-->

Kronik Buku Toggle

Mimpi Membaca Jadi Gaya Hidup

Oleh Joko Susanto

Nasib Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) Perpustakaan Surabaya hingga Juni 2009 belum menemui titik terang. Sanksi pidana yang belum tegas diatur masih menjadi tarik ulur (suarasurabaya.net). Padahal, sejak empat tahun lalu, produk hukum yang terkait dengan minat baca itu sudah hangat diperbincangkan. Beberapa pengusaha mal di Surabaya malah merasa keberatan kalau sanksi pidana disahkan dalam raperda.

Kepedulian pihak eksekutif dan legislatif mengenai minat baca sebetulnya layak diapresiasi. Namun, perlu diingat, perda bukanlah satu-satunya juru selamat atas kusutnya masalah itu. Problem rendahnya minat baca adalah persoalan kompleks. Ada faktor lain seperti budaya baca, mahalnya buku, dukungan keluarga, pengaruh televisi, dan persebaran perpustakaan yang belum merata. Dari titik itu saja, sudah banyak penyebab yang mesti diatasi.

Menurut rencana, jika perda itu sudah tuntas dan diberlakukan di Surabaya, tiap fasilitas umum seperti mal, plaza, terminal, stasiun, bandara, dan pelabuhan wajib menyediakan taman bacaan atau sudut baca. Bila tidak, ada sanksi yang siap menanti.

Meski terlihat sepele, taman bacaan sangat berperan. Bagi kalangan berduit, membeli buku mungkin tidak masalah. Namun, bagi keluarga ekonomi pas-pasan, untuk beli buku, mereka masih perlu berpikir panjang. Padahal, kini ke toko buku tidak bisa sekadar melihat-lihat. Sebab, mulai ada tren para penerbit membungkus bukunya dengan plastik. Buka berarti beli.

Undang-Undang No 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan mengharuskan pemerintah daerah membuat perda tentang pengelolaan perpustakaan. Beberapa daerah, misalnya Semarang, sudah memilikinya. Perda itu diharapkan mampu meningkatkan kinerja perpustakaan dan minat baca pelajar dan masyarakat umum. Selain itu, koleksi buku diharapkan bertambah dari waktu ke waktu. Perda pengelolaan perpustakaan merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan bantuan dari perpustakaan nasional, baik bantuan buku, program, maupun sarana dan prasarana.

Perpustakaan mengemban misi mulia yang bertanggung jawab untuk mencerdaskan pengunjung lewat koleksi yang dimiliki. Meski perda belum disahkan, pembuat kebijakan sudah menunjukkan iktikad baik untuk mengurai benang kusut masalah dan mencari solusi lewat penanganan yang integralistik dengan menggugah unsur partisipatif masyarakat. Benar kata pepatah, daripada memaki kegelapan lebih baik segera bangkit dan menyalakan lilin meskipun kecil.

Pada pasal 6 raperda disebutkan, setiap penyelenggara tempat dan atau fasilitas umum wajib menyediakan taman bacaan atau sudut baca serta wajib mendaftarkan di Badan Arsip dan Perpustakaan Kota Surabaya. Fasum yang dimaksudkan pasal itu meliputi fasum komersial dan fasum sosial. Fasum komersial, di antaranya, mal, plaza, rumah sakit, restoran, dan salon. Sedangkan fasum sosial, antara lain, taman kota, rumah susun, dan balai kelurahan.

Daya dan minat baca masyarakat kita tergolong masih rendah. Berdasar hasil riset World Bank dan IEA (International Association for the Evaluation of Education), peringkat kebiasaan membaca anak Indonesia paling bontot bila dibandingkan dengan negara Asia lain. Bila skor Tiongkok 75,5, Singapura 75,0, Thailand 65,1, Filipina 52,6, Indonesia hanya meraih skor 51,7. Tak hanya itu, kemampuan membaca rata-rata siswa SD dan SMP di Indonesia berada di urutan ke-38 dan ke-34 di antara 39 negara. Memprihatinkan.

Tak hanya di Surabaya, secara nasional, kondisi perpustakaan, apalagi di sekolah, masih memprihatinkan. Menurut Fuad Hasan (2001), di antara 200.000 sekolah dasar, hanya sekitar 1 persen yang punya perpustakaan standar. Di antara sekitar 70.000 sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), baru 34 persen yang memiliki perpustakaan standar, dan di antara sekitar 14.000 sekolah menengah umum, hanya 54 persen yang memiliki perpustakaan standar. Di luar sekolah, perlu disediakan perpustakaan desa/kelurahan, masjid, pojok baca, dan sejenisnya, terutama bagi warga yang jauh dari lokasi perpustakaan.

Bagi masyarakat yang makin terkontaminasi budaya dan intervensi global, ada baiknya upaya menumbuhkan perilaku gemar membaca dibangun sebagai bagian dari gaya hidup (lifestyle) metropolitan. Tidak seperti pendekatan klasik yang memersepsi membaca semata sebagai proses pencerdasan bangsa. Dengan menempatkan kegiatan membaca sebagai bagian dari atribut, simbol, dan gaya hidup masyarakat, bukan tidak mungkin kegiatan membaca tumbuh menjadi bagian dari budaya massa yang mengasyikkan (Rahma Sugihartati:2008).

Ada atau tidak perda perpustakaan, langkah nyata dan partisipasi berbagai lapisan masyarakat sangatlah penting. Buku adalah jendela dunia. Di dalam buku terdapat harta karun yang sangat berharga berupa ilmu. Sadar menyediakan buku atau bacaan lain bagi kalangan yang kesulitan mendapatkannya merupakan gebrakan yang harus dimasyarakatkan. Penulis kadang membayangkan kapan di Surabaya atau Jawa Timur ada Rumah Dunia ala Gola Gong di Serang, Banten, yang aktif menyediakan buku dan aktivitas kepenulisan tanpa terpengaruh perda.

Untuk menggugah kesadaran warga masyarakat metropolis yang heterogen, perda perpustakaan memang relevan. Pengesahan raperda dan penegakan implementasinya perlu dukungan dan pengawasan bersama. Spirit meningkatkan minat baca masyarakat harus terus digelorakan. Saatnya sosialisasi yel-yel “Ayo ke perpus! Ayo ke Taman Bacaan!” terutama kepada generasi muda.

Sebuah perda tetap memiliki potensi plus-minus. Namun, keaktifan dan prasangka baik semua pihak akan menjadikan ketetapan itu lebih memiliki manfaat daripada mudarat. Apalagi, daerah-daerah lain di Jatim ingin melihat kesuksesan pilot project itu. Semoga pojok baca makin bertebaran di berbagai sudut kota dan warga antusias menyambutnya.

Joko Susanto, Pencinta buku, pendiri Taman Bacaan Anak Ilman Nafian Sidoarjo

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi  14 Juni 2009

Lihat sanggahan atas esai ini berjudul: Membaca Sudah Jadi Gaya Hidup Kok

Membaca Sudah Jadi Gaya Hidup Kok

Oleh Dwi Prihastuti

Sebagai pustakawati dan praktisi minat baca, hati saya merasa mak nyus (pinjam istilah Bonda Winarno) saat membaca opini berjudul “Mimpi Membaca Menjadi Gaya Hidup” yang ditulis Joko Susanto (Jawa Pos 14/6). Saya merasa mak nyus lantaran, di tengah suhu politik yang menghangat menjelang pilpres 8 Juli, masih ada yang perduli terhadap persoalan minat baca.

Saudara Joko menampilkan riset World Bank dan IEA (Internasional Association for The Evaluation of Education), yang menyatakan daya dan minat baca masyarakat kita tergolong rendah. Peringkat kebiasaan membaca anak Indonesia paling bontot dibandingkan negara lain di Asia.

Artikel Saudara Joko juga menyentil Raperda Perpustakaan yang tak kunjung menemukan titik terang. Padahal, raperda tersebut diharapkan bisa berdampak signifikan bagi pertumbuhan minat baca masyarakat. Saya sebut “bisa berdampak” karena, dalam implentasinya, raperda tersebut bisa jadi tidak berdampak positif bagi perkembangan minat baca.

Hal itu, tampaknya, juga disadari oleh saudara Joko. Karena itu, dia menyatakan bahwa perilaku gemar membaca sebaiknya dibangun sebagai bagian dari perkembangan gaya hidup metropolitan. Bukan semata sebagai proses pencerdasan bangsa. Ada atau tidak perda perpustakaan, partisipasi berbagai lapisan masyarakat sangat diperlukan.

Meski tidak 100 persen, saya sepakat dengan Saudara Joko, terutama soal perilaku gemar membaca sebagai bagian dari perkembangan gaya hidup metropolis. Menurut saya, jika membaca dikaitkan dengan perkembangan gaya hidup, saat ini membaca justru sudah menjadi bagian dari gaya hidup metropolis.

Tak percaya? Coba ke pelbagai mal (sebagai salah satu unsur gaya hidup metropolis). Kita akan temukan seorang atau beberapa orang asyik mengutak-atik black bery atau laptop untuk meng-up date status di Facebook, mengomentari status rekannya, atau membuat catatan. Aktivitas tersebut, tentu, tidak mungkin dilakukan tanpa membaca.

Diakui atau tidak, gadget black berry yang memungkinkan seseorang mengakses dunia maya 24 jam sehari dan situs pertemanan facebook telah menjadikan aktivitas membaca sebagai salah satu gaya hidup metropolis. Membaca dan mengomentari status rekan di facebook bahkan telah menjadi candu. “Sehari tidak up date status atau baca status teman, hidup ini rasanya tidak lengkap,” kata beberapa teman.

Tapi, tentu bukan sekadar membaca seperti itu yang kita harapkan menjadi gaya hidup. Saya dan Saudara Joko, juga pemerhati lain, pasti sepakat bahwa harus ada nilai lebih dari aktivitas membaca.

Sesuai esensinya, ada dua tujuan membaca, rekreatif dan informatif. Aktivitas ber-facebook umumnya dikategorikan membaca yang bersifat rekreatif. Namun, bisa juga aktivitas itu informatif. Sebab, begitu banyak informasi yang disajikan para facebooker (pemilik account face book), yang memang berasal dari beragam profesi. Dari siswa SD hingga profesor seperti Soetandyo Wignyosubroto. Dari pekerja biasa hingga Wakil Wali Kota Arif affandy. Dari orang biasa seperti saya hingga artis seperti Luna Maya.

Membaca status atau catatan teman bisa membuat saya tersenyum, sedih, terharu, atau tertawa. Tapi, saat membaca catatan Prof Sutandyo, saya merasa tercerahkan. Simak saja statusnya yang ditulis pada 15 Juni. “Pagi-pagi ditanya teman, apa yang dinamakan profesional itu? Profesional itu tak hanya bermakna ahli, tapi juga beretika, etika yang ditegakkan demi kehormatan diri. Di negeri ini, yang ahli hukum sering tak beretika kemanusiaan, sedangkan yang beretika banyak yang tak terlalu mengenali liku-liku hukum undang-undang yang tengah berlaku”. Sungguh informatif dan mencerahkan.

Atau, simak status yang ditulis Wawali Arif Affandy (dalam profilnya tertulis Wakgus Arif Affandy). Pada 16 Juni, Arif menulis, “Besok ke Pekan Baru mewakili wali kota berdiskusi tentang otonomi daerah dengan Depdagri. Masihkah gubernur perlu dipilih langsung? Apakah tidak menghemat kalau ditunjuk presiden? Kan gubernur adalah wakil pemerintah pusat di daerah?” Tidakkah itu relevan, mengingat pengalaman pilkada Jatim yang berlangsung hingga tiga putaran dan menghabiskan dana hampir Rp 1 triliun?

Penggiat minat baca, seharusnya, tertantang untuk memanfaatkan demam facebook menjadi sesuatu yang positif, inspiratif, dan konstruktif sebagaimana yang dilakukan dua tokoh tersebut. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah membentuk grup minat baca, sebagaimana grup LPFDT library, grup badan perpustakaan dan kearsipan provinsi Jawa Timur, atau grup dunia buku.

Belakangan muncul pula beberapa account seperti Buku Kita, Komunitas Buku, Dunia Buku Kita, dan Yayasan Pengembangan Perpustakaan Indonesia (YPPI). Mereka memanfaatkan facebook untuk memproklamasikan eksistensi sekaligus menyebarkan virus minat baca.

Melalui grup atau account tersebut, kita bisa berbagi pengalaman dan tip meningkatkan minat baca. Yang penting, di era teknologi digital ini, kita jangan terpaku pada aktivitas membaca text book. Saya percaya, dampak kelompok-kelompok itu akan lebih besar daripada menunggu perda yang tak kunjung tiba.

Terakhir, jika Saudara Joko membayangkan di Jatim ada tokoh sekaliber Gola Gong, yang membuat taman bacaan bernama Rumah Dunia di Serang, di Surabaya juga ada kok. Mungkin malah lebih hebat. Gola Gong memang mengawali karir sebagai penulis. Wajar jika dia mendirikan taman bacaan. Di Surabaya ada Kartono, mantan mucikari yang mampu mendirikan taman bacaan Kawan Kami di Jalan Putat Jaya. Bersama Diah Litasari, penemu metode belajar membaca cepat Kubaca, Kartono termasuk sosok langka di Metropolis.

Jangan lupakan pula Oei Hiem Hwie, Pembina Perpustakaan Medayu Agung Surabaya yang mengkhususkan diri mengkoleksi berbagai buku langka dan benda bersejarah tentang Indonesia. Mereka merupakan bukti bahwa menumbuhkan minat dan budaya baca tak perlu bergantung pada perda.

Dwi Prihastuti, Pustakawati SD Al Falah Darussalam Tropodo

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu 28 Juni 2009

Halaman "Buku" Jawa Pos Ngalah dengan Shoping dan Basket

Pengaruh media massa untuk perluasan isu perbukuan cukup signifikan. Hal itu disebabkan lantaran keluasan edar media tersebut. Dan kita bersyukur, nyaris semua media massa, terutama sekali koran cetak, memberikan halaman khusus untuk ruang buku. Salah satu yang cukup terkenal adalah halaman buku Harian Jawa Pos.

“Rubrik itu sudah berumur tujuh tahun,” kata Arief Santoso, redaktur Budaya dan Buku Jawa Pos kepada Indonesia Buku saat diskusi di Perpustakaan C2O Surabaya (29/6).

Menurutnya, rubrik itu setiap pekannya menjadi ajang bagi para peminat buku, penulis-penulis resensi buku, memberikan informasi dan bahkan berpolemik. Apalagi jika perdebatan itu selalu memberikan kebaruan dan pencerahan baru. “Kita biasanya berharap sekali polemik buku ‘Di Balik Buku’ itu bukan hanya mengomentari penulis yang dibantah. Tapi memberi argumentasi-argumentasi kuat dan data-data baru. Syukur kalau memecahkan masalah.”

Yang juga dikatakan Arief adalah permohonan maafnya karena rubrik buku Harian Jawa Pos dalam beberapa kali tak bisa tampil setiap pekannya. Terutama sekali ketika di Surabaya muncul beberapa acara yang menyita cukup banyak halaman koran itu, seperti Surabaya Shoping Festival 2009 dan NBA Madness.

“Karena peristiwa itu menyita banyak halaman. Otomattis harus ada pengurangan halaman. Dan rubrik Buku salah satu yang ngalah untuk tampil dua pekan sekali. Tapi itu hanya sementara,” kata Arief. (GM)

Halaman “Buku” Jawa Pos Ngalah dengan Shoping dan Basket

Pengaruh media massa untuk perluasan isu perbukuan cukup signifikan. Hal itu disebabkan lantaran keluasan edar media tersebut. Dan kita bersyukur, nyaris semua media massa, terutama sekali koran cetak, memberikan halaman khusus untuk ruang buku. Salah satu yang cukup terkenal adalah halaman buku Harian Jawa Pos.

“Rubrik itu sudah berumur tujuh tahun,” kata Arief Santoso, redaktur Budaya dan Buku Jawa Pos kepada Indonesia Buku saat diskusi di Perpustakaan C2O Surabaya (29/6).

Menurutnya, rubrik itu setiap pekannya menjadi ajang bagi para peminat buku, penulis-penulis resensi buku, memberikan informasi dan bahkan berpolemik. Apalagi jika perdebatan itu selalu memberikan kebaruan dan pencerahan baru. “Kita biasanya berharap sekali polemik buku ‘Di Balik Buku’ itu bukan hanya mengomentari penulis yang dibantah. Tapi memberi argumentasi-argumentasi kuat dan data-data baru. Syukur kalau memecahkan masalah.”

Yang juga dikatakan Arief adalah permohonan maafnya karena rubrik buku Harian Jawa Pos dalam beberapa kali tak bisa tampil setiap pekannya. Terutama sekali ketika di Surabaya muncul beberapa acara yang menyita cukup banyak halaman koran itu, seperti Surabaya Shoping Festival 2009 dan NBA Madness.

“Karena peristiwa itu menyita banyak halaman. Otomattis harus ada pengurangan halaman. Dan rubrik Buku salah satu yang ngalah untuk tampil dua pekan sekali. Tapi itu hanya sementara,” kata Arief. (GM)

Catatan dari Balik Dapur Si Tukang Masak

“Ayah saya wartawan, kakak saya wartawan, ibu saya penulis. Saya rasa menulis sudah ada dalam darah saya. Memasak dan menulis tak terlalu berbeda. Kalau memasak itu mencampur-campur bahan makanan, kalau menulis itu mencampur kata-kata,” terang Bara Pattiradjawane, dalam peluncuran buku keduanya, Catatan dari Balik Dapur Si Tukang Masak (CDBDSTM), Minggu (28/6) di Istora Senayan.

Pria yang lebih senang dijuluki tukang masak daripada chefini sudah pernah menulis buku, yaitu Masak Seru Bareng Si Tukang Masak, yang didedikasikannya untuk para mahasiswa kos-kosan dan para pemula yang ingin belajar masak. Di buku pertamanya tersebut, Bara menceritakan sisi lain kehidupannya di balik kamera. Perjalanan hidup, pengetahuan, hingga nostalgia, ia tumpahkan sambil menyelipkan resep-resep yang ia kreasikan sendiri atau merupakan modifikasi.

Adapun buku keduanya, CDBSTM, merupakan kumpulan tulisan Bara yang dipublikasikan oleh sebuah majalah gratis ibu kota. Setelah tiga tahun menulis di majalah tersebut, penerbit Gagas Media menganggap bahwa mereka memiliki visi yang sama dengan Bara. “Kami tak mau menerbitkan buku yang isinya hanya resep. Mas Bara adalah sosok tepat untuk anak muda yang punya sejuta alasan untuk tidak memasak. Di buku ini terdapat resep-resep yang mudah, menyenangkan, dan tidak ribet. Dari caranya bertutur dan memasak, terlihat bahwa Mas Bara ini memasak dengan cinta,” ujar Windy Ariestanty, Pemimpin Redaksi Gagas Media, dalam peluncuran buku ini.

“Persoalan lidah dan rasa buat saya adalah masalah yang pribadi. Jika Anda suka mencampur dua hal yang menurut orang lain tidak sesuai, tapi Anda sukai, lalu kenapa? Campur saja sesuka Anda,” pungkas Bara. Menurut Bara, semua orang bisa memasak, hanya masalah kemauan saja.

Anda akan menemukan tulisan-tulisan naratif tentang pengalaman Bara yang mudah dimengerti, membumi, dengan resep-resep khas Bara yang mudah dan variatif. Resep-resep yang akan Anda temui di sini antara lain; Rosemary Lamb, jus untuk kesehatan, sup anti-masuk angin, pastel roti goreng, Oriental Steamed Salmon, dan masih banyak lagi. Siap mencoba memasak? Segera cari bukunya di toko-toko buku biasa seharga Rp 39.500.

NAD

*) Dikronik dari Kompas Female, 29 Juni 2009

Korupsi Buku dari Daerah ke Daerah

Korupsi dan praktik-praktik setan di dunia perbukuan memang bukan soal sepele. Oleh karena itu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi  perhatian khusus. Dari data kronik yang dihimpun ICW, KPK sudah/sedang melakukan penyelidikan dan penyidikan di 14 kabupaten/kota se-Jawa Tengah dan Yogyakarta.1

Pada 2003 Kejaksaan Negeri Karawang menahan mantan Kepala Dinas Pendidikan  Dadang Wargadinata dan Kepala Bagian Umum Program dan Pelaporan Dinas Pendidikan Amid Mulyana (Rp 500 Juta). Di Sleman pada 2004, mantan Ketua DPRD Djarot Subiyantoro, Kepala Dinas Pendidikan Muhammad Bahrum, dan Ketua Panitia Pengadaan Buku Matsuko Muhdori masing-masing divonis penjara 5 dan 4,5 tahun lantaran mengkorup uang negara sebesar Rp 11,8 Milyar.

Antara 2003-2004 di Purworejo, Pengadilan Negeri Semarang menahan mantan Bupati  Marsaid di mana negara dirugikan sebesar Rp 4,6 Miliar. Mantan Bupati Semarang Bambang Guritno divonis pengadilan dua tahun penjara karena terbukti korupsi uang buku sebesar Rp 620 Juta.

Dari Kendal, pada 2004 Majelis Hakim Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dan KPK memvonis mantan Bupati Hendy Boedoro dengan tujuh tahun penjara, denda Rp. 200 juta dan membayar uang pengganti Rp 3,47 miliar. Besar dana buku yang dikorup: Rp 47 Miliar.

Masih di tahun 2004. Tapi ini korupsi buku di Pemalang. Kejaksaan memenjarakan mantan Kadinas P dan K Bambang Sukojo, Kepala Tim Pengadaan Barang Josaphat Soenarjo, Pimpinan Kegiatan I Agus Sukisno, dan Pimpinan Kegiatan II Kartijan. Uang buku yang dibancak sebesar Rp 26,587 Miliar.

Kini singgahlah di Brebes. Pada 2004 polisi menyikat Bupati Brebes Indra Kusumah, ketua DPRD Brebes Drs.H.Sare’i Abdul Rossyid, Kepala Dinas Pendidikan Tarsun MM. Ketiganya dituduh menggelapkan uang buku Rp 8,3 Miliar.

Di Salatiga pada 2004, satuan polisi memejahijaukan mantan Walikota Totok Minarto (alm), mantan Kadinas Pendidikan Bakrie, dan Pimp. DPRD Sri Utami Djatmiko dan Sutrisno dengan kerugian negara sebesar Rp17,6 Miliar.

Adapun di Yogyakarta, Polres Sleman sejak 2005 hingga Juni 2009 mengusut korupsi pengadaan buku yang merugikan keuangan negara Rp 12 miliar. Korupsi yang juga menyeret bupati ini melibatkan enam orang daripelbagai instansi terkait. Saat ini Bupati Ibnu Subiyanto sudah mendekam dibui.6 (Bersambung)

END NOTE

  1. ICW, www.antikorupsi.org, 25 Agustus 2008.
  2. Jawa Pos. 23 Februari 2008. “Tiga Tahun Korupsi Buku di Jogja”.

Dipo Andy, Bukan Buku tapi Televisi

Dipo Andy

Dipo Andy

Jika kau bertanya apa arti membaca bagiku, maka jawabku adalah membaca tanda-tanda. Pembacaan atas tanda-tanda itu melahirkan pengertian atas situasi psikologis masyarakat. Tentu tanda yang kubaca bukanlah tanda yang sudah sangat jauh di belakang, tanda tradisional, melainkan perkembangan masyarakat kini dan di sini. Aku berada dalam kereta yang masih beroperasi dan bukan kereta yang sudah disimpan di museum sebagai barang antik dan sesekali dioperasikan untuk memuaskan hasrat para turis atau antikes (pencinta barang antik).

Dan yang paling progresif dari tanda-tanda itu adalah apa yang diproduksi alat-alat elektronik. Mungkin kau menyanggahku. Kenapa bukan buku. Mungkin kau akan bilang, bukankah barang-barang elektronik itu sampah yang memproduksi kedangkalan, kebanalan, dan tak ada sama sekali refleksi di dalamnya. Penuh spekulasi. Gosip murahan.

Barangkali kau benar. Tapi tunggu dulu. Kuberitahu bahwa gerak produksi alat elektronik sangat progresif. Ia selalu memperbarui dirinya. Terus-menerus. Sedikit saja lengah, ia akan disalip produk elektronik lainnya. Kubayangkan orang yang bekerja di pabrik elektronik itu adalah orang-orang yang tak pernah bisa tidur karena harus mengawal masa depan setiap detik. Mereka setiap saat mesti terjaga, seperti masyarakat yang tak pernah tidur untuk menyongsong masa depannya. Seperti ucapan gembel-gembel itu: besok mau makan apa. Ucapan gembel itu menurutku sangat kontemporer.

Nah, begitulah. Justru tempat yang kau anggap murahan itu kuletakkan pembacaanku. Dari barang-barang banal itu kucecap inspirasi. Gosip itu menggetarkan kalau kau tahu. Selalu mengejutkan. Walau banyak juga yang membosankan. Penuh repetisi.

Membaca buku itu susah. Sekarang saja aku tak bisa lagi baca buku (tebal) secara tuntas dan total. Karena ternyata setelah kucoba-coba lagi membaca, aku temukan diriku susah sekali berkonsentrasi, karena waktu yang aku pakai adalah waktu sisa-sisa dari kegiatan untuk berkarya. Kau perlu tahu berkarya itu membutuhkan energi dan konsentrasi yang tinggi. Bukan sekedar fisik yang bekerja, tapi pikiran pun diperas untuk menyelesaikan karya. Apalagi beberapa tahun terakhir, aku sangat giat berkarya. Kondisi yang berbeda ketika masih mahasiswa dan beberapa tahun setelahnya.

Selain itu aku sebetulnya muak melihat gaya-gaya orang-orang pembaca buku; mereka itu sombong sekali. Seolah-olah mereka itu lebih hebat dan lebih tahu dari siapa pun. Padahal mereka hanya kutap sana kutip sini. Malu juga aku melihat kesombongan manusia pembaca buku seperti itu.

Tapi kau terus juga memaksaku untuk terus memegang buku. Bahkan meminta menyebutkan 5 buku yang mempengaruhiku. Dengan terpaksa kusebutkan bahwa yang mempengaruhiku adalah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer di mana untuk cetakan keduanya setelah lama dibreidel, yakni pada 2002, akulah yang membuat sampulnya. Buku itu mengisahkan perjuangan yang tulus yang terkadang tak terbayar dengan apa yang didapatkan kemudian. Yang penting jalani proses dan yakni akan jalan yang dipilih ditempuh.

Tapi kau menagih satu lagi untuk sampai cukup lima. Jawabku sudah lupa semua. Buku terakhir yang kubaca adalah karya Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesunyian. Tapi tak selesai. Berat. Adapun buku-buku seni itu soal perkuliahan di ISI Jogja (Institut Seni Indonesia). Tak usahlah disebutkan.

Tapi bukan berarti aku anti bacaan. Toh anak-anakku tetap kuantar ke toko buku. Aku juga masih menyempatkan waktu untuk baca koran dan majalah-majalah seni langgananku, seperti Visual Art, C-Art, dan Arti. Saban bulan aku masih menyempatkan membeli majalah-majalah impor ihwal desain grafis. Semua itu kulakukan agar aku tak ketinggalan isu dunia pop terbaru. Jadi kau sudah tahu bukan, bahwa konsep-konsepku dalam berkarya juga dipengaruhi potongan-potongan artikel isu spekulatif dari bacaan-bacaan pop itu. Dan menurutku, justru dari spekulasi-spekulasi itu memunculkan banyak pertanyaan untuk memulai ide dalam berkarya.

Mesti aku membaca, tapi di sini kuberitahu kepadamu bahwa bukan buku yang mempengaruhi lukisanku, walau kukatakan bahwa sejak 1998 hingga 2003 aku menjadi pembuat sampul buku di banyak penerbitan Jogjakarta. Bahkan aku menjadi salah satu pengelola penerbitan arti.line. Jadi biar begini-begini, aku pernah menjadi orang buku.

Yang mempengaruhiku adalah seleraku yang berhubungan dengan dunia pop, film, dan kecenderungan hidup sehari-hari. Buku sudah tak kubaca. Yang dari luar negeri paling kulihat-lihat saja gambarnya, selain bahasanya tak kumengerti. Bagi seniman seperti aku ini, cukuplah melihat gambar tanpa kata-kata. Dengan menangkap pesan visual aku sudah membangun teori sendiri di mana terkadang konsep yang kupahami berbeda sama sekali dengan konsep yang dibangun oleh gambar itu.

Dari seluruh perjalananku atas pembacaan terhadap masyarakat lewat barang-barang elektronik dan kehidupan pop dan vulgar-vulgar yang tampil di halaman majalah-majalah life style itu, aku kemudian berkesimpulan bahwa lukisan itu mestilah memiliki akar langsung dari kehidupan sehari-hari; sebagai sebuah cara hidup. Aku bukanlah seniman yang beraneh-aneh dalam masyarakat. Aku adalah bagian dari arus besar masyarakat dengan satu semangat: terus menjalani hidup di sini dan kini. Jenis masyarakat yang begitu itu yang kurekam secara terus-menerus di atas kanvas. (Muhidin M Dahlan)

Dipo Andy, Sumbawa, 21 Agustus 1975
1999 Voice of Nation (Intaran Gallery Bandung, Indonesia) 2000 Feminografi (Gelaran Budaya Yogyakarta, Indonesia) 2001 Muka-Kamu-Amuk-Muak: Serigraphy of 500 Face of Indonesia Parliament Member 1999-2004 (Museum Nasional Jakarta, Indonesia) 2002 Bolart: Choreography of Soccer, Serigraphy of 750 Face-World Cup Player 2002 (Museum Olahraga, TMII Jakarta, Indonesia) 2006 Mirror: Masters Revisited (Vanessa Art Link, Jakarta, Indonesia 2008 Passion Fashion (Semarang Gallery, Semarang, Indonesia)

Equinox, Mengglobalkan Indonesia Lewat Buku

Oleh BI Purwantari

kretek

Zaman globalisasi saat ini memungkinkan berbagai jenis komoditas masuk pasar dunia, tak terkecuali komoditas kebudayaan seperti buku. Di Indonesia sendiri, ribuan buku karya dan tentang negeri lain masuk dan dikonsumsi jutaan penduduk. Sebaliknya, belum banyak buku karya anak negeri ataupun tentang Indonesia yang mengisi rak-rak buku warga dunia.

Salah satu penerbit yang berupaya membawa Indonesia masuk ke dalam perbincangan komunitas dunia adalah Equinox. Didirikan tahun 1999 oleh Mark Hanusz, seorang warga Amerika Serikat, yang menjadi pemilik sekaligus managing editor, Equinox menerbitkan puluhan buku karya penulis asing tentang Indonesia ataupun beberapa karya penulis dalam negeri. Tema-tema buku sangat bervariasi, mulai dari tema akademik, seperti analisis ekonomi, politik, ilmu sosial di Indonesia, demografi, militer, kebijakan luar negeri Indonesia, hingga tema sastra, biografi, sejarah organisasi serta produk kebudayaan Indonesia, seperti rokok keretek, kopi, ataupun seluk-beluk kehidupan warga Jakarta.

Untuk bisa masuk pergaulan global, Equinox menerbitkan karya orang Indonesia dalam bahasa Inggris, selain puluhan buku yang memang ditulis dalam bahasa Inggris. Seluruh buku terbitannya juga dijual lewat toko buku terbesar dunia, yaitu situs www.amazon.com, selain beberapa distributor dunia dan institusi akademik, seperti Institute of South East Asian Studies (ISEAS). Ragam tema dan isi yang menarik membuat cukup banyak di antara buku-buku terbitannya menjadi pembicaraan buletin, koran, dan majalah asing, seperti New York Times, Asia Observer, South China Morning Post, Straits Times, Far Eastern Economic Review, Time Asia, The Asian Review of Books, dan International Institute for Asian Studies.

Namun, Equinox tetap menyediakan beberapa judul yang diterbitkan dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, agar lebih banyak warga Indonesia ikut membacanya.

Dari saham ke buku

Awalnya adalah tahun 1998, ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi. Saat itu Mark Hanusz telah bekerja di Swiss Bank Corporation (SBC) selama tujuh tahun dan dua tahun ditugaskan di Jakarta menangani penjualan saham. Krisis mengakibatkan perdagangan saham sepi, tak ada orang mau menjual atau membeli saham. Alih-alih kembali ke tanah airnya, Mark Hanusz memutuskan tetap tinggal di Indonesia. Ia pun lalu melakukan riset tentang keretek dan menuliskannya dalam bentuk buku.

”Sudah sejak lama saya ingin sekali menulis buku. Saya kira itu keinginan semua orang. It’s human nature,” ceritanya. Ia pun memulai riset tentang rokok keretek yang membawanya ke berbagai tempat di Indonesia bahkan hingga ke Belanda, terutama Tropen Museum di Amsterdam dan Leiden. ”Waktu itu banyak bisnis mati di sini, tetapi industri rokok tidak. Ia justru paling laku. Dan keretek itu tidak ada di AS, tidak ada di Eropa, atau negeri-negeri lain. Hanya ada di sini, khas Indonesia,” papar laki-laki kelahiran 26 Juli 1976 ini.

Totalitas menulis buku dibuktikan Mark Hanusz dengan bekerja full-time dari pagi hingga malam sejak konsep hingga akhir penulisan selama 18 bulan. Ia mendatangi keluarga Nitisemito, pelopor industri rokok keretek Indonesia, untuk menuliskan sejarah awal produksi massal keretek di Kudus, Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkeliling ke 60 perusahaan rokok yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta pergi ke Sulawesi untuk meneliti cengkeh yang digunakan di dalam produksi keretek. ”Saya pegang semua pekerjaan saat itu, wawancara, mencari foto-foto, menulis, mengedit, dan membiayai semua proses hingga penerbitan. Tidak ada sponsor, tidak ada penerbit. I was crazy at that time,” urainya lagi.

Penerbitan buku tentang keretek itulah yang menjadi awal mula berdirinya Equinox Publishing. Buku berjudul Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes diluncurkan pada 21 Maret 2000 di Jakarta yang dimeriahkan dengan peragaan pembuatan rokok kelobot, rokok dengan pembungkus daun jagung, dan sekaligus sebagai pengumuman tidak resmi tentang Equinox. ”Sebetulnya saya tidak pandai menulis. Ada dua buku lagi yang saya tulis bersama teman setelah Kretek, tetapi tidak sebagus Kretek. Namun, saya kira saya lebih pandai mengelola bisnis buku daripada menulis buku,” jelas Mark Hanusz dengan lugas.

Tentang Indonesia

Selama delapan tahun, Equinox telah menerbitkan 74 judul buku yang menjabarkan berbagai aspek tentang Indonesia. Terbagi atas kategori fiksi, nonfiksi, illustrated books, buku-buku akademik, dan seri klasik Indonesia, Equinox menampilkan ragam persoalan dengan berbagai sudut pandang, yang ditulis oleh orang Indonesia ataupun asing.

Beberapa buku nonfiksi yang ditulis oleh Ken Conboy, seorang konsultan manajemen keamanan yang telah tinggal di Indonesia sejak 1992, misalnya, memaparkan sejarah serta seluk-beluk lembaga militer Indonesia, baik pasukan elite di ke-empat angkatan, Kopassus, ataupun lembaga intelijen negara. Buku lainnya yang ditulis oleh Wimar Witoelar mengungkap hal-hal yang terjadi saat ia menjadi Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada aspek lain, terbit juga buku tentang pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin, berjudul The Invisible Palace yang ditulis Jose Manuel Tesoro, seorang koresponden majalah Asiaweek. Buku ini mendapat predikat buku terkemuka dalam Kiriyama Award pada tahun 2005, sebuah institusi yang mendorong terbitnya karya-karya untuk menumbuhkan dialog kebudayaan antarbangsa di kawasan Pasifik dan Asia Selatan.

Ulasan cukup banyak diberikan kepada buku Equinox lainnya yang berjudul Jakarta Inside Out, karya Daniel Ziv, mantan Pemimpin Redaksi djakarta!. ”Berbeda dengan buku-buku tentang wisata untuk para turis, Daniel Ziv menyajikan aspek yang tidak klise tentang sebuah kota dengan bahasa populer, foto-foto dengan sudut pengambilan gambar yang tidak biasa, tetapi tetap berbasis pada pengamatan yang mendalam,” tulis majalah Time Asia. Sementara itu, Far Eastern Economic Review menyebut buku Ziv, ”Berhasil memadukan gambaran tentang karakter sebuah Ibu Kota negara dengan format baru gaya penulisan pop-art.”

Gambaran tentang Indonesia dilengkapi Equinox dengan penerbitan kembali buku-buku yang tidak lagi dicetak, tetapi memiliki arti penting dalam pembentukan pemahaman tentang Indonesia. Terdapat 16 judul yang telah terbit dan dikategorikan sebagai Classics Indonesia. Sebagian besar di antaranya pernah diterbitkan oleh Cornell University, AS, seperti buku Language and Power dari Benedict Anderson yang pernah terbit tahun 1990, Army and Politics buah pena Harold Crouch dan terbit pertama kali tahun 1978 serta pernah dilarang beredar di sini, ataupun buku Villages in Indonesia karya Koentjaraningrat yang pernah terbit tahun 1967.

Dalam peluncuran tujuh judul seri Classics Indonesia pada Maret 2007, salah satu buku, yaitu The Rise of Indonesian Communism karya Ruth T McVey, dicekal oleh Bea dan Cukai. ”Buku itu dicetak di luar negeri. Ketika dibawa masuk ke Indonesia, ditahan oleh Bea dan Cukai. Kurang jelas alasannya. Sampai saat ini tidak ada yang memberi tahu saya kenapa buku itu tidak bisa keluar dari Bea dan Cukai,” jelas Mark Hanusz.

Ketika diajukan kemungkinan komunisme sebagai alasan pencekalan, ia menjawab sambil menunjukkan keheranannya, ”Buku itu adalah buku sejarah, bukan buku yang mempromosikan ideologi komunisme. Dan semua orang sudah tahu bahwa memang dahulu di Indonesia ada partai komunis yang besar sekali. Pada saat peluncuran itu Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengatakan bahwa buku itu boleh beredar di sini.”

Margin kecil

Sebagai penerbit berbahasa Inggris yang mengkhususkan diri pada buku-buku mengenai Indonesia, Equinox mendistribusikan sebagian besar buku-bukunya keluar Indonesia. Harga banderolnya pun dipasang sesuai standar pasar dunia, mulai dari 8 dollar AS hingga 75 dollar AS. ”Penerbit buku Indonesia yang agresif sekali adalah ISEAS, sementara Oxford Asia sudah tutup dan penerbit lainnya tidak banyak,” jelasnya lagi. Dengan kata lain, di dalam pasar buku Indonesia di dunia, Equinox hampir-hampir tidak memiliki saingan.

Hingga kini buku Equinox yang cukup banyak terjual adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Tales from Djakarta sekitar 4.000 eksemplar. Buku lainnya, Jakarta Inside Out, terjual 3.000 eksemplar dalam kurun waktu empat bulan. ”Awalnya kami mencetak di luar negeri, yaitu di AS dan Inggris. Sekarang semua buku kami cetak di sini dan Equinox sudah mengeluarkan banyak buku. Jadi bisnis ini sudah lumayan,” paparnya tanpa bersedia menyebutkan omzet yang didapat setiap tahun.

Meskipun demikian, Equinox memiliki komitmen lain, yaitu turut melestarikan lingkungan hidup, terutama hutan Indonesia. Oleh karena itu, sejak awal penerbitan buku seri Classics Indonesia, Equinox menggunakan kertas daur ulang yang diimpor dari Denmark. ”Ongkosnya memang lebih mahal sehingga margin profit kecil, but it’s good for the environment,” ujarnya.

Untuk menyiasati ongkos yang mahal tersebut, Equinox menerapkan sistem print on demand (POD), yaitu mencetak sesuai permintaan. Hal ini akan menghindari buku dengan ongkos produksi lebih mahal menumpuk di gudang. Hingga saat ini buku Java in A Time of Revolution karya Ben Anderson merupakan buku dari kategori ini yang paling banyak diminati.

* Disalin dari Harian Kompas Edisi 12 Mei 2008

Bahasa Prokem Bisa Perburuk Bahasa Indonesia

Bahasa prokem yang biasa digunakan oleh kalangan remaja tertentu dikhawatirkan dapat memperburuk perkembangan bahasa Indonesia.

“Sebagai bahasa pergaulan, perkembangan bahasa prokem itu sangat pesat. Hal ini dikhawatirkan justru memberikan pengaruh buruk terhadap bahasa Indonesia,” kata Kepala Balai Bahasa Provinsi Jatim Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) RI, Amir Mahmud, di Surabaya, Rabu.

Oleh sebab itu, dia minta para tenaga pendidik di sekolah untuk lebih mengintensifkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Memang harus diakui kualitas sumber daya manusia kita di bidang bahasa Indonesia masih minim. Hal ini yang perlu ditingkatkan,” katanya di sela-sela seminar internasional tentang Relasi Lokalitas-Globalitas Menuju Modernitas Bahasa dan Sastra Indonesia.

Meskipun demikian, dia menganggap kehadiran bahasa prokem itu wajar karena sesuai dengan tuntutan perkembangan nurani anak usia remaja.

Masa hidupnya terbatas sesuai dengan perkembangan usia remaja. Selain itu, pemakaiannya pun terbatas pula di kalangan remaja kelompok usia tertentu dan bersifat tidak resmi.

“Kami yakin, kalau sudah ke luar dari lingkungan kelompoknya itu, mereka akan beralih dan menggunakannya kembali bahasa lain yang berlaku secara umum,” kata Amir.

Ia menjelaskan, bahasa prokem itu konon berasal dari kalangan preman. Bahasa prokem itu digunakan sebagai sarana komunikasi di antara remaja sekelompoknya selama kurun tertentu.

Sarana komunikasi diperlukan oleh kalangan remaja untuk menyampaikan hal-hal yang dianggap tertutup bagi kelompok usia lain atau agar pihak lain tidak dapat mengetahui apa yang sedang dibicarakannya.

Bahasa prokem itu tumbuh dan berkembang sesuai dengan latar belakang sosial budaya pemakainya. “Hal ini merupakan perilaku kebahasaan dan bersifat universal,” katanya menambahkan.

Kosakata bahasa prokem di Indonesia diambil dari kosakata bahasa yang hidup di lingkungan kelompok remaja tertentu. Pembentukan kata dan maknanya sangat beragam dan bergantung pada kreativitas pemakainya.

Bahasa prokem berfungsi sebagai ekspresi rasa kebersamaan para pemakainya. Selain itu, dengan menggunakan bahasa prokem, mereka ingin menyatakan diri sebagai anggota kelompok masyarakat yang berbeda dari kelompok masyarakat yang lain.

Beberapa kata dalam bahasa prokem yang dikenal masyarakat, di antaranya “bokap” untuk menggantikan kata bapak, “nyokap” (ibu), “doi” (dia), “hebring” (sangat hebat), dan masih banyak lagi.

* Diunduh dari Portal Online Kompas Edisi 25 Juni 2009

Sastra Indonesia Berantakan, Seharusnya Diedit

Banyak sastra Indonesia yang telah diterbitkan masih berantakan. Maka dari itu, Indonesia diharapkan memiliki editor sastra. Hal ini diungkapkan Sapardi Djoko Damono di Jakarta, Kamis (25/6).

“Banyak pengarang Indonesia yang menentang dan marah. Itu bodohnya pengarang sekarang, mengira dirinya Gusti Allah. Udah mikir dirinya paling pinter. Itu kan karya saya, kok diedit gituh.” ungkap Sapardi.

Sapardi mengatakan, karya sastra seharusnya diedit, tetapi bukan hanya dari segi bahasa, melainkan juga dari strukturnya, “Kok yang ini diulang-ulang. Terus bagian ini bagusnya ditaruh di atas.” ungkapnya. Kemudian, muncul pertanyaan, sampai di manakah otoritas seorang editor pada tulisan pengarang?

Mirna Yulistianti mengungkapkan, selama ini ia, sebagai editor buku Penerbit Gramedia, hanya bertugas membantu pengarang. “Ada kebijakan bahwa seorang editor adalah membantu pengarang menyempurnakan tulisan. Misalnya mencarikan arti dari bahasa sansekerta. Setelah ditemukan, bukan saya yang memutuskan, saya hanya membantu, keputusan terakhir sebelum cetak diputuskan oleh pengarang. Ini berlaku seluruh buku.” ujarnya.

Sapardi pun mengatakan, tugas editor membantu saja tidaklah cukup, harus ada yang memeriksa dan mengoreksi tulisan. “Memoir of Geisha diedit dari 485 halaman jadi 270 halaman,” ungkap Adi Wicaksono, sastrawan dan mewakili pengantar buku.

”Harry Potter saja diedit, tapi jadi bagus kan? Sastra di koran Kompas juga seharusnya diedit dari (ada) kata ‘permukiman’ menjadi ‘pemukiman’ seharusnya. Tapi editor saat ini sangat mahal.” ungkap Sapardi. Kini yang dibutuhkan adalah seorang editor yang tidak egois. Seseorang yang mau jadi editor bukan author.

* Diunduh dari Portal Online Kompas Edisi 25 Juni 2009

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan