-->

Arsip Tokoh Toggle

Moeslim Abdurrahman, Obituari Penulis Buku "Islam Transformatif"

Oleh Muhammad AS Hikam

Kang Moeslim Abdurrahman, bagi saya, adalah sosok multi-talenta. Ia bukan saja seorang penulis, peneliti, aktivis LSM, dosen, politisi, tetapi juga seorang yang penuh humor dan canda.

Sebelum mengenal almarhum face to face, secara intelektual saya sudah diperkenalkan oleh almaghfurlah Gus Dur beberapa tahun sebelumnya. Sering dalam obrolan di PBNU atau dalam perjalanan kluyuran bersama almaghfurlah dan Pak Ghofar Rahman (mantan Sekjen PBNU dan aktivis LSM juga), nama Kang Moeslim muncul dengan kekocakannya yang brilian. Bahwa Kang Moeslim adalah seorang intelektual Islam yang berlatarbelakang Muhammadiyah, tidak menjadi masalah bagi Gus Dur seperti juga intelektual dengan latar belakang lain. Maka sebelum saya bertemu Kang Moeslim di kampus Cornell University Ithaca, NY pada 1994 -kalau tak keliru, saya sudah mengagumi dan menjadikannya sebagai salah satu figur intelektual yang harus saya timba kawruh dan pengalamannya.

Dan memang tidak keliru. Bersama almaghfurlah Gus Dur, almarhum Cak Nurcholish Majid, almarhum Romo Mangunwijaya, almarhum Aswab Mahasin, Pak Djohan Effendi, Pak Chabib Chirzin dan beberapa nama cendekiawan dan aktivis senior lain, saya kira almarhum Kang Moeslim adalah salah satu “hero” dalam kehidupan kecendikiawanan saya. Kendati tak selalu sependapat dengan pandangan dan langkah-langkah politik almarhum, tapi toh tak menghalangi saya untuk selalu berusaha mengikuti perkembangan pemikirannya sampai detik terakhir.

Saya bertemu terakhir dengan almarhum saat Pak Hendroprijono mengadakan pesta ulang tahun dan peluncuran buku awal Mei 2012 lalu di Hotel Dharmawangsa. Waktu itu saya lihat beliau masih seperti biasa: ceria dan penuh canda dengan tampilan khasnya yang sangat sederhana untuk ukuran seorang cendekiawan kaliber internasional.

Kang Moeslim adalah figur cendekiawan hibrid, seperti juga Gus Dur almaghfurlah. Dia tidak merasa terlalu silau sebagai seorang doktor lulusan salah satu universitas terkemuka di AS, yakni University of Illinois at Urbana-Champaign. Sosok Kang Moselim selalu mengingatkan saya kepada sosok Asghar Ali Engineer, cendekiawan Muslim dari India yang sangat sederhana, kocak, dan brilliant, yang juga karib dari almaghfurlah Gus Dur.

Buat Kang Moeslim tidak ada hal yang tidak bisa dibahas secara mendalam dan non konvensional. Mirip almarhum Ahmad Wahib yang juga karib Pak Djohan Effendi, Kang Moeslim tak segan atau menghindar dari kontroversi kendatipun harus beresiko terhadap kehidupannya. Jarang seorang cendekiawan yang guyonnnya agak “kurang ajar” di hadapan Gus Dur, dan rasanya almaghfurlah pun selalu ngakak bila di sekitarnya ada beliau.

Kang Moeslim adalah cendekiawan muslim avant garde, yang pikirannya tak mau dihalangi batas-batas aliran dan benua. Seorang jebolan pesantren kampung tetapi juga mampu bicara dalam seluruh fora dunia tentang masalah-masalah keislaman yang terjait dengan kemiskinan, kesalehan beragama, dan trensformasi umat beragama termasuk Islam. Ia memang asli Muhammadiyah tetapi sangat dekat dengan NU karena beliau share dengan terobosan yang diupayakan Gus Dur almaghfurlah.

Kang Moselim juga mengakrabi para kampiun cendekiawan seperti Romo Mangun, dan Bu Gedong dari Bali karena kesamaan obsesi mereka dengan pendidikan dan menyantuni kaum miskin. Sama dengan almarhum Gus Dur, almarhum Ibu Gedong dan almarhum Romo Mangun, Kang Moeslim juga sangat mengagumi Paolo Freire yang model pendidikannya berupa membebaskan kaum miskin dari jebakan struktural dan model pendidikan elietis yang memantapakan struktur penindasan atas nama ilmu pengetahuan!

Saya sangat berhutang budi kepada Kang Moeslim karena kecermatannya dalam mengupas masalah dan kesederhanaan dalam hidup. Saya kehilangan salah satu figur cendekiawan setelah Gus Dur yang mampu membongkar urusan yang kompleks menjadi cukup sederhana tanpa pretensi keilmuan yang ndakik-ndakik. Kang Moeslim yang saya kenal adalah seorang cendekiawan yang membumi, dan seorang yang membumi dengan tuntunan kecendekiaan. Kang Moeslim, saya teramat kehilangan anda. Selamat jalan Kang, salam hormat saya untuk almaghfurlah Gus Dur. Insya Allah anda berdua akan bertemu dan guyon lagi dalam keabadian.

Muhammad AS Hikam, Penulis adalah mantan Menristek era Presiden Gus Dur, Wakil Rektor President University

Sumber: rmol.co, 9 Juli 2012, “Gus Dur Selalu Ngakak Bila Ada Kang Moeslim”

Ineke Turangan: Buku Kreasi Janur

Janur, tiga kuntum anggrek, dan serumpun setaria itu menjelma menjadi seperti gunungan, perlambang bumi dan segala makhluk hidup penghuninya dalam pewayangan Jawa. Dengan irisan dan lipatan lain, janur pun menjelma jadi sriti, burung-burung kecil yang bersukaria terbang dalam kawanannya.

Teresa Maria Ineke Turangan (48) merangkai aneka bentuk janur—dan sisipan bunga—lalu memuat model-model rangkaian itu dalam buku Janur, Introducing Tradition into Modern Style. Buku dalam dua bahasa ini ia luncurkan setahun lalu. ”Lebih banyak pembaca dari luar negeri yang antusias menyambut daripada di negeri kita sendiri,” ujarnya.

Ineke bukan sekadar menulis buku. Ia juga mendirikan dan mengelola Newline Floral Education Center sejak tahun 2003. Di sekolah itu, ia mengajarkan teknik melipat, mengiris/memotong, dan menganyam janur menjadi rangkaian cantik dan bentuk karya seni.

Tidak cukup sampai di situ, janur juga materi flora yang selalu ia promosikan dengan bangga sebagai kekayaan tradisi Indonesia dalam berbagai forum demo dan ekshibisi di berbagai negara. Saat ini, Ineke aktif sebagai anggota beberapa asosiasi desainer bunga internasional. Itulah profesi yang ia lakoni: desainer bunga dan pengajar seni merangkai bunga.

Berbeda dengan penjual bunga (florist), desainer bunga atau floral designer mendesain segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga ataupun materi flora lainnya, seperti daun, akar, sulur, dan batang. Seorang desainer membuat suatu rangkaian flora—termasuk bunga, mendesain dekorasi ruang atau gedung dengan materi flora, dan menciptakan tren.

Sebagai desainer bunga, selama 12 tahun terakhir, Ineke adalah koordinator dan desainer keseluruhan penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada setiap peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Ia akrab dengan aneka jenis flora yang juga ia manfaatkan dalam karyanya. Namun, janur—daun muda dari pohon kelapa—menempati posisi khusus di hati Ineke.

”Saya sebel jauh-jauh ke Jerman, belajar macam-macam teknik jalinan, eh, di sana bahannya cuma rumput,” ujarnya menuturkan saat awal ia mendalami salah satu teknik merangkai bunga. Indonesia punya janur yang bernilai seni tinggi. Janur pun sudah menjadi bagian dari berbagai kegiatan tradisi turun-temurun di negeri ini.

Di Bali, rangkaian bunga dan buah terbingkai dengan janur dalam upacara keagamaan dan adat. Di Jawa, upacara pernikahan sesuai tradisi menggunakan janur. Janur lebih dari sekadar pembungkus ketupat saat Lebaran.

”Saya percaya di berbagai daerah banyak yang bisa merangkai janur, bahkan lebih bagus daripada yang ada di buku saya. Namun, mereka belum melihat pasarnya siapa,” ujar ibu dua anak ini.

Nilai janur

Di luar lingkup acara tradisi, janur bukan perangkat dekorasi yang dipandang berkelas. ”Konsumen kelas atas belum melihat janur sebagai sesuatu yang orisinal dan punya nilai seni. Mereka lebih memilih bunga impor seperti lili dan mawar.”

Padahal, Ineke menemukan penghargaan dunia luar pada rangkaian janur yang ia suguhkan di berbagai kesempatan. ”Saya promosi janur ke luar negeri dengan harapan apresiasi dari luar itu akan membuat kita lebih menghargai apa yang kita punya. Biasanya kalau sudah populer di luar, baru kita bilang, lho itu, kan, dari Indonesia.”

Situasi ini membuatnya geregetan. Ia sudah menyaksikan beragam jenis bunga yang tumbuh di pedalaman hutan Indonesia ”diambil” bibitnya lalu dikembangkan dengan budidaya dan teknologi di negara-negara lain. Lalu, dipopulerkan sebagai milik mereka. Jangan sampai tragedi yang sama terjadi pada janur.

”Itu yang mendorong saya membuat buku tentang janur dan mendirikan sekolah ini. Saya ingin kita lebih sadar bahwa kita punya sesuatu yang berharga untuk kita olah menjadi karya seni, lapangan kerja, alternatif mencari nafkah.”

Dengan janur, pada suatu forum di Belanda, misalnya, Ineke menampilkan bentuk baju-baju daerah Indonesia melalui tatanan di manekin. Tergelitik menyaksikan itu, banyak yang menyarankan kepada Ineke untuk mendorong perangkai janur di Indonesia mendalami ilmu melipat dan mendapatkan gelar di bidang itu.

”Aduh, boro-boro mau ambil spesialisasi melipat, yang umum dalam merangkai bunga saja di Indonesia enggak ada sekolahnya. Di Eropa dan Amerika, ada pendidikan dan gelar khusus untuk itu.” kata Ineke yang meraih gelar sebagai desainer bunga bersertifikasi dari American Institute of Floral Designers.

Berawal dari Baju

Maria Teresa Ineke Turangan lebih dulu ahli mendesain busana sebelum menggeluti desain flora. Ia merampungkan pendidikan di Paris Academy School of Fashion di London, Inggris. Kemudian selama 10 tahun menggeluti bisnis fashion dengan mengelola butik miliknya di Jakarta.

Perkenalannya dengan bunga semula sekadar karena ketertarikan mengikuti kelas ikebana atau merangkai bunga ala Jepang pada tahun 1990-an. Ternyata, hatinya terpikat di situ. ”Begitu mulai belajar bunga, saya seperti haus ingin terus memahami lebih banyak,” ujarnya.

Beragam program pendidikan tentang seni merangkai bunga dan desain flora di berbagai negara—Amerika Serikat, Belanda, Australia, Jerman, dan China—ia ikuti. Bunga dan aneka bentuk flora lainnya menyedot perhatian dan energi Ineke, hingga ia tak melanjutkan lagi bisnis fashion yang sudah sempat mapan berjalan.

Tak cuma tancap

Berulang kali Ineke menghadapi ”keheranan” orang tentang apa perlunya belajar merangkai bunga. Toh, tinggal tancap-tancap saja bunga sudah akan tersaji cantik, begitu pendapat sebagian orang. ”Ternyata semua ada ilmunya. Makin dipelajari, makin terasa perlunya terus belajar.”

Pandangan awam lainnya, asalkan bunganya cantik dan segar—apalagi mahal—rangkaiannya bukan perkara penting. Padahal, dengan seni merangkai bunga, keindahan bisa ditampilkan bukan hanya oleh bunga yang mahal, melainkan juga dengan daun kering—termasuk janur yang dikeringkan—dan kulit batang.

Ineke bercerita, salah satu momen mengesankan baginya, adalah saat menerima kunjungan salah satu pembimbingnya, Gregor Lersch, guru besar seni merangkai bunga dari Jerman yang begitu mencintai ilmu botani. Di Kebun Raya Bogor, sang profesor menjelaskan bagaimana setiap pohon yang dia lihat menginspirasi suatu rangkaian bunga.

”Kalau dibilang cuma tancap-tancap, ya, bisa saja begitu. Namun, kalau kita pelajari, kita akan tahu persis apa yang kita buat dengan rangkaian itu. Alam, bentuk bangunan, bahkan motif kain semua bisa jadi sumber inspirasi merangkai bunga,” ujar Ineke.

Totalitasnya belajar, kemudian mengajar bunga, sekaligus mempromosikan kekayaan flora Indonesia itu pula yang membuat Ineke terpilih menjadi koordinator dan desainer penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus sejak era Presiden BJ Habibie tahun 2000 hingga saat ini.

Setiap tahun, untuk dekorasi flora Istana pada acara 17 Agustus itu, dipilih tema suatu daerah. Tahun 2011, misalnya, dipilih tema Papua. ”Papua punya daun kadaka. Satu lembar daun itu bisa setinggi orang, hampir 2 meter. Desainnya saya buat lebih natural. Rangkaiannya tidak pakai vas-vas, tetapi pakai pisang-pisangan atau air.” (DAY)

*)Kompas, 8 Juli 2012

Chairul Tanjung, Si Anak Singkong

CTOleh: Dedi Muhtadi dan Cornelius Helmy

Dari selembar kain batik halus milik ibunya, 31 tahun lalu, Chairul Tanjung atau CT kini mampu menyediakan pekerjaan bagi sekitar 75.000 orang di berbagai perusahaan miliknya. Kalau rata-rata karyawan itu anggota keluarganya empat orang, maka sekitar 300.000 orang hidup dari berbagai kegiatan usahanya.

Saya yakin, hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kehendak Yang Maha Kuasa,” ujar Chairul saat berbincang santai di sela-sela kesibukannya mempersiapkan peresmian Kompleks Trans Studio dan hotel mewah berstandar internasional, Trans Luxury Hotel, di Bandung, Jawa Barat, Kamis (28/6) malam.

Oleh karena itu, ekspansi bisnis ke berbagai bidang usaha yang dilakukannya merupakan bagian rasa syukur dari semua kesempatan yang diberikan Allah SWT.

Bagi Chairul, rasa syukur tak cukup hanya berdoa dan mengucap alhamdulillah, tetapi harus bekerja keras dan terus berusaha. Dengan berkembang, berarti semakin banyak kesempatan kerja dan semakin banyak orang bisa hidup dari perusahaannya. Dan, sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang berguna untuk manusia lainnya.

”CT di mata saya adalah seorang Indonesia yang diimpikan siapa saja. Muda, bekerja keras, sukses besar, bersih dan gentleman,” ujar Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan.

Namun, Chairul berusaha tetap rendah hati. Ia merasa bukan orang pintar karena orang pintar di negeri ini banyak. Begitu pula yang bekerja keras, pun tidak sedikit.

Sukses menjalankan usaha dan mempekerjakan puluhan ribu orang tidak membuat Chairul merasa menjadi aktor utamanya. ”Itu skenario Yang Maha Kuasa,” ujarnya.

Kain batik halus

”Chairul, uang kuliah pertamamu yang Ibu berikan beberapa hari lalu Ibu dapatkan dari menggadaikan kain halus Ibu. Belajarlah dengan serius, Nak.” Kata-kata yang diucapkan Hj Halimah, ibunda Chairul, itu masih terngiang jelas dan menyentuh kalbu yang paling dalam.

Ia tidak menyangka ibunya terpaksa melepas kain batik halus simpanan untuk membiayai ongkos masuk kuliahnya di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (UI) tahun 1981. Padahal Chairul yakin, kain batik itu adalah harta paling berharga yang kala itu dimiliki ibundanya.

”Di satu sisi, saya terpukul dan terharu mendengar hal itu. Namun, dari situlah saya bertekad tidak akan meminta uang lagi kepada ibu. Saya harus bisa memenuhi biaya kuliah sendiri,” kata Chairul.

Kompleks bisnis terpadu itu akan dibuka Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan duta besar sejumlah negara. Ia mendedikasikan acara ini untuk perjuangan ibunya, Halimah, yang telah menjadi sosok penyemangat hidupnya hingga kini.

Batik halus yang mirip dengan milik ibunya dulu, akan dijadikan suvenir utama bagi para undangan.

Buku praktikum

Titik balik kemandiriannya dimulai saat Chairul melihat peluang usaha pembuatan buku praktikum kuliah. Ia menjual cetakan buku praktikum dengan harga lebih murah dibandingkan dengan di kios fotokopi yang ada di sekitar Kampus UI.

Ia bekerja sama dengan usaha percetakan milik kerabat salah seorang temannya. Beruntung, usaha pertamanya ini dilakukan tanpa modal karena pemilik percetakan tak mengharapkan uang muka. ”Keuntungan pertama saya Rp 15.000, dan terhitung besar pada zaman itu. Namun, pengalaman yang paling berharga adalah saat belajar soal jaringan dan kepercayaan,” cerita Chairul Tanjung.

Pengorbanan ibu dan keuntungan Rp 15.000 pertama itu membangkitkan rasa percaya dirinya. Perlahan Chairul mengembangkan usahanya dengan mencoba bisnis importir alat kedokteran hingga eksportir sandal.

Dia juga pernah merugi saat gagal merintis pembuatan pabrik sumpit. Namun, kejadian itu tidak membuatnya patah arang.

”Saya selalu menerima kegagalan dengan tangan terbuka. Percaya atau tidak, bila semuanya diterima dengan terbuka, lama-lama kegagalan akan enggan datang,” selorohnya.

Berbekal semangat dan filosofi itu, Chairul dikenal sebagai salah satu pengusaha sukses Indonesia kini. Majalah Forbes menempatkan Chairul Tanjung pada urutan 937 orang kaya di dunia dengan total kekayaan satu miliar dollar AS.

Beberapa kalangan menyebut Chairul bertangan emas, yang bisa menjadikan semua usahanya nyaris sempurna.

Mengambil alih

”Tangan emas” dibuktikannya saat mengambil alih kembali Bank Mega tahun 1996. Saat itu Bank Mega tengah sakit keras dengan saldo merah di Bank Indonesia mencapai Rp 90 miliar. Sebesar 90 persen di antaranya merupakan kredit macet. Hasilnya, tahun 2011 Bank Mega masuk jajaran 12 bank di Indonesia dengan aset Rp 62 triliun.

Stasiun televisi TransTV dan Trans7 dibawanya menjadi favorit masyarakat dengan program yang dikelola sendiri oleh para personelnya. Pusat hiburan masyarakat di Makassar dan Bandung, seperti Trans Studio, pun dalam waktu singkat menjadi kawasan idola masyarakat Indonesia.

Tidak heran, banyak perusahaan berskala lokal dan internasional menawarkan diri untuk dibidaninya. Salah satunya adalah saat dia mengakuisisi raksasa ritel Perancis, Carrefour. Chairul mengatakan, bukan dia yang memilih mengakuisisi, tetapi pihak Carrefour yang menawarkan kepadanya tahun 2010.

Selain terus membuka kesempatan kerja lewat berbagai unit usaha baru, Chairul Tanjung juga menggagas berbagai organisasi dan kegiatan amal, baik untuk warga miskin maupun korban bencana alam. Di antaranya lewat Chairul Tanjung Foundation, Rumah Anak Madani, Komite Kemanusiaan Indonesia, dan We Care Indonesia. ”Saya sempat terharu saat seorang warga mengatakan akan terus berbelanja di Carrefour agar saya bisa membantu semakin banyak orang,” katanya.

Sebagai manusia biasa, Chairul Tanjung juga pernah punya kekhawatiran besar. Ia merasa cemas bila tidak punya energi lagi untuk mengurus perusahaan yang memayungi puluhan ribu orang ini.

Namun, dia menambahkan, sekarang ia sudah punya jurus jitu untuk menekan kecemasan itu. Tahun 1995, saat mengantar ibunda menunaikan ibadah haji, di pintu Kabah ia mengikrarkan diri sebagai prajurit Allah.

”Sebagai prajurit, apa pun yang Dia berikan, baik, buruk, susah, senang, ringan, berat, insya Allah akan senantiasa saya jalankan dengan ikhlas. Saya pasrah kepada-Nya yang sudah memberikan berkah ini. Karena, toh, dulu juga saya bukan siapa-siapa,” ujar Chairul tersenyum, tanpa beban.

Sumber: Kompas, 2 Juli 2012, “Chairul Tanjung, Tangan Emas, Skenario yang di Atas”

Wendo dan Tujuh Samurai

Oleh Agus Sopian

RESMINYA, ia bernama Sarwendo. Lantaran dianggap kurang komersial dan … ngepop, ia mengubahnya jadi Arswendo. Di belakangnya, ia bubuhkan nama sang ayah. Jadilah ia Arswendo Atmowiloto. Untuk menyapa, Anda tak perlu bersusah-payah menyebut selengkap-lengkapnya. Cukup memanggil Wendo, pasti ia menoleh.

Lebih 10 tahun silam, tabloid yang dipimpinnya, Monitor, membuat semacam angket. Ekornya, publik tak cuma kaget. Tapi juga marah. Ia dituding menghina Nabi Muhammad S.A.W. Ia dihujat melukai hati kaum Muslim, warga mayoritas di Indonesia.

Kemarahan itu mereka luapkan dalam aksi-aksi unjuk rasa sepanjang akhir Oktober hingga awal November 1990. Klimaksnya, Wendo ditahan. Dari sini klimaks-klimaks lain bermunculan: organisasi wartawan tempatnya berlindung mencabut status keanggotaannya, perusahaan tempatnya bekerja mempreteli seluruh jabatannya, pengadilan tempatnya mencari selarik sinar keadilan malah menggodamnya dengan hukuman maksimal.

Jangan tanya Monitor, anak rohani kreativitas Wendo. Sebelum dirinya benar-benar masuk bui, tabloid “ser dan lher” itu sudah tewas di tangan penguasa.

Kekusutan nasib Wendo tak hanya sampai di sana. Keluarganya, yang semula hidup berkecukupan, tiba-tiba kelimpungan. Cecilia Tiara, si bungsu, terpaksa bersekolah sambil berjualan kue buatan ibunya. Separuh harta mereka ludes dipakai mengongkosi perkara Wendo. Perkara Monitor juga.

Wendo habis?

KEAHLIAN melukis tato menyelamatkan Wendo. Tak berani menato orang, sandal jepit jadi sasaran. Dalam sehari, Wendo bisa menggambari sandal sampai berpuluh-puluh. Sandal yang mulanya cuma berharga Rp 500, bisa ia lego dengan harga Rp 2.000 – Rp 2.500 setelah ditato.

Belakangan, ia mengajarkan keahliannya pada anak-anak buahnya. “Saya punya anak buah sampai 700 orang. Saya jadi bos yang tak terlawan. Bener-bener bos dari yang bos,” kata Wendo kepada saya dengan nyengir khasnya.

Seperti bos gangster dalam kisah-kisah mafioso, hari-hari Wendo berikutnya hampir tak pernah luput dari kawalan. Minimal ada dua “letnan” Wendo yang sangat setia. “Saya nggak tahu siapa mereka sebenarnya. Saya namai mereka Charlie dan Safei,” ungkap Wendo. Charlie berasal dari Manado, Safei datang dari Madura.

Pernah suatu ketika Wendo berjalan-jalan menghirup angin. Charlie dan Safei tiba-tiba berlari menyalip. Orang di depan Wendo, mereka pukul bergantian. “Ngapain kamu mukul-mukul orang. Kan dia nggak salah?” hardik Wendo.

“Dia ngalangin jalan, Bos,” Safei menjawab.

“Kamu tahu,” Wendo menyunggingkan senyum pada saya, “orang nginjek bayangan saya, bisa dipukul. Itu real.”

Satu-satunya sumber ketakutan Wendo sejak awal adalah aktivis A.M. Fatwa dan Tony Ardhie. Anda tahu sendiri, mereka dikerangkeng rezim Orde Baru karena memperjuangkan keyakinan politiknya yang berbasiskan syariat Islam. Bukannya mengambil jarak, Wendo malah mendekati mereka. Persahabatan terjalin.

Dicky Iskandar Dinata, yang kebetulan selnya bersebelahan, pun jadi sahabat Wendo. Bahkan, santer dikabarkan, sebagian anak buah Wendo didapat dari keakrabannya dengan pesakitan kasus valuta asing Bank Duta itu.

Persahabatan yang kian meluas memudahkan Wendo bersosialisasi. Ia makin tahu seluk-beluk penjara. Tahu aturan main, penjara jadi ramah buat Wendo. Ruang komunikasi yang dulunya sempit, tiba-tiba saja jadi serasa longgar. Wendo menggunakan ruang ini untuk mulai mengintensifkan aktivitas menulisnya, yang sempat tertunda untuk beberapa waktu lama karena larangan membabi-buta. Ini jangan, itu tak boleh.

Ia memelihara kepercayaan sipir dengan berlaku “koperatif” ketika diinspeksi. Ingat inspeksi, ingat sensor. Ingat sensor, Wendo jadi ingat pengalaman yang membuatnya sering senyum-senyum sendiri. Kisahnya, suatu saat Wendo menerima sepucuk surat dari temannya di luar negeri. Sipir yang bertugas menyensor memerintah Wendo untuk menerjemahkan surat tersebut. “Sensornya hilang,” Wendo ngakak.

Pengalaman membekas buatnya juga berlangsung tatkala membuat naskah novel. “Sensor … sensor ….” seru sipir, mengetuk-ngetuk dinding selnya, “mana ini lanjutannya?”

“Hahaha…” Wendo tergelak, “rupanya gara-gara nyensor jadi suka baca novel.”

Selama di sel, Wendo sekurang-kurangnya mengarang tujuh novel. Belum lagi puluhan artikel, tiga naskah skenario, dan beberapa cerita bersambung. Sebagian di antaranya ia kirimkan ke redaksi suratkabar seperti Kompas, Suara Pembaruan dan Media Indonesia. Tentu saja dengan alamat gadungan dan identitas palsu. Untuk alamat, ia acap menggunakan “Jalan Bekasi Raya 45.”

“Sampai tahun 1995 saya belum pake nama sendiri. Saya cuma ingin membuktikan bahwa saya profesional di bidang ini,” ungkapnya. Ia kemudian menyebut nama-nama samaran yang digunakannya selama ngendon di penjara dan beberapa tahun sesudahnya. Sekadar untuk menyebut contoh, Wendo menggunakan nama Sukmo Sasmito untuk Sudesi (Sukses dengan Satu Istri), novelnya yang dimuat sebagai cerita bersambung di harian Kompas. Sedangkan untuk cerita bersambung Auk di Suara Pembaruan, Wendo memakai nama Lani Biki, kependekan dari Laki Bini Bini Laki, nama iseng ia pungut sekenanya. Masih ada nama lain yang juga dipakainya. Katakanlah Said Saat atau B.M.D Harahap.

Tulisan Wendo tak cuma hasil lamunan. Inspirasinya antara lain juga mengalir dari perpustakaan yang ia bangun di bloknya.

“Siapa pun boleh membaca di situ,” kata Wendo. “Syaratnya cuma dua. Satu, kaki harus bersih. Dua, sudah mandi.”

WENDO lahir di Harjopuran, Surakarta, pada 26 Nopember 1948. Ia anak ketiga dari enam bersaudara. Sarono adalah sulung mereka, yang di belakang hari mengubah namanya jadi Satmowi Atmowiloto. Di bawah Sarono berturut-turut Kamtinah, Wendo, Kamtari, Sarsidi, dan Kusukaningsih. Sarsidi, yang tak pernah melepaskan nama baptisnya, Gregorius, kelak ikut Wendo mengeloni Monitor.

Ayah mereka, Djoko Kamit, kemudian mengganti namanya jadi Atmo Wiloto, meninggal pada 1960 dalam usia 68 tahun atau saat Wendo duduk di bangku kelas lima sekolah dasar. Sang ayah lulusan AMS (Algemene Middelbare School), setingkat sekolah menengah atas. Menjelang hayatnya berakhir, ia bekerja di balai kota Surakarta. Sedangkan ibu mereka, Sardjiem, meninggal pada 1965. Praktis, di usia 17 tahun Wendo jadi anak yatim-piatu.

Sejak ayahnya meninggal, mereka hidup dari uang pensiunan dan sewaan pendopo rumah yang disulap jadi Sekolah Dasar Negeri Harjopuran. Bagi mereka, sekolah itu jelas mendatangkan berkah. Wendo dan saudara-saudaranya hanya perlu beberapa langkah dari tempat tidur untuk menuntut ilmu.

Wendo hampir tak pernah mendapat uang saku untuk jajan. Tapi ia bukan tipe manusia melankolis dan terus-menerus meratapi nasib, yang makin hari makin terasa kalau ia dan saudara-saudaranya ternyata miskin. Majalah Tempo pada 1990 pernah secara dramatis mendeskripsikan kemiskinan mereka, yang untuk membeli beras saja terpaksa harus mencongkel beberapa lembar genting untuk dijual.

Karenanya, ia memburuh: dari tukang pungut bola tenis, kuli pabrik bihun, sampai jaga sepeda di apotek. Di sela-sela waktu kerjanya, Wendo meluangkan waktu membaca komik dan cerita wayang. Pengarang favoritnya R.A. Kosasih dan B. Ardi Soma, keduanya komikus asal Bandung dan sangat terkenal dalam dekade 1970-an. “Mungkin kamu benar gara-gara itu daya khayal saya kuat sekali,” kata Wendo pada saya, di awal November 2001.

Daya khayal itu pula agaknya yang menuntun Wendo ke dunia tulis-menulis. Awalnya, saat duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas, tahun 1967, iseng-iseng Wendo membuat tulisan. Ia mengirimkannya ke Gelora Berdikari, suratkabar mingguan di kotanya. Ia kaget sendiri sebab tanpa dinyana tulisannya ternyata dimuat. “Lupa berapa honornya, Rp 150 atau Rp 1.500. Tapi kira-kira cukup untuk makan tiga harilah,” kata Wendo.

Tamat sekolah menengah atas, Wendo girang betul begitu dinyatakan mendapat beasiswa ikatan dinas dari Akademi Pos dan Telekomunikasi Bandung, pada 1968. Kegirangan yang wajar, agaknya. Tidak banyak siswa yang mendapat keberuntungan seperti itu. Dari Jawa Tengah, hanya dua orang yang beruntung. Wendo di antaranya.

Hari-hari terakhir berangkat ke Bandung tiba. Pagi-pagi sekali Wendo keluar dari rumahnya dengan membawa tiga setel pakaian di dalam tasnya. Ia berjalan sepanjang lima kilometer dengan tujuan stasiun kereta api Solo-Balapan. Pukul 07.00 lebih Wendo sampai di sana.

Di tengah arus manusia, Wendo menunggu kereta datang dengan hati gamang. Kereta api ke Bandung biasanya berangkat dari Solo-Balapan sekitar pukul 09.00 kalau tidak ada gangguan. Ini artinya, Wendo punya banyak waktu untuk mencari wajah-wajah yang mungkin dikenalnya.

Sepanjang penantian Wendo berjalan hilir mudik. Sama sibuknya dengan kaki, kepalanya tengok kanan tengok kiri.

Dari sebelah timur, pukul 09.00 lebih, lokomotif mengasapi langit. Mestinya Wendo senang sebab kota Bandung yang hendak ditaklukkannya tinggal hitungan jam. Tapi Wendo justru tambah gamang. Kegetiran merambati sekujur dirinya.

Kereta api berangkat. Wendo masih berdiri di sana. Rupanya, ia tak berhasil mencari wajah-wajah yang dikenalnya itu. Ia tak punya duit untuk beli karcis.

Wendo putar badan. Sekali lagi ia menempuh perjalanan sepanjang lima kilometer, menyusuri rute yang dijejaknya tiga jam lalu. Kali ini ia memikul beban harapan yang baru saja hilang.

URUNG kuliah di Bandung, Wendo tidak terus-menerus menyumpahi takdirnya. Ia kembali pada kegiatan yang telah dirintisnya: menumpahkan imaji-imajinya ke dalam tulisan dan mengirimkannya ke berbagai media massa.

Sejumlah cerita pendek, baik dalam bahasa ibunya, bahasa Jawa, maupun bahasa Indonesia, ia kirimkan ke Gelora Berdikari di Surakarta dan majalah Mekarsari Yogyakarta. Jakarta pun ditembusnya. Majalah anak-anak Si Kuntjung sering memuat karya Wendo. Belakangan, Wendo bergabung dengan suratkabar mingguan Dharma Kanda terbitan Surakarta. Kegiatan jurnalistik mulai diotak-atik, menulis fiksi terus didalami.

Mengikuti jejak kakaknya, Satmowi Atmowiloto, Wendo menginjakkan kaki di Jakarta pada 1973. Di ibukota, sastrawan Julius Sijaranamual yang sudah lama menunggunya, menyambut Wendo. Ia ditempatkan sebagai wakil pemimpin redaksi Astaga, majalah humor yang didirikan Sijaranamual.

Dari Astaga yang mati muda, Wendo melangkah ke Midi, majalah remaja yang diterbitkan Kelompok Kompas Gramedia. Habis Midi, terbit Hai. Di majalah yang disebut terakhir, Wendo benar-benar mengencangkan tali sabuk dan ngebut dengan sejumlah karya-karya kreatifnya, mulai serial detektif Jawa Imung, petualangan Kiki dan Komplotannya, serta cerita silat Senopati Pamungkas. Remaja generasi 1980-an, terutama pembaca Hai, niscaya tahu buku Wendo yang sangat terkenal: Mengarang Itu Gampang.

Karya-karya itu sekaligus menunjukkan kelas Wendo sebagai wartawan-cum-pengarang produktif. Dengan jumlah lebih 200 cerita pendek, puluhan novel, sejumlah cerita bersambung, beberapa naskah drama, puluhan artikel lepas, esai, dan kolom, produktivitas Wendo jelas tak terlawan oleh siapa pun pada masanya di Indonesia.

Tak usah mendiskusikan hubungan produktivitas dengan kualitas. Wendo agaknya dengan mudah mematahkan teori yang tak jelas asal-usulnya itu. Simak saja daftar pemenang sayembara penulisan naskah drama yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta. Sepanjang tahun 1970-an saja, Wendo tiga kali menyabet juara: 1972, 1974, dan 1975.

Tipikal tulisan Wendo biasanya ringan dan siap saji seperti fast food, renyah bagai rempeyek, dan berasal dari dunia remaja. Tulisan mengenai televisi, lain lagi. Wendo bisa saingan dengan seorang akademisi. Kalau perlu ia bermain-main dengan grafik, tabel, angka-angka. Majalah mingguan Tempo pada 1990 menyebut Wendo sebagai pengamat televisi yang jeli. “Kritik-kritiknya terus mengalir, tanpa peduli ditanggapi atau tidak,” tulis Putut Trihusodo dari Tempo.
Kritik-kritik Wendo terhadap pertelevisian Indonesia, yang pada 1980-an dihegemoni sepenuhnya oleh TVRI, tersebar di berbagai media, terutama Kompas yang jadi rumah keduanya setelah Hai.

Sebagai kritikus televisi, Wendo mengatakan hampir tak pernah mematikan pesawat televisi di ruang kerjanya. Kepada awak Monitor kelak, ia sering berujar, “TV itu altarmu. Rezekimu.”

Ia telah membuktikan kata-katanya, paling tidak pada 1981.

Sekadar menyegarkan ingatan, terhitung sejak 1 April 1981, TVRI mengubah pola siarannya, termasuk membuang siaran niaga. Pada tanggal itu, terlontar janji bahwa TVRI hendak membenahi diri, mengurangi porsi berita-berita seremonial, meminimalisasi laporan aktivitas pejabat.

Wendo sangsi. Maka, mata Wendo pun ditajam-tajamkan untuk memelototi layar kaca secara intensif. Setahun.

Sepanjang April 1982, puncak pengamatannya, Wendo merekam siaran berita TVRI. Hasilnya, ia presentasikan di suratkabar Kompas pada Juni, tahun yang sama. Dalam artikel yang dilengkapi tabel-tabel itu, Wendo memperlihatkan betapa masih dominannya suara pejabat. Itu pun didominasi pejabat tertentu. Tak ada bantahan, tak ada gugatan. TVRI mati angin.

Bukan sekadar menonton. Referensi Wendo tentang masalah pertelevisian banyak didapatkan selagi mengikuti The International Writing Program pada 1979, di Iowa, Amerika Serikat. Program ini –didirikan Paul Engle dan Hualing Nieh Engle pada 1967– dianggap berhasil mengentaskan ribuan penulis berbakat dari 100 negara lebih. Beberapa nama penulis dan pengarang terkenal di Indonesia seperti Taufiq Ismail, Toeti Herati Noerhadi, Nano Riantiarno, Sutardji Calzum Bahri, Ahmad Tohari, atau Putu Wijaya tercatat pernah mengikuti program tersebut.

Mungkin karena kejeliannya itulah, Wendo akhirnya diserahi tanggung jawab mengurus Monitor.

Pada mulanya, Monitor berbentuk majalah. Diterbitkan oleh Direktorat Televisi Departemen Penerangan pada 1972, Monitor lebih berfungsi sebagai gardu jaga TVRI. Tak usah diratapi kalau majalah ini mati suri sejak 1973, setelah terbit 20-an nomor.

Pada Agustus 1980, Monitor dibangkitkan lagi di bawah bendera Yayasan Gema Tanah Air. Berkaca pada pengalaman, redaksi Monitor versi baru tak lagi diasuh oleh para pegawai negeri di lingkungan Departemen Penerangan. Tenaga-tenaga profesional dipompakan ke situ untuk menjaga konsistensi, untuk tidak sekadar asal terbit. Salah seorang di antaranya Lazuardi Ade Sage, yang ditunjuk sebagai redaktur pelaksana.

Debut manajemen baru ditandai oleh meluncurnya oplah sebanyak 25 ribu eksemplar. Lagi-lagi sial, sejak 1984 Monitor mulai limbung. Setahun kemudian ngos-ngosan. Ia jadi “majalah tempo.” Tempo-tempo terbit, tempo-tempo tidak. Akhirnya, lagi-lagi mati suri.

Di tangan Wendo, Monitor terbit tak lagi dalam format majalah menyerupai tipografi Life; tapi tabloid dengan ketebalan 16 halaman, berukuran 285 x 410 milimeter. Harganya dibandrol Rp 300.

Penerbit masih Yayasan Gema Tanah air, namun manajemen sepenuhnya dikendalikan oleh Gramedia. Monitor pada gilirannya jadi ruangan yang sempurna buat perselingkuhan penguasa dan pengusaha. Suatu perselingkuhan antara orang-orang Departemen Penerangan yang acap jadi semacam thypoon bagi kehidupan pers dan orang-orang di Gramedia yang nyata-nyata telah memerankan dirinya sebagai tycoon dalam industri pers Indonesia.

YAYASAN Gema Tanah Air, penerbit tabloid Monitor, sekurang-kurangnya dikuasai pejabat Departemen Penerangan: Harmoko, Subrata, dan M. Sani.

Harmoko, siapa tak mengenalnya. Ia bekas wartawan yang di akhir kekuasaan rezim Orde Baru menjadi tukang stempel pemerintah dalam kapasitasnya sebagai ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat. Saat itu, ia menjabat Menteri Penerangan, penentu hitam-birunya pers Indonesia. Subrata –yang sebelumnya memangku jabatan pemimpin umum tatkala Monitor masih berwajah majalah– adalah direktur TVRI. Di kemudian hari, Subrata diangkat jadi direktur jenderal Pembinaan Pers dan Grafika dan menjadi terkenal ke seluruh dunia karena meneken surat pembunuhan terhadap mingguan Tempo, Editor, Detik pada 1994. Lalu M. Sani, yang relatif tak dikenal dalam percaturan pers, sehari-harinya memangku jabatan direktur radio Departemen Penerangan.

Kedudukan mereka di yayasan itu menempatkannya sebagai para penguasa saham Monitor. Bagian perorangan terbesar berada dalam genggaman Harmoko yang menguasai saham sampai 30 persen. Kelompok Kompas Gramedia santer disebut-sebut menguasai saham hingga mencapai 40 persen. Komposisi ini tak serta-merta mengamankan kedudukan Gramedia selaku pemegang saham mayoritas. Sebab sekiranya terjadi pertarungan zero-sum games dalam rapat umum pemegang saham, Gramedia mudah ditikam oleh gabungan penguasa 60 persen. Opsi saham Wendo sebanyak lima persen, agaknya lebih dimaksudkan untuk menjaga stabilitas Gramedia.

Ada perimbangan kekuatan jadinya. Perimbangan ini terelaborasikan dalam pohon organisasi manajemen puncak. Harmoko komisaris utama; Godfather Gramedia Jakob Oetama direktur utama; Wendo wakilnya. Perimbangan pun dapat terlukis dalam distribusi kekuasaan di tingkat kepala dan leher kepemimpinan Monitor. M. Sani ditunjuk sebagai pemimpin umum menggantikan posisi Subrata. Di bawahnya, sebagai wakil pemimpin umum tercantum nama Suyanto, yang tak lain adik Subrata. Representasi Gramedia lebih ke tingkat operasional, dengan puncak kepemimpinan di bahu Arswendo sebagai pemimpin redaksi.

Kehadiran Wendo di Monitor bukannya tanpa rintangan. Bahkan intrik-intrik di sekitar pendirian Monitor agaknya lebih tertuju pada pribadi Wendo yang dianggap terlampau cepat melesat. Sampai-sampai, di belakang hari, gaya rambut Wendo menyibak kening dan ekspresinya dalam berbicara yang penuh percaya diri, diejek sebagai epigon Jakob Oetama.

“Calon putra mahkota Kompas,” ledek di satu sudut.

“Karbitan,” kata sudut lain.

Wendo cuek.

Ia baru bangkit dari kursinya ketika modal disetor tak diterimanya secara utuh. Aturan, mestinya ia menerima Rp 400 juta sebagai investasi awal, namun yang datang hanya Rp 300 juta. “Asem,” gerutunya.

Wendo kasak-kusuk cari tahu. Ia akhirnya paham juga, Rp 100 juta sengaja ditahan lantaran manajemen Gramedia tak sepenuhnya mempercayai eksistensi Wendo. Rekor kegagalan mengelola Astaga dan Midi, ditambah suara-suara sumbang saingan-saingannya di tubuh Gramedia, agaknya mendeterminasi semua itu.

Soal lain muncul. Wendo yang terlalu bersemangat dengan persiapan, menginjak pedal gas promosi sekencang-kencangnya. Tahu-tahu ia sudah menghabiskan uang sebesar Rp 56 juta. “Semua orang teriak-teriak. Mereka marahin saya,” tutur Wendo.

Apa boleh buat, nasi sudah jadi kerak. Wendo tak punya daya untuk bereaksi. Menghibur diri, ia menerima kemarahan itu sebagai suatu ekspresi semangat kolegial yang sudah mulai mengristal. Sungguh pun demikian, ada efek berantai yang mau tak mau harus dirasakan Wendo dan anak buahnya. Mereka tak bisa membeli perabotan kantor, semisal meubelair. Untunglah, kelak ada pembaca baik hati yang mau menyumbangkan meja-kursi untuk mengisi ruang tamu. “Bukan kursi yang bagus-bagus bener, tapi cukuplah untuk nyantai,” ucap Wendo.

Fasilitas yang minim ditafsirkan Wendo sebagai bekal semangat untuk memacu diri. Diberi izin menerbitkan tabloid pun sebenarnya sudah membuatnya senang. Kini ia tinggal mewujudkan mimpinya membidani lahirnya sebuah media yang tidak melulu berpihak pada topik permasalahan, tetapi juga manusia-manusia yang menukangi topik tadi. “Masyarakat Indonesia,” Wendo menuliskannya nanti dalam Telop, sebuah kolom di halaman awal Monitor, “boleh diibaratkan sebuah kampung, bukan suatu kompleks real estate, tapi juga bukan pemukiman suaka suku terasing. Di dalam sebuah kampung, kita bisa lebih jujur dan berani untuk memuji, mencaci, memberi saran.”

Singkat kata, Monitor menurut Wendo tak disetel untuk menjadi, apa yang dia sebut “pers priyayi.” Pernyataan ini, buat sebagian orang, dapat ditangkap sebagai sebuah tamparan terhadap jurnalisme ala Kompas –yang selama ini dianggap melingkar-lingkar di wilayah kepriyayian itu. Bagaimana sebetulnya jurnalisme Kompas? Kalau pandangan Jakob Oetama dapat dianggap sebagai pemberi warna dominan terhadap cetak biru jurnalisme Kompas, buku lawas Perspektif Pers Indonesia barangkali dapat menjelaskannya.

Di sana Jakob Oetama bertutur, bahwa kecenderungan eksekutif dan masyarakat Indonesia adalah melihat persoalan dari satu segi sehingga get things done, mencapai hasil, jadi prioritas. Kecenderungan ini mendesakkan dimensi cara, termasuk dimensi permasalahan dan dimensi etikanya. Media seperti Kompas, lanjut Jakob Oetama, mempunyai kewajiban untuk melengkapi kecenderungan tersebut dengan menyajikan visi, menampilkan berbagai dimensi, menyoroti dan menekankan dimensi yang terdesak ke belakang.

Yang hendak dimaksudkan Oetama, barangkali, betapa perlunya wartawan membiasakan diri melakukan verifikasi, sehingga isi liputan dapat menjelaskan duduk perkara suatu kejadian, suatu fenomena yang berkembang.

“Fakta itu harus tampil selengkap mungkin,” kata Oetama.

“Jurnalisme Kompas memang baik, tapi itu bukan satu-satunya,” Wendo berkelit di depan saya.
Ia minta waktu kepada para bosnya untuk membuktikan bahwa ada bagian-bagian tertentu dalam masyarakat yang justru minta dilayani oleh jurnalisme di luar mainstream. “Kita ingin melayani ini,” tandas Wendo, yakin akan pandangannya.

Begitu diiyakan, Wendo buru-buru menyiapkan pasukan untuk dikirim ke medan peperangan baru, sebuah zona jurnalisme yang dianggap aneh kala itu.

Wendo tak memerlukan pasukan besar untuk jurnalisme yang diyakininya. Ibaratnya peleton kecil, pasukan Wendo tak sampai sepuluh orang. Mereka berasal dari Gramedia dan Monitor lama. Dari Gramedia, Wendo merangkul Veven Sp. Wardhana, Syamsudin Noer Moenadi, dan Irene Suliana. Dari Monitor lama, ia mengambil Hans Miller Banureah. Mereka mengisi jajaran redaksi. Untuk melengkapi, Wendo menerima Mayong Suryo Laksono, yang disodorkan P. Swantoro, salah seorang redaktur Kompas. Di sektor foto, hadir dua fotografer yang kelak menyangga kekuatan grafis Monitor. Mereka Gunawan Wibisono dan Atok Sugiarto.

Beberapa bulan sebelum Monitor diluncurkan perdana pada 5 Nopember 1986, Wendo dan pasukannya sudah mengambil posisi siap tempur di Jalan Lomba Layar 345, Senayan, Jakarta. Sejumlah mesin tik baru Olivetti dan Brother ditenggerkan dalam keadaan siaga 1 x 24 jam untuk melontarkan kata-kata ke hadapan publik. Tak-tik-tak-tik … Monitor sebentar lagi menggelitik.

SUATU Senin sore di awal Nopember 1986. Hari itu, orang-orang percetakan Gramedia berbaik hati mempersilakan awak Monitor ikut menyaksikan deru mesin cetak Goss Urbanite, yang mampu mencetak tabloid sebanyak 20 ribu eksemplar dalam sejam. Jabang bayi Monitor sedang dipersiapkan kelahirannya.

Seumumnya menunggu kelahiran bayi, mereka menanti dengan harap-harap cemas. Mesin meleset sedikit saja dari area cetak jadi pangkal kecerewetan. Komposisi warna, kualitas cetak, mereka perhatikan dengan seksama. Mereka ingin Monitor tampil mengesankan pada pandangan pertama. Saking ingin terlihat keren, cetakan awal Monitor dilakukan berkali-kali.

“Suasananya seru banget,” sambung Aris Tanjung.

Sebanyak 200 ribu eksemplar akhirnya tuntas dicetak. Wajah-wajah penuh suka cita mengembang di antara bentangan tabloid yang sedang disimaknya. “Nggak nyangka kita akhirnya berhasil juga bikin tabloid,” tutur Tanjung kemudian. Ia ingat, selama berbulan-bulan dirinya pontang-panting mempersiapkan dummy bersama seluruh awak Monitor. Siang, malam.

“Kita mempersiapkannya sembilan bulan,” tambah Tanjung.

“Cepat kok, cuma tiga bulan,” sanggah Wendo.

Edisi pertama Monitor tampil dengan sampul Veronika sedang mendekap gitar. Di bawah judul “Pak Haji Sedang Diuji Tuhan,” bekas istri raja dangdut Rhoma Irama itu bertutur tentang calon suami barunya, sambil menyemburkan kekesalannya pada Rhoma Irama, yang disebut-sebut telah melukai hatinya.

Hanya ada dua judul di sampul itu. Satunya lagi tulisan tentang Tatiek Maliyati, penulis serial drama Losmen TVRI, yang menuturkan resepnya jadi istri ideal. Judulnya menegangkan: “Guna-guna Tatiek.” Item lain, daftar isi yang disandingkan dengan gambar tokoh Oshin, sebuah drama asal Jepang yang konon banyak menguras air mata pemirsa televisi.

Logo Monitor didesain secara atraktif, dengan menggunakan huruf kecil dalam dominasi warna merah, kecuali huruf “t” yang dibiarkan putih–dengan bingkai hitam dan dibentuk menyerupai gagang payung. Di atas logotif, mereka mencantumkan slogannya sebagai “Mingguan Televisi, Video, Radio dan Film” dengan huruf kapital.

Tak ada surat pembaca di dalamnya. “Kejujuran setidaknya kita mulai (dari) penerbitan ini dengan polos. Tanpa surat pembaca, walaupun kami bisa mengarang dan memberikan jawaban. Walaupun kami bisa minta kepada tokoh-tokoh masyarakat yang kampiun. Kami ingin memulai sebisanya, seadanya,” begitu Wendo memberi semacam sambutan edisi pertamanya, sebagaimana tertuang dalam kolom Telop di halaman kedua Monitor.

Seperti juga tipikal tulisan Wendo, sajian Monitor terasa ringan dan akrab. Sederhana. Pendek-pendek. Gaya stakato bertebaran di hampir seluruh halaman, yang didesain rata kiri (align left) dan memberi kesempatan pada mata untuk menangkap ruang-ruang kosong. Dua halaman tengah dijadikan kavling acara televisi untuk sepekan yang diambil dari sembilan stasiun TVRI, termasuk stasiun pusat Jakarta.

Dari keseluruhan halaman, terasa betul kalau Monitor dimaksudkan sebagai media hiburan. Tapi di mana sesungguhnya letak kepioniran Monitor seperti banyak digunjingkan orang itu? Dari segi bentuk, Monitor jelas bukan yang pertama. Tabloid Bola sudah memulainya sejak 1984, setelah sebelumnya menjadi sisipan di halaman tengah Kompas. Juga Mutiara asuhan duet Subagyo–Aristides Katoppo yang mengambil bentuk tabloid sejak awal 1980-an.

Dari segi isi, Monitor pun bukan sang pemula. Jauh di masa lalu, sejumlah media hiburan, di antaranya berisi film dan musik, telah muncul meramaikan persada pers Indonesia. Dalam Rahasia Dapur Majalah di Indonesia, wartawan Kurniawan Junaedhie mencatat, setidaknya sejak tahun 1920-an Indonesia sudah memiliki media-media semacam itu. Ia antara lain menunjuk Doenia Film dan Pertjatoeran Doenia Film.

Agak sulit memang menakar kepioniran Monitor dari penglihatan parsial. Ini karena, kepeloporan Monitor justru terletak pada gabungan bentuk dan isi. Dalam kalimat Wendo, “tabloid bentuknya, tabloid pula isinya.” Di luar negeri, Veven Sp. Wardhana menambahkan, tabloid identik dengan suatu semangat jurnalistik yang mengedepankan laporan-laporan penuh sensasi. Dan Monitor berlaga di wilayah itu.

“Ada sensasi, tanpa berubah menjadi sensasional,” kata Wendo.

“Geber sekarang, konfirmasi nomor depan. Itu semangat Monitor,” Wardhana menggenapi.

Mereka yakin, konsep semacam ini belum pernah dilahirkan dunia pers Indonesia. Mereka percaya, apa yang mereka bikin adalah sesuatu yang genuine, datang dari kepala sendiri. Bukan jiplakan. Bukan pula hasil kerja konsultan. Santer memang disebut-sebut Monitor menggunakan jasa konsultatif Maynard Karper, pemimpin majalah Playboy edisi Belanda.

“O, nggak. Nggak. Dia datang jauh sebelum Monitor terbit. Dia memang memberikan saran pada majalah-majalah di Gramedia. Tapi Monitor dia udah nggak ikut. Saya berani mengklaim itu orisinal,” Wendo menerangkan, dengan raut mukanya serius, dengan intonasi bicara yang penuh tekanan di sana-sini. “Bahwa kita mengintip gaya Daily Mirror atau Sun, itu belakangan. Setelah kita besar.”

“Kita sampai melombakan desainnya,” kata Wardhana, di tempat berbeda, “desain Aries Tanjunglah akhirnya yang dipakai.”

“Dari mana Anda menjiplak?” saya menggoda Tanjung.

“Otak-atik sendiri. Saya membuatnya berkali-kali. Akhirnya sampai ke desain norak itu,” jawabnya. Di seberang telepon, saya mendengar tawa kecilnya.

EDISI pertama Monitor sampai di tangan Jakob Oetama. Ia hanya melihatnya sekilas. “Apa ini? Nggak ada arah,” ucapnya, sebagaimana ditirukan Wendo. Wardhana melukiskan adegannya: Oetama membanting Monitor ke meja.

Tak ada adu argumentasi. Wendo kembali ke markasnya, dan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sembari menunggu datangnya kabar oplah yang terjual.

Kabar yang kemudian sampai sungguh menyesakkan dadanya: Monitor cuma laku sekitar lima persen. Artinya, kurang lebih 10 ribu eksemplar. Ini pun dijual di bawah bandrol: Rp 100.

Segera terbayang di benak Wendo cibiran orang-orang di Gramedia, terutama yang selama diketahui memendam iri padanya. Benar saja. Ungkapan Jakob Oetama ‘apa ini’ tiba-tiba jadi semacam ayat suci buat mereka yang hendak menguliti Wendo. Wendo, yang biasanya menanggapi segala sesuatu dengan lempang, berang juga. Ia merasa diperlakukan tak adil dan dijadikan bulan-bulanan cemoohan.

“Kalau kita jualan seratus, laku satu, itu nggak soal. Tapi tolong jangan dibilang laku satu padahal seratus,” pekiknya, “sekarang kalau perlu cetak lebih banyak dan tolong sampaikan ke masyarakat. Sekali lagi, sampaikan ke masyarakat. Judgement ada di masyarakat. Bukan di kita,” Wendo tidak ingat lagi kepada siapa ia melontarkan kegusarannya. “Tapi itulah yang saya katakan, dan saya ingat.”

Tak ada alasan bagi Gramedia untuk mengikuti saran Wendo menaikkan tiras. Mereka tetap mencetak 200 ribu eksemplar. Berbeda dengan sebelumnya, edisi kedua yang dipasangi gambar sampul Euis Darliah dalam posisi ngangkang dengan rok ditiup angin, diserap pasar sampai 30 persen atau sekitar 60 ribu eksemplar. Optimisme tiba-tiba melompat dari satu meja ke meja lainnya di ruangan redaksi.

Hari-hari berikutnya tambah menyenangkan. Telepon dari pembaca terdengar lebih sering berdering menanyakan ini-itu, termasuk menanyakan bagaimana kalau satu kupon kuis difotokopi agar bisa dipakai rame-rame. Surat-surat pun berdatangan, dan awak Monitor berebutan membukanya. Ucapan selamat terus mengalir dari pelbagai pelosok. Ada juga yang mengirimkan tumpeng sekadar ungkapan tumbuhnya kecintaan pada Monitor.

Reaksi pembaca agaknya bisa diterjemahkan sebagai reaksi pasar. Secara signifikan, tiras Monitor memang terus meningkat pada edisi-edisi berikutnya hingga pada edisi kelima oplah mencapai 200 ribu lebih. Tak berhenti sampai di sini. Pada minggu ketujuh, oplah mengalami ledakan hingga 280 ribu eksemplar. Ini agaknya dipicu edisi sebelumnya yang bersampul panas.
Pada edisi keenam, Monitor memang menurunkan laporan Veven Sp. Wardhana yang menguntit Lina Budiarti, salah seorang bintang tamu serial Losmen. Ia dikenal sebagai artis yang berani buka-bukaan. Budiarti dijadikan gambar sampul, dengan pose aduhai untuk ukuran waktu itu: rambut tergerai melewati bahu dengan kesan basah, dan dada berisi dalam balutan busana renang.

Edisi tersebut sekaligus jadi tonggak awal dibakukannya tipografis Monitor. “Format Monitor baru ketahuan di nomor keenam atau ketujuh,” tandas Wardhana. Dalam format baru, sejauh saya lihat, logo digeser ke pinggir kiri sehingga tidak lagi mengambil posisi sentrum. Ruang kosong di sebelah kanan dipakai untuk iklan kuping. Masih ada perubahan-perubahan lain di bagian dalam, namun saya kira yang paling pokok adalah hal tadi.

Oplah Monitor terus beringsut naik sampai edisi ke-12, dan meledak lagi di edisi ke-14 hingga hampir mencapai 500 ribu eksemplar. Ledakan ini, menurut Wendo, kemungkinan dipicu oleh edisi sebelumnya ketika Monitor menurunkan cover story artis Australia Rebecca Gilling dalam judul “Waaaauuu…!”

Laporan Gilling adalah hasil perburuan Mayong Suryo Laksono dan fotografer Atok Sugiarto. Khawatir keduluan media lain–Gilling akan datang di Jakarta hari Minggu sore, menit-menit deadline buat Monitor–Laksono dan Sugiarto bertolak ke Bali, tempat Gilling akan transit. Semula Monitor hendak mencegat di Sydney, namun mereka cemas tak bisa mendapatkan tiket pesawat. Berhasil. Di berbagai kesempatan, Gilling dapat mereka “todong.”

Lumrah publik begitu antusias ingin mendapat kepingan informasi mengenai Rebecca Gilling. Pemeran tokoh Stephanie Harper dalam Return to Eden –opera sabun asal Autralia, yang sukses di berbagai negara antara lain Indonesia, Turki, dan Polandia– ini mewakili karakter tokoh protagonis yang mengundang simpati. Mungkin ini karena penderitaan yang datang padanya begitu bertubi-tubi: kehilangan anak, dirusak wajahnya, hingga kehilangan perusahaan miliknya.

Return to Eden diproduksi sejak 1983 dalam bentuk blockbuster enam miniseri. TVRI menayangkannya setiap Rabu malam sejak 1986 atau ketika Return to Eden memasuki produksi kedua berisikan 22 episode. Monitor sendiri, sejak edisi kedua, mengangkatnya dalam satu halaman penuh. Di edisi lainnya, sampai-sampai Monitor merasa perlu mengurai plot cerita dalam bentuk skema, sehingga pemirsa televisi dapat dengan mudah melihat hubungan antara satu karakter dengan karakter lainnya; siapa si baik, siapa si buruk.

Keseriusan menggarap tema dan kepekaan menangkap isu, tak syak lagi, itulah yang melahirkan kekuatan redaksional Monitor. Semua itu tak datang dengan sendirinya. Mereka terus membangunnya dalam rapat-rapat redaksi yang biasa digelar saban Senin, yang mereka sebut “hari mati.” Sambil sekalian melakukan evaluasi terhadap penerbitan sebelumnya, pada “hari mati” itu mereka terus berdiskusi saling memancing ide. Tak ada dominasi pendapat di sini. “Suasananya enak banget,” ujar Laksono.

Pria asal Yogyakarta yang belakangan menikah dengan artis Nurul Arifin itu melihat figur Wendo sebagai pemimpin yang tak suka memaksakan pendapatnya. “Cara melatih dan mendidik dia itu nggak didaktik, dogmatis. Dia lebih mengarahkan.”

Yanto Bhokek mengiyakan. “Ia teman ngobrol yang menyenangkan. Kebiasaannya, ngajak diskusi dan diskusi. Begitu setiap hari. Ilmu kita jadi bertambah terus,” kata Yanto Bhokek yang mengawali kariernya di Monitor sebagai pesuruh, laden minuman. Dari “sekolah Monitor” ini ia bisa menulis, kemudian jadi stringer sampai akhirnya dipercayai memimpin biro Surabaya. Kini, ia jadi pemimpin redaksi Bintang Indonesia, tabloid hiburan juga.

Suasana lain yang terekam Yanto Bhokek adalah luasnya koridor demokrasi dalam mekanisme kerja sehari-hari. Dari Wardhana, saya tahu kalau di Monitor ada yang dinamakan satgas, kependekan satuan tugas. Seorang satgas diambil bergiliran dari lembaga dewan redaksi. “Fungsi satgas, fungsi pemred. Bisa memerintah Wendo untuk wawancara.”

AWAK Monitor tak bertekuk lutut di bawah konsep nilai berita ‘name makes news.’

Secara faktual terlihat, cerita sampul yang jadi dagangan utama Monitor kebanyakan datang dari ‘artis kelas dua’ atau paling tidak mereka yang berada di balik bayang-bayang nama besar ‘artis kelas satu.’ Sejak nomor perdana, formula ini sudah terlihat ketika Monitor memilih Veronika dan bukannya Rhoma Irama. Di edisi-edisi berikutnya, Monitor lebih suka membidik Euis Darliah ketimbang Vina Panduwinata, menguber-uber Lina Budiarti ketimbang Dewi Yul, mencandai Nena Rossier ketimbang Christine Hakim.

Kalaupun akhirnya pilihan terhadap artis kelas satu harus diambil, Monitor dijamin akan ‘memperkosa’ sang artis dengan jepretan-jepretan fotonya. Nungky Kusumastuti, umpamanya. Ia difoto dengan posisi dimasukkan ke dalam kain sarung yang digantung pada palang bambu. Hanya wajah dan kaki telanjangnya saja yang kelihatan. Kesannya, bugil. Keluarga Kusumastuti dikabarkan sempat memarahinya.

Memajang sampul artis kelas dua, tak hanya membutuhkan keuletan para fotografer untuk melobi dan menahan nafas dalam menyelesaikan tugasnya. Tapi juga perlu ketekunan para wartawan tulis untuk terus bereksperimen. Monitor akhirnya sampai pada kiat baru untuk masanya, yakni membuat judul-judul asosiatif. Simak umpamanya: “Saya Pasrah. Terserah Buka Mana …” Lina Budiarti menerangkan kebiasannya berbuka-bukaan di depan kamera; “Saya Masih Doyan Laki-laki …” Joice Erna membantah isu sebagai wanita biseks; “Cuma Sekali …” Nia Zulkarnaen menjelaskan adegan cium dengan Amy Search, penyanyi asal Malaysia, dalam syuting film Isabella.

Tidak semua pembacanya senang dengan foto-foto seronok dan judul-judul macam itu. Kritikan, protes, makian bahkan datang sejak pekan-pekan pertama Monitor dilarikan ke hadapan publik. “Sebagai media umum, Monitor sebaiknya selektif pada gambarnya,” tulis Nana Sastrawaty, seorang pembaca dari Makassar, memprotes gambar Euis Darliah yang ngangkang.
Pembaca lain, Sunarto S. Gondoutomo dari Jakarta, merasa kesal dengan ulah Monitor yang bukannya mengurangi porsi ‘berita dan foto panas’ justru malah menaikkan suhu dengan sajian-sajian berikutnya. Taruhlah seperti gambar Titi Qadarsih yang memang tidak ‘ngangkang’ tapi ‘ngongkong.’ Efeknya sama saja, yang menurut si empunya surat, “memancing selera rendah.”

Terhadap suara-suara pembaca demikian, Monitor acap langsung memberi komentar pada akhir surat pembaca. Kalau perlu, Wendo menggunakan Telop Monitor untuk menjelaskan sikap tabloidnya. Menulislah Wendo suatu ketika, “Euis adalah bintang segala ratu panggung, dan hanya Euis Darliah yang mampu bergaya seperti itu. Vero sedang memeluk gitar, Renny Jayusman dengan bayi lelakinya, Lenny dengan pakaian senam, adalah pas. Dan wajar. Impresi seperti itu yang ingin kita tonjolkan. Bukan sekadar mau mengobral gambar dan tulisan tentang ‘ngangkang.’ Betapa tidak menariknya kalau Chintami memakai pakaian penerjun.”

Bagaimana menghadapi kritik dari para dosen komunikasi, wartawan lain, atau pihak-pihak lain yang dianggap punya bobot intelektual berlebih? Apakah cukup dengan mengomentari surat pembaca sedang mereka tidak membuat surat pembaca? Apakah cukup mengurai penjelasan dalam Telop sedang mereka tidak membaca Monitor secara intens?

Monitor panjang akal. Taruhlah ketika menghadapi Astrid S. Susanto, pengecam pertama Monitor. Tak menunggu ledakan kemarahan berikutnya, dosen komunikasi dari Universitas Indonesia itu langsung diwawancarai awak Monitor. Jitu hasilnya. Astrid S. Susanto tak terdengar menyerang Monitor lagi.

Kritik, protes, kecaman pelan-pelan mereda. Monitor terus melanjutkan perjalanannya mencari ceruk-ceruk pasar yang masih bisa dimasuki. Setahun kemudian, tiras Monitor sudah menotok angka 600 ribu eksemplar. Tiga mesin dikerahkan untuk mencetaknya. Apa komentar Jakob Oetama kini?

“Jurnalisme raw itulah yang mungkin kita perlukan sekarang,” Wendo mengutip bosnya ketika memberikan prasaran di depan insan-insan Serikat Penerbit Suratkabar pada 1987.

Raw? Ini bahasa Inggris untuk “mentah,” kan?

HANYA dalam setahun Monitor dikabarkan mencapai break event point. Kalkulasinya sederhana: titik impas bisa dicapai sekiranya Monitor beroplah rata-rata 115 eksemplar setiap terbit dalam setahun. Nyatanya, oplah Monitor melambung jauh di atas target. Bahkan setelah harganya dinaikkan jadi Rp 500 pada 1989, oplah Monitor masih saja seperti gelombang air laut yang terkena angin barat. Pasang naik terus.

Gambaran menggilanya penjualan tiras Monitor barangkali bisa dijejak ke aktivitas setiap Selasa siang, hari ketika Monitor selesai dicetak seluruhnya. “Puluhan mobil dan motor,” begitu Wendo mengungkapkan, “siap menunggu palang pintu dibuka, dan dalam detik yang bersamaan, meluncurlah iringan bagai konvoi yang tak kalah dengan mereka yang berada di arena balap mobil. Pawai? Kampanye? Bukan. Ini kejadian rutin.”

Pemandangan yang ditangkap Wendo selanjutnya, para agen pulang dengan barang bawaan yang memenuhi kendaraan setelah berjuang rebutan jatah. “Satu sepeda motor, dengan berboncengan, bisa mengangkut 1.200 eksemplar,” ungkap Wendo.

Bisa saja Wendo cuma berbangga hati, dan ingin membuat semuanya jadi terkesan fantastis. Tapi, tunggu dulu. Simak Media Scene Indonesia edisi 1989/1990 yang dikeluarkan Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia –yang bersandar pada data Survey Research Indonesia sepanjang 1985-1989.

Dari data yang ada, terlihat dengan jelas, bahwa dalam kurun waktu 1987-1989, Monitor terus memimpin oplah dalam kategori majalah mingguan, melampaui Bola, Tempo, Bobo, Femina, Nova, Hai, Tribun Olahraga, dan Jakarta-Jakarta. Angka kontribusinya terhadap oplah nasional dalam kategori tersebut adalah 46,9 persen (1987), 51,9 persen (1988), dan 55,4 persen (1989).
Tak ada penjelasan angka persisnya. Kalau pun ada, saya mungkin harus meragukannya. Sudah menjadi semacam rahasia umum, penerbit kadang-kadang nakal juga dalam mengumumkan oplahnya. Angka tiras dikatrol sejadi-jadinya demi gengsi, kalau bukan untuk lebih memancing masuk kalangan advertensi. Beda lagi dengan laporan ke Departemen Penerangan, hampir bisa dipastikan mereka akan berusaha memberi kesan miskin se-miskin-miskinnya biar “setoran” bisa diatur nafasnya.

Kembali ke oplah Monitor, berapa sebenarnya angka persis tiras Monitor, katakanlah tiras tertingginya? Wardhana bilang, oplah tertinggi Monitor mencapai sekitar 814 ribu eksemplar.

Saat tiras pasang naik, mereka pernah suatu ketika bergurau, jika kelak mencapai satu juta eksemplar, mereka akan menggunduli rambut. Tiras sebesar ini tak pernah kesampaian dalam hitungan real. Ini karena, sejak 26 Nopember 1989, Monitor dipecah jadi dua: Monitor (reguler) dan Monitor Minggu. Dan pada 26 September 1990, Wendo memecahnya kembali. Lahir kemudian Monitor Anak itu. Kebijakan unbundling ini memacu kanibalisasi Monitor reguler.

Toh kalau Monitor-Monitor itu disatukan oplahnya dalam satu paket hitungan, bisa jadi jumlahnya sudah mencapai sejuta eksemplar. Tapi ini bukan alasan bagus buat mereka untuk menggunduli rambut, agaknya.

Sejuta atau tidak, oplah Monitor tetap paling top. Ini memudahkan bagian iklan untuk terus bergerilya mengambil ceceran dari belanja iklan nasional. Media Scene Indonesia pada edisi yang sama memperlihatkan, Monitor mendapatkan kue iklan sebesar Rp 1,08 miliar pada 1987. Setahun kemudian jumlahnya sudah hampir tiga kali lipat menjadi Rp 3,17 miliar dan pada 1989 melipat lagi jadi Rp 6,32 miliar. Ini menempatkan Monitor sebagai salah satu ‘big five’ dalam perolehan iklan setelah Tempo, Kartini, Femina.

Oplah yang terus menggila, iklan yang merajalela, membawa konsekuensi melegakan bagi kesejahteraan awak Monitor. Dalam setahun, mereka bisa mendapat gaji 18 kali. Di luar gaji reguler yang 12 kali itu, mereka memang mendapatkan pemasukkan lain semisal bonus, grativikasi bagian keuntungan, selain gaji tambahan ketika datang hari raya Idul Fitri dan Natal. “Seorang reporter lepas bisa satu juta sebulan, kalau saya tak salah,” kata Wardhana. Untuk tahun 1990, pendapatan reporter sebesar itu, jelas lebih jreng ketimbang wartawan pemula di Kompas atau Tempo sekalipun.

“Saya pernah dapat seratus, lalu dua ratus,” sambung Wendo mengacu pada angka pembagian keuntungan saham yang mulanya hanya Rp 100 juta pada tahun pertama, dan meningkat jadi Rp 200 juta pada tahun-tahun berikutnya. “Itu cuma dari saham lima persen. Bayangkan berapa yang Harmoko dapet, dari saham 30 persen itu,” ungkap Wendo.

Karena ledakan bisnisnya, Wendo sempat mengangankan Monitor dapat memiliki gedung sendiri, tidak lagi menempati bangunan milik Gramedia, yang disebutnya ‘bedeng.’ Soal ini sering ditiup-tiupkan ke anak buahnya di Monitor, bahkan sekali waktu dihembuskan ke hadapan publik dalam guyonan khas Monitor di Telop 26 September 1990: “Insya Allah kami akan pindah ke … bedeng lagi. Sebelum akhirnya punya gedung sendiri, lewat mimpi kali.”

Konon bangunan itu direncanakan setinggi 11 lantai. Jika niat ini terwujud, alhasil akan lebih tinggi dari Kompas yang berlantai tujuh. Lokasi pembangunan, menurut Wardhana, direncanakan di Jalan Palmerah Barat, di samping kantornya. Tak kesampaian. Areal itu kini telah disulap jadi tempat kursus Lembaga Pendidikan Keterampilan Komputer.

Sekiranya tidak dibredel, mampukan Wendo mewujudkan mimpinya? Mungkin ada baiknya Anda melihat figur bisnis Monitor. Saya mulai dengan oplah. Dalam setahun, misal pada periode 1989-1990, akan didapatkan jumlah oplah trio Monitor sebesar 1.000.000 x 4 x 12 yakni 48 juta eksemplar. Dikalikan harga per eksemplar Rp 500, akan didapat omzet sekitar Rp 24 miliar. Sedangkan total perolehan iklan, bercermin pada Media Scene Indonesia tadi –ini didasarkan pada data Surindo Utama pada 1989– adalah Rp 6,3 miliar. Untuk lebih gampangnya katakanlah Rp 6 miliar –walaupun sebenarnya Media Scene Indonesia membuat proyeksi yang lebih gile lagi untuk 1990 yakni Rp 10,503 miliar.

Berbekal angka moderat itu maka perputaran omzet bisnis Monitor pada periode 1989/1990 adalah sekitar Rp 30 milyar per tahun, pada periode 1989 Ð 1990 itu. Ini angka ngawur? Mari kita lihat kalkulasi lain.

Dalam Rahasia Dapur Majalah di Indonesia, Kurniawan Junaedhie menuliskan angka pemasukan Rp 24,5 miliar. Angka ini bersandar pada analisis majalah Prospek terbitan awal Nopember 1990. Jika “pemasukan” diterjemahkan sebagai omzet, angka yang saya dapatkan itu lumayan ngaco. Namun, bila “pemasukan” tersebut dianggap tafsir gain, mohon maaf, justru Junaedhie yang ngawur. Paling tidak, angka “gain” ini agak susah untuk mengkonfirmasi perolehan pembagian keuntungan saham lima persen Wendo yang Rp 200 juta itu pada, kira-kira, periode yang sama.

Bagaimana sebenarnya bisnis Monitor yang nyaris di luar akal sehat itu bisa dijelaskan? Saya bisa saja langsung mengecap Monitor cuma beruntung. Jawaban versi asal nguap ini bisa benar bisa tidak. Dibilang tidak, karena ada realitas lain yang menunjukkan jalan masuk ke arah kemungkinan yang lebih rasional.

Sejarah memperlihatkan, tabloid Monitor hidup tanpa saingan di masa jayanya. Apa yang digarapnya, adalah segmen baru yang sama sekali belum dirambah media lain. Orang membutuhkan informasi acara televisi, siapa pengisi acara tersebut, bagaimana acara dibuat. Lebih jauhnya, bagaimana kehidupan para pengisi acara, artis, dan macam-macam lagi termasuk gosip yang bersliweran di antara mereka.

Masalah-masalah televisi tadi kemudian diramu dengan paha dan dada. Wendo menamainya jurnalisme “ser dan lher.” Bumbunya, kuis berhadiah dan ramalan judi. Dalam penanganan kuis, Monitor bahkan harus menunjuk Globe Promotion Service sebagai kontraktor, sekadar untuk mengirimkan hadiah.

Akan halnya ramalan, ini cerita lain. Awalnya, Monitor mengetengahkan ramalan “Porkas Cuaca,” yang diidentikkan dengan kode pemecah Porkas, program judi nasional yang dirancang Soedomo, menteri koordinator politik dan keamanan saat itu. Judi Porkas dimaksudkan sebagai upaya untuk menimbun dana buat perkembangan olahraga. Nyatanya, olahraga tak pernah mengalami perkembangan signifikan, sementara jutaan rakyat Indonesia ternggelam dalam mimpi-mimpi kosong.

Ketika Porkas yang menggunakan kode huruf diprotes dan bubar, Monitor menghidangkan “Mbah Bejo.” Sama saja, orang menggunakannya untuk menebak judi Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah yang lazim disingkat SDSB, yang juga dicanangkan Soedomo. Bila Porkas menggunakan huruf, SDSB memakai angka.

Segala keunikkan yang didesain Monitor, selain mendongkrak pasar eceran, juga melahirkan pembaca-pembaca fanatis yang selalu merasa rindu akan kehadiran terbitan Monitor terbaru. Saking fanatisnya, beberapa di antara mereka mengganti nama dirinya dengan “Monitor.” Ini antara lain dilakukan Syahrir, siswa Sekolah Menengah Ekonomi Atas Negeri I Medan. “Saya sih setuju saja ganti nama saya menjadi Monitor,” tulisnya. Tak cuma sekadar ganti nama, pembaca lain bernama Agus Mulyono dari Tegal (dengan alamat lengkap), menamai anaknya Adi Darmawan Monitor. “Biar cepat gede, kita kirimkan payung, kaos, dan sekadar buat beli bubur,” balas pengasuh surat pembaca.

Keluarga Agus Mulyono pun ketiban rezeki Rp 50 ribu.

EKONOMI Indonesia memperlihatkan wajah cerah sejak awal 1990-an. Picu agaknya berasal dari beleid pencabutan sejumlah retriksi investasi secara gradual, yang antara lain memungkinkan digantinya Daftar Negatif Investasi (DNI) oleh Daftar Skala Prioritas (DSP). Praktis, sektor-sektor usaha yang bisa ditanami modal jadi lebih banyak. Investor asing tergoda. Cerita susulannya Anda tahu sendiri, mereka berbondong-bondong merelokasikan industrinya –frasa lain untuk memindahkan mesin-mesin usang sambil menadah hujan keuntungan dari upah buruh murah.

Fenomenal dampaknya. Investasi dengan fasilitas PMA (Penanaman Modal Asing) pada 1990 mencapai kenaikan fantastis hingga mampu menembus angka 8,7 miliar dolar AS dari angka tahun sebelumnya yang 4,7 miliar dolar AS. Serbuan ini melahirkan efek domino. Investor-investor lokal yang hendak menggunakan fasilitas PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) ikut-ikutan berlaga di sekeliling putaran rolet ekonomi yang kian cepat. Sebagian melayani investor asing sebagai partner, sebagian menjadi subkontraktor. Lainnya, terjun ke sektor-sektor bisnis yang masuk hitungan DSP. Indonesia beringsut dari ekonomi agraris ke ekonomi uang.

Dunia pers yang selama ini tenang-tenang saja, tiba-tiba bergemuruh. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia, sebuah organisasi kemasyarakatan keagamaan, membuat Republika, sebuah koran harian. Pengusaha-pengusaha nonmedia seperti Fadel Muhammad merogoh koceknya memodali majalah mingguan Warta Ekonomi dan majalah otomotif Mobil Motor. Lalu Peter Gontha di Indonesian Observer, Probosutedjo (Berita Buana), Abdul Latief (Harian Ekonomi Neraca), Bambang Yoga Sugama (Berita Yudha), dan Sudwikatmono yang menafasi Sinar. Di belakang hari, stasiun televisi swasta pun disentuh mereka. Gontha mendirikan RCTI, Siti Hardijanti Rukmana bikin TPI.

Buat Kelompok Kompas Gramedia, situasi itu, selain sebuah peluang, juga mungkin dianggap ancaman bagi stabilitas dirinya. Segera saja Gramedia menyusun siasat untuk mengamankan situasi. Tapi, bagaimana mereka bisa mendapatkan Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP) padahal pemerintah sudah menyetop perizinan baru untuk suratkabar dan majalah umum?

Gramedia mulai menjalankan siasatnya. Ke daerah, mereka sibuk beraliansi dengan sejumlah media-media lokal. Dengan Serambi Indonesia di Aceh, Mandala di Bandung, Bernas di Yogyakarya, Pos Maluku di Ambon, Pos Kupang di Kupang, Suara Timor Timur di Dili, dan banyak lagi. Di pusat, mereka memborong SIUPP dan membikin tabloid banyak-banyak, selain majalah-majalah bersegmen khusus. Separuh besar jatuh ke pangkuan Wendo.

Pria yang tak pernah necis dalam berpakaian itu tiba-tiba saja dikenal sebagai juragan penguasa 22 SIUPP. Orang pun akhirnya tak cuma mengenal Wendo sebagai pemimpin redaksi Monitor, tapi juga wakil direktur Gramedia Majalah, sebuah direktorat yang diberi hak mensupervisi seluruh penerbitan majalah dan tabloid di kerajaan Palmerah. Bisa dibayangkan berapa besar kekuatan yang dimiliki Wendo saat itu.

Ada peribahasa lama, makin tinggi pohon makin kencang angin menerpa. Ini pula yang dialaminya setelah Wendo berada di puncak. Tapi ia bukan manusia tempe. Ia menghadapi tiupan angin di sekitarnya dengan sikapnya yang serba mengentengkan masalah. Di balik kesan kendo ini, diam-diam ia membuat kelompok yang dikenal sebagai “Seven Samurai.” Tak penting benar siapa anggotanya. Ini cuma kelompok akal-akalan yang dibikinnya untuk menggertak para bos di Gramedia yang gatal tangan untuk turut campur urusan orang.

“Saya lawan mereka,” ujar Wendo.

Urusan yang begitu bejibun –termasuk mengangkat pamor majalah berita bergambar Jakarta-Jakarta yang redup gara-gara konflik internal, diikuti mundurnya pemimpin redaksi Noorca M. Massardi– karuan saja membuat Wendo harus pontang-panting. Wendo akhirnya menyerahkan urusan perut redaksi Monitor kepada Tavip Riyanto sebagai wakil pemimpin redaksi-cum-penanggung jawab sehari-hari Monitor. Siapa dia?

Riyanto berkarier di Monitor sejak minggu-minggu pertama terbit. Ia suka menulis masalah-masalah radio, termasuk meMonitor perkembangan drama radio dengan segala pernak-pernik di belakangnya, mulai pengarang cerita sampai pengisi suara. Namanya mulai tercantum pada edisi kedelapan terbitan 24-30 Desember 1986 sebagai pembantu tetap. Ada dua pembantu tetap sebenarnya. Satunya lagi, Djoko Supriyadi yang kelak jadi kepala produksi dan punya kaitan langsung dengan kasus angket Monitor yang terkenal itu.

Markas Monitor kontan gonjang-ganjing. Suasana yang semula serba adem berubah gerah. Sejumlah redaktur bangkit dari tempat duduknya dan mempertanyakan kriteria penempatan Tavip Riyanto di pos barunya. Celakanya Wendo, Riyanto keponakannya. Ini jadi titik lemahnya. Wendo terjepit. Ia mulai kehilangan rasa humornya, “Kalau nggak sejalan ya sudah. Kamu keluar atau saya keluar.” Begitu Aries Tanjung melukiskan reaksi Wendo.

Dihadapkan dengan tantangan itu, para redaktur Monitor memilih jalan untuk melawan. “Seven Samurai” mereka adaptasi. Terbentuklah “Tujuh Samurai” yang beranggotakan Veven Sp. Wardhana, Aries Tanjung, Mayong Suryo Laksono, Hans Miller Banureah, Gunawan Wibisono, Bujang Praktiko, ditambah fotografer Sondjaya Arifin.

Para ‘pemberontak’ itu lantas membuat petisi lisan tidak percaya pada kepemimpinan Wendo, utamanya pada keputusannya mengangkat Riyanto sebagai bos baru mereka. Lobi-lobi dilakukan. Rapat-rapat tak resmi digelar. Tak hanya di kantor, mereka membawa masalah ini keluar. Puncaknya, mereka menggelar rapat di sebuah restoran di kawasan Tomang.

“O ya, saya yang membawa mereka,” kata Aries Tanjung menerangkan, “Saya ngajak teman-teman ke rumah Mas Wendo untuk nanya baik-baik.”

Apa yang terjadi?

Tanjung bilang, Wendo tidak segarang ketika di kantor. Petisi mereka mendapat perhatian serius. “Sudah nanti dilihat lagi,” kata Wendo, sebagaimana diucapkan Tanjung.

Walau tak memperoleh jawaban optimal, mereka kembali ke kantor. Syamsudin Noer Moenadi, yang sebelumnya berada di garis politik Tujuh Samurai, namun menghilang tak jelas rimbanya begitu datang niat mendemo rumah Wendo, jadi sasaran pelampiasan sisa-sisa kekesalan mereka. Moenadi dicap pengkhianat. Di kantor, seperti dituturkan Wardhana, dengan berang Bujang Praktiko menudingkan telunjuknya ke wajah Moenadi, “Judas kamu!”

Perpecahan tak terhindarkan lagi.

“Saya kira situasinya emosional sekali. Kadang-kadang kalau ingat malu juga. Rupanya dia (Wendo) punya rencana lain, jangka panjang. Dia akan berikan SIUPP-SIUPP itu,” tutur Tanjung.

Penuturan Tanjung ada benarnya. Hanya beberapa waktu setelah keributan itu, Laksono dipanggil. Dia diminta mengurus penerbitan Monitor Minggu setelah diterbangkan ke luar negeri memperdalam pengetahuan jurnalistiknya. Lalu Irene Suliana, ditugasi menangani Monitor Anak. Wardhana tak ketinggalan. Setelah mengajukan konsep tabloid kriminal karena memang Gramedia tak memilikinya, ia diserahi SIUPP Saksi, selain Bintang Indonesia. Yang disebut terakhir diperoleh Wendo dari ‘bandar SIUPP’ Noor Slamet Asmaprawira, adik Harmoko.

Anggota Tujuh Samurai lain juga mendapat bagian. Banureah, misalnya, diserahi SIUPP Citra Musik. Sedang Moenadi, yang hampir tak pernah akur dengan Wendo, diberi SIUPP Film dan Artis.

Untuk lebih mendinginkan situasi, dengan mengambil latar berkomunikasi pada publiknya, Wendo memerlukan diri menulis di kolom Telop yang intinya menekankan, bahwa perubahan struktural dan fungsional yang dilakukannya semata untuk lebih sadar akan tanggung jawab. Lebih jauhnya, sadar akan perlunya pendekatan di sana-sini sesuai dengan target pembaca. “Walau wartawan baru kalau menunjukkan kemampuan memimpin dan mengkoordinasikan tugas-tugas, bisa menduduki jabatan ‘satgas’–yang menyatukan tugas dalam satu nomor penerbitan,” tulis Wendo.

“Soalnya bukan soal yunior atau senior, dia (Riyanto) nggak mampu aja. Nggak punya perspektif,” komentar Wardhana pada saya. Ia kemudian menuturkan oplah Monitor yang terus merosot hingga mencapai titik 400 ribu atau malah 300 ribu eksemplar memasuki paruh kedua 1990-an.

Mungkin faktor individu bukan satu-satunya penyebab kemerosotan Monitor.

Sebuah lembaga pers, yang berada di dalam dan di antara sistem sosial, bukanlah institusi terasing dan harus mengasingkan diri. Ia harus selalu berhubungan dengan publiknya untuk dapat terus bertahan. Perhatian, sekaligus kepercayaan publik, menjadi penentu akhir apakah sebuah lembaga pers dapat bertahan atau habis sama sekali. Pertanyaan yang bisa dikedepankan adalah seberapa lama jurnalisme ‘ser dan lher’ ala Monitor dapat mengikat perhatian sekaligus memelihara kepercayaan publiknya?

BERKARUNG-KARUNG kartu pos datang ke Jalan Palmerah Barat, markas besar Monitor. Djoko Supriyadi menyortirnya dengan tekun. Ia dibantu tiga pesuruh: Miseri, Jumiyo, dan Ngateno.

“Yang saya sortir tak kurang dari lima karung,” kata Supriyadi.

Tiap seratus lembar kartu yang sudah tersortir, mereka ikat dengan karet gelang. Tuntas menyeleksi dan mengarsipkannya, Supriyadi memroses seluruh data sortiran ke dalam komputer dengan menggunakan perangkat Lotus. Ia kemudian membuat salinannya dalam bentuk hard copy untuk diantarkan ke ruang kerja Wendo. Ia taruh begitu saja di meja karena Wendo kebetulan sedang sibuk.

Selang beberapa waktu, Wendo memeriksa print-out itu. Tangannya mulai bekerja untuk memberi pengantar sekaligus penjelasan terhadap data-data tadi. Naskah yang baru saja diketiknya dijuduli “Ini Dia: 50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita.” Baik naskah maupun tabel nama tokoh-tokoh yang diurut segera dikirim ke Supriyadi untuk ditata dalam komputer Macintosh. Wendo sama sekali tak membayangkan naskahnya akan membuat dia tidak dikagumi publik, kelak. “Tak terpikir sekelebat pun, bahwa ini sebuah kesalahan fatal,” tutur Wendo.

Dalam Monitor edisi 255 yang terbit pada 15 Oktober 1990, naskah Wendo ditaruh di halaman satu, berdampingan dengan foto sampul Nia Zulkarnain dalam balutan kaos putih ketat sehingga lekuk-lekuk dadanya terlihat jelas. Tulisan itu hasil akhir dari kuis “Kagum 5 Juta.”

Seperti diungkap pledoi Wendo di pengadilan negeri, kuis tersebut dari bermula dari isian untuk mengetahui tokoh yang dikagumi pembaca Monitor dan alasan mengaguminya. Demi kuis “Kagum 5 Juta” Wendo mengorbankan kuis Teka-Teki Televisi, galib disingkat TTT, yang dimuat sejak pertama kali Monitor terbit. “Sesungguhnyalah tak ada istimewanya dengan TTT rutin yang selama ini diadakan. Tidak juga jumlah rupiahnya, karena merupakan kumpulan sekian jumlah yang biasa diberikan,” tandasnya. Kuis TTT biasa memberikan hadiah Rp 500 ribu untuk 10 pemenang. Sedangkan “Kagum 5 Juta” memberi hadiah untuk 100 pemenang.

“Kagum 5 Juta” pertama kali diumumkan pada Monitor Minggu edisi 2 September 1990. “Nomor ini tebakannya mudah, hadiahnya gagah,” demikian antara lain Wendo memberi pengantar.

Tak ada batasan apapun untuk kandidat tokoh yang dipilih. Kuis terkesan gado-gado jadinya. Ada politisi, negarawan, penyanyi, olahragawan, pelukis, pengusaha, sultan, bahkan nabi. Sebagian dari mereka sudah meninggal, sebagian lagi masih hidup. Ada tokoh dalam negeri, ada tokoh luar negeri. Maksud Wendo memang hanya iseng-iseng. Kesan lebih iseng mungkin akan makin terasa kalau saja Wendo tidak membatasi sampai 50 tokoh. Simak saja, dari 33.963 lembar kartu pos yang masuk, sebanyak 1.721 suara di antaranya memilih ibu kandung, pacar, tetangga, malahan dirinya sendiri.

Dalam ranking 50, jumlah pemilih terbanyak jatuh kepada Soeharto, presiden Indonesia waktu itu, dengan 5.003 pemilih. Di bawahnya, terdapat nama B.J. Habibie (2.975), disusul Soekarno (2.662). Iwan Fals satu-satunya artis yang nyelip di antara peringkat 10 besar. Ia menempati urutan ke-4 dengan 2.431 pemilih. Wendo sendiri rupanya beken juga. Ia berada di peringkat ke-10, dengan 797 suara. Di bawah Wendo tercantum Nabi Muhammad.

Tak ada tanda-tanda langit bakal mendung, tak ada sinyal-sinyal Monitor bakal kena pentung. Tapi apa yang terjadi hari berikutnya sungguh di luar dugaan: telepon yang datang ke redaksi bukannya dari orang yang menanyakan hadiah, tapi dari mereka yang marah. Ada yang mengatasnamakan tukang becaklah, gurulah, atau aktivis masjid. Pada 17 Oktober 1990 atau dua hari setelah terbit edisi “Kagum 5 Juta,” massa datang secara sporadis. Sama sekali tak ada kekaguman pada wajah-wajah mereka.

Di beberapa wilayah, demikian pula di luar Jakarta, Monitor sudah mulai jadi bahan perbincangan. Udara pengap mulai terasa di dalam kantor.

Sehari kemudian, Subrata dari Departemen Penerangan melayangkan peringatan keras.

Kantor agaknya makin pengap buat Wendo. Ditemani wakil pemimpin umum Suyanto, Wendo memilih tinggal di hotel dan membahas langkah-langkah yang perlu diambil untuk mendinginkan situasi, sekaligus meloloskan diri dari malapetaka yang mungkin menerkamnya. Ia pun mengetikkan pernyataan maaf untuk dimuat Monitor pada 22 Oktober 1990, sekaligus menyusun draf pidato di televisi. Orang-orangnya sibuk mem-booking kavling iklan di berbagai suratkabar, baik yang terbit di ibukota maupun daerah. Jumat 19 Oktober 1990, Wendo tampil di televisi. Dalam wajah serius, ia bersungguh-sungguh meminta maaf.

Keadaan bukannya tambah tenang. Hampir seluruh kota besar di Indonesia, terutama Jakarta dan Bandung, berguncang di hari berikutnya. Permintaan maaf Wendo langsung ditafsirkan sebagai pernyataan telah berbuat salah. “Gantung Arswendo!” “Bakar Arswendo!” “Cincang!” “Rajam!” Begitulah kira-kira hujatan buat pria yang doyan canda itu.

Ricke R. Senduk, salah seorang wartawan lepas, merasakan kemarahan itu. Ia, yang sudah merasa Monitor sebagai tempatnya menyandarkan hidup, segera mengamankan sejumlah inventaris kantor yang dianggap vital, terutama dokumentasi foto, biodata artis, kartu-kartu nama. Ia bekerja cepat sejak Minggu malam, 21 Oktober 1990. Bersama kawan-kawannya, seluruh lemari kabinet ia buka dan isinya ia tumpahkan ke kardus, karung, atau apa saja. “Saya bawa ke Taman Ratu,” kata Senduk, mengacu tempat tinggalnya.

Esoknya, Monitor terbit tanpa tenaga. Tak ada paha yang mengangkang, tak ada dada yang menantang. Halaman satu melulu berisi pernyataan maaf. Bukan dari Wendo pribadi, tapi dari seluruh karyawan Monitor. Ia mencabut tulisan “Ini Dia: 50 Tokoh Yang Dikagumi Pembaca Kita,” dengan alasan tulisan tersebut dapat menimbulkan penafsiran keliru dan dapat menyinggung perasaan, khususnya umat Islam. Iklan dikunci dengan kalimat, “Mohon maaf atas kekhilafan kami.”

Ini dia antara lain hasilnya: 23 Oktober 1990, SIUPP nomor 194/1984 untuk Monitor dicabut. Langsung diteken oleh Menteri Penerangan Harmoko, pemilik saham 30 persen itu.

Harmoko tak beraksi sendirian. Keputusannya mendapat dukungan wartawan-wartawan tua yang tergabung dalam Dewan Pers, organ boneka penguasa Orde Baru. “Kalau tindakan itu tak diambil dampaknya akan luas,” kata pengurus harian Atang Ruswita, bos Pikiran Rakyat, Bandung.

Situasinya memang terbalik-balik saat itu. Wartawan merasa harus menjaga stabilitas politik dan keamanan, sementara menteri koordinator politik dan keamanan justru asyik ngurus judi. Judi SDSB.

HATI-HATI bikin angket. Saya tidak bermaksud memperingatkan Anda. Klausa itu saya sambil dari judul laporan Tempo edisi 27 Oktober 1990.

Terpaparkan di sana, betapa angket bisa menjadi sumber masalah bagi pembuatnya. Simak umpamanya kasus yang menimpa PT Suburi –sebuah perusahaan asing di Jakarta yang bergerak di bidang survei dan riset. Direktur John M. di Gregorio, asal Amerika, pada 1972 sempat dituduh melakukan kegiatan subversif oleh Amir Machmud, yang ketika itu menjabat menteri dalam negeri.

Kisah kasus Suburi dimulai dari dua mahasiswa Universitas Diponegoro yang melapor pada intelijen Komando Daerah Militer Diponegoro. Mereka merasa curiga melihat kerangka survei PT Suburi, yang antara lain meminta pendapat masyarakat tentang delapan tokoh nasional, dan di situ tercantum nama Presiden Soeharto di urutan ketiga. Padahal, seperti kata Harijadi S. Hartowardojo, salah seorang pendiri perusahaan itu, “Presiden Soeharto dicantumkan dalam urutan ketiga, karena dalam metodologi riset, pertanyaan itu haruslah objektif dan tidak memberikan sugesti kepada responden,” ujarnya.

Namanya juga tentara. Dikasih tahu, yang keluar “pokoknya.” Pokoknya ini membahayakan negara, kira-kira begitu militer memberi tanggapan. Masih ada ekornya: Suburi dituding melakukan kegiatan spionase. Maka, izin operasi Suburi pun dicabut.

“Angket Monitor tidak bisa dipertanggungjawabkan secara metodologis,” kata Enceng Sobirin pada saya, tempo hari. Sobirin sehari-harinya bekerja sebagai peneliti di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial, organisasi nirlaba yang didirikan sejumlah intelektual Indonesia pada 1971, di bawah sokongan institusi penyandang dana Friedrich Niemann Stiftung.

Sobirin tak tahu apakah yang dilakukan Wendo sekadar suatu trik jurnalistik untuk mendongkrak sirkulasi, atau menjual sensasi, sebagaimana dikatakan berulang-ulang si empunya angket bahwa ia hanya bermaksud iseng. “Secara jurnalistik sah-sah saja asal jangan diklaim survei,” kata Sobirin, seraya buru-buru menambahkan, “saya kira jurnalistik tidak bebas nilai. Harusnya kepekaan ini dipegang.”

Trik jurnalistik atau bukan, dua tahun sebelum kasus Monitor meruyak, Matra pernah jadi pusat perhatian publik gara-gara memuat hasil angket yang menyimpulkan dua pertiga pria di Jakarta pernah berselingkuh, bahkan berhubungan seksual di luar nikah. Banyak yang mempertanyakan metodologi pengumpulan datanya setelah tahu bahwa respondennya cuma 499 orang. Tentu, ini sulit merepresentasikan 3,5 juta pria Jakarta.

Tak ada bredel yang menimpa Matra. Tak ada jaring hukum menjerat pemimpin redaksinya. Tapi Monitor soal lain. Wendo adalah hal berbeda. Massa boleh jadi tak tahu dan tak pernah mau berurusan dengan tetek-bengek metodologi angket, kriteria, sampel, responden, kategorisasi-kategorisasi. Mereka lebih tertarik isu besar, sebuah isu yang berkenaan dengan agama yang diyakininya; nabi yang menjadi panutannya. Mereka merasa terhina, terlukai.

Majalah Sastra pernah kesandung soal beginian ketika memuat cerita pendek Langit Makin Mendung karangan Ki Panji Kusmin pada edisi Agustus 1968. Cerita fiksi sepanjang enam halaman itu antara lain menceritakan Nabi Muhammad, yang memohon izin kepada Tuhan, cuti ke bumi untuk melakukan riset, karena “akhir-akhir ini begitu sedikit umat hamba yang masuk surga.” Kantor majalah Sastra tak urung dirusak. Penanggung jawab majalah, H.B. Jassin, diseret ke pengadilan pada Februari 1970, walau dirinya sudah minta maaf dan mencabut karya fiksi tadi.

Umat Islam pun marah besar ketika Salman Rushdie merilis novelnya, Ayat-Ayat Setan (The Satanic Verses) pada awal 1990. Novel ini dianggap menghina Nabi Muhammad. Di negara-negara mayoritas Muslim, novel itu dibakar. Rushdie dihujat, diburu. Ayatollah Khomeini, mullah tertinggi di negara Iran, bahkan menjatuhkan hukuman mati pada novelis asal Inggris itu.

Wendo barangkali tak sebego yang ia katakan. Mungkin ia tahu kasus-kasus semacam itu. Tapi tak tertutup pula kemungkinan lain: ia mengetahui adanya perkara sejenis, yang justru luput dari tatapan publik, khususnya umat Islam. Anda benar, Wendo memang tidak benar-benar bego.

Di depan sidang pengadilan waktu itu, Wendo mengajukan kasus yang nyaris sama persis. Yakni, kasus buku Perbedaan Antara Pemimpin dan Aktivis Gerakan Protes Mahasiswa buah karya Sarlito Wirawan Sarwono. Buku ini dibuat Sarwono dari disertasinya untuk meraih gelar doktor di bawah pembimbing Fuad Hassan dan S. Sadli, dengan promotor Slamet Imam Santosa, J.M.F. Jaspar, I.R. Poedjawijatna. Kecuali S. Sadli, mereka bergelar profesor semuanya.

Dalam buku tersebut, di bawah topik “Tokoh Ideal” tercantum nama Nabi Muhammad, setelah Soekarno di urutan pertama dan J.F. Kennedy di urutan kedua. Berikutnya, ada nama Soeharto, Henry Kissinger, R.A. Kartini, Napoleon Bonaparte, pun Ali Sadikin. Jumlahnya mencapai 13 tokoh, diikuti tokoh-tokoh lain. Metode yang dilakukan Sarwono, ya angket juga.

Hasil angket tersebut, demikian Wendo, dikutip dengan urutan dan persentasenya oleh majalah berita mingguan Tempo, terbitan 3 Juni 1978 dalam laporan utamanya di bawah judul “Dan Ia Pun Kita Bicarakan Lagi.”

Soal membandingkan nabi, Wendo pun menunjuk buku lainnya. Buku itu, The 100: a Ranking of the Most Influential Persons in History karya Michael H. Hart, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dengan judul Seratus Tokoh yang Paling Berpengaruh dalam Sejarah oleh Mahbub Djunaedi.

Buku-buku tersebut, begitu pula majalah Tempo yang mengutip detail, hemat Wendo adalah media massa seperti halnya Monitor. “Sama-sama dicetak dan dijualbelikan untuk umum, sama-sama membandingkan Nabi Muhammad S.A.W,” ujarnya. “Saya mengemukakan ini bukan untuk mengajak rekan-rekan berada dalam sidang pengadilan, dan menjadi terdakwa. Jauh dari niatan itu. Saya kemukakan sebagai bahan pertimbangan, sebagai bahan perbandingan.”

Wendo tidak bisa terus bersikukuh dengan pendapatnya. Ia akhirnya mengikuti opini massa, bahwa memang dia bersalah dan menyesali perbuatannya. “Bahwa Nabi Muhammad S.A.W. tak bisa dibandingkan dengan manusia biasa, atau tak boleh dimasukkan ke dalam tokoh yang dikagumi dan dibandingkan, saya berani mengorbankan kejujuran saya dan tidak memuatnya,” katanya kemudian.

Sayup-sayup di Yogyakarta, Djarnawi Hadikusumo dari Muhammadiyah, berujar dan direkam Tempo, “Bila Monitor meletakkan Nabi Muhammad S.A.W. pada peringkat ke-11 di bawah Arswendo, itu versi Monitor. Ukuran yang digunakan Monitor adalah tokoh yang paling banyak penggemar. Biar saja. Saya tidak perlu memprotes. Saya malah baru merasa heran kalau Nabi Muhammad menjadi tokoh nomor satu di Monitor. Soalnya, pembacanya adalah orang yang suka dansa-dansi, hura-hura, bukan kaum agama.”

“Nabi tidak berkurang kebesarannya karena angket Monitor,” timpal Abdurrahman Wahid.

Baik suara Hadikusumo maupun Wahid tenggelam di antara gelora massa. Kalau pun terdengar, belum tentu jaksa dan hakim mengikuti garis pendapat macam itu.

BANDUNG, Oktober 1990. Saya memutuskan berhenti dulu dari kegiatan jurnalistik sebagai koresponden koran harian Pelita dan kembali ke kampus untuk membereskan kuliah yang selama ini terbengkalai. Di sela-sela ini, kawan-kawan di kampus pusat Universitas Padjadjaran minta saya berpartisipasi mengirim massa untuk mendemo Monitor. Kampus Universitas Padjadjaran saat itu masih berceceran di berbagai tempat, antara lain di Jalan Dago Atas, Jalan Bagusrangin, Jalan Pasirkaliki serta di kompleks perkampungan Sekeloa.

“Ini aksi spontan, Bung,” kata seorang kawan, yang saya sudah lupa namanya. Demi aksi “spontan” ini, saya dan kawan-kawan berangkat dari Sekeloa ke Jalan Dipatiukur, Bandung, tempat massa dikonsentrasikan.

Di sana, tepatnya di lapangan parkir utara kampus pusat, massa sudah menyemut. Saya yang tak tahu masalah karena memang bukan pembaca Monitor, memilih duduk di bawah pohon rindang di depan aula. Namanya juga partisipasi, saya lebih banyak nonton demo, persisnya nonton penonton demo yang menurut saya, beberapa di antaranya cantik-cantik. “Bakar Arswendo!” teriak seorang pengunjuk rasa lewat megaphone. Dan patung happening art terbuat dari kertas tabloid Monitor itu, yang mempersonifikasikan Wendo itu, dilalap api. Teriakan “Allahu Akbar” mengiringinya.

Menjelang bubaran, laksana pahlawan saya berlari ke tengah massa mencoba mengamankan Jalaluddin Rakhmat dari kerumunan massa yang berebut menyalami dan menciumi tangannya. Saya punya ikatan emosional padanya. Jalaluddin Rakhmat dosen favorit kami di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, yang ketika itu menjadi simbol perlawanan atas kebobrokan rezim Orde Baru. Kini, setelah dipecat dari kampus dan menyelesaikan studi doktoralnya di Australia, Rakhmat cenderung memilih jadi seorang sufis Islam.

Aksi-aksi yang melibatkan Rakhmat nyaris selalu besar. Saya baca di koran-koran, di kota-kota lain pun aksi masa besar-besar, melibatkan ratusan sampai ribuan orang. Namun, saya kira, aksi-aksi itu tidak semassif dan sedramatis di kota saya. Di Bandung, seingat saya, unjuk rasa menghujat Monitor meletus di hampir semua perguruan tinggi papan atas, sejak di Institut Teknologi Bandung, Institut Agama Islam Negeri, Universitas Islam Bandung, hingga Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung. Di tempat ibadat pun, mulai pusat aktivisme Islam Masjid Salman dan Istiqomah sampai Masjid Agung, kutukan terhadap Monitor nyaring terdengar di selang-seling shalawat badar.

Akan tetapi, segalak-galaknya aksi di Bandung, massa tak sampai merusak simbol-simbol kerajaan Kelompok Kompas Gramedia seperti kantor perwakilan Kompas di Jalan Martadinata, atau kantor redaksi tabloid Mandala di Jalan Gatot Subroto waktu itu.

Di Jakarta situasinya berbeda. Selain berduyun-duyun ke Jalan Palmerah Selatan, ibukota kerajaan Gramedia, massa menyatroni kantor Monitor di Jalan Palmerah Barat.

Massa datang dari pelbagai penjuru kota mengepung kantor Monitor pada Senin, 22 Oktober 1990. Dari hanya bergerombol dan adu urat leher dengan petugas pengamanan, sekitar pukul 11.00, kaca jendela ditimpa sebuah batu. Praaak! Bak sebuah komando, mereka sontak melempari jendela-jendela kantor. Sebagian di antaranya menerobos ruang redaksi, mengaduk-aduk arsip yang belum terselamatkan, menghantam komputer, menjungkir-balikkan kursi dan meja. Sejumlah foto artis yang menempel di dinding tak urung mereka robek-robek dengan murka sejak pertama kali mereka datang menyerbu. Ijazah sekolah menengah dan buku tabungan Mayong Suryo Laksono ikut-ikutan kena sasaran anarkisme ini.

“Salah saya sendiri. Saya membiarkan barang-barang geletakan begitu saja,” ucap Laksono, yang kala itu sedang berada di Yogyakarta menghadiri peringatan 40 hari meninggalnya Suryadi Ari, kakaknya.

Jeritan histeris karyawan-karyawan perempuan sejak massa datang, seolah bagai sebuah lagu mars bagi pengunjuk rasa untuk tambah bersemangat meluluhlantakkan isi kantor. “Apa saja dirusak massa,” Ricke R. Senduk mencoba melukiskan.

Sadar situasi tak lagi bisa dikendalikan, Wendo diseret sejumlah karyawan dan diloloskan lewat jalan belakang. Di sana, sekitar sepuluh karyawati bergerombol dengan wajah-wajah pucat.

Wendo diberi helm dan dinaikkan ke dalam pick up, kendaraan yang biasa digunakan untuk mendistribusikan Monitor. “Saya satu-satunya cowok di antara cewek-cewek,” ujar Wendo. Dalam kebingungan, kendaraan dilarikan ke Jalan Bangka, ke rumah Kristina Ermin, salah seorang fotografer magang yang membuat gambar sampul Nia Zulkarnaen pada Monitor bermasalah itu.

Hanya sebentar di sana. Sempat terpikir oleh Wendo untuk mencari hotel atau segera pulang ke rumahnya di Jalan Damai, Kompleks Kompas. “Saya ke Kramat akhirnya,” ujar Wendo merujuk markas kepolisian di Jalan Kramat, tempat ia meminta perlindungan, yang kemudian “dinaikkan” statusnya menjadi ditahan.

Ia tak sempat mengontak ke rumah, memberi kabar keluarganya. Di Jalan Damai, Agnes Sri Hartiningsih, istri Wendo dan anak-anaknya, dilanda kecemasan luar biasa. Mereka tak berani keluar rumah.

“Saya malah mengunci diri di dalam kamar,” ungkap Cecilia Tiara, si bungsu, yang kini bekerja sebagai reporter RCTI membidangi masalah ekonomi dan keuangan. Tiara dicatat Wendo sebagai penyambung semangat di kala sedang benar-benar down. Wendo belum lupa sebuah surat yang ditulis Tiara, “Papa nggak salah, seperti Yesus yang disalib itu.”

SEBELUM kantor Monitor diporak-porandakan aksi massa, Wendo sempat menghubungi Emha Ainun Nadjib. Wendo tak berhasil mendapat bantuan Cak Nun, panggilan akrab Nadjib. Kolumnis yang dekat dengan sejumlah aktivis Islam dan kalangan santri ini merasa tak sanggup meredakannya. Alasan Cak Nun –sebagaimana dikemukakan Wendo dan beberapa awak Monitor lain– massa bukan hanya datang dari basisnya di Jawa Timur, tapi juga dari tempat-tempat lain.

Untuk alasannya, Cak Nun tidak salah. Massa yang menghujat Monitor memang tersebar di pelbagai penjuru Nusantara. Bahkan, bisa dikatakan, reaksi pertama justru datang dari seberang Pulau Jawa. Adalah Hasrul Azwar –seorang tokoh Partai Persatuan Pembangunan dari Sumatra Utara– merasa tersinggung oleh “Kagum 5 Juta.” Angket itu dianggap Azwar menghina Islam. Ia menyatakan soal ini hanya terpaut sehari setelah Monitor edisi 255 meluncur ke pasar sana. Dan Waspada, suratkabar harian setempat beroplah 85 ribu eksemplar saat itu, melahap pernyataan Azwar untuk dimuntahkan pada edisi 17 Oktober 1990. Medan pun gempar.

Tuduhan menghina Islam yang mengendap dalam tatar sosial dengan cepat masuk ke dalam etalase politik nasional. Monitor pun tak ayal lagi dicap sebagai pengganggu kerukunan antarumat beragama yang selama ini sedang direparasi habis-habisan oleh pemerintah bersama elemen-elemen masyarakat dari berbagai latar agama. Pemutakhiran upaya tersebut sekurang-kurangnya dimulai sejak meletusnya huru-hara Tanjung Priok pada 1984 yang menyisakan percikan-percikan api dendam berbasis agama.

“You pull the carpet from under my table,” kata Nurcholish Madjid kepada Jakob Oetama. Nurcholis Madjid, yang biasa disapa Cak Nur, adalah pendiri sekaligus pemimpin Yayasan Paramadina, lembaga pengajian untuk berbagai lintas disiplin mulai filsafat hingga sains.

Dalam wawancara dengan majalah Tempo, Cak Nur mengemukakan, bahwa kemarahannya tidak didasarkan pada sikapnya untuk mengakomodasi umat yang gusar sehubungan munculnya “Kagum 5 Juta.” Reaksi Cak Nur lebih sebagai ungkapan keprihatinan dirinya karena selama ini ia merasa ikut bersusah-payah untuk memberi lem perekat pada upaya membangun toleransi antarumat beragama. “Tiba-tiba Arswendo mengganggu dengan guyon begitu saja. Saya merasa disepelekan betul. Sebab, teman-teman saya, yang selama ini tidak setuju dengan istilah toleransi dan sebagainya itu, akan dengan gampang mengatakan: ‘Nah, betul kan, Cak Nur, bahwa mereka kayak gitu itu. Masa begitu kok ditolerir.’ Jadi, itu namanya menarik karpet dari bawah meja,” tandasnya.

Selama aksi-aksi massa berlangsung, nama Cak Nur nyaring terdengar. Ia bukan saja menyarankan agar Monitor dibredel mutlak, tapi juga meminta pemerintah untuk tidak menutup-nutupi kalau-kalau ada mekanisme yang sedang bekerja di belakang kasus tersebut.

Reaksi senada meluncur dari sejumlah tokoh-tokoh organisasi massa Islam, tak terkecuali dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). “Angket yang dimuat Monitor kemarin telah menjurus ke hal SARA,” kata Kiai Haji Hasan Basri, ketua MUI, “kalau pun pengelola Monitor menganggap angket itu sebagai suatu gurauan, harusnya mereka tahu diri, mana yang boleh diguraukan dan mana yang tidak. Keyakinan adalah hal yang sangat hakiki, tidak boleh dibuat suatu gurauan.”

Daftar kemarahan masih bisa diperpanjang oleh reaksi Amien Rais. Dosen Univesitas Gadjah Mada yang kini menjadi ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu memandang, apa yang dilakukan Monitor merupakan suatu pukulan telak yang sangat menghina umat Islam, sekaligus menghancurkan seluruh usaha pemerintah selama ini untuk membangun kerukunan antarumat beragama.

Upaya membangun kerukunan antarumat beragama di Indonesia memang tidak semudah memecah kulit telor. Ini lantaran, akar-akar permasalahan telah sedemikian tertanam kuat dalam sejarah sejak zaman kolonialisme Belanda.

Dalam kasus Monitor, Kelompok Kompas Gramedia yang kebetulan dianggap dekat dengan gereja Katholik, setidaknya pada pendiriannya 1965, berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan dan amat mudah menjadi sasaran caci-maki begitu mereka ditenggarai berbuat salah.

“Misi mereka macam-macam,” kata Zainuddin M.Z. sebagaimana dikutip Tempo, “Bisa berjalan lewat media massa milik mereka, lewat diakonia, layanan-layanan sosial, atau lewat pendidikan. Saya sendiri berusaha mengarahkan umat Islam untuk jaga gawang. Dalam arti menganjurkan mereka agar tidak beli media massa yang berorientasi non-Islam.” Mubaligh itu seolah mengafirmasi realitas semacam tadi. “Adanya kasus Monitor dan Senang ini tampaknya sedikit mengganggu kerukunan beragama yang selama ini terbina.”

Kasus Senang yang disebut-sebut Zainuddin M.Z. adalah sebuah peristiwa susulan setelah Monitor memuat angket. Majalah Senang, yang berada di bawah payung Gramedia–yang notabene dalam supervisi Wendo–dinilai memuat gambar yang memvisualkan Nabi Muhammad dalam rubriknya, Ketok Magic. Sebelum reaksi membesar, Jakob Oetama buru-buru menutup Senang. Apa boleh buat, telunjuk-telunjuk marah tak serta merta melipat, malah justru makin diacung-acungkan ke Gramedia. Tak sebatas dimaki. Gramedia pun dituding telah melakukan konspirasi ideologis untuk menghina Islam.

Tidak semua komentar seserius itu. Arief Budiman, saat itu masih menjadi dosen di Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, menulis kolom di majalah Tempo. Ia mendeskripsikan siapa Wendo, bagaimana gaya hidupnya, sekaligus melukiskan ekspresi wajah Wendo, yang menurut Arief Budiman, bertampang ‘kampungan’ dengan nyengir kuda yang siap pakai.

Buat Budiman, seperti pahlawan, pendosa lahir karena adanya kebutuhan sejarah. Wendo hasil proses sosial ketika sejarah membutuhkan seorang pendosa.

Ia punya banyak argumen untuk itu. Dalam pandangannya, Wendo dibutuhkan sebagai korban karena proses sosial sedang membutuhkan kambing hitam. Kelompok Islam, yang meskipun merupakan mayoritas bangsa ini kurang berarti peran politiknya. Adanya kasus Monitor memungkinkan mereka menunjukkan bahwa golongan ini perlu diperhitungkan. Menteri Penerangan Harmoko membutuhkan sebuah kasus untuk menunjukkan bahwa pembredelan masih diperlukan.

Munculnya persoalan Monitor ibarat pucuk dicinta kasus tiba. Persaingan bisnis yang ketat di kalangan usaha pers juga membuat kasus ini tampil sebagai anugerah bagi pesaing-pesaing Monitor karena terciptanya sebuah peluang bisnis baru yang perlu disyukuri. Saya gunting sampai di sini pendapat Arief Budiman. Pertanyaan bisa disampaikan kepadanya, apakah betul Monitor melahirkan peluang bisnis baru?

Sejarah memperlihatkan jejaknya dengan jelas. Sebelum Monitor benar-benar tewas, walau tak sampai menyukuri kematiannya, Bintang Indonesia sudah memperlihatkan dirinya. Tabloid yang diasuh Veven Sp. Wardhana ini terbit dengan menu yang nyaris sama persis dengan Monitor. Bedanya, Bintang Indonesia mencurahkan perhatian pada acara-acara televisi swasta. “Belum apa-apa angka PA-nya sudah mencapai 250 ribu eksemplar. Belum promosi,” kata Wardhana. Angka PA yang dimaksud adalah “pesanan agen.”

Bintang Indonesia hanya terbit satu edisi. Tak berarti setelah itu kalangan lainnya ikut-ikutan menahan diri. Kata-kata Arief Budiman makin menjadi kenyataan beberapa waktu kemudian, menyusul terbitnya Bintang Indonesia versi Kelompok Subentra, Wanita Indonesia di bawah kucuran dana pengusaha Cendana Siti Hardijanti Rukmana serta Dharma Nyata yang diambil-alih manajemennya oleh Jawa Pos News Network. Citra Musik “Tabloid Penuh Gebyar” milik Gramedia, yang semula terfokus pada hiburan musik, pun tak urung mempermak diri dengan logotif baru Citra “Pedoman Pasti Penonton Televisi.”

Keadaan tersebut tidak saja dapat diterjemahkan sebagai fenomena perburuan harta karun Monitor, tapi yang esensial juga: ide memang selalu berkaki. Terlepas apakah kaki itu kuat atau lemah, media-media penerus semangat Monitor tak pernah dicurigai sebagai bahaya laten yang akan mengganggu kerukunan beragama.

KEMARAHAN massa sedikit mereda setelah Wendo diberitakan media resmi ditahan polisi terhitung sejak 26 Oktober 1990, atau selang empat hari setelah penyerahan dirinya demi meminta pengamanan. “Padahal enggak. Kita masih bisa bebas main kartu dan canda-canda dengan petugas kok,” Wendo nyengir, “saya dijebloskan ke sel cuma sehari saat wartawan mau wawancara.” Itu pun, ia menambahkan, cuma sebentar. Artinya, begitu para wartawan pulang, Wendo bisa wara-wiri lagi.

Wendo baru benar-benar masuk sel ketika dipindahkan ke Rumah Tahanan Salemba untuk keperluan pemeriksaan jaksa guna keperluan persidangan. Di sini Wendo mulai main mata dengan jaksa penuntut Soeryadi W.S. Uang senilai Rp 70 juta direlakan Wendo sekadar untuk memperoleh keringanan hukuman. Si jaksa setuju, Wendo agak tenang.

Untuk sebuah kasus pelik, persidangan Wendo tergolong cepat. Akhir Januari 1991 ia mulai menginjakkan kaki di pengadilan, pertengahan April tahun yang sama Wendo sudah dibekali vonis untuk masuk hotel prodeo. Semuanya seperti sudah diatur, tak ubahnya kereta api yang menggelinding di atas relnya.

Barangkali yang di luar skenario adalah membludaknya pengunjung. Tempo memberitakan, jumlah petugas yang dikerahkan untuk mengamankan jalannya sidang mencapai sekitar 1.000 personel. Sebanyak 200 personel di antaranya dibon dari markas Komando Daerah Militer Jaya, Jakarta. Ditilik dari jumlah aparat, Wendo sudah bikin rekor –jauh lebih ketat dari persidangan H.R. Dharsono dalam kasus subversif pada 1985 atau Agus Nasser dalam kasus mayat potong tujuh pada 1989.

Soal rekor-rekoran, masih ada yang lain. Dari sisi jumlah saksi, umpamanya, sidang Wendo luar biasa banyaknya. Ada tokoh keagamaan, tokoh organisasi pemuda Islam, tokoh pers, pihak perusahaan tempat Wendo terakhir bekerja, ahli hukum, aparat kepolisian dan macam-macam lagi. Pendeknya, sidang Wendo benar-benar seperti sebuah seminar maraton, tempat orang pamer pengetahuan. Jangan lupa pula, Soeharto, presiden Indonesia saat itu, secara terbuka memerintahkan agar pihak berwenang segera menyeret Wendo ke pengadilan. Siapa yang bisa mengabaikan imbauan dari seorang yang paling berkuasa ini, yang setiap kata-katanya menjadi semacam sabda pandhita ratu.

Rekor lain mungkin dalam tuntutan jaksa. Berlapis-lapis pasal ditebar untuk menjerat Wendo, mulai pasal 156 a huruf a KUHP (Kitab Undang-Undang Hukum Pidana) tentang penghinaan agama, pasal 157 (1) KUHP tentang penyebaran penghinaan terhadap golongan penduduk, sampai pasal 19 UUPP (Undang-Undang Pokok Pers) tahun 1982 tentang pelanggaran fungsi dan kewajiban pers. Belum lagi ayat suci Al-Quran seperti Surat An Nissa ayat 59 dan 80 atau Al Maidah 32 hampir dapat dipastikan akan menjadi pertimbangan hakim untuk tidak goyah pada putusannya.

Buat Wendo seluruh rekor itu artinya cuma satu: ia tak akan bisa menyelamatkan diri dari vonis bersalah. Persoalannya, berapa tahun ia harus mendekam di penjara. Ia tak bisa mempercayai uangnya begitu saja, yang telah ditebar ke pihak-pihak yang berkepentingan. Ia dipaksa keadaan untuk berjuang, memberi sedikit tenaga pada penasihat hukumnya, Oemar Senoadji, yang sudah jungkir balik membelanya.

Permintaan maaf secara terbuka di depan persidangan, sebagaimana tradisi hukum Eropa-Kontinental, adalah salah satu cara untuk mendapatkan keringanan hukuman, pikir Wendo barangkali. Maka, pledoi Wendo yang setebal 16 halaman –11 halaman lebih tipis dari tuntutan jaksa yang 27 halaman– memberi titik kuat pada kata yang tiba-tiba bernilai mahal itu. Maaf itu.

“Saya mohon maaf,” kata Wendo. Permohonan ini, yang dituliskan di bab pendahuluan, ditujukan kepada masyarakat, khususnya pemeluk Islam. Kepada para bosnya di Gramedia. Kepada para anak buahnya –baik di Monitor atau di media lain, termasuk mereka yang bekerja membuat sinetron dengan Wendo.

“Sedikit pun saya tidak bermaksud menyengsarakan saudara-saudara semua,” tandas Wendo diikuti sebuah pengandaian yang ia kutip dari kata-kata ibunya: kesandung ing dalan rata, kebentur ing awang-awang (tersandung di jalan datar, terjedot di langit). Peribahasa itu segera saja menjadi makanan empuk media massa. Tempo menerjemahkannya “tersandung di jalan datar, terbentur di langit.”

Dalam pledoi berjudul “Sebagai Pribadi Atau Kelompok Kita Ini Lemah dan Mudah Cemas Sebagai Bangsa Kita ini Kuat, Liat dan Selalu Mayoritas” Wendo juga menyatakan penyesalannya, sebelum antara lain menguraikan kronologis pembikinan angket “Kagum 5 Juta” itu. “Harusnya saya sudah tahu. Tanpa ada yang memberi tahu pun, harusnya sudah tahu. Nyatanya saya bego. Sangat bego. Jahilun,” kata Wendo.

Di bagian lain, Wendo mengungkapkan ketidak-berdayaannya saat harus menghadapi kasus Monitor –seperti halnya ia tak berdaya ketika menghadapi anaknya yang diserang penyakit paru-paru. “Kalau saja saat itu kami sekeluarga cukup punya duit dan tahu untuk segera mengobati paru-paru si kecil, kepedihan batin ini sedikit banyak terhibur.” Wendo pada intinya tak pernah membayangkan kalau angket yang kelihatannya remeh-temeh itu akan punya efek dahsyat hingga seisi negeri berguncang hebat.

Pledoi itu tak menghasilkan apa-apa. Juga uangnya. Wendo tetap terkena hukuman maksimal. Lima tahun penjara.

Wendo terhenyak.

Dalam suatu kesempatan menjelang banding, Wendo sempat bertemu jaksa Soeryadi W.S. Dari mulutnya meluncur sebuah pertanyaan retoris, “Pak ini bagaimana?”

“Saya hanya menjalankan tugas,” jawab Soeryadi singkat.

Mulut Wendo terkunci. Kemudian seluruh tubuhnya. Di sebuah sel.

AWAL November 2001 menjelang senja di sebuah rumah, di kawasan Cempaka Putih, Jakarta. Ini tempat tinggal Gideon Tengker, pemusik jazz. Istrinya, Rita Amelia, berbaik hati meminjami Wendo ruangan kerja hari itu. Rita Amelia dikenal sebagai artis sinetron dan pernah dikontrak PT Atmochademas Persada, rumah produksi milik Wendo, untuk Satu Kakak Tujuh Ponakan, yang ditayangkan RCTI beberapa waktu lalu.

Ruang kerja itu terletak tepat di depan di kamar studio milik Tengker, yang mulanya mungkin dimaksudkan sebagai paviliun atau kamar tamu. Ukurannya kecil saja, paling-paling seluas 3 x 5 meter persegi dan hanya muat sebuah meja tulis. Di situ Wendo didapati sedang memeloti sebuah notebook keluaran terbaru, yang antarmukanya hampir setipis ketebalan sandal jepit. “Ini katanya paling top sekarang,” ujar Wendo.

“Memang betul,” saya mengafirmasi, “ini di atas 20.” Maksud saya Rp 20 juta.

Di ruang sebelah, Rita Amelia dan Cut Mini, juga artis sinetron, terlihat sedang kongko-kongko. Kelihatannya mereka belum mandi. Beberapa awak Atmochademas hilir mudik ke ruang tersebut.

“Pernah affair dengan artis?” iseng-iseng saya tanya Wendo, di lain waktu.

“O, nggak. Saya dikenal produser rada bener.”

Kehadiran Wendo di Cempaka Putih bukan semata mengikuti mata kaki dan janji ngobrol dengan saya. Ia sedang memonitor aktivitas syuting sinetron Doa Itu Nyawa Kedua, juga sinetron bikinan rumah produksinya. Wendo memang sedang keranjingan bikin sinetron kini. Selain judul tadi, yang akan ditayangkan RCTI, pada tahun 2001 saja sekurang-kurangnya ia mesti menggeber empat sinetron anyar lainnya: Juragan Sinetron untuk SCTV, Auk (RCTI), Panggung Jakarta Mall (TPI), serta Jika Bukan Oma Pastilah Opa (RCTI).

Praktis, aktivitas menulisnya lebih banyak ditumpahkan untuk pembikinan naskah skenario. Sesekali memang ia bikin novel atau nongol di media melalui kolomnya. Toh dua yang disebut terakhir tidak seluar-biasa yang dikerjakan tahun 1980-an silam.

Ia tidak membuat naskah skenario untuk dirinya sendiri. Ia melayani juga pihak lain di luar rumah produksinya, seperti Rano Karno atau Dede Yusuf.

“Sekarang tidak miskin lagi, kan?” tanya saya sekadar menyambung-nyambung perbincangan.

“Enggaklah.”

“Selepas penjara itu, persisnya Mas ke mana?”

Pembicaraan terpotong. Seorang pembantu membawa baki minuman. Sebuah botol kecil berisi tablet terdapat di atasnya. “Rita … Rita, obat apaan ini?” seru Wendo.

“Obat perangsang,” Rita Amelia keluar dari ruang sebelah, mendekati meja tempat kami ngobrol.

Wendo menelan beberapa Calcusol, obat untuk mengurangi kadar kolesterol.

“Wuih, waktu itu saya benar-benar susah. Duit nggak ada, kerjaan nggak punya. Orang nggak berani kasih kerjaan,” tutur Wendo.

Nasib akhirnya mempertemukan Wendo dengan Sudwikatmono, seorang konglomerat penguasa lini bisnis perfilman dan bioskop, selain terjun ke sejumlah media cetak di bawah payung Kelompok Subentra. Sudwikatmono bercerita kepada Wendo, bahwa dirinya sudah menghabiskan Rp 2 miliar untuk membangun Bintang Indonesia. Surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP) Bintang Indonesia sempat berada dalam genggaman Wendo. “Waktu aksi massa pertama itu, malamnya saya sedang ngerjain layout Bintang Indonesia,” kata Aris Tanjung, bekas redaktur artistik Monitor.

Dalam bernegosiasi dengan Sudwikatmono, Wendo masih bisa memperlihatkan taringnya. “Bayaran saya mahal Pak,” kata Wendo kepada Sudwikatmono, “Kasih saya waktu setahun, kembali itu.” Yang dimaksud Wendo adalah mengembalikan kerugian Rp 2 miliar yang diderita Bintang Indonesia dan lainnya. Kesepakatan tercapai. Wendo diberi gaji Rp 15 juta untuk jabatan direktur –pihak luar mengenalnya konsultan. “Saya ambil BMW,” kata Wendo membicarakan fasilitas kerja yang diterimanya.

“Tahun pertama saja sudah untung,” kata Wendo, bangga. Hanya tiga tahun di situ. Pada 1998, Wendo bercerai dengan Subentra dan mendirikan PT Atmo Bismo Sangotrah, perusahaan yang memayungi sedikitnya tiga media cetak: tabloid anak Bianglala, Ina (kemudian jadi Ino), serta tabloid Pro-TV. Cuma Ino yang relatif punya nafas panjang. Dua lainnya ditutup karena Wendo tak lagi sejalan dengan mitranya, Agus Lasmono, anak Sudwikatmono, yang belakangan membikin rumah produksi Indika.

“Jadi setelah penjara itu Mas nggak sempat mampir ke Gramedia dulu?” tanya saya.

“Apa? Saya sudah dipecat kok. Saya pikir, waktu di dalam, saya cuma dipecat boong-boongan, eh tahunya asem, saya dipecat betulan.”

“Gede dong duit PHK-nya?”

“Nggak seperak pun.”

Saya mencoba mengkonsentrasikan daun telinga, khawatir saya salah dengar. “Padahal Noorca itu, dulu, dikasih Rp 100 juta,” katanya lagi.

Noorca yang dimaksud seniman Noorca M. Massardi, yang kini mengemudikan majalah Forum Keadilan. Ia sempat memimpin Jakarta-Jakarta, majalah milik Gramedia yang ditutup pada tahun 2000. Massardi diminta mundur oleh Gramedia dengan mendapat kompensasi Rp 100 juta, menyusul rentetan kekisruhan di tubuh redaksi yang mengakibatkan oplah Jakarta-Jakarta sempoyongan. Tangan dingin Wendo sempat memberi sentuhan hingga Jakarta-Jakarta kembali membiakkan oplahnya di bawah pupuk jurnalisme, lagi-lagi, “ser dan lher.”

“Tidak mendapat seperak pun,” saya ingin penegasan.

“Tak seperak pun.” ***

*) Majalah Pantau, edisi Januari 2002

Dewi Lestari

Salah satu kelebihan Dewi Lestari, akrab disapa Dee, adalah kepintarannya menyembunyikan diri. Orang tahu, Dee biasa nongkrong di sebuah bar kecil eksklusif di kawasan Setiabudi, Bandung. Pengagum Roland Orzabal dari kelompok musik Tears for Fears ini tak asing dengan bir, bahkan tequilla atau bacardi. Tapi, minuman favoritnya tak lebih dari teh wangi. Apalagi disajikan panas-panas.

Dee tak suka membaca fiksi. Tapi, ia cinta komik klasik Walt Disney, Tintin, dan Asterix. Dan ketika dirinya makin matang, Dee melebur ke dalam imajinasi segar Michael Crichton, Deepak Chopra, atau Krishnamurti, sambil sesekali mampir ke fantasi-fantasi J.K Rowling, yang menurutnya “superb”.

Tempo hari, Dee melulu dikenal publik sebagai penyanyi. Nyatanya, vokalis kelompok vokal RSD (Rida-Sita-Dewi) ini punya talenta lain: mengarang. Sejumlah kalangan malahan membaptisnya sebagai sastrawan “Angkatan Generasi Digital.”

Karyanya, Supernova, membawa kegairahan baru bagi tata niaga karya sastra. Di pasar buku Palasari, barometer bisnis buku di Bandung, novel itu diantri banyak peminat. A. Sasmita, salah seorang pemilik kios di sana, sempat kaget dengan ledakan pembeli. Dalam tempo kurang sebulan, pemilik kios buku itu menjual 500 eksemplar. Jumlah ini dalam catatan Sasmita hanya bisa disaingi cerita anak-anak Harry Potter karya J.K. Rowling dari Inggris.

Kekagetan yang sama pernah dirasakan Sasmita, ketika Ayu Utami melepas roman Saman. Sayangnya, roman itu telat sampai di Palasari. Masih untung, seratus eksemplar Saman bisa dijual Sasmita dalam kurun waktu sebulan.

Lain Saman, lain Supernova. Distribusi Supernova jauh lebih agresif ketimbang Saman yang menggunakan jalur konvensional. Di bawah bendera Truedee Books, Supernova dipasarkan melalui konsep pemasaran independen. Modusnya, selain ditaruh di situs Dee www.truedee.com, novel ini dijual langsung dengan memanfaatkan forum diskusi yang sengaja diadakan di sana-sini. Ini model Amerika Serikat memang.

Perjudian yang mempertaruhkan seluruh uang tabungan Dee membuahkan hasil. Di hampir semua forum diskusi, Supernova tak pernah sepi pembeli. Di Universitas Indonesia, Supernova terjual 250 eksemplar. Singkat cerita, edisi pertama, dicetak lima ribu eksemplar dalam dua edisi, edisi “paket hemat” seharga Rp 17.500 dan luks Rp 29.500, ludes hanya dalam tempo dua minggu. Awal April, Supernova mulai memasuki usia cetak ketiga.

Siapa pembeli Supernova?

Mereka datang dari beragam kalangan. Sebagian pembaca sastra, sebagian lagi kalangan yang sekadar iseng. Yanti, mahasiswi Universitas Padjadjaran asal Sumbawa, mengungkapkan, minatnya untuk membeli sekadar hendak membunuh rasa penasaran lantaran setiap hari kupingnya gatal mendengar kawan-kawannya membicarakan novel tersebut.

Yanti mungkin mewakili sampel konsumen buku sastra akibat dahsyatnya promosi dari mulut ke mulut, yang sengaja di-setting Dee sejak awal. Dee memilih cara demikian lantaran sadar betul, di pasaran beredar seabreg novel dengan kelebihan masing-masing.

“Kayak sabun, di supermarket banyak kali mereknya. Bila sebelum masuk ke sana, orang sudah punya satu merek, mereka nggak dibingungkan pilihan-pilihan, kan. Supernova menggunakan cara pikir ini,” ujar Dee.

Biar lebih fokus, Dee memilih kampus sebagai segmen utama pasarnya. Pilihan ini diambil setelah ia menyerap pendapat teman-temannya di Truedee Books, yang menyadari Supernova tergolong “berat” untuk sebuah fiksi, sehingga psikografis pembaca yang harus dikejarnya adalah mereka yang benar-benar merepresentasikan konsumen berpendidikan sampai pada level tertentu.

Supernova tergolong berat. Tak sedikit pengamat sastra yang mengamininya. Herry Dim, penyair asal Bandung, yang karier kewartawanannya sempat terhenti setelah ikut menyatroni aktivitas para jurnalis di Sirnagalih, Bogor, pada Agustus 1994, menilai Supernova tak hanya bermaksud bercerita, tetapi juga mencoba mendiskusikan ilmu pengetahuan, ilmu jiwa, hingga filsafat mutakhir.

“Di bagian awal pula, setidaknya saya sebagai pembaca, merasa terbanting-banting mengikuti kuliah teori-teori fisika yang padahal bisa saja dibaca lewat buku-buku sumbernya langsung,” begitu Herry Dim berkomentar.

Sapardi Djoko Damono, penyair dan kritikus sastra dari Universitas Indonesia -yang salah satu puisinya, Aku Ingin, digilai Dee- ikhlas menyebut Supernova sangat menarik. Bahkan Jakob Sumardjo, kritikus sastra lainnya dari Jakarta, mendudukkan Supernova sebagai novel generasi baru Indonesia, bergaya The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang menentang nilai-nilai dunia lama dengan mengajukan argumentasi-argumentasi baru soal misteri dan spiritualisme dengan adegan di Amerika Latin.

Tapi C. Sri Sutyoko Hermawan, seorang pembaca Supernova, punya pandangan berbeda. Hermawan melayangkan pendapatnya ke redaksi Kompas, yang membuat Dee senewen dan berusaha membalasnya sekadar untuk mengejek. Hermawan mempertanyakan antara lain, keselarasan teks dan konteks dari halaman tiga hingga sembilan yang melukiskan karakter Ruben dan Dhimas berdiskusi mengenai konsep-konsep sains dalam keadaan teler akibat “badai serotonin.” Naskah ini jelek.

Demokrasi, demikian pula kebebasan berekspresi menjadi dua kata kunci dalam hidup Dee. Ayahnya, Yohan Simangunsong, pensiunan tentara berpangkat kolonel, tahu persis bagaimana Dee mengambil jalan hidup. Demi mempertahankan semua itu, ia tak jarang berhadap-hadapan dengan kakak-kakaknya, terutama Ian dan Key. Ian anak tertua, disusul Key, dan Imelda. Dee berada di urutan keempat dan Arina pamungkas.

Berbeda dengan kakak-kakaknya, Dee lebih dekat dengan ibunya. Sang ibu, Tiurlan Siagian, seorang penatua di Gereja Huria Kristen Batak Protestan, meninggal pada 1995. Sejak kecil, Dee terbiasa melihat ibunya mencoret-coret kertas, membuat naskah pidato untuk khotbah. Dari ibunya, ini kata Dee, bakat menulisnya mengalir. Dan ia memulainya di usia dini: sembilan tahun.

Media tulisan Dee hampir tanpa batas. Ia bisa menulis di atas apa saja: buku, kertas tisu, bon pembelian barang, sampai kotak muntah di pesawat terbang. Semuanya ia arsipkan dengan rapi di lemari. “Sekarang ini saya lebih banyak menyimpan tulisan di notebook, yang sering saya bawa ke mana-mana,” katanya.

Loncat sana loncat sini bukan kebiasaan baru bagi Dee. Sebelum bergabung dengan kelompok vokal RSD dan terlibat aktivitas show di berbagai kota, Dee sudah lebih dulu mengenal sejumlah daerah, mengikuti garis penugasan yang disandang ayahnya.

Sekalipun Dee dibesarkan di lingkungan keluarga militer, karakter Dee jauh dari kesan anak kolong. Ia teguh mengejar sesuatu, tapi bisa berubah pada saat-saat terakhir. Hidup ibarat main catur, bisa berganti strategi dan taktik begitu terlihat medan permainan baru. Ia menolak tunduk pada hal-hal yang jumud, sifatnya. Sebaliknya, cewek bergaya hidup bak kalong ini selalu terbuka untuk sebuah kerangka baru. Sebuah sikap yang disumbangkan juga oleh lingkungan keluarganya.

Perseteruan Dee dengan Ian dan Key, umpamanya, di mata Yohan Simangunsong ikut berpengaruh pada Dee. Gadis ini bergumul dengan ilmu-ilmu sosial di Fakultas Ilmu Sosial Politik, Universitas Parahyangan, Bandung. Perseteruan dengan kedua kakaknya itu justru membawanya pada keisengan menggumuli sains, termasuk fisika, sesuatu yang barangkali, menurut jalan pikirannya bisa melapis pendapatnya tatkala harus adu argumentasi dengan mereka.

Sains pada akhirnya bukan lagi aksesori, tetapi kemudian jadi kebutuhan yang tak ada habis-habisnya. Ada pesona yang membuat Dee terus menekuninya. Kini pesona itu ia pindahkan ke dalam novelnya. Pemasaran digeber habis-habisan. Orang tertular. Dee senang. Ia tidak menyangka Supernova mendapat sambutan meriah yang melambungkannya ke puncak kebanggaan. Sesuatu yang tak pernah dirasakannya bahkan sehabis pertunjukan menyanyi. ■ Agus Sopian

*) Arsip Majalah Pantau, edisi Mei 2001

Niduparas Erlang:Awalnya, Menulis karena Butuh Makan

Ketekunan Niduparas Erlang dalam menggeluti dunia cerpen mulai menunjukan buah manis. Dia dinobatkan sebagai 15 orang penulis muda berbakat dari seluruh Indonesia dan berhak mengikuti pertemuan penulis dan pembaca tingkat internasional di Ubud-Bali, 3-7 Oktober mendatang. Sebanyak 25 negara mewakilkan utusannya dalam forum bergengsi ini.

Rizal Fauzi – Kota Serang

Lelaki berkacamata minus dan bermuka tirus ini tak menyangka jika kumpulan cerpennya yang berjudul La Rangku yang diterbitkan Selasar Publishing dan Yayasan Seni Surabaya pada 2011 lalu itu, dapat membawanya ke Ubud Writers and Readers Festival (UWRF). Nidu menjadi satu-satunya wakil dari Banten yang berhak menjadi peserta sekaligus pembicara pada festival penulis dan pembaca tingkat dunia di Pulau Dewata tersebut.

“Aku satu-satunya yang berasal dari Banten. Sebanyak 14 lainnya berasal dari Jogja, Jakarta, Padang, Bandung dan daerah lainnya. Gak nyangka bisa terpilih. Soalnya ratusan orang dari seluruh Indonesia yang mendaftar sampai akhirnya hanya 15 orang yang dipilih,” ujarnya kepada BANTEN POS, Kamis (7/6).

Lelaki asal Kecamatan Petir ini mengatakan, dari data panitia seleksi tercatat sebanyak 279 penulis yang mengikuti seleksi. Namun, juri hanya menetapkan 15 penulis yang terpilih sebagai peserta. Komposinya terdiri dari lima penyair, lima cerpenis, empat novelis, dan satu esais. Mereka terdiri dari empat perempuan dan sebelas pria.

“Acaranya setahun sekali. Untuk UWRF 2012 ini yang menjadi kuratornya penulis-penulis senior. Ada Saut Poltak Tambunan, Acep Zamzam Noor, dan Cok Sawitri. Mendengar nama-nama kurator itu, awalnya sempat ragu juga untuk ikut. Tapi kapan lagi ada kesempatan,” ungkapnya.

Nidu menduga, cerpennya banyak berbicara tentang kelokalan Banten, termasuk setting dan budayanya. Maka, cerita inilah yang kemungkinan dia terpilih. Sebab, dari beberapa hasil karya UWRF tahun sebelumnya, para penulis muda Indonesia yang terpilih lebih banyak dari mereka yang berbicara soal kearifan lokal dalam tulisannya.

“Aku menunggu prosesnya juga lama. Dari mulai pengiriman naskah hingga pengumuman, sekitar satu tahun. Maret  tahun lalu dibuka, baru ada pengumuman Juni ini,” kata dia.

Untuk mencapai pada tahap seperti sekarang ini, bukan tanpa proses yang panjang. Pemuda kelahiran Serang 11 Oktober 1986 ini memulai belajar menulis saat jadi buruh pabrik di Kota Tangerang. Usai menamatkan belajar di Sekolah Teknik Menengah (STM, sekarang SMK) di Kota Rangkasbitung pada 2004 lalu dia menjadi buruh pabrik. Bosan menjadi buruh, akhirnya ia melanjutkan kuliah di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang.

Awalnya, menulis bagi Nidu hanyalah upaya agar bisa bertahan hidup selama kuliah. Sebab, soal biaya pendidikan, Nidu memang tak bisa mengandalkan orangtuanya yang hanya tinggal ibunya.

“Aku bukan termasuk penulis produktif. Karena nulis juga hanya untuk menyambung hidup dan membayar uang kuliah. Makanya oleh teman-teman dikenal sebagai speasialis menulis untu lomba hehe..,” tuturnya terkekeh.

Memang, beberapa kali Nidu meraih juara lomba menulis baik tingkat lokal Banten, maupun nasional. Beberapa karya yang berhasil menjadi juara lomba itu kemudian dirangkum dalam antologi, diantaranya La Rangku (Selasar Publishing & Yayasan Seni Surabaya 2011) dan dinobatkan sebagai buku Cerpen Terbaik Festival Seni Surabaya 2011.

Selain itu ada Nyanyian Kesetiaan (2012), Lelaki yang Dibeli (2011), Yang Muda Yang Kratif (2010), Si Murai dan Orang Gila (2010), Rendezvous di Tepi Serayu (2009), dan Antologi Cerpen Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan (2010).

Sementara puisi karnya terangkum dalam antologi adalah “Antologi Puisi Festival Bulan Purnama Majapahit Trowulan” (2010), “Berjalan ke Utara” (2010), “Candu Rindu” (2009), dan “dari Batas Waktu ke Perjalanan Kamar sampai Kabar dari Langit” (2006).

“Sebelum menggantungkan hidup dari hanya hasil menulis, beberapa pekerjaan saya lakoni termasuk menjadi wartawan dan editor di media lokal Banten,” jelasnya. Nidu menganggap bahwa hal itu adalah perjalanan hidup yang harus dilaluinya hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang ini.

“Dari sekian tahun pelaksanaan UWRF, baru tahun 2011 dan 2012 ini ada peserta dari Kota Serang yang juga mewakili Banten. Tahun 2011 adalah Wahyu Arya. Semoga tahun depan juga yang lain,” tuturnya.*

*)Bantenpos, 9 Juni 2012

Indah Tri Lestari: Kutubuku Tercepat

Oleh: Ana

Sejak kenal dengan mba Indah Tri Lestari di Goodreads (http://www.goodreads.com/user/show/1604173-indah-threez-lestari) , saya sudah terheran-heran dengan banyaknya buku yang sudah dia baca. Buku yang terdaftar di rak “read” nya saja sebanyak 14117 buku. Di tahun 2010, Mba Indah sudah membaca 2265 buku, dan di tahun 2011, dia berhasil melampaui tahun sebelumnya, yaitu 2612 buku. Sampai dengan bulan Juni 2012 ini, jumlah buku yang sudah dia selesaikan sejak Januari mencapai 841 buah.

Angka statistik yang buat saya mustahil dicapai, mengingat sampai bulan ini saya baru selesai 43 buku. Nah, karena rasa penasaran yang amat sangat mengenai kecepatan membaca si mbak kutubuku satu ini, saya dan Aleetha memutuskan untuk mengajak mba Indah membagi rahasianya kepada para pembaca (atau lebih tepat penimbun) buku lainnya. Semoga, dengan wawancara kecil ini, bisa memberi sedikit inspirasi bagi temen-temen untuk mengurangi timbunan buku (yang kayaknya ngga habis-habis).


Sejak umur brp mba Indah suka baca buku?
Kalau dalam bentuk komik sejak umur 4-5 tahun, tapi kalau bentuknya novel sejak kelas 1 SD, umur 6 tahun. Novel pertama yang kubaca: Pasukan Mau Tahu – Misteri Pondok Terbakar karya Enid Blyton.

Koleksi buku di rumah mba Indah udh ada berapa nih?
Berdasarkan data hari ini, tepatnya 13.593 buku, lebih dari setengahnya berupa komik dan manga, sisanya novel dan buku nonfiksi.
Genre favoritnya apa aja?
Semua genre, yang penting menarik. Omnireader soalnya.

Dari ratusan buku yang dibaca tiap tahun, buku yang meninggalkan kesan paling dalam apa aja?

Pertanyaan ini susah untuk dijawab, karena setiap masa selalu ada buku yang paling favorit dan bisa dibaca berulang-ulang, meski sekarang rasanya biasa saja. Mungkin bisa dicek ke rak bukuku di Goodreads, mana saja buku yang kuberi rating 5 atau 4 bintang. (hasil ngintip dari raknya, buku2 berbintang 5 miliknya antara lain Conspirata, Jonathan Stroud, Taiko, Musashi, Bumi Manusia, dll)

Beli buku sebulan berapa banyak?
Let’s see… kalau belanja rutin antara 50 – 100 buku per bulan. Tapi kalau ada obral/pesta buku/bursa buku sih bisa lebih… banget.

Gimana sih ritual baca buku mba Indah?
Kapan pun ada waktu. Untuk hari kerja, setiap ada waktu luang disempatkan untuk baca. Sebelum berangkat ke kantor, dalam perjalanan pergi/pulang, jam istirahat sambil makan siang, setelah sampai rumah lagi sebelum tidur atau ketiduran. Kalau melakukan aktivitas tanpa multitasking dengan baca rasanya ada yang kurang deh. Untuk hari libur, bisa-bisa baca buku nonstop, kecuali punya rencana lain seperti main/nonton film/belanja/berburu buku obral… 🙂


Apa mba ada kesulitan dalam menyeimbangkan antara kewajiban rutin dan sehari2, misalnya pekerjaan kantor, atau pekerjaan rumah, dengan hobi baca mba Indah?
Hampir tidak bisa membawa pekerjaan kantor ke rumah, karena sepenting apapun biasanya kalah oleh keinginan (baca: nafsu) untuk membaca buku yang masih terlantar. Pekerjaan rumah biasanya masih bisa dimultitasking.

Kalo dilihat di goodreads, di tahun 2012 ini mba Indah udah baca ±700 buku. Cara memanage baca buku dg jumlah segitu banyak gmn mba?

Aku memprioritaskan membaca buku yang cepat dan mudah dibaca. Pertama-tama tentu komik/manga, antara 8-20 buku yang dibeli tiap hari Rabu di Gramedia, biasanya  satu-dua hari juga kelar. Setelah itu baru membaca buku dari tumpukan buku to-read, atau kadang-kadang ebook yang dibaca di laptop/hp. Prioritas berikutnya buku/novel yang tipis atau yang ringan, setelah itu baru buku-buku yang lebih tebal tapi menarik.

Rata-rata dalam satu bulan, bisa selesai berapa buah buku?
Kalau komik/manga rata-rata antara 50-80 buku sebulan (kecuali dapat komik obralan, bisa lebih). Novel/nonfiksi diusahakan minimal satu buku tiap hari kerja, dan antara 6-12 buku pas weekend.

Apakah mba Indah pakai teknik khusus seperti baca kilat? Kalau iya, belajarnya otodidak atau dr baca buku ttg baca kilat?

Otodidak, karena kebiasaan selalu membaca kapan saja dan di mana saja. Jadi, waktu akhirnya membaca buku tentang teknik membaca cepat, sepertinya tanpa sadar tekniknya sudah biasa dilakukan, meskipun tidak sampai 1 Halaman/detik.
FYI, kalau bukunya sangat menarik, biasanya bacanya biasa saja atau malah dilambat-lambatin sekalian. Dan kalau bukunya sangat tidak menarik, atau keburu ada buku lain yang lebih menarik, bisa saja buku yang sudah dibaca sebagian tiba-tiba kembali ke tumpukan buku terlantar 😉

Cara membaca cepat ala mba Indah itu kaya apa?

Ada beberapa cara yang kupakai, bisa membaca semua kalimat dalam kecepatan di atas normal (biasanya untuk yang bahasa Inggris karena otak masih perlu tambahan waktu untuk translate), atau scanning (biasanya untuk yang bahasa Indonesia, yang sekali scan juga langsung masuk).

Pernah menghitung kecepatan membaca sendiri?
Tidak pernah menghitung sih, tergantung bukunya juga. Tapi pernah baca buku 100 halaman (bukan komik) dalam 10 menit, biasanya bukan novel dan ada ilustrasinya seperti buku model ini:
http://www.goodreads.com/book/show/13332712-office-yoga
Untuk bacaan tanpa ilustrasi, gambarannya baca teenlit paling lama 1 jam, baca chicklit atau novel lain dengan tebal yang setara antara 1-2 jam. Masih jauh dari bacakilat mah.


Kelebihan dan kekurangan membaca cepet itu apa mba? Apakah dg membaca cepet, pemahaman akan suatu buku jd berkurang?

Kelebihan membaca cepat:
– dapat langsung menangkap intisari bacaan (pemahaman rasanya sama saja dengan baca dalam kecepatan biasa, tapi biasanya hal-hal yang dirasa tidak penting otomatis diabaikan)
– penting untuk nyolong baca di toko buku
– cocok untuk membaca buku yang tidak begitu menarik
Kekurangan membaca cepat:
– kurang menghayati atau terbawa emosi saat membacanya, kecuali isinya jelek ancur-ancuran sampai emosi kepingin lempar dan injak-injak, apalagi kalau bukunya dapat beli sendiri. Duh…

Mba indah kan bilang kelemahan membaca cepat adalah tidak gampang terbawa emosi selama membaca. Nah, gimana mba Indah menilai suatu buku itu bagus atau engga?
Cara dan kecepatan baca sangat tergantung kesan pertama dalam beberapa halaman atau bab awal. Begitu kena, bisa jadi kecepatan baca malah menurun dan jadi santai. Ya, betul, untuk novel/manga aku juga menilai buku yang bagus adalah buku yang bisa membuatku asyik, terbawa emosi atau hanyut ke dunia lain. Biasanya buku yang kubaca cepat karena kesan pertama bikin bete (protagonisnya bikin ilfil, alur lambat, bertele-tele, terjemahan ancur, dlsb), tapi tetap dibaca karena merasa rugi sudah beli. Ini memang efek buruk belanja buku obral, buku yang nggak dilirik kalau harga biasa dibeli juga, meski kadang dapat buku bagus juga sih.

Setelah membaca beribu buku kayak gitu, apa sih yang mba Indah dapet?

Jawaban klise: wawasan jadi luas (bukan cuma buku nonfiksi, baca manga juga bisa menambah pengetahuan, lho!).
Jawaban lebih tepat: kepuasan batin (tak perlu dijelaskan)
Jawaban pasti: kecanduan (semakin banyak baca, semakin ingin lebih banyak baca)

Selain membuat rumah baca gratis di cirebon, cita2 mba Indah di dunia perbukuan yg masih pengen direalisasikan apa mba?
Menulis buku. Seseorang yang hobi membaca, biasanya hobi menulis juga. Waktu bahan bacaan masih sedikit, ini masih kulakukan, meski hanya beredar di kalangan terbatas (keluarga dan teman saja sih ;p). Tapi setelah kecepatan membeli buku tidak bisa diimbangi dengan kecepatan membaca (plus waktu luang berkurang drastis setelah kerja kantoran), hobi yang satu ini jadi kalah penting. Seperti taxidermist di novel Virgil and Beatrice yang puluhan tahun menulis sebuah drama yang tak kunjung selesai, aku juga punya beberapa proyek yang “more than twelve years in the making”. Sekarang aku cukup menulis review saja, meski agak jarang juga karena daripada menulis review rasanya lebih baik waktunya dipakai membaca… :))

Masih banyak nggak tumpukan buku yang belum dibaca?

Hehehe… *penimbun buku sejati*.
Untuk lebih mengenal riwayat mba Indah sebagai salah satu dari sekian banyak avid reader, silakan baca postingan curcolku di blog ya:
http://threezstacks.blogspot.com/2012/01/reading-history.html


*) Pemilik blog Bukunyasapi

**)Disalin dari blog Ana, 22 Juni 2012

HAR Tilaar:Berkarya hingga Akhir

Oleh Ester Lince Napitupulu

Sedianya ulang tahun ke-80 Prof Dr Henry Alex Tilaar, Sabtu (16/6), akan dirayakan di salah satu hotel di Jakarta, sekaligus peluncuran empat buku barunya. Namun, acara ini diundur hingga Juli nanti karena Alex, panggilannya, mendampingi istrinya ke Rio de Janeiro, Brasil.

Sang istri, pengusaha kosmetik, Martha Tilaar, menjadi salah satu dari 14 anggota baru Global Compact Board yang dipilih Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon. Martha diundang dalam Konferensi Pembangunan Berkelanjutan PBB Rio+20 di Brasil, 20-22 Juni 2012.

Jadilah profesor emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini bersama istri bertolak ke Brasil, Rabu malam.

Rabu pagi Alex masih bertemu sejumlah pendidik di Bogor, Jawa Barat. Semangatnya tak pernah padam bila berkaitan dengan pendidikan.

Sejak pensiun dini sebagai guru besar UNJ (usia 65 tahun), Alex sering mendampingi istrinya yang diundang ke berbagai pertemuan internasional, termasuk ajang Miss World. Kesempatan ini dipakai Alex berburu buku-buku pendidikan, mengunjungi perpustakaan, dan mempelajari peran pendidikan bagi kemajuan dan perubahan di suatu negara. Dengan cara ini, ia mengumpulkan ide dan bahan untuk buku-bukunya tentang pendidikan.

Ketika Martha diundang ke Brasil, Alex tak mau ketinggalan. Selain ingin mengetahui hasil konferensi, ia ingin melihat legalitas Paulo Freire, peletak dasar pemikiran pedagogik kritis asal Brasil, dalam reformasi pendidikan negerinya.

Alex menyebarluaskan pemikiran pedagogik kritis di Indonesia sejak tahun 2002. Jadi, kesempatan berkunjung ke Brasil dia gunakan untuk berjumpa guru besar pendidikan di negara ini sambil melihat keberhasilan Freire.

Dengan niat itu, ia mengirim surat dan direspons Duta Besar Brasil untuk Indonesia Paolo Alberto Soares. Dalam perbincangan itu, muncul tawaran Soares untuk menerjemahkan salah satu buku Alex yang menyajikan buah pikiran Freire. Semoga terjemahan buku ini dalam bahasa Portugis bisa terwujud tahun depan, sebagai rangkaian peringatan 60 tahun hubungan Indonesia-Brasil.

Mewariskan pemikiran

Dunia pendidikan tak asing bagi Alex. Ayahnya, almarhum Kilala Tilaar, adalah guru sekolah dasar di Tondano, Sulawesi Utara.

Alex pun memulai karier sebagai guru hingga guru besar. Baginya, menulis tak sekadar hobi atau pengisi waktu luang pascapensiun. Menulis buku merupakan caranya mewariskan pemikiran kepada masyarakat dan generasi mendatang.

”Saya ingin menjadi profesor yang terus berkarya sampai akhir hayat. Buku-buku inilah yang bisa saya sumbangkan bagi masyarakat dan generasi mendatang,” ujarnya.

Alex tak mau menjadi profesor ”pohon pisang” yang sekali berbuah lalu selesai. Julukan ini dia tujukan bagi profesor yang mengejar gaji dan pangkat, bukan mengembangkan dunia akademik. Ia ingin menjadi profesor ”pohon ara” yang terus berbuah dan berguna bagi sekelilingnya.

”Lewat buku dan penelitian, kita bisa sebarkan secara alamiah pemikiran untuk mendorong perubahan. Kalau hari ini belum diterima, insya Allah nanti akan berguna,” ujar penyuka fotografi ini.

Tak heran pada usia 80 tahun pun ia tetap berkarya lewat buku. Dengan tambahan empat buku baru itu, tiga tentang pendidikan dan satu kisahnya sebagai turis berkeliling dunia, sudah 27 buku yang dia hasilkan.

Beberapa buku karyanya menjadi koleksi Library of Congress di Washington, AS. Perkembangan penulisannya dalam pedagogi mendapat perhatian almamaternya saat Alex meraih gelar master dan doktor pendidikan di Indiana University (IU).

Tahun 2009 ia mendapat penghargaan dari IU. Alex dinilai konsisten memperjuangkan kebutuhan anak Indonesia dalam hubungannya dengan dunia yang semakin terbuka pada abad ke-21.

Penghargaan juga diterimanya dari Michael McRobbie, Presiden IU, dalam pertemuan alumni di Jakarta, Mei lalu. Alex menerima penghargaan Thomas Hart Benton Mural Medallion karena dinilai peduli terhadap pendidikan di Indonesia.

Terkait banyaknya buku yang dia hasilkan, Alex bercerita, seorang profesor di Harvard University terkejut dan mengira dia sangat kaya. Sebab, seorang profesor yang menulis buku di AS bisa mendapat honor tinggi.

”Saya cuma tertawa dan bilang kalau gaji saya hanya bisa beli tiket ke Singapura, tetapi tak bisa balik ke Indonesia,” ceritanya sambil tertawa. Bahkan, anak-anaknya pun lebih berminat menjadi pengusaha seperti sang ibu karena pekerjaan yang ditekuni sang ayah tak menjanjikan materi berlimpah.

Dalam buku baru yang segera diluncurkan, Alex menghimpun tulisan dari teman-temannya. Mereka mempertanyakan arah pendidikan nasional yang tak jelas.

”Arah pendidikan kita tak tahu mau ke mana. Seharusnya pendidikan bertumpu pada masyarakat dan budaya Indonesia, jangan hanyut pada globalisasi. Sebab, masih ada 30 juta penduduk miskin, nelayan, dan petani miskin. Tetapi, pendidikan kita diarahkan untuk bersaing dengan negara maju, bukan memecahkan masalah bangsa,” ujarnya.

Menurut Alex, kebijakan pendidikan tak boleh dikuasai kebijakan publik. Keduanya harus kembali pada nilai-nilai dalam UUD 1945 dan Pancasila.

Di buku lain, ia menyoroti pendidikan nasional yang justru mematikan kreativitas. Sebagai contoh tetap dipertahankannya ujian nasional (UN). Padahal, kreativitas mendorong lahirnya entrepreneurship dalam segala bidang. Oleh karena itu, kreativitas harus dikembangkan sejak pendidikan dalam keluarga dan pendidikan dini.

Mengkritisi

Perhatian Alex pada perkembangan pendidikan nasional tak berhenti. Ia termasuk dalam barisan kelompok ”gaek” dan kelompok pemberontak muda yang mengkritik keras kebijakan pendidikan nasional.

Dipisahkannya pendidikan dari kebudayaan pada era reformasi menjadi keprihatinannya. Ketika pendidikan kembali disatukan dengan kebudayaan, Alex mengkritisi tak terlihatnya perubahan mendasar dari strategi kebudayaan dan pendidikan nasional.

Ia juga setia hadir dalam sidang Mahkamah Konstitusi (MK) yang menggugat beberapa pasal Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, yang dinilai menyimpang dari UUD 1945 dan Pancasila. Alex hadir sebagai saksi ahli untuk mendukung judicial review terhadap kebijakan rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) yang dianggap diskriminatif.

Ia pun mendukung dua gugatan di MK yang sudah menang. Dukungannya menghasilkan keputusan MK yang menghapuskan UU Badan Hukum Pendidikan dan kewajiban pemerintah membantu pembiayaan pendidikan sekolah swasta.

Ia mendorong pemikiran kritis dalam pendidikan. Alex menyediakan rumahnya sebagai tempat diskusi pemikiran kritis demi kemajuan pendidikan nasional. ”Pemikiran kritis harus didukung karena inilah dasar kita berpikir inovatif.”

”Ini tak berarti semua kebijakan pemerintah jelek. Tetapi, kita harus berpikir kritis untuk melihat jauh ke depan, mencari alternatif yang lebih baik,” ujarnya.

*)Kompas, 16 Juni 2012

Julie Sutardjana: Si Penulis Resep

Pada usia 90 tahun, Julie Sutardjana masih berkarya dan tetap sehat. Tahun ini, ia merayakan 60 tahun berkarya dengan merilis buku resep aneka hidangan. Sudah lebih dari 50 buku ia tulis sejak tahun 1951. Semua tentang makanan lezat.

Kami memanggilnya Oma, meski nama ”bekennya” Nyonya. Tepatnya Nyonya Rumah, yang dipakainya sebagai nama pena ketika Julie Sutardjana menulis resep di harian Kompas sejak tahun 1971. Nyonya Rumah pula yang dijadikan nama dua rumah makan yang dikelolanya di Kota Bandung, Jawa Barat. Dunia masak-memasak, jagat makanan lezat, adalah milik Julie Sutardjana. Ia menikmati dunia itu dengan sukacita. Dengan air mata juga pada awalnya.

Kami berbincang-bincang dengan Oma Julie di rumah makan Nyonya Rumah di bilangan Jalan Naripan, Bandung, Selasa (5/6) siang. Oma saat itu baru kembali dari acara kerohanian. Ia memang tetap aktif. Wajahnya berbinar-binar segar. Jalannya masih nginthik, lincah seperti remaja. ”Padahal, ini sudah slow motion, lho, ha-ha-ha…,” katanya berseloroh tentang caranya berjalan.

Bagaimana dunia masak-memasak ini bermula?

Sebenarnya saya juga enggak mengerti. Saya berlatar belakang guru, ngajar segala macam pelajaran di SD, kok bisa bergerak di bidang masak-memasak. Tetapi, saya percaya sekali tangan Tuhan yang bekerja.

Awalnya saya nulis resep untuk majalah Star Weekly (tahun 1951) dan ini berlangsung selama 10 tahun. Setelah itu, menulis untuk mingguan Jaya 10 tahun. Ketika tabloid ini mau tutup, saya dihubungi Kompas, lalu menulis sejak 1971 sampai sekarang.

Mungkin juga pengaruh dari keluarga. Orangtua saya Konghucu, sering ada sembahyang dan sering ada masakan. Saya mulai perhatian terhadap masakan dari sini, saat berumur 10 tahun. Masak nasi pakai gerabah, biarpun gosong udah seneng, ha-ha-ha….

Kok sampai terpikir untuk menulis?

Karena seneng masak, yang saya buka saat baca Star Weekly adalah bagian resep. Mungkin karena guru, saya terlalu kritis. Jadi, saya bacanya sambil ngomel. Suami saya dengar, lalu dia bilang, ”Kamu kok ngomel melulu.” Saya ditantang apa bisa bikin resep yang lebih bagus. Saya bilang bisa. Saya pun disuruh nulis resep, lalu dikirim ke Star Weekly.

Karena enggak punya kertas, saya nulis di kertas sobek-sobek, pakai pensil. Saya bikin empat macam resep, lalu saya kirim. Saya deg-degan, keterima enggak ya. Ternyata diterima. Setelah itu, deh-degan lagi nunggu wesel. Mungkin dapat Rp 25 ya…, jadi teka-teki. Ternyata saya dapat Rp 75. Saya meloncat-loncat kayak orang gila karena (Rp 75) itu berarti lima kali lipat dari pendapatan saya ngasih les. Saya ini di samping ngajar kan juga ngajar les berhitung, sebulan sekali dapat bayaran Rp 15.

Saudagar batik

Julie Sutardjana merupakan anak kedua dari tujuh bersaudara. Orangtuanya, pasangan Njo Wat Djiang dan Tjan Le Nio, adalah saudagar batik di Lasem, Jawa Tengah. Mereka mengirim Julie ke sekolah guru Hollandsche Chineesche Kweekschool di Jatinegara, Jakarta.

Setelah menikah dengan Oh Thian Hok atau Satia Sutardjana, seorang guru, Julie tinggal di Bandung. Julie mencari penghasilan tambahan dengan membuat kue. Pekerjaan ini dipandang sangat ”aneh” bagi keluarga saudagar batik. Bahu-membahu dengan sang suami, Julie bekerja agar ekonomi keluarga berputar. Suami membantu

mengantarkan kue. ”Dia sendiri pekerjaannya berat. Setelah ngajar pagi, dia ngajar sore, lalu malamnya kursus. Saya baru ketemu suami pada malam hari….”

Bagaimana keluarga memandang Oma yang saat itu membuat kue?

Dia (ibu) itu orang kecukupan, dagang batik dan punya pegawai ratusan. Tapi, saat itu, saya juga mengalami jualan kue sendiri. Sebenarnya saat itu belum pinter bikin kue, tapi saya coba bikin. Kata Mama, ”Kowe uripmu kok kangelan (hidupmu kok susah).”

Hati saya sakit, tapi Mama memang jujur. Saya dibandingkan dengan ipar yang kerjanya tingal muter telepon ngomong sebentar bisa dapat (uang) ratusan ribu. Adik kecil saya begitu. Setelah menikah, dapat rumah dengan segala isinya. Saya diam saja. Hati saya sakit.

Saya bikin lemper. Kalau pada umumnya lemper bikinnya dikepelin, saya bikin diler, pakai loyang. Lalu saya taruh daging, di atasnya ketan lagi, jadi lemper lapis. Lalu saya bikin etiket, tadinya mau pake tulip, tapi gambar enggak jadi-jadi. Satu saat saya liat antanan, tumbuhan yang daunnya merambat kecil-kecil. Akhirnya saya gambar antanan dan jadi etiket lemper lapis saya (sampai sekarang).

Lemper lapis ini waktu itu cukup unik karena belum ada orang yang bikin lemper seperti itu. Saya semula enggak jualan. Tapi, kalau ada acara gereja, saya nyumbang (lemper). Kalau ada arisan saya bikin.

Satu hari ada temen pesen sama saya. Dia heran melihat lemper saya, digigit di mana pun kena daging. Dia kenal pemilik toko Victoria di Jalan Pager Gunung. Pemilik toko pesen sama saya. Wah, saya seneng dapat pesenan. Setelah itu, pesenan lemper banyak. Tiap pagi mobil ngantri mau ngambil lemper.

Bagaimana menambah penghasilan keluarga guru?

Saya kerja sebagai guru setahun. Dimulai tahun 1951, habis ngajar, saya ngadonin kue kering pakai baskom, lalu dibungkus serbet. Saya lalu ke toko Bakery Zondag di Jalan Sumatera (Bandung). Di sana, saya numpang nyemprit, (membuat kue kering) karena saya enggak punya alat sendiri. Saya juga numpang manggang karena katanya kalau habis manggang roti, terus buat kue kering bagus. Saya bayar untuk bisa nyemprit dan manggang di sana.

Setelah kue mateng, suami datang naik sepeda. Sambil membawa kue-kue yang dikalengin, saya dibonceng sepeda menawarkan kue ke toko-toko. Menurut saya sih kuenya enak, tetapi ternyata ditolak. Pulang-pulang, saya nangis. Saya enggak pernah berjuang seperti itu karena saya berasal dari keluarga berkecukupan.

Saya lalu teringat kue ananas koekjes (nastar) yang pernah saya beli di Jatinegara sewaktu sekolah. Entah bagaimana caranya, saya mencoba bikin. Repot juga karena harus bikin selai sendiri. Saya bikin kuenya jadi berbentuk kotak-kotak, dipotong-potong. Jadi tidak seperti nastar yang ada sekarang. Resepnya sampai sekarang tetap my secret, ha-ha-ha….

Saya lalu ke Toko Tjilik di Pasar Baru (Bandung). Ternyata kue nanas saya diterima. Kue-kue saya yang tadinya dipoyokin (dicemooh) juga diterima semua. Keuntungan saya yang pertama Rp 3,5. Saya seneng. Uangnya saya belikan baskom gede buat ngadonin kue. Karena dibeli dari hasil kerja keras, baskomnya saya simpan meski sudah bolong. Yang bolongnya saya alasi kertas buat tempat arang.

Menulis buku

Buku kumpulan resep masakan pertama karya Julie Sutardjana terbit tahun 1957, berjudul Pandai Masak 1 dan Pandai Masak 2 terbitan PT Kinta, Jakarta. Sejak itu, sekitar 50 buku terbit, termasuk 250 Resep Pilihan Julie ”Nyonya Rumah” Sutarjana terbitan Gramedia Pustaka Utama, yang dirilis Mei lalu.

Bagimana mulai menulis buku resep?

Waktu itu (Penerbit) Kengpo nyuratin saya. Banyak orang minta resep yang saya tulis di Star Weekly itu dibukukan. Setelah buku saya terbit, hidup kami rada longgar. Saya bisa beli rumah di Jalan Culan itu hasil buku. Kalau enggak hasil buku, dari mana? Ini yang membuat saya bahagia. Saya bisa melihat langit tanpa diusik.

Bagaimana kemudian membuka rumah makan?

Saya mulanya enggak mau, tapi anak saya, Lily, bilang bukan waktunya lagi saya bangun tiap hari lalu kerja. Anak-anak punya usul bikin cake shop. Dengan punya cake shop, mereka bilang, saya bisa mengajarkan kepada karyawan membuat hidangan yang saya kuasai. Jadi, nanti tinggal ongkang-ongkang kaki, enggak perlu repot.

Sekitar 12 tahun lalu cake shop didirikan, lalu berkembang jadi restoran dan sekarang sudah ada dua restoran, di Jalan Naripan dan Jalan Trunojoyo.

Masih turun langsung mengontrol kualitas rasa?

Kalau owner-nya enggak ikut terjun, sering kali jalannya enggak bener. Kunci mengelola rumah makan itu adalah harus bisa menjaga makanan, jangan sampai ada yang rusak. Jadi, saya pun setiap hari turun mencicipi masakan.

Satu hari, saya mendapati bumbu tahu gimbal yang disimpan di kulkas terasa asam. Anak-anak bilang, asamnya karena cuka. Tapi, saya tahu itu bukan asam karena cuka, tetapi karena rusak. Bayangkan kalau makanan itu dikeluarin, pembeli bisa sakit perut. Jadi, semua makanan itu harus aman.

Bagaimana rutinitas Oma sehari-hari?

Waktu saya terisi semua. Bangun jam 06.00, mengucap syukur. Saya gerakkan badan, sendi-sendi, sambil berbaring selama 10 menit. Saya turun di karpet, melakukan hal yang sama. Setelah itu, jalan-jalan di gang 15 menit. Dulu sih bisa sampai 30 menit.

Lalu, saya baca koran Kompas dan PR (Pikiran Rakyat). Baca yang penting-penting dulu. Saya juga baca tentang Corby. Kasus Hambalang juga saya baca sampai bosan.

Setelah sarapan, jam 10.30 mandi, siap-siap pergi ke kedai untuk mengecek makanan. Saya pergi ke Naripan dulu, lalu Trunojoyo sampai sekitar jam 14.00. Setelah itu pulang, makan, baca koran lagi kalau enggak ngantuk. Kalau ngantuk tidur siang, bangun jam 17.00.

Jam 17.00, saya nonton TV. Kalau acaranya enggak menarik, saya baca majalah atau menjahit. Jahit apa saja, bikin serbet, lap panci, atau benerin baju-baju yang rusak. Saya orangnya memang enggak mau diam, enggak enak rasanya kalau diam. Saya bersyukur masih punya aktivitas karena banyak orang yang hanya diam di rumah mudah pikun.

Apa makna usia 90 tahun?

Saya syukuri hidup ini. Dulu setelah menikah, saya bilang sama Tuhan ingin anak 2 perempuan dan 2 laki-laki, saya diberi. Saya minta ingin keluarga bahagia. Buktinya sekarang semua tidak ada masalah, berkah melimpah. Semua saling mencintai.

Kalau liat iklan di koran, yang melewati usia saya hampir tidak ada. Mungkin Tuhan sudah lupa sama saya. Bonus umur saya sudah 20 tahun lebih karena rata-rata usia yang diberikan Tuhan adalah 70 tahun. Saya bersyukur di usia saya masih diberi kesehatan dan saya enggak pikun. Saya masih inget semua, termasuk bacaan saya waktu saya SD kelas VI.

Sekarang hidup saya manis, enggak kekurangan. Ini bukannya nyombong. Saya bisa nabung supaya enggak gerogoti uang anak, karena anak masih punya masa depan. Tuhan menopang hidup saya.

kisah cinta best seler1

*)Kompas, 10 Juni 2012

Prof Dr A Teeuw, Kenangan Terentang dari Leiden hingga Jakarta

2012 05 26_Buku_Prof Dr A Teeuw_Obituari, SastraOleh Suryadi

Hari Jumat, 25 Mei 2012, mulai pukul 11.00 waktu Leiden, Belanda, jenazah Prof Dr A Teeuw (91) dilepas di Marekerk (Gereja Mere), Lange Mare 48, 2312 GS Leiden, untuk selanjutnya dikremasikan secara pribadi oleh pihak keluarga almarhum.

Meski sudah meninggal sejak 18 Mei lalu, kepergian akademikus dan kritikus sastra Indonesia terkemuka ini baru diumumkan ke khalayak pada Kamis (23/5) pagi. Dalam kartu undangan sekaligus pemberitahuan yang diterima para sejawat, murid, dan kenalannya di Leiden, disebutkan bahwa penghormatan terakhir untuk Hans—panggilan akrab Prof A Teeuw—dapat diberikan di Gereja Mere, Jumat siang. Selanjutnya, ”Hans wodts in daarna in besloten kring gecremeerd” (Hans kemudian akan dikremasi secara pribadi).

Berita kematian A Teeuw mengagetkan para murid, kenalan, dan para pembaca buku-bukunya di Indonesia, seperti dapat disimak dari banyaknya ucapan belasungkawa di jejaring sosial Facebook sejak Jumat lalu.

Memang, bagi para peneliti, kritikus dan pencinta sastra Indonesia, nama Prof Dr A Teeuw tentu tidak asing lagi. Ia adalah akademikus dan kritikus sastra Indonesia sangat terkemuka, yang telah berjasa mengembangkan studi bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Leiden, Belanda. Semasa ia mengajar di sini (1959-1986), studi bahasa dan sastra Indonesia sangat berkembang dan menggema ke seluruh dunia.

Peletak fondasi

Andries ”Hans” Teeuw lahir di Gorinchem, Provinsi Zuid-Holland, Belanda, pada 12 Agustus 1921. Ia meraih gelar doktor di Universitas Utrecht tahun 1946 dengan disertasi berjudul Het Bhomakawya: een Oudjavaans gedicht. Tahun 1945-1947 A Teeuw sering berada di Yogyakarta, saat cintanya kepada Bhomakawya mulai mendalam. Setelah menjadi doktor, ia menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia (UI, 1950-1951) dan di University of Michigan, Amerika Serikat, tahun 1962-1963.

A Teeuw telah mengukir karier akademiknya dengan sangat gemilang. Ia telah menerbitkan lebih dari 150 publikasi ilmiah tentang bahasa dan sastra Indonesia (klasik dan modern, nasional dan daerah, khususnya Jawa, Sunda, dan Melayu), baik yang ditulis sendiri maupun bersama orang lain. Minatnya tidak terbatas pada sastra Indonesia modern, tetapi juga sastra lisan dan sastra klasiknya.

A Teeuw telah berjasa meletakkan fondasi kerja sama akademik Indonesia–Belanda di bidang ilmu-ilmu humaniora, khususnya bahasa dan sastra Indonesia. Banyak kerja sama antara universitas-universitas di Indonesia dengan Universitas Leiden telah dibuat semasa ia menjadi guru besar dan ketua Jurusan Bahasa-bahasa dan Budaya-budaya Asia dan Oseania di Universitas Leiden. Lusinan doktor bidang studi bahasa dan sastra Indonesia telah lahir berkat sumbangan akademiknya.

Sepanjang kariernya, A Teeuw dekat dengan masyarakat akademik Indonesia. Ia tidak hanya menulis buku-buku atau artikel dalam bahasa Inggris, tapi juga rajin mengirimkan esai-esainya dalam bahasa Indonesia ke harian-harian terkemuka di Indonesia (termasuk Kompas), sehingga pikirannya dapat dibaca oleh kalangan yang lebih luas di Indonesia. Beberapa bukunya juga diterjemahkan dan ditulis dalam bahasa Indonesia. Itulah sebabnya namanya dikenal luas di Indonesia. Pada tahun 1975 UI menganugerahinya gelar doktor honoris causa.

Sejak terjun di dunia akademik tahun 1940-an sampai bulan-bulan terakhir sebelum meninggal, A Teeuw tidak pernah berhenti berkarya. Bahkan sejak pensiun tahun 1986 ia tetap produktif menulis. Publikasi terakhirnya (ditulis bersama Willem van der Molen) adalah sebuah artikel berjudul ”A Old Javanese Bhomântaka and its floridity” yang dipersembahkan untuk Prof Lokesh Chandra (2011).

Beberapa buku karya A Teeuw sudah begitu dikenal oleh para peneliti sastra Indonesia. Sebutlah—untuk sekadar menyebut contoh— Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (terbit pertama kali dalam bahasa Inggris, 1967); Membaca dan Menilai Sastra (1992); dan Indonesia antara Kelisanan dan Keberaksaraan (1995). Kamus yang dieditorinya, Kamus Indonesia- Belanda (GPU, 1991), yang merupakan versi Indonesia dari Indonesisch-Nederlandsch Woordenboek (KITLV Press, 1990), telah beberapa kali dicetak ulang, dan sampai kini menjadi pegangan utama para penerjemah dan mahasiswa Belanda yang ingin belajar bahasa Indonesia.

A Teeuw telah menghasilkan beberapa publikasi tentang Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya. Bersama mantan muridnya yang kemudian menjadi suksesornya sebagai profesor bahasa dan sastra Indonesia di Leiden, Henk Maeir, ia gigih memperkenalkan pengarang terkemuka Indonesia itu dalam wacana akademik internasional. Lewat upaya ini mereka berharap Pramoedya akan dinominasikan sebagai peraih Hadiah Nobel. Namun, sampai akhir hayat yang mempromosikan maupun yang dipromosikan, harapan itu tidak pernah jadi kenyataan.

Yayasan A Teeuw

Sebagai penghormatan terhadap jasa-jasa akademis A Teeuw, pada 1992 Koninklijk Instituut voor Taal,- Land-, en Volkenkunde (KITLV) Leiden—lembaga penelitian dan perpustakaan terkaya di dunia yang menyimpan literatur dan berbagai jenis dokumen lainnya mengenai Indonesia—mendirikan The Professor Teeuw Foundation.

Sekali dua tahun yayasan itu memberikan penghargaan dan hadiah uang secara bergiliran kepada seorang Indonesia dan Belanda yang dinilai berjasa dalam meningkatkan hubungan akademik Indonesia–Belanda. Orang Indonesia yang telah menerima penghargaan ini, antara lain, Goenawan Mohamad (1992) dan Ajip Rosidi (2004).

Studi bahasa dan sastra Indonesia yang dirintis A Teeuw masih tetap eksis di Universitas Leiden sampai sekarang, walau di sana-sini terus menyesuaikan programnya mengikuti perubahan zaman dan dinamika internal kampus yang berdiri tahun 1575 itu. Mungkin itulah harapan seorang akademikus sejati seperti A Teeuw. Dalam satu kesempatan pertemuan dengannya di Leiden tahun 2009, saya ditanya tentang situasi pengajaran bahasa dan Indonesia di Universitas Leiden. Ini menunjukkan betapa, walau sudah lama meninggalkan dunia kampus, A Teeuw tetap memperhatikan program studi bahasa dan sastra Indonesia di Universitas Leiden.

A Teeuw menikah dengan Joosje Teeuw-de Vries tahun 1945. Joosje lebih dulu meninggal (2009). Pasangan langgeng itu dikaruniai lima anak (4 perempuan; 1 lelaki): Marijke (baru pensiun sebagai guru), Anandi (seniman), Arie (konsultan keuangan), Jossine (kerja partikulir), dan Kristina (guru piano).

Selamat jalan Pak Teeuw. Kenangan kepadamu terentang dari Leiden sampai Jakarta.

Suryadi, Leiden University Institute for Area Studies, Leiden, Belanda

Sumber Kliping: Kompas, 26 Juni 2012, “”In Memoriam Prof Dr A Teeuw: Kenangan kepadamu Terentang dari Leiden hingga Jakarta”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan