-->

Kronik Buku Toggle

Jelang Pilpres, Jusuf Kalla Luncurkan Empat Buku Sekaligus

Jusuf Kalla, Wapres RI, calon presiden dalam Pilpres 2009 nomor urut 2.

Jusuf Kalla, Wapres RI, calon presiden dalam Pilpres 2009 nomor urut 2.

Empat buku tentang Jusuf Kalla diluncurkan sekaligus. Dari empat buku berseri itu, Tiga diantaranya ditulis langsung oleh JK yang kini maju sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden 8 Juli 2009.

Peluncuran buku itu dihadiri tokoh-tokoh nasional dan para tim sukses JK-Wiranto di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2009. Masing-masing tokoh yang hadir itu memberikan testimoni soal karakter JK.

Keempat buku itu masing-masing berjudul Membangun Bangsa dengan Kultur Pesantren, Membangun Bangsa dengan Kemandirian Ekonomi, Membangun Bangsa dengan Spirit Kemandirian, dan Testimoni Ketokohan JK Pemimpin Nusantara.

Tampilan keempat buku itu dibalut perpaduan dua warna. Yakni warna merah dan kuning emas. Wajah JK yang tersenyum menghiasi sampul halaman depan buku seri pemikiran JK ini.

Mereka yang hadir antara lain, Ketua Tim Sukses JK-Wiranto, Fahmi Idris, tim sukses lainnya, Poempida Hidayatullah, Fadhil Hasan, serta Nurul Arifin. Tampak hadir pula tokoh muslim wanita, Tutty Alawiyah, Alwi Hami, dan Rektor UIN yang juga moderator debat cawapres, Komaruddin Hidayatullah.

Tiba buku yang dikarang JK masing-masing berjudul Seri Pemikiran JK: Membangun Bangsa dengan Spirit Kemandirian, Membangun Bangsa dengan Ekonomi Kemandirian, dan Membangun Bangsa dengan Ekonomi Kemandirian. Satu buku terakhir bertajuk Pemimpin Nusantara, Testimoni Ketokohan Jusuf Kalla.

Tiga buku pertama merupakan tulisan JK. Sedangkan untuk buku yang berjudul Pemimpin Nusantara, Testimoni Ketokohan Jusuf Kalla, ditulis beberapa tokoh.
Penulis buku keempat yakni, Tanri Abeng, Donny Gahral Adian, Idrus A Paturusi, Anni Iwasaki, Eep Aaefullah Fatah, Gigin Praginanto, Nuryana, Ricky Rachmadi, Herdi Sahrasad, dan Haydar Yahya.

Para pendukung JK-Wiranto seperti Dradjat Wibowo, Nurul Arifin, Tuti Alawiyah, dan Komarudin Hidayat juga tampak hadir untuk memberikan testimoni bagaimana sosok JK.(vvn/okz)
Digunting dari www.suaramedia.com, 26 Juni 2009

Megawati meluncurkan buku berisi tulisan 38 tokoh mengenai dirinya.

Peluncuran buku “Mereka Bicara Mega” berlangsung meriah di Hotel Sultan, Jakarta. Belasan tokoh-tokoh nasional menghadiri peluncuran buku setebal 245 halaman itu.

Tokoh-tokoh yang hadir antara lain pengamat politik Effendi Ghazali, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Effendi Simbolon, Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo, Sekjen PDIP Pramono Anung, Ketua Umum Partai Bintang Reformasi Bursah Zarnubi, Fadjroel Rachman, sineas Garin Nugroho, musisi Franky Sahilatua, ekonom Rizal Ramli, Ketua Dewan  Pertimbangan Pusat PDIP Taufiq Kiemas, penguasa Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X, dan Gubernur Gorontalo
Fadel Muhammad.

Dalam peluncuran buku yang digelar di ballroom Hotel Sultan, Jumat, 12 Desember 2008 itu, Sekjen PDIP menyatakan buku ‘Mereka Bicara Mega’ “Berisi beberapa banyak pandangan dari 38 tokoh tentang Ibu Mega.”

Dana memang ketika dibuka, tulisan-tulisan tentang Mega ini disumbangkan tokoh-tokoh seperti Akbar Tandjung, Prabowo Subianto, Rokhmin Dahuri, Bursah Zarnubi, Sutiyoso, dan lain-lain sampai total 38 tokoh. Di cover belakang buku, tertulis tujuan buku ini untuk mengapresiasi kepemimpinan perempuan di Indonesia sekaligus menjembatani dialog isu-isu kontemporer seperti demokrasi, multikulturalisme dan gender. Buku ber-cover gambar Megawati setengah badan mengenakan kerudung merah ini disunting Zainun Ahmadi dan Rahadi Zakaria, dengan penerbit Yayasan Paragraf.

Digunting dari Vivanews.com, Jum’at, 12 Desember 2008, 16:18 WIB

Mega Borong Buku Pram

Mega-buku-(Laurencius)-dalamYogyakarta – Dalam perjalanan kampanyenya di Yogyakarta, capres Megawati Soekarnoputri menyempatkan diri berkunjung ke pasar buku murah, Shopping, Jl Senopati. Mega pun memborong beberapa buku yang ia sukai.

Pantauan detikcom, Rabu (24/6/2009), Mega memborong buku-buku seperti tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer dan buku-buku cerita rakyat yang akan ia berikan kepada cucu-cucunya.

“Namun sayang buku Jallaludin Rumi tidak ada,” kata Mega tentang seorang sufi yang kerap menulis dengan tema cinta tersebut.

Karena kunjungan Mega tersebut, tak ayal ratusan para penjual dan pengunjung Shopping pun menyemut. Mereka berlomba-lomba untuk sekedar berjabat tangan dan mengambil gambar capres nomor 1 itu.

Mega yang datang ditemani Rini Sumarno, mantan memperindag itu pun mengaku senang karena alam demokrasi telah membuat masyarakat mudah mengakses buku-buku.

“Buku-buku sekarang ini semakin baik dari jangkauan rakyat,” pungkasnya.
Di Gunting dari, www.pemilu.detiknews.com. Rabu, 24/06/2009 12:28 WIB

Mega-Pro Janji Hapus Pajak Buku

Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subiyanto (MegaPro), pasangan nomor urut 1.

Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subiyanto (MegaPro), pasangan nomor urut 1.

Calon Presiden-Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri-Prabowo berjanji bakal menghapus pajak buku untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Kampanye Mega-Pro Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Soeryo Respationo dalam Corong Politik, debat tim kampanye capres yang digagas Forum Diskusi Jurnalis Kepri di Batam, Sabtu.

Ia mengatakan pajak buku dihapuskan agar harga buku lebih terjangkau, sehingga pendidikan lebih terjamin.

“Harga buku mahal dan tidak terjangkau,” kata dia.

Selain itu, Mega-Pro juga berjanji tidak sering mengubah kurikulum, agar buku periode sebelumnya bisa digunakan lagi.

Dalam debat, tim Mega-Pro juga berjanji memberikan satu juta laptop kepada guru dan siswa untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Mega Pro juga akan menghapuskan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa.

“Kita lihat banyak siswa yang pingsan, menjadi korban UN,” kata dia.

Ia mengatakan pemerintah tidak bisa menyamakan kemampuan siswa daerah dengan Jakarta, sehingga tolak ukur kelulusan sama.

Digunting dari:  Antaranews (4 Juli 2009)

Toko Buku "Online" Kian Marak

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, toko buku online semakin marak dua hingga tiga tahun terakhir. Sebagian toko buku tersebut dioperasikan para pencinta buku dengan keinginan agar distribusi buku lebih merata ke berbagai daerah di Indonesia dan akses masyarakat kepada buku semakin besar.

Hal itu terungkap dalam diskusi mengenai ”Toko Buku Online di Indonesia” dalam rangkaian acara Pesta Buku Jakarta yang berlangsung 27 Juni-5 Juli 2009 di Istora Gelora Bung Karno.

Strategic Partner Development Google Erik Hartmann mengatakan, sekitar dua tahun lalu, berdasarkan pemantauannya, di Indonesia jumlah toko buku online masih dapat dihitung dengan jari. Namun, sekarang setidaknya mencapai 150 toko buku online.

”Kendala biasanya pada kebiasaan dan kepercayaan masyarakat terhadap toko buku online. Dengan demikian, toko buku yang ada harus secara profesional menjalankan usahanya,” ujarnya. Google menjalin kerja sama dengan sejumlah toko buku online di Indonesia.

Savic Alielha dari Khatulistiwa Online mengatakan, dia dan sejumlah rekannya memulai toko buku online tersebut sekitar 1,5 tahun lalu. Para awak toko buku itu tidak ada yang berlatar belakang pendidikan komputer. ”Kami ingin agar buku dapat terdistribusi lebih baik ke seluruh Indonesia. Sejauh ini sebagian pembeli buku berasal dari daerah-daerah di luar Jawa yang toko buku konvensional besar tidak menjangkaunya. Warga memesan buku lewat katalog online dan kami mengirimkan buku tersebut,” ujar Savic.

Perkembangan toko buku online pada akhirnya ikut berperan meningkatkan minat baca. Sejumlah toko buku online kemudian membangun komunitas dan menyelenggarakan berbagai kegiatan terkait buku. Setiawan dari BukuKITA.com yang memulai usaha tersebut dua tahun lalu mengatakan, komunitas merupakan kekuatan dari toko buku online-nya. ”Karena itu, kami mendesain situs dan kegiatan toko buku online agar dekat dengan pembaca,” ujarnya.

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi 4 Juli 2009

Toko Buku “Online” Kian Marak

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, toko buku online semakin marak dua hingga tiga tahun terakhir. Sebagian toko buku tersebut dioperasikan para pencinta buku dengan keinginan agar distribusi buku lebih merata ke berbagai daerah di Indonesia dan akses masyarakat kepada buku semakin besar.

Hal itu terungkap dalam diskusi mengenai ”Toko Buku Online di Indonesia” dalam rangkaian acara Pesta Buku Jakarta yang berlangsung 27 Juni-5 Juli 2009 di Istora Gelora Bung Karno.

Strategic Partner Development Google Erik Hartmann mengatakan, sekitar dua tahun lalu, berdasarkan pemantauannya, di Indonesia jumlah toko buku online masih dapat dihitung dengan jari. Namun, sekarang setidaknya mencapai 150 toko buku online.

”Kendala biasanya pada kebiasaan dan kepercayaan masyarakat terhadap toko buku online. Dengan demikian, toko buku yang ada harus secara profesional menjalankan usahanya,” ujarnya. Google menjalin kerja sama dengan sejumlah toko buku online di Indonesia.

Savic Alielha dari Khatulistiwa Online mengatakan, dia dan sejumlah rekannya memulai toko buku online tersebut sekitar 1,5 tahun lalu. Para awak toko buku itu tidak ada yang berlatar belakang pendidikan komputer. ”Kami ingin agar buku dapat terdistribusi lebih baik ke seluruh Indonesia. Sejauh ini sebagian pembeli buku berasal dari daerah-daerah di luar Jawa yang toko buku konvensional besar tidak menjangkaunya. Warga memesan buku lewat katalog online dan kami mengirimkan buku tersebut,” ujar Savic.

Perkembangan toko buku online pada akhirnya ikut berperan meningkatkan minat baca. Sejumlah toko buku online kemudian membangun komunitas dan menyelenggarakan berbagai kegiatan terkait buku. Setiawan dari BukuKITA.com yang memulai usaha tersebut dua tahun lalu mengatakan, komunitas merupakan kekuatan dari toko buku online-nya. ”Karena itu, kami mendesain situs dan kegiatan toko buku online agar dekat dengan pembaca,” ujarnya.

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi 4 Juli 2009

Hak Cipta dan Nasib Pencipta

Oleh Agus Sardjono

OPINI_Buku_Image_Orang2an BukuHardi, seorang pelukis, sedang berduka. Karya lukisnya digunakan dalam iklan sebuah bank nasional tanpa persetujuannya. Bukan hanya itu, karya lukisnya itu pun telah dimutilasi dan diacak-acak. Konon juga tanpa izin dari Hardi (Kompas, 11/6).

Namun, untuk peristiwa itu ia tidak dapat berbuat apa-apa dan bahkan Hardi mengaku kalah. Padahal, dalam hukum hak cipta, seorang pencipta memiliki hak eksklusif untuk memperbanyak dan mengumumkan karya ciptanya. Peristiwa yang menimpa Hardi ini hanyalah salah satu dari banyak peristiwa di mana seorang pencipta tidak berdaya ketika harus berhadapan dengan industri.

Contoh lain adalah nasib para penulis buku. Dalam praktik penerbitan, pada umumnya seorang pencipta hanya mendapatkan royalti atas naskah bukunya antara 5 persen dan 15 persen. Bandingkan dengan toko buku yang mengambil proporsi 25 persen sampai 45 persen.

Dalam industri musik pun para pencipta lagu sering kali mengalami nasib yang kurang menggembirakan.

Dalam contoh perbukuan, pedagang justru memperoleh persentase lebih besar ketimbang royalti bagi pencipta. Dalam industri musik, pencipta juga sering kali mendapatkan porsi yang lebih sedikit ketimbang artis atau industri rekaman.

Sejarah hak cipta

Fenomena ini tampaknya ada hubungannya dengan sejarah hak cipta itu sendiri. Bila ditelusuri, sejarah hak cipta itu dimulai dari sejarah copyright di Inggris sebagai dampak ditemukannya mesin cetak oleh William Caxton pada tahun 1476.

Munculnya mesin cetak menyebabkan proses penggandaan (copying) karya tulis menjadi lebih mudah dan cepat. Sebagai dampaknya lahirlah industri percetakan yang saling bersaing. Jika kondisi persaingan ini dibiarkan tanpa adanya pengaturan, dikhawatirkan terjadi anarki.

Oleh alasan itu, industri percetakan meminta kepada raja untuk mengeluarkan aturan tentang persaingan di bidang percetakan. Lahirlah Copyright Act pada tahun 1710 yang memberikan hak eksklusif kepada industri percetakan. Melihat sejarahnya ini, menjadi jelas bahwa sesungguhnya Copyright Act tidak ada hubungannya dengan hak-hak seorang pencipta.

Perlindungan copyright yang demikian itu kemudian mendapat reaksi di negara-negara Eropa Kontinental, seperti di Perancis, Italia, dan Jerman.

Menurut pandangan hukum di negara-negara Eropa Kontinental, seharusnya yang mendapatkan perlindungan hukum bukan hanya industri percetakan dengan copyright-nya, melainkan juga para pencipta yang melahirkan karya cipta. Itulah sebabnya di Eropa Kontinental muncul gagasan untuk memberikan perlindungan kepada pencipta berupa droit de auteur (Prancis) atau auteursrecht (Belanda). Lahirlah kemudian Auteurswet 1912 di Belanda.

Baik droit de auteur maupun auteursrecht, keduanya memberikan hak tunggal (uitsluitend recht) kepada pencipta untuk memperbanyak dan mengumumkan ciptaannya. Hak inilah yang disebut auteursrecht, yang kemudian di Indonesia (dalam Kongres Kebudayaan di Bandung tahun 1952) diterjemahkan menjadi hak pencipta yang disingkat sebutannya menjadi hak cipta.

Dengan demikian, sejarah hak cipta di Indonesia memiliki perbedaan latar belakang dengan copyright yang berkembang di Inggris, Amerika, dan negara-negara dengan tradisi hukum common law lainnya.

Pada masa sekarang ini tradisi hukum yang melindungi pencipta (di Eropa Kontinental) dan industri (di Inggris dan Amerika) berinteraksi dalam ranah perdagangan antarnegara.

Pada puncaknya interaksi itu kemudian diatur secara multilateral dalam bentuk kesepakatan perdagangan beraspek HKI yang lebih dikenal dengan singkatannya, TRIPs.

Sayangnya, TRIPs lebih mengutamakan copyright ketimbang author’s right (hak cipta). Hal ini dapat dimengerti karena TRIPs itu memang hanya berurusan dengan perdagangan dan bukan dengan penciptaan sehingga masuk akal pula jika kemudian di bawah sistem TRIPs, industri lebih dapat menikmati perlindungan copyright ketimbang pencipta.

Apalagi pendekatan pengaturan yang digunakan dalam hak cipta itu sendiri lebih condong kepada siapa pemegang hak cipta (who is the owner of copyright) ketimbang siapa penciptanya (who is the author). Dengan demikian, dapat dimengerti jika kemudian rezim hak cipta justru kurang memberikan perlindungan kepada pencipta (author) dan lebih banyak memberikan perlindungan kepada industri berbasis ciptaan (copyright owner).

Jika kemudian orang-orang seperti Hardi dan kawan-kawan pencipta lainnya tidak berdaya dalam mempertahankan hak-haknya sebagai pencipta berhadapan dengan industri, hal itu hanyalah akibat logis dari sistem perlindungan hak cipta yang lebih memihak kepada pemegang hak cipta (owner) ketimbang pencipta (author).

Apalagi pada umumnya industri juga memiliki sumber daya keuangan yang lebih kuat untuk mempertahankan hak-haknya dalam proses hukum.

Oleh sebab itu, bukan tidak mungkin bahwa di bawah naungan UU Hak Cipta, para pencipta yang bernasib seperti Hardi justru tidak mendapatkan perlindungan hukum.

Agus Sardjono, Guru Besar pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi 4 Juli 2009

Bupati Boyolali Diduga Korupsi Buku

BOYOLALI — Sidang lanjutan kasus dugaan korupsi pengadan buku ajar 2003/2004, yang digelar di Pengadilan Negeri Boyolali Rabu (1/7), berhasil mengungkap sejumlah fakta-fakta yang selama ini belum terkuak.

Hanya dua dari lima saksi yang dipanggil jaksa penuntut umum (JPU) yang hadir dalam sidang yang mendudukkan Sarwidi dan Soeparno sebagai terdakwa itu. Kedua saksi yang hadir yakni mantan bendahara panitia pengadaan buku ajar, Purwanto dan mantan Sekda Boyolali, Bambang Soetedjo. Tiga saksi lainnya yang tidak hadir adalah dari pihak rekanan yang menjadi subkontraktor PT BP.

Dari penjelasan Purwanto yang mendapat giliran pertama bersaksi, terungkap sejumlah fakta di antaranya pengadaan buku ajar tersebut awalnya dianggarkan senilai Rp 8 miliar pada tahun 2003. Namun dalam perjalanannya membengkak menjadi Rp 18,5 miliar pada tahun 2004.

Mekanisme pembayaran proyek kepada rekanan dilakukan dalam empat tahap. Tahap pertama  pada 20 Nopember 2003 dilakukan pembayaran uang muka yang nilainya 20 persen dan nilai total proyek, yakni Rp 3,7 miliar. Kemudian pembayaran tahap II pada 23 Desember 2003 senilai Rp 4,28 miiar, tahap III pada 27 Maret 2004 Rp 8 miliar dan tahap IV pada 26 Juni 2004 Rp 2,5 miliar.

Atas penjelasan tersebut, majelis hakim mempertanyakan besaran nilai uang muka yang diberikan saksi kepada rekanan. Karena pada saat itu nilai proyek tersebut hanya dianggarkan hanya Rp 8 miliar, namun uang muka yang diberikan adalah 20 persen dari Rp 18,5 miliar. Memang saat itu direncanakan adanya penambahan anggaran senilai Rp 10,5 miliar padan APBD 2004, namun saat uang muka itu dikeluarkan penambahan anggaran tersebut belum disahkan.

“Saya hanya membayarkan uang senilai itu karena dana yang ada saat itu mencukupi untuk membayar uang muka senilai itu,” ujar Purwanto memberikan alasan.

Majelis hakim kembali mencecar jawaban saksi dengan menanyakan apakah ada pihak yang memerintahkannya untuk membayarkan uang muka senilai itu. Saksi menjawab tidak ada.

Fakta lain yang terkuak adalah mantan bupati Boyolali, Djaka Srijanta, juga menerima “cipratan” dana senilai Rp 2 juta, selain Sarwidi Rp 6 juta, Joko Murdiyono Rp 2,5 juta, Agus Wahyudin Mustofa Rp 5 juta, Soeparno Rp 5 juta dan saksi sendiri Rp 1,5 juta. Dana tersebut merupakan bagian dari dana Rp 100 juta dari PT BP kepada panitia pengadaan untuk pendistribusian buku ajar. Total penerima dana tersebut ada 30 orang.

Sekitar Rp 42 juta dari 100 juta itu digunakan untuk membayar PT Pos yang mendistribusikan buku. Dipotong untuk biaya operasional, tersisa anggaran senilai Rp 46 juta. Dana sisa inilah yang kemudian mengalir ke saku 30 orang tersebut.

Dari hasil rapat pada 12 Februari 2009 yang dihadiri oleh sejumlah orang yang terlibat dalam pengadaan tersebut seperti Bambang Soetedjo, Daryono, Joko Murdiyono, Sarwidi, Soeparno dan Purwanto disepakati bahwa dana yang mereka terima itu harus dikembalikan ke kas daerah. Hingga saat ini baru 25 orang yang sudah mengembalikan, masih ada lima orang, satu di antaranya sudah meninggal, yang belum mengembalikan. Salah satu di antaranya adalah Djaka Srijanta.

“Sudah terkumpul dana Rp 40 juta, namun masih belum masuk kas daerah karena DPPKAD (Dinas Pendapatan, Pengelolaan Kekayaan dan Aset Daerah) bingung dasar hukumnya,” ujar Purwanto.

* Dikronik dari Harian Solo Pos, 1 Juli 2009, “Mantan Bupati terima uang dari BP”

Suparto Brata: Jangan Sekadar Datang di Acara Buku!

Suparto Brata

Suparto Brata

Malam itu dia datang seorang diri saja. Dengan kaos kebesarannya yang bertuliskan www.supartobrata.com Dan seperti biasa, beliau membaur dengan anak-anak muda yang mengerumuninya. Tawa yang sumringah membuatnya terlihat bugar dan penuh semangat.

Suparto Brata bukan hanya seorang yang tekun menulis, ia juga tekun hadir di acara-acara buku. Dan ia bukan hanya sekedar hadir, ia juga tekun menyimak. Karenanya ia tak suka jika ada yang tidak menyimak alur diskusi di forum.

Tadi malam, 29 Juni 2009, di acara peluncuran buku Para penggila Buku karya Muhidin M dahlan dan Diana AV Sasa, beliau membuat kuis kecil untuk nge-tes konsentrasi dan ingatan peserta diskusi. Pertanyaannya sederhana: Di mana pertama kali Cak Giryadi (salah satu pembicara, redaktur buku harian Surabaya Post) pertamakali belajar menulis di media masa? Dan ternyata nyaris semua peserta terdiam.

Hanya ada satu bapak yang mengacungkan tangan. Namanya Pak Jamal, seorang tukang becak yang cinta buku dan tekun pula hadir di acara buku. Maka beruntunglah Pak Jamal mendapatkan hadiah buku terbaru Suparto Brata sebagai buah ketekunan, keseriusan dan daya ingatnya.

Pelajaran berharga bagi setiap pecinta buku. Jika datang di acara buku, memang semestinya menjadi peserta aktif, tidak hanya sekadar datang dan bersapa halo ria. Menurut Pak Parto, forum ini menjadi ajang kesempatan belajar dan berbagi pengalaman, jadi jangan disia-siakan.  (DS)

Kawasan Buku yang Patut Anda Kunjungi di Surabaya

Rini Asmoro dalam perbincangan santai di Perpustakaan Komunitas C2O bilang jika Jogjakarta adalah ritel buku terbesar, maka Surabaya adalah grosir buku terkemuka. “Makanya, jarang sekali IKAPI mengadakan acara semacam book fair secara reguler. Karena bukunya nggak laku.”

Surabaya, memang menjadi salah satu kota niaga terbesar di Indonesia. Tembok mall-nya tinggi-tinggi. Tapi bagi pemburu dan pencinta buku, masih bisa mendapatkan kawasan-kawasan buku yang asyik.

Berikut ini adalah sebagian dari daftar jika belanja buku:

  1. Kampoeng Ilmu, Jl Semarang (dekat Stasiun Pasar Turi). Di sini bisa didapatkan buku-buku second hand. Mirip shoping Jogja sebelum berubah menjadi Taman Pintar.
  2. Pasar Blauran. Di tempat ini Anda akan bertemu buku-buku second hand dan bajakan.
  3. Tugu Pahlawan. Terletak di Belakang Gedung Brantas atau Bank Mandiri atau bekas Gedung Bioskop Surabaya 21. Di sini menjual spesial majalah, buku pelajaran, buku anak-anak, dan buku bajakan.
  4. Toko Buku Gramedia Expo Jl Basuki Rahmat 93-105. Di sini ada Cafe, tempat pameran, dan sebagainya.
  5. Toko Buku Gramedia Plaza Tunjungan I Lt 4, Jl Basuki Rahmat 8-12.
  6. Toko Buku Gramedia Royal Plaza Lt LG, Jl Ahmad Yani No 16-18 Lt 1.
  7. Toko Buku Gramedia Plaza Surabaya, Lt.2 No.1, Jl. Pemuda No. 33-37.
  8. Toko Buku Gramedia Jl Manyar Kertoarjo No 16
  9. Toko Buku Gunung Agung, Delta Plaza, Lt 2, Jl Pemuda 31-37
  10. Toko Buku Gunung Agung, Tunjungan Plaza 2.
  11. Toko Buku Trimedia, Supermall Pakuwon, Jl Puncak Indah Lontar No 2
  12. Toko Buku Toga Mas Petra, Jl Pucang Anom Timur No 5. Di sini Anda bisa mendapatkan buku-buku diskon. Tempatnya juga menyenangkan. Ada hot spot.
  13. Toko Buku Toga Mas, Jl Diponegoro No 9.
  14. Toko Buku Toga Mas, DTC Darmo Trade Center (DTC) Lt. 5, Jl. Raya Wonokromo
  15. Toko Buku Toga Mas, Jl Margorejo Indah 112 A.
  16. Toko Buku Uranus, Jl Ngagel.
  17. Toko Buku Manyar Jaya, Jl Manyar Kertoarjo.
  18. Toko Buku Kwam, Jl Jagalan. Tersedia buku second hand dengan bandrol harga murah.
  19. C20 Library, Jl Tjipto No 20 (depan Konjen AS). Ini tempat buat nongkrong pencinta buku yang asyik. Koleksinya hampir 3 ribu dan ratusan film alternatif. Bersih dan tertata. (GM/DS)
Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan