-->

Arsip Tokoh Toggle

Evita Nuh: Blogger Fashion Sejak Usia 9 Tahun

Jakarta – Tak bisa dipungkiri, peran blogger dalam industri mode semakin diakui saja. Sebut saja, Bryan Boy. Blogger asal Filipina itu seringkali menjadi ‘tamu penting’ di fashion show milik desainer ternama. Belum lagi, Tavi Gevinson, blogger cilik dari Amerika yang kini telah meluncurkan majalahnya sendiri bernama ‘Rookie’.

Tak kalah dengan blogger mode internasional, Indonesia pun memiliki blogger yang juga terkenal. Ia adalah Evita Nuh, gadis mungil yang memulai ‘karir’ sebagai blogger sejak usia 9 tahun. Wolipop berhasil mewawancarai pemilik blog jellyjellybeans.blogspot.com itu, mengenai awal perjalanannya hingga pencapaian terbesarnya sebagai blogger. Berikut petikan wawancara Wolipop bersama perempuan berusia 13 tahun ini melalui email pada Rabu (1/8/2012).

Wolipop (W): Di usia berapa Evita memutuskan menjadi seorang blogger?
Evita Nuh (EN): About 9 years old 🙂

W: Bagaimana awal mula menjadi blogger? Mengapa memilih blog sebagai media mengekspresikan diri?
EN: Awalnya I have nothing to do, and like many other kids I’m browsing around, one link lead to another. Akhirnya aku ketemu salah satu blog, it’s belong to Alix a French lady called ‘Cherry blossom’ and at that moment I decide to make my own blog. Why blog? Well maybe because it’s free and easy.

W: Apa yang buat Evita merasa ‘enjoy’ sekali dengan dunia fashion?
EN: I just like it, it’s fun mixing baju, se-fun playing with my barbies or dressing up my sims in the sims game.

W: Strategi apa yang dilakukan sampai blog Evita menjadi terkenal?
EN: Hahaha no strategy whatsoever, aku cuma tulis dan post hal-hal yang aku suka. Blogging is for fun, not some kind of competition or business so there’s no strategy needed.

W: Banyak yang bilang Evita adalah Tavi Gevinson ala Indonesia. Bagaimana tanggapannya?
EN: I’ll take that as a compliment, because she’s so cool. Tapi kalau style we are pretty much different. I guess it’s because we are both young and at that time not many young bloggers around, jadi begitu ada yang seumur dianggap mirip dan sama.

W: Seberapa sering Evita berbelanja untuk menunjang aktivitas blogging? Berapa bujet yang disiapkan per bulannya?
EN: Aku sering sekali ditanya (tentang) pertanyaan ini, hehehe but really tidak ada budget sama sekali, aku cuma beli kalau aku mau atau perlu, malah seringnya aku dibelikan atau dihadiahi hehehe.

W: Banyak yang berpendapat bahwa sang kakak memiliki peran besar di dalam blog Evita. Lebih besar dibanding peran Evita sendiri. Bagaimana tanggapannya?
EN: Of course she is, banyak sekali yang memuji foto di blogku dan itu taken by my sister so she have huge part. Many people think I don’t write or make my own blog right? I always think it’s the biggest compliment.

The thing is my sister, a.k.a my photographer in daily life is a lawyer so her hand pretty much already full with her works, dia bahkan jarang sekali baca blogku and my other sister tidak tinggal sama aku, she live in her apartment and both of them doesn’t really have interest with fashion at all. Hehehe..

W: Apakah blogging sudah menjadi profesi bagi Evita saat ini?
EN: I don’t know for sure, is it makes money? Well yes, tapi kalau profesi it means I have to be professional right? I mean harus ada disiplin waktu dan tanggung jawab, which is I don’t have, like I said I do it purely for fun.

W: Apa pencapaian terbesar Evita selama menjadi blogger?
EN: Kalau menurutku, aku selalu senang ketika namaku masuk majalah luar dan ditulis “Evita Nuh from Indonesia” atau aku selalu terharu ketika banyak ibu yang bilang anak perempuannya suka sama aku dan berharap seperti aku kalau sudah besar, it’s priceless. Other than that, mungkin dari blogging aku bisa buat my own brand, sekarang aku sedang buat line baru called EVITANUH, wish me luck ok?!

W: Bisa ceritakan lebih dalam mengenai tentang lini EVITANUH, mulai dari produk hingga peran Evita dalam lini busana tersebut?
EN: EVITANUH still on process though, produknya seperti clothing line lain, tops, pants, skirt and outerwear. Kalau target siapapun bisa, maksudku if it’s fits you then it’s yours hehehe.

Selain clothing, ada satu project EVITANUH lagi yang sedang dibuat but it’s still secret yang pasti didalam project itu aku berkolaborasi dengan empat ilustrator super hebat dari Indonesia lebih detailnya aku belum bisa kasih tahu, I don’t want to jinx it hehehe.

Untuk EVITANUH ini, I work alone, maksudnya everything I do it alone (kecuali jahitnya ya hahaha) I’m the owner, creative director, designer, everything I do it myself makanya it takes time.

W: Akan seperti apa Evita dalam 10 tahun mendatang? Apa yang menjadi cita-cita Evita?
EN: Hahahaha 10 years? I’ll be 23 right? I’m not sure but whatever I become I hope I will be person that my dad and sisters proud of. A person that can show them that they had raised me well.

W: Saran Evita untuk fashion blogger baru?
EN: Write what you want, post whatever you feel like have fun with blogging, because that is all blogging about.
(eya/eya)

Keuntungan Jadi Blogger Mode, Baju Gratis Hingga Nonton Fashion Show
Jakarta – Menjadi blogger fashion yang sudah dikenal banyak orang, tenyata memberikan keuntungan tersendiri. Selain menjadi ‘panutan mode’, tak jarang para blogger itu mendapatkan produk fashion secara cuma-cuma dan juga tempat duduk front row dalam sebuah peragaan busana.

Hal tersebut diungkapkan oleh Evita Nuh, pemilik blog jellyjellybeans.blogspot.com. Menurut Evita yang memutuskan untuk menjadi blogger pada usia 9 tahun itu, dirinya seringkali mendapatkan produk fashion. Bahkan dalam satu minggu, ia bisa mendapat tiga sampai empat barang. Tak terkadang, lebih dari itu.

Yup, banyak sekali, I can’t thank’s enough. Setiap minggu mungkin ada sekitar 3-4 barang kadang lebih, tapi kalau sudah menumpuk terpaksa aku tolak karena aku pusing ketika barang menumpuk dan belum aku foto. Aku sering merasa tidak enak, karena aku tahu mereka berharap barangnya aku pakai, sedangkan kadang-kadang aku lama sekali tidak posting blog,” tulis Evita saat diwawancara Wolipop melalui email pada Rabu (1/8/2012).

Selain produk lokal, ada pula beberapa brand dan desainer asal Itali dan Prancis yang mengirimkan karyanya kepada Evita. Bahkan ada desainer Jepang yang mengambil Evita sebagain inspirasi ketika sedang merancangnya.

“Ada beberapa barang yang aku dapat dari Italy dan france yang tidak dijual disini, atau aku pernah dikirimi baju–baju dari Jepang dan pengirimnya cuma minta aku pakai, no link or anything dia cuma mau lihat aku pakai rancangan dia. It’s so cool karena dia bilang ketika dia rancang baju itu, he imagine me wearing it,” jelas perempuan yang berusia 13 tahun itu.

Selain menerima baju dan fashion item lainnya, blog milik Evita seringkali menjadi tempat beriklan para brand ternama. Salah satu yang terbaru adalah, brand elektronik Toshiba. Brand tersebut menghubungi Evita melalui email, dan memintanya untuk mempromosikan salah satu produk terbarunya. Tentu saja, hal ini memberikan keuntungan secara finansial bagi Evita.

I get the product and fee (I more think it as a bonus, soalnya I do it for fun). Kalau aku nggak suka produk brandnya aku tolak, jadi aku cuma mau pakai yang aku suka, so it feels like bonus, dapat barang yang aku suka dan dibayar untuk pakai, hehehe,” tulisnya.

Dengan adanya keuntungan secara materi, tak sedikit blogger mode yang menjadikan ‘kegiatan ngeblognya itu sebagai profesi. Namun tidak bagi perempuan yang punya hobu baca buku, menggambar dan foto itu.

Is it makes money? Well yes, tapi kalau profesi it means I have to be professional right? I mean harus ada disiplin waktu dan tanggung jawab, which is I don’t have, like I said I do it purely for fun. I will not make blogger as work,” ungkap Evita lagi.

Bagi para pecinta fashion, ajakan untuk menghadiri peragaan busana adalah pengalaman yang paling menyenangkan. Apalagi mendapat kesempatan duduk di baris pertama atau front row. Evita yang merupakan penggemar karya Karl Lagerfeld, Alexander McQueen dan Biyan itu, seringkali mendapat undangan peragaan busana baik dari dalam maupun luar negeri.

“Aku selalu dapat banyak undangan. Aku cuma datang ke fashion show yang aku benar-benar tertarik saja, well so far I always in front row. Kalau fashion week luar aku suka dapat undangannya from some brand, tapi itu selalu (bertepatan dengan) school day. Jadi aku tidak mungkin pergi. Kadang-kadang (merasa) sayang, karena terkadang aku dapat undangan private show dan ingin sekali datang, but school always comes first,” tulis Evita.

*)Detik, 10 Agustus 2012

RA Kosasih | Bertarung untuk Hidup

Pekan ketiga November 2009. Ijun mendapat kabar, RA. Kosasih masuk Rumah Sakit Int’l Bintaro, Jakarta Selatan. Malam hari, Ijun langsung meluncur dengan motornya. Ia mengenakan baju kaos, jaket, dan celana jeans.

Di ruangan type ’Merak’, kelas 3 kamar 260, rumah sakit itu, Ijun terkesima. Ia melihat RA. Kosasih yang mengenakan kemeja putih dan celana kain sudah berbaring di tempat tidur. Lemah. Namun, matanya masih jelas melihat tamu yang datang menjenguk. Dokter melarang RA. Kosasih diajak bicara. Ijun hanya menatapi selang infus dan alat oksigen yang menutupi mulutnya. (lebih…)

RA Kosasih: Bapak Komik Indonesia

RA KOSASIHBagi generasi tahun 1950-1960-an, komik-komik karya RA Kosasih memenuhi ruang imajinasi anak-anak sampai orang tua di masa itu. Karya-karyanya banyak berhubungan dengan kesusastraan Hindu (Ramayana dan Mahabharata) dan sastra tradisional Indonesia, terutama dari sastra Jawa dan Sunda. Generasi komik masa kini menggelarinya Bapak Komik Indonesia. Dia meninggal dengan tenang pada usia 93 tahun pada 24 Juli 2012 di kediamannya, Cempaka Putih, Ciputat.

Komikus yang namanya dijadikan nama jalan di daerah Sukabumi ini lahir pada 4 April 1919 di Bogor, Jawa Barat. Kedua orang tuanya berdarah ningrat. Ayahnya bernama Raden Wirakusumah seorang pedagang dari Purwakarta. Ibunya bernama Rasmani, perempuan Bogor. Ia adalah anak bungsu dari delapan bersaudara.

Minat menggambar Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands School, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, di saat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap  komik Tarzan dari potongan-potongan koran bungkus belanjaan. Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan.

Lulus dari Inlands School 1932, ia melanjutkan ke Hollandsc Inlands School (HIS) Pasundan. Di HIS inilah Kosasih mulai tertarik pada seni menggambar secara formal. Ketertarikannya itu muncul setelah ia melihat ilustrasi pada buku pelajaran Bahasa Belanda yang bagus-bagus. Buku catatannya banyak yang cepat habis karena dibuatnya jadi tempat gambar.

Selepas HIS, Kosasih tidak meneruskan sekolah, meski kesempatan menjadi pamong praja menunggunya. Masa menganggur itu ia puaskan dengan menggambar dan menonton wayang golek. Ia selalu pulang pagi, terutama jika lakonnya Arjuna, Bima, atau Gatotkaca. Karena sering menonton, ia sampai hapal semua cerita wayang, juga gaya para pedalang. Setelah menonton wayang, kepalanya masih selalu dipenuhi gambaran cerita wayang. Saat itu, ia mendapat ide bagaimana jika cerita itu dipersingkat tapi tetap berbobot dan disukai banyak orang. Tapi, ide itu hanya sebatas ide.

Tahun 1939, ia melamar sebagai juru gambar di Departemen Pertanian Bogor. Diterima, ia pun menjadi penggambar hewan dan tumbuhan. Gajinya cukup, meski tak mewah. Ketika Jepang ekspansi ke Indonesia tahun 1942, RA. Kosasih kelimpungan dan hidupnya tak karuan. Pekerjaan pun jadi berantakan. Ia tak lagi mendapatkan komik-komik kegemarannya. Yang ia dapatkan hanya komik Flash Gordon dari bekas kertas pembungkus. Flash Gordon adalah sosok pahlawan fiksi Australia yang digambar Alex Raymond yang diterbitkan sejak tahun 1934.

Setelah merdeka, ia melihat banyak peluang di koran-koran. Pada tahun 1953, ia melamar kerja sebagai komikus di harian Pedoman Bandung. Setelah diterima, ia masuk malam, karena siang masih bekerja di Departemen pertanian.

Pada tahun yang sama, salah satu majalah terbitan Jakarta memuat iklan. Isinya, penerbitan Melodie mencari penggambar komik. Kosasih tertarik lalu mengirimkan karyanya. Tatang Atmadja, pemilik penerbitan Melodie kepincut dengan karya Kosasih dan menemuinya di Bogor.

Dari pertemuan itu, Kosasih diberikan komik-komik Amerika. Dia diminta untuk meniru, namun harus dijadikan tokoh Indonesia. Kosasih tertarik dengan superhero Wonder Woman terbitan King Feature Syndicate. Kosasih menyulapnya menjadi tokoh Sri Asih.

Serial komik Sri Asih dirampungkan sebagai komik pertamanya. Sri Asih dikarakterkan sebagai superhero perempuan berkostum wayang. Memakai kain kebaya dan kemben, rambutnya panjang dengan mata besar, bermahkota giwang dan manik di dahi. Perempuan yang jago berkelahi, bertenaga kuat, dan bisa terbang.

Komiknya laku keras di pasar dengan cetak 3000 eksemplar. Honornya tak tanggung-tanggung, Kosasih mengantongi Rp 4.000. Jauh lebih besar dibandingkan honornya menjadi pegawai Departemen Pertanian yang hanya Rp150.

Sukses komik pertama, Kosasih semakin bersemangat membuat komik. Akhirnya terbitlah komik keduanya, namanya Siti Gahara. Komik ini bercerita tentang pendekar wanita bernama Siti Gahara. Sosok Gahara adalah plesetan dari Sahara, ratu Kerajaan Turkana yang berpakaian Timur Tengah. Kostumnya, dengan perut terbuka, lengan baju sebatas siku, dan bercelana panjang. Keheroan perempuan ini, bisa terbang dan jago berkelahi. Musuh bebuyutannya, nenek sihir. Komik ini pun laku keras.

Meski pundi-pundi honor hasil komiknya terus bertambah, Kosasih tak tinggal diam. Ia terus berimajinasi. Selanjutnya RA. Kosasih menggambar serial Sri Dewi. Sosok yang dikenal sebagai dewi kesuburan yang oleh orang Jawa dan Bali identik dengan
Dewi Padi.
Minat menggambar Kosasih datang tanpa sengaja. Ketika kelas satu Inlands School, Bogor, ia acap menunggu ibunya berbelanja. Nah, di saat membantu membongkari belanjaan sang ibu itulah, matanya menangkap komik Tarzan dari potongan-potongan koran bungkus belanjaan. Ia pun menjadi penikmat komik itu, meski dengan cerita yang tentu, tak berurutan.

Pada serial ini, sosok Sri Dewi kontra dengan Dewi Sputnik. Pada komik ini, Kosasih menggambarkan Sri Dewi merupakan perempuan dengan gaya tradisional dan Dewi Sputnik bersosok modern. Kosasih ingin memperlihatkan kepada pembaca bahwa Sri Dewi tak bisa dikalahkan dan selalu menang.

Di tengah upayanya merintis karir sebagai komikus, Kosasih yang sudah berumur 31 tahun belum juga menikah. Padahal, banyak perempuan yang ingin merebut hatinya. Alasannya, Kosasih berpikir mencari pendamping hidup. Pamannya kemudian memperkenalkan Kosasih dengan seorang perempuan. Namanya Lili Karsilah yang saat itu berusia 25 tahun. Kosasih langsung kepincut dan bersedia menikahinya. Dari perkawinan mereka dikarunia dua orang anak. Anak pertama laki-laki diberi nama Kusumandana. Dan yang kedua, perempuan bernama Yudowati Ambiyana. Namun Tuhan berbicara lain. Hidup putranya Kusumandana tak berlangsung lama. Tahun 1957 pada usia empat tahun, Kusumandana meninggal dunia terkena serangan demam. Kemudian dikuburkan di pemakaman Dreded, Bondongan, Bogor, Jawa Barat.

Dengan komik, Kosasih menafkahi keluarganya. Jika sedang berimajinasi, ia menolak untuk diganggu oleh siapa pun termasuk istri dan anak-anaknya. Kosasih bahkan tak segan-segan mengunci kamarnya. Hingga makan pun terkadang luput dari ingatannya. Ia bahkan berpesan kepada istrinya untuk mengatakan bahwa dirinya sedang pergi jika ada tamu yang tidak penting mencarinya.

Kosasih bahkan tak ingin orang lain tahu mengenai dirinya yang tenar dari komiknya. Begitu pula dengan wartawan apalagi dengan tetangga rumahnya. Ia selalu mewanti-wanti agar tidak memberikan alamat tempat tinggalnya. Tapi sepintar-pintarnya sembunyi, akhirnya identitasnya terbongkar juga. Seorang wartawan Kompas bernama Arswendo Atmowiloto pada 1970-an mengetahui alamatnya saat berada di Paris.

Arswendo langsung mendatangi rumahnya di Bogor dan Kosasih bersedia menemuinya untuk diwawancarai. Tidak lama kemudian, Kompas memuat tulisan tentang sosok RA. Kosasih. Sejak itu, pengemar komik buatan Kosasih mulai berdatangan. Tetangga mulai menaruh hormat padanya. Bahkan, banyak pengemar perempuan yang mengirimi surat. Bermacam-macam isinya, ada yang memberikan apresiasi karyanya, sekadar menyapa berkenalan, bahkan tak sedikit yang mengajak menikah.

Pada tahun 1955, Kosasih mengambil keputusan berhenti menjadi pegawai Departemen Pertanian karena kesibukannya di dunia komik. Tahun 1960-an, kondisi politik membuat dirinya menghentikan dulu komiknya. Saat itu, PKI melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mengecam komiknya karena dianggap berunsur ke barat-baratan. Tak ayal, tiras komiknya berkurang. Justru yang banyak beredar adalah komik-komik keluaran China.

Karena tidak mau tinggal diam, Kosasih menyiasatinya dengan menggambar sosok wayang. Komiknya antara lain, Mundinglaya Dikusuma, Ganesha Bangun, Burisrawa Gandrung, dan Burisrawa Merindukan Bulan. Dua komik terakhir menjadi komik terlaris di pasar. Singkat cerita, komik-komik Kosasih kembali merajai pasar komik Indonesia.

Selanjutnya, Kosasih membuat komik Ramayana dan Mahabharata. Idenya dari bacaan Bhagawat Gita terjemahan Balai Pusaka. Hasilnya luar biasa. Angka penjualannya mencapat 30 ribu eksemplar. Tiras paling besar sepanjang sejarah komik Indonesia.

Dua karya itu memang melambungkan nama Kosasih, namun yang lebih penting lagi, komik Mahabbarata berhasil memperkenalkan kisah itu kepada generasi baru, yakni anak-anak dan remaja perkotaan yang jarang nonton wayang kulit atau wayang orang. Bagi mereka, komik Kosasih adalah referensi awal ke kisah klasik asal India itu.

Walau tidak ada catatan pasti berapa jumlah komik Mahabbarata yang berhasil terjual. Kosasih ingat bahwa Mahabbarata dan Ramayana adalah dua karya yang kemudian berhasil membuatnya membeli rumah. Kesuksesan sebagai komikus jualah yang membuat Kosasih berani berhenti dari pekerjaannya dan total menggambar.

Di tahun-tahun selanjutnya, ia tetap menguasai pasar komik Indonesia dengan kembali membuat komik wanita superhero, Cempaka. Sosok perempuan berbaju loreng, kekar, tinggi dan seksi. Sosok Cempaka diilhami oleh sosok Tarzan. Sayangnya, komik itu tidak terlalu laris seperti komik sebelumnya.

Ketika popularitas komik wayang menyusut, Kosasih membuat komik berkarakter lain dengan imajinasinya sendiri. Ia beralih ke komik dari legenda. Misalnya, komik tentang Lutung Kasarung, Sangkuriang dan lainnya.

Pada tahun 1964, Kosasih hijrah ke Jakarta dan bekerja untuk penerbitan Lokajaya. Ia membuat serial Kala Hitam dan Setan Cebol. Lagi-lagi, ia tak seberuntung dulu. Komiknya hanya laku 2000 eksemplar. Empat tahun kemudian, 1968, kesehatannya mulai tidak stabil. Kosasih memilih istirahat setahun lamanya dan kembali ke Bogor.

Dua tahun setelah istirahat, tahun 1970-an, ia diminta oleh penerbit Maranatha Bandung untuk membuat komik ulang Mahabharata. Karyanya berbeda dengan gambar yang kali pertama dibuatnya. Hasilnya pun dianggap gagal.

Dengan sisa kekuatan imajinasi, ia terus menggambar. Pada tahun 1984, ketika sedang menggambar, tangannya gemetaran. Pensilnya sulit dikendalikan. Tangannya secara tiba-tiba membuat gambarnya menjadi berantakan. Sejak saat itu, Kosasih sudah benar-benar tidak pernah lagi menggambar. Ia tidak mau memaksakan diri lagi dan lebih memilih berhenti total sebagai pembuat komik. Tahun 1994, ia menyatakan diri ‘pensiun’ dari dunia komik dan memilih menikmati sisa hidupnya.

Sejak tahun 1990-an, Kosasih hijrah ke rumah anak perempuannya Yudowati di daerah Rempoa, Ciputat, Jakarta Selatan. Kosasih menempati satu kamar yang berada di lantai dua. Sedangkan rumah di Bogor, dijualnya. Alasannya, agar dekat dengan anak dan cucu satu-satunya bernama Adinadra. Pada tahun 1994, istrinya Lili Karsilah, dipanggil sang Khalik setelah menderita stroke dan asma. Sang istri tercinta dikebumikan di pemakaman Tanah Kusir, Jakarta.

Kini kondisi kesehatan peraih penghargaan anugerah Lifetime Achievement (2005) ini semakin menurun. Ia tidak dibolehkan banyak bicara karena akan terjadi pengeringan cairan pada bagian paru-parunya. Penyakitnya tidak boleh kekurangan dan kelebihan air putih. Untuk itu, ia tidak boleh jauh dari air minum.

Sejak tahun 2009, Kosasih sering keluar-masuk rumah sakit. Ia mengidap sakit pembengkakan pembuluh jantung. Ketika Kosasih masuk RS Bintaro pada Januari 2009, perlu dana 15 juta untuk membiayai perawatannya. Lalu saat masuk rumah sakit itu kembali pada November 2009, ia mengeluarkan dana sekitar Rp 18 juta.

Melihat kondisi itu, para penggemar komik tak tinggal diam. Apalagi diketahui, Kosasih keluar dari rumah sakit karena keluarganya tidak punya biaya lagi. Para komunitas komik menggalang dana untuk kesembuhan RA. Kosasih.

Setiap awal bulan, Kosasih harus periksa ke dokter. Dan setiap periksa, ia mendapatkan obat baru yang habis setiap bulan sekali. Biaya periksa dan obat-obatan memerlukan biaya minimal sejuta. Untuk biaya pengobatan itu, Kosasih tidak bisa berharap dari royalti komiknya karena tidak ada royalti. Dulu ia dibayar sesuai pesanan.

Pada 4 April 2010, usianya mencapai 91 tahun. Kondisi matanya masih cukup baik untuk pria seusianya. Ia masih bisa melangkah dengan kakinya. Tongkat yang ia gunakan hanya sebagai alat bantu saja. Begitu juga dengan kacamata yang sesekali saja dipakai jika diperlukan. Saat itu, Kosasih sudah siap dipanggil Tuhan. Hal itu terlihat ketika Kosasih merayakan ulang tahunnya yang ke-91, para tamu menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun. Namun, saat tiba di kalimat “selamat panjang umur…”, tiba-tiba Kosasih memotong. Ia tidak mau lagi didoakan selamat panjang umur karena merasa umurnya sudah kepanjangan. Bahkan peraih Satyalancana Kebudayaan (2008) dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata ini bergurau bagaimana kalau umurnya yang panjang itu dibagikan saja ke tamu yang datang.

Memang tidak ada seorangpun yang bisa menentukan lamanya hidup seseorang. Dua tahun kemudian, di usianya yang ke-93, Kosasih akhirnya dipanggil Sang Pencipta. Ia meninggal di kediamannya dini hari, Selasa 24 Juli 2012, sekitar pukul 01.00 WIB. Sebelumnya, Kosasih sempat menjalani perawatan di RS Bintaro karena penyakit jantung. Walaupun ia sudah tiada, karya-karyanya akan tetap hidup selamanya. e-ti | muli, mlp

© ENSIKONESIA – ENSIKLOPEDI TOKOH INDONESIA

*)Disalin dari tokohindonesia.com, 24 Juli 2012

Remy Sylado: Seperti tak Pernah Berhenti

Ia menghasilkan tak kurang dari 300-an karya, yang ia harap memberi pengharapan dan penghiburan kepada pembaca. ”Kalau sekadar senang sendiri, itu bukan hiburan. Dan hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur,” katanya.

Remy memiliki wawasan kepenulisan yang sangat lebar. Bukan hanya novel dan puisi, ia kini juga tengah menyiapkan buku 123 ayat tentang kesenian. Ia menulis tentang sastra, seni rupa, musik, film, dan teater. Ia bahkan pernah menulis tentang teologi, kamus, dan ensiklopedia.

Dalam setahun, Remy menghasilkan dua sampai tiga novel.

Dalam satu ruang dan waktu, Remy bisa bekerja simultan menggarap tiga novel sekaligus. Untuk itu, dia bekerja menggunakan tiga mesin tik yang berbeda. ”Selalu pakai mesin tik dan tip-eks, ha-ha…,” kata Remy di rumahnya di Cikarawang, Dramaga, Bogor, Juni lalu.

Saat ini ia tengah menyelesaikan Malaikat Lembah Tidar, novel yang menggunakan lanskap kota Magelang tahun 1898. Novel ini ditulis sejak tahun 2011 dan belum selesai karena memerlukan riset data, termasuk ke Museum KNIL di Belanda. Riset juga dilakukan Remy untuk menulis novel Matahari, yang menjadi cerita bersambung di harian Kompas. Ia mendatangi tempat-tempat yang menjadi lokasi peristiwa, termasuk Paris dan Berlin.

Memerintah inspirasi

Menulis dua tiga karya dalam waktu bersamaan apakah bisa fokus?

Persoalannya satu, kita menganggap kerja ini karunia Ilahi atau kutukan dewata. Jika kutukan, ya, tidak jadi-jadi. Ini kita anggap karunia Ilahi. Menulis secara wartawan harus disiplin. Ada batasan deadline.

Apa yang terjadi ketika pindah mesin tik?

Tergantung mood. Kalau macet, diselingi main musik. Harus ada disiplin waktu, bekerja tiap hari. Lebih banyak pagi, dari pukul empat sampai pukul sepuluh. Kalau ada tamu datang ke rumah, ya, berhenti.

Inspirasi datang dari mana?

Inspirasi itu diperintah, bukan ditunggu. Kalau menunggu inspirasi, keburu jatuh miskin, ha-ha…. Motivasinya harus bekerja. Inspirasi itu cerita tahun 1950-an. Bahan sudah kita lihat dan kita simpan dalam daya kreatif. Sewaktu-waktu perlu kita panggil. Jadi kita perintah, bukan ditunggu. Dari kehidupan sehari-hari, kita amati, lalu kita simpan dalam daya ingat. Kalau misal harus disertai angka, ya, ambil catatan dan ditulis. Cilaka jika nunggu ilham.

Kalau menulis ditunggu dan dipacu itu, apakah kreativitas bisa mandek?

Tanggung jawabnya malah makin bagus. Kita ditantang. Ditunggu redaktur dan pembaca. Tapi sekarang saya enggak berani lagi kayak gitu. Kadang putus di tengah jalan pas bikin yang lain.

Mimpi besar Anda?

Saya kepingin novel yang saya tulis lebih baik dari sebelumnya. Menurut saya, novel yang sedang saya tulis ini (Malaikat Lembah Tidar) lebih baik karena setahun lebih belum rampung-rampung. Tiba-tiba sudah ditulis, eh ada yang kelupaan. Bongkar lagi. Sudah bab 42 menjadi 44.

Yang sekarang ini saya bikinnya memang lama. Selalu dengan riset. Seperti Paris van Java, itu riset saya tentang Bandung tahun 1926. Saya hafal kota itu, tapi saya harus riset bagaimana tahun 1926-1930 karena cerita dimulai dari Utrecht (Belanda).

Serba bisa

Selain menulis, Remy juga bermain dan menyutradarai teater. Ia juga bermain film dan sinetron, bermain musik. Ia membuat sejumlah karya musikal, termasuk Jesus Christ Super Star. Pada pertengahan 1970-an ia juga pernah merekam lagu-lagu yang ia nyanyikan sendiri lewat kelompok Remy Sylado Company dengan album Folk Rock serta Orexas yang juga menjadi judul novelnya.

Remy menguasai sejumlah bahasa, yaitu Yunani, Ibrani, Arab, dan China. Itu belum termasuk bahasa Jawa dan Sunda, Makassar, Totempoan, Bugis, dan Ambon. Ia memang pernah tinggal di Makassar, Semarang, Solo, dan Bandung

Bagaimana kemampuan bahasa dan menulis itu tumbuh?

Waktu di SMP Domenico Savio (Semarang), saya dapat tugas mengarang. Tulisanku dijadikan contoh di kelas. Tapi waktu itu saya belum tahu arep dadi opo (mau jadi apa). Sama sekali ndak ngerti. Waktu masuk akademi teater di Solo, saya belajar sedikit tentang sastra. Belajar tentang teater Yunani, terus bikin naskah drama.

Kembali ke Semarang, aku ditawari masuk seminari. Aku bilang enggak mau jadi pendeta, tapi mau belajar bahasa Yunani dan Ibrani saja. Dari situ aku mulai suka filologi. Jadi, aku belajar karya Plato dari bahasa Yunani. Nah, mulai dari situ.

Bagaimana Anda bisa multitalenta?

Itu dari kecil, waktu SMP di Semarang, SMA di Solo. Celakanya, tahun 1950-an setelah kita baru merdeka, ada pemikiran budaya waktu itu. Antara lain Amir Pasaribu, orang-orang yang sekolah di Belanda, yang mengatakan harus ada spesialisasi untuk menguasai satu bidang. Mereka lupa bahwa zaman Renaisans adalah zaman Eropa yang menemukan kembali keahlian Yunani klasik yang diperciki sastra, musik, dan teater. Itu satu. Pemikirannya beda-beda, tapi satu. Itu bagian dari kebudayaan.

Leonardo Da Vinci kita tahunya hanya pelukis Monalisa. Padahal, dia termasuk salah satu dari komponis yang menulis opera, tragedi, dan komedi. Dia juga ahli hidrologi dan kedokteran. Kalau kita lihat sejarah China, zaman Dinasti Tang, aktor, penyair, dan pelukis itu semuanya satu. Tapi sejak 1950-an, orang seperti Amir Pasaribu dan JA Dungga mulai bicara tentang spesialisasi. Padahal tidak benar juga.

Pemikiran dasar spesialisasi dari mana?

Tahun 1950-an mereka menganggap orang menjadi paripurna kalau memilih satu bidang saja, karena kebetulan pada saat itu (novelis) Armijn Pane membuat kritik musik. Geram orang-orang musik ini karena bukan orang musik, kok, membuat kritik musik. Padahal tidak salah juga. Kalau dia bisa main musik, apa salahnya. Spesialisasi malah memperkerdil pengetahuan kita. Ada penyair yang merasa dirinya penyair betul, tapi bisanya cuma itu saja. Sutardji bisa nyanyi juga. Sapardi Djoko Damono itu juga main musik juga. Gitaris.

Pengharapan dan penghiburan

Remy mengkritik karya yang, menurut dia, hanya dinikmati oleh penulisnya sendiri, atau setidaknya oleh pengasuh rubriknya. Menurut Remy, tanggung jawab kenabian itu perlu. Semua puisi yang memberikan pengharapan dan penghiburan pasti dibaca. ”Paling enggak, orang sakit diberi kumpulan puisi yang isinya doa supaya cepat sembuh,” katanya.

Remy memberi contoh puisi Nabi Daud, ”Tuhan adalah Gembalaku”, yang dari abad ke abad selalu dibacakan di acara pemakaman film Amerika.

”Kita harus bicara tentang tanggung jawab kenabian di dalam puisi. Jika kita ingin bicara kenapa kita bersastra. Dari awal sejarah, kalau kita baca filologi, dari awal tanggung jawab seperti itu. Dari Yunani dan China. Semuanya berbicara tentang itu. Orang baca mendapat penghiburan dan pengharapan. Puisi sekarang tidak.”

Kalau pada fiksi?

Saya rasa sekarang apa tanggung jawab kita? Memberikan pengharapan kepada orang. Kalau fiksi, lebih enak karena verbal. Kalimat fiksi itu kalimat panjang, naratif semua. Justru harus menjadi pandai mengungkapkan falsafah kita. Kalau puisi, perlu perenungan tersendiri.

Ketika masih menulis puisi bahasa Melayu dengan arab gundul. Semua itu, kan, nasihat. Sekarang enggak. Kita lihat puisi Jawa, misalnya, karya Sunan Kalijaga, Ilir-ilir. Luar biasa itu. Dia bicara tentang suruh sembahyang lima waktu. Sanepan gaya Jawa. Ada sesuatu yang diberikan. Puisi yang sekarang enggak ketemu saya.

Apa yang menyebabkan puisi kita berubah?

Akarnya dari diferensiasi dan spesialisasi tahun 1950-an tadi. Kita mau menjadi diri sendiri. Paham individualisme berkembang. Padahal kita lupa Chairil Anwar masih berbicara tentang itu. Takut sekali orang dibilang hiburan. Padahal saya mau tanya karya Sartre yang merupakan tesis dari eksistensialisme dia, apakah bukan hiburan bagi orang intelektual. Taruhlah karya Les Mots atau Huis Clos, begitu menjadi naskah drama, begitu ditontonkan, menjadi hiburan.

Kalau sekadar senang sendiri, itu bukan hiburan. Menurut saya, hiburan itu bukan dosa. Justru bagaimana membuat karya sastra itu karya yang menghibur. Itu kalau takut disebut hiburan. Walaupun semua sastra yang menjadi sastra teater pada hakikatnya adalah hiburan, karena begitu ada sepuluh orang yang datang duduk di gedung teater itu dalam rangka mencari penghiburan.

Orang Indonesia belum ada yang meraih Nobel Sastra sebagai ukuran pencapaian di bidang sastra?

Orang Indonesia baru bebas buta huruf, tapi belum bebas membaca. Ada uang, tapi belum bebas membaca semua hal yang berbeda pikiran. Orang tidak suka pada sesuatu, dia membuat peraturan, lalu menyalurkan frustrasi ke banyak orang.

Tapi pertanyaannya apakah awam mendapat sesuatu dari fiksi Indonesia. Kenapa bisa orang intelektual Indonesia tahu karya sastra luar, tapi tidak Indonesia. Pasti ada sesuatu yang salah dengan sastra Indonesia. Dapatkah sastra Indonesia memberikan sesuatu kepada pembaca. Minimal dua, pengharapan dan penghiburan.

Nakal, tapi Konsekuen

Dua Jembatan: Mirabeau & Asemka

Mengapa orang mau dengar Apollinaire

Yang berkisah tentang kebohongan dunia

Et Sous le pont Mirabeau coule la Seine

Et nous amours

?

Mengapa tak mau dengar Remyfasolasido

Yang berkisah tentang kejujuran dunia

Ning ngisore kretek Asemka iku

Akeh umbele Cino

?

Kutipan di atas adalah salah satu puisi mbeling ala Remy Sylado yang dimuat di majalah Aktuil pada paruh kedua era 1970-an. Lewat rubrik cerpen dan Puisi Mbeling, Remy mengajak pembaca untuk berkenalan dan mengapresiasi sastra.

”Saya bikin rubrik cerpen dan yang pertama dimuat itu cerpennya Sutardji (Calzoum Bachri). Setelah itu, Arswendo, Putu Wijaya, dan Abdul Hadi (WM) pada ngirim,” kata Remy.

Aktuil yang didirikan Denny Sabri, Toto Rahardjo, dan Sony Soeryatmadja adalah majalah hiburan yang didominasi musik. Remy bergabung dengan majalah Aktuil tahun 1970. Majalah yang dapur redaksinya berada di Jalan Lengkong Kecil 41, Bandung, itu mempunyai pengaruh besar pada apresiasi sastra di kalangan remaja pada era 1972-1975, masa-masa ketika Remy mengasuh rubrik cerpen dan Puisi Mbeling.

Ia ingin merangsang kaum muda bersastra. Pada edisi awal, Remy memuat dua puisi karyanya sendiri, plus lagu dari Marc Bolan dan John Lennon. Setelah itu berdatanganlah puisi dari penulis-penulis muda.

”Aku merasa bersastra kok jadi seperti onani. Orang menulis dan mereka sendiri yang membaca. Kenapa kita yang menulis dan orang lain yang membaca,” kata Remy mengkritik majalah sastra yang terkesan ”angker”.

”Saya merangsang orang menulis. Saya mengingatkan bahwa menulis itu gampang, main-main. Dan orang mulai berani bergurau. Anak muda bangsa Seno (Gumira Ajidarma), Noorca (Massardi) mengirim tulisan.” Remy juga menyebut nama Mustofa Bisri sebagai salah satu pengirim tulisan, dengan nama samaran.

Mbeling diambil dari bahasa gaul Jawa yang artinya ’nakal, bengal, jahil’. ”Mbeling itu tidak ada bahasa Indonesianya. Jawa banget. Dan itu sekaligus merupakan reaksiku terhadap Rendra yang mengatakan bahwa untuk membongkar tatanan budaya yang mapan harus dengan sikap urakan.”

”Aku bilang elek urakan itu. Yang bagus itu mbeling: nakal, tapi sembada (konsekuen). Anak-anak yang pengin nakal itu terus pindah ke Aktuil.”

Kliping: Kompas, 22 Juli 2012

Irwan Bajang: Gerakan Buku Indienesia

Disalin dari #Twitteriak Season 3 Eps. 25. #Twitteriak adalah obrolan seru di ranah twitter produksi Scriptozoid! yang hadir setiap Selasa siang bersama penulis, editor, ilustrator, penerjemah, penerbit, dengan topik-topik di seputar buku, sosial dan sejarah.

SEJARAH pergerakan bangsa ini tidak bisa dilepaskan dari buku-buku “indie”. Apa maksudnya? Sementara mesin-mesin cetak dari kelompok penerbitan bermodal bekerja memproduksi buku-buku laris, ternyata ada segelintir kelompok yang dengan sengaja menerbitkan buku-buku dengan maksud yang bertolak-belakang dari misi para penerbit bermodal. Mereka hadir, ternyata bukan hanya hari ini saja, tetapi merasuk jauh ke masa-masa sebelum Indonesia mewujud.

Pada kurun waktu 1920-1926 terjadi banjir buku-buku “indie” ini yang mendapat sebutan “bacaan liar”. “Bacaan liar” ini hadir sebagai oposisi untuk melawan dominasi penerbitan barang-cetakan yang diproduksi oleh Balai Poestaka (BP). C.W. Watson (1971, 1982) dalam kajiannya tentang “bacaan liar” menunjukkan “bacaan liar” yang diproduksi oleh kaum nasionalis radikal dalam bentuk novel secara sadar atau tidak sadar merupakan ekspresi perlawanan terhadap ketimpangan kebudayaan. Semisal Raden Darsono yang melakukan perang suara (perang pena) dengan Abdoel Moeis dalam novel berjudul “Moeis telah mendjadi Boedak Setan Oeang” atau karya Darsono lainnya yang menentang peraturan kolonial yang berjudul “Pengadilan Panah Beratjun.” Tak lupa karya Semaoen berjudul “Hikayat Kadiroen”, serta “Student Hidjo” karya Mas Marco Kartodikromo.

Kemudian, karya-karya “bacaan liar” ini ditandai oleh agitasinya dan kemampuannya merebut hati pembaca menggunakan bahasa Melayu pasar untuk membibitkan kesadaran kolektif kebangsaan. Balai Pustaka di lain pihak, berada di posisi penerbit bermodal yang melakukan perang wacana tentang bacaan yang baik. Balai Pustaka menerapkan bahasa Melayu tinggi untuk semua karya tulisannya dan menyuburkan cerita-cerita roman percintaan. Standar bahasa ini “dibakukan” Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim pada 1901. Hasil pembakuan itu dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen. Kepada buku-buku liar, Balai Pustaka menyebut karya-karya itu menggunakan “Bahasa Melayu Rendah”, “Bahasa Melayu Gado-Gado”, “Bahasa Melayu Kacau”, dan sebagainya.

Ada banyak nama yang hadir saat menyebut bacaan liar. Seperti Tirto Adhi Soerjo, penulis yang dengan sadar memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi di Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia. Tokoh ini pula yang menyatakan pendapat ketaksetujuannya ketika pemerintah mendirikan BP pertama kali. Menurut Tirto, kenapa dana itu tak diberikan kepada rakyat saja untuk mengongkosi bacaan mana yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Apa yang dilakukan Tirto mendorong pribadi-pribadi lain mengikuti jalan “bacaan liar” ini, seperti Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Mas Marco Kartodikromo, Misbach, Soerjopranoto, Abdul Muis, Semaoen, Darsono, dan aktivis pergerakan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Bacaan itu juga membeberkan pemahaman dan kesadaran politik kekuasaan kolonial.

Soal harga pun dibuat bersaing dengan harga bacaan BP. Harganya rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15. Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan BP. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca.

Kemudian bacaan liar ini berevolusi dan kemudian kita mengenalnya dengan sebutan “buku indie”. Mengaku dipengaruhi oleh semangat gerakan ‘underground’ yang menyempal atau melawan hegemoni budaya mapan seperti industri kapitalisme, media, budaya pabrik, dan politik negara. semangat menyempal ini diterjemahkan dengan membangun kreativitas, sikap independen, dan sikap otonom. Caranya dengan membangun semuanya secara mandiri. Jumlah mereka yang melakukannya dari tahun ke tahun bertambah banyak dan perlu untuk dipetakan.

Itulah sebabnya, sebagai pembuka Season 3 obrolan #Twitteriak bertema “Wajah Indonesia dalam Dunia Menulis dan Membaca”, secara khusus kami bahas topik “Buku Indienesia”, yaitu mencari wajah Indonesia dalam buku-buku indie dengan menghadirkan Irwan Bajang, penggagas penerbitan independen Indie Book Corner di Yogyakarta.

Irwan “Bajang” Firmansyah adalah pria kelahiran Aik Anyar, Lombok Timur, tahun 1987. Minatnya terjun ke penerbitan buku indie dimulai sejak 9 September 2009 bersama Anindra Saraswati. Irwan lebih nyaman menyebut Indie Book Corner bukan sebagai penerbit, tapi sebuah gerakan perbukuan. Cara kerja penerbitan buku indie berbeda dengan penerbit besar, begitu juga soal royalti penulis. Gagasan buku indie ini adalah refleksi saat Irwan sulit menerbitkan buku kumpulan puisi tahun 2006.

Setiap tahun, Irwan lewat Indie Book Corner semakin banyak menerbitkan buku indie. Maka untuk tahu lebih banyak mengenai jalur buku indie, yuk simak obrolan seru bersama Irwan Bajang berikut ini!

#Twitteriak: Kita kenal film indie, musik indie, tapi buku indie apa definisinya? Bedanya apa dengan buku2 lain?
Irwan Bajang: Buku Indie adalah buku yang dibuat sendiri, tanpa melalui penerbit tapi dengan usaha sendiri penulisnya . Jadi buku indie adalah tulisan yang diusahakan sendiri menjadi buku oleh penulisnya.

#Twitteriak: Apa syarat-syaratnya buku diterbitkan secara indie?
Irwan Bajang: Syarat pertama adalah tulisan tersebut harus selesai :) Baru naskah bisa didiskusikan dengan editor, desainer dll‪. Nah, dengan diskusi bareng editor, layouter n desainer, mk penulis bs tahu potensi bukunya, berapa ukuran, tebal dll

#Twitteriak: Apakah buku indie sama artinya dengan self publishing? Cerita sukses buku model DIY ini ada gak?
Irwan Bajang: Mungkin sama ya dengan self publish, hanya saja di model buku indie, penulis bebas kolaburasi dengan siapa aja. Keduanya sama-sama mencari celah dalam produksi Print on Demand (POD) yang memungkinkan buku bisa diproduksi dalam jumlah terbatas. Dan keduanya mungkin adalah cara lain menerbitkan buku di luar jalur penerbit konvensional.s

#Twitteriak: Apa keterbatasan buku indie? Apa juga kelebihannya?
Irwan Bajang: Penulis bisa terlibat dalam segalanya, tentu dengan pertimbangan diskusi & masukan dari editor, desainer dan tim lain :) Sebab itulah produksi buku gak harus banyak, buku diproduksi sesuai dana aja. Dipasarkan, lalu cetak ulang lagi. Jadi jangan pernah jadi patokan bahwa buku harus dicetak masal 1000 atau 3000 tapi bisa aja cuma 10 atau 50 eks.

#Twitteriak: Seberapa besar kepercayaan Irwan buku indie ini akan berhasil diterima masyarakat?
Irwan Bajang: Saya sangat percaya, bahkan ketika semua orang bisa memproduksi bukunya, mungkin kita udah gak butuh penerbit lagi :) Penulis gak harus hanya nulis, tapi belajar atau berjejaringlah dgn komponen pekerja buku lainnya (editor dll).

#Twitteriak: Seorang Dewi Lestari pada akhirnya menerbitkan buku-buku di penerbit besar. Apa pendapat Irwan soal ini?
Irwan Bajang: Dewi Lestari adalah contoh awal penulis indie, mungkin setelah pembacanya meluas, makin banyak, Dee butuh kru yang lebih solid. Dibutuhkan jejaring yang lebih banyak lagi, agar tenaga penulis tidak habis karena merangkap penjual. (Dalam skala besar). Ketika besar, penulis gak bisa lagi berbuat seperti ketika bukunya hanya beberapa eks.

#Twitteriak: Pernahkah buku-buku yang diterbitkan secara indie ini dipandang sebelah mata?
Irwan Bajang: Sering, ingat buku yang diterbitkan di luar karena ditolak penerbit dalam negeri? Lalu muncul polemik karena buku itu indie. Buku indie sering dipandang remeh karena katanya gak ada pertimbangan dan penyaringan naskah…. Padahal kalo diedit, didesain dengan sangat mendalam, gak ada bedanya dengan buku-buku dari penerbit besar. Semua buku kalo melalui prosedur yang lengkap, indie atau tidak indie akan sama aja kualitasnya.

#Twitteriak: Banyak yang bilang buku indie lemah di editing dan pemasaran. Benarkah begitu?
Irwan Bajang: Buku indie yang asal-asalan akan lemah, demikian juga dengan penerbit konvensional yang asal-asalan. Makanya diperlukan ketekunan dan keseriusan juga kerjasama dengan editor, atau mungkin manajer pemasaran juga. Intinya, buku, meskipun indie harus dikerjakan serius dan bertanggung jawab. Biar penulis dan bukunya bermartabat.

#Twitteriak: Sudah berapa banyak penulis yang menerbitkan buku indie lewat Irwan? Dan seperti apa kisahnya?
Irwan Bajang: Sampai sekarang (2,5 tahun) ada 150 judul lebih kami bantu terbitkan. Beberapa cetak ulang dan bukunya banyak dikenal orang. Beberapa memang pasarnya sempit, jadi hanya beredar terbatas. Tiap-tiap penulis punya niat dan ekspektasi yang brbeda tentang bukunya.

#Twitteriak: Jadi pilihan buku indie apa bisa dibilang hanya batu loncatan menuju penerbit besar?
Irwan Bajang:. Harusnya bukan batu loncatan. Sebab indie atau mayor sama aja, pengelolaan aja yang beda. Artinya, dibutuhkan ruang dan manajemen yang lebih rapi aja kalo seorang penulis indie makin produktif‪. Buku indie bukan batu loncat, tapi ‘cara lain’ publikasi dan distribusi buku. Beberapa komponen sama aja. Sebab nggak ada beda kualitas buku indie & mayor, tergantung perlakuan penulisnya pada proses kelahiran buku .‬

#Twitteriak: Cita-cita gerakan @IndieBookCorner yang didirikan Irwan “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Apa maksudnya ya?
Irwan Bajang: Haha, setidaknya kami bisa berkontribusi pada persebaran wacana dari satu penulis ke banyak pembaca. Buku bagus, tapi mungkin gak marketable, jadi ditolak penerbit…. Nah, kami membantu gagasan brilian (yang mungkin gak propasar) itu tersebar luas ke pembaca.

#Twitteriak: Sebetulnya, apa kelemahan utama sistem penerbitan konvensional di mata Irwan?
Irwan Bajang: Kelemahan 1. Tidak bebasnya penulis mengatur sendiri naskahnya, ukuran, cover, oplah dll. Kelemahan 2. Kalau tidak marketable, sebagus apapun gagasan buku, tetap akan ditolak. Kelemahan 3. Meskipun tidak semua penerbit, tapi banyak yang “nakal” pada royalti, laporan dan hak penulis. Kelemahan 4. Penulis tidak akan seenaknya ambil buku, bikin acara kapan dan di mana aja. Sebab kontrol buku tak sepenuhnya di tangan penulis, maka segalanya harus dibawah koordinasi dan kesepakatan. Intinya, dengan buku indie, penulis merdeka ngapa-ngapain aja sama bukunya. Hehehehe. ‪

#Twitteriak: Gerakan indie biasanya gerakan perlawanan. Gimana hubungan Irwan dengan toko-toko buku yang jadi mata rantainya? ‪
Irwan Bajang: Meski tidak berdandan Punk, hati saya Punk! Haha. Saya banyak belajar dr tradisi Zine anak-anak Punk :) Sejak kecil saya terobsesi membuat sendiri buku dari tulisan saya, saya jilid-jilid sendiri. Kayak Zine-zine Punk. Nah, di Jogja kan banyak skali aktivis buku, jadi saya banyak belajar dari mereka, dan berkenalan dengan dunia buku. Tradisi publikasi mandiri juga banyak dilakukan anak-anak pers mahasiswa di kampus. Spirit itu aja yang saya kembangkan.

#Twitteriak: Agar gagasan buku indie ini semakin membesar, apa saja yang sudah dilakukan Irwan?
Irwan Bajang: Mengkampanyekannya dengan berbagai cara & media. Socmed, tv, radio, koran dan kami membuat Sekolah Menulis Gratis. Kami bikin Independent School, keliling SMA dan mengajak mereka menulis dan nerbitin buku. Gratis. Selain itu ya saya menulis dan saya menunjukkan bahwa tanpa penerbit pun, saya bisa jadi penulis. Hehehe

#Twitteriak: Dari 150 judul buku indie, buku mana yang seharusnya penting untuk jadi tonggak dunia buku kita?
Irwan Bajang: Wao, pertanyaannya menakutkan. Hmmm. Oke, saya sebut beberapa buku ya :) ‪Pertama, #Agonia‬ buku puisi 2 kota, Jogja-Jember. Menghimpun 50 lebih penyair muda… ‪ke depan akan menjangkau kota-kota lain, dan kelak menjadi ruang komunikasi yang luas bagi banya penulis. ‪#PengantarIlmuPolitik‬ kami terbitkan, tapi bukan Miriam Budiharjo yg selama ini jadi satu-satunya referensi kuliah Fisipol. ‪#RepublikRimba‬ buku ini seperti Animal Farm by Orwel. Penting sebagai kritik berbangsa kita. ‪#JebakanLiberalisasi‬ catatan kritis tentang aset bangsa kita yang banyak digadai ke asing. Mungkin itu hanya beberapa judul dari beberapa buku yang layak dibaca banyak org :) hehehe

#Twitteriak: Gerakan buku indie ini seperti social entreprenuership, jadi kuat aspek sosialnya daripada bisnis. Inikah roh IBC?
Irwan Bajang: Betul sekali. Malahan, intinya kami mau semua penulis bisa paham cara menerbitkan buku…. ‪Nah, kalau semua penulis sudah tau dan bisa menerbitkan sendiri bukunya. Buat apa ada IBC? Bubar juga gak apa2 :) Banyak fakta perbukuan yang dirahasiakan, jadi ayo kita buka dan kita ketahui bersama aja.

#Twitteriak: Apa impian Irwan yang belum terwujud dalam membangun gerakan buku indie ini?
Irwan Bajang: Saya mau semua orang sadar: buku indie itu bukan buku nomer 2. Dan gaya indie itu bukan pelarian, apalagi batu loncat. Kesadaran itu kadang belum muncul, jadi pelaku indie harus PeDe dan yakin juga atas jalan yang ia tempuh :) 1 lagi, saya mau buku itu murah, g boleh mahal, tapi kesejahteraan penulis harus terjamn! Caranya? Itu yang sedang saya cari.

#Twitteriak: Apakah ada niat memperluas @IndieBookCorner ini sehingga tidak hanya di Yogya, tapi juga muncul di seluruh Indonesia? ‪
Irwan Bajang: @IndieBookCorner Berniat sekali memperluas IBC. Di Batam, @bagustianiskndr sudah membuat Freedom Writer jadi jejaring. Buku sudah mudah produksi, murah yang belum. Itu penting untuk membumikan buku biar gak hanya dibaca kelas menengah.

#Twitteriak: Apa impian Irwan pada dunia membaca & menulis di Indonesia? Apalagi menghadapi lesunya perbukuan sekarang ini?
Irwan Bajang: Mirip dengan kendala-kendala tadi ya. Saya maunya harga kertas murah dan buku bisa diproduksi murah, biar makin banyak yang akses. Selama ini buku-buku kita tebal dan mahal. Kalo bisa dipecah jadi kecil-kecil, mungkin daya beli akan naik, pembaca makin banyak. Selain itu, kami mau buat Bank Buku yang menyisihkan dan menampung buku untuk disumbangkan ke pembaca yang kurang mampu.

#Twitteriak: Apakah ada komunitas penerbit indie? Apa peluang terbesar yang dimiliki penerbit buku indie? (Pertanyaan @helvrySINAGA)
Irwan Bajang: peluangnya adalah, kita bisa membuka jejaring penulis dan pembaca yang bisa saling mensupport distribusi buku dan wacana.

#Twitteriak: Pemasaran di toko buku? Penulis Indie, apalagi pemula, punya keterbatasan disini. Apakah IBC bisa distribusikan? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: @indiebookcorner bekerjasama dengan beberapa distributor, buku bisa masuk toko kalo produksi agak banyak. Tapi kalo buku diproduksi terbatas, kita bisa titip di kafe, distro atau jaringan komunitas-komunitas buku :)

#Twitteriak: Dalam web IBC, tersedia layanan promosi. Seberapa jauh layanan promosi @indiebookcorner sebagai jaringan indie? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: @indiebookcorner yang itu sedang dikonsep sama @renggodarsono jadi ke depan akan dibuat dan dibangun jejaring2 lebih serius untuk distribusi terutama promo :)

#Twitteriak: Kalo boleh buka-bukaan, standard cetak satu buku di @IndieBookCorner itu berapa eksmplar? Atau ksepakatan? (Pertanyaan @fiksimetropop)
Irwan Bajang: @IndieBookCorner gak ada standar oplah, berapa aja bisa. Cuma, kalo dikit jatuhnya per buku jadi agak mahal. Nah, tapi kalo produksi dikit dan distribusi non toko buku, kita gak perlu sisihkan rabat buat toko. Jadi kalo dijual pun, tetap masih ada selisih harga dengan biaya produksi :)

#Twitteriak: Menurut analisa @Irwanbajang buku Indie sudah mengambil berapa persen pasar di dunia perbukuan? (Pertanyaan @nabilabudayana)
Irwan Bajang: belum banyak sih ya, tapi punya pasar spesifik. Terutama di komunitas membaca dan menulis :) rencana ke depan, menambah terus jejaring perbukuan untuk kampanye buku indie. selain itu, kami akan membuat promosi audio n video yang bisa diakses dan disaksikan banyak orang :)

#Twitteriak: Secara kuantitas, apakah buku yang diterbitkan jumlahnya sesuai harapan? (Pertanyaan @tezarnet)
Irwan Bajang: bukan sesuai harapan, tapi sesuai kemampuan penulisnya. Keuntungannya, jarang ada retur, segitu cetak, segitu habis :)

#Twitteriak: Gimana perbandingan biaya buku indie sama major label apakah penulis harus keluar duit juga? (Pertanyaan @bukunya)
Irwan Bajang: kalo di major kan gak ada biaya, tapi dapat royalti. Kalo indie, mau gak mau ada biaya, tp semua keuntungan jual ke penulis.

#Twitteriak: Berapa persen yang ditanggung penulis? (Pertanyaan @bukunya)
Irwan Bajang: Bisa semuanya, bisa juga kerjasama 50:50, bisa juga kita cari sponsor bersama untuk pendanaannya :)

#Twitteriak: Apakah buku indie ga ada kewajiban untuk bayar pajak2 yang terkait penerbitan dan distribusi ? :) (Pertanyaan @funkyinyang)
Irwan Bajang: sejauh ini karena produksi dikit jadi gak pernah ada tagihan pajak. Ahahaha

#Twitteriak: Bagaimana dengan hak produksi/ memperbanyak? Siapa pemegang hak produksi untuk buku yang diterbitkan secara indie? (Pertanyaan @namakuantok)
Irwan Bajang: segala hak apapun ada pada penulis, hak perbanyak, hak distribusi, copyright, dan semuanya :)

#Twitteriak: Pernahkah mas @Irwanbajang menerbitkan tesis/disertasi? (Pertanyaan @helvrySINAGA)
Irwan Bajang: Pernah, ada beberapa.‪ #JebakanLiberalisasi‬ itu tesis juga. Tapi harus dibuat bahasa popular dulu.

#Twitteriak: Kalo bayar sendiri kan berarti semua orang bisa terbitin buku. Lalu kualitas isinya gimana? :D (Pertanyaan @Anneshakka)
Irwan Bajang: Pentingnya editor dan diskusi bersama penulis. Penulis harus sdar juga proses menulis itu panjang.

Demikian obrolan #Twitteriak tentang gerakan buku-buku Indienesia bersama Irwan Bajang. Semoga bermanfaat.

Delima Lestari

delimaMeski puluhan tahun tinggal di Belanda, jiwa Indonesia Delima Lestari Widya Astuti de Wilde Sri tak pernah luntur. Di sana dia berhasil menerbitkan beberapa buku kumpulan puisi. Sebagian besar bertema tentang Indonesia. Berikut laporan wartawan Jawa Pos Sidiq Prasetyo yang akhir Juni lalu menemuinya di Belanda.
————————–
Dua puluh tahun bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula Delima Lestari Widya Astuti de Wilde Sri tinggal di Belanda dan kini telah dikaruniai dua anak. Mereka adalah Qalifahsari Dinda Ambarwati, 14, dan Arissaputra Aji Rayendra, 10, hasil pernikahannya dengan pria Belanda, Tom de Wilde.

“Saya sejak 1991 sudah datang ke Belanda. Awalnya, saya mengajarkan bahasa Indonesia di sekolah-sekolah,” kata Delima kepada Jawa Pos.

Di sela-sela mengajarkan bahasa Indonesia tersebut, dia memanfaatkannya untuk mendalami bahasa Belanda. Karena sangat menyukai puisi sejak di Indonesia, ketika pindah ke Belanda, kegemaran itu dia lanjutkan. Suatu ketika, perempuan 41 tahun itu tertarik dengan sebuah artikel di internet yang membahas puisi. “Dari situlah saya kemudian tertarik untuk membuat kumpulan puisi dan dikirim lewat dunia maya,” jelas Delima.

Melalui dunia maya itulah, perempuan asal Solo, Jawa Tengah, ini mulai menjalin hubungan dengan para penulis puisi. Kebanyakan adalah penulis puisi dari Indonesia. Tapi, ada juga penulis puisi dari Malaysia dan Singapura. Dari hasil ngobrol di dunia maya itulah, lantas lahir himpunan puisi berjudul Padang 7,6 Skala Richter pada 2009.

Kumpulan puisi ini lantas diabadikan dalam sebuah buku. “Ini sebagai kepedulian kami, para penulis puisi, akan bencana gempa bumi yang melanda saudara-saudara kita di Padang dan sekitarnya pada saat itu,” terang Delima.

Tahun 2009 memang menjadi tahun kelam bagi Padang. Pada saat itu, tepatnya 30 September 2009, gempa berkekuatan 7,6 skala Richter yang berpusat di 57 km dari Pariaman, Sumatera Barat, memakan banyak korban dan meluluhlantakkan daerah yang dilewatinya. Diberitakan saat itu, jumlah korban luka akibat bencana alam tersebut mencapai 4.151 orang dan 676 orang hilang. Selain itu, 60.156 orang harus mengungsi.

“Saat itu kami berharap, kumpulan puisi yang kami buat bisa membuat Padang dan sekitarnya bangkit dari keterpurukan,” ucap perempuan yang tinggal di Bergen op Zoom tersebut.

Setelah membuat buku kumpulan puisi tentang gempa di Padang, Delima kembali menerbitkan buku puisi. “Judulnya Hawa. Masih tentang kumpulan puisi dan juga buat membantu kemanusiaan,” tambah Delima.

Nah, setelah itu lahirlah buku kumpulan puisi yang ketiga dengan judul Kenang Sebayang. Buku yang dicetak pada 2010 ini memberikan kesan lebih mendalam kepada Delima. “Saya dipercaya sebagai ketuanya,” lanjutnya. Bedanya, bila dibandingkan dengan dua buku kumpulan puisi sebelumnya, semua penulis pada buku ketiga ini berasal dari Indonesia. Pembuatannya pun memakan waktu yang tak sebentar. “Kalau nggak salah, hampir satu tahun. Lamanya waktu ini karena banyaknya animo para pengirim. Ada sekitar 30 penulis,” ungkap Delima.

Bahkan, satu penulis puisi bisa mengirimkan hingga 10 puisi atau lebih. Imbasnya, Delima pun harus selektif untuk menerbitkannya. Dalam Kenang Sebayang, selain dirinya, terdapat nama Ari Oktora, Bibi Cantik, Damai Prasetyo, Daniel Prima, dan Imron Tohari. “Kami juga membuat perjanjian bahwa para pengirim puisi di buku yang akan diterbitkan tersebut tidak dibayar. Perjanjian itu sudah diumumkan di dunia maya dan jejaring sosial,” papar Delima.

Kendala lain, jika ada kesulitan, mereka tak bisa bertemu. Pasalnya, para penulis puisi tersebut berasal dari berbagai daerah. Bahkan, ada yang berasal dari Nanggroe Aceh Darussalam. “Perbedaan waktu juga sering menjadi masalah. Di Belanda kan waktunya lima jam lebih lambat daripada Indonesia,” paparnya.

Untung, kerja kerasnya tersebut selesai. Bahkan, dia sempat mendatangi peluncuran buku Kenang Sebayang di Jakarta. “Hasil penjualan Kenang Sebayang dipakai untuk membantu beberapa sekolah di Indonesia yang dirasa perlu dibantu. Setahu saya, ada yang di Medan,” kenang perempuan kelahiran 15 September ini.

Dalam waktu dekat Delima juga berencana menerbitkan buku keempat. Saat ini, lanjutnya, prosesnya sudah mendekati akhir. “Tapi, belum berani dikasih judul. Nanti saja kalau sudah jadi,” ungkapnya.

Salah satu penulis puisi di Kenang Sebayang, Nur Hayati, pun memuji kinerja Delima meski dia tak pernah bertatap muka. “Dia selalu mengajak saya berkonsultasi jika ada masalah dalam puisi yang saya kirim. Biasanya, ya lewat dunia maya,” jelas perempuan asal Surabaya tersebut.

Dengan memakai nama Rayung Sekar, dua karya Nur muncul di Kenang Sebayang, yakni Wanita dan Remah Roti serta Belantara Kalbu. Sebenarnya, kesempatan bertemu Delima terjadi pada peluncuran Kenang Sebayang. Sayang, hal itu gagal terlaksana karena dia berhalangan hadir.(c2/kum)

*)JawaPos, 12 Juli 2012

Melanie Subono: Musik, Buku, dan Kepedulian Sosial

Seperti pilihan musiknya— rock—Melanie Subono adalah sosok yang energik dan tak pernah berhenti. Perempuan penyanyi rock Indonesia kelahiran Hamburg, Jerman, ini tidak hanya menarik urat lehernya untuk melengkingkan lagu rock, tetapi juga menjadikan rock sebagai sikap, pola pikir, dan perilaku.

Dia tidak hanya menjadi penyanyi rock dan pencipta lagu, tetapi juga menulis buku. Bukunya yang berjudul OUCH!!! dan Liaison Officer Forever mendapat sambutan baik dari kalangan muda.

Giat bersuara di media sosial, ia punya kepedulian tinggi terhadap masalah sosial. Empatinya tergugah saat mengetahui nasib Imas Tati, buruh migran yang bekerja di Kuwait dan terluka saat berusaha melarikan diri karena terancam diperkosa. Ia menggalang petisi sebagai bentuk solidaritas. Melanie juga ikut mengampanyekan gerakan hak asasi manusia dan jender serta gerakan pembatasan penggunaan kantong plastik demi lingkungan yang lebih baik.

Bagi Melanie, tidak perlu menyalahkan orang lain untuk mencari akar masalah atau memulai sesuatu. Namun, sudah sejauh mana diri sendiri melakukan sesuatu untuk menyelesaikan suatu masalah.

***

Banyak kasus HAM yang menimpa tenaga kerja Indonesia (TKI) di sejumlah negara. Berbagai upaya dilakukan pemerintah, tetapi belum menunjukkan perubahan signifikan. Menurut Anda, apa yang menjadi pokok masalahnya? Bagaimana solusi untuk meminimalkannya? (Samuel Laborsipago, Jakarta)

Kata siapa enggak ada perubahan signifikan? Kata siapa itu harus selalu jadi urusan pemerintah? Menurut saya, semua masalah terjadi karena kita sendiri dan kebetulan hobi kita adalah menunjuk dan mencari pihak lain untuk menjadi penyebab.

Pernahkah kamu ada di keadaan, di mana kamu sebener-nya dirugikan, baik skala besar maupun kecil. Kamu jawab, ”Ah, udahlah enggak usah dibahas daripada nyari ribut.” Nah, siapa yang enggak sadar akan haknya sendiri? Mengapa kita mengharapkan orang membela hak kita?

Apa sich yang membuat Kak Melanie menjadi seorang lady rocker? (Uci, Jakarta)

Waduh, saya enggak tau. Kan, saya, enggak pernah kasih julukan itu kepada diri saya sendiri. Itu orang lain yang selalu ngomong seperti itu selama bertahun-tahun. Mungkin karena gue main musik rock, ya?

Apa faktor yang melandasi Mbak Melanie membuat petisi Imas Tati? (Aan P, Garut)

Pertama gue dari dulu sangat sering aktif di hal-hal yang memang berhubungan dengan hak asasi manusia dan hal yang berhubungan dengan wanita. Sebenarnya petisi itu bukan hanya untuk Imas Tati, melainkan juga menurut saya tidak ada—sekali lagi tidak ada—manusia yang berhak mengeluarkan kalimat yang saat itu dikeluarkan oleh Ketua Satgas TKI atau Pak Marzuki Alie sebelumnya. Sebab, tidak ada manusia yang lebih tinggi, apa pun jabatannya di bumi ini.

Hal kedua adalah karena Imas Tati berbicara kepada gue secara langsung, dan gue akan sangat tidak berperikemanusiaan kalau diam saja.

(Imas Tati adalah tenaga kerja wanita berusia 23 tahun yang kini sulit berjalan. Imas patah tulang di beberapa tempat akibat lari dari majikannya yang hendak melakukan pelecehan seksual. Kepedulian Melanie ibarat disiram bensin saat mendengar komentar dari Ketua Satgas Tenaga Kerja Indonesia Maftuh Basyuni yang menuding berbagai kasus pelecehan seksual yang menimpa TKW disebabkan oleh sikap mereka yang genit, nakal, dan pergaulan bebas. [Kompas, 20 Juni 2012])

Untuk Mbak Melanie Subono yang menginspirasi, kapan waktu terbaik Mbak Melanie untuk menulis, sedangkan kayaknya kegiatan Mbak banyak sekali, ya? Terus, apa yang membuat Mbak Melanie berempati atas permasalahan sosial di masyarakat yang terjadi? (Fitri Al Tigris, Bogor)

Hmm… bukankah sekarang ini semua sudah sangat canggih? Dengan membawa satu handphone dan laptop kita sudah bisa membuat artikel, buku, bahkan merekam lagu, mengedit foto, korespondensi dengan orang-orang dan sejuta kerjaan lain?

Jadi, sebenarnya di mana pun, kapan pun, saat mood itu datang, cukup dengan gadget itu, gue bisa berkarya.

Yang membuat gue empati pada hal sosial? Simpel! Karena gue juga manusia, sama seperti orang yang mengalami dan sama seperti elu. Mengapa gue peduli sama hal-hal bertemakan wanita? Simpel! Karena gue wanita….

Apa sih yang menginspirasi kakak dalam berkarier? Coba kasih satu saja kalimat motivasi yang sangat memberkati kakak. (Indy Mangi, Kupang-NTT)

Hidup ini indah kalau saja kita mau membuka mata kita dan melihat ke arah yang tepat. Kalau kita terus lihat ke orang/hal yang lebih indah atau beruntung, hidup kita pasti merasa sangat buruk. Namun, kalau kita bisa ngeliat ke arah bawah, ke arah hal-hal yang lebih kurang beruntung lagi, elu akan sangat ngerasa beruntung dan semangat dan rasa bersyukur akan muncul dengan sendirinya.

Kedua, semua manusia itu hebat. Tuhan menciptakan semua manusia sama. Semuanya tergantung kita, mau memotivasi diri atau pasrah.

Saya selalu bilang, ”Saya ’tidak’ smart seperti kata orang-orang. Sama sekali tidak. Saya cuma dikasih otak, tenang, kemampuan dan lain-lain dari Tuhan yang kadang-kadang suka saya pakai.

Dari pengalaman Anda sebagai Duta Antinarkoba, mengapa banyak orang terjerembap menjadi pengguna narkoba? Terus, mengapa Indonesia sekarang menjadi pasar narkoba besar, apakah karena hukum terhadap para pengedarnya terlalu ringan? (Dimas, Ciputat, Tangerang Selatan)

Umumnya, mereka hanya karena mencoba. Dunia ini adalah satu lingkaran sebab akibat, mungkin saja penyebabnya adalah kita-kita juga. Tidak jarang ada orang yang akhirnya lari ke hal tersebut hanya karena tidak berani menghadapi kenyataan. Mungkin saja itu datangnya dari satu ucapan kecil dari mulut kita, dan itu menyakitkan, dan secara tidak langsung kita menyebabkan mereka masuk ke dunia itu.

Mengapa Indonesia jadi pasar narkoba terbesar? Ya, karena pembelinya ada. Menurut gue, tidak ada urusannya sama hukum.

Apakah kamu di mobil pake seatbelt cuma karena hukumannya berat? Sama saja, narkoba juga begitu.

Kak Melanie katanya sering menyempatkan diri berkeliling daerah untuk mengajar membaca dan mengajak masyarakat agar gemar membaca. Sebenarnya, apa sih Kak masalahnya, kok minat baca masyarakat kita rendah. Apa karena buku-buku juga mahal? (Satrio Pandawa, Jakarta Pusat)

Heran, mengapa selalu mencari hal lain untuk dipersalahkan? Sekali lagi, kembali pada orangnya. Kalau memang niat membaca, bisa ke tempat sangat murah dan lengkap bernama perpustakaan.

Seberapa sering kamu ke perpustakaan sebelum kamu menanyakan ini?

Ayah Melanie, kan, Adrie Subono, juragan Java Musikindo. Apakah yang sangat memengaruhi Melanie dari Om Adrie, kan, kata orang, apel jatuh tak akan jauh dari pohonya… he-he-he…. (Rara Kinanti, Bojongkoneng, Bandung)

Pengaruh ayah saya ke saya tidak ada hubungannya dengan beliau juragan Java Musikindo. Kamu mau tanya beliau sebagai ayah atau bos saya? Itu dua hal yang beda. Pengaruh Adrie Subono ada pada saya dari saya kecil saat beliau masih seorang businessman, di luar entertainment. Yang sangat memengaruhi saya adalah cara bekerja yang benar. Menghargai waktu dan orang lain serta disiplin.

Sebenarnya apa sih yang kamu kerjakan sebagai anggota Sahabat Wahana Lingkungan Hidup Indonesia? Sedih juga, ya, kalau ngeliat lingkungan negeri kita tuh udah rusak bener….(Tono Widyanto, Yogyakarta)

Sebelum saya jawab, saya tanya kamu apakah yang sudah kamu kerjakan untuk alam? Siapakah yang merusak? Kita.

Apakah yang merusak itu selalu yang membangun pabrik, limbah, dan lain-lain? Mungkin. Tetapi, itu sama merusaknya dengan kita membuang sampah sembarangan, atau kita menggunakan hairspray, atau kita tidak menanam pohon….

Sebagai sahabat Walhi, gue banyak menjalankan tugas dan sosialisasi kepada orang-orang mengenai kesadaran. Sekarang gue sedang fokus campaign di pengurangan penggunaan plastik.

Namun, sebagai penghuni rumah ”Indonesia”, gue sudah tidak menggunakan plastik. Gue sudah menanam pohon di rumah, tidak menggunakan bahan yang merusak, dan selalu mencoba memberi contoh kepada sekeliling.

Kapan merilis album terbarunya, Mbak? Ada rencana untuk membuat album dengan genre lain gak, misalnya pop ato hiphop? Bikin dong festival ladies rock Indonesia, kayaknya lady rocker Indonesia kalah pamor, ya, ama rocker-rocker cowoknya… he-he-he…. (Ian Keliek Jovi, Klaten, Jateng)

Album baru Januari kemarin. Kamu belum jadi anggota Sahabat Melanie, ya? Silakan buka www.melaniesubono.com. Di situ bisa kamu unduh album terakhir gue. Gratis.

Soal album dengan genre lain? Nope! Rock adalah napas saya.

Apa arti sebuah keluarga buat Melanie? Dari mana kamu mendapatkan energi terbesarmu untuk menjalani kehidupanmu…. Keep on rock, ya, jeng! (Dudi Sugandhi, Cijagra, Bandung)

Keluarga? Keluarga saya (orangtua, suami, kakak-adik, dan lain-lain) adalah urat nadi saya. Yesus adalah pelindung saya dan Indonesia adalah rumah saya

Yang memberi energi terbesar? Pada saat saya down, capek, lelah, kalah, dan saya sadar saya punya tiga hal di atas.

Menurutmu, bagaimana sih sebenernya sikap pemerintah itu? Kok, nasib TKI kita di negeri orang tak reda dirundung malang. (Ditya, Depok)

Tidak selalu. Ada sisi di mana pemerintah kita emang gebleg, tetapi ada juga kok kasus-kasus yang memang akhirnya selesai dan dibantu.

Sekali lagi saya tanya balik: Apakah yang sudah kamu lakukan untuk saudara-saudara TKI kita?

Bagaimana cara seorang Melanie Subono untuk mengejar passion-nya? Kasih dong saran-saran buat teman-teman di luar sana untuk mengejar passion-nya masing-masing. Thank you! (Devananta Rizqi Rafiq, Yogyakarta)

Kalau kamu menemukan hal yang kamu anggap passion kamu, otomatis kamu akan mengejarnya. Kalau tidak, ya udah jelas, itu bukan passion kamu. Carilah dahulu arti kata passion.

Industri musik Indonesia pernah diramaikan oleh munculnya sejumlah lady rocker berkualitas, seperti Nicky Astria, Anggun C Sasmi, Mel Shandy, dan Atiek CB. Menurut Anda, bagaimana caranya agar fenomena bagus seperti ini bisa terulang kembali? Siapa lady rocker yang menjadi panutan Anda? (Harrys Simanungkali, Jakarta)

Nah, itu dia, saya juga bingung. Sampai sekarang, 6-7 tahun belakangan ini, solo rock cewek saya doang isinya. Saya sangat menanti cewek-cewek lain untuk bergabung.

Anyway, kalau nanti udah waktunya, juga akan datang dengan sendirinya, kok. Kalau fenomena itu harus di-setting atau dibuat, apa bedanya kita dengan yang lain?

Dalam konsep Mbak Melanie, bahagia itu apa? Apakah Mbak pernah merasa terpuruk? Makasih, ya, sukses selalu? (Rosa Ermawar, Klaten, Jawa Tengah)

Saya belum punya sayap: masih makan nasi, masih napas. Mau nabi sekalipun, akan punya perasaan itu selama hidup?

Sebenarnya simpel saja, bahagia adalah bersyukur dengan yang ada, semangat. Liat sekeliling kita. Tentukan mimpi, kalau gagal, ya, kejar lagi, nikmati setiap emosi yang ada….

Hmm… satu lagi sih, mimpi saya he-he-he… udah dua taun enggak kesampean pengen banget foto dan nyanyi ama Faank Wali…. Anyone? *ngumpet*

Halo Mbak Melanie, apa suka dan duka Mbak menjadi seorang LO? Request terunik apa yang pernah Mbak Melanie temukan ketika menjadi seorang LO dari para artis asing yang Mbak Melanie datangkan ke sini? (Prawatya EP, Jatibening Baru, Bekasi)

Kalau diceritakan suka duka enggak akan pernah muat ditulis di sini. Karena itu artinya ngomongin pengalaman puluhan tahun. Buat gue, setiap ”majikan” yang dateng itu semua unik dan beda. Kalau soal request paling unik, mungkin yang terjadi adalah gue udah kelamaan kerja gini dan gak ada yang ngagetin gue lagi. Jadi, jarang ada yang gue bilang aneh.

Sumber: Kompas, 17 Juli 2012, hlm 33, “Hidup Ini Indah kalau Kita Membuka Mata”

Aan Ratmanto:Menemukan Sejarah yang Hilang

Thomas Pudjo Widijanto

Kawasan Shopping Center, Yogyakarta, bukan sekadar tempat penjualan buku-buku loak alias bekas. Mereka yang beruntung bisa menemukan buku-buku lama yang bagi pembelinya merupakan ”emas”. Buku yang menjadi referensi keilmuan.

Di sisi lain, tempat ini juga menjajakan ribuan skripsi karya mahasiswa dari hampir semua perguruan tinggi di Yogyakarta. Bahkan, disertasi pun ada di sini. Sulit menjawab mengapa karya ilmiah itu ada di sini. Beberapa pedagang buku pun bercerita, ada saja mahasiswa yang membuat skripsi dengan ”membeli” karya skripsi yang diperdagangkan itu.

Pada titik inilah contek-mencontek karya ilmiah terjadi. Bahkan, Universitas Gadjah Mada pernah mendiskualifikasi tesis seorang kandidat doktor karena kasus mencontek. Inilah tragedi keilmiahan. Orang bisa lulus cepat meski dengan ”kriminalisasi intelektual”, menjiplak karya orang lain.

Adalah Aan Ratmanto, kala itu tahun 2009, sedang mempersiapkan skripsi untuk S-1 Jurusan Sejarah di Universitas Negeri Yogyakarta. Untuk mewujudkan skripsi yang menyoroti soal tentara Wirkres III pada masa pergolakan kemerdekaan di Yogyakarta, ia mencari literatur dengan masuk-keluar perpustakaan.

Ketika sedang asyik mencari buku-buku di Perpustakaan Museum Kodam IV/Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah, Aan melihat dua bendel dokumen yang membuatnya terkesima. Di sini, ia menemukan fakta, pada 1 Mei sampai 30 Juli 1949—saat pemerintahan Republik Indonesia berada di Yogyakarta—ada pemerintahan transisi yang dipegang langsung oleh Sultan Hamengku Buwono IX (HB IX) atas mandat Presiden Soekarno. Saat itu, Bung Karno dan Bung Hatta dalam pengasingan di Menumbing, Bangka.

”Ini informasi sejarah baru,” kata Aan. Untuk menguatkan dugaan itu, ia semakin dalam menyuruk dari perpustakaan ke perpustakaan mencari literatur sejarah yang berkaitan dengan kedua dokumen tersebut.

”Dua tahun lebih saya mencari-cari, tetapi belum menemukan buku yang secara tegas menceritakan adanya pemerintahan transisi Republik Indonesia di Yogyakarta pada masa perjuangan kemerdekaan. Artinya, banyak orang belum tahu bagian sejarah masa perjuangan kemerdekaan,” katanya.

Membuat buku

Dari temuan dokumen itu, ia lantas berpikir untuk menjadikannya sebagai buku. ”Di sini ada missing link, ada sejarah yang hilang dalam perjuangan kemerdekaan RI, khususnya saat ibu kota RI berada di Yogyakarta,” ujarnya.

Dari studi pustaka selama lebih dari dua tahun, Aan mampu menyelesaikan karyanya mengenai dokumen sejarah itu. Namun, mencari penerbit bukan hal mudah. Empat penerbit besar di Yogyakarta tak bersedia menerbitkan karyanya.

”Bahkan, ada penerbit yang menganggap tak ada hal baru di sini,” katanya.

Sampai seorang teman memperkenalkan dia kepada pemilik Penerbit Matapadi, yang tak begitu besar, tetapi mengkhususkan penerbitannya pada karya sejarah dan kemiliteran. Buku itu diberi judul Mengawal Transisi: Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Pemerintahan Transisi Republik Indonesia Yogyakarta 1949.

”Begitu buku itu terbit, Widihasto, Ketua Sekretariat Bersama Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, mau meluncurkannya. Setidaknya ada masyarakat yang mendengar, ada sejarah lain di bumi Yogyakarta,” ujar Aan tentang peluncuran bukunya, awal Juli lalu.

Ia lalu bercerita, pada periode 1 Mei-30 Juli 1949, ibu kota RI berada di Yogyakarta. HB IX pernah mengeluarkan pernyataan proklamasi menandai penyerahan kedaulatan RI dari tangan Belanda, sekaligus penarikan pasukan Belanda dari Yogyakarta.

Saat itu adalah masa pemerintahan transisi, dan HB IX mendapat mandat menjalankan roda pemerintahan dari Bung Karno yang sedang berada di tempat pembuangan.

Beberapa waktu setelah ibu kota pemerintahan RI dipindahkan ke Yogyakarta, Bung Karno, Bung Hatta, dan beberapa pemimpin lain diasingkan ke Bangka, tetapi pemerintahan tak kosong. Bersama Paku Alam VIII, HB IX menjaga keamanan Yogyakarta sebagai ibu kota negara. Untuk menjaga keamanan Yogyakarta, HB IX mengadakan serangan terhadap Belanda, yang kemudian dikenal sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949.

Dampaknya, selain membuka perhatian dunia, serangan itu pun mendorong Bung Karno menyerahkan pemerintahan RI untuk sementara ke tangan HB IX. Penyerahan itu ditandai surat penetapan yang ditandatangani Presiden Soekarno dari pengasingan, tertanggal 1 Mei 1949.

Penyerahan inilah yang disebut Aan sebagai masa transisi, sampai HB IX menyerahkan kembali kepada Bung Karno pada 30 Juli 1949.

Lebih lanjut, Aan mengatakan, selama menjalankan tugasnya sebagai pemimpin pemerintahan transisi, HB IX telah mengeluarkan 42 kebijakan, baik berupa peraturan, maklumat, instruksi, maupun pengumuman.

Hasil penting yang dicapai pada masa itu adalah peristiwa penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta. ”Secara berturut-turut Sultan HB IX memberi jadwal penarikan itu, mulai 24 Juni sampai 30 Juni 1949. Jadwalnya tersusun rapi dan dilaksanakan sesuai jadwal itu,” tuturnya.

Pada hari akhir penarikan, HB IX membuat teks proklamasi, yang inti isinya antara lain menyebutkan, dirinya ditunjuk Bung Karno untuk menyelesaikan semua persoalan yang menyangkut pengembalian pemerintahan RI dari tangan Belanda, berikut penarikan pasukan keluar dari Yogyakarta.

Dalam proklamasi itu juga disebutkan, HB IX segera mengembalikan kekuasaan kepada Pemerintah RI yang sah jika situasi sudah memungkinkan.

”Tutur Tinular”

Aan Ratmanto bisa menjadi contoh sosok akademisi muda yang tidak terlibat arus pendidikan instan. Bukan termasuk mereka yang berharap lulus sarjana atau pascasarjana secara cepat meskipun terkadang menggunakan segala cara. Pencarian ilmu yang ditekuninya telah melahirkan catatan baru sejarah Indonesia.

Aan mengaku sejak masih kanak-kanak sudah tertarik pada sejarah. ”Waktu itu, saya sering mendengarkan sandiwara radio berlakon Tutur Tinular. Itu sandiwara yang mengisahkan sejarah Majapahit. Hasilnya, ketika ada tes (pelajaran) Sejarah, saya langsung bisa menjawab tanpa belajar lagi dari buku,” ungkapnya.

Aan mencontohkan, kisah tentang siapa sebenarnya Raja Tumapel dia dapatkan dari sandiwara radio. ”Informasi tentang Raja Tumapel saya dengar dari radio, bukan dari buku sejarah,” ujarnya.

Ketertarikannya pada sejarah juga mendapat dukungan dari sang ayah, seorang seniman ketoprak tradisional. ”Lakon dalam ketoprak itu, hampir semua ceritanya mengangkat epos sejarah. Sering berdiskusi dengan Bapak makin mendorong saya mencintai sejarah,” katanya.

*)Kompas, 11 Juli 2011

Moeslim Abdurrahman, Obituari Penulis Buku "Islam Transformatif"

Oleh Muhammad AS Hikam

Kang Moeslim Abdurrahman, bagi saya, adalah sosok multi-talenta. Ia bukan saja seorang penulis, peneliti, aktivis LSM, dosen, politisi, tetapi juga seorang yang penuh humor dan canda.

Sebelum mengenal almarhum face to face, secara intelektual saya sudah diperkenalkan oleh almaghfurlah Gus Dur beberapa tahun sebelumnya. Sering dalam obrolan di PBNU atau dalam perjalanan kluyuran bersama almaghfurlah dan Pak Ghofar Rahman (mantan Sekjen PBNU dan aktivis LSM juga), nama Kang Moeslim muncul dengan kekocakannya yang brilian. Bahwa Kang Moeslim adalah seorang intelektual Islam yang berlatarbelakang Muhammadiyah, tidak menjadi masalah bagi Gus Dur seperti juga intelektual dengan latar belakang lain. Maka sebelum saya bertemu Kang Moeslim di kampus Cornell University Ithaca, NY pada 1994 -kalau tak keliru, saya sudah mengagumi dan menjadikannya sebagai salah satu figur intelektual yang harus saya timba kawruh dan pengalamannya.

Dan memang tidak keliru. Bersama almaghfurlah Gus Dur, almarhum Cak Nurcholish Majid, almarhum Romo Mangunwijaya, almarhum Aswab Mahasin, Pak Djohan Effendi, Pak Chabib Chirzin dan beberapa nama cendekiawan dan aktivis senior lain, saya kira almarhum Kang Moeslim adalah salah satu “hero” dalam kehidupan kecendikiawanan saya. Kendati tak selalu sependapat dengan pandangan dan langkah-langkah politik almarhum, tapi toh tak menghalangi saya untuk selalu berusaha mengikuti perkembangan pemikirannya sampai detik terakhir.

Saya bertemu terakhir dengan almarhum saat Pak Hendroprijono mengadakan pesta ulang tahun dan peluncuran buku awal Mei 2012 lalu di Hotel Dharmawangsa. Waktu itu saya lihat beliau masih seperti biasa: ceria dan penuh canda dengan tampilan khasnya yang sangat sederhana untuk ukuran seorang cendekiawan kaliber internasional.

Kang Moeslim adalah figur cendekiawan hibrid, seperti juga Gus Dur almaghfurlah. Dia tidak merasa terlalu silau sebagai seorang doktor lulusan salah satu universitas terkemuka di AS, yakni University of Illinois at Urbana-Champaign. Sosok Kang Moselim selalu mengingatkan saya kepada sosok Asghar Ali Engineer, cendekiawan Muslim dari India yang sangat sederhana, kocak, dan brilliant, yang juga karib dari almaghfurlah Gus Dur.

Buat Kang Moeslim tidak ada hal yang tidak bisa dibahas secara mendalam dan non konvensional. Mirip almarhum Ahmad Wahib yang juga karib Pak Djohan Effendi, Kang Moeslim tak segan atau menghindar dari kontroversi kendatipun harus beresiko terhadap kehidupannya. Jarang seorang cendekiawan yang guyonnnya agak “kurang ajar” di hadapan Gus Dur, dan rasanya almaghfurlah pun selalu ngakak bila di sekitarnya ada beliau.

Kang Moeslim adalah cendekiawan muslim avant garde, yang pikirannya tak mau dihalangi batas-batas aliran dan benua. Seorang jebolan pesantren kampung tetapi juga mampu bicara dalam seluruh fora dunia tentang masalah-masalah keislaman yang terjait dengan kemiskinan, kesalehan beragama, dan trensformasi umat beragama termasuk Islam. Ia memang asli Muhammadiyah tetapi sangat dekat dengan NU karena beliau share dengan terobosan yang diupayakan Gus Dur almaghfurlah.

Kang Moselim juga mengakrabi para kampiun cendekiawan seperti Romo Mangun, dan Bu Gedong dari Bali karena kesamaan obsesi mereka dengan pendidikan dan menyantuni kaum miskin. Sama dengan almarhum Gus Dur, almarhum Ibu Gedong dan almarhum Romo Mangun, Kang Moeslim juga sangat mengagumi Paolo Freire yang model pendidikannya berupa membebaskan kaum miskin dari jebakan struktural dan model pendidikan elietis yang memantapakan struktur penindasan atas nama ilmu pengetahuan!

Saya sangat berhutang budi kepada Kang Moeslim karena kecermatannya dalam mengupas masalah dan kesederhanaan dalam hidup. Saya kehilangan salah satu figur cendekiawan setelah Gus Dur yang mampu membongkar urusan yang kompleks menjadi cukup sederhana tanpa pretensi keilmuan yang ndakik-ndakik. Kang Moeslim yang saya kenal adalah seorang cendekiawan yang membumi, dan seorang yang membumi dengan tuntunan kecendekiaan. Kang Moeslim, saya teramat kehilangan anda. Selamat jalan Kang, salam hormat saya untuk almaghfurlah Gus Dur. Insya Allah anda berdua akan bertemu dan guyon lagi dalam keabadian.

Muhammad AS Hikam, Penulis adalah mantan Menristek era Presiden Gus Dur, Wakil Rektor President University

Sumber: rmol.co, 9 Juli 2012, “Gus Dur Selalu Ngakak Bila Ada Kang Moeslim”

Ineke Turangan: Buku Kreasi Janur

Janur, tiga kuntum anggrek, dan serumpun setaria itu menjelma menjadi seperti gunungan, perlambang bumi dan segala makhluk hidup penghuninya dalam pewayangan Jawa. Dengan irisan dan lipatan lain, janur pun menjelma jadi sriti, burung-burung kecil yang bersukaria terbang dalam kawanannya.

Teresa Maria Ineke Turangan (48) merangkai aneka bentuk janur—dan sisipan bunga—lalu memuat model-model rangkaian itu dalam buku Janur, Introducing Tradition into Modern Style. Buku dalam dua bahasa ini ia luncurkan setahun lalu. ”Lebih banyak pembaca dari luar negeri yang antusias menyambut daripada di negeri kita sendiri,” ujarnya.

Ineke bukan sekadar menulis buku. Ia juga mendirikan dan mengelola Newline Floral Education Center sejak tahun 2003. Di sekolah itu, ia mengajarkan teknik melipat, mengiris/memotong, dan menganyam janur menjadi rangkaian cantik dan bentuk karya seni.

Tidak cukup sampai di situ, janur juga materi flora yang selalu ia promosikan dengan bangga sebagai kekayaan tradisi Indonesia dalam berbagai forum demo dan ekshibisi di berbagai negara. Saat ini, Ineke aktif sebagai anggota beberapa asosiasi desainer bunga internasional. Itulah profesi yang ia lakoni: desainer bunga dan pengajar seni merangkai bunga.

Berbeda dengan penjual bunga (florist), desainer bunga atau floral designer mendesain segala sesuatu yang berhubungan dengan bunga ataupun materi flora lainnya, seperti daun, akar, sulur, dan batang. Seorang desainer membuat suatu rangkaian flora—termasuk bunga, mendesain dekorasi ruang atau gedung dengan materi flora, dan menciptakan tren.

Sebagai desainer bunga, selama 12 tahun terakhir, Ineke adalah koordinator dan desainer keseluruhan penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada setiap peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus.

Ia akrab dengan aneka jenis flora yang juga ia manfaatkan dalam karyanya. Namun, janur—daun muda dari pohon kelapa—menempati posisi khusus di hati Ineke.

”Saya sebel jauh-jauh ke Jerman, belajar macam-macam teknik jalinan, eh, di sana bahannya cuma rumput,” ujarnya menuturkan saat awal ia mendalami salah satu teknik merangkai bunga. Indonesia punya janur yang bernilai seni tinggi. Janur pun sudah menjadi bagian dari berbagai kegiatan tradisi turun-temurun di negeri ini.

Di Bali, rangkaian bunga dan buah terbingkai dengan janur dalam upacara keagamaan dan adat. Di Jawa, upacara pernikahan sesuai tradisi menggunakan janur. Janur lebih dari sekadar pembungkus ketupat saat Lebaran.

”Saya percaya di berbagai daerah banyak yang bisa merangkai janur, bahkan lebih bagus daripada yang ada di buku saya. Namun, mereka belum melihat pasarnya siapa,” ujar ibu dua anak ini.

Nilai janur

Di luar lingkup acara tradisi, janur bukan perangkat dekorasi yang dipandang berkelas. ”Konsumen kelas atas belum melihat janur sebagai sesuatu yang orisinal dan punya nilai seni. Mereka lebih memilih bunga impor seperti lili dan mawar.”

Padahal, Ineke menemukan penghargaan dunia luar pada rangkaian janur yang ia suguhkan di berbagai kesempatan. ”Saya promosi janur ke luar negeri dengan harapan apresiasi dari luar itu akan membuat kita lebih menghargai apa yang kita punya. Biasanya kalau sudah populer di luar, baru kita bilang, lho itu, kan, dari Indonesia.”

Situasi ini membuatnya geregetan. Ia sudah menyaksikan beragam jenis bunga yang tumbuh di pedalaman hutan Indonesia ”diambil” bibitnya lalu dikembangkan dengan budidaya dan teknologi di negara-negara lain. Lalu, dipopulerkan sebagai milik mereka. Jangan sampai tragedi yang sama terjadi pada janur.

”Itu yang mendorong saya membuat buku tentang janur dan mendirikan sekolah ini. Saya ingin kita lebih sadar bahwa kita punya sesuatu yang berharga untuk kita olah menjadi karya seni, lapangan kerja, alternatif mencari nafkah.”

Dengan janur, pada suatu forum di Belanda, misalnya, Ineke menampilkan bentuk baju-baju daerah Indonesia melalui tatanan di manekin. Tergelitik menyaksikan itu, banyak yang menyarankan kepada Ineke untuk mendorong perangkai janur di Indonesia mendalami ilmu melipat dan mendapatkan gelar di bidang itu.

”Aduh, boro-boro mau ambil spesialisasi melipat, yang umum dalam merangkai bunga saja di Indonesia enggak ada sekolahnya. Di Eropa dan Amerika, ada pendidikan dan gelar khusus untuk itu.” kata Ineke yang meraih gelar sebagai desainer bunga bersertifikasi dari American Institute of Floral Designers.

Berawal dari Baju

Maria Teresa Ineke Turangan lebih dulu ahli mendesain busana sebelum menggeluti desain flora. Ia merampungkan pendidikan di Paris Academy School of Fashion di London, Inggris. Kemudian selama 10 tahun menggeluti bisnis fashion dengan mengelola butik miliknya di Jakarta.

Perkenalannya dengan bunga semula sekadar karena ketertarikan mengikuti kelas ikebana atau merangkai bunga ala Jepang pada tahun 1990-an. Ternyata, hatinya terpikat di situ. ”Begitu mulai belajar bunga, saya seperti haus ingin terus memahami lebih banyak,” ujarnya.

Beragam program pendidikan tentang seni merangkai bunga dan desain flora di berbagai negara—Amerika Serikat, Belanda, Australia, Jerman, dan China—ia ikuti. Bunga dan aneka bentuk flora lainnya menyedot perhatian dan energi Ineke, hingga ia tak melanjutkan lagi bisnis fashion yang sudah sempat mapan berjalan.

Tak cuma tancap

Berulang kali Ineke menghadapi ”keheranan” orang tentang apa perlunya belajar merangkai bunga. Toh, tinggal tancap-tancap saja bunga sudah akan tersaji cantik, begitu pendapat sebagian orang. ”Ternyata semua ada ilmunya. Makin dipelajari, makin terasa perlunya terus belajar.”

Pandangan awam lainnya, asalkan bunganya cantik dan segar—apalagi mahal—rangkaiannya bukan perkara penting. Padahal, dengan seni merangkai bunga, keindahan bisa ditampilkan bukan hanya oleh bunga yang mahal, melainkan juga dengan daun kering—termasuk janur yang dikeringkan—dan kulit batang.

Ineke bercerita, salah satu momen mengesankan baginya, adalah saat menerima kunjungan salah satu pembimbingnya, Gregor Lersch, guru besar seni merangkai bunga dari Jerman yang begitu mencintai ilmu botani. Di Kebun Raya Bogor, sang profesor menjelaskan bagaimana setiap pohon yang dia lihat menginspirasi suatu rangkaian bunga.

”Kalau dibilang cuma tancap-tancap, ya, bisa saja begitu. Namun, kalau kita pelajari, kita akan tahu persis apa yang kita buat dengan rangkaian itu. Alam, bentuk bangunan, bahkan motif kain semua bisa jadi sumber inspirasi merangkai bunga,” ujar Ineke.

Totalitasnya belajar, kemudian mengajar bunga, sekaligus mempromosikan kekayaan flora Indonesia itu pula yang membuat Ineke terpilih menjadi koordinator dan desainer penataan bunga di Istana Negara dan Istana Merdeka pada peringatan Kemerdekaan RI 17 Agustus sejak era Presiden BJ Habibie tahun 2000 hingga saat ini.

Setiap tahun, untuk dekorasi flora Istana pada acara 17 Agustus itu, dipilih tema suatu daerah. Tahun 2011, misalnya, dipilih tema Papua. ”Papua punya daun kadaka. Satu lembar daun itu bisa setinggi orang, hampir 2 meter. Desainnya saya buat lebih natural. Rangkaiannya tidak pakai vas-vas, tetapi pakai pisang-pisangan atau air.” (DAY)

*)Kompas, 8 Juli 2012

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan