-->

Arsip Ruang Toggle

Library 2.0: Generasi Kedua

Oleh Agus M. Irkham

Buku tak pernah sendiri. Ia senantiasa berkumpul dengan buku lainnya. Baik secara fisik, yang tertata di rak buku, perpustakaan, dan toko buku, maupun secara substansial (isi). Maka benar jika ada yang mengatakan buku yang terbit saat ini sejatinya merupakan hasil pembacaan atas buku yang terbit di masa lalu. Sejak kelahirannya, buku tak pernah sendirian. Setiap buku selalu lahir bersama, dan melahirkan buku-buku lainnya.

Tidak ada satu pun buku di dunia ini yang berdiri sendiri. Ia selalu menjadi bagian dari buku lainnya. Kita cenderung mengait-kaitkan/menggandengkan isi buku satu dengan lainnya. Adalah tugas penulis untuk mencari, dan menemukan ragam ucap dan ekspresi kebahasaan yang berbeda (baru) atas satu subjek pembahasan yang sama. Itu sebabnya dalam dunia perbukuan muncul istilah buku berbalas buku.

Sebagaimana lahirnya suatu teori: tesis, antitesis, sintesa; demikian pula buku. Dengan begitu, buku yang lahir saat ini, merupakan himpunan upaya manusia mencari kebenaran suatu teori, dalam tingkat yang lebih tinggi. Lahirnya suatu buku bukanlah sesuatu yang sudah jadi/final/selesai. Melainkan sedang menjadi (becoming). Maka, jangan heran, di waktu bersamaan, ada sementara pihak yang fanatik terhadap satu buku, tapi ada juga yang mengharamkannya. Sebab, dinilai sebagai bentuk pemaksaan secara halus (hegemoni) satu kelas (ideologi) kepada kelas (ideologi) lainnya.

Tiga Nilai Dasar

Ada beberapa nilai dasar yang harus dipahami dari kenyataan buku yang tak pernah sendiri itu. Pertama, buku mempunyai nilai di luar bentuk fisiknya. Bukti yang paling bisa dilihat dari value ini adalah penataan buku di rak buku. Mereka tidak diletakkan berdasarkan ukuran fisik (tebal-tipis, panjang-pendek, lebar-sempit), tapi berdasarkan kesamaan isi. Mereka memunyai hak yang sama untuk didaras.

Kedua, ketika satu buku diterbitkan, maka sudah dengan sendirinya membawa serta dekontekstualisasi suatu teks. Artinya, tiap pembacanya memunyai kebebasan menentukan cara pembacaan dan pemberian makna terhadap buku itu. Termasuk pilihan untuk tidak membacanya.

Ketiga, munculnya perpustakaan sebagai bentuk konsekuensi nyata perpanjangan alamiah dari upaya terus-menerus memperbesar himpunan buku (kumpulan dari kelompok-kelompok buku–terciptanya berbagai bentuk data, informasi, dan pengetahuan– yang saling bertalian satu sama lain).

Mengingat perpustakaan, awalnya merupakan wadah bagi buku yang tak pernah sendiri, otomatis ia menjadi lembaga yang bersifat terbuka pula. Terbuka bagi pembaca buku yang memunyai latar belakang sosial, ekonomi, budaya, minat dan ketertarikan berbeda.

Perpustakaan diharapkan menjadi institusi budaya. Tempat bagi tiap orang untuk mengembangkan dan memelihara budaya yang berbasis pada tulisan. Perpustakaan menjadi tujuan orang-orang yang ingin menimba nilai-nilai penting dari sebuah budaya. Ia harus menjalankan fungsi memproduksi, menjaga, dan menyebarluaskan nilai-nilai budaya membaca.

Selain itu, perpustakaan hendaknya juga berfungsi sebagai memori kolektif. Sebuah kenangan bersama yang digunakan oleh anggota masyarakat untuk mempertahankan warisan kebudayaan (cultural heritage) mereka. Semua orang memunyai kesempatan yang sama dalam membaca hal yang sama (Laxman Pendit, Mata Membaca Kata Bersama, 2007; 135)

Namun, perpustakaan-perpustakaan milik pemerintah yang ada baik di tingkat kabupaten dan provinsi, belum sepenuhnya berfungsi demikian. Perpustakaan dikelola lebih sebagai tempat menyimpan buku. Pustakawannya pun tidak berinisitif mengambil posisi sebagai penggerak utama (prime mover) kerja-kerja kreatif program keberaksaraan. Perpustakaan ditempatkan hanya sebagai pendukung teknis dari institusi lain. Bukan menjadi sesuatu yang ”otonom”.

Dari sinilah mulai muncul gerakan minat baca (dan tulis) dari komunitas literasi. Basis gerakan komunitas literasi biasanya berupa pembentukan perpustakaan. Hingga disebut sebagai perpustakaan komunitas. Perpustakaan komunitas adalah gerakan keberaksaraan yang berpamrih menghilangkan batas antaranggota masyarakat dalam membaca, dan mengembalikan fungsi perpustakaan sebagai tempat ke mana seseorang dapat memeroleh kembali haknya untuk membaca buku yang ingin dibacanya. Pada titik ini, perpustakaan komunitas hendak mengembalikan kemerdekaan fungsi dan peran perpustakaan itu sendiri.

Generasi kedua

Selain bermekarannya berbagai perpustakaan komunitas, perkembangan perpustakaan (wadah buku yang tak pernah sendiri) ditandai pula dengan pergeseran sistem simpan dan temu-kembali, yang semula manual (katalog, koleksi, dan pelayanan berbasis atom/kertas) berubah menjadi digital/otomasi (berbasis image/byte/sistem komputer). Cara pertama dapat kita sebut sebagai perpustakaan generasi pertama. Sesudahnya bisa disebut sebagai perpustakaan generasi kedua (library 2.0).

Ciri paling kentara dari library 2.0 adalah terjadinya relasi interaktif, multiarah, dan partisipatif antara pengguna dan pustakawannya, serta sistem kerja dan koleksi yang bersifat kolaboratif (dari banyak sumber) nan dinamis. Pada titik ini, perpustakaan generasi kedua menjadi wadah paling ideal bagi himpunan buku yang tak pernah sendiri itu. Praktik library 2.0 di Indonesia dapat ditandai dengan mulai berkembangnya software sistem otomasi perpustakaan (SOP). Baik yang bersifat gratis (open source, seperti ”Senayan” dan ”Athenaeum Light”) maupun yang berbayar.

Library 2.0 mensyaratkan adanya pustakawan yang melek teknologi, bersahabat (friendly), mau berbagi, gaul, aktif di situs jejaring sosial (facebook, friendster), mahir menulis, sekaligus narsis. Dalam logika library 2.0, upaya ”menjual” citra diri berada dalam satu tarikan napas dengan tujuan memasarkan perpustakaan. Oleh karenanya tiap pustakawan wajib mempunyai blog/website pribadi.

Muncul pertanyaan-sangkaan klise: siapkah para pustakawan dan perpustakaan di Indonesia (terutama perpustakaan pemerintah) menghadapi perubahan tersebut? Saya kira, daripada sibuk menjawab pertanyaan itu –yang besar kemungkinan pasti bersifat reaktif sekaligus mencari pembenaran/pemakluman– lebih baik mereka segera insaf. Bergegas melakukan transisi kelembagaan, menyangkut sistem, keterampilan (skill) dan sikap (atitude).

*) Agus M. Irkham, Instruktur Literasi Forum Indonesia Membaca!

Diunduh dari Harian Jawa Pos Edisi 19 Juli 2009 dengan judul “Lubrary 2.0”

Taman Baca Masriyatul Ilmi Jombang

Oleh Fahrudin Nasrulloh

Sejauh mana tradisi literasi atau budaya membaca dan menulis bagi anak-anak dapat ditumbuhkan di Jombang? Barangkali hanya beberapa gelintir yang ada di kota santri ini. Salah satunya adalah Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Masriyatul Ilmi di Keboan, Ngusikan, Jombang, yang diasuh oleh Nanik Masriyah dan Lilik Zaenab.

Taman Baca Masriyatul Ilmi Jombang

Taman Baca Masriyatul Ilmi Jombang

Sehubungan dengan itu, sejumlah pegiat dari Komunitas Lembah Pring (KLP) Jombang, yang diketuai Jabbar Abdullah, mengunjungi TBM ini pada Minggu, 1 Maret 2009. Selain bergiat di dunia sastra-budaya, KLP juga mengembangkan jaringan dengan berbagai pihak untuk membudayakan tradisi literasi. Inspirasi ini ditimba saat KLP mengikuti even Ode Kampung 3 di Komunitas Rumah Dunia-nya novelis Gola Gong, di Serang, Banten, pada akhir Desember 2008.

TBM Masriyatul Ilmi secara terbuka didirikan Nanik Masriyah pada 1 Januari 2008, meski sebelumnya TBM ini secara non-formal telah ramai dikunjungi sejak sekitar tahun 2000. Bu Nanik, yang juga adalah guru di SMPN Kudu ini, sebenarnya sudah lama bercita-cita bagaimana minat membaca dan menulis ditanamkan sejak dini pada anak. Semenjak 2006, ia juga dibantu dua saudaranya: Muji Murnining Ati dan Mentrik Sulih Puji Rahayu, untuk memasyarakatkan TBM ini yang pada mulanya hanya semacam kelompok belajar biasa.

Jumlah anak-anak yang menjadi anggota resmi adalah 301 anak. Namun jika ditotal secara keseluruhan bisa mencapai 600-an anak. Tiap sore TBM ini berjubel dikunjungi, terutama pas hari Minggu. Bu Nanik, yang alumnus 1993 Sastra Indonesia Universitas Wijaya Kusuma Surabaya ini, sangat terkesan dan menimba inspirasi langsung dari tradisi membaca masyarakat Jepang di mana pada 1994 ia terpilih menjadi salah satu (dari 27 orang/propinsi) peserta Pemuda Karang Taruna (bidang agrikultura) se-Indonesia untuk studi banding ke negeri Samurai itu selama 11 bulan. Juga, di negeri yang sama, pada 1998, ia termasuk dari 3 peserta yang mewakili Indonesia untuk mengikuti semacam “pelatihan pendampingan” bagi ibu-ibu berprestasi di Indonesia.

TBM Masriyatul Ilmi dapat menjadi percontohan, dengan bukti nyata bagaimana tradisi membaca bisa menjadi suatu “Gerakan Literasi” bahkan di kampung kecil seperti Keboan. Rata-rata mereka berasal dari anak-anak SD, SMP, dan SMA, yang bersekolah di Kudu, Ngusikan, Gedeg, dan Ploso. Semangat dan minat besar mereka terus berkembang pesat di mana para pembinanya juga menyuport dan berupaya terus menambah bahan bacaan. “Yang paling ramai, mereka mengunjungi TBM ketika masa libur sekolah. Bahkan kami sempat bingung campur bangga saat koleksi perpustakaan kami ludes dipinjam,” cerita Bu Zaenab. “Karena itu, kami kerap pula merogoh kocek sendiri untuk menambah koleksi perpus kami,” tambah Bu Nanik.

TBM ini terbuka untuk umum di waktu sore mulai pukul 15.00-17.00 WIB di hari Senin-Sabtu, dan pada Minggu atau hari libur nasional mulai pukul 08.00-13.00 sampai 15.00-17.00 WIB. Sejumlah buku yang paling diminati anak-anak di TBM Masriyatul Ilmi adalah tetralogi Andrea Hirata, cerita detektif Conan, novel Ayat-ayat Cinta, cerita bergambar, dan puluhan fiksi islami remaja maupun dewasa.

Dalam kesempatan itu, ketua KLP Jabbar Abdullah, menyerahkan cinderamata berupa 1 novel berjudul Dunia Kecil karya A. Syauqi Sumbawi, beberapa buletin komunitas, dan Peta Ibu Kota Majapahit yang dikopi-ulang dari buku babon Bukti-bukti Kejayaan Majapahit Muncul Kembali (penyusun Prof. Moendardjito dkk). KLP juga akan mengupayakan bagi TBM ini (juga TBM-TBM lain di Jombang) untuk mendapatkan sumbangan bahan bacaan dengan membuka jaringan ke banyak pihak, baik dari perorangan, penerbit, komunitas literasi, maupun dari instansi terkait. “Kunjungan KLP kali ini cukup berkesan, mereka akan membantu kami secara berkala, terutama dalam hal pengembangan mading, suplai buku, jurnalistik, dan pelatihan bercerita dan menulis cerita,” tutur Bu Nanik.

Dua hari kemudian, 3 Maret 2009, KLP telah mengantongi donator buku dari penerbit Pustaka Pujangga, Lamongan. Direktur penerbit ini, Nurel Javissyarqi, menyumbang 18 buku dan 3 jurnal kebudayaan The Sandour. TBM Masriyatul Ilmi sangat berterima kasih atas sokongan yang tak disangka-sangka tersebut. “Kami juga terbuka bagi penyumbang buku lain. Dan kami berharap TBM lain juga sama-sama bergeraka seperti kami,” pungkas Bu Zaenab.

*Fahrudin Nasrulloh, pegiat Komunitas Lembah Pring Jombang

Dinukil dari Radar Mojokerto, Serambi Budaya, Minggu, 15 Maret 2009

John Wood: Antara Microsoft dan Ribuan Perpustakaan

Titik cerita, perubahan, dan pilihan hidup itu dimulai dari satu putaran perjalanan liburan ke Himalaya. Sesaat menjadi ”Brahman”, menjauh dari kejaran kerja yang nyaris menyita seluruh waktunya.

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in Nepal

Room to Read's John Wood '89 distributing books to eager readers in Nepal

John Wood adalah seorang eksekutif perusahaan komputer terbesar sejagad, Microsoft, yang membawahi pemasaran di kawasan Asia Pasifik. Di Himalaya, 21 hari ia memaksakan diri putus dari matarantai kapital yang menjelujuri perhatiannya tiada henti: tanpa e-mail, dering panggil telepon, pertemuan, dan pulang-pergi kerja.

Bertahun-tahun rutinitas itu dijalankannya: gaya hidup komando seorang prajurit korporat di mana liburan hanya buat orang-orang yang lemah. Dalam falsafah parakomando korporat itu, prajurit kapital sejati adalah mereka yang terus bekerja di akhir pekan, terbang ratusan ribu mil, membangun kerajaan-kerajaan mini demi kebesaran patung raksasa Microsoft.

Tapi kini ia di Himalaya. Yang ia kerjakan adalah berjalan dan terus berjalan menyusur jalanan setapak menuju ketinggian. Dingin. Sepi. Juga buku catatan harian—yang kelak menjadi bahan mentah untuk biografi perjalanannya yang sangat terkenal: Leaving Microsoft to Change the World.

Buku harian itu menjadi semacam pandu rekam setiap langkah kaki yang tertanam di ceruk pasir putih yang dikepit salju. Di buku harian itu pula ia dirasuki suara-suara halus filsuf Soren Kierkegaard: ”Tak ada sesuatu pun yang begitu ditakuti setiap manusia seperti halnya mengetahui seberapa besar dia mampu melakukan dan menjadi.”

Dalam karavan itu ia terus bertanya pada hatinya yang disesap lengang. Dan pasase Dalai Lama di The Art of Happiness yang dikantunginya memberinya secupet rasa damai: “Ketika kita memberikan sesuatu, kita sebenarnya memperoleh sesuatu balasannya: kebahagiaan.

Jika kita harus menggunakan uang kita sekadar untuk membeli barang-barang buat diri kita sendiri, tak akan ada akhirnya. Memperoleh sesuatu tak akan menghasilkan kebahagiaan sejati, sebab kita tak akan pernah memiliki perahu yang paling besar, mobil paling bagus, dan akan terikat pada siklus materialis yang abadi.

Tapi, kalau kita memberikan sesuatu bagi mereka yang kurang beruntung, kita tak akan memperoleh sesuatu sebagai balasan kecuali perasaan hangat dalam hati kita dan pengetahuan yang kita miliki dalam otak kita bahwa kita telah menjadikan dunia sebuah tempat yang lebih baik.”

Keramahan memang diterimanya dari setiap warga yang ditemuinya. Tapi di balik keramahan itu, tersembul ironi. Di sana tertanam angka buta huruf dengan angka yang nyaris absolut. Di sana, di jalur Annapurna, di dukuh Bahudanda yang dilewati Sungai Marsyendi, memang terdapat satu sekolah.

Di pagi itu John diajak berkeliling sekolah berlantai tanah yang terlalu sesak buat 450 anak “belajar” di dalamnya. Dan John masgul di bawah plang dengan cetakan yang sangat meyakinkan: “Perpustakaan Sekolah”. Karena apa yang disebut perpustakaan itu hanyalah sebuah ruang lengang tanpa buku. Ruang yang seperti diciptakan dengan nyala harapan bahwa suatu ketika ada peri yang menitip buku-bukunya buat anak-anak Bahudanda.

Dan momentum saat John pulang itulah meluncur sebaris harapan yang dikatakan sang kepala sekolah yang kelak membalik posisi berdiri John Wood di atas pentas karirnya: “Barangkali, Pak, suatu hari Anda akan kembali dengan buku-buku.”

Dan sepanjang perjalanan, John membayangkan datangnya hari itu: Menaikkan beberapa ratus buku ke punggung yak-yak sewaan dengan barisan panjang.

Tapi setiap pilihan membutuhkan keputusan yang berani; sebagaimana tradisi Microsoft yang dibangun dua doktrin yang mesti diresapi setiap prajurit korporatnya: ”Jadilah besar atau pulanglah” dan ”Tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Dan di antara harapan akan hadirnya buku-buku di sebuah dukuh di balik-balik batu di ketinggian bumi yang jauh dari jangkauan peradaban modern, John Wood mengambil ikrar: Meninggalkan Microsoft yang telah memberinya segala-gala. Gaji yang memberinya angka tabungan yang berlimpah untuk jaminan hari tua, prestise, jaringan pertemanan mahaluas, serta jabatan mentereng sebagai eksekutif—jabatan yang didamba begitu banyak petualang kerja.

John memilih menjadi kurir buku-buku buat anak-anak Nepal—dan juga negeri-negeri yang terpental dari pergaulan dunia karena dikeram kebodohan dan kemiskinan. Atas pilihan itu John tidak hanya melihat tabungannya meluncur ke titik nol, tapi juga kehilangan pacar yang tak memahami jalan pikirannya.

Tak banyak kita temui sosok yang berani seperti John Wood ini. Yang mengikuti keyakinannya yang menyala-nyala bahwa jalan buku adalah serupa lorong harapan yang membuka jalan pembebasan.

Mula-mula diteguhkannya dirinya sendiri: “Saya membangun sekolah dan perpustakaan di komunitas-komunitas miskin di Nepal.” Dia tahu, untuk mengajak orang lain bertindak yang sama, maka ia harus terlihat meyakinkan. Yang diyakinkannya pertama kali adalah orang tuanya dan tetangga-tetangganya di San Fransisco. Gelombang pertama ini berhasil mengumpulkan banyak buku dan menjadi langkah pertama John mewujudkan mimpinya: Memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya.

Langkah itu membawa John mendirikan lembaga amal yang menaungi dirinya dan barisan panjang yak-yak pengangkut buku. Ia menamai lembaga amal itu dengan ROOM TO READ atau Ruang Baca. Bagi John, salah satu keterampilan yang mutlak dimiliki oleh lembaga amal adalah kemampuan menjual visinya, model bisnisnya, dan program-programnya kepada donatur-donatur potensial.

Yang lebih penting lagi adalah perencanaan keuangan yang terbuka dan jangan sekali-kali membiarkan cash flow negatif. Ketatnya John dalam soal pengurusan kapital ini lantaran doktrin pendidikan yang sudah dijalaninya untuk memelototi model-model cash flow serupa intensitas seorang siswa Rabbini mempelajari Kitab Taurat.

Selain itu, John amat berpantang membangun lembaga amalnya dengan teknik “Tangisan Panjang Sally Stuthers”. Teknik ini—dan biasanya kerap dijual lembaga filantropik—mengeksploitasi dan memperlihatkan foto-foto anak yang dikerubungi malapetaka atau keluarga gizi yang berbaring dalam debu.

Bagi John, teknik ini alih-alih mengangkat harkat kaum miskin, tapi justru merendahkan martabatnya. Room To Read mengambil jalan sebaliknya. Memberi obor harapan dan pendar optimisme dengan menampilkan foto-foto anak dari sebuah pusat kota kecil dengan memakai toga kelulusan yang kedodoran, gambar seorang gadis kecil yang sudah bisa menyunggingkan senyum setelah operasi sumbing, atau potret petani-petani di lahan tandus Honduras yang bangga dengan sumur barunya.

Prinsip itu dipegang kuat oleh John dan tim yang dibangunnya. Di halaman muka situsnya, www.roomtoread.org, memang ditampilkan angka-angka yang menandai ketunaan: “There are over 76 million children of primary-school age who are not enrolled in school. Of the 774 million adults in the world who cannot read or write, 64 % are women. Of the world’s 76 million children out-of-school children of primary age, over 80% live in rural areas”. Namun foto-foto di latar situs itu adalah anak-anak sekolah dasar yang mengepit buku dan memperlihatkan seutas tipis senyumnya.

Room To Read memang membeber data kemiskinan, tapi bukan untuk menjual kemelaratan dan kesengsaraan, melainkan memberi arah bagi pijakan perjuangan “menumpasnya” dengan jalan buku, perpustakaan, dan ketersediaan gedung sekolah bagi anak-anak. Itu semua terwujud berkat hasrat filantropik John yang menggebu disertai keahliannya mengorganisasi sebuah tim yang bukannya anti kapital, tapi bagaimana mengelola cash-flow kapital itu dengan baik dan transparan.

Teknik itu kemudian melahirkan kepercayaan. Hanya kepercayaan yang bisa mendorong donatur-donatur yang menyebar di daratan Amerika, Eropa, bahkan Hongkong itu untuk menitipkan hartanya untuk digunakan sebagaimana mestinya.

John, dititimangsa ini, berhasil membuktikan doktrin yang diyakini oleh setiap prajurit korporat di Microsoft: “”tujuan berani akan menarik orang-orang berani”. Tapi doktrin itu kini bukan untuk kemahamuliaan patung porselen raksasa Microsoft, melainkan untuk warga dunia selatan yang papah.

John kini tak hanya membayangkan memimpin sebarisan yak-yak pengangkut buku ke puncak Himalaya, tapi juga ia berhasil memimpin sebuah tim dan sejumlah besar donatur potensial membangun lilin kecil literasi. Dan pastinya John telah tunaikan janji kepada kepala sekolah Bahudanda. John pulang. Tapi ia tak hanya pulang dengan membawa buku-buku di atas punggung yak-yak, tapi juga ia dan Room To Read hingga 2009—atau sesudah 10 tahun berjuang dari titik nol di ketinggian Himalaya—telah berhasil membangun 8.500 perpustakaan dan ribuan sekolah. Bukan hanya di Nepal, tapi Vietnam, Srilanka, dan Kamboja. (Muhidin M Dahlan)

Tulisan ini disobek dari buku Para Penggila Buku terbitan Indonesia Buku

Equinox, Mengglobalkan Indonesia Lewat Buku

Oleh BI Purwantari

kretek

Zaman globalisasi saat ini memungkinkan berbagai jenis komoditas masuk pasar dunia, tak terkecuali komoditas kebudayaan seperti buku. Di Indonesia sendiri, ribuan buku karya dan tentang negeri lain masuk dan dikonsumsi jutaan penduduk. Sebaliknya, belum banyak buku karya anak negeri ataupun tentang Indonesia yang mengisi rak-rak buku warga dunia.

Salah satu penerbit yang berupaya membawa Indonesia masuk ke dalam perbincangan komunitas dunia adalah Equinox. Didirikan tahun 1999 oleh Mark Hanusz, seorang warga Amerika Serikat, yang menjadi pemilik sekaligus managing editor, Equinox menerbitkan puluhan buku karya penulis asing tentang Indonesia ataupun beberapa karya penulis dalam negeri. Tema-tema buku sangat bervariasi, mulai dari tema akademik, seperti analisis ekonomi, politik, ilmu sosial di Indonesia, demografi, militer, kebijakan luar negeri Indonesia, hingga tema sastra, biografi, sejarah organisasi serta produk kebudayaan Indonesia, seperti rokok keretek, kopi, ataupun seluk-beluk kehidupan warga Jakarta.

Untuk bisa masuk pergaulan global, Equinox menerbitkan karya orang Indonesia dalam bahasa Inggris, selain puluhan buku yang memang ditulis dalam bahasa Inggris. Seluruh buku terbitannya juga dijual lewat toko buku terbesar dunia, yaitu situs www.amazon.com, selain beberapa distributor dunia dan institusi akademik, seperti Institute of South East Asian Studies (ISEAS). Ragam tema dan isi yang menarik membuat cukup banyak di antara buku-buku terbitannya menjadi pembicaraan buletin, koran, dan majalah asing, seperti New York Times, Asia Observer, South China Morning Post, Straits Times, Far Eastern Economic Review, Time Asia, The Asian Review of Books, dan International Institute for Asian Studies.

Namun, Equinox tetap menyediakan beberapa judul yang diterbitkan dalam bahasa Inggris ataupun Indonesia, agar lebih banyak warga Indonesia ikut membacanya.

Dari saham ke buku

Awalnya adalah tahun 1998, ketika Indonesia dihantam krisis ekonomi. Saat itu Mark Hanusz telah bekerja di Swiss Bank Corporation (SBC) selama tujuh tahun dan dua tahun ditugaskan di Jakarta menangani penjualan saham. Krisis mengakibatkan perdagangan saham sepi, tak ada orang mau menjual atau membeli saham. Alih-alih kembali ke tanah airnya, Mark Hanusz memutuskan tetap tinggal di Indonesia. Ia pun lalu melakukan riset tentang keretek dan menuliskannya dalam bentuk buku.

”Sudah sejak lama saya ingin sekali menulis buku. Saya kira itu keinginan semua orang. It’s human nature,” ceritanya. Ia pun memulai riset tentang rokok keretek yang membawanya ke berbagai tempat di Indonesia bahkan hingga ke Belanda, terutama Tropen Museum di Amsterdam dan Leiden. ”Waktu itu banyak bisnis mati di sini, tetapi industri rokok tidak. Ia justru paling laku. Dan keretek itu tidak ada di AS, tidak ada di Eropa, atau negeri-negeri lain. Hanya ada di sini, khas Indonesia,” papar laki-laki kelahiran 26 Juli 1976 ini.

Totalitas menulis buku dibuktikan Mark Hanusz dengan bekerja full-time dari pagi hingga malam sejak konsep hingga akhir penulisan selama 18 bulan. Ia mendatangi keluarga Nitisemito, pelopor industri rokok keretek Indonesia, untuk menuliskan sejarah awal produksi massal keretek di Kudus, Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkeliling ke 60 perusahaan rokok yang ada di Jawa Tengah dan Jawa Timur serta pergi ke Sulawesi untuk meneliti cengkeh yang digunakan di dalam produksi keretek. ”Saya pegang semua pekerjaan saat itu, wawancara, mencari foto-foto, menulis, mengedit, dan membiayai semua proses hingga penerbitan. Tidak ada sponsor, tidak ada penerbit. I was crazy at that time,” urainya lagi.

Penerbitan buku tentang keretek itulah yang menjadi awal mula berdirinya Equinox Publishing. Buku berjudul Kretek: The Culture and Heritage of Indonesia’s Clove Cigarettes diluncurkan pada 21 Maret 2000 di Jakarta yang dimeriahkan dengan peragaan pembuatan rokok kelobot, rokok dengan pembungkus daun jagung, dan sekaligus sebagai pengumuman tidak resmi tentang Equinox. ”Sebetulnya saya tidak pandai menulis. Ada dua buku lagi yang saya tulis bersama teman setelah Kretek, tetapi tidak sebagus Kretek. Namun, saya kira saya lebih pandai mengelola bisnis buku daripada menulis buku,” jelas Mark Hanusz dengan lugas.

Tentang Indonesia

Selama delapan tahun, Equinox telah menerbitkan 74 judul buku yang menjabarkan berbagai aspek tentang Indonesia. Terbagi atas kategori fiksi, nonfiksi, illustrated books, buku-buku akademik, dan seri klasik Indonesia, Equinox menampilkan ragam persoalan dengan berbagai sudut pandang, yang ditulis oleh orang Indonesia ataupun asing.

Beberapa buku nonfiksi yang ditulis oleh Ken Conboy, seorang konsultan manajemen keamanan yang telah tinggal di Indonesia sejak 1992, misalnya, memaparkan sejarah serta seluk-beluk lembaga militer Indonesia, baik pasukan elite di ke-empat angkatan, Kopassus, ataupun lembaga intelijen negara. Buku lainnya yang ditulis oleh Wimar Witoelar mengungkap hal-hal yang terjadi saat ia menjadi Juru Bicara Presiden Abdurrahman Wahid.

Pada aspek lain, terbit juga buku tentang pembunuhan wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin, berjudul The Invisible Palace yang ditulis Jose Manuel Tesoro, seorang koresponden majalah Asiaweek. Buku ini mendapat predikat buku terkemuka dalam Kiriyama Award pada tahun 2005, sebuah institusi yang mendorong terbitnya karya-karya untuk menumbuhkan dialog kebudayaan antarbangsa di kawasan Pasifik dan Asia Selatan.

Ulasan cukup banyak diberikan kepada buku Equinox lainnya yang berjudul Jakarta Inside Out, karya Daniel Ziv, mantan Pemimpin Redaksi djakarta!. ”Berbeda dengan buku-buku tentang wisata untuk para turis, Daniel Ziv menyajikan aspek yang tidak klise tentang sebuah kota dengan bahasa populer, foto-foto dengan sudut pengambilan gambar yang tidak biasa, tetapi tetap berbasis pada pengamatan yang mendalam,” tulis majalah Time Asia. Sementara itu, Far Eastern Economic Review menyebut buku Ziv, ”Berhasil memadukan gambaran tentang karakter sebuah Ibu Kota negara dengan format baru gaya penulisan pop-art.”

Gambaran tentang Indonesia dilengkapi Equinox dengan penerbitan kembali buku-buku yang tidak lagi dicetak, tetapi memiliki arti penting dalam pembentukan pemahaman tentang Indonesia. Terdapat 16 judul yang telah terbit dan dikategorikan sebagai Classics Indonesia. Sebagian besar di antaranya pernah diterbitkan oleh Cornell University, AS, seperti buku Language and Power dari Benedict Anderson yang pernah terbit tahun 1990, Army and Politics buah pena Harold Crouch dan terbit pertama kali tahun 1978 serta pernah dilarang beredar di sini, ataupun buku Villages in Indonesia karya Koentjaraningrat yang pernah terbit tahun 1967.

Dalam peluncuran tujuh judul seri Classics Indonesia pada Maret 2007, salah satu buku, yaitu The Rise of Indonesian Communism karya Ruth T McVey, dicekal oleh Bea dan Cukai. ”Buku itu dicetak di luar negeri. Ketika dibawa masuk ke Indonesia, ditahan oleh Bea dan Cukai. Kurang jelas alasannya. Sampai saat ini tidak ada yang memberi tahu saya kenapa buku itu tidak bisa keluar dari Bea dan Cukai,” jelas Mark Hanusz.

Ketika diajukan kemungkinan komunisme sebagai alasan pencekalan, ia menjawab sambil menunjukkan keheranannya, ”Buku itu adalah buku sejarah, bukan buku yang mempromosikan ideologi komunisme. Dan semua orang sudah tahu bahwa memang dahulu di Indonesia ada partai komunis yang besar sekali. Pada saat peluncuran itu Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh mengatakan bahwa buku itu boleh beredar di sini.”

Margin kecil

Sebagai penerbit berbahasa Inggris yang mengkhususkan diri pada buku-buku mengenai Indonesia, Equinox mendistribusikan sebagian besar buku-bukunya keluar Indonesia. Harga banderolnya pun dipasang sesuai standar pasar dunia, mulai dari 8 dollar AS hingga 75 dollar AS. ”Penerbit buku Indonesia yang agresif sekali adalah ISEAS, sementara Oxford Asia sudah tutup dan penerbit lainnya tidak banyak,” jelasnya lagi. Dengan kata lain, di dalam pasar buku Indonesia di dunia, Equinox hampir-hampir tidak memiliki saingan.

Hingga kini buku Equinox yang cukup banyak terjual adalah novel karya Pramoedya Ananta Toer yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Tales from Djakarta sekitar 4.000 eksemplar. Buku lainnya, Jakarta Inside Out, terjual 3.000 eksemplar dalam kurun waktu empat bulan. ”Awalnya kami mencetak di luar negeri, yaitu di AS dan Inggris. Sekarang semua buku kami cetak di sini dan Equinox sudah mengeluarkan banyak buku. Jadi bisnis ini sudah lumayan,” paparnya tanpa bersedia menyebutkan omzet yang didapat setiap tahun.

Meskipun demikian, Equinox memiliki komitmen lain, yaitu turut melestarikan lingkungan hidup, terutama hutan Indonesia. Oleh karena itu, sejak awal penerbitan buku seri Classics Indonesia, Equinox menggunakan kertas daur ulang yang diimpor dari Denmark. ”Ongkosnya memang lebih mahal sehingga margin profit kecil, but it’s good for the environment,” ujarnya.

Untuk menyiasati ongkos yang mahal tersebut, Equinox menerapkan sistem print on demand (POD), yaitu mencetak sesuai permintaan. Hal ini akan menghindari buku dengan ongkos produksi lebih mahal menumpuk di gudang. Hingga saat ini buku Java in A Time of Revolution karya Ben Anderson merupakan buku dari kategori ini yang paling banyak diminati.

* Disalin dari Harian Kompas Edisi 12 Mei 2008

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Sumenep

Oleh M. Mushthafa

Halaman Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Halaman Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep—yang merupakan salah satu unit perpustakaan di lingkungan Pondok Pesantren Annuqayah yang melayani tiga satuan pendidikan, yakni Madrasah Ibtidaiyah 3 Annuqayah, Madrasah Tsanawiyah 3 Annuqayah, dan SMA 3 Annuqayah (3 unit pendidikan ini total memiliki 400 murid.

Adapun Pesantren Annuqayah memiliki 6.000 santri/pelajar, yang 4.000 di antaranya menetap/mondok)—dalam dua tahun terakhir ini mencoba melakukan pembenahan dan pengembangan secara lebih serius.

Pembenahan dimulai pada awal tahun pelajaran 2006/2007. Awalnya, kondisi Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah lebih tepat jika disebut gudang. Di samping gedungnya yang sangat sederhana dan “konvensional”, koleksi dan kegiatannya nyaris tak berkembang.

Langkah pertama yang dilakukan adalah dengan mengubah penampilan perpustakaan agar menjadi menarik minat siswa untuk berkunjung. Interior dan tata desainnya dipermak. Catnya tidak putih sebagaimana ruang kelas pada umumnya.

Dengan langkah ini, perpustakaan diharapkan dapat menarik untuk dikunjungi. Hasilnya, dengan jam buka 07.30-11.30 dan 14.00-16.00 setiap hari, dalam satu bulan pertama pengunjung perpustakaan berkisar antara 80-250 orang per hari.

Untuk mempertahankan grafik kunjungan siswa, ada dua langkah utama yang menjadi perhatian pengelola Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah. Yang pertama berkaitan dengan pengadaan koleksi bahan kepustakaan.

Dalam masalah pengadaan koleksi ini, di tengah situasi minimnya ketersediaan alokasi dana sekolah untuk perpustakaan terutama di sekolah-sekolah swasta di pedesaan, pemilihan koleksi pustaka harus efektif dan tepat sasaran.

Pengelola perpustakaan harus cermat memanfaatkan alokasi dana yang tersedia untuk mendapatkan koleksi yang bagus, tepat sasaran, dan relatif murah.

Untuk tujuan maksimalisasi pemilihan koleksi bahan pustaka di perpustakaan sekolah, dibutuhkan wawasan kepustakaan yang cukup bagus. Perkembangan mutakhir dunia perbukuan juga harus terus diikuti.

Kebijakan penambahan koleksi perpustakaan harus selaras dengan tujuan mendasar perpustakaan sekolah, yakni sebagai pendukung kegiatan pembelajaran.

Untuk itu, secara sederhana perpustakaan sekolah mestinya bisa menjawab pertanyaan semacam ini: apakah di perpustakaan sekolah ini sudah ada buku-buku yang dapat membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, sejarah, fisika, biologi, ekonomi, sosiologi, dan seterusnya?

Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi pemandu bagi perpustakaan untuk menambah koleksi-koleksi bukunya.

Dalam praktiknya, pengelola perpustakaan bisa meminta masing-masing guru pelajaran untuk mengajukan semacam permintaan, kira-kira buku apa yang perlu dikoleksi perpustakaan madrasah.

Jika misalnya si guru tidak bisa mengajukan judul, bisa dengan gambaran tentang buku macam apa yang diperlukan untuk mendukung mata pelajaran yang bersangkutan, sehingga selanjutnya pengelola perpustakaan yang mengusahakan.

Peluang untuk melakukan integrasi aktivitas kelas dengan unit perpustakaan tampak semakin terbuka jika kita mempertimbangkan mulai semakin semaraknya penerbitan buku-buku ilmiah populer yang muatannya cukup dapat dicerna oleh siswa dan disajikan dengan pengemasan yang tak lagi konvensional.

Sejumlah buku ilmiah populer yang belakangan terbit menggunakan visualisasi yang menarik, atau disajikan dengan gaya bertutur yang mudah dipahami, terutama oleh anak usia sekolah.

Selain pertimbangan kesesuaian dengan tujuan keberadaan perpustakaan sekolah, penambahan koleksi juga mempertimbangkan buku-buku yang menarik dan menggugah untuk dibaca, terutama oleh mereka yang minat bacanya masih lemah.

Untuk itu, pengelola Perpustakaan Madaris 3 meminta masukan dari banyak pihak tentang koleksi buku yang dapat disebut “pembangkit minat baca” ini.

Contoh buku yang masuk dalam kategori ini adalah Muhammad karya Martin Lings (Serambi), Laskar Pelangi karya Andrea Hirata (Bentang), Ganti Hati karya Dahlan Iskan (JP Books), dan sebagainya.

Keterbatasan dana membuat pengurus Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah berupaya untuk mendapatkan koleksi buku yang bagus dan murah.

Untuk itu, pengurus bekerja sama dengan alumni Annuqayah yang sedang menempuh studi di Yogyakarta pada khususnya dan kota lainnya untuk memanfaatkan momen pameran buku yang biasanya menyediakan diskon besar-besaran dari berbagai penerbit terkemuka, seperti Kelompok Gramedia, Mizan, Serambi, dan sebagainya.

Sampai saat ini, koleksi Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah terbilang masih sedikit, yakni sekitar 1000 judul dan 1200 eksemplar.

Namun demikian, dengan penambahan koleksi yang cukup mendapat perhatian khusus, ketersediaan koleksi yang tepat sasaran dan menarik ini didukung dengan langkah kedua, yakni upaya untuk menjadikan perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan aktif.

Secara reguler, Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah menyelenggarakan kegiatan-kegiatan rutin yang tujuannya adalah agar koleksi yang ada di perpustakaan dapat dimanfaatkan dengan maksimal. Tujuan lebih jauh adalah untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar, berekspresi, dan bereksplorasi.

Berikut ini kegiatan rutin yang diselenggarakan di Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah.

Pembacaan Cerpen atau Penggalan Novel
Setiap Rabu sore, ada siswa yang membacakan cerpen atau penggalan novel yang mereka pilih sendiri. Sebagai selingan, kadang ada guru yang juga membacakan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk mendorong dan mempromosikan buku menarik yang dibacakan untuk juga dibaca oleh siswa yang lain.

Setelah pembacaan, ada semacam apresiasi dan diskusi oleh peserta yang hadir. Kegiatan pembacaan cerpen ini ke depan rencananya secara terpisah akan dikembangkan menjadi Klub Buku, yakni kegiatan yang secara khusus mendiskusikan buku-buku yang sudah dibaca oleh siswa.

Apresiasi Film

Setiap Jum’at pagi (di Pesantren Annuqayah, liburan sekolah adalah hari Jum’at, bukan Minggu) paling cepat setiap dua pekan, Perpustakaan Madaris 3 menggelar acara nonton film.

Film yang diputar dipilih sedemikian rupa yang memiliki nilai edukatif, berkaitan dengan buku dan pembelajaran, atau memiliki nilai keistimewaan yang lain. Melalui kegiatan ini siswa didorong untuk belajar mengapresiasi dan menganalisis film yang ditonton.

Di antara film yang pernah diputar adalah Ca-Bau-Kan, Naga Bonar Jadi 2, The Da Vinci Code, Dead Poet Society, Freedom Writer, The Burning Season, dan sebagainya.

Klub Menerjemah

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah juga memiliki Klub Menerjemah, yang menjadi tempat siswa untuk berlatih menerjemah teks bahasa Inggris ke dalam bahasa Indonesia. Kegiatannya dilaksanakan setiap Jum’at sore.

Sejauh ini, buku yang sudah diterjemahkan adalah Nasreddin: The Clever Man dan Nasreddin: The Wise Man karya Sugeng Hariyanto (Kanisius). Teknisnya, setiap penggalan cerita dalam buku itu diterjemahkan oleh dua orang siswa, yang kemudian dipresentasikan dan dibahas bersama.

Naskah terjemahan yang sudah dibahas kemudian ditempel di Mading Raksasa (Marak) yang disediakan di lingkungan sekolah. Dan semua naskah sedang dikompilasi dan disunting kembali untuk dijadikan semacam “buku” sebagai bentuk dokumentasi.

Buku Curhat dan Catatan Pembaca Buku

Lukisan Siswa

Lukisan Siswa

Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah juga ingin mendorong agar siswa dapat berekspresi terutama dari apa yang mereka baca di perpus dan atau dapat menjadi tempat bagi siswa untuk belajar menulis.

Untuk itu, pengurus perpustakaan menyediakan Buku Curhat (Bucur) dan Catatan Pembaca Buku. Dalam Buku Curhat, anak-anak dapat berekspresi menuliskan komentar, kesan, tanggapan, tentang buku yang dibaca. Siswa juga menuliskan pertanyaan, kritik dan saran terhadap pengelola perpus dan sekolah, atau curhat masalah pribadi.

Sedangkan Catatan Pembaca Buku disediakan khusus bagi para peminjam buku koleksi khusus. Perlu diketahui bahwa sementara ini Perpustakaan Madaris 3 menggunakan sistem tertutup. Koleksi buku hanya boleh dibaca di tempat, kecuali Koleksi Khusus yang jumlahnya sekitar 250 judul.

Nah, mereka yang meminjam Koleksi Khusus ini diwajibkan untuk menuliskan pengalaman mereka membaca buku yang dipinjam dalam buku Catatan Pembaca Buku.

Respons siswa ternyata sungguh bagus. Buku Curhat dan Catatan Pembaca Buku setiap hari aktif diisi oleh siswa. Bahkan, secara tak diduga siswa secara kreatif mengisi Buku Curhat tidak hanya dengan teks, tapi dengan gambar, dekorasi yang menghiasi teks, dan ilustrasi.

Dalam beberapa kesempatan, di Buku Curhat kadang terjadi dialog antara siswa yang kadang juga direspons oleh seorang guru, baik itu menyangkut masalah pribadi atau berkaitan dengan pelajaran.

Siswa yang aktif mengisi Catatan Pembaca Buku tiap dua bulan diberi kenang-kenangan atau sovenir dari Perpustakaan.

Upaya lain untuk mendorong aktivitas perpus di antaranya adalah dengan menempelkan ulasan buku yang diambil dari media massa (internet).

Buku yang dipilih terutama buku-buku yang masih kurang mendapat perhatian dan kurang dibaca oleh siswa. Pengelola perpus mencari naskah resensi tersebut melalui internet yang dalam 8 bulan terakhir sudah dapat dinikmati di perpustakaan, meski cuma dengan 1 komputer dan belum gratis (tapi dengan tarif yang cukup terjangkau).

Selain itu, secara temporer Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah juga menggelar berbagai kegiatan pendukung yang terkait dengan kepustakaan dan atau kepenulisan, seperti Pelatihan Menulis, Pelatihan Metode Penelitian Kepustakaan, dan sebagainya.

* M. Mushthafa, Guru SMA 3 Annuqayah, Kepala Perpustakaan Madaris 3 Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep

Kathleen Azali, Campuran C2O, Library, Cinemateque, Café

C2O Library

C2O Library

Mungil dan malu-malu. Begitu lah rumah buku C2O itu. Seperti siempunya yang juga mungil dan malu-malu mempromosikan istana bukunya. Rumah buku itu terselip diantara beton-beton yang melingkupi Surabaya. Bersembunyi di sebuah rumah tua di jalan Dr. Cipto. Hanya selemparan batu dari hadapan Konjen Amerika. Sunyi, sesunyi buku-buku yang ada di dalamnya.

Adalah Kathleen Azali, gadis kutu buku yang menunggui rumah buku itu. Bermula dari ketekunannya mencari informasi dari buku, ia ingin membaginya untuk masyarakat kota Surabaya. Kathleen merasa dia banyak tak tahu tentang banyak hal. Karenanya ia susuri buku-buku untuk membuka jendela pengetahuannya. Dan diraupnya segala macam buku. Dari sejarah, filsafat, anthropologi, sastra, saint, sampai komik dan dunia anak. Buku-buku itu membuatnya asyik di dunia kecil sarat informasi. Dan ia tak mau beranjak. Sunyi adalah kawannya. Dalam sunyi itu ia begitu benderang. Karena buku menyinarinya.

Istana itu pun dibangunnya dengan senyap. Rumah bagi buku-buku kesayangannya. Ia manjakan betul buku-bukunya dengan kasih sayang dan kecintaan penuh. Seperti ibu mengasuh anak-anaknya. Kamar dan perabot ia sapu dengan warna-warna ceria dan tertata apik. Jendela dan pintu dibukanya lebar-lebar hingga udara segar memenuhi ruang. Makanan dan minuman ringan ia sediakan di sudut. Sebuah televisi dan DVD player ia tambahkan di tengah ruangan. Dinding halaman ia jadikan kanvas karya-karya komikus muda Surabaya yang bersembunyi di bawah tanah. Menyuarakan pemberontakan pada sistem sosial dan kegelisahan anomali kekuasaan.  Ruang kosong di samping rumah ia sediakan untuk ajang pameran dan kegiatan budaya seputar buku, film, dan seni. Rumah buku itupun menjadi wadah yang lebih luas, sebuah ruang budaya publik urban kota niaga.

Menampung kebutuhan informasi tentang seni dan buku di Surabaya, C2O menyimpan 3000 buku fiksi dan non fiksi dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Juga 700 film klasik yang selalu diputar setiap sabtu pukul 4 sore. Disinilah biasanya komunitas film indie dan pecinta film klasik mendiskusikan film dengan keseriusan tanpa melepas jiwa muda nan kreatif dan progresif. Kathleen juga menerima pemesanan film-film atau buku yang tidak diputar di Sinema 21. Rak khusus komik independen ia sediakan untuk menampung karya-karya kreatif komikus muda Surabaya. Di rumah buku ini, seni dan buku berbaur dengan intim dalam nuansa yang dinamis dan ceria.

Tak berhenti disitu, Kathleen menerbitkan bulletin Douze sebagai media informasi koleksi dan kegiatan. Bulletin ini memuat artikel, maupun liputan seputar buku, komik, film, dan music dalam bahasa Inggris maupun Indonesia. Tak ketinggalan juga rubrik yang memajang karya visual sperti komik, karikatur, fotografi, dan ilustrasi. Bulletin ini terbuka untuk umum.

–      Info : http://coffee-cat.net/c2o/library/

Cathleen 0858 5472 5932

C2o.library@yahoo.com

C2O Library, Jl Dr. Cipto No 20 Surabaya 60264

Capek dan Panas Berada di Perpus ISI

Kampus ISI/Gbr: repro highlight-isi.com

Kampus ISI/Gbr: repro highlight-isi.com

Oleh Gus Muh

Dalam pengantar newsletter Jogja Art Fair #1 dituliskan bahwa Jogjakarta menjadi kiblat senirupa Asia. Dalam bahasa agama, Jogja adalah “Mekkah”-nya.

Dan jika berbicara seni di Jogjakarta maka pastilah berbicara tentang Insititut Seni Indonesia (ISI) yang saat ini gedung-gedungnya yang besar berdiri kukuh di Sewon Bantul.

Biasanya untuk melihat sejarah seni dalam kota–dan juga denyutnya–salah satu tolak ukur adalah bagaimana perkembangan literatur dan kuasa perpustakaan menghimpun dan menaunginya. Selain tentu saja peran museum dan galeri.

Seperti apa sih wajah perpustakaan ISI?

Kurator dan direktur perpustakaan alternatif IVAA Farah Wardani agak enggan dimintai komentarnya tentang perpustakaan ISI. “Apa ya. Jelek sih menurutku. Perpustakaan itu kan mestinya memprovok pada penggunanya untuk melakukan aktivitas. Dengan program-program penulisan misalnya. Nggak ada itu. Jadinya buku debuan aja gitu,” katanya.

Lain lagi dengan penulis buku-buku senirupa Mikke Susanto. Menurutnya, perpustakaan ISI sebenarnya potensial untuk mewadahi kurangnya ilmu yang diberikan dosen. Walaupun itu perpustakaan pemerintah. “Yang penting bisa melayani mahasiswa saja sudah cukup. Koleksi yang terus di up date dan kualitas pelayanan yg prima,” ungkapnya.

Sesekali Mikke menggunakan fasilitas perpustakaan ini untuk menulis. Tapi kebanyakan hanya mencari data.

Dalam soal kenyamanan, segendang sepenarian dengan Farah, Mikke juga mengatakan kurang nyaman dalam perpustakaan itu.

“Aku capek dan panas ketika berada di sana. Juga lambat lambat mengoperasionalkan buku-buku yang baru datang,” kata mantan mahasiswa ISI ini.

Karena itu, seandainya dipercayakan mengelola perpustakaan ISI yang dibenahi Mikke pertama kali adalah sarana seperti penggunaan multimedia dan penataan rak yang nyeni dan menyenangkan. Jadi infrastruktur, barulah pelayanan.

“Katalognya saja masih pakai yang di loker-loker loak kayaknya. E sorri, saya sambi display ya.”

Display? Pastilah ini bukan mendisplay rak buku di perpustakaan ISI.

www.ivaa-online.org/

IVAA, Perpus Komunitas Senirupa Terbesar

IVAAOleh Gus Muh

Perpustakaan komunitas berbeda dengan perpustakaan seumumnya. Perbedaannya terletak pada program, keanggotaan, pendanaan, dan spesifikasi penggunaannya.

Demikian dikatakan pengelola perpustakaan komunitas Tovic Raharja di ruang perpustakaan IVAA. Perpustakaan yang terletak di Patehan Tengah Kraton Jogjakarta ini bergerak dalam pendataan dan dokumentasi senirupa kontemporer.

“IVAA memang satu-satunya perpustakaan komunitas di Indonesia untuk dokumentasi senirupa kontemporer,” tegasnya yakin.

Saat ini, IVAA sudah memiliki dokumentasi 10-an ribu judul buku maupun dokumentasi seniman. Belum termasuk data audiovisual.

Dokumen-dokumen itu dikumpulkan selama 13 tahun dari pelbagai sumber. Terutama dari seniman-seniman sendiri.

Nah, database itu kemudian menjadi semacam gerbang untuk memasuki program-program yang dilakukan tim riset IVAA.

Dengan kata lain, IVAA kemudian mengambil fungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek maupun wacana.

Kelas menulis dan membaca pun juga dibuka sebagai bagian dari proses belajar menulis kreatif. Program ini digawangi langsung oleh Komunitas AKSARA yang berada di bawah IVAA.

Sebagai media komunikasi bersama, IVAA juga menerbitkan newsletter “Surat” dan media online: www.ivaa-online.org.

Untuk mengongkosi operasional perpustakaan dan program-program, menurut Tovic, banyak cara dilakukan IVAA.

“Misalnya, menjalin kerjasama pameran, bantuan lembaga donor, sumbangan-sumbangan, iuran keanggotaan, dan seterusnya,” kata Tovic.

Perpustakaan dan Politik (Rak) Buku

Tapi rak bukan hanya soal menata dinding buku. Ia juga adalah soal politik ruang. Sebut saja “politik rak”. Dalam politik ruang, setiap tempat, setiap lahan, menjadi frontier yang diperebutkan oleh siapa pun untuk menunjukkan kekuasaannya.>>perpustakaan

1001 BUKU, Menyebar Buku Hingga ke Papua

Perkumpulan 1001buku–didirikan pada Mei 2002 oleh Upit Djalins, Ida Sitompul, dan Tanti Soekanto, para ibu yang peduli pada minat baca anak-anak–adalah salah satu gerakan memasyarakatkan buku yang marak beberapa tahun terakhir. Contoh lain: Yayasan Bunda Yessy, yang didirikan Yasmine Yessy Gusman, aktris 1970-an. Mereka mengumpulkan dan menyebarkan bahan bacaan kepada anak-anak yang kurang beruntung melalui taman-taman bacaan. Donaturnya bisa instansi pemerintah, perusahaan swasta, atau perorangan.>>perpus

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan