-->

Arsip Ruang Toggle

Galeri Buku Bengkel Deklamasi

Bengkel Buku DeklamasiJAKARTA – Identik dengan buku-buku bekas bernuansa sastra, seni dan budaya, Galeri Buku Bengkel Deklamasi, ternyata terkenal di luar negeri. Konsep ini, bahkan diadopsi di beberapa daerah di Indonesia.

Keunikan dari buku bekas inilah yang juga membawa kebanggaan pemilik galeri karena pernah suatu waktu 500 koleksi bukunya dibeli untuk koleksi sebuah museum di Inggris. Ini karena buku-buku di toko ini berbeda dari toko buku konvensional lainnya, termasuk tata letaknya yang terbilang sederhananya.

Jika Anda penasaran, tidak ada salahnya berjalan-jalan di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM) Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat. Di tempat inilah galeri buku itu berada. Bagi penyuka seni dan pertunjukan sastra, TIM merupakan lokasi favorit buat melepas kepenatan setelah seharian beraktivitas. Bagi penyuka buku-buku lawas, Galeri Buku bengkel Deklamasi juga bisa menjadi pengobat rindu.

Letaknya di bagian paling pojok sebelah kanan dari arah depan pusat kesenian bersejarah itu, membuat toko buku ini mudah ditemui. Jika datang ke lokasi, pengunjung biasanya akan disambut seorang laki-laki paro baya berambut panjang. Dia adalah Jose Rizal Manua, yang dikenal sebagai pemilik Galeri Buku Bengkel Deklamasi itu. Dia menuturkan bahwa toko bukunya itu memiliki cerita yang panjang sebelum resmi dibuka.

Menurut Jose, demikian dia akrab disapa, toko buku itu dibuat karena pengalamannya menjelajahi berbagai belahan dunia serta darah seni yang mengalir di tubuhnya. Pria yang juga dikenal sebagai sutradara teater anak, dan Teater Tanah Air itu menambahkan, karena kecintaannya terhadap seni pula sehingga dia berpikiran membuka toko buku itu.Tak heran, jika galeri buku miliknya identik dengan buku-buku sastra, kesenian dan budaya.

”Galeri buku ini terinspirasi ketika saya berada di New York, Amerika tahun 1988-an bersama WS Rendra (penyair, almarhum). Selain buku bekas ada juga buku baru,”ujar Jose saat ditemui di galerinya belum lama ini.

Waktu di New York, lanjut dia, dirinya menyaksikan begitu banyak second hand book store (toko buku bekas) yang menjual beraneka ragam buku. Dan, itu bisa ditemukan di berbagai sudut kota. Setelah menyelesaikan kunjungannya ke New York, Jose lalu mulai berencana mengadaptasi sebuah second hand book store dengan lokasi di pusat kebudayaan Jakarta.

Karena menurutnya belum ada satu pun penjual buku bekas yang berdiri apik dengan format toko. Sekembali ke Jakarta,ide yang didapatnya di New York kemudian dibawanya menghadap ke Gubernur DKI Jakarta saat itu, Suryadi Sudirja. Setelah menghadap gubernur, Jose akhirnya diminta untuk membuat desain toko dan memilih lokasi di TIM. ”Ternyata ide saya diterima gubernur waktu itu,” ujarnya.

Selain mendapatkan ide mendirikan second hand book store dari New York, di kota itu pula Jose membeli banyak buku, bahkan buku yang dibelinya mencapai tiga koper. ”Sampai over weight di pesawat dan WS Rendra marah-marah, karena dia tidak bisa titip membeli buku,”kenang Jose. Dengan sebuah toko dan bukubuku yang dibelinya di New York ditambah ribuan buku koleksi pribadi, akhirnya Galeri Buku Bengkel Deklamasi resmi berdiri 28 April 1996 bersamaan dengan digelarnya acara Mengenang Wafatnya Chairil Anwar.

Saat itu WS Rendra membacakan puisi-puisi Chairil selama tiga hari. Banyaknya buku sastra, seni dan budaya yang dikoleksi Galeri Buku Bengkel Deklamasi, membuat toko buku ini dikunjungi berbagai lapisan masyarakat. Mulai dari masyarakat umum, seniman, mahasiswa hingga politikus. ”Dalam sehari, pengunjung bisa 50-100 orang,bahkan ada juga peneliti yang membeli buku,” tandasnya.

Sejak Galeri Buku Bengkel Deklamasi berdiri,hal yang paling membanggakan kata Jose, adalah mulai bermunculannya toko-toko buku serupa di daerah lain di Indonesia dengan mengambil contoh dari Galeri Buku Bengkel Deklamasi.

Bahkan di daerah seperti di Pekanbaru dan Riau, toko buku bernuansa budaya dibangun dan dikelola oleh dewan kesenian daerah. Di Riau atau di Dewan Kesenian Riau (DKR), telah dibuka toko buku yang dinamakan Galeri Buku Ibrahim Sattah.Di sini dijual bukubuku sastra Melayu dulu dan kontemporer, seperti karya-karya sastrawan di Riau, Malaysia, dan Singapura.

”Itu yang membuat gembira, format toko buku seperti ini sudah menular ke daerah-daerah,” tambah Jose. Ya,gaya bisnis Jose memang cukup unik.Sambil menularkan hobi, dia sekaligus meraup untung dari buku bekas. Sebagai gambaran, kata dia, penjualan buku di galerinya bisa mencapai Rp200 ribu-Rp500 ribu setiap harinya. (Bernadette Lilia Nova/Koran SI/css)

*)Okezone, 9 Mei 2010

Gentong Buku di Hindia-Belanda

ORANG Belanda suka membaca. Di mana-mana perpustakaan ramai dikunjungi. Hampir semua orang berlangganan dan membaca koran; kalau pun ada yang tak mau membeli koran, pemerintah daerah setiap tempat membagikan koran lokal secara cuma-cuma.

Toko buku berkembang marak; mereka bahkan menyediakan boekenbon yaitu kartu kupon seharga 5 Euro, 10 Euro, atau terserah berapa Euro. Kartu kupon itu dapat dibeli dan diberikan kepada seseorang sebagai hadiah. Dengan cara itu, setiap orang yang menerima hadiah `buku’ dapat memilih sendiri buku yang diinginkannya, sesuai selera.

Ini tidak berarti bahwa tak ada orang yang buta aksara. Di Belanda terdapat 1,5 juta (13 persen) orang yang dianggap buta aksara. Di antara satu setengah juta orang ini terdapat orang-orang yang dapat membaca dan menulis sedikit saja, namun kemampuan itu tidak memadai untuk membaca dan memahami sebuah buku bacaan sederhana.

Sejuta di antaranya adalah orang Belanda asli dan setengah juta lagi adalah imigran. Gejala buta aksara itu ditemui pada lapisan masyarakat dengan pendidikan dan pendapatan yang rendah. Biasanya mereka berusia 56 tahun ke atas. Aneh memang. Seringkali ada asumsi bahwa di setiap negara yang (dianggap) maju, analfabetisme sudah dapat diberantas sampai ke akar-akarnya. Nyatanya tidak.

Sampai akhir abad ke-11, hampir semua bentuk kesusasteraan di Eropa, termasuk di Negeri Belanda, merupakan sastra lisan berbentuk puisi. Puisi-puisi itu itu mudah dihafal dan divokalisasikan oleh para penyanyi dan pengamen. Seniman-seniman itu dipanggil sebagai penghibur di rumah orang-orang kaya atau di tempat-tempat umum. Selain puisi-puisi yang ditulis dalam bahasa Belanda (kuno), juga ada naskah-naskah ilmiah dan keagamaan. Kedua jenis naskah itu ditulis dalam Bahasa Latin.

Mulai abad ke-12, muncul cerita-cerita kepahlawanan yang ditulis untuk dan dipesan oleh para bangsawan.
Walaupun sampai sekarang masih ada saja orang yang tidak dapat membaca dan menulis di Negeri Belanda, ketika mereka tiba di Nusantara, budaya membaca sudah mulai berkembang.

Saya belum menemukan tulisan mengenai budaya membaca dalam dua abad pertama kedatangan Belanda di negeri kita, namun pada tahun 1916, seorang wartawati bernama Beata van Helsdingen-Schoevers menulis tentang leestrommels (kotak bacaan) di Batavia (lihat Gerard Termorshuizen, “Realisten en Reactionairen: een Geschiedenis van de Indisch-Nederlandse Pers 1905-1942”. Leiden: KITLV, 2011).

Menurut Beata van Helsdingen-Schoevers, membaca sangat digemari di Hindia-Belanda. Di Hampir setiap rumah menyimpan leestrommel di salah satu sudut ruang makannya. Kalau diterjemahkan leestrommel itu secara harfiah berarti gentong bacaan. Namun, rupanya wadah penyimpan bacaan itu sebetulnya acapkali berupa kotak kayu yang berukuran cukup besar. Sekitar tahun 1930an wadah yang terbuat dari kayu sudah banyak digantikan dengan wadah yang terbuat dari blik (seng).
frieda.amran@yahoo.com (anggota Asosiasi Antropologi Indonesia)

*)Kompas, 26 Maret 2012

Koran Pasinanon

Koran Pasinaon

Foto: koran-pasinaon.blogspot.com

Oleh: Amanda Putri

Kemampuan baca tulis yang diserap Sugimah (64) dan Rohmiyati (54) pada usia muda tak berbekas karena kurang diasah. Kini, kecakapan beraksara yang mereka peroleh kembali berusaha diawetkan melalui penerbitan koran.

Kecelakaannya tanggal 17 di Krapyak. Meninggalnya tanggal 26 di rumah sakit. Ninggal suami baru hamil empat bulan.” Demikian Sugimah menuliskan laporan mengenai tetangganya yang meninggal dunia karena kecelakaan kerja.

”Lho, yang hamil itu istri, Bu. Bukan suami…,” kata Tirta Nursari, pemimpin redaksi koran Pasinaon, mengoreksi tulisan Sugimah.

Sugimah pun tertawa. ”O, iya, lupa,” ujarnya. Begitulah suasana di Taman Belajar Masyarakat (TBM) Warung Pasinaon di Kelurahan Talun, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Kamis (1/3).

Sugimah adalah salah satu penulis di koran Pasinaon. Koran yang dikelola ibu-ibu di Kelurahan Talun ini terbit sekali sebulan. Isinya beragam informasi yang terjadi di lingkungan sekitar mereka, mulai dari kenaikan harga bahan pokok, mahalnya biaya pendidikan, hingga kecelakaan kerja yang menimpa tetangga. Tidak ketinggalan resep masakan, ramuan jamu tradisional, perihal kesehatan, dan pengalaman pribadi, seperti bagaimana seorang ibu menabung Rp 2.000 per hari agar bisa membuka usaha kelak.

Nama Pasinaon berasal dari bahasa Jawa yang berarti ’pembelajaran’. Sesuai dengan namanya, koran itu menjadi media pembelajaran bagi kaum ibu yang baru saja melek huruf.

Tidak heran, kata dan kalimat yang mereka rangkai kerap tidak akurat. Ibu-ibu yang menjadi penulis di koran tersebut sebetulnya tidak semuanya buta huruf. Sugimah dulu sempat mengenyam bangku SD, tetapi hanya sampai kelas III. Kemampuan menulis dan membacanya belum lancar. Ia berupaya belajar membaca dan menulis di sela-sela mengasuh cucu dan berjualan gorengan.

Penulis lain, Rohmiyati, bahkan sampai membawa buku ke sawah. Ibu dari lima anak itu hampir setiap hari bekerja di sawah untuk mengurus tanaman padi. Suaminya sudah meninggal beberapa tahun lalu. Agar kemampuan membaca terasah, setiap waktu mengaso, ia membolak-balik lembaran buku.

”Saya harus bisa membaca supaya bisa tahu banyak, tidak tersesat di jalan, dan tidak mudah ditipu. Saya senang sekarang sudah bisa baca surat ulem (undangan),” tuturnya bersemangat.

Rohmiyati sempat duduk di bangku SD, tetapi tidak sampai tiga bulan karena tidak diperbolehkan orangtuanya. Kala itu, orangtuanya beranggapan anak perempuan cukup memasak di dapur dan momong (mengasuh anak) saja.

Kini, Rohmiyati, Sugimah, dan ibu-ibu sekampung yang bernasib serupa mulai keluar dari cengkeraman masa lalu. Mereka menyadari pentingnya membaca dan menulis. Melalui koran Pasinaon, ibu-ibu itu tak hanya mudah mengakses informasi dari buku, koran, atau majalah, tetapi juga bisa berbagi informasi.

Sugimah dan Rohmiyati sempat mengikuti program pemberantasan buta huruf, salah satu program pemerintah tahun 1980-an. Namun, kemampuan membaca dan menulis mereka tidak berubah karena tidak pernah digunakan. Tahun 2008, setelah keduanya mengikuti program Keaksaraan Fungsional dari Kementerian Pendidikan Nasional (kini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan), kecakapan mereka jadi terasah.

Tirta Nursari, Koordinator TBM Warung Pasinaon, melihat kemampuan membaca dan menulis akan hilang jika tidak terus dibiasakan. Maka, ia pun membuat sebuah media informasi yang bisa mengakomodasi kebutuhan ibu-ibu tersebut. Kebetulan saat itu ada program Koran Ibu dari Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mereka mendapat bantuan untuk menerbitkan koran dua kali pada awal tahun 2010 sebanyak 1.000 eksemplar per edisi.

Setelah itu, Tirta bertekad melanjutkan penerbitan koran setebal 20 halaman itu. Memang tidak bisa terbit rutin setiap bulan. Kadang dua bulan sekali. Namun, hingga kini, Pasinaon terbukti tetap eksis.

”Banyak pihak yang membantu. Tahun 2012 ini sebuah perusahaan sanggup membiayai penerbitannya,” ujar Tirta.

Ibu-ibu itu melakukan pertemuan rutin seminggu sekali untuk mengikuti pengajian atau berbagi keterampilan. Mereka juga merancang isi koran yang akan terbit berikutnya.

Para wartawan ibu yang jumlahnya tujuh orang mengumpulkan tulisan tangan mereka di satu kotak. Kemudian, editor akan memilih naskah mana yang bakal dimuat. Beberapa tulisan dipindai dan dimuat apa adanya. Beberapa lainnya disadur dan diketik ulang.

Sugimah kini menyadari bahwa bergosip dengan tetangga atau siapa saja tidak produktif. Ia juga menjadi semakin percaya diri untuk menjawab kalau cucu atau cicitnya bertanya sesuatu.

Ibu-ibu mulai berpikir rasional terhadap mitos-mitos tidak berdasar yang selama ini dipercaya. Mereka jadi paham bahwa untuk mengatasi sakit flu tidak harus dengan kerokan, air susu ibu ternyata dapat disimpan, dan rematik bukan disebabkan kebiasaan mandi pada malam hari.

Penerbitan koran itu seperti menjawab paparan dari Bupati Semarang Mundjirin ES bahwa angka melek huruf di daerahnya untuk usia 15-24 tahun mencapai 99,68 persen. Namun, pada usia lanjut, angka melek huruf lebih tinggi.

Koran Pasinaon merupakan salah satu upaya mengasah keaksaraan sekaligus mencegah potensi buta huruf kembali….

Sumber: Kompas, 7 Maret 2012, “Membuat Koran, Merawat Kemampuan Baca Tulis”

Blogger Buku Indonesia

Nama “Blogger Buku Indonesia” (BBI) mungkin belum terlalu bergema di Indonesia. Komunitas di dunia yang didirikan pada 13 April 2011 ini memang tergolong masih sangat baru. Komunitas seperti apakah ini dan apa saja yang dilakukan oleh komunitas ini?

BBI adalah sebuah komunitas di dunia maya yang beranggotakan blogger-blogger Indonesia yang suka membaca dan mereview buku yang sudah mereka baca. Komunitas ini awalnya terbentuk dari para blogger yang senang menulis dan membaca. Mereka itu adalah orang-orang yang menyadari bahwa di tengah era teknologi yang semakin berkembang saat ini, blog telah menjadi media yang efektif untuk menyebarkan informasi. Sehingga, mereka menjadikan blog sebagai sarana untuk menuangkan pikiran mereka, khususnya tentang buku yang baru mereka baca. Pendapat tentang suatu buku, suka atau tidaknya mereka terhadap satu judul buku, ulasan mereka tentang buku, dll, semuanya disampaikan melalui blog mereka.  Melalui blog, seluruh pecinta buku yang tersebar di seluruh Indonesia bisa berpartisipasi dan berbagi hal yang mereka sukai.

Masih rendahnya minat baca orang Indonesia merupakan krpihatinan bersama yang menjadi salah satu latar belakang terbentuknya komunitas ini. Karenanya, blogger di komunitas ini memiliki komitmen untuk menyebarkan asyiknya membaca buku kepada masyarakat Indonesia melalui media blog. Bagi mereka, dengan membuat review dari sebuah buku, itu berarti telah ikut menyebarkan ilmu pengetahuan yang terdapat dalam buku itu sekaligus memancing minat baca masyarakat kita. Sebab, orang lain yang belum mengetahui informasi tentang sebuah buku dapat mengetahui informasi tersebut secara cepat melalui review yang ditulis oleh anggota BBI, yang disebut dengan blogger buku. Sehingga, perlahan namun pasti, mereka berupaya menarik orang lain untuk membaca sekaligus menumbuhkan minat baca mereka.

Tulisan yang ditampilkan oleh para blogger ini tak hanya berupa resensi buku saja, tetapi juga informasi-informasi lainnya, seperti informasi mengenai pengarang, latar belakang dari buku yang mereka baca, dll. Tak hanya itu, komunitas ini juga kerap kali mengadakan kontes-kontes menarik, dengan buku sebagai hadiahnya.

Untuk keanggotaan, semua orang Indonesia yang memiliki blog dan memiliki kecintaan terhadap buku dan dunia tulis menulis dapat mengikuti komunitas ini. Untuk informasi seputar keanggotaannya, Anda dapat mengunjungi fan page Komunitas BBI di Facebook. [Tika/Mizan.com]

Sasana Pustaka (Surakarta)

Pada 21 Januari 1920, di Surakarta, Sunan Pakubowono X meresmikan berdirinya Perpustakaan Istana bernama Sasana Pustaka. Arti penting perpustakaan ini memberitahu puncak-puncak kemasyhuran sastra Jawa. Awalnya hanya bisa diakses kalangan internal keraton, tapi sejak 1960-an bisa diakses oleh publik. Perpustakaan ini menyimpan puluhan babad tentang Dinasti Mataram, 350 kitab carikan, tiga ribu buku cetak beraksara Jawa, lima ribu buku cetak berbahasa Belanda.

<< DENGARKAN KRONIK AUDIO SASANA PUSTAKA DI SINI >>

Senjakala Lembaga Arsip KITLV

Tahun 2011 adalah tahun ketika dunia arsip berwibawa terancam. Di bulan-bulan awal tahun ini, PDS HB Jassin menyita perhatian dunia kebudayaan tatkala diinformasikan nyaris bubar lantaran dana operasionalnya dibabat pemerintah Jakarta dari 500 juta per tahun menjadi 50 juta per tahun.

Koninklijk Instituut voor Taal, Land, en Volkenkunde (KITLV) juga bernasib sama. Perpustakaan dengan koleksi raksasa itu terancam gulung tikar. Mula-mula anggaran dipotong Kementerian pendidikan Belanda yang membikin masygul para pengelolanya. Bagaimana nasib lembaga arsip tua ini? “Jika begini terus, kami akan membuang koleksi yang sama dengan perpustakaan lain,” ujar salah satu peneliti KITLV. Ribuan peneliti telah merasai suasana perpustakaan ini. Termasuk Pramoedya Ananta Toer.

Download kisahnya DI SINI

Berita Bibliografi IDAYU (1979)

Majalah perbukuan ini terbit di pembuka tahun 1979. Untuk masanya, majalah perbukuan ini sungguh tebal: 100 halaman. Dibagi dalam dua bagian besar: “Berita” dan “Bibliografi”. Untuk “Berita” mencakup resensi buku, artikel, maupun rangkuman hasil diskusi atau seminar. Sementara bagian “Bibliografi” berisi katalog daftar buku-buku kiriman penerbit ke Perpustakaan Idayu dengan beragam tema.

Untuk melihat dua contoh bagian itu, silakan mengunduh versi e-booknya berikut ini:

1979 03 Idayu Maret (Berita)

1979 04 Idayu April (Bibliografi)

Salam!

Perpustakaan Alternatif Yogyakarta

Data perpustakaan ini bertanda 2005. Beberapa ruang yang terdata di sini banyak yang pindah dan tak sedikit yang bubar jalan. Sebagai sebuah data sejarah, penting untuk melihat kembali peristiwa 6 tahun silam ketika perpustakaan-perpustakaan alternatif bertumbuhan di Yogyakarta.

Silakan diunggah edisi e-booknya di sini: Direktori Perpustakaan Alternatif Yogyakarta Tahun 2005.

Salam!

Komunitas Aksara (PKBM)

Pengembangan keaksaraan dari kota hingga ke desa di seluruh Nusantara terus dikembangkan pemerintah via Direktorat Pembinaan Pendidikan Masyarakat, Ditjen PAUDNI Kemdiknas.
Majalah “aksara” edisi No 28/Tahun VI/Januari-Februari 2011 ini merangkum sejumlah komunitas keberaksaraan dari pelbagai kawasan di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan sebagainya. Berikut daftarnya:

  1. PKBM Serbaguna (Desa Sarojo, Cimpago, Gaguak Bulek, Bukittinggi, Sumatera Barat) – 10
  2. TK Sei Rengas, Medan – 12
  3. PKBM Lestari (Sodong, Sukamukti, Maniis, Purwakarta, Jawa Barat) – 14
  4. Wirausaha Keaksaraan An-Nisa Karya (Sukarara, Nusa Tenggara Barat) – 16
  5. Rumah Pintar Cakra Cendekia (Kompleks Batalyon Kesehatan Divisi 2 Kostrad, Ngijo, Karangploso, Malang, Jawa Timur) – 18
  6. Rumah Pintar Brawijaya (Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur) – 20
  7. PKBM Putri Karang Melenu (Loh Sumber, Loa Kulu, Kutai Kartanegara) – 28
  8. PKBM Bina Insani (Pemurus Baru, Banjarmasin Baru, Banjarmasin, Kalimantan Selatan) – 30
  9. PKBM Mutiara Timur (Pontianak, Kalimantan Barat) – 32
  10. PKBM Karang Putih (Ngalau, Batu Gadang, Lubuk Kilangan, Padang, Sumatera Barat) – 34

Silakan unduh versi e-booknya dengan mengklik: AKSARA No 28 (VI)

Kafe Perpustakaan

Kineruku-Teman-teman-Menghias-Rumah-Buku1Buku adalah jendela dunia. Begitulah biasanya orang mengdeskripsikan buku, dari sebuah buku kita dapat mengenal dan mengetahui berbagai macam hal. Namun, tak jarang orang menganggap membaca buku adalah hal yang membosankan.

Ada sebuah tempat di Bandung yang dapat membuat kita menarik kembali anggapan tersebut. Kineruku adalah sebuah perpustakaan yang menawarkan konsep berbeda. Kafe-perpustakaan yang terletak di Jalan Hegarmanah No. 52 Bandung  itu hadir dengan konsep library-cafe classic.  Tempat ini didesain sedemikian rupa hingga kita akan bisa merasakan seperti berada di rumah sendiri. Tak heran, setelah masuk ke dalamnya, kita bisa betah tinggal sampai menghabiskan waktu berjam-jam.

Buku yang ditawarkan juga cukup bervariatif, mulai dari buku fiksi, perfilman, arsitektur, seni sampai buku-buku komunikasi pun ada. Itu sebabnya, Kineruku menjadi salah satu tempat nongkrong anak-anak seni dan arsitektur ITB. Buku ditempat ini berbeda dengan di tempat lain, karena banyak buku yang tidak dapat kita temukan di library cafe lain. Kineruku sengaja mengimpor buku-buku langka dari negaranya langsung.

Tak hanya buku yang tempat ini tawarkan, ada home theater yang cozy banget di tempat ini. Namun, film yang disajikan adalah film-film lama atau klasik, sesuai dengan konsep yang diusung Kineruku. Sambil nonton film kita juga bisa memesan popcorn dengan berbagai ukuran dan berbagai rasa. Pokoknya, sensasi yang didapat ketika masuk ke ruangan film yang  tidak terlalu besar itu akan membuat kita berkata feels like home. Tempat ini juga biasa digunakan untuk pemutaran film-film indie.

Buku dan film memang kurang lengkap tanpa adanya musik, maka disini juga terdapat ruangan yang dipenuhi dengan CD-CD musik. Sejumlah CD itu bisa kita pinjam dari sana. Karena konsepnya yang klasik, musik yang ditawarkan juga kebanyakan musik klasik, meski sejumlah aliran lain pun ada. Tak hanya itu, kadang tempat ini juga digunakan sebagai tempat launching album band-band indie.

Tak lengkap rasanya membaca buku tanpa ditemani cemilan, Kineruku menyediakan makanan yang harganya “mahasiswa banget”, dengan harga minuman dimulai dengan Rp 2.500 dan harga makanan dimulai dengan harga Rp 6.000. Pokoknya, kita bisa pintar dan gaul dengan harga yang hemat. (CJ-Kirizki Setiana)

*) reportase.com, 11 Agustus 2011

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan