-->

Kronik Buku Toggle

Ikapi Usulkan Penghapusan Pajak Kertas

Ketua Umum Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Setia Dharma Madjid mengusulkan agar pemerintah membebaskan pajak kertas untuk pendidikan atau memberi subsidi. Kebijakan ini akan membuat harga jual buku menjadi lebih murah, ketimbang dengan membeli hak cipta judul buku.>>kliping

Pemerintah Beli "Copy Right" Judul Buku

Pemerintah memutuskan membeli hak penerbitan atau copy right buku-buku pelajaran untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pembelian hak penerbitan ini dimaksudkan agar harga buku menjadi lebih rendah sekitar sepertiga dari harga buku yang sekarang dan terjangkau masyarakat.>>kliping

Pemerintah Beli “Copy Right” Judul Buku

Pemerintah memutuskan membeli hak penerbitan atau copy right buku-buku pelajaran untuk tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Pembelian hak penerbitan ini dimaksudkan agar harga buku menjadi lebih rendah sekitar sepertiga dari harga buku yang sekarang dan terjangkau masyarakat.>>kliping

Jangan Menangis Ibu! Kisah Nyata 16 Perempuan

ibunangisPenulis            : Ayu Arman
Penerbit         : I:BOEKOE (2007)
Tebal               : 200 halaman
Ukuran           : 12 x 19 cm
Harga              : Rp 35.500
Jenis Buku    : Kisah Nyata, Perempuan

“Menangis karena menghadapi ujian dan musibah yang berat adalah fitrah manusia. Menangis karena berbuat dosa adalah karunia. Menangis karena marah kepada perbuatan Allah adalah petaka. Jangan Menangis, Ibu!, sebuah tulisan yang dikemas dengan menarik dan menyentuh hati. Buku ini bisa menjadi referensi para pembaca untuk merenungkan arti kehidupan.” (Ummu Ghaida Muthmainnah/Teh Ninih)

Enam belas perempuan dalam buku ini adalah enam belas kisah tentang kekerasan yang mengambil bentuk yang berbeda-beda. Kisah mereka adalah kisah tentang keteguhan pikir dan kejernihan jiwa menunggang kesedihan yang kerap tak tertanggungkan. Mereka geluti kekerasan dan kesedihan itu seinci demi seinci. Tapi mereka tak lantas putus asa. Sebab dari keteguhan dan kesabaran yang membara itu selalu ada jalan keluar. Sekecil apa pun itu.

TERTARIK? HUB NO. 0888-692-6884 (MBAK NURUL HIDAYAH) atau email: iboekoe@gmail.com. RABAT HINGGA 30% SETIAP PEMBELIAN. BELUM TERMASUK ONGKOS KIRIM (DILUAR JOGJA&JAWA)

DPRD Cianjur Tarik Buku pelajaran 'Seri Pahlawan Nasional'. Kenapa?

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur meminta pendistribusian buku pelajaran Seri Pahlawan Nasional untuk siswa sekolah dasar, yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK), segera ditarik.>>kliping

DPRD Cianjur Tarik Buku pelajaran ‘Seri Pahlawan Nasional’. Kenapa?

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur meminta pendistribusian buku pelajaran Seri Pahlawan Nasional untuk siswa sekolah dasar, yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK), segera ditarik.>>kliping

Surabaya Segera Punya Sudut Baca

SURABAYA-Rendahnya minat baca dan budaya baca di Indonesia menjadi suatu keprihatinan sendiri. Untuk meningkatkan minat baca masyarakat itu berbagai kampanye gemar membaca dilakukan. Di Surabaya sebentar lagi segera diluncurkan sudut baca yang diharapkan dapat menjadi percontohan di seluruh Jatim.

Sudut baca ini dibangun untuk memberikan kontribusi terhadap perkembangan intelektualitas masyarakat Kota Surabaya, Dewan Kota Surabaya akan meluncurkan sudut baca di tempat-tempat umum terutama di tempat dimana para ibu, remaja dan anak-anak belum terlalu banyak punya fasilitas perpustakaan.

DANIEL M ROSYID Ketua Dewan Pendidikan Jatim pada Forum Reboan Dewan Kota Surabaya di Lantai 1 Gedung Rektorat ITS, Rabu (23/01), menjelaskan konsep sudut baca ini.

Pada tanggal 14 Februari mendatang sudut baca pertama akan dibuka di Stasiun Gubeng dan bekerjasama dengan PT Kereta Api (KA). Dewan Kota juga menggandeng Desain Produk ITS sebagai perancang arsitektur dan Jurusan Ilmu Informasi dan Perpustakaan (IIP) FISIP Unair yang dapat memberikan cara operasional perpustakaan.

Untuk mewujudkan sudut baca sebagai suatu proyek yang akan terus berkembang, Dewan Kota juga mengajak beberapa korporasi antara lain Pertamina dan Telkom, ujar DANIEL.

Menurut DANIEL masyarakat harus dapat menjadi pelaku aktif agar kegiatan ini dapat berjalan baik. Pelaku aktif dalam artian, masyarakat dapat menyumbangkan buku, majalah dan turut ambil bagian sebagai penjaga sudut baca maupun membuka sudut baca sendiri dengan ijin Dewan Kota Surabaya. Gerakan ini juga harus dilakukan serentak di seluruh Jatim dan dimulai di Surabaya sebagai percontohan.

TRI SUSANTARI Dosen IIP Unair juga menjelaskan konsumen utama sudut baca ini memang ibu-ibu dan anak-anak serta remaja. Mengapa demikian? Kata TRI, anak-anak dan remaja merupakan generasi penerus. “Sedangkan ada pepatah bila mencerdaskan 1 ibu maka 1 keluarga akan cerdas juga,” kata TRI.

Pembiayaan sudut baca ini sendiri dengan sukarela peminjam buku. DANIEL tidak merinci berapa besaran yang akan ditarik dari setiap peminjaman buku. Peminjam buku dapat memberikan berapa saja sesuai kemampuannya. Peran korporasi sendiri adalah sebagai sponsor untuk perkembangan sudut baca ke depan.(bir/ipg)

*) Suarasurabaya.net 23 Januari 2008

Jogja, Sebelas Taman Bacaan Resmi Buka

Sebelas taman baca yang berlokasi di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, dan Klaten, Jawa Tengah, diresmikan secara simbolik, dipusatkan di SD Negeri Karang Tengah Baru di Desa Karang Tengah, Imogiri, Bantul, Sabtu (19/1). Ke-11 taman baca tersebut dibangun dari dana bantuan Pemerintah Kerajaan Belanda bekerja sama dengan Departemen Luar Negeri serta Yayasan Taman Bacaan Indonesia.

Soehardjono Sastromihardjo, Direktur Informasi dan Media Departemen Luar Negeri, mengatakan, tahap awal ke-11 rumah baca itu masing-masing akan diberikan 1.500 judul buku. Setiap judul buku akan diberikan dua eksemplar sehingga total 3.000 buku.

Menurut Andri Hadi, Direktur Umum Informasi dan Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri, jumlah buku sumbangan akan terus ditingkatkan. Budaya baca perlu ditingkatkan karena sudah mulai luntur. Anak sekarang lebih menyukai tayangan televisi.

“Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca kita semua seperti menjelajah dunia tanpa perlu benar-benar berkeliling dunia. Selain itu, kita dapat juga mengenal berbagai cerita dan pengetahuan tentang berbagai negara yang letaknya ribuan kilometer dari Bantul,” ungkapnya kepada siswa SDN Karang Tengah.

Rethy Alexandra Sukardi, Ketua Yayasan Taman Bacaan Indonesia, menambahkan, rendahnya minat baca anak-anak disebabkan tidak adanya sarana dan prasarana yang memadai. Dengan membangun rumah baca ini, diharapkan anak-anak bisa mengenal luasnya dunia. “Kalau tidak dikenalin dulu, bagaimana mereka bisa cinta membaca,” ujarnya.

Buku-buku yang diberikan antara lain buku geografi, sejarah, bahasa, dan pengetahuan umum. Sebagian buku berbahasa Inggris, tetapi bahasa Inggris yang sederhana, dengan banyak gambar, mengingat pembaca buku itu adalah siswa tingkat sekolah dasar.

Ke-11 rumah baca itu dirupakan dalam bangunan di samping sekolah yang didirikan pascagempa Mei 2006, kecuali untuk SDN Karang Tengah Baru. “Karena terbatasnya lahan sekolah, taman baca SDN Karang Tengah Baru terpaksa dibangun di lokasi yang berjauhan dengan sekolah, berjarak sekitar 200 meter,” ujar Erna, Kepala Sekolah SDN Karang Tengah.

* Digunting dari Harian Kompas Edisi Jogjakarta 21 Januari 2008

Semua Bisa Menulis Buku, Tapi Sedikit Bisa Dinikmati

SURABAYA-Semua orang bisa menulis, tetapi hanya sedikit yang tulisannya bisa dipublikasikan dan dinikmati. Inil menjadi latar belakang digelar Workshop Penulisan Writing and Information Freedom, di Lantai III Gedung Perpustakaan Pusat Kampus B Universitas Airlangga, Jumat (11/01).

Workshop yang didukung oleh Kementerian Riset dan Teknologi ini di bagi menjadi dua hari, hari pertama workshop untuk penulisan fiksi khususnya novel dan hari kedua untuk penulisan buku teknologi informasi khususnya information technology for children.

MEIANA UTAMI Ketua Panitia Workshop Penulisan Writing and Information Freedom pada suarasurabaya.net, mengatakan, tujuan diadakan workshop ini mendorong orang untuk menulis.

“Semua orang memiliki konsep penulisan di dalam pikirannya tetapi tidak pernah tertulis. Inilah yang mendorong diadakannya workshop, agar semua orang bisa memulai menulis, ” ujar MEIANA.

Ia mengatakan selama ini banyak tema tulisan yang bisa diangkat terutama yang menginspirasi orang untuk berbuat sesuatu yang baik. Sayangnya sangat sedikit buku-buku fiksi yang mengangkat tema tersebut.

Diharapkan lewat workshop ini muncul penulis-penulis fiksi yang mengangkat tema tersebut. Sementara itu, untuk penulisan buku teknologi informasi bagi anak-anak, kata MEIANA, kurang. Padahal teknologi informasi sekarang sudah mulai dikenalkan sejak anak masih duduk di bangku SD.

“Buku-buku IT yang ada, lebih banyak ditujukan untuk dewasa, sedangkan buku untuk anak-anak, seperti pengenalan hardware, software, langkah-langkah mudah dan tokoh-tokoh, dirasa kurang,” kata MEIANA.

Workshop yang diikuti 37 peserta ini, tidak hanya memberikan materi tentang bagaimana langkah-langkah menulis yang baik, tetapi juga seluk-beluk dunia penerbitan. Peserta juga diwajibkan membuat satu karya cerita pendek yang akan dikritisi oleh pembicara workshop.

Workshop penulisan buku ini tidak hanya diadakan di Surabaya tetapi juga di kota-kota besar lain seperti Jakarta, Bandung, Yogjakarta, Solo dan Makassar. Selain workshop, juga diadakan lomba penulisan buku fiksi yaitu novel dan buku teknologi informasi untuk anak dan lomba desain cover berskala nasional. (kss/tin)

*) Suarasurabaya.net 11 Januari 2008

Waspada, Sekarang Banyak Penerbit 'Nakal'

Sekarang ini banyak penerbit ‘nakal’, yang menerbitkan karya tanpa seijin penulisnya. Ini dikatakan MEIANA HUTAMI Kepala Bagian Promosi Penerbit ANDI di sela-sela Workshop Penulisan Writing and Information Freedom di Gedung Perpustakaan Pusat Kampus B Universitas Airlangga, Jumat (11/01).

MEIANA mengatakan banyak modus yang digunakan oleh para penerbit ‘nakal’. Diantaranya menemui penulis di tempat umum dan meminta karya mereka, kemudian memberikan kartu nama. Namun setelah dicek, ternyata tidak ada.

Modus yang lain, penulis datang ke kantor penerbitan dan memberikan karya, tetapi penerbit menolaknya. Setahun kemudian, karyanya diterbitkan tetapi bukan atas nama si penulis.

“Ironisnya, kebanyakan penulis tidak hanya memberikan hard copy-nya saja tetapi juga soft copy juga. Ini membuat penulis tidak bisa menuntut hak cipta karyanya, karena tidak memiliki bukti,” ujar MEIANA.

Untuk menghindari penipuan ini, MEIANA menyarankan pada masyarakat yang ingin karyanya dipublikasikan dengan meminta nota tanda terima ketika menyerahkan ke penerbit. Karya yang diserahkan hanyalah hard copy saja.

“Masyarakat juga bisa menyerahkan dengan bentuk proposal, berisi sinopsis cerita, daftar isi, dan contoh isi. Untuk contoh isi cukup dari 1 Bab saja terserah dari isi buku tersebut asal jangan dari Bab 1,” kata MEIANA. (kss/tin)

*) Suarasurabaya.net 11 Januari 2008

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan