-->

Kronik Buku Toggle

AGENDA-Indonesia Book Fair 2009-Jakarta

Indonesia Book Fair ke 29

tempat: Assembly Hall 1,2,3, Main Lobby, Plenary Hall (Grd Flr), Jakarta Convention Centre

Waktu : 4-8 Nopember 2009, 10.00-21.00 WIB

Penyelenggara: Dyandra Promosindo

Pondok Maos Guyub

Oleh Muhamad Sulhanudin

Maos-Guyub_Taman-BacaTaman baca yang beralamat di Jalan Raya Bebengan No.221, Boja, Kendal, Jawa Tengah ini dirintis Sigit Susanto, warga asli Kendal yang saat ini tinggal di Swiss bersama istrinya. Sehari-hari yang bertindak sebagai pengelola adalah Hartono. Yang unik, meski taman baca ini ada di daerah pedesaan, buku-buku sastra dunia dari pelbagai bahasa ada di sana. Bahkan untuk koleksi buku sastra, Guyub lebih komplit dari koleksi di perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.  Ada Satanic Verses karya Salman Rushdie, karya-karya Franz Kafka dalam bahasa Jerman, Dostoyevsky, Gunter Grass, Garcia Marquez, Orhan Pamuk, dan sebagainya.

Selain seri buku sastra, tentunya juga ada jenis buku lain. Tanaman hias, Peternakan, Primbon, dan buku untuk bacaan anak-anak juga tersedia.

Dari mana saja koleksi buku di Guyub? Ada koleksi pribadi, ada dari donatur. Suatu kali, kata pengelolanya, Hartono, ada bapak-bapak sepuh bertandang ke Guyub. Awalnya dikira mau minta sumbangan. Ternyata eh ternyata, bapak yang jauh-jauh datang dari Semarang itu berniat menyumbangkan bukunya.

Guyub tak sekadar sebagai tempat baca, tapi juga beberapa kali mengadakan kegiatan apresiasi seni sastra. Seperti pada gelaran Literasi 4 Kota bulan April 2009. Ada diskusi buku, Pementasan, Dokumentasi karya anak-anak setempat, dan diselingi karoke dangdut sampai larut malam. Kegiatan itu dilakukan untuk merangsang minat baca masyarakat sekitar.

Di Guyub aktivitas membaca sebisa mungkin dibuat santai. Bisa sambil tiduran, bawa cemilan, dan bahkan kalau masih kurang pengelolanya membolehkan pembaca untuk nginap sekalian.

Tak seperti di perpustakaan umum, peminjam mengisi buku yang dipinjam sendiri. Tak ada kartu anggota. Masa waktu peminjaman fleksibel. Jaminannya moral. Kalau tidak kembali? Ya biar urusan dia sama Yang di Atas, ungkap Hartono. Makanya, Hartono menamakan taman bacanya ini dengan Perpustakaan Jujur. (Selengkapnya silakan dilihat di blog: http://pondokmaos.multiply.com)

Alamat Internet akan Bisa Gunakan Abjad Nonlatin

Abjad nonlatin akan bisa digunakan untuk alamat internet. Pasalnya, dunia internet akan melakukan perubahan terbesar dengan akan disetujuinya rencana memberlakukan alamat web menggunakan karakter nonlatin.

Badan pengatur internet, Icann, akan memutuskan apakah mengizinkan nama domain menggunakan abjad Arab, Cina, dan abjad lainnya, dalam pertemuan tahunan di Seoul.

Saat ini, setengah lebih dari 1,6 miliar penduduk yang menggunakan internet, memakai bahasa dengan abjad nonLatin.

Internationalised Domain Names (IDNs) yang pertama akan digunakan tahun depan. Rencana IDNs disetujui pertama kali dalam pertemuan Juni 2008 namun pengujian sistem telah berlangsung selama dua tahun.

Jika disetujui hari Jumat ini (30/10), Domain Name System (DNS) akan diubah sehingga dapat dikenali dan diterjemahkan ke abjad nonlatin.

DNS bertindak seperti buku telepon yang memudahkan memahami nama-nama domain ke dalam angka-angka komputer yang dikenali yang disebut alamat Internet Protocol (IP).

* Diunduh dari portal Republika Online edisi 30 Oktober 2009

Kuba Kecam Buku Saudari Castro

Media milik negara Kuba mengecam sebuah buku yang baru dipublikasikan yang mana saudara perempuan Fidel Castro mengakui ia telah melakukan kegiatan mata-mata untuk Badan Intelijen Pusat (FBI).

Media negara itu menambahkan bahwa penyingkapan tersebut membuktikan bahwa pemimpin Kuba itu adalah “korban” beberapa dasawarsa serangan AS. “Kebenaran sekarang dilihat banyak orang. Fidel Castro adalah korban, orang yang diganggu, orang yang menghadapi apa yang mereka konspirasikan,” tulis majalah La Jiribilla yang milik-pemerintah, dan mengatakan upaya tak belas kasihan untuk menyerang pemimpin Kuba itu merupakan “citarasa buruk” dan “sikap moral yang rendah”.

Dalam pengakuan cerita yang penuh ketegangan, “musuh-musuh revolusi suatu saat akan menampilkan sorotan pada kelakuan buruk mereka,” kata Periodical.

Kecaman oleh pemerintah Havana itu menyusul pengakuan oleh Juanita Castro, 76, dalam buku berbahasa-Spanyol-nya “Fidel and Raul, My Brothers. The Secret History” bahwa ia telah bekerja dengan badan mata-mata AS itu.

Dalam buku itu, yang mulai dijual pekan lalu, Juanita, anak kelima dari tujuh saudara kandung Castro, menulis bahwa ia telah membantu CIA pada 1960-an, pada waktu ketika AS merencanakan untuk membunuh saudara laki-lakinya dan mengganti rezim komunisnya.

Sekarang seorang warga Miami, Juanta Castro menulis bahwa ia telah dihubungi pada 1964 setelah ia putus hubungan dengan Fidel dan Raul, presiden Kuba sekarang ini, dan berkolaborasi dengan CIA di Kuba dan ketika ia pergi ke pengasingan, akhir tahun itu.

* Diunduh dari portal Kompascyber.com Edisi 3 November 2009

Ribuan Buku Bajakan di Pasar Senen Dirazia

Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) bekerja sama aparat Polsek Pasar Senen merazia lapak-lapak buku bajakan di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Para penjual diancam hukuman maksimal 5 tahun penjara.

“Benar, sedang kami razia bersama Polsek Pasar Senen. Mereka melanggar UU Nomor 12/2002 Tentang Hak Cipta,” kata Ketua Ikapi DKI Jakarta, Rizal (3/11/2009).

Ribuan buku bajakan tersebut umumnya buku kuliah dan buku umum. Tampak buku bajakan dari penerbit Gramedia, Bumi Aksara dan Rajawali yang dijajakan di lantai 4 Pasar Senen. Razia berlangsung sejak pukul 12.00 WIB dan masih berlangsung hingga kini.

Para pedagang mengaku pasrah ketika barang daganganya diangkut. “Kita cuma menjual. Sudah lama jualan buku beginian,” ujar salah seorang pedagang, Agus (29).

Berdasar UU Hak Kekayaan Intelektual (HaKI), para penyalur diancam hukuman 5 tahun penjara. Sedikitnya 2 orang penyalur telah diamankan di Polsek Pasar Senen berikut ribuan buku bajakan sebagai barang bukti.

* Diunduh dari portal detiknews.com edisi 3 November 2009

"Otobiografi" dan "Politik Sastra" Saut Situmorang

Dua buku karya Saut Situmorang (43) meluncur bersamaan. Di Meja Budaya Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Jumat (30/10), antologi puisi Otobiografi serta kumpulan essai Politik Sastra diluncurkan. Digelar pula diskusi mengenai dua karya tersebut dengan pembicara Asep Sambodja dan Mikael Johani, serta moderator Martin Aleida.

“Otobiografi” merupakan kumpulan puisi-puisi Saut yang ditulis dalam rentang waktu 20 tahun. Sementara “Politik Sastra” merupakan essai-essai Saut sejak tahun 2000 yang berisi ketimpangan-ketimpangan sastra kita menurut Saut.

Dosen sastra UI Asep Sambodja mengatakan, karya-karya Saut dalam “Otobiografi” sangat kental akan muatan politis. Menurut Asep, Saut menggunakan paham realisme sosialis.

“Ia membaca masyarakat, lalu dituangkan dalam puisi. Terlihat jelas ia membela orang-orang yang tertindas. Contohnya dalam kasus Aceh, ia membela korban Daerah Operasi Militer atau DOM. Lalu dalam kasus pembunuhan aktivis HAM Munir, Saut mengecam tindakan penguasa. Bahasanya lugas, mudah dipahami,” beber Asep, usai acara.

“Tapi ada juga digunakan kata-kata kotor, saya rasa ini karena Saut hendak merusak estetiknya Sapardi (Sapardi Djoko Damono, red),” imbuh Asep.

Mengenai kumpulan essainya, Mikael Johani yang aktif di Komunitas Bunga Matahari (milis sastra) mengatakan, Saut telah membongkar banyak kebohongan sastra termasuk di dalamnya bagaimana propaganda-propaganda sebuah komunitas seni budaya, proses penjurian, seleksi karya di media dan lainnya.

“Kalau saja Saut tidak mengungkapkannya, akan banyak orang yang tidak tahu bahwa ternyata penilaian karya sastra itu sangat subjektif. Oh, ternyata redaktur sastra di media-media itu orang dari komunitas yang sama. Belum lama saya juga temukan buku puisi yang isinya bagus banget, dan karya penulis itu belum pernah dimuat di media yang relatif berpengaruh,” ujar Mikael, peraih Bachelor of Arts (First-Class Honours in Classics) dari Australian NationalUniversity, Canberra.

Saut sendiri bilang, dalam essainya ia mengungkap kalau kritik-kritik sastra yang ada hanya merugikan. Kritikus mestinya mengkritik karya sesuai prosedur. Menurutnya, kritikus sekarang ini masih sebatas komentator belaka.

Diunduh dari Annida Online edisi 31 Oktober 2009

Memoar Fadli Rasyid

Oleh: Marlutfi Yoandinas

Aku dengan Maut
Disini
Di tempat sunyi ini
Hanya aku dengan maut
Ketika kutusuk tembus jantungnya
Aku yang mati

Inilah cuplikan puisi terakhir yang ditulis menjelang kematiannya. Tanggal 15 April 2009 menjadi saksi atas berakhirnya eksistensi seorang Fadli Rasyid di muka bumi ini. Di akhir umurnya yang ke 71 tahun hanya nama dan karya yang tersisa dari seorang Fadli Rasyid. Ibarat pepatah, gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama. Kini Fadli Rasyid telah pergi, meninggalkan keluarga, sanak saudara, kawan, lawan bahkan guru-gurunya.
Fadli Rasyid atau dengan sebutan Mbah Fadli mempunyai nama kecil Ahmad Rasyid. Lahir 7 Juli 1937 dan berdomisili di tempat kelahirannya Mumbulsari, Jember. Dia dibesarkan di lingkungan pedesaan yang asri dan penuh keheningan. Pendidikan yang ditempuh Mbah Fadli yaitu Sekolah Rakyat (SR) dan Sekolah Guru tingkat B di Jember.

Tahun 1958, setelah lulus dari Sekolah Guru, Mbah Fadli sempat mengajar di Sekolah Rakyat (SR) di Kecamatan Pakisan Kabupaten Bondowoso. Tepatnya tahun 1962, hasratnya untuk terjun dibidang seni budaya tak tertahankan lagi. Dia nekat melepas profesinya sebagai guru kemudian memilih merantau ke Yogyakarta dan bergabung dengan kelompok seniman dalam Komunitas Sanggar Bambu. Kemudian di tahun 1964 Mbah Fadli pindah ke Jakarta dan ikut berbagai pameran serta berbagai kegiatan seni rupa. Tahun 1970 Mbah Fadli bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Trim Suteja dan Asmara Nababan, mendirikan majalah anak-anak Kawanku. Yang pada sekira tahun 90-an berubah format menjadi majalah remaja.

Sampai pada tahun 1983 disaat umur Mbah Fadli sudah mencapai 45 tahun, dia memutuskan untuk menikah dengan Sri Utami yang pada saat itu berumur 25 tahun. Di tahun itupun, Mbah Fadli kemudian memutuskan untuk menetap di tanah kelahirannya. Hidup bertani namun masih tetap menulis dan melukis. Banyak karya-karya yang dihasilkan Mbah Fadli dibuat di rumahnya Mumbulsari, yang sekarang sudah menjadi sanggar. Mbah Fadli dikaruniai dua orang anak, Bayu Anggun Nilakandi dan Bahana Purwa Kendita. Saat ini Mbah Fadli sudah memiliki tiga orang cucu dari anaknya yang pertama.

Mbah Fadli tergolong seniman yang multitalenta. Dia mempunyai spesifikasi jenis karya seni yang beragam. Jenis karya seni yang sudah dibuat di antaranya; lukisan, novel, novel anak, cerpen, cerpen anak, cerita humor, artikel koran, naskah drama, dan puisi, kemudian patung atau monumen. Buku-buku karangan mbah Fadli diterbitkan oleh beberapa penerbit diantaranya; Dinas P&K, Yayasan Sehati, Yayasan Kawanku-Jakarta, dan lain sebagainya.

Kronologis pengalaman perjalanan hidup berkecimpung di bidang kesenian yang dilakukan Mbah Fadli diantaranya; Sejak sekira tahun 1962, bergabung dengan Sanggar Bambu Yogyakarta, pameran seni rupa keliling Jawa dan Madura. Tahun 1967, Mbah Fadli menggawangi pembuatan monumen Sasmita Loka Jakarta yang berupa patung Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal S.Parman. Sekira tahun 1970, Mbah Fadli mendirikan majalah anak-anak Kawanku bersama Thoha Mochtar, Julius Siyaranamual, Asmara Nababan dan Trim Suteja. Tahun 1972-1976, Mbah Fadli membuat monumen gerbong maut di Kabupaten Bondowoso.

Tahun 1973, mendirikan majalah humor Astaga bersama Arswendo Atmowiloto, Julius Siyaranamual dan Alex Dinuth. Tanggal 7- 11 Maret 1975, pameran tunggal lukisan di Balai Budaya Jakarta. Tahun 1978, Mbah Fadli menjadi pememang pertama Lomba penulisan Naskah Humor yang diselengarakan Lembaga Humor Indonesia bekerjasama dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Tahun 1992, pameran bersama Masyarakat Seni Rupa Jember, pameran lukisan di Beranda Seni Indigo Jakarta dan lukisan Mbah Fadli menjadi koleksi Bentara Budaya Kompas Jakarta.

Karya-karya tulisnya kebanyakan ditujukan untuk segmen anak-anak. Mbah Fadli mengakui, selain hal itu untuk tetap menyalurkan misi pendidikan (sebagai guru yang berhenti mengajar), dia juga menganggap anak-anak harus terus dimotivasi dengan karya-karya tulis seperti puisi, cerpen dan novel. Puisi dan cerita yang ditulis Mbah Fadli selalu mengusung tema lingkungan dan nasionalisme. Semuanya menggunakan tokoh anak-anak. Selain tersebar di berbagai media seperti Horizon, Kompas, Zaman, Kawanku, beberapa naskah sudah diterbitkan menjadi buku. Buku kumpulan puisi karya Mbah Fadli yang sudah diterbitkan antara lain, Musim dan Peristiwa Alam, Surat Pada Pahlawan, dan Dibawah Matahari. Sedangkan cerita atau novel anak karyanya yang sudah diterbitkan seperti Arman Anak Revolusi, Merah Putih Berkibar Kembali, Tamu yang Cerdik (cerita Jenaka/Humor). Ada juga cerita bertema pelestarian lingkungan dan benda sejarah seperti Lepas Ke samudera Luas, Melacak jejak Harimau Jawa, Gerhana Diatas Baluran dan Merebut Dewi Rengganis.

Karya-karya Mbah Fadli banyak digarap dan dihasilkan selama dia berada di Desa Mumbulsari. Beberapa karyanya juga begitu dekat dengan keseharian hidupnya. Ia menghirup denyut kehidupan pedesaan. Melukiskan pesona semesta dengan alamnya yang perawan. Menjadikan semua itu sebagai bagian dari proses kreatifnya.

Dunia seni adalah nafas baginya. Dia suka berpetualang, tidak hanya dalam imajimasi, secara fisikpun dia lakukan. Dimasa tuanya Mbah Fadli mempunyai cita-cita untuk memberikan sumbangsih dengan karya-karyanya untuk Jember. Dua diantaranya yaitu, membuat sanggar seni dan Monumen Moh. Seruji. Sanggar seninya, berhasil dia resmikan pada 22 Februari 2009 dengan nama “Sanggar Fosil”.

Tempat yang digunakan untuk sanggarnya adalah rumah lama di desa Mumbulsari. Namun, untuk pembuatan Monumen Seruji tidak sampai terealisasi. Bukan karena tak ada usaha dari Mbah Fadli tapi memang karena tak ada dukungan dari pemerintah Kabupaten Jember. Dalam pandangan Mbah Fadli Monumen Seruji perlu dibuat untuk mengenang pahlawan Jember sebagai pengenalan sejarah bagi generasi muda. Sekaligus sebagai gerakan melawan lupa akan arti perjuangan para pahlawan kemerdekaan Indonesia.

Begitulah sosok Mbah Fadli yang sudah malang melintang di dunia seni budaya. Seorang seniman yang mempunyai tanggung jawab, kepedulian dan kepekaan atas realitas kehidupan. Salah satu pernyataan yang ditulis Bambang Bujono tentang Mbah Fadli yaitu: Rasyid suka mengaku dia hanya “petani” biasa. Saya kira kunci untuk memahami Rasyid memang itu: petani. Ia akan menanami lahannya sesuai “musim”, suatu ketika menulis cerita pendek, di ketika lain, melukis dengan cat minyak, dan di ketika lain pula ia membuat garis-garis hitam pada kertas putih, disamping benar-benar menanam padi di sebidang tanahnya di Mumbulsari Jember.

Mbah Fadli juga sering menekankan upaya-upaya untuk memajukan kebudayaan lokal Jember dalam semangat otonomi daerah. Tujuan lebih lanjut yang dia harapkan adalah lahirnya kepedulian terhadap kebudayaan dan kesenian lokal Jember.

Tingkatan idealnya, kebudayaan lokal bisa bertahan dan tetap memberikan warnanya dalam kehidupan masyarakat di daerah serta tidak tergerus oleh serbuan budaya luar.
Dalam pandangan Mbah Fadli, nilai-nilai luhur yang terdapat dalam kebudayaan lokal dapat dijadikan sebagai penyeimbang dari terpaan arus modernisasi, teknologi informasi dan globalisasi.

Karena di masa mendatang intensitas dinamika budaya akan semakin banyak mewarnai kehidupan masyarakat. Derasnya arus informasi yang menerpa masyarakat dengan sendirinya akan memberikan pengaruh terhadap perubahan pola pikir dan sikap mereka. Budaya lokal dengan nilai-nilai luhur yang telah dianut, diyakini, dan menyatu dalam kepribadian masyarakat dapat menjadi filter atas desakan budaya luar. Sebagai konsekuensi logis untuk menghadapi kemajuan zaman.

Mbah Fadli kini telah pergi menggapai penciptaNya. Sesuai dengan kodrat yang memang dia sadari akan kehadirannya. Bagaimanapun Mumbulsari dan Jember pada umumnya akan terus bergeliat dari generasi ke generasi. Inilah titipan sekaligus contoh sebuah perjalanan hidup Mbah Fadli. Sekarang tongkat estafet telah beralih ke tangan generasi penerusnya. Akankah dinamika kesenian dan kebudayaan Jember akan mengalami perubahan yang lebih baik? Tentu sang pemegang tongkat itulah yang akan banyak menjelaskan.

Fadli Rasyid sebagai tokoh kesenian dan kebudayaan hanyalah manusia biasa yang lapuk dimakan ruang dan waktu. Tapi mudah-mudahan semangat berkarya dan cita-citanya bisa meresap ke setiap ubun-ubun kesadaran kita semua. Mbah Fadli selamat jalan, pasrahkan atas apa yang telah engkau tinggalkan.

Marlutfi Yoandinas
Kelompok Apresiasi Seni dan Budaya “Rumah Kata” Jember

Diunduh dari Oase Kompas Online edisi 31 Oktober 2009

Novel Leksikon Kamus Khazar

15163_166841319730_736144730_2606101_3545373_aHERNADI TANZIL:

Ingin mencoba menikmati pengalaman baru dalam membaca sebuah novel ? Silahkan mencobanya dengan membaca novel leksikon Kamus Khazar karya Milorad Pavic, profesor sejarah kesusasteraan Universitas Beograd dan salah satu penyair kenamaan Yugoslavia. Walau buku ini diberi judul “Kamus Khazar” (Dictionary of The Khazars) namun ini adalah novel. Tepatnya novel berbentuk kamus atau mungkin lebih tepatnya novel berbentuk ensiklopedia. Nah bagaimana mungkin?

Inilah keunikan buku ini, walau berbentuk seperti ensiklopedia namun ini bukanlah buku yang dapat dijadikan buku referensi karena ini adalah sebuah karya fiksi yang mencampuradukkan sejarah, budaya, dongeng, mimpi dan imajinasi penulisnya tentang sebuah bangsa yang bernama bangsa Khazar.

Bangsa Khazar sendiri pada kenyataannya memang pernah ada. Sejarah mencatat bahwa pada puncak kejayaannya mereka menguasai sebagian besar dari wilayah Rusia selatan sekarang, Kazakhstan barat, Ukraina timur, dan sebagian besar Kaukasus (termasuk Dagestan, Azerbaijan, Georgia, dll.) Bangsa Khazar memasuki catatan sejarah ketika mereka memerangi bangsa Arab dan berrsekutu dengan Kekaisaran Bizentium pada 627 M.

Walau Bangsa Khazar pernah menguasai sebagian besar wilayah Rusia sekarang dan pernah memerangi bangsa Arab namun ironisnya hingga kini sedikit sekali yang dapat kita ketahui tentang bangsa ini, seluruh jejak mereka musnah, tidak menyisakan apa pun yang bisa dipakai untuk mengetahui asal-usul bangsa ini. Konon bangsa Khazar lenyap dari panggung sejarah setelah mereka mengalami peristiwa yang akan menjadi bahasan utama buku ini.

Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah ‘Polemik Khazar’ . Sebuah peristiwa besar ketika bangsa Khazar hendak melakukan perpindahan keyakinan dari keyakinan asli mereka ke salah satu dari tiga agama yang telah dikenal pada masa itu yaitu Yahudi, Islam, dan Kristen. Keruntuhan Imperium Khazar terjadi tidak lama setelah perpindahan agama itu saat Kekaisaran Rusia menghancur leburkan bangsa ini (965 – 970 M).

Tidak hanya bangsa ini yang lenyap, tapi kebudayaan, tulisan, dan artefak-artefak budaya merekapun hancur, nyaris lenyap dan hanya menyisakan sedikit bahan yang sangat sulit untuk dijadikan acuan untuk mempelajari kebudayaan Bangsa yang telah punah ini.

Namun minimnya bahan yang bisa diperoleh mengenai bangsa Khazar rupanya tak menyurutkan Milorad Pavic untuk membuat novel mengenai bangsa ini. Hal ini malah memberinya ruang imajinasi yang tanpa batas untuk mengisahkan bangsa Khazar menurut versinya. Dalam hal ini Pavic secara sastrawi mencoba menjajaki dan menyingkap Polemik Khazar ke dalam novelnya secara menarik dan tidak biasa, yaitu dengan cara penyajian layaknya sebuah ensiklopedi.

Dari mana Pavic memperoleh idenya ini? dalam catatan pendahuluannya yang terdapat dalam novel ini, ia mengungkapkan bahwa novelnya ini adalah rekonstruksi ulang dari edisi orisinal kamus Khazar karya Daubmannus yang terbit pada tahun 1691 dan dimusnahkan secara barbar pada tahun 1692 karena dianggap sebagai buku sesat. Untungnya masih ada halaman-halaman atau fragmen-fragmen yang tersisa dari kamus edisi orisinalnya. Berdasarkan lembar-lembar yang tersisa inilah Pavic mencoba merekonstruksi seperti apa kira-kira wujud dan isi dari kamus yang telah lenyap itu.

Sama dengan edisi Daubmannus 1691, Pavic menyajikan bukunya ini dalam tiga bagian utama berdasarkan tiga sudut pandang agama yang saling merebut simpatik penguasa Khazar agar memilih agamanya. Pembagian bab buku ini masing-masing diistilahkan sebagai ‘buku’ , yaitu Buku Merah (perspektif Kristen), Buku Hijau (perspektif Islam), dan Buku Kuning (perspektif Yahudi) yang masing-masingnya memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar beserta polemiknya.

Karena setiap bagian disajikan menggunakan sudut pandangnya masing-masing maka tentunya akan ada beberapa bagian yang saling bertentangan, namun ada juga yang memiliki persamaan, atau saling melengkapi satu bagian dengan bagian lainnya.

Tidak hanya polemik Khazar yang dibahas dalam buku ini namun ada berbagai lema lainnya mengenai bangsa Khazar seperti dongeng, anekdot, sejarah, sejarah kamus Khazar karya Daubmannus, dll, bahkan kisah tentang para peneliti bangsa Khazar di masa kini pun ikut mewarnai buku ini.

Dengan gaya penyajian novel seperti halnya sebuah kamus/ensiklopedia yang terususun berdasarkan alfabetikal maka jangan harap kita akan mendapatkan gambaran dan sejarah mengenai bangsa khazar secara kronologis. Akibatnya jika novel ini dibaca secara berurutan dari halaman pertama hingga terakhir, maka pembaca akan dibawa terlempar bolak-balik dari satu masa ke masa lainnya.

Bukan hal yang mudah memang untuk membaca novel ini. Pembaca yang tidak sabaran dan tidak telaten kemungkinan akan menyerah dan mogok di tengah jalan sebelum menamatkannya. Untungnya di awal buku ini, penulis memberikan pendahuluan yang berisi sejarah bangsa Khazar beserta polemiknya secara runut sehingga walau pembaca menyerah di tengah jalan, setidaknya ia bisa memperoleh gambaran umum mengenai bangsa Khazar dan polemiknya.

Seperti halnya ketika kita membaca sebuah ensiklopedia, tentunya kita tak harus membaca buku ini secara berurutan dari halaman pertama hingga akhir. Kita bisa membacanya dari mana saja. Bisa saja kita membacanya berdasarkan lema-lema yang kita sukai atau topic yang ingin kita ketahui. Karena ada tiga bagian yang mungkin akan memiliki lema yang sama, rasanya akan lebih mengasyikan jika kita memilih sat

Aksara Jawa Telah Diakui Dunia

Sejak 2 Oktober 2009, dunia telah mengakui Aksara Jawa (hanacaraka), sehingga aksara Jawa kini dapat dipakai untuk komputer seperti aksara Latin, China, Arab, Jepang, dan sebagainya. “Aksara Jawa sudah diakui UNICODE (lembaga dalam naungan UNESCO yang menangani standar kode aksara pada komputer di dunia),” kata Redaktur Pelaksana (Redpel) Majalah Berbahasa Jawa ‘Panyebar Semangat’ Aryo Tumoro kepada ANTARA di Surabaya, Senin (2/11).

Ia mengatakan, aksara Jawa itu didaftarkan Ki Demang Sokowaten (Yogyakarta) pada 9 September 2007, dan diakui UNICODE mulai 2 Oktober 2009 atau bersamaan pengakuan UNESCO terhadap Batik. “Dengan pengakuan itu, kita dapat meminta kepada ‘programer’ komputer untuk memasukkan aksara Jawa ke dalam ‘font’ pada komputer kita,” katanya ketika ditemui di kantor ‘Panyebar Semangat’ di Jln. Bubutan 97, Surabaya.

Selain pengusulan aksara Jawa, katanya, Ki Demang Sokowaten juga meluncurkan situs/laman di dunia maya sejak 6 Januari 2006 dengan alamat: Ki-Demang.com. “Situs berbahasa Jawa itu berisi penanggalan Jawa, Macapat, Gamelan, Pakeliran, Piwulang Kautaman, hingga Kuliner Masakan Jawa,” ujarnya mengungkapkan.

Bahkan, katanya, Ki Demang juga menyelipkan Cerita Cekak Jawa (cerita pendek berbahasa Jawa), bahkan ada juga “fitur” tentang tata cara menentukan karakter menurut “Weton”. “Yang jelas, laman itu membantu ‘nguri-nguri’ (melestarikan) Bahasa Jawa yang penuturnya juga makin menyusut. Ki Demang melakukan terobosan yang cerdas,” katanya.

* Diunduh dari portal Republika Online 2 November 2009

Buku yang Membakar

LELY SHOFA IMAMA:

”Di mana buku dibakar, di sana pula manusia -pada akhirnya– dibakar.”

Heinrich Heine (1797-1856)

Kutipan dari penyair Jerman di atas menyematkan kekhawatiran sekaligus kengerian dalam benak kita karena aksi pembakaran buku bukan hal yang asing di negeri ini. Lebih parah lagi, hampir semua kasus pembakaran buku terkait dengan penulisan sejarah.

Pada 2007, sejumlah buku sejarah pernah dibakar. Meski dilandasi Surat Keputusan Kejaksaan Agung Nomor 019/A-JA/10/2007, aksi pembakaran buku kurikulum sejarah saat itu jelas tak bisa dibenarkan. Sebagian besar masyarakat berontak menentang tindakan vandalisme tak hormat terhadap buku tersebut. Mewakili rasa cinta dan peduli terhadap buku, para penulis yang tergabung dalam Masyarakat Pencinta Buku dan Demokrasi mengecam tindakan pembakaran itu.

Beberapa saat lalu, aksi pembakaran terulang. Disulut tulisan bersambung tiga seri Dahlan Iskan di harian ini (14-16 Agustus 2009), Front Antikomunis (FAK) berdemonstrasi dan membakar buku karya Soemarsono, Revolusi Agustus. FAK beranggapan bahwa tulisan Dahlan berpotensi memanipulasi sejarah dengan menjadikan Soemarsono seakan pahlawan. Terlepas dari itu, tentu saja aksi bakar buku yang dilakukan FAK tak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun.

Siapa pun tahu, buku adalah penanda sejarah. Dia merupakan prasasti tertulis yang tak tergantikan dalam arus budaya dan alur ilmu pengetahuan manusia. Buku adalah tali sambung peradaban yang terlewat dengan peradaban mendatang. Tak dapat dimungkiri, penemuan mesin cetak telah menjadi awal revolusi yang mempercepat transformasi pengetahuan manusia lewat buku. Johann Gutenberg (1400-1468) adalah orang yang paling berjasa dalam hal ini. Setelah keberhasilannya menciptakan mesin cetak yang efektif dan produktif, ilmu pengetahuan semakin mudah disalurkan dan dikodifikasi. Pengetahuan tertulis (written knowledge) dengan cepat menggantikan posisi dan melampaui peran pengetahuan terucap (spoken knowledge). Dalam budaya ucap dan tutur -yang secara turun-temurun menjadi media transformasi-, ilmu pengetahuan rentan terlupa karena memori manusia sangat terbatas. Tapi, buku membuat ilmu pengetahuan semakin terjaga dan lestari.

Buku, dalam peribahasa Arab, disimbolkan sebagai tali pengikat: ia mengumpulkan dan menyatukan ilmu pengetahuan yang berserak dan terdapat di mana-mana. Buku menjadi kendali -dan bukan kendala- atas laju pengetahuan yang semakin hari semakin cepat. Kehadirannya mengisi ruang kosong yang pernah berabad-abad hanya diisi penuturan verbal (oral transformation) antara orang tua-anak, kakek-cucu, atau generasi ke generasi. Meski demikian, buku bukanlah tongkat Musa yang memancarkan kedigdayaan dengan sendirinya. Buku tak lebih dari sekadar media. Nalar dan logika manusialah yang menjadi pemeran utamanya. Karena logika manusia tidak tunggal, keragaman tafsir dan perbedaan paham menjadi sesuatu yang niscaya dalam membaca sebuah buku.

Perbedaan tafsir terhadap sebuah buku tak seharusnya disikapi dengan aksi pemusnahan, apalagi pembakaran. Kebenaran bukanlah materi yang akan sirna ketika sebuah buku dimusnahkan. Ilmu pengetahuan adalah darah yang mengalir dan akan terus mengalir dalam tubuh para pencinta dan pembaca buku. Dari kacamata marketing, membakar buku adalah iklan gratis terhadap buku tersebut. Saat FAK membakar buku Revolusi Agustus, secara tidak sadar mereka sedang mengiklankan sebuah tafsir sejarah yang berbeda dengan sejarahmainstream yang mereka anggap benar. Curiosity (keingintahuan) dan simpati akan muncul atas sesuatu yang dimusuhi, ditepikan, dan dihindari, termasuk buku.

Tidak ada paradigma ilmu pengetahuan yang tak berubah. Semuanya berevolusi. Ilmu pengetahuan terus-menerus berkembang sejalan usia kehidupan manusia yang tak pernah berhenti. Sesuatu yang dihujat di satu masa mungkin akan dipuja di masa selanjutnya; sesuatu yang dipuja di suatu waktu tidak menutup kemungkinan akan dihujat di waktu lain. Buku menjadi salah satu, jika bukan yang utama, media yang mengarsipkan mozaik perkembangan dan keragaman ilmu pengetahuan.

Perbedaan tafsir dan pemahaman tidak seharusnya diekspresikan dengan cara-cara vandalistis. Membakar buku -apalagi karena didorong oleh kebencian dan fanatisme- sama dengan memusuhi ilmu pengetahuan yang sangat beragam dan multitafsir. Dialektika buku adalah cara terbaik untuk merespons polemik. Maksudnya, sebuah klaim yang disuguhkan melalui buku sejatinya dikonter melalui buku: tesis harus ditanggapi dengan antitesis, untuk melahirkan sintesis. Aksi membakar buku dapat menyumbat saluran dialektika buku. Itu berarti sebuah ancaman atas kebebasan bereskpresi dan ilmu pengetahuan.

Jean Gustave Courbet (1819-1877) melukiskan vandalisme sebagai aksi perusakan (destruction) terhadap sebuah monumen. Menurut dia, vandalisme adalah tindak kejahatan. Karena buku adalah monumen suci yang melestarikan ilmu pengetahuan dan mencatat kronik peradaban manusia, pembakaran terhadapnya bisa dianggap sebagai kejahatan, sebuah tragedi. Membakar buku adalah tindakan melecehkan proses berkreasi. Kita tahu, sebuah buku adalah muara dari serangkaian proses yang tidak mudah: pencarian data, perenungan, penganalisisan, pengendapan, penulisan, hingga percetakan.

Sekali lagi, buku adalah penanda sejarah, tindakan apa pun yang dapat merusak kelestarian buku tak dibenarkan. Selain harus menyelamatkan buku dari kerusakan akibat bencana alam, seperti banjir, kita juga mesti merawatnya dari kecerobohan dan aksi vandalisme manusia. Kini bukan saatnya ramai-ramai membakar buku, tapi mari bersama-sama menulis buku yang membakar! (*)

*) Lely Shofa Imama, penikmat buku, mahasiswi pascasarjana Universitas Islam Indonesia Jogjakarta

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan