Jurnal Pekan Ketiga Dhea Jhoty

Untuk ke-sekian. Jujur, saya bingung ini pekan keberapa seingat saya dan serasanya di pekan ini saya membuat podcast pertama dengan fasilitas radio buku, ada mik bersarung, ada juga tombol-tombol aneh yang baru pertamakali saya lihat. Sebenarnya pekan ini diawali dengan saya mengkronik majalah lawas, seingat saya majalah pertama yang saya kronik itu majalah sulu, lalu dilanjutkan dengan majalah djaka lodang yang masyaallah isinya bahasa jawa semua hihihi. Setelah mengscan tiga majalah yang random,barulah saya mencoba untuk nyecan majalah hai atas saran dari mas ber, karena saya ingin mengkronik tentang film. Saat ini ide saya untuk penulisan esai sedikit tercerahkan, untuk ide saat ini ialah membahas soal kehidupan, dikaitkan ke film, mungkin ini masih ngawang. Karena tugas kronik saya jadi merasakan seperti apa jadi mas mas poto kopian walau cuman nyeken, pegel juga ygy. Tapi tidak apa-apa saya menikmati proses ini. Hanya saja terkadang kesimetrisan tidak berpihak kepada saya, alhasil saya menyeken satu halam 2 sampai 3 kali. 

Lanjut di hari berikutnya saya membuat podcas, secara langsung allah mengijabah hasrat terpendam saya melalui radio buku, salah satunya merekam podcast dengan fasilitas yang memadai dan saya mengenal satu aplikasi baru audiocity ya untuk pemula lumayan lah, di hari itu rekaman saya ada beberapa kata maupun kalimat yang saya ulang, sebelum mengumpulkan tugasnya saya cut dulu yang sekiranya tidak penting hehehe. Saya merekam podcast ini dengan cerpen yang berjudul jawaban alina, jujur saja saya tidak tahu banyak cerpen hanya pernah mendengarkan dian sastro membaca ini, jadi saya coba saja. Oh iya, suket membacakan cerpen sepotong senja (sukab) dan saya jawabana alina sebagai (alina). Seketika saya terpikirkan untuk ada kegiatan membaca cerpen tapi sambung-sambungan gitu hihihi.

Di hari sabtu menuju minggu kita nonton film, film ini tentang penyakit (saya lupa namanya), awalnya saya kira film ini tentang pembunuhan ada hal yang lucu saya melihat bahtiar menggeligam saat hahah lucu saja wkwkwk. Awalnya sepemahaman saya film ini menceritakan tentang ketakuan seseorang yang padahal itu hanya ketakuan tidak senyatanya. Namun setelah dijelaskan barulah saya tau bahwa itu bukan bukan sekadar ilusi. Di hari ini ada diskusi tambahan dengan adanya diskusi ini aku semakin memahami bahwa anak-anak itu punya potensi masing-masing dan kita semsestinya bisa untuk megajak mereka mengemmbangkan potensi tersebu.  Saya pernah mengajak anak-anak menggambar selama masa pandemi, dengan adanya diskusi ini membangkitkan gairah saya untuk semakin aktif bersama anak-anak di desa saya.


Posted

in

by