-->

Kronik Buku Toggle

Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah

BEHA2Episto ergo sum, Aku menulis (surat pembaca) karena aku ada

Slogan ini kupilih untuk meneguhkan jati diri sebagai penulis surat pembaca. Ya, aku senang sekali menulis surat pembaca. Bukan hanya senang, aku sudah ‘gila’. Aku mabuk candu surat pembaca. Sehari aku bisa menulis 3-8 surat ke semua media cetak maupun on line.

Kecanduanku menulis surat pembaca sudah kumulai sejak aku usia 20 tahun. Saat itu sekira tahun 1973. Aku melihat sederet pohon palem muda tak terurus, kering dan meranggas di alun-alun utara Solo. Lalu aku tulis surat pembaca ke harian Suara Merdeka. Ternyata dimuat. Dan tak lama kemudian aku melihat tanaman itu nampak disirami dan terawat. Momentum ini yang menuntunku menjadi seorang pecandu surat pembaca, epistoholik orang menyebutnya.

Menulis surat pembaca memiliki sensasi tersendiri. Ia unik:pendek, menggigit, dan pesannya harus segera sampai. Selain topiknya yang harus selalu mutakhir, ia juga bisa segera ‘diledakkan’. Hasil atau dampaknya juga bisa segera diketahui. Lihat saja, semua perusahaan yang menganggap brand atau merek dagang sebagai sesuatu yang mesti dijaga, pasti menganggap surat pembaca sebagai sesuatu yang layak diwaspadai. Sekali nama mereka tercoret, ribuan orang mengetahuinya. Demikian juga dengan pemerintahan. Surat pembaca menjadi semacam kontrol dari warga untuk setiap kebijakan yang ada. Melalui surat pembaca, mereka tahu kekurangan dari kebijakannya dan segera melakukan perbaikan.

Surat pembaca sendiri sebenarnya merupakan bagian dari demokrasi. Bagiku, menulis surat pembaca sebenarnya adalah upaya untuk ikut meriuhkan demokrasi. Surat pembaca sudah seperti jurnalisme warga. Akifitas jurnalisme warga adalah penyampaian berita atau informasi melalui surat Pembaca.

Menyampaikan berita, gagasan, atau protes melalui surat pembaca, bagiku adalah cara berdemokrasi yang elegan, melalui tulisan. Adu otak, bukan adu otot. Menulis surat pembaca bagiku, seperti tetesan air di permukaan batu.  Kalau terus saja menetes, permukaan batu itu kelak akan menjadi berlubang, tak terasa. Dengan frekuensi pemuatan yang bisa lebih sering dibanding pemuatan opini, aksi berderma ilmu yang dilakukan dengan cinta itu akan membuahkan sesuatu umpan balik yang tak terkirakan di masa depan. Aku tak akan berhenti menulis surat pembaca. Lagi dan lagi.

Surat pembaca dan internet

Kolom surat pembaca di media cetak tentu terbatas untuk menampung semua surat yang masuk. Kehadiran internet memberi tawaran lain untuk mendorong aktivitas jurnalisme warga. Blog dan email adalah alternatif untuk menyuarakan gagasan lebih luas dan lebih sering. Karena itu aku kemudian mendirikan JEI (Jaringan Epistoholik Indonesia) dan memulai komunitas on line.

JEI bukan sebuah organisasi, ini hanya sebuah wahana bersosialisasi, bertukar gagasan, berasaskan saling asah, asih dan asuh. Semangatnya egaliter. Menulis surat pembaca yang ditulis rakyat biasa dengan bahasa sederhana tanpa banyak hiasan kata hampa.

Sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, aku ingin setiap orang itu menjadi penulis surat pembaca yang merangkap sebagai blogger juga.  Fenomena ini ideal dan bagus bagi demokrasi.

“Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan dengan mudah.” Demikian bunyi Hukum Linus, yang diambil dari nama Linus Torvald, penemu piranti lunak open source Linux yang fenomenal. Ia sengaja membuka kode peranti lunaknya itu kepada masyarakat luas sehingga dapat  segera ditemukan kutu-kutunya, yaitu cacat, kekurangan, dan kemudian upaya ramai-ramai memperbaikinya.

Bila semua warga menjadi pelaku jurnalisme warga, mekanisme check and balances dalam kehidupan bernegara, menjadi berjalan. Asal anomali parah seperti kasus yang menimpa Prita Mulyasari dan Khoe Seng Seng dkk. itu tidak terjadi lagi, di mana mereka yang menemukan “kutu-kutu” ketidakadilan dan kecurangan justru terancam ditendang masuk penjara.

Aku sendiri memelihara  15 blog dengan isi yang beragam. Mulai dari kumpulan surat pembaca, puisi anak-anak, sampai kenangan akan kekaguman pada sosok gadis di semasa mudaku. Pada tahun 2004 dengan peranku sebagai pendiri komunitas Jaringan Epistoholik Indonesia (JEI) yang mengusung resolusi untuk membangun lebih dari seratus blog epistoholik telah memenangi Mandom Resolution Award 2004 (PT Mandom Indonesia Tbk, Jakarta).

Menulis itu berderma pengetahuan

Awalnya aku tak menulis surat pembaca. Saat SMP aku menulis puisi dan cerpen. Ketika puisiku dipajang oleh guru di papan majalah dinding, itu momen yang menggetarkan sekali bagiku. Ada sensasi yang kunikmati ketika tulisanku dibaca orang lain. Sejak itu aku mulai berani mempublikasikan tulisanku.

Tulisan pertamaku yang dimuat di media kubuat sekira tahun 1968. Aku mengirimkan lelucon ke majalah Kartika Chandrakirana, majalahnya ibuku sebagai istri TNI-AD. Lelucon itu dimuat, dapat honor. Rp. 200,00.

Aku memang suka sekali menulis. Aku juga suka sepakbola, maka saat itu aku sering menulis reportase pertandingan sepakbola. Sesudah menguping radio tetangga saat siaran pertandingan sepakbola, aku tergerak untuk menuliskannya.

Waktu SMP dan STM Negeri 2 Yogyakarta,aku menulis lelucon untuk majalah Aktuil dan Varia Nada. Waktu kuliah di IKIP Surakarta (saat itu)/UNS Sebelas Maret, pernah menulis artikel sosial di majalahnya ITB, Scientiae. Pernah juga aku menjadi wartawan lepas, menulis tentang  musik dan teater di Solo. Juga mengirim berita budaya ke Kompas sampai menulis cerpen ke Sinar Harapan dan majalah Gadis.  Hingga sekarang, tulisanku masih sering muncul di kolom Teroka Kompas, Tabloid Bola, dan juga Solo Pos. Dan tentu saja beberapa kolom surat pembaca di Jawa Tengah.

Buah dari kebiasaan menulis itu pernah termonumenkan dalam buku Ledakan Tawa Dari Dunia Satwa (Andi, 1987), Bom Tawa Antar Bangsa (USA, 1987) dan Hari-Hari Sepakbola Indonesia Mati : Kesaksian Seorang Suporter Pasoepati (2004, belum diterbitkan).

Menulis bagiku bukan sekedar bergaya pamer pengetahuan atau menyehatkan pikiran. Menurutku, dengan menulis, kita berderma pengetahuan. Akumulasi pengetahuan yang ada pada diri kita bertambah awet dan bertambah banyak ketika kita membagikannya.

Aku ingat wejangan mantan Hakim Agung Bismar Siregar ketika menjadi finalis Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (LKT3I)-nya Indosat di Jakarta, Tahun 1999. Beliau bilang, mengutip perkatan salah seorang ‘Ulama klasik (Ibnul Qayim aljauziyah), bahwa setetes tinta dari penulis itu lebih mulia dibanding darah yang tercurah dari para syuhada.

Membaca dan menulis seperti donor darah

Kebiasaanku menulis barangkali terdorong dari kegemaranku melahap bacaan. Saat aku bersekolah di SD Negeri Wonogiri 3, klas 4-5, tahun 1963-1964, aku sudah mulai membaca. Aku membaca komik cerita Baratayudha, Siti (Wonder Woman) Gahara, dan Serial Nogososro-Sabuk Inten. Komik-komik itu memiliki kenangan kuat antara aku dan ayahku mengenai buku. Ayah bertugas di Yogya. setiap Sabtu pulang ke Wonogiri. Kalau ada buku yang ingin kubaca, aku tulis di carik kertas data bukunya, lalu diam-diam kumasukkan ke kantong bajunya. Minggu depan, aku berharap memperoleh bacaan baru ketika  ayah pulang. Aku mengikat cinta dan hormat terhadap ayah melalui buku.

Tapi sebenarnya yang mengenalkan aku pada bacaan justru nenek dan pamanku. Di rumah nenek di Kedunggudel, Sukoharjo ada tumpukan buku dan majalah Sosiawan (Depsos) dan Penyebar Semangat milik Pakde (paman) yang seorang guru. Bacaan itu yang membuat kunjungan ke rumah nenek sebagai kegiatan favorit.  Kemampuan membacaku juga berawal dari rumah nenek. Sebelum SD, di rumah nenek, ada Pak Lurah mengajakku untuk melihat papan peraga yang digunakan para tuna aksara, warga buta huruf, untuk belajar membaca. Maka aku pun mulai belajar membaca dari peristiwa itu.

Membaca bagiku adalah membuka diri untuk memperoleh virus-virus wawasan baru. Untuk terus-menerus mendidik diri sendiri. Aku ingat nasehat John Howkins dalam bukunya The Creative Economy  : How People Make Money From Ideas (2001), ”Leave school early, if you want, but never stop learning,” tegasnya.

Menulis dan membaca lekat sekali kaitannya bagiku. Menulis dan membaca itu seperti aktivitas metabolisme dalam tubuh. Dengan menulis, aku seperti melakukan aksi donor darah. Darahku disedot secukupnya melalui menulis, syukur-syukur kalau bisa secara teratur. Kemudian saat aku membaca, seolah aku memperoleh darah-darah yang baru untuk mengalir di tubuh ini. Karena itu membaca dan menulis membuatku senantiasa bugar. Selain jalan pagi dan menjauhi tembakau tentu saja. (Seperti diceritakan Bambang Haryanto pada Redaktur Indonesia Buku, Diana AV Sasa)

* Tulisan dibuat sebagai hadiah ulang tahun ke 56 Pak Bambang Haryanto dan ucapan terimakasih atas kesediaannya memberi motivasi pada anak-anak Pakisbaru saat peluncuran buku dan peresmian Gelaran Buku Pakis, beberapa waktu silam.

Barack's Book Bag

By John Dickerson

All vacations have their rituals: slapping sunscreen on wriggling kids, eating ice cream after dinner, and hiding the holes in the rental-house drywall. Presidential vacations have rituals, too: peekaboo with the press corps, highly managed casual social engagements, and golf. Always there must be the golf.

Even the news media have their vacation rituals. One of them is overinterpreting the presidential summer reading list. Monday the White House obliged, offering the list of five books president Obama has packed for his trip:

• The Way Home by George Pelecanos, a crime thriller based in Washington, D.C.;
• Lush Life by Richard Price, a story of race and class set in New York’s Lower East Side;
• Tom Friedman’s Hot, Flat, and Crowded, on the benefits to America of an environmental revolution;
• John Adams by David McCullough;
• Plainsong by Kent Haruf, a drama about the life of eight different characters living in a Colorado prairie community.
Advertisement

What does this list of American authors tell us about the president? Well, it’s not as fun as the year Bush decided to read Camus’ The Stranger. George Bush reading a French Existentialist is like Obama reading a Cabela’s catalog. Plus, it was a story about a one-time layabout turned unrepentant Arab killer, which, if you wanted to overinterpret things, gave you enough material to get you through a few packs of Gauloises.

The Obama selection is not overtly controversial. In 2006, Bush’s list included The Great Influenza, about the 1918 flu. If Obama were reading that today while his White House was issuing a new report about the H1N1 virus, he’d start a national panic. But his list is also clearly not poll-tested. Women played a key role in Obama’s victory in 2008. They’re swing voters. And yet all of Obama’s authors are white men. The subject of the longest book, John Adams, is a dead white male. Obama couldn’t get away with that in an election year, and, given his aides’ penchant for cleaning up little things like this, we’ll soon see the president with a copy of Kate Walbert’s A Short History of Women.

The Price and Pelecanos books are very similar—urban, East Coast crime stories by two authors who have also written for the HBO series The Wire. Only the Haruf provides geographical and literary diversity. The McCullough book seems like the kind of thing presidents get with the job. When presidents read presidential biographies, it must be like a user’s manual for the office. Sure, Adams occupied it 200 years ago, but just as Obama read Team of Rivals when picking his Cabinet and Jonathan Alter’s The Defining Moment on FDR’s 100 days when forming his initial agenda, he’ll probably now start dropping Adams references in the coming months.

I bet Obama doesn’t finish the Friedman. There’s no book on his list more like his evening briefing books. And he’s going to have to sacrifice something. The books total nearly 2,400 pages. At an average speed of one page per minute, the president needs to spend at least four hours a day reading. Plus, he’s still got briefings and work reading he’s got to do, and Sen. Baucus might be calling on Line 2. The president can’t do all that and spend time with his daughters, play golf and tennis as he did Monday, and enjoy a few of those three-hour dinners with his wife. And if he can do all of that, why hasn’t he passed health care reform twice by now? (Of course, the marathon reading could be training for the 1,000-page health care bill he might be lucky enough to read one day.)

That said, the Obama list is nowhere near as ambitious as the stack Bill Clinton used to take with him to the Vineyard. The 42nd president usually took at least a dozen books, ranging from history to biography to mysteries. When Clinton visited Edgartown Books on the island a few years ago to sign copies of his autobiography, he walked the aisles pointing to books, saying, “Read that, read that, read that,” according to Susan Mercier, the manager.

When Clinton vacationed at the Vineyard during his presidency, bookstores sent baskets of books in a public competition for his affections. This year, Edgartown Books sent President Obama a small collection: That Old Cape Magic by Richard Russo for the president, Linda Fairstein’s Lethal Legacy for the first lady, and A Child’s Guide to Martha’s Vineyard for the girls. The books were delivered through a Clinton acquaintance (there are a lot of those on the Vineyard these days), but there’s no word on whether the president has seen the delivery.

Over at Bunch of Grapes, a bookstore in Vineyard Haven, the new owner is playing it coy. A clerk acknowledged that they had sent books, but when asked which ones, she sounded as if she were on the press office payroll. “Nothing [we] can share with anyone,” she said. Another store employee says there are rumors Obama might visit, which means management is probably wise to be so fussy with information. Barnes & Noble, meanwhile, certain not to get a visit, has already tried to capitalize on the Obama reading list.

We can blame John Kennedy for this obsession with presidential reading. Asked at a press conference what he read for relaxation, he named Ian Fleming’s James Bond novels. Kennedy was the first glamour president of the television age. His celebrity status escalated the process of overinterpreting presidential behavior, but those books also seemed to say something about the man who read them. It was just too fitting that Kennedy was reading about a debonair Cold War rake who made his own rules. Presidential reading lists have been squeezed for meaning ever since. Which means that in the heat of this year’s health care debate, the president doesn’t dare read anything by anyone who once wrote a book called Dr. No.

Source:  SLATE.COM, August 24, 2009

Barack’s Book Bag

By John Dickerson

All vacations have their rituals: slapping sunscreen on wriggling kids, eating ice cream after dinner, and hiding the holes in the rental-house drywall. Presidential vacations have rituals, too: peekaboo with the press corps, highly managed casual social engagements, and golf. Always there must be the golf.

Even the news media have their vacation rituals. One of them is overinterpreting the presidential summer reading list. Monday the White House obliged, offering the list of five books president Obama has packed for his trip:

• The Way Home by George Pelecanos, a crime thriller based in Washington, D.C.;
• Lush Life by Richard Price, a story of race and class set in New York’s Lower East Side;
• Tom Friedman’s Hot, Flat, and Crowded, on the benefits to America of an environmental revolution;
• John Adams by David McCullough;
• Plainsong by Kent Haruf, a drama about the life of eight different characters living in a Colorado prairie community.
Advertisement

What does this list of American authors tell us about the president? Well, it’s not as fun as the year Bush decided to read Camus’ The Stranger. George Bush reading a French Existentialist is like Obama reading a Cabela’s catalog. Plus, it was a story about a one-time layabout turned unrepentant Arab killer, which, if you wanted to overinterpret things, gave you enough material to get you through a few packs of Gauloises.

The Obama selection is not overtly controversial. In 2006, Bush’s list included The Great Influenza, about the 1918 flu. If Obama were reading that today while his White House was issuing a new report about the H1N1 virus, he’d start a national panic. But his list is also clearly not poll-tested. Women played a key role in Obama’s victory in 2008. They’re swing voters. And yet all of Obama’s authors are white men. The subject of the longest book, John Adams, is a dead white male. Obama couldn’t get away with that in an election year, and, given his aides’ penchant for cleaning up little things like this, we’ll soon see the president with a copy of Kate Walbert’s A Short History of Women.

The Price and Pelecanos books are very similar—urban, East Coast crime stories by two authors who have also written for the HBO series The Wire. Only the Haruf provides geographical and literary diversity. The McCullough book seems like the kind of thing presidents get with the job. When presidents read presidential biographies, it must be like a user’s manual for the office. Sure, Adams occupied it 200 years ago, but just as Obama read Team of Rivals when picking his Cabinet and Jonathan Alter’s The Defining Moment on FDR’s 100 days when forming his initial agenda, he’ll probably now start dropping Adams references in the coming months.

I bet Obama doesn’t finish the Friedman. There’s no book on his list more like his evening briefing books. And he’s going to have to sacrifice something. The books total nearly 2,400 pages. At an average speed of one page per minute, the president needs to spend at least four hours a day reading. Plus, he’s still got briefings and work reading he’s got to do, and Sen. Baucus might be calling on Line 2. The president can’t do all that and spend time with his daughters, play golf and tennis as he did Monday, and enjoy a few of those three-hour dinners with his wife. And if he can do all of that, why hasn’t he passed health care reform twice by now? (Of course, the marathon reading could be training for the 1,000-page health care bill he might be lucky enough to read one day.)

That said, the Obama list is nowhere near as ambitious as the stack Bill Clinton used to take with him to the Vineyard. The 42nd president usually took at least a dozen books, ranging from history to biography to mysteries. When Clinton visited Edgartown Books on the island a few years ago to sign copies of his autobiography, he walked the aisles pointing to books, saying, “Read that, read that, read that,” according to Susan Mercier, the manager.

When Clinton vacationed at the Vineyard during his presidency, bookstores sent baskets of books in a public competition for his affections. This year, Edgartown Books sent President Obama a small collection: That Old Cape Magic by Richard Russo for the president, Linda Fairstein’s Lethal Legacy for the first lady, and A Child’s Guide to Martha’s Vineyard for the girls. The books were delivered through a Clinton acquaintance (there are a lot of those on the Vineyard these days), but there’s no word on whether the president has seen the delivery.

Over at Bunch of Grapes, a bookstore in Vineyard Haven, the new owner is playing it coy. A clerk acknowledged that they had sent books, but when asked which ones, she sounded as if she were on the press office payroll. “Nothing [we] can share with anyone,” she said. Another store employee says there are rumors Obama might visit, which means management is probably wise to be so fussy with information. Barnes & Noble, meanwhile, certain not to get a visit, has already tried to capitalize on the Obama reading list.

We can blame John Kennedy for this obsession with presidential reading. Asked at a press conference what he read for relaxation, he named Ian Fleming’s James Bond novels. Kennedy was the first glamour president of the television age. His celebrity status escalated the process of overinterpreting presidential behavior, but those books also seemed to say something about the man who read them. It was just too fitting that Kennedy was reading about a debonair Cold War rake who made his own rules. Presidential reading lists have been squeezed for meaning ever since. Which means that in the heat of this year’s health care debate, the president doesn’t dare read anything by anyone who once wrote a book called Dr. No.

Source:  SLATE.COM, August 24, 2009

Meriset bukan Sekadar Soal Dana, tapi Mental

Demi menambal biaya penelitian, para ilmuwan kita di sini harus jungkir balik. Ada yang patungan mendirikan kedai sate

Berbongkah batu alam tergeletak di dalam kardus di ruangan yang tak terlalu luas itu. Serbuk silika berwarna kuning, pasir besi, beberapa alat pemotong besi, dan pemisah magnet tampak berserakan di lantai berlapis kayu.

“Beginilah kalau sedang bekerja, berantakan,” ujar Dr Nurul Taufiqurochman, MEng, Jumat malam lalu. Di ruang berukuran 5 x 8 meter itulah peneliti fisika di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Puspiptek Serpong, Tangerang, ini melakukan riset teknologi nano.

Ruangan yang terletak di lantai dua Pusat Penelitian Fisika LIPI itu nyaris seperti kapal pecah. Sejumlah diktat dan proposal berserakan di atas meja. Beberapa unit komputer serta alat-alat eksperimen rakitan Nurul dan delapan stafnya juga belum dibereskan.

Malam itu, pria lulusan Kagoshima University, Jepang, ini menunjukkan kehebatan pemisah magnet temuannya. Nurul tak perlu terbang jauh ke luar negeri untuk membeli komponen alat itu karena tersedia di Glodok, Jakarta Barat.

Nurul memasukkan sejumput pasir besi ke alat tersebut. Setelah diputar, pasir yang mengandung besi oksida turun dan yang tak mengandung besi oksida menempel pada lempengan karet yang melengkung ke bawah.

Dari serbuk pasir yang telah dinanokan itu bisa dibentuk batangan besi dan tabung besi. Menurut Nurul, pasir besi sangat mudah dicari. “Sekilo paling cuma Rp 250. Kalau sudah dinanokan, bisa mencapai Rp 1 juta. Ini peluang bisnis untuk mengolah kekayaan alam Indonesia,” ujarnya.

Teknologi nano yang sederhana dan pengolahan yang tak rumit membuat pasir besi selanjutnya bisa diolah menjadi tinta printer seharga Rp 250 ribu.

Kekayaan alam Indonesia yang melimpah itulah yang membuat Nurul pulang kampung setelah 15 tahun kuliah dan bekerja di Negeri Sakura. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 5 Agustus 1970, itu menyelesaikan S1-S3 teknik mesin di Kagoshima University atas biaya Habibie Center.

“Saya gemes banget. Apa yang mungkin orang lain tidak lakukan, saya bisa kerjakan. Makanya saya ingin di bengkel ini mestinya juga lahir Apollo berteknologi nano,” katanya seraya menunjuk sejumlah mesin.

Peraih Ganesha Widya Jasa Adiutama Award dari Institut Teknologi Bandung pada 2009 itu bersemangat menciptakan alat-alat baru berteknologi nano yang belum ada di dunia dari kekayaan alam Indonesia. “Di tangan saya dan tim, alat semacam ini harganya cuma Rp 5 sampai Rp 20 juta.” ujar Nurul sembari memperlihatkan milling gerak elips 3 dimensi yang difungsikan sebagai penghancur partikel nano.

Alat itu telah dipesan sebuah universitas di Malaysia. “Alat ini tidak ada duanya di dunia. Kalau yang sudah ada keluaran luar negeri hanya mengocok, namun kalau bikinan saya nggak hanya mengocok, tapi juga berputar.”

Tak banyak orang awam yang akrab dengan teknologi nano. Nanometer artinya satu per satu miliar meter. Sesuai dengan namanya, teknologi ini berkaitan dengan penciptaan benda-benda kecil, yang mencakup pengembangan teknologi dalam skala nanometer, biasanya 0,1 sampai 100 nanometer. Satu nanometer sama dengan sepersejuta milimeter.

Ayah enam anak ini yakin, dengan teknologi nano, bukan tak mungkin bebatuan alam diubah menjadi intan, berlian, dan logam. Untuk mengolah kekayaan alam menjadi sesuatu yang lebih dahsyat, Nurul yang di Jepang dikenal sebagai doktor bidang rekayasa material itu membentuk komunitas Masyarakat Nano Indonesia dan ia menjadi ketuanya.

Nurul juga dikenal sebagai sebagai penemu teknologi eliminasi kandungan timbel (Pb) pada logam kuningan melalui daur ulang. Teknologi yang dipatenkan di Jepang pada Mei 2003 itu membuat jutaan meter kubik limbah kuningan di Jepang menjadi barang berharga lagi.

Dengan segudang prestasi, ia sebenarnya bisa hidup mapan di Jepang. Namun, setelah menyelesaikan program doktor pada 2000, Nurul yang pernah setahun bekerja di perusahaan pipa, shower, dan aksesori kamar mandi Kyusutabuchi–memilih pulang ke Indonesia. Ia menolak tawaran menjadi pegawai di Jepang dengan gaji besar.

“Dulu, ketika saya masuk LIPI, hanya ada meja dan kursi. Lalu saya membuat alat sendiri. Sekarang ruangan sudah penuh dengan alat, sekitar sembilan sudah saya patenkan atas nama LIPI dan menyusul tiga lainnya nanti.”

Kini peraih predikat doktor cum laude itu masih mengembangkan nanosilika sejak 2004. Nanosilika ini sudah dipatenkan di Indonesia atas namanya pada Juli 2006. “Nanosilika bila dicampur dengan adonan semen dapat memperkuat beton dua kali lipat.”

Ia juga telah mematenkan alat peraga nano-edu pada Juni 2006. Jepang sudah membelinya 300 unit. Selain meneliti, Nurul dan kawan-kawan di komunitas Masyarakat Nano Indonesia membuka Bamboo Futsal, lapangan futsal di Jalan Raya Serpong, tak jauh dari kantornya. Malam itu Nurul dan istrinya mengajak mencicipi bakso di Resto Bamboo.

“Di sini kadang ide mengalir. Kami berdiskusi. Seusai main futsal, lalu makan bersama,” kata Nurul, yang melengkapi lapangan indoor itu dengan kedai makanan, seperti sate dan bakso semut Singosari racikan adiknya dari Malang, serta kedai minuman.

Nurul enggan menyebutkan omzet lapangan futsal itu dan berapa dana yang mengalir untuk bisnis teknologi nano. “Memang ada sebagian dari sini (usaha futsal) untuk pengembangan bisnis inkubasi nano partikel.”

Prestasi Nurul rupanya dilirik oleh Arab Saudi. Melalui surat, Raja Arab Saudi menawarinya bekerja mengembangkan teknologi nano di negeri kaya minyak itu. “Gajinya Rp 45 juta setiap bulan, tapi saya masih cinta Indonesia.”

Peneliti di bidang biomolekuler, Arief Budi Witarto, juga bekerja di ruangan sempit. Dalam tujuh tahun terakhir, ia berkutat di ruangan 4 x 5 meter di samping rumahnya di Kampung Sugutama, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat.

Sejumlah peralatan, seperti tabung ukur, tabung nitrogen, mikroskop, bahkan sebuah lemari es dua pintu untuk menyimpan bahan penelitian, menyesaki ruangan. Di dinding ruangan tergantung berbagai penghargaan, baik dari dalam maupun luar negeri. Sejumlah kliping wawancara Arief dengan sejumlah media tampak berebut tempat dengan alat-alat penelitian.

Tak ada alat penyejuk ruangan. Untuk menghindari terpaan sinar matahari, bagian depan bangunan ditutup dengan kerai bambu. Karena keterbatasan fasilitas, ia kerap harus menyewa laboratorium untuk penelitian karena ada bagian dari penelitian yang mesti memanfaatkan reaktor nuklir.

Arief belajar bioteknologi dari S-1 hingga S-3 di jurusan bioteknologi, Fakultas Teknik, Tokyo University of Agriculture and Technology, Tokyo, Jepang, pada 1991-2000.

Selama kuliah di Jepang, indeks prestasi kumulatifnya (IPK) memuaskan, yakni 3,54 (S-1), 3,89 (S-2), dan 4,00 (S-3). Dengan prestasi akademiknya itu, ia mendapatkan beasiswa dari berbagai lembaga, yakni Kementerian Riset dan Teknologi (S-1), Iwaki Glass Jepang (S-2), serta Ultizyme International Jepang dan Menteri Riset dan Teknologi (S-3).

Setelah lulus S-3 pada 2000, Arief menjadi research associate di School of Materials Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Ishikawa. Namun, ia memutuskan pulang karena ingin mengembangkan ilmu bioteknologi-rekayasa protein yang masih sangat jarang di Indonesia pada 2002. Ia memilih bekerja di LIPI.

Selama di Indonesia, pria kelahiran Lahat, Sumatera Utara, 12 Mei 1971, itu sempat menjadi peneliti tamu di perusahaan bioteknologi enzim, Ultizyme International, Tokyo, pada 2004. Tiga tahun kemudian, ia menjadi peneliti tamu di Fraunhofer Institute for Molecular Biology and Applied Ecology, Aachen, Jerman.

Dengan latar belakang pendidikan dan profesi cemerlang, ia menggaet sejumlah penghargaan, di antaranya Peneliti Muda Indonesia Terbaik Bidang Ilmu Pengetahuan, Teknik, dan Rekayasa dari LIPI (2002); Satya Lencana Karya Satya 10 Tahun dari Presiden RI (2003); dan Technopreneur Award dari Fraunhofer Society dan German Academic Exchange Service, Jerman (2007). “Hadiah dari penghargaan-penghargaan itu saya tabung untuk mendanai riset sekarang,” kata Arief, yang tak menyesal pulang kampung.

Di Indonesia, Arief bisa melakukan penelitian sendiri. Obyek penelitian melimpah. Sayangnya, orang Indonesia kurang menghargai keahlian seseorang. Menurut dia, prestasi internasional tak menjamin seseorang bisa mendapatkan dana penelitian sehingga tak mendorong peneliti berprestasi yang sebenarnya. “Sering kali dana penelitian diberikan karena faktor kedekatan dengan penilai.”

Untuk mendanai risetnya, ia membantu penelitian di perguruan tinggi, menjadi konsultan pendidikan dan penelitian di perguruan tinggi serta lembaga penelitian. “Jadi tidak ada perasaan gengsi,” kata Arief, yang ingin kembali ke Jepang untuk menyegarkan pengetahuan dan keahlian terbaru.

Pada 2002-2007, Arief meneliti molecular farming produksi protein rekombinan untuk farmasi, terutama tembakau dan tanaman kantong semar. Selama periode ini, ia mendapatkan dana penelitian dari pemerintah lewat LIPI dan Menteri Riset dan Teknologi.

Sejak 2007, ia meneliti nano-bioteknologi pada virus demam berdarah untuk pengembangan vaksin dan obat demam berdarah. Salah satu penelitian didanai perusahaan bioteknologi Australia dan sudah dipresentasikan di Brisbane, Australia.

Ia melanjutkan penelitian itu dengan mengajukan proposal ke LIPI dan Menteri Riset dan Teknologi, tapi ditolak. Ia pun mendanai riset dari kocek sendiri dibantu fasilitas dan peneliti dari Litbang Departemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Batan. “Alhamdulillah, bulan Agustus 2009 ini hasilnya mendapat perhatian dunia dan diundang untuk presentasi di Sydney, Australia.”

Tak mudah bagi Arief untuk menjalankan risetnya. Karena keterbatasan dukungan fasilitas laboratorium, ia melakukan penelitian di tempat lain dengan meninggalkan jam kerja. “Terancam sanksi disiplin kehadiran fisik di kantor yang minim, walaupun hasil penelitian tetap dipublikasikan dengan nama LIPI. Dilakukan di luar kantor karena di dalam kantor tidak ada pekerjaan. (Proposal) dana ditolak,” kata Arief, yang sangat yakin Indonesia memiliki potensi besar di bidang biomolekuler.

Dibanding ruangan Arief, ruang tempat Gunawan Setyo Prabowo–seorang peneliti satelit–lebih representatif. Bangunan berlantai dua di lingkungan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) di Jalan Cagak Satelit, Rancabungur, Kabupaten Bogor, itu terdiri atas empat ruangan. “Yang ini ruang steril, harus bebas dari debu,” kata Gunawan menunjukkan salah satu ruangan di lantai dua.

Setiap ruangan rata-rata berukuran 6 x 7 meter. Sejumlah penghargaan dan poster desain satelit yang tengah dirakitnya menghiasi dinding ruangan laboratorium.

Master dalam bidang teknik elektro dari Universitas Indonesia pada 2002 itu juga harus menghadapi kendala dalam penelitian, seperti sumber daya manusia Indonesia belum siap bekerja dengan sistem yang baik serta lemahnya dukungan infrastruktur. “Metode, peralatan, penghargaan yang kurang, koordinasi, dan banyak hal,” kata pria yang menyelesaikan S-1 jurusan fisika di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, itu.

Untuk menekan biaya riset, pria kelahiran Wonosobo, 24 Juli 1967, ini bersama timnya mencoba membuat alat sendiri, tapi belum pernah diuji terbang. “Dengan melakukan proses produksi sendiri, biaya menjadi sangat murah,” kata Gunawan, yang menjabat Kepala Bidang Instrumentasi Wahana Dirgantara Lapan sejak April 2009.

* Dinukil dari Harian Koran Tempo Edisi 16 Agustus 2009, “Mendanai Riset dari Kerja Serabutan”

Inilah Komunitas Buku di Facebook

Banyak cara untuk kumpul-kumpul membahas buku dari segala penjuru. Salah satunya gabung dalam komunitas buku. Maraknya pengguna peramban bernama facebook dijadikan ajang untuk berbagi pengalaman dalam membaca buku. Berikut ini adalah daftar komunitas buku di Facebook (NB. Mohon pembaca menambahkan jika ada komunitas yang terlewatkan dalam daftar). 

Aliansi Penulis Cyber Indonesia (Al-Peci) | al-peci@yahoo.co.id | Mangunreja, Sukaraja KM 1.2, Tasikmalaya, Jawa Barat

Baca Buku [http://www.bacabuku.org]

Balai Bacaan Srigunting

Buku Gaya Hidup

Dunia Menulis [tulisan.kita@yahoo.co.id]

Duniabuku [http://www.duniabuku.net | Sewon, Bantul]

ESOK – Emperan Sastra COK(Cepetan Ojo Keri!!) | emperansastracok@yahoo.com | Web: http://www.emperansastracok.multiply.com | Surabaya

Forum Indonesia Membaca [Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Kota, Jakarta]

Forum Lingkar Pena [http://forumlingkarpena.net/ | Rumah Cahaya, Jl. Keadilan Raya No. 13 Depok, Indonesia]

Goodreads Indonesia [http://www.goodreads.com/]

Indonesia Buku [www.indonesiabuku.com | Jl Patehan Wetan 3, KM 0.0, Kec. Kraton, Alun-Alun Selatan D.I. Yogyakarta Telp 0274-372 690]

Islamic Book Fair (IBF) [http://www.islamic-bookfair.com | Jl. Mustika, Jakarta, Indonesia]

Kafe Baca Biblioholic [http://cafebacabiblioholic.blogspot.com/ | Jl. Perintis Kemerdekaan KM 9 No. 76, Makassar]

Kick Andy Group [http://kickandy.com | Metro TV | Jl. Pilar Mas Raya Kav.A-D, Kompl Delta Kedoya, Jakarta]

Komik Indonesia

Komunitas Penulis Pancoran | pojokpancoran@rocketmail.com | JL. Sarinah I No. 12A Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan

Kutu Buku Gila [http://kubugil.multiply.com/]

Kumpulan Penggemar Buku

Kutubuku Community [http://kutubuku.info | LSM KUTUBUKU | Padalarang, Jawa Barat]

Library@senayan [Depdiknas RI Gedung A Lt. 1, Jl. Jend. Sudirman, Senayan]

Menulis Kreatif [http://menuliskreatif.co.cc | Jl. Brigjen Saptaji Hadiprawira, Cilendek Barat, Bogor]

Pecinta Buku [http://khatulistiwa.net/ Jl. Matraman Raya 66 Jakarta]

PenulisLepas [http://www.penulislepas.com/ | Jakarta Timur]

Perpustakaan dan Pustakawan [Jl Prof Sudharto Tembalang, Semarang]

Rumah Baca Jalapustaka

Satu Buku Untuk Sejuta Senyuman Anak Indonesia

Saya Ingin Menerbitkan Buku!  [http://www.menerbitkanbukuitugampang.com | Cilangkap, Jakarta]

Sekolah-Menulis Online [http://www.SekolahMenulisOnline.com/ | Jl. Duren Tiga Raya No. 16, Lt. 3, Jakarta, Indonesia]

Taman Baca De Lima

Tintin Indonesia [tintin_id@yahoogroups.com]

World Book Day Indonesia [http://www.worldbookdayindonesia.blogspot.com | Museum Mandiri Lt. 1 Jl. Lapangan Stasiun No. 1 Kota, Jakarta]

Mesin Ketik

Dari sekolah menengah hingga semester satu universitas saya akrab dengan mesin ketik. Itu pun tak pernah bisa mengetik sepuluh jari. Di pelajaran akuntansi sewaktu SMP pernah ada pelajaran mengetik cepat dengan mesin ketik yang berakhir tragis: ujian cuma dapat nilai 5.

Keakraban itu pun bukan karena mengarang, tapi menulis surat undangan untuk organisasi. Sesekali nulis catatan harian. Cuma sampai di situ saja.

Tak ada hebatnya. Karena saat yang sama komputer mulai merasuki dunia tulis-menulis. Hingga kemudian saya sadar bahwa mesin ketik adalah style bagi sebagian orang. Ia menjadi alat untuk menentukan siapa diri. Bahkan untuk style itu, tak jarang mesin ketik itu dijinjing ke mana-mana. Mungkin ingin memberitahu: hei, lihat, saya penulis.

Demikian itu saya dapatkan di film “Ask The Dust” saat Arturo Bandini (Colin Farell) mencari sebuah motel untuk menulis novel dengan mesin ketik dikepit. Setiap ia dapat ide, ia akan melompat jendela dan mendarat di mesin ketik kesayangannya. Sama juga dengan Ricardo (Esai Morales) di film “The Disappearance of Garcia Lorca”. Saat pertama datang di Granada, yang terlihat adalah Ricardo yang dengan gagah menjinjing mesin ketik dan bangga memperkenalkan diri sebagai penulis cum periset.

Janet Frame, seorang yang mengidap scrizofrenia karena rendah diri yang akut, dalam film “An Angel at My Table” juga menjinjing mesin ketik dari negara ke negara lain untuk menulis novel. Bahkan yang nggak kebayang, sambil tiduran di sofa, ia memangku di pahanya mesin ketik yang berat itu. Janet mengetik. Terlihat sumringah sekali. Santai sekali. Atau terlihat pula sewaktu dia dititipkan di sebuah desa bersama seorang pengarang flamboyan, dengan santainya mereka mengetik di luar rumah berteman dengan angin yang mengipasi kertas-kertas.

Yang dramatis tentu saja adu kecepatan mengetik antara Forrester dan Jamal di film “Finding Forrester”. Adegan ketika berhadapan dengan mesin ketik dan kecepatan mengetik inilah muncul kutipan kuat dalam film itu: “Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Ya, bagi pengarang “klasik”, mesin ketik adalah alat produksinya. Dan sekaligus menjadi alamat bagi profesi. Walau tak dapat dimungkiri seorang carik desa juga akrab dari pagi hingga sore dengan mesin ketik. Di gerai motor dekat kantor juga sampai sekarang sekretarisnya masih memakai mesin ketik ini, khusus untuk melayani pengkredit motor.

Saat ini ada yang sudah bersulih “alat produksi” itu mengikuti tuntutan zaman. Tapi ada juga masih tetap bertahan. Mereka adalah golongan makhluk langka. Pramoedya Ananta Toer sampai mati hanya mengenal mesin ketik sebagai alat menulis novel dan menulis surat. Remy Silado juga sampai saat ini hanya bisa menulis kalau dengan mesin ketik. Alasan utama mereka: bunyi ketukannya itu, di waktu malam, seperti irama tembang yang tak berkesudahan.

Dan mereka yang fanatik dengan alat tulis “purba” ini, umumnya bisa menulis sepuluh jari. Asyik juga melihat mereka menggerayangi tuts tanpa melihatnya. Mata hanya tertuju pada kertas. Keterampilan itu juga yang membikin Pram mengeluarkan pernyataan: mampu mengetik 250 huruf per menit.

Munculnya keterampilan itu, barangkali, karena dulunya ada pelajaran praktik mengetik cepat. Sekarang, pelajaran itu sudah tak ada lagi. (Kan Panembahan)

Masa Depan Buku

Oleh An. Ismanto

Baru-baru ini, Google berencana menciptakan arsip digital raksasa dengan memindai jutaan buku di Amerika Serikat (AS). Raksasa internet tersebut telah mengajukan tawaran untuk membayar royalti bagi para penulis dan penerbit yang buku-bukunya akan dipindai. Penulis dan penerbit AS punya waktu untuk memikirkan tawaran tersebut hingga 4 September 2009.

Real-Gabinete-Portugues-De-Leitura-Rio-De-Janeiro-Brazil

Real-Gabinete-Portugues-De-Leitura-Rio-De-Janeiro-Brazil

Menurut juru bicara Google, proyek itu adalah salah satu bagian terpenting dalam upaya Google mengorganisasikan informasi dunia. Google didasari prinsip menjadikan informasi semakin mudah diakses oleh lebih banyak orang. Sejak awal, Google memiliki visi tentang masa depan, ketika para pelajar, peneliti, dan pencinta buku dapat memperoleh dan mengakses buku-buku di seluruh dunia secara online.

Langkah pertama dijalankan lima tahun silam, yaitu meluncurkan Google books search. Langkah awal itu meliputi pemindaian buku-buku yang tidak diterbitkan lagi, yang sebagian besar berasal dari perpustakaan dan penerbit di AS. Salah satu perpustakaan ternama yang telah bekerja sama dengan Google adalah Bodleian Library di Oxford.

Tahun lalu, sebenarnya terjadi kesepakatan yang kompleks antara Google dan Authors Guild (serikat pengarang) dan para penerbit yang menjadi anggota Association of Ame­rican Publishers. Kesepakatan itu, antara lain, menetapkan, para pengarang buku yang dipindai akan memperoleh 63 persen dari hasil penjualan buku digital dan pemasukan lain. Sementara itu, Google bakal menerima 37 persen bagian.

Namun, para penulis dan penerbit yang disasar Google tidak satu suara dalam menanggapi tawaran itu. Hanya sebagian yang menerima, sementara yang lain menolak, bahkan menentang kelanjutan proyek tersebut. Kini, baik pendukung maupun penentang berhadapan di Pengadilan Southern District, New York, AS. Pengadilan baru memberikan keputusan Oktober nanti untuk memastikan kesepakatan yang dibuat tahun lalu memang adil atau tidak. Selain itu, pengadilan bakal menyelidiki rencana Google tersebut melanggar hukum persaingan dagang (competition law) atau tidak.

Berdasar hukum class action di AS, para pengarang yang tidak ikut bertanda tangan tahun lalu tetap diwajibkan untuk menyetujui kesepakatan tersebut. Para penentang beralasan bahwa ketentuan itu memungkinkan Google untuk memonopoli secara besar-besaran buku-buku yang tak diterbitkan lagi maupun yang masih beredar. Seorang pengacara spesialis class action di Washington juga menyatakan, dengan hukum itu, para pengarang dipaksa menyetujui kesepakatan tanpa memahami implikasinya.

Google belum memberikan informasi apakah proyek tersebut juga akan dilaksanakan di Indonesia dan negara-negara lain. Namun, kita tahu bahwa proyek awal Google books search telah diterapkan di Indonesia. Kita dapat mengakses secara gratis buku-buku yang sudah dipindai Google walaupun tidak bisa membaca secara utuh.

Selama ini, jika membuka Google books search, kita mendapatkan tiga pilihan layanan (baik di google.com maupun google.co.id), yaitu all books (semua buku), limited preview and full preview, serta full preview only (tampilan utuh saja). Namun, tiga layanan tersebut tidak menampilkan konten buku secara utuh. Untuk membaca keseluruhan buku, kita tetap harus membeli melalui pemesanan di berbagai toko buku online atau secara konvensional di toko-toko buku. Walaupun demikian, sedikit maupun banyak para peselancar tentu telah dapat memetik manfaat layanan itu.

Namun, karena buku juga merupakan suatu industri, kita harus dapat memandang secara adil proyek lanjutan Google books search tersebut. Berdasar kacamata penerbit, tentu rencana Google itu merupakan sebuah terobosan yang akan menghadirkan jenis tantangan yang belum pernah ada di bidang pemasaran. Misalnya, jika disepakati bahwa persentase bagi hasil adalah 63 persen untuk penulis dan 37 persen untuk Google, di mana posisi penerbit sebagai entitas ekonomi yang mencari laba?

Sementara itu, dari sisi penulis, rencana tersebut menimbulkan situasi yang rumit. Para penulis di Indonesia belum memiliki perkumpulan penulis yang berkekuatan hukum seperti Authors Guild di AS yang mewakili kepentingan kelas penulis ketika berhadapan dengan pihak-pihak lain. Sehingga, kita sering mendapati kasus penulis harus sepenuhnya tunduk kepada penerbit tanpa memiliki daya tawar dan pembelaan yang cukup kuat dari rekan-rekan sesama profesi jika terjadi konflik.

Maka, seandainya Google memang menerapkan rencana itu di Indonesia, mungkin visi menjadikan informasi semakin mudah diakses lebih banyak orang akan terhambat oleh masalah pertama, yakni siapa yang akan diajak berunding? Tentu pihak tersebut harus memiliki legitimasi hukum dan kultural yang kuat sehingga sah ketika menyatakan diri sebagai wakil para penulis di Indonesia. Masalahnya, perkumpulan penulis yang ada sekarang merupakan perkumpulan yang bersifat peguyuban dan disatukan oleh solidaritas dan etika, bukan legal-formal yang memiliki wewenang serta hak untuk bertindak secara sah menurut hukum.

Dari sisi perusahaan penerbit, mungkin persoalannya lebih mudah karena di Indonesia telah terbentuk beberapa persatuan penerbit yang cukup solid, seperti Ikapi. Keputusan mereka tentu lebih mudah dikoordinasikan. Walaupun demikian, jika yang ditawarkan oleh Google adalah 63:37 persen seperti yang ada di AS, penerbit harus memastikan diri memang tercakup dalam skema tersebut. Pasalnya, bila kese­pa­katan hanya terjalin antara Google dan penulis, berarti fungsi penerbit yang memiliki kewajiban untuk membayar royalti penulis dan hak untuk memperoleh keuntungan dari penjualan buku diambil alih oleh Google. Jika demikian, penerbit harus tutup buku.

Yang harus diingat, pengguna internet di Indonesia semakin hari semakin meningkat dan sarana koneksi kian mudah diakses. Situasi itu tentu berpengaruh terhadap cara orang mengapresiasi dan membaca buku. Jika masa depan buku memang berupa buku digital, seperti yang diangankan oleh Google, agaknya kita memang harus mulai menyiapkan sistem industri perbukuan yang benar-benar baru.

*) An. Ismanto, bergiat sebagai penulis di MelayuOnline.com

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi Minggu, 23 Agustus 2009

Proyek Perpustakaan Maya Google Dijegal

Rencana situs pencari Google untuk membagnun sebuah perpustakaan maya mendapat perlawanan dari tiga pesaingnya dalam bisnis informasi digital.

Microsoft dan Yahoo telah menandatangi sebuah kesepakatan bisnis atau proyek bernama Open Book Alliance untuk memprotes kesepakatan hukum yang memberi hak utama bagi Google untuk mereproduksi buku ke dalam format digital dan membangun perpustakaan digital raksasa. Sedangkan Amazon masih menolak berkomentar karena aliansi itu menurut Amazon belum resmi dipublikasikan.

Salah satu inisiator untuk menentang rencana itu Internet Archive mengatakan Google mencoba memonopoli sistem perpustakaan. Sedangkan Departemen Kehakiman Amerika Serikat dilaporkan mulai mengadakan penyelidikan anti-monopoli atas kesepakatan itu.

Google mencapai kesepakatan dengan penerbit-penerbit buku pada tahun 2008 yang memberi hak tunggal pada Google untuk mereproduksi buku itu dengan porsi pembagian hasil penjualan 70 persen untuk penulis dan 30 persen untuk google.

Internet Archive juga telah melakukan hal serupa namun akses bagi semua buku yang direproduksi oleh Internet Archive gratis.

BBC | RONALD

*) Dikronik dari Tempointeraktif 21 Agustus 2009

Buntelan Buku dari Insist

Sebelum berangkat menuju puncak Gunung Brengos, Kamis (13/8/09) lalu, i:boekoe sempat menyatroni markas penerbit insist di Jogja. Niatnya apa lagi bila bukan melakukan pemalakan buku. Maka untuk Gelaran Buku Pakis, Insist menghadiahi buntelan ini:

1. Jejak Air: Biografi Politik Nani Zulminarni (Puthut EA)

2. Memelihara Kesehatan Reproduksi Perempuan Sejak Dini (A.August Burns et al)

3. Orang-orang Malioboro (Eko Susanto)

4. Pangan: Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan

5. Sehat Saat-saat Hamil, Melahirkan, dan Menyusui.

6. Analisis Gender dan transformasi Sosial(Mansour Fakih)

7. Meniti Jalan Lain:Pengakuan Malaysia Menghadapi Krisis Ekonomi (martin Khor)

8. Amina (mohammed Umar)

9. Kupu-kupu Bersayap Gelap (Puthut EA)

10. Kesehatan Reproduksi Perempuan dan Metode KB Yang Tepat Untuk Anda

Terimakasih terhaturkan pada penerbit Insist. Semoga amalnya dicatat malaikat baik hati.

Tugas Teroris Dipenjara: Membuat Karya Tulis

Pembinaan terhadap pelaku terorisme bisa dilakukan dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan membuat karya tulis.

Menurut pemerhati teroris Mardigu WP, cara ini terbukti efektif di China ketika pemerintahnya mendoktrin soal komunisme.

“Kalau mereka dipenjara 3 tahun, mereka akan disuruh membuat karya tulis sampai tulisannya bagus dan sesuai keinginan pemerintah,” kata Mardigu saat berbincang lewat telepon, Kamis (20/8/2009).

Ia menambahkan, para terpidana tersebut tidak akan dibebaskan sebelum dinyatakan ‘lulus’. Teknik doktrin seperti ini diharapkan efektif dalam menangani pola pikir para teroris.

“Kalau sudah disuruh membuat tulisan berulang-ulang, mereka dipaksa memikirkan sebuah keindahan yang baru,” jelasnya.

Jika diterapkan di Indonesia, ia menilai harus diimbangi dengan fasilitas penunjang yang memadai. Terutama soal pemisahan penjara bagi pelaku terorisme dengan kriminal lainnya.

“Idealnya dibagi 3, penjara narkoba, penjara kriminal biasa dan teroris,” kata ahli hipnoterapis yang pernah dilibatkan dalam penanganan teroris ini.

* Diunduh dari detikcom edisi 21 Agustus 2009

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan