Jurnal Pekan Ketiga Ardhias Nauvaly

Rabu, 21 September 2022

Saya kembali setelah dua hari absen dari agenda Radiobuku, berakhir pekan di kos sebab terserang flu. Hari ini kegiatannya adalah mengarsip majalah dengan alat pemindai. Kapan terakhir kali saya mengoperasikan alat pemindai? Saat SMA mungkin. Sebab setelah saya tahu teknologi bernama Office Lens yang dioperasikan kilat hanya dengan kamera android, tidak pernah lagi tersentuh itu alat pemindai di rumah. Namun saat memindai majalah dengan alat pemindai di Radio Buku, saya jadi sadar keunggulannya ketimbang Office Lens: detil dan presisi. Selain itu, pemindaian dengan alat akan cocok untuk skala besar, seperti buku atau majalah. Bila hanya memindai satu dua berkas, Office Lens masih cocok jadi andalan.

Pada sesi pengarsipan hari pertama, saya yang baru kelar sakit masih linglung. Ditambah kena abreg tugas kronik, makin limbung saya. “Ini cari majalahnya atau topik kroniknya dulu?”. Pertanyaan ini saya tanyakan ke kawan-kawan yang segiliran mengarsip dengan saya. Gilang bilang, cari majalah yang disukai saja dulu. Topik kronik belakangan. Akan tetapi, dirinya mengakui sudah dapat topik kronik. Asem, ketinggalan saya. Tapi segera saya ralat perasaan kerdil ini sebab, toh, kita tidak sedang balapan bukan? Ralatan ini sebenarnya disebabkan oleh pengakuan Suket, bahwa dirinya pun belum menemukan topik kronik. Cocok! Santai sajalah pikir saya.

Setelah mengubek tumpukan, saya jatuhkan pilihan pada Majalah HAI edisi Alternatif ’96. Majalah HAI, baik versi cetak maupun daringnya, selalu menyita perhatian saya sejak SMA. Gaya bahasanya nyentrik tapi bukan murahan macam Lampu Hijau. Kontennya pun selalu menarik, mengupas budaya pop bukan dari remah-remahnya belaka. Misal, pada edisi majalah ini, HAI membahas gaya penyutradaraan beberapa sineas Hollywood yang setelah saya resapi, penulisnya memang memahami film-film yang dimaksud. Mulai dari Quentin Tarantino, Tim Burton, hingga Gus Von Sant. Selain itu, bahasannya tentang British Invasion yakni hijrahnya para musisi Inggris ke Amerika Serikat menarik perhatian saya. Perhatian yang kemudian berubah jadi ide untuk menyusun kronik musik Inggris pada hari kedua pengarsipan.

Jumat, 24 September 2022

Saya bereksperimen jadi urbanis. Jumat (24-09), saya ke Radio Buku dengan Trans Jogja dan sepeda lipat. Berangkat dari Halte McD Jakal dengan Bus 3A, transit di Ngabean, lanjut dengan Bus 8 untuk turun di Halte ATK. Selanjutnya, gowes 3 km ke Radio Buku. Sebab saya belum terbiasa mengayuh sepeda lipat jauh-jauh, walhasil lutut saya macam dilipat-lipat. Pegal parah. Dan kurang efisien memang untuk saat ini bepergian dengan Trans Jogja. Interval bus yang terlalu lama (untuk bus hari ini, paling lama 30 menit untuk Bus 8) dan trayek yang berbelit jadi alasannya. Tapi ya, itung-itung pengalaman. Dan menghemat waktu serta uang untuk beli Pertalite yang katanya makin boros itu (tapi untuk ini saya tidak percaya dengan beberapa alasan yang tidak perlu dirincikan di sini).

Usai berpegal-pegal di Lantai 1 dan disemangati oleh Berryl bahwa “ini hanya belum terbiasa saja”, saya beranjak ke Lantai 2 untuk lanjut mengarsip. Lagi, saya mumet mencari topik kronik. Saat itu, Suket sudah dapat topik: pembangunan desa. Modar! Kemudian saya bolak-balik itu majalah HAI. Saya ambil juga HAI edisi lainnya. Saya cari benang apa yang hubungkan beberapa majalah HAI yang ada di sini.

“Bagaimana kalau saya mengkronik musik Inggris?”

“Bisa,” jawab Gilang yang sudah khusyuk dengan majalah New Times dan kronik Perang Vietnam-nya. 

Ide ini tercetus dari beberapa artikel tentang British Invasion di majalah HAI Edisi Alternatif ’96. Di lain tempat, saya juga menemukan beberapa rubrik yang memuat informasi dan berita seputar musik Inggris. Mulai dari tangga lagu hingga bangkitnya boyband Irlandia, Boyzone. Saya pun semangat lagi untuk tuntaskan pemindaian majalah yang tinggal secuil itu.

Saat pemindaian hari kedua, saya mulai merasakan atmosfer gotong royong yang diniatkan untuk tumbuh di program ini. Saat itu, saya agak kesulitan untuk memindai majalah saya. Wajar, sebab majalah HAI ini edisi khusus sehingga berpunggung buku yang membuatnya agak sulit dilipat-lipat. Melihat saya agak ruwet, Keke membantu saya. Dia arahkan saya untuk memberi tatakan pada halaman majalah yang terbuka namun tidak sedang dipindai. Walhasil, pemindaian jadi lebih praktis dan oke hasilnya.

Pada hari kedua, kegiatan saya bukan hanya memindai dan mengkronik. Pun, mengkronik saya garap di rumah. Sebab saat itu hari sudah makin oranye, didorong oleh rasa takut tidak dapat bus, saya mengakhiri pemindaian di majalah kedua untuk beralih ke kegiatan selanjutnya: siniar. Saat itu saya sudah dapat esai yang akan dibacakan, yakni Yang Kiri Yang Tanpa Ajektif, esai Goenawan Mohammad (GM) tentang Ben Anderson, sahabatnya, yang terhimpun dalam Catatan Pinggir Edisi 12. Esai ini sesuai dengan topik “1965” yang sedang saya obok-obok. Sebelumnya, saya memang baru tuntas membaca A Preliminary Analysis aka Cornell Paper yang salah satu penulisnya adalah Ben Anderson. Ditambah, saya juga sedang membaca Musim Menjagal oleh Geoffrey Robinson. Maka, pembacaan esai GM ini jadi punya maknanya. Setidaknya untuk saya. Untuk orang lain, ya kita sama-sama sedang memasuki “Musim Menjagal” itu, bukan? Ya, bulan September!

Tidak ada kesulitan berarti saat rekaman siniar ini. Mendapat briefing singkat dari Berryl, saya langsung paham. Oke, saya hanya perlu menjaga jarak dengan pelantang suara. Jangan terlalu jauh, jangan juga tempelkan congor. Dengan menjaga artikulasi, meski beberapa kali selip lidah, saya bisa rekaman one take. Toh, saat itu saya mulai rekaman sudah pukul 17.00. 20 menit rekaman, siap-siap, lalu saya gowes ke Halte Salakan pukul 17.30. Sebab saya khawatir tidak dapat bus. Wajar, Trans Jogja belum sepresisi itu jadwalnya.

Setelah menunggu 15 menit di halte, Bus 8 yang saya tunggu pun tiba. Di bus ini, untuk pertama kali saya kena tipu. Kondekturnya bilang, untuk sepeda lipat, kena tiket tambahan. Anjing betul. Perasaan, tadi saat berangkat tidak ada kutipan bonus macam ini. Tapi mengingat hari kerja sudah di ujung dan kami berdua sudah sama-sama butek, saya beri saja yang dimaunya. Sempat saya obok-obok Google untuk cari layanan aduan Trans Jogja. Tapi, setelah saya pikir-pikir, apalah arti 2.700 rupiah.

Transit di Terminal Ngabean, celakanya saya tidak mendapat Bus 3B. Sudah habis, kata penjaga halte. Beruntung, petugasnya baik. Dia arahkan saya untuk ikuti trayek yang masih nyala sampai malam agar bisa ke halte tujuan. Alternatifnya, saya naik Bus 10, transit di Halte Kridosono untuk lanjut naik Bus 2A dan turun di Halte Santren. Dari sana, saya hanya perlu mengayuh 800 m dan sampai di kos-kosan.

Sabtu, 28 September 2022

Tidak ada materi hari ini. Agendanya hanya evaluasi pekanan kelas arsip (kronik) dan siniar. Pada evaluasi siniar, beberapa hasil rekaman peserta diperdengarkan. Ada yang terlampau samar suaranya, mungkin karena terlalu jauh jaraknya dengan pelantang suara. Ada juga yang sudah mahir menyunting suaranya, seperti Dhiksa. Ada pula yang beberapa kali selip lidah, seperti saya. Untuk materi arsip dan kronik, tidak ada evaluasi yang signifikan. Semua lancar-lancar saja, kecuali yang belum mengumpulkan tugasnya.

Yang menarik pada hari ini justru diskusinya. Ada dua diskusi yang diselenggarakan, yakni soal pendidikan dan film. Pada diskusi soal pendidikan, kebetulan Radio Buku, tepatnya Mas Faiz, sedang kedatangan tamu dari Tasikmalaya. Bukan sembarang tamu, dia adalah Abah Erza, PNS Guru BK yang bersama-sama melejitkan Voice of Baceprot. Dia datang kemari bersama temannya yang juga sama-sama berprofesi sebagai guru PNS. Bersama keduanya, Radio Buku diisi oleh diskusi tentang sekolah yang ironisnya justru jadi pemakaman bagi pendidikan. 

Abah Erza bercerita tentang prosesnya berdinamika bersama anak-anak sekolahnya. Menurutnya, anak-anak itu mau sekolah karena temannya, bukan karena pelajaran dan gurunya. Untuk itu, pelajaran-pelajaran di sekolah dan gurunya harus bisa jadi teman anak-anak. Dengan begitu, tidak akan lagi sekolah jadi tempat yang menakutkan. Prinsip itulah yang dipegang dan diterapkannya selama jadi guru BK di tempatnya mengajar. Dia tidak ragu untuk berbicara dengan bahasa sehari-hari anak-anak di sekolah demi mencairkan batas antara guru dan murid. Dengan demikian, anak-anak pun mendapat sesuatu yang selama ini langka di sekolah, bahkan di hidupnya: tempat cerita. Anak-anak, menurutnya, kehilangan tempat untuk didengar. Mereka selalu dipaksa untuk mendengar, baik itu di sekolah ataupun di rumah. Maka, dia hendak memosisikan sebagai pendengar bagi anak, barang yang sudah langka itu.

Forum sempat hening, termasuk saya yang terdiam. Bukan maksud diskusinya bikin ngantuk, hanya saja perut saya sudah mulai keroncongan. Jadi hilang fokus. Saya pikir teman-teman lainnya juga seperti saya, berharap dapat makan malam tapi nyatanya tidak ada. Ditambah, setelah flu minggu lalu, kebugaran saya belum pulih sepenuhnya. 

Tapi keheningan itu tidak bertahan lama. Adil memecah kebuntuan dengan bertanya, yang saya lupa inti pertanyaannya apa. Tapi kalau bisa saya ingat-ingat, pertanyaannya itu lebih ke pernyataan bahwa dirinya bersepakat tentang sekolah yang dekaden. Lalu tiba giliran saya bertanya. Panjang-lebar, pada intinya saya menggugat skema buku cetak yang jadi beban anggaran Sekolah Dasar hingga Menengah. Dikata beban bukan hanya sebab nominalnya, namun fungsionalitasnya yang nol besar. 

Kemudian Abah Ezra dan temannya menanggapi. Tidak persis benar jawabannya soal skema anggaran buku cetak, melainkan keduanya jadikan pertanyaan tadi sebagai refleksi kepada hal yang lebih luas: minat baca. Bagi keduanya, infrastruktur literasi di berbagai sekolah, termasuk tingkat dasar, tidak terlalu mengenaskan. Bahkan, di beberapa SD yang dikunjunginya, perpustakaan itu besar-besar dan baru-baru. Namun yang jadi soal bukan kualitas bangunannya, melainkan fungsinya sebagai pusat literasi. Jangankan bicara koleksi buku, perpustakaannya buka saja sudah syukur. Maka, PR sekolah bukanlah membangun perpustakaan yang kokoh, meskipun itu juga penting, tapi lebih kepada menguatkan perannya sebagai pusat pengetahuan bagi anak-anak.

Siasat yang pernah dilakukannya pun eksentrik. Pernah, suatu waktu, dia mengajak anak-anak kelasnya untuk membongkar buku-buku di perpustakaan sekolah. Bukan untuk merapihkan, sebab itu sudah ada anggarannya lewat pengupahan pekerja perpustakaan. Tujuannya adalah untuk mencari coret-coret yang ada di buku-buku perpustakaan. Lewat itu, anak-anak pasti terpacu untuk, setidaknya, membuka buku. Perihal dibaca atau tidak bukunya, seperti hidayah, biarlah Tuhan yang bekerja. 

Rasan-rasan soal pendidikan berakhir, diganti dengan penayangan dan diskusi film bersama sineas asal Tasikmalaya yang juga kenalan Mas Faiz, Garmiet. Kami ditayangkan karya ketiganya yang berjudul “The Dancing Blue”. Di awal, oleh Berryl, kami diwanti-wanti untuk mengapresiasi filmnya sebagai karya ala festival. Otak saya langsung bersiap: pasti membosankan. Betul saja, untuk ukuran selera pasar, film ini pasti tidak akan laku. Filmnya berdurasi sekitar 40an menit (kalau tidak salah, sebab saya tidak sempat bertanya durasi. Yang jelas, waktu terasa pelan saat film ini diputar). Bertema psychological thriller, berkisah tentang pengidap Borderline Disorder. Kalau tidak ada sesi diskusi, saya tidak akan menyerap utuh film ini. Sungguh!

Apresiasi saya, dan beberapa teman, adalah pada aspek teknikalitasnya. Untuk ukuran sineas pemula dan independen, drop dan scoring-nya bisa diandalkan. Apalagi camera work-nya yang prima dan color grading yang kuatkan nuansa. Tidak kelewat sok canggih macam film “Selesai” yang dibikin jadi warna kunyit sepanjang tayangan. Yang eksperimental, dan berhasil, adalah warna-warna Von Trier saat adegan mekanik ala “SAW”. 

Kritiknya justru menonjol di aspek cerita. Ageng menyoroti tidak adanya clue tentang kecenderungan mekanistik dalam Bipolar Disorder sang tokoh. Tau-tau, penonton disuguhkan kenyataan tentang kecenderungan tersebut di final act film. Bukan plot twist, bagi saya ini adalah keseleo. Plintiran yang tidak disetel matang sehingga bikin film, dan penonton, terkilir pikirannya. Bukan nikmat, malah justru bingung. Untuk itu, Ageng sarankan eksplorasi lebih dalam pada wilayah pekerjaan sang tokoh. Baginya, pekerjaan sang tokoh bisa jadi lahan yang potensial untuk letakkan petunjuk demi petunjuk kecenderungan mekanistik tadi yang bermuara pada utuhnya cerita.

Senada dengan Ageng, saya pun menyoroti lapangan kerja yang kurang dijelajahi oleh penulis cerita “The Dancing Blue”. Bagi saya, Garmiet meneruskan tradisi perfilman Indonesia yang kurang getol dalam menggali lapangan kerja para tokohnya. Pada filmnya ini, penonton hanya ditayangkan kantor stereotipe perkotaan metropolitan yang bersekat. Hanya satu clue spesifik yang kita miliki tentang gawean sang tokoh: sales. Sisanya, kita disuruh tebak-tebak buah manggis tentang tetek bengek pekerjaannya. Mulai dari produk apa yang dihasilkannya, bagaimana relasi produksi di tempat kerjanya, bagaimana kondisi kerjanya, dan lain-lain. Secara konseptual, film ini meneruskan budaya ketidaksadaran kelas yang beracun bagi kelas pekerja. Secara praktis, film ini jadi terlihat malas sebab ogah mengeksplor lebih dalam ketokohannya. 

Tapi di luar segalanya, salut harus diberi kepada Garmiet dan kawan-kawan. Sebagai pemula, hasil kerjanya ini tidak menunjukkan ke-pemula-annya sama sekali.


Posted

in

by