-->

Arsip Ruang Toggle

Perpustakaan Gerobak

Perpustakaan-Gerobak-KelilingBANGKALAN – Berisikan 600 buku yang sudah tertata rapi, gerobak terbuat dari kayu warna cokelat itu sudah ada sejak pagi, sebelum bel kelas berbunyi.

Seorang pria berusia 45 tahun sambil memegang sebuah kemucing, sibuk membersihkan debu-debu yang mengotori etalase gerobak.

“Saya hanya melaksanakan tugas. Pekerjaan ini terasa lebih ringan karena siswa sangat senang membaca,” ujar Suwarto, Kepala Perpustakaan SDN Tanah Merah Dajah I, Bangkalan, Jawa Timur, Jumat (7/12/2012).

Buku-buku yang disediakan tidak hanya buku pelajaran sekolah, buku cerita juga ada.

“Rata-rata siswa lebih gemar membaca buku cerita bergambar. Di antara mereka masih ada yang suka baca buku pelajaran,” tutur Suwarto.

Selain buku-buku pelajaran dan buku cerita bergambar, siswa juga dikenalkan dengan aneka mata uang Indonesia dan perangko zaman dulu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, Suwarto mulai berkemas. Penyangga roda gerobaknya pun dilepas. Dalam waktu 30 menit jam istirahat, ia harus menjangkau enam kelas.

“Kadang juga tidak keliling. Cukup mangkal di satu kelas, siswa yang mendatangi gerobak. Itu suatu kepuasan bagi saya,” ucap Suwarto yang sudah dua tahun mendorong gerobak perpustakaan.

Sulaiman, siswa kelas 5 menuturkan, ia lebih memilih membaca buku-buku di perpustakaan gerobak, kendati buku di perpustakaan sekolah lebih banyak.

“Di ruang perpustakaan sekolah pengunjungnya banyak, membacanya kurang konsentrasi,” jelas Sulaiman.

Kepala SDN Tanah Merah Dajah I M Nashir mengungkapkan, minat baca 273 anak didiknya sangat tinggi, hingga pihak sekolah menyediakan 3.500 buku di perpustakaan sekolah.

“Mereka sudah terbiasa masuk perpus. Kami hanya memantau dan terus menanamkan pentingnya membaca buku,” paparnya kepada Surya.

Gerobak perpustakaan berlabel Sekolah Dasar Standar Nasional (SDSN) sengaja dibuat, untuk lebih memberikan tempat kepada siswa agar gemar membaca.

“Kami pernah Juara Harapan II Tingkat Provinsi Jatim dalam acara Lomba Perpustakaan se-Jatim Tahun 2009,” ungkapnya.

Kabid TK/SD/SDLB Dinas Pendidikan Bangkalan Fauzi mengemukakan, keberadaan gerobak perpustakaan keliling di SDN Tanah Merah Dajah I merupakan inovasi sekolah.

“Perlu dikembangkan dan dijadikan contoh oleh sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bangkalan,” harapnya.

Mantan Kepala UPT Kecamatan Burneh tak henti-hentinya memberikan apresiasi kepada Suwarto, atas dedikasinya terhadap dunia pendidikan.

“Dia (Suwarto) terus mencari referensi dan sumber-sumber buku untuk kepentingan siswa. Karena, dari pusat belum ada program khusus bantuan buku, kecuali lewat DAK (Dana Alokasi Khusus),” urainya.

Fauzi berharap, SDN Tanah Merah Dajah I bisa menjadi percontohan bagi sekolah lain. Apa yang diharapkan Fauzi nampaknya belum bisa terwujud dalam waktu dekat. Sebab, belum semua SD yang ada di Bangkalan memenuhi syarat memiliki perpustakaan.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bidang Sarana dan Prasarana (Sarpras) Disdik Bangkalan, hanya 400 SD dari 600 SD yang status lahannya jelas.

“Dari jumlah (400 SD) itu, hanya 60-70 persen yang mempunyai perpustakaan. Selebihnya masih terkendala lahan dan luas tanah,” terang Kabid Sarpras Disdik Bangkalan Bambang Budi Mustika.

SD yang tidak memiliki perpustakaan tak hanya ada di pelosok desa. Di perkotaan pun masih ada SD yang belum mempunyai perpustakaan.

“Seperti SDN Demangan 3 dan 4 yang terkendala oleh luas lahan. Tidak mungkin dibangun perpus dengan cara ditingkat. Karena, konstruksi bangunan di bawahnya bukan untuk bangunan tingkat,” cetusnya. (*)

*)Tribunnews, 8 Desember 2012

1009 Daftar Penerbit Indonesia

1       Abdi Raya Utama         Alamat: Jl. Moh. Toha Gg. Ripah No. 14 Bandung
40253 Telp.: 0225209844 Fax.: 0227565370 Terbitan.: Buku Umum & Agama

2       Abiyah Pratama  Alamat: Ruko Cempaka Mas Blok K-31 Jakarta Pusat
10640 Telp.: 42889058 Fax.: 42889085 Terbitan.: Buku Agama,
Pengembangan Diri dan Tematik

3       Absolut         Alamat: Jl. Ibu Ruswo No. 10 Pawirodirjan, Gondomanan Yogyakarta (lebih…)

Yayasan Indonesia Buku

Awal Gelaran Indonesia Buku atau Gelaran [I: boekoe] sejatinya telah dimulai sejak tahun 1999 dengan nama awal “Gelaran Budaya”, sebuah balai budaya sekaligus galeri pameran seni rupa yang dikelola oleh para pegiat seni di Yogyakarta – dahulu terletak di Karangkajen, Yogyakarta. (lebih…)

Rumah Baca Asma Nadia Majalengka

Rumah Baca Asma Nadia Majalengka merupakan salah satu dari Jaringan Rumah Baca Asma Nadia yang ada di pelosok nusantara. Rumah baca ini awalnya hanya berupa Taman Bacaan Keluarga yang bernama Iqra Madani yang didirikan pada tahun 2007. Seiring dengan berjalannya waktu, Taman Bacaan Ini semakin dikenal di kalangan siswa maupun umum, sehingga yang berkunjung ke taman bacaan tidak hanya dari masyarakat di kecamatan Ligung tapi juga dari Luar Kecamatan.
Mengandalkan koleksi buku keluarga ternyata tidak dapat memberikan kontribusi lebih bagi minat baca di Masyarakat. Hal ini dikarenakan jumlah buku yang terus berkurang karena rusak dan hilang. Selain itu, pengadaan buku yang terbatas juga berpengaruh pada jumlah pembaca dan minimnya kegiatan di taman bacaan.
Berawal dari sebuah status Penulis Bunda Asma Nadia yang mengulas tentang keberadaan Rumah Baca Asma Nadia, maka Kang Rama sebagai pendiri sekaligus pengelola di Taman Bacaan, memutuskan untuk menjalin kerja sama pengelolaan Rumah Baca Asma Nadia. Dengan melakukan komunikasi dan melengkapi persyaratan pendirian, akhirnya pada bulan November 2010, Rumah Baca Asma Nadia dibuka. Dan sebagai bentuk kontribusi Rumah Baca Asma Nadia pusat, bertepatan pada bulan Januari 2011 mengirimkan buku bacaan sebanyak 125 eksemplar.
Barokah dari jalinan silaturahmi dan Nama Besar Penulis Bunda Asma Nadia, Rumah Baca Asma Nadia mulai banyak di kenal oleh masyarakat. Beberapa relawan datang menawarkan diri untuk bersama-sama memakmurkan Rumah Baca dengan aneka kegiatan dan layanan.
Mendirikan TPQ Salamadina
Hanya mengandalkan buku yang berjejer, tempat yang cukup nyaman ternyata tidak serta merta mampu merangsang minat baca di masyarakat sekitar rumah baca. Hal ini terus menjadi tantangan bagi para Relawan untuk mencari cara bagaimana rumah baca ini bisa berkiprah lebih banyak. Maka berdasarkan hasil musyawarah para Pendiri dan Relawan, bersepakat untuk mendirikan Balai Belajar bagi anak dhuafa berupa Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) Salamadina.
TPQ Salamadina melakukan pembelaran selama 5 hari dari hari senin hingga hari Jum,at. Pada hari sabtu dan minggu rumah baca di buka untuk umum full selama 9 jam dari pukul 7 hingga pukul 15.oo wib. Untuk agenda lain selain pembelajaran anak-anak, RBA Majalengka menggelar beberapa acara seperti :
1. Nonton Bareng
2. Penyuluhan dan pembinaan
3. Pelatihan Komputer untuk relawan dan anggota
4. Pengajian mingguan
5. Reuni peserta program
6. Dan kegiatan lainnya
Rumah Baca Asma Nadia Majalengka, meski dengan merayap namun terus melakukan pembenahan. Mulai dari Pengadaan buku-buku dari berbagai donator, Rekrutmen anggota dan relawan hingga pengembangan aktivitas program.

*)http://rbamajalengka.webs.com/, 24 September 2012

Rumah Baca Buku Sunda Jeung Sajabana

Pelesir di Tatar Sunda tak selalu harus menyambangi lokasi wisata. Bepergian mengenal budaya dan masyarakat Sunda lebih luas juga bisa dilakukan lewat buku. Salah satunya di Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana di Bandung yang punya koleksi ribuan bahan bacaan.

Seperti namanya, tempat bacaan itu berada di sebuah rumah di Jalan Margawangi VII Nomor 4 Perumahan Margawangi, Bandung. Begitu masuk, deretan buku di rak kiri dan kanan langsung menyambut. Seperti datang ke perpustakaan, hampir seluruh ruang depan dan tengah rumah disesaki buku.

Tempat membaca di tengah rumah, berupa meja kayu dikelilingi kursi-kursi. Di atas dan di kolong mejanya penuh oleh tumpukan puluhan buku dan keranjang berisi air kemasan gelas plastik. Di sekelilingnya buku-buku memenuhi rak kayu yang tingginya menggapai langit-langit rumah. “Sekarang bukunya ada 5.000-6.000 eksemplar termasuk majalah,” kata pendiri sekaligus pengelolanya, Mamat Sasmita, 61 tahun.

Pensiunan PT Telkom itu membuat katalog koleksinya menjadi 14 macam. Mulai dari bacaan cerita anak, budaya Sunda dan umum, cerita pantun, tentang Bandung, humor Sunda. Juga kumpulan cerita pendek, novel, roman pop, sajak Sunda, sejarah, Islam, dan wawacan. Mayoritas isi bukunya memang berbahasa Sunda. Tapi ratusan judul lain ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, dan Belanda.

Jika ingin menelusuri kisah Bandung baheula, ada buku Bandung Purba tulisan T.Bachtiar, Album Bandung Tempo Doeloe tulisan Sudarsono Katam, atau Semerbak Bunga Di Bandung Raya serta Wajah Bandung Tempo Doeloe karya mendiang Haryoto Kunto. Di rak katalog sejarah, ada judul Priangan I-IV karangan De Haan, penulis Belanda yang diterbitkan 1910-1912, Sejarah Tatar Sunda oleh Nina Lubis, juga Naskah Sunda tulisan Edi S Ekajati. Juga Gedenkboek der Nederlandsch Indische Theecultuur atau Buku Kenangan Sejarah Perusahaan Teh di Indonesia.

Di deretan buku novel anak dan remaja, ada sebuah buku simpanan Mamat yang isinya dulu menjadi bahan dongeng ayahnya. Judulnya Purnama Alam karangan R. Soeriadiredja. Buku terbitan 1956 itu berbahasa Sunda dengan ejaan lama. Kisahnya pertempuran orang biasa dan manusia setengah jin melawan makhluk-makhluk gaib. “Ceritanya lebih seru dari Harry Potter,” katanya.

Koleksi buku di Rumah Baca Buku Sunda jeung Sajabana itu hasil kegemaran Mamat membaca dan membeli buku sejak 1975-1980. Soal buku baru atau bekas, mantan Pemimpin Redaksi majalah Cupumanik, itu tak pilih-pilih. Asal isinya masih bisa utuh dibaca dan tentang budaya Sunda, ia beli dari sejumlah tempat. Misalnya Pasar Buku Palasari, juga pedagang buku di Jalan Dewi Sartika, serta Jalan Cikapundung Timur, Cihapit, serta Cicadas.

Sejak pensiun dua tahun lalu, pembelian bukunya mulai berkurang. Memakai dana pensiun, dalam sebulan rata-rata hanya ada 2-4 buku tambahan koleksi. Selain itu, kata Mamat, buku-buku berbahasa atau tentang budaya Sunda kini kebanyakan hasil cetak ulang yang sudah dimilikinya. “Sekarang cenderung menunggu telepon dari tukang buku daripada mencari,” ujarnya.

Tumpukan buku itu seringkali membuat istrinya mengomel karena rumah terkesan selalu berantakan. “Mau bagaimana lagi kalau buku-buku suka dibaca,” katanya. Kebetulan pada 2009, tetangganya ingin menjual rumah. Setelah dibeli Mamat, ribuan buku itu punya rumah dan tamu sendiri. Selain kenalannya, pengunjung Rumah Baca berasal dari kalangan pelajar hingga mahasiswa, seniman, budayawan, serta pendongeng.

Uniknya, siapa pun boleh meminjam buku secara gratis dan tak perlu membuat kartu seperti di perpustakaan. Mamat hanya meminta peminjam menuliskan nama, alamat, judul buku, dan tanggal pinjam. “Ada beberapa yang tak kembali, tapi saya yakin saja selalu ada (buku) penggantinya yang lebih baik,” ujarnya. Jika ada peminjam yang sangat membutuhkan, Mamat menyilakannya menghubungi langsung pemegang buku terakhir.

*)Tempo.co, 19 September 2012

Perpustakaan Soeman Hasibuan

Perpustakaan delapan lantai itu berdiri megah di Jl Sudirman, Pekanbaru, persis bersebelahan dengan Kantor Gubernur Riau. Gedung yang dulunya merupakan bekas gedung DPRD Riau ini diapit dua gedung megah lainnya, sebelah selatan ada Bank Indonesia (BI) dan sebelah utara ada Kantor Gubernur Riau. Gedung pustaka Soeman HS ini terkesan unik dan eksotis. Bentuk bangunan dari kejauhan seperti atap gedung saling menyilang setengah lingkaran, tak ubahnya sebagai meja tempat untuk membaca Al Quran. Bentuk ini sebagai filosofi akan ajaran Islam yang erat dengan budaya Melayu.

Mulai beroperasi sejak 2008 gedung ini memiliki fasilitas khusus Bilik Melayu dengan koleksi berbagai karya tulis tentang Melayu dan juga sejumlah salinan naskah kuno. Sejak dibuka, perpustakaan ini direncanakan menjadi E-Pilot National Project percontohan Perpustakaan di Indonesia.  Gedung yang menelan dana Rp 144 miliar ini memiliki daya tampung 1.000 pengunjung. Sebagai daya tarik, gedung ini dindingnya dilapisi kaca transparan. Sehingga dari ketinggian gedung pengunjung juga dapat menikmati keindahan kota.

Di perpustakaan ini terdapat 239.032 eksemplar buku. Berbagai bacaan tersedia di sana, mulai buku pendidikan, untuk mahasiswa, umum dan buku untuk anak-anak. Secara umum, di lantai dasar khusus untuk taman bacaan anak-anak. Sedangkan di lantai dua taman bacaan untuk remaja. Lantai tiga taman bacaan untuk orang dewasa dan tersedia bilik Melayu yang menyediakan bacaan khusus tentang Melayu. Sedangkan lantai empat dan lima tersedia ruang konferensi, referensi dan teknologi informasi. Sedangkan lantai enam tersedia ruangan diskusi dan serbaguna. Masyarakat yang berminat membaca buku di Perpustakaan Soeman Hasibuan dapat menikmatinya dengan gratis.

Kendati di pustaka ini sudah banyak buku yang tersedia, namun bukan berarti sudah dapat mencukupi dari kebutuhan yang ada. Pemprov Riau selain menyediakan buka sendiri, namun tetap mengajak masyarakat maupun perusahaan untuk dapat menyumbangkan buku di pustaka tersebut.

Di sana pengunjung begitu dimanja. Bagi pengunjung yang ingin membaca buku, tinggal menyebut judul buku ke petugas piket. Di perpustakaan sudah ada sistem komputerisasi yang melacak judul buku yang diinginkan. Dari komputer itu akan diketahuan ada atau tidaknya buku yang dinginkan. Bila buku yang diinginkan pengunjung terdapat di perpustakaan itu, petugas akan memberitahukan letak buku tersebut.

Tidak hanya dimanjakan dengan berbagai jenis buku. Pengunjung pustaka ini juga dimanjakan dengan Wifi serta tersedianya aula untuk rapat dan ruang kedap suara. Bagi pengunjung yang membawa laptop, bisa mengakses internet tanpa dipungut biaya. Perpustakaan modern ini pun di lantai dasar dilengkapi cafe yang sangat terkenal di Pekanbaru, yakni kopi Kimteng.

Perpustakaan yang merupakan bangunan milik Pemprov Riau itu diberi nama Soeman Hasibuan untuk mengenang nama besar Soeman Hasibuan berdarah Batak yang dikenal sebagai sastrawan ulung yang ada di Riau. Salah satu karya sastranya yang cukup terkenal adalah “Mencari Pencuri Anak Perawan” yang terbit tahun 1932.

Sayangnya, karena Soeman Hasibuan berdarah Batak, nama perpustakaan ini pun disingkat menjadi Soeman Hs. Marga Batak Hs yang artinya Hasibuan tidak terlalu ditonjolkan.

*)Berbagai sumber

Perpustakaan Ababil Airline

Di TK Yayasan Al Falah Desa Oro oro Ombo Kota Batu terdapat sebuah pesawat. Bukan replica atau sekedar bangunan yang menyerupai pesawat, namun pemilik yayasan sengaja membeli pesawat bekas tersebut dan diletakkan di halaman sekolah. Pesawat jenis Howker Sidely buatan Inggris tahun 1982 ini memang sudah tidak diterbangkan lagi, tetapi disulap jadi ruang perpustakaan.

Menurut Rahma Widianita kepala sekolah TK Al Falah pesawat yang diberi nama Ababil Airline barus sekitar sebulan mendarat di halaman sekolah.

Ini kalau sekarang dalam perbaikan pemasangan ini alat-alat dipasang didalam ada kursi peswat itu akan dipasang kursi sesungguhnya gitu sekarang kursi-kursi sudah ada, trus cockpit juga dibuat seperti itu tetap seperti pesawat sungguhan, terus kebelakang itu ada kamar mandi, kebelakang ada rak itu nantinya rak itu disetting untuk perpustakaan

Anak-anak sudah banyak yang berebut untuk membaca di perpustakaan pesawat ini. Perpustakaan di dalam pesawat ini mampu mendorong kegemaran anak untuk membaca.

Rahma mengaku anak-anak khususnya TK kelas B kerap tidak sabar untuk bisa belajar di kelas pesawat itu.

iya, yang belum anak-anak memang cenderung, kita sebenarnya harus mempersiapkan buku yang memang kekanak-kanakan artinya banyak gambar, menarik, jadi dari kecil sudah diperkenalkan dengan perpustakaan, setiap ada event bukan event tapi emang kita jadwalkan setiap minggu keberapa gitu anak playgrup ke perpustakaan, selanjutnya itu TK B gitu

Sayangnya Kata Rahma perpustakaan ini tidak untuk umum. Pesawat yang diberi nama Ababil Airline hanya untuk anak-anak yang bersekolah di TK AL Falah saja.

Menurut Ketua Yayasan Al Falah, H Zainul Arifin menuturkan dengan dibukanya kelas pesawat yang diberi nama Ababil Air ini menambah motivasi belajar anak di TK yang terletak di desa Oro-oro Ombo ini.

“Dengan keberadaan pesawat ini kami berharap ada motivasi bagi anak-anak, selain itu anak-anak silahkan mempunyai cita-cita setinggi langit,” ujar Zainul Arifin.

Di sana nanti, mereka bisa bermimpi menjadi pilot atau pramugari. Sebab, selain belajar seperti TK pada umumnya, para siswa diajak untuk beraksi menyetir pesawat.

“Yang Jelas, pembelajarannya unik. Di dalam pesawat dipasang layar lebar untuk video. Mereka akan menonton film-film Islami dan do’a-do’a,” ujar Zainul.

Pesawat itu dia beli dari sebuah lelang dengan nilai sekitar 60 ribu dolar AS atau sekitar Rp 550 juta pada pertengahan Desember 2011.

‘’Sebenarnya pesawat itu masih bisa terbang. Tapi demi pendidikan, lebih baik pesawat itu parkir di halaman TK untuk belajar siswa,’’ kata Zainul, pengusaha yang berkecimpung di bidang perbaikan pesawat di Juanda, Surabaya itu.

Pesawat yang sebelumnya digunakan maskapai Bali Air ini kondisinya masih baik termasuk instrument di dalam kokpit pesawat. Pada 1 April sekitar pukul 01.30, tiga truk trailer membawa badan pesawat dan sayap menyisir jalan dari Juanda Sidoarjo ke Kota Batu. Empat teknisi menyelesaikan pemasangan kembali pesawat hingga bisa berfungsi seperti sekarang ini. Seluruh kabin pesawat itu disulap menjadi ruang belajar. Di dalamnya juga dipasang media pembelajaran multimedia. Sedangkan kokpit tetap tak berubah, difungsikan untuk mengenalkan siswa terhadap dunia dirgantara. Adapun ruang kargo, diubah menjadi perpustakaan berjajar rak berisi buku bacaan anak-anak.

Selain untuk belajar anak -anak dari PG-TK Al-falah,  kelas ini juga dibuka untuk siswa dari sekolah lain di kota Batu maupun luar kota. Untuk itu disediakan kru pesawat dari guru Al Falah serta instruktur dari Lanud Abdul Rahman Saleh.

*)Disalin dari berbagai sumber

Perpustakaan Baitul Amin

Sejak didirikan Perpusba telah menjadi sarana bagi jamaah Surau Baitul Amin (SBA) dan masyarakat sekitar untuk menambah wawasan di bidang agama maupun umum. Keberadaan Perpusba diprakarsai oleh Ketua Yayasan Prof. Dr. H. Kadirun Yahya (YPDKY), H. Abdul Khalik Fajduani, SH, yang gemar membaca buku.

Koordinator Perpusba, Ahmad Fakar, mengatakan didirikannya sarana ini diawali dengan tujuan memfasilitasi jamaah untuk membaca buku-buku karangan Sayyidi Syaikh Prof. Dr. H. Kadirun Yahya, pendiri YPDKY. Setiap malam wirid; Senin dan Kamis malam, Perpusba juga berfungsi sebagai tempat dilaksanakannya sesi penjelasan mengenai Tarekat Naqsyabandiyah Al Khalidiyah.

Kini perpustakaan yang menempati bangunan dua lantai ini juga kerap digunakan sebagai arena rapat, pelatihan, serta pengajian. Perpusba juga berfungsi sebagai ruang konferensi pers Festival Baitul Amin 2010 pada Maret lalu.

Pengunjung tidak hanya datang dari jamaah saja, melainkan juga masyarakat sekitar terutama anak-anak. “Anak-anak suka membaca disini karena ada komiknya dan ruangannya ber-AC,” tutur Adi Bahtiar, anak surau yang bertugas sebagai pustakawan Perpusba. Begitu juga yang diutarakan Mardian Syah. Siswa SDN 03 Curug ini mengaku sering datang untuk membaca komik favoritnya Captain Tsubasa dan Naruto. Bersama tiga temannya, Mardian datang dua kali seminggu dengan bersepeda.

Berbentuk unik segi enam dimana masing-masing lantai berukuran 75m2, lantai bawah Perpusba merupakan kantor perpustakaan serta ruang untuk menerima tamu. Ruang baca berada di lantai atas dengan fasilitas berupa proyektor, giant screen, dan sistem audio. Buku-buku yang ada di Perpusba adalah sumbangan dari para jamaah serta keluarga pendiri YPDKY. Koleksi Perpusba kini mencapai 2.800 buku; mulai dari buku agama, pengetahuan umum, teknologi, ekonomi, komik anak anak hingga novel-novel pop, yang jumlahnya terus bertambah. Nah, bagi yang belum pernah, Ayo, berkunjung ke Perpusba!

Perpustakaan Baitul Amin berlokasi di Komplek Area Surau Baitul Amin Bojongsari, Depok.

Untuk keperluan informasi tentang Buku dan Pustaka, kami siap membantu anda, silahkan hubungi langsung ke kontak person berikut.

Kontak Person:

  1. Abdul Mufid – 0888-999-5563
  2. Adi Bahtiar – 0812-8233-2780
kampus@baitulamin.org
http://pustaka.baitulamin.org

Taman Baca “AMIN”

Anda punya hobby membaca tetapi kebetulan saat ini sedang berada di Kota Batu? Tidak usah khawatir, karena di Kota Wisata yang tidak terlalu luas ini terdapat sebuah Taman Baca dengan nama “Amin”. Di taman baca ini pengunjung bebas memilih sendiri buku atau majalah yang ingin dibacanya tanpa dipungut biaya alias gratis. Selain Taman Baca gratis, di tempat ini juga disediakan layanan poligigi gratis.

Pengawas Sementara Poligigi dan Taman Baca “Amin”, menjelaskan, layanan poligigi serba gratis itu diperuntukkan bagi seluruh masyarakat kurang mampu yang mendapat masalah pada gigi sehingga mereka bisa mendapat sejumlah layanan gratis seperti tambal gigi, cabut gigi, sampai pada perawatan karang gigi dengan peralatan kedokteran gigi yang terbaru. Layanan poligigi dibuka setiap Jumat dan Minggu pukul 11. 00 WIB sampai 16.00 WIB. Poligigi terdapat di lantai satu. Di lantai satu ini terdapat dua ruang dokter gigi dan satu dokter umum.

Suasana beberapa ruangan

Bangunan Taman Baca dan Poligigi ini tergolong sangat unik karena seluruh bangunan fisiknya tidak berupa tembok-tembok seperti bangunan gedung pada umumnya, tetapi menggunakan 7 container dengan ukuran berbeda-beda (3 container berukuran 20 feet dan 4 container berukuran 40 feet). Dengan menggunakan “bahan” yang tidak umum ini, maka bentuk fisik dari Taman Baca ini jadi begitu unik, terdiri dari container yang ditata sedemikian rupa sehingga jika dilihat dari wujud luarnya pasti membuat siapa saja yang melihatnya menjadi penasaran ingin tahu lebih lanjut seperti apa desain interiornya.

Di counter pintu masuk anda akan diminta untuk mengisi buku tamu dan harus menitipkan tas atau jaket di locker yang sudah disediakan. Kunci locker diserahkan pada anda, yang artinya hanya anda yang bisa membuka locker tersebut. Di counter pintu masuk ini juga disediakan makanan dan minuman siap saji yang bisa anda beli untuk menemani keasyikan anda membaca buku. Secara garis besar taman baca ini terdiri dari 3 container utama, Ruang Biru atau container berwarna biru untuk bacaan populer, bacaan umum dan bacaan hiburan, Ruang Kuning untuk ruang baca kewanitaan dan Ruang Merah untuk bacaan iptek.

Tempat duduk yang nyaman

Di lantai dua merupakan loby, ruang baca out door, teras kaca bundar dan ruang bundar untuk anak-anak. Setelah melewati pintu masuk, anda langsung bisa memilih ruang atau container di mana setiap ruang atau container berisi buku-buku bacaan menurut klasifikasinya. Ada taman baca untuk anak-anak yang tentu saja berisi buku-buku pembelajaran dan hiburan bagi anak-anak, lalu ada container yang berisi buku-buku dan majalah-majalah Iptek seperti “National Geographic”, buku-buku biografi tokoh-tokoh dunia dan Indonesia, dan banyak lagi ragam buku menurut golongannya masing-masing. Ada satu container berukuran agak kecil yang terletak di atas berisi majalah-majalah wanita yang cukup populer, dan container yang berisi buku-buku politik dan umum. Secara keseluruhan jumlah buku yang ada di Taman Baca ini sekitar 6000 buku. Jika anda memiliki kesempatan untuk singgah, silakan anda jelajahi tiap container yang ada di sini karena semuanya memang diperuntukkan bagi anda yang gemar membaca.

Tempat duduk untuk membaca juga bertebaran di tiap-tiap container, jika anda beruntung, anda bisa duduk di sofa empuk dan nyaman yang juga disediakan bagi pengunjung, tetapi jika sofa itu sudah ditempati, anda harus rela duduk di kursi-kursi yang berada di kiri kanan rak buku yang berjajar rapi. Pencahayaan di tiap container juga sangat bagus sehingga meskipun malam hari tidak akan mengganggu kenyamanan kita dalam membaca. Lantai di tiap container ini dilapisi dengan karpet tebal dan tulisan di pintu masuk container mengharuskan anda untuk melepas alas kaki dan menyimpan sepatu atau sandal di rak-rak terdekat. Di setiap container tidak disediakan asbak, yang artinya, bagi anda yang perokok, harus rela duduk di luar container untuk membaca buku-buku pilihan anda sambil menikmati tiap hisapan rokok kesayangan anda.

Pembukaan Poligigi dan Taman Baca yang berlokasi di Jalan Raya Sultan Agung (di sebelah selatan Stadion Gelora Brantas Batu) atau di ujung jalan masuk Jawa Timur Park I itu ditandai dengan peresmian oleh Wali Kota Batu, Bapak Eddy Rumpoko, pada hari Minggu Tgl. 30 November 2008.

Taman Baca dan Poligigi ini merupakan sumbangan Bapak Sastro Sendjojo dan Ibu, Rio Imam Sendjojo, Ronny Sendjojo, serta Jawa Timur Park dalam rangka memperingati ulang tahun ke-7 Kota Batu dan sumbangan bagi masyarakat Kota Batu.

Taman baca ini, tiap hari dibuka untuk umum tanpa pungutan biaya dengan jam kunjungan setiap hari mulai pukul 14.00 WIB sampai 21.00 WIB.  Jadi bagi anda yang gemar membaca dan punya banyak waktu luang, tidak ada salahnya anda menghabiskan waktu anda yang begitu berharga tersebut di tempat ini.

Disalin dari  pesonamalangraya.com 6 September 2012

Rumah Baca Mejikuhibiniu

Mejikuhibiniu merupakan rumah baca yang diperuntukkan untuk umum, mengemban misi sosial untuk mengajak masyarakat meningkatkan gemar membaca dan menumbuhkan kesadaran menjaga kelestarian alam.

Dengan pendampingan Lembaga Kajian Konservasi Lingkungan (LK2L), perpustakaan yang diberi nama Mejikuhibiniu ini didirikan. Tidak hanya membawa misi gemar membaca dan menulis, rumah baca ini dipergunakan sebagai tempat berdiskusi, mengkaji serta klinik keluarga. Diharapkan rumah baca ini bisa menjadi solusi bagi setiap permasalahan yang dialami oleh siapa saja yang membutuhkan melalui klinik keluarga, serta beberapa wadah yang dibentuk untuk pemberdayaan.

Nama Rumah Baca Mejikuhibiniu dipilih untuk menggambarkan anggota rumah baca Mejikuhibiniu yang berasal dari berbagai warna (golongan) yang bersinergis menjadi sebuah keindahan. Keindahan ini disuguhkan untuk siapa saja yang melihatnya. Jika warna pelangi dicampur menjadi satu maka akan menjadi warna putih. Warna putih melambangkan hal-hal yang baik misalnya bisa menentramkan hati serta bisa juga membawa kedamaian.

Berikut beberapa bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan di rumah baca ini.

  1. Perpustakaan

Rumah baca ini akan dilengkapi dengan berbagai jenis koleksi buku, mulai dari buku ilmu pengetahuan hingga buku mengenai kewirausahaan serta koran. Buku ini dikumpulkan oleh pengurus rumah baca secara swadaya serta donasi dari beberapa anggota masyarakat yang peduli. Buku-buku yang ada di perpustakaan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat secara gratis, kecuali apabila buku tersebut dipinjam untuk dibawa pulang, pengurus membebani peminjam dengan dana perawatan buku yang terjangkau oleh masyarakat. Kedepan, koleksi buku ini akan dilengkapi dengan perpustakaan virtual dengan menggunakan teknologi yang ada.

  1. Kajian ilmu

Rumah Baca Mejikuhibiniu tidak hanya dipergunakan sebagai tempat untuk mendapatkan berbagai jenis buku yang dibutuhkan oleh anak, remaja dan masyarakat umum, secara rutin pengurus rumah baca akan menjadwalkan forum kajian ilmu, bedah buku hingga diskusi terkait berbagai macam permasalahan yang ada di masyarakat.

  1. Pelatihan

Keberadaan rumah baca ini diharapkan tidak hanya menjadi referensi keilmuan bagi masyarakat, akan tetapi juga bisa dipergunakan untuk menambah ketrampilan. Secara rutin pengurus akan menjadwalkan berbagai kursus yang bisa diikuti masyarakat secara gratis. Contohnya seperti program English days pada hari Selasa, pengurus mewajibkan kepada siapa saja yang masuk ke dalam perpustakaan untuk berbahasa Inggris. Tidak perlu khawatir, karena pengurus juga menyiapkan pendamping yang akan mendampingi siapa saja untuk belajar bahasa Inggris. Selain itu secara rutin, pengurus akan menjadwalkan berbagai macam pelatihan, mulai dari pelatihan membuat website, pelatihan kewirausahaan hingga pelatihan kehumasan. Pada saat-saat tertentu, pengurus akan mendatangkan narasumber untuk memberikan pelatihan kepada masyarakat.

  1. Klinik Psikologi

Keberadaan rumah baca ini diharapkan bisa menjadi bagian dari penyelesaian permasalahan yang dihadapi masyarakat khususnya anak muda dan keluarga. Karena itu, pengurus mempersiapkan sebuah klinik keluarga/psikologi dimana masyarakat bisa memanfaatkannya untuk berkonsultasi seputar permasalahan hidup yang dihadapi. Beberapa psikolog serta pemerhati sosial dan pendidikan sudah menyatakan bergabung dengan Rumah Baca Mejikuhibiniu.

  1. Sosialisasi lingkungan hidup

Tidak melupakan kewajiban untuk melestarikan lingkungan, secara rutin Mejikuhibiniu akan menggelar sosialisasi lingkungan hidup terhadap pengunjung. Tidak hanya melalui brosur, pamphlet dan kalimat-kalimat ajakan melestarikan lingkungan, di rumah baca ini akan diprogramkan secara rutin pengajian bertema lingkungan akan dilaksanakan ditempat ini. Selain itu, pengurus akan mengajak setiap pengunjung untuk lebih berdisiplin dalam membuang sampah.

  1. Wadah Organisasi

Mejikuhibinu menjadi wadah organisasi bagi anak-anak, generasi muda, orang tua dalam mengembangkan SDM melalui beberapa organisasi sayap. Salah satunya wadah bagi penulis serta pecinta buku untuk mengembangkan keahliannya.

Lokasi Rumah Baca

Rumah Baca berada di Jl Mawar Putih IV No 5, Desa Sidomulyo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Email :facebook : Mejikuhibiniu Kota Batu.

rumahbacamejikuhibiniu@gmail.com

*)Disalin dari situs mejikuhibiniu

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan