-->

Kronik Buku Toggle

Industri Buku yang Berubah

Harian Kompas edisi 9 Januari 2015 menurunkan empat wawancara penulis dan penjaga toko buku dengan pokok soal: Pasar dan Bacaan. Bernard Batubara, Eka Kurniawan, Dewi Ratnasari, Rhenald Kasali berbicara tentang dunia hilir buku: industri! (Redaksi) (lebih…)

Sudah Tepat Dewan Buku Nasional Dibubarkan

JAKARTA — Media Indonesia 8 Januari 2015, menurunkan pendapat-pendapat mengiringi pembubaran Dewan Buku Nasional oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sebagai alternatif ketiadaan Dewan Buku itu maka Pemerintah dan DPR perlu menetapkan UU Perbukuan sebagai landasan hukum untuk mendorong sistem perbukuan yang baik dan mendorong minat baca masyarakat. Tugas dan fungsi Dewan Buku Nasional sebagai salah satu lembaga yang dibubarkan nantinya dijalankan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (lebih…)

Sastra Digital dan Menghidupkan Buku Elektronik

JAKARTA — Di Harian Kompas, 8 Januari 2015, diturunkan dua potong berita. Tentang sastra digital dan menghidupkan kembali buku elektronik. Menurut sastrawan Sapardi Djoko Damono, kehadiran sastra digital di tengah masyarakat membuat sastra semakin cair dan terbuka. Karya-karya sastra kian mudah diakses oleh banyak orang dan bentuknya pun lebih beragam. ”Ini membuktikan bahwa teknologi merupakan pendukung perkembangan sastra,” kata SSD. (lebih…)

Buku Pelajaran Sekolah akan Diganti Tablet

JAKARTA — Sebagaimana dikabarkan web daring okezone 7 Januari 2015, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan berencana menggunakan tablet sebagai alat bantu kegiatan belajar mengajar. Buku untuk menulis akan tetap menggunakan kertas, tablet hanya akan dipakai sebagai media penyimpan materi pelajaran. (lebih…)

#23TWEETS | ANGKRINGAN BUKU – BERNARD BATUBARA

Bernard Batubara merupakan salah satu penulis muda yang produktif. Baru-baru ini @benzbara_ mengeluarkan kumcer berjudul “Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik Untuk Bunuh Diri”. Karya Bernard Batubara sebelumnya yang sudah terbit di antaranya Surat Untuk Ruth dan Kata Hati.
Bernard Batubara lahir 9 Juli 1989 di Pontianak, 1989. Tahun 2012 menamatkan studi Teknik Informatika di Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Selama kuliah aktif di lembaga pers mahasiswa.
(lebih…)

Transisi 2014

Dalam kalender 2014, tak terlalu banyak yang dilakukan Yayasan Indonesia Buku. Karena inilah tahun transisi terbesar setelah 2006 dan 2009.

Di tahun 2006, Indonesia Buku berdiri yang dimulai dengan riset besar-besaran tentang pers dan kronik Indonesia di Jakarta, sekaligus menetapkan sikap bahwa penerbit IBOEKOE memilih jalur penerbitan indie sebagai jalan publikasi karya. Yang dimaksud dengan indie adalah: mencipta/meriset naskah sendiri, memproduksi dan mencetak sendiri lewat POD dalam selimut “Limited Edition”, dan mendistribusikan sendiri lewat jalur-jalur khusus dan setapak. (lebih…)

Pameran Lukisan “Selfie Zone” | Gerimis Ungu Production | Yogyakarta

MEDSOS

Jumat, 2 Januari 2015, 19.30 WIB
Seniwati : Anjani Imani Citra Afsiser dan Arce Priangsari
Kurator : Opée Wardany
Diskusi : 9 Januari 2015, 15.30 WIB
Lokasi :
Kersan Art Studio
Jl. As Asmawat No. 154, Dusun II Kersan, Tirtonirmolo,
Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta, Indonesia 55000
dimeriahkan oleh Tari “Perempuan dari Masa Lalu” oleh Kiki Rahmatika; adaptasi naskah Putu Wijaya. Musik oleh Riza.Dipandu oleh Menik Sithik & Hardoko (MC Cangkem Reget)

Membuka tahun 2015, Gerimisungu Production bekerja sama dengan Kersan Art Studio, JogjaNews, IBOEKOE/RBOEKEOE mempersembahkan sebuah pameran seni rupa bertajuk “Selfie Zone” yang mengangkat tema wilayah diri.

Wilayah Diri pada Selfie Zone

Mengambil istilah yang sedang kondang di dunia fotografi dan media sosial, kata selfie begitu menggelitik. Ada kesan ringan, sedikit genit, tanpa meninggalkan kata dasarnya; diri. Selfie menjadi semacam kata sifat yang berkaitan dengan diri. Sementara zone, merujuk pada wilayah. Secara sepintas dan gamblang, selfie zone tidaklah berbeda dengan wilayah diri yang menjadi tema kegiatan.

Berbicara tentang diri (manusia); ada banyak hal yang serta-merta muncul di benak kita. Kita bisa membicarakan kedirian sebagai satu individu, diri yang berkaitan dengan sosial, diri yang berkaitan dengan lingkungan (alam; tumbuhan, hewan), atau juga dalam pola hubungan transenden. Dapat kita ketahui pula bahwa diri (manusia) tak melulu satu muka yang tertampil atau satu wajah yang tertangkap.

Ketika mencoba menambahkan kata ‘wilayah’ pada diri, terasa mulai ada pembatasan yang bisa dipegang atas penjabaran diri. Wilayah berkaitan dengan teritori dalam korelasi kekuasaan, atau cakupan/jangkauan yang dapat direngkuh diri, atau hal-hal yang menguar dari diri, atau –lagi- segala macam yang ada di dalam dan dialami oleh diri.

Sebagaimana diri (manusia), wilayah diri juga tak bermakna tunggal. Hal ini justru terasa menguntungkan sehingga pengejawantahan wilayah diri sebagai tema kegiatan (pameran seni rupa) menjadi kerangka yang tetap menyisakan ruang-ruang terbuka untuk keliaran seniman dan kurator untuk berproses dan memproduksi karya-karya seni yang bakal dipajang.

Wilayah diri diterjemahkan secara luas oleh kedua seniwati; Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari, Bagi keduanya; wilayah diri memiliki makna filosofi sebagai sebuah tema untuk berporses kreatif dan menghasilkan produk berupa karya-karya kreatif. Dari segi media; wilayah diri dapat dikaitkan dengan wilayah gambar atau bidang sebagai media kreatif. Sementara, dari sudut teknik; wilayah diri adalah sesuatu yang dikuasai dan dieksplorasi untuk mewujudkan karya kreatif.

Tak menutup kemungkinan, tema ini terjemahan tema ke dalam wujud karya-karya seni rupa menjadi lebih jamak, beragam, bercabang ke banyak sudut. Seyogyanya, harapan kurator dan 2 seniwati, tema ini mampu membangkitkan gairah dan membebaskan diri dalam berproses dan berkarya kreatif tanpa membuat diri lupa pada dasar yang menjadi pijakan, yaitu: wilayah diri.

Anjani Imania Citra Afsiser dan Arce Priangsari

Kedua seniwati yang masih dalam tahap penyelesaian kuliah strata 1 di Institus Seni Indonesia (ISI) DI Yogyakarta ini bertekad mewujudkan tema dalam berbagai media juga teknik. Citra, panggilan akrab Anjani Imania Citra Afsiser, yang banyak mengolah bentuk-bentuk abstrak tetap tak meninggalkan kanvas dan cat akrilik sebagai media bermainnya selama ini. Ia pun akan menjajal bahan-bahan lain untuk mewujudkan karya-karya kreatifnya dalam pameran ini.

Sementara, Arce yang banyak bermain dengan kertas, cat timbul, dan tinta akan juga mengolah pewarna batik, malam, canting. Selain itu, kedua seniwati bersama kurator mengeksplorasi pengolahan dan pemajangan karya yang digelar di Kersan Art Studio pada tanggal 2 sampai 13 Januari 2015.

Tentang Gerimisungu

Gerimisungu Production adalah kelompok yang bergerak dalam kegiatan-kegiatan seni seperti mengorganisir pameran karya seni, proyek seni, dan mendukung kelompok seni dan/atau seniman individu. Gerimisungu Production percaya bahwa seni tidak dapat dipisahkan dari sektor-sektor lain kehidupan (sosial, ekonomi, politik, budaya, spiritual, dan sebagainya). Tanpa melupakan pentingnya proses dalam menciptakan karya seni, seni yang memiliki muatan estetika adalah media untuk menyampaikan berbagai hal. Melalui penyelenggaraan kegiatan-kegiatan seni; ruang-ruang berbagi, belajar, bekerja, dan berkarya kreatif yang melibatkan para seniman, para narasumber, dan masyarakat dapat berlangsung.

Kontak :
Gerimisungu Production
Keloran IV, RT 05, Tirtonirmolo
Kasihan, Bantul, DI Yogyakarta
Indonesia 55181
+62 274 9117696
E: gerimisungu@gmail.com
www.Gerimisungu.com

—————————————————

Kersan Art Studio
Jl. AS. Samawaat No 154 Dusun II Kersan
RT 06 / RW 05
Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul
Yogyakarta – INDONESIA

www.kersanartstudio.com
+62 274 – 4398179
+62 81 392 868 300

PRESS REALEASE TOGAMAS NGAYOGBOOK 2015 “SepiingPamrih, RameingWacan”

Jogja, Kota yang istimewa, Kota dengan kultur budaya yang sangat kuat dengan konten-konten kearifan
lokal yang masih terjaga hingga saat ini. Jogja juga dikenal sebagai kota buku, selain banyak Industri Perbukuan Lahir disini, juga merupakan surga bagi pembaca dan pemburu buku. Dengan fenomena Jogja sebagai kota perbukuan seperti ini, Togamas mencoba turut serta melakukan perayaan perayaan yang memeriahkan Jogja sebagai surga buku. Salah satunya dengan event tahunan “NgayogBook”.
Ngayogbook 2015 kali ini kami mengambil tema “sepi ing pamrih, rame ing wacan”. Falsafah jawa tersebut bagi kami mengandung banyak arti, seperti sedikit bicara, banyak membaca, ataupun bisa diartikan, sebelum bicara, baca buku dulu. Seperti kita ketahui fenomena sosial media, masyarakat dengan mudahnya bisa menyuarakan isi, hati pikiran, dan komentar. Tak jarang juga komentar miring, protes dan cemooh pun diunggah ke khalayak ramai. Berkaitan dengan tema yang kami pilih, kami ingin mengajak masyarakat untuk lebih cerdas, lebih beretika dalam bersuara di sosial media melaluibudaya membaca buku. Dari membaca maka wawasan sesorang menjadi lebih luas, pola pikir menjadi lebih baik dan cerdas. Pepatah mengatakan kepribadian seseorang dapat dilihat dari buku yang dibacanya.
Rame ing wacan juga bisa diartikan bahwa di Toko Buku Diskon Togamas yang menyediakan berbagai jenis genre golongan bacaan, mengajak para masyarakat untuk lebih lagi memperkaya jenis bacaan lebih dari biasanya. Khususnya untuk Toko Buku Diskon Togamas Affandi, kali ini juga menggelar pameran buku-buku Indie, dimana banyak buku yang dipamerkan merupakan karya karya indie yang dicetak dalam jumlah terbatas, dan tidak tersedia di toko buku modern ritel pada umumnya.
Denganmenawarkandiskon 30% all item, kami inginmemberikanharga yang ringanuntuksemuabukuditengahkenaikan BBM danbahanpokok yang sedangterjadi, sehinggamasyarakatakandenganmudahmendapatkanbukutanpaharusmengeluarkandanalebih. Ngayogbook 2015 kami laksanakan serentak di tiga Toko Buku Diskon Togamas Jogja.
Adapunrincianacaratersebutsbb :
Acara : Ngayogbook 2015 “ Sepi ing pamrih, Rame ing Wacan”
Keuntungan : DiskonsemuaBuku 30%
Waktu : 3hari, 2, 3,4 Jan 2015
Lokasi : TogamasAffandi, JlGejayan no 5 CondongCatur
Togamasd’Gale, Galeria Mall Lt. 2
TogamasKotabaru, Jl. Suroto no 8 Kotabaru
Demikianacaraini kami persembahkanbagimasyarakatjogja. Mari kitabersamamembudayakan membaca untuk masyarakat yang lebih berbudaya.
Sheny Wardani -TogamasJogja (0811256675)

Chusna Rizqati: Karena Mengkliping itu tak Sama dengan Pernikahan Dini

Pekan lalu, anak sulung saya yang duduk di kelas 5 C SD Padokan 2, Kasihan, Bantul, kedatangan dua teman sekelasnya. Saya mengira Dipa Pinensula Whani dan temannya itu mengerjakan laporan perkemahan pramuka di Water Byuur, Bantul. (lebih…)

Kabar Resensi Buku | Minggu, 28 Desember 2014

Setiap Minggu, pers cetak mengeluarkan rubrikresensibuku untuk mengulas buku-buku termutakhir. Kami informasikan kabar resensi dan kabar buku lainnya di #KoranMinggu tersebut. Jika berminat mendapatkan kopi digital atas resensi tersebut, tersedia di bagian arsip kamar koran perpustakaanGelaranIbuku,warungarsip.co atautwitter @warungarsip. Kabar resensi ini disusun oleh Aya Nurhidayah. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan