Jurnal Pekan Ketiga Gilang Andretti

Rabu, 21 September 2022

Penugasan pertama adalah mendigitalisasi majalah yang lumayan banyak. Pandangan saya langsung tersita pada Majalah Tempo edisi 31 Mei – 6 Juni 2004 berjudul “Bahaya Laten Militerisme.” Hal ini terjadi karena tema ini sesuai dengan kebutuhan saya akan belanja paragraf. Sebab, saya sedang ingin menuliskan sebuah artikel yang berjudul “Film Gie Yang Tersisihkan.” Pada saat proses belanja paragraf, saya menyempatkan untuk menonton kembali proses pembuatan film ini yang sudah diunggah di YouTube oleh Miles dengan durasi lumayan panjang. Salah satu pendapat datang dari Riri Riza yang menyatakan bahwa film Gie dapat berhasil digarap karena adanya momentum. Ia menjelaskan bahwa rakyat sedang berbulan madu dengan perubahan yang saya identifikasi sebagai proses pemilihan umum langsung di Indonesia pada 2004. Namun, Riri menggarisbawahi bahwa terjadi penurunan kualitas kehidupan. Hal ini saya kaitkan dengan calon presiden yang mengajukan diri saat itu berasal dari kalangan militer. Hal ini nampaknya dapat dibuktikan pada film Gie yang lebih menonjolkan orang-orang sipil ketimbang militer – serta pihak militer digambarkan begitu represif dan sensitif terhadap pembunuhan dan penahanan massal 1965/1966 – saat terjadinya peralihan kekuasaan pada 1965-1966. Oleh karena itu, Majalah Tempo yang saya pilih – mungkin – akan sangat membantu proses belanja paragraf.

Kamis, 22 September 2022

Setelah agak lelah dengan digitalisasi Majalah Tempo yang seakan-akan tak ada habisnya, saya menemukan sebuah majalah mingguan berbahasa inggris yang bernama New Times: A Weekly Journal of World Affaris yang rata-rata memiliki halaman berjumlah 36. Hal yang membuat saya tertarik dengan majalah ini adalah tahun terbitnya, 1965. Selain itu, yang menarik dari majalah ini adalah sudut pandangnya yang sangat Soviet, karena memang diterbitkan oleh mereka. Sedari awal memang saya tidak memiliki keinginan bahwa pembunuhan massal akan masuk dan mendapatkan tempat di situ dan ternyata benar. Selain itu, peserta volunteer diminta untuk membuat sebuah kronik atas sebuah tema yang terdiri dari 10 artikel. Oleh karena topik yang cukup dominan adalah Perang Vietnam dengan sudut pandang Soviet (sangat menarik dan kebanyakan mengutuk perang ini) , maka saya mengambil tema itu. Akan tetapi, kendala bahasa adalah yang utama, tak mengapalah alon-alon waton kelakon. Hari ini saya sudah mendapatkan lima artikel soal Perang Vietnam. Dari artikel-artikel itu saya menarik kesimpulan bahwa pemerintahan Vietnam Selatan sangat kacau, bahkan dalam waktu 20 bulan saja, ada belasan kabinet yang jatuh-bangun. 

Jumat, 23 September 2022

Tugas meng-kronik ternyata memiliki banyak manfaat dan menarik sekali. Saya menemukan berita menarik sekali, tenyata George Kahin menentang Perang Vietnam. Hal ini dibuktikan ketika ia menjadi pembicara dengan beberapa professor lainnya dari berbagai univeristas di Amerika. Malah saya kepikiran ide untuk menulis sisi lain dari Kahin, ia tidak hanya dikenal sebagai penulis periode revolusi Indonesia. Namun, ia juga merupakan – mungkin – aktifis pergerakan yang menentang Perang Vietnam. Selain itu saya menemukan pola kecil dari majalah yang saya temukan. Majalah itu berhenti “dijilid” tepat setelah Gerakan 30 September 1965 pecah dan baru berlanjut lagi pada akhir Desember 1965. Apakah ada pola tertentu atau hanya kebetulan semata? Entahlah, mungkin tidak ada yang tahu. Majalah yang saya pilih tersebut berjudul New Times, yang tampaknya diterbitkan oleh pemerintah Uni Soviet, sehingga sudut pandangnya menarik sekali. Oya, saya memilih tema Perang Vietnam sebagai bahan kronik, karena tema ini banyak dijumpai di majalah ini. Selain itu, saya tertarik akan Perang Vietnam karena awal tahun ini saya cukup sering menyaksikan film bertema peristiwa ini. Sebut saja Apocalypse Now, The Deer Hunter, dan First Blood. Walaupun yang disebut belakangan tidak begitu banyak menyinggung soal perang ini secara langsung, tetapi lebih kepada nasib veteran Perang Vietnam – di pihak Amerika – yang termarjinalkan dan “dibenci” masyarakat. Pernah sebelum bergabung dengan Radio Buku, saya ingin menuliskan soal majalah hiburan untuk pria dewasa selama Perang Vietnam, tentu saja dari sudut pandang Amerika. Hal ini karena percetakan koran atau majalah dari pihak Vietnam lebih ditujukkan untuk berproganda dan meningkatkan semangat tempur prajurit mereka dalam mempertahankan tanah airnya.

Sabtu, 24 September 2022

Hari ini kami diberikan sedikit materi mengenai bimbingan dalam penulisan naskah untuk podcast yang bertemakan “Aku dan Buku Pertamaku.” Langsung saja, dalam benak langsung terbayang sebuah buku yang berjudul Kembali Ke Uteran: Sebuah Kenangan karya Sumarsono Sastrowardoyo yang merupakan kakak/adik (saya lupa) dari Subagio Sastrowardoyo. Saya sudah mendapatkan gambaran kecil mengenai naskah podcast tersebut, diantaranya: buku yang pertama kali saya tamatkan ketika SMP, buku yang tak laris di perpustakaan, “sensor” kecil pada buku soal kata-kata makian, kolom search yang begitu sedikit di Google dan kebanyakan hanya opac saja, rating yang hanya berbintang tiga di goodreads, hanya diulas satu orang saja, menemukan buku ini kembali ketika kuliah di Massa Aksi, covernya hardcover walaupun tipis saja halamannya. Untuk isinya saya belum dapat membahas banyak hal karena sudah banyak terlupa, hanya ada satu hal yang terngiang jelas, sebuah adegan yang begitu mengerikan waktu itu, yang membuat saya terngiang selama beberapa hari. Selain itu, mungkin buku ini yang mengantarkan saya hingga menyukai sejarah hingga saat ini. 


Posted

in

by