-->

Kronik Buku Toggle

Agar Perpustakaan Komunitas Sehat

Banyak yang mengeluh, membikin perpustakaan komunitas itu susah. Dan susahnya itu soal dana. Tapi semua soal akan susah kalau hanya ada mengimpi-impi dalam pikiran tanpa ada langkah-langkah kecil.

Tovic Raharja, pengelola perpustakaan komunitas IVAA (khusus dokumentasi senirupa), membagi tips-tips membangun perpustakaan komunitas yang sifatnya berkelanjutan kepada Anda:

perpustakaan_post

  1. Sebelum membikin perpustakaan komunitas, ditegaskan dulu keunikan apa yang ada dalam perpustakaan. Spesifikasi pengguna. Itu kuncinya untuk membikin brand. Karena jika isinya gado-gado ya apa bedanya dengan perpustakaan lain.
  2. Setelah menentukan koleksi apa yang ada dalam perpustakaan, susunlah program-program yang mendukung kehidupan koleksi-koleksi itu. Anggap saja program ini sebagai kaki dan jiwa koleksi.
  3. Mesti juga ada pengurus. Paling tidak yang menjaga perpustakaan dua orang dan tim riset dan dokumentasi 3 orang. Sebagai ujung tombak, penjaga perpus dituntut untuk tahu peta buku. Jika misalnya pengguna tak menemukan buku di perpus itu, si penjaga bisa menunjukannya di perpustakaan lain. Selain itu, seorang penjaga perpus berjiwa filantropik dan melayani kebutuhan pengguna.
  4. Cari tempat yang strategis dari segi jangkauan pengguna. Juga sehat. Maksudnya tidak pengap atau lembab karena berakibat pada kebugaran membaca pengguna maupun kesehatan buku itu sendiri.
  5. Rancang interior berupa rak dengan baik dan rapi. Pendeknya, menarik untuk dilihat.
  6. Siapkan juga mesin pencari buku. Saat ini sudah ada Open Source Library Managemnet System yang bisa diunduh dari http://senayan.diknas.go.id. Gratis.
  7. Perihal keanggotaan, buatlah kartu anggota dan aturan serta keuntungan-keuntungan bila menjadi anggota di perpustakaan itu.
  8. Koleksi perpustakaan bisa didapatkan dengan melakukan kerjasama dengan pihak lain yang memang berkait erat dengan pengguna perpustakaan itu. Misalnya IVAA yang bergerak di dunia senirupa kontemporer, maka kerjasama yang dilakukan umumnya dengan seniman-seniman. Soal pengembangan koleksi, tim riset harus kuat dan kreatif. Karena jantung dari perpustakaan adalah kekayaan koleksi. Makin lengkap, makin baik itu perpustakaan.
  9. Jaga kontinuitas. Karena dari kontinuitas muncul kepercayaan. Jika sudah dipercaya anggotanya sendiri, perpustakaan komunitas itu punya alamat panjang umur.
  10. Sebagai pendukung, alangkah baiknya buat juga warung atau cafe yang sebangun dengan perpustakaan. Selain membantu pengguna dalam hal fisik, juga warung atau cafe ini membantu kelangsungan finansial pengelolaan perpustakaan.

Demikian 10 tips dari IVAA. Yang baik dan mudah ya diambil. Yang tak berkenan ditahan dulu. (Gus Muh)

Berguru Antikekerasan Pada Badshah Khan

Oleh Ibn Ghifarie

RESENSI_Eknath EaswaranJudul Asli: Nonviolent Soldier of Islam
Judul Terjemahan: Kisah Pejuang Muslim Antikekerasan yang Terlupakan
Karya: Eknath Easwaran
Penerjemah: Perwira Leo S
Penyuting: Haezal W
Penerbit: Bentang Pustaka
Tanggal Penerbit: Januari 2009
Jumlah Halaman: xx+320

Pasca pemilihan Calon Legislatif banyak Caleg yang setress. Betapa tidak, setelah habis kerkuras uangnya untuk ongkos pemilu itu, kuris Anggota Dewan yang dicita-citakan pun tak kunjung datang.

Aksi demo yang berujung pada pengrusakan fasilitas Komisi Pemilihan Umum (KPU) di pelbagai daerah menjadi idangan berita keseharian kita. Seakan-akan kekerasan, demi kekerasan sekaligus budaya baku hantam menjadi jurus pamungkas dalam menyelesaikan persoalan. Diranah politik apalagi.

Padahal, Rasulullah berpesan kepada kita “Mencaci maki orang muslim itu kufur, sedangkan membunuhnya juga kafir.” (H R Bukhari-Muslim). Jangankan untuk membunuh, saling caci-maki seagama, atau antar beda parpol tak diperbolehkan.

Prinsip inilah yang dipegang kuat oleh Badshah Khan, pejuang risalah muslim antikekerasan dari Perbatasan Barat Laut.
Pasalnya, perlawanan antikekerasan merupakan satu-satunya cara efektif melawan kezaliman.

“Hanya dengan antikekrasan, dunia masa kini bisa bertahan hidup menghadapi produksi masal senjata-senjata nuklir. Sekarang ini dunia lebih mumbutuhkan pesan cinta kasih dan perdamaian Gandhi daripada waktu-waktu sebelumnya. Andai saja dunia sunguh-sungguh tidak ingin menyapu habis peradaban dan kemanusiaannya sendiri dari muka bumi ini”, ungkapnya kepada Eknath Easwaran tahun 1983.

Adalah Badshah Khan (1890-20 Januari 1988). Lahir dan besar dikeluarga berdarah Pushtun atau Pathan (ningrat) di perbatasan Barat laut (Pakistan dan Afganistan) yang beragama Islam.

Konon, penduduknya menjadikan balas dendam dan pembunuhan sebagai warisan abadi keluarga.

Postur tubuhnya luar biasa besar dan sosoknya terkesan angker tinggi dengan menjulang ke langit. Tapi, wajahnya memancarkan keteduhan dan perdamaian. Ia merupakan pribadi yang unik, tak suka menyakiti, bahkan berkelahi pun tak pernah.

Kecintaanya terhadap ajaran Mahatma Gandhi yang mempercayai bahwa perlawanan antikekrasan adalah satu-satunya cara sempurna untuk melawan kebodohan, kemiskinan, keterbelakangan, Ia kerap kali dijuluki Gandhi dari perbatasan.

Memang Gandhi bagi Khan Abdul Ghaffar Khan adalah murid sekaligus guru antikekerasan. Kala puluhan ribu bangsanya binasa di tangan kekejaman Inggris, Khan tak sekalipun tergerak untuk membalasnya dengan mengangkat senjata. Kedengaranya, ironis sekali. Malahan Ia mencoba mengkampanyekan gerakan perdamaian dari dari Kampung ke Kampung selama 80 tahun.

Lihat saja, catatanya “Saat masih muda, aku pernah memiliki kecenderungan untuk melakukan kekerasan; darah panas kaum pathan mengalir dalam urat nadiku. Namun, di penjara aku tidak mempunyai kesibukan lain kecuali membaca Al-Quran. Aku membaca tentang nabi Muhammad di Mekkah, tentang kesabaranya, pengorbanan dan pengabdianya.

Aku pernah membaca semua sebelumnya saat kanak-kanak tetapi sekarang aku membacanya dalam terang dari segala hal yang kudengar di sekelilingiku tentang perjuangan Gandhiji menentang Britsh Raj…Ketika akhirnya bertemu dengan Gandhiji aku mempelajari semua gagasanya tentang sikap antikekerasan dan program konstruktifnya, mereka mengubah hidupku semuanya. (Hal 177)

Keseriusanya kepada gerakan antikekrasan Ia Juga mendirikan sekolah bernama Azad di Utmanzai.

Guru dan muridnya menggunakan mimbar “Kebebasan Bercibara” supaya terbuka, toleran dan peka terhadap persaolan di sekitarnya.

Seorang muslim bersahaja ini terus gencar mengajak banyak pemuda untuk mendukung gerakan khudai Khidmatgar (pelayan Tuhan dan Kemanusiaan), sebuah antikekerasan yang dilancarkan untuk membendung kekerasan atas nama apa pun dengan semboyan; Pertama, Aku berjanji akan melayani kemanusiaan dalam nama Tuhan.

Kedua Aku berjanji akan menolak kekerasan dan balas dendam. Ketiga, Aku berjanji akan mengampuni mereka yang menindasku atau memperlakukanku dengan kejam.

Keempat, Aku berjanji akan menolak terlibat dalm permusuhan dan perselisihan serta tidak mencari musuh. Kelima, Aku berjanji akan memperlakukan setiap orang Pathan sebagai saudara dan temanku. (Hal 134-135)

Mencermati kehidupan yang tak kujung selesai dari peperangan, Khan menjawabnya “Dunia sekarang ini sedang berjalan ke arah yang aneh” katanya kepada seorang pewawancara di Afganistan tahun 1985 “Anda bisa melihat  kalau dunia ini sedang menuju ke kehancuran dan kekerasan.

Hal yang dilakukan oleh kekerasan adalah menciptakan kebencian di antaraumat manusia dan menciptakan ketakutan. Saya orang yang percaya pada antikekerasan.

Saya menyatakan bahwa tidak akan ada perdamaian atau keselarasan terlahir di tengah-tengah umat manusia di dunia ini kecuali antikekerasan diperaktikan, karena antikekerasan adalah cinta kasih dan cinta kasih ini mengorbankan keberanian di hati manusia. (Hal XII)

Hal serupa pula diungkapkan oleh Mahatma Gandhi saat ditanya apakah menurutnya antikekerasan sungguh-sungguh cara terbaik untuk menyelesaikan konflik. “Tidak” jawabnya. “Antikekerasan bukanlah cara terbaik, melainkan satu-satunya cara”.

Kekerasan menciptakan kekerasan lain. Baginya, pejuang antikekerasan yang bisa memutus lingkaran kekerasan itu dan menggerakan hati nurani para pelaku kekerasan untuk menciptakan perdamaian. (Hal XVIII)

Buku ini, menarik untuk dibaca, terutama bagi pegiat antikekerasan dan pegulat perdamaian, karena menyampaikan pesan dua tokoh pionir antikekerasan, Badshah Khan dan Mahatma Gandhi dengan keindahan yang menyentuh hati siapa saja yang merindukan kedamaian.

Selain itu, setiap memasuki bab terlebih dahulu diketengahkan semacam kata kunci sekaligus hikmah untuk mempermudah pembaca memahami sosok muslim pejuang risalah antikekerasan yang terlupakan ini.

Juga dilengkapi lampiran kronologis semasa hidup Khan. Sebelah kirinya, peta gerakan antikekrasan dan kananya kejadian luar biasa secara umum di Perbatasan Barat Laut.

Tentu ada kelemahanya, misalkan dalam biodatanya tak dicantumkan tanggal kelahirannya kapan? Ihwal kematianya pun sangat beragam ada yang mencatat tanggal 20, 21, 22 Januari 1988 (Hal 265).

Periodik ini berharga sekali bagi kalangan sejarawan.

Tak pernah tercatat dalam sejarah sebuah negara dimerdekakan tanpa bersimbah darah. Namun, Gandhi membuktikanya dengan membebasakan India dan Khan melepaskan belenggu  biadab, bengis, keras, picik, buas seperti macan tutul, pembunuh yang penuh tipu daya pada Suku Pushtun.

Sejatinya, sikap antikekerasan merupakan petanda orang-orang yang berani dan tak tergoyahkan; tenti saya tidak ada orang di muka bumi ini yang lebih brutal dan tak tergoyahkan daripada orang pathan, bahkan rata-rata suku Pashtun lebih memilih mati daripada dilecehkan.

Ia menyembunyikan benih-benih kebenaran yang lebih dalam. Benih-benih yang sangat dibutuhakn oleh dunia kita yang letih dan penuh kekerasan. Sudah tiba saatnya kisah ini diceritakan.  (Hal 9)

Kiranya, kita mesti belajar antikekerasan dari Badsah Khan bila ingin hidup damai, cinta, tentram dan sejahtera di Negara Indonesia ini. “Dua jenis pergerakan dilancarkan di provinsi kita. Pergerakan dengan kekerasan (perlawanan sebelum 1919) menciptakan kebencian di benak rakyat kita terhadap kekerasan.

Namun, pergerakan tanpa kekerasan menerangkan kecintaan, hasrat dan simpati rakyat. Jika seorang Inggris terbunuh dalam pergerakan dengan kekerasan bukan hanya orang yang bersalah yang dihukum seluruh desa dan wilayah pun menderita karenanya.

Rakyat menganggap kekerasan dan para pelakunya bertanggungjawab atas represi tersebut. Dalam gerakan antikekerasan, kita mengorbankan diri kita sendiri dank arena itulah gerakan ini memenangkan cinta dan simpati rakyat. (Hal 173-174)

Marilah kita berguru pada Badshah Khan tentang antikekerasan. Terwujudnya masyarakat, adil, sejahtera, damai, terbuka, toleran menjadi cita-cita bangsa Indonesia ini.

* Ibn Ghifarie, Pegiat Studi Agama-agama dan bergulat di Gerakan Antikekerasan.

Siti Fadilah Supari; Berkiblat Kata Hati, Menggeser Tapal Batas Dunia (Diskusi)

Sebagai relawan SFS Fans Club yang sejak awal berkomitmen untuk mengawal dan mengapresiasi sikap, kinerja, dan kebijakan Siti Fadilah Supari yang selalu terarah, terukur, dan terstruktur dalam posisinya sebagai Menteri Kesehatan RI yang berpihak kepada kepentingan kesehatan publik, SFS Fans Club kembali akan mengggelar acara pertemuan komunitas dan launching buku yang berjudul “Siti Fadilah Supari; Berkiblat Kata Hati, Menggeser Tapal Batas Dunia” pada:

Hari/Tanggal: Jum’at, 26 Juni 2009
Waktu: Pukul 19.00 WIB – Selesai
Tempat : Galeri Resto & Cafe (Dahulu : Cafe Venezia)
Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.
Narasumber: Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp. JP (K) [Menteri Kesehatan RI]
Moderator: Eman Hermawan

Mengingat jumlah peserta dibatasi untuk yang berdomisili di Jakarta dan hanya sebanyak 40 orang, maka bagi Anda yang beri’tikad baik untuk menghadiri acara sebagaimana dimaksud di atas, diharap untuk menyetujui undangan ini dan mengirimkan CV singkat ke Panitia via email: publik@sfs-fansclub.net/sb.ipung@yahoo.com/wahyu.andre@yahoo.co.id paling lambat pada tanggal 22 Juni 2009.

Selanjutnya, bagi Anda yang dinyatakan lolos seleksi, Panitia akan memberikan konfirmasi via email dan atau Short Message Service (SMS) paling lambat pada tanggal 24 Juni 2009. Peserta berhak mendapatkan sebuah buku gratis “Siti Fadilah Supari; Berkiblat Kata Hati, Menggeser Tapal Batas Dunia”.

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Sumenep

Oleh M. Mushthafa

Halaman Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Halaman Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep—yang merupakan salah satu unit perpustakaan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah yang melayani tiga satuan pendidikan, yakni Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah, Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah, dan SMA 3 Annuqayah (3 unit pendidikan ini total memiliki 400 murid.

Adapun Pesantren Annuqayah memiliki 6.000 santri/pelajar, yang 4.000 di antaranya menetap/mondok)—dalam dua tahun terakhir ini mencoba melakukan pembenahan dan pengembangan secara lebih serius.

Pembenahan dimulai pada awal tahun pelajaran 2006/2007. Awalnya, kondisi Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah lebih tepat jika disebut gudang. Di samping gedungnya yang sangat sederhana dan “konvensional”, koleksi dan kegiatannya nyaris tak berkembang.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengubah penampilan perpustakaan agar menjadi menarik minat siswa untuk berkunjung. Interior dan tata desainnya dipermak. Catnya tidak putih sebagaimana ruang kelas pada umumnya.

Dengan langkah ini, perpustakaan diharapkan dapat menarik untuk dikunjungi. Hasilnya, dengan jam buka 07.30-11.30 dan 14.00-16.00 setiap hari, dalam satu bulan pertama pengunjung perpustakaan berkisar antara 80-250 orang per hari.

Untuk mempertahankan grafik kunjungan siswa, ada dua langkah utama yang menjadi perhatian pengelola Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah. Yang pertama berkaitan dengan pengadaan koleksi bahan kepustakaan.

Dalam masalah pengadaan koleksi ini, di tengah situasi minimnya ketersediaan alokasi dana sekolah untuk perpustakaan terutama di sekolah-sekolah swasta di pedesaan, pemilihan koleksi pustaka harus efektif dan tepat sasaran.

Pengelola perpustakaan harus cermat memanfaatkan alokasi dana yang tersedia untuk mendapatkan koleksi yang bagus, tepat sasaran, dan relatif murah.

Untuk tujuan maksimalisasi pemilihan koleksi bahan pustaka di perpustakaan sekolah, dibutuhkan wawasan kepustakaan yang cukup bagus. Perkembangan mutakhir dunia perbukuan juga harus terus diikuti.

Kebijakan penambahan koleksi perpustakaan harus selaras dengan tujuan mendasar perpustakaan sekolah, yakni sebagai pendukung kegiatan pembelajaran.

Untuk itu, secara sederhana perpustakaan sekolah mestinya bisa menjawab pertanyaan semacam ini: apakah di perpustakaan sekolah ini sudah ada buku-buku yang dapat membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sejarah, fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, dan seterusnya?

Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi pemandu bagi perpustakaan untuk menambah koleksi-koleksi bukunya.

Dalam praktiknya, pengelola perpustakaan bisa meminta masing-masing guru pelajaran untuk mengajukan semacam permintaan, kira-kira buku apa yang perlu dikoleksi perpustakaan madrasah.

Jika misalnya si guru tidak bisa mengajukan judul, bisa dengan gambaran tentang buku macam apa yang diperlukan untuk mendukung mata pelajaran yang bersangkutan, sehingga selanjutnya pengelola perpustakaan yang mengusahakan.

Peluang untuk melakukan integrasi aktivitas kelas dengan unit perpustakaan tampak semakin terbuka jika kita mempertimbangkan mulai semakin semaraknya penerbitan buku-buku ilmiah populer yang muatannya cukup dapat dicerna oleh siswa dan disajikan dengan pengemasan yang tak lagi konvensional.

Sejumlah buku ilmiah populer yang belakangan terbit menggunakan visualisasi yang menarik, atau disajikan dengan gaya bertutur yang mudah dipahami, terutama oleh anak usia sekolah.

Selain pertimbangan kesesuaian dengan tujuan keberadaan perpustakaan sekolah, penambahan koleksi juga mempertimbangkan buku-buku yang menarik dan menggugah untuk dibaca, terutama oleh mereka yang minat bacanya masih lemah.

Untuk itu, pengelola Perpustakaan Madaris 3 meminta masukan dari banyak pihak tentang koleksi buku yang dapat disebut “pembangkit minat baca” ini.

Contoh buku yang masuk dalam kategori ini adalah Muhammad karya Martin Lings (Serambi), Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (Bentang), Ganti Hati karya Dahlan Iskan (JP Books), dan sebagainya.

Keterbatasan dana membuat pengurus Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah berupaya untuk mendapatkan koleksi buku yang bagus dan murah.

Untuk itu, pengurus bekerja sama dengan alumni Annuqayah yang sedang menempuh studi di Yogyakarta pada khususnya dan kota lainnya untuk memanfaatkan momen pameran buku yang biasanya menyediakan diskon besar-besaran dari berbagai penerbit terkemuka, seperti Kelompok Gramedia, Mizan, Serambi, dan sebagainya.

Sampai saat ini, koleksi Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah terbilang masih sedikit, yakni sekitar 1000 judul dan 1200 eksemplar.

Namun demikian, dengan penambahan koleksi yang cukup mendapat perhatian khusus, ketersediaan koleksi yang tepat sasaran dan menarik ini didukung dengan langkah kedua, yakni upaya untuk menjadikan perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan aktif.

Secara reguler, Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan rutin yang tujuannya adalah agar koleksi yang ada di perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Tujuan lebih jauh adalah untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar, berekspresi, dan bereksplorasi.

Berikut ini kegiatan rutin yang diselenggarakan di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Pembacaan Cerpen atau Penggalan Novel
Setiap Rabu sore, ada siswa yang membacakan cerpen atau penggalan novel yang mereka pilih sendiri. Sebagai selingan, kadang ada guru yang juga membacakan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendorong dan mempromosikan buku menarik yang dibacakan untuk juga dibaca oleh siswa yang lain.

Setelah pembacaan, ada semacam apresiasi dan diskusi oleh peserta yang hadir. Kegiatan pembacaan cerpen ini ke depan rencananya secara terpisah akan dikembangkan menjadi Klub Buku, yakni kegiatan yang secara khusus mendiskusikan buku-buku yang sudah dibaca oleh siswa.

Apresiasi Film

Setiap Jum’at pagi (di Pesantren Annuqayah, liburan sekolah adalah hari Jum’at, bukan Minggu) paling cepat setiap dua pekan, Perpustakaan Madaris 3 menggelar acara nonton film.

Film yang diputar dipilih sedemikian rupa yang memiliki nilai edukatif, berkaitan dengan buku dan pembelajaran, atau memiliki nilai keistimewaan yang lain. Melalui kegiatan ini siswa didorong untuk belajar mengapresiasi dan menganalisis film yang ditonton.

Di antara film yang pernah diputar adalah Ca-Bau-Kan, Naga Bonar Jadi 2, The Da Vinci Code, Dead Poet Society, Freedom Writer, The Burning Season, dan sebagainya.

Klub Menerjemah

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah juga memiliki Klub Menerjemah, yang menjadi tempat siswa untuk berlatih menerjemah teks bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kegiatannya dilaksanakan setiap Jum’at sore.

Sejauh ini, buku yang sudah diterjemahkan adalah Nasreddin: The Clever Man dan Nasreddin: The Wise Man karya Sugeng Hariyanto (Kanisius). Teknisnya, setiap penggalan cerita dalam buku itu diterjemahkan oleh dua orang siswa, yang kemudian dipresentasikan dan dibahas bersama.

Naskah terjemahan yang sudah dibahas kemudian ditempel di Mading Raksasa (Marak) yang disediakan di lingkungan sekolah. Dan semua naskah sedang dikompilasi dan disunting kembali untuk dijadikan semacam “buku” sebagai bentuk dokumentasi.

Buku Curhat dan Catatan Pembaca Buku

Lukisan Siswa

Lukisan Siswa

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah juga ingin mendorong agar siswa dapat berekspresi terutama dari apa yang mereka baca di perpus dan atau dapat menjadi tempat bagi siswa untuk belajar menulis.

Untuk itu, pengurus perpustakaan menyediakan Buku Curhat (Bucur) dan Catatan Pembaca Buku. Dalam Buku Curhat, anak-anak dapat berekspresi menuliskan komentar, kesan, tanggapan, tentang buku yang dibaca. Siswa juga menuliskan pertanyaan, kritik dan saran terhadap pengelola perpus dan sekolah, atau curhat masalah pribadi.

Sedangkan Catatan Pembaca Buku disediakan khusus bagi para peminjam buku koleksi khusus. Perlu diketahui bahwa sementara ini Perpustakaan Madaris 3 menggunakan sistem tertutup. Koleksi buku hanya boleh dibaca di tempat, kecuali Koleksi Khusus yang jumlahnya sekitar 250 judul.

Nah, mereka yang meminjam Koleksi Khusus ini diwajibkan untuk menuliskan pengalaman mereka membaca buku yang dipinjam dalam buku Catatan Pembaca Buku.

Respons siswa ternyata sungguh bagus. Buku Curhat dan Catatan Pembaca Buku setiap hari aktif diisi oleh siswa. Bahkan, secara tak diduga siswa secara kreatif mengisi Buku Curhat tidak hanya dengan teks, tapi dengan gambar, dekorasi yang menghiasi teks, dan ilustrasi.

Dalam beberapa kesempatan, di Buku Curhat kadang terjadi dialog antara siswa yang kadang juga direspons oleh seorang guru, baik itu menyangkut masalah pribadi atau berkaitan dengan pelajaran.

Siswa yang aktif mengisi Catatan Pembaca Buku tiap dua bulan diberi kenang-kenangan atau sovenir dari Perpustakaan.

Upaya lain untuk mendorong aktivitas perpus di antaranya adalah dengan menempelkan ulasan buku yang diambil dari media massa (internet).

Buku yang dipilih terutama buku-buku yang masih kurang mendapat perhatian dan kurang dibaca oleh siswa. Pengelola perpus mencari naskah resensi tersebut melalui internet yang dalam 8 bulan terakhir sudah dapat dinikmati di perpustakaan, meski cuma dengan 1 komputer dan belum gratis (tapi dengan tarif yang cukup terjangkau).

Selain itu, secara temporer Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah juga menggelar berbagai kegiatan pendukung yang terkait dengan kepustakaan dan atau kepenulisan, seperti Pelatihan Menulis, Pelatihan Metode Penelitian Kepustakaan, dan sebagainya.

* M. Mushthafa, Guru SMA 3 Annuqayah, Kepala Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Merekam Kisah-kisah Buku

Sadarkah kita jika buku ternyata tak sekedar berbicara tentang apa Sadarkah kita jika buku ternyata tak sekedar berbicara tentang apa yang terkandung di dalamnya. Dunia buku ternyata begitu luas dan kaya, bagaikan sebuah mata air yang tak pernah kering, kisah-kisah dibalik dunia buku selalu mengalir, memberikan kesegaran, dan memberi inspirasi baru bagi mereka yang selalu haus akan buku dalam hidup mereka. Namun kisah-kisah dibalik dunia buku itu harus dicari, ditelisik, diwartakan, agar semua penggila buku tahu bahwa dunia yang mereka geluti setiap harinya itu ternyata memiliki banyak kisah yang menarik dan tak terduga. Muhidin M Dahlan dan Diana AV Sasa, adalah sedikit diantara para penggila buku yang mau berjerih lelah mencari kisah-kisah luar biasa dibalik buku. Muhidin yang kerap disapa Gus Muh adalah novelis, essais, kerani i:boekoe (Indonsia buku) yang hingga kini telah memiliki 3000-an buku di kamarnya. Sedangkan Diana AV Sasa adalah, aktivis buku yang juga kerap menulis essai tentang dunia buku di Koran Jawa Pos. Duo penggila buku inilah yang akhirnya memproklamirkan kegilaannya akan buku dengan membuat 100 catatan di balik buku dan membukukannya ke dalam sebuah buku dengan cover bersampul tebal y

Jadikan Buku Stimulan Otak Anak

Masa kritis perkembangan otak anak terjadi pada enam tahun pertama. Membaca buku bisa menjadi stimulasi untuk perkembangan otak dan intelektual anak.

Psikolog Octaviani Ranakusuma, M.Psi, BA dari Universitas Yarsi mengatakan, stimulasi berarti segala pengalaman, kondisi dan lingkungan yang kondusif dan dapat memberi kontribusi pada perkembangan anak.

“Tujuan stimulasi sebaiknya bukanlah untuk memaksakan kemajuan anak pada arah tertentu, akan tetapi lebih pada memberikan anak pengalaman baru yang berpotensi mengoptimalkan tumbuh kembang anak,” ungkap Octaviani pada seminar membaca di Jakarta, belum lama ini.

Sejak dahulu pun membaca sudah ditanamkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. “Dengan membaca maka dapat membuka pintu pengetahuan bagi anak,” imbuh Octaviani.

Ahli perkembangan anak dari Yale University mengatakan, tidak ada kata terlalu cepat untuk memperkenalkan kegiatan membaca pada anak. Membaca dapat dilakukan pada usia yang sangat dini karena anak sudah dapat mengerti proses membaca.

Para ahli menegaskan, membaca buku bagi anak balita dapat mendorong keintiman emosional dan komunikasi antara anak dengan orang tua. Bahkan, berdasarkan penelitian, anak yang sering dibacakan oleh orang tuanya ketika berusia 1-3 tahun memiliki kemampuan berbahasa yang lebih baik pada usia 2-5 tahun. Selain itu mereka juga memiliki pemahaman bacaan yang lebih baik pada usia tujuh tahun dibandingkan anak-anak yang tidak dibiasakan membaca.

Sebenarnya tidak sulit untuk memperkenalkan membaca pada anak. Dengan ketekunan dan niat yang bulat beberapa cara berikut dapat Anda lakukan untuk membuat anak senang membaca.

Berikut beberapa tips mudah mengajak si kecil menyukai buku :

  • Luangkan waktu 15 menit setiap hari diwaktu santai untuk membacakan cerita pada anak. Saat pulang kerja, setelah makan malam,setelah mengerjakan pekerjaan rumah atau menjelang tidur.
  • Anda dapat mengusulkan pada pihak sekolah untuk diadakannya kegiatan membaca cerita yang dilakukan oleh guru. Kegiatan membaca dapat dilakukan pada taman kanak-kanak dan sekolah dasar.
  • Biasakan untuk memberi hadiah buku pada saat anak berulang tahun.
  • Dorong anak untuk melakukan  kegiatan membaca dengan teman-temannya.
  • Ciptakan suasana membaca di rumah maupun disekolah. Sediakan rak buku untuk menyimpan buku bacaan yang bervariasi.
  • Ajak anak berwisata buku dengan mengunjungi pameran buku, toko buku atau perpustakaan.
  • Kurangi waktu menonton TV dan main game. Gunakan waktu untuk membaca dan membahas cerita yang dibaca. Mintalah pada anak untuk meneceritakan ulang isi buku yang dibacanya.
  • Kebiasaan membaca juga harus dilakukan oleh orang tua karena orang tua adalah figur yang akan dicontoh oleh anak.
  • Membiasakan anak membaca, dikatakan Octaviani, sebagai investasi di masa depan. Selain anak menjadi cerdas, membaca juga diyakini dapat membuat seseorang mencegah degradasi otak seperti pikun atau alzheimer di masa tua mendatang.

Diunduh dari Republika Newsroom Edisi Jumat, 12 Juni 2009.

Relawan SBY Bagi Bunga dan Buku

Puluhan relawan pasangan calon presiden dan wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono membagi bunga, buku, dan air mineral di sejumlah tempat di Palembang, Senin (22/6). Para pendukung SBY-Boediono tersebut tergabung dalam Aliansi Gerakan Membangun Indonesia (AGMI) Sumsel.

Para peserta aksi membagikan buku Indonesia Harus Bisa karya Dino Patti Djalal di simpang Charitas, kemudian dilanjutkan dengan pembagian kaus bergambar SBY-Boediono dan pengumpulan tanda tangan dukungan kepada pasangan tersebut di depan Monumen Perjuangan Rakyat. Pada sore hari, kampanye dilanjutkan di simpang Jakabaring.

Koordinator AGMI Sumsel Deliar Noer mengatakan, kegiatan aksi yang dilakukan organisasi tersebut bukan kampanye, tetapi upaya pencitraan.

”Kami akan melakukan aksi semacam ini sekali lagi sebelum pemilu presiden. Kami juga akan melakukan bedah buku Indonesia Unggul karya SBY di Hotel Arya Duta,” kata Deliar.

Deliar mengatakan, pihaknya membagikan 1.000 eksemplar buku Indonesia Harus Bisa, 1.500 kaus, 110 karton air mineral, dan ratusan bunga. Jumlah tanda tangan yang dikumpulkan ditargetkan sebanyak 10.000 tanda tangan.

Deliar mengungkapkan, aksi tersebut tidak termasuk politik uang karena dilakukan secara terang-terangan. Sedangkan politik uang dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

”Buku perlu dibagikan secara gratis karena buku sangat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan masyarakat,” ujarnya.

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi Selasa, 23 Juni 2009

Lebih dari 379.000 Warga Sumut Masih Buta Huruf

Sebanyak 2,96 persen penduduk Sumatera Utara atau lebih dari 379.000 orang masih buta huruf. Jika diperbandingkan menurut jenis kelamin, penduduk perempuan yang buta huruf dua kali lebih banyak dibandingkan dengan penduduk berjenis kelamin laki-laki.

Kepala Seksi Statistik Kesejahteraan Rakyat Badan Pusat Statistik Sumut Aulia Mufridah, Senin (22/6), mengatakan, angka diperoleh dari survei sosial sosial ekonomi nasional (susenas) tahun 2007 pada lebih dari 17.000 masyarakat Sumut.

”Hasil susenas tahun 2008 belum dipublikasikan karena ada kendala teknis,” tutur Aulia. Adapun susenas tahun 2009 baru akan berlangsung.

Proporsi buta huruf tertinggi ada di Kabupaten Nias Selatan (23,22 persen) kemudian Kabupaten Nias (12,20 persen).

Sementara itu, daerah yang memiliki warga buta huruf di atas 3 persen adalah Kabupaten Batubara (6,40 persen), Tapanuli Tengah (4,81 persen), Samosir (4,02 persen), Tapanuli Utara (3,33 persen), dan Langkat (3,97 persen).

Jumlah penduduk yang belum tamat SD mencapai 20,49 persen, tamat SD 26,70 persen, tamat SMP 21,17 persen, dan penduduk yang tamat D-IV/S-1 3,17 persen. Adapun penduduk yang tidak/ belum pernah sekolah 2,81 persen.

Anggota Dewan Pendidikan Sumatera Utara, Nur Ahmad Fadhil Lubis, mengatakan, jika warga yang buta huruf adalah warga usia produktif, program pemberantasan buta huruf belum menunjukkan hasil yang signifikan.

Banyak pula lulusan SD yang tak bisa menggunakan kemampuannya dalam baca-tulis karena tidak banyak digunakan. Hal ini terjadi karena banyak lulusan SD yang kemudian bekerja menggunakan fisik belaka, seperti bekerja di jermal atau di kebun, tidak membiasakan diri dengan tulisan.

Fadhil mengakui gerakan pendidikan di Sumatera Utara akhir-akhir ini kurang gereget. Gerakan jauh dibandingkan dengan, misalnya, Provinsi Riau.

Gerakan pendidikan selama ini berkutat pada gerakan pembangunan fisik yang memiliki dampak tidak langsung. Kebijakan ini berkaitan dengan birokrasi yang menanganinya.

* Dinukil dari Harian Kompas (Sumatera Utara) Edisi 23 Juni 2009

Daya Tahan Meresensi Buku

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya [di sini]. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi.

BAGIAN II

Nur Mursidi_picAda orang membaca buku hanya sekadar membaca. Tapi ada juga orang menuliskannya resensinya. Bagaimana menurutmu yang baik?

Membaca pada dasarnya adalah menyelami sebuah buku untuk dikuak lebih jauh tentang apa yang disampaikan oleh si penulis buku. Tetapi ingatan seorang pembaca itu tak jarang terbentur pada keterbatasan; lupa. Karena itu, bagi saya menulis resensi buku adalah langkah untuk “mengikat makna” –meminjam istilah Hernowo—agar buku yang pernah dibaca itu tidak lupa. Toh kalau lupa, tak lagi perlu membaca buku itu dari awal hingga akhir melainkan tinggal membaca resensi yang telah ditulis.
Karena itu, menurut saya, agar makna atau pemahaman kita atas sebuah buku itu tetap teringat dan terjaga, setelah membaca sebuah buku selayaknya menulis resensi (atau minimal membuat sinopsis). Itu langkah yang baik.

Apa modal utama dalam meresensi buku?

Modal utama meresensi buku itu, bagi saya adalah paham (berusaha mendekati maksud yang dikehendaki penulis buku) tentang “sebuah buku yang hendak diresensi”. Jika modal utama itu sudah digenggaman otak, maka menulis resensi tidak lagi sesuatu yang sulit. Karena hal-hal yang lain, seperti teknik menulis resensi, memilih jenis buku, dan unsur-unsur yang harus dikuasai dalam menulis resensi bisa mengikuti.

Buku apa baiknya kita resensi. Lama atau baru?

Untuk menulis resensi buku, jika sedari awal memang ditargetkan untuk dimuat di media maka buku yang diresensi hendaknya buku baru. Palagi ada redaktur resensi buku yang memang menetapkan; dia akan memuat resensi buku; setidaknya 6 bulan dari terbitnya buku.

Kalau kita nggak punya uang beli buku baru, langkah2 taktis apa yang kita lakukan? Apa penerbit mau ngasih kalau kita minta???

Tidak punya uang untuk membeli buku bukan berarti jalan untuk bisa meresensi buku kemudian tertutup rapat-rapat. Dulu, waktu saya masih awal-awal menulis resensi buku, saya kerap meminjam buku dari teman jika memang tidak punya uang untuk beli buku. Setelah saya intens menulis resensi buku dan mulai kenal akrab dengan bagian promosi beberapa penerbit buku, jika memang ada buku baru yang bagus saya tak segan meminta untuk dikirimi karena sebagian besar penerbit tak jarang menganjurkan pada saya untuk meminta buku jika ada buku yang saya kehendaki.

Jadi, penerbit tak keberatan mengirim buku jika memang buku yang diminta itu kemudian diresensi, karena permintaan buku oleh peresensi bisa dikata sebanding lurus dengan promosi sebuah buku. Di sini, ada timbal balik antara penerbit dan peresensi.

Ada yang bilang meresensi itu mudah. Tetapi, ada juga yang bilang sulit. Bagaimana itu?

Bagi saya pribadi, menulis resensi buku itu tak seperti yang dibayangkan banyak orang. Mudah atau susah itu tergantung dari kemauan atau ketekunan seseorang. Setiap ada kemauan, pastilah ada jalan. Jadi kalau ingin menulis resensi buku dan serius, maka menulis resensi itu akan jadi mudah. Tapi sebaliknya, bagi orang yang malas dan mudah menyerah bahkan tak mau belajar, maka menulis resensi buku itu akan menjadi sesuatu yang sulit.

Bagaimana baiknya meresensi. Baca semua isinya atau asal-asalan saja. Baca pendahuluan misalnya, langsung diresensi. Bagaimana itu?

Untuk bisa maksimal meresensi buku, kunci utama adalah memahami isi buku. Karena itu, dibutuhkan pembacaan yang detail (menyeluruh) agar nanti dapat meresensi dengan bagus. Bisa saja, membaca buku dengan cara membaca sekilas, tapi saya berani jamin; hasil resensi itu tidak akan bisa maksimal. Ada “celah dan lubang” yang tidak bisa diungkap karena membaca buku yang diresensi dengan tidak detail.

Apa saja unsur dalam meresensi?

Unsur-unsur dalam meresensi buku itu sebenarnya simpel. Pertama, judul buku. Dalam membuat judul, usahakan yang menarik dan mewakili isi tulisan resensi. Kedua, data buku; meliputi a) judul buku,  b) penulis, c) penerbit, d) tahun terbit, e) cetakan, f)  tebal buku dan g) harga buku (jika memang diperlukan).

Ketiga, pengantar atau pembuka resensi. Pembuka inilah yang cukup memiliki kekuatan muat, karena dengan pembuka yang memikat bisa dipastikan redaktur akan terpikat setidaknya untuk pertama kali membaca sebuah resensi. Keempat, mengungkap isi buku; lebih jauh lagi jika kemudian dijelaskan dengan mengikutkan “teori” yang bisa menjelaskan buku itu dengan analisis yang tajam. Kelima, kritik peresensi atas buku itu (mengungkapkan kelebihan dan kekurangan buku, tema yang diangkat, teknis penulisan dan lain). Keenam, penutup; mengungkap kontektualitas buku dikaitkan dengan kondisi kekinian, untuk siapa buku itu ditulis dan bisa ditambah lain lagi ulasan khusus tentang buku tersebut secara spesifik.

Sepanjang apa sih meresensi buku. Maksudnya jumlah halaman???

Jika resensi itu “ditargetkan” untuk dikirim ke media massa, panjang pendeknya resensi harus menyesuaikan space atau kolom yang disediakan media yang akan dikirimi naskah resensi. Misal di Kompas, resensi bisa panjang sekitar 7500 karakter, sementara di media yang lain bisa sekitar 6000-6500 karakter.

Setelah meresensi, di kemanakan resensi itu?

Setelah menulis resensi, biasanya saya mengirimnya ke media. Karena sejak awal menulis resensi dulu (waktu itu memang belum ada blog) saya sudah menargetkan nulis untuk dimuat di media massa. Baru jika kemudian tidak dimuat di koran atau majalah, saya mempublikasikan resensi tersebut di blog (saya).

Bagaimana caranya resensi menembus media massa. Perlu gak ndekatin redakturnya?

Sepanjang pengalaman saya menulis resensi buku di sejumlah media massa, ada tiga hal penting yang harus diperhatikan oleh peresensi agar resensi yang ditulis itu bisa dimuat. Pertama, adalah pilihan buku yang diresensi. Kedua, adalah siapa penulis buku itu. Karena penulis yang terkenal bisa dipastikan memiliki nilai muat yang tinggi. Ketiga adalah mengetahui kecenderungan (spesifikasi) keilmuan redaktur sebuah media yang bersangkutan.

Kalau ketiga faktor tersebut diperhatikan, maka peresensi tidak akan mengalami kesusahan untuk menembus atau bisa dimuat di media!  Memang, kedekatan peresensi dengan redaktur itu bisa sedikit banyak membantu, tetapi hal itu bukanlah segalanya.

Selama 11 tahun meresensi apa saja untung dan ruginya?

Keuntungan saya selama sebelah tahun meresensi buku tidaklah sedikit. Pertama adalah saya bisa belajar (dari membaca semua jenis buku), mendapat honor, mendapat buku gratis (secara berkala), dan di belakang hari saya menemukan bahwa menulis – entah itu resensi buku atau menulis genre lain adalah sebuah pertarungan, pergulatan hidup dan sekaligus menemukan jati diri.
Adapun satu kerugian yang saya alami; menulis resensi seperti mata rantai yang pada ujungnya menjadikan kecanduan. Saya tak tahu; apakah ini dialami oleh peresensi lain atau tidak. Tetapi setelah saya menceburkan diri untuk intens menulis resensi, saya seperti terjebak pada genangan lumpur dan anehnya saya susah meloloskan diri. Kenapa bisa demikian?

Kiriman buku-buku gratis kerapkali tak memberi ruang bagi saya untuk punya kebebasan. Ada beban moral jika saya tidak meresensi ketika saya mendapatkan kiriman buku gratis dan itu seperti sebuah mata rantai yang susah untuk dilepaskan. Selain itu, keranjingan membaca tak jarang menuntut saya dihinggapi perasaan rugi jika kemudian tak menulis dalam bentuk resensi buku setelah saya membaca sebuah buku. Untungnya, sudah satu tahun ini saya bisa membebaskan diri; untuk intens menulis cerpen, esai dan novel. Saya menulis tidak terpaku pada resensi buku. Dengan cara itu, sekarang saya tak lagi terkooptasi lingkaran dunia resensi buku. Pendek kata, ada hal lain yang jauh lebih penting yang memang harus saya kejar!

Di koran mana saja resensi Anda dimuat? Sebutkan rincinya ya. Nama-nama korannya saja.

Selama rentang waktu sebelas tahun, resensi saya sudah dimuat di hampir semua media nasional dan lokal, di antaranya Kompas, The Jakarta Post, Majalah Tempo, Koran Tempo, Majalah Gatra, Media Indonesia, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, Suara Pembaruan, Jurnal Nasional, Bisnis Indonesia, Majalah Gamma, Tabloit Nova, Forum Keadilan, Jawa Pos, Surya, Surabaya Post, Bernas, Keadaulatan Rakyat, Wawasan, Suara Merdeka, Solo Pos, Bengawan Post dan lain-lain.

Lihat Bagian I (proses kreatif)

Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan

Nur Mursidi

Nur Mursidi

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi [sini].

BAGIAN I


Saya denger dari teman, blogmu pernah menjadi juara untuk blog resensi buku di Jakarta Islamic Book Fair. Diceritakan ya….

Blog saya (http://etalasebuku.blogspot) memang pernah meraih juara pertama lomba blog buku yang diadakan Pesta Buku Jakarta 2008. Ceritanya, waktu itu (tahun 2008) Pesta Buku Jakarta 2008 menggelar beberapa lomba di antaranya adalah lomba blog buku. Karena saya kebetulan memiliki blog buku yang semula saya jadikan sebagai “dokumentasi resensi-resensi buku” yang pernah dimuat di media massa, maka saya pun iseng-iseng mengikutkan blog saya dalam lomba tersebut.

Tetapi di luar dugaan, ternyata blog saya itu meraih juara pertama. Padahal, sejak awal saya ikut lomba sudah tidak yakin kalau bisa menjuarai lomba, apalagi persyaratan yang ditentukan panitia nyaris tak bisa saya penuhi. Jika pada akhirnya blog saya bisa meraih juara, saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku bahkan juga proses kreatis menulis dan semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain; baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut.

Sejak awal saya ikut lomba hanya iseng, maka saya pun melupakan lomba blog tersebut. Anehnya, justru saya meraih juara dan saya tahu jika saya meraih juara justru dari seorang teman saya kebetulan pada waktu itu hadir di Pesta Buku Jakarta sewaktu pengumuman pemenang blog diumumkan panitia. Cerita yang lucu…!

Mengapa dirimu mencintai buku sepenuh2nya. Bisa diceritakan latarnya?

Keluarga saya adalah keluarga yang jauh dari buku. Perkenalan saya dengan buku diawali dengan kisah yang unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak tinggal di rumah tua yang saya kontrak bersama beberapa teman di Krapyak, Yogyakarta di masa awal kuliah dulu. Tak tahunya, rumah itu angker. Saya yang memiliki jiwa usil, dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Tepat hari pertama, saya langsung menelisik rumah itu dan saat saya temukan kamar di belakang rumah, saya ditikam penasaran. Di kamar itu, ternyata tersimpan bertumpuk-tumpuk buku.

Tidak sabar, saya mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, saya menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang saya raih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, saya yang waktu itu belum pernah baca buku –maksud saya; selain buku pelajaran sekolah– langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Jujur, novel itu pula yang membuka mata saya mengenal sastra.

Sejak perjumpan saya dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, diam-diam saya sering bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis saya baca, saya kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang saya baca, menjadikan saya disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya saya kuliah, dan tak sengaja bertemu Arief Syarwani –teman sekampus– yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mata saya seperti berbinar.

Buku itu kemudian saya pinjam. Meski dia sendiri meminjam buku tersebut dari Muhammad Rifa`i, ternyata ia tak keberatan meminjamkan buku itu padaku. Ia bahkan mengajari saya menulis resensi buku untuk buku tersebut. Dua hari, buku itu saya baca lalu saya resensi–untuk saya kirimkan ke Kedaulatan Rakyat.  Tidak pernah saya duga, kalau resensi saya itu pada akhirnya dimuat. Rentetan “peristiwa-peristiwa” itulah yang membuat saya mencintai buku sepenuhnya, apalagi setelah saya “menerjunkan diri jadi peresensi buku”. Ada kegilaan untuk membaca, membaca dan membaca.

Untuk apa orang menyuntuki buku. Apa yang bisa dicari di sana. Bagaimana suka dukamu jadi pembaca yang sekaligus penulis resensi buku?

Orang menyukai buku, karena lewat buku orang bisa melihat dunia. Ada banyak hal yang dapat dicari seseorang lewat buku, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya saya bisa belajar dari buku tentang banyak hal, ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Lebih dari itu, lewat buku saya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup setelah melakukan semacam kontemplasi dan perenungan lebih jauh dan dalam.

Adapun cerita sukanya menjadi pembaca dan sekaligus peresensi buku tidak lain adalah saat mendapatkan kiriman “hadiah buku dan honor” dari menulis resensi. Meski buku dan honor itu bukan segala-galanya, karena membaca dan menulis resensi itu bagi saya adalah satu proses belajar yang menyenangkan sekaligus sebagai media terapi dari keterasingan hidup, tapi kiriman buku gratis dan honor itu tetap menjadi motivasi yang tak bisa dinafikan.

Sementara untuk cerita duka menjadi pembaca sekaligus peresensi buku adalah saat kita salah melakukan penafsiran atas sebuah buku. Karena pada dasarnya membaca dan menulis resensi itu adalah proses menafsrikan dan menilai sebuah buku. Tentu, ada kritik yang kadang dikemukakan oleh orang (pembaca) lain yang kemudian menanggapi hasil pembacaan kita, jika kita memang salah menimbang sebuah buku.

Sudah berapa buku di rak? Dari mana saja (sebagian besar) asalnya kalau boleh tahu? Gratis dari penerbit atau beli sendiri???

Saya mungkin termasuk penulis yang tidak setia memelihara dan merawat buku. Karena itu, saya tidak tahu berapa jumlah buku yang saya miliki. Tak sedikit buku-buku saya yang dipinjam orang lain, ternyata tak kembali ke rak buku saya. Bahkan, sebagian besar buku saya masih saya titipkan seorang teman di Yogyakarta.

Terlepas dari semua itu, buku-buku yang saya miliki sebagian adalah hadiah dari penerbit dan sebagian yang lain saya beli dari uang honor menulis. Apalagi tatkala saya dulu gemar memburu buku-buku bekas dari penampung barang-barang bekas (rongsok) di mana saya banyak membeli buku dengan cara kiloan. Hampir tiap hari saya mendapat buku loak dengan harga murah karena saya membeli kiloan. (Bersambung ke Rubrik TIPS-Daya Tahan Meresensi Buku)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan