-->

Arsip Ruang Toggle

Perpustakaan Keliling Mahanani

Disebuah gang kecil di permukiman warga di Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri, Jawa Timur, beberapa anak usia sekolah dan ibu-ibu terlihat mengerubuti sebuah becak yang penuh dengan muatan berbagai macam buku bacaan.

Ada yang sibuk membolak-balik buku, adapula yang sekadar menonton. “Ya, bapak-bapak, ibu-ibu, adik-adik, embak-embak, ayo, siapa yang mau baca atau pinjam buku, silakan datang. Gratis!” teriak seorang pemuda melalui pengeras suara yang ditentengnya, seperti dilansir Senin(12/3/2012).

Pemuda itu adalah Naim. Sejak setahun yang lalu, hampir setiap akhir pekan, warga Jalan Supit Urang Nomor 13, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri, ini menggunakan moda transportasi becak untuk mempermudah keluar masuk gang demi meminjamkan buku.

Dengan kendaraan roda tiganya itu, ia membentuk beberapa titik atau tempat mangkal becaknya untuk melayani masyarakat. Tidak ketinggalan pula pengeras suara untuk melengkapinya.

Jika suara Naim terdengar, masyarakat hafal betul bahwa sudah tiba saatnya meminjam atau mengembalikan buku. Buku yang disiapkan beraneka ragam, mulai dari buku ajar, pengetahuan umum, hingga fiksi.

Masing-masing buku dapat dipinjam selama seminggu. Sementara peminjamnya juga lumayan banyak, tercatat ada tiga ratus anggota mulai anak-anak, remaja, hingga ibu-ibu.

“Awalnya anak saya yang sering pinjam buku pelajaran atau buku cerpen. Lalu saya ikutan pinjam, seperti buku ini. Lumayanlah untuk menambah wawasan,” kata ibu Tamsil, salah satu peminjam buku sambil mengangkat sebuah buku resep masakan.

Untuk membantu rutinitasnya itu, Naim ditemani oleh seorang rekan yang biasanya berasal dari kalangan mahasiswa yang menjadi sukarelawan. Partnernya itu bertugas membukukan sirkulasi peminjaman.

Meski demikian, penggunaan becaknya itu bukanlah program utamanya. Upayanya meminjamkan buku dengan sistem jemput bola itu merupakan satu dari beberapa program taman baca yang ia kelola bersama keluarga di rumahnya.

Taman baca yang ia beri nama Mahanani itu juga cukup sederhana. Bangunannya berukuran sekitar 6 x 10 meter yang didominasi kayu dan dindingnya pun hanya anyaman bambu. Maklum saja, bangunan itu dulunya bekas kandang sapi.

Meskipun demikian, koleksi bukunya mencapai dua ribu buah yang tertata rapi pada dua rak bertingkat empat. Asal-usul buku itu selain milik pribadi, banyak juga hasil sumbangan dari masyarakat yang simpatik.

Naim menuturkan, apa yang dilakukannya sekadar untuk mengajak masyarakat agar terus belajar, salah satunya melalui media buku itu. Ketulusannya itu didasari atas keinginannya untuk dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Tentunya kita semua ingin bermanfaat bagi lingkungan sekitar kita,” ujar pemuda yang sempat mengenyam pendidikan tingkat sekolah menengah atas ini.

Sementara buku menjadi mediumnya dalam mengabdi kepada masyarakat karena ia merasakan pentingnya buku dalam menunjang pembelajaran. “Pada intinya belajar itu dapat dilakukan dengan apa saja, salah satunya dengan buku ini,” imbuhnya.

Untuk operasionalnya, tidak ada sumber pendanaan yang tetap. Ia hanya pekerja paruh waktu di bidang media promo. Namun, hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk tetap berkarya. “Saya sendiri heran kenapa bisa terus bertahan,” ujarnya. (jek/kcm)

*)Disarikan dari Detik.com

Project Sophia

“”Membaca buku membuat hati saya sangat senang. Dengan membaca, saya bisa melihat dunia yang luas meskipun saya hanya tinggal di desa”

Ini cerita kami; Mimpi Kami
*  *  *

Rasa senang dari hati, mahal harganya bagi anak-anak yang mengalami masa-masa konflik dan pasca konflik. Kehidupan masa kecil mereka dirampas oleh pengalaman buruk yang traumatis; penembakan, pembunuhan, pembakaran, penyiksaan, berlarian mengungsi berhari-hari hingga bulan di tengah hutan. Tidak ada waktu bermain, apalagi bercanda, selain teror.

Pasca konflik, dunia yang mereka tinggali adalah dunia mayoritas yang dilindungi dalam benteng identitas suku atau agama. Rasa curiga, dendam juga kebencian terhadap dunia di luar komunitasnya bukan saja menimbulkan perasaan asing, tapi juga dimusuhi bahkan jika perlu diperangi. Perbedaan adalah sesuatu yang asing. Di usia belia, dunia mereka dibatasi, tidak ada ruang.

Buku, yang menjembatani perasaan mereka. Memungkinkan mereka memiliki mimpi-mimpi. Dengar saja kata Andi,12 tahun “Saya mau jadi seperti Arai, seperti di buku Laskar Pelangi. Dia bisa pintar, biar miskin, biar di desa, meskipun orangtuanya sudah tidak ada”  atau kata Murni, 17 tahun “saya mau jadi penulis komik. Kalau menggambar saya bisa bercerita perasaan saya”. Dari bermimpi, mereka memotivasi diri mengejar cita-cita untuk kehidupan yang lebih baik.

Buku, membuat mereka melewati batas dunia kotak identitas mereka, membawa berpetualang di dunia luas. Menyadarkan mereka tentang beragam hal yang indah di dunia meskipun berbeda.

Ide tentang Perpustakaan Keliling, juga berasal dari cerita anak-anak di sekitar wilayah pemukiman pengungsi. Agar “hati sangat senang” dan “melihat dunia yang luas” belasan anak-anak menempuh perjalanan yang jaraknya 2-3 kilometer untuk menjangkau Perpustakaan Sophia. 20 buku di perpustakaan, dibaca secara bergiliran, dan berulang-ulang oleh ratusan anak-anak.Semangat anak-anak ini dibatasi dengan ketiadaan akses terhadap buku-buku. Oleh karena itu, tidak terkira perasaan “hati sangat senang” yang dimiliki anak-anak, ketika beberapa pihak yang diorganisir oleh Indonesian Community in Japang (ICJ) memberikan donasi ratusan buku-buku dalam Project Sophia.
Untuk itu, Project Sophia mengambil bentuk Perpustakaan Keliling. Agar semakin banyak anak-anak bisa memiliki “hati sangat senang” dan “melihat dunia yang luas”. Bermimpi, bekerja mewujudkan mimpi, untuk kehidupan pasca konflik yang indah dan damai.

Bagaimana Cara Kerja Project Sophia?
Project Sophia, perpustakaan keliling Sophia adalah perpustakaan yang menggunakan mobil, bergerak berkeliling dari satu desa ke desa lain. Mobil Perpustakaan yang disebut juga “Kotak Ajaib” akan berisi : buku-buku cerita anak-anak dan remaja, buku pelajaran, buku gambar, alat tulis menulis, puzzle, kertas origami, film anak-anak Indonesia, dan lagu anak-anak

Di setiap satu desa yang akan dikunjungi, Kotak Ajaib Sophia akan berkeliling desa mengumumkan keberadaannya, sekaligus mengundang anak-anak dan orang tua. Kotak Ajaib akan ditempatkan di balai desa/lapangan desa atau tempat strategis lainnya yang dapat dijangkau oleh anak-anak. Setiap orang, terutama anak-anak dapat mengakses buku-buku, permainan yang ada di Kotak Ajaib. Aktivitas ini didampingi oleh orangtua, pendamping Project Sophia.

Pada akhir hari, Kotak Ajaib akan memutarkan film anak-anak yang dapat ditonton juga oleh masyarakat umum Dengan demikian, disetiap tempat dimana Project SOPHIA dikembangkan, dapat berperan untuk:

1.     Menumbuhkan minat baca bagi anak-anak

2.     Memberikan ruang terbuka, akses yang besar  dan dukungan yang luas bagi anak-anak untuk membaca di beberapa desa.

3.     Menjembatani ruang pertemuan antar anak dari berbagai identitas untuk saling berbagi, mendukung dan berdialog yang berdampak pada pembangunan karakter generasi muda pasca konflik yang damai.

4.     Membuka ruang komunikasi yang intensif dan massif lintas generasi dari berbagai identitas suku dan agama; memungkinkan terjadinya dialog yang berdampak pada upaya bersama membangun perdamaian.

Dalam hal inilah mimpi Project Sophia; Books Without Borders, terwujud!

Donasi Project Sophia
Untuk memungkinkan mimpi Project Sophia terlaksana dan dikembangkan, kami membutuhkan bantuan anda. Bantuan dapat berupa sumbangan buku-buku cerita anak-anak (baru dan bekas), buku pelajaran; alat tulis menulis; permainan dan uang tunai. Sumbangan buku,alat tulis dengan label “Project Sophia”dapat di kirimkan ke:  Perpustakaan SOPHIA, Institut MOSINTUWU  Jl. Watumpoga’a No. 13 Pamona, Pamona Puselembah, Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, Indonesia. 94663

Untuk wilayah Jakarta dan sekitarnya, dapat juga mengirimkan ke :
Reslian Pardede
Yayasan Inovasi Pemerintahan Daerah (YIPD)
Jl. Tebet Barat Dalam III A no.2
Jakarta Selatan
Telp:  021-8379-4518/8379-4469
(In front of SMA26)  Sumbangan dana dapat melalui link donation for Project Sophia (lihat link sebelah kanan) atau dapat dikirimkan melalui Rekening Institut Mosintuwu:

Bank Nasional Indonesia (BNI)
Atas Nama: Institut Mosintuwu Nomor Rekening : 0206443950
MARI BERGABUNG DENGAN KAMI
UNTUK MASA DEPAN GENERASI PASCA KONFLIK

ONE BOOK AT A TIME!

*)Disalin dari blog sophialibrary, 23 Juli 2012

Penerbit Percetakan Kanisius

6 Januari 1922, sebuah percetakan bernama Canisius Drukkerij didirikan di Yogyakarta sebagai sebuah karya misi. Percetakan ini membantu menyediakan buku-buku pelajaran bagi sekolah kaum pribumi serta buku-buku doa bagi Gereja Katolik di Indonesia. (lebih…)

Komunitas akumassa

akumassa adalah program dokumentasi warga yang digagas Forum Lenteng. Forum Lenteng adalah organisasi yang berbentuk perhimpunan dengan anggota individu yang didirikan oleh pekerja seni, peneliti budaya, mahasiswa komunikasi/jurnalistik pada tahun 2003. Forum ini bekerja mengembangkan pengetahuan media melalui pendidikan alternatif berbasis komunitas. Forum ini bertujuan menjadikan pengetahuan media bagi masyarakat untuk hidup yang lebih baik, terbangunnya kesadaran bermedia, munculnya inisiatif, produksi pengetahuan, dan terdistribusikannya pengetahuan tersebut secara luas.

Ada beberapa program di Forum Lenteng, salah satunya adalah Program Pendidikan dan Pemberdayaan Komunitas Melalui Media, akumassa. Program ini merupakan kerja kolaborasi dan berjejaring dengan berbagai komunitas di daerah dengan melakukan pelatihan penggunaan media (video, teks, fotografi dan media online) sejak 2008. Hingga saat ini, Program akumassa telah dilaksanakan di 10 lokasi, yaitu; Rangkasbitung, Lebak—Banten, Ciputat—Tangerang Selatan—Banten, Cirebon—Jawa Barat, Lenteng Agung—Jakarta Selatan, Padang Panjang—Sumatera Barat, Serang—Banten, Surabaya—Jawa Timur, Randublatung, Blora—Jawa Tengah, Pemenang, Lombok Utara—Nusa Tenggara Barat dan Depok—Jawa Barat.

akumassa.org adalah jurnal online berbasis komunitas yang dikembangkan oleh Forum Lenteng sejak 2008. Berawal dari alat mekanisme pelaporan aktivitas program, jurnal ini kemudian berkembang menjadi jurnal yang secara independen dikelola oleh komunitas; www.akumassa.org.

Hingga saat ini, www.akumassa.org dikelola oleh 10 sub-redaksi yaitu; Forum Lenteng (Jakarta), Gardu Unik (Cirebon), Anak Seribupulau (Blora), Saidjahforum (Rangkasbitung), Komunitas Sebumi (Serang), Komunitas Djuanda (Tangerang Selatan), Komunitas Kinetik (Surabaya), Komunitas Pasir Putih (Lombok Utara) dan Komunitas Suburbia (Depok-Jawa Barat). Selain itu juga ada kontributor-kontributor dari berbagai daerah yang tidak menjadi bagian dari Program akumassa. Mereka berasal dari; Bandung, Bogor, Tangerang, Depok, Indramayu, Klaten, Malang, Padang, Pamulang, Purworejo, Solo, Sukabumi, dan Tasikmalaya. Seluruh kontribusi komunitas dan kontributor dilakukan secara mandiri tanpa bayaran dan dapat didistribusikan ulang secara gratis (open source).

Didasari atas gagasan tentang jurnalisme warga, masyarakat khususnya pekerja kreatif muda (usia 19-35 tahun) yang dapat memanfaatkan tekhnologi modern dan internet global sebagai media informasi alternatif dan juga untuk melengkapi maupun memeriksa fakta-fakta yang diberitakan dalam media. Apa yang dikerjakan oleh Forum Lenteng selama ini, adalah sebuah usaha mengumpulkan narasi-narasi kecil tentang kota yang dituturkan ‘sendiri’ oleh masyarakatnya. Karena selama ini berita-berita yang diketahui oleh masyarakat berada pada kuasa media massa besar. Dengan gagasan tersebut, Forum Lenteng berinisiatif untuk membuat media massa alternatif  berbasis jaringan internet dalam bentuk blog yang diaplikasikan ke dalam program dan ide akumassa.

Isi dalam artikel-artikel yang terbit dalam www.akumassa.org berisi tentang kepingan-kepingan kecil akan sejarah dan peristiwa di tiap kota dampingan ataupun kota di luarnya.

Media produksi informasi dan komunikasi ini memiliki peluang yang cukup besar sebagai media yang dikelola oleh masyarakat itu sendiri untuk memberikan informasi dan pandangan yang dimilikinya atas sejarah dan peristiwa yang terjadi, baik dalam lingkup terkecil (komunitas) hingga hubungannya dengan negara.

Program Pemantauan Media oleh Komunitas

Sejak bergulirnya Reformasi 1998, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan keterbukaan informasi dan kebebasan bermedia yang paling menjanjikan. Kontrol yang ketat terhadap media massa oleh penguasa yang selama hampir 32 tahun kekuasaan Orde Baru, diruntuhkan oleh gerakan mahasiswa. Keterbukaan itu telah melahirkan ‘perayaan’ bermedia dengan bebas di Indonesia dengan diikuti oleh lahirnya media massa baru yang diprakarsai oleh para pemilik modal dan masih terpusat di kota-kota besar (Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar dan lain-lain). Sehingga arus informasi itu, tetap saja masih dikuasai oleh sebagian kecil lembaga/perusahan media dan terpusat di kota-kota besar, yang pada akhirnya memunculkan ketimpangan produksi dan arus infomasi di tingkat bawah. Untuk itulah perlu sebuah prakarsa untuk melibatkan masyarakat secara aktif dalam memproduksi informasi dan mendistribuskannya secara mandiri.

Dengan berkembangnya dan mudahnya akses teknologi informasi oleh masyarakat,  telah memberi peluang kepada kita untuk terlibat dalam aksi ‘bermedia’. Atas dasar itulah Forum Lenteng membuat Program Pemantauan Media oleh Komunitas, yang melibatkan komunitas tingkat lokal memproduksi informasi sendiri. Program ini berupa pelatihan media (audio visual, teks dan online) di komunitas lokal—dengan partisipan umur 19 tahun keatas. Produksi informasi yang berupa konten lokal itu didistribusikan secara terbuka. Melalui Program akumassa, para partisipan membangun kesadaran bersama untuk memproduksi informasi yang mereka perlukan. Komunitas-komunitas ini membentuk kerja sama bermedia antar komunitas yaitu; Jaringan Kerja akumassa. Jaringan ini bekerjasama dalam pertukaran informasi untuk peningkatan kerja mereka masing-masing.

Atas prakarsa Forum Lenteng, dibuatlah website www.akumassa.org yang menjadi mekanisme distribusi informasi tersebut. Atas dasar itu, melihat potensi Jaringan Kerja akumassa, Forum Lenteng berinisiatif melakukan program pemantauan media oleh komunitas lokal. Program ini juga menjadi program peningkatan kapasitas jurnalis komunitas dan menjadi bagian dari upaya partisipasi publik dalam memantau media di Indonesia.

Adapun isu-isu pokok yang dipilih sebagai fokus dalam kegiatan pemantauan  media oleh komunitas di tingkat lokal. Isu-isu tersebut berfungsi sebagai batasan analisa para pemantau terhadap pemberitaan yang disajikan oleh media massa lokal, di antaranya adalah, Good Governance atau Kebijakan Publik, Hak Asasi Manusia (HAM), Perempuan dan/atau Anak, Kriminalitas, Lingkungan Hidup, dan Perilaku Pelaku Media.

Good Governance atau Kebijakan Publik dapat diartikan secara sederhana adalah suatu istilah yang mewacanakan bagaimana terwujudnya satu tatanan pemerintahan yang baik, di mana negara bekerjasama dengan pemilik modal dan pemangku kepentingan lainnya (termasuk media) dan juga masyarakat untuk menciptakan kesejahteraan bagi semuanya (masyarakat). Keindependenan media berfungsi sebagai bank informasi, wadah atau kanal edukasi bagi publik dan juga sebagai kontrol sosial. Karena itu peran media menjadi isu yang cukup penting dalam menciptakan pemerintahan yang baik dan bersih.

Hak Asasi Manusia (HAM) dapat diartikan sebagai segala bentuk hak yang melekat pada manusia dan keberadaannya sebagai makhluk Tuhan yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh apa dan siapapun (termasuk negara dan peraturan hukum) demi kehormatan, harkat dan martabatnya. HAM merupakan satu hal yang tidak dapat dikurangi dalam bentuk dan keadaan apapun dan oleh siapapun. Hak-hak dasar itu meliputi hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kebebasan pribadi, pikiran dan hati nurani,hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi dan persamaan di dalam hukum, hak untuk berserikat, hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut. Atas dasar itu media memiliki peran, kewajiban dan peran untuk memantau kinerja negara (pemerintah) dalam menjalankan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak warga negara, yaitu HAM itu sendiri.

Perempuan dan/atau Anak menjadi penting dalam pemantauan terhadap media karena dua hal ini merupakan salah satu tema yang paling sering diangkat oleh media. Posisi perempuan dan anak sebagai kelompok yang dianggap rawan, memiliki potensi menjadi objek dalam pemberitaan media.

Kriminalitas atau Kejahatan di sini ialah segala bentuk perbuatan (yang diberitakan media) yang memperlihatkan relasi antar pelaku dan korban, yang memunculkan kerugian, serta merupakan tindakan pidana (melanggar ketentuan hukum dan Undang-Undang yang berlaku). Dalam kajian News-making criminology, tidak lepas dari persoalan bagaimana media membentuk realitas pemberitaan di media massa yang sering mengalami mistifikasi atau tidak proporsional dengan realitas sebenarnya. Pemberitaan yang tidak mengungkap realitas tentang seriusitas kejahatan, tipologi kejahatan yang paling banyak terjadi di masyarakat, penciptaan image yang tidak tepat tentang kejahatan dan penjahat, penggunaan terminologi yang tidak tepat, serta pemberitaan yang melanggar hukum dan etika pers.

Isu tentang Lingkungan Hidup menjadi penting, karena lingkungan erat kaitannya dengan kesejahteraan manusia. Pengertian lingkungan yang dimaksud di sini ialah kombinasi antara kondisi fisik yang mencakup keadaan sumber daya alam seperti tanah, air, energi surya, mineral serta flora dan fauna yang tumbuh di atas tanah maupun dalam lautan, dengan kelembagaan yang meliputi ciptaan manusia seperti keputusan bagaimana menggunakan lingkungan fisik tersebut. Kemudian media massa itu sendiri berkewajiban dalam menjamin adanya perhatian yang luas terhadap upaya-upaya sistematis dalam memulihkan kembali kelestarian lingkungan hidup.

Perilaku Pelaku Media merupakan isu yang bersifat kasuistik, yaitu lebih memfokuskan pada pemantauan terhadap tindak-tanduk yang dilakukan oleh pelaku media (wartawan atau jurnalis) dalam menyajikan materi kepada publik, serta tindakan mereka dalam meliput berita.

Berbagi Buku

Mulai pertengahan bulan Mei 2011, Forum Lenteng dan program akumassa mendistribusikan sejumlah buku untuk program perpustakaan komunitas. Buku-buku ini adalah bagian dari program Buku Untuk Semua yang digagas oleh Forum Lenteng atas dukungan Ford Foundation, sebagai salah satu cara mendistribusikan pengetahuan kepada masyarakat.

Untuk tahap awal, Forum Lenteng mendistribusikan 40 judul buku dengan berbagai jenis isi berupa; sejarah, teori komunikasi, filem dan video, sastra, dan pengetahuan umum. Komunitas yang menerima Buku Untuk Semua pada tahap awal ini adalah; Komunitas Sarueh–Padang Panjang Sumatera Barat, Saidjah Forum–Lebak Banten, Komunitas Djuanda–Ciputat Tangerang Selatan dan Komunitas Pasir Putih–Pemenang Lombok.

Program pengembangan Perpustakaan Komunitas ini akan diikuti pula oleh pendistribusian DVD Untuk Semua kepada jaringan Komunitas akumassa dalam waktu dekat. DVD Untuk Semua adalah program penerjmahan ke subteks Bahasa Indonesia filem-filem yang dianggap penting dalam sejarah sinema dunia. Hingga saat ini telah lebih dari 40 filem yang telah diterjemahkan Forum Lenteng ke dalam subteks Bahasa Indonesia. Filem-filem ini adalah bagian dari pembelajaran sejarah dan bahasa filem bagi komunitas untuk mengembangkan diri dalam penggunaan bahasa audio visual dalam memproduksi informasi dan karya-karya mereka.

Forum Lenteng dan akumassa berharap sumber pengetahuan ini dapat diberdayagunakan oleh kawan-kawan komunitas dan mendistribusikannya pengetahuan yang didapat kepada masyarakat.

Profil Jaringan

Sanggar Gardu Unik didirikan 29 September 2005 oleh Nico Broer di kota Cirebon. Sanggar ini memfokuskan kegiatannya pada pendidikan, terutama bidang seni rupa. Anggota sanggar ini sebagian besar merupakan pengajar di sekolah-universitas. Program pendidikan yang diberikan berupa privat —dimana siswanya datang ke sanggar dengan pengajar satu orang; regular—satu minggu sekali; dan workshop —di Februari 2008, workshop video di Komunitas Jurnalistik Rumah Pena yang diperuntukkan bagi siswa sekolah menengah umum. Sanggar Seni Rupa Gardu Unik juga melakukan program pengiriman pengajar ke sekolah-sekolah untuk memberikan pendidikan: seni musik, seni rupa, desain grafis, teater, dan seni tari. Terlibatnya Sanggar Gardu Unik dalam beberapa event, festival, workshop, nasional maupun internasional, baik dalam seni tradisi maupun seni kontemporer (video salah satunya) memungkinkan bagi institusi pendidikan ini untuk berkembang dan melahirkan kemungkinan-kemungkinan dalam sistem pendidikan alternatif.

Sanggar Gardu Unik
Permata Harjamukti blok H4 No.06
Cirebon – Jawa Barat
Telp.08179074773
www.garduunik.co.cc

————————————————————————————————————————————–

Kelompok Studi Sarueh didirikan oleh mahasiswa Sekolah Tinggi Seni Indonenesia (STSI) Padang Panjang pada 16 Oktober 2008 sebagai tempat proses kreatif dan belajar untuk dapat menjadi bagian penting dalam perkembangan dunia komunikasi (penyiaran dan filem) di Indonesia. “Sarueh” atau dalam bahasa Indonesia seruas atau satu ruas yang artinya secara filosofis merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang mengharapkan ruas yang kecil ini akan bercabang kemana-mana.

Sarueh terdiri dari 15 orang mahasiswa jurusan televisi dan film STSI Padangpanjang. Berawal dari obrolan kecil antar beberapa teman yang merasa tidak nyaman dengan proses perkuliahan dan merasa jauh panggang dari api untuk mendalami disiplin ilmu yang diminati, maka munculah keinginan untuk membuat sebuah kelompok kecil yang bertujuan untuk belajar mandiri (independen) terlepas dari tekanan dan permasalahan di kampus. Sarueh mempunyai moto “Ciek ndak ka jalan, basamo nan ka jadi” (Satu orang saja tidak akan berjalan, bersamalah akan menjadi).

Kelompok Studi Sarueh saat ini beraktifitas di rumah kos di Kampung Dobi Padang Panjang. Para penggiat kelompok studi ini antara lain; Linda (ketua), Ari (wakil), Ipunk (sekretaris), Sherin (bendahara), Fandi (humas), Angga, Via, Ulil, Rudi, Capaik, dan Roni.

Kelompok Studi Sarueh
Jalan Bahder Johan No. 30
Kecamatan Guguk Malintang
Padang Panjang – Sumatera Barat 27128
www.sarueh.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

SaidjahForum berdiri pada 3 Februari 2005 di Serang, dibentuk oleh beberapa mahasiswa komunikasi, kampus Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA) Serang. Sejak itu forum ini mengalami perjalanan dalam pengorganisasian, kemudian Juli 2007, Fuad Fauji dan Helmi Darwan sebagai ketua pengurus forum ini memutuskan untuk pindah menuju Rangkasbitung, maka sejak 2007 Saidjah Forum berdomisili dan fokus pada permasalahan sosial budaya di wilayah Lebak, tepatnya kota Rangkasbitung.

SaidjahForum
www.forumsaidjah.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

KOMKA pada awalnya adalah sebuah kelompok diskusi bagi mahasiswa KPI dalam mengaktualisasikan dan merambah wacana disiplin keilmuan komunikasi yang dirasa sangat sedikit didapat di bangku kuliah ketika itu. KOMKA didirikan pada tanggal 5 mei 2004 oleh mahasiswa KPI (Komunikasi Penyiaran Islam) FDK (Fakultas Dakwah dan komunikasi) angkatan 2003 yang ketika itu sedang menempuh studi di semester II. Seiring berjalannya waktu, geliat KOMKA makin produktif dalam mengasah kepekaan mahasiswa sehingga pada tanggal 28 Mei 2005, KOMKA berubah nama menjadi “Komunitas Mahasiswa Kreatif Audio Visual”. Sebelumnya akronim KOMKA adalah “Komunitas Mahasiswa Komunikasi”, namun kecenderungan anggotanya untuk berkreatifitas dan berminat di bidang audio visual. Pada saat ini konsentrasi KOMKA di bidang sinematografi, video dan dunia perfilman secara luas, artinya KOMKA salah satu komunitas yang bergerak di bidang tersebut.

KOMKA
www.komkauin.blogspot.com

————————————————————————————————————————————–

Anakseribupulau adalah komunitas terbuka di Randublatung, Blora. Sebuah komunitas mandiri yang dibentuk oleh empat orang yaitu Exi, Djuadi, Hasan dan Agung pada 1999. Mempunyai anggota dengan latar belakang heterogen mulai dari mahasiswa, seniman dan pecinta alam (MAPALA). Aktifitas kelompok ini banyak dipengaruhi oleh kebudayaan punk (khususnya musik), dan aktif dalam memberikan workshop daur ulang sampah (recycle), cukil kayu dan beragai macam kegiatan kesenian lain, baik untuk sekolah atapunu komunitas lain. Selain itu komunitas anakseribupulau juga aktif dalam pembuatan zine-zine lokal yang membahas isu lokal.

Anakseribupulau
Jalan Onggososro no. 20 RT. 05/RW.02
Desa Randu, Kecamatan Randublatung
Blora – Jawa Tengah
Telp. (02596) 810532, 081225163277
www.anakseribupulau.info

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Djuanda adalah kelompok studi berwawasan komunitas, egaliter dan kritis. Bertujuan membangun kebudayan visual berbasis media melalui diskusi, penelitian, produksi dan diseminasi. Didirikan oleh mahasiswa komunikasi/jurnalistik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 17 Oktober 2009. Komunitas Djuanda berperan aktif menggagas pengembangan media alternatif kepada khalayak dan meningkatkan kepedulian anggotanya terhadap permasalahan sosial dan budaya.

Komunitas Djuanda
Jl. Mandor Baret Komplek Kontrakan H. Yusuf No. 1 RT.01/07
Kel. Pisangan, Kec. Ciputat Timur – Tangerang Selatan 15419
Telp. (021) 742 9551
www.komunitasdjuanda.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Pasir Putih memang sengaja dibentuk akhir 2009 di Pemenang, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat untuk mendukung kerjasama dengan akumassa Forum Lenteng. Komunitas ini terdiri dari beberapa komunitas yang berdiri sebelumnya, diantaranya: Teater Nol (North Of Lombok) dan Teater Satu, dua komunitas teater ini cukup aktif melakukan pementasan publik, selain itu ada pula Komunitas Akarpohon, Mataram yang bergelut di bidang sastra, Komunitas Barackshieva yang aktif di bidang sosial dan lingkungan hidup dan Komunitas Remaja Masjid Ass-Shirathal Mustaqim, Pemenang aktif di bidang sosial keagamaan.

Komunitas Pasir Putih
Jl. Raya Pemenang Karang Subagan, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang,
Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat 83352.
Telp. 081917214351 / 087865137379

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Sebumi terdiri dari para mahasiswa UNTIRTA, STIKOM Wangsa Jaya Banten dan IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Komunitas ini sengaja dibentuk untuk mendukung program akumassa di Serang dan berdiri pada 1 Juli 2010. Seperti namanya ‘Sebumi’, para anggotanya menjunjung tinggi rasa kebersamaan dan memiliki harapan besar untuk dapat menjadi media center yang baik bagi Serang dan sekitarnya.

Komunitas Sebumi
Kantor Rekonvasi Bhumi Lt. 2 Jalan Joenoes Soemantri No. 4/20, RT 01/01
Kelurahan Tembong, Kecamatan Cipocok Jaya
Serang – Banten

————————————————————————————————————————————–

Komunitas Kinetik berdiri pada 1 Mei 2010. Anggotanya terdiri dari para mahasiswa Universitas pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jawa Timur. Di umurnya yang masih sangat dini, komunitas ini memiliki harapan besar untuk dapat menjadi wadah para seniman dan pemuda kreatif Surabaya dalam berkarya. Mereka juga bertekad memperkenalkan seniman-seniman Surabaya kepada khalayak luas dan membuktikan bahwa kesenian masih hidup di Surabaya. Komunitas Kinetik merupakan kelompok belajar mengenai media, baik itu audio, visual, maupun teks. Kinetik juga berusaha menjadi media center yang merekam keadaan sosial masyarakatnya dengan segala medium.

Komunitas Kinetik
Jalan Mendoan Ayu Asri Utara X/6 M3
Surabaya – Jawa Timur
www.jurnaletik.wordpress.com

————————————————————————————————————————————–

Suburbia adalah sebuah kelompok belajar yang digagas oleh para aktivis muda yang berkecimpung dalam kegiatan jurnalisme warga, dalam rangka meneliti dan membedah Kota Depok, Jawa Barat. Kelompok belajar ini terdiri dari para partisipan yang ikut aktif terlibat dalam kegiatan program akumassa, sebuah Program Pemberdayaan Masyarakat Melalui Media yang digagas oleh Forum Lenteng, untuk daerah dampingan akumassa Depok.

Berangkat dari keinginan untuk terus ‘membaca’ Kota Depok dan sekitarnya secara lebih jauh dan mendalam, para partisipan ini berinisiatif untuk membentuk sebuah kelompok egaliter nirlaba, yang bercita-cita menjadi pusat data yang merekam segala hal tentang Depok. SUBURBIA, yang memposisikan diri sebagai bagian dari warga dan massa, memiliki potensi sebagai kelompok yang dapat menggerakkan masyarakat Kota Depok melangkah ke tingkat yang lebih maju, terutama dalam bidang pengetahuan dan penggunaan media sebagai wadah penyebaran informasi di tingkat warga lokal.

Suburbia
www.halamanwarga.wordpress.com

*)Disarikan dari situs akumassa

Toko Gunung Agung

Tjio Wie Tay atau kemudian lebih dikenal dengan Masagung merupakan pendiri dari Toko Gunung Agung. (lahir di Batavia, 8 September 1927 – meninggal di Jakarta, 24 September 1990 pada umur 63 tahun) merupakan anak keempat dari lima bersaudara pasangan Tjio Koan An dan Tjoa Poppi Nio. Ayahnya seorang ahli listrik tamatan Belanda, sedangkan kakeknya seorang pedagang ternama di kawasan Pasar Baru, Bogor. (lebih…)

Perpustakaan Mitra Netra

Selasa, 10 Juli 2012, ruang perpustakaan Mitra Netra mulai berfungsi kembali. Setelah mengalami proses renovasi sejak awal April 2012 lalu, saat ini lantai dasar ruang perpustakaan dapat segera difungsikan kembali. Di dalam ruang perpustakaan yang baru ini, terdapat sudut untuk pelayanan, tempat membaca buku yang nyaman, internet cafe, serta rak-rak yang dirancang dengan sangat praktis untuk menyimpan koleksi buku audio digital dan buku Braille.

Perpustakaan Mitra Netra yang menyediakan buku, baik buku audio digital maupun buku Braille, adalah tempat yang “langka” di Indonesia. Jika untuk anak-anak kurang mampu banyak warga masyarakat mendirikan “taman bacaan” guna membantu mereka agar dapat membaca buku, maka bagi tunanetra belum banyak inisiatif yang dilakukan untuk membuat tunanetra dapat mengakses literasi.

Itu sebabnya, layanan produksi dan distribusi buku serta layanan perpustakan untuk tunanetra merupakan salah satu layanan strategis yang Mitra Netra sediakan sebagai bagian penting dari program pemberdayaan tunanetra.

Sejak berdiri 21 tahun yang lalu hingga saat ini, layanan perpustakaan Mitra Netra telah memungkinkan tunanetra menempuh pendidikan di sekolah umum hingga perguruan tinggi secara inklusif bersama siswa lain yang tidak tunanetra. Salsa, Arif Budiman, dan Esa adalah contoh konkrit sebagian dari tunanetra yang menempuh pendidikan secara inklusif tersebut.

Kisah Salsa, Arif Budiman dan Esa.

Alifia Indriani Salsabila, biasa dipanggil Salsa–siswa tunanetra kelas enam–dapat belajar bersama teman-temannya di sebuah SD Negeri di Jakarta Selatan karena Mitra Netra senantiasa menyediakan semua buku yang ia butuhkan untuk belajar di sekolah. Hampir tiap hari, Salsa ke Mitra Netra setelah pulang sekolah untuk belajar dan meminjam buku di perpustakaan. Mata pelajaran yang ia senangi adalah Matematika. Salsa ingin menjadi guru matematika.

Sedangkan Esa Ana Mirabellia, biasa dipanggil Esa, adalah gadis tunanetra asal Purwokerto, Jawa Tengah. Saat ini berkuliah di Fakultas Ilmu Pendidikan, Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Atmajaya, Jakarta. Seperti Salsa dan tunanetra muda lainnya di Jakarta, Esa juga merupakan pengunjung rutin perpustakaan Mitra Netra. Ia senang membaca karya sastra bermutu serta buku-buku motivasi.

Senin 25 Juni 2012 lalu, Arif Budiman, pemuda tunanetra asal Bogor, baru saja menyelesaikan ujian skripsi di Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Arif termasuk tunanetra yang terlambat bersekolah karena ketidakmengertian orangtuanya. Namun, itu tak membuat ia patah semangat. Layanan pendidikan yang Mitra Netra sediakan, termasuk layanan perpustakaan yang menyediakan semua buku pelajaran yang ia butuhkan, telah membantu Arif Budiman menempuh pendidikan hingga menyelesaikan pendidikan tinggi.

Perjalanan Kepemilikan Perpustakaan Mitra Netra

Setelah 8 tahun berada di kantor yang terletak di Jalan Gunung Balong II Nomor 58, Lebak Bulus III, Jakarta Selatan, ruang perpustakaan adalah tempat di lokasi kantor Mitra Netra yang kondisinya paling memprihatinkan. Ruangan berukuran 62 meter persegi itu semula adalah ruang kerja penjahit. Sebelum kantor tersebut Mitra Netra beli atas bantuan Foundation Dark & Light Blind Care (DLBC) dari Belanda, rumah berukuran kurang lebih 550 meter persegi di atas tanah seluas 950 meter persegi ini adalah milik seorang penjahit.

Memiliki ruang perpustakaan yang lebih memadai adalah impian Mitra Netra. Di sana, tunanetra dapat melakukan kegiatan yang mengasah kapasitas berpikir: membaca buku, belajar, mencari informasi di internet serta berdiskusi.

Rencana Pembangunan

Rencana untuk merenovasi ruang perpustakaan ini telah dimulai sejak pertengahan 2010. Setelah membuat desain awal berikut perkiraan dana yang dibutuhkan–renovasi ini membutuhkan dana sebesar Rp450 juta–upaya penghimpunan dana pun segera dilakukan pada 10 November 2010. Kegiatan penghimpunan dana ini dinamai “Mitra Bercahaya”. Melalui dukungan para “mitra” atau sahabat, Mitra Netra akan terus menebarkan cahaya bagi tunanetra di Indonesia melalui buku.

Penghimpunan dana dilakukan dalam dua cara. Cara pertama, menawarkan paket donasi. Penawaran ini terutama ditujukan kepada donatur individu guna memudahkan mereka memberikan kontribusi. Sedangkan cara kedua adalah menyampaikan proposal permohonan bantuan dana ke lembaga, baik lembaga pemberi dana (donor agent) maupun perusahaan.

Hingga akhir Maret 2012, upaya penghimpunan dana ini telah berhasil mengumpulkan uang hampir mencapai Rp150 juta. Ini berarti, baru sepertiga dari dana yang dibutuhkan telah terhimpun. Namun, mengingat kondisi perpustakaan yang telah kritis, renovasi telah dimulai secara bertahap sejak 2 April 2012.  Adapun hasil penghimpunan dana hingga 30 Juni 2012 adalah Rp255 juta.

Dari dana yang telah terhimpun di atas, telah dimanfaatkan untuk persiapan dan proses renovasi perpustakaan berikut fasilitas pendukung lainnya sebesar Rp222 juta. Mitra Netra menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah berpartisipasi mewujudkan impian tersedianya perpustakaan untuk tunanetra yang lebih memadai di Jakarta dan melayani perpustakaan untuk tunanetra di kota-kota lain di seluruh Indonesia.

Saat ini upaya penghimpunan dana masih terus dilaksanakan karena Mitra Netra masih harus membangun lantai dua di atas ruang perpustakaan yang baru tersebut. Lantai dua ini akan dimanfaatkan untuk ruang produksi buku audio, yang meliputi studio rekaman untuk membaca, ruang editing, ruang duplikasi dan labeling serta ruang pengepakan dan pengiriman.

Di samping itu, ruang produksi buku Braille juga akan ditempatkan di lantai dua tersebut. Hal ini perlu dilakukan mengingat ruang yang ada saat ini tidak lagi memadai untuk menjalankan fungsi produksi buku audio digital dan buku Braille.

Setelah 21 tahun Mitra Netra mengabdi, lembaga ini terus menjalankan dan mengembangkan fungsi sebagai penyedia dan pengembang layanan bagi tunanetra guna mewujudkan kehidupan tunanetra yang cerdas, mandiri, dan bermakna dalam masyarakat inklusif.

Layanan produksi dan distribusi buku untuk tunanetra Mitra Netra saat ini telah menjangkau 43 kota di 14 provinsi di Indonesia dan melayani lebih dari 2.000 tunanetra. Sedang kapasitas produksinya adalah 300 judul buku audio dan 150 judul buku Braille tiap tahun. Hingga 30 Juni 2012, jumlah koleksi buku audio secara keseluruhan adalah 1.749 judul, sedangkan buku Braille adalah 1.538 judul. Jumlah ini akan terus bertambah dan harus terus bertambah karena Mitra Netra memimpikan setiap tunanetra di negeri ini dapat dengan mudah memperoleh dan membaca buku.

Oleh karena itu adalah penting untuk memperbesar kapasitas produksi buku Mitra Netra, dan salah satu langkah yang harus ditempuh adalah dengan menyediakan ruang yang lebih memadai sebagai tempat kegiatan produksi buku tersebut dilakukan.

Donasi yang Ada berikan akan memungkinkan Mitra Netra terus mengembangkan fungsi sebagai lembaga lokomotif penggerak kemajuan tunanetra Indonesia, satu di antaranya menumbuhkembangkan masyarakat tunanetra yang gemar membaca dan belajar melalui program produksi dan distribusi buku untuk mereka.

*)VIvanews, 19 Juli 2012

Lontar Project

Di Bali, penulisan asli dari buku disebut lontar, yang berarti naskah lontar .

Ini adalah praktek yang sangat khusus, dimana semua tahapan dilakukan dengan tangan. Lontar terbuat dari daun pohon Siwalan, tumbuh dan dirawat oleh 2 keluarga di Bali. Lebar lontar  bervariasi 25cm sampai 45cm, bahkan ada yang lebih besar, tergantung pada panjang dokumen dan ketersediaan daun. Daun harus diproses selama lebih dari setahun sebelum dapat digunakan untuk naskah. Dibutuhkan kira-kira antara 2 dan 3 bulan untuk mengukir lontar, tergantung pada jumlah teks.

Setelah mereka diukir dengan ukuran, diukir dengan pisau logam, digosok dengan semir untuk menggelapkan alur, dan kemudian diusap sekali lagi untuk membersihkan cat yang berlebihan, daun kelapa berukir tersebut kemudian diikat dan kemudian dibungkus dengan sarung Bali dan ditempatkan di kotak kayu dengan ukiran tangan nan indah. Paling sering, lontar dibungkus sutra sebelum ditempatkan di dalam kotak karena buku-buku berisi teks suci.

Membaca lontars adalah memberi hormat pada para leluhur dan membangkitkan kembali minat dan popularitas masyarakat dalam membaca teks-teks.

Di Bali, lontars sudah ada selama kurang lebih 100 tahun tapi akhirnya rusak karena kelembaban daerah. Ada kebutuhan besar untuk melestarikan naskah-naskah dan mencegah kehilangan besar terhadap budaya dan dunia.

Seperti halnya Perpustakaan Agung Alexandria, ribuan lontar akan hilang dari dunia bila tidak ada upaya pelestarian dengan menyimpan dan menyalinnya. Untuk itu lah David Patten, Mary Brentwood, Meredith Bressie, dan Debra Simons mengagas sebuah project restorasi Lontar di Bali.

David, seorang ahli linguistik dengan minat khusus dalam naskah kuno Asia Tenggara, menghabiskan masa mudanya di Montana. Dia adalah seorang penerbit, guru, dan kontraktor. Bahasa dan budaya Indonesia telah menarik dia untuk fokus pada naskah-naskah kuno (lontar) yang menghilang, dan kepedulian terhadap kelanjutan mereka, karena mereka mendukung kehidupan rohani modern Bali.

Sebagai guru dalam Program Nine Gates Mystery School, dia telah menyelidiki beberapa praktek spiritual dunia, yang memungkinkan siswa untuk mengalami dunia dengan cara yang lebih bermanfaat. Sejak tahun 1989, ia telah memimpin tur tahunan ke Bali, sehingga siswa mungkin mengalami praktek-praktek spiritual di sana. Tujuh tahun yang lalu ia mulai membantu untuk menghidupkan kembali proses tradisional mereplikasi lontar, warisan tertulis dari Bali. Hari ini (2012), David berusia 71, dan ingin memastikan seluruh  usaha  proses pelestarian prasasti naskah akan berkembang.

Dr Brentwood adalah lulusan Nine Gates Mystery School dan melakukan perjalanan ke Bali dengan David Patten mana dia diperkenalkan kepada Proyek Lontar. Dr Brentwood berkomitmen untuk menggunakan keahliannya dalam manajemen proyek besar untuk memfasilitasi keberhasilan Proyek Lontar.

Meredith Bressie, lulusan arsitektur, bertemu David Patten pada tahun 2000 di Nine Gates Mystery School. Setelah jatuh cinta dengan budaya Bali yang kaya, sejarah dan spiritualitasnya, ia tertarik untuk membantu melestarikan pembuatan Lontar dan bergabung untuk melanjutkan misi mereka melestarikan lontar.

Debra Simons adalah mitra awal RockShox, sebuah perusahaan yang mengembangkan sistem suspensi sepeda gunung. Perusahaan ini dijual pada bulan Maret, 1995. Sejak itu, Debra telah mendedikasikan waktunya untuk keluarga dan Yayasan Wanda Bobowski.

Untuk mewujudkan misinya itu, mereka membuat sekolah menulis lontar bgai anak-anak. Saat ini ada 3 sekolah di Bali yang dibina Yayasan. Lokasinya di provinsi Gianyar. Kelas-kelas ini bukan bagian dari sekolah apapun tetapi ada di rumah-rumah para guru. Karakteristik orang Bali mereka tidak akan ingin nama mereka digunakan, setidaknya secara publik. Sekolah di Bangli, Bali mengajarkan semua 4 tingkat pengambilan naskah lontar.

Level 1: Pengenalan Script 2-3 tahun
Level 2: Awal Cutting 2 tahun
Level 3: Intermediate Cutting 2 tahun
Level 4: Profesional Grade (script kecil) 2 tahun

Biaya Project

Dibutuhkan US$ 25.00 (sekitar Rp.250.000) untuk membeli 20 minggu daun lontar untuk satu anak untuk berlatih. Setiap keluarga bertanggung jawab untuk membeli perlengkapan anak-anak mereka yang meliputi daun kelapa dan pisau. Namun, karena tingginya biaya hidup di Bali sebagian besar keluarga tidak mampu membelinya, bahkan untuk satu sen sehari. Yayasan kemudian mengambil alih setengah biaya untuk membeli daun untuk semua anak.

Saat ini ada 200 anak lebih yang terdaftar di sekolah dan kebutuhan untuk daun lontar meningkat setiap hari.

Guru di sini digaji $50.00/bulan (sekitar Rp.500.000) untuk mengajar sekitar 100 siswa. Saat ini, ada tiga guru yang bekerja dengan lebih dari 200 siswa.

Empat sampai lima lembar daun lontar yang digunakan per hari, untuk merekonstruksi sebuah lontar. Dibutuhkan antara 8 dan 12 minggu untuk membuat lontar dan dapat berisi sebanyak 200 lembar hingga menjadi sebuah buku/naskah.

Lontars, terbungkus sutra dan hati-hati dikemas dalam kotak ukiran tangan, akan tersedia untuk dijual dalam waktu dekat. Pembelian lontar adalah cara untuk mendukung upaya yayasan membiayai biaya sekolah dan restorasi.

*)Disarikan dari situs Lontar Project

#Twitteriak

Apa itu #Twitteriak?
#Twitteriak adalah obrolan seru di ranah twitter produksi Scriptozoid! yang hadir setiap Selasa siang bersama penulis, editor, ilustrator, penerjemah, penerbit, dengan topik-topik di seputar buku, sosial dan sejarah.

Cara mengikutinya mudah, semudah mengikuti account @twit_teriak atau tanda pagar #Twitteriak dan kalau ketinggalan, tinggal melihat notulensinya di sini.

Tagline
#Twitteriak dan ungkap isi pikiranmu pada dunia!

Riwayat
Muncul selepas Social Media Festival 2011, #Twitteriak digagas untuk mengisi obrolan yang lebih spesifik daripada yang ditawarkan oleh obrolan sejenis di ranah twitter. Kenapa genre obrolan khusus ini penting? Karena ruang ‘dialog’ di dunia membaca dan menulis masih jauh dari cukup. Ada begitu banyak ide/gagasan/topik di dunia menulis dan membaca yang seru untuk diobrolkan dan pemanfaatan new media seperti Twitter sangat pas karena kemampuannya yang tak kalah dengan media mainstream dalam menciptakan public sphere.

Catatan Season 1
Silakan baca Kisah Perjalanan Obrolan #Twitteriak Season 1 untuk tahu catatan kisah perjalanan #Twitteriak Season 1 (3 November 2011 – 2 April 2012).

Catatan Season 2
Catatan seputar Obrolan #Twitteriak Season 2 mengenai pembabakan, tamu, dan jangkauan selama episode 13 sampai 24 (3 April – 26 Juni 2012)

Pengelola
Scriptozoid! (Tanam Ide Kreasi) adalah konsultan publikasi (publicist) dan new media publisher di Indonesia yang lahir untuk satu tujuan: “mencintai dan semakin mencintai dunia membaca dan menulis”.

Nama “Scriptozoid!” diambil dari kecintaan pada dunia membaca dan menulis. Dari kecintaan ini, muncul berbagai angan-angan. Tentu saja angan-angan yang berdasar dari realita dunia perbukuan di Indonesia, bukan angan-angan kosong.

Kontak:
TANAM IDE KREASI
Alamat: Gedung Grha Niaga B-2
Jl. Jend. Sudirman Kav. 58
Jakarta 12190
Email: scriptozoid@gmail.com
Facebook: facebook.com/scriptozoid
Twitter: @scriptozoid
Blog: WordPress | Blogspot | Tumblr

Kelompok Pencinta Bacaan Anak

KBPAKelompok Pencinta Bacaan Anak (KPBA) adalah organisasi nirlaba independen yang digagas pada tahun 1987 oleh Dr. Murti Bunanta SS. MA. Pada tahun 1990 KPBA menjadi anggota IBBY (International Board on Books for Young People).

Sejak berdiri, KPBA banyak mengadakan seminar, lokakarya untuk mahasiswa, guru pendidik, pengarang, illustrator, pendongeng, penerbit dalam usaha meningkatkan mutu bacaan anak Indonesia. Setiap minggu melakukan kegiatan rutin mendongeng di Rumah Sakit sejak 1993. Mengadakan Festival mendongeng setiap satu atau dua tahun dalam memperingati Hari Anak Nasional.

KPBA juga menggalang kerjasama dengan pemerintah, institusi dalam dan luar negri untuk kemajuan bacaan anak. Juga mendatangkan pembicara luar negeri untuk meningkatkan mutu pelaku perbukuan di Indonesia.

Sukarelawan KPBA terdiri dari peneliti, dosen, doktor, ibu rumah tangga, mahasiswa, karyawan, pengarang, illustrator, pendongeng, guru, orang tua, dan lain-lain. Pengurus KPBA tidak digaji dan semua sumbangan yang diterima , diteruskan untuk kepentingan masyarakat khususnya anak dan membina kemampuan orang dewasa yang terlibat bagi pendidikan anak.

KPBA adalah pionir untuk memajukan minat membaca anak-anak di Indonesia. Selama dua puluh tahun KPBA berkiprah dalam meningkatkan minat baca anak, mutu bacaan, dan layanan perpustakaan.

Visi dan Misi

Tujuan dari Kelompok Pencinta Bacaan anak adalah untuk mengembangkan dan membina bacaan anak di Indonesia sebagai partisipasi bagi usaha mencerdaskan bangsa.

Kegiatan untuk Orang Dewasa :

Seminar, lokakarya, dan pelatihan mendongeng, pelatihan membuat alat peraga, pelatihan menulis, pelatihan membuat ilustrasi, dll.

Kegiatan untuk anak :

Festival mendongeng setiap satu atau dua tahun, kegiatan rutin mendongeng di RSCM setiap minggu, lomba membaca cerita,  membuat alat peraga mendongeng sederhana, dll.

Sejarah

Pencetus gagasan dan pendiri KPBA adalah Dr. Murti Bunanta SS.,MA yang menuangkan pikiran, gagasan dan keprihatinannya terhadap dunia bacaan anak di Indonesia dalam sebuah tulisannya, yang dimuat dalam harian Kompas, 22 September 1987, berjudul “Kalau Belum Terlambat, Mengapa Tidak Sekarang? Kita Butuh Kelompok Pencinta Bacaan Anak”.

Tulisan ini menarik minat sekelompok pendukung gagasan dan simpatisan yang menaruh perhatian pada bacaan anak dan mencintai anak-anak, yang secara rutin bertemu sebulan sekali untuk memantapkan gagasan sambil mengadakan kegiatan mendongeng untuk anak-anak.

Pada tahun 1988 dibentuk kepengurusan yang bergabung dalam wadah bernama : Kelompok Pencinta Bacaan Anak (Inggris : Society for the Advancement of Children’s Literature). Organisasi ini bersifat independen, non profit dan pengurus serta anggotanya bekerja atas dasar sukarela.

Pameran dengan tema Anak, Bacaan dan Mainan yang diadakan dalam rangka menyambut hari anak nasional Juli 1989 adalah tonggak sejarah kegiatan KPBA selanjutnya, baik secara nasional maupun internasional.

Kegiatan KPBA yang intens dalam memajukan mutu bacaan anak Indonesia menarik perhatian dunia internasional. April 1990, KPBA resmi menjadi seksi nasional suatu organisasi dunia yang bernama International Board on Books for Young People (IBBY) sebagai seksi nasional ke 51.

Pada tahun 2006, untuk meluaskan kerja KPBA, maka seksi nasional tersebut yang bernama Indonesian Board on Books for Young People (INABBY) dipisahkan menjadi organisasi tersendiri dan bekerjasama secara erat dengan KPBA.

Pengurus

Ketua (President): Dr. Murti Bunanta SS., MA

Wakil Ketua (Vice President): Dr. Ir. Tety Elida, MM

Sekretaris I (Secretary): Devina Erlita S.Hum.

Bendahara (Treasurer): Dra Dinar Utami Prasidono.

Sekretaris II

  1. Ika Anggraeni, ST, MM
  2. Ir. Ari Raharjo, MBA

Program

  1. Dina Novita Tuasuun, S.Si.(teol.)
  2. Dra. Juniwulan Dewi

Pembantu Umum

  • Rika E. Triyani, SS

*)Sumber:kpba-murti.org

Pengurus

Ketua (President): Dr. Murti Bunanta SS., MA

Wakil Ketua (Vice President): Dr. Ir. Tety Elida, MM

Sekretaris I (Secretary): Devina Erlita S.Hum.

Bendahara (Treasurer): Dra Dinar Utami Prasidono.

Sekretaris II

  1. Ika Anggraeni, ST, MM
  2. Ir. Ari Raharjo, MBA

Program

  1. Dina Novita Tuasuun, S.Si.(teol.)
  2. Dra. Juniwulan Dewi

Pembantu Umum

  • Rika E. Triyani, SS

Komunitas Lembah Pring

KSLP JOMBANG-2Komunitas Lembah Pring (KLP) berdiri pada 29 Agustus 2007. Penggagasnya adalah Fahrudin Nasrulloh (Mojokuripan, Sumobito). Sementara penggerak dan yang menjadi lurahnya adalah Jabbar Abdullah (Tropodo). Fahrudin yang sejak 1995 menetap di Jogja, lalu tertarik menggeluti sastra pada 1997 hingga sekarang, dan memutuskan pulang ke Jombang pada Agustus 2007, merasa tak menemukan “detak sastra” di kota santri itu. Dan Jabbar yang sudah lama tertarik menyimak dunia seni-budaya juga mengembangkan “gerak” Lembah Pring di Mojokerto, karena ia berdomisili di tlatah Majapahit itu.

Beberpa anggotanya antara lain Dian Sukarno, seorang penulis dongeng dan wartawan, dan motivator Paguyuban Tari Lung Ayu Jombang (asal Jogoroto); Lukiati, mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Jombang, yang juga pengajar tak tetap di MIN I Jombang (asal Jogoroto); Fathul Qarib, pekerja honorer di Dinas Pariwisata Jombang, pengelola kios jual-beli ponsel dan pulsa, dan pengkaji dan pemburu naskah pesantren lawas (asal Tebuireng).

Awalnya, Fahrudin Nasrulloh dan Jabbar Abdullah, yang sama-sama mencintai puisi bersepakat membikin semacam wadah untuk mendiskusikan karya-karya mereka, juga perkembangan sastra dewasa ini. Kenapa harus menjedulkan sebuah nama, semacam “komunitas” atau “padepokan”, hanya untuk sekadar berdiskusi sastra? Apa tidak cukup ngobrol sastra di warung kopi, misalnya, atau di rumbukan pring belakang rumah? Tanpa embel-embel nama “komunitas”, seperti membikin partai “orang bego” saja. Kiranya, mereka, hanyalah orang-orang tidak jelas (tapi punya “kegilaan kecil” atau “impian besar” yang terus dirawat tapi kehabisan obat), seperti sosok Chinowski dalam Factotum-nya Charles Bukowski.

Ilustrasi singkat ini menggambarkan mereka meyakini “kata-kata” yang kelak akan membentuk jalan hidup, dunia, dan tindakan dari “kata-kata” itu yang diikhtiarkan dapat mengubah apa yang terasa sia-sia. Selengkapnya bisa diklik di

Base camp KLP Jombang ada di Mojokuripan RT 1/ RW 3, Jogoloyo, Sumobito, Jombang atau dapat diakses di http://www.facebook.com/group.php?gid=91687709526 atau
email: lembahpring@gmail.com, surabawuk@gmail.com

*)http://www.djombang.com, 13 Juli 2012

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan