-->

Arsip Tokoh Toggle

Didi Petet Senang Ajak Keluarga ke Toko Buku

JAKARTA – Aktor senior Didi Petet menganggap pendidikan sebagai nomor satu bagi keluarganya. Tidak hanya dengan pendidikan formal, Didi menambah pengetahuan bagi keluarganya lewat buku.

“Aku di keluarga memang kadang-kadang selalu membawa anak-anak ke toko buku, aku rasa mereka akan terbiasa nantinya untuk menjadikan buku sebagai referensi ilmu pengetahuan,” kata Didi di studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakata Barat, Minggu (13/5/2012).

Pemilik nama lengkap Didi Widiatmoko itu menjelaskan, buku bisa menjadi hal terpenting bagi masyarakat.

“Buku merupakan hal yang terpenting bagi bangsa untuk maju, tanpa buku masyarakat akan tersesat tidak bertujuan,” imbuhnya.

Untuk ke depannya, Didi berharap masyarakat Indonesia bisa lebih membiasakan diri selalu membaca.

“Yang terpenting adalah bagaimana memasyarakatkan buku menjadi sumber ilmu pengetahuan, dan juga agar masyarakat bisa menghargai sejarah yang tercatat dalam buku,” tutupnya.

(nsa) 0

*)Okezone, 13 Mei 2012


Oman Fathurahman Pengembara Di Jagat Manuskrip

OMAN FATHURAHMANPascabencana gempa dan tsunami Aceh, ribuan orang berdatangan memberi bantuan kemanusiaan. Oman Fathurahman (43) datang menyelamatkan kitab tua.

Oman tiba di Banda Aceh 20 hari pascatsunami yang terjadi 26 Desember 2004 pagi. Ketika itu kota sesak oleh ribuan orang yang membantu evakuasi korban. Ditemani rekannya, Hasnul Arifin Melayu, Oman bersepeda motor menembus lumpur, air, dan reruntuhan. Tujuan filolog dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu hanya satu: menyelamatkan naskah-naskah tua yang tersisa.

Selain menewaskan lebih dari 150.000 penduduk Aceh, tsunami juga menjarah banyak manuskrip kuno. Seratusan manuskrip koleksi Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) yang diidentifikasi Oman pada tahun 1999, misalnya, hilang tanpa bekas. Enam puluh manuskrip di Balai Kajian Sejarah Nilai Tradisional (BKSNT) dan mungkin ribuan naskah yang ada di tangan masyarakat juga lenyap.

Manuskrip sangat penting yang lenyap, antara lain, Bajan Tajalli karangan ulama Aceh Abdurrauf al-Sinkili, Qanun al Asyi atau Undang-Undang Aceh, dan kitab hadis pertama dalam bahasa Melayu karangan Nuruddin al-Raniri berjudul Hidayat al-habib fi al-targhib wa al-tarhib.

Dokumen rencana induk Kota Banda Aceh yang dibuat Belanda juga lenyap. ”Dokumen itu sebelum tsunami tidak diizinkan untuk digandakan sehingga tidak ada salinannya sama sekali. Kini, kita hanya bisa meratapi hilangnya dokumen berharga itu,” ujar Oman.

Mengapa memilih menyelamatkan manuskrip?

Pertanyaan itu sering saya terima. Saya berusaha memberi kontribusi sesuai kapasitas, yaitu menyelamatkan kekayaan intelektual. Di Jepang ada standar, upaya penyelamatan pascabencana tidak hanya ditujukan pada manusia, tapi juga benda cagar budaya.

Belakangan, urgensi penyelamatan data manuskrip bersejarah Aceh yang kami lakukan ternyata sangat penting dan berdampak pada rehabilitasi Aceh di bidang budaya. Orang baru sadar, selain jiwa, Aceh juga kehilangan banyak manuskrip penting.

Untungnya, kami punya data lapangan dan merekamnya dengan video. Data itu segera saya sebarkan ke sejumlah lembaga internasional untuk mencari bantuan dana rekonstruksi Aceh di bidang budaya. Responsnya bagus. Tahun 2005/2006, Centre for Documentation and Area-Transcultural Studies (C-DATS) Tokyo University of Foreign Studies (TUFS) membantu digitalisasi dan katalogisasi naskah koleksi Yayasan Ali Hasjmi di Banda Aceh dan naskah koleksi Zawiyah Tanoh Abee.

Tahun 2005/2006 Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, mendapat bantuan dari Prince Claus Fund untuk membangun gedung perpustakaan manuskrip. Tahun 2007-2009, Leipzig University di Jerman bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) melestarikan manuskrip Aceh di Museum Negeri Aceh, Yayasan Ali Hasjmy, Zawiyah Tanoh Abee, dan beberapa koleksi pribadi lain.

Tafsir gempa

Kegigihan Oman menyelamatkan kitab-kitab kuno di Aceh secara tak sengaja menguak fakta penting lainnya. Tahun 2005, ketika mendokumentasikan manuskrip di Perpustakaan Ali Hasjmy, dia menemukan kitab Takbir Gempa. Kitab anonim yang ditulis dalam aksara Arab berbahasa Melayu itu memaparkan kejadian yang akan mengikuti gempa dalam rentang waktu dari subuh hingga tengah malam dalam 12 bulan.

Disebutkan, ”… Jika gempa pada bulan Rajab, pada waktu subuh, alamatnya segala isi negeri bersusah hati dengan kekurangan makanan. Jika pada waktu duha, alamatnya air laut keras akan datang ke dalam negeri itu….”

Temuan itu menyentak Oman, juga dunia ilmu pengetahuan. Maklum, selama ini, catatan lokal tentang gempa dan tsunami dianggap tidak ada. Ternyata catatan itu ada, tetapi diabaikan. Selanjutnya, Oman berturut-turut menemukan catatan terkait gempa lainnya di daerah yang pernah dilanda gempa. Tahun 2006, Oman menemukan tulisan tangan di sampul sebuah manuskrip asal abad ke-19 di Zawiyah Tanoh Abee, Aceh Besar, yang menyebutkan, pernah terjadi gempa besar untuk kedua kali pada pagi hari Kamis, 9 Jumadil Akhir 1248 Hijriah atau sekitar 3 November 1832.

Terakhir, tahun 2012, Oman menemukan naskah gempa versi Jawa di lingkungan Keraton Cirebon berjudul Kitab Lindu. ”Dalam bahasa Jawa, lindu itu berarti ’gempa’. Catatannya pendek dan hanya merupakan satu bab dari Kitab Tatamba yang arti sebenarnya berobat,” ujar Ketua Manassa itu.

Beberapa rekan Oman di Manassa juga menemukan kitab Takwil Gempa di Surau Lubuk Ipuh, Sumatera Barat. Belakangan diketahui, naskah-naskah soal gempa juga tersimpan di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta dan perpustakaan di Delft serta Leiden, Belanda.

Sejauh ini, lanjut Oman, naskah gempa yang telah ditemukan umumnya berisi takwil atau tafsir hikmah atas gempa. Tafsirnya selalu dua hal, yakni mengabarkan berita baik dan buruk. Berita baiknya (gempa) ditafsir sebagai tanda akan munculnya buah-buahan dan panen padi. Berita buruknya, gempa pada waktu tertentu ditafsir sebagai tanda akan datangnya bala atau musibah termasuk menimbulkan (gelombang) air yang besar.

Oman belum menemukan kitab gempa yang isinya terkait mitigasi. ”Kalau ada itu menarik sekali. Mungkin belum ditemukan saja mengingat data digital manuskrip yang telah terkumpul belum semuanya selesai dibaca.”

Bagaimanapun, penemuan yang baru sedikit itu cukup untuk membuktikan pentingnya pendokumentasian manuskrip kuno. Jika saja, naskah tentang gempa dan tsunami di Aceh terkuak lebih cepat, lanjut Oman, barangkali masyarakat Aceh bisa memetik pelajaran dari situ sehingga bisa lebih waspada.

Rimba pengetahuan

Meski telah menemukan beberapa kitab gempa, Oman tidak berniat memfokuskan diri di situ. Pasalnya, masih banyak pengetahuan berharga lainnya yang bisa dikorek dari manuskrip Nusantara. Oman memilih memasuki jagat manuskrip apa pun sedalam mungkin ketimbang berhenti di satu tema.

”Saya sekarang ingin membabat ilalangnya dulu. Soal meneliti detailnya itu belakangan, sebab semuanya penting,” ujar Oman yang melahap manuskrip berbahasa Arab, Jawi, Melayu, Sunda dengan aksara Arab.

Pengembaraan di rimba manuskrip membuka mata Oman tentang banyak hal. Salah satunya tentang posisi kultural-politik ulama kita di kawasan yang sekarang bernama ASEAN. Sejak dulu, kata Oman, wilayah yang kini bernama Indonesia menjadi rujukan pengetahuan regional. Ini bisa terlihat dari jaringan ulama di masa lalu.

”Mungkin Anda tahu disertasinya Pak Azyumardi Azra (mantan Rektor UIN Jakarta) yang memetakan jaringan ulama Nusantara. Filipina Selatan tadinya belum terhubungkan dengan Nusantara. Namun, manuskrip yang kami temukan di Mindanao menyebut, guru ulama Mindanao adalah Syeh Abdul Qahhar al-Bantani dari Banten.”

Berarti ada hubungan keilmuan antara Nusantara dan Mindanao. Temuan ini diperkuat dengan keberadaan naskah di Perpustakaan Nasional yang ditulis Abdul Majid Al-Mindanawi di Aceh zaman Mahmudsyah. ”Dugaan saya, ulama Mindanao itu belajar ke Aceh, kemudian menulis di sana, sekitar abad ke-19.”

Terakhir di Keraton Cirebon, ada naskah yang menyebutkan, Abdul Qahhar al-Bantani pernah menjadi guru bagi ulama tarekat Syattariah di Cirebon. ”Jaringannya bertambah lagi menjadi Aceh, Banten, Mindanao, Cirebon. Jadi, kita ini kurang apa dalam konteks peradaban. Itu, kan, hampir sama dengan Mekkah dan Madinah yang jadi rujukan negara-negara lain.”

Dengan mengkaji manuskrip, lanjut Oman, kita bisa merekonstruksi kejayaan Nusantara dan khazanah keilmuan nenek moyang kita. Sayangnya, ilmu filologi yang mengkaji manuskrip belum begitu populer di Indonesia sehingga kejayaan lama itu belum banyak terkuak.

Mengapa bisa begitu?

Kajian pernaskahan Nusantara sebenarnya dikembangkan sejak abad ke-19 oleh sarjana kolonial. Sayangnya, arahnya sebatas menerjemahkan dan menyunting teks sebab tujuan mereka adalah mempelajari bahasa. Sampai tahun 1980-an juga masih begitu.

Kalau pekerjaannya hanya menyunting, itu tidak menarik. filolog seperti juru masak. Ada naskah, ada teks, dia transkripsi, tugas selesai. Siapa pembacanya? Para sejarawan, yang mengonsumsinya untuk merekonstruksi sebuah konteks.

Ketika saya memperkuat kajian filologi di UIN awal 2000-an, saya tidak ingin filolog sebatas juru masak. Dia harus jadi penikmat dan pemberi konteks juga. Kalau Anda menemukan naskah gempa, jangan hanya berkata, ini nih naskah gempa. Lebih baik tulis lengkap dan berikan konteksnya. Jangan menganggap teks itu mati dan hanya bisa diterjemahkan. Teks itu bisa dibunyikan kalau diberi konteks.

Awalnya banyak yang menentang karena menganggap kegiatan filologi sebatas menyunting. Sekarang justru ada tren di perguruan tinggi agama Islam, tesis filologi diberi konteks.

Tuntutannya jadi multidisiplin, ya…

Benar, studinya jadi teks, interteks, hermeunetik, dan sebagainya. Filologi itu buat saya sekadar alat untuk masuk ke jagat manuskrip.

Dari Asongan ke Manuskrip

Oman Fathurahman tidak pernah merancang hidupnya. Namun, sejak remaja dia memelihara cita-cita: suatu ketika bisa jadi mahasiswa. Lewat jalan berliku–termasuk jadi pedagang asongan–Oman melampaui cita-citanya.

”Cita-cita saya bertahap karena harus mengukur diri,” ujar laki-laki asal Kuningan, Jawa Barat, yang menghabiskan masa remaja di lingkungan Pesantren Cipasung, Tasikmalaya.

Oman bukan berasal dari keluarga berada. Ketika diterima di IAIN (sekarang UIN) Sunan Gunung Djati, Bandung, melalui jalur PMDK, orangtua Oman, KH M Harun dan Sukesih, tidak sanggup membiayainya. Oman kemudian dikirim ke Pesantren Haurkuning, Tasikmalaya, untuk belajar tata bahasa Arab.

Dengan setengah hati, Oman belajar di Haurkuning. Setahun di sana, Oman pamit pada kiai dan kembali ke rumah. ”Saya minta izin lagi ke orangtua untuk kuliah. Tapi tidak diizinkan. Saya malah dimasukkan ke pesantren tauhid di Manonjaya, Tasikmalaya.”

Seminggu di sana, Oman menunjukkan prestasi. Dia juara pidato seasrama dan sepesantren. Dia dielu-elukan, diberi hadiah makan gratis. Namun, Oman justru galau. ”Kalau begini terus saya enggak akan kuliah.”

Akhir 1980-an, Oman kabur ke Jakarta mencari uang. Usianya baru 19 tahun ketika dia merasakan kerasnya hidup di Jakarta. Setiap hari Oman jalan kaki dari rumah sepupunya di Kebayoran Lama–tempat dia menumpang hidup–ke bioskop Djakarta Theater, di sekitar kawasan Sarinah, Jakarta, untuk mengasong. Hasil bersih yang didapat Oman hanya Rp 1.000 per hari. ”Saya nangis beberapa kali. Kok jadi tukang asongan. Bagaimana bisa ngumpulkan uang untuk biaya kuliah.”

Enam bulan kemudian, Oman membaca iklan yang mencari editor bahasa Arab. Oman melamar dan berhasil mendapatkan pekerjaan itu. ”Gajinya Rp 80.000, dan saya bisa tinggal di asrama perusahaan di Roxy.”

Nasibnya membaik. Oman bisa mengumpulkan uang untuk biaya kuliah. Tahun 1990, dia akhirnya kuliah di Jurusan Bahasa Arab UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. ”Nyatanya, setelah lulus saya jadi pengangguran.”

Saat itulah, Profesor Nabila Lubis, dosen filologi pertama UIN, Jakarta, meminta bantuan Oman mengedit suntingan manuskrip berbahasa Arab dengan terjemahan beraksara Jawa. ”Saya ambil tawaran itu karena ada duitnya. Ternyata tidak terlalu sulit. Saya hanya memberi komentar pada terjemahan yang salah. Rupanya itulah pekerjaan filolog.”

Sejak saat itu, Oman berkenalan dengan filologi. Dia lebih jauh mengarungi rimba filologi setelah mendapat beasiswa S-2 dan S-3 di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Begitulah, jalannya di dunia filologi lumayan mulus sebab sejak di pesantren Oman terbiasa membaca kitab tua. ”Cuma waktu itu enggak ada yang bilang kalau itu manuskrip.”

Setelah sukses menjadi filolog dengan spesialisasi naskah Islam Indonesia, Oman membangun satu lagi obsesi: menyebarkan kajian manuskrip ke pesantren. ”Kalau itu sudah dilakukan, puaslah hidup saya.” (BSW/AIK)

Ahmad Arif & Budi Suwarna

*)Kompasminggu, 21 mei 2012

Marzan A. Iskandar Miliki Tiga Perpustakaan

JAKARTA: Laki-laki yang satu ini tidak pernah lepas dari buku. Bila ada waktu luang sedikit saja di antara pekerjaannya, seperti di dalam mobil menuju kantor, dia manfaatkan untuk membaca buku.

Beragam buku dibacanya. Mulai dari cerita fiksi, masalah iptek, teknologi informasi dan komunikasi, ekonomi kreatif, sampai membaca cerita-cerita lucu.

“Terkadang saya juga membaca koran Pos Kota. Karena bahasanya lucu dan ada cerita lucu di dalamnya,” ungkap Marzan A. Iskandar, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Menurutnya, waktu membacanya dalam sehari minimal 2 jam. Hal itu dilakukannya sejak berkarier di BPPT. Sebelumnya ketika menjadi peneliti, waktunya untuk membaca dan menulis lebih banyak lagi. Bisa berjam-jam, tergantung dari apa yang dikerjakannya saat itu.

Ayah tiga orang anak ini menuturkan banyak yang didapatkannya dari membaca. Terutama dalam membantu pekerjaannya. “Saya harus banyak tahu tentang apa saja, terutama yang terkait dengan pekerjaan saya di BPPT, untuk inovasi, kreatif, dan teknologi,” tambahnya.

Alumni master dan doktor dari Tokai University Jepang bidang teknik elektro ini, mengatakan kebiasaannya membaca juga diikuti oleh ketiga anaknya yang kini dua orang perempuan sudah kuliah di kedokteran dan di teknik elektro, sementara si bungsu anak laki-laki masih duduk di SMP.
Isterinya yang bekerja di perusahaan kosmetika asing, juga suka membaca.

Marzan yang dilantik menjadi Kepala BPPT pada 30 Desember 2008, dalam penampilan sehari-hari tampak cool dan terkesan penyabar. Begitu juga ketika diajak bicara. Tapi dia bisa menjawab semua pertanyaan dengan cerdas.

Untuk kebutuhan membacanya itu, Marzan memiliki tiga perpustakaan. Dua perpustakaan di dua rumahnya, dan satu lagi di kantornya. Jumlah buku-buku koleksinya mencapai ratusan judul.

“Saya membeli buku saat tugas ke luar negeri. Biasanya di airport sambil cari oleh-oleh khas dari negara setempat. Saya suka beli buku yang positif, seperti cerita suksesnya Toyota membangun industri mobil di Jepang, buku Bill Gate dalam membangun Microsoft, dan lainnya,” ujar laki-laki kelahiran Pagar Alam, Sumatra Selatan, 18  Mei 1958, ini.

Saat ini Marzan banyak membaca buku ekonomi kreatif, dan buku yang berkaitan dengan pekerjaannya. Dia mengarakan dulu suka menulis buku, tapi saat ini tidak ada waktu.

“Dulu saat jadi peneliti saya banyak menulis, sekarang saya banyak membaca, dan mengurusi orang banyak.

Nanti, kalau sudah selesai bertugas, saya ingin kembali menulis buku biografi tentang perjalanan hidup dari kecil sampai sekarang, dan bisa bermanfaat bagi orang banyak,” ungkapnya.

Mengisi waktu libur biasanya Marzan dan keluarga jalan-jalan ke berbagai daerah, atau ke luar negeri. “Tapi saya suka ke gunung karena hawanya sejuk dan mengingarkan saya pada masa kecil dulu, saat menghabiskan waktu di kaki Gunung Dempo, Pagar Alam. Dulu saya suka jalan ke kebun kopi, ke sawah, atau ke kolam ikan,” ujarnya.

Bersama anak-anaknya terkadang dia juga menonton film. “Kemarin ini saya ajak anak bungsu saya menonton film Tintin, sepertinya dia mau pergi karena saya ajak saja. Sebab, kesenangan mereka sekarang sudah beda. Anak-anak kini suka yang digital, film animasi yang hidup dan dinamis ceritanya. Buku komik sudah tergantikan dengan film animasi dan games,” katanya.

Marzan ingat ketika kecil dulu dia diajarkan membaca oleh ayahnya yang seorang pensiunan tentara. “Bapak mengajarkan berhitung dan membaca. Tapi caranya seperti mengajari tentara,” ujarnya sembari tertawa mengenang.

Ke depan, lanjutnya, selain ingin menulis buku yang terkait dengan iptek, Marzan juga ingin menjadi petani ikan. “Saya dulu punya ternak ayam, itik, dan ikan. Sekarang ada kolam ikan kecil di rumah, isinya ikan koi,” tambahnya.  (tw)

*)bisnis.com, 24 Desember 2011

Femi Adi, Penumpang Sukhoi Kolektor Buku Rusia

Yogyakarta — Femi Adi Soempeno, penumpang pesawat Sukhoi Superjet-100 yang hingga saat ini belum diketemukan, adalah wartawan Bloomberg. Mantan wartawan Kontan ini punya ketertarikan dengan segala sesuatu yang serba Rusia. Femi bahkan menguasai bahasa Rusia.

“Bisa jadi dia naik Sukhoi karena tertarik dengan Rusia,” kata AA Kunto, sahabat Femi yang dihubungi Tempo, Kamis 10 Mei 2012. Sebagai sahabat yang kerap mengunjungi tempat tinggal Femi di kawasan Bumijo, Yogyakarta, Kunto menceritakan rumah orangtua Femi penuh dengan buku-buku tentang Rusia. Ayah Femi, Soempeno, yang mengoleksi buku-buku tentang Rusia itu.

Bisa jadi lantaran koleksi buku sang ayah itulah Femi pun tertarik dengan segala sesuatu tentang Rusia. Apalagi, media tempat dia bekerja, Bloomberg, memfokuskan tulisan ekonomi. “Bisa jadi selain karena tugas kantor juga karena dia tertarik dengan Rusia,” katanya.

Femi alumnus FISIP Universitas Atmajaya Yogyakarta angkatan 1999. Semasa kuliah ia dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas. Femi mendapat beasiswa penuh dari Universitas Atmajaya Yogyakarta karena tulisan-tulisannya di rubrik Gema surat kabar Bernas Yogyakarta. “Kampusnya menawari gratis asal kuliah tidak lebih dari empat tahun,” kata Kunto.

Kunto dan Femi pun pernah menulis buku bersama. Buku itu berjudul Perang Panglima, Apa Mengkhianati Siapa? yang diterbitkan Galang Press Yogyakarta. Sejak pemberitaan hilangnya Sukhoi, Kunto menghubungi dua nomer Femi tapi tidak aktif.

Pesawat Sukhoi Superjet-100 komersial buatan Rusia kehilangan kontak pada ketinggian 6.000 kaki setelah lepas landas dari Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta. Hubungan Masyarakat Badan SAR Nasional, Gagah Prakoso, mengatakan sebelum hilang kontak pesawat teridentifikasi berada di titik koordinat sekitar kawasan Gunung Salak, Bogor, Jawa Barat.

*)Tempo.co, 10 Mei 2012 dengan judul asli “Femi Adi, Penumpang Sukhoi yang Tertarik Rusia”

Blog FEMIADI

Marissa Haque, Mikroblogging dan Begoblogging

Marissa Haque tidak menyukai mikroblogging. Mantan Anggota DPR 2004-2009 itu tak puas menulis dengan hanya 140 karakter.

“Saya enggak suka mikroblogging, saya begoblogging. Dengan 140 karakter, mau nulis apa?” kata Marissa ketika berkunjung ke kantor Tempo, Selasa, 8 Mei 2012.

Marissa suka menulis panjang seperti prosa. “Saya suka nulis yang agak bunga-bunga,” kata istri Ikang Fawzi ini. “Saya kan esais, blog lebih tepat buatku.”

Artis sekaligus politikus ini memiliki banyak blog. Alasannya, kata dia, agar bisa menjadi penyeimbang informasi pemberitaan soal dirinya. “Ini aset saya. Marissa Haque Fawzi, barang dan jasa yang saya jual,” ujar wanita berusia 49 tahun ini. Alasan lain Marissa suka menulis di blog, “Paling murah dan lebih gampang dibuat.”

Menulis di blog tidak ada aturan yang rumit seperti menulis tesis atau disertasi dan tidak dinilai. Sehingga ibu dua putri ini bisa bercerita apa pun yang diinginkannya. “Enggak ada hukumnya di blog enggak boleh bercerita tentang keluarga bahagia,” kata artis kelahiran Balikpapan, 15 Oktober 1962 itu.

*)Tempo.co, 10 Mei 2012

Muntamah:TKI Hongkong Bangun Rumah Baca di Kampung

Muntamah dan Sigit Susanto (Penulis buku Menyusuri Loronglorong Dunia) saat bertemu di Hongkong

Muntamah dan Sigit Susanto (Penulis buku Menyusuri Loronglorong Dunia) saat bertemu di Hongkong

Muntamah,warga Desa Cendono,Kecamatan Kandat,Kabupaten Kediri,Jawa Timur bisa jadi satu dari ribuan wanita yang begitu peduli terhadap pendidikan.Buktinya,cita-cita mulia dan tekad yang kuat itu bisa mengalahkan segalanya.

Terlahir dari keluarga miskin,dia memutuskan untuk mengadu nasib di Hong Kong sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI).Dari negeri yang jauh itu,Mun–begitu dia biasa disapa–mendirikan rumah baca di kampungnya dengan harapan bisa membantu mencerdaskan warga. Begitulah Mun.Dia bukan guru,melainkan hanya pembantu rumah tangga dengan modal ijazah madrasah ibtidaiyah.

Tapi, perempuan berkerudung ini punya cita-cita luhur untuk membuat orang-orang sekampungnya pintar. Muntamah lahir di Kediri pada 18 Agustus 1977 dari pasangan Markatak dan Tumir (keduanya telah meninggal). Di usia 21 tahun,Mun tergiur pergi ke luar negeri untuk memperbaiki penghidupan keluarga.Desa Cendono memang bisa dikatakan sebagai kantong TKI.Dengan tingkat pendidikan yang tidak tinggi,Mun akhirnya bekerja sebagai pembantu rumah tangga di kawasan Yuen Long, Hong Kong.

“Sebenarnya saya malu.Saya sudah di sini (Hong Kong) selama 14 tahun,”ujar Mun kepada SINDO. Selama bekerja itu,Mun yang memang gemar membaca tak pernah kesulitan menyalurkan hobi tersebut.Majikannya sangat ramah dan penuh pengertian. Demi mendapatkan bukubuku baru,setiap bulan Mun menyisihkan gajinya. “Saya terus membeli buku.Malah kadang,uang untuk beli buku lebih besar dari uang jajan,” kata Mun tersenyum. Mun akhirnya punya ide untuk meminjamkan bukubukunya kepada orang-orang di kampung halamannya.

Akhirnya Mun memilih rumah orang tuanya yang saat itu sedang dikontrakkan.Demi mengabulkan cita-citanya membuat perpustakaan desa, Mun menolak memperpanjang kontrak dari penyewa. “Saya bilang kepada orangnya bahwa saya tidak bisa memperpanjang karena akan saya gunakan untuk perpustakaan,”ungkapnya. Punya lokasi untuk perpustakaan yang diidamkan bukan berarti Mun tak punya persoalan lain.

Kepalanya pun berputar,memikirkan siapa yang bisa dipercaya mengelola perpustakaan tersebut. Pilihan Mun jatuh kepada sahabatnya.“Akhirnya saya tawarkan kepada Khusnul. Saya bilang,dia boleh tinggal di rumah saya gratis,tapi tolong ditunggu perpustakaannya,”tuturnya. Setelah urusan tempat dan pengelolaan selesai,mulailah Mun mengirim buku-buku miliknya dari Hong Kong.

Namun, rak-rak buku yang disiapkan Khusnul rupanya lebih banyak dari buku yang dikirim Mun.Butuh lebih banyak buku untuk menarik minat para tetangga untuk datang. Akhirnya Mun merogoh kocek sendiri untuk menambah koleksi buku di perpustakaan yang belum bernama itu.Dia memesan buku melalui internet dan langsung dikirim ke Kediri. “Saya sudah tidak ingat,setiap beli sekitar Rp4-6 juta, mungkin belasan juta,” tandasnya.

Mengandalkan uang pribadi tentu membuat Mun juga keberatan menyokong biaya pembelian buku sendirian. Akhirnya dia meminta bantuan temantemannya sesama buruh migran dan teman Facebook untuk menjadi donatur.“Ada tujuh orang yang mau menyumbang, ya buku bekas, majalah bekas,semuanya boleh,”ungkapnya.

Upaya panjang yang dirintis Mun akhirnya menuai hasil. Awal Januari 2012 Mun berhasil mewujudkan mimpinya mendirikan rumah baca yang dinamainya “Pondok Maos Cendani”dengan koleksi sekitar 1.700 buku dan 400 majalah.Warga kampung menyebut rumah baca itu dengan “Perpuse Mun”atau perpustakaan milik Mun.

MUSLIKAH
Kediri

*)Seputar Indonesia, 7 Mei 2012

Irshad Manji: Buku Saya Bukan tentang Gay dan Lesbian

Irshad Manji webIrshad Manji adalah penulis buku “Allah, Liberty, and Love”. Wanita asal Kanada ini mendapat desakan dari organisasi masyarakat sehingga peluncuran bukunya yang digelar di Salihara, Jakarta Selatan, Jumat (4/5/2012), dibubarkan massa ormas yang mengatasnamakan Islam dengan salah satu tudingan di dalam bukunya ia menyebarkan gay dan lesbian.

Meski berhasil dibubarkan pada hari pertama, Irshad tetap bisa menghadiri diskusi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Kalibata, Jakarta Selatan, keesokan harinya, Sabtu. Tak seperti di Salihara, diskusi di Kantor AJI Jakarta, berlangsung tertib.

Apa yang sebenarnya Irshad sampaikan lewat bukunya sehingga memicu reaksi keras sebagian kelompok itu?

Irshad yang masih berada di Jakarta hingga Senin hari ini mengundang Kompas.com untuk berbincang santai di hotel tempatnya menginap. Ia menjelaskan tentang konsep bukunya, tentang pandangannya terhadap Islam, dan tentang tujuan utama menerbitkan buku dan mengunjungi Indonesia.

Berikut adalah hasil wawancara Kompas.com dengan Irshad:

Banyak yang menuduh bahwa buku Anda bercerita tentang kaum gay dan lesbian. Apakah tuduhan ini benar? Sebetulnya apa isi di dalam buku Allah, Liberty, dan Love?

Saya sama sekali tidak bercerita tentang gay dan lesbian di dalam buku ini karena tidak relevan dengan pesan yang ingin saya angkat. Buku Allah, Liberty, and Love sebetulnya mengajarkan tentang bagaimana umat Muslim bisa mempraktikkan kebebasan dalam kehidupannya. Dalam arti bebas untuk bertanya, bebas untuk mempelajari makna yang tertulis dalam Al Quran.

Satu hal yang mendorong saya menulis buku ini adalah masih banyak orang yang tidak menemukan titik temu antara Tuhan dan cinta, seolah-olah kedua kata itu adalah kata yang berbeda. Ini sangat disayangkan. Maka, buku ini memberikan panduan kepada para pemikir, para penulis, dan orang-orang yang percaya untuk menginterpretasikan Tuhan dan cinta ke dalam satu pemahaman. Baca buku saya dan Anda akan terkejut tentang fakta-fakta yang tertulis di dalamnya.

Apa pesan yang ingin Anda sampaikan dalam buku Allah, Liberty, dan Love?

Pesan terbesar saya adalah kita tak perlu memiliki ketakutan akan Tuhan karena Tuhan adalah cinta. Kita perlu berjuang di dalam hidup kita tanpa ketakutan. Kita harus punya kekuatan untuk berbicara ketika semua orang menyuruh kita diam. Karena ada banyak hal yang lebih penting yang bisa kita lakukan selain hanya merasa takut.

Pesan kedua saya dalam buku ini adalah bahwa budaya bukanlah sesuatu yang sakral. Fenomena yang saya tangkap dalam kehidupan umat Muslim saat ini adalah bahwa umat Muslim hidup dalam tradisi dan budaya, yang dibentuk oleh manusia, bukan oleh Tuhan.

Di Indonesia, misalnya, ketika kita masuk ke madrasah-madrasah, yang diajarkan oleh ulama adalah, “Jangan bertanya, dengarkan perkataan saya dan turuti!”

Kaum muda diberikan doktrin tanpa diberi kesempatan untuk berdiskusi, untuk bertanya. Maka, saya menuliskan sebuah buku yang menjelaskan kembali tentang ijtihad, tentang mencari sebuah kebenaran yang tertulis di dalam Al Quran.

Pesan ketiga adalah janganlah menjadi kaum moderat, tetapi jadilah kaum reformis; karena menjadi moderat tidaklah berguna.

Mengapa Anda meluncurkan buku di Indonesia, bukan di negara-negara Islam lainnya?

Bagi saya, Indonesia adalah salah satu model negara yang memiliki warga yang cukup berpikiran terbuka, sangat bertoleransi, dan sangat ramah. Empat tahun lalu, saat saya meluncurkan buku saya The Trouble With Islam Today’ di Indonesia, saya merasa begitu diterima. Namun, ternyata saat ini keadaannya sudah berbeda. Orang lebih takut kepada mafia, gengster, dan yang lainnya, yang menghalangi kebebasan berbicara dan berpendapat.

Bagaimana pendapat Anda tentang diskusi buku di Salihara?

Saya sangat menyayangkan ada kelompok orang yang memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Sebaliknya, saya salut kepada teman-teman yang hadir di Salihara, yang tetap berada di samping saya, di sekitar saya, dan tetap mendukung saya meski dalam tekanan.

Apakah ada yang ingin Anda sampaikan kepada massa yang membubarkan diskusi buku Anda?

Saya ingin mengatakan bahwa Anda memiliki hak untuk tidak berpihak kepada saya, Anda memiliki hak untuk tidak setuju dengan pendapat saya, Anda punya hak untuk mempertahankan pendapat Anda sendiri, tetapi Anda tidak punya hak untuk melakukan kekerasan terhadap orang lain. Anda tidak punya hak untuk memaksakan kehendak Anda agar diterima semua orang. Islam mengajarkan tentang perdamaian dan bukan kekerasan. Jangan membenci orang lain seolah-olah Anda adalah Tuhan.

Ada pesan yang ingin Anda sampaikan kepada warga Indonesia?

Pesan saya kepada masyarakat Indonesia, terutama kaum muda, inilah saatnya Anda berbicara dan menanyakan hal yang ingin Anda tanyakan. Ada banyak tempat bertanya bagi Anda, bukan hanya kepada para ulama. Anda bahkan bisa mencoba berdiskusi langsung dengan tim saya di website www.irshadmanji.com dan klik di kolom kontak. Saya memiliki 10 orang dari beragam kalangan yang terbuka untuk berdiskusi tentang Islam.

Sebelum mengakhiri wawancara, saya ingin bertanya kepada Anda tentang dua hal: Islam dan ijtihad, Apa pendapat Anda tentang dua hal ini?

Saya adalah seorang Muslim. Saya mencintai Allah, sangat dalam. Saya percaya segala sesuatu diciptakan Allah dengan alasan. Dan, bagi saya, hidup adalah sebuah pemberian. Islam adalah agama yang menuntun kepada kehidupan menjadi lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah. Kita beragama, sebagai sarana untuk mengucapkan syukur kepada Allah atas pemberian (kehidupan) yang telah diberikan kepada kita.

Adapun ijtihad adalah praktik berpikir yang independen, yang tidak terpengaruh oleh apa pun. Ijtihad tidak membungkam manusia untuk menanyakan sesuatu. Ijtihad membuka jalan bagi manusia untuk mengembangkan banyak hal. Dari sumber yang saya baca, ratusan tahun lalu, manusia bisa mengembangkan filosofi, sains, dan seni berkat ijtihad. Dan, sekali lagi, buku saya juga menjelaskan tentang hal ini. Mari kita jadikan Islam menjadi lebih baik dengan ijtihad. (Tenni Purwanti | Tri Wahono)

Sumber: Kompas.com, 7 Mei 2012

Foto: walmart.ca

FREEDOWNLOAD: “Allah, Liberty, and Love” karya Irshad Manji

Iyeng Sentosa, Susun ''Kamus'' Bahasa Pekalongan

Satu lompatan yang tergolong besar dilakukan dosen Fakultas Hukum Untag, Semarang, Sri Setiawati yang lebih populer dengan nama Iyeng Santosa. Ibu tiga anak ini menyusun kosa kata Bahasa Pekalongan ke dalam sebuah buku bersama rekannya, Asikin Sukatmasaputra. Edisi pertama karya finalis Putri Remaja Indonesia seangkatan Ratih Sang ini diterbitkan pada tahun 2008.

Boleh tahu aktivitas Anda sehari-hari?

Saya dosen  S1 dan S2 di Fakutas Hukum  Untag, Semarang sejak 1986 sampai sekarang. Juga di FH Universitas Semarang. Basis saya adalah Hukum Pidana. Kemudian, saya aktif di Pusat Pengembangan Hukum Kesehatan, sehingga saya juga mengajar Hukum Kesehatan di Untag.  Hukum Kesehatan ini membawa saya aktif menjadi konsultan rumah sakit (RS), khususnya untuk Peraturan Internal RS  di seluruh Indonsia.

Anda mendalami hukum, tapi menyusun kosa kata Bahasa Pekalongan?

Iya. Saya menyebutnya sebagai kamus sederhana karena masih dalam bentuk susunan kosa kata yang alfabetis. Kamus berisi 1.400 kosa kata ini terbit pada 1 April 2008, bertepatan dengan hari jadi Kota Pekalongan ke-102. Dengan kata lain, kamus ini menjadi suvenir  hari jadi. Menurut teman-teman saya, meski bentuknya masih sederhana, ini merupakan lompatan besar karena sepengetahuan kami belum pernah ada karya tulis yang menggunakan Bahasa Pekalongan.

Awalnya bagaimana?

Begini. Tahun 2006 saya dan teman-teman SMA membuat mailing list (milis).  Kadang kami berkomunikasi dalam Bahasa Pekalongan. Nah, saat muncul satu kosa kata, saya catat dan akhirnya terkumpul banyak. Kemudian saya posting  kembali. Teman-teman saya senang sekali. Mereka tertawa-tawa bahkan menambahi dengan kosa kata baru.

Jadi, sebenarnya kosa kata dalam buku ini hasil urunan  dari banyak teman. Makanya buku ini saya beri judul “kumpulan kata-kata”  bukan kamus. Uniknya, di dalam buku ini  ada karikatur yang bercerita berbagai hal. Misalnya, tentang jajanan dan mainan pada masa lalu. Yang menggambar anak saya sendiri.
Iyeng sarasehan

Berapa lama menyusun kumpulan kosa kata ini?

Sekitar dua tahun karena harus pakai riset kecil-kecilan. Maksudnya, bila saya pulang ke Pekalongan, saya ajak bicara banyak orang. Saya catat ketika menemukan kosa kata yang belum ada di catatan. Saya juga menemui beberapa orang yang  umurnya lebih tua karena mereka bisa menjadi narasumber baru. Merekalah “palu terakhir”. Bila tidak cepat didokumentasikan, kosa katanya akan benar-benar punah.

Setelah terkumpul 1.400 kata,  saya baru berani menerbitkannya.  Se­lain itu, saya juga sem­pat komunikasi de­ngan teman yang ke­betulan ahli bahasa ka­rena saya juga ingin mengetahui leksigo­loginya atau cara pengucapannya.

Selanjutnya, Februari 2008 saya menemui walikota Pekalongan dan mengemukakan keinginan untuk menerbitkan kamus. Beliau surprise  dan mendorong saya agar mempercepat penerbitannya pada 1 April 2008. Tujuannya agar bisa menjadi suvenir  pada Hari Jadi Pekalongan ke- 102.

Apakah buku ini banyak peminatnya?

Peminatnya kebanyakan justru orang Pekalongan yang tinggal di  luar kota dan luar negeri. Teman-teman saya yang tinggal di berbagai negara di Eropa sudah membeli kamus ini.  Saya menjualnya secara online.  Ketika itu saya hanya mencetak  3.000 eksemplar dan sekarang sudah habis. Saya berencana menerbitkan lagi dengan 3.000 kosa kata, disertai komparasi Bahasa Pekalongan kota dan kabupaten atau lebih dikenal sebagai Pekalongan Kidul.  Nanti  juga akan ada contoh penggunaan kalimatnya.
Iyeng dan Anaknya

Omong-omong,  Anda asli Pekalongan?

Benar. Saya lahir di Pekalongan, 21 Januari 1963.  Sayangnya, sejak kecil saya tidak bisa bebas bicara menggunakan Bahasa Pekalongan. Masalahnya, saya dibesarkan oleh orangtua yang tergolong priyayi. Ibu saya, Soertijah, berasal dari Imogiri, Jogja yang terbiasa bicara dengan Bahasa Jawa baku yang halus. Sementara Ayah, Santoso Sastroamodjojo, asli Pekalongan yang memiliki gelar kebangsawanan.  Ibu seorang guru dan Ayah pejabat Sekda Kota Pekalongan.

Saya anak bungsu dari 11 bersaudara. Di rumah,  Ibu mengharuskan kami  berbicara dalam Bahasa Jawa standar atau halus. Sementara Bahasa Pekalongan dianggap bahasa kasar. Sebagai anak-anak, kami sering bergaul dengan teman-teman di kampung yang mau tak mau bicaranya menggunakan Bahasa Pekalongan. Misalnya, “pak ora” yang dalam Bahasa Jawa bakunya berarti “yo ben ta” (biar saja). Nah,  kata “pak ora” itu dianggap kasar oleh Ibu. Larangan itu membuat kami  menyimpan obsesi bisa bebas berbicara menggunakan Bahasa Pekalongan. Nah, menyusun kamus  ini hanyalah pijakan awal.

Maksudnya?

Jika berhenti pada kamus saja, tidak dirangkai dalam kalimat atau tulisan, orang tidak akan mengerti bagaimana dan kapan penggunaan kalimatnya. Makanya, saya senang ketika Harian Suara Merdeka melalui Suara Pantura memberi saya ruang atau kolom untuk menulis obrolan menggunakan Bahasa Pekalongan. Terbit  pertama kali pada 19 November  2010. Sampai sekarang, tiap Jumat, tulisan saya di kolom itu ditunggu warga Pekalongan.

Kadang tulisan dengan setting  obrolan di warung itu saya share di akun FB saya. Banyak respons, bahkan tulisan saya di-share  oleh teman-teman. Lalu terpikir oleh saya untuk mengajak orang lain  menulis juga. Atas saran teman saya, Mas Bintoro, pensiunan PT Garuda, saya membuat  akun di FB khusus, namanya Warung Megono.  Akun ini menjadi wadah obrolan menggunakan Bahasa Pekalongan, bagi orang Pekalongan, dan yang pernah tinggal di Pekalongan.  Hanya beberapa bulan saja akun ini sudah memiliki friends  lebih dari 1.400 orang.

*)Nova, 4 Mei 2012

Maman Sulaiman: Rumah Pintar untuk Ciwidey

Oleh: Reny Sri Ayu

0532321pLima tahun lalu saat Satoe Indonesia—lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan ekonomi—masuk Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, membawa program Rumah Pintar, nyaris tak ada warga yang menerima. Warga menuding program Rumah Pintar hanya alat memolitisasi warga, yang lain menganggap ini dalih memasukkan aliran kepercayaan baru.

Hanya seorang warga yang menyambut program ini secara positif, Maman Sulaiman. Saat itu ia adalah Kepala Badan Permusyawaratan Desa Gambung, Kecamatan Pasir Jambu. Ia bahkan menjadi tameng dengan menjaminkan diri kepada warga desa untuk menerima program tersebut.

Secara sederhana, Rumah Pintar (Rupin) adalah tempat belajar bagi siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Komputer, bahasa Inggris, pengembangan bakat seni, budaya, olahraga, hingga keterampilan dan wirausaha adalah sebagian yang bisa dipelajari di Rupin. Ini ditambah embel-embel gratis. Pengurus dan tutor Rupin dari warga setempat dibantu Satoe Indonesia.

Kendati awalnya ditentang dan dicurigai, kerja keras Maman bersama tim Satoe Indonesia tak sia-sia. Lima tahun kemudian, Rupin mendapat ”pengakuan” warga saat sejumlah pengurus Rupin yang sebelumnya diberi cap ”anak nakal” berubah.

Mereka yang dulu hanya suka nongkrong atau mabuk berubah menjadi inspirator dan motivator bagi warga. Para remaja ini menjadi motor penggerak ekonomi dan mengubah pola pikir warga untuk memanfaatkan potensi alamnya.

Sekadar contoh, ada yang menjadi peternak lele sekaligus memproduksi abon lele. Ada pula yang beternak kelinci, menanam sayur sehat, dan memasarkan hingga toko swalayan. Bahkan, bersama warga desa, Maman menjalankan usaha wisata dengan menjadi pengelola kegiatan wisata alam dan outbound.

Adapun siswa SD, SMP, dan SMA, yang sebelumnya hanya belajar di sekolah dan menghabiskan sisa waktu dengan bermain, menjadi betah membaca di perpustakaan Rupin, belajar komputer, hingga berlatih tari, menyanyi, dan olahraga. Kerap anak-anak ini diundang tampil di Bandung dan Jakarta.

Perubahan ini membuka mata warga sekaligus memupus kecurigaan terhadap aktivitas Rupin. Tak sedikit orangtua, yang mengaku sulit membimbing anaknya, dengan sukarela ”menyerahkan” anaknya kepada pengurus Rupin untuk dibina.

Bahkan, warga desa lain yang bertetangga dan belum punya Rupin mendatangi Maman dan meminta Rupin masuk desa mereka. Untuk sementara Maman mengakomodasi keinginan warga desa lain dengan sekali sepekan berkunjung ke desa-desa tersebut untuk mengajar sekaligus menyiapkan kader yang bisa mengurus Rupin.

Pengakuan warga, antara lain, ditunjukkan dengan kalimat ”ke Rupin aja”, atau ”sama pengurus Rupin aja”, jika ada tamu di desa itu. Warga desa juga sukarela meminta pengurus Rupin mewakili mereka berbicara di berbagai forum atau menyerahkan kegiatan desa sampai kecamatan diurus Rupin.

Berawal dari keprihatinan

Apa yang dilakukan Maman berawal dari keprihatinan melihat anak-anak di desanya menghabiskan waktu bermain sepanjang hari sepulang sekolah. Sebagian remaja suka nongkrong dan minum-minum. Warga kurang memaksimalkan potensi alam di Kecamatan Pasir Jambu walau wilayah ini subur.

”Ketika Satoe Indonesia menyampaikan maksud mereka, saya melihat ini peluang untuk berbuat bagi desa saya. Saat itu mereka punya program dan fasilitas, termasuk siap membangun rumah untuk Rupin. Kendalanya lokasi. Lalu warga desa dikumpulkan dan dijelaskan soal ini, sekaligus minta dipinjami lahan. Tetapi saya ditentang,” cerita Maman.

Maman paham kondisi sosiologis warga desa dan menggunakan pendekatan personal. Satu per satu tokoh masyarakat dan agama dia kunjungi dan berbicara dari hati ke hati.

Ia juga mendatangi Pusat Penelitian Teh dan Kina, tempatnya bekerja di Kecamatan Pasir Jambu, untuk minta dipinjami lahan. Pihak perusahaan luluh hingga dibangunlah Rupin di Desa Gambung, yang diberi nama Rupin Gambung.

Namun, memasuki tahun kedua, satu per satu tutor dan pengurus mundur dengan alasan membantu keuangan keluarga. Tersisa hanya Maman dan satu pengurus lain. Pada saat yang sama ia menghadapi protes istrinya, yang merasa waktu Maman terkuras di Rupin, padahal tak mendapat gaji. Kondisi ini nyaris membuat keluarga Maman bubar. Beruntung sang istri kemudian memahami dan bahkan ikut membantu Rupin.

”Saya lalu merekrut siswa SMA yang bisa mengajar siswa SD dan SMP. Saya minta izin orangtua mereka dan berjanji urusan sekolah tak akan terbengkalai. Saya minta mereka mengerjakan pekerjaan rumah di Rupin dan sisa waktunya mengajar. Saya pilih siswa SMA dengan pertimbangan, setidaknya kami aman hingga mereka tamat karena belum ada kewajiban mencari uang. Regenerasi juga jalan dan ini berhasil hingga kini,” ujar Maman.

Menyadari Rupin juga menjadi solusi masalah ekonomi, Maman mengumpulkan warga desa untuk pelatihan kewirausahaan. Upaya ini tak serta-merta berhasil karena mental ”bekerja pada orang lain” sudah melekat.

Maman paham harus ada contoh nyata untuk meyakinkan warga. Dia mengajak pengurus melakukannya. Satu per satu pengurus mulai membuat usaha kecil-kecilan, seperti beternak lele, beternak kelinci, dan menanam sayur. Dalam usaha ini, warga diikutkan sebagai pekerja tetap ataupun harian. Tujuannya, mereka bisa melihat dan belajar.

Maman mendirikan Biota, usaha di sektor wisata alam. Mereka mengelola kegiatan wisata alam dan outbound dengan memanfaatkan keindahan alam Ciwidey. Warga desa diikutkan dalam kegiatan ini.

Seorang warga desa lain, Riswati Wahyuni, yang semula ikut di Rupin Gambung, dengan sukarela mendirikan Rupin di desanya, Desa Papakmanggu. Dia menjadi pengurus sekaligus tutor dan aktif di desanya. Riswati yang semula pedagang sayur di Pasar Induk Kabupaten Bandung menjadi pemasok sayur sehat ke 13 gerai toko swalayan di Jakarta.

”Kami ingin membuka mata warga, potensi di desa ini bisa bernilai ekonomi jika dikelola dengan baik. Banyak orang berhasil, yang terpenting mereka sadar arti penting pendidikan dan mau belajar,” katanya.

Pengakuan atas keberhasilan Rupin tak hanya datang dari warga. HSBC Future First lewat HSBC Indonesia ikut mendukung program Rupin. Selain dana, secara rutin tim HSBC ikut membantu kegiatan mengajar dan memberikan pelatihan. Memang tak mudah mendapat kepercayaan dan pengakuan, sama tak mudahnya menjaga kepercayaan itu.

*)Kompas, 26 maret 2012

Prof Dr Sajogyo, Ilmuwan di Jalan Sunyi

REDAKSI: Prof Dr Sajogyo wafat pada 17 Maret 2012. Untuk mengenang “Bapak Sosiologi Perdesaan Indonesia” itu, redaksi menurunkan wawancara yang pernah dilakukan Tabloid Buku “IBOEKOE” pada September 2006 di mana materi ini tak pernah terbit lantaran tabloid itu hanya terbit sekali pada Edisi “Pram” dan berubah dalam format daring kronik buku.

Suasana dan realitas pedesaan telah lama memikat hati Prof. Dr. Sajogyo sejak muda. Penelitiannya yang pertama—saat masih menggunakan nama Kampto Utomo—untuk meraih gelar sarjana Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (sekarang Institut Pertanian Bogor) di lokasi transmigrasi Way Sekampung, Lampung, 1957, merupakan titik tolak karier intelektualnya dalam menggumuli secara intens persoalan kemiskinan, terutama pada golongan lemah di pedesaan.

Di mata koleganya, ia dikenal sebagai “ilmuwan yang lebih memilih jalan sunyi”, tidak bersinar, terlewatkan, dan sering dilupakan. Ia sangat mementingkan data-data empirik, mengagungkan penelitian, terpesona dengan pluralitas, kekhasan daerah, dan menghargai auto-aktivitas masyarakat desa. Menikah dengan Prof. Dr. Pudjiwati Sayogjo pada 1968, Guru Besar IPB kelahiran Karanganyar, Jateng, 21 Mei 1926—yang dijuluki Prof. Loekman Soetrisno (alm.) sebagai “suhu” perguruan ilmuwan sosial Indonesia, khususnya sosiologi pedesaan—ini masih sering berkeliling Indonesia untuk melakukan penelitian.

Sajogyo adalah sedikit dari ilmuwan Indonesia yang intens mengkaji ekonomi pertanian, terutama di wilayah pedesaan. Kemampuan akademis dari seorang yang pernah menjabat rektor IPB periode Maret 1965/1966 ini sepenuhnya ia curahkan untuk mencermati karakter dan sosiologi desa dan pertanian kita. Ia menulis buku-buku seperti Sosiologi Pedesaan dengan runtut, kaya detail, dan terkesan skeptis terhadap generalisasi kebijakan.

Penemuannya yang terpenting dan kemudian menjadi tonggak pengukuran kemiskinan ialah Nilai Setara Beras (NSM) yang ia lansir pada 1970-an. Lebih jauh, ia mengenalkan konsep Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) yang kemudian menjadi landasan program Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS).

Terkait penerbitan edisi “Miskin Buku”, kontributor IBOEKOE DN. Wicaksono membikin percakapan dengan Prof. Sayogjo di kantor yang didirikannya sendiri, Sajogyo Inside (SaIns) di Jalan Malabar 22, Bararangsiang, Kampus IPB, Bogor.

Ada sekitar 1,1 milyar penduduk miskin di dunia. Kemudian ada sekitar 62 juta orang miskin Indonesia. Bagaimana pendapat Anda menilai ini?

Saya sendiri mempelajari masyarakat. Saya pikir ini berapa orang desa dan berapa orang kota? Kalau membandingkan antarnegara malah perlu bertanya juga. Apakah bisa membanding itu kemudian bisa menjumlah? Kalau bisa membanding, seharusnya ‘kan bisa menjumlah? Fungsinya sama tidak? Ukuran miskin sedunia, gampangnya, adalah penghasilan kurang dari 2 dollar sehari atau 1 dollar per orang. Sebelum mendalami permasalahannya, jangan-jangan yang dimaksud miskin di sini berbeda dengan maksud miskin di luar negeri. Jadi ini adalah baru tentang jumlah—kalau mau menyebut jumlah. Ini belum sampai pada permasalahan: apa arti kemiskinan di sini, dan kehidupan kita?

Kalau menurut Anda, artinya bagaimana?

Miskin itu asli istilah Indonesia atau bukan? Jangan-jangan dari Arab? Apakah kita tidak mempunyai istilah? Kalau kita tidak mempunyai istilah, berarti kemiskinan tidak penah ada di sini. Seakan-akan begitu. Kita sering mendengar hal-hal yang berkebalikan. Kebalikan dari kemiskinan adalah kemakmuran. Semuanya adalah kebahagiaan. Kenapa banyak tanah yang subur, tetapi kita masih berhubungan dengan kemiskinan?

Jadi kemiskinan itu bisa beragam maknanya. PBB berusaha menyatukan (persepsi), lalu baru bisa membanding. Lalu kalau sudah sepakat, mari kita berusaha: bisa tidak dalam sekian tahun mengurangi kemiskinan? ‘Kan begitu. Jadi sama-sama ada target.

Tetapi, sebenarnya apa sih yang ingin kita atasi? Kita hindari? Kalau PBB menargetkan melalui Millennium Development Goals untuk menghapus angka kemiskinan di tahun 2000, paling tidak hingga separuhnya di tahun 2015 nanti.

Pemerintahan SBY juga punya target dalam lima tahun ini. Tetapi apa bisa? Sejak tahun 1970-an kita sudah memperhatikan persoalan kemiskinan di Indonesia. Terlepas dari pergolakannya, Orde Baru ‘kan maksudnya membangun jalan baru. Mulai ada perhitungan…. Waktu itu, mungkin angka kemiskinan di Jawa yang paling tinggi. Enam puluh persen atau berapa begitu. Tiga puluh tahun kemudian sudah semakin berkurang. Kelihatan makin turun. Bisa dibilang, pada tahun sekian penurunannya sekian persen… itu kelihatan. Tetapi kemudian, kenapa menjadi sulit?

Cara penanggulangan kemiskinan?

Harus tahu dulu kalau desa awalnya dibuka dari hutan. Mungkin orang pindah dari desa lama yang sudah dinilai padat, tidak semua orang dewasa kebagian tanah, jadi harus mencari tanah baru. Polanya agraris. Sejarahnya, dari daerah lama pindah ke daerah-daerah baru. Dan suatu waktu memang pemerintah independen membantu yang kekurangan tanah. Cari di luar. Bahasa Belanda-nya disebut kolonialisasi, membangun pemukiman baru. Mirip dengan transmigrasi. Hanya saja transmigrasi adalah nama setelah merdeka, sesudah ada negara RI.

Kolonisasi ini terjadi di beberapa negara jajahan. Ada di Srilanka, Philipina, dsb. Tahun 1930-an di Amerika ada buku dari seorang peneliti birokrat: kolonisasi oleh pemerintah dengan cara perpindahan penduduk ke pulau lain. Perbandingannya adalah di Hindia Belanda, dan di Philipina. Bukunya diterbitkan setelah Perang Pasifik. Barangkali tahun 1939 atau 1940.

Untuk mengatasinya diperlukan tanah baru. Itu contoh yang sudah terjadi sejak zaman raja-raja. Di Jawa menebang hutan untuk membangun desa dinamakan Truko. Di Malaysia dinamakan Truka. Mereka adalah perintis, yaitu penebang hutan yang bukan untuk kepentingan sendiri, tetapi untuk mebangun membangun desa atau kampungnya. Di luar Jawa, umumnya penduduk asli juga melakukan hal yang sama bila kekurangan tanah. Kalau berladang itu hidup berpindah-pindah, maka berkampung hidup menetap di tepi sungai besar dan tepi jalan besar. Yang berada di dekat pantai malah bisa berdagang lebih jauh lagi. Jadi, kehidupannya itu sesuai dengan alur sungai. Di Jawa mula-mula begitu, lalu dibangun jalan melintasi sungai. Itu perkembangan baru.

Anda condong ke pola agraris atau industri?

Ini tergantung pada zamannya. Masih ada tidak tanah yang bisa dibuka? Kalau bisa, memilih kedua-duanya. Industri saja bermula dari agraris dulu. Dan Belanda sudah membuktikan. Mula-mula industri gula tebu di Jawa didirikan di desa. Belanda dapat menguasai tanahnya, dan petaninya dibantu pemerintah. Disewa bergilir. Dan penduduk desa sebagian diterima sebagai buruh. Yang punya tanah dapat sewa tanah, dan sebagian penduduk di desa bekerja di pabrik. Nah, dari situ mulai proses industrialisasi. Jangan lupa, industri tidak selalu semuanya tumbuh di kota. Bisa jadi tumbuh di desa. Tetapi semangatnya adalah industri kota. Jadi ada buruh tani, tukang, spesialis mesin, …itu ilmu baru.

Tetapi kemudian ada kesenjangan ekonomi antara perkotaan dan pedesaan?

Di desa sendiri juga ada. Yang tanahnya cukup luas, dengan yang tanahnya kecil. Datanya itu sudah ada sejak seratus tahun lalu.

Tahun 2003 ada sensus pertanian. Sebagian data sudah diterbitkan BPS, dan sebagian lagi perlu digali lebih dalam. Sensus itu setiap 10 tahun, jadi selama rentang waktu itu mungkin saja terjadi perubahan. Buruh tani mampu menggarap tanah bagi hasil, tergantung dari kombinasi penghasilan. Apakah penghasilannya cukup? Kalau tidak cukup itu dinamakan miskin.

Banyak penduduk desa yang lari ke kota dan memicu pengangguran baru?

Kalau di kota tidak menemukan apa-apa. Dulu, mereka berangkat kerja di kota sejak pagi untuk kemudian pulang pada sore harinya. Bolak-balik saja. Dan mungkin itu cukup bagi mereka daripada bergantung di desa.

Sebagian di desa sebenarnya mendingan sebab sebagian problem sosial masih dilayani. Kalau di kota, mau cari rumah di mana? Lalu membangun rumah di bawah jembatan sehingga hidupnya tidak manusiawi. Atau di kapal, di sungai, di saluran kanal. Numpang jadinya. DKI tidak melayani orang-orang ini karena banyak yang tidak punya KTP.

Pelaksanaan otonomi daerah atau khusus apakah bisa menanggulangi laju kemiskinan?

Maksudnya, salah satu tujuan fungsi otonomi itu adalah agar orang yang berada di kota, kabupaten, entah itu dewannya, pimpinannya bisa lebih dekat dengan rakyatnya dibandingkan dengan orang pusat. Dulu dikenal bahwa perantaranya adalah provinsi. Maksudnya adalah membagi tanggung jawab. Cara mengatasinya terserah asalkan cocok. Hanya syaratnya, harus bersama orang miskin. Jangan bergerak sendiri. Jadi perlu ada dialog, kerja sama. Artinya, mana yang lebih dulu diperhatikan, tanggung jawab masing-masing, dan kalau pemerintah bisa membantu, dalam hal apa.  Akan tetapi dalam hal ini pemerintah tidak bisa membantu. Kalau pelayanan umum ‘kan ke umum, dan tidak ke orang per orang. Jadi sampai mana orang miskin itu terlayani.

Dulu pemerintah ada program IDT. Masih relevan?

IDT itu nama Indonesia. Artinya, pemerintah memberikan dana, diberikan kepada rakyat miskin dengan syarat kredit. Bukan dikembalikan kepada pemerintah, tetapi dikembalikan kepada kelompokmu. Jadi, silahkan bikin kelompokmu. Artinya, bikin  kelompok yang saling mengenal, saling percaya. Semua adalah anggota, semua memilih pengurus pilihan mereka sendiri, dan pengurus bertanggung jawab kepada anggota. Istilahnya adalah kredit kecil atau kredit mikro. Kredit yang di Jawa waktu itu kurang dari Rp. 100.000,- untuk setiap anggotanya. Padahal di tiap desa, selama 3 tahun berturut-turut pemerintah menyediakan dana. Kalau tidak salah, jumlahnya sama. Tetapi terserah pada masyarakat desa yang miskin itu, apakah mau bergilir (tahun pertama sekian untuk membentuk kelompok, tahun kedua mendapat dana yang sama, dst) atau untuk membuat kelompok baru, atau sejak awal sudah membuat kelompok-kelompok yang sama. Selama 3 tahun berturut-turut, kelompok yang sama itu masih mendapatkan bantuan. Juga masih ada dialog. Maksudnya baik. Artinya: anda berorganisasilah, belajarlah. Itu dinamakan Pokmas (Kelompok Masyarakat). Sayangnya kok tidak disebut Kelompok Swadaya Masyarakat. Pemerintah enggan memakai istilah LSM. Tidak mau kalau dikira meniru LSM. Padahal, LSM ‘kan juga merintis hal-hal baru.

Penting juga keberadaan LSM untuk mengentaskan kemiskinan?

Iya juga, sebab kalau ada LSM, benar pula tindakan kita. Waktu ada istilah pembina. Disediakan oleh pemerintah. Jadi tidak mesti sarjana. Waktu itu sarjana hanya ada beberapa ribu saja. Ada beberapa yang memang sarjana, yang baru lulus, ditawari dan diberi honor asalkan mau masuk desa selama 3 tahun. Jadi, empat ribu sarjana untuk dua puluh atau tiga puluh puluh ribu desa. Jelas tidak cukup. Yang saya perhatikan, hanya Gubernur NTT saja yang mau keluar uang sendiri untuk merekrut dua ribu sarjana dari NTT sendiri, dan ditawari masuk desa. Dan itu perlu ditiru. Artinya, otonomi itu mesti begitu. Kalau cocok, ya dipakai.

Penanggulangan kemiskinan mesti dari desa?
Di kota juga. Bukan harus tetapi di mana saja.

IDT dulu sasarannya adalah desa, dan berkembang menjadi PDT (Pembangunan Daerah Tertinggal) yang sasarannya adalah kabupaten.

Saya kira fungsinya lebih sebagai pengarahan. Artinya, prioritas sebaiknya berada di tingkat pusat. Dan dulu sering diartikan bahwa di Bagian Timur masih kurang. Tetapi memang di Bagian Timur itu penduduknya masih jarang, sementara di Jawa sangat padat. Di situlah letak kesulitannya.

Apakah pertanian mampu menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi?

Yang penting adalah bagaimana pertanian mampu mencukupi kebutuhan pangan. Kalau tidak cukup, berarti perlu impor. Persoalannya, apakah impor juga bisa merugikan sebagian petani kita? Kalau bisa jangan merugikan.

Jadi ketahanan pangan dipenuhi dari dalam dan luar. Tetapi kebijakan itu apakah sudah sesuai harapan? Kita harus maklum, pembagian tanah tidak cukup merata. Sejak seratus tahun lalu, di zaman Belanda, sebagian tanah (80%) terutama sawah dimiliki oleh sekitar 30% petani. Kalau di Jawa ukurannya adalah lebih dari setengah hektar, di luar Jawa lebih dari satu hektar. Sebagian besar petani berlahan di sisa tanah itu. Jadi, selama pembagian tanah tidak merata, maka paling tidak kita bisa mengangkat orang kecil itu dengan mengandalkan sektor di luar pertanian tetapi orangnya siap apa tidak? Ini bukan hanya soal mental, tetapi juga kemampuan di bidang luar pertanian. Seringnya orang desa yang akan ke kota selalu membawa cangkul atau sejenisnya. Mau kerja apa mereka? Tetapi ada juga orang desa yang bekerja masuk ke kota dengan modal. Lalu berdagang. Kalau tidak diizinkan, lalu berdagang di kaki lima.

Sistem pemerintahan yang korup akan berdampak langsung?

Iya. Artinya itu sudah direncanakan.

Kemiskinan itu harus diartikan bukan hanya sekarang, bukannya keuangan atau penghasilan—tidak hanya penghasilan uang, beras, tetapi juga pelayanan kesehatan, pendidikan. Pengurangan kemiskinan idealnya dalam satu generasi, yaitu 20 tahun. Jangan lupa kita sudah 60 tahun, berarti sudah 3 generasi.

Dulu awal atau akhir penjajahan 3 tahun sekolahnya. Baru ketika RI muncul ada kebijakan sekolah 6 tahun. Setelah 40  tahun baru muncul wajib belajar 9 tahun. Seorang buruh tani angkatan tahun 1945 lulusan SD yang 3 tahun, dan dua puluh tahun kemudian menikahkan anaknya yang juga lulusan SD tiga tahun, bukankah itu sangat mengenaskan bagi kemajuan?

Itu kan juga ukuran tidak adanya kemajuan dalam menghadapi kemiskinan dari ukuran pendidikan. Lebih baik bagi si buruh itu bila mendapat menantu yang sekolah enam tahun plus. Jadi dia akan merasa bangga bahwa anak saya lebih maju dari saya. Penikahan sudah tanggung jawab dia dan dirinya sendiri. Dan perbandingan pada dirinya sendiri adalah suatu contoh yang harus kita perhatikan. Semua orang punya indikator penilaian untuk dirinya sendiri.

Indikator seperti apa?

Anak kecil itu menyusu selama 2 tahun.  Harus menyusu pada.ibunya. Susu pabrikan mahal. Kalau ibu sehat, bayi harus disusui selama 2 tahun. Ketentuan agama Islam juga selama 2 tahun, dan harus diikuti dengan baik.

Kalau menurut keterangan ilmiah, otak bertumbuh selama 7 tahun pertama, setelah itu tidak tumbuh lagi. Hanya ada pembaharuan sel-sel atau pembentukan sel-sel baru. Tetapi kalau selama 7 tahun itu ada gangguan, yang tidak kelihatan, maka kemudian kemampuan belajar menjadi terbatas. Kalau  tidak terbatas, kemampuan orang bisa sedemikian baik. Semua bisa mengikuti pendidikan belajar membaca, menulis, matematika, pertukangan.

Apakah Indonesia masih mampu untuk bangkit dari kemiskinan?

Perjuangan saya itu harus mampu. Saya tergolong orang yang mempersiapkan murid untuk berjuang. Jadi orang itu ya harus bisa berjuang. Memberi contoh. Kalau tidak percaya diri, bagaimana mengisi kemerdekaan? Sudah 60 tahun kok masih begini?

Atau jangan-jangan kita belum bisa bangkit itu karena masih mementingkan “yang gede-gede” padahal “yang gede” tidak ingat kepada kita. Waktu ada kredit-kreditan itu ‘kan perusahaan besar yang lebih dulu minta. Terjamin. Tetapi begitu diberi kok malah dibawa lari.

Dan soal pertanian, sebenarnya kita masih ada tanah. Indonesia masih tergolong negara yang potensial. Kebanyakan di luar Jawa. Di Jawa sendiri sebagian masih kosong. Di Jawa Barat bagian selatan. Padahal, kalau tidak salah, sistem jalannya sudah disiapkan. Sistem transportasi ‘kan penting juga untuk menunjang tata laksana perekonomian. Tetapi kok tetap tidak mau berkembang. Padahal kawasan itu pun dekat dengan pasar.

Saya tidak bisa mengerti ini. Saya sendiri punya gagasan, seperti mimpi—tetapi boleh-boleh saja, ‘kan?—di daerah Bantul agak ke selatan, ‘kan ada satu pusat yang menghasilkan gula aren. Tetapi tidak dicetak. Justru dibikin seperti gula pasir. Itu laku, saya pikir. Mengapa kok hanya di satu lembah ini saja? Padahal Jawa-Bali itu ‘kan lembah melulu. Lerengnya, saya pikir. Tanah lereng itu ‘kan 24 persennya harus dihutankan. Kalau tidak, maka akan erosi. Pertanyaan saya, mengapa tidak ditanami pohon aren itu? Padahal teknik tanamnya sudah dikuasai. Kalau dulu, orang tidak menanam pohon aren. Setelah dikuasai, ditanam, dan jaraknya pun bisa diatur. Pohon kelapa bisa juga diselipkan sebagai pelindung saja. Masih banyak lahan tersisa. Dalam pandangan saya, lahan ini bisa dijadikan sumber penghasil gula aren, industri gula yang tumbuh di desa, pengekspor ke negara yang banyak duit. Mereka suka. Khasiatnya ada, karena ini berbeda dengan gula pasir biasa dari tebu, yang biasa dicampuri bahan kimia. Gula aren tidak ada kimianya. Sehat. Orang modern ‘kan maunya begitu.

Tetapi tetap harus ada orang bisnis di balik itu. Harus ada penggerak. Padahal sekian lereng itu dulu dikuasai oleh perkebunan besar. Artinya, dulu Jawa di zaman kolonial adalah penghasil tebu yang sudah ditingkatkan potensinya dengan ilmu pengetahuan modern. Dan anehnya, di sini tebu kok ditanam di daerah sawah. Padahal di daerah tropis, tidak ada tebu yang ditanam di sawah. Biasanya di tanah biasa, di tegal.

Apakah dengan demikian Indonesia bisa mandiri atau tetap tergantung pada hutang?

Ya harus mandiri. Bisa. Dalam hal ini, kita harus tahu perkara-perkara yang berkembang di dunia. Karena ini zaman globalisasi. Bisa dilihat bagaimana upaya PBB dalam mempersatukan langkah-langkah pemberantasan kemiskinan. Antara lain dengan memberi kredit pada mereka yang belum dapat kredit. Dan itu bisa berbeda-beda modelnya.untuk Jawa Barat, metode ini yang paling cocok. Kalau di Jawa Tengah, hampir sama, tetapi tetap ada beda. Harus dicari masing-masing.

Tidak terlalu rumit, tidak membingungkan?

Kenapa membingungkan? Siapa yang bingung? Kalau pemerintah mau menang sendiri, siapa yang mau membantu sebenarnya? Ya harus bersama rakyat. Lha membangun itu untuk rakyat kok. Pemerintah ‘kan hanya bertugas mengatur. Jadi tidak bisa diseragamkan. Harus mengikuti model yang sesuai untuk daerah tertentu. Saya dulu terlibat dalam penyuluhan (di PERHEPI). Penyuluhan itu adalah mengajak petani, tidak memaksa. Pelakunya ‘kan mereka juga. Dulu waktu awal 1960-an, penyebaran padi unggul ‘kan juga melalui penyuluhan semacam itu. Mula-mula ‘kan benih padi unggul adalah hasil nasional sendiri, tetapi menjelang tahun 1970, sudah ada benih yang dari IRRI di mana Indonesia juga punya andil di situ. Mereka mengawinkan dan menghasilkan padi baru yang tergolong unggul. Padi yang pendek itu, tetapi mudah rontok.

Tetapi kemudian ada tekanan bahwa Indonesia harus membeli bibit itu, dan kelak harus mengurangi subsidi pertanian, misalnya?

Ya memang seperti itu. Mula-mula ada subsidi. Mengurangi sih boleh-boleh saja. Persoalannya adalah bagaimana mengaturnya. Pemberian kredit juga hal baru. Dulu mula-mula lewat kepala desa. Namun kemudian yang dapat kredit hanya lapisan-lapisan tertentu. Tetapi ada satu contoh baik dari kredit—yang bukan kredit dari luar: kemampuan menabung keluarganya. Kredit itu hanya tambahan. Banyak yang ternyata memiliki simpanan yang lebih tinggi daripada pinjamannya. Ini adalah kemampuan membangun modal sendiri. Jadi, kuncinya adalah belajar menabung.

Ditambah dengan penanaman modal asing?

Ini bagus sekali. Sebab bisa memberi peluang bagi perusahaan kecil maupun untuk buruh. Kalau industrinya lebih maju, kesejahteraan mereka juga ikut meningkat. Buruh itu umumnya lulusan SMA. Mereka itu bisa dilatih apa saja. Kalau tidak bisa, berarti tidak akan dipakai lagi.

Modal itu bisa membantu industri yang masih muda atau malah yang sudah menjadi tradisi. Industri sepatu, misalnya. Di Bogor sudah lama ada industri sepatu yang berdiri. Malah industri sepatu Bata bekerja sama dengan mereka. Bogor yang bikin, Bata yang jual. Jadi, tidak perlu saling mematikan seperti industri setrup vs syrup, jajanan anak vs snack. Begitu….

Apa yang harus dilakukan Indonesia pada kahirnya untuk mengentaskan penduduk miskin?

Ya harus menyadari kemampuan sendiri. Terutama kemampuan “si kecil” itu. Mereka ‘kan juga punya kemampuan. Untuk bersatu, kelompok mereka kecil-kecil, tidak pernah lebih dari sepuluh orang, misalnya. Ya biarkan saja begitu. Jangan paksa mereka yang sepuluh orang itu harus menjadi kelompok besar. Waktu IDT itu ‘kan syarat anggota kelompok harus 30 orang. Dari mana 30 orang itu? Mana bisa mereka saling kenal?

Seharusnya, kelompok kecil malah lebih efektif. Mereka bisa mendapat kredit lebih besar. Dananya ‘kan bisa dihitung, desa ini dapat berapa, desa itu berapa. Ya, ikuti kemauan rakyat saja. Nanti mereka akan bikin peraturan bagaimana mengamankan kepentingannya sendiri. Sebab pada waktu itu, Inpres desa yang dari pusat sering dimanfaatkan untuk membeli barang-barang yang tidak diperlukan rakyat. Jadi tidak ada gunanya. Apa baiknya sajalah.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan