Jurnal Pekan Kedua Langit Gemintang

Pertengahan September ini para sukarelawan di Radio Buku mendapatkan agenda dadakan, yaitu jalan-jalan bersua ke beberapa tempat. Agenda tersebut diinisiasi oleh fasilitator untuk menggganti agenda menyusun buku di rak yang kurang “greget” dan terlalu cepat untuk dilaksanakan dalam sehari.

Agenda-agenda kunjungan itu sangat menarik dan menyegarkan diri saya yang jarang jalan-jalan ini. Tujuan kita yang pertama adalah ke Diorama Arsip Yogyakarta pada hari Selasa, lalu ke Langgar.co di hari Rabu, Mojok.co di hari Kamis, dan ke Festival Kebudayaan Yogyakarta di hari Jumat.

Diorama Arsip Yogyakarta

Saya datang agak terlambat (setidaknya yang tidak paling terlambat) dan menemui kawan-kawan di gubuk halaman depan gedung diorama. Saya sempat nyasar, terutama salah malah tidak naik ke jembatan layak (sesimpel saya tidak PD jika naik jalan layang adalah jalan yang benar). 

Saya datang dan malah parkir di daerah yang jauh, tetapi saya bodo amat karena saya sedang ingin memperbanyak durasi saya jalan kaki untuk menyehatkan badan yang turun mesin ini. Rasanya seperti study tour, semacam nostalgia ke masa SMP dan SMA, di mana kami diminta memakai semacam name tag khusus. 

Hal pertama yang saya senangi dari diorama adalah tamu diminta nyeker. Saya suka bangunan luas yang tamunya diminta nyeker karena kulit telapak kaki saya bisa merasakan kombinasi komplit antara AC dan keramik yang dingin. Telapak kaki saya terasa disegargkan –seperti mandi sauna tadi diberi embun dingin–selepas dipanggang di antara debu, asap knalpot, dan sinar matahari.

Diorama arsip menceritakan sejarah Yogyakarta sejak berdirinya Kesultanan Mataram  sampai meletusnya Gunung Merapi pada 2010 lalu.  Diorama memiliki visualisasi yang mantap. Permainan proyektornya sangat menarik, apalagi mereka menampilkan video-video dramatis yang dibalut dengan animasi. Saya sangat suka dengan pertunjukkan proyektor pertama di mana diorama mengilustrasikan kehidupan warga Mataram lewat animasi yang menarik. Hal yang mengagumkan pula adalah permainan proyektor seorang perempuan menari Jawa yang ditampilkan di semburan asap. Saya jadi teringat lelembut, tapi kali ini sangat indah. 

Diorama berisi ruang-ruang yang berbeda-beda temanya dan masing-masing segmen punya waktu lampu-lampunya terus menyala. Saya didatangkan di banyak ruangan dengan cerita sejarah yang berbeda-beda dan masing-masing membikin saya dilempar dari satu waktu ke waktu lain. 

Pun saya merasa dilempar dari satu drama ke drama lain yang membungkus tiap peristiwa sejarah yang diberikan. Nah, drama-drama ini adalah narasi sejarah yang ditampilkan lewat kombinasi tulisan dan visual. Saya merasa dilempar ke dalam ruangan yang seolah-olah ia menjadi realita tersendiri yang terpisah dari realita lainnya. Pemisahan saya dari dunia luar membikin saya berada dalam “ruang realita” yang menciptakan realita baru dari representasi-representasi realita masa lalu yang ia singkap sebagai sebuah dunia baru. Dalam realita itu, saya dibikin senang, lega, sedih, dan marah pada tiap-tiap segmen dengan realita yang berusaha ia buat. Misal, ketika saya berada di segmen Reformasi 1998, saya dibuat emosional dengan perjuangan mahasiswa di Yogyakarta. 

Syahdan, selaras dengan pernyataan Mas Beril selepas kami keluar dari wahana, saya melihat bahwa realita yang direpresentasikan di dalam diorama tak bisa dilepaskan dari aspek kuasa, yaitu dengan melebihkan, mengurangi, dan bahkan menghilangkan pengetahuan-pengetahuan yang ada dalam sejarah Yogyakarta. Ada pendapat seorang teman yang bertanya di mana peristiwa Petrus? Saya pun sudah mewanti-wanti peristiwa 65 akan ditampilkan bagaimana, tapi tak ada nyatanya. Lalu peran Sultan Hamengkubuwono X ditonjolkan sekali waktu sedang Reformasi 1998 di Yogyakarta, tetapi tak menampilkan Moses Gatotkaca Sang Martir sama sekali. 

Langgar.co

Ke Langgar.co menjadi kesempatan kedua saya bertemu Mas Irfan Afifi yang dulu pernah jadi informan saya sewaktu penelitian Pekan Kreativitas Mahasiswa pada 2021. Perjumpaan kedua Saya dengannya ternyata menampilkan keresahan Mas Irfan yang sama, yaitu tentang hilangnya ciri khas pemikiran ala Indonesia yang melepaskan diri dari hegemoni pemikiran Barat. Mas Irfan menyebut intelektual yang mengamini banyak pemikiran Barat dengan bergairah sebagai “intelektual mbebek”. Pemikiran Indonesia bukan cuma tentang menggali tradisi lama yang kadang sudah usang, melainkan juga dengan menuju ke depan. Jalan yang ditempuh Mas Irfan adalah tetap melihat ke belakang dengan menggali tradisi dan pengetahuan lokal yang lama hidup di tengah masyarakat Jawa, suku bangsanya sendiri. Dari penggalian ke belakang itu, ia ingin mencari kemajuan, bukan romantisme yang kuno. Menciptakan pengetahuan yang menyumbang dunia pemikiran khas Indonesia  juga tak berarti harus bersikap anti-barat. Dalam tangkapan Saya, Mas Irfan membuka jalan lebar-lebar kolaborasi pemikiran Indonesia dengan Barat, pun juga dengan pemikiran lain dari seluruh penjuru mata angin. Toh, pengetahuan lokal masyarakat, salah satunya Jawa sebagai masyarakat Saya dan Mas Irfan, juga merupakan kawin silang dengan budaya lain. Islam adalah agama negeri seberang di barat yang masuk Indonesia dan kini telah berakulturasi kental dengan budaya masyarakatnya. Apakah Islam agama yang “pribumi”? Begitu pula budaya Jawa pra-Islam, ia terbentuk dari kombinasi agama Hindu dan Buddha yang datang dari seberang. Kita menerima pengaruh luar, tetapi tanpa dalam bentuk hegemonik ala kolonialisme. Jauh dari itu, sikap kita adalah dengan dialog budaya dua arah yang egaliter dan komunikatif.

Saya menutup uraian di sini dengan kekaguman terhadap Mas Irfan dalam membangun tubuh pemikirannya yang tak membebek dan tukang kutip teori. Ia menggugat budaya peradaban kita. Mas Irfan pun mengaku sampai mempertaruhkan kestabilan eksistensialnya ketika mencari identitas dirinya sebagai manusia yang kebetulan terlempar lahir sebagai seorang Jawa dan Islam. Pemikirannya pun akan terus berkembang seiring dengan umur tua yang menjemputnya dengan lebih banyak perenungan. Pemikiran itu akan berhenti, ketika ia mati.  Mas Irfan mungkin menjelang filsuf atau bahkan sudah jadi filsuf. Walaupun mungkin pendapat ini ia tolak, toh filsuf bukan gelar yang bisa disertifikasi. Maka dari itu, orang dapat menolak disebut filsuf ketika orang-orang menyebutnya filsuf, seperti Albert Camus. Atau yang agak memalukan adalah ketika seseorang mendaku sebagai filsuf sementara orang-orang menolak menyebutnya sebagai filsuf. 

Mojok.co

Saya izin tak mengikuti agenda ini karena gliyeng akibat darah rendah dan maag. Saya tak berani sampai tercebur ke sawah ketika naik motor. Tapi saya dengar testimoni kawan-kawan yang bilang bahwa kunjungan di Mojok terasa:

Spaneng (iyap, saya menduganya karena Mojok adalah korporasi).

-Kurang interaktif karena format forum adalah audience bertanya dan narasumber menjawab, seperti menjawab esai.

-Banyak kawan-kawan yang bertanya soal manajemen media Mojok.

-Ada yang mencoba mengarahkan forum dengan bertanya perihal hal-hal substansial.

Festival Kebudayaan Yogyakarta

Pagi hari saya akhirnya bimbingan. Jam 11 pagi saya dengan sok pede ingin jadi pengunjung FKY, tapi sayangnya belum buka, saya tak begitu memperhatikan jadwal. Akhirnya saya datang malam-malam bersama teman-teman sosiologi UGM. Di sana saya bertemu dengan beberapa kawan volunteer. Mas Suket (volunteer yang sempat paling nomaden hidupnya), Mas Rafi, dan Mas Sunardi menjadi penjaga stan Radio Buku. Dalam acara ini saya punya satu tujuan: khilaf. Saya akhirnya beli empat buku yang semuanya non-fiksi.

Uang saya moksa dari tempat pertapaan bernama rekening.

Agenda Sabtu

Saya mengikuti kelas podcast pada hari sabtu. Singkat saja, kelas pertama diisi oleh Mas Udin yang ternyata merupakan mahasiswa hampir lulus Filsafat UGM. Ia salah satu pegiat di Kampung Panggungharjo, kampung yang pernah diceritakan dosen yang ternyata teman Mas Udin, Bung Abe. Bagi Mas Udin, dosen yang jadi advokat sosial itu adalah orang yang tulus dan tak mau menggurui walaupun bahasanya ketika diskusi masih ndakik bagi orang awam.  Mas Udin kadang menggoda saya dengan bertanya “problem based apa itu?” Saya menjawab “Problem based solution” dengan agak ngawur. Saya rasa jawaban itu ngawurnya sangat ngawur. Kalau mau ngawur saja seharusnya saya jawab “problem based analysis” karena sosiologi hanya menganalisis/mengkritik dan jarang sekali memberikan solusi. 

Diskusi banyak membahas tentang enterpreneurship seputar podcast dan target audience. Selain membikin produk, kita juga harus membikin value yang menggaet pelanggan atau seseorang untuk bersetia dengan kita. Ini sama dengan Radio Buku, ketika value-nya disampaikan, maka saya pun akan paham dan tergerak mengabdikan diri. Produk dengan alunan value ini harus berkelanjutan agar ia tak roboh di masa senjakalanya.

Lalu acara dilanjutkan dengan Mbak Endah yang ceria dan menariknya ia adalah lulusan Ilmu Komunikasi UGM, satu fakultas dengan saya. Satu hal lagi yang menarik karena ia memakai kebaya, pakaian yang sayangnya sekarang diidentikkan melulu dengan acara atau pentas, bukan sebagai pakaian sehari-hari layaknya dulu. Pembahasan banyak menjurus ke pengalaman Mbak Endah sebagai penyiar radio yang ternyata amatlah rumit. Ternyata sama sekali tak mudah dengan multitasking dan kerja kejar deadline sana-sini, seperti menunggangi Hydra. 


Posted

in

by