-->

Arsip Tokoh Toggle

Leila Paramita H | Menghidupkan Taman Bacaan Masyarakat | Malang

Bermodalkan 50-an eksemplar buku, pada 2011 Leila bersama dua rekannya mendirikan taman bacaan di kampung. Kini, koleksi buku taman bacaan ini telah melampaui 400 eksemplar, sebagian dibeli dari uang hasil penjualan pakaian bekas yang mereka kumpulkan.

Di ruang tamu rumahnya yang masih belum rampung, Leila Paramita H (30) menempatkan buku-buku itu dalam sebuah rak kayu kecil. Di atasnya, sehelai kain putih berisi puluhan cap tangan anak-anak dari cat warna-warni menempel di dinding yang masih berupa batu bata merah. Posisinya bersebelahan dengan tumpukan koran dan beberapa kardus pakaian bekas.

Di lantai ruang tamu yang dilapisi karpet plastik inilah anak-anak setempat biasa membaca buku sambil lesehan. Tidak hanya membaca, di ruang ini pula anak-anak setempat mengikuti kelas kreatif setiap Minggu siang. Di tempat yang sama pula, sejak tiga bulan terakhir, belasan anak belajar bersama setiap malam tiba. (lebih…)

Suyadi | Pak Raden, Memori Abadi Generasi “Ini Budi” | Jakarta

Siapa pun yang mengenyam pendidikan sekolah dasar pada periode 1975-1990 pasti ingat gambar-gambar ilustrasi buku pelajaran bahasa Indonesia yang sangat legendaris dengan tokoh-tokoh di dalamnya, seperti Budi, Wati, Ibu Budi, atau Bapak Budi. Pencipta gambar-gambar tersebut ternyata adalah almarhum Suyadi (82), pengisi suara sosok Pak Raden dalam serial Si Unyil yang sangat terkenal pada tahun 1980-1991.

Dua sketsa hitam putih buatan Suyadi pada 1973 dan 1974 terpampang dalam situs web http://pakraden.org/. Sketsa pertama bergambar tiga anak belajar ditemani tiga kelinci dan burung kakatua. Sketsa kedua bergambar tiga anak berpakaian seragam yang siap berangkat sekolah. Keduanya merupakan sampul buku Bahasa Indonesia: Belajar Membaca dan Menulis 2a serta Bahasa Indonesia Bacaan Jilid 4a milik Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (lebih…)

Saiful Hadi | Menghadirkan Taman Bacaan Saat Bencana | Yogyakarta

SAIFUL HADIBukannya sibuk membangun kembali rumah keluarga yang hancur akibat gempa melanda Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada 2006, Saiful Hadi (47) justru memprioritaskan pendirian sanggar anak-anak. Sanggar itu untuk kegiatan membaca dan bermain. Saiful hanya ingin anak-anak, yang sering terlupakan karena kesibukan orang dewasa memulihkan kondisi ekonomi keluarga seusai bencana alam, tidak luput dari perhatian.

Dari sinilah Saiful, yang karyawan swasta, mendirikan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Luru Ilmu. TBM ini kemudian setia hadir di daerah-daerah bencana yang dapat dijangkaunya untuk menghadirkan bacaan yang bermanfaat bagi anak-anak dan masyarakat yang terkena bencana. Ada rasa bahagia kala dia bisa membuat anak-anak dan masyarakat di daerah bencana seperti korban Gunung Merapi teralihkan perhatiannya sejenak pada buku-buku bacaan yang dibawanya dengan sepeda motor yang dilengkapi kotak untuk menyimpan buku. (lebih…)

Swastika Nohara | Penulis Skenario Film | Jakarta

Penulis skenario film Tiga Srikandi, Swastika Nohara, 37, berkisah tentang aktivitasnya di balik layar. Dia menuturkan, riset ialah sebuah keharusan bagi film. “Harusnya untuk membuat film itu tidak ada yang tidak riset, mau genre horor, science fiction, dan action, hal itu tetap harus dilakukan,“ kata dia. (lebih…)

Andy F Noya | Kisah Hidupku | Jakarta

Meluncurkan buku biografi dilematis bagi Andy F Noya. Pasalnya, selama ini, ia memberikan `panggung’ kepada narasumber yang inspiratif.

Kini, dirinya menjadi `panggung’ bagi orang banyak. Peraih Panasonic Gobel Award 2010 dan 2011 itu, selain pernah menjadi pemimpin redaksi Metro TV dan Media Indonesia, pernah menjadi host program Jakarta Round Up yang kemudian Jakarta First Channel di Radio Trijaya pada 1994-1999.

Pembawa acara Kick Andy (Metro TV), Andy F Noya, 54, meluncurkan buku biografinya yang berjudul Kisah Hidupku. (lebih…)

Brilliant Yotenega | Pencetak Mimpi Para Penulis Pemula di nulisbuku.com | Jakarta

Apa yang bisa diberikan kepada Indonesia? Pertanyaan itu selalu terngiang di telinga Brilliant Yotenega (37). Hendak menjawab pertanyaan itu, dia mengajak semua orang untuk menulis buku dan menerbitkannya sendiri. Dia mengajak para penulis mencetak mimpi-mimpi mereka di nulisbuku.com.

Laman nulisbuku.com membuka kesempatan kepada semua orang untuk menulis, mengunggah, menerbitkan, sampai menjual karyanya dalam bentuk buku. Beberapa penawaran, seperti penerbitan ISBN, pembuatan sampul, percetakan, paket, sampai pemasaran bisa dipilih. Jika penulis mau mencetak saja dan ingin mengerjakan proses lainnya secara mandiri, tentu saja boleh. (lebih…)

Asma Nadia| Dari Novel ke Film

Sebagai penulis, Asma Nadia (43) lega ketika novelnya yang berjudul Surga yang Tak Dirindukan berhasil difilmkan. Karya itu menjadi hadiah spesial baginya pada Lebaran tahun ini. Lewat karya itu, Asma ingin mengajak penonton untuk menjaga nilai-nilai kesabaran dan keikhlasan yang telah dilatih selama Ramadhan. Film itu mengangkat kisah tentang poligami dan banyak nilai kesabaran di dalamnya. Setiap keluarga sering kali mendapat cobaan. Ketika itulah, setiap anggota keluarga diminta menahan ego dan kemarahan agar keharmonisan tetap terjaga. Sebelumnya, ada empat film yang diangkat dari buku Asma Nadia. Keempat film itu berjudul Emak Ingin Naik Haji, Rumah Tanpa Jendela, Ummi Aminah, dan Assalamualaikum Beijing. (Kompas, 24 Juli 2015)

Riris K Toha Sarumpaet | Bacaan Anak | Jakarta

RIRIS K TOHA SARUMPAET, Dari Sastra ke Filsafat_BukuPenulis monolog Cairan Perempuan, Riris K Toha Sarumpaet (65), kini makin disibukkan oleh kegiatan akademik di kampusnya, FIB-UI. Tak hanya sebagai Ketua Dewan Guru Besar FIB-UI, tetapi juga lantaran tugas “baru”-nya sebagai Ketua Departemen Filsafat FIB-UI.

Tak heran jika perempuan kelahiran 24 Februari 1950 di Tarutung, Sumatera Utara, ini mulai jarang “beredar” di forum kesastraan atau terlibat diskusi mengenai bacaan anak di negeri ini. Tak muncul pula karya-karya kreatif semacam cerpen dan drama dari tangannya.

“Departemen Filsafat memang perlu perhatian penuh. Sejak senior-senior seperti Ibu Toety Herati pensiun, di sini terjadi kesenjangan. Ini yang perlu disikapi agar dalam waktu dekat muncul guru besar baru bidang filsafat di FIB-UI,” kata Riris saat ditemui seusai bertindak sebagai promotor disertasi Hendra Kaprisma yang diujikan di kampus UI Depok, Kamis (9/7). (lebih…)

Siti Maryam | Penekun Naskah Kuno dari Bima | Nusa Tenggara Barat

Soekarno menasihati istri Sultan tentang pentingnya pendidikan buat lelaki dan perempuan. Kepada Soekarno, Sultan Bima dan istri menjanjikan untuk kembali menyekolahkan Maryam. Begitu Soekarno pergi, gantian Maryam dimarahi habis-habisan oleh ibundanya karena dianggap mempermalukan orangtua.

Namun, Maryam tidak kapok. Esok harinya, sebelum berpidato di lapangan Kota Bima, Soekarno memanggil Siti Maryam dan bertanya,” Nduk, saya mau pidato, kamu mau nitip apa?”

Dengan bersemangat, Siti Maryam bercerita tentang aktivitasnya sejak dilarang bersekolah. Sekalipun menguasai bahasa Belanda, Inggris, Perancis, dan Jepang, dia merasa sulit mengembangkan diri. Dia akhirnya mendirikan organisasi wanita Rukun Wanita, yang banyak mengajarkan para perempuan di Bima tentang pengetahuan umum, bahasa, dan keterampilan. Maryam juga mendirikan sekolah guru bawah (SGB) sehingga tahu benar pembedaan jender yang dialami perempuan.

Maka, Maryam meminta agar Presiden Soekarno menyampaikan kepada masyarakat Bima agar tidak lagi memingit anak perempuan dan memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meraih cita-cita dan pendidikan setinggi mungkin. (lebih…)

Taufiq Ismail | “Dengan Puisi Aku…”

Penyair Taufiq Ismail genap berusia 80 tahun pada 25 Juni. Ia tetap resah dan hirau dengan apa yang terjadi di negerinya. Ia tetap ”mengutuk zaman yang busuk”. Semua tertuang dalam puisi sesuai kredo kepenyairannya, ”Dengan puisi aku bernyanyi sampai senja umurku nanti….”

Seorang ibu melahirkan bayi laki-laki di Pekalongan, Jawa Tengah. Ia dinamai Taufiq Ismail. Sayang, ia hanya berumur tiga bulan. Waktu berlalu dan sang ibu dianugerahi seorang bayi lagi yang ia lahirkan pada 25 Juni 1935 di Bukittinggi, Sumatera Barat. Ia kembali memberi nama Taufiq Ismail.

Gegerlah keluarga besar di kampung halaman. Mereka meminta agar anak itu tak diberi nama seperti kakaknya yang meninggal kala berumur tiga bulan. Alasannya, ia dikhawatirkan akan berumur pendek. Lewat telegram dari Pekalongan, sang ayah menjawab: ”Yang menentukan panjang pendek umur itu bukan nama, tetapi Allah. Ia tetap bernama Taufiq Ismail.” Begitu bunyi telegram. (lebih…)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan