakaan. “Ini patut kami syukuri. Artinya, keinginan kami untuk menjadikan perpustakaan sebagai jantung sekolah, kian tercapai,” terang WIDHI NUGROHO.

Banyak program yang digencarkan untuk sukses ini. Antara lain, memasukkan pelajaran membaca menjadi pelajaran ‘resmi’ untuk kelas bawah, ada program wajib baca dan resume buku, sampai pemberian hadiah untuk siswa yang meminjam terbanyak. Untuk guru juga demikian.

Mensyukuri anugerah juara, Kamis (06/12) besok renacananya, mulai pukul 13.00 wib sampai dengan pukul 15.00 wib, seluruh siswa (red: total 1153 siswa) menggelar pesta baca. Direncanakan, siswa kelas 1 menggelar acara Kenduri Buku, siswa kelas 2 memilih mengadakan Parade Dongeng, kelas 3 memainkan Mokoku (mobil toko buku, semacam perpustakaan keliling). Sedangkan siswa kelas kelas 4 dan 5 ditantang untuk membuat buku kreatif, dan kelas 6 menggelar Parade Story Telling tentang buku.(tok)

Pustaka Sampoerna Luncurkan Buku Cerita Rakyat Pasuruan

Seiring dengan pergantian generasi dan bergesernya pandangan hidup dari waktu ke waktu, serta makin berkembangnya teknologi, secara perlahan kekayaan budaya lisan di masyarakat semakin hilang.

Guna melestarikan sekaligus menggairahkan kembali cerita rakyat tersebut Sampoerna untuk Indonesia melalui Program Pustaka Sampoerna bekerjasama dengan Kantor Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Pasuruan meluncurkan Buku Cerita Rakyat Pasuruan di Perpustakaan Grati, Pasuruan, Selasa (04/12).

Peluncuran Buku itu membawa arti penting karena merupakan rangkaian dari kegiatan Workshop Penulisan Karya Tulis Program Pustaka Sampoerna yang berlangsung bulan Februari 2007 dan dilanjutkan dengan Lomba Penulisan Cerita Rakyat Pasuruan pada tanggal 16 Juni – 24 Juli 2007 lalu.

Lomba ini diikuti berbagai kalangan masyarakat Pasuruan, antara lain pelajar, mahasiswa, dan umum ini, berhasil memilih 6 naskah pemenang dan 9 naskah pilihan, yang kemudian dibukukan dan diterbitkan dengan judul “Buku Cerita Rakyat Pasuruan – Singgasana Raja yang Bergoyang”.

H JUSBAKIR ALDJUFRI, SH, MH, Bupati Pasuruan menilai, kegiatan ini merupakan sebuah langkah nyata dalam melestarikan tradisi lisan dengan cara menulis dan membukukannya. Lima belas cerita terbaik yang dirangkum dalam Buku Cerita Rakyat Pasuruan ini merupakan sebagian dari cerita rakyat yang berkembang dan diharapkan dapat menjadi pembelajaran bersama.

“Yang cukup membanggakan para juara lomba penulisan didominasi oleh para pelajar. Padahal, lomba penulisan ini juga diikuti oleh masyarakat umum. Ini menunjukkan bahwa para pelajar juga mampu mengukir prestasi membanggakan” kata JUSBAKIR seperti dalam siaran pers Sampoerna pada suarasurabaya.net, Selasa (04/12).

NIKEN RACHMAD Direktur Komunikasi PT HM Sampoerna mengatakan, “Melalui penerbitan buku ini kami berharap, kisah kehidupan tokoh-tokoh legendaris Pasuruan yang sarat dengan keteladanan dapat menjadi sumber inspirasi, motivasi dan kreasi bagi kita semua untuk mempersembahkan karya besar yang bermanfaat bagi kemajuan Indonesia,” ungkapnya.

Sebagai tahap awal, buku cerita rakyat Pasuruan “Singgasana Raja yang Bergoyang” telah dicetak sebanyak 2.000 lembar segera disebarkan ke seluruh perpustakaan di tingkat Propinsi, Kotamadya dan Kabupaten di seluruh Indonesia. Di Kabupaten Pasuruan, buku tersebut akan disebarkan ke seluruh perpustakaan sekolah, perpustakaan umum dan taman bacaan.(ipg)

suarasurabaya.net  4 Desember 2007 dengan judul Singgasana Raja yang Bergoyang Diluncurkan

Emang, Sekolah Anda Punya Perpustakaan?

Banyak kondisi perpustakaan kita yang dengan mudah dapat diidentifikasi sebagai bangunan/ruangan yang paling jelek di antara ruang kelas yang lain. Dalam istilah Abdullah Mamber, perpustakaan cenderung berwujud gedung yang paling angker di lingkungan sekolah.>>perpus

Keadilan Pengadilan Jaksa Dungu

Sungguh sial nasib Bersihar Lubis. Saat-saat ini mantan wartawan Tempo itu harus tampil sebagai pesakitan di pengadilan hanya karena ia mengutip kisah orang lain yang dikisahkannya kembali di dalam sebuah kolom. Ia digelandang ke pengadilan dengan dakwaan melakukan penghinaan dan pencemaran nama baik. Penggiringan kasus ini ke pengadilan tak hanya tidak logis karena terkesan dipaksakan, tapi juga terasa menabrak rasa keadilan.>>kliping

Pemerintah Perluas Sarana Membaca

Kebutuhan masyarakat terhadap sarana membaca makin tinggi. Ini seiring animo masyarakat yang juga meningkat dari tahun ke tahun.

ARINI PAKISTYANINGSIH Kepala Badan Arsip dan Perpustakaan Pemkot Surabaya pada suarasurabaya.net, di sela Surabaya Book Fair, 29 November – 5 Desember 2007, mengatakan, peningkatan animo masyarakat membaca buku berdasarkan jumlah buku yang disediakan di mobil keliling.

“Setiap kali mobil keliling berhenti, masyarakat langsung memanfaatkan buku-buku yang ada. Bahkan buku-buku yang kita sediakan di taman bacaan seperti di Taman Bungkul dan Taman Flora ludes dibaca masyarakat. Buku-buku tersebut diganti setiap 2 bulan sekali,”ujarnya.

Di Perpustakaan Umum milik Pemkot Surabaya, kata ARINI, koleksi buku yang disediakan sebanyak 65 ribu. Total ditambah dengan buku di mobil keliling dan taman bacaan menjadi 100 ribu buku.

Melihat tingginya animo masyarakat membaca, ungkap ARINI, pemerintah memperluas sarana membaca. Satu diantaranya, dengan menggelar “Surabaya Book Fair” secara rutin setiap tahun.

Selama 2007 ini, pameran bekerjasama dengan 200 penerbit di Jawa Timur sudah kali kedua digelar. Seperti di Balai Pemuda yang ditargetkan bisa dikunjungi 35 ribu orang.

“Pameran pertama di Royal Plaza dan ternyata mampu menghasilkan transaksi sebesar Rp 2 milyar lebih. Di pameran ini, juga dijual buku-buku murah baik dengan harga obral maupun potongan harga. Dari pemerintah targetnya, mencoba mengakomodasi kebutuhan masyarakat terhadap dunia buku. Kalau animo terus meningkat, bisa jadi kegiatan pameran di tambah, tidak hanya dua kali setahun tapi bisa tiga kali,”paparnya.

Dalam pameran ini, tambah ARINI, banyak event yang bisa diikuti masyarakat. Mulai bedah buku, story telling, peragaan busana dan bursa naskah bagi penulis pemula. (tin)

Suarasurabaya.net, 29 November 2007

Bersihar Diadili Gara-gara Opini "Interogator Dungu"

Bersihar Lubis yang menulis “Interogator Dungu” di Koran Tempo tanggal 17 Maret 2007, kini diadili di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Tanggal 14 November 2007, jaksa menuntut mantan wartawan majalah Tempo, Gatra, Gamma, dan Pemimpin Redaksi Medium itu dengan pidana delapan bulan penjara.>>kliping

Bersihar Diadili Gara-gara Opini “Interogator Dungu”

Bersihar Lubis yang menulis “Interogator Dungu” di Koran Tempo tanggal 17 Maret 2007, kini diadili di Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. Tanggal 14 November 2007, jaksa menuntut mantan wartawan majalah Tempo, Gatra, Gamma, dan Pemimpin Redaksi Medium itu dengan pidana delapan bulan penjara.>>kliping

Kisah Interogator yang Dungu

Oleh Bersihar Lubis

Syahdan, Joesoef Ishak diinterogasi selama sebulan oleh Kejaksaan Agung menyusul terbitnya roman Anak Semua Bangsa karya Pramoedya Ananta Toer. Joesoef adalah pemilik Hasta Mitra (1980), yang menerbitkan karya Pram yang kemudian dilarang itu. Ia disekap di penjara pada 1965 dan 1966 dan meringkuk lagi di penjara Salemba sejak 1967 selama 10 tahun. Atas keberaniannya menerbitkan karya Pram, ia menerima hadiah “Jeri Laber Pour la Liberte de l’edition” dari Perhimpunan Para Penerbit Amerika, Partner Pen American Center, pada April 2004 di New York.

Saat tampil berbicara pada “Hari Sastra Indonesia” di Paris pada Oktober 2004 lalu, Joesoef pun bertutur tentang jalannya interogasi tersebut. Mulanya, ia mengusulkan supaya Kejaksaan Agung menggelar sebuah simposium ahli untuk membicarakan secara obyektif karya Pram. Tapi ternyata ditolak. Alasannya, interogator lebih paham dari siapa pun bahwa Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa adalah karya sastra Marxis. Anehnya, ketika Joesoef diinterogasi, aparat kejaksaan meminta Joesoef menunjukkan baris-baris mana yang menunjukkan adanya teori Marxis dalam buku Pram. Sikap sok tahu yang menyedihkan itu pun terungkap.

Ketika Joesoef diminta meneken berita acara pemeriksaan, para interogator tersenyum. “Buku-buku Pram luar biasa. Apakah Bapak mempunyai eksemplar tersisa? Istri saya belum membacanya. Bisakah Bapak mengirimkan satu eksemplar ke rumah saya?” kata si interogator. “Pak Joesoef hendaknya maklum bahwa apa yang saya lakukan hanyalah melaksanakan perintah atasan,” kata si interogator. “Saya telah disiksa oleh kedunguan interogator, dan interogator telah disiksa oleh atasan mereka yang lebih tinggi tingkat kedunguannya,” kata Joesoef.

Kisah lama ini diceritakan di sini berkaitan dengan langkah Kejaksaan Agung menerbitkan surat keputusan pada 5 Maret 2007. Isinya, melarang peredaran buku teks pelajaran SMP dan SMU serta setingkat karena tidak mencantumkan kebenaran sejarah tentang pemberontakan Partai Komunis Indonesia (PKI) di Madiun pada 1948 dan peristiwa pemberontakan PKI pada 1965. Gerakan 30 September (G-30-S) 1965 memang tercantum, tapi tanpa menyebut keterlibatan PKI. “Itu pemutarbalikan fakta sejarah,” kata Jaksa Agung Muda Intelijen Muchtar Arifin, 9 Maret lalu.

Pelarangan itu pun menimbulkan pertanyaan. Apakah didasarkan pada telaah ilmiah dari para sejarawan? Seandainya ada bahasan ilmiah yang melibatkan sejarawan seperti Anhar Gonggong, Asvi Warman Adam, dan lainnya, mungkin pelarangan itu sedikitnya telah bertolak dari pandangan ilmiah.

Jika buku sejarah yang dilarang oleh Jaksa Agung tersebut tidak mencantumkan PKI sebagai pemberontak pada 1965, tidak mengherankan. Banyak sekali buku publikasi domestik dan luar negeri yang meragukan keterlibatan PKI, meskipun versi pemerintah menyebut PKI tetap terlibat. Akibatnya, di tengah masyarakat muncul beragam versi yang berbeda, sehingga menurut Jaksa Agung Muda Muchtar dapat menimbulkan keresahan dan pada akhirnya akan mengganggu ketertiban umum.

Mungkin, Muchtar khawatir terhadap munculnya sensor horizontal dari pihak di luar kekuasaan, seperti istilah John H. McGlynn dalam makalahnya “Shapes of Censoring during The New Order” (2004) pada “Hari Sastra Indonesia” di Paris. Misalnya, “sweeping buku-buku kiri” pada awal 2000. Namun, bagaimana bisa disebut berbahaya jika karya buku dan seni hanyalah karya pribadi yang tidak mempunyai pasukan tentara atau polisi, juga tidak punya pasukan penumpas?

Sebaliknya, pemerintah lupa bahwa pada zaman teknologi informasi global ini, arus buku, karya seni, film, dan budaya massa dunia bisa diakses dan merasuk ke Indonesia tanpa bisa disetop. Aneh bahwa pemerintah sekarang berambisi bertindak sebagai ilmuwan, pendeta, ulama, sejarawan, kritikus sastra, dan penjaga peradaban, padahal masalah korupsi, kemiskinan, dan pengangguran masih membukit di pelupuk mata.

Menurut Benedetto Croce, filsuf sejarah kelahiran Italia (1866-1952), “Every true story is contemporary history (setiap sejarah yang benar adalah sejarah masa kini).” Artinya, kebenaran buku sejarah itu relatif. Dianggap benar pada masa Orde Baru bisa sebaliknya pada masa reformasi. Buku sejarah adalah gambaran mengenai masa lampau, walau tidak sama persis dengan masa lampau.

Gambaran yang obyektif sukar dicapai, maksimal hanya bisa mendekatinya. Lagi pula, setiap tulisan sejarah selalu mencerminkan ide si penulis bertolak dari visi dan tafsirnya sendiri. Akibatnya, topik yang sama bisa berbeda di antara beberapa penulis. Pendapat penulis pun bisa dipengaruhi oleh suasana zamannya. Misalnya, soal keterlibatan PKI dalam G-30-S, mungkin versi itu ditulis atas keinginan penguasa. Sementara itu, sejarawan lain menganggapnya tidak relevan karena keterlibatan PKI dalam G-30-S tak didukung bukti dan fakta sejarah.

Situasi sosio-budaya selalu mengalir, sehingga ide, penilaian, dan tafsir sejarah bisa berubah dan muncul berbagai versi berbeda. Ada versi pemerintah, ada versi sejarawan yang independen. Buku sejarah yang ditulis tak berhak memonopoli kebenaran, apalagi hendak memperbaiki buku sejarah yang ada, termasuk versi pemerintah. Yang beruntung adalah generasi kemudian yang mewarisi kekayaan sejarah, dan terpulang pada mereka untuk memahaminya secara arif dan rasional.

Memonopoli kebenaran sejarah itu absurd. Apalagi sejarah selalu ditulis tidak pada saat terjadi, tapi jauh setelah peristiwa itu terjadi. Merekayasa sejarah yang telah terjadi akan cenderung mereduksi sejarah.

* Bersihar Lubis, penulis, tinggal di Depok
** Digunting dari Harian Koran Tempo edisi 17 Maret 2007.

Ulil Abshar dan Kitab-kitab

Ini adalah surat Ulil untuk mertuanya, Gus Mus(tofa Bisri). Ihwal kekaguman dan kebengongan. Ihwal pengajaran dan kitab-kitab di sebuah negara yang kerap dianggap satan bagi kaum agelaste dari Islam. Inilah Ulil, si abdi ilmu itu. “Kalau saya renung-renung sendiri, kelihatannya saja saya sekarang di Amerika, Abah. Tetapi apa yang saya pelajari “plek” persis seperti di pesantren,” tulisnya. (redaksi I:BOEKOE)>>tokoh

Perpustakaan Sekolah Telantar

Perpustakaan sekolah dasar di sejumlah daerah, termasuk di sekitar Jakarta, terkesan ditelantarkan dan belum menjadi prioritas. Koleksi buku-buku sudah usang, tempat penyimpanan tidak representatif, dan nyaris tidak ada buku-buku baru.>>perpus

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan