Jurnal Pekan Ketiga Hasyim Romadani

17 September 2022

Menggunakan kebaya berwarna biru, suara yang berwibawa, serta pembawaan diri yang tenang, begitulah aku melihat Endah SR pertama kali. Lulusan ilmu komunikasi UGM tersebut hari ini memandu kami—volunteer radio buku batch 8 mengenal lebih dalam dunia siniar.  Banyak sekali hal yang ia ceritakan, ajarkan, dan sepertinya sedikit keluhkan juga. Pengalaman dan kerja kerasnya tergambar baik di sana. Tapi terlepas dari itu semua, ada satu hal yang aku sangat ingat. Susahnya menjadi seorang penyiar di masa lalu.

Menjadi seorang penyiar di masa muda Endah SR, ibarat menjalani hidup modernitas Barat yang teratur, tertata, jelas, dan bertahap. Sangat positifistik. Selain karena alat yang terbatas dan tidak semudah saat ini, itulah alasan seorang penyiar dituntut memilki berbagai kelebihan. Mulai dari suara yang microphonis, skill berbicara yang memadi di depan mic, pintar dan berwawasan luas, air personality, dan banyak lagi lainnya. Susah, susah… mendengar penjelasan itu saya sudah melelahkan. Berbeda dengan hari ini, semua orang sudah memiliki kesempatan menjadi seorang penyiar dengan bebas. Tanpa memiliki kemampuan di atas, hanya tinggal mulai, seseorang sudah bisa menyiarkan segala hal. Bahkan tidak terbatas pada bentuk suara saja, visual juga. Abad ini membantu kita semua mudah menjadi seorang penyiar. Tapi apakah benar demikian?

18 September 2022

Banyak peserta izin telat, jam pertemuan diundur, kami memulai hari ini dengan tidak baik. Tapi anehnya hari ini berakhir dengan hangat, seperti biasa. 

21 September 2022

“aku baru selesai satu majalah” ucap seorang kawan yang terlebih dulu mengarsipkan di lantai dua gedung Radiobuku. “aku dapet 70an halaman”, “aku melanjutkan pengarsipanku yang belum rampung kemarin”, “aku selesai dua jam lebih”, dan banyak ucapan lain tersebut datang setelahnya. Apa ini? Kenapa aku merasa bahwa tugas pekan ini berat? Sialan, sepertinya aku akan melewati hari yang membosankan, pikirku. Padahal aku memiliki banyak deadline, cucian belum dijemur, uang menipis. Isi kepalaku penuh sebelum memulai apapun. Overthinking kalau orang bilang. 

Waktu berjalan 30 menit, aku masih merasa lelah, majalah ini sulit sekali lurus dan terscannya.

Hening. Semua kawan di sampingku fokus pada tugas mereka masing-masing. Hanya suara scanner yang berbunyi; sekali, dua kali, tiga kali, sampai entah ini sudah kali ke berapa. Tanpa sadar tanganku sudah lebih cekatan dari sebelumnya. Membolak-balikan majalah ini sudah seperti membalik telapak tangan, aku sudah memindai puluhan halaman ternyata. Pikiranku yang ribut kini mulai tenang. Aku tidak ingin berhenti. 

22 September 2022 

Waktunya siaran. Aku merekam pembacaan cerita pendekku cukup lama. Salam yang bingung, kalimat yang njlimet, suasana studio yang rada horor. Bangsat! Ternyata berbicara di depan mic tidak semudah yang aku kira.


Posted

in

by