-->

Arsip Tokoh Toggle

Siti Maryam | Penekun Naskah Kuno dari Bima | Nusa Tenggara Barat

Soekarno menasihati istri Sultan tentang pentingnya pendidikan buat lelaki dan perempuan. Kepada Soekarno, Sultan Bima dan istri menjanjikan untuk kembali menyekolahkan Maryam. Begitu Soekarno pergi, gantian Maryam dimarahi habis-habisan oleh ibundanya karena dianggap mempermalukan orangtua.

Namun, Maryam tidak kapok. Esok harinya, sebelum berpidato di lapangan Kota Bima, Soekarno memanggil Siti Maryam dan bertanya,” Nduk, saya mau pidato, kamu mau nitip apa?”

Dengan bersemangat, Siti Maryam bercerita tentang aktivitasnya sejak dilarang bersekolah. Sekalipun menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jepang, dia merasa sulit mengembangkan diri. Dia akhirnya mendirikan organisasi wanita Rukun Wanita, yang banyak mengajarkan para perempuan di Bima tentang pengetahuan umum, bahasa, dan keterampilan. Maryam juga mendirikan sekolah guru bawah (SGB) sehingga tahu benar pembedaan jender yang dialami perempuan.

Maka, Maryam meminta agar Presiden Soekarno menyampaikan kepada masyarakat Bima agar tidak lagi memingit anak perempuan dan memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meraih cita-cita dan pendidikan setinggi mungkin. (lebih…)

Taufiq Ismail | “Dengan Puisi Aku…”

Penyair Taufiq Ismail genap berusia 80 tahun pada 25 Juni. Ia tetap resah dan hirau dengan apa yang terjadi di negerinya. Ia tetap ”mengutuk zaman yang busuk”. Semua tertuang dalam puisi sesuai kredo kepenyairannya, ”Dengan puisi aku bernyanyi sampai senja umurku nanti….”

Seorang ibu melahirkan bayi laki-laki di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia dinamai Taufiq Ismail. Sayang, ia hanya berumur tiga bulan. Waktu berlalu dan sang ibu dianugerahi seorang bayi lagi yang ia lahirkan pada 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia kembali memberi nama Taufiq Ismail.

Gegerlah keluarga besar di kampung halaman. Mereka meminta agar anak itu tak diberi nama seperti kakaknya yang meninggal kala berumur tiga bulan. Alasannya, ia dikhawatirkan akan berumur pendek. Lewat telegram dari Pekalongan, sang ayah menjawab: ”Yang menentukan panjang pendek umur itu bukan nama, tetapi Allah. Ia tetap bernama Taufiq Ismail.” Begitu bunyi telegram. (lebih…)

Moenaf Hamid Regar | Menulis Mengasah Memori | Medan

Harian Media Indonesia 16 April 2015 menurunkan profil penulis 13 judul buku, Moenaf Hamid Regar. Menulis sejumlah buku menjadi pilihannya untuk tetap mengasah ilmu akutansi dan membagikannya ke masyarakat. (lebih…)

Eduardo Galeano | Esei-esei Revolusi | Uruguay

Eduardo Galeano wafat pada Senin 13 April 2015 di usia 75 tahun di kota kelahirannya, Montevideo, Uruguay. Di kota itu pula ia lahir pada 3 September 1940 dari keluarga Katholik kelas menengah. Namanya dikenal sebagai penulis yang sangat produktif dengan 36 buku yang telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa sepanjang 40-an tahun kariernya sebagai penulis.

Sebagai penulis, Edu, panggilan akrabnya, lebih daripada penulis ortodok (orthodox genre); Edu menggabungkan dokumentasi, fiksi, jurnalisme, analisis sosial, politik, sejarah, mitos, kepercayaan lokal dan kebudayaan.

Edu menganggap dirinya bukanlah ahli sejarah. “I am not historian. I am writer who would like to contribute to the rescue of the kidnapped memory of all America”, dalam kata pengantar triloginya. (lebih…)

Rusli Marzuki Saria | Napas Panjang Sang Penyair | Padang

Harian Media Indonesia edisi 26 Maret 2015 menurunkan profil Rusli Marzuki Saria dalam format satu halaman. Selain merupakan apresiasi, pemuatan ini juga sebagai salah satu cara menghormati sosok yang memberikan hidupnya untuk sastra di Sumatera Barat.

26_03_2015_014_003_002

Rusli, 79, sang penyair, berkarier selama tujuh kali periode presiden Indonesia. Nenekku Pergi Suluk menjadi sajak pertamanya yang ditulis pada 1955 dan dimuat di surat kabar Nyata. Setelah itu, ratusan sajak mengalir dari jiwa kreativitas dan menghiasi media-media lokal maupun nasional.
Sesekali, pria yang betah bermukim di Padang, Sumatra Barat, itu juga membacakan puisi-puisinya di panggung sastra. Bahkan, pertengahan tahun lalu, di usia 78, Papa melepas Magnum Opus, antologi puisi dan esai dengan judul “One by One, Line by Line”. (lebih…)

Myra Sidharta | Ia Yang Tak Berhenti Berkarya | Jakarta

Usia 88 tahun tak menghalangi sinolog Myra Sidharta untuk berkarya. Hingga kini, dia tekun meneliti kebudayaan peranakan Tionghoa di Indonesia.

Tahun 2015 ini, Myra alias Ew Yong Tjhoen Moy, menggelar pesta ulang tahun di sebuah hotel di Jakarta, Sabtu (7/3) lalu. “Ini pertama kali ulang tahun saya dirayakan semeriah ini. Semua keluarga dan sahabat berkumpul. Seharusnya saya dari dulu sering mengadakan pesta ulang tahun,” ujar Moy, sapaan akrab Myra. Hadirin pun tertawa. (lebih…)

Ruth Sahanaya | Garap Buku Perjalanan Karier | Jakarta

Lantaran merasa kurang lihai menulis, Uthe menunjuk sahabatnya, yang juga sesama selebritas, yakni Tamara Geraldine, untuk menuliskan buku biografinya. Uthe dilirik PT Aquarius Musikindo. Album pertamanya ialah Seputih Kasih (1987) langsung meledak di pasaran. Nama Uthe semakin tenar saat membawakan lagu Kaulah Segalanya. Demikian Harian Media Indonesia, 1 Maret 2015, hlm 28, memberitakan. (lebih…)

Sapardi Djoko Damono | Secangkir Teh untuk Stamina | Tangerang Selatan

Harian Media Indonesia edisi 26 Februari 2015 memilih Sapardi Djoko Damono sebagai satu dari 45 tokoh yang menjadi referensi Indonesia. Ini selengkapnya (redaksi) (lebih…)

Haryoto Kunto | Menjaga Arwah Kota dengan Buku | Bandung

Kunto memang tak seterkenal Charles Prosper Wolff Schoemaker—dosen arsitek Belanda dan sekaligus dosen Soekarno sewaktu kuliah di ITB Bandung. Nama Schoemaker sama terkenalnya dengan Herman Thomas Karsten yang tercetak di balik dinding-dinding tua bangunan bersejarah masa silam Indonesia. (lebih…)

Hasan Djafar | Energi dari Lembaran Buku | Depok

Dia mendalami studi epigrafi dan sejarah kuno Indonesia di Instituut Kern, Rijksuniversiteit Leiden, Belanda. Ditulisnya buku tentang arkeologi dan sejarah kerajaan Majapahit. Dia abdikan hidupnya untuk keilmuan yang tak banyak orang mau menyuntukinya. Karena itu dia istimewa. Kenalkan Hasar Djafar. Biografinya diangkat ulang Harian Media Indonesia di halaman 11 sebagai “Referensi Indonesia”. (Redaksi) (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan