-->

Arsip Tokoh Toggle

Azharine Purwa Jingga: Kubaca, Kupetik Bintang, dan Kuarungi Dunia

Penulis-Cilik-postSosok Azharine Purwa Jingga terlihat mungil. Memang, umurnya baru sembilan tahun. Hari itu, dia terlihat membalik-balik halaman novel Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazy, kisah cinta-cintaan yang telah diangkat ke layar lebar.

Azharine terlihat begitu serius. Tak hanya melahap Ayat-Ayat Cinta, di samping tempat duduknya, di ruang tamu rumahnya yang beralamat di Graha Sunan Ampel, Wiyung, sudah menunggu tumpukan buku. ”Itu yang akan saya baca,” katanya. Menurut dia, buku tersebut menginspirasi dirinya untuk menulis buku. Sebagai sumber-sumber utama, buku-buku itu tidak hanya dibaca sekali atau dua kali. Dia membacanya sampai lima atau tujuh kali. ”Kalau satu kali, kadang saya belum dapat ide. Makanya, saya baca berkali-kali,” ujar anak pasangan Moch. Zamachsari dan Kartika Nuswantara itu.

Dalam menjalani kiprah kepenulisannya, Azharine punya semboyan kuat. Yaitu, kubaca, kupetik bintang, dan kuarungi dunia. Semboyan tersebut membuatnya tetap kukuh membaca, menggali ide, dan memetik intisari bahan bacaan itu.

Cara tersebut cukup cespleng. Buku pertamanya, A Nice Doll, adalah kisah yang terinspirasi dari buku lain. Yaitu, Aku Berani Tidur Sendiri karya Eka Wardana. Kisah dalam buku itu dia kombinasikan dengan pengalaman pribadi. ”Aku juga pernah takut tidur sendiri. Pas pertama punya kamar sendiri,” ujarnya.

Dia mengatakan, saat tidur sendirian itu, dia merasa takut. Rasanya, ada sesuatu yang bakal menggodanya. Apalagi, dia merasa mendengar suara-suara menakutkan. Rasa ngerinya kian bertambah. Nah, pengalaman itulah yang lantas dia tulis menjadi cerita.

Selain kisah pribadi, inspirasi bisa datang dari kejadian-kejadian di masyarakat, kejadian yang tengah menjadi berita. Misalnya, bencana alam. Contohnya, dia pernah menulis cerita Terima Kasih Rumah Pohon. Inspirasi tersebut datang ketika dia melihat bencana tanggul jebol di Situ Gintung. Saat melihat televisi, Azharine melihat banyak orang menyelamatkan diri di atas atap rumah dan pohon. ”Makanya, saya tulis cerita tentang rumah pohon. Ceritanya, ada dua anak yang selamat dari banjir karena naik ke pohon,” tutur anak berjilbab tersebut.

Kisah-kisah ringan yang dia alami sendiri pun kerap diangkat menjadi bahan tulisan. Misalnya, nasi goreng pedas dan jus melon. Cerita itu lahir lantaran dia pernah membeli nasi goreng yang sangat pedas. Dia pun memutuskan menjadikan kisah tersebut sebagai sebuah tulisan. ”Soalnya, saya ingat terus pengalaman itu,” tuturnya.

Kata Azharine, tulisan-tulisannya lahir begitu saja. Mengalir. Dia mengaku tidak pernah diajari menulis oleh orang tuanya. Dia bisa menulis lahir lantaran sangat suka membaca. Saat TK, dia suka membaca buku bergambar. Setelah membaca, gambarnya ditiru dan diberi cerita sendiri di bawahnya. Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga dia bersekolah di SD Islam Terpadu At-Taqwa. ”Kalau ada kertas kosong, biasanya saya tulisi cerita,” ujarnya.

Pernah, suatu ketika, ibunya, Kartika Nuswantara, sibuk mengerjakan disertasi. Melihat ibunya sibuk, Azharine juga ”sibuk”. Dia menulis banyak cerita di kertas-kertas kosong. ”Ibu kan sibuk menulis. Ya saya juga meniru agar sama-sama sibuk,” ujar Azharine. Bahkan, ketika ibunya mengeluh pusing karena capek, dia juga menirukannya. ”Saya bilang, saya juga capek nulis disertasi,” ucapnya, lalu tertawa.

Azharine mengatakan, dirinya bisa menulis banyak cerita karena sering ditinggal sendiri di rumah. Ibu dan bapaknya bekerja. Waktu-waktu sendiri itulah yang dihabiskan Azharine untuk menulis cerita. Jika jenuh dan tidak punya ide menulis, dia membaca buku. ”Biasanya, saya dapat ide dari membaca buku,” terang Azharine. Dari ketekunannya itu, dia berhasil menulis tiga buku, A Nice Doll, My Soulmate, dan Cyber Adventure yang baru terbit. Semua karyanya adalah terbitan Dar! Mizan. ”Saya akan terus menulis karena masih banyak ide yang harus saya tulis,” ucap Zharine.

* Dinukil dari Harian Jawa Pos Edisi 11 Juli 2009

John Wood: Antara Microsoft dan Ribuan Perpustakaan

Titik cerita, perubahan, dan pilihan hidup itu dimulai dari satu putaran perjalanan liburan ke Himalaya. Sesaat menjadi ”Brahman”, menjauh dari kejaran kerja yang nyaris menyita seluruh waktunya.

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in Nepal

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in Nepal

John Wood adalah seorang eksekutif perusahaan komputer terbesar sejagad, Microsoft, yang membawahi pemasaran di kawasan Asia Pasifik. Di Himalaya, 21 hari ia memaksakan diri putus dari matarantai kapital yang menjelujuri perhatiannya tiada henti: tanpa e-mail, dering panggil telepon, pertemuan, dan pulang-pergi kerja.

Bertahun-tahun rutinitas itu dijalankannya: gaya hidup komando seorang prajurit korporat di mana liburan hanya buat orang-orang yang lemah. Dalam falsafah parakomando korporat itu, prajurit kapital sejati adalah mereka yang terus bekerja di akhir pekan, terbang ratusan ribu mil, membangun kerajaan-kerajaan mini demi kebesaran patung raksasa Microsoft.

Tapi kini ia di Himalaya. Yang ia kerjakan adalah berjalan dan terus berjalan menyusur jalanan setapak menuju ketinggian. Dingin. Sepi. Juga buku catatan harian—yang kelak menjadi bahan mentah untuk biografi perjalanannya yang sangat terkenal: Leaving Microsoft to Change the World.

Buku harian itu menjadi semacam pandu rekam setiap langkah kaki yang tertanam di ceruk pasir putih yang dikepit salju. Di buku harian itu pula ia dirasuki suara-suara halus filsuf Soren Kierkegaard: ”Tak ada sesuatu pun yang begitu ditakuti setiap manusia seperti halnya mengetahui seberapa besar dia mampu melakukan dan menjadi.”

Dalam karavan itu ia terus bertanya pada hatinya yang disesap lengang. Dan pasase Dalai Lama di The Art of Happiness yang dikantunginya memberinya secupet rasa damai: “Ketika kita memberikan sesuatu, kita sebenarnya memperoleh sesuatu balasannya: kebahagiaan.

Jika kita harus menggunakan uang kita sekadar untuk membeli barang-barang buat diri kita sendiri, tak akan ada akhirnya. Memperoleh sesuatu tak akan menghasilkan kebahagiaan sejati, sebab kita tak akan pernah memiliki perahu yang paling besar, mobil paling bagus, dan akan terikat pada siklus materialis yang abadi.

Tapi, kalau kita memberikan sesuatu bagi mereka yang kurang beruntung, kita tak akan memperoleh sesuatu sebagai balasan kecuali perasaan hangat dalam hati kita dan pengetahuan yang kita miliki dalam otak kita bahwa kita telah menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik.”

Keramahan memang diterimanya dari setiap warga yang ditemuinya. Tapi di balik keramahan itu, tersembul ironi. Di sana tertanam angka buta huruf dengan angka yang nyaris absolut. Di sana, di jalur Annapurna, di dukuh Bahudanda yang dilewati Sungai Marsyendi, memang terdapat satu sekolah.

Di pagi itu John diajak berkeliling sekolah berlantai tanah yang terlalu sesak buat 450 anak “belajar” di dalamnya. Dan John masgul di bawah plang dengan cetakan yang sangat meyakinkan: “Perpustakaan Sekolah”. Karena apa yang disebut perpustakaan itu hanyalah sebuah ruang lengang tanpa buku. Ruang yang seperti diciptakan dengan nyala harapan bahwa suatu ketika ada peri yang menitip buku-bukunya buat anak-anak Bahudanda.

Dan momentum saat John pulang itulah meluncur sebaris harapan yang dikatakan sang kepala sekolah yang kelak membalik posisi berdiri John Wood di atas pentas karirnya: “Barangkali, Pak, suatu hari Anda akan kembali dengan buku-buku.”

Dan sepanjang perjalanan, John membayangkan datangnya hari itu: Menaikkan beberapa ratus buku ke punggung yak-yak sewaan dengan barisan panjang.

Tapi setiap pilihan membutuhkan keputusan yang berani; sebagaimana tradisi Microsoft yang dibangun dua doktrin yang mesti diresapi setiap prajurit korporatnya: ”Jadilah besar atau pulanglah” dan ”Tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Dan di antara harapan akan hadirnya buku-buku di sebuah dukuh di balik-balik batu di ketinggian bumi yang jauh dari jangkauan peradaban modern, John Wood mengambil ikrar: Meninggalkan Microsoft yang telah memberinya segala-gala. Gaji yang memberinya angka tabungan yang berlimpah untuk jaminan hari tua, prestise, jaringan pertemanan mahaluas, serta jabatan mentereng sebagai eksekutif—jabatan yang didamba begitu banyak petualang kerja.

John memilih menjadi kurir buku-buku buat anak-anak Nepal—dan juga negeri-negeri yang terpental dari pergaulan dunia karena dikeram kebodohan dan kemiskinan. Atas pilihan itu John tidak hanya melihat tabungannya meluncur ke titik nol, tapi juga kehilangan pacar yang tak memahami jalan pikirannya.

Tak banyak kita temui sosok yang berani seperti John Wood ini. Yang mengikuti keyakinannya yang menyala-nyala bahwa jalan buku adalah serupa lorong harapan yang membuka jalan pembebasan.

Mula-mula diteguhkannya dirinya sendiri: “Saya membangun sekolah dan perpustakaan di komunitas-komunitas miskin di Nepal.” Dia tahu, untuk mengajak orang lain bertindak yang sama, maka ia harus terlihat meyakinkan. Yang diyakinkannya pertama kali adalah orang tuanya dan tetangga-tetangganya di San Fransisco. Gelombang pertama ini berhasil mengumpulkan banyak buku dan menjadi langkah pertama John mewujudkan mimpinya: Memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya.

Langkah itu membawa John mendirikan lembaga amal yang menaungi dirinya dan barisan panjang yak-yak pengangkut buku. Ia menamai lembaga amal itu dengan ROOM TO READ atau Ruang Baca. Bagi John, salah satu keterampilan yang mutlak dimiliki oleh lembaga amal adalah kemampuan menjual visinya, model bisnisnya, dan program-programnya kepada donatur-donatur potensial.

Yang lebih penting lagi adalah perencanaan keuangan yang terbuka dan jangan sekali-kali membiarkan cash flow negatif. Ketatnya John dalam soal pengurusan kapital ini lantaran doktrin pendidikan yang sudah dijalaninya untuk memelototi model-model cash flow serupa intensitas seorang siswa Rabbini mempelajari Kitab Taurat.

Selain itu, John amat berpantang membangun lembaga amalnya dengan teknik “Tangisan Panjang Sally Stuthers”. Teknik ini—dan biasanya kerap dijual lembaga filantropik—mengeksploitasi dan memperlihatkan foto-foto anak yang dikerubungi malapetaka atau keluarga gizi yang berbaring dalam debu.

Bagi John, teknik ini alih-alih mengangkat harkat kaum miskin, tapi justru merendahkan martabatnya. Room To Read mengambil jalan sebaliknya. Memberi obor harapan dan pendar optimisme dengan menampilkan foto-foto anak dari sebuah pusat kota kecil dengan memakai toga kelulusan yang kedodoran, gambar seorang gadis kecil yang sudah bisa menyunggingkan senyum setelah operasi sumbing, atau potret petani-petani di lahan tandus Honduras yang bangga dengan sumur barunya.

Prinsip itu dipegang kuat oleh John dan tim yang dibangunnya. Di halaman muka situsnya, www.roomtoread.org, memang ditampilkan angka-angka yang menandai ketunaan: “There are over 76 million children of primary-school age who are not enrolled in school. Of the 774 million adults in the world who cannot read or write, 64 % are women. Of the world’s 76 million children out-of-school children of primary age, over 80% live in rural areas”. Namun foto-foto di latar situs itu adalah anak-anak sekolah dasar yang mengepit buku dan memperlihatkan seutas tipis senyumnya.

Room To Read memang membeber data kemiskinan, tapi bukan untuk menjual kemelaratan dan kesengsaraan, melainkan memberi arah bagi pijakan perjuangan “menumpasnya” dengan jalan buku, perpustakaan, dan ketersediaan gedung sekolah bagi anak-anak. Itu semua terwujud berkat hasrat filantropik John yang menggebu disertai keahliannya mengorganisasi sebuah tim yang bukannya anti kapital, tapi bagaimana mengelola cash-flow kapital itu dengan baik dan transparan.

Teknik itu kemudian melahirkan kepercayaan. Hanya kepercayaan yang bisa mendorong donatur-donatur yang menyebar di daratan Amerika, Eropa, bahkan Hongkong itu untuk menitipkan hartanya untuk digunakan sebagaimana mestinya.

John, dititimangsa ini, berhasil membuktikan doktrin yang diyakini oleh setiap prajurit korporat di Microsoft: “”tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Tapi doktrin itu kini bukan untuk kemahamuliaan patung porselen raksasa Microsoft, melainkan untuk warga dunia selatan yang papah.

John kini tak hanya membayangkan memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya, tapi juga ia berhasil memimpin sebuah tim dan sejumlah besar donatur potensial membangun lilin kecil literasi. Dan pastinya John telah tunaikan janji kepada kepala sekolah Bahudanda. John pulang. Tapi ia tak hanya pulang dengan membawa buku-buku di atas punggung yak-yak, tapi juga ia dan Room To Read hingga 2009—atau sesudah 10 tahun berjuang dari titik nol di ketinggian Himalaya—telah berhasil membangun 8.500 perpustakaan dan ribuan sekolah. Bukan hanya di Nepal, tapi Vietnam, Srilanka, dan Kamboja. (Muhidin M Dahlan)

Tulisan ini disobek dari buku Para Penggila Buku terbitan Indonesia Buku

Jelang Pilpres, Jusuf Kalla Luncurkan Empat Buku Sekaligus

Jusuf Kalla, Wapres RI, calon presiden dalam Pilpres 2009 nomor urut 2.

Jusuf Kalla, Wapres RI, calon presiden dalam Pilpres 2009 nomor urut 2.

Empat buku tentang Jusuf Kalla diluncurkan sekaligus. Dari empat buku berseri itu, Tiga diantaranya ditulis langsung oleh JK yang kini maju sebagai calon presiden di Pemilihan Presiden 8 Juli 2009.

Peluncuran buku itu dihadiri tokoh-tokoh nasional dan para tim sukses JK-Wiranto di Hotel Sahid, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2009. Masing-masing tokoh yang hadir itu memberikan testimoni soal karakter JK.

Keempat buku itu masing-masing berjudul Membangun Bangsa dengan Kultur Pesantren, Membangun Bangsa dengan Kemandirian Ekonomi, Membangun Bangsa dengan Spirit Kemandirian, dan Testimoni Ketokohan JK Pemimpin Nusantara.

Tampilan keempat buku itu dibalut perpaduan dua warna. Yakni warna merah dan kuning emas. Wajah JK yang tersenyum menghiasi sampul halaman depan buku seri pemikiran JK ini.

Mereka yang hadir antara lain, Ketua Tim Sukses JK-Wiranto, Fahmi Idris, tim sukses lainnya, Poempida Hidayatullah, Fadhil Hasan, serta Nurul Arifin. Tampak hadir pula tokoh muslim wanita, Tutty Alawiyah, Alwi Hami, dan Rektor UIN yang juga moderator debat cawapres, Komaruddin Hidayatullah.

Tiba buku yang dikarang JK masing-masing berjudul Seri Pemikiran JK: Membangun Bangsa dengan Spirit Kemandirian, Membangun Bangsa dengan Ekonomi Kemandirian, dan Membangun Bangsa dengan Ekonomi Kemandirian. Satu buku terakhir bertajuk Pemimpin Nusantara, Testimoni Ketokohan Jusuf Kalla.

Tiga buku pertama merupakan tulisan JK. Sedangkan untuk buku yang berjudul Pemimpin Nusantara, Testimoni Ketokohan Jusuf Kalla, ditulis beberapa tokoh.
Penulis buku keempat yakni, Tanri Abeng, Donny Gahral Adian, Idrus A Paturusi, Anni Iwasaki, Eep Aaefullah Fatah, Gigin Praginanto, Nuryana, Ricky Rachmadi, Herdi Sahrasad, dan Haydar Yahya.

Para pendukung JK-Wiranto seperti Dradjat Wibowo, Nurul Arifin, Tuti Alawiyah, dan Komarudin Hidayat juga tampak hadir untuk memberikan testimoni bagaimana sosok JK.(vvn/okz)
Digunting dari www.suaramedia.com, 26 Juni 2009

Mega-Pro Janji Hapus Pajak Buku

Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subiyanto (MegaPro), pasangan nomor urut 1.

Megawati Soekarno Putri dan Prabowo Subiyanto (MegaPro), pasangan nomor urut 1.

Calon Presiden-Wakil Presiden Megawati Soekarno Putri-Prabowo berjanji bakal menghapus pajak buku untuk meningkatkan mutu pendidikan Indonesia.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Kampanye Mega-Pro Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) Soeryo Respationo dalam Corong Politik, debat tim kampanye capres yang digagas Forum Diskusi Jurnalis Kepri di Batam, Sabtu.

Ia mengatakan pajak buku dihapuskan agar harga buku lebih terjangkau, sehingga pendidikan lebih terjamin.

“Harga buku mahal dan tidak terjangkau,” kata dia.

Selain itu, Mega-Pro juga berjanji tidak sering mengubah kurikulum, agar buku periode sebelumnya bisa digunakan lagi.

Dalam debat, tim Mega-Pro juga berjanji memberikan satu juta laptop kepada guru dan siswa untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Mega Pro juga akan menghapuskan Ujian Nasional sebagai penentu kelulusan siswa.

“Kita lihat banyak siswa yang pingsan, menjadi korban UN,” kata dia.

Ia mengatakan pemerintah tidak bisa menyamakan kemampuan siswa daerah dengan Jakarta, sehingga tolak ukur kelulusan sama.

Digunting dari:  Antaranews (4 Juli 2009)

Suparto Brata: Jangan Sekadar Datang di Acara Buku!

Suparto Brata

Suparto Brata

Malam itu dia datang seorang diri saja. Dengan kaos kebesarannya yang bertuliskan www.supartobrata.com Dan seperti biasa, beliau membaur dengan anak-anak muda yang mengerumuninya. Tawa yang sumringah membuatnya terlihat bugar dan penuh semangat.

Suparto Brata bukan hanya seorang yang tekun menulis, ia juga tekun hadir di acara-acara buku. Dan ia bukan hanya sekedar hadir, ia juga tekun menyimak. Karenanya ia tak suka jika ada yang tidak menyimak alur diskusi di forum.

Tadi malam, 29 Juni 2009, di acara peluncuran buku Para penggila Buku karya Muhidin M dahlan dan Diana AV Sasa, beliau membuat kuis kecil untuk nge-tes konsentrasi dan ingatan peserta diskusi. Pertanyaannya sederhana: Di mana pertama kali Cak Giryadi (salah satu pembicara, redaktur buku harian Surabaya Post) pertamakali belajar menulis di media masa? Dan ternyata nyaris semua peserta terdiam.

Hanya ada satu bapak yang mengacungkan tangan. Namanya Pak Jamal, seorang tukang becak yang cinta buku dan tekun pula hadir di acara buku. Maka beruntunglah Pak Jamal mendapatkan hadiah buku terbaru Suparto Brata sebagai buah ketekunan, keseriusan dan daya ingatnya.

Pelajaran berharga bagi setiap pecinta buku. Jika datang di acara buku, memang semestinya menjadi peserta aktif, tidak hanya sekadar datang dan bersapa halo ria. Menurut Pak Parto, forum ini menjadi ajang kesempatan belajar dan berbagi pengalaman, jadi jangan disia-siakan.  (DS)

Dipo Andy, Bukan Buku tapi Televisi

Dipo Andy

Dipo Andy

Jika kau bertanya apa arti membaca bagiku, maka jawabku adalah membaca tanda-tanda. Pembacaan atas tanda-tanda itu melahirkan pengertian atas situasi psikologis masyarakat. Tentu tanda yang kubaca bukanlah tanda yang sudah sangat jauh di belakang, tanda tradisional, melainkan perkembangan masyarakat kini dan di sini. Aku berada dalam kereta yang masih beroperasi dan bukan kereta yang sudah disimpan di museum sebagai barang antik dan sesekali dioperasikan untuk memuaskan hasrat para turis atau antikes (pencinta barang antik).

Dan yang paling progresif dari tanda-tanda itu adalah apa yang diproduksi alat-alat elektronik. Mungkin kau menyanggahku. Kenapa bukan buku. Mungkin kau akan bilang, bukankah barang-barang elektronik itu sampah yang memproduksi kedangkalan, kebanalan, dan tak ada sama sekali refleksi di dalamnya. Penuh spekulasi. Gosip murahan.

Barangkali kau benar. Tapi tunggu dulu. Kuberitahu bahwa gerak produksi alat elektronik sangat progresif. Ia selalu memperbarui dirinya. Terus-menerus. Sedikit saja lengah, ia akan disalip produk elektronik lainnya. Kubayangkan orang yang bekerja di pabrik elektronik itu adalah orang-orang yang tak pernah bisa tidur karena harus mengawal masa depan setiap detik. Mereka setiap saat mesti terjaga, seperti masyarakat yang tak pernah tidur untuk menyongsong masa depannya. Seperti ucapan gembel-gembel itu: besok mau makan apa. Ucapan gembel itu menurutku sangat kontemporer.

Nah, begitulah. Justru tempat yang kau anggap murahan itu kuletakkan pembacaanku. Dari barang-barang banal itu kucecap inspirasi. Gosip itu menggetarkan kalau kau tahu. Selalu mengejutkan. Walau banyak juga yang membosankan. Penuh repetisi.

Membaca buku itu susah. Sekarang saja aku tak bisa lagi baca buku (tebal) secara tuntas dan total. Karena ternyata setelah kucoba-coba lagi membaca, aku temukan diriku susah sekali berkonsentrasi, karena waktu yang aku pakai adalah waktu sisa-sisa dari kegiatan untuk berkarya. Kau perlu tahu berkarya itu membutuhkan energi dan konsentrasi yang tinggi. Bukan sekedar fisik yang bekerja, tapi pikiran pun diperas untuk menyelesaikan karya. Apalagi beberapa tahun terakhir, aku sangat giat berkarya. Kondisi yang berbeda ketika masih mahasiswa dan beberapa tahun setelahnya.

Selain itu aku sebetulnya muak melihat gaya-gaya orang-orang pembaca buku; mereka itu sombong sekali. Seolah-olah mereka itu lebih hebat dan lebih tahu dari siapa pun. Padahal mereka hanya kutap sana kutip sini. Malu juga aku melihat kesombongan manusia pembaca buku seperti itu.

Tapi kau terus juga memaksaku untuk terus memegang buku. Bahkan meminta menyebutkan 5 buku yang mempengaruhiku. Dengan terpaksa kusebutkan bahwa yang mempengaruhiku adalah Tetralogi Pramoedya Ananta Toer di mana untuk cetakan keduanya setelah lama dibreidel, yakni pada 2002, akulah yang membuat sampulnya. Buku itu mengisahkan perjuangan yang tulus yang terkadang tak terbayar dengan apa yang didapatkan kemudian. Yang penting jalani proses dan yakni akan jalan yang dipilih ditempuh.

Tapi kau menagih satu lagi untuk sampai cukup lima. Jawabku sudah lupa semua. Buku terakhir yang kubaca adalah karya Gabriel Garcia Marquez, Seratus Tahun Kesunyian. Tapi tak selesai. Berat. Adapun buku-buku seni itu soal perkuliahan di ISI Jogja (Institut Seni Indonesia). Tak usahlah disebutkan.

Tapi bukan berarti aku anti bacaan. Toh anak-anakku tetap kuantar ke toko buku. Aku juga masih menyempatkan waktu untuk baca koran dan majalah-majalah seni langgananku, seperti Visual Art, C-Art, dan Arti. Saban bulan aku masih menyempatkan membeli majalah-majalah impor ihwal desain grafis. Semua itu kulakukan agar aku tak ketinggalan isu dunia pop terbaru. Jadi kau sudah tahu bukan, bahwa konsep-konsepku dalam berkarya juga dipengaruhi potongan-potongan artikel isu spekulatif dari bacaan-bacaan pop itu. Dan menurutku, justru dari spekulasi-spekulasi itu memunculkan banyak pertanyaan untuk memulai ide dalam berkarya.

Mesti aku membaca, tapi di sini kuberitahu kepadamu bahwa bukan buku yang mempengaruhi lukisanku, walau kukatakan bahwa sejak 1998 hingga 2003 aku menjadi pembuat sampul buku di banyak penerbitan Jogjakarta. Bahkan aku menjadi salah satu pengelola penerbitan arti.line. Jadi biar begini-begini, aku pernah menjadi orang buku.

Yang mempengaruhiku adalah seleraku yang berhubungan dengan dunia pop, film, dan kecenderungan hidup sehari-hari. Buku sudah tak kubaca. Yang dari luar negeri paling kulihat-lihat saja gambarnya, selain bahasanya tak kumengerti. Bagi seniman seperti aku ini, cukuplah melihat gambar tanpa kata-kata. Dengan menangkap pesan visual aku sudah membangun teori sendiri di mana terkadang konsep yang kupahami berbeda sama sekali dengan konsep yang dibangun oleh gambar itu.

Dari seluruh perjalananku atas pembacaan terhadap masyarakat lewat barang-barang elektronik dan kehidupan pop dan vulgar-vulgar yang tampil di halaman majalah-majalah life style itu, aku kemudian berkesimpulan bahwa lukisan itu mestilah memiliki akar langsung dari kehidupan sehari-hari; sebagai sebuah cara hidup. Aku bukanlah seniman yang beraneh-aneh dalam masyarakat. Aku adalah bagian dari arus besar masyarakat dengan satu semangat: terus menjalani hidup di sini dan kini. Jenis masyarakat yang begitu itu yang kurekam secara terus-menerus di atas kanvas. (Muhidin M Dahlan)

Dipo Andy, Sumbawa, 21 Agustus 1975
1999 Voice of Nation (Intaran Gallery Bandung, Indonesia) 2000 Feminografi (Gelaran Budaya Yogyakarta, Indonesia) 2001 Muka-Kamu-Amuk-Muak: Serigraphy of 500 Face of Indonesia Parliament Member 1999-2004 (Museum Nasional Jakarta, Indonesia) 2002 Bolart: Choreography of Soccer, Serigraphy of 750 Face-World Cup Player 2002 (Museum Olahraga, TMII Jakarta, Indonesia) 2006 Mirror: Masters Revisited (Vanessa Art Link, Jakarta, Indonesia 2008 Passion Fashion (Semarang Gallery, Semarang, Indonesia)

Nur Mursidi, Juara Blog Buku karena Daya Tahan

Nur Mursidi

Nur Mursidi

Nur Mursidi. Lahir di Rembang, 30 Maret 1975. Kini tinggal di Tangerang. Sarjana Akidah Filsafat UIN Sunan Kalijaga Jogja ini sudah 11 tahun membaca dan meresensi buku. Pelbagai tema tentu saja dirambahnya. Ia akan berbagi pengalamannya selama satu dasawarsa lebih. Sebaiknya kita tanyakan dulu apa dan bagaimana dunia resensi itu kepada wartawan tetap majalah Hidayah dan kontributor majalah Anggun dan majalah Variasari ini.

Wawancara yang dilakukan Muhidin M Dahlan via e-mail ini kita bagi dalam dua sesi. Sesi pertama adalah proses kreatifnya. Sesi kedua adalah bagaimana tips-tips meresensi [sini].

BAGIAN I


Saya denger dari teman, blogmu pernah menjadi juara untuk blog resensi buku di Jakarta Islamic Book Fair. Diceritakan ya….

Blog saya (http://etalasebuku.blogspot) memang pernah meraih juara pertama lomba blog buku yang diadakan Pesta Buku Jakarta 2008. Ceritanya, waktu itu (tahun 2008) Pesta Buku Jakarta 2008 menggelar beberapa lomba di antaranya adalah lomba blog buku. Karena saya kebetulan memiliki blog buku yang semula saya jadikan sebagai “dokumentasi resensi-resensi buku” yang pernah dimuat di media massa, maka saya pun iseng-iseng mengikutkan blog saya dalam lomba tersebut.

Tetapi di luar dugaan, ternyata blog saya itu meraih juara pertama. Padahal, sejak awal saya ikut lomba sudah tidak yakin kalau bisa menjuarai lomba, apalagi persyaratan yang ditentukan panitia nyaris tak bisa saya penuhi. Jika pada akhirnya blog saya bisa meraih juara, saya menyimpulkan bahwa blog saya itu banyak memiliki konteks resensi buku, tulisan dunia seputar buku bahkan juga proses kreatis menulis dan semua tulisan itu sudah saya buat jauh-jauh hari dan saya rajin meng-update. Sementara peserta yang lain; baru membuat blog justru pada saat diadakan lomba blog tersebut.

Sejak awal saya ikut lomba hanya iseng, maka saya pun melupakan lomba blog tersebut. Anehnya, justru saya meraih juara dan saya tahu jika saya meraih juara justru dari seorang teman saya kebetulan pada waktu itu hadir di Pesta Buku Jakarta sewaktu pengumuman pemenang blog diumumkan panitia. Cerita yang lucu…!

Mengapa dirimu mencintai buku sepenuh2nya. Bisa diceritakan latarnya?

Keluarga saya adalah keluarga yang jauh dari buku. Perkenalan saya dengan buku diawali dengan kisah yang unik. Bermula dari cerita menakutkan sejak tinggal di rumah tua yang saya kontrak bersama beberapa teman di Krapyak, Yogyakarta di masa awal kuliah dulu. Tak tahunya, rumah itu angker. Saya yang memiliki jiwa usil, dibuat penasaran; ada apa dengan rumah itu? Tepat hari pertama, saya langsung menelisik rumah itu dan saat saya temukan kamar di belakang rumah, saya ditikam penasaran. Di kamar itu, ternyata tersimpan bertumpuk-tumpuk buku.

Tidak sabar, saya mencongkel kunci kamar tersebut. Setelah berhasil membuka pintu, saya menghampur ke dalam dan langsung meraih sebuah buku yang tergeletak di lantai. Tak pernah kubayangkan jika buku yang saya raih itu adalah novel Bukan Pasar Malam, karya Pramodya Ananta Toer. Pantas, saya yang waktu itu belum pernah baca buku –maksud saya; selain buku pelajaran sekolah– langsung terpana sejak membaca halaman pertama. Jujur, novel itu pula yang membuka mata saya mengenal sastra.

Sejak perjumpan saya dengan novel karya sastrawan kelahiran Blora itu, diam-diam saya sering bersembunyi di kamar belakang itu melahap hampir semua buku yang ada. Setelah buku-buku di kamar itu habis saya baca, saya kehabisan bacaan. Tidak ada lagi buku yang saya baca, menjadikan saya disergap bingung. Wajar, ketika esok harinya saya kuliah, dan tak sengaja bertemu Arief Syarwani –teman sekampus– yang kebetulan menenteng novel Satu Hari di Yogya karya N. Marewo, mata saya seperti berbinar.

Buku itu kemudian saya pinjam. Meski dia sendiri meminjam buku tersebut dari Muhammad Rifa`i, ternyata ia tak keberatan meminjamkan buku itu padaku. Ia bahkan mengajari saya menulis resensi buku untuk buku tersebut. Dua hari, buku itu saya baca lalu saya resensi–untuk saya kirimkan ke Kedaulatan Rakyat.  Tidak pernah saya duga, kalau resensi saya itu pada akhirnya dimuat. Rentetan “peristiwa-peristiwa” itulah yang membuat saya mencintai buku sepenuhnya, apalagi setelah saya “menerjunkan diri jadi peresensi buku”. Ada kegilaan untuk membaca, membaca dan membaca.

Untuk apa orang menyuntuki buku. Apa yang bisa dicari di sana. Bagaimana suka dukamu jadi pembaca yang sekaligus penulis resensi buku?

Orang menyukai buku, karena lewat buku orang bisa melihat dunia. Ada banyak hal yang dapat dicari seseorang lewat buku, tetapi bagi saya pribadi, setidaknya saya bisa belajar dari buku tentang banyak hal, ilmu dan pengetahuan yang sebelumnya tidak saya ketahui. Lebih dari itu, lewat buku saya mendapat jawaban dari pertanyaan-pertanyaan hidup setelah melakukan semacam kontemplasi dan perenungan lebih jauh dan dalam.

Adapun cerita sukanya menjadi pembaca dan sekaligus peresensi buku tidak lain adalah saat mendapatkan kiriman “hadiah buku dan honor” dari menulis resensi. Meski buku dan honor itu bukan segala-galanya, karena membaca dan menulis resensi itu bagi saya adalah satu proses belajar yang menyenangkan sekaligus sebagai media terapi dari keterasingan hidup, tapi kiriman buku gratis dan honor itu tetap menjadi motivasi yang tak bisa dinafikan.

Sementara untuk cerita duka menjadi pembaca sekaligus peresensi buku adalah saat kita salah melakukan penafsiran atas sebuah buku. Karena pada dasarnya membaca dan menulis resensi itu adalah proses menafsrikan dan menilai sebuah buku. Tentu, ada kritik yang kadang dikemukakan oleh orang (pembaca) lain yang kemudian menanggapi hasil pembacaan kita, jika kita memang salah menimbang sebuah buku.

Sudah berapa buku di rak? Dari mana saja (sebagian besar) asalnya kalau boleh tahu? Gratis dari penerbit atau beli sendiri???

Saya mungkin termasuk penulis yang tidak setia memelihara dan merawat buku. Karena itu, saya tidak tahu berapa jumlah buku yang saya miliki. Tak sedikit buku-buku saya yang dipinjam orang lain, ternyata tak kembali ke rak buku saya. Bahkan, sebagian besar buku saya masih saya titipkan seorang teman di Yogyakarta.

Terlepas dari semua itu, buku-buku yang saya miliki sebagian adalah hadiah dari penerbit dan sebagian yang lain saya beli dari uang honor menulis. Apalagi tatkala saya dulu gemar memburu buku-buku bekas dari penampung barang-barang bekas (rongsok) di mana saya banyak membeli buku dengan cara kiloan. Hampir tiap hari saya mendapat buku loak dengan harga murah karena saya membeli kiloan. (Bersambung ke Rubrik TIPS-Daya Tahan Meresensi Buku)

Benny Wicaksono : Membaca New Media

benny wicaksono

benny wicaksono

Kamis malam (11/6/09) pelataran Balai Pemuda Surabaya mendadak jadi ajang rave party. Empat orang laki-laki muda, asyik memainkan House music di belakang audio mixer. Di sisi kanan-kiri mereka berdiri 2 televisi layar datar. Layar itu menampilkan gambar dan permainan cahaya yang senada seirama dengan alunan musik. Pengunjung terbius untuk menari bersama. Hingar bingar, spektakuler, penuh asap, tawa, dan kegilaan. Siapa menyangka jika itu adalah sebuah acara pembukaan pameran seni? Tak ada tamu kehormatan, tak ada gong dipukul, apa lagi pita digunting. Tapi itu benar-benar pembukaan pameran seni. Surabaya International Video Festival 2009.

Dan seseorang dibalik ide gila itu tersebutlah satu nama: Benny Wicaksono. Ia seorang video jockey dan penggerak pameran video art.

Ben, kamu sejak kapan tertarik video art?

Kalau aku sih dari SMA sudah tertarik banget dengan dunia seni visual. Aku banyak tahu dari majalah-majalah. Makanya aku ngebet banget pengin kuliah di akademi seni. Waktu itu aku pilih ISI Jogja. Tapi 2 kali test masuk, tetep nggak masuk. Akhirnya, karena pilihannya harus tetap di dunia seni, ya udah, aku masuk desain grafis UK Petra. Sayang, aku gak bisa lulus juga dari kampus itu. Dunia seni lebih menarik bagiku ketimbang kampus. Dan pilihanku jatuh pada seni video.

Sejak 1999 aku sudah kepengin banget bikin pameran tunggal. Jadi aku buat aja pameran kecil-kecilan. Disitu sebenarnya, jejak-jejak karyaku yang sampai sekarang tuh muncul. Sistem Saluran Televisi Terbuka, Close Circuits Television, itu sampai sekarang masih jadi idiom dalam karya-karyaku. Keinginan pameran tungal yang benar-benar kupersembahkan untuk publik seni rupa baru bisa terwujud 4 tahun kemudian. Sejak itu aku banyak diundang mengisi pelatihan, mengajar, dan menjadi pembicara forum-forum diskusi seputar seni video gitu. Aku juga kadang jadi kurator  beberapa karya video teman-teman.

Kamu bilang, mengenal seni visual dari majalah. Emang kamu suka baca?

Wah, suka sekali. Aku adalah tipe orang, yang jika kehabisan bacaan di ruanganku, di studioku gitu, aku akan sangat gelisah. Aku cenderung gak peduli  mengeluarkan biaya berapapun buat buku dari pada untuk hal-hal yang nggak berguna. Koleksi bukuku termasuk koleksi yang lumayan banyak juga sih.

Berapa buku kamu punya?

Emm, sekitar 200-an lah. 200 teks book dan 50-an buku-buku tentang design gitu.

Sukanya baca buku apaan?

Cultural studies, filsafat

5 buku yang kamu suka?

Lima buku yang aku suka, sebentar..sebentar.. aku mikir ya…

Satu, Dunia yang Dilipat, Yasraf Amir Piliang. Terus kedua itu, Subculture, The Meaning of Style, Dick Hebdige. Kemudian, The Language of New Media, Lev Manovich. Kurang dua ya? Ehmm, karena aku pengagum berat Yasraf Amir Piliang, bukunya semua aku koleksi, Hipersemiotika! Suka banget aku Hipersemiotika. Satu lagi, sebentar-sebentar aku ambilkan dari buku-buku ini,eh..apa ya…emm….ada satu buku yang aku suka banget, eh… The War of the Worlds, dari Mark Slouka, tentang pandangan pesimistisnya terhadap dunia internet. Aku suka banget buku itu.

Diantara buku-buku itu, yang paling mempengaruhi karyamu?

Aku mungkin Yasraf Amir Piliang. Tulisan-tulisannya sangat relevan dengan pemikiran-pemikiran progresif di Indonesia. Aku berkenalan pertama dengan tulisannya itu di Dunia Yang Dilipat. Tulisan-tulisan dia mencakup banyak hal yang harus aku baca. Dari persoalan internet, media, sampai politik. Aku suka banget buku dia.

Bagaimana mentransfer buku-buku itu ke dalam karyamu?

Ada bab-bab tertentu di buku Yasraf, tentang masyarakat yang belum melek media. Satu-satunya jalan untuk membuat masyarakat melek media, ya memang harus menggunakan aktivitas budaya yang menggunakan media. Jadi ada semacam counter culture disitu. Jadi bukan hanya merayakan datangnya media dengan televisi, sinetron, bla bla bla… tapi kita harus ada satu agenda, satu kegiatan, satu diskusi dimana disitu kita bukan hanya merayakan datangnya media tapi kita mengkritisi. Ada kesadaran untuk tidak hanya sebagai penikmat tapi juga sebagai pelaku aktif. Itu kuat banget dalam buku itu. Akhirnya, ketika aku ngomongin karya-karyaku yang notabene new media, aku juga ngomongin itu, aku juga mengkritik apa yang ada di medium video. Seperti contoh, ketika aku harus membelokkan makna tentang CCTV yang notabene jadi alat pengawasan, bersifat interfensi, surveillance, tapi ditanganku, itu, jadi alat untuk bersenang-senang saja. CCTV itu bisa aku sorot ke karya drawing-ku, lalu aku mixing jadi satu bentukan yang baru sehingga jadi karya video yang artistik. Ada pemutar balikan makna disitu.

Menurut kamu, perlu gak sih seniman membaca?

Sangat perlu. Seniman sangat perlu membaca. Seniman, dia juga sebagai sebuah representasi dari  masyarakat disekitarnya. Dia harus peka, kepekaan itu didapat dari cara mengamati, dan bagaimana dia  membaca situasi. Jadi membaca buku menurutku sangat sangat perlu. Karena ya itu tadi, pengetahuan mungkin hanya bisa di dapat dengan membaca ya. Sekarang bukan eranya, ketika seorang seniman ditanya ‘apa sih sebenernya basic lahirnya karya-karyamu?’ ‘Oh, tiba-tiba datang dari inspirasi-inspirasi  ketika saya menyepi’ Wah, sudah bukan jamannya itu. Seniman harusnya sudah bicara tentang strategi perubahan-perubahan di masyarakat, strategi budaya, di sekitarnya, itu.

Kamu suka nulis?

Oh aku nulis, aku seneng banget nulis. Aku tuh pengin menulis dan mengungkapkan gagasan lewat tulisan.

Sudah nulis apa saja?

Menulis satu tema yang utuh sih belum, paling hanya sekedar menulis komentar, mengkritisi, memberi masukan-masukan pada karya teman-teman dan dimuat di katalog-katalog mereka.

Apa sih asyiknya nulis?

Tantangan menulis adalah tantangan bagaimana aku harus mendapatkan informasi lebih banyak lagi. Seperti contoh, ketika aku diminta menulis pengantar untuk sebuah fashion illustration, maka aku harus membuka banyak buku yang berkaitan dengan dunia pop. Aku harus mencari informasi tentang itu.

Pesan kamu untuk seniman tentang buku?

Koleksi buku… sebanyak mungkin…. di lemarimu…..

Aku melihat teman-teman muda punya kecenderungan untuk punya koleksi buku yang cukup bagus ya. Buku ini tidak hanya yang dibeli di toko-toko buku ya. Coba datang ketempat-tempat art community, seperti Ruang Rupa, Selasar Sunaryo, Common Room, Cemeti, mereka menerbitkan buku-buku yang menurutku bagus banget dan sayangnya, mereka memang nggak menjualnya di toko buku umum. Jadi untuk mendapatkannya memang harus datang ke tempat-tempat itu. Dan kalo menjadi seniman, mengoleksi buku-buku seperti itu, menurutku harus, harus punya.

Jika kamu nanti bisa bikin buku, mau diterbitkan terbatas atau di publish luas?

Kalau aku sih ‘tak publish.  Siapapun yang minat dengan buku itu dan merasa dengan membaca buku itu bisa memberi makna penting dalam kehidupannya, ya aku pikir itu keberhasilan sebuah buku sih. (Diana AV Sasa)

Nama                                      : Benny Wicaksono

Tempat Tanggal Lahir      : Probolinggo, 25 Maret 1973

Alamat                                    : Jl. Siwalankerto Timur Raya 213 A

Telepon                                   : 031. 91517773

E-mail                                      : benny_illustration@yahoo.com

“Benny adalah perupa seni alternatif  yang tidak melihat apakah karyanya masuk market atau tidak. Tapi ia punya semangat bagaimana membangun Surabaya dengan Media Art. Dia inisiator dan penggerak seniman seni video yang masih di bawah tanah untuk muncul ke permukaan dan melakukan pameran” (Agus Koecink, Kurator-Penulis)

Taufik ‘Monyonk’ Hidayat: Jangan Curi Bukuku

MonyonkKepada kalian yang mengaku seniman, kepada kalian yang mengaku perupa, kepada kalian yang mengaku anti buku, kepada kalian yang mengaku penyembah buku, kusampaikan pesan ini.

Ada perupa yang tak mau menyentuh buku. Buku adalah musuh imajinasi. Buku hanya akan membunuh daya hayal. Mematikan proses berkarya yang alami. Buku menjadikan karya perupa kurang bernilai seni, tidak estetik, seadanya, bahkan cenderung ngawur(buruk). Perupa seperti itu pastilah perupa yang bermazhab pada wangsit dalam berkarya. Buku dianggapnya sebuah distorsi.

Mereka, perupa yang anti buku, mungkin lupa bahwa buku adalah kitab pemandu. Buku membantu seniman membuat analisis strategi pilihan dalam berkarya. Buku memberi pilihan filsafatnya, pilihan gagasannya, pilihan visualnya. Sebuah gagasan dalam berkarya harus memiliki filosofi yang jelas. Dengan begitu, berkarya tidak hanya mementingkan sisi estetika, namun juga visi dan pesan yang jelas. Pesan itu mestilah menggugah kesadaran, menggerakkan.

Aku memang perupa yang menyembah buku. Bagiku, buku adalah kunci dari  segala gagasan. Buku akan memberiku pondasi sebuah proses pembacaan. Pembacaan ini sudah tidak lagi teksbook tapi lebih pada pembacaan realitas sosial. Karya-karyaku mungkin jauh dari kesan estetik, tapi pesan yang kusampaikan jelas, karena aku punya gagasan yang kuat dan aku tahu filsafat setiap gagasanku. Dengan buku, aku bisa melakukan pembacaan sosial, memetakannya, sehingga karya-karyaku pun mencerminkan realitas sosial disekitarku. Sebuah karya yang dihasilkan tanpa pembacaan sosial yang komprehensif tidak akan menghasilkan apa-apa. Perupa yang krisis terhadap proses pembacaan, kuanggap hanya berkarya sebagai respon saja. Tidak ada pembacaan secara menyeluruh bahwa sebenarnya karya-karyanya bisa memiliki visi yang lebih jauh.

Lihat saja apa yang tercermin dalam karya-karyaku dua tahun terakhir. Secara estetika barangkali sungguh jauh dari kesan indah. Apa indahnya memunguti dan mempertontonkan sekumpulan sampah di pantai Kenjeran? Tapi bukankah pesan yang ingin kusampaikan sungguh jelas? Itu adalah cermin kegelisahan sosial. Aku mengajak masyarakat berpikir tentang kearifan lokal. Menyadarkan tentang kearifan alam. Aku menggugah kesadaran bagaimana agar masyarakat punya toleransi pada alam dan situs-situs sosial. Harapanku, sekian tahun kedepan, arogansi manusia terhadap alam bisa kita tangkal. Kehancuran ekosistem bisa diminimalisir. Karya-karyaku memang lebih brsifat kritik sosial, kritik pada perilaku masyarakat, kritik pada ambiguitas kehidupan manusia yg lebih berdifat destruksif, menghancurkan semua ekosistem hanya untuk kepentingan sesaat. Jadi, bagiku, estetika memang tidak berada diurutan atas dalam proses berkarya. Pesan, buatku jauh lebih penting. Karena karya harus menggerakkan.

Jelas, bahwa pengetahuan dalam proses pembacaan itu kuserap dari buku-buku yang kubaca. Aku membaca buku-buku filsafat, sejarah, anthropologi, biografi, sampai sastra. Maka nama-nama seperti Nietszche, Marx, Che Guevara, Fidel Castro, Mao Tze Tjung, Soekarno, Tan Malaka, Romo Mangun, Pram, Ayu Utami, Jenar, Fai Faradiba, sampai Kahlil Gibran bisa kulafal dengan jelas karena lekat diingatanku. Buku-buku itu bukan sekedar menyuntikkan berbagai wacana tapi juga memberiku inspirasi untuk memberi judul karya-karyaku. Di dalamnya banyak kutemukan nama-nama dan istilah unik yang menginspirasi. Maka sekali lagi kukatakan, jangan jadikan buku musuh dalam berkarya, karena ia sungguh kaya akan inspirasi.

Ingin kusampaikan pula pada kalian para penulis buku tentang satu buku impianku. Sebagai seniman, sungguh ingin aku mendapati satu buku yang mengarsipkan secara rinci dan lengkap tentang seniman dan karya-karyanya. Jika Indonesia terlalu luas, cukuplah kota Surabaya saja. Belum pernah kutemui penulis yang mau melakukan penulisan tentang dokumentasi seniman. Dari buku itu akan kita tahu, di Surabaya ada berapa seniman tradisinya, seniman modernnya, seniman kontemporernya, seniman yang menghasilkan karya tarinya berapa, musiknya berapa, rupanya berapa, instalasinya berapa, lalu yang bersifat karya seni puisinya berapa, karya-karyanya apa saja. Tidak ada buku tentang itu. Maka tulislah buku itu. Kata novelis Toni Morrison, “Bila kau ingin sekali membaca sebuah buku, tetapi belum ada yang menulisnya maka kau harus menulis”

Terakhir, pada para kutu buku, penyembah buku, yang suka meminjam bukuku dan tak pernah kembali, kusampaikan serapahku: kalian telah membunuh kreativitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu. (Diana AV Sasa)

1996 Traditional Decorative (Kantor Kec. Randu Agung,Lumajang) 2002 Dua Sisi (Café Djendela, Surabaya) 2007 Revolusi Sebuah Cita-cita (Galeri Surabaya, Surabaya) 2009 Expedition Art (RRI, Surabaya), Patung Sampah (Pantai Kenjeran, Surabaya), Perang Sket (Ruang Art Gallery, Surabaya), Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila (Martadinata, Bandung)

Kutipan

(1)   Karya-karya Taufik adalah ekspresi dari jiwa dan karakter Taufik itu sendiri (Sabrot D. Malioboro– Ketua DKS 2009-2014)

(2)  Jika kalian pinjam bukuku dan kalian tak kembalikan, kalian telah membunuh kreatifitasku. Kalian memutus referensi logikaku. Maka kalian sungguh lebih sadis dan beringas dari buku yang dianggap musuh imajinasi itu.

Joni ‘Wiono’ Ramlan: Berguru Melukis Pada Buku

joni

Joni Ramlan

Joni Ramlan. Nama sejatinya Wiono, karena lidah orang Jawa sering menyisipkan huruf “Y”, kawan-kawan semasa kecilnya memanggilnya ‘Yono’. Lalu lama kelamaan terpeleset lidah Jawa itu menjadi ‘Jono’. Kemudian terpeleset lagilah lidah itu menjadi “Joni” yang lebih ngepop. Ramlan adalah nama ayahnya, Ramlan Sawie Mulya. Joni Ramlan kemudian melekat sebagai trade mark di jagad seni rupa.

Tak ada darah seni menurun dari keluarga Joni. Awalnya, ia lebih tertarik pada seni musik. Joni memilih belajar not balok dan menekuni alat musik bass guitar. Jenis musik dangdut, rock, jazz, etnik, klasik semua dijajalnya. Namun musik dirasanya kurang personal, perlu kerja tim, dan dia tak menemukan komunitas yang cocok. Maka ia pun beralih. Setelah tamat Sekolah Menengah Atas ia pun mulai menekuni dunia seni lukis.

Tak ada guru, tak ada pembimbing. Ia belajar melukis seorang diri, dengan caranya sendiri. Pemandu kompasnya adalah: perjalanan dan buku.

Bagi Joni, membaca adalah mengamati, merasakan, dekat, akrab, dan akhirnya memahami. Maka ia pun melakoni perjalanan panjang dengan menunggang motor trail-nya menyusuri Surabaya, Pasuruan, Malang, Banyuwangi, Solo, Semarang, Jakarta, hingga tanah Parahyangan, Bandung. Dia tertarik sekali untuk membaca kehidupan orang-orang pinggiran di kota-kota tua. Orang desa menganggap kota sebagai tempat yang lebih menjanjikan dan mencoba hidup di kota karena ingin berusaha maju meski dengan bekal seadanya. Karena bekal pas-pasan, akhirnya yang menjadi jujugan adalah kota-kota tua di pinggiran itu.

Dari proses pembacaan Joni tentang kota-kota tua itu, ia kemudian bisa merasakan, dekat, akrab dan faham dengan realitas hidup orang-orang pinggiran. Mereka sebenarnya belum siap untuk jadi orang kota karena modalnya pas-pasan. Seringkali malah dinggap pemerintah kota hanya membuat kotor saja. Realitas-realitas inilah yang coba ia bacai dan tuangkan dalam goresan kuasnya.

Seperti lukisan sepeda yang ia jadikan simbol kehidupan orang-orang pinggiran. Bagi tukang besi tua, tukang sayur, pemulung, dan pedagang keliling, sepeda itu betul-betul menjadi bagian hidupnya. Dengan melihat sepeda yang tua, karatan, dan aus, Joni seperti melihat sepeda itu bercerita tentang keras dan beratnya laku kehidupan penunggangnya. Demikian juga dengan bangunan-bangunan tua. Panjangnya waktu yang dilampaui untuk bertahan, menjadikan bangunan itu menuturkan dengan sendirinya kisah-kisah kehidupan sebuah kota yang tergerus roda jaman. Joni menyukai benda-benda yang dari bentuknya saja ia sudah bisa bercerita. Perjalanan mengajarinya cara ‘membaca’ dengan makna.

Sadar bahwa ia bukan pelukis yang punya pendidikan khusus di bangku sekolahan, Joni memilih buku sebagai gurunya. Ia membaca buku apa saja, sedikit-sedikit, seperlunya. Buku tentang senirupa dan kisah biografi perupa lebih ia minati. Sebut saja misal buku Cornelis Springer, Hendrik Dubbles,dan Charles Bloom yang membantunya membuat lukisan repainting di awal karir melukisnya. Ia juga membaca majalah senirupa seperti Visual Art. Dari sana ia mendapat masukan dari kurator-kurator tentang bagaimana seharusnya agar perupa bisa maju.

Meski merasa perlu belajar sastra, tapi ia gagal menjadi penikmat. Menurutnya, sulit menangkap bahasa sastra. Jadi seperlunya saja. Maka ketika diminta menyebut satu nama penulis sastra, ia tertawa dan mengingat-ingat, lalu menyebut satu nama:Pramoedya.

Joni bukan pembaca buku yang tekun, karena ia lebih suka sedikit teori tapi banyak bekerja. Ia tak pernah mencari buku di perpustakaan. Buku-buku itu ia pinjam saja. Ada beberapa yang sengaja ia beli karena ia memang suka dan butuh isi buku itu. Baginya, membaca cukup menyehatkan bagi pelukis, selama isi buku itu memberi masukan bagi proses berkaryanya. Salah satu buku yang paling diingatnya adalah buku tentang pelukis Affandi yang ditulis Umar Kayam walau ia lupa siapa penerbitnya.

Buku Affandi menyimpan sejarah penting baginya. Ketika itu sekitar tahun 1992. Harga bukunya 115 ribu. Joni sangat mengidolakan Affandi maka ia ingin sekali memiliki buku itu. Baginya, goresan kuas Affandi benar-benar mewakili karakter pelukisnya. Dan ia menyukainya. Maka meskipun dalam keadaan tidak punya uang, ia berusaha mati-matian untuk membeli buku itu. Dengan kemampuan melukis yang pas-pasan, ia buat lukisan-lukisan mungil seharga 10 ribu. Hasil penjulan seratus lebih lukisan itu lah yang mengantarkan buku Affandi ke pangkuannya. Dengan buku itu, ia menyerap kisah perjalanan dan semangat berkarya sang maestro. Affandi, bagi Joni sangat berpengaruh pada awal perjalanan melukisnya. Sekarang, jika butuh menyegarkan semangat berkarya, ia sempatkan menilik Jogja dan menyerap kembali energi idolanya itu di Museum Affandi.

Karena tahu buku itu adalah guru, maka Joni ingin anak-anaknya dekat dengan buku. Meski tidak ada ada dana khusus untuk beli buku, sesekali ia ajak anaknya ke toko buku atau ia suruh meminjam buku di perpustakaan. Joni sudah membuktikan bahwa belajar tak melulu dari sekolah dan guru, karena buku juga bisa menjadi guru. Buku adalah guru lukisnya. Perjalanan adalah membacanya. (Diana AV Sasa)

Pameran Bersama :2001 Kwarta Artistika (Rupa Gallery, Surabaya) 2002 The Colour of Nature (Padi Gallery, Malang), 2003 Borobudur International Festival (Museum Widayat, Magelang), 2004 Membaca Peta Senirupa Jatim (Taman Budaya, Surabaya) 2005 Bienalle Jogja VIII “Disini & Kini” (Taman Budaya, Yogya), 2006 Homage 2 Homesite (Jogja National Museum, Yogya), 2007 Illustrasi Cerpen Kompas Tour Exhibition (Jogja, Bali, Malang, Jakarta) 2008 Finalis Indonesia Art Award (Galeri Nasional, Jakarta), 2009 C-Art Show(Grand Indonesia Hotel, Jakarta, Indonesia) 2009 Indonesia Art Festival (Ritz Carlton, Jakarta, Indonesia) 2009 Celebration (The PEAK Contemporer Art Gallery, Jakarta, Indonesia)

Pameran Tunggal : 2009 Menggantung Masa Lalu (Orasis Gallery, Surabaya, Indonesia)

KUTIPAN :

(1)   “Joni adalah seorang pelukis yang tertarik pada obyek-obyek yang cenderung archaic, yang mengguratkan narasi sejarah dibaliknya. Joni mengubah problematika masa lalu, untuk karya-karya seni lukisnya, dengan perenungan, kedalaman, dan penuh penghayatan”(Suwarno Wisetrotomo, Kurator)

(2) “Membaca adalah mengamati, merasakan, dan memahami. Untuk bisa melukis saya harus sampai pada tahap memahami”.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan