Jurnal Pekan Ketiga Langit Gemintang

Minggu ketiga di Radio Buku diisi dengan kegiatan mendigitilalisasi arsip majalah dan melakukan praktek podcast dengan membacakan cerpen atau esai di studio.

Saya mengambil jadwal hari Kamis dan Jumat karena motor saya masih harus diinapkan untuk diservis di awal minggu tersebut. 

Saya memulai kegiatan pada hari kamis dengan mengarsip terlebih dahulu. Majalah yang akan saya scan adalah majalah Amanah tahun 1994. Majalah itu saya dapatkan setelah mencari-cari tema yang cocok dari beragam majalah yang tersisa. Majalah Amanah berisi berita-berita Islam. Hal yang saya garisbawahi dari majalah tersebut adalah framing-nya terhadap Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang sangat kontra dan membenarkan diskriminasi. LDII – seperti persepsi masyarakat kita sekarang – dianggap sesat dan banyak organisasi-organisasi Islam lainnya di Indonesia pada waktu itu yang berusaha menangkal pengaruhnya. Pemberitaan tentang LDII memiliki banyak porsi di majalah Amanah. Di sisi lain, majalah ini banyak meliput tentang fenomena haji yang dibayangi pungli beserta tips agar aman ketika berada di tanah suci.

Saya merasakan melakukan scanning untuk mendigitalisasi arsip merupakan sebuah usaha yang baik untuk mempertahankan sumber-sumber pengetahuan dari risiko kerusakan fisik yang tak terelakkan, seperti dimakan rayap atau rapuh karena waktu. Pun kita harus tetap sadar bahwa scanning digital memiliki risiko yang entah bakal terjadi di masa depan atau tidak, salah satunya adalah kehancuran peradaban ini di mana arsip digital tak bisa ditemukan lagi oleh masyarakat pasca apokalips. Tentu itu adalah sebuah dugaan yang muluk dan sangat imajinatif, tapi barangkali ia bisa saja terjadi, bukan?

Selain mengarsip saya pun harus membuat kronik dari majalah yang saya scan. Kronik yang saya bikin bertemakan Islam. Banyak peristiwa yang bisa saya kronikkan di majalah tersebut, tetapi sayang sekali majalah tidak memberikan keterangan tanggal maupun bulan pada peristiwa penting yang mereka liput sehingga semuanya saya tulis sesuai dengan kapan media tersebut menerbitkan laporan tersebut. Kata Mas Berril, biasanya majalah tidak profesional lah yang memiliki model peliputan demikian. Bahkan teman-teman tidak ada yang tahu soal majalah Amanah.

Pada hari jumat saya menghabiskan waktu untuk menyelesaikan scanning sekalian melakukan rekaman uji coba podcast. Saya memilih cerpen Kandang Babi karya Eka Kurniawan untuk saya bacakan di dalam studio. Saya harus mengulang beberapa take karena saya mengalami salah baca. Pertama, karena saya bukan pembaca vokal yang baik dan masih terus belajar. Kedua, karena kalimat yang dibikin Eka panjang-panjang sehingga sulit menyelesaikannya dalam satu tarikan napas. Saya tidak menyelesaikan cerpen tersebut karena saya menyadari ada teman yang sedang menunggu dan saya harus lekas melakukan proses editing bersama Mas Ageng untuk esai yang saya ajukan kepadanya.

Malam itu saya tutup dengan proses editing yang seru sampai jam 23.00. Saya senang bisa melakukan editing bersama Mas Ageng karena saya bisa mendapatkan banyak pengetahuan baru tentang dunia kepenulisan dan editing. Di sisi lain, saya bisa mengeluarkan banyak ide dalam proses editing dua arah tersebut. Saya jadi sadar betapa asiknya melakukan proses editing dengan berdiskusi, mirip dengan metode pimpinan redaksi LPPM Sintesa di waktu awal saya masuk pada tahun 2019 lalu.


Posted

in

by