-->

Arsip Tokoh Toggle

Nila Tanzil | Mendorong Mimpi Anak-anak

Tahun ini, Nila Tanzil ingin membuka Taman Bacaan Pelangi di Papua. Ia juga menyiapkan pendirian yayasan untuk menaungi taman bacaan yang sudah beroperasi di 25 titik di Indonesia timur itu. (lebih…)

Elvera Nuriawati Makki, Buka Gerbang Literasi Anak-Anak PAUD Indonesia Timur

SEMUA orang berhak atas buku. Sayangnya, akses untuk buku tak selalu tersedia. Elvera Nuriawati Makki menjawab itu semua dengan konsisten memperjuangkan gerakan literasi bagi pendidikan anak usia dini (PAUD) di wilayah Indonesia Timur.
———-
HENNY GALLA, Tangerang
———-
Waktu itu, senja telah turun di Mataram. Kaki pun hendak melesat cepat seusai menapak turun dari anak tangga pesawat. Namun, apa daya, hujan lebat yang terlampau kerap menyapa memaksa semua barang bawaan harus ditahan semalam.

Esok harinya, di akhir November 2009, Elvera Nuriawati Makki melangkah menembus kabut. Sejurus kemudian, semuanya terbayar saat menyaksikan sorot puluhan pasang mata yang berbinar.

Di sudut lain, hujan tadi malam menyisakan aroma basah pada rak kayu di depan sebuah teras rumah. Rak itu masih kosong dan menunggu untuk diisi. Vera -sapaan karibnya- memandangnya lega. Sambutan itu sudah melebih ekspektasi.

Sekitar 34 bocah rela menanti perjalanan Vera dari pusat kota “yang harus ditempuh dua jam dengan bermobil” ke Batu Lawang, Desa Gelanggang, wilayah terpencil di Lombok Timur. “Itu untuk kali pertama saya menyinggahi PAUD Assajari,” cerita Vera saat ditemui Jawa Pos di kediamannya The Green, Serpong, Tangerang, akhir pekan lalu (5/1).

Senyum bocah 3-5 tahun itu langsung mengembang saat mereka menyaksikan Vera membuka barang bawaan penuh dengan tumpukan buku bacaan anak-anak. Tanpa banyak kata, para bocah itu berebut mengambil buku, lantas keheranan dengan isi yang ada di dalamnya. Gajah, jerapah, burung, dan ayam, dengan semburat merah, kuning, dan hijau, menyapa mereka dengan kata: Halo!

Dalam kerumunan bocah itu, beberapa masih malu-malu menunjuk buku yang disuka. Ada pula yang agresif bertanya kepada pengasuh PAUD-nya, gambar apa ini dan itu. Ada yang rajin menyimak sang pengasuh membacakan cerita. Ada pula yang serius menyendiri dan membaca berjam-jam, tapi ternyata bukunya terbalik.

Gelak tawa menyeruak di ruang terbuka itu. Aksi sosial pertama Vera berhasil. Dia yang berambisi menumbuhkan budaya membaca sejak dini diterima dengan hangat. Kegiatan membaca buku dan mendongeng pun akhirnya dimasukkan ke dalam kurikulum PAUD Assajari, yang sebelumnya hanya bermain dan bernyanyi.

Semangat yang meletup-letup ini semua berawal dari buku. Bagi Vera, membaca adalah kata lain berkomunikasi. Bagi balita, mungkin yang mereka butuhkan hanya gambar-gambar cerah yang menarik mata, yang di dalamnya ada personifikasi binatang-binatang yang mencoba berdialog dengan anak-anak.

Namun, bagaimana jika tak semua bocah bisa menikmati buku yang kaya ilmu itu sesuai dengan usianya” Pada akhirnya anak-anak itu terpaksa membaca buku bekas kakak kelas, yang cenderung serius, dan tidak memicu kegembiraan membaca.

Krisis buku bacaan untuk anak-anak ini secara nyata dialami wilayah-wilayah terpencil di Indonesia bagian Timur (Intim). Banyak pertimbangan ekonomi di dalamnya. Faktor beratnya ongkos logistik membuat para distributor buku anak-anak lebih banyak enggan mengirimnya ke wilayah yang dihitung tak banyak mengeruk untung.

Kalaupun ada yang sampai ke Intim, banderol buku cerita tipis si Kancil saja mungkin sudah puluhan ribu rupiah harganya. Dalam kondisi itu masyarakat dengan nilai penghasilan yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari tak bakal mungkin mengalokasikan dananya untuk membeli buku bacaan anaknya.

Lantaran itu, Vera yang sehari-hari menjadi deputy director corporate communication public affairs Mercedez-Benz Indonesia ini berkomitmen secara mandiri mendirikan Taman Bacaan Anak Lebah (TBAL). Kecintaannya kepada anak-anak dan budaya literasi memicunya rela menuju pelosok-pelosok Indonesia untuk membawa sendiri buku bacaan anak-anak itu.

Pada mulanya, dia memilih Lombok Timur yang jarang terjamah, tak seperti bagian lain Pulau Lombok yang sarat pelancong dan wisatawan mancanegara. Untuk kali pertama ada empat titik PAUD yang dia rawat di Lombok. Hingga sekarang total ada 12 titik, yang di antaranya tersebar enam titik di Lombok, Pulau Seram (sebelah utara Pulau Ambon), Kabupaten Wakatobi (Sulawesi Tenggara), dan yang terbaru di Pulau Fordata (Kabupaten Maluku Tenggara Barat).

“Perjalanan ke Fordata, naik pesawat dua jam dari Ambon menuju Saumlaki (ibu kota Kabupaten Pulau Yamdena). Lalu harus naik kapal lagi ke Fordata,” terang perempuan kelahiran Jakarta, 26 Mei 1976, itu.

Tiap derap perjalanan, dia selalu mengunggahnya ke blog maupun jejaring sosial. Tak pelak, satu per satu terbukalah akses untuk mengirimkan buku ke wilayah yang paling membutuhkan.

Salah satunya kelompok pengungsi yang lari dari konflik di Maluku dan Pulau Buru pada 1999 yang menewaskan banyak korban dan telah memusnahkan rumah dan harta benda. Mereka kini bermukim di Pulau Ambon. Anak-anak yang dilahirkan dan dibesarkan di pengungsian itu saat ini belajar dengan komunitas Gunung Mimpi.

Pengiriman buku TBAL dilakukan dua kali dalam setahun. Tepatnya pada kisaran Mei-Juni dan November-Desember. Asumsinya, dalam tempo itu anak-anak tengah menikmati libur panjang semesternya. Dengan begitu, mereka bisa membunuh waktu dengan membaca. Para relawan, baik individu maupun komunitas, dengan suka cita membantu Vera mengirimkan buku.

Vera menyandarkan diri pada sofa cokelat empuk saat memaparkan program sosial TBAL satu buku satu saudara. “Setiap pengirim buku bisa menaruh testimoninya untuk menjalin komunikasi dengan anak-anak yang membacanya,” terang Vera yang mengenakan setelan rok putih dan kaus biru gelap.

Alumnus University of Houston, Texas, AS, tersebut menjelaskan, pengurus PAUD selanjutnya akan mengirim laporan kegiatan hasil relawan. “Biasanya lebih cepat diunggah lewat Facebook. Kadang kalau e-mail terlalu rumit,” terang Vera, lantas tertawa.

Sejauh ini, istri Vandy R. Makki ini tak menemukan kendala yang berarti selain masalah logistik pengiriman yang memang membutuhkan perjuangan. Tak semua pengusaha logistik mau mengirimkan paket buku ke wilayah terpencil. “Saya pernah ngotot kepada jasa pengiriman karena saat itu mereka sulit menemukan letak salah satu PAUD di Sulawesi,” terang ibu Vala, 9, dan Varen Makki, 5, tersebut.

Kini sudah hampir empat tahun Vera menjalani aksi sosialnya. Setidaknya, dia harus menggelontorkan dana buku hingga logistik minus tiket pesawat perorangan mencapai Rp 40 juta dalam setahun untuk sepuluh titik yang dia rawat.

Dua titik lainnya di Pulau Seram, dia bekerja sama dengan perusahaan Kalrez Petroleum Seram Ltd dan Citic Seram Energy Limited. Pada 2013, perempuan yang juga pernah menjadi jurnalis radio ini akan menambah dua titik PAUD lagi di Intim.

“Ada rencana yang belum terealisasi, yakni di Papua,” papar Vera yang sering mengajak suami dan dua anaknya untuk ikut bertualang ke pulau-pulau terpencil guna menebar hak para bocah membaca buku itu. (*/c2/oki)

*) Jawa Pos, 7 Januari 2013

Anwar Amin | Kedai Baca Sipakainga | Makassar

“Einstein saja punya waktu untuk membaca. Kenapa Anda tidak?”

Begitulah dua kalimat poster yang terpajang di beranda kiri kedai baca ini. Kalimat kedua berwarna merah. Seolah mengingatkan kita agar meluangkan waktu untuk membaca. Di atas kalimat tersebut terdapat gambar Einstein sedang duduk membaca sambil memegang sebuah cangklong (rokok pipa). (lebih…)

John Tondowidjojo: Professor Sepuh yang Produktif Berkarya

Oleh: Guruh Dimas Nugraha

Alunan merdu lagu pujian gereja Katolik siang itu menemani pertemuan saya dengan Prof. Tondowidjojo, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Romo Tondo di Paroki Kristus Raja, Surabaya. Di usianya yang menginjak 77 tahun, Romo Tondo masih giat beraktivitas, baik menulis, membina yayasan dan mengajar di berbagai universitas. Professor ahli komunikasi Ethnologia itu melontarkan gagasan-gagasan yang ingin diraihnya sekaligus bercerita tentang masa lalunya dimana ia pernah memiliki pengalaman menjadi wartawan lepas.

Sekalipun usianya telah sepuh, Romo Tondo masih tajam dalam mengemukakan gagasan dan ide-idenya. Tampak, tubuhnya masih fit dan segar-bugar. Saya yang penasaran kemudian menyinggung mengenai resep sehatnya. Romo Tondo lalu mengungkapkan bahwa ia terbiasa dengan kedisiplinan dalam menjalani rutinitas. “Disiplin diri dan disiplin waktu harus diterapkan dalam hidup. Misalnya tidur harus teratur, makan teratur dan sebagainya,” tandas kerabat dekat pahlawan nasional R.A Kartini itu. Ia juga mengungkapkan pola makan yang ia terapkan bahwa ia lebih mementingkan makanan sehat daripada makanan enak. “Makan makanan sehat lebih penting daripada makan makanan enak,” tambahnya.

Pola hidup sehatnya itu menunjang aktivitas mengajar, menulis, berkesenian dan memberi pelatihan komunikasi dan jurnalistik yang dijalaninya sejak 1965 hingga kini. Romo Tondo mengungkapkan pula bahwa di usianya yang sekarang, ia masih punya rencana untuk menerbitkan buku karya terbarunya, yakni ‘Dunia Wayang Purwa dan Pendidikan’. Buku itu akan diluncurkan kelak, tepat pada peringatan 10 tahun imamat, 31 Maret 2013.

Ia menceritakan tentang pentingnya dunia pendidikan, utamanya untuk membentuk karakter siswa. “Dalam wayang purwa banyak keteladanan yang dapat dicontoh para siswa untuk membentuk karakter dirinya. Contohnya tokoh Abiyasa dalam pewayangan yang memberi keteladanan bagi sesama,” ujarnya. Romo Tondo juga mengungkapkan bahwa dunia pendidikan saat ini sangat kurang dalam hal pendidikan ‘Character Building’. “Sekolah saat ini memang banyak mencetak orang pintar, tapi bila pintar semata tanpa ditunjang karakter yang mumpuni, maka hasilnya percuma. Ironisnya, banyak guru tidak mampu mengajar dengan baik. Seharusnya guru selain mentransfer ilmu, mereka juga harus bisa membentuk karakter anak didiknya,” tandasnya.

Romo Tondo berbicara panjang lebar mengenai dunia pendidikan. Kepeduliannya terhadap dunia pendidikan membuatnya menggagas sanggar Bina Tama, yang terletak di kompleks Residen Sudirman, Surabaya. Sanggar Bina Tama menaungi anak-anak dari kalangan tak mampu agar mereka bisa bersekolah. “Sanggar ini memiliki proyek anak asuh dari kalangan keluarga miskin. Kami membantu mereka untuk bisa meraih masa depannya dimana kami membantu pendidikan mereka dari SD hingga perguruan tinggi,” ujarnya.

Romo Tondo juga menjelaskan bahwa sanggar Bina Tama mendapat bantuan dana dari para dermawan yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan. Yayasan yang tiap tahunnya menerima 10 anak kurang mampu itu telah menghasilkan banyak anak didiknya yang berhasil meraih masa depannya. “Guru besar Unsud, Prof. Fransisca Suhartati dulunya adalah anak didik kami di sanggar Bina Tama,” ungkapnya dengan bangga.

Dalam sanggar Bina Tama yang dibinanya, Romo Tondo memaparkan bahwa ia menerapkan pendidikan karakter dan budi pekerti kepada anak didiknya. Ia juga menjelaskan bahwa dukungan orangtua sangat diperlukan dalam membentuk karakter anak didik. “Pendidikan di Indonesia terlalu difokuskan kearah iptek sehingga pendidikan pengembangan karakter dan budi pekerti menjadi kurang maksimal. Orangtua sebagai garda terdepan haruslah peduli terhadap pengembangan karakter anak,” ujar putra pasangan KRMT Tondowidjojo dan R.A Sutiretno Sosrobusono itu. Romo Tondo juga memaparkan bahwa pendidikan karakter dan budi pekerti sangat perlu, sebab bila tidak, anak akan menjadi tidak baik dan bangsa Indonesia akan kehilangan generasi penjaga karakter bangsa.

Dalam mengembangkan karakter anak didik, Romo Tondo telah melakukan sejumlah kegiatan yang menunjang karakter anak, utamanya penanaman kecintaan terhadap budaya Indonesia. Ia kerap mengadakan festival budaya nasional tiap tahun yang diikuti kalangan pelajar. Menurutnya, penanaman kecintaan terhadap budaya nasional dapat menunjang pengembangan karakter anak. “Budaya nasional harus benar-benar dijaga dan ditanamkan dalam jiwa setiap anak didik supaya karakter bangsa ini tidak lenyap oleh arus globalisasi,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa adanya pengaruh global membuat anak lebih tertarik pada arus baru budaya asing. Akibatnya, budaya bangsa semakin terpinggirkan, terlebih peran dunia pendidikan yang kurang memperhatikan pendidikan pengembangan karakter dan kecintaan budaya bangsa. “Padahal lewat budaya kita bisa membina nasionalisme. Pengaruh media massa dan orangtua yang ikut arus budaya asing yang masuk ke Indonesia membuat anak bisa kehilangan kecintaannya terhadap bangsanya sendiri,” paparnya. Ia juga menyebutkan bahwa kepeduliannya terhadap dunia pendidikan sejalan pula dengan dukungan gereja dalam dokumen Gravissimun Educationist, konsili Vatikan II, yang menyebutkan bahwa gereja mengingatkan dan menekankan orangtua untuk memberi pendidikan ‘Character Building’ pada anak.

Romo Tondo juga mengisahkan bahwa aktifitas dan kegiatannya dalam menulis, berkesenian dan pendidikan membuatnya selalu bersemangat dalam menjalani hidup. “Puji Tuhan saya masih sangat sehat dan masih bisa beraktivitas dan berkarya, sebagai wujud sumbangsih saya bagi umat, masyarakat maupun bangsa dan negara,” pungkasnya.

Wartawan Freelance sekaligus Seniman Multitalenta

Selain menjadi imam, Romo Tondo adalah wartawan freelance yang tergabung dalam UCIP (Union Catholique International de la Press), forum wartawan internasional yang bertempat di Geneva, Swiss dengan status ambassador. Ia menjelaskan bahwa ia aktif sebagai wartawan freelance sejak tahun 1965 dan tulisannya banyak dimuat di berbagai media massa.

Ditanya mengenai kegemarannya sebagai wartawan, Romo Tondo menyebutkan bahwa semua itu tak lepas dari kegemarannya menulis dan memperhatikan situasi. Ia juga menyebutkan bahwa wartawan sebagai pemerhati manusia, haruslah memiliki misi untuk membangun manusia supaya selaras, harmonis dan serasi dengan kehidupan. “Wartawan juga tidak boleh melanggar kode etik kewartawanan dan harus lebih memperhatikan etika jurnalistik. Wartawan yang baik adalah wartawan yang selalu giat mempelajari masyarakat dan manusia,” ungkap peraih Man of the year dari PBB di Amerika Serikat itu karena keaktifannya dalam kegiatan internasional dan keahliannya di bidang ilmu komunikasi.

Romo Tondo juga berkisah tentang kegiatannya berkeliling ke luar negri untuk mengikuti konferensi maupun memberikan pengajaran. Di luar negri, ia selalu menyempatkan diri untuk tampil di hadapan umum sembari memperkenalkan budaya Indonesia. “Saya memakai pakaian adat Indonesia dan meminta untuk tampil selama 10-15 menit dengan tujuan memperkenalkan budaya bangsa di luar negri,” ujarnya. Ia juga menceritakan tentang pengalamannya membawakan tarian nelayan ketika di luar negri dan membawakan tari senam pagi nasional di BBC, London, Inggris.

Selain usahanya memperkenalkan budaya Indonesia ke luar negeri, Romo Tondo juga memperkenalkan musik Indonesia di luar negri. Pada 1960, ia mendalami pendidikan jurusan direksi dan komposisi di Centro della Cultura, Venezia, Italia. Ia mengungkapkan pula bahwa ia telah menciptakan 4 hymne. Ia aktif bermain musik hingga sekarang dan memiliki segudang pengalaman tampil di dalam maupun luar negri. “Saya pernah mengadakan demo permainan musik dan memimpin konser di dalam dan luar negri.

Melukis adalah keahliannya pula. Ia menunjukkan pada saya lukisan wayang yang ia kerjakan pada 1957 dan lukisannya itu telah diperkenalkannya ke luar negri. “Saya gemar melukis wayang. Lukisan saya pernah pula saya berikan pada acara ulang tahun guru besar saya di Italia, namanya professor Giachino dari Universitas Brignole Sale,” ujar professor yang juga anggota kependudukan nasional di PBB itu.

Aktivitas yang padat diimbangi pola hidup yang sehat membuat Romo Tondo selalu tampak segar bugar dan sehat walafiat. “Aktivitas yang padat harus diimbangi dengan pola hidup sehat agar kita tetap semangat,” pungkas imam Katolik yang total 90 bukunya dikoleksi oleh berbagai perpustakaan di Amerika Serikat dan Belanda itu.

BIODATA

Nama                                       : Prof. Dr. K.R.M.T.  John Tondowidjojo. CM

Tempat Tanggal Lahir             : Ngawi, 27 September 1934

Alamat                                    : Paroki Kristus Raja, Jl. Residen Sudirman, Surabaya

Riwayat Pendidikan :

–          Filsafat, Sekolah Tinggi Filsafat Surabaya

–          Studi Teologia, Collegio Sale- Bignole, Negroni, Genova, Italia

–          Komunikasi intercultural ‘Ethnologia’, Pontificia Universitas Urbaniana, Roma, Italia

Spesialisasi :

–          Musik untuk ‘Komposisi dan Dirigent’ di Centro della Cultura, Venezia, Italia

–          ‘Communication, Art and Media’ di Trinity and All Saints College, Leeds University, Inggris

–          Intensive Job Training di bidang ‘Publishing’, di National Communication Centre, Dublin-Irlandia

–          Intensive Job Training di bidang ‘Visual Communication’, Selly Oak Colleges, Burmingham, Inggris

–          Intensive Job Training bidang ‘Radio, Televisi dan Film’, National Communication Centre, Hatch End, London, Inggris

–          Intensive Job Training bidang ‘Community Paper Journalism’ pada Communication Foundation for Asia , Manila, Filipina

–          Post-graduate study bidang ‘Interpersonal Communication and Public Relations’, Niagara University, Amerika Serikat

–          Post-Graduate study bidang ‘Human Resources Management’, World Trade Centre (WTC), Manhattan, Amerika Serikat

–          Sejak tahun 1965 menjadi wartawan freelance di berbagai media cetak

Lembaga :

–          Anggota UNDA / OCIC Indonesia (televisi, radio dan film)

–          Population Institute of the United Nations, U.S.A

–          IPRA (International Public Relation Association), Geneva

–          International Journalist (UCIP) Geneva, Swiss dengan status Ambassador

–          Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS)

–          Center for Business Ethics, U.S.A

–          AMIC (Asian Media Information and Communication Center), Singapore

–          Pontificial Council for Culture, Vatican

–          IFDO (International Federation for Training and Development Organization), U.S.A

–          ISKI (Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia)

–          ASTD (American Society for Training and Development), U.S.A

Karier :

–          Imam Katolik sejak 1963

–          Pembina Sanggar Bina Tama, Surabaya

*)  Surabaya Post 09 Desember 2012

Menggali Indonesia dari Tempat Sepi

Kearifan bangsa terkubur dalam artefak budaya dan manuskrip kuno. Arkeolog, filolog, dan sejarawan bekerja keras menggali dan membacanya. Semua ingin bangsa ini belajar dan menata kehidupan dengan lebih baik.

Tangga yang disusun dari batu itu menjulang tinggi, meliuk mengikuti kontur bukit, di Desa Kartamukti, Kecamatan Cempaka, Kabupaten Cianjur. Jumlahnya dari titik pintu masuk Situs Tradisi Megalitik Gunung Panjang, mencapai ratusan. Berbelok sedikit setelah mencapai anak tangga terakhir di puncak bukit, terhamparlah ”lapangan” luas yang dipenuhi ratusan batu besar berbentuk balok, ada yang dalam posisi tegak, ada juga yang bertumpuk dan tergeletak alami.

Sulit untuk tidak mengaitkan keajaiban alam ini dengan keinginan mereka-reka, seperti apa peradaban di masa lampau itu? Seperti apakah kondisi masyarakatnya? Tak jauh dari situ, di salah satu kotak galian, tangan Dr R Cecep Eka Permana, Penanggung Jawab Ekskavasi Penelitian Gunung Padang, mengungkit-ungkit lapisan tanah yang berada di zona ekskavasi dengan ”cetok”-nya (scrapper). Ini adalah hari kesepuluh ia berada di lokasi bersama timnya.

”Kami sedang melakukan zonasi, tujuannya untuk penetapan situs. Membuat kajian di mana batas-batasnya. Mana zona pelestarian, mana zona pengembangan, zona penduduk,” kata Cecep.

”Di dalam penelitian ini terdapat sejumlah kotak galian yang dipilih secara selektif untuk menentukan bagaimana batu-batu di susun di setiap teras. Sejauh ini yang bisa dikatakan adalah, situs ini merupakan bangunan berundak tradisi megalitik yang mengindikasikan sebagai tempat pemujaan animisme-dinamisme,” kata Cecep yang juga mengampu mata kuliah ekskavasi di Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Arkeologi Universitas Indonesia.

Kami kemudian berjalan menyusuri terasering yang menakjubkan. Area situs ini bak dikelilingi benteng yang kukuh. Batu-batu yang besar dan khas itu tersusun rapi menjadi semacam ”tembok pembatas”.

”Bayangkan, siapa yang bisa menyusun batu-batu seperti ini. Bagaimana teknologinya? Bagaimana mengorganisasi massa di masa lalu untuk membuat bangunan seperti ini? Bagaimana mereka membuat rancangan untuk bukit sebesar dan seluas ini?” lanjut Cecep.

Arkeologi, filologi, sejarah

Itulah inti ilmu arkeologi, berbicara tentang jati diri dan karakter bangsa. ”Kalau ditanya tentang jati diri Indonesia, pasti kita bicara tentang bahasa, budaya, ada yang terukur ada yang tak terukur. Kita bicara tentang kearifan nenek moyang di masa lampau. Seperti tempat pemujaan di sini, ini akan membawa kita pada konsep religi di masa lampau. Kita bisa belajar tentang kearifan mereka,” kata Cecep yang sudah menekuni bidang ini selama 30 tahun.

Namun, dengan hanya melihat artefak, masa lampau itu masih kurang lengkap untuk digambarkan. Dibutuhkan ilmu filologi, yaitu ilmu yang memfokuskan pada pernaskahan, manuskrip, atau naskah yang ditulis tangan, untuk melengkapinya.

”Dengan mempelajari naskah kita akan mendapatkan jauh lebih banyak informasi, dibandingkan misalnya dengan hanya melihat Candi Borobudur yang dibuat pada abad ketujuh. Secara gambaran dan secara lebih lengkap, kita akan dibawa seolah mimpi kembali, atau melihat dunia lain yang pernah benar-benar ada, terjadi…,” kata Dr Supardjo, filolog dari Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Menurut Supardjo, banyak sekali yang bisa disumbangkan filologi pada disiplin ilmu lain, misalnya bidang farmasi dan kedokteran. ”Mbah-mbah kita dulu ternyata sudah ahli dalam bidang obat-obatan,” katanya. Ia memberi contoh bahwa naskah pada zaman Pakubuwono IV banyak menyebut tentang ramuan obat-obatan herbal (jamu). Naskah kuno juga banyak menyimpan informasi tentang arsitektur rumah-rumah Jawa.

Filolog itu seperti juru masak. Ada naskah, ada teks, dan ada transkripsi. Lalu siapa pembacanya? ”Ya para sejarawan yang mengonsumsinya untuk merekonstruksi sebuah konteks,” kata Oman Fathurahman, filolog dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta, yang ketika Aceh dilanda tsunami besar ia berjibaku mengumpulkan kembali ribuan manuskrip yang masih bisa diselamatkan. Baginya, manuskrip dan dokumen adalah kekayaan intelektual bangsa yang harus diselamatkan.

”Manuskrip-manuskrip di Aceh sangat penting karena banyak yang menggambarkan sejarah peradaban Islam awal di Nusantara. Subyeknya pun sangat beragam, mulai dari bidang keilmuan yang menggambarkan tradisi intelektual Islam, hubungan Aceh dengan dunia Islam di wilayah lain, termasuk Timur Tengah, sampai gambaran kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti info gempa, gerhana matahari, obat-obatan, korespondensi ulama abad ke-17 dengan ulama di Madinah, dan lain-lain,” jelas Oman.

Pengembaraan Oman di rimba manuskrip itu mengungkap fakta penting tentang posisi kultural politik ulama Indonesia di kawasan yang sekarang bernama ASEAN. Artinya, sejak dulu wilayah yang kini bernama Indonesia itu telah menjadi rujukan pengetahuan regional. ”Ini bisa terlihat dari jaringan ulama di masa lalu,” kata Oman.

Membaca dan belajar

Dengan kata lain, berbagai bahan sejarah yang mengaitkan keberadaan ”Indonesia” di masa lalu dengan Indonesia masa kini, terserak bak harta karun. Persoalannya, apakah bangsa ini mau belajar?

”Kita kenal kata sejarah, mungkin juga membaca sejarah, namun tidak belajar sama sekali dari sejarah,” kata JJ Rizal, sejarawan sekaligus pendiri Komunitas Bambu. Ia menunjuk contoh penting tentang perluasan wilayah VOC hingga Karawang pada tahun 1677, yang menandai awal pembabatan hutan di tepian Sungai Ciliwung. Hutan dijadikan perkebunan tebu dan industri gula. Kemudian perkebunan gula ditinggalkan mengakibatkan pelumpuran Sungai Ciliwung. Itulah awal terjadinya krisis air bersih, pelumpuran, banjir, dan epidemi malaria.

Bencana ekologis di Oud Batavia yang kemudian menjadi Jakarta itu nyatanya berlanjut sampai hari ini. Banjir selalu menjadi momok tahunan, juga krisis air bersih, demam berdarah hebat. ”Contoh lain yang paling nyata, korupsi membangkrutkan VOC dan hari ini kita tetap hidup dengan korupsi,” ujar Rizal.

Itu menunjukkan bahwa kita abai untuk mendapatkan inspirasi dari masa lalu untuk menjawab kegelisahan hari ini, dan memetakan masa depan. Pengabaian itu mencerminkan adanya keterputusan untuk mengenal jati diri negara ini.

Profesi sepi

Sosok-sosok seperti Cecep, Supardjo, Oman, dan Rizal adalah segelintir ilmuwan yang mengabdikan sebagian besar waktunya untuk pengembangan keilmuan. Mereka jauh dari hiruk-pikuk panggung popularitas ataupun finansial. Tak jarang mereka harus bekerja sendirian dalam sepi.

Supardjo menghela napas panjang ketika menyentuh persoalan ini. ”Budaya Jawa hanya digembar-gemborkan sebagai yang bernilai luhur dan harus dilestarikan. Akan tetapi, kalau secara materi tidak mendapatkan suatu peluang yang menjanjikan… Kami tidak menyalahkan siapa pun, tapi tolong beri ruang hidup bagi kebudayaan kita,” kata Supardjo.

Bagi Cecep, kepuasan bekerja itu tidak bisa digambarkan dengan nilai uang. ”Ketika cetok ini menyentuh tanah dan mengeluarkan bunyi sreeet, rasanya nikmat sekali. Tangan kita bisa merasakan perbedaan dari bunyi gesekan. Kepuasan itu tak bisa digambarkan,” katanya.

Jika diukur dari kepuasan finansial, Cecep mengaku dunia arkeologi kalah dibandingkan jurusan lainnya, seperti bisnis atau manajemen. ”Mungkin kita kalah, karena urusan ekskavasi itu tidak ada yang swasta. Semuanya kegiatan pemerintah. Jadi semuanya ya tarif pemerintah. Tapi tidak pernah ada dalam pikiran saya untuk dapat uang banyak. Dalam setiap ekskavasi yang saya pikirkan adalah bagaimana agar ilmu dan keterampilan yang saya miliki bisa saya terapkan di sini,” kata Cecep.

Mereka menggali kearifan bangsa yang terlupakan. Tapi jangan sampai mereka ikut dilupakan. (myr/xar/row/bsw)

*)Kompas, 9 Desember 2012

Indari Mastuti Gabungkan Gairah Menulis dengan Bisnis

Bikin Agensi Naskah, Bisa Berkantor di Rumah

Bagi sebagian orang, menulis dan berbisnis bukanlah perkara gampang. Namun, Indari Mastuti justru menggabungkan keduanya menjadi usaha yang menguntungkan. Berawal dari passion menulis, Indari sekarang termasuk ibu rumah tangga yang sukses berbisnis.

SEKARING RATRI A., Bandung

Keinginan seorang Indari Mastuti tidak muluk-muluk. Dia hanya ingin menjadi seorang ibu rumah tangga yang bisa punya bisnis di rumah. Indari menyebutnya mompreneur. Namun, perempuan berjilbab tersebut awalnya bingung untuk menentukan bisnis apa yang akan dijalaninya. Sampai akhirnya dia tersadar bahwa ada satu modal berharga yang dimilikinya.

“Passion saya adalah menulis. Sejak kecil, saya memang suka banget menulis. Tapi, mulai serius menulis waktu SMA. Waktu itu saya mulai berani mengirimkan naskah ke sejumlah media massa. Saya masih ingat sekali ketika kali pertama tulisan saya dimuat di majalah Gadis,” kenang Indari saat ditemui di kediamannya di kawasan Mohammad Toha, Bandung, Kamis lalu (27/12).

Dari situ, Indari pun berpikir untuk memiliki bisnis yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis. Jadi penulis sudah pasti. Bahkan, pada 2004 novel karya Indari yang berjudul Izinkan Aku Mencinta telah diterbitkan. Namun, dia ingin lebih dari itu. Dia juga ingin merangkul banyak orang yang satu minat dengannya. Dia lantas memutuskan untuk membangun bisnis yang justru belum populer di Indonesia. Yakni, bisnis agensi naskah.

Meskipun tidak begitu populer, bisnis agensi naskah tetap menjanjikan. Apalagi, cara menerbitkan buku kian mudah dan mulai banyak penulis baru yang bermunculan. Dia menangkap peluang tersebut dengan baik.

Pada 2007, setelah menikah, Indari memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya. Padahal, kala itu dia sudah menapaki jenjang karir yang lumayan, menjadi manajer di perusahaan telekomunikasi. Meski banyak yang menyayangkan, perempuan 32 tahun itu sama sekali tidak menyesali keputusannya menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya. “Dari awal saya memang ingin jadi ibu rumah tangga yang berbisnis dari rumah,” ujarnya.

Tiga bulan setelah menikah, Indari mulai menjajaki bisnis barunya. Karena kerap menulis, dia punya beberapa kenalan baik di bidang penerbitan. Perempuan asli Bandung itu pun mengirimkan sejumlah naskah sekaligus mengabarkan kepada para penerbit kenalannya bahwa dirinya mendirikan agensi naskah. Benar saja, seperti perkiraannya, banyak sambutan positif untuk bisnis itu. Apalagi, jumlah agensi naskah di Indonesia saat itu masih bisa dihitung dengan jari. “Mungkin baru dua atau tiga sama punya saya,” papar dia.

Menurut Indari, agensi naskah memang masih jarang di Indonesia. Agensi naskah sendiri mirip dengan agensi artis atau model. Agensi naskah menjadi perantara antara penerbit dan penulis. Secara mudahnya, agensi naskah harus mampu mempertemukan keinginan penerbit dan penulis sehingga selaras. Karena itu, agensi naskah mencari tahu apa saja tema buku yang diinginkan penerbit, kemudian disampaikan kepada penulis. Begitu pula sebaliknya, agensi naskah menawarkan ide-ide penulis kepada penerbit. Karena menerima naskah penulis, pihak agensi naskah menyediakan editor, proofreader, layouter, bahkan animator. Hal itu dilakukan agar naskah penulis layak dibawa ke suatu penerbit.

“Seperti agensi model atau artis. Kami jembatani bagaimana penulis dapat job atau job datang ke mereka. Jadi, misalnya mereka pengin dapat job menulis, ya kami carikan. Kami tawarkan naskahnya ke penerbit. Begitu juga kalau penerbit membutuhkan tema penulisan tertentu, ya kami informasikan kepada para penulis kami,” jelas alumnus Universitas Pasundan itu.

Karena tidak ingin menjadi sekadar agensi biasa, dia lantas membuat terobosan. Pakemnya, sebelum menawarkan naskah kepada penerbit, penulis harus menyelesaikan terlebih dahulu keseluruhan naskah. Setelah itu, printout naskah tersebut diberikan kepada penerbit untuk dibaca dan dipertimbangkan kelayakannya. Menurut Indari, cara tersebut terlalu konvensional dan memakan waktu lama.

Ibu dua anak itu pun memotong jalur pengiriman naskah konvensional tersebut. Dia memilih mengirimkan ratusan judul kepada penerbit dengan disertai sinopsis singkat dan outline untuk tiap-tiap judul. Karena tidak menyertakan berlembar-lembar naskah, Indari bisa segera menanyakan kepastian kepada penerbit soal judul naskah mana saja yang disetujui. “Cara itu lebih efektif dan nggak buang-buang waktu. Awalnya, para penerbit masih ragu. Alasannya, mereka belum baca seluruh naskah, bahkan terjadi pro-kontra, tapi akhirnya bisa diterima dan malah bikin penasaran,” urainya sembari tersenyum.

Lalu, siapa yang membayar jasa agensi naskah? Indari menyatakan, agensi mendapat fee dari harga yang telah disepakati dengan penulis. Misalnya penerbit menurunkan royalti 10 persen, penulis mendapat bagian 7 persen. Sisanya adalah fee bagi agensi. Ternyata terobosan Indari itu benar-benar membuat banyak penerbit penasaran. Hanya dalam waktu setahun bisnis agensi naskah yang awalnya diberi nama Indari itu sudah bisa mencapai masa keemasan. Banyak penerbit dan penulis yang berbondong-bondong datang kepadanya. Hanya dalam waktu setahun pula dia meraih kesuksesan luar biasa.

Pada 2008 nama agensi naskah tersebut berganti menjadi Indscript. Pesanan naskah kian membeludak. Dalam sebulan mereka bisa menerima pesanan hingga 60 naskah. Indari yang awalnya bekerja sendiri itu mulai kewalahan. Dia meng-hire sejumlah karyawan. Karena pesanan naskah mengalir deras, sang suami yang awalnya tidak terlibat akhirnya memutuskan keluar dari pekerjaannya dan bergabung dengan sang istri.

Namun, masa keemasan tersebut tidak berlangsung lama. Karena lebih mementingkan kuantitas ketimbang kualitas, pada 2009 Indscript mulai sekarat. Banyak klien yang kecewa dengan buku-buku hasil perusahaan itu. “Kualitasnya biasa-biasa saja, jadi ya mengecewakan. Deadline penulis juga sering molor,” ujarnya. Akhirnya, pada 2010 Indscript berada di ambang kepailitan. Omzet menyusut serta utang menumpuk. Indari dan sang suami memutuskan untuk merampingkan jumlah karyawan. “Sampai mobil saya keluar masuk pegadaian. Tapi, masih kurang juga, akhirnya mobil terpaksa saya jual. Pokoknya benar-benar habis-habisan. Kehilangan klien dan harta benda,” urainya.

Yang menarik, Indari menceritakan hal tersebut tanpa merasa sedih. Bahkan sebaliknya, dia justru mampu menertawakan kebodohannya di awal berdirinya Indscript. Indari menuturkan bahwa dirinya tidak datang dari kalangan berada. Sejak SMA, dia terbiasa bekerja keras. Begitu pula waktu memasuki bangku kuliah, dia membiayai kuliahnya sendiri sampai lulus. “Bapak saya itu pekerja keras, mungkin itu yang menular pada saya. Jadi, sekalipun sudah bangkrut, saya nggak patah semangat.”

Dia lantas memutar otak, mencari cara untuk menyelamatkan bisnisnya. Perempuan yang memiliki nama lengkap Indari Mastuti Rezki Resmiyati Soleh Addy itu mencoba melakukan dua hal, yakni quantum branding dan inovasi. Caranya, Indari rajin mengikuti berbagai kompetisi kewirausahaan. Tujuannya, selain memperkenalkan bisnisnya, dia mencari tambahan dana untuk menutup utang perusahaan.

Perempuan yang memiliki nama pena Bunda Nanit itu pun berhasil menjuarai sejumlah kompetisi bisnis. Antara lain, pada 2011 menjadi finalis Kusala Swadaya, sebuah penghargaan bagi para socialpreneur. Pada awal Januari 2012 Indari berhasil menjadi pemenang II Wirausaha Muda Mandiri 2011. Pada tahun yang sama dia terpilih menjadi Perempuan Indonesia Terinspiratif Majalah Kartini. Lalu, dia meraih Kartini Award dari Surabaya Plaza Hotel dan menjadi finalis Wanita Wirausaha Femina. Yang terbaru, dia menjadi pemenang utama Sekar Womenpreneur yang diadakan majalah Sekar.

Di tengah upaya mengikuti sejumlah kompetisi, Indari masih sempat membikin komunitas penulis. Pada Mei 2010 dia membentuk komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Memanfaatkan popularitas situs jejaring sosial Facebook (FB), dia mengajak para ibu rumah tangga seperti dirinya di seluruh Indonesia untuk memaksimalkan potensi diri lewat menulis. Lewat akun grup IIDN di FB, Indari rajin membagikan tip dan trik menulis. Dia juga menggelar diskusi online serta pelatihan yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis dan kerumahtanggaan.

Tidak dinyana, respons untuk upaya itu sangat luar biasa. Banyak ibu dari sejumlah wilayah di Indonesia, bahkan luar negeri, yang bergabung dalam IIDN. Baru sebulan dibuat, anggotanya sudah mencapai 1.000 orang. Sampai saat ini, tercatat hampir 5.500 ibu rumah tangga yang tergabung dalam IIDN. Karena anggota IIDN tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara di mancanegara, tiap wilayah memiliki seorang koordinator wilayah.

Indari sama sekali tidak menyangka bahwa IIDN bisa menjadi besar seperti sekarang. Karena itu, dia pun makin bersemangat. Bahkan, IIDN punya kurikulum pelatihan mulai Senin hingga Sabtu lengkap dengan waktu dan lama pelatihan. Lantas, bagaimana caranya memberikan pelatihan secara online melalui FB? Indari mengungkapkan bahwa para anggota IIDN yang ingin mengikuti pelatihan tinggal membuka akun grup IIDN sesuai dengan jadwal yang diinginkan. Nanti salah satu ibu yang menjadi penanggung jawab memberikan pelatihan dalam folder document. “Mereka bisa saling sharing dan bertanya di rubrik comment,” jelasnya.

Dari situ, Indari berhasil membangun kepercayaan diri para anggota IIDN. Alhasil, tidak sedikit anggota IIDN yang telah berhasil menerbitkan buku dan memublikasikan artikel di media cetak seperti surat kabar, tabloid, dan majalah. Hampir setiap hari ada karya mereka yang dimuat di media. Yang mereka tulis cukup beragam. Mulai cerpen, resep masakan, cara mengoperasikan Windows terbaru, hingga opini tentang permasalahan sosial. Melalui IIDN, Indari bisa mendapatkan penulis-penulis baru yang berbakat dan bisa dirangkul dalam Indscript. Sejumlah buku karya ibu-ibu IIDN itu diterbitkan beberapa penerbit ternama. Bahkan, sebagian berhasil menjadi best seller.

Selain IIDN, Indari yang memang selalu penuh ide itu membentuk komunitas Ibu-Ibu Doyan Bisnis (IIDB). Secara garis besar, komunitas itu hampir serupa dengan IIDN. Indari menggunakan FB untuk menjaring anggota. Namun, komunitas tersebut belum sebesar IIDN. Saat ini IIBD beranggota lebih dari 500 ibu yang doyan berbisnis. “Di sini saya juga berbagi inspirasi bisnis, bagaimana cara membuat bisnis dari rumah,” ujarnya.

Berkat inovasi dan quantum branding oleh Indari, bisnis itu berhasil diselamatkannya. Kini bisa dibilang Indari sudah berhasil melalui masa sulit. Indscript masih sanggup berdiri tegak. Bahkan, para penerbit yang dulu meninggalkan Indscript mulai kembali lagi. Saat ini sudah ada 30 penerbit yang menjadi klien Indscript dengan ribuan judul buku yang telah diterbitkan. (*/oki)

*)Jawa Pos, 30 Desember 2012

Wijang Wharek

wijangAku menyusuri jalan terjauh dibanding selama ini yang pernah kutempuh. Jalan besar dan panjang dengan berbagai kendaraan lalu lalang di kanan kiri. Tubuhku masih agak sakit namun janji adalah janji, aku meneguhkan diri untuk berlanjut, jadwal yang mundur 1-2 jam malah membuatku lebih leluasa menaiki kendaraan. Melewati stadion Manahan di Kota Solo dan terus melaju hingga resort terbesar di Solo, Lor In, motor berbelok sebentar ke belakang kantor Bulog menjemput esais kita, Bandung Mawardi, dibelakang motor saya ternyata Poetri telah melaju dengan pelan, sendiri.

Bertiga kami menembus kota menuju barat, melalui Kertasuro, menuju Delanggu, tempat di mana profil kita kali ini tinggal. Dia adalah Wijang Jati Riyanto, nama beken penyair ini: Wijang Wharek Al Ma’uti, siapapun seniman yang bersentuhan dengan Taman Budaya Jawa Tengah/TBS di Kota Solo pasti mengenalnya. Sosoknya gagah, tinggi besar, rambut beriak dan panjang, kulitnya liat kecoklatan, tampang murah senyum dan juga kadang dingin -terutama ketika sedang menatap aksi di panggung Teater Arena.

Menuju rumahnya bagai menemukan oase karena sungguh begitu nyaman. Memangku jalan yang sepi, diseberangnya sawah begitu membentang, ada hutan bambu nampak di kejauhan, dan selokan berair bening dan sesekali bergemiricik menambah lokasi berikut rumahnya terasa damai, khas desa, dan sejuk.

Apalagi bangunan di sisi kiri rumah berupa pendhapa jadi menambah kesan lapang dan longgar, mirip pendapa TBS dalam ukuran yang lebih kecil. Sedangkan sisi kanan adalah rumah tinggal dengan kontur yang dibuat sedikit naik turun, permainan lantai keramik yang berbeda warna, posisi ruangan, gambar-gambar, termasuk pigura-foto kartunis Nasirun Purwokartun, juga ragam foto pernikahan Pak Wijang menawarkan aroma rumah seniman yang kental.
Sambil makan siang dengan menu yang beragam: pecel, sayur bobor, selirang pisang, kopi, teh, gorengan, air putih, wah lengkap, dan maknyus kami mengobrol ngalor ngidul, dan sejurus kemudian telah kususul dengan pertanyaan-pertanyaan wawancara.

Sebagai konfirmasi dari tulisan Mas Leak (Sosiawan Leak) bahwa pangkat belakang nama anda pemberian dari Sutarji Calzoum Bahri, benarkah? (dalam edisi Pawon terakhir keliru tertulis WS. Rendra)
Waktu itu saya diundang di TIM membacakan puisi yang judulnya lupa, disitu ada syair, ada kata maut, tapi kuucapkan dengan tekanan ma’ut gitu yang terasa sangat eksplosif mungkin ya di telinga para audience saat itu juga diantaranya Sutarji itu. Ma’ut, ma’ut, gitu jadinya kok bunyinya mantap tenan. Sedangkan Warek itu karena dulu saya suka sekali nongkrong di warung depan tepi jalan raya delanggu yang ramai, saya langganan disitu, warungnya bergaris-garis gitu, lorek-lorek, makanya digeser sedikit jadi warek, mantap kan. Dijadikan satu Wijang Warek Al Mauti. Bunyi di telinga jadi terasa magis, sangar, dan kuat!

Selain puisi pernahkah Mas Wijang menulis prosa?
Satu-satunya cerpen saya menjadi pemenang lomba di FKIP UNS, juara dua apa tiga ya, yang kemudian dimuat di Koran lokal Semarak, di Bengkulu.
Sedangkan novel, hahahaha (semua tertawa), novel saya berjudul: Nyanyian Kabut, Fragmen Perjalanan Cinta Seorang Seniman, yang picisan, hihihi.
Mas Wijang memanggil Mbak Nurni, istrinya, untuk mengambil manuskrip novel itu. Lalu berturut-turut kami: Bandung, Poetri, dan aku membolak-balik sekilas novel itu yang terasa nyamleng karena masih diketik dengan mesin ketik manual dengan judul besar-besar dari rugos! Huahahaha.
Kabut berkata: sudah menjadi takdir judulnya Nyanyian Kabut, eeee, takdirnya bertemu dan berkawan dengan Kabut (sapaan Bandung Mawardi) benar! Haha

Bisa ceritakan proses kreatif Mas Wijang, awal-awalnya?
Sejak akhir tahun 70-an, saya menggeluti dunia kesenian dengan berdeklamasi, bernyanyi dan bermain sandiwara di panggung-panggung acara kampung. Juga menyukai nonton film bioskop, pertunjukan kethoprak tobong dan wayang kulit purwa yang ada di kampung, bahkan sering menonton pertunjukan wayang sampai ke desa tetangga.
Ketika SMA sering menulis puisi untuk dideklamasikan pada acara-acara yang diselenggarakan di kampung. Selepas SMA, setelah menganggur dan kuliah setahun di Teknik Sipil UTP, mulailah tumbuh pemberontakan di diriku dan kuanggap dunia kesenian adalah wilayah merdeka yang bisa mewadahi gelora jiwa seni yang menggebu-gebu dan tak terbendung lagi. Akhirnya, aku pindah kuliah dan memilih menjadi mahasiswa Fakultas Sastra dan Filsafat, jurusan Sastra Indonesia UNS Solo 1984.
Mas Wijang mengaku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang keras. Kudu tertib, ora neko-neko, dan kudu mriyayeni. Maklum, konon Eyang-nya masih keturunan “darah biru”. Jadi, segalanya serba diatur dan apabila melakukan sesuatu harus perfect. Salah sedikit saja pasti dipala/dipukul. Bahkan, pilihannya untuk berpenampilan seniman dan gondrong sampai membuatnya ‘terusir’ dari rumah dan memilih kos di sekitar UNS.

Pas kuliah jiwa berkesenian lebih berkembang, ya?
Sejak di UNS saya mulai aktif menyaksikan pertunjukan sastra dan teater yang digelar di Solo juga mengikuti berbagai diskusi dan sarasehan. Semua demi menambah wawasan. Saat itu juga mulai doyan membaca buku-buku apa saja, terutama sastra, budaya, filsafat, dan politik, serta bergaul dengan berbagai kalangan seniman, budayawan dan networker kebudayaan.
Saya terlibat menggagas lahirnya beberapa kelompok kesenian seperti TESA-UNS (1987), Forum Penyair Muda Surakarta (1989), Forum Penyair Surakarta (1991), Kelompok Revitalisasi Sastra Pedalaman (1993), Forum Penyair Jawa Tengah (1993), Forum Sastra Bengkulu (1993), Himpunan Pengarang Indonesia Aksara cabang Bengkulu (1994), Paguyuban Seniman Kreatif Bengkulu (1996), dan penerbitan buletin Pawon Sastra Surakarta (2007).
Pak Wijang, Kabut/Bandung Mawardi, Ridho Al Qodri, Poetri Hati Ningsih, Joko Sumantri, dan saya (Han Gagas) saat di Wisma Seni TBS melahirkan nama untuk sebuah buletin di Solo yang hingga kini terus berlanjut yaitu Pawon, yang sekarang dikoordinatori oleh Yudhi Herwibowo.

Sejarah karya-karya Mas Wijang?
Puisi, cerpen, esai, dan reportase budaya pernah dimuat di media massa antara lain: Republika, Swadesi, Warta Pramuka, Mitra, Suara Merdeka, Wawasan, Kompas Jawa Tengah, Bernas, Minggu Pagi, Semarak, Bengkulu Pos, Haluan, Taruna Baru, dan Riau Pos.
Sedang puisi-puisi pernah dibukukan dalam antologi bersama, seperti Dua Potret (FS UNS, 1987), Upacara Kamar (FKIP UNS, 1989), Pertemuan Pertama (Forum Penyair Muda Surakarta, 1989), Ekstase dalam Sketsa (Forum Penyair Muda Surakarta, 1991), Gelar Syair Mengalir (Unit Seni & Film, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 1991), Mozaik 2 (Forum Penyair Surakarta, 1991), Panorama Dunia Keranda (Forum Penyair Surakarta, 1991), Temu Penyair dan Parade Puisi se Jawa Tengah (1993), Pesta Penyair Jawa Tengah (Forum Penyair Jawa Tengah, 1993), Kicau Kepodang 2 –Penyair Jawa Tengah- (Taman Budaya Jawa Tengah, 1993), Revitalisasi Sastra Pedalaman (RSP, 1993), Riak 3 (Forum Penyair Bengkulu, 1993), Monolog (Forum Sastra Bengkulu, 1994), Pusaran Waktu (Bengkel Puisi Jambi, 1995), Tabur Bunga Penyair Indonesia (Lingkar Sastra Blitar, 1995), Bunga Rampai Dialog Budaya Parade Karya se Sumatera Jawa (Taman Budaya Bengkulu, 1995), Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Jawa Tengah, 1995), Besurek (Taman Budaya Bengkulu, 1996), Puisi –Antologi Puisi Penyair se Sumatera- (Taman Budaya Jambi, 1996), Dari Bumi Lada –Temu Penyair Sumatera, Jawa, dan Bali- (Dewan Kesenian Lampung, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996), Puisi-puisi Dari Pulau Andalas (Taman Budaya Lampung, 1999), Ekstase Dzikir Putih –Aku Mabuk Engkau- dan Obituary Sebuah Negeri Tanpa Kemerdekaan (manuskrip tunggal, Forum Sastra Bengkulu, 1999), 18 Penyair Jawa Tengah: Proses Kreatif dan Karyanya (Taman Budaya Jawa Tengah, 2005), Tanah Pilih (Bunga Rampai Puisi Temu Sastrawan Indonesia I, Jambi, 2008), dan Kenduri Puisi (Ombak, 2008).

Aktivitas diluar menulis puisi?
Saya beberapa kali menjadi pembicara dalam diskusi sastra, juri lomba baca puisi dan cipta sastra. Beberapa kali juara lomba baca puisi di berbagai kota. Selain itu, pernah menggeluti dunia teater dan terlibat dalam pementasan Dukun Tiban (1980), Samadi (1985), Dokter Gadungan (Moliere, 1988), Oemar Khayam (Harold Lamb, 1988), teatrikalisasi cerpen Maria (Putu Wijaya, 1988), Bom Waktu (N. Riantiarno, 1989), Gandrung Kecepit (1989), Klilip ing Medhang Kamulan (Wiswakarman, 1989), teatrikalisasi puisi Nyanyian Angsa (WS Rendra, 1990), Akal Bulus Scapin (Moliere, 1990), Oedipus di Kolonus (Sophokles, 1991), musikalisasi puisi Ekstase Dzikir Putih (Wijang Wharek AM, 1991 dan 1993), teatrikalisasi novel Masyithah (Rosihan Anwar, 1994), Airmata Gugat –kolaborasi puisi tari- (Wijang WAM, Intan HS, Iwan Gunawan, 1996), Kosong (Edi Ahmad, 1999), Neng-Nong (M. Udaya Syamsuddin, 1999), Sayembara Putri Gading Cempaka (Agus Setyanto, 1999), Song of Sang –kolaborasi puitik- (Wijang WAM, Sosiawan Leak, Max Baihaqi, Tria Vita Hendrajaya, 2004), pentas Novel “Wajah Sebuah Vagina” karya Naning Pranoto (alih teks Wijang WAM, 2005), pentas novel “Ronggeng Dukuh Paruk” karya Ahmad Tohari (alih teks Wijang WAM, 2006).
Dalam catatan yang diberikan Mas Wijang pada saya masih banyak seabreg aktivitas berkeseniannya dibanding keterangan di atas.

Yang paling membanggakan?
Diundang DKJ dalam Mimbar Penyair Abad 21 tahun 1996. Kedua, diundang Perkampungan Penulis Melayu Serumpun (Daik Lingga, Kepri, 1999) yang diikuti oleh peserta dari Malaysia, Singapura, Brunei, dan Thailand.

Wijang Warek Al’Mauti juga membidani lahirnya gerakan Revitalisasi Sastra Pedalaman bersama Kusprihyanto Namma, Triyanto, dan Sosiawan Leak. Gerakan ini di dukung oleh Halim HD –seorang networker kebudayaan- sehingga membesar dan begitu banyak mendapat tanggapan baik dari dalam negeri bahkan juga para pakar luar negeri, yang juga menelitinya. Gerakan yang dimulai dari Solo ini merupakan perwujudan kegelisahan terhadap pusat sastra baik dari segi kota maupun media yang sering menghambat penulis baru.
Wijang menikah dengan Nurni dan dikaruniani dua orang putra bernama Raja Demokrat Sinar Jagad dan Raja Mahasakti Surya Bumi.
“Ada kalanya saya marah begitu keras dan ada kalanya saya mendekapnya demikian erat!” Ujar Mas Wijang ketika menyatakan perasaannya dalam mendidik anak-anaknya.

Setelah panjang lebar kami mengobrol, karena waktu yang menjelang sore akhirnya kami pamit pulang. Mbak Nurni yang berdarah minang menyilakan kami dengan lembut dan ramah begitu pula Mas Wijang mengantar kami hingga beranda dan tepi jalan. Kami bertiga menembus jalan desa lalu menyusur jalan menggilas jalur Solo-Jogja lagi.

Han Gagas, 28 Juli 2010

SUmber: Buletin Sastra Pawon

Aulia Halimatussadiah: Nulisbuku.com

Aulia Halimatussadiah (29) adalah technopreneur muda dengan kiprah menjanjikan. Berbekal teknologi dan mimpi, ia menciptakan berbagai usaha sukses. Salah satunya, nulisbuku.com, kanal self-publishing pertama di Indonesia. Dengan website ini, perempuan yang juga dikenal dengan nama Salsabeela dan Ollie ini mampu mewujudkan mimpi para penulis amatir untuk menerbitkan buku.

Awal terjun ke dunia technopreneur bagaimana?

Sebelum terjun ke dunia usaha, saya sempat bekerja di perusahaan jasa penyedia IT. Kebetulan Ibu dan Bapak adalah pegawai pemerintahan, jadi saya diarahkan untuk bekerja seperti mereka. Sejak kecil hobi saya menulis  dan baca buku. Lalu saya bertemu seorang teman, Angelina Anthony atau Angel yang sama-sama kutu buku. Karena punya ketertarikan yang sama, kami lantas membidani berdirinya kutukutubuku.com, toko buku online , di bulan Februari 2006.

Ternyata website ini sukses besar, maka saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan. Tentu saja awalnya orangtua menentang keputusan saya untuk berwirausaha. Cukup lama juga meyakinkan orangtua bahwa usaha ini bisa berhasil. Saya ajak Angel ke rumah untuk ikut meyakinkan keluarga, ha ha ha… Tak disangka, seiring berjalannya waktu, berbagai peluang pun muncul.

Peluang seperti apa?

Karena banyak yang bertanya bagaimana membuat website yang bagus seperti kutukutubuku.com, saya mendirikan tukusolution.com, penyedia jasa dan konsultan pembuatan website pada tahun 2008. Setelah itu saya juga membuat Tempa Labs yang lebih fokus ke game online . Dua tahun kemudian, saya membuat nulisbuku.com, self-publisher pertama di Indonesia.

Saya juga aktif di berbagai komunitas yang peduli pada pengembangan bisnis berbasis web dan teknologi seperti Start-up lokal, GirlsinTechID dan Freshforum. Belakangan saya juga merambah dunia fashion dengan menjadi fashion designer khusus hijaber dengan label Salsabeela by Ollie. Semua yang saya lakukan ini berangkat dari passion , jadi saya mengerjakannya dari hati.

Penulis novel juga, ya?

Alhamdulillah, saya sudah menelurkan 20-an buku. Saya memang sudah hobi menulis sejak SMP. Dulu saya suka bikin komik balerina tapi hanya dipamerkan ke orangtua. Saat di SMA saya mulai menulis cerpen tapi lebih banyak disimpan saja. Nah, saat kuliah saya aktif menulis blog dengan nama Salsabeela. Ternyata banyak yang suka blog saya.

Saya merasa kuat di bidang menulis dan IT, jadi kenapa tidak menggabungkan keduanya. Nah, nulisbuku.com ini lahir karena pengalaman pribadi juga. Tahun 2010, saya kesulitan menemukan penerbit untuk buku saya yang bertema IT, padahal sebelumnya saya sudah punya 15 buku, lho. Saya sudah menawarkan ke dua penerbit besar tapi selalu ditolak, padahal menurut saya isi buku berjudul Inspirasi.net ini sangat berguna. Sempat terpikir akan menerbitkan sendiri, tapi ternyata biayanya mencapai puluhan juta.

Kemudian?

Setelah berdiskusi panjang bersama tiga partner saya, tercetuslah ide membuat website self-publishing . Efeknya sangat positif. Semua orang bisa jadi penulis dan mencetak sendiri bukunya. Jumlahnya tak terikat, sesuai permintaan saja. Website ini kemudian jadi wadah bermunculannya penulis-penulis baru di Indonesia.

Ada syarat tertentu jika ingin menerbitkan buku di nulisbuku.com?

Mudah, kok. Yang harus dipersiapkan adalah naskah yang dilengkapi dengan layout isi buku, ditambah desain cover depan dan belakang dalam format jpg. Setelah itu, tinggal login ke nulisbuku.com, register dan diunggah. Jika admin sudah menyetujui, selanjutnya tinggal urusan share royalti atau pembagian komisi dari setiap buku yang terjual.

Kami memang tidak mengurusi editing , jadi naskah kami terima dalam bentuk pdf. Kualitas isi buku sepenuhnya diserahkan kepada penulis, tapi jika ada permintaan untuk sunting naskah, kami siapkan juga penyunting profesional. Meski begitu, untuk penulis pemula tak usah takut, semuanya bisa learning by doing , kok. Tulis saja dulu naskahnya, kalau memang mau edit , ya, edit dulu bersama teman-teman. Kalau mau memperbaiki, ya, perbaiki lewat karya selanjutnya. Sekarang bahkan teman-teman penulis punya cara lain yang malah jadi fenomena.

Apa itu?

Awalnya banyak penulis mencetak buku dengan naskah yang sudah di-stok karena tak diterbitkan di tempat lain. Belakangan mereka belajar membuat buku dengan cara cepat, yaitu berkolaborasi dengan sesama penulis untuk membuat buku kompilasi. Makanya akhir-akhir ini banyak sekali buku kompilasi yang terbit.

Soal kualitas bagaimana?

Memang semua buku bisa dicetak, tapi kami juga tidak mengesampingkan kualitas. Kami punya checklist agar isi buku tak mengandung unsur-unsur pornografi atau SARA. Kalau ada pembaca yang menemukan hal-hal itu bisa melapor. Jika sudah ada tiga kali laporan, buku akan kami cek dan off -kan. Tapi sejauh ini belum ada laporan seperti itu.

Soal tulisan, sama seperti hukum rimba. Kalau jelek, ya, tidak akan ada yang mau beli. Makanya untuk penulis yang ingin bukunya dibaca orang, ya, menulisnya jangan asal-asalan.

Sudah berapa banyak buku yang dicetak nulisbuku.com?

Dalam setahun kami bisa menerbitkan 1.000-an buku dari penulis dengan berbagai usia. Yang termuda berumur 15 tahun dan masih duduk di kelas 3 SMP, sementara yang peling tua berumur 72 tahun. Namanya K. Usman, seorang penulis senior. Novelnya setebal 900 halaman dibuatnya selama 4 tahun.

Nulisbuku.com juga sudah mengadakan banyak kegiatan, salah satunya 99 Writers in 9 Days . Dalam 9 hari kami mengumpulkan 99 penulis dan bukunya kami luncurkan bersama-sama di Istora Senayan. Di ulang tahun kami yang pertama tanggal 11 November lalu, kami juga bikin acara bernama 11 Project 11 Days . Kami meluncurkan 11 buku dengan tema berbeda selama 11 hari. Acaranya sangat sukses.

Kami juga baru menggelar Wordisme , semacam pelatihan menulis selama satu hari. Dalam acara ini kami bekerja sama dengan penulis-penulis yang sudah ternama, seperti Alberthiene Endah, Raditya Dika, Djenar Maesa Ayu, dan Clara Ng. Ternyata antusiasmenya besar sekali, buktinya 350 orang hadir. Selain event tadi, kami juga punya acara reguler yaitu Klub Menulis.

Seperti apa kegiatan Klub Menulis?

Berangkat dari kesadaran bahwa penulis rata-rata enggak suka ngumpul , Januari 2010 kami buat Nulis Buku Club (NBC) sebagai ajang sharing ide atau teknik penulisan. Ternyata peminatnya banyak sekali. Bahkan, permintaan dari teman-teman penulis di daerah agar dibentuk NBC di kota masing-masing juga banyak. Saat ini NBC sudah tersebar di seluruh Indonesia.

NBC rutin digelar setiap bulan, bentuknya seperti gathering saja. Kami mengundang para penulis senior untuk berbagi ilmu menulis buku, teknik, pengalaman, dan masalah yang dihadapi dalam proses penulisan. Biasanya kami juga melakukan launching buku teman-teman NBC, jadi anggotanya saling mendukung karya. Jika ingin bergabung, tidak dipungut biaya. Informasinya bisa dilihat di website nulisbuku.com atau follow akun Twitter @nulisbukudotcom.

Apa, sih, latar belakang pendidikan Anda?

Saya lulusan IT dari Universitas Gunadarma Jakarta. Jadi memang kekuatan saya di bidang teknologi informasi dan dunia penulisan. Saya percaya teknologi bisa menjadi katalis bagi kita untuk maju, sehingga ketika tertarik dengan bisnisnya, saya gabungkan pengetahuan dan minat. Kebetulan saya juga tipe orang yang bisa menggunakan otak kanan untuk membangun kreativitas dan otak kiri untuk memenuhi tenggat deadline . Jadi semua bisa berjalan beriringan.

Banyak kegiatannya, ya. Bagaimana mengatur waktunya?

Saya selalu memanfaatkan teknologi dengan maksimal. Dengan gadget yang semakin canggih, komunikasi sekarang sangat dipermudah. Jadi tak ada yang bisa menghalangi saya untuk bisa melakukan berbagai macam pekerjaan sekaligus.

Perempuan, kan, memang handal mengerjakan banyak pekerjaan dalam waktu bersamaan, bukan begitu? Ha ha ha… Kalau sedang penat saya suka traveling , meskipun ujung-ujungnya nanti ditulis dan dibuat buku lagi, ha ha ha… Karena minat saya di fashion juga tinggi, saya senang memanfaatkan waktu luang dengan belanja dan mix and match baju.

Apa lagi rencana ke depan?

Menulis bagi saya seperti bernapas, jadi ke depan saya masih ingin mengembangkan dunia pendidikan menulis. Inginnya, sih, berkolaborasi dengan teman-teman penulis untuk mengembangkan bisnis membaca dan menulis. Bentuknya seperti apa, nanti saja lah.

Apa filosofi hidup Anda?

Perfection is a journey . Kita enggak harus jadi perfect dulu untuk melakukan sesuatu. Mulailah dari hal kecil, karena dari situ kita bisa meningkatkan kemampuan. Saya, misalnya, enggak pernah menahan buku untuk jadi sempurna. Selesai ditulis, ya, rilis. Kalau kurang sempurna, saya perbaiki di karya selanjutnya. Makanya harus selalu produktif. Satu lagi, terus bermimpi. Saya selalu menuliskan keinginan-keinginan saya dan berusaha untuk mewujudkannya.

Swita A Hapsari

*)Tabloid Nova, 11 Maret 2012

Ferry Setiawan: Tak Jera Membukukan Kebaya

Perancang busana  ini Mei lalu meluncurkan buku ke-4 berisi karya kebayanya. Lahir di Semarang, 12 Desember. tahunnya dirahasiakan, mantan  pegawai F&B di kapal pesiar ini mengaku belajar membuat kebaya secara otodidak. Ia juga  tidak mau terikat trend, melainkan  berusaha menciptakan trend tersendiri agar pasar mau menyerap karyanya.

Beberapa kali Anda meluncurkan buku. Bisa dijelaskan isinya?

Saya baru saja meluncurkan buku yang ke-4 di Jakarta,  10 Mei lalu, judulnya Galery Kebaya Eksotik 2 . Itu berisi berisi  kumpulan foto-foto kebaya karya saya yang terkumpul sejak tahun 2009 hingga 2012.  Ditambah beberapa kebaya ekstra large koleksi pelanggan saya. Mereka saya foto dengan mengenakan kebaya karya saya itu sebagai apresiasi saya kepada mereka.

Buku sebelumnya?

Buku pertama diterbitkan tahun 2009, berisi kumpulan kebaya karya saya dari tahun 2003 hingga 2008. Buku ini laris-manis hingga bisa cetak lima kali.  Judulnya Galery Eksotik 1 . Tanpa diduga buku ini sampai naik cetak lima kali. Buku kedua berisi koleksi kebaya pengantin, semua berwarna putih. Ada sekitar 54 kebaya. Bukunya saya beri judul Prameswari . Buku ketiga berjudul Kencono Wungu . Selain karena semua kebayanya berwarna ungu, saya terinspirasi seorang Ratu Kencono Wungu yang memiliki  cita rasa berbusana yang tinggi.

Sejak kapan,  berkecimpung di dunia rancang busana?

Tahun 2003. Keterampilan mendesain ini saya pelajari secara otodidak. Sebelumnya, saya kan bekerja di  kapal pesiar di bagian Food and Beverage. Saya berlayar sampai empat kali. Setelah itu saya diminta membantu seorang desainer asal Semarang.  Selanjutnya saya pindah ke Jakarta bekerja di Talisa House. Suatu kali saya diminta  owner Talisa House mengurusi butiknya yang di Semarang. Sampai akhirnya teman-teman mendesak saya untuk mandiri. Kebetulan, saya memang hobi menggambar, jadilah saya mandiri. Saya memulai dari 3 karyawan, sekarang sudah memiliki 35 karyawan, butik, work

Apa yang mendorong Anda membuat buku?

Dari awal saya berpikir, kalau cuma difoto, disimpan, hasilnya  hanya bisa saya nikmati sendiri. Tapi kalau dibukukan, bisa dinikmati masyarakat luas, dan menjadi inspirasi orang lain. Kebetulan setelah saya kumpulkan, karya saya ternyata  banyak juga. Waktu saya ke Jakarta bertemu penerbit. Dengan buku itu saya juga ingin menunjukkan bahwa di Semarang, ada desainer yang layak jual selain yang sudah terkenal.  Nyatanya animo masyarakat membeli buku saya bagus juga.

Puas bukunya terbit?

Iya. Apalagi buku saya seakan menjadi “buku wajib”  bagi para penjahit kebaya di Semarang. Suatu kali, saya ada di toko kain, melihat ada perempuan mencari bahan sembari menjunjukkan desain kebaya yang ada dalam buku saya.  Sejenak saya terharu da bangga, buku saya menjadi acuan dia. Ternyata kemudian saya memperoleh info buku saya  banyak dimiliki oleh para penjahit di Semarang.

Buku-buku itu menjadi gambaran perkembangan karya-karya Anda?

Betul. Asal tahu saja, saya cenderung tidak mengikuti trend yang ada. Saya justru berusaha bagaimana agar karya saya menjadi trend,  disukai pasar dan mereka mengikuti karya saya. Ternyata hal itu  terjadi. Buktinya, sejak tiga tahun lalu, saya sudah meluncurkan warna ungu, hingga sekarang warna ungu masih disukai. Bahkan calon pengantin pun mau mengenakan kebaya warna ungu. Padahal imejnya warga ungu selama ini kan warna janda, ha..ha..ha..

Begitu pula warna hitam saya pakai untuk kebaya pesta. Dari zaman kerajan dulu, para puteri keraton mengenakan kebaya beludru hitam, kenapa sekarang enggak dipakai? Warna hitam bagi saya warna eksklusif, elegan dan mahal.

Sejak kapan memiliki keterampilan menulis?

Sejak SMA saya sudah suka menulis, terutama puisi atau cerita lainnya. Lulus SMA saya pernah kuliah diploma jurusan Pariwisata tetapi tidak selesai lalu bekerja di kapal pesiar.

Siapa pelanggan Anda?

Banyak istri pejabat di Jakarta dan pejabat di Semarang. Artis dan calon pengantin dari Jakarta juga sering kemari. Zamannya mendiang Taufik Savalas dan Ulfa Dwiyanti ngetop, sayalah yang mendesain busana-busana mereka. Saya sengaja tidak mau pindah ke Jakarta karena di sana sudah terlalu banyak desainer. Saya ingin tunjukkan desainer Semarang layak jual.

Ciri khas rancangan busana Anda?

Glamour seksi, dan tidak terlalu tua. Misalnya, saya pakai kebaya lengan pendek.

Punya second line juga?

Iya. Atas desakan teman-teman dan pelanggan , mulai tahun ini  second line saya muncul lewat batik Semarangan, tenun lurik. Saya mempersembahkan untuk kalangan remaja .

Pernah meraih penghargaan?

Iya, April tahun lalu dalam even  Singapore Tour and Travel di Singapore Expo, saya memperkenalkan batik Solo dan Lurik Klaten. Hasilnya, rancangan saya menyabet penghargaan sebagai Second Runnur Up The Best Dress dan Best Perfomance.

Aktivitas Anda di luar rancang busana?

Waktu saya banyak yang buat kerja. Peak kerja saya  itu jam 7-10 untuk mendesain. Selanjutnya ke butik melayani pelanggan sampai jam 4. Tutup jam 5. Saya hanya terima pelanggan atas dasar janji dulu. Selebihnya saya ke workshop.  Atau  jadi stylist pemotretan  busana pengantin rancangan saya.

Masih bujangan apa nggak nyantai malam hari?

Malam, kadang saya kumpul dengan teman-teman dari berbagai profesi. Selain ngobrol, kadang malah dapat order baru. Jam 10 biasanya sudah pulang ke rumah. Jadi saya ini bukan tipe orang dugem.

Hobbi?

Hobi saya kerja, ha…ha..ha…Sebenarnya sih, travelling tapi kalau dirancang lebih sering gagal. Jadi selagi ada waktu dan ingin pergi, ya langsung pergi saja.

Kapan nikahnya?

Ha..ha..ha..belum aa calonnya, baru mau mencari. Maunya sih, perempuan yang biasa saja, bukan wanita karir. Wajah ya jangan yang jelek-jelek amat, kulitnya jangan terlalu  hitam.Syukur bisa membantu saya bekerja.

Rini Sulistyati

*)Tabloid Nova, 12 November 2012

Foto: mysemarang.com

Harri Purnomo, Kolektor 600 Buku Kiri

Konsistensi Harri Purnomo mendalami literasi “sayap kiri” belum tertandingi di Indonesia. Setidaknya, dia telah mengoleksi serta “menghabiskan” lebih dari 600 “buku kiri” yang dicetak sebelum era 1965. Buku buluk koleksinya menjadi saksi sejarah para pemikir yang terlupakan.

HENNY GALLA-AGUNG MARYANA
, Jakarta

AHAD siang (9/12), Festival Pembaca Indonesia digelar Goodreads Indonesia di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta. Stan “Buku Buluk” milik Harri Purnomo menempati kavling seluas 20 meter persegi. Penampilannya berbeda dari puluhan stan lainnya. Bila stan penerbit, distributor, atau toko buku banyak menampilkan buku-buku yang diniatkan untuk dijual, stan Buku Buluk justru memajang buku-buku tidak populer. Asing bagi masyarakat umum.

Contohnya, buku tipis karya Tan Malaka dengan cover abu-abu. Buku lama itu terbungkus plastik tebal. Sudah tampak lusuh. “Ya, supaya tidak dimakan rayap. Koleksi ini (Tan Malaka) harus dirawat dengan benar,” ungkap Harri Purnomo atau yang kerap disapa Gieb kepada Jawa Pos.

Selain Tan Malaka, tergantung pula buku AD/ART PKI (Partai Komunis Indonesia). Juga, puluhan buku lawas berhaluan kiri lainnya, termasuk buku-buku novel Pramoedya Ananta Toer versi “buku terlarang”.

Jika ada yang menanyakan harga buku-buku itu, Gieb bergegas menjawab, “Maaf, nggak dijual, hanya untuk koleksi. Kalau saya jual, mungkin saya sudah kaya.”

Gieb menamakan koleksinya sebagai buku buluk: buku-buku kiri yang langka. Buku-buku tua itu tidak hanya bisa dinikmati sebagai buku, namun juga sebagai artefak sejarah. Buku-buku tersebut termasuk langka karena memang tidak banyak yang masih menyimpan. Apalagi, pada era Orde Baru (Orba), buku-buku yang beraliran kiri dilarang beredar atau bahkan dimusnahkan.

“Mulai 1965, buku kiri jarang terbit. Kalau toh ada, dilarang beredar atau harus dimusnahkan rezim Orba,” terang pria kelahiran Solo, 7 Maret 1978, tersebut.

Buku-buku berhaluan kiri yang sempat menjadi momok Orba, antara lain, karya D.N. Aidit, Tan Malaka, dan Pramoedya Ananta Toer. Buku-buku tersebut pernah diberedel dan distigma sebagai buku propaganda komunis. “Ketika buku-buku itu diberedel dan dibakar pada 1965, yang tersisa jadi sangat jarang. Buku-buku koleksi saya ini adalah yang selamat dari tragedi itu,” jelasnya.

Buku-buku D.N. Aidit termasuk yang amat langka. Kalaupun ada, buku tersebut tidak berbentuk karangan asli, melainkan berformat seri pemikiran sejarah atau biografi tokoh pergerakan (PKI).

Gieb mengakui, tulisan para pemikir dengan label ekstrem kiri tersebut kini jarang dipublikasikan secara masif. Salah satunya karena tidak sesuai dengan selera pasar. “Pasar buku (kiri) memang tipis banget. Bisa dihitung dengan jari. Umumnya kolektor,” tutur dia.

Penerbit buku-buku kiri setali tiga uang. Jarang yang punya modal kuat sehingga berani “melawan arus” pasar. “Bahkan, tahun depan ada yang mau tutup karena tak kuat lagi.”

Karena itu, ada kenikmatan tersendiri ketika alumnus Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, Malang, tersebut berburu buku-buku kiri yang sulit didapatkan di toko buku modern. Mau tidak mau, dia harus rajin blusukan ke pasar buku loak. Tapi, berkat ketekunannya itulah kini dia mampu mengumpulkan lebih dari 600 buku kiri yang dianggap langka.

Gieb mengakrabi dunia buku setelah asyik dengan komik saat masih kecil. Ketika mahasiswa, mulailah cakrawala pemikirannya terbuka luas, termasuk terhadap ideologi yang berkembang. Apalagi, kala itu Gieb aktif dalam komunitas jurnalistik atau lembaga pers mahasiswa (LPM). “Sejak saat itu, saya gemar membaca buku-buku kiri,” ungkapnya.

Tak puas mendapat sekelumit ilmu dari lingkungan akademis, Gieb lalu berburu buku-buku kiri. Buku pertama yang dia beli secara sembunyi-sembunyi adalah tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Dia mendapatkannya dari sudut pasar buku bekas di Malang. Lokasi itu dia sebut Blok M-nya Malang. Dengan Rp 25.000 hasil menjual sepeda onthel, dia bisa mendapatkan tetralogi Pram yang tersohor tersebut.

“Saat itu, nama Pram masih dianggap kiri dan bukunya diberedel. Karena itu, kalau ada yang menjual, pasti dengan sembunyi-sembunyi. Saya mendapatkan buku-buku tersebut juga dengan sembunyi-sembunyi,” ungkap mantan wartawan ekonomi sebuah koran nasional itu.

Sejak lulus kuliah dan bekerja di Jakarta, insting berburu Gieb terhadap buku kiri langka tambah menggila. Dia bahkan mampu memetakan kota mana saja yang menjadi surga buku kiri dengan usia lebih dari separo abad itu. Menurut dia, buku kiri banyak ditemukan di wilayah yang dikelilingi markas militer. Di antaranya, Malang, Solo, Jogja, dan Bandung.

“Banyak jenderal zaman dulu yang jadi kolektor buku kiri itu. Bahkan, saya menduga, buku-buku kiri (saya) ini dulu koleksi para jenderal tersebut. Makanya, buku-buku itu selamat dari razia dan tidak ikut dibakar,” lanjut dia.

Seringnya Gieb berburu di pasar-pasar loak itulah yang akhirnya membuahkan hasil signifikan. Misalnya, dia berhasil mendapat buku Safe Conduct karya novelis Rusia Boris Leonidovich Pasternak. Apa yang menarik dalam buku usang bersampul merah itu”

“Dilihat sekilas, buku ini memang tidak menarik. Tapi, buku Boris Pasternak ini ternyata pernah dikoleksi Soe Hok Gie. Ada tanda tangan Hok Gie di lembar pertamanya. Jelas, buku ini sangat berharga,” ujar Gieb.

Dalam buku terbitan The New American Library tersebut, memang terdapat tulisan serta tanda tangan Soe Hok Gie dengan tinta biru yang mulai memudar: Djakarta 29 Nopember 1960. Soe Hok Gie. Ditukar dng (dengan) kartjis sandiwara dari Irawan. “Saya tidak akan menjual buku ini,” tegas Gieb yang begitu bangga dengan koleksinya yang ditemukan pada 2010 di Pasar Loak Senen, Jakarta, tersebut.

Selain di pasar buku bekas, Gieb sering mendapat keberuntungan dari kawan-kawannya. Misalnya, dia mendapat buku Pramoedya Ananta Toer yang berjudul Arus Balik cetakan pertama. Buku itu merupakan koleksi termahal yang pernah dia dapatkan. Harganya saat itu Rp 1 juta.

Ada pula buku jilid ketiga karya Tan Malaka dengan judul Dari Penjara ke Penjara. “Buku ini paling istimewa karena masih dalam format ketikan, masih stensilan, belum sampai ke penerbit,” paparnya.

Di antara ratusan koleksinya, buku yang paling sulit diperoleh adalah buku-buku D.N. Aidit. “Sekarang saya punya empat judul di antara total 30 judul karangan Aidit. Untuk mengumpulkan itu, saya butuh waktu empat tahun,” jelasnya.

Buku-buku Aidit yang dikoleksi Gieb adalah Revolusi Indonesia: Latar Belakang Sedjarah dan Hari Depannja (1964), Djalan ke Demokrasi Rakjat Bagi Indonesia (1955), Tentang Marxisme (1964), dan Kibarkan Tinggi Pandji Revolusi (1964). “Saya masih terus berburu buku Aidit yang lain,” tegas Gieb. (*/c5/ari)

*)JawaPos, 14 Desember 2012

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan