-->

Arsip Tokoh Toggle

Alanda Kariza, Kiprah Sang Pengejar Mimpi

Siapa yang tak kenal dengan Alanda Kariza (21), perempuan muda berbakat yang telah menelurkan banyak kiprah di dunia menulis sejak masih belasan tahun. Alanda yang mengaku awalnya mencari sendiri bakatnya, tak pernah merasa puas dengan apa yang dianugerahkan Tuhan kepadanya hingga saat ini.

Dari tangannya telah terlahir sebuah yayasan non profit The Cure for Tomorrow (saat usianya masih 15 tahun), juga menjadi perwakilan Indonesia di ajang Global Changemakers , dan memprakarsai Indonesian Youth Conference.

Beberapa novel telah dihasilkan Alanda, diantaranya, Mint Chocolate Chips (saat Alanda masih 14 tahun), dan beberapa tulisan di majalah-majalah remaja seperti HAI, GoGirl, Kawanku,  dan Provoke! . Dan ditahun 2010, dirinya kembali menerbitkan kumpulan cerita pendek atau antologi Vice Versa, lalu yang terakhir dan menjadi perbincangan adalah novelnya “Dream Catcher”.

Kurang Percaya Diri Jadi Motivasi

Jika ditanya bagaimana rasanya meraih berbagai kebanggaan hingga dipercaya banyak perusahaan menjadi duta mereka, Alanda hanya tertawa kecil sembari mengatakan “tidak tahu”. Cucu dari pelopor  bedah plastik di Indonesia , Prof. Moenadjat Wiratmadja , ini hanya berusaha mengalir bersama percaya dirinya yang minim.

Ya, Alanda memang bukan tipe orang yang penuh percaya diri. Bahkan semenjak kecil dirinya pemalu dan tidak banyak bicara.

“Tapi kemudian akau menemukan, ternyata cara berkomunikasi yang lebih  enak dipakai adalah menulis,” ungkapnya.

Dari rasa kurang percaya dirinya inilah, Alanda menemukan dirinya lebih “berkomunikasi” dengan cara lain. Saat tak percaya diri berbicara dengan orang lain, dirinya kemudian menulis agar lebih dapat menyuarakan isi hatinya. “Lama kelamaan aku lebih suka ketemu orang lewat tulisan. Dan dari sana aku juga bisa berbagi banyak hal,” ujar Alanda kepada tabloidnova.com .

Berteman dengan yang Lebih Tua

Soal pertemanan, Alanda mengaku sedikit memiliki masalah ketika bersekolah. Perempuan cantik yang dulunya bersekolah di SD Pembangunan Jaya ini sedikit merasa kurang cocok dengan teman-teman seumuran. “Kalau teman seumuran belum tentu cocok, akhirnya berteman juga sama yang lebih tua,” jelasnya.

Pertemanan dengan orang-orang beraneka ragam usia ini, bagi Alanda memberinya banyak pengalaman baik. Dari sana Ia  juga bertemu orang-orang hebat dan semakin berkembang karenanya.

“Mereka inspiratif sekali, pengalaman ini juga inspiratif sekali buatku,” tandasnya.

Setelah beberapa kali berpengalaman menjadi  duta dan bekerja di usia belasan tahun, Alanda menjadi semakin percaya diri. “Mungkin karena akhirnya aku bisa membawa diri dan bisa masuk semua. Intinya, kalau percaya diri bisa bergaul,kok,”  Alanda sedikit berpesan pada remaja Indonesia.

Kendati kini sudah tak bisa dikatakan anak kecil bau kencur atas semua kiprahnya, Alanda mengaku masih suka canggung berada di antara orang-orang hebat yang berusia jauh di atasnya. “Kadang suka takut mau manggil apa. Mbak, mas, tante atau apa ya? Hahaha…”

Masih Membangun Mimpi

Beberapa kali didaulat menjadi duta perusahaan baik lokal maupun brand, seperti Coca Cola, XL Axiata, British Council dan sebagainya, tak membuat Alanda melepaskan kemampuan menulisnya. Seperti telah terlahir dengan takdir penulis, Alanda tetap bercita-cita menjadi besar di dunia menulis.

“Soal buku masih. Tapi aku tidak mau buku yang dibuat tapi isinya dari kumpulan blog atau foto-foto. Aku ingin menulis deg proses  kreatif,” ujarnya.

Jika ditanya sampai sejauh mana, Alanda berkeinginan membuat buku yang dicetak dalam dua bahasa, Inggris dan Indonesia. Menurutnya, menulis juga dapat menjadi sarana kebahagiaannya membantu orang-orang mencapai impian.

“Sekarang ingin menginspirasi orang lain dengan tulisan-tulisanku. Walau mereka tidak membeli buku yang kutulis, melihat mereka membaca atau meminjam buku karyaku, aku sudah senang,” akunya yang kerap terharu melihat orang-orang membaca bukunya di toko buku walau belum tentu mereka membeli.

Menurut Alanda, hal yang paling terpenting dari sebuah karya adalah pesan yang sampai pada banyak orang. Dalam hal ini, sasarannya adalah anak-anak muda Indonesia.

“Buat teman-teman, aku ingin menyampaikan kalau kalian harus membangun percaya diri, dan berani mengejar passion. Dengan begitu, kalian juga bisa sukses seperti orang lain. Aku, kan, dulu juga pengejar mimpi banget. Dari dulu aku  ingin seperti model dan cantik. Walau akhirnya aku tidak jadi model, tapi aku juga bisa tampil dan kasih model.”

Laili

*)Tabloid Nova, 30 September 2012

Foto: alandakariza.com

Zara Zettira ZR | Anak Simbok Yang Doyan Menulis

Kariernya di dunia penulisan sudah begitu panjang. Puluhan buku sudah ditulis, tak terhitung lagi karya cerpen dan skenario sinetron. Kisah hidupnya sangat kaya warna, barangkali seperti sebagian kisah yang ditulisnya. (lebih…)

Jakob-Remy: Setia Pada Mesin Tik

Mawar Kusuma

Mesin tik melintasi zaman dan masih melahirkan karya-karya besar. Ia dianggap sebagai perpanjangan proses berpikir. Ada yang tak bisa menulis tanpa kehadiran mesin tik.

Dari jari-jari yang menari di atas tuts mesin tik, Remy Sylado (67) telah menghasilkan lebih dari 300 karya sastra. Ia memilih menyimpan komputer jinjing di balik meja kerja dan mengoleksi puluhan mesin tik. ”Itu kebiasaan saja. Disuruh mengubah ya tidak kulino (terbiasa),” kata Remy.

Remy terbiasa bekerja di ruangan berukuran 2 meter x 4 meter yang terletak di pojokan rumahnya di Jalan Cipinang Muara, Jakarta Timur. Ruang kerja tanpa pendingin udara ini dijejali dengan beragam jenis buku yang memenuhi setiap sudut ruangan. Jika ia mengetik, suara tuts mesin tik menjadi penyemangat tersendiri.

Dengan peluh bercucuran, Remy menunjukkan caranya bekerja. Ia lebih memilih bekerja di pagi hari ketika suasana masih sunyi. Tiga mesin tik dijejerkan sekaligus di atas meja kerjanya. Masing-masing dari mesin tik bermerek Brother itu digunakan untuk menulis karya berbeda.

Di tengah proses pembuatan suatu karya, Remy bisa tiba-tiba berpindah menyelesaikan karya lain dengan mesin tik berbeda. Ketika menulis novel Hotel Prodeo, misalnya, Remy mengetiknya bersamaan dengan cerita bersambung Namaku Mata Hari dan tulis ulang buku drama musikal Jalan Tamblong.

Seluruh novel karyanya dikerjakan bareng-bareng tiga sekaligus. Padahal mayoritas karyanya lahir dengan riset yang kuat. Sering kali karya Remy bahkan sudah diterbitkan ketika proses penulisannya belum rampung. ”Santai saja nulisnya. Kalau enggak ya main musik dulu,” ujar Remy.

Karya berjudul Paris Van Djava, misalnya, baru rampung 100 halaman, sedangkan karya Sam Po Kong baru diketik 300 halaman pada saat mulai dimuat bersambung di surat kabar. Penerbit bersedia mengambil risiko memuat karya yang belum jadi karena Remy belum pernah tidak menyelesaikan karya yang sudah diketik.

Jodoh pikiran

Hal serupa juga dilakoni Jakob Sumardjo (73) yang setia dengan mesin tik bermerek Royal 200. Di bilik kerjanya yang berukuran 2 meter x 2,5 meter, pensiunan guru besar STSI Bandung ini sudah melahirkan lebih dari 40 buku dan ratusan artikel. ”Saya berpikir lewat tulisan di mesin tik,” tambah Jakob.

Seluruh buku karya Jakob ditulis dengan satu-satunya mesin tik yang dibelinya sejak tahun 1970. Sampai kini, buku karyanya seperti Masyarakat dan Sastra Indonesia Populer (1979) dan Perkembangan Teater Modern dan Sastra Indonesia (1980) masih menjadi acuan di sekolah dan kampus.

Tuts mesin tik milik Jakob sempat luntur dan kawatnya putus karena Jakob menggunakannya setiap hari. Seorang rekannya yang juga tokoh teater di Bandung lalu membantu memperbaiki sehingga huruf-hurufnya kembali tampak. Ketika mesin tiknya diperbaiki selama dua pekan, Jakob mengaku tak bisa bekerja.

Ia mencoba menulis dengan tangan, namun hasil tulisannya dirasa tidak bagus. Jakob sama sekali tidak tertarik memanfaatkan komputer jinjing. ”Rasanya seperti tidak punya tangan. Mesin tik sudah jadi jodoh yang menyatu dengan pikiran saya. Jadi perpanjangan pikiran,” ujarnya.

Untuk penerbit buku yang tidak bersedia menerima naskah dalam bentuk ketikan mesin tik, Jakob memanfaatkan jasa ketik ulang. Draf buku yang sudah jadi lalu diserahkan ke seorang tetangga dekatnya yang sudah biasa mengetik ulang karya Jakob dengan komputer.

Mesin tik Royal 200 tersebut dibeli Jakob dari uang yang dikumpulkannya dari honor menulis untuk artikel di harian Kompas. Kantornya di STSI Bandung sempat memberinya hadiah berupa mesin tik merek Brother. Tapi Jakob merasa tidak nyaman menggunakan mesin tik itu.

Dengan mesin tik, Jakob sedang berusaha merampungkan buku karyanya tentang kajian budaya Sunda. Ia sudah sembilan kali menulis buku filsafat budaya Sunda. Saat ini, Jakob terkonsentrasi meneliti situs megalitik punden berundak Gunung Padang di Cianjur dan situs Karangkamulyan di Ciamis.

Selain terjun langsung ke lapangan, Jakob juga mencari referensi dari buku-buku tua seperti mantra sunda hingga manuskrip kuno. Jakob sama sekali tidak bersedia menggunakan kemudahan akses internet untuk referensi data. Untuk merampungkan sebuah buku, ia membutuhkan setidaknya dua hingga tiga bulan.

Museum mesin tik

Di samping bilik kerjanya, Remy menunjukkan lemari yang diisi koleksi mesin tik beragam model. Ia memperlihatkan mesin tik yang ukurannya lebih panjang dari mesin tik kebanyakan dan digunakan untuk menulis dengan ukuran huruf 8 point. Ada pula mesin tik dengan huruf miring, mesin tik huruf Arab, hingga mesin tik huruf Yunani yang diperolehnya dari pasar loak di Belanda.

Remy berniat akan memajang koleksi mesin tiknya di museum pribadi yang akan diwujudkan di rumahnya di Cikarawang, Dramaga, Bogor. Ketika ditemui terpisah di rumah itu, Remy juga memamerkan koleksi mesin tik tua tahun 1874. ”Kalau suka ya saya simpan,” tambah Remy.

Remy sudah mengoleksi lebih dari 40 mesin tik yang seluruhnya masih bisa digunakan. Mayoritas koleksinya dibeli dari tukang loak di Jalan Surabaya, Jakarta; Pasar Rumput, Jakarta; dan Jalan Cikapundung, Bandung. Ia membeli untuk koleksi dari tahun 1960-an dengan harga Rp 500.000-an.

”Wis kulino krungu suarane (sudah terbiasa dengar suaranya),” kata Remy merangkum alasan kecintaannya pada mesin tik. Tik..tik-tik-tik…ting!

*) Kompas, 9 September 2012

TM Hasan, Tokoh Perancang Pembukaan UUD

MEDAN–Gubernur Sumatera Utara pertama Teuku Moehammad Hasan merupakan salah seorang tokoh yang menjadi perancang Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dibahas sehari setelah Kemerdekaan Indonesia.

“Itu peristiwa yang harus dilestarikan agar fakta sejarah berjalan di atas ’rel kebenaran’,” kata veteran pejuang kemerdekaan Muhammad TWH (80) di Medan, Jumat.

Muhammad TWH menjelaskan, keberadaan TM Hasan sebagai perancang Pembukaan UUD 1945 tersebut layak diketahui seluruh rakyat Indonesia, terutama di Sumatera Utara.

TM Hasan mampu merancang Pembukaan UUD 1945 tersebut karena merupakan master hukum tata negara (S-2) dari salah satu perguruan tinggi ternama di Belanda, yakni Leiden University.

TM Hasan juga merupakan satu-satunya saksi dan pelaku sejarah yang menyimpan naskah asli Pembukaan UUD 1945 yang dibahas dalam rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada 18 Agustus 1945.

Namun naskah asli Pembukaan UUD 1945 tersebut telah disimpan di Gedung Arsip Nasional di Jakarta setelah diserahkan kepada Presiden Soeharto pada 24 Maret 1987.

Mantan Gubernur Sumatera Utara pertama itu dapat menyimpan dan memiliki naskah asli Pembukaan UUD 1945 karena menjadi perancang konsep yang menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Selain perancang, kata Muhammad TWH, TM Hasan merupakan sosok yang sangat berperan dalam mengatasi ketegangan yang terjadi antartokoh nasional ketika itu mengenai tujuh dalam Pasal 29 ayat (1) Pembukaan UUD 1945 yang dikenal dengan Piagam Jakarta.

Ketika itu, salah seorang peserta rapat Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia yakni Ki Bagus Hadikusumo bersikuh mempertahankan kalimat “Kewajiban Melaksanakan Syariat Islam Bagi Pemeluknya”.

Namun peserta rapat yang nonmuslim dan nasionalis menginginkan kalimat tersebut diubah untuk menciptakan keberagaman dalam Pembukaan UUD 1945 tersebut.

Wakil Presiden Pertama RI Mohammad Hatta yang tidak ingin ketegangan itu berakhir kontraproduktif menemui dan meminta TM Hasan untuk mendiskusikan keinginan peserta rapat kepada Ki Bagus Hadikusumo.

Setelah berdiskusi panjang dan menjelaskan arti nasionalisme, persatuan, serta kepentingan panjang bangsa Indonesia, TM Hasan berhasil meyakinkan Ki Bagus Hadikusumo untuk merubah prinsipnya sehingga kalimat dalam Pembukaan UUD 1945 diubah menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

“Sejarah itu dapat disimak dalam buku ’Memoar Kiprah Sejarah’ yang diterbitkan Graffiti Pers,” kata Muhammad TWH yang juga wartawan senior.

Karena itu, kata dia, tidak mengherankan jika TM Hasan mendapatkan sejumlah penghargaan dari pemerintah seperti Bintang RI Utama sebagai perancang Pembukaan UUD 1945 pada 7 Agustus 1995 (Keppres 072/1995), Bintang Mahaputera Adiprada sebagai Sekjen Departemen Dalam Negeri pada 29 Juli 1983 (Keppres 033/1983), dan dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2006 (Keppres 085/2006).

*)Antara, 1 September 2012

Q n A: Dewi Lestari

Jakarta – Bulan Agustus lalu, film Perahu Kertas resmi berlayar di bioskop-bioskop Indonesia, diangkat dari novel Dewi “Dee” Lestari yang terbit pertama kali pada tahun 2009 dan sudah dicetak ulang sebanyak 12 kali hingga tahun ini.

Hanung Bramantyo duduk sebagai sutradara, mengarahkan Maudy Ayunda dan Adipati Dolken sebagai dua karakter utamanya. Selain menulis skenario, Dee juga menulis lagu-lagu untuk soundtrack film ini, yang dibawakan antara lain oleh Maudy Ayunda dan trio yang melambungkan namanya sejak 1995, Rida Sita Dewi (RSD). RSD sempat reuni pada tahun 2008, pertama kalinya sejak Dee keluar di tahun 2003, dan kini ‘bersatu’ kembali lewat sebuah lagu yang, menurut Dee, sudah terpikirkan saat ia menulis adegan terakhir Perahu Kertas.

Penulisan novel Perahu Kertas dilakukan dengan ‘mengasingkan diri’ selama 60 hari. Bagaimana dengan penulisan skenario filmnya?

Untuk skenario, saya tidak menargetkan waktu seperti saat menulis novel. Prosesnya saya barengi dengan belajar dasar teorinya. Jadi, cukup lama juga saya berkutat dengan buku-buku penulisan skenario, juga baca skenario yang menurut saya bagus dan mempelajari strukturnya.

Saya lebih lama bermain dengan struktur ketimbang penulisan, karena tantangan skenario Perahu Kertas adalah memuat cerita yang begitu besar ke dalam skenario 100 halaman tanpa merusak grafiknya. Belum lagi penulisan skenario harus mengakomodasi keinginan tiga produser. Kira-kira setahun saya mengerjakan skenario Perahu Kertas.

Hal apa yang dirasa paling pelik dalam ‘memindahkan’ karakter-karakter novel ke dalam film?

Karakter-karakter di novel sudah cukup kuat. Namun, saya merasa, dalam film, cerita dan karakter harus dipertegas gradasinya. Untuk itu, saya memunculkan beberapa tokoh “baru”, tepatnya, tokoh yang sudah ada di novel tapi dikembangkan sedemikian rupa sehingga mereka memiliki porsi yang lebih besar dan signifikan. Misalnya, tokoh Siska (partner kerja Remigius) dan Banyu (pemahat di Ubud).

Film biasanya tidak bisa seleluasa novel. Bagaimana berkompromi dengan hal ini?

Itu saya sadari sejak awal. Karena itulah saya mengajukan diri sebagai penulis skenario sejak awal kerja sama. Kalau ada orang yang bisa tega memutilasi cerita Perahu Kertas, ya, harus saya orangnya. Sayalah orang yang memahami betul pondasi ceritanya, hingga sayalah yang bisa memutilasinya tanpa membunuh spirit ceritanya. Konsekuensinya, kalau ada yang protes kenapa cerita beda dengan novel, ya, saya jugalah orang yang diprotes. Nggak bisa cari kambing hitam. He-he.

Komentar Dee untuk Hanung Bramantyo sebagai sutradara film ini?

Saat pitching bersama (saya, Pak Chand Parwez, dan Pak Putut), ada empat nama sutradara yang sempat dicalonkan. Sejak awal, Pak Parwez sudah sangat yakin dengan Hanung. Sayangnya, Hanung sempat tidak bisa karena jadwal kerjanya nggak matching. Setelah rencana rilis diundur, jadwal Hanung kembali memungkinkan. Jujur, tadinya saya ragu. Tapi, setelah kenal langsung dengan Hanung, intuisi saya seketika mengatakan dialah orang yang tepat. Apalagi akhirnya Hanung bukan cuma menyutradarai, tapi ikut terlibat sebagai produser dengan perusahaannya, Dapur Film.

Rida Sita Dewi terlibat dalam soundtrack Perahu Kertas. Apa yang memicu ini, dan bagaimana saat kembali menyanyi setelah beberapa tahun pisah?

Ide melibatkan RSD sebenarnya sudah cukup lama ada. Ada satu lagu yang saya rasa pas banget untuk adegan itu, belum pernah dirilis, saya tulis mungkin sekitar tahun ‘96, judulnya “Langit Amat Indah”. Tahun segitu saya lagi senang-senangnya dengan Indigo Girls, jadi feel lagu itu kurang lebih seperti lagu-lagu Indigo Girls. Saya iseng terpikir untuk menyanyikannya bareng RSD. Ternyata para produser, termasuk Trinity Optima yang mengerjakan soundtrack-nya, bersemangat dengan ide tersebut.

Saya sendiri baru mengontak Rida dan Sita menjelang rekaman. Mereka juga ternyata bisa dan semangat untuk rekaman lagi. Rasanya lucu campur aneh, ya. Bayangkan, kami terakhir rekaman delapan tahun yang lalu. Sudah nggak tahu lagi suara kita kalau digabung seperti apa. Begitu rekaman, ternyata belum berubah, termasuk kelakuannya juga. Jadi, seru banget proses rekamannya waktu itu.

Bagaimana proses merangkum cerita panjang di novel menjadi lirik lagu?

Sejak awal pula saya sudah tahu akan melibatkan diri dalam soundtrack. Ketika skenario selesai, saya langsung membuat lagu “Perahu Kertas”. Saya pilah-pilah mana ide yang perlu dimasukkan, dan juga kata-kata kunci, antara lain seperti “perahu kertas”, “surat cinta’, “radar”. Jadi terasa jelas keterkaitan lagu dan film.

Saya menciptakan lima lagu, yaitu empat lagu baru (termasuk “Perahu Kertas), dua di antaranya bahkan saya tulis dalam waktu seminggu saja, karena slot baru diketahui ketika sudah nonton preview pertama kali. Satu lagu yang sudah saya tulis lama tapi belum pernah dirilis, “Langit Amat Indah” (RSD). Sisanya: “Tahu Diri” oleh Maudy Ayunda, “Dua Manusia” oleh Dendy Mikes, “A New World” oleh Nadya Fathira. Di luar lagu saya, ada Triangle Band (“How Could You”) dan Adrian Martadinata (“Behind The Star”).

*)Rollingstone Indonesia, 4 September 2012

Angkie Yudistia: Tuna Rungu Menembus Batas

Antibiotik bukanlah obat dari segala jenis penyakit. Obat ini pun tidak boleh diberikan secara sembarangan. Salah-salah justru bisa memicu permasalahan lain seperti hilangnya kemampuan pendengaran seperti yang dialami Angkie Yudistia, gadis cantik yang tunarungu karena antibiotik.

Gadis kelahiran Medan, 5 Juni 1987 itu terlahir sebagai anak normal yang cantik, manis, sempurna dan baik-baik saja. Namun ia mulai mengalami gangguan pendengaran ketika masih duduk di bangku SD dan sering tidak merespons ketika orang lain memanggilnya.

Angkie Yudistia telah divonis tunarungu sejak umurnya 10 tahun. Ia mengaku, gangguan pendengaran yang ia alami ternyata berasal dari pemakaian antibiotik yang berlebihan yang diberikan orangtuanya ketika ia sakit di waktu kecil.

“Dari kecil saya sering sakit-sakitan dan orang tua sering memberi antibiotik terus menerus jika saya sakit. Tiba-tiba pada usia 10 tahun saya divonis menjadi seorang tunarungu,” ujar Angkie, dalam artikel detikHealth yang ditulis ulang Rabu (5/9/2012).

Hal ini dibenarkan oleh audiologist dan pakar pendidikan anak tunarungu PABD Melawai, Drs. Anton Subarto, Dipl Aud.

“Pemakaian antibiotik dalam dosis tinggi dan berlebihan memang bisa jadi faktor pemicu seorang terkena tunarungu. Obat-obatan seperti pilkina dan aspirin pun bisa menjadikan anak mengalami gangguan pendengaran,” ujar Anton.

Saat itu, telinga kanan Angkie hanya mampu mendengar suara 70 desibel sedangkan yang kiri 98 desibel. Sementara, rata-rata percakapan pada manusia normal berada di 40 desibel.

Angkie yang divonis tunarungu pun kemudian dibawa orangtuanya untuk berobat ke berbagai tempat. Ia sudah mencari berbagai pengobatan alternatif tapi tidak ada yang cocok.

Akhirnya pada usia 16 tahun, Angkie mulai menggunakan alat bantu dengar. Namun ia mengaku selama 6 tahun hidup dalam kesunyian, ia merasa sangat tersiksa dan terhambat aktivitasnya.

Praktis keterbatasan Angkie itu menimbulkan banyak masalah selama belajar di SD hingga SMA. Tak jarang ia mengaku sering kali menerima cacian dan hinaan.

Dilema dihadapi Angkie saat lulus SMA. Dokter yang merawatnya menyarankan agar ia tidak melanjutkan kuliah karena stres bisa memperparah kondisi pendengarannya.

Namun Angkie ngotot untuk tetap meneruskan pendidikannya. Ia kemudian kuliah dan menyelesaikan studinya di jurusan periklanan di London School of Public Relations (LSPR), Jakarta, dan lulus dengan indeks prestasi komulatif 3,5.

Tekad Angkie yang kuat dan kemauan untuk terus menggali potensi diri, membuatnya tumbuh menjadi anak yang penuh percaya diri. Semasa kuliah, ia selalu aktif dalam berbagai kegiatan positif.

Angkie tercatat sebagai finalis Abang None mewakili wilayah Jakarta Barat tahun 2008. Selain itu ia juga berhasil terpilih sebagai The Most Fearless Female Cosmopolitan 2008, serta Miss Congeniality dari Natur-e, serta berbagai perestasi lainnya.

Kecintaan Angkie di dunia pendidikan pun mengantarnya meraih gelar master setelah lulus dari bidang komunikasi pemasaran lewat program akselerasi di LSPR.

Pemilik tinggi 170 cm dan berat 53 kg itu pernah pula bekerja sebagai humas di beberapa perusahaan.

“Tapi bukan berarti aku nggak pernah ditolak kerja ya, sudah sering banget. Alasannya karena waktu mereka tahu aku tunarungu dan nggak bisa pakai telepon,” kisahnya.

Pengalaman Angkie didiskriminasi itu kemudian memotivasinya untuk membuat Thisable Enterprise bersama rekannya. Perusahaan itu fokus pada misi sosial, khususnya membantu orang yang memiliki keterbatasan fisik alias difable (Different Ability People) seperti dirinya.

Berbagai pengalaman hidupnya mencari jati diri kemudian dituangkannya lewat buku berjudul ‘Invaluable Experience to Pursue Dream’ (Perempuan Tuna Rungu Menembus Batas) akhir 2011 lalu.

Sosok Angkie dan segudang prestasinya itu menunjukkan bahwa setiap orang, bahkan yang punya cacat fisik sekalipun bisa jadi luar biasa.

“Keterbatasan bisa jadi kelebihan. Setiap masalah pasti ada jalan keluar asal ada kemauan,” ucap Angkie yang kini menjabat sebagai Founder dan CEO Thisable Enterprise.

*)Detik, 5 September 2012

Maylaffayza: Terinspirasi Haruki Murakami

JAKARTA – Dua tahun belakangan, Maylaffayza menggeluti olahraga lari. Saking keranjingan, ia bahkan turut menggagas sebuah komunitas lari Indorunners. Namun, siapa sangka, violis kondang itu, awalnya sangat membenci olahraga tersebut. Bagaimanakah ia memulai ketertarikannya?

Haruki Murakami, penulis terkenal negeri Sakura, Jepang itu, menjadi orang yang paling bertanggungjawab mengubah hidupnya. Buku memoar berjudul “What I Talk About When I Talk About Running” yang ditulis Murakami, rupanya membuat wanita berusia 36 tahun itu, terprovokasi untuk menyukai olahraga lari.

“Kenapa berlari, dulu saya suka olahraga, kecuali lari. Saya paling benci. Tapi saya mulai lari tahun 2009, setelah baca buku memoar novelis Jepang, yang juga seorang pelari jarak jauh, Haruki Murkami. Dia buat buku khusus tentang lari. Kita terinspirais setelah membaca buku itu,” terangnya, saat ditemui di FX Sudirman, Senayan, Jakarta.

Saat membaca buku tersebut, Maylaffayza jadi tergugah. Ia melihat banyak kesamaan pola pikir dengan Murakami. Dalam buku itu, Murakami memaparkan ketertarikannya dengan lari, berikut pengalamannya selama menekuni olahraga tersebut dengan sangat filosofis.

“Saya merasa, saya violis dan dia novelis, punya pola pikir yang hampir sama. Saat itu, saya mulai lari, latihan (lari) di gym dua bulan hanya bisa tiga menit. Besoknya, tambah terus tiap menit. Saya berlatih interval. Setelah membaca, saya latihan tanpa target, tanpa tekanan, akhirnya saya bisa,” ucapnya.

Berbeda jauh dengan sebelumnya. Dulu, kenang Maylaffayza, hampir setiap pelajaran olahraga di sekolah membuatnya terasa hampir pingsan. Sekarang, ia malahan menjadikan lari sebagai bagian dari gaya hidupnya.

*)Tribunnews, 1 September 2012

Dessy Sekar A Chamdi: Membaca Itu Penting

“MEMBACA menjadi dasar pengentasan rakyat dari kemiskinan,” ucap Dessy Sekar A Chamdi dengan penuh keyakinan. Beralaskan prinsip ini, perempuan yang dikenal sebagai Ketua Dewan Pengurus Yayasan Literasi Indonesia itu tak lelah terus mengampanyekan gemar membaca kepada masyarakat Indonesia. Tak hanya berkampanye, Sekar, panggilannya, juga ikut membina sekitar 100 rumah baca di sejumlah daerah di Indonesia. Bersama 15 relawan Yayasan Literasi Indonesia (YLI), dia juga menghidupkan Library@batavia, perpustakaan di Museum Bank Mandiri, yang berlokasi di depan Stasiun Kota, Jakarta.

Kemiskinan lekat dengan kebodohan, begitu Sekar berargumen. Kebodohan bersahabat dengan buta huruf. Buta huruf tak sekadar berarti ketidakmampuan seseorang membaca huruf, tetapi juga buta huruf fungsional. Masyarakat banyak yang sudah mampu membaca aksara, tetapi tak memanfaatkannya. Mereka kurang membaca.

“Padahal, dengan membaca mereka memahami bagaimana meningkatkan ekonomi. Ini semua karena akses terhadap bacaan masih rendah,” kata sarjana Teknik Kimia Universitas Brawijaya, Malang, ini.

Setiap daerah mempunyai perpustakaan. Dana ratusan juta hingga miliaran rupiah digelontorkan untuk membangun perpustakaan-perpustakaan tersebut. Namun, tak banyak warga mengakses atau memanfaatkannya. Pengelolaan perpustakaan daerah pun cenderung setengah-setengah.

“Pada awal 2000-an, saya baru tahu di Jakarta ada lima perpustakaan pemerintah daerah. Namun, saya dan teman-teman yang gemar membaca saat itu tak satu pun yang tahu di mana alamat perpustakaan tersebut,” ujarnya.

Dari sinilah Sekar berpikir, penyadaran gemar membaca kepada masyarakat masih rendah. Bagaimana menjadikan perpustakaan lebih dekat dan mudah diakses masyarakat sehingga budaya membaca lebih kuat.

Bersama teman-teman, Sekar mulai aktif dalam sejumlah kegiatan kampanye yang diadakan Forum Indonesia Membaca mulai 2004. Mereka menjadi relawan hingga 2005. Kegiatan itu sempat terhenti pada 2005-2006 saat dia bekerja sebagai relawan sebuah lembaga sosial asing di Aceh pasca-tsunami.

Kampanye

Pada pertengahan 2006, dia memilih kembali ke Jakarta. Rupanya upaya penyadaran gemar membaca masih menjadi minat terbesarnya meski sempat terbengkalai satu tahun karena pekerjaannya di Aceh.

Bersama rekan-rekan, dia kembali menghidupkan YLI. Tak hanya terus menggiatkan kampanye membaca buku, Sekar juga mendirikan rumah baca di Kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Rumah baca itu memakai rumah kontrakan di tengah permukiman warga. Pembiayaannya pun dilakukan dengan kesukarelaan. Buku koleksi didapat dari sumbangan, seperti perusahaan, masyarakat, dan relawan.

“Kegiatan kami waktu itu adalah terus merekrut relawan dan mengumpulkan buku. Kami juga terus mengadakan kampanye di mal, sekolah, kampus, juga di jalan. Kadang kami menumpang tempat di pameran-pameran buku secara gratis. Semuanya kami lakukan secara sukarela,” katanya.

Relawan yang bergabung pun mencapai puluhan orang. Mereka berasal dari berbagai profesi, mulai pelajar SMP, SMA, mahasiswa, karyawan swasta, pegawai negeri sipil, hingga pensiunan.

“Para relawan ini bergabung umumnya karena mempunyai hobi dan minat yang sama, yakni membaca. Mereka juga senang terlibat dalam berbagai kegiatan kampanye walaupun tak dibayar. Saat kumpul-kumpul bareng, mereka bahkan lebih sering harus membiayai sendiri,” tutur Sekar.

Penyelenggaraan World Book Day 2006 menjadi momen yang tak terlupakan bagi Sekar. Di situlah YLI dapat memperluas jaringannya. Mereka berhubungan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan sebuah lembaga pusat kebudayaan asing yang mengapresiasi kegiatan-kegiatan YLI.

Dari World Book Day, YLI juga mulai membangun jalinan komunikasi dengan komunitas taman bacaan dan komunitas literasi dari sejumlah daerah.

“Kami bisa berbagi satu sama lain. Mungkin karena kami berkembang di Jakarta, teman-teman di daerah melihat kami. Padahal, mereka juga tak kalah meski di daerah-daerah,” ujarnya.

Kini sekitar 100 taman bacaan di sejumlah daerah menjadi mitra YLI. Sebagian tumbuh berkembang karena terinspirasi langkah YLI.

“Saya sering diundang rekan-rekan komunitas taman bacaan di daerah untuk memberikan pelatihan atau sekadar berbagi pengalaman. Saya bahagia melakukan itu semua,” katanya.

Kota Tua

Pada 2008, Sekar diperkenalkan dengan pengelola Museum Mandiri yang berlokasi di Kota Tua, Jakarta. YLI pun menggelar festival di museum tersebut secara rutin. Tak hanya pameran buku, mereka juga berkampanye dengan menggelar kegiatan-kegiatan atraktif.

“Semuanya dilakukan para relawan. Kalau ada yang bisa berbahasa Perancis, dia memberi kursus bahasa Perancis, yang bisa sulap, mengadakan atraksi sulap. Dari situ kemudian kami mereferensikan kepada pengunjung bacaan-bacaan yang menarik,” tutur anak sulung dari empat bersaudara ini.

Sejak 2008, rumah baca yang semula berada di kawasan Duren Tiga digabungkan dengan perpustakaan Museum Mandiri. Sejak itu, perpustakaan pun dikenal dengan Library@batavia. Di sini Sekar duduk sebagai penasihat. Sebanyak 15 relawan aktif menjadi lokomotifnya.

Menjadi relawan bukan hal baru bagi Sekar. Sejak kuliah di Jurusan Teknik Kimia Universitas Brawijaya, Malang, perempuan kelahiran Singkawang, Kalimantan Barat, ini juga aktif dalam kegiatan kerelawanan. Dia pernah menjadi anggota organisasi lingkungan, gerakan perempuan, hingga pencinta alam.

Namun, dunia bacaan adalah minat utamanya di samping musik dan film. Dunia itu pula yang digelutinya setelah lulus sebagai sarjana teknik kimia. Sekar tak memilih bekerja sesuai studinya karena ingin menekuni bidang yang menjadi minatnya, dunia baca dan relawan.

“Kebetulan sejak kecil saya suka membaca. Ayah saya sering membawa kami ke perpustakaan. Dari sinilah minat membaca saya tumbuh dan kuat serta menjadi minat saya hingga dewasa,” katanya.

Sekar mengaku tidak menyesal meskipun bidang kerja yang dipilihnya tak membuat dia berkelimpahan harta. Kegiatan yang ditekuni adalah panggilan jiwa yang tumbuh dari minat hatinya.

Dia pun memahami, langkah penyadaran yang dilakukannya tidak langsung dapat terlihat hasilnya. “Namun, lihatlah 5-10 tahun ke depan, perubahan itu akan terlihat,” ujar Sekar. (*)

*)Kompas, 24 Agustus 2012

Syafaatun Almirzanah: Tak Hanya Satu Jalan ke Tuhan

Maria Hartiningsih & Myrna Ratna

Pengalaman khas dan berbeda yang dibagi dalam komunikasi terbuka dan kesalingan belajar akan saling memperkaya identitas individu religius.

Syafaatun Almirzanah PhD (49) menghidupi setiap pengalaman perjumpaan sebagai cahaya yang memperkaya jiwa untuk menuju kepada Yang Satu. Melalui perjalanan panjang, ia meyakini, hanya dalam komunikasi yang terbuka dan dialog mendalam dengan kerendahan hati, dimungkinkan perjumpaan untuk saling memperkaya dan diperkaya.

Itu sebabnya, ”Pengalaman bergaul dengan orang lain sangat penting dalam hidup,” ujar intelektual serta pakar kajian Islam dan kajian agama-agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta itu.

Ditemui di Jakarta beberapa waktu lalu, sepulang tugas mengajar di Georgetown University, Washington, AS, Syafa, begitu ia disapa, mengungkapkan, salah satu metodologinya untuk berdialog adalah passing over from our own tradition, dari our motherland kepada tradisi orang lain yang berbeda, kepada wonderland.

”Tetapi, tidak berhenti di situ. Kita coming back, pulang kembali ke motherland dengan horizon baru yang sudah diperkaya.”

Ia selalu menekankan, dialog bukan sekadar debat atau saling memahami terus selesai. ”Kalau tidak ada transformasi namanya bukan dialog,” ujar Syafa.

”Transformasi terjadi ketika Anda mau diperkaya oleh orang lain. Di situ harus ada self-criticism, ada dorongan mengkritisi diri sendiri. Juga, kerendahan hati. Itu berkaitan. Bukan hanya dengan agama lain (interreligious), melainkan juga di dalam agama yang sama (intrareligious). Pengalaman saya, yang intra itu lebih sulit.”

Religius sekaligus abai

Kritik diri bukan hal mudah, begitu ditegaskan Syafa. Dari buku dan survei terungkap, religious ignorance hampir umum terjadi. ”Sederhananya, orang sudah nyaman dengan hanya sedikit atau bahkan tidak paham pengetahuan tentang agama sendiri, apalagi agama orang lain,” ujar Syafa, ”Orang Amerika dikenal religius but at the same time ignorant.”

Maksudnya?

Menurut teolog Friedrich von Huegel dan pakar mistisisme, Gershom Scholem, semua agama punya tiga elemen. Hal itu adalah historis-institusional (fisiknya, umatnya, doktrinnya), intelektual yang berasosiasi dengan pikiran (reason), dan mistikal yang membimbing atau menunjuk pada keinginan dan perbuatan cinta. Ketiga elemen itu harus dalam hubungan harmonis. Kalau hanya menekankan salah satu aspek dalam kehidupan beragama, problem akan terjadi.

Mungkin ini juga terjadi di Indonesia. Kita suka yang historis institusional, sementara aspek intelektual dan mistikalnya tidak dikembangkan. Dalam semua agama, ritual akan menjadi empty cell kalau tak ada mistikal dan spiritualnya. Para sufi itu juga melakukan ritual. Kalau kita shalat digigit nyamuk masih terasa, dalam sejarahnya, para sufi, tak merasa apa pun, bahkan ketika anak panah yang menancap di tubuhnya dicabut.

Islam yang masuk ke Indonesia sebenarnya lebih mistikal, yang melampaui teks, menukik menuju esensi. Kita memiliki tradisi yang indah dalam semua agama.

Jadi apa persoalannya saat ini?

Kesadaran. Dalam buku saya (When Mystic Masters Meet: Towards a New Matrix for Christian-Muslim Dialogue, 2011), saya jelaskan, ketika diyakini hanya ada satu jalan untuk sampai ke Tuhan, itu namanya melekat atau attach. Eckhart (filsuf, teolog, mistikus Kristiani abad ke-11-12 ) bilang, getting the way, and missing God. Kita ributnya di ’the way’. Jalan menuju Tuhan itu, kata Ibn ’Arabi (mistikus Sufi, filsuf abad ke-10-11) sama banyaknya dengan the breath of human being. Kalau yang dikembangkan tak hanya historis institusional, kehidupan ini akan lebih harmonis. Itu juga self criticism buat kita.

Bisa lebih dijelaskan?

Ucapan manusia saja bisa diinterpretasikan macam-macam, apalagi kitab suci bahasa Arab, juga kitab suci lainnya. Ibn ’Arabi mengatakan, kata saja di dalam Al Quran, belum ayat, belum surah, punya makna tak terbatas dan semuanya dikehendaki Tuhan. (Pemaknaan) Al Quran itu sebenarnya seperti lautan tanpa tepi.

Sufi besar abad ke-10, Al-Junayd, mengatakan, the color of the water is the color of its container, makna yang ditangkap bergantung pada kapasitas yang menangkap, kesiapan kita, pengalaman kita, konteks ketika kita ada dan perkembangan ilmu ketika kita memahami kitab suci itu. Yang diperbarui bukan agamanya, bukan kitab sucinya, melainkan the mind and the eyes yang membaca, yang sudah diperkaya oleh ilmu dan pengalaman yang lain. Pasti berbeda ketika saya membaca di pondok dengan sekarang. Kalau masih sama, berarti ada yang keliru.

Cinta, cinta…

Kepada mahasiswanya di AS, Syafa menjelaskan, Islam tidak monolitik. Dengan pendekatan fenomenologis, dia menjelaskan perbedaan Islam di Indonesia dari Islam di Timur Tengah.

Kepada mahasiswa yang mengenal Islam hanya dengan penekanan konflik, dijelaskan bahwa konflik tak bisa digeneralisasi. Yang terjadi di Thailand berbeda dengan di Filipina. Di Filipina, kelompok Abu Sayyaf berbeda dengan yang lain. Ada masalah penindasan, jadi tak semua (konflik) merupakan respons teroris.

Melalui metode diskusi dan dialog, setelah memberi tugas membaca beberapa literatur selama seminggu, Syafa menuntun mahasiswa untuk sampai pada pemahaman tentang self-criticism. ”Tidak mudah, tetapi yang saya suka, mahasiswa lalu mencobanya dengan pengalaman mereka dalam tradisi agama masing-masing.”

Salah satu cita-cita Syafa adalah mengembangkan model beragama yang sehat. Ia selalu mencari jalan bagaimana mengubah metode dakwah. ”Zaman kita kecil ditakut-takuti dengan neraka, dengan titian sehelai rambut dibelah tujuh. Kalau yang kita contohkan hal-hal seperti itu, ya ngeri,” ujar Syafa.

Jadi?

Tuhan bilang, Kasih-Ku mendahului marah-Ku. Kenapa bukan kasih yang didahulukan, bukan hukuman. Kalau hendak memulai sesuatu kan kita mengucapkan ”Bismillaahir rahmaanir rahiim”. Kalau awalnya sudah dengan ar rahman ar rahim, kenapa lalu harus pakai yang keras. Saya selalu sarankan, yuk kita ngaji lagi, loving, loving, loving, dan itu lebih sehat. Ahli neuroscience dan kajian agama, Andrew Newberg, mengatakan, model beragama seperti itu (dengan loving) bisa menata otak.

Kebaikan, kebaikan

Meski keragaman agama, budaya, etnis, bahasa, dan lain-lain merupakan realitas eksistensial, memberikan pemahaman tentang keberagaman bukan hal mudah.

Suatu saat, ketika anaknya masih kecil, para tetangga yang melihat di meja kerjanya banyak bacaan Kristen dan Buddha bertanya kepada sang anak, ’Mama kamu itu gimana?’ Padahal, Syafa memang mengajar perbandingan agama.

Pernah juga sepulang sekolah anaknya bertanya, ’Ma, apa betul yang masuk surga hanya kita? Begitu kata guru’. ”Dia seperti tak bisa terima karena ia mengenal para biku dan romo yang sangat baik. Saya jelaskan, surga atau neraka bukan urusan gurumu. Yang terpenting bagi kamu adalah berbuat baik terhadap sesama manusia.”

Banyak juga yang pengalamannya hanya within their own. Di AS ia bertemu mahasiswa Katolik dari Thailand yang mengaku belum pernah ketemu orang non- Kristen. Padahal, mayoritas di Thailand beragama Buddha.

”Jadi, memang tak mudah karena banyak juga orang yang tak mau bertemu dengan orang lain. Ada tokoh yang mengatakan, jika hanya tahu satu agama, sebetulnya tidak tahu apa-apa. Diktum ini sangat bermakna. Kalau kita tidak memahami tetangga kita, sebetulnya kita tidak memahami diri sendiri,” ungkapnya.

Dialog antaragama terus dilakukan, tetapi mengapa konflik terus terjadi?

Karena yang berdialog adalah orang yang sudah paham, tetapi persoalannya tak hanya itu. Orang yang diajak dialog itu tidak mewakili komunitasnya. Pak Mukti Ali (Menteri Agama 1971-1978) pernah menawarkan untuk membawa orang-orang dari lingkungan yang homogen ke dunia yang penuh keberagaman.

Saya kira persoalan yang kita hadapi tak sepenuhnya masalah agama sehingga tak bisa diselesaikan dengan mengumpulkan para tokoh agama. Ada faktor sosial-politik-ekonomi, khususnya kemiskinan. Bagaimana mau bicara tentang Tuhan dan berdialog kalau perut lapar dan hidup susah. Dari situ saya belajar tentang teologi harapan. Semua butuh waktu dan tidak mudah.

Bagaimana dengan solidaritas yang makin tersegregasi?

Yang lebih utama adalah kemanusiaan, siapa pun orang dan labelnya. Tuhan saja berfirman, Wa laqad karamna bani Adam, artinya Kami telah memuliakan anak Adam. Jadi, tidak dikatakan memuliakan umat ini atau itu, tetapi manusianya.

Disemangati Bapak

In this world, it is not similarities or regularities that take us a step forward, but blunt opposites…. (Rumi)

Jalan Syafa tampaknya terpapar sejak dini. Anak ketiga dari enam bersaudara itu tumbuh dalam kerukunan antarmazhab dan aliran. Dalam perjalanannya menjadi manusia dewasa, dia berkembang di lingkungan yang menghormati keberagaman.

Ayahnya, alm H Zainal Arifin Aljufri Tirta Kusuma, adalah sosok yang terus belajar. Kiai desa yang mengamalkan sufisme ala tradisi Jawa itu sangat suka membaca. Ia mengirim Syafa ke pesantren agar mewarisi ilmunya.

”Bapak dari NU tradisional, tetapi keluarga ibu saya Masyumi. Di rumah, kami biasa tarawih. Bapak saya 23 rakaat, ibu saya 11 rakaat, dan mereka tak pernah memaksa anak-anaknya ikut bapak atau ibu,” ungkap Syafa.

Ketika di pesantren, ia menyimak kiainya bahwa pesantren itu milik semua golongan. ”Di pesantren, kita tak hanya belajar agama Islam,” kenang Syafa. ”Teman-teman Seminari Mertoyudan live in di situ. Santri terbiasa kedatangan tamu dari luar negeri. Ada pelajaran dinayah, seperti comparative religion. Dalam agama sendiri, Islam, santri harus tahu makna inti berbagai mazhab.”

Di dalam keluarga, Syafa dikenal sebagai ’anak bapak’. Namun, bukan berarti tak pernah bersitegang. Ketika lulus dari pondok, ayahnya ingin Syafa masuk jurusan bahasa, tetapi dia ingin masuk jurusan perbandingan agama. ”Saya bilang ke Bapak, itu kajian, bukan membanding-bandingkan. Bapak akhirnya paham.”

Setelah Syafa kuliah, sang ayah mulai berteman dengan pastor dan biksu. ”Suatu saat dia bilang, ’Nanti kalau kamu pulang, saya akan kenalkan dengan teman-teman yang ingin ketemu kamu juga’….”

Sang ayah yang sangat dicintainya itu berpulang tahun 2002 ketika ia akan maju ujian komprehensif untuk menentukan studi lanjutan ke jenjang PhD di Chicago, AS. Namun, semangatnya terus hidup dan dihidupi, termasuk melalui cara Syafa mendidik anak semata wayangnya.

Muhammad Hasnan Habib (20)—kini melanjutkan kuliahnya di ITB setelah sempat belajar pada Jurusan Fine Arts di Georgetown College—sejak kecil sudah bergaul dengan teman dan guru ibunya yang beragam.

”Dari kecil dia sangat kritis, juga terhadap agama,” ujar Syafa, ”Jawaban saya tidak mematikan pertanyaannya, tetapi mendorong dia selalu bertanya.” (MH/MYR)

*)Kompas, 12 Agustus 2012

I Nyoman Darma Putra: Dari Rambut ke Buku

AYU SULISTYOWATI

I Nyoman Darma Putra (51), penulis dan Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana, Denpasar, menjadikan rumahnya tempat apa pun yang tiada duanya di hatinya. Bagi Darma, tangan ajaib sang istri, Luh Putu Diah Suthari, menenteramkan hati.

Meski ia sering bolak-balik ke Australia untuk urusan proyek pendidikan, rumah berlantai dua seluas sekitar lima are di Jalan Gunung Agung, Denpasar, itu selalu membuat Darma rindu pulang. Taman indah di halaman depan rumah membuatnya nyaman dan mensyukuri hidup bersama kedua anaknya.

Para penghuni rumah tersebut memiliki kesibukan masing-masing. Darma aktif sebagai dosen dan penulis buku, selain juga sebagai jurnalis di Bali dan Australia. Istrinya seorang wirausaha, sementara anak-anak bekerja dan kuliah. Akan tetapi, Darma selalu menanamkan kebersamaan di dalam rumah adalah segalanya.

”Rumah menjadikan segala yang timpang menjadi seimbang. Segala yang negatif menjadi positif. Segala yang jenuh menjadi penuh gairah. Ini tempat berinteraksi yang paling ideal bagi kami,” kata Darma, pertengahan Juli lalu.

Darma menuturkan, ruang keseimbangan itu tak hanya ditemukan dalam dialog atau komunikasi di antara anggota keluarga. Hidangan dari dapur juga menjadi bumbu kemesraan rumahnya. Ia memang tidak mengharuskan sang istri menjadi koki andal. Hanya saja, ia berharap istrinya juga memupuk keseimbangan dan menebar bumbu cinta dalam setiap masakan yang disajikan. Bahkan, ia pun suka memasak.

”Kami memiliki pembantu. Namun, istri itu bagaikan seorang editor dalam suatu media. Ia pun perlu mengedit seluruh masakan pembantu. Apa yang terjadi, cinta pun ada di atas meja makan. Nikmat rasanya,” ujarnya.

Dari kamar tidur

Meski demikian, ia mengaku dapur bukan ruang favorit meski penting bagi keharmonisan keluarganya. Kamar tidur merupakan ruang paling favoritnya. Di kamar ia pun lancar mengerjakan tulisan-tulisan akademisnya. Ia betah berjam-jam bersama laptop.

”Pemandangan dari dalam kamar ini indah. Tamannya nyaman sekali dengan adanya percikan air. Damai dan tenang untuk mengerjakan apa pun di sini. Lihat saja…,” tutur Darma sambil memperlihatkan sudut favoritnya.

Ia mengaku masih memerlukan beberapa rak buku untuk buku-buku yang belum tertata. Itu bagai mimpi yang tertunda baginya. Apa boleh buat, buku memang menjadi kebutuhan pokok Darma setiap hari. Bahkan, lulusan Sastra Indonesia Universitas Udayana ini tak menyangka bisa mengawali menulis dari jurnalis di Kelompok Bali Post mulai 1980 hingga 2008, kontributor bagi Australian Broadcasting Corporation (ABC) mulai 2002 hingga 2006.

Berawal dari profesi jurnalis ini, ia mengenal sejumlah kawan dari luar negeri, termasuk para peneliti asing. Ia pun terusik dengan kegigihan para peneliti asing ini dalam mencari narasumbernya bagai investigasi. Lalu ia merasa tertantang dan mencoba menulis dengan gaya akademisi dari penelitian-penelitian.

Selesai kuliah strata satu, ia melanjutkan studi S-2 dan S-3 ke Australia. Di sela-sela menyelesaikan sejumlah proyek penelitian serta tesis dan disertasinya, Darma menulis buku, seperti Tonggak Baru Sastra Bali Modern, Wanita Bali Tempo Doeloe: Perspektif Masa Kini. Belum lama ini, ia meluncurkan tulisan Pasangan Pionir Pariwisata Bali (biografi Ida Bagus Kompiang dan Anak Agung Mirah Astuti).

Potong rambut

Selain rumah dan keluarga, ada hal lain yang membuat Darma selalu ingin pulang, yaitu rambutnya. Apa hubungan rumah dan rambut? ”Istri saya itu tak hanya pintar memasak dan menata taman di rumah, tetapi juga ahli memotong rambut saya. Makanya, saya selalu rindu pulang,” ujarnya serius.

Ini bukan urusan berhemat 30 dollar AS memotong rambut di negeri seberang. Ini persoalan kepercayaan bagi seorang Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana ini. Menurut dia, tidak semua orang bisa memotong rambut dengan baik dan rapi. Namun, dengan dasar kepercayaan, ia lebih percaya diri tampil di mana pun dengan guntingan tangan sang istri.

”Sekarang ini, saya berharap anak perempuan saya bisa memotong rambut seperti ibunya. Kalau urusan memasak, di rumah ini sudah tidak ada perbedaan lelaki dan perempuan. Semuanya sudah terbiasa di dapur. Saya dan keluarga pun berupaya menghormati tamu-tamu siapa pun itu dengan dapur yang menyatu dengan ruang tamu serta keluarga. Rumah ini terbuka jika ada yang ingin membuat minuman atau makanan sendiri,” katanya.

Dapur, taman yang sejuk, dan rambut yang dibelai jari-jari sang istri menjadikan kehidupan Darma terasa nyaman. ”Tulisan dari semua penelitian pun mengalir,” katanya. Terbukti, saban tahun Darma bisa menulis sampai dua buku. Itu belum termasuk kajian-kajian penelitiannya yang terserak di sejumlah jurnal ilmiah.

*)Kompas 12 Agustus 2012, “Ketenteraman Ada di Dapur dan Rambutku”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan