-->

Kronik Buku Toggle

Jangan Bikin Malu di Buku Pelajaran

Oleh Muhidin M Dahlan

Kronik perbukuan yang saya himpun mencatat banyak kasus yang memalukan. Di antaranya adalah PT Bintang Ilmu, distributor tunggal yang ditunjuk Depdiknas di Cianjur, Jawa Barat, untuk produk peningkatan mutu, ternyata ketahuan mengirim buku porno di Pekalongan.1

Masih di Cianjur. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cianjur meminta pendistribusian buku pelajaran ”Seri Pahlawan Nasional” untuk siswa sekolah dasar, yang dibiayai oleh Dana Alokasi Khusus (DAK), ditarik. Sebab, gambar jilid salah satu buku, yakni Seri Pahlawan Ki Hajar Dewantara, dibuat dalam bentuk karikatur. Oleh Dewan, buku itu dianggap tidak mendidik dan tidak menghargai nilai kepahlawanan. Di sana digambarkan Ki Hajar Dewantara, dengan bentuk bibir dan hidung yang tidak proporsional. Menurut Dewan, itu bukan masalah kebebasan berekspresi, melainkan jelas-jelas tidak mendidik. Buku itu diterbitkan PT Grasindo.2

Investigasi Majalah Tempo3 pada awal alaf ketiga,  membeber data gila-gilaan atas praktik pengadaan buku pelajaran 1995-1998. Jalan haram, pat-gulipat, dan kesalahan elementer dilakukan terang-benderang oleh penerbit-penerbit pemenang tender, seperti Cempaka Putih (Intan Pariwara), Rosda Karya, Multi Trust, Mizan, dan lain-lain.

Ambil saja Penerbit Rosda yang memenangkan tender untuk buku Sejarah (1997-1998), Matematika (1998-1999), Biologi (1999-2000). Untuk buku matematika, Rosda mengantongi uang 26,3 milyar. Dan inilah wajah buku yang diterbitkannya: menjiplak buku karangan Dr Wahyudin dari penerbit Epsilon Group. Mizan yang mengantongi duit 24.3 milyar juga mengambil jalan menyelimpang: menjiplak buku yang dijiplak Rosda hingga titik komanya.

Kalau bukan menjiplak, penerbit itu seenaknya mencatut nama penulis yang sudah terkenal. Lagi-lagi nama Wahyudin dipalak. Kini penerbit kurang ajar itu bernama Multi Trust. Dengan “kreatif”, nama Wahyudin ditambahkan Jumanta. Geleng-gelenglah Wahyudin asli ketika banyak orang yang menelponnya untuk konfirmasi isi buku.

Jika bukan menjiplak, biasanya isinya amburadul. Buku Fisika Jilid I pemenang tender Bank Dunia dan diterbitkan PT Multi Trust oleh tim ahli yang tahu bidang ini ditemukan kesalahan mendasar. Pada halaman 62 di buku itu diberi contoh seorang anak yang melempar bola setinggi 60 meter tatkala menerangkan gaya vertikal. Bagi orang yang tahu, jelas itu contoh ngawur dan tak merangsang logika siswa karena tak mungkin seorang anak bisa melempar setinggi 60 m.

Ironis memang. Padahal buku-buku itulah yang menjadi santapan pikiran jutaan anak-anak sekolah kelas kere di seluruh penjuru tanah air.

Dana yang digelontorkan untuk mendanai racun pikiran 1995-1998 itu tak main-main: US$ 172,8 juta. Rinciannya: pinjaman dari Bank Dunia US$ 132,8 juta dan dari APBN US$ 40 juta.

Semua dana itu statusnya utangan. Bank Dunia sebagai pihak yang meminjamkan sempat menyetop bantuan dan minta penyelidikan. Dan muncullah daftar-daftar penerbit gelap. Hingga 2004, kelelawar-kelelawar buku itu masih gentayangan yang membuat berang Bank Dunia. Si pengucur pinjaman itu meminta Pemerintah RI membayarkan kembali $10 juta dari pinjaman yang telah diberikan untuk pengadaan buku tahun 2004. (Bersambung)

END NOTE:

  1. Diunduh dari milis sastra-pembebasan. 5 Februari 2009. “Distributor Tunggal Depdiknas (PT. Bintang Ilmu) Edarkan Buku Menghina Pahlawan”. Pengirim: Robert Sianturi.
  2. Koran Tempo. 30 Januari 2008. ” DPRD Cianjur Tarik Buku pelajaran ‘Seri Pahlawan Nasional’. Kenapa?”
  3. Tempo. Edisi 5 November 2000. “Skandal Proyek Pengadaan Buku Sekolah: Rajin itu Pangkal Bodoh”.

Google Book dan Toko Buku Online (Diskusi)

Acara Talk Show Bersama GOOGLE di Pesta Buku Jakarta Bersama : Mr. Erik Hartmann, Strategic Partner Development, Pencarian Buku Google, Asia

1. Hari/Tanggal : Sabtu 27 Juni 2009 Pukul 16.00 – 18.00 di Ruang Anggrek; Seminar: “Promosikan buku-buku Anda di Google, gratis — Informasi untuk Penerbit”
Pembicara : Mr. Erik Hartmann, Strategic Partner Development, Pencarian Buku Google, Asia

2. Hari/Tanggal : Selasa 30 Juni 2009 Pukul 16.00 – 18.00 di Panggung Utama
Pembicarannya: “Talkshow Toko buku online di Indonesia — Informasi dan Evaluasi untuk Penerbit dan Pembeli”
Mr. Erik Hartmann, Strategic Partner Development, Pencarian Buku Google, Asia Dan Toko buku Online www.bukukita.com dan website Online penerbit. (Mizan, Agromedia, Penebar swadaya, LKIS dll)

informasi bisa lihat di www.pestabukujakarta.com

Korupsi dan Ulah Bejat Penerbit-penerbit Kelelawar

Oleh Muhidin M Dahlan

Di situs Indonesian Corruption Watch (ICW) pada 25 Agustus 2008 kita disuguhi daftar yang membuat kita terperangah betapa buruknya pengadaan buku pelajaran sekolah. Terutama sekali ulah hitam penerbit dan individu-individu yang bermain-main di sana.

Tak tanggung-tanggung, Bank Dunia merilis daftar hitam penerbit-penerbit kelelawar itu.

Ada sekira 27 penerbit, yakni: PT Penerbit Erlangga (Jakarta), PT Grasindo (Jakarta), PT Ganeca Exact (Bandung), PT Mitra Gama Widya (Jakarta), PT Mizan (Jakarta), PT Albama (Jakarta), PT Trigenda Karya (Bandung), PT Pabelan (Jakarta), PT Surya Angkasa (Semarang), PT Edumedia (Surabaya), PT Tiga Serangkai (Semarang), PT SPKN (Bandung), CV Djatnika (Bandung), CV Titian Ilmu (Bandung), PT. Mega Jaya (??), CV Kendang Sari (Surabaya), CV Grafindo, CV Multi Trust, PT Pribumi Mekar, IKIP Malang/Yayasan Penerbit Ikip Malang, PT Indah Jaya Adipratama, PT Mitra Aksara Panaitan (Jakarta), PT Multi Adiwiyata, PT Remaja Rosda Karya (Bandung), PT Balai Pustaka (Jakarta), dan PT Kanisius (Yogyakarta).

Melihat daftar itu pantas saja mutu buku pelajaran kita buruk. Mustahil berharap buku-buku bermutu diproduksi dengan cara-cara kotor dan jalan penyuapan di sana-sini. (Bersambung)

Surabaya (Insya Allah) bukan Kota Antibuku

Surabaya dari hari ke hari semakin meneguhkan namanya sebagai kota niaga yang kalap dan rakus. Hutan beton bertumbuh semakin rapat. Pusat perbelanjaan menjamur nyaris di semua penjuru kota. Papan reklame memenuhi setiap ruang kosong dengan senyum-senyum menawan.

Tapi pusat-pusat budaya makin terdesak dan terhimpit. Gerakan budaya pun menjadi berakan sunyi yang berbisik diantara komunitas-komunitas kecil.

Buku, sebagai tempat menimba kearifan hidup, menjadi satu sisi budaya yang turut berdesakan dikota niaga ini. Toko-toko buku besar bermunculan, menawarkan ragam pilihan yang bisa disesuaikan dengan isi kantong warga kota.

Pemerintah kota bak pahlawan buku menyurung pembangunan kampung ilmu sebagai wadah pedagang buku emperan. Taman bacaan dan mobil baca keliling mengunjungi beberapa ujung kampung saban berapa hari sekali. Sudut-sudut baca teronggok wajib di setiap puskesmas. Dengan semua itu, sudahkah kota ini dan juga warganya, menjadikan buku sebagai bagian dari budaya yang memagari kearifan hidup dari gerusan perniagaan?

Di antara keriuhan itu, ada pecinta dan penggila buku yang coba berjalan di jalan sunyi selaiknya sebuah buku. Mereka adalah penulis-penulis muda yang coba menerbitkan buku sendiri untuk melawan dominasi penerbit besar. Mereka adalah pemilik toko buku dan perpustakaan independen yang tekun menjagai buku-buku dengan beberapa orang pengunjung saja seharinya.

Mereka adalah komunitas pecinta buku yang dengan kesabaran mendiskusikan buku-buku sebagai refleksi kehidupan meski hanya dengan anggota yang tak genap sepuluh orang. Mereka adalah aktivis buku yang tak lelah berteriak tentang pentingnya membaca sekaligus mendekatkan buku ke pembacanya di kampung-kampung. Mereka-mereka inilah pion-pion budaya yang menjadikan buku sebagai peneguh semangat menjaga benteng budaya sebuah kota.

Jalan buku memang sunyi. Sesunyi perjalanan yang dilalui setiap pecintanya. Tapi semangat dan cita-cita yang mereka usung tak sesunyi buku. Dengan jalannya masing-masing, mereka melukis wajah Surabaya esok hari melalui buku-bukunya. Kota ini tentu tak anti buku. Kota ini pastilah mencintai buku. Maka mari dengarkan suara bisikan mereka tentang buku di tengah gempita kota industri dan niaga yang makin gila ini. Yuk, ikutan ngobrol bersama di acara:

Diskusi dan Peluncuran Buku
“Para Penggila Buku: Seratus Catatan dibalik Buku”
karya Muhidin M Dahlan & Diana AV Sasa
Tanggal: 29 Juni 2009
Waktu: 19:00 – 22:00
Tempat: C2O Library, Jl Dr. Cipto No 20 (depan Konjen AS)

Menghadirkan:
Muhidin M Dahlan (Penulis, pegiat lembaga riset dan penerbitan Indonesia Buku)
Diana AV Sasa (Penulis, Owner Galeri Buku ::dbuku::)
Cathleen Azali (Owner C2O Libarary , Cinemateque ‘n Café)
Arief Santosa (Redaktur Buku Jawa Pos)
Giryadi (Budayawan)
Moderator : Fakhruddin Nasrullah (Sastrawan)

Acara ini didukung sepenuhnya oleh:
Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku(i:boekoe) www.indonesiabuku.com
Galeri Buku ::dbuku::
Komunitas Esok (Emperan Sastra Cok-Cepetan Ojo Keri-)
C2O Libarary , Cinemateque ‘n Café
www.event.web.id
LP. Fajar Timur

Mari Menulis Buku Harian

Oleh Mohammad Eri Irawan

(Sebab) kertas lebih sabar ketimbang manusia. Anne Frank menulis selarik kalimat itu di buku hariannya pada 20 Juni 1942.

Ia datang bukan sebagai orator yang menggebu bicara kemanusiaan. Ia bukan panglima militer, ekonom, fisikawan, atau atlet legendaris.

Tapi, bertahun-tahun sesudah kematiannya, orang ramai tetap tak pernah lupa: kisahnya terus terekam lewat buku dan film, pasase-pasase di buku hariannya lekat di ingatan.

Tepat 12 Juni pada 80 warsa silam, ia keluar dari rahim ibunya. Kita tahu, buku harian Anne, The Diary of Young Girl, menyita perhatian di seluruh penjuru dunia.

Bahkan, bermula dari diary yang disapanya sebagai ”kitty” itulah nama Anne ditabalkan Time sebagai salah satu tokoh berpengaruh di abad ke-20, sebuah abad yang gemuruh oleh tragika dan baluran darah segar.

Nama Anne masuk dalam kategori heroes dan icons, bersanding dengan banyak nama besar, seperti Bunda Teresa, Muhammad Ali, dan Che Guevara.

Ia tiga belas tahun kala itu, 12 Juni 1942, saat kali pertama menulis buku harian.

”Aku berharap aku bisa mencurahkan isi hatiku padamu dengan cara yang belum pernah aku lakukan kepada siapa pun sebelumnya. Aku harap kamu dapat memberi rasa nyaman dan juga semangat untukku,” tulisnya.

Anne memberi jalan benderang kepada kita untuk memahami betapa asyiknya menulis diary kendati ia berada dalam risau luar biasa akibat pembersihan warga Yahudi ketika Hitler masih berjaya.

Ia menjadikan diary sebagai medium untuk memundaki derita dan kecemasan, sekaligus menampakkan keriangan menghadapi hidup.

Anne tak mengawali proses penulisan buku hariannya dengan mudah. Ia jujur mengakui kesulitannya dalam awal mula menulis. Sebab, dengan jujur ia menyatakan tak tahu apa kelak yang ia tulis itu berguna atau tidak.

Anne tak perlu menunggu jawaban terlalu lama tentang “apakah kelak yang ia tulis berguna atau tidak?”, sebab ia sadar bahwa menulis diary adalah sebuah ikhtiar yang kelewat personal namun bermakna sosial ketika yang digoresnya adalah suara batin yang menghayati kemanusiaan.

Maka, dia pun merasakan kenyamanan itu. Tak butuh lama sejak kali pertama menulis diary, Anne sudah merasakan betapa nikmatnya ”proses menulis” –bahkan jauh lebih nikmat ketika tulisan sudah rampung dan dibaca orang ramai.

Ia menambahkan, pada 28 September 1942 tentang nikmatnya ”proses menulis” dalam selarik kalimat yang tegas: aku merasa tidak sabar menunggu saat-saat untuk dapat berbagi cerita bersamamu.

Dan, memang benar, bahwa menulis diary dengan jujur adalah terapi jiwa menghadapi idealitas dunia yang kian menjadi utopia.

Anne menulis diary sejak usia tiga belas tahun. Tangannya terakhir kali menggores diary pada 1 Agustus 1944, hanya tiga hari sebelum orang-orang yang bersembunyi di Secret Annex, termasuk dirinya, tertangkap.

Berkat buku hariannya itu, Time menyebut Anne sebagai “the most memorable figure to emerge from World War II”.

Tentu saja bukan hanya Anne yang menjadikan diary sebagai teman yang menyejukkan sekaligus sarana menyalurkan pemberontakan individual terhadap wajah bopeng dunia.

Beberapa nama yang bisa disebut adalah Zlata Filipovich, Nadja Halibegovich, Mochtar Lubis, Ahmad Wahib, atau Soe Hok Gie.

Nadja Halibegovich, bocah lugu yang merana dalam gigir kecemasan luar biasa akibat perang, juga menulis catatan harian yang kemudian dibukukan, Catatan Harian Anak Sarajevo. Di sana ia mencurahkan kecemasannya.

Sekali lagi ini membuktikan, kendati buku harian sering disebut kelewat personal, tetap bisa menjadi penjelas wajah retak dunia. Simaklah kala Nadja menulis: “bom-bom meledak di seluruh penjuru kota. Aku menyembunyikan perasaan-perasaan dari semua orang tetapi aku tenggelam dalam keputusasaan. Kapan perang ini akan berakhir? Berapa lama lagi hidupku akan berisikan ruang kematian?”

Dari dalam negeri, nama Mochtar Lubis patut dikedepankan, selain Gie dan Wahib, tentu saja. Mochtar Lubis menulis catatan harian di ruang pengap penjara. Mulai soal menu makanan penjara hingga kritik keras ia goreskan di catatannya.

Dua buku akhirnya diterbitkan. Buku pertama berumbul Catatan Subversif berisi catatan hariannya kala dikurung sekira 10 tahun pada zaman Orde Lama. Buku kedua adalah Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru. Dari kedua buku itu kita tahu sepak-terjang Mochtar Lubis dalam memperjuangkan keyakinannya.

Catatan harian Gie dan Wahib, dua orang yang mati muda itu, juga menjadi inspirasi banyak orang. Gie dengan idealisme dan romantika khas anak muda, dan Wahib dengan gagasan besar soal keislaman dan keindonesiaan.

Dari buku-buku harian sejumlah tokoh di atas, kita bisa mengambil benang merah bahwa menulis diary, yang kerap kita anggap sepele, ternyata menjanjikan kenikmatan tersendiri.

Menulis diary bukan hanya persoalan menumpahkan pikiran dan perasaan yang teramat pribadi, melainkan juga ikhtiar untuk selalu berusaha jujur pada diri sendiri. Kadang hanya di depan diary-lah kita bersikap jujur. Di sana kita mengkritik orang, membenci teman, atau menuangkan ide yang terkadang konyol.

Lewat buku harian pula, yang kita anggap wilayah pribadi itu, ranah sosial terekam. Sebab, di sana kita juga bisa menulis soal wajah bangsa dan masyarakatnya. Perjumpaan antara pikiran-perasaan dan realita dunia terkadang melahirkan tulisan yang tidak hanya menyentuh, tapi juga bisa menjadi inspirasi bagi orang ramai untuk bersama-sama melaburi dunia dengan belarasa dan empati, bukan dengan benci dan intoleransi.

Jadi, tunggu apa lagi. Jangan ragu untuk menulis buku harian!

* Mohammad Eri Irawan, peminat dunia baca-tulis

> Diketik dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu 21 Juni 2009

Benny Wicaksono : Membaca New Media

benny wicaksono

benny wicaksono

Kamis malam (11/6/09) pelataran Balai Pemuda Surabaya mendadak jadi ajang rave party. Empat orang laki-laki muda, asyik memainkan House music di belakang audio mixer. Di sisi kanan-kiri mereka berdiri 2 televisi layar datar. Layar itu menampilkan gambar dan permainan cahaya yang senada seirama dengan alunan musik. Pengunjung terbius untuk menari bersama. Hingar bingar, spektakuler, penuh asap, tawa, dan kegilaan. Siapa menyangka jika itu adalah sebuah acara pembukaan pameran seni? Tak ada tamu kehormatan, tak ada gong dipukul, apa lagi pita digunting. Tapi itu benar-benar pembukaan pameran seni. Surabaya International Video Festival 2009.

Dan seseorang dibalik ide gila itu tersebutlah satu nama: Benny Wicaksono. Ia seorang video jockey dan penggerak pameran video art.

Ben, kamu sejak kapan tertarik video art?

Kalau aku sih dari SMA sudah tertarik banget dengan dunia seni visual. Aku banyak tahu dari majalah-majalah. Makanya aku ngebet banget pengin kuliah di akademi seni. Waktu itu aku pilih ISI Jogja. Tapi 2 kali test masuk, tetep nggak masuk. Akhirnya, karena pilihannya harus tetap di dunia seni, ya udah, aku masuk desain grafis UK Petra. Sayang, aku gak bisa lulus juga dari kampus itu. Dunia seni lebih menarik bagiku ketimbang kampus. Dan pilihanku jatuh pada seni video.

Sejak 1999 aku sudah kepengin banget bikin pameran tunggal. Jadi aku buat aja pameran kecil-kecilan. Disitu sebenarnya, jejak-jejak karyaku yang sampai sekarang tuh muncul. Sistem Saluran Televisi Terbuka, Close Circuits Television, itu sampai sekarang masih jadi idiom dalam karya-karyaku. Keinginan pameran tungal yang benar-benar kupersembahkan untuk publik seni rupa baru bisa terwujud 4 tahun kemudian. Sejak itu aku banyak diundang mengisi pelatihan, mengajar, dan menjadi pembicara forum-forum diskusi seputar seni video gitu. Aku juga kadang jadi kurator  beberapa karya video teman-teman.

Kamu bilang, mengenal seni visual dari majalah. Emang kamu suka baca?

Wah, suka sekali. Aku adalah tipe orang, yang jika kehabisan bacaan di ruanganku, di studioku gitu, aku akan sangat gelisah. Aku cenderung gak peduli  mengeluarkan biaya berapapun buat buku dari pada untuk hal-hal yang nggak berguna. Koleksi bukuku termasuk koleksi yang lumayan banyak juga sih.

Berapa buku kamu punya?

Emm, sekitar 200-an lah. 200 teks book dan 50-an buku-buku tentang design gitu.

Sukanya baca buku apaan?

Cultural studies, filsafat

5 buku yang kamu suka?

Lima buku yang aku suka, sebentar..sebentar.. aku mikir ya…

Satu, Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang. Terus kedua itu, Subculture, The Meaning of Style, Dick Hebdige. Kemudian, The Language of New Media, Lev Manovich. Kurang dua ya? Ehmm, karena aku pengagum berat Yasraf Amir Piliang, bukunya semua aku koleksi, Hipersemiotika! Suka banget aku Hipersemiotika. Satu lagi, sebentar-sebentar aku ambilkan dari buku-buku ini,eh..apa ya…emm….ada satu buku yang aku suka banget, eh… The War of the Worlds, dari Mark Slouka, tentang pandangan pesimistisnya terhadap dunia internet. Aku suka banget buku itu.

Diantara buku-buku itu, yang paling mempengaruhi karyamu?

Aku mungkin Yasraf Amir Piliang. Tulisan-tulisannya sangat relevan dengan pemikiran-pemikiran progresif di Indonesia. Aku berkenalan pertama dengan tulisannya itu di Dunia Yang Dilipat. Tulisan-tulisan dia mencakup banyak hal yang harus aku baca. Dari persoalan internet, media, sampai politik. Aku suka banget buku dia.

Bagaimana mentransfer buku-buku itu ke dalam karyamu?

Ada bab-bab tertentu di buku Yasraf, tentang masyarakat yang belum melek media. Satu-satunya jalan untuk membuat masyarakat melek media, ya memang harus menggunakan aktivitas budaya yang menggunakan media. Jadi ada semacam counter culture disitu. Jadi bukan hanya merayakan datangnya media dengan televisi, sinetron, bla bla bla… tapi kita harus ada satu agenda, satu kegiatan, satu diskusi dimana disitu kita bukan hanya merayakan datangnya media tapi kita mengkritisi. Ada kesadaran untuk tidak hanya sebagai penikmat tapi juga sebagai pelaku aktif. Itu kuat banget dalam buku itu. Akhirnya, ketika aku ngomongin karya-karyaku yang notabene new media, aku juga ngomongin itu, aku juga mengkritik apa yang ada di medium video. Seperti contoh, ketika aku harus membelokkan makna tentang CCTV yang notabene jadi alat pengawasan, bersifat interfensi, surveillance, tapi ditanganku, itu, jadi alat untuk bersenang-senang saja. CCTV itu bisa aku sorot ke karya drawing-ku, lalu aku mixing jadi satu bentukan yang baru sehingga jadi karya video yang artistik. Ada pemutar balikan makna disitu.

Menurut kamu, perlu gak sih seniman membaca?

Sangat perlu. Seniman sangat perlu membaca. Seniman, dia juga sebagai sebuah representasi dari  masyarakat disekitarnya. Dia harus peka, kepekaan itu didapat dari cara mengamati, dan bagaimana dia  membaca situasi. Jadi membaca buku menurutku sangat sangat perlu. Karena ya itu tadi, pengetahuan mungkin hanya bisa di dapat dengan membaca ya. Sekarang bukan eranya, ketika seorang seniman ditanya ‘apa sih sebenernya basic lahirnya karya-karyamu?’ ‘Oh, tiba-tiba datang dari inspirasi-inspirasi  ketika saya menyepi’ Wah, sudah bukan jamannya itu. Seniman harusnya sudah bicara tentang strategi perubahan-perubahan di masyarakat, strategi budaya, di sekitarnya, itu.

Kamu suka nulis?

Oh aku nulis, aku seneng banget nulis. Aku tuh pengin menulis dan mengungkapkan gagasan lewat tulisan.

Sudah nulis apa saja?

Menulis satu tema yang utuh sih belum, paling hanya sekedar menulis komentar, mengkritisi, memberi masukan-masukan pada karya teman-teman dan dimuat di katalog-katalog mereka.

Apa sih asyiknya nulis?

Tantangan menulis adalah tantangan bagaimana aku harus mendapatkan informasi lebih banyak lagi. Seperti contoh, ketika aku diminta menulis pengantar untuk sebuah fashion illustration, maka aku harus membuka banyak buku yang berkaitan dengan dunia pop. Aku harus mencari informasi tentang itu.

Pesan kamu untuk seniman tentang buku?

Koleksi buku… sebanyak mungkin…. di lemarimu…..

Aku melihat teman-teman muda punya kecenderungan untuk punya koleksi buku yang cukup bagus ya. Buku ini tidak hanya yang dibeli di toko-toko buku ya. Coba datang ketempat-tempat art community, seperti Ruang Rupa, Selasar Sunaryo, Common Room, Cemeti, mereka menerbitkan buku-buku yang menurutku bagus banget dan sayangnya, mereka memang nggak menjualnya di toko buku umum. Jadi untuk mendapatkannya memang harus datang ke tempat-tempat itu. Dan kalo menjadi seniman, mengoleksi buku-buku seperti itu, menurutku harus, harus punya.

Jika kamu nanti bisa bikin buku, mau diterbitkan terbatas atau di publish luas?

Kalau aku sih ‘tak publish.  Siapapun yang minat dengan buku itu dan merasa dengan membaca buku itu bisa memberi makna penting dalam kehidupannya, ya aku pikir itu keberhasilan sebuah buku sih. (Diana AV Sasa)

Nama                                      : Benny Wicaksono

Tempat Tanggal Lahir      : Probolinggo, 25 Maret 1973

Alamat                                    : Jl. Siwalankerto Timur Raya 213 A

Telepon                                   : 031. 91517773

E-mail                                      : benny_illustration@yahoo.com

“Benny adalah perupa seni alternatif  yang tidak melihat apakah karyanya masuk market atau tidak. Tapi ia punya semangat bagaimana membangun Surabaya dengan Media Art. Dia inisiator dan penggerak seniman seni video yang masih di bawah tanah untuk muncul ke permukaan dan melakukan pameran” (Agus Koecink, Kurator-Penulis)

Taufik ‘Monyonk’ Hidayat: Jangan Curi Bukuku

MonyonkKepada kalian yang mengaku seniman, kepada kalian yang mengaku perupa, kepada kalian yang mengaku anti buku, kepada kalian yang mengaku penyembah buku, kusampaikan pesan ini.

Ada perupa yang tak mau menyentuh buku. Buku adalah musuh imajinasi. Buku hanya akan membunuh daya hayal. Mematikan proses berkarya yang alami. Buku menjadikan karya perupa kurang bernilai seni, tidak estetik, seadanya, bahkan cenderung ngawur(buruk). Perupa seperti itu pastilah perupa yang bermazhab pada wangsit dalam berkarya. Buku dianggapnya sebuah distorsi.

Mereka, perupa yang anti buku, mungkin lupa bahwa buku adalah kitab pemandu. Buku membantu seniman membuat analisis strategi pilihan dalam berkarya. Buku memberi pilihan filsafatnya, pilihan gagasannya, pilihan visualnya. Sebuah gagasan dalam berkarya harus memiliki filosofi yang jelas. Dengan begitu, berkarya tidak hanya mementingkan sisi estetika, namun juga visi dan pesan yang jelas. Pesan itu mestilah menggugah kesadaran, menggerakkan.

Aku memang perupa yang menyembah buku. Bagiku, buku adalah kunci dari  segala gagasan. Buku akan memberiku pondasi sebuah proses pembacaan. Pembacaan ini sudah tidak lagi teksbook tapi lebih pada pembacaan realitas sosial. Karya-karyaku mungkin jauh dari kesan estetik, tapi pesan yang kusampaikan jelas, karena aku punya gagasan yang kuat dan aku tahu filsafat setiap gagasanku. Dengan buku, aku bisa melakukan pembacaan sosial, memetakannya, sehingga karya-karyaku pun mencerminkan realitas sosial disekitarku. Sebuah karya yang dihasilkan tanpa pembacaan sosial yang komprehensif tidak akan menghasilkan apa-apa. Perupa yang krisis terhadap proses pembacaan, kuanggap hanya berkarya sebagai respon saja. Tidak ada pembacaan secara menyeluruh bahwa sebenarnya karya-karyanya bisa memiliki visi yang lebih jauh.

Lihat saja apa yang tercermin dalam karya-karyaku dua tahun terakhir. Secara estetika barangkali sungguh jauh dari kesan indah. Apa indahnya memunguti dan mempertontonkan sekumpulan sampah di pantai Kenjeran? Tapi bukankah pesan yang ingin kusampaikan sungguh jelas? Itu adalah cermin kegelisahan sosial. Aku mengajak masyarakat berpikir tentang kearifan lokal. Menyadarkan tentang kearifan alam. Aku menggugah kesadaran bagaimana agar masyarakat punya toleransi pada alam dan situs-situs sosial. Harapanku, sekian tahun kedepan, arogansi manusia terhadap alam bisa kita tangkal. Kehancuran ekosistem bisa diminimalisir. Karya-karyaku memang lebih brsifat kritik sosial, kritik pada perilaku masyarakat, kritik pada ambiguitas kehidupan manusia yg lebih berdifat destruksif, menghancurkan semua ekosistem hanya untuk kepentingan sesaat. Jadi, bagiku, estetika memang tidak berada diurutan atas dalam proses berkarya. Pesan, buatku jauh lebih penting. Karena karya harus menggerakkan.

Jelas, bahwa pengetahuan dalam proses pembacaan itu kuserap dari buku-buku yang kubaca. Aku membaca buku-buku filsafat, sejarah, anthropologi, biografi, sampai sastra. Maka nama-nama seperti Nietszche, Marx, Che Guevara, Fidel Castro, Mao Tze Tjung, Soekarno, Tan Malaka, Romo Mangun, Pram, Ayu Utami, Jenar, Fai Faradiba, sampai Kahlil Gibran bisa kulafal dengan jelas karena lekat diingatanku. Buku-buku itu bukan sekedar menyuntikkan berbagai wacana tapi juga memberiku inspirasi untuk memberi judul karya-karyaku. Di dalamnya banyak kutemukan nama-nama dan istilah unik yang menginspirasi. Maka sekali lagi kukatakan, jangan jadikan buku musuh dalam berkarya, karena ia sungguh kaya akan inspirasi.

Ingin kusampaikan pula pada kalian para penulis buku tentang satu buku impianku. Sebagai seniman, sungguh ingin aku mendapati satu buku yang mengarsipkan secara rinci dan lengkap tentang seniman dan karya-karyanya. Jika Indonesia terlalu luas, cukuplah kota Surabaya saja. Belum pernah kutemui penulis yang mau melakukan penulisan tentang dokumentasi seniman. Dari buku itu akan kita tahu, di Surabaya ada berapa seniman tradisinya, seniman modernnya, seniman kontemporernya, seniman yang menghasilkan karya tarinya berapa, musiknya berapa, rupanya berapa, instalasinya berapa, lalu yang bersifat karya seni puisinya berapa, karya-karyanya apa saja. Tidak ada buku tentang itu. Maka tulislah buku itu. Kata novelis Toni Morrison, “Bila kau ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka kau harus menulis”

Terakhir, pada para kutu buku, penyembah buku, yang suka meminjam bukuku dan tak pernah kembali, kusampaikan serapahku: kalian telah membunuh kreativitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu. (Diana AV Sasa)

1996 Traditional Decorative (Kantor Kec. Randu Agung,Lumajang) 2002 Dua Sisi (Café Djendela, Surabaya) 2007 Revolusi Sebuah Cita-cita (Galeri Surabaya, Surabaya) 2009 Expedition Art (RRI, Surabaya), Patung Sampah (Pantai Kenjeran, Surabaya), Perang Sket (Ruang Art Gallery, Surabaya), Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila (Martadinata, Bandung)

Kutipan

(1)   Karya-karya Taufik adalah ekspresi dari jiwa dan karakter Taufik itu sendiri (Sabrot D. Malioboro– Ketua DKS 2009-2014)

(2)  Jika kalian pinjam bukuku dan kalian tak kembalikan, kalian telah membunuh kreatifitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu.

Joni ‘Wiono’ Ramlan: Berguru Melukis Pada Buku

joni

Joni Ramlan

Joni Ramlan. Nama sejatinya Wiono, karena lidah orang Jawa sering menyisipkan huruf “Y”, kawan-kawan semasa kecilnya memanggilnya ‘Yono’. Lalu lama kelamaan terpeleset lidah Jawa itu menjadi ‘Jono’. Kemudian terpeleset lagilah lidah itu menjadi “Joni” yang lebih ngepop. Ramlan adalah nama ayahnya, Ramlan Sawie Mulya. Joni Ramlan kemudian melekat sebagai trade mark di jagad seni rupa.

Tak ada darah seni menurun dari keluarga Joni. Awalnya, ia lebih tertarik pada seni musik. Joni memilih belajar not balok dan menekuni alat musik bass guitar. Jenis musik dangdut, rock, jazz, etnik, klasik semua dijajalnya. Namun musik dirasanya kurang personal, perlu kerja tim, dan dia tak menemukan komunitas yang cocok. Maka ia pun beralih. Setelah tamat Sekolah Menengah Atas ia pun mulai menekuni dunia seni lukis.

Tak ada guru, tak ada pembimbing. Ia belajar melukis seorang diri, dengan caranya sendiri. Pemandu kompasnya adalah: perjalanan dan buku.

Bagi Joni, membaca adalah mengamati, merasakan, dekat, akrab, dan akhirnya memahami. Maka ia pun melakoni perjalanan panjang dengan menunggang motor trail-nya menyusuri Surabaya, Pasuruan, Malang, Banyuwangi, Solo, Semarang, Jakarta, hingga tanah Parahyangan, Bandung. Dia tertarik sekali untuk membaca kehidupan orang-orang pinggiran di kota-kota tua. Orang desa menganggap kota sebagai tempat yang lebih menjanjikan dan mencoba hidup di kota karena ingin berusaha maju meski dengan bekal seadanya. Karena bekal pas-pasan, akhirnya yang menjadi jujugan adalah kota-kota tua di pinggiran itu.

Dari proses pembacaan Joni tentang kota-kota tua itu, ia kemudian bisa merasakan, dekat, akrab dan faham dengan realitas hidup orang-orang pinggiran. Mereka sebenarnya belum siap untuk jadi orang kota karena modalnya pas-pasan. Seringkali malah dinggap pemerintah kota hanya membuat kotor saja. Realitas-realitas inilah yang coba ia bacai dan tuangkan dalam goresan kuasnya.

Seperti lukisan sepeda yang ia jadikan simbol kehidupan orang-orang pinggiran. Bagi tukang besi tua, tukang sayur, pemulung, dan pedagang keliling, sepeda itu betul-betul menjadi bagian hidupnya. Dengan melihat sepeda yang tua, karatan, dan aus, Joni seperti melihat sepeda itu bercerita tentang keras dan beratnya laku kehidupan penunggangnya. Demikian juga dengan bangunan-bangunan tua. Panjangnya waktu yang dilampaui untuk bertahan, menjadikan bangunan itu menuturkan dengan sendirinya kisah-kisah kehidupan sebuah kota yang tergerus roda jaman. Joni menyukai benda-benda yang dari bentuknya saja ia sudah bisa bercerita. Perjalanan mengajarinya cara ‘membaca’ dengan makna.

Sadar bahwa ia bukan pelukis yang punya pendidikan khusus di bangku sekolahan, Joni memilih buku sebagai gurunya. Ia membaca buku apa saja, sedikit-sedikit, seperlunya. Buku tentang senirupa dan kisah biografi perupa lebih ia minati. Sebut saja misal buku Cornelis Springer, Hendrik Dubbles,dan Charles Bloom yang membantunya membuat lukisan repainting di awal karir melukisnya. Ia juga membaca majalah senirupa seperti Visual Art. Dari sana ia mendapat masukan dari kurator-kurator tentang bagaimana seharusnya agar perupa bisa maju.

Meski merasa perlu belajar sastra, tapi ia gagal menjadi penikmat. Menurutnya, sulit menangkap bahasa sastra. Jadi seperlunya saja. Maka ketika diminta menyebut satu nama penulis sastra, ia tertawa dan mengingat-ingat, lalu menyebut satu nama:Pramoedya.

Joni bukan pembaca buku yang tekun, karena ia lebih suka sedikit teori tapi banyak bekerja. Ia tak pernah mencari buku di perpustakaan. Buku-buku itu ia pinjam saja. Ada beberapa yang sengaja ia beli karena ia memang suka dan butuh isi buku itu. Baginya, membaca cukup menyehatkan bagi pelukis, selama isi buku itu memberi masukan bagi proses berkaryanya. Salah satu buku yang paling diingatnya adalah buku tentang pelukis Affandi yang ditulis Umar Kayam walau ia lupa siapa penerbitnya.

Buku Affandi menyimpan sejarah penting baginya. Ketika itu sekitar tahun 1992. Harga bukunya 115 ribu. Joni sangat mengidolakan Affandi maka ia ingin sekali memiliki buku itu. Baginya, goresan kuas Affandi benar-benar mewakili karakter pelukisnya. Dan ia menyukainya. Maka meskipun dalam keadaan tidak punya uang, ia berusaha mati-matian untuk membeli buku itu. Dengan kemampuan melukis yang pas-pasan, ia buat lukisan-lukisan mungil seharga 10 ribu. Hasil penjulan seratus lebih lukisan itu lah yang mengantarkan buku Affandi ke pangkuannya. Dengan buku itu, ia menyerap kisah perjalanan dan semangat berkarya sang maestro. Affandi, bagi Joni sangat berpengaruh pada awal perjalanan melukisnya. Sekarang, jika butuh menyegarkan semangat berkarya, ia sempatkan menilik Jogja dan menyerap kembali energi idolanya itu di Museum Affandi.

Karena tahu buku itu adalah guru, maka Joni ingin anak-anaknya dekat dengan buku. Meski tidak ada ada dana khusus untuk beli buku, sesekali ia ajak anaknya ke toko buku atau ia suruh meminjam buku di perpustakaan. Joni sudah membuktikan bahwa belajar tak melulu dari sekolah dan guru, karena buku juga bisa menjadi guru. Buku adalah guru lukisnya. Perjalanan adalah membacanya. (Diana AV Sasa)

Pameran Bersama :2001 Kwarta Artistika (Rupa Gallery, Surabaya) 2002 The Colour of Nature (Padi Gallery, Malang), 2003 Borobudur International Festival (Museum Widayat, Magelang), 2004 Membaca Peta Senirupa Jatim (Taman Budaya, Surabaya) 2005 Bienalle Jogja VIII “Disini & Kini” (Taman Budaya, Yogya), 2006 Homage 2 Homesite (Jogja National Museum, Yogya), 2007 Illustrasi Cerpen Kompas Tour Exhibition (Jogja, Bali, Malang, Jakarta) 2008 Finalis Indonesia Art Award (Galeri Nasional, Jakarta), 2009 C-Art Show(Grand Indonesia Hotel, Jakarta, Indonesia) 2009 Indonesia Art Festival (Ritz Carlton, Jakarta, Indonesia) 2009 Celebration (The PEAK Contemporer Art Gallery, Jakarta, Indonesia)

Pameran Tunggal : 2009 Menggantung Masa Lalu (Orasis Gallery, Surabaya, Indonesia)

KUTIPAN :

(1)   “Joni adalah seorang pelukis yang tertarik pada obyek-obyek yang cenderung archaic, yang mengguratkan narasi sejarah dibaliknya. Joni mengubah problematika masa lalu, untuk karya-karya seni lukisnya, dengan perenungan, kedalaman, dan penuh penghayatan”(Suwarno Wisetrotomo, Kurator)

(2) “Membaca adalah mengamati, merasakan, dan memahami. Untuk bisa melukis saya harus sampai pada tahap memahami”.

Kathleen Azali, Campuran C2O, Library, Cinemateque, Café

C2O Library

C2O Library

Mungil dan malu-malu. Begitu lah rumah buku C2O itu. Seperti siempunya yang juga mungil dan malu-malu mempromosikan istana bukunya. Rumah buku itu terselip diantara beton-beton yang melingkupi Surabaya. Bersembunyi di sebuah rumah tua di jalan Dr. Cipto. Hanya selemparan batu dari hadapan Konjen Amerika. Sunyi, sesunyi buku-buku yang ada di dalamnya.

Adalah Kathleen Azali, gadis kutu buku yang menunggui rumah buku itu. Bermula dari ketekunannya mencari informasi dari buku, ia ingin membaginya untuk masyarakat kota Surabaya. Kathleen merasa dia banyak tak tahu tentang banyak hal. Karenanya ia susuri buku-buku untuk membuka jendela pengetahuannya. Dan diraupnya segala macam buku. Dari sejarah, filsafat, anthropologi, sastra, saint, sampai komik dan dunia anak. Buku-buku itu membuatnya asyik di dunia kecil sarat informasi. Dan ia tak mau beranjak. Sunyi adalah kawannya. Dalam sunyi itu ia begitu benderang. Karena buku menyinarinya.

Istana itu pun dibangunnya dengan senyap. Rumah bagi buku-buku kesayangannya. Ia manjakan betul buku-bukunya dengan kasih sayang dan kecintaan penuh. Seperti ibu mengasuh anak-anaknya. Kamar dan perabot ia sapu dengan warna-warna ceria dan tertata apik. Jendela dan pintu dibukanya lebar-lebar hingga udara segar memenuhi ruang. Makanan dan minuman ringan ia sediakan di sudut. Sebuah televisi dan DVD player ia tambahkan di tengah ruangan. Dinding halaman ia jadikan kanvas karya-karya komikus muda Surabaya yang bersembunyi di bawah tanah. Menyuarakan pemberontakan pada sistem sosial dan kegelisahan anomali kekuasaan.  Ruang kosong di samping rumah ia sediakan untuk ajang pameran dan kegiatan budaya seputar buku, film, dan seni. Rumah buku itupun menjadi wadah yang lebih luas, sebuah ruang budaya publik urban kota niaga.

Menampung kebutuhan informasi tentang seni dan buku di Surabaya, C2O menyimpan 3000 buku fiksi dan non fiksi dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Juga 700 film klasik yang selalu diputar setiap sabtu pukul 4 sore. Disinilah biasanya komunitas film indie dan pecinta film klasik mendiskusikan film dengan keseriusan tanpa melepas jiwa muda nan kreatif dan progresif. Kathleen juga menerima pemesanan film-film atau buku yang tidak diputar di Sinema 21. Rak khusus komik independen ia sediakan untuk menampung karya-karya kreatif komikus muda Surabaya. Di rumah buku ini, seni dan buku berbaur dengan intim dalam nuansa yang dinamis dan ceria.

Tak berhenti disitu, Kathleen menerbitkan bulletin Douze sebagai media informasi koleksi dan kegiatan. Bulletin ini memuat artikel, maupun liputan seputar buku, komik, film, dan music dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Tak ketinggalan juga rubrik yang memajang karya visual sperti komik, karikatur, fotografi, dan ilustrasi. Bulletin ini terbuka untuk umum.

–      Info : http://coffee-cat.net/c2o/library/

Cathleen 0858 5472 5932

C2o.library@yahoo.com

C2O Library, Jl Dr. Cipto No 20 Surabaya 60264

Depdiknas Kucuri Penulis Rp 2 M

Untuk merangsang minat menulis masyarakat, pemerintah siap menggelontorkan bantuan dana. Tahun ini, Pusat Perbukuan (Pusbuk) Depdiknas menganggarkan bantuan Rp 2 miliar untuk penulis buku. Anggaran itu ditargetkan untuk 500 judul buku. Kebijakan tersebut ditempuh demi menyediakan buku yang bermutu dan sesuai dengan standar nasional.

”Insentif itu merupakan langkah konkret pemerintah bagi penulis buku yang membutuhkan dana untuk mengumpulkan bahan tulisan,” terang Sekjen Depdiknas Dodi Nandika di sela pameran Hari Buku Sedunia dan Hari Buku Nasional 2009 di Jakarta kemarin (19/6).

Dodi menjelaskan, dana itu tidak hanya digunakan untuk menulis buku teks pelajaran, tapi juga buku pengayaan. Selain itu, Depdiknas membeli dan membantu penerbitan majalah sastra Horison. ”Negara besar seperti ini hanya punya satu majalah sastra, yaitu Horison. Padahal, negara kecil lain punya tiga sampai empat,” jelasnya.

Dia menyebut, saat ini minat baca siswa Indonesia baru 1/3 siswa per tahun. Masih rendahnya minat baca itu berkaitan dengan masalah budaya, kesenangan, maupun minat. Selain itu, ada kendala teknis lain yang berpengaruh. Contohnya, belum tersedianya buku dengan mudah, harga buku yang belum murah, dan tidak tersedianya koleksi lengkap di perpustakaan.

”Di daerah terpencil, perbatasan, dan di pulau terluar sulit membeli buku. Toko buku juga jarang di kota-kota kecil di Indonesia,” ungkapnya. Karena itu, pemerintah berupaya menurunkan harga buku. Saat ini, pemerintah menyusun UU Perpustakaan, UU Perbukuan, dan program membeli hak cipta buku.

* Diunduh dari Harian Jawa Pos Edisi 20 Juni 2009

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan