-->

Arsip Ruang Toggle

Perpustakaan Elsam Jakarta

Bagaimana menemukan hubungan antara demokrasi, penguatan budaya politik, neoliberalisme, dengan perpustakaan? Robert W. McChesney dalam pengantar salah satu buku karya Noam Chomsky memberi penjelasan sebagai berikut:
Demokrasi menuntut agar orang merasakan hubungan dengan sesama warga kelompoknya. Hubungan ini menjelma dalam berbagai organisasi dan lembaga non-pasar.

Untuk apa budaya politik diperkuat? Warga negara yang berbudaya aktif, kritis, dan partisipatif bisa melawan neoliberalisme yang menginginkan warga negara yang terdepolitisasi yang ditandai dengan apatisme dan sinisme. Pada hakikatnya neoliberalisme adalah musuh utama dari demokrasi partisipatif.

Jika menginginkan budaya politik yang kuat maka harus ada suatu jalan yang menjadi sarana bagi warga negara untk bertemu, berkomunikasi, dan berinteraksi. Jalan itu berupa kelompok komunitas, perpustakaan, sekolah umum, organisasi antartetangga, koperasi, atau perkumpulan sukarelawan.

Dengan demikian, perpustakaan merupakan perwujudan komunitas yang berbudaya aktif, terdiri dari kumpulan orang-orang yang kritis dan selalu siap untuk berpartisipasi dalam menciptakan masyarakat sipil yang memiliki acuan moral yang pro-demokrasi dan berkekuatan sosial.

Pada titik inilah Perpustakaan ELSAM berusaha mendedikasikan keberadaannya sebagai hub of learning, simpul pembelajaran guna membangun komunitas yang peduli terhadap penegakan dan penyadaran Hak Asasi Manusia, bukan sekadar membangun fisik berisi pengetahuan statis.

Mengonsentrasikan dirinya di ranah Hak Asasi Manusia sejak 1993, sampai saat ini Perpustakaan ELSAM telah mengoleksi lebih dari 4000 judul buku pilihan, makalah, prosiding, laporan, dan berkas kasus pelanggaran HAM yang menonjol yang terjadi di Indonesia. Usaha penyadaran akan esensi Hak Asasi Manusia juga didukung dengan penyediaan materi audio visual, yang sampai saat ini berjumlah sekitar 300 judul yang efektif digunakan sebagai alat pelatihan. Semua koleksi tersebut bisa diakses oleh siapapun yang berminat akan penegakan HAM.

Peneliti, pemerhati, akademisi, mahasiswa, atau aktivis bisa datang langsung ke ELSAM di Jalan Siaga II Nomor 31 Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, atau melalui telpon +62 21 7972662, 79192564, faksimili 79192564, via email ana@elsam.or.id atau online melalui Yahoo Messenger di ana_arfan@yahoo.com. Semua jalan akan terbuka bagi siapapun yang mendambakan keadilan, demokrasi, dan tegaknya Hak Asasi Manusia di Indonesia.

* Dinukil dari Buletin ASASI Edisi Juli – Agustus 2009 (Artikel ini direkomendasikan pustakawan Ahmad Subhan a.k.a Galih)

Sumber foto depan: elsam.minihub.org

KBR 68H: Mendengarkan Suara Akar Rumput

Radio 68 H2Mengudara pertama kali pada 29 April 1999 dengan 9 berita. Mulanya hanya 7 radio yang menggunakan program Kantor Berita Radio 68 H (KBR 68H) dengan jumlah 7 reporter. Kini tercatat 515 radio jaringan yang merelai berita produksi mereka dengan lebih dari 100 personil termasuk para koresponden, mulai Pro FM di ujung barat Sabang sampai Fritta FM di ujung timur Merauke dengan prinsip: tak mencaplok radio daerah melainkan memberdayakan dalam kerangka kemitraan.

Embrio KBR 68H dimulai sebagai satu unit kegiatan milik Institut Studi Arus Informasi (ISAI), LSM yang aktif meningkatkan kualitas jurnalisme dan lancarnya arus Informasi di Indonesia. Pascatumbangnya rezim otoritaran, banyak pihak mulai dihadapkan pada pilihan-pilihan cara bergerak. Salah satunya program layanan berita untuk radio; sektor media paling lemah menangkap peluang kebebasan.

Di hari-hari permulaan, KBR 68H hanya memproduksi program 15 menit dalam sehari, yang terdiri dari 7 sampai 10 file audio. Kini, KBR 68H mampu memproduksi 18 jam program sehari, mulai dari “Buletin Sore” yang mengudara pada Agustus 1999 hingga program-program baru seperti “Kabar Baru 68H” dan pelbagai dialog interaktif seperti “Reformasi Hukum”, “Obrolan Ekonomi”, “Hak Asasi Manusia”, “Apresiasi Seni”, dan “Perspektif Baru”.

Di luar soal jaringan yang luas, KBR 68H adalah contoh radio yang menumbuhkan jurnalisme radio Indonesia lewat giatnya pelatihan jurnalisme diadakan KBR di daerah-daerah, penerbitan buku-buku ihwal jurnalisme radio, juga program magang di KBR bagi anggota jaringan radio.

Jaringan radio yang menembus kantong-kantong perumahan rakyat hingga ujung Indonesia menjadi amunisi bagi KBR. Ia bisa menemani dan ditemani daerah-daerah yang tersebar di Indonesia melewati transisi, mulai mewartakan perdamaian dengan program “Kabar Maluku”, memperkecil angka kabupaten tertinggal di Indonesia dengan program mitra daerah bekerja sama dengan kementrian Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, dan melawan korupsi dengan pemberitaan kritis.

Bahkan lewat program “Asia Calling”, siaran KBR 68H direlai beberapa radio luar negeri seperti Radio Nederland, Deutsche Welle, VOA, SBS, dan beberapa lainnya.

Karena peran itulah, radio dengan 13 juta pendengar ini lantas dianugerahi The Tech Museum Award 2003 di Amerika dan King Baudouin International Development Prize 2009 karena dinilai mampu memanfaatkan teknologi informasi untuk memperluas akses informasi masyarakat dan memajukan kehidupan madani melalui penyebaran informasi.

Di balik lembaga selalu ada alamat pribadi—yang memberi jiwa dan menjaga denyut radio ini agar bertahan. Isaac Santoso adalah pribadi dengan keteguhan tekadnya terus bekerja di balik layar dan mengantar KBR 68H menjadi media yang menampilkan kesegaran baru dalam produksi berita radio dengan mengambil suara akar rumput yang senyap. Kelihaiannya membangun jaringan menobatkan radio ini sebagai gudang berita publik pertama berbasis radio dengan etos yang dibangun dengan semangat melayani kebutuhan informasi publik dengan jangkauan mahaluas.

Perpustakaan dan Demokrasi

Oleh: Putu Laxman Pendit

Salah satu tesis yang paling banyak dipegang oleh pengamat perpustakaan –terutama perpustakaan umum– adalah bahwa institusi ini hanya bisa tumbuh dalam suatu masyarakat yang demokratis. Salah satu negara yang dianggap sebagai pemrakarsa perpustakaan umum sebagai institusi demokrasi adalah Amerika Serikat.

Anggapan yang barangkali terdengar sangat optimistis adalah bahwa perpustakaan umum merupakan “arsenals of a democratic culture”, dikedepankan oleh Sidney H. Ditzion yang meneliti sejarah pertumbuhan perpustakaan umum di Amerika Serikat. Bersama Jessa Shera, Ditzion kemudian dikenal sebagai cendekiawan AS pertama yang “menemukan” tempat perpustakaan umum dalam pertumbuhan tradisi demokrasi. Ia mengutip pernyataan presiden AS, Franklin D. Roosevelt, yang mengatakan, “Perpustakaan secara langsung terlibat dalam konflik yang kini membelah dua dunia kita, karena dua alasan: pertama, perpustakaan merupakan hal yang esensial dalam masyarakat demokratik; kedua, karena konflik saat ini menyangkut integritas kecendekiawanan, kebebasan berpikir, dan bahkan kelangsungan sebuah kebudayaan; dan perpustakaan adalah sarana yang luar-biasa bagi kecendekiawanan, pemelihara kebudayaan, dan simbol megah dari adanya kebebasan berpikir.”

Menurut Ditzion salah satu unsur penting yang mendorong kelahiran “perpustakaan untuk semua orang” atau “perpustakaan-perpustakaan umum yang bebas” (free public libraries) adalah protes terbuka terhadap adanya “perpustakaan berkelas” (class libraries) yang diperuntukkan bagi sejumlah terbatas elit cendekiawan. Salah satu contohnya adalah pada suatu masa di tahun 1815-an, seorang bernama Joshua Bates mendesak masyarakatnya agar menyediakan ruang baca bagi orang awam yang sama nyamannya dengan yang disediakan untuk orang-orang terpelajar. Fasilitas seperti itu akan mempertemukan “the humblest and the highest” seperti halnya pemilihan umum mempertemukan suara mereka pada tingkatan yang sederajat.

Ditzion juga mengaitkan perkembangan perpustakaan umum dengan kebangkitan kaum pekerja, dengan contoh sebuah perpustakaan yang didirikan di Pacific Mills, sebuah pabrik di kota Lawrence, Massachussets. Perpustakaan ini diperuntukkan bagi para pekerja pekerja pabrik, sehingga tidak bisa dikatakan perpustakaan umum. Tetapi Ditzion menggarisbawahi filosofi yang mendasari pendiriannya, dan menyimpulkan bahwa konsep “universitas untuk para pekerja” (the workingman’s university) adalah landasan utama pendirian perpustakaan di pabrik-pabrik. Selanjutnya, ia juga menguraikan betapa kemudian muncul dermawan-dermawan yang mendukung filosofi ini secara finansial. Filosofi ini penting bagi pertumbuhan demokrasi, dan dianggap memungkinkan suatu kelompok dalam masyarakat meningkatkan diri mereka sejajar dengan kelompok-kelompok lainnya.

Interpretasi progresif yang dilakukan Ditzion dan Sherra terhadap sejarah perpustakaan umum AS bukan tanpa kritik. Pada akhir era 1970-an, tiga sejarahwan lain (Dee Garrison, Michael Harris, dan Rosemary DuMont) mengkritik dua pendahulu mereka dengan mengatakan bahwa anggapan tentang perpustakaan umum sebagai lembaga demokrasi terlampau optimistis. Menurut ketiganya, sejarah kelahiran perpustakaan umum dalam era-era yang dikaji Ditzion tetap memperlihatkan suatu upaya hegemoni kultural oleh salah satu kelas dalam masyarakat terhadap kelas lainnya, selain upaya kontrol sosial oleh kelas yang waktu itu berkuasa.

Tetapi baik Ditzion maupun pengkritiknya sebenarnya juga hanya memperhatikan perkembangan perpustakaan umum. di daerah-daerah perkotaan (urban) dan luput mencermati perkembangan di pedesaan (rural). Para sejarawan itu mengamati pembangunan institusi kultural di kota-kota besar, yang notabene dimotivasi oleh keinginan membangun monumen di kalangan individu-individu tertentu. Dengan kekayaan yang berlimpah dan tindakan-tindakan yang sering kontroversial, para orang kaya dermawan ini memang menjadi subjek yang amat menarik bagi para sejarawan untuk diamati. Dengan latar ini, perpustakaan-perpustakaan umum yang banyak dibangun dengan bantuan para milyuner dermawan, segera diidentifikasi sebagai institusi demokratis.

Di luar institusi-institusi megah di kota besar, sebagian besar perpustakaan umum justru dibangun di desa-desa, dan ini sering luput dari pengamatan. Ketika dilakukan pengamatan terhadap kondisi di desa-desa AS pada saat pertama kali mengenal perpustakaan umum, terlihatlah bahwa di satu sisi interpretasi optimistik Ditzion harus diperlunak, tetapi di sisi lain kritik yang mengatakan bahwa perpustakaan umum semata-mata lahir karena ada kaum elit yang ingin mengendalikan massa di bawahnya, juga harus ditolak.

Contoh kasusnya adalah perpustakaan umum yang didirikan pada awal tahun 1900-an di Hagerstown di Maryland, sebuah desa kecil yang sampai sekarang tetap adalah desa para petani. Fenomena di desa kecil ini, yang juga terjadi di desa-desa lainnya di AS pada waktu yang hampir sama, menggugat pernyataan bahwa hanya orang-orang dengan pemikiran tentang kontrol sosial saja yang berinisiatif mendirikan perpustakaan umum. Di Hagerstown, perpustakaan umum didirikan dengan tujuan murni untuk pendidikan rakyat banyak, sejalan dengan pernyataan Andrew Carnegie yang dipopulerkan pada saat itu, “the true university of these days is a collection of books”. Carnegie adalah seorang imigran miskin dari Inggris yang menjadi milyuner AS, dan yang bersikeras bahwa kesuksesannya “naik kelas” adalah karena dia bisa membaca buku-buku di perpustakaan umum.

Selain contoh sukses Carnegie, rupanya perpustakaan umum di Hagerstown juga didorong oleh kemunculan profesi pustakawan yang waktu itu oleh promotornya, Melvil Dewey, dinyatakan sebagai profesi yang harus melancarkan fungsi perpustakaan umum sebagai institusi pendidikan untuk orang banyak. Dewey menyetarakan “the free library” dengan “the free school” sebagai sebuah gerakan budaya besar-besaran di AS waktu itu, untuk membantu jutaan penduduk miskin “naik kelas” lewat peningkatan pendidikan. Gerakan ini tentu bisa dihubungkan dengan upaya negara itu untuk menciptakan sebuah masyarakat yang setiap individunya punya kesempatan mengembangkan diri lebih lanjut, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan politik. Pendek kata, untuk demokratisasi.

Dus, walaupun tidak bisa seoptimistis Ditzion dan Sherra, sejarah perpustakaan umum di AS tetap bisa ditunjuk sebagai indikator dari eratnya hubungan antara pendirian insitusi ini dengan proses demokratisasi sebuah masyarakat. Selain itu, pertumbuhan pesat perpustakaan umum di AS juga bisa dihubungkan dengan tiga fenomena lainnya, yaitu kebangkitan asosiasi para pekerja, perjuangan kelas yang menajam, dan munculnya asuransi masyarakat. Asosiasi-asosiasi yang berkesan “kelas menengah”, seperti kelompok pekerja, kelompok wanita, kelompok religius dan berbagai organisasi kemasyarakatan lainnya juga banyak dihubungkan dengan pendirian berbagai perpustakaan umum di AS. Kelompok-kelompok bisnis independen, dalam rangka memenuhi kepentingan bisnis yang bebas terbuka, juga mendukung pertumbuhan perpustakaan-perpustakaan umum.

Nah, bagaimana dengan di Indonesia. Apakah “perpustakaan umum” kita adalah institusi demokratis? Apakah konsep dan kegiatannya mencerminkan demokratisasi, atau lebih memperlihatkan otokrasi dan kekuatan negara-intergralistik yang berlebihan? Apakah peran “kelas menengah” Indonesia cukup penting dalam pertumbuhannya?

Tidak pada tempatnya membandingkan AS dan Indonesia tercinta. Tetapi apa yang terjadi di negara itu patut jadi pelajaran bagi bangsa yang sedang membangun ini.

* Diunduh dari kepustakawanan.blogspot.com

Sumber foto depan: nikonians.org

Perpus Mini Polres Tuban

TUBAN — Kalau ingin tahu bagaimana menaklukkan kerasnya hati orang-orang “antibuku” alias nggak banget dengan buku, maka liriklah usaha yang dilakukan kepolisian Tuban ini. Perpus ini unik karena banyak hal. pertama tentu saja karena berada di lingkup aparat keamanan yang kerap dianggap jauh dari komunitas buku. Kedua, pengunjung perpustakaan ini adalah mereka yang mengurus SIM kendaraan bermotor.

Seperti diberitakan Harian Jawa Pos edisi 19 September 2008, awalnya Satpas SIM Polres Tuban hanya ingin bagaimana caranya memandu pemohon agar benar-benar layak mengantongi SIM. Sebuah perpustakaan mini dibangun untuk tempat belajar pemohon yang hendak tes tulis ataupun praktik SIM.

Biasanya, pemohon SIM yang tak lulus ujian teori selalu berkumpul di kursi tunggu. Mereka serius membahas jawaban ujian yang kebenarannya masih diragukan dan bisa mengakibatkan mereka tidak lulus.
Meski lama saling berdiskusi, jawaban pasti tak juga didapatkan. Bahkan, sejumlah materi jawaban yang dibahas berkembang ke mana-mana.

Mendengar obrolan itu, Briptu Deby, anggota bagian urusan (baur) SIM, mendekat. Setelah menanyakan materi yang diperdebatkan, dia membimbing pemohon SIM yang tidak lulus ke perpustakaan mini Satpas SIM Polres, tak jauh dari tempat pemohon itu mengobrol.
“Bapak-Ibu bisa mendapatkan jawaban yang diperdebatkan tadi di sini,” kata Deby sambil menunjukkan sebuah etalase berisi tumpukan leaflet berjudul Mekanisme Penerbitan SIM dan buku saku kecil. Tanpa komando, pemohon SIM tersebut lalu berebut mengambil leaflet untuk dibaca.

Itulah salah satu fasilitas terbaru yang dimiliki Satpas SIM Polres Tuban. Perpustakaan mini itu disiapkan untuk pemohon SIM yang memerlukan referensi tentang kelalulintasan. Leaflet dan buku saku tersebut tidak hanya dipinjamkan untuk dibaca di ruang tunggu pelayanan. Referensi itu juga bisa dipinjam untuk dibaca di rumah selama tiga hari.

Walau sederhana, tapi usaha yang dilakukan polisi itu sebagai sebuah usaha kreatif bagaimana mempertemukan buku dengan pembacanya yang memang betul-betul membutuhkan bacaan. Ini yang disebut buku yang bertemu jodohnya. Buku dan leaflet lalu lintas siapa lagi jodohnya kalau bukan mereka yang mengurus SIM.

Selain itu, mumpung lagi musim menghujat-hujat polisi (baca: elitenya), mengapa tidak ikut-ikutan melempari kantor-kantor polisi dengan buku-buku sastra, puisi, biografi, atau apa saja yang bermanfaat. Siapa tahu berguna, paling tidak buat yang ngantri ngurus SIM. (GM–diolah dari berita Jawa Pos Edisi  19 September 2008)

Penerbit LP3ES: Spesialis Buku Teks

Mereka adalah dua aktivis gerakan dengan semangat muda yang juga mati muda. Soe Hok Gie, keracunan gas beracun di puncak gunung Semeru. Ahmad Wahib terenggut nyawanya di ujung aspal,. Keduanya mencintai tulis menulis. Tekun merekam pemikiran dan perjalanan hidupnya dalam catatan harian. Penerbit Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES ) mengabadikan tulisan mereka dalam , Catatan Seorang Demonstran atau Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib.

Buku Soe Hoek Gie tercatat naik cetak lebih dari 8 kali hingga 2005. Buku Ahmad Wahib terjual lebih dari 50 ribu kopi. Dan hingga kini, keduanya terus mengalami cetak ulang. Dua buku catatan harian aktivis muda itu melejitkan nama LP3ES di era 80an. Pada masa-masa itu LP3ES menjadi jaminan sebuah buku bermutu.

LP3ES, yang didirikan 19 Agustus 1971 oleh sekelompok tokoh intelektual mulanya adalah lembaga non pemerintah dan otonom. Para pendiri LP3ES anatara lain: Adam Malik(alm), Prof. Bintoro Tjokroamidjjo MA, Prof. Dr. Dorojatun Kuntjorojakti, Prof. Emil Salim, Goenawan Mohamad, Ismid Hadad, Prof dr Juwono Sudarsono, Prof. Dr. Koentjoroningrat (alm), M Jusuf Ronodipuro, Prof. Dr.M Dawam Rahardjo, Dr. Nono Anwar Makarim, Prof. Dr. Selo Soemardjan, Dr. S.B. Joedono, Drs. Soetjipto Wirosardjono, MSc., Prof.Dr.Suhadi Mangkusuwondo, Prof.Dr. Sukadji Ranuwihardjo, Prof. Dr Sumitro Djojohadikusumo, Prof. Dr. Taufik Abdullah, Dr. Umar Kayam.

Lp3ES bergerak  dalam kegiatan penerbitan, penelitian serta pendidikan politik dan sosial ekonomi. Lahirnya institusi Badan Perencanaan Pembanguan Daerah (Bappeda) di seluruh Indonesia merupakan rekomendasi penelitian yang dilakukan LP3ES. Hasil studi LP3ES itu kemudian dipublikasikan dalam bentuk buku.

Sepanjang tahun 1970-an, LP3ES merintis penerbitan buku-buku teks–buku bacaan wajib pelengkap di perguruan tinggi– universitas yang ditulis oleh para ahli Indonesia dengan perspektif Indonesia. Di bawah pengawasan dewan redaksi yang terdiri dari para ahli di bidangnya, buku-buku ini dmaksudkan untuk menggantikan buku-buku teks asing. LP3ES juga menggalakkan penerjemahan buku-buku asing.

Pada November 1971, LP3ES menerbitkan majalah dwi bulanan, Prisma. Edisi pertamanya sangat sederhana, memakai kertas HVS, dengan tebal 52 halaman. Setahun kemudian jumlah halaman jurnal ini berlipat menjadi 92. Pada awalnya Prisma hanya terjual sekitar 1.000 eksemplar, namun lima tahun kemudian berlipat menjadi 6.500 eksemplar. Tidak hanya itu, jurnal ini juga lahir menjadi majalah bulanan.

Prisma edisi Agustus 1977 “Manusia Dalam Kemelut Sejarah” menjadi Prisma paling laris, sekurangnya terjual hingga 25 ribu eksemplar. Edisi ini pun dicetak ulang bahkan dibukukan dengan judul yang sama pada 1978. Dalam edisi ini terdapat biografi sejumlah tokoh kontroversial untuk masa itu, seperti Soekarno dan Tan Malaka.

Prisma juga mengulas profil sejumlah tokoh yang pada masa orde baru tenggelam. Seperti tokoh Cornel Simanjutak dalam Prisma no. 2 Februari 1978, SM Kartosuwiryo Prisma no. 5 (1982), Oerip Soemohardjo dalam Prisma no. 9 (1982). Ini sempat membuat gerah pemerintah orde baru karena dianggap menghidupkan lagi perjuangan komunis.

Pada 90-an adalah masa keterpurukan Prisma. Jurnal ini mulai terbit tidak teratur. Ketidakteraturan jadual terbit dan jumlah nomor edisi mempengaruhi tiras penjualan Prisma yang melorot menjadi 400 eksemplar. Hal ini diperparah dengan munculnya pesaing dalam bentuk majalah sejenis. Puncaknya pada 1998, berbarengan dengan terjungkalnya Orde Baru, Prisma juga runtuh.

Kini, LP3ES tetap bertumpu pada penerbitan buku-buku teks perguruan tinggi. Namun untuk menyesuaikan dengan persaingan pasar, LP3ES juga mulai menerbitkan novel dengan gaya khas LP3Es: pendidikan dan advokasi grass root. Buku LP3ES memang dimaksudkan untuk membuka cakrawala pemikiran dan disumbangkan guna membangun suatu masyarakat yang paham terhadap dirinya dan masalah yang dihadapinya, serta juga mengenal masyarakat lain. Suatu masyarakat yang cerdas akan bertumpu pada buku-buku seperti itu. (DAV)

Pondok Maos Guyub

Oleh Muhamad Sulhanudin

Maos-Guyub_Taman-BacaTaman baca yang beralamat di Jalan Raya Bebengan No.221, Boja, Kendal, Jawa Tengah ini dirintis Sigit Susanto, warga asli Kendal yang saat ini tinggal di Swiss bersama istrinya. Sehari-hari yang bertindak sebagai pengelola adalah Hartono. Yang unik, meski taman baca ini ada di daerah pedesaan, buku-buku sastra dunia dari pelbagai bahasa ada di sana. Bahkan untuk koleksi buku sastra, Guyub lebih komplit dari koleksi di perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro.  Ada Satanic Verses karya Salman Rushdie, karya-karya Franz Kafka dalam bahasa Jerman, Dostoyevsky, Gunter Grass, Garcia Marquez, Orhan Pamuk, dan sebagainya.

Selain seri buku sastra, tentunya juga ada jenis buku lain. Tanaman hias, Peternakan, Primbon, dan buku untuk bacaan anak-anak juga tersedia.

Dari mana saja koleksi buku di Guyub? Ada koleksi pribadi, ada dari donatur. Suatu kali, kata pengelolanya, Hartono, ada bapak-bapak sepuh bertandang ke Guyub. Awalnya dikira mau minta sumbangan. Ternyata eh ternyata, bapak yang jauh-jauh datang dari Semarang itu berniat menyumbangkan bukunya.

Guyub tak sekadar sebagai tempat baca, tapi juga beberapa kali mengadakan kegiatan apresiasi seni sastra. Seperti pada gelaran Literasi 4 Kota bulan April 2009. Ada diskusi buku, Pementasan, Dokumentasi karya anak-anak setempat, dan diselingi karoke dangdut sampai larut malam. Kegiatan itu dilakukan untuk merangsang minat baca masyarakat sekitar.

Di Guyub aktivitas membaca sebisa mungkin dibuat santai. Bisa sambil tiduran, bawa cemilan, dan bahkan kalau masih kurang pengelolanya membolehkan pembaca untuk nginap sekalian.

Tak seperti di perpustakaan umum, peminjam mengisi buku yang dipinjam sendiri. Tak ada kartu anggota. Masa waktu peminjaman fleksibel. Jaminannya moral. Kalau tidak kembali? Ya biar urusan dia sama Yang di Atas, ungkap Hartono. Makanya, Hartono menamakan taman bacanya ini dengan Perpustakaan Jujur. (Selengkapnya silakan dilihat di blog: http://pondokmaos.multiply.com)

Serambi: Buah Buku Kontroversial

Sepanjang pekan silam, tidak ada kegiatan yang lebih mengasyikkan bagi Qamaruddin SF selain membolak-balik halaman majalah dan koran. Matanya mencari-cari halaman hiburan. Hanya satu yang ingin ia baca: resensi film Da Vinci Code.

Laiknya jutaan orang yang menunggu-nunggu film itu sejak lama, Kepala Redaksi Penerbit Serambi Ilmu Semesta itu juga penasaran seperti apa karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa gambar dari sebuah buku fenomenal itu.

“Malam ini kami ramai-ramai akan nonton filmnya,” kata laki-laki berkacamata minus ini, di kantornya, di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan.

“Mereka yang sudah menonton bilang sangat kecewa karena filmnya cuma kayak begitu,” katanya diiringi tawa rekan-rekan yang duduk di dekatnya.

Direktur Serambi, Husni Syawie, yang kebetulan sudah menonton ikut menimpali. “Banyak yang kecewa karena film itu tidak sesuai ekspektasi.”

Heboh pembicaraan film yang dibintangi Tom Hank dan Audrey Tatou itu terus berlangsung sampai sejam kemudian. Obrolan mereka diselingi tawa terbahak- bahak di siang yang panas itu. Soal otak yang tersesat karena percakapan super cepat dalam adegan film, minus panduan teks. Soal umpatan kekecewaan pada tokoh dan cara sang sutradara yang terlalu taat alur.

“Mungkin biar tidak pusing, mau tidak mau harus baca dulu bukunya,” kata Husnie enteng.

Di luar simpang-siur pendapat mengenai film besutan sutradara Ron Howard itu, Serambi agaknya menjadi pihak yang paling diuntungkan. Maklum saja, penerbit yang berkibar dengan moto “hanya menerbitkan buku” itu memegang hak penerjemahan buku karya Dan Brown ini ke dalam bahasa Indonesia.

Sejak diterbitkan di Indonesia pada tahun silam, hingga kini novel yang menelanjangi rahasia paling rapat dalam sejarah agama Kristiani itu sudah cetak ulang lebih 20 kali. Cetak terakhir, awal bulan ini diluncurkan dalam jumlah 20 ribu kopi.

“Dengan edisi sampul khusus bergambar wajah tokoh utama film,” kata Qamaruddin.

Tidak itu saja, untuk memikat pembaca, Serambi juga menerbitkan edisi khusus dengan halaman penuh gambar, beberapa bulan silam.

Inilah berkah tidak terbendung dari karya kontroversi ini. Serambi layak bersyukur mengingat banyak sekali penerbit yang menitikkan air liur untuk menerjemahkan novel itu.

“Kami memang berbekal usaha sungguh-sungguh saat mengejar novel ini,” kata Qamaruddin. “Hanya dalam hitungan beberapa bulan setelah pembicaraan awal, kami berhasil mendapat hak penerjemahan,” kata Husnie.

Saat menerbitkan novel yang menjelajahi labirin teka-teki cawan suci (holy grail) ini, Serambi baru setahun membuka lini baru Gita Cerita Utama, khusus untuk karya-karya fiksi. Bisa dimaklumi jika keberhasilan beroleh hak terjemahan Da Vinci Code merupakan hal mencengangkan. “Waktu itu banyak yang tidak percaya kami yang menerjemahkannya. Banyak yang bilang, bukannya jatuh ke penerbit besar?” kata Husnie.

Berdiri lima tahun silam, Serambi awalnya hanya berkiprah di lahan buku-buku Islam. Bidang yang dibahas pun terbatas hanya kajian-kajian Islam. Tapi lama-kelamaan mereka berpikir, bermain di lahan yang sempit dengan petarung sedemikian banyak, membikin sukar untuk bernapas.

“Kami akhirnya meluaskan cakupan hingga ke buku umum. Lini pendidikan, psikologi keluarga, dan fiksi adalah contohnya,” kata Qamaruddin.

Khusus untuk lini agama Islam, belakangan juga diperluas tidak hanya sebatas kajian agama Islam. Menurut Husnie, tema ini sudah makin jenuh dan kurang menarik setelah meletusnya tragedi 11 September 1999. “Kajian buku agama di Barat kurang menarik dan cenderung reaksioner,” katanya.

Untuk menghilangkan kejenuhan, Serambi kemudian memecah lini kajian agama menjadi dua. Gemala Ilmu dan Hikmah Islam. Kedua lini ini menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek Islam dan umat Islam karya pemikir Islam kontemporer, muslim dan nonmuslim.

Lini ini menelurkan banyak karya besar yang menjadi pembicaraan dunia. Ada karya laris milik Karen Amstrong Berperang Demi Tuhan, Ibrahim Sang Sahabat Tuhan karya Dr. Jerald F. Dirks, dan Perang Salib dalam Pandangan Islam.

Kajian kristologi termasuk yang banyak diminati pula. Ada Selamatkan Yesus dari Umat Kristen dan The Muslim Jesus yang jadi pembicaraan luas. “Untuk buku-buku bertema ini, kami memilih mereka yang berkompeten untuk menerjemahkan dan memberi kata pengantar,” kata Qamaruddin.

Perang Salib terhitung fenomenal. Saat diluncurkan beberapa bulan silam, hanya dalam hitungan sepekan, buku itu langsung cetak ulang.

Ada pula lini Pustaka Islam Klasik, yang menerbitkan bukubuku tentang beragam aspek Islam dan umat Islam yang ditulis oleh ulama sebelum abad XII Hijriah. Di lini klasik ini sejumlah karya berar bermunculan. Syeh Siti Jenar dan Sunan Kali Jaga misalnya, termasuk karya laris. Bahkan, ada penerbit luar yang sedang menjajaki kemungkinan penerjemahannya ke dalam bahasa Inggris.

Lini fiksi termasuk yang paling banyak menyumbang untung bagi Serambi. Di lini inilah bertebaran novel-novel laris. Selain serial thriller karya Dan Brown (Da Vinci, Malaikat Iblis, dan akhir pekan silam The Fortress), ada pula tetralogi novel sejarah karya Tariq Ali, novelis dan pemikir Islam kontemporer dari Asia.

Kitab Salahuddin dan Perempuan Batu adalah dua di antara karyanya yang berkilau.

Husnie mengakui saat ini pihaknya lebih banyak menerbitkan karya terjemahan. Bukan karena tidak berpihak pada karya lokal, namun karena persoalan teknis. “Selama ini karya terjemahan cenderung lebih cepat pengerjaannya,” katanya.
Selain karena proses mendapatkan hak terjemahan yang cepat, Serambi bertindak cepat sejak awal proses. “Begitu kami mendapat kabar bahwa satu buku sedang laris dan jadi pembicaraan, kami segera mengontak rekan-rekan di dalam dan luar negeri untuk memperoleh masukan dan membaca reading copy- nya,” kata Qamaruddin. Reading copy adalah bahan yang dipinjamkan penerbit asli untuk dibaca dan dipertimbangkan.

Sejak persiapan hingga penerjemahan, Serambi lebih banyak mengandalkan tenaga lepasan. “Ada sekitar 80-an penerjemah lepas yang siap bekerja,” kata Imam, salah satu anggota tim penerjemah di Serambi.

Persiapan untuk penerbitan karya asli jauh lebih lama. Pemilihan karya termasuk yang paling merepotkan. Menurut Qamaruddin, banyak karya asli yang masuk, namun tidak memenuhi persyaratan yang mereka tetapkan. “Banyak sekali yang masih berupa draft, jadi sukar bagi kami untuk mempertimbangkannya,” kata Qamaruddin.

Meski demikian, Serambi bertekat untuk serius menggarap tema lokal. “Buktinya serial walisongo termasuk laris,” kata Husnie. “Jadi tidak benar Serambi hanya serius menggarap karya-karya terjemahan.”

Di usia yang masih balita, penerbit —yang juga menyediakan satu bagian dari gedung berlantai duanya untuk menjadi toko buku—ini punya banyak cara kreatif menggarap pasar yang terbatas. “Kami sedang menyiapkan ruang untuk tempat berkumpulnya komunitas buku Serambi,” kata Qamaruddin.

“Di dunia yang bergerak sangat cepat dan penuh persaingan ini, orang harus pintar-pintar mencari celah,” katanya.

* Dinukil dari Suplemen Ruang Baca Harian Koran Tempo Edisi 28 Mei 2006

Apa Kabar Perpustakaan UI yang Telan Biaya 110M?

uiRI Bakal Miliki Perpustakaan Terbesar di Dunia

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) melakukan upacara pemancangan tiang pertama menandai dimulainya pembangunan Gedung Perpustakaan UI, hari ini.

Fasilitas tersebut dibangun di atas area seluas 2,5 hektare, sehingga akan menjadi salah satu perpustakaan terbesar, termodern, dan terindah di dunia. Perpustakaan ini akan menjadi salah satu motor internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia. Penting artinya untuk memacu produktivitas dan inovasi kampus sebagai salah satu motor kemajuan peradaban bangsa.

Deputy Director Corporate Communications UI Devie Rahmawati mengatakan, luas bangunan keseluruhan sekitar 30.000 m2 dan merupakan pengembangan dari perpustakaan pusat yang dibangun tahun 1986-87.

Pembangunan gedung delapan lantai ini ditargetkan selesai pada bulan Desember 2009. “Proyek ini didanai dari sumber pemerintah dan industri,terutama Bank BNI, dengan anggaran senilai Rp100 miliar,” papar Devi dalam siaran pers, Senin (1/6/2009).

Dia menjelaskan gedung perpustakaan ini didisain dengan konsep sustanaible building. Sebagian kebutuhan energi menggunakan sumber terbarukan (solar energy). Di dalam gedung tidak diperkenankan menggunakan plastik. “Area baru ini bebas asap rokok, hijau, serta hemat listrik, kertas dan air,” ungkap Devi.

Menurut dia, Perpustakaan Pusat UI tersebut akan dapat menampung sekitar 10.000 pengunjung dalam waktu bersamaan atau diperkirakan akan menampung pengunjung sekitar 20.000 orang per hari. “Perpustakaan ini akan menampung sejumlah 3-5 juta judul buku, dilengkapi ruang baca, silent-room bagi dosen dan mahasiswa yang sedang menulis laporan penelitian atau karya ilmiah lainnya,” kata Devi.

Selain itu, tambah dia, perpustakaan akan dilengkapi sistem ICT mutakhir yang menungkinkan pengunjung menikmati secara leluasa sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal, dan lainnya.
Sementara itu, sistem peminjaman akan berbasis sepenuhnya ICT. Akses luas akan dibuka di perpustakaan ini dengan pusat pembelajaran dan perpustakaan lain di dunia.

Sedangkan, keindahan perpustakaan lahir dari perpaduan gaya arsitektur yang unik seperti prasasti, dinding perpustakaan terbuat dari batu dan kaca yang berisi tulisan atau huruf dari seluruh dunia.

Pepohonan besar berusia 30 tahunan, dengan diameter lebih 100 cm, yang tidak ditebang saat pembangunan, melengkapi bagian depan dan samping lanskap gedung tersebut. Keindahan menjadi lengkap karena gedung mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang  asri, sejuk, dan, teduh.

Secara lebih spesifik, fasilitas ini dimaksudkan pula bagi upaya meningkatkan mutu UI dan perguruan tinggi lain di Indonesia seperti
tercermin di ranking yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga internasional. Sebagai contoh UI mencanangkan masuk 200 besar dunia atau 30 besar Asia. Posisi UI saat ini di tingkat dunia adalah 287 dan di Asia 50 menurut versi THES QS. (ram) Dadan Muhammad Ramdan – Okezone

Perpustakaan Terbesar di Dunia Seharga Rp110 M

DEPOK – Universitas Indonesia (UI) telah memulai pembangunan salah satu gedung perpustakaan terbesar, termodern, dan terindah di dunia.

Menurut rencana, proyek pembangunan akan selesai pada Desember 2009 dengan total anggaran Rp110 miliar. Dalam rangka pembangunan gedung berlantai delapan tersebut, tadi siang dilakukan pencanangan tiang pertama di atas lahan seluas 30.000 m2. Hadir dalam acara itu Rektor UI Gumilar R Soemantri, Dirut PT Waskita M Kholik, dan Ketua Wali Amanah UI Purnomo Prawiro.

Gedung perpustakaan yang diklaim sebagai salah satu perpustakaan terbesar di kawasan Asia ini didesain dengan konsep sustanaible building. Yang unik dari gedung ini adalah sebagian dari kebutuhan energi menggunakan sumber energi matahari yang hemat energi dan air.

Gedung perpustakaan juga akan didesain bebas dari asap rokok dan hemat air. Yang unik lagi, untuk mencapai gedung ini pengunjung diwajibkan menggunakan sepeda atau dengan berjalan kaki. “Kita ingin menghadirkan suasana yang ramah lingkungan,” ujar Rektor UI Gumilar R Soemantri di Depok, Senin (1/6/2009).

Koleksi 5 juta buku akan didatangkan. Ada tiga lantai yang berisi buku-buku berdasarkan rumpun ilmu. Di antaranya Ilmu Kedokteran dan Kesehatan, Ilmu Sosial dan Humaniora serta Ilmu Science dan Engineering dengan masing-masing lantai seluas 6 ribu m2.

Keunikan lain, terdapat berbagai huruf aksara dari seluruh dunia yang akan ditulis di kaca gedung sebagai dinding. Untuk menambah keindahan bangunan gedung, nantinya gedung akan dibangun dengan gaya arsitektur yang unik seperti prasasti.

Sedangkan pepohonan besar berusia 30 tahunan, dengan diameter lebih 100 cm, yang tidak ditebang saat pembangunan, melengkapi bagian depan dan samping lanskap gedung tersebut. “Keindahan menjadi lengkap karena gedung mengeksplorasi secara maksimal keindahan tepi danau yang asri, sejuk, dan, teduh,” ujarnya.

Gedung ini juga dilengkapi silent-room bagi dosen dan mahasiswa yang sedang menulis laporan penelitian atau karya ilmiah lainnya. “Perpustakaan akan dilengkapi sistem ICT mutakhir yang menungkinkan pengunjung menikmati secara leluasa sumber informasi elektronik seperti e-book, e-journal, dan sebagainya,” kata Gumilar.

Mengenai alokasi dana, Gumilar menjelaskan, mendapat bantuan pendidikan dari negara sebesar Rp78 miliar. “Sedangkan sisanya sebanyak Rp32 miliar dibantu oleh BNI 46,” jelasnya.

(ful)Marieska Harya Virdhani

Dinukil dari Okezone.com edisi 1 Juni 2009


Pustaka Jaya: Masih di Jalur Bahasa/Sastra

Pustaka Jaya
Oleh Sahala Napitupulu
Menyebut nama Pustaka Jaya, sekurang-kurangnya kita pasti akan teringat dua hal. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama sastrawan Ajip Rosidi, 71 tahun, yang dikenal sebagai sosok sastrawan yang produktif. Dia menulis dalam Bahasa Indonesia, tetapi sumbangannya pada sastra Sunda fenomenal. Pada usia belum 15 tahun dia sudah menerbitkan sebuah novel. Ketika teman-teman sebayanya masih duduk di sekolah menengah pertama, dia menjadi pemimpin redaksi majalah Suluh Pelajar. Umur 17, Ajip adalah salah seorang redaktur Balai Pustaka. Dia menulis lebih dari 50 judul buku dalam Bahasa Indonesia maupun Sunda.
Sebelum lahirnya Pustaka Jaya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari dan Tjupumanik di Jatiwangi. Setelah Pustaka Jaya lahir, dia mendirikan penerbit Girimukti Pusaka dan Kiblat Buku Utama di Bandung. Usaha penerbitannya ada yang terus berjalan sampai sekarang, seperti Pustaka Jaya, namun ada juga yang telah lama berhenti.
Sebagaimana yang diuraikan Ajip Rosidi dalam buku otobiografinya, “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan,” lahirnya Pustaka Jaya bukanlah hasil dari suatu seminar atau pertemuan para sastrawan. Ia berawal dari sebuah percakapan ringan di awal 1970-an antara dirinya dengan Ali Sadikin yang menjabat guberniur Jakarta waktu itu. Di antara perbincangan yang berlangsung di rumah sang Gubernur, tercatat kegelisahan seperti ini:
“Mengapa anak-anak sekarang tidak membaca buku? Mereka lebih suka membaca komik,” tanya Ali Sadikin mengungkapkan keprihatinannya.
“Untunglah mereka masih membaca. Bahwa mereka membaca komik karena hanya itulah yang ada. Buku tidak ada. Para penerbit kita tidak menerbitkan buku untuk bacaan anak-anak, untuk orangtua juga tidak banyak,” jawab Ajip Rosidi.
“Mengapa?” tanya sang Gubernur lagi. Ajip lalu menjelaskan situasi penerbitan dan perbukuan sesuai dengan pengalaman dan pengamatannya.
“Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat. Penerbit buku bacaan yang baik, seperti dahulu Balai Pustaka tidak ada lagi. Dahulu pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi untuk Balai Pustaka, tapi pemerintah kita tidak. Bahkan Balai Pustaka pernah diberhentikan fungsinya sebagai penerbit. Hanya dijadikan percetakan saja,” urai Ajip kepada sang Gubernur.
Siapa menyangka percakapan ringan itu berbuah kesepakatan untuk mendirikan satu penerbit yang menyediakan buku bacaan yang baik buat anak-anak dan orangtua. Gubernur bersedia menyediakan pinjaman modal untuk keperluan itu, yang akan dikembalikan kalau penerbit tersebut sudah mampu berdiri sendiri. Pinjaman modal diberikan melalui Yayasan Jaya Raya yang diketuai oleh Ir Ciputra, sebesar Rp 20 juta. Mei 1971, penerbit itu pun resmi berdiri. Ajip Rosidi memberinya nama Pustaka Jaya, sedangkan Ciputra pada mulanya menginginkan nama Jaya Pustaka. Dalam perkembangannya, sejak tahun 1976, Pustaka Jaya tidak lagi di bawah naungan Yayasan Jaya Raya, tetapi telah berdiri sendiri di bawah bendera PT Dunia Pustaka Jaya.
Kawan lama Ajip
Pada mulanya, kantor Pustaka Jaya masih menumpang di kompleks Taman Ismail Marzuki. Setelah keuangan perusahaan cukup sehat, Pustaka Jaya mampu membeli gedung untuk kantor sendiri di Jalan Kramat II no. 31A dan di Kramat Raya no.5K, Jakarta. Namun, apa daya, di era 1990-an, Pustaka Jaya mengalami krisis keuangan, sehingga satu dari dua gedung itu harus dijual untuk menutupi utang-utangnya. Kini, kantor satu-satunya terletak di Kramat Raya no.5K, yang juga berfungsi sebagai gudang.
Seri buku karya sastra dan budaya merupakan produk Pustaka Jaya. Ia mengutamakan karya sastera lama dan baru, baik dari pengarang Indonesia maupun terjemahan atau saduran dari karya klasik dunia. Ketika jumlah judul buku yang diproduksi sudah cukup banyak, muncul masalah bagaimana mamasarkannya. Untuk membantu promosi buku-buku Pustaka Jaya, Gubernur Ali Sadikin waktu itu sempat mengadakan konferensi pers di Balaikota. “Buku-buku (Pustaka Jaya) ini bagus. Harus dijual bebas kepada masyarakat,” katanya kepada para wartawan. Kata-kata sang Gubernur ternyata kurang memikat publik, dan penjualan buku-buku Pustaka Jaya berjalan dengan seret.
Ajip bercerita, sesudah konferensi pers tersebut, dia lalu mencoba menawarkan buku-bukunya ke semua sekolah dasar ada di wilayah DKI Jakarta. Waktu itu di Jakarta terdapat kurang lebih 1.000 sekolah dasar. Hasilnya betul-betul menyedihkan. Yang menyambut penawaran itu hanya satu sekolah. Itu pun karena kepala sekolahnya kawan lama Ajip di Jatiwangi. Kenyataan itu menunjukkan betapa kecilnya perhatian para kepala sekolah dasar di Jakarta terhadap buku bacaan sastra. Perhatian mereka pada perpustakaan juga memprihatinkan.
Berdasarkan kenyataan pahit itu, Ajip berpendapat bahwa yang pertama-tama harus dia jual bukanlah produk buku, melainkan gagasan. Gagasan agar para guru dan orangtua mendidik anak-anaknya supaya suka membaca. Soalnya, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak sejak usia dini. Ajip sering berkeliling ke sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Ibu Kota maupun di luar Jakarta. Dia berkeliling untuk memberikan ceramah-ceramah tentang pentingnya siswa banyak membaca dan pentingnya sekolah memiliki perpustakaan.
Jerih-payah Ajip tidak percuma. Lambat laun, buku-buku Pustaka Jaya mulai mendapat sambutan. Itu terlihat dari resensi-resensi buku dan berita tentang Pustaka Jaya yang dimuat di surat-surat kabar. Masyarakat mulai haus akan buku-buku bermutu.
Tidak hanya itu. Sambutan masyarakat terhadap buku-buku Pustaka Jaya ternyata ikut membangkitkan semangat di kalangan penerbit lain. Penerbit-penerbit terkemuka, seperti Djambatan, Gunung Agung dan lainnya, yang tadinya terseok-seok jadi optimis setelah melihat sukses Pustaka Jaya. Lihatlah, dalam katalog daftar buku tahun 1984, tercatat Pustaka Jaya waktu itu telah menerbitkan lebih dari 600 judul buku dengan lebih dari 10 juta eksemplar. Itu artinya, hampir setiap minggu ada buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dan dari jumlah 10 juta eksemplar itu, lebih dari sembilan juta terserap oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.
Buku-buku Pustaka Jaya sering menjadi rujukan. Para pengarang pastilah sangat bangga bila karya-karya mereka diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Namun, kejayaan penerbit ini tak bertahan lama, tak semantap nama Ajip Rosidi dalam sastra dan budaya. Kekeliruan kebijakan dan salah urus di era 1990-an membawanya ke tepi jurang. Kini, tak banyak lagi buku edisi baru yang bisa dia terbitkan, kecuali hanya beberapa judul dalam setahun. Kerjanya hanya mencetak ulang buku-buku lama.
Jika penerbit lain telah memiliki website dan memanfaatkan media online untuk memasarkan buku-buku mereka, tidak demikian halanya Pustaka Jaya. Menurut manajernya, Ahmad Rivai, dunia maya atau website baru berupa angan-angan, belum merupakan prioritas. Ia menyebut krisis keuangan yang dialami Pustaka Jaya dahulu cukup parah. “Ibaratnya, sakit yang kami alami telah memasuki stadium dua. Sehingga sampai sekarang Pustaka Jaya masih dalam tahap pemulihan supaya bisa kembali menjadi perusahaan yang sehat,” kata Rivai. Semoga Pustaka Jaya bisa mengembalikan kejayaannya.
* Dinukil dari majalah TAPIAN edisi Maret 2009. Edisi softcopy artikel ini bisa diunduh di sini
http://napitupulu-sahala.blogspot.com/2009/03/semoga-jayalah-pustaka-jaya.html

Oleh Sahala Napitupulu

Menyebut nama Pustaka Jaya, sekurang-kurangnya kita pasti akan teringat dua hal. Pertama, dia adalah penerbit buku sastra bermutu. Kedua, nama sastrawan Ajip Rosidi, 71 tahun, yang dikenal sebagai sosok sastrawan yang produktif. Dia menulis dalam Bahasa Indonesia, tetapi sumbangannya pada sastra Sunda fenomenal. Pada usia belum 15 tahun dia sudah menerbitkan sebuah novel. Ketika teman-teman sebayanya masih duduk di sekolah menengah pertama, dia menjadi pemimpin redaksi majalah Suluh Pelajar. Umur 17, Ajip adalah salah seorang redaktur Balai Pustaka. Dia menulis lebih dari 50 judul buku dalam Bahasa Indonesia maupun Sunda.

Sebelum lahirnya Pustaka Jaya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari dan Tjupumanik di Jatiwangi. Setelah Pustaka Jaya lahir, dia mendirikan penerbit Girimukti Pusaka dan Kiblat Buku Utama di Bandung. Usaha penerbitannya ada yang terus berjalan sampai sekarang, seperti Pustaka Jaya, namun ada juga yang telah lama berhenti.

Sebagaimana yang diuraikan Ajip Rosidi dalam buku otobiografinya, “Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam Dalam Kenangan,” lahirnya Pustaka Jaya bukanlah hasil dari suatu seminar atau pertemuan para sastrawan. Ia berawal dari sebuah percakapan ringan di awal 1970-an antara dirinya dengan Ali Sadikin yang menjabat gubernur Jakarta waktu itu. Di antara perbincangan yang berlangsung di rumah sang Gubernur, tercatat kegelisahan seperti ini:

“Mengapa anak-anak sekarang tidak membaca buku? Mereka lebih suka membaca komik,” tanya Ali Sadikin mengungkapkan keprihatinannya.

“Untunglah mereka masih membaca. Bahwa mereka membaca komik karena hanya itulah yang ada. Buku tidak ada. Para penerbit kita tidak menerbitkan buku untuk bacaan anak-anak, untuk orangtua juga tidak banyak,” jawab Ajip Rosidi.

“Mengapa?” tanya sang Gubernur lagi. Ajip lalu menjelaskan situasi penerbitan dan perbukuan sesuai dengan pengalaman dan pengamatannya.

“Kebanyakan penerbit, terutama mendahulukan mencari keuntungan, sehingga menerbitkan buku itu hanya yang nyata-nyata dicari oleh masyarakat. Penerbit buku bacaan yang baik, seperti dahulu Balai Pustaka tidak ada lagi. Dahulu pemerintah Hindia Belanda memberikan subsidi untuk Balai Pustaka, tapi pemerintah kita tidak. Bahkan Balai Pustaka pernah diberhentikan fungsinya sebagai penerbit. Hanya dijadikan percetakan saja,” urai Ajip kepada sang Gubernur.

Siapa menyangka percakapan ringan itu berbuah kesepakatan untuk mendirikan satu penerbit yang menyediakan buku bacaan yang baik buat anak-anak dan orangtua. Gubernur bersedia menyediakan pinjaman modal untuk keperluan itu, yang akan dikembalikan kalau penerbit tersebut sudah mampu berdiri sendiri. Pinjaman modal diberikan melalui Yayasan Jaya Raya yang diketuai oleh Ir Ciputra, sebesar Rp 20 juta. Mei 1971, penerbit itu pun resmi berdiri. Ajip Rosidi memberinya nama Pustaka Jaya, sedangkan Ciputra pada mulanya menginginkan nama Jaya Pustaka. Dalam perkembangannya, sejak tahun 1976, Pustaka Jaya tidak lagi di bawah naungan Yayasan Jaya Raya, tetapi telah berdiri sendiri di bawah bendera PT Dunia Pustaka Jaya.

Kawan Lama Ajip

Pada mulanya, kantor Pustaka Jaya masih menumpang di kompleks Taman Ismail Marzuki. Setelah keuangan perusahaan cukup sehat, Pustaka Jaya mampu membeli gedung untuk kantor sendiri di Jalan Kramat II no. 31A dan di Kramat Raya no.5K, Jakarta. Namun, apa daya, di era 1990-an, Pustaka Jaya mengalami krisis keuangan, sehingga satu dari dua gedung itu harus dijual untuk menutupi utang-utangnya. Kini, kantor satu-satunya terletak di Kramat Raya no.5K, yang juga berfungsi sebagai gudang.

Seri buku karya sastra dan budaya merupakan produk Pustaka Jaya. Ia mengutamakan karya sastera lama dan baru, baik dari pengarang Indonesia maupun terjemahan atau saduran dari karya klasik dunia. Ketika jumlah judul buku yang diproduksi sudah cukup banyak, muncul masalah bagaimana mamasarkannya. Untuk membantu promosi buku-buku Pustaka Jaya, Gubernur Ali Sadikin waktu itu sempat mengadakan konferensi pers di Balaikota. “Buku-buku (Pustaka Jaya) ini bagus. Harus dijual bebas kepada masyarakat,” katanya kepada para wartawan. Kata-kata sang Gubernur ternyata kurang memikat publik, dan penjualan buku-buku Pustaka Jaya berjalan dengan seret.

Ajip bercerita, sesudah konferensi pers tersebut, dia lalu mencoba menawarkan buku-bukunya ke semua sekolah dasar ada di wilayah DKI Jakarta. Waktu itu di Jakarta terdapat kurang lebih 1.000 sekolah dasar. Hasilnya betul-betul menyedihkan. Yang menyambut penawaran itu hanya satu sekolah. Itu pun karena kepala sekolahnya kawan lama Ajip di Jatiwangi. Kenyataan itu menunjukkan betapa kecilnya perhatian para kepala sekolah dasar di Jakarta terhadap buku bacaan sastra. Perhatian mereka pada perpustakaan juga memprihatinkan.

Berdasarkan kenyataan pahit itu, Ajip berpendapat bahwa yang pertama-tama harus dia jual bukanlah produk buku, melainkan gagasan. Gagasan agar para guru dan orangtua mendidik anak-anaknya supaya suka membaca. Soalnya, bagaimana meningkatkan kegemaran membaca di kalangan anak-anak sejak usia dini. Ajip sering berkeliling ke sekolah-sekolah dasar maupun menengah di Ibu Kota maupun di luar Jakarta. Dia berkeliling untuk memberikan ceramah-ceramah tentang pentingnya siswa banyak membaca dan pentingnya sekolah memiliki perpustakaan.

Jerih-payah Ajip tidak percuma. Lambat laun, buku-buku Pustaka Jaya mulai mendapat sambutan. Itu terlihat dari resensi-resensi buku dan berita tentang Pustaka Jaya yang dimuat di surat-surat kabar. Masyarakat mulai haus akan buku-buku bermutu.

Tidak hanya itu. Sambutan masyarakat terhadap buku-buku Pustaka Jaya ternyata ikut membangkitkan semangat di kalangan penerbit lain. Penerbit-penerbit terkemuka, seperti Djambatan, Gunung Agung dan lainnya, yang tadinya terseok-seok jadi optimis setelah melihat sukses Pustaka Jaya. Lihatlah, dalam katalog daftar buku tahun 1984, tercatat Pustaka Jaya waktu itu telah menerbitkan lebih dari 600 judul buku dengan lebih dari 10 juta eksemplar. Itu artinya, hampir setiap minggu ada buku baru yang diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Dan dari jumlah 10 juta eksemplar itu, lebih dari sembilan juta terserap oleh perpustakaan-perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum.

Buku-buku Pustaka Jaya sering menjadi rujukan. Para pengarang pastilah sangat bangga bila karya-karya mereka diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Namun, kejayaan penerbit ini tak bertahan lama, tak semantap nama Ajip Rosidi dalam sastra dan budaya. Kekeliruan kebijakan dan salah urus di era 1990-an membawanya ke tepi jurang. Kini, tak banyak lagi buku edisi baru yang bisa dia terbitkan, kecuali hanya beberapa judul dalam setahun. Kerjanya hanya mencetak ulang buku-buku lama.

Jika penerbit lain telah memiliki website dan memanfaatkan media online untuk memasarkan buku-buku mereka, tidak demikian halanya Pustaka Jaya. Menurut manajernya, Ahmad Rivai, dunia maya atau website baru berupa angan-angan, belum merupakan prioritas. Ia menyebut krisis keuangan yang dialami Pustaka Jaya dahulu cukup parah. “Ibaratnya, sakit yang kami alami telah memasuki stadium dua. Sehingga sampai sekarang Pustaka Jaya masih dalam tahap pemulihan supaya bisa kembali menjadi perusahaan yang sehat,” kata Rivai. Semoga Pustaka Jaya bisa mengembalikan kejayaannya.

* Dinukil dari majalah TAPIAN edisi Maret 2009. Edisi softcopy artikel ini bisa diunduh di sini

Kathleen Azali: Perpus Pribadi untuk Publik

Pasti banyak yang memiliki perpustakaan pribadi. Namun, membukanya untuk umum, mungkin hanya satu atau dua orang yang berani. Sebab, risikonya, buku koleksi bisa rusak atau bahkan hilang. Di antara yang sedikit itu, ada Kathleen Azali, pengelola Perpustakaan C2O.

kathleen azali_thumbC2O adalah singkatan Cipto 20. Di jalan itulah perpustakaan milik Kathleen Azali berada. Tempat tersebut khas. Meski tak ada papan nama, setiap orang yang lewat pasti langsungngeh. Sebab, dinding depan bangunan itu begitu eye-catching. Ada hiasan mural dengan aneka warna dan bentuk yang ceria.

C2O berbentuk persegi panjang dengan ukuran sekitar 4 x 15 meter. Ruangan itu dibagi empat. Tak ada sekat yang memisahkan antarruang, kecuali antara ruang tengah dengan dapur.

Meski tanpa sekat, variasi warna dinding sudah menunjukkan perbedaan ruangan. Ada hijau, kuning, dan oranye. Kathleen memang menggunakan warna-warna cerah. Itu menyesuaikan dengan segmen perpustakaannya, yakni anak muda.

Di beberapa sisi, dia menyediakan meja-kursi untuk mereka yang ingin membaca di tempat. Untuk mereka yang suka lesehan, Kathleen menyediakan hamparan alas busa warna-warni plus beberapa bantal kecil. Penataan ruang itu menimbulkan suasana nyaman seolah-olah orang membaca di rumah sendiri. ”Kalau ada yang mau seharian baca buku di sini, boleh aja,” kata cewek kelahiran 7 Agustus 1981 itu.

Kathleen mengaku, ada sekitar 4 ribu judul buku yang dikoleksinya. Jenisnya bermacam-macam. Mulai teori sosial, politik dan budaya, sastra, sampai referensi untuk desain interior. Ada yang berbahasa Indonesia, Inggris, bahkan Prancis. Semua tertata rapi di rak warna-warni yang ditempel di dinding plus beberapa rak kecil di tengah ruangan.

Menurut Kathleen, sebagian besar bukunya berasal dari koleksi pribadi. Tapi, ada juga yang disumbang kawan-kawannya. ”Waktu awal-awal buka dulu. Makanya, isinya macam-macam. Ada yang nyumbang buku resep juga,” ujar alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi 10 Nopember (ITS) tersebut.

Dia memang punya banyak judul buku yang terbilang langka, sulit dicari di pasaran. ”Memang sengaja saya bikin begitu. Soalnya, kalau banyak di pasaran, buat apa orang datang ke sini,” ujarnya. Dia lantas menyebut beberapa judul buku. Di antaranya, The Savage Mind karya Claude Levi Strauss dan The Practice of Everyday Life milik Michael de Certeau.

Bukan hanya itu. Dia juga berusaha melengkapi koleksinya dengan buku-buku asli milik sastrawan lama Indonesia. ”Sebab, sayang kan kalau nggak dibaca sama anak sekarang,” ujarnya. Sampai saat ini, dirinya sudah dapat sekitar 10 karya Pramoedya Ananta Toer. Dia juga punya karya Marah Rusli. Semua edisi lama, bukan yang cetakan anyar seperti yang dijual di toko-toko buku.

Di perpustakaannya, Kathleen menggunakan metode pengelompokan buku seperti perpustakaan lain. Untuk yang nonfiksi, dia memakai penggolongan standar. Misalnya, kode 00 untuk buku teori umum dan jurnalistik. Kalau 100, itu kode untuk filsafat. ”Gitu-gitu, deh,” ujar gadis yang juga seorang desainer grafis freelance tersebut.

Untuk menambah koleksinya, Kathleen berburu ke pasar buku bekas. Dia juga kerap huntingke Jakarta atau Jogjakarta. Dua kota tersebut memang lebih ”ramah” memberikan akses terhadap para pencinta buku. Tidak jarang pula, dia menitip kepada beberapa temannya yang bepergian ke luar negeri. ”Kalau ada yang mau pesan buku tertentu, bisa. Akan kami carikan, tapi tidak bisa dipastikan bakal ada,” ungkapnya.

Sebenarnya, ide membuka perpustakaan pribadi untuk umum bukan berasal darinya. Sang kakak, Erwin Azali, yang lebih dulu memulai. Sebab, Erwin memiliki cukup banyak buku desain grafis. ”Dulu bernama Good Idea,” kata Kathleen. Tapi, karena sibuk, perpustakaan tersebut tidak terurus. Lantaran dianggap sebagai pencinta buku, Kathleen pun ketiban sampur.

”Karena suka, ya saya anggap proyek senang-senang,” cerita cewek yang serius mengelola C2O sejak setahun lalu itu. Apalagi, setiap buku baru selalu dibaca lebih dulu. Dalam sehari, dia bisa membaca satu buku. Dia juga membuat sedikit review tentang buku tersebut, lalu dipasang di situs khusus perpustakaannya. ”Sekarang agak repot, jadi review-nya udahjarang,” ucapnya.

Namun, belakangan Kathleen mulai merasa kelabakan karena pemasukan tidak sesuai operasional. Buku terus bertambah, sedangkan minat masyarakat yang ingin membaca tidak terlalu besar. Dia pun terus-menerus mengeluarkan duit dari kantong sendiri. Orang tua juga sudah mendesak agar dia segera mengambil keputusan tentang nasib perpustakaannya tersebut. Namun, Kathleen memilih bertahan.

Untuk menambal biaya operasional, dia memang memberlakukan sistem sewa. Setiap buku bisa dipinjam dengan biaya sepersepuluh dari harga buku. Namun, tidak semua bisa dipinjam. Koleksi khusus yang harganya mahal serta sulit mendapatkannya hanya bisa dibaca di tempat. ”Biasanya sih buku desain. Sebab, kalau saya lihat di perpus kampus, sering digunting-gunting,” ungkapnya.

Beberapa kawannya menyarankan untuk menambahkan usaha tambahan yang bisa mendatangkan uang. Misalnya, kafe atau kaus. Namun, Kathleen masih enggan. Cewek berkacamata itu merasa hal tersebut akan mengganggu budaya membaca yang sudah dirintisnya. ”Saya nggak tahu. Rasanya nggak rela kalau akhirnya perpustakaannya kalah oleh yang lain,” katanya lantas tertawa.

Kathleen pun tak ingin memperbanyak koleksi komik. Dia tak mau perpustakaannya sama seperti tempat persewaan komik lain. Kalaupun ada komik, dia memilih yang tak terlalu pasaran. Misalnya, komik Prancis.

Saat ini, yang bisa dia lakukan adalah menambah aktivitas di perpustakaan itu. Yakni, nonton film bareng setiap Sabtu dan Minggu. Yang diputar adalah film-film indie atau film yang tidak masuk ke bioskop umum.

”Lumayan sih. Kalau ada pemutaran film, banyak yang datang. Biasanya kami sambung dengan diskusi ramai-ramai,” tutur cewek yang dibantu seorang pegawai untuk mengelola perpustakaan tersebut.

Tujuan utama Kathleen membuka Perpustakaan C2O memang tidak untuk memperoleh profit. Dia ingin menularkan minat baca kepada banyak orang. Sekaligus, memberi akses kepada masyarakat untuk membaca buku yang mungkin jarang beredar di Surabaya.

Karena itu, dia berusaha agar tujuan tersebut tidak terganggu. ”Sampai kapan? nggak tahu. Sekuatnya mungkin,” ucapnya lantas tersenyum.

* Artikel ini disalin ulang dari harian Jawa Pos edisi Jumat, 28 Agustus 2008 dengan judul “Awalnya Proyek Senang-Senang, Kini Kelabakan”. Terimakasih pada Kathleen yang sudah menjaga budaya baca di Surabaya dengan ketekunan.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan