-->

Kronik Buku Toggle

A New Theory of Education Reform in Indonesia

A New Theory of Education Reform in Indonesia: Globalisation and Recontextualisation in the Post Colonial Condition

Penulis: Ella Yulaelawati MA, Ph.D.
Penerbit: Nagara Institute, April 2009
Bahasa: Inggris
Isi: 408 halaman
Ukuran: 15 x 24 cm (hard cover)
ISBN: 978-979-1436-17-5
Harga: Rp 200.000

Dalam forum debat calon wakil presiden 2009, tema tentang jati diri diajukan Komisi Pemilihan Umum. Ketiga calon wakil presiden–Prabowo, Boediono, dan Wiranto–memberikan jawaban dari perspektif masing-masing: Prabowo dari sisi ekonomi kerakyatan, Boediono dari sisi normatif konstitusi, dan Wiranto dari sisi kepemimpinan.

Tak ada satu pun calon yang membicarakan jati diri dengan pendekatan pendidikan. Di luar forum debat, seorang pengamat menyatakan bahwa tema jati diri adalah masalah klise.

Betulkah? Para calon tersebut, juga pengamat yang meremehkan soal jati diri, perlu membaca buku karya Ella Yulaelawati, doktor bidang kurikulum pendidikan lulusan University of Queensland, Australia, ini.

Buku pemikir yang kini menjadi Direktur Pendidikan Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Non-Formal dan Informal Departemen Pendidikan Nasional ini merupakan studi mendalam atas problem-problem pendidikan pascakolonial di Indonesia. Salah satu problem tersebut adalah bahwa kondisi pascakolonial di Indonesia mewariskan sistem pendidikan yang mengalami ketegangan antara mengejar kemajuan yang identik dengan nilai Barat dan mempertahankan identitas lokal. Sejak kemerdekaan RI, karena itu sistem pendidikan di Indonesia direformasi dari waktu ke waktu. Dalam paparannya, penulis juga memberikan solusi untuk merebut keindonesiaan melalui pendidikan. Keindonesiaan, seperti diketahui, adalah soal jati diri.

Temuan utama dari studi dalam buku ini adalah bahwa pandangan dan praktek para pendidik Indonesia didasari keberpihakan yang tegas terhadap “heterocultures” lokal. Heterocultures lokal dapat dimaknai sebagai heterogenitas budaya-budaya lokal. Hal ini berbeda dengan keragaman budaya lokal (multiculture), karena keragaman lebih dimaknai sebagai budaya dari berbagai etnik.

Hetero-budaya lokal menunjukkan bahwa budaya suatu etnik lokal itu tidak tunggal dan tidak perlu ditunggalkan. Misalnya untuk etnik Sunda, ada Cianjur, Sukabumi, Tasik, Ciamis, Bandung, Cirebon, dan seterusnya. Di Cianjur, ada pesisir, pegunungan, dan perkotaan. Serat-serat perbedaan itu tidak terlalu diperhitungkan oleh para perencana pendidikan, tetapi sangat diperhitungkan oleh para guru.

Salah satu ekses dari upaya reformasi pendidikan yang berorientasi “western minded” atau teknokratik adalah terdepaknya kekayaan budaya lokal dari kurikulum sekolah, misalnya tiadanya pelajaran membatik di sekolah di Jawa. Mengenai hal ini, penulis mengatakan bahwa kurikulum muatan lokal pada 1994 dan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2006 sebetulnya diharapkan dapat mengakomodasi kelokalan untuk diajarkan di sekolah secara leluasa. Tetapi dalam pelaksanaannya tidak diterapkan. Membatik tidak dianggap penting untuk muatan lokal.

Ini permasalahan pascakolonial di mana masyarakat memiliki obsesi kolektif terhadap pendidikan akibat diskriminasi pendidikan terhadap pribumi di masa penjajahan. Obsesi ini dipenuhi dengan pemberian porsi ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih mendapat perhatian. Keterampilan lokal, seperti membatik, kurang mendapat perhatian, terlebih lagi terbentur oleh minimnya biaya untuk peralatan dan ketenagaan yang kompeten.

Menghadapi globalisasi yang membawa budaya populer global, penulis menyarankan agar pemimpin pendidikan merekonstruksi identitas baru yang mencerminkan identitas bangsa Indonesia. Menurut dia, harus dilakukan rekonseptualisasi identitas baru dengan sepenuhnya melibatkan masyarakat. Pemahaman dan penerapan Bhinneka Tunggal Ika harus tecermin dalam identitas keindonesiaan sebagai perekat keragaman budaya, bahasa, potensi, dan kompetensi masyarakat dalam satu cita-cita mencapai kesejahteraan bersama.

Identitas bangsa, menurut penulis, diperlukan agar bangsa Indonesia tidak tergerus dalam budaya populer global sebagai budaya tunggal. Pencitraan kembali (rebranding) identitas Indonesia diperlukan untuk meningkatkan konsep diri kita. Dalam buku ini, tampak bahwa penulis sangat menyadari pentingnya pendidikan untuk merebut kembali identitas keindonesiaan. Penulis tampaknya sangat kritis terhadap imperialisasi nilai, budaya, dan ekonomi yang datang dari globalisasi.

Menurut dia, pendidikan dapat digunakan agar menghasilkan hibrida pascakolonial yang unggul. Telah banyak terbukti, orang Indonesia dapat lepas dari penjajahan dan berbagai krisis justru karena kekuatan kearifan lokalnya, seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi, dan Reformasi. (KELIK M. NUGROHO)

* Dinukil dari Harian Koran Tempo Edisi 12 Juli 2009

————————————

BUKU INI DICETAK TERBATAS. TERTARIK? BEGINI CARA PEMESANANNYA:

  1. Bagi yang tinggal di Jogjakarta bisa datang sendiri ke kios buku Gelaran Ibuku yang beralamat sama dengan Indonesia Buku.
  2. Bagi yang memesan via ponsel 0888-6854-721 (MBAK NURUL HIDAYAH) dan/atau surel (iboekoe@gmail.com), mohon menyebutkan judul dan jumlah eksemplar yang diinginkan. Buku langsung dikirim ke alamat pemesan jika pembayaran sudah ditransfer ke rekening Indonesia Buku.
  3. Rekening I:BOEKOE: BCA 4450813791 atau BNI 0116544928 atas nama Nurul Hidayah.

Main Kotor Penerbit di Sekolah dan Kematian Toko Buku

Penerbit-penerbit bukanlah siswa sekolah. Bukan pula penilik. Tapi jika mereka makin sering muncul di halaman sekolah, pastilah itu urusan uang buku. Dan tentu saja melibatkan kepala sekolah di dalamnya untuk memenangkan persaingan yang riuh.

buku-sekolahKedatangan penerbit-penerbit haus uang itu merespons kebijakan baru di mana sekolah yang menentukan buku apa yang mereka pakai. Kalau sebelumnya penerbit ini menyogok pusat, maka seiring dengan desentralisasi pengadaan buku ajar, penerbit-penerbit kelelawar ini melakukan petualangan di sekolah-sekolah dengan memberi sangu di kantong celana belakang oknum-oknum guru.

Dua akibat langsung dari praktik kotor dalam sekolah ini: (1) buku menjadi mahal dan (2) tersungkurnya toko buku. Buku menjadi mahal, biasanya di atas Rp 26.000, lantaran penerbit berhitung dengan biaya sogokan yang sudah dikeluarkan. Pantas saja kemudian orang-orang tua pada tahun ajaran baru 2008 misalnya terkaget-kaget disodorkan kuitansi biaya buku satu paket (14 judul) seharga 1 juta rupiah per semester.

Pemerintah pusat bukannya tak tahu soal ini. Dalam lokakarya ”Menata Kembali Distribusi Buku Indonesia dan Membangun 1.000 Toko Buku Mobil di Kabupaten/Kota” yang berlangsung di Jakarta pada 24 Juli 2008, Mendiknas Bambang Sudibyo terang-terangan mengatakan penyebab harga buku mahal karena kolusi dan oligopoli. Dalam persekongkolan dompet-belakang itu, prosedur penilaian buku teks pelajaran yang dilakukan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) diabaikan. Karena yang dikejar adalah komisi, komisi, dan komisi. Isi dan mutu buku belakangan saja kalau ada yang cerewet mempersoalkannya.[1]

Akibat kedua dari oligopoli penerbit dan sekolah itu adalah jatuhnya toko-toko buku. Gabungan Toko Buku Indonesia (Gatbi) mencatat sedikitnya 50 persen toko buku mati. Dari sekira 5 ribu toko buku yang terdaftar dalam Gatbi, tiga ribu di antaranya sudah masuk kubur. Dan umumnya yang tersisa terpusat di ibukota propinsi, sedangkan yang berada di kabupaten atau kota serta daerah terpencil sudah tak ada lagi.

Sistem itu tentu saja sistem yang sakit. Sekolah tak lagi murni sebagai arena belajar, tapi berubah menjadi toko buku dengan standar harga yang monopolistik dan biasanya harga buku-buku jatuhnya mahal. Lain jika toko yang menyediakan buku-buku ajar itu lantaran mengikuti mekanisme persaingan pasar. Bukan hanya itu, kehadiran toko-toko kecil di desa-desa terpencil itu menggairahkan keberadaan beragam buku yang dibutuhkan masyarakat, baik buku pelajaran maupun buku umum.

Maka jalan yang dilakukan memang memutus fungsi penerbit sebagai penyalur langsung buku pelajaran. Kembalikan distribusi ke tempat asalnya: toko buku. Dan keluarlah Peraturan Mendiknas Nomor 11 Tahun 2005. Peraturan itu dibuat dengan niat bagus: guru tak lagi terlihat sibuk berdagang buku di sekolah sehingga mengganggu kegiatan belajar-mengajar. Namun penerbit tak kehilangan akal. Mereka tahu betul, toko-toko buku sudah banyak yang masuk kuburan. Dengan mata dan endusan setajam kelelawar, mereka menyewa kios-kios kecil yang tak jauh dari sekolah untuk jadi toko buku dadakan selama satu semester penggunaan buku ajar.[2]

Caranya? Gatbi dan Pusat Buku Indonesia menciptakan model toko buku mobil. Pada 2009 ditargetkan ada 1.000 toko buku mobil di pelbagai wilayah di Indonesia, terutama untuk melayani kebutuhan siswa dan sekolah terhadap buku pelajaran. Untuk pengadaan toko buku mobil ini, Pusat Buku Indonesia menggandeng bank yang bisa mengucurkan kredit. Untuk satu unit toko buku mobil harganya berkisar Rp 180 juta, sedangkan untuk kebutuhan beragam buku diperkirakan Rp 60 juta.[3]

(BERSAMBUNG)


[1] Kompas. 25 Juli 2008. “Buku Mahal akibat Kolusi”. Lihat juga Kompas. 27 Maret 2008. “Harga Buku Maksimal Rp 7.500”.

[2] Kompas. 24 Juli 2008. “Penerbit Turun ke Sekolah, Toko Buku Terpukul”.

[3] Kompas. 23 Februari 2009. ”50 Persen Toko Buku “Mati””.

Azharine Purwa Jingga: Kubaca, Kupetik Bintang, dan Kuarungi Dunia

Penulis-Cilik-postSosok Azharine Purwa Jingga terlihat mungil. Memang, umurnya baru sembilan tahun. Hari itu, dia terlihat membalik-balik halaman novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, kisah cinta-cintaan yang telah diangkat ke layar lebar.

Azharine terlihat begitu serius. Tak hanya melahap Ayat-Ayat Cinta, di samping tempat duduknya, di ruang tamu rumahnya yang beralamat di Graha Sunan Ampel, Wiyung, sudah menunggu tumpukan buku. ”Itu yang akan saya baca,” katanya. Menurut dia, buku tersebut menginspirasi dirinya untuk menulis buku. Sebagai sumber-sumber utama, buku-buku itu tidak hanya dibaca sekali atau dua kali. Dia membacanya sampai lima atau tujuh kali. ”Kalau satu kali, kadang saya belum dapat ide. Makanya, saya baca berkali-kali,” ujar anak pasangan Moch. Zamachsari dan Kartika Nuswantara itu.

Dalam menjalani kiprah kepenulisannya, Azharine punya semboyan kuat. Yaitu, kubaca, kupetik bintang, dan kuarungi dunia. Semboyan tersebut membuatnya tetap kukuh membaca, menggali ide, dan memetik intisari bahan bacaan itu.

Cara tersebut cukup cespleng. Buku pertamanya, A Nice Doll, adalah kisah yang terinspirasi dari buku lain. Yaitu, Aku Berani Tidur Sendiri karya Eka Wardana. Kisah dalam buku itu dia kombinasikan dengan pengalaman pribadi. ”Aku juga pernah takut tidur sendiri. Pas pertama punya kamar sendiri,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat tidur sendirian itu, dia merasa takut. Rasanya, ada sesuatu yang bakal menggodanya. Apalagi, dia merasa mendengar suara-suara menakutkan. Rasa ngerinya kian bertambah. Nah, pengalaman itulah yang lantas dia tulis menjadi cerita.

Selain kisah pribadi, inspirasi bisa datang dari kejadian-kejadian di masyarakat, kejadian yang tengah menjadi berita. Misalnya, bencana alam. Contohnya, dia pernah menulis cerita Terima Kasih Rumah Pohon. Inspirasi tersebut datang ketika dia melihat bencana tanggul jebol di Situ Gintung. Saat melihat televisi, Azharine melihat banyak orang menyelamatkan diri di atas atap rumah dan pohon. ”Makanya, saya tulis cerita tentang rumah pohon. Ceritanya, ada dua anak yang selamat dari banjir karena naik ke pohon,” tutur anak berjilbab tersebut.

Kisah-kisah ringan yang dia alami sendiri pun kerap diangkat menjadi bahan tulisan. Misalnya, nasi goreng pedas dan jus melon. Cerita itu lahir lantaran dia pernah membeli nasi goreng yang sangat pedas. Dia pun memutuskan menjadikan kisah tersebut sebagai sebuah tulisan. ”Soalnya, saya ingat terus pengalaman itu,” tuturnya.

Kata Azharine, tulisan-tulisannya lahir begitu saja. Mengalir. Dia mengaku tidak pernah diajari menulis oleh orang tuanya. Dia bisa menulis lahir lantaran sangat suka membaca. Saat TK, dia suka membaca buku bergambar. Setelah membaca, gambarnya ditiru dan diberi cerita sendiri di bawahnya. Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga dia bersekolah di SD Islam Terpadu At-Taqwa. ”Kalau ada kertas kosong, biasanya saya tulisi cerita,” ujarnya.

Pernah, suatu ketika, ibunya, Kartika Nuswantara, sibuk mengerjakan disertasi. Melihat ibunya sibuk, Azharine juga ”sibuk”. Dia menulis banyak cerita di kertas-kertas kosong. ”Ibu kan sibuk menulis. Ya saya juga meniru agar sama-sama sibuk,” ujar Azharine. Bahkan, ketika ibunya mengeluh pusing karena capek, dia juga menirukannya. ”Saya bilang, saya juga capek nulis disertasi,” ucapnya, lalu tertawa.

Azharine mengatakan, dirinya bisa menulis banyak cerita karena sering ditinggal sendiri di rumah. Ibu dan bapaknya bekerja. Waktu-waktu sendiri itulah yang dihabiskan Azharine untuk menulis cerita. Jika jenuh dan tidak punya ide menulis, dia membaca buku. ”Biasanya, saya dapat ide dari membaca buku,” terang Azharine. Dari ketekunannya itu, dia berhasil menulis tiga buku, A Nice Doll, My Soulmate, dan Cyber Adventure yang baru terbit. Semua karyanya adalah terbitan Dar! Mizan. ”Saya akan terus menulis karena masih banyak ide yang harus saya tulis,” ucap Zharine.

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 11 Juli 2009

Inilah Toko Buku ‘On Line’ di Indonesia

Tidak ingin berlelah-lelah di jalanan untuk ke toko buku? Apalagi di kota-kota besar yang muacetttnya muainntaaa ampun. Coba belanja di toko buku on line. Cukup di kamar saja. Klak-klik. Lalu tunggu proses berjalan.

Berikut ini Indonesia Buku mencarikan kepada para pencinta buku alamat-alamat toko buku on line.
LUAR NEGERI
• bookshop.blackwell.co.uk
• dymocks.com.au (ausrlaia, new zeland
• bookstore.co.uk
• barnesandoble.com
• amazon.com

JAKARTA
•  bukabuku.bom (Buku berbahasa Perancis, Jerman, Kanada, Inggris, Indonesia: Jakarta)
• bukukita.com (Jakarta Barat)
• inibuku.com (Jakarta)
• sahabatmuslim.com (Jakarta Pusat)
• kutubuku.com (bukumurah,buku diskon,buku bekas,buku gratis, Jakarta)
• khatulistiwa.net (Jakarta timur)
• bukukita.com (Jakarta Barat)
• indonetwork.co.id (Jakarta)
• bukupengusaha.com (buku bisnis, Tebet, Jakarta Selatan)
• beli-buku.com (Jakarta Pusat)
• cordova-bookstore.com (Buku Islam, Jakarta Timur)
• bearbookstore.com(Daan Mogot, Jakarta)

Toko Buku dan Penerbit
• gramediaonline.com
• palasarionline.com (Bandung)
• erlangga.co.id
• uranusonline.com(toko buku-Surabaya)
• serambi.co.id (Penerbit)
• andipublisher.com (Penerbit)

JAWA BARAT
• rumahbuku.net (Bekasi)
• pecintabuku.com (Tangerang)
• buku135.com (Tangerang, Banten)
• amartapura.com (Tangerang )
• bukukatolik.com (Bekasi)
• biobses.com (buku computer, Bandung)
• cibuku.com (Bandung)
• bukutea.com (Bandung)

JAWA TIMUR
• bukudedo.com (buku bekas dan komik bekas, Lokasi: Surabaya)
• bukumuslim.com (Malang)
• bukuadik.com (buku anak, Surabaya)
• indobookshop.com (Surabaya)

JAWA TENGAH
• tokobukutaro.com (Semarang)
• istanabuku.com (Kendal,Jateng)
• smitdev.com (buku komputer, Semarang)
• erabookstore.com (Solo)

YOGYAKARTA
• serbabuku.com (Jogja)
• book.store.co.id (Jogja)
• buku-islam.com (Toko Buku Sarana Hidayah, Yogyakarta)

KALIMANTAN TIMUR
• samarinda.al-ilmu.com (Buku Muslim, Samarinda)

UMUM
• juraganbuku (sama dengan bukudunia.com, perusahaan www.avevo.co.id)
• bookoopedia.com (layanan seluruh Indonesia)
• surgabuku.com
• bukuanda.com (buku pelajaran bahasa Inggris)
• ambarrukmo.com (buku, kaos, kerajinan, CD)
• lilinkecil.com (buku rohani)
• tokoislamonline.com (Milik HTI, ada e-book)
• digibookgallery.com (menyediakan buku dalam format di­gi­tal dan cetak)
• senakel.com (buku rohani)
• tokobukuonline.com (buku ajar)
• shop.pustaka-islam.net (buku audio-video)

TIPS: Sebelum berbelanja buku on line, sebaiknya lakukan sur­vei mengenai rekam jejak penyedia layanan. Bertanyalah pada yang sudah berpengalaman untuk menghindari hal-hal yang me­nge­cewakan karena transaksi berlangsung jarak jauh. (DAVS)

John Wood: Antara Microsoft dan Ribuan Perpustakaan

Titik cerita, perubahan, dan pilihan hidup itu dimulai dari satu putaran perjalanan liburan ke Himalaya. Sesaat menjadi ”Brahman”, menjauh dari kejaran kerja yang nyaris menyita seluruh waktunya.

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in Nepal

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in Nepal

John Wood adalah seorang eksekutif perusahaan komputer terbesar sejagad, Microsoft, yang membawahi pemasaran di kawasan Asia Pasifik. Di Himalaya, 21 hari ia memaksakan diri putus dari matarantai kapital yang menjelujuri perhatiannya tiada henti: tanpa e-mail, dering panggil telepon, pertemuan, dan pulang-pergi kerja.

Bertahun-tahun rutinitas itu dijalankannya: gaya hidup komando seorang prajurit korporat di mana liburan hanya buat orang-orang yang lemah. Dalam falsafah parakomando korporat itu, prajurit kapital sejati adalah mereka yang terus bekerja di akhir pekan, terbang ratusan ribu mil, membangun kerajaan-kerajaan mini demi kebesaran patung raksasa Microsoft.

Tapi kini ia di Himalaya. Yang ia kerjakan adalah berjalan dan terus berjalan menyusur jalanan setapak menuju ketinggian. Dingin. Sepi. Juga buku catatan harian—yang kelak menjadi bahan mentah untuk biografi perjalanannya yang sangat terkenal: Leaving Microsoft to Change the World.

Buku harian itu menjadi semacam pandu rekam setiap langkah kaki yang tertanam di ceruk pasir putih yang dikepit salju. Di buku harian itu pula ia dirasuki suara-suara halus filsuf Soren Kierkegaard: ”Tak ada sesuatu pun yang begitu ditakuti setiap manusia seperti halnya mengetahui seberapa besar dia mampu melakukan dan menjadi.”

Dalam karavan itu ia terus bertanya pada hatinya yang disesap lengang. Dan pasase Dalai Lama di The Art of Happiness yang dikantunginya memberinya secupet rasa damai: “Ketika kita memberikan sesuatu, kita sebenarnya memperoleh sesuatu balasannya: kebahagiaan.

Jika kita harus menggunakan uang kita sekadar untuk membeli barang-barang buat diri kita sendiri, tak akan ada akhirnya. Memperoleh sesuatu tak akan menghasilkan kebahagiaan sejati, sebab kita tak akan pernah memiliki perahu yang paling besar, mobil paling bagus, dan akan terikat pada siklus materialis yang abadi.

Tapi, kalau kita memberikan sesuatu bagi mereka yang kurang beruntung, kita tak akan memperoleh sesuatu sebagai balasan kecuali perasaan hangat dalam hati kita dan pengetahuan yang kita miliki dalam otak kita bahwa kita telah menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik.”

Keramahan memang diterimanya dari setiap warga yang ditemuinya. Tapi di balik keramahan itu, tersembul ironi. Di sana tertanam angka buta huruf dengan angka yang nyaris absolut. Di sana, di jalur Annapurna, di dukuh Bahudanda yang dilewati Sungai Marsyendi, memang terdapat satu sekolah.

Di pagi itu John diajak berkeliling sekolah berlantai tanah yang terlalu sesak buat 450 anak “belajar” di dalamnya. Dan John masgul di bawah plang dengan cetakan yang sangat meyakinkan: “Perpustakaan Sekolah”. Karena apa yang disebut perpustakaan itu hanyalah sebuah ruang lengang tanpa buku. Ruang yang seperti diciptakan dengan nyala harapan bahwa suatu ketika ada peri yang menitip buku-bukunya buat anak-anak Bahudanda.

Dan momentum saat John pulang itulah meluncur sebaris harapan yang dikatakan sang kepala sekolah yang kelak membalik posisi berdiri John Wood di atas pentas karirnya: “Barangkali, Pak, suatu hari Anda akan kembali dengan buku-buku.”

Dan sepanjang perjalanan, John membayangkan datangnya hari itu: Menaikkan beberapa ratus buku ke punggung yak-yak sewaan dengan barisan panjang.

Tapi setiap pilihan membutuhkan keputusan yang berani; sebagaimana tradisi Microsoft yang dibangun dua doktrin yang mesti diresapi setiap prajurit korporatnya: ”Jadilah besar atau pulanglah” dan ”Tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Dan di antara harapan akan hadirnya buku-buku di sebuah dukuh di balik-balik batu di ketinggian bumi yang jauh dari jangkauan peradaban modern, John Wood mengambil ikrar: Meninggalkan Microsoft yang telah memberinya segala-gala. Gaji yang memberinya angka tabungan yang berlimpah untuk jaminan hari tua, prestise, jaringan pertemanan mahaluas, serta jabatan mentereng sebagai eksekutif—jabatan yang didamba begitu banyak petualang kerja.

John memilih menjadi kurir buku-buku buat anak-anak Nepal—dan juga negeri-negeri yang terpental dari pergaulan dunia karena dikeram kebodohan dan kemiskinan. Atas pilihan itu John tidak hanya melihat tabungannya meluncur ke titik nol, tapi juga kehilangan pacar yang tak memahami jalan pikirannya.

Tak banyak kita temui sosok yang berani seperti John Wood ini. Yang mengikuti keyakinannya yang menyala-nyala bahwa jalan buku adalah serupa lorong harapan yang membuka jalan pembebasan.

Mula-mula diteguhkannya dirinya sendiri: “Saya membangun sekolah dan perpustakaan di komunitas-komunitas miskin di Nepal.” Dia tahu, untuk mengajak orang lain bertindak yang sama, maka ia harus terlihat meyakinkan. Yang diyakinkannya pertama kali adalah orang tuanya dan tetangga-tetangganya di San Fransisco. Gelombang pertama ini berhasil mengumpulkan banyak buku dan menjadi langkah pertama John mewujudkan mimpinya: Memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya.

Langkah itu membawa John mendirikan lembaga amal yang menaungi dirinya dan barisan panjang yak-yak pengangkut buku. Ia menamai lembaga amal itu dengan ROOM TO READ atau Ruang Baca. Bagi John, salah satu keterampilan yang mutlak dimiliki oleh lembaga amal adalah kemampuan menjual visinya, model bisnisnya, dan program-programnya kepada donatur-donatur potensial.

Yang lebih penting lagi adalah perencanaan keuangan yang terbuka dan jangan sekali-kali membiarkan cash flow negatif. Ketatnya John dalam soal pengurusan kapital ini lantaran doktrin pendidikan yang sudah dijalaninya untuk memelototi model-model cash flow serupa intensitas seorang siswa Rabbini mempelajari Kitab Taurat.

Selain itu, John amat berpantang membangun lembaga amalnya dengan teknik “Tangisan Panjang Sally Stuthers”. Teknik ini—dan biasanya kerap dijual lembaga filantropik—mengeksploitasi dan memperlihatkan foto-foto anak yang dikerubungi malapetaka atau keluarga gizi yang berbaring dalam debu.

Bagi John, teknik ini alih-alih mengangkat harkat kaum miskin, tapi justru merendahkan martabatnya. Room To Read mengambil jalan sebaliknya. Memberi obor harapan dan pendar optimisme dengan menampilkan foto-foto anak dari sebuah pusat kota kecil dengan memakai toga kelulusan yang kedodoran, gambar seorang gadis kecil yang sudah bisa menyunggingkan senyum setelah operasi sumbing, atau potret petani-petani di lahan tandus Honduras yang bangga dengan sumur barunya.

Prinsip itu dipegang kuat oleh John dan tim yang dibangunnya. Di halaman muka situsnya, www.roomtoread.org, memang ditampilkan angka-angka yang menandai ketunaan: “There are over 76 million children of primary-school age who are not enrolled in school. Of the 774 million adults in the world who cannot read or write, 64 % are women. Of the world’s 76 million children out-of-school children of primary age, over 80% live in rural areas”. Namun foto-foto di latar situs itu adalah anak-anak sekolah dasar yang mengepit buku dan memperlihatkan seutas tipis senyumnya.

Room To Read memang membeber data kemiskinan, tapi bukan untuk menjual kemelaratan dan kesengsaraan, melainkan memberi arah bagi pijakan perjuangan “menumpasnya” dengan jalan buku, perpustakaan, dan ketersediaan gedung sekolah bagi anak-anak. Itu semua terwujud berkat hasrat filantropik John yang menggebu disertai keahliannya mengorganisasi sebuah tim yang bukannya anti kapital, tapi bagaimana mengelola cash-flow kapital itu dengan baik dan transparan.

Teknik itu kemudian melahirkan kepercayaan. Hanya kepercayaan yang bisa mendorong donatur-donatur yang menyebar di daratan Amerika, Eropa, bahkan Hongkong itu untuk menitipkan hartanya untuk digunakan sebagaimana mestinya.

John, dititimangsa ini, berhasil membuktikan doktrin yang diyakini oleh setiap prajurit korporat di Microsoft: “”tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Tapi doktrin itu kini bukan untuk kemahamuliaan patung porselen raksasa Microsoft, melainkan untuk warga dunia selatan yang papah.

John kini tak hanya membayangkan memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya, tapi juga ia berhasil memimpin sebuah tim dan sejumlah besar donatur potensial membangun lilin kecil literasi. Dan pastinya John telah tunaikan janji kepada kepala sekolah Bahudanda. John pulang. Tapi ia tak hanya pulang dengan membawa buku-buku di atas punggung yak-yak, tapi juga ia dan Room To Read hingga 2009—atau sesudah 10 tahun berjuang dari titik nol di ketinggian Himalaya—telah berhasil membangun 8.500 perpustakaan dan ribuan sekolah. Bukan hanya di Nepal, tapi Vietnam, Srilanka, dan Kamboja. (Muhidin M Dahlan)

Tulisan ini disobek dari buku Para Penggila Buku terbitan Indonesia Buku

Penggila Buku oleh Kurnia Effendi

kurnia effendi

kurnia effendi

Kurnia Effendi

(penulis cerpen dan penggemar buku)

Siapa sebenarnya yang disebut para penggila buku? Apakah mereka yang jadi gila gara-gara buku? Mari kita iseng berkunjung ke rumah sakit jiwa, adakah salah satu di antara mereka yang terkurung di situ lantaran sebuah buku? Boleh jadi, ada. Sering terjadi seseorang yang “ngelmu” (mencari ilmu yang terkait dengan kebatinan dan dunia tak tampak), mempelajari buku yang diberikan oleh guru “spiritualnya”, lalu karena tak sanggup menanggungkan secara mental, maka sintinglah dia. Jadi kesimpulannya, bukan dia sebagai penggila buku, tetapi gila akibat isi buku yang dibacanya.

Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (17 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Indonesia Buku bersama dengan Goodreads Indonesia (GRI), Kutu Buku Gila (Kubugil), dan Asosiasi Penulis Cerita (ANITA), menyelenggarakan peluncuran dan diskusi buku “Para Penggila Buku”. Bertempat di Newseum Café dengan pembicara kedua penulisnya, yakni Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan, didampingi oleh Taufik Rahzen, dan Aldo dari GRI. Bertindak sebagai moderator, Lita dari GRI. Acara dipandu oleh Kurnia Effendi dari ANITA.

Siapa ingat akan Hari Buku Nasional?  Mungkin hanya segelintir. Tanggal 17 Mei diambil dari peristiwa berdirinya IKAPI tahun 1950. Sementara para penerbit Yogya menolaknya dengan membuat ikatan penerbit dengan aneka nama. Biarlah masing-masing berbeda pendapat, yang penting adalah esensinya, bahwa buku memiliki hari kebesaran.

Adalah Muhidin M Dahlan (yang lebih dikenal dengan Gus Muh), dengan pengalamannya di dunia penerbitan di kawasan Yogya, berniat mengumpulkan sejumah besar esainya tentang buku yang dimuat di pelbagai media massa. Ia melihat potensi besar pada Diana Sasa, aktivis sosial dan politik asal Surabaya yang juga banyak menulis dunia buku terutama di harian Jawa Pos. Dengan bujukan yang membesarkan hati, Gus Muh berhasil menaklukkan Diana Sasa yang akhirnya bersedia menulis (menyusun) bersama 100 catatan di balik buku.

Di dalam buku yang tebalnya 668 halaman itu, dibahas 8 topik besar, yakni: Kisah Buku, Klub Buku, Musuh Buku, Guru Buku, Revolusi Buku, Film Buku, Rumah Buku, dan Tokoh Buku. Seratus esai di dalamnya itu dikumpulkan dan dilengkapi dalam waktu beberapa bulan (sejak Oktober 2008) dan akhirnya dapat menjadi saksi Hari Kebangkitan Nasional 2009.

Apa hebatnya sebuah buku? Tidak dapat diurai dengan sebaris kalimat atau sekuplet paragraf. Setidaknya ada Nehru, William Chester Minor, WJS Poerwadarminta, Ruth Baldwin, Haryoto Kunto, Om Whie, Pramoedya Ananta Toer, Oprah Winfrey, Kiswanti, dll, berada di balik peristiwa buku. Ada yang menganggapnya sebagai jendela dunia, ada yang cemas ketika televisi hadir ‘menggantikan’ buku, ada yang menyimpannya sebagai saksi sejarah, ada yang memopulerkan dengan cara masing-masing, ada yang memperjuangkannya agar terus dibaca oleh banyak orang.

Dengan membaca buku “Para Penggila Buku”, kita jadi tahu bahwa buku memiliki energi luar biasa. Adakah yang sanggup menyingkirkannya dari muka bumi? Bahkan saat lahir dunia gambar melalui kotak kaca berwarna, buku bergeming sebagai sesuatu yang tak luntur dimakan kemajuan. Saat  internet melaju dengan perkembangan luar biasa, adakah yang membawa-bawa laptop sambil antre di bank, berdesakan  dalam bus kota, atau membisu di toilet  hanya untuk membaca sepucuk kisah? Saat sahabat ulang tahun, buku masih sangat berharga dan menunjukkan kasih berkepanjangan jika dihadiahkan. Dengan keindahan sampul dan formatnya, terkadang buku menjelma karya seni yang patut diabadikan dalam sebuah simpanan.

Jadi, ya, buku mengandung energi yang sanggup membuat seseorang mengganti rasa putus asa menjadi semangat menggelora. Sebagai contoh buku “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang menjadi inspirasi bagi anak-anak putus sekolah di seantero Indonesia. Atau novel amarah berjudul “The Catcher in The Rye” karya JD Salinger yang memengaruhi pembacanya sampai ia membunuh John Lenon. Banyak pula buku Dale Carnegie telah berjasa membangkitkan jiwa, mengubah perilaku orang menjadi positif, seperti halnya Stephen Covey dengan “Seven Habit”-nya. Dan sejumlah buku buruk di masa remaja, karya Enny Arrow, membuat kita matang sebelum waktunya.

Buku ditulis dengan berbagai maksud. Wahyu yang turun kepada Rasulullah Muhammad SAW, sebagai risalah kekhalifahan di bumi, dengan ingatan yang dijaga oleh Allah, tertera secara estafet melalui perjalanan zaman sampai kemudian menjadi Al-Quran. Tentu Empu Walmiki, Nostra Damus, Djajabaya, dan Ronggowarsito, adalah para pujangga yang dikenal memiliki konsep atas kehidupan bernegara dan bermasyarakat, telah mewariskan banyak spirit yang energinya terus tersimpan hingga entah kapan. Strategi perang Sun Tzu, tak mungkin dikenal banyak orang di dunia (bahkan untuk kalangan ekonom) jika tidak diterbitkan dalam bentuk buku. Jadi benar kata Nehru, buku adalah jendela dunia. Tidak hanya bagi pembacanya, karena Karl May yang tak pernah menjelajahi Amerika Selatan sanggup menulis ribuan halaman tentang Old Shatterhand dan dunia Indian dengan latar tempat yang rinci.

Mengapa buku kadang kesepian tak memiliki pembaca? Jangan khawatir. Kata Gus Muh, buku memiliki nasibnya sendiri. Siapa menyangka buku “Ayat-Ayat Cinta” (Habiburrahman El-Shirazi) menjadi begitu populer? Mengapa JK Rowlings mampu menyihir pembaca segala umur di dunia dengan serial Harry Potter yang pernah ditolak beberapa penerbit di Inggris? Mengapa Lupus mewabah di kalangan remaja tahun 80-an dan kini giliran Raditya Dika heboh dengan “Kambing Jantan”? Tentu ada banyak faktor yang membuat buku itu memiliki perjalanan yang berbeda. Mulai dari materi sampai cara mengemas dan memperkenalkannya.

Para penggila buku, misalnya yang tergabung dalam Kubugil, adalah orang-orang militan yang membaca buku antara 10 -15 judul dalam sebulan. Tak hanya itu, mereka juga menuliskan kesannya dalam sebuah resensi, meski kebanyakan untuk konsumsi blogger. Para penggila buku semacam Kiswanti yang dengan sepedanya mengelilingkan perpustakaan, pasti menyimpan energi positif yang tak dapat dinilai dengan uang. Tapi, apakah ada penggila buku yang justru memiliki buku-buku dengan cara mencuri? Ada. Namanya Stephen Carrie Blumberg. Baca saja buku “Para Penggila Buku”, lengkap tertulis di sana kisahnya.

Bagi para pendiri republik ini, buku adalah bagian yang paling besar mengisi hidup mereka. Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka… Buku sering menjadi parameter intelektual. Buku yang kita cintai juga memiliki musuh alami: air, api, rayap. Maka penjahat paling besar terhadap buku adalah mereka yang membakar buku-buku. Karya intelektual langsung musnah dan tak berjejak kecuali sebagai abu yang tak terdaur ulang.

Untuk gemar membaca saja merupakan perjuangan yang berat di era audio-visual. Tetapi bagi keluarga yang anak-anaknya penggila buku, justru kerepotan memenuhi konsumsi mereka. Bayangkan, sekarang harga buku relatif mahal. Dana untuk membeli buku sering dinomorsekiankan. Lalu, bagaimana cara kita bisa memiliki? Menabung? Kalau hanya ingin membacanya, kini perpustakaan tumbuh di mana-mana. Milik negara, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, LSM, juga didirikan oleh orang-orang yang begitu cinta terhadap buku. Misalnya Oei Hiem Whie di Surabaya, Sigit Susanto dan Maria Bo Niok dari Apresiasi Sastra, juga kiprah Yessy Gusman dengan jaringan perpustakaannya di seluruh Indonesia. Sementara itu, Taufik Rahzen, diam-diam telah memiliki 14.000 koleksi buku dalam perpustakaan yang terbagi di beberapa kota, di antaranya Jakarta dan Yogyakarta.

Harapan Taufik Rahzen, buku harus terus diperjuangkan keberadaannya. Ia telah memiliki banyak pengalaman menerbitkan buku dengan segala risiko kerugian atas biaya produksi. Belakangan dengan siasat memadukan karya tulisan dengan karya seni rupa, buku dapat memiliki nilai yang tinggi. Memang benar, mungkin ada yang membeli dengan harga ratusan juta untuk satu eksemplar, tetapi apakah itu dijamin akan dibaca banyak orang? Bagaimanapun, buku dicetak terutama untuk dibaca.

Namun ada satu hal yang menarik dalam ungkapan Taufik, yakni tentang “artefax in the future”. Buku yang kita beli hari ini, yang kita baca saat ini, yang kita miliki dalam beberapa tahun ini, adalah buku yang akan sangat bernilai di masa depan. Contohnya “Di Bawah Bendera Revolusi” karya Soekarno, pernah dijual dengan harga jutaan karena langka. Jadi, pada suatu saat, sejarah (kenangan) memang menjadi panglima dalam sebuah industri. Retrospeksi selalu menarik dan dirindukan karena seseorang akan dibebaskan mengenang hal-hal besar di masa lalu.

Dari sisi itu ada benarnya bahwa buku memang tak akan terkubur oleh zaman. Terutama jika kandungan isinya mampu mencerahkan dari berbagai sudut pandang. Buku kumpulan puisi Hamzah Fanshuri, akan menjadi keindahan tersendiri yang bercahaya di masa lampau. Nietze masih dibaca hingga hari ini. Dan banyak lagi. Mereka adalah energi yang tak kunjung habis.
Memang tak perlu menjadi penggila buku. Bacalah buku sebelum dilarang membaca buku. Berbuku-buku ilmu telah melahirkan pengarang yang menulis ilmu berbuku-buku. ***

Dicuplik dari http://indonesiaenergywatch.com/kolom-kurnia-effendi/penggila-buku.html/comment-page-1#comment-260

Amazon: Raja Toko Buku On Line Sejagad

Oleh Diana AV Sasa

amazonthumbMajalah Time mengumumkan Jeff Bezos sebagai Man of The Year di tahun 1999. Ia adalah laki-laki terkaya di du­nia yang meraihnya pada usia termuda, 33 tahun. Kesuksesan itu di­raih Bozes karena ketekunannya pada buku.

Ya, sejak awal Bezos yakin dan percaya bahwa bisnis buku yang digagasnya mempunyai peluang besar untuk ber­kem­bang. Maka meskipun hanya berawal dari sebuah garasi kecil rumahnya, ia tekun dan gigih mengembangkan usaha toko buku yang ia beri nama Amazon itu.

Tapi Bezos tak me­nyang­ka bahwa perkembangan toko buku on line yang ia rintis akan sedemikian pesat. Jauh melampaui harapan awalnya.

Bermula dari sekisaran tahun 1994 ketika Bezos mendapati feno­mena yang cukup mengesankan tentang perkembangan internet. Pengguna internet—yang saat itu masih tergolong ben­da asing—mengalami kenaikan 2300% setiap tahun.

Angka itu membuat Bozes terinspirasi untuk menggunakan in­ter­net sebagai ladang bisnis baru. Ia pun berpikir keras untuk me­nentukan bisnis apa yang paling tepat untuk internet. Maka Bezos mulai melakukan penelitian terhadap per­usa­ha­an yang melakukan pemesanan melalui surat. Dia sadar bahwa pe­mesanan itu sebenarnya bisa dilakukan melalui internet. Bah­kan memberi keuntungan lebih karena pemesan tak perl­­u waktu dan tenaga untuk mengirimkannya ke expedisi/kan­tor pos.

Bezos pun mencoba membuat katalog 20 produk ung­gulan dan menawarkannya pada perusahaan-perusahaan klien­nya.

Ujicoba itu rupanya mendapat respons yang sangat baik dari pelanggan. Beberapa perusahaan pun mengalihkan cara pe­me­sanan barang dari cara konvensional ke pemesanan me­la­lui internet. Prestasi awal ini kemudian mengantar Bezos un­tuk memikirkan barang apa yang dicari orang dan bisa di­ju­al melalui internet.

Inspirasi itu datang. Dan buku adalah ja­waban­nya. Bagi Bezos, berbelanja buku dengan mendatangi toko buku, menenteng keranjang belanjaan yang berat, sudah bu­kan zamannya.

Di saat orang begitu sibuk dan hanyut oleh ru­ti­nitas yang penat, berbelanja dengan cara lebih praktis adalah pi­lihan bijak. Menjual buku dengan menumpuknya di rak-rak ber­debu juga bukan lagi pilihan menarik.

Ia berpikir untuk menyediakan katalog buku-buku dari pel­bagai penerbit, lengkap dengan resensi dan harganya. Pem­beli yang berminat tinggal memesan melalui formulir yang di­se­diakan, membayar melalui transfer rekening bank atau kartu kredit, lantas buku akan diantar ke alamat pembeli tan­pa perlu beranjak dari tempat duduknya. Praktis dan tak ber­tele-tele.

Ide itu diwujudkan dengan membuka toko buku on line. Maka mulai 16 Juli 1995, Bezos membuka sebuah tokobuku se­der­hana yang dibangunnya di garasi rumahnya. Toko buku on line yang di buka untuk seluruh dunia itu bisa dipesan me­la­lui situs Amazon.com.

Mengejutkan, dalam tempo 30 hari ma­sa percobaan, dengan tanpa publikasi, Amazon telah berhasil men­ju­al buku ke 50 negara bagian Amerika dan 45 bangsa di se­lu­ruh penjuru bumi.

Dengan motto “Tumbuh Lebih Besar dengan Lebih ce­pat” perusahaan itu terus tumbuh dan berkembang pesat. Pada Mei 1996, Amazon diulas pada halaman depan koran Wall Street Journal.

Usaha yang awalnya hanya tokobuku itu pun berkembang menjadi toko virtual terlengkap yang me­nye­dia­kan pelbagai keperluan, mulai dari buku, VCD, CD Musik, permainan, software komputer, baju, perhiasan, hingga ma­kan­an. Dengan bermodal kreativitas, ketekunan, komitmen, dan ke­ya­kinan yang kuat Bozes mampu menunjukkan pada dunia bah­wa buku yang awalnya tak seberapa bernilai dibanding ben­da-benda niaga lain itu ternyata bisa mendatangkan pasive income baginya.

Meski hanya dipandang sebagai barang niaga, ta­pi ia bisa membuktikan bahwa buku mempunyai nilai lebih ji­ka kita pandai mengemasnya dengan sedikit kreativitas. Kini, amazon.com telah menjadi jujugan bagi kutubuku yang membutuhkan buku-buku yang tak banyak dijumpai di pa­sar­an.

Dan Amazon pantas disebut sebagai Raja Pasar Buku dunia. Kesuksesan Amazon kemudian diikuti beberapa pelaku bis­nis lokal sejenis. Di Indonesia mulai bermunculan saudagar-sau­da­gar buku di dunia maya itu.

Sebut saja yang sudah populer se­per­ti kutubuku.com, bukabuku.com, dan lain-lain. Masing-ma­sing me­mi­lih jalur spesifikasinya. Ada yang menyediakan bu­ku kom­plit, semua jenis buku ada. Ada pula yang lebih me­nyem­pitkan ruang dengan hanya mengambil segmen buku khu­sus seperti buku Muslim, buku Nasrani, buku impor, bu­ku terjemahan, buku pela­jaran, komik, dan sebagainya.

Se­mua menawarkan layanan isti­me­wa mulai diskon, layanan antar­jem­put (delivery) dalam kota, merchandise bonus, undian, sampai re­sensi lengkap setiap buku. Toko buku konvensional seperti Gramedia dan Toko Buku Palasari (Bandung), Toko Buku Uranus pun mau tak mau mesti mengekor menyediakan layanan belanja jarak jauh ini karena tuntutan pasar yang makin ingin dimanjakan.

Tak ke­tinggalan pula penerbit-penerbit besar seperti Erlangga, Andi, dan Serambi ikut pula menggelar dagangan di jagat cyber. Sebuah terobosan baru memotong jalur distribusi buku da­ri penerbit ke konsumen. Konsumen buku di era serba digital ini memang semakin di­man­jakan.

Terutama buat mereka yang tak punya banyak wak­tu untuk blusukan ke toko buku dan mengitari rak-rak dengan bu­ku berjajar-jajar hampir seluas lapangan bola. Cukup duduk ma­nis di depan komputer, memilih-milih buku yang disuka di to­ko buku on line yang jumlahnya seabrek, mencari informasi re­sen­sinya lewat “Paman Google”, membanding-bandingkan har­ga, lalu jika suka tinggal isi formulir, kirim biaya lewat ATM Bank atau Kartu Kredit dan buku akan dikirim ke alamat bebe­ra­pa hari kemudian.

Jika tak punya alat pembayaran canggih itu, masih bisa melakukan pembayaran di tempat bagi yang ber­a­da dalam kota. Praktis waktu dan efisien tenaga. Cocok sekali bagi manusia-ma­nu­sia modern yang telah menjadi robot waktu, bekerja dari jam ke jam hingga tak sempat menjamah toko buku. Dengan la­yanan belanja on line ini, mereka tetap bisa menikmati buku ke­sukaan tanpa harus kehilangan waktu—yang menurut me­re­ka berharga—untuk bekerja.

Bangkitkan Iklim Kutubuku di Surabaya

Diskusi Penggila BukuDalam buku mereka yang terbaru, yang bertajuk Para Penggila Buku:100 Catatan di Balik Buku. Dua orang penggila buku ini memang seperti memberikan banyak catatan pada pembacanya untuk sesegera mungkin memikirkan ulang tentang realitas yang terjadi di sekitar kita, khususnya dalam dunia baca-membaca.

Dalam diskusi sekaligus launching bukunya yang digelar di Perpustakaan C20, Muhidin mengatakan, dalam menulis buku, seorang penulisbisa juga dikatakan sebagai lembaga riset, dengan demikian, seorang penulis tidak hanya kaya akan ide dan gagasan, melainkan juga kaya akan temuan-temuan yang keberadaannya merupakan faktor pendukung dari ide dan gagasan.

Dalam diskusi tersebut, beberapa pemateri yang merupakan redaktur dan penangung jawab rubrik Budaya dari 2 surat kabar yang berpusat di Surabaya, yakni Rakhmat Giryadi dari Surabaya Post, dan Arief Santoso dari Jawa Pos.

Selain itu, Kathleen Azali, selaku tuan rumah lebih banyak mengutarakan ekspektasinya terhadap kedua penulis dalam membangkitkan semangat membaca di kalangan generasi muda.

Berkaitan dengan itu, keadaan di Surabaya memang tergolong cukup mengenaskan. Tidak berkembangnya industri perbukuan di Surabaya bukan hanya disebabkan oleh minimnya budaya baca masyarakat Surabaya, khususnya terhadap buku-buku sastra dan budaya. Selain itu, kurang optimalnya networking atau komunitas dan klub-klub pecinta buku.

Ini seperti yang dikatakan Diana AV Sasa, selaku salah satu penulis buku. Menurutnya, terlepas dari aspek kuantitas, menurutnya, klub-klub buku yang mungkin ada di Surabaya masih kurang optimal dan teruji. ”Bukan bermaksud membeda-bedakan buku, tapi bagaimana bisa berkembang jika sebuah klub buku mengharuskan anggotannya membaca buku yang itu-itu saja,” tegasnya.

Oleh karena itulah, seharusnya, klub-klub pecinta buku yang ada harusnya sedikit demi sedikit membangun semacam networking yang bagus. Mereka harusnya bahu membahu dalam menciptakan ide-ide kreatif sebagai semacam bentuk perlawanan atas para elitis.

Dengan demikian diharapkan akan bermunculan penerbit-penerbit indie yang menerbitkan buku-buku indie pula. ”Inilah yang akan membuat iklim intelektual di Surabaya akan bisa stabil. Tidak hanya iklim bisnis dan dagang saja,” ujar Sasa, panggilan akrab Diana AV Sasa.

Oleh karena menerbitkan sebuah buku bukanlah hal yang mudah dan murah, maka kini koran ataupunh media massa memang sepertinya tengah menjadi sarana alternatif untuk mempublikasikan karya. Bagi beberapa penulis, kolom-kolom yang ada di media massa merupakan tempat alternatif agar karyanya bisa dibaca, meskipun tidak dalam bentuk buku.

Meski tiap minggu, penulis-penulis lokal di media massa selalu bermunculan, namun jika diperhatikan lebih jauh, secara prosentase, jumlah penulis Surabaya masih kalah jauh jika dibandingkan penulis-penulis yang berada di luar Surabaya, seperti misalnya Jogjakarta, atau bahkan Sumenep.

Hal ini dipertegas oleh Rahmat Giryadi. Selaku penanggung jawab rubrik budaya di Harian Surabaya Post, dirinya mengaku, produktivitas penulis Surabaya cenderung masih lemah.

Padahal, seharusnya, menurut Giryadi, keberadaan media, khususnya media lokal menjadi sebuah pemicu dari proses kreatifitas bagi penulis, khususnya penulis-penulis yang belum memiliki nama. ”Memang keberadaan media harusnya menjadi pemicu semangat menulis bagi penulis khususnya penulis muda,” ujarnya. 

Akan tetapi, pada kenyataannya, dengan berbagai alasan, tidak jarang beberapa media lebih memilih menggunakan penulis-penulis yang telah memiliki nama.

Mengenai hal ini, diakui oleh Giryadi, tidak sepenuhnya media hanya menyediakan ruang bagi penulis-penulis yang telah memiliki nama, namun sebenarnya memberikan porsi lebih pada penulis-penulis muda. Hanya saja pada kenyataanya, penulis-penulis muda terutama yang berasal lokal Surabaya dan sekitarnya masih terbilang jarang.

Diakuinya, setiap minggu naskah yang masuk ke redaksi, pada kenyataanya masih didominasi oleh penulis-penulis dari luar Surabaya. ”Kebanyakan dari Jogjakarta, bahkan Sumenep sudah mulai intens mengirimkan ke email saya,” ujarnya.

Minimnya produktifitas penulis Surabaya itu pulalah yang menyebabkan iklim penerbitan di Surabaya menjadi agak kering. Menurut Arief Santosa, selaku penanggung jawab redaktur buku di harian Jawa Pos, keringnya iklim intelektualitas di Surabaya, memang salah satunya disebabkan oleh minimnya penerbitan di Surabaya. Menurutnya dunia buku di Surabaya, dengan adanya banyak komunitas-komunitas kreatif, seharusnya membuat dunia perbukuan di Surabaya tidak sunyi.”Harusnya dunia buku di Surabaya merupakan dunia yang hingar bingar. Tidak malah jadi dunia yang sunyi seperti sekarang ini,” keluhnya.

Jadi, dengan keberadaan beberapa komunitas kreatif yang ada di Surabaya, memang sudah waktunya jika Surabaya mulai bangkit dan tampil tidak hanya sebagai kota bisnis dan dagang semata, melainkan nilai-nilai intelektualitas dan iklim ‘kutubuku’ juga harus ditonjolkan sebagai karakter dari Surabaya, khususnya para generasi pemuda. (Arief Junianto)

* Dinukil dari Harian Surabaya Post Edisi 5 Juli 2009

Resep Anti Pikun Muda: Membaca-Menulis

ArmansyahUsianya 76 tahun. Kacamatanya tebal. Ucapannya jelas. Ingatannya tajam. Wawasannya luas. Begitulah sosok Pak Armansyah yang saya temui kemarin(7/7/09) siang di salah satu sudut utara kota Jogja.

Ia bertutur panjang tentang romantisme masa-masa Bung Karno berkuasa. Saya mendengar saja dengan tekun. Seperti cucu yang didongengi kakeknya. Dari masa revolusi lalu ia melompat ke masa pendidikan di Jerman, masa-masa sulit setelah prahara ’65, hingga kondisi politik terakhir.

Pendek-pendek saja ia bercerita. Saya seperti melihat lompatan-lompatan kisah mengelilinginya. Saya terkagum nyaris malu tersungkur. Ingatan dan wacananya luas sekali. Ingatannya pada kisah-kisah dan peristiwa-peristiwa sungguh tajam. Saya yang semuda ini mudah sekali terhapus ingatan.

Maka saya pun bertanya apa yang membuatnya demikian kuat menjaga ingatan. Ia menyebut : MEMBACA dan MENULIS. Membaca, meski sedikit demi sedikit(usia lanjut membuat matanya mudah lelah), membantunya menjaga ingatannya. Dengan membaca ia bisa mengulang-ulang memasukkan informasi. Untuk lebih mengasahnya, maka ia menulis. Dengan menulis ia melatih ingatan dari apa yang telah dibacanya.

Pak Arman tak ada waktu khusus untuk membaca, sesempatnya saja. Di samping tempat tidurnya saya menemukan buku-buku ini: Kebohongan di Gedung Putih(Scott McClellan), Pikiran Kritis untuk Rakyat Indonesia(Bungaran Antonius Simanjuntak), The Againts Third Way(Alex Collincos), Membongkar Manipulasi Sejarah (Asvi Warman Adam),dan Membongkar kegagalan CIA(Tim Weiner). Ini adalah buku-buku baru yang sedang dibacanya. Dengan membaca buku-buku ini Pak Arman bisa sembari mengingat-ingat lagi beberapa hal yang terjadi semasa mudanya, menghubung-hubungkan bacaan dengan memori ingatannya, lalu menulis.

Jika tak ingin cepat pikun, atau pikun muda (seperti saya), mungkin kita patut meniru cara Pak Arman :Membaca, menulis. (DAVS)

Ada Perpus Tunanetra di Medan

Pertama kali di Sumatera Utara, perpustakaan untuk tunanetra hadir. Kaum tunanetra bisa mengakses seluruh koleksi ini untuk menambah pengetahuan mereka. Tidak hanya tulisan berhuruf braille, perpustakaan ini juga memiliki koleksi berbentuk rekaman audio.

”Secara resmi, kami buka besok (Senin 6/7). Uji coba telah kami lakukan Sabtu lalu. Perpustakaan ini akan buka setiap hari, mulai Senin sampai Sabtu pukul 08.00 sampai 17.00,” tutur Kepala Badan Perpustakaan Daerah Sumut Syaiful Syafri, Minggu di Medan.

Perpustakaan tunanetra ini didirikan oleh Badan Perpustakaan Daerah Sumut. Perpustakaan ini menempati salah satu ruang di lantai 1 Gedung Perpustakaan Daerah Sumut di Jalan Brigjen Katamso, Medan. Untuk sementara, tutur Syaiful, koleksi perpustakaan berjumlah 625 buku dari 125 judul. Bacaan yang tersedia antara lain pengetahuan agama, keterampilan rumah tangga, keterampilan memijat tangan, fiksi, kiat menghadapi seleksi perguruan tinggi, kamus komputer, dan buku tentang kewanitaan.

”Buku-buku ini selain dibeli dari dana APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Sumut, juga sumbangan dari Departemen Sosial RI, Direktorat Jenderal Pelayanan dan Rehabilitasi Sosial, serta sumbangan dari Balai Penerbitan Braille Indonesia Abiyoso Cimahi,” ujarnya.

Data Badan Perpustakaan Daerah Sumut menunjukkan, di Medan ada sekitar 600 tunanetra yang tergabung dalam Persatuan Tunanetra Indonesia. Selama ini, katanya, penyandang tunanetra kesulitan mencari bacaan ilmu pengetahuan karena minimnya buku bacaan berhuruf braille. Pendirian perpustakaan ini untuk membantu menyediakan bahan bacaan bagi kaum tunanetra. ”Mereka yang sudah mempunyai keterampilan bisa meningkatkan kompetensinya,” katanya.

Kaum tunanetra yang bosan membaca bisa memanfaatkan koleksi perpustakaan di ruangan audio. Tanpa indera penglihatan, kaum tunanetra bisa mengoptimalkan kemampuan mendengar untuk menambah ilmu pengetahuan. ”Jika memungkinkan, kami akan menyediakan fasilitas internet untuk mereka,” katanya.

Pertumbuhan minat baca di Sumut belakangan ini meningkat. Hal ini terlihat dari jumlah tingkat kunjungan di Perpustakaan Daerah Sumut dan jumlah buku yang dipinjam warga.

Selain itu, di sekitar Medan berdiri 78 perpustakaan baik swasta maupun yang dikelola negara.

* Dinukil dari Harian Kompas Edisi Sumatera Utara 6 Juli 2009

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan