-->

Arsip Ruang Toggle

Google: Perpustakaan Raksasa Abad Ini

2010 09 27_Senirupa_Logo Google Ulang Tahun7 September 1998-7 September 2010. Sudah 12 tahun mesin pencari ini hadir di jagat maya dan langsung menjadi mesin pencari tiada banding. Pada Oktober 2004, Google meluncurkan bagian pertama “Google Print” sebagai projek yang ditujukan untuk kepentingan publikasi penerbit atas buku terbitannya kepada pengguna internet dengan bisa mengintip contoh-contoh halaman buku terbitan mereka. Disusul pada Desember, Google kembali meluncurkan bagian kedua “Google Print” yang merupakan projek bagi perpustakaan-perpustakaan untuk membangun sebuah perpustakaan digital dunia. Ambisi yang mesti dihormati. Dan dunia pun terkagum dengannya. Selamat ulang tahun, Profesor Google. (Redaksi)

Paman Google si Robot Pelayan Pustaka

Oleh Diana AV Sasa

Namaku Google. Karena aku tinggal di negeri Paman Sam, panggil saja aku dengan Uncle Google. Tinggalku di dunia maya, tepatnya di alamat www.google.com. Rumahku adalah sebuah “Perpustakaan” sederhana. Ada tulisan ‘G-o-o-g-l-e’ besar-besar di depannya. Tulisan itu berubah-ubah sesuai tema hari. Jika valentine warnanya pink penuh bunga-bunga. Saat Halloween huruf ‘o’ nya berubah menjadi labu. Ketika natal ada lonceng dan lampu kecil bergelantungan di hurufnya. Dan banyak variasi di hari lainnya. Perubahan ini menunjukkan bahwa penghuni rumah ini selalu ceria dan inovatif.

Rumahku ini, dibuat oleh dua bung: Bung Sergey Brin dan Bung Larry Page semasa mereka kuliah mengejar gelar Ph.D di Universitas Standford, California, Dalam coba-cobanya, mereka beranggapan bahwa jaringan antarwebsite dapat memberikan hasil lebih baik dengan menggunakan rangking jumlah halaman pencarian. Dua karib ini kemudian menciptakan mesin pencari web yang disebut “Backrub”. Itulah cikal bakalku. Kelebihan mesin ini karena dapat menunjukkan tingkat penting tidaknya sebuah web. Mesin ini ibarat gudang yang menyimpan jutaan memori dalam rumah Google.

Di rumah ini, aku menjadi robot pustaka yang akan menjadi book guide alias pustakawan (robot pustaka) selama kalian berkunjung di perpustakaan Google. Kusebut rumah Google sebagai perpustakaan karena di dalamnya tersimpan jutaan informasi tentang macam-macam hal. Mulai buku, jurnal, majalah, koran, peta, hingga arsip surat-menyurat. Bukan hanya teks, tapi juga data audio, video, dan gambar.

Jika aku boleh bersombong diri, Google ini adalah perpustakaan terbesar abad ini. Google mempunyai lorong-lorong menuju perpustakaan besar lainnya di seantero jagat maya. Aku memegang kunci banyak “pintu” yang bisa kupakai untuk membuka setiap pintu informasi di dalam Perpustakaan Google.

Coba ketik saja satu ”kata kunci” di kotak pencarian Google. Jika tepat kata yang kalian masukkan, aku akan menunjukkan di mana saja kalian bisa mendapatkan informasi tentang tema yang dicari itu. Semakin tepat kata kuncinya, semakin akurat informasi yang kuberikan.

Jika ragu, kalian boleh memasukkan lebih dari satu kata kunci. Gunakan saja tanda koma (,) atau plus (+) di setiap kata berbeda. Atau mencari kalimat utuh dengan membubuhkan tanda (”) di awal dan akhir kalimat. Kalau sudah siap, akan kutampilkan di mana saja data tentang hal itu tersimpan. Kalian bebas memilih mana yang kalian suka untuk dibaca lebih dulu. Kami menyediakan kutipan singkat dari keseluruhan halaman yang kami referensikan.

Tak usah risau jika halaman yang kami tawarkan terlampau banyak. Itu menunjukkan betapa lengkap koleksi rumah Google. Sebagai perpustakaan raksasa, kami memang harus menunjukkan kebesaran koleksi kami. Supaya pengunjung tak repot, kami membuat aturan klasifikasi urutan tampilan halaman yang kami sebut page rank. Dalam urutan 1-10, semakin atas posisi sebuah web, maka berarti ia semakin dekat dengan kata kunci dimaksud. Semakin ke bawah dan ke belakang akan semakin jauh. Karena itu, memiliki web yang bisa masuk dalam 10 besar Google adalah prestise tersendiri di dunia maya. Itu pertanda bahwa web tersebut semakin banyak di klik oleh pengguna internet karena berada pada prioritas utama.

Mekanisme penilaian Google terhadap urutan daftar situs dalam berbeda dengan perpustakaan maya lainnya. Jika yang lain menerapkan pola siapa membayar paling mahal, ia ada di atas, maka di Rumah Google yang paling atas adalah situs yang paling banyak direferensikan oleh situs lainnya. Sistem ini disebut page rank. Sistem ini disetujui dan ditetapkan oleh Universitas Standford pada 4 September 2001. Lawrence Page adalah pemegang lisensinya. Kata kunci di dalam Perpustakaan Google dijual berdasarkan kombinasi tawaran harga dan jumlah klik. Tawaran harganya mulai 5 sen (US$) per klik. Perpustakaan Google ini juga membiayai kebutuhannya dengan menyediakan ruang iklan bagi beberapa kata kunci terkait dengan produk.

Dari iklan-iklan inilah Perpustakaan Google ini membiayai dirinya. Tanpa biaya ini tentu rumahku ini tak akan sehebat dan sepopuler sekarang. Kepopuleran ini membuatku semakin bersemangat menjadi Uncle Google sang Robot Pustaka.

Bayangkan saja, setiap hari aku harus melayani jutaan pengunjung di seluruh dunia yang ingin mencari tahu tentang pelbagai hal. Sering kali aku harus bekerja untuk beberapa pelanggan dalam waktu bersamaan. Untunglah teknologi yang dipasang di Perpustakaan Google ini cukup memadai. Kami menyimpan server di lebih dari 100 tempat di dunia.

Dengan server yang luas dan koleksi yang luar biasa banyak, aku bisa memberikan lebih banyak referensi pada pengunjung. Batapa menyenangkan kerja pustakawan seperti aku. Pengunjung bukan hanya hemat waktu dan tenaga untuk mendapatkan referensi bacaan. Tapi juga hemat biaya, karena rumahku ini hadir tanpa biaya. Ia ada di depan siapa saja yang terhubung ke dunia maya. Sama seperti televisi hadir di rumah dengan perantara listrik.

Rumah Google dengan aku, si Uncle Google, di dalamnya adalah sebuah revolusi pustaka abad ini. Melalui “perpustakaan” maya ini siapa saja dapat memperoleh informasi dengan cepat mengenai sesuatu. Tak perlu membuka-buka katalog yang bertumpuk dan njlimet. Membacanya, lalu mencarinya di atas rak yang tersembunyi. Tak perlu menenteng buku tebal-tebal dan mencari bahan yang belum tentu tepat. Cukup ketik kata kunci, dan aku sebagai katalognya akan mencari bahan yang tepat untuk dihadirkan. Setepat-tepatnya. Kunci tepat bahan tepat. Si Uncle Google ini akan membereskannya.

Selamat datang di pustaka raksasa abad ini: GOOGLE. (Diana AV Sasa)

Gelaran Jambu: Tadarus Sastra di Kampung

Tadarus Sastra di Kampung Jambu
oleh A Iwan Kapit pada 23 September 2010 jam 2:32
Jumat, 3 September 2010
Sore itu begitu cerah. Cukup membuat gerah. Tidak seperti hari kemaren. Tak nampak mendung hitam berarak. Pertanda hujan enggan turun hari ini.
Sepulang berjumatan saya mulai sibuk mempersiapkan “tadarus” yang akan dimulai ba’da ashar. Saya tidak sendiri. Ada seorang yang membantu. Namanya Abdul Yazid. Biasa disapa Yazid. Remaja berusia 18 tahun. Adik ipar sekaligus teman berdiskusi.
Seperti kebanyakan remaja di kampung kami dia putus sekolah. Walau secara kemampuan dan kapasitas diri sangat mumpuni. Namun apa mau dikata bila ekonomi tidak bersahabat. Hanya sampai di kelas XI saja dia bisa menikmati pendidikan formal sekolah. Rasa kecewa tentu ada. Karena tak mampu menyandang ijazah SMK. Dan harus bersyukur hanya berijazah MTs.
Satu hal yang kami yakini dari suatu diskusi yang pernah kami lakukan. Bahwa belajar tidak hanya di sekolah. Bahwa belajar bisa di mana saja. Kapan saja. Dengan siapa saja. Dan membaca buku niscaya tak membuat kami miskin ilmu. Setidaknya inilah yang membuat dia masih mempunyai asa, harapan, dan mimpi-mimpi. Dengan suka cita dan antusias dia sedia membantu saya mengkondisikan hajat yang akan kami lakukan. Menyebar woro-woro ke teman-teman sebaya melalui sms. Bahkan menyatroni rumah mereka.
Taman baca masyarakat di kampung kami bernama Gelaran Buku Jambu “Daar El Fikr”. Kami memaknainya Rumah Berpikir. Letaknya di desa Jambu kecamatan Kayen Kidul kabupaten Kediri Jawa Timur. 15 Km sebelah utara pusat kota. Bila sudara hendak beranjang kemari tak sulit untuk mencari. Tinggal masuk wilayah kediri lalu bertanya kemana arah desa Jambu kecamatan Kayen Kidul. Jika sudah sampai di jalan masuk desa cukup bertanya dengan penduduk sekitar letak masjid Jambu atau rumah bapak Khoiri Kepala Madrasah Tsanawiyah Miftahul Huda Jambu. Tentu dengan sigap sudara akan ditunjukkan arahnya. Sekali lagi, sunguh tidak sulit untuk mencarinya.
Ide pendirian taman baca ini mulai dirintis akhir tahun 2008. Kami memulai dengan mengumpulkan buku-buku dari para pezakat buku. Baik personal yang kami kenal dengan karib maupun teman-teman penerbit. Pun Indonesia Buku dari Jogjakarta dengan salah seorang kerani bukunya Muhidin M Dahlan yang banyak membantu proses pengadaan buku taman baca ini di kampung kami.
Hingga pada 28 Pebruari 2010 lalu taman baca ini mulai dilaunching berbareng dengan peluncuran buku perdana yang berjudul Aku dan Ibuku. Buku tentang catatan bakti sepekan yang ditulis anak-anak desa Jambu terhadap ibunya.
Membaca bagi masyarakat Jambu merupakan hal yang langka. Bahkan tradisi ini selama beberapa generasi belum menjadi budaya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca sama sekali belum terbentuk. Ironisnya mayoritas penduduk beranggapan bahwa kegiatan membaca hanyalah kegiatan bagi mereka yang “berpendidikan”. Artinya hanya orang yang bersekolah saja yang berkeperluan dan bersinggungan dengan buku. Padahal kenyataan yang terjadi orang-orang yang bersekolah pun di desa ini minat bacanya juga masih rendah. Maka dari itu keberadaan taman baca di kampung kami ini menjadi satu ikhtiar agar budaya baca bisa tumbuh dan berkembang.
*
Segala persiapan sudah selesai. Kami berdua duduk-duduk sambil mengobrol ringan seputar kegiatan yang sama sekali baru dan belum pernah ada sebelumnya di Jambu. Sembari menunggu peserta tadarus datang. Ya, ini adalah kali pertama dilakukan di kampung kami. Kalau umumnya tadarus di desa ini adalah mengaji Al Qur’an, kitab kuning, serta kitab-kitab lain, tadarus kali ini adalah dengan mengaji karya sastra. Tadarus Sastra. Begitu kami memberi nama hajat ini.
Adalah Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karya Pramoedya Ananta Toer buku pertama yang akan ditadaruskan. Dan selaiknya bertadarus, buku karya penulis besar Indonesia ini akan dibaca, disimak, dan didiskusikan bersama-sama oleh peserta yang hadir.
“Assalamua’laikum”, uluk salam terdengar serempak dari beberapa peserta perempuan yang datang awal
“Wa’alaikumsalam”, jawab kami berdua kompak
“Ayo masuk”, saya mempersilakan. Mereka pun masuk dan kami berjabat tangan.
“Mana temanmu yang lain?”
“Tidak tahu, pak”, jawab salah seorang di antaranya
Mereka adalah Nadhirotul Choiroh, Nurul Mubarokah, Nasrul Amaliyatun Naja(kelas VII MTs), dan Rozi Nur Yanti(kelas VIII MTs). Yazid pun mulai membagi buku yang telah di foto copy satu per satu kepada mereka
Tak lama kemudian menyusul beberapa peserta laki-laki. Di antaranya Koko Atamimi, Haris Busthomi, Zainur(kelas VII MTs), Rizqi Pratama(kelas VI MI), dan Aris Setiawan(kelas X SMK).  Selain itu datang pula 2 orang guru MTs Miftahul Huda Jambu. Iskanatur Rodliyah(pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia) dan M. Saifudin Azzudi(pengajar Bahasa Inggris)
Karena sudah molor sekira 15 menit lebih kami pun segera memulai tadarusnya. Saya membuka forum dengan uluk salam dan penjelasan singkat tentang maksud tujuan tadarus sastra ini. Serta sedikit gambaran teknis kegiatan.
“Ada sebuah kalimat bijak yang pernah saya baca. Ditulis oleh salah seorang teman di facebook. Dia juga seorang penulis. Dia asli Indonesia tetapi tinggal di luar negeri. Intinya bila kita mengaji kitab suci membuat kita meraih surgawi. Bila kita mengaji sastra membuat kita menjadi lebih manusiawi”, saya pun mulai memberi sugesti.
Setelah semua peserta tadarus memperoleh buku, kami mulai membuka halaman pengantar dari Lentera Dipantara. Ada selarik kalimat Pram yang cukup menggugah. Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain. Di situ kami membaca gambaran umum tentang isi buku. Dimana Pram menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan raya yang beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia republik ini. Sejarah kelam dari bangsa yang bernama Indonesia.
Dalam tadarus ini kami sepakat setiap peserta akan membaca satu halaman secara bergantian. Peserta yang lain menyimak. Kami juga sepakat bacaan akan dibatasi di tiap-tiap kota dalam buku ini. Kemudian mendiskusikannya. Perlahan memang. Hal ini tak lain agar peserta tadarus bisa memahami alur cerita. Dan bila ada kata-kata sulit atau kurang dipahami bisa langsung ditanyakan.
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mulai kami baca.
Blora-Rembang
Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya. Dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, disusul masa pendek pendudukan militerisme Jepang sampai 1945, berlanjut dengan Revolusi 1945-1949, orang sudah tak peduli lagi bahkan tidak ingat lagi padanya.
Kami pun begitu khidmat membaca dan menyimak bagian Blora–Rembang. Saya yang pertama memulai membaca. Menyusul kemudian halaman berikutnya oleh Risqi, Zainur, Haris, Koko, dan seterusnya. Hingga tak berasa 20 menit lebih terlewati.
Aku sendiri suka bermain di koepel ini. Keluarga Residen tak pernah kulihat bercengkrama di sini. Lebih suka lagi adalah bermain pada kakinya yang dilindungi tumpukan batu karang. Di situ aku menangkapi ikan-ikan kecil sampai sekali waktu dengan sendirinya saja menjerit. Seekor ikan kecil telah mematil tanganku. Seorang anak pantai memperingatkan agar aku segera pulang karena sebentar lagi akan terserang demam. Mengikuti nasihatnya aku pulang, dan tak kena demam. Sejak itu tak lagi berani menangkap ikan di situ. Di deretan rumah-rumah peninggalan Kompeni, juga dalam kerindangan pepohonan asam dan cemara, terdapat pemandian tempat para elite kota berenang, dan sebuah pabrik es dengan pipa-pipanya yang silang–melintang di udara.
*
“Pram, adalah seorang penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia” begitu saya memulai diskusi setelah tadarus selesai.
“Dia lahir di Blora Jawa Tengah pada tahun 1925. Dia begitu kenyang hidup di penjara. Beberapa karya besarnya adalah tetralogi pulau Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Baca. Di gelaran ini cuma ada beberapa koleksi buku Pram. Di antaranya Arus Balik, Jejak Langkah, Gadis Pantai, dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang kita baca sekarang ini.” Lanjut saya. Peserta tadarus diam menyimak.
“Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini kita bisa tahu bagaimana Jalur Pantai Utara atau biasa disebut jalur Pantura yang juga menjadi jalur ekonomi di Jawa sekarang ini dulu dilebarkan oleh Daendels dengan memakan banyak korban jiwa. Ini adalah salah satu genosida atau tragedi kemunusiaan terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.”
Dalam diskusi ini saya sekaligus menunjukkan peta jalur utara Jawa terhadap peserta tadarus. Dengan pinjaman laptop serta proyektor dari MTs Miftahul Huda di kampung kami, diskusi menjadi lebih mudah. Saya juga menunjukkan beberapa foto-foto Pram, Daendels, dan kota-kota yang dilalui jalur ini. Peserta masih menyimak dan melihat gambar-gambar di dinding yang dipancarkan oleh proyektor.
“Dari pembacaan buku tadi ada yang ditanyakan?” saya mulai membuka pertanyaan ke forum.
“Koepel itu apa,pak?” tanya Haris
“Koepel ejaan lama yang dibaca Kupel dalam kamus Bahasa Indonesia itu artinya Kubah. Namun bangunan ini dulu dibuat untuk tempat bersantai melihat laut oleh para pembesar di wilayah itu.”
“Kalau residen apa, pak” tanya Risqi menyambung
“Baik, mungkin ada yang pernah dengar istilah ini dan tahu artinya?” saya pun melempar pertanyaan ke seluruh peserta tadarus. Semua tampak terdiam. Dan memang ini pertama kali mereka berdiskusi di sebuah forum. Mereka tampak malu-malu dan belum berani mengelaborasi pendapatnya. Dan setidknya dengan adanya tadarus sastra ini kelak mereka mampu belajar lebih dan berani memberikan argumennya. Begitu harapan saya dalam hati.
Melihat para peserta diam Iska pun menjelaskan
“Residen bisa diartikan pegawai pamong praja yang mengepalai suatu wilayah bagian dari propinsi yang meliputi beberapa kabupaten. Semisal Kediri itu mengepalai wilayah Tulungagung, Blitar, Trenggalek, serta Nganjuk. Makanya Kediri juga disebut karesidenan Kediri.”
Jam sudah menunjuk 17.00 tepat. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Kami pun mengakhiri tadarus sastra kali ini. Setelah ditutup para peserta tadarus beranjak pulang.
Ada rasa puas dan bangga terbesit dalam hati saya. Setidaknya hajat ini bisa terlaksana dengan lancar. Semoga ikhtiar ini kelak bisa membuat budaya baca di kampung kami bisa berkembang. Amien.
http://www.facebook.com/note.php?note_id=478175990490&ref=notif&notif_t=note_tag

Iwan JambuOleh Ahmad Ikhwan Susilo

Sore itu, 3 September 2010, begitu cerah. Cukup membuat gerah. Tidak seperti hari kemaren. Tak nampak mendung hitam berarak. Pertanda hujan enggan turun hari ini.

Sepulang berjumatan saya mulai sibuk mempersiapkan “tadarus” yang akan dimulai ba’da ashar. Saya tidak sendiri. Ada seorang yang membantu. Namanya Abdul Yazid. Biasa disapa Yazid. Remaja berusia 18 tahun. Adik ipar sekaligus teman berdiskusi.

Seperti kebanyakan remaja di kampung kami dia putus sekolah. Walau secara kemampuan dan kapasitas diri sangat mumpuni. Namun apa mau dikata bila ekonomi tidak bersahabat. Hanya sampai di kelas XI saja dia bisa menikmati pendidikan formal sekolah. Rasa kecewa tentu ada. Karena tak mampu menyandang ijazah SMK. Dan harus bersyukur hanya berijazah MTs.

Satu hal yang kami yakini dari suatu diskusi yang pernah kami lakukan. Bahwa belajar tidak hanya di sekolah. Bahwa belajar bisa di mana saja. Kapan saja. Dengan siapa saja. Dan membaca buku niscaya tak membuat kami miskin ilmu. Setidaknya inilah yang membuat dia masih mempunyai asa, harapan, dan mimpi-mimpi. Dengan suka cita dan antusias dia sedia membantu saya mengkondisikan hajat yang akan kami lakukan. Menyebar woro-woro ke teman-teman sebaya melalui sms. Bahkan menyatroni rumah mereka.

Taman baca masyarakat di kampung kami bernama Gelaran Buku Jambu “Daar El Fikr”. Kami memaknainya Rumah Berpikir. Letaknya di desa Jambu kecamatan Kayen Kidul kabupaten Kediri Jawa Timur. Sekira 15 Km sebelah utara pusat kota. Bila sudara hendak beranjang kemari tak sulit untuk mencari. Tinggal masuk wilayah kediri lalu bertanya kemana arah desa Jambu kecamatan Kayen Kidul. Jika sudah sampai di jalan masuk desa cukup bertanya dengan penduduk sekitar letak masjid Jambu atau rumah bapak Khoiri Kepala Madrasah Tsanawiyah Miftahul Huda Jambu. Tentu dengan sigap sudara akan ditunjukkan arahnya. Sekali lagi, sunguh tidak sulit untuk mencarinya.

Ide pendirian taman baca ini mulai dirintis akhir tahun 2008. Kami memulai dengan mengumpulkan buku-buku dari para pezakat buku. Baik personal yang kami kenal dengan karib maupun teman-teman penerbit. Pun Indonesia Buku dari Jogjakarta dengan salah seorang kerani bukunya Muhidin M Dahlan yang banyak membantu proses pengadaan buku taman baca ini di kampung kami.

Hingga pada 28 Pebruari 2010 lalu taman baca ini mulai dilaunching berbareng dengan peluncuran buku perdana yang berjudul Aku dan Ibuku. Buku tentang catatan bakti sepekan yang ditulis anak-anak desa Jambu terhadap ibunya.

Membaca bagi masyarakat Jambu merupakan hal yang langka. Bahkan tradisi ini selama beberapa generasi belum menjadi budaya. Kesadaran masyarakat akan pentingnya membaca sama sekali belum terbentuk. Ironisnya mayoritas penduduk beranggapan bahwa kegiatan membaca hanyalah kegiatan bagi mereka yang “berpendidikan”. Artinya hanya orang yang bersekolah saja yang berkeperluan dan bersinggungan dengan buku. Padahal kenyataan yang terjadi orang-orang yang bersekolah pun di desa ini minat bacanya juga masih rendah. Maka dari itu keberadaan taman baca di kampung kami ini menjadi satu ikhtiar agar budaya baca bisa tumbuh dan berkembang.

* * *

Segala persiapan sudah selesai. Kami berdua duduk-duduk sambil mengobrol ringan seputar kegiatan yang sama sekali baru dan belum pernah ada sebelumnya di Jambu. Sembari menunggu peserta tadarus datang. Ya, ini adalah kali pertama dilakukan di kampung kami. Kalau umumnya tadarus di desa ini adalah mengaji Al Qur’an, kitab kuning, serta kitab-kitab lain, tadarus kali ini adalah dengan mengaji karya sastra. Tadarus Sastra. Begitu kami memberi nama hajat ini.

Adalah Jalan Raya Pos, Jalan Daendels karya Pramoedya Ananta Toer buku pertama yang akan ditadaruskan. Dan selaiknya bertadarus, buku karya penulis besar Indonesia ini akan dibaca, disimak, dan didiskusikan bersama-sama oleh peserta yang hadir.

“Assalamua’laikum”, uluk salam terdengar serempak dari beberapa peserta perempuan yang datang awal

“Wa’alaikumsalam”, jawab kami berdua kompak

“Ayo masuk”, saya mempersilakan. Mereka pun masuk dan kami berjabat tangan.

“Mana temanmu yang lain?”

“Tidak tahu, pak”, jawab salah seorang di antaranya

Mereka adalah Nadhirotul Choiroh, Nurul Mubarokah, Nasrul Amaliyatun Naja(kelas VII MTs), dan Rozi Nur Yanti(kelas VIII MTs). Yazid pun mulai membagi buku yang telah di foto copy satu per satu kepada mereka

Tak lama kemudian menyusul beberapa peserta laki-laki. Di antaranya Koko Atamimi, Haris Busthomi, Zainur(kelas VII MTs), Rizqi Pratama(kelas VI MI), dan Aris Setiawan(kelas X SMK).  Selain itu datang pula 2 orang guru MTs Miftahul Huda Jambu. Iskanatur Rodliyah(pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia) dan M. Saifudin Azzudi(pengajar Bahasa Inggris)

Karena sudah molor sekira 15 menit lebih kami pun segera memulai tadarusnya. Saya membuka forum dengan uluk salam dan penjelasan singkat tentang maksud tujuan tadarus sastra ini. Serta sedikit gambaran teknis kegiatan.

“Ada sebuah kalimat bijak yang pernah saya baca. Ditulis oleh salah seorang teman di facebook. Dia juga seorang penulis. Dia asli Indonesia tetapi tinggal di luar negeri. Intinya bila kita mengaji kitab suci membuat kita meraih surgawi. Bila kita mengaji sastra membuat kita menjadi lebih manusiawi”, saya pun mulai memberi sugesti.

Setelah semua peserta tadarus memperoleh buku, kami mulai membuka halaman pengantar dari Lentera Dipantara. Ada selarik kalimat Pram yang cukup menggugah. Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain. Di situ kami membaca gambaran umum tentang isi buku. Dimana Pram menuturkan sisi paling kelam dari genosida pembangunan jalan raya yang beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia republik ini. Sejarah kelam dari bangsa yang bernama Indonesia.

Dalam tadarus ini kami sepakat setiap peserta akan membaca satu halaman secara bergantian. Peserta yang lain menyimak. Kami juga sepakat bacaan akan dibatasi di tiap-tiap kota dalam buku ini. Kemudian mendiskusikannya. Perlahan memang. Hal ini tak lain agar peserta tadarus bisa memahami alur cerita. Dan bila ada kata-kata sulit atau kurang dipahami bisa langsung ditanyakan.

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels mulai kami baca.

Blora-Rembang

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1.000 kilometer sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Sejak dapat dipergunakan pada 1809 telah menjadi infrastruktur penting, dan untuk selamanya. Dengan jatuhnya Hindia Belanda pada 1942, disusul masa pendek pendudukan militerisme Jepang sampai 1945, berlanjut dengan Revolusi 1945-1949, orang sudah tak peduli lagi bahkan tidak ingat lagi padanya.

Kami pun begitu khidmat membaca dan menyimak bagian Blora–Rembang. Saya yang pertama memulai membaca. Menyusul kemudian halaman berikutnya oleh Risqi, Zainur, Haris, Koko, dan seterusnya. Hingga tak berasa 20 menit lebih terlewati.

Aku sendiri suka bermain di koepel ini. Keluarga Residen tak pernah kulihat bercengkrama di sini. Lebih suka lagi adalah bermain pada kakinya yang dilindungi tumpukan batu karang. Di situ aku menangkapi ikan-ikan kecil sampai sekali waktu dengan sendirinya saja menjerit. Seekor ikan kecil telah mematil tanganku. Seorang anak pantai memperingatkan agar aku segera pulang karena sebentar lagi akan terserang demam. Mengikuti nasihatnya aku pulang, dan tak kena demam. Sejak itu tak lagi berani menangkap ikan di situ. Di deretan rumah-rumah peninggalan Kompeni, juga dalam kerindangan pepohonan asam dan cemara, terdapat pemandian tempat para elite kota berenang, dan sebuah pabrik es dengan pipa-pipanya yang silang–melintang di udara.

* * *

“Pram, adalah seorang penulis besar yang pernah dimiliki Indonesia” begitu saya memulai diskusi setelah tadarus selesai.

“Dia lahir di Blora Jawa Tengah pada tahun 1925. Dia begitu kenyang hidup di penjara. Beberapa karya besarnya adalah tetralogi pulau Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Baca. Di gelaran ini cuma ada beberapa koleksi buku Pram. Di antaranya Arus Balik, Jejak Langkah, Gadis Pantai, dan Jalan Raya Pos, Jalan Daendels yang kita baca sekarang ini.” Lanjut saya. Peserta tadarus diam menyimak.

“Dalam buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels ini kita bisa tahu bagaimana Jalur Pantai Utara atau biasa disebut jalur Pantura yang juga menjadi jalur ekonomi di Jawa sekarang ini dulu dilebarkan oleh Daendels dengan memakan banyak korban jiwa. Ini adalah salah satu genosida atau tragedi kemunusiaan terbesar yang pernah terjadi di negeri ini.”

Dalam diskusi ini saya sekaligus menunjukkan peta jalur utara Jawa terhadap peserta tadarus. Dengan pinjaman laptop serta proyektor dari MTs Miftahul Huda di kampung kami, diskusi menjadi lebih mudah. Saya juga menunjukkan beberapa foto-foto Pram, Daendels, dan kota-kota yang dilalui jalur ini. Peserta masih menyimak dan melihat gambar-gambar di dinding yang dipancarkan oleh proyektor.

“Dari pembacaan buku tadi ada yang ditanyakan?” saya mulai membuka pertanyaan ke forum.

“Koepel itu apa,pak?” tanya Haris

“Koepel ejaan lama yang dibaca Kupel dalam kamus Bahasa Indonesia itu artinya Kubah. Namun bangunan ini dulu dibuat untuk tempat bersantai melihat laut oleh para pembesar di wilayah itu.”

“Kalau residen apa, pak” tanya Risqi menyambung

“Baik, mungkin ada yang pernah dengar istilah ini dan tahu artinya?” saya pun melempar pertanyaan ke seluruh peserta tadarus. Semua tampak terdiam. Dan memang ini pertama kali mereka berdiskusi di sebuah forum. Mereka tampak malu-malu dan belum berani mengelaborasi pendapatnya. Dan setidknya dengan adanya tadarus sastra ini kelak mereka mampu belajar lebih dan berani memberikan argumennya. Begitu harapan saya dalam hati.

Melihat para peserta diam Iska pun menjelaskan

“Residen bisa diartikan pegawai pamong praja yang mengepalai suatu wilayah bagian dari propinsi yang meliputi beberapa kabupaten. Semisal Kediri itu mengepalai wilayah Tulungagung, Blitar, Trenggalek, serta Nganjuk. Makanya Kediri juga disebut karesidenan Kediri.”

Jam sudah menunjuk 17.00 tepat. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Kami pun mengakhiri tadarus sastra kali ini. Setelah ditutup para peserta tadarus beranjak pulang.

Ada rasa puas dan bangga terbesit dalam hati saya. Setidaknya hajat ini bisa terlaksana dengan lancar. Semoga ikhtiar ini kelak bisa membuat budaya baca di kampung kami bisa berkembang. Amien.

Ahmad Ikhwan Susilo, Kontributor Indonesia Buku di Kediri

Balai Poestaka

Oleh: Muhidin M Dahlan

Balai Pustaka, radjanovelbekasblogspotcomBalai Poestaka/Volkslectuur didirikan dalam rangka Politik Etis di samping lembaga-lembaga lain, yaitu sebagai alat untuk menyisipkan dan menyebarkan sejumlah konsep dan nilai Barat bercap modern di Hindia Belanda, sekaligus untuk menjaga tatanan kolonial. Di sini, tulis Jedamski (2009) dan Jerome (2009) Balai Poestaka (BP) telah berfungsi sebagai “penyebar peradaban, penyebar modernisasi, penenang”.

Menurut J.S. Furnivall (2009), Biro untuk Bacaan Rakyat atau BP ini dihadirkan untuk menyediakan literatur yang layak untuk Jawa modern lantaran bacaan yang tersedia untuk Pribumi “murahan dan memuakkan”.

Kehadiran BP itu, lanjut Furnivall, adalah salah satu bukti yang menonjol dari gagasan etis bahwa rakyat yang belajar membaca perlu buku, dan bahwa di antara rakyat yang tidak pernah membaca buku perlu disuntikkan kebiasaan membaca. Perkara ini tidak sama sekali diabaikan selama banjir pertama Liberalisme, ketika semangat balas budi pada 1848—irigasi, imigrasi, edukasi—belum lagi tenggelam oleh pertimbangan praktis.

Sudah sejak 1851 upaya dilakukan untuk mendorong publikasi buku-buku yang pantas, dan pada 1855, dan sekali lagi pada 1858, pemerintah menawarkan hadiah untuk “cerita atau sajak moral, lebih disukai dengan konteks Timur, atau cerita Barat yang mudah disesuaikan dengan lingkungan Timur”.

Van Deventer bolehlah disebut Bapak Politik Etis di Hindia, tapi Van Heutsz pada 1908 yang merombak model pendidikan dengan menawarkan sekolah desa. Menurut Heutsz, tak banyak guna mengajar anak membaca kecuali kalau mereka punya buku untuk dibaca setelah meninggalkan sekolah. Dan dibentuklah Komite untuk meneliti semua itu. Namun tak banyak yang dilakukan hingga 1910 tatkala Dr D.A. Rinkes dari Departemen Urusan Pribumi diangkat sebagai ketua Balai Pustaka.

Pemahamannya yang mendalam akan kehidupan pribumi memungkinkan dia sadar bahwa perlu sekali mengatur permintaan akan buku; sekadar menerbitkannya hanya perkara membelanjakan uang, tapi kecuali yang dibaca, dan akan menjadi uang yang tersia-sia. Orang yang tak pernah membaca atau melihat buku tak punya kebiasaan membaca, dan kesulitan utama adalah menciptakan kebiasaan membaca; kalau dia bisa mengorganisasikan permintaan akan buku tak akan ada kesulitan dengan suplai.

Solusinya adalah bahwa rakyat, yang tak mau membuang uang untuk membeli buku, bisa dibujuk membayar sedikit untuk meminjam, dan bahwa, kalau anak-anak bisa diajar menikmati bacaan, mereka mungkin akan terus membaca setelah meninggalkan sekolah. Karena itu Rinkes berusaha mendirikan perpustakaan di setiap sekolah Kelas Kedua atau sekolah standar dan pada 1914 ada perpustakaan kecil di 680 sekolah. Segera tampak bahwa ada juga permintaan untuk buku-buku Belanda, dan pada 1916 buku-buku berbahasa Belanda disediakan di 100 perpustakaan.

Anak sekolah diperbolehkan meminjam buku dengan gratis, tapi orang dewasa harus membayar 2,5 sen sejilid. Manajer sekolah, sebagai pustakawan, didorong untuk mempromosikan pembacaan dengan diperbolehkan menyimpan sewa yang diterima dari buku yang dipinjamkan.

Ketika permintaan di tempat mana pun memperlihatkan bahwa mungkin ada pembeli di sana, Rinkes menunjuk seorang agen lokal sebagai penjual buku, yang biasanya berhasil untuk beberapa waktu. Tapi karena kecilnya ukuran pasar, penjualan segera menurun, dan agen kehilangan minat pada bisnis itu. Untuk mengatasi masalah ini mobil-buku disebar, dan sebagian agen yang diserahi pekerjaan ini berhasil menjual hingga 2.500 buku per bulan dengan nilai f 1000. Mobil-buku ini terus-menerus berpindah.

Tapi untuk setiap publikasi baru selalu ada pembeli potensial yang tak tercapai di mobil ini, dan BP mengatasinya dengan mengirimkan edaran. Usaha ini terbatas pada mereka yang melek huruf dan dengan mengirimkan edaran kepada semua pemilih, BP mampu membangun daftar kuat pelanggan reguler.

Buku-buku yang dikirimkan ke perpustakaan biasanya adalah terbitan BP sendiri dan terdiri dari cerita pribumi yang ditulis ulang untuk generasi berikutnya, atau diadaptasi dari karya-karya Barat. Buku-buku yang ditulis untuk dunia Barat biasanya tak terbaca atau bahkan tidak bisa dimengerti bila dipindahkan ke dalam bahasa Timur.

Tapi BP mengatasi kesulitan ini dengan mengontrakkan sebagaian besar pekerjaan itu kepada penulis-penulis luar yang bayarannya sebagian bergantung pada hasil penjualan buku, dan cara ini BP menyusun teknik untuk penerjemahan dan adaptasi.

Menurut Jedamski (2009), umumnya naskah yang diterjemahkan mencerminkan: (1) minat ilmiah atau hobi anggota Commisie; (2) pandangan mereka yang Eropa-sentris tentang penduduk pribumi dan kebutuhan mereka. Buku-buku berbahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa sasaran seperti Melayu, Sunda, Jawa, dan Madura. Karena proyek penerjemahan itu adalah proyek politik untuk menandai wilayah kuasa, maka bahasa sasaran terbanyak adalah Sunda, Jawa, dan Madura. Terjemahan ke bahasa Melayu sangat sedikit. Dan fenomena ini bertahan hingga awal 1920.

Yang dipilih Commissie sebagai terbitan Volkslectuur yang pertama, untuk menunjuk contoh, ialah saduran Jawa dari versi Belanda yang dibuat Juynboll dari naskah Kawi Serat Mahabarata yang asalnya dari saduran bahasa Sanskerta. Yang lain-lain umumnya bertema soal mental hubungan antara pribumi yang menjadi jongos bagi tuan majikan orang Belanda.

Samuel (2009) memerinci tiga kriteria penerjemahan ke bahasa Melayu: pengarang atau penerjemah harus (1) menyusun kalimat yang sangat pendek; (2) menghindari bentuk berimbuhan; dan (3) mengutamakan kosa kata yang lazim dipakai tanpa memandang baku tidaknya. Sebaliknya tata bahasa harus tetap mengikuti patokan-patokan yang ditentukan van Ophuysen.

Di antara karya-karya yang sudah diadaptasi berdasarkan kriteria-kriteria itu terdapat The Old Curiosity Shop, Oliver Twist, Baron Munchausen, Le Gendre de M. Poirier, dan L’Avare; dan di antara yang diterjemahkan terdapat Monte Cristo, The Three Musketeers, Twenty Years After, Tom Sawyer, The Jungle Book, Gulliver’s Travels, dan Ivan the Fool.

Karya-karya lain termasuk Sejarah Jawa, Panduan untuk Tukang Kayu, Tukang Batu, dan Tukang Listrik, dan buku-buku soal pertanian, higiene, dan sebagainya, sebagaimana yang menjadi konsens tema yang termuat dalam majalah Sri Poestaka yang terbit pertama kali pada 1918.

Setelah memiliki mesin cetak sendiri pada 1921, BP mengembangkan sayapnya dan menerbitkan majalah Pandji Pustaka pada 1923 yang terbit tiap pekan. Majalah ini berisi berita-berita penerangan dari pemerintah dan memuat cerita-cerita pendek. Cerita-cerita pendek itu kebanyakan reproduksi dari sastra lisan tradisional yang sudah dikenal sejak lama sebagai cerita pelipur lara. Sifatnya adalah hiburan semata dan dapat dikategorikan sebagai bacaan di waktu senggang.

Jika pun ada terbitan BP yang sedikit “melawan”, umumnya sudah mengalami domestifikasi, publikasi terbatas, dan sudah dinyatakan “aman”. Itulah yang ditemukan pada roman seperti Azab dan Sengsara, Sitti Nurbaya, dan Salah Asuhan yang juga merupakan cara BP merekrut penulis-penulis dari kaum pergerakan untuk “meluluhkan” kaum pergerakan yang makin hari makin intens penyerangannya terhadap pemerintah.

Sitti Nurbaya, misalnya, sering menjadi alamat bagi adat kawin paksa yang banyak dihujat. Padahal, Sitti Nurbaya dalam roman ini tidaklah terpaksa menikah lantaran adat, melainkan soal lain: ekonomi.

Kejanggalan lainnya adalah asumsi prokolonial yang dikandungnya: Samsulbahri dilukiskan sebagai serdadu yang memerangi rakyat yang menolak belasting atau pajak yang ditetapkan oleh pemerintah kolonial. Adapun Datoek Meringgih digambarkan sebagai tokoh yang luar biasa jahat. Dengan gambaran ini posisi Datuk Meringgih sebagai orang yang menentang pajak dan kekuasaan kolonial secara terbuka pupus.

Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana sudah mulai “bertendens”, walau tak lugas sebagaimana kita lihat pada “bacaan liar”. Roman ini mengajukan ide-ide cemerlang tentang hal ini, terutama tentang emansipasi
perempuan.

Sedangkan Belenggu bergerak semakin mendalam dengan melampaui batas sosial dan memasuki ranah psike. Monolog interior dalam Belenggu belum biasa digunakan pada masa roman ini terbit. Namun yang lebih belum biasa lagi adalah sikap dan ide yang diajukannya tentang hubungan pernikahan, peran intelektual dalam masyarakat, dan peran sosial perempuan. Saking janggalnya bagi masanya, novel ini ditolak awal-awal Balai Poestaka dan mau menerbitkannya dengan catatan dipotong di sana-sini.

Puncak dari usaha BP merekrut tenaga penulis Indonesia untuk mau menulis atau menjadi penerjemah di penerbitan pemerintah ini adalah lahirnya angkatan baru dalam kesasteraan Indonesia yang menyebut diri dengan Poedjangga Baroe dengan merujuk pada majalah terbitan mereka: Poedjangga Baroe. (Dari pelbagai sumber. Kuplet ini bagian dari riset panjang tentang “Keaksaraan Membangun Peradaban”)

Foto: radjanovelbekas.blogspot.com

Balai Poestaka dan Penjina'an “Batjaan Liar”

Oleh: Muhidin M Dahlan

Student HidjoSalah satu tugas utama Balai Poestaka (BP) adalah menjinakkan apa yang mereka sebut “bacaan liar” atau meminjam istilah Furnivall sebagai bacaan “murahan dan memuakkan”. Dan umumnya “bacaan liar” itu adalah buku atau naskah-naskah yang diproduksi aktivis pergerakan dan organ-organ kebangsaan yang bekerja habis-habisan untuk membibitkan kesadaran kolektif kebangsaan.

Tugas menghalau “bacaan liar” itu disebutkan Rinkes dalam kalimat berikut ini: “Tambahan lagi harus pula dicegah, janganlah hendaknya kepandaian membaca dan kepandaian berpikir yang dibangkitkan itu menjadi hal yang kurang baik dan kurang patut, sehingga merusakkan tertib dan keamanan negeri dan lain-lain… hasil pengajaran itu boleh juga mendatangkan bahaya, kalau orang-orang yang tahu membaca itu mendapatkan kitab-kitab bacaan yang berbahaya dari saudagar kiab yang kurang suci hatinya dan dari orang-orang yang bermaksud hendak mengharu.”

Yang dimaksud “bacaan liar” adalah jenis bacaan yang diterbitkan swasta (Pribumi, Tionghoa, dan Indo Peranakan) yang tak mengikuti aturan kebahasaan yang sudah ditetapkan pemerintah Hindia Belanda, yakni bahasa “Melayu Tinggi” sebagaimana yang “dibakukan” Prof. Charles van Ophuijsen dibantu oleh Engku Nawawi gelar Sutan Makmur dan Moh. Taib Sultan Ibrahim pada 1901. Hasil pembakuan itu dikenal dengan Ejaan Van Ophuijsen.

Van Ophuijsen adalah seorang ahli bahasa berkebangsaan Belanda. Ia pernah jadi inspektur sekolah di maktab perguruan Bukittinggi, Sumatera Barat, kemudian menjadi profesor bahasa Melayu di Universitas Leiden, Belanda. Setelah menerbitkan Kitab Logat Melajoe, van Ophuijsen kemudian menerbitkan Maleische Spraakkunst (1910). Buku ini kemudian diterjemahkan oleh T.W. Kamil dengan judul Tata Bahasa Melayu dan menjadi panduan bagi pemakai bahasa Melayu di Indonesia.

Adapun bahasa Melayu terdahulu mereka berikan atribut merendahkan seperti “Bahasa Melayu Rendah”, “Bahasa Melayu Gado-Gado”, “Bahasa Melayu Kacau”, dan sebagainya. Dan bahasa itulah yang dipakai aktivis pergerakan menerbitkan brosur dan tulisan-tulisan yang dianggap “liar”.

Mengulas “bacaan liar”, kita mestilah menyebut nama Tirto Adhi Soerjo sebagai salah satu pribadi yang dengan sadar memproduksi bacaan-bacaan fiksi dan non-fiksi di Soenda Berita, Medan Prijaji, dan Poetri Hindia. Tokoh ini pula yang menyatakan pendapat ketaksetujuannya ketika pemerintah mendirikan BP pertama kali. Menurut Tirto, kenapa dana itu tak diberikan kepada rakyat saja untuk mengongkosi bacaan mana yang mereka butuhkan dalam kehidupan.

Apa yang dilakukan Tirto mendorong pribadi-pribadi lain mengikuti jalan “bacaan liar” ini, seperti Soeardi Soerjaningrat, Tjipto Mangoenkoesoemo, Douwes Dekker, Tjokroaminoto, Abdul Muis, Mas Marco Kartodikromo, Misbach, Soerjopranoto, Abdul Muis, Semaoen, Darsono, dan aktivis pergerakan lainnya. Mereka semua menghasilkan bacaan-bacaan populer yang terutama ditujukan untuk mendidik bumiputra yang miskin (kromo). Bacaan-bacaan yang mereka hasilkan merupakan ajakan untuk mengobati badan bangsanya yang sakit karena kemiskinan, juga jiwanya karena kemiskinan yang lain, kemiskinan ilmu dan pengetahuan. Bacaan itu juga membeberkan pemahaman dan kesadaran politik kekuasaan kolonial.

Salah satu “bacaan liar” yang cukup terkenal adalah tulisan Soeardi Soerjaningrat “Seandainya Saya Seorang Belanda,” yang ditulisnya dalam rangka menyambut perayaan bebasnya Nederland dari kekuasaan Prancis.
Dalam menulis brosur tersebut Soeardi dibantu kedua sahabatnya, Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Tulisan ini diumumkan dalam suratkabar Indissche Partij, De Expres, yang saat itu tirasnya mencapai 1.500. Gara-gara tulisan tersebut penerang Indissche Partij itu ditangkapi dan dibuang ke Belanda yang 10 tahun kemudian membelokkan Soeardi dari gerakan politik menjadi aktivis pendidikan dengan mendirikan Taman Siswa pada 1923.

Penulis “bacaan liar”—dan berkembang menjadi “literatuur socialistich”—selalu menyesuaikan tulisannya dengan kebutuhan para pembacanya (pendukung), sehingga bahasa maupun ungkapan yang ditampilkan dalam bacaan, sarat dengan ekpresi dan ideologi pendukungnya. Umpamanya untuk menjelaskan perkembangan modal, diciptakan istilah “setan oeang” atau kebebasan diganti dengan “mardika”.

Harganya pun dibuat bersaing dengan harga bacaan BP. Harganya rata-rata di atas f.0,30,- dan bahkan untuk Sjair Internationale yang diterjemahkan oleh Soeardi Soerjaningrat (Ki Hadjar Dewantara) pada 1921 menjadi Darah Ra’jat, dijual dengan harga f. 0,15.

Jelas harga yang murah merupakan kesengajaan dari para penulis dan penerbit buku-buku “bacaan liar” agar bisa bersaing dengan BP. Dalam hal distribusi bacaan, pesan-pesan penerbit “bacaan liar” lebih dapat diterima oleh para pembaca. Penyebaran bacaan, biasanya beriringan dengan rapat-rapat umum.

Misalnya saja Sjair Internasionale dinyanyikan pada rapat-rapat umum, sebagaimana ditegaskan Marco dalam Rasa Merdika: “berbareng dengen keloeranja orang-orang itoe maka terdengerlah soeara dalem vergadering itoe lagoe-lagoe socialisme dinjanjikan orang, jang maksoednja membangoenkan hati persaudaraan bersama.” Syair ini juga didengungkan pada saat pemogokan besar di Solo pada tahun 1923, di mana massa Sarekat Islam menjanjikan Sjair Internasionale.”

Alhasil, bacaan yang dianggap “bacaan liar” itu sesungguhnya “bacaan politik”. Hampir semua bacaan yang diproduksi oleh para pemimpin pergerakan apakah bentuknya novel, roman, surat perlawanan persdelicht dan cerita bersambung, isinya menampilkan kekritisan dan perlawanan terhadap tata-kuasa kolonial.

Salah satu tokoh pergerakan Aliarcham mengatakan: “Ada kaoem intelektuil jang tida soeka tjampoer dengan pergerakan kita karena merasa maloe, tetapi mereka djoega akan berhoeboengan dengan fihak sana djoega tidak lakoe, paling2 djadi orang soeroehan. Tapi kita kaoem intelektuil proletar berdjoeang oentoek mendirikan koeltoer baroe, dimana tida terdjadi orang minoem darah orang lain. Dari sekarang pendidikan haroes dimoelai dari sekolah rendahan. Kita haroes banjak mengeloearkan batjaan oentoek anak2 Ra’jat kita. Batjaan ini boekannja mengadjar orang takoet sama pemerentah tapi mendidik rasa mardika dan rasa berkoempoel dan nafsoe berdjoeang melawan batjaan2 jang dikeloearkan pemerentah.”

Selain “roman politik” dan “literatuur socialis”, yang turut masuk dalam “bacaan liar” adalah cerita-cerita silat yang diproduksi percetakan dan disiarkan lewat pers-pers Tionghoa dan juga roman-roman karya keturunan Indo seperti F.H. Wiggers, H. Kommer, dan F. Pangemanan. (Dari pelbagai sumber)

* Penjelajahan lebih dalam tentang “Batjaan Liar”, bisa dilihat dari artikel panjang yang ditulis Razif. Klik di sini.

Romeo Grafika Pontianak (RGP)

Buku-buku Romeo dari Pontianak
Bagikan
Selasa pukul 18:24
Hingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.
Romeo Grafika, lengkapnya Romeo Grafika Pontianak (RGP). Dari namanya sudah terlacak lokasinya. Kalimantan dan beberapa kota di kawasan Indonesia Tengah, sepengetahuan saya sangat jarang tercantum sebagai alamat penerbit buku-buku yang pernah saya catat, kecuali Institut Dayakologi. Apalagi penerbit dari kawasan timur Indonesia, kecuali Ende Flores.
Dua buku terbitan RGP yang tercantum dalam daftar koleksi perpustakaan saya adalah: 1) Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi; dan 2) Konflik Antarkomunitas Etnis di Sambas 1999. Suatu Tinjauan Sosial Budaya.
Merujuk pada makalah Henny Warsilah (2001) dalam Seminar Hasil Penelitian “Dunia Perbukuan dan Penerbitan di Luar Jawa” yang diselenggarakan oleh Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI, perkembangan dunia penerbitan buku di daerah, terutama di luar Jawa, kurang berkembang dikarenakan beberapa kondisi. Beberapa temuan riset, Henny kelompokkan dalam kategori kondisi terkait faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di daerah sebagai biang melempemnya penerbit lokal. Saya hanya mengutip tiga dari sepuluh fakta yang diajukan Henny, yakni:
1. Jumlah pengarang dan penulis di daerah masih terlalu sedikit, atau meski jumlah penulis banyak, hasil karya mereka sering ditulis dalam bentuk kumpulan puisi, prosa, cerpen, yang diterbitkan di koran-koran daerah, bukan dalam bentuk naskah buku.
2. Kebijakan ketat yang dilakukan pemerintah atau instansi untuk menyebarluaskan dokumen-dokumen penelitian yang baik dan penting.
3. Image toko buku sebagai toko peralatan sekolah dan kantor, bukan sebagai toko yang menjual hasil karya intelektual dan budayawan setempat. Akibatnya penulis harus memasarkan secara hand to hand, ini memperlihatkan tidak ada kerja sama antara penerbit, toko buku, dan pengarang.
Ada tujuh kota yang Henny jadikan lokasi penelitian, Pontianak adalah kota terakhir yang ia sambangi. Ketimbang Makassar dan Samarinda, Henny mencatat optimisme di Negeri Khatulistiwa ini. Karena di kota ini ada satu “Romeo” yang dimotori oleh seorang Haji bernama Sulaiman Ahmad. Haji Sulaiman punya peran besar dalam membangkitkan gairah intelektualitas dan perbukuan di Pontianak. Ia mendorong orang-orang yang potensial sebagai penulis (dosen dan budayawan) agar berkarya. Haji Sulaiman bahkan mengongkosi dosen-dosen yang melakukan penelitian untuk kemudian hasilnya ia terbitkan dan pasarkan.
Romeo Grafika Pontianak menjadi pabrik bahan-bahan bacaan bermuatan lokal. Cukup banyak judul buku bermuatan kajian sejarah dan budaya lokal diterbitkan oleh penerbit ini, antara lain:
1. Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Barat.
2. Kamus Bahasa Melayu Sambas.
3. Taman Nasional Danau Sentarum Lahan Basah Terunik di Dunia.
4. Sejarah Pemerintahan Kesultanan dan kota Pontianak.
5. Landak di Balik Nukilan Sejarah.
6. Peristiwa Mandor: Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.
7. Susur Galur Kerajaan Landak: Sejarah Perkembangan Bekas Kerajaan Landak dari Pertumbuhan Tahun 1292 hingga Restrukturisasi dan Refungsionalisasi Budaya Tahun 2000.
8. Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat.
9. Syarif Abdurrahman Alkadri. Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.
Buku-buku bermuatan lokal itulah yang diangkut ke Library of Congress (LOC) di Amerika Serikat melalui kantor perwakilannya di Jakarta. Katalog online LOC memuat 30 judul buku RGP. National Library of Australia memiliki 18 judul.
Sementara, hasil penelusuran saya melalui katalog online Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menampilkan keterangan “Data tidak ditemukan” untuk buku-buku terbitan RGP. Sedangkan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki satu judul koleksi buku keluaran RGP. Bahkan katalog online Perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalimantan Barat hanya mencantumkan satu judul buku terbitan RGP. Itu pun bukan buku sejarah atau budaya, tapi buku manajemen sumber daya manusia.
Tidak mengherankan bukan bila ada ungkapan ironi bahwa orang Indonesia harus ke negeri orang untuk memahami negeri sendiri.
Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta

romeoHingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung.

Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.

Romeo Grafika, lengkapnya Romeo Grafika Pontianak (RGP). Dari namanya sudah terlacak lokasinya. Kalimantan dan beberapa kota di kawasan Indonesia Tengah, sepengetahuan saya sangat jarang tercantum sebagai alamat penerbit buku-buku yang pernah saya catat, kecuali Institut Dayakologi. Apalagi penerbit dari kawasan timur Indonesia, kecuali Ende Flores.

Dua buku terbitan RGP yang tercantum dalam daftar koleksi perpustakaan saya adalah: 1) Pontianak 1771-1900: Suatu Tinjauan Sejarah Sosial Ekonomi; dan 2) Konflik Antarkomunitas Etnis di Sambas 1999. Suatu Tinjauan Sosial Budaya.

Merujuk pada makalah Henny Warsilah (2001) dalam Seminar Hasil Penelitian “Dunia Perbukuan dan Penerbitan di Luar Jawa” yang diselenggarakan oleh Ford Foundation dan Yayasan Adikarya IKAPI, perkembangan dunia penerbitan buku di daerah, terutama di luar Jawa, kurang berkembang dikarenakan beberapa kondisi. Beberapa temuan riset, Henny kelompokkan dalam kategori kondisi terkait faktor sosial, budaya, ekonomi, dan politik masyarakat di daerah sebagai biang melempemnya penerbit lokal. Saya hanya mengutip tiga dari sepuluh fakta yang diajukan Henny, yakni:

1. Jumlah pengarang dan penulis di daerah masih terlalu sedikit, atau meski jumlah penulis banyak, hasil karya mereka sering ditulis dalam bentuk kumpulan puisi, prosa, cerpen, yang diterbitkan di koran-koran daerah, bukan dalam bentuk naskah buku.

2. Kebijakan ketat yang dilakukan pemerintah atau instansi untuk menyebarluaskan dokumen-dokumen penelitian yang baik dan penting.

3. Image toko buku sebagai toko peralatan sekolah dan kantor, bukan sebagai toko yang menjual hasil karya intelektual dan budayawan setempat. Akibatnya penulis harus memasarkan secara hand to hand, ini memperlihatkan tidak ada kerja sama antara penerbit, toko buku, dan pengarang.

Ada tujuh kota yang Henny jadikan lokasi penelitian, Pontianak adalah kota terakhir yang ia sambangi. Ketimbang Makassar dan Samarinda, Henny mencatat optimisme di Negeri Khatulistiwa ini. Karena di kota ini ada satu “Romeo” yang dimotori oleh seorang Haji bernama Sulaiman Ahmad. Haji Sulaiman punya peran besar dalam membangkitkan gairah intelektualitas dan perbukuan di Pontianak. Ia mendorong orang-orang yang potensial sebagai penulis (dosen dan budayawan) agar berkarya. Haji Sulaiman bahkan mengongkosi dosen-dosen yang melakukan penelitian untuk kemudian hasilnya ia terbitkan dan pasarkan.

Romeo Grafika Pontianak menjadi pabrik bahan-bahan bacaan bermuatan lokal. Cukup banyak judul buku bermuatan kajian sejarah dan budaya lokal diterbitkan oleh penerbit ini, antara lain:

1. Kumpulan Cerita Rakyat Kalimantan Barat.

2. Kamus Bahasa Melayu Sambas.

3. Taman Nasional Danau Sentarum Lahan Basah Terunik di Dunia.

4. Sejarah Pemerintahan Kesultanan dan kota Pontianak.

5. Landak di Balik Nukilan Sejarah.

6. Peristiwa Mandor: Sebuah Tragedi dan Misteri Sejarah.

7. Susur Galur Kerajaan Landak: Sejarah Perkembangan Bekas Kerajaan Landak dari Pertumbuhan Tahun 1292 hingga Restrukturisasi dan Refungsionalisasi Budaya Tahun 2000.

8. Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat.

9. Syarif Abdurrahman Alkadri. Perspektif Sejarah Berdirinya Kota Pontianak.

Buku-buku bermuatan lokal itulah yang diangkut ke Library of Congress (LOC) di Amerika Serikat melalui kantor perwakilannya di Jakarta. Katalog online LOC memuat 30 judul buku RGP. National Library of Australia memiliki 18 judul.

Sementara, hasil penelusuran saya melalui katalog online Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) menampilkan keterangan “Data tidak ditemukan” untuk buku-buku terbitan RGP. Sedangkan Perpustakaan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) hanya memiliki satu judul koleksi buku keluaran RGP. Bahkan katalog online Perpustakaan Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional (BPSNT) Kalimantan Barat hanya mencantumkan satu judul buku terbitan RGP. Itu pun bukan buku sejarah atau budaya, tapi buku manajemen sumber daya manusia.

Tidak mengherankan bukan bila ada ungkapan ironi bahwa orang Indonesia harus ke negeri orang untuk memahami negeri sendiri.

* Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta dan kontributor web Indonesia Buku

Perpustakaan SD Al-Irsyad

PeprustakaanPemenang Lomba Perpustakaan Se-Surabaya

Pada lomba Perpustakaan 2010 yang diselenggarakan Badan Arsip dan Perpustakaan Pemkot Surabaya, perpustakaan SD Al-Irsyad ditetapkan sebagai pemenang. Sebab, pengelolaan perpustakaan di sekolah yang terletak di Jalan Hang Tuah itu terbilang bagus.

SEJAK awal, SD Al-Irsyad ingin mengonsep perpustakaan dengan baik. Tidak sekadar sebagai tempat membaca. Namun, lebih dari itu, anak-anak bisa betah berada di perpustakaan. Karena itu, fasilitas perpustakaan juga dilengkapi. Di antaranya, terdapat fasilitas LCD dan layar. ”Bagi siswa SD, menumbuhkan minat baca sangat penting,” kata Zahratul Alimah, pustakawan SD Al-Irsyad.

Ruang perpustakaan di sekolah itu memang tidak begitu luas. Ukurannya sekitar 6 x 8 meter. Ada sekitar 1.700 judul buku. Mulai buku fiksi, ensiklopedia, sains, sosial, hingga sastra. Buku-buku tersebut tertata dengan rapi. Untuk bacaan anak-anak, Alimah mengatakan lebih mengutamakan buku seri lengkap. ”Jadi, bisa tuntas saat membaca,” ujarnya.

Penataan buku itu juga tidak asal. Buku-buku tersebut juga sudah diklasifikasikan sesuai jenis dan sangat detail dengan menggunakan sistem dewey decimal classification (DDC). Judul buku diklasifikasikan sesuai dengan kelas-kelas bukunya. ”Misalnya, buku tentang luar angkasa yang salah satu judulnya tentang bintang, harus lebih spesifik mengategorikan kelasnya,” jelas Alimah.

Selain melayani peminjaman buku, tersedia komputer dan laptop untuk browsing para siswa. Juga ada koleksi CD buku dan layanan audiovisual. ”Dengan adanya audiovisual, ada LCD dan layar, untuk library class, guru bisa me­ngajak siswa untuk belajar di perpustakaan ini,” tambahnya.

Namun, tidak semua siswa bisa masuk perpustakaan. Pengelola memberlakukan jam berkunjung dengan ketat. Pada Senin, Rabu, dan Jumat, jadwal kunjungan untuk siswa putra. Selasa, Kamis, dan Sabtu siswa putri. Jam berkunjung pun hanya pada saat istirahat dan pulang sekolah. Yakni, pukul 09.20-pukul 09.50 dan pukul 13.00-pukul 14.00. Di luar jam itu, bisa diisi library class. ”Sesuai aturan, untuk laki-laki dan perempuan, jam berkunjungnya memang dipisah,” kata Alimah.

Wajar saja pengaturan itu diperlukan. Sebab, ada 680 siswa yang harus dilayani. Jika tidak atur dengan bagus, jelas semrawut pelayanannya. Setiap siswa akan diberi kartu khusus. Saat meminjam buku, kartu tersebut harus ditunjukkan untuk dicatat. ”Jadi, kami bisa tahu siswa mana yang rajin berkunjung dan siswa mana yang tidak. Nanti ini dilaporkan kepada guru. Agar guru bisa membantu untuk menumbuhkan minat baca sang siswa,” tegasnya.

Menurut Alimah, kesenangan membaca bisa digunakan sebagai salah satu ukuran untuk mengetahui tingkat komunikasi seorang anak kepada orang lain. ”Ini berkaitan dengan komunikasi dengan temannya dan perilaku sang anak. Namun, membaca tidak bisa dipaksakan. Kami ingin menumbuhkan minat baca anak-anak,” katanya. (puj/hud)

*)Jawapos, 29 mei 2010

Rumah Baca Jala Pustaka

jala pustakaRUANG berukuran 6 x 3 m2 itu, jauh dari layak untuk sebuah etalase. Selain dinding dari bambu yang reyot dan penerangan ala kadarnya, ruangan juga terlalu dekat dengan kamar tidur, dapur, bahkan kakus.

Tapi belasan anak dan remaja, sepertinya tak terusik dengan situasi tersebut. Mereka terlihat nyaman dan asik membaca, sebagian memilih-milih buku yang berjejer di rak sederhana.

Demikianlah suasana sehari-hari di Rumah Baca Jala Pustaka, di Jalan Raya Kranji, Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Rumah baca yang dikelola keluarga sederhana itu, kini menjadi salah satu tempat mangkal anak-anak dan remaja yang haus akan bacaan.

Belum lama ini, Jala Pustaka bahkan menjadi tuan rumah pertemuan para sastrawan dan penuiis, dari berbagai daerah di tanah air. Dari mulai workshop, sepeda pustaka, bedah novel, diskusi pustaka, hingga pentas teater dan puisi digelar.

“Tak ada bantuan pemerintah, sponsor, atau donatur. Semuanya dari iuran dan kantong para penulis,” ujar Adi Thoha, pemilik Rumah Baca Jala Pustaka.

Jala Pustaka, yang lahir 15 Oktober 2008 memang diniatkan untuk kegiatan sosial, yaitu memin-jamkan bacaan dan buku secara cuma-cuma kepada warga.

“Siapa pun bebas meminjam karena tak ada keanggotaan ketat dan tak ada biaya pendaftaran atau peminjaman,” ujar Adi yang baru saja meluncurkan novelnya berjudul ‘Valharald”.

Saat awal beroperasi, rumah baca itu sering diprotes oleh keluarga. Ruang tamu tergusur oleh etalase dan tak ada lagi ruang privat untuk lima anggota keluarga yang menghuni rumah itu.

“Tapi lama-lama, keluarga bisa menerima, bahkan kini bapak atau ibu saya juga sering ikut melayani pengunjung yang ingin pinjam buku,” tutur pemuda kelahiran Kedungwuni, September 1982 itu.

Makin lama pengunjung makin banyak, kini rata-rata tiap hari, Jala Pustaka dikunjungi sekitar 50 pembaca. Begitu juga dengan jumlah buku yang dipinjam tiap hari, rata-rata sekitar 50 judul.

Jala Pustaka yang awalnya didirikan untuk memanfaatkan koleksi buku pribadi agar bisa dibaca masyarakat, kini makin ramai.

Koleksi bukunya sudah ber-tambah dari sekitar 400 judul menjadi 2.000-an judul.

Adi Toha bahkan berani mengklaim jika banyak buku sastra koleksi Jala Pustaka yang tidak dimiliki perpustakaan lain, termasuk milik Pemkab yang didukung dengan anggaran rutin untuk pembelian buku.

Meski makin ramai dan dipadati berbagai kegiatan, Jala Pustaka tetap tidak membuat aturan yang ketat untuk mereka yang ingin pinjam. Memang ada denda bagi mereka yang meminjam lebih lama dari batas waktu yang ditetapkan. Namun itupun sukarela dan sering tidak ditagih.

Adi Toha yang pemah kuliah di Universitas Padjajaran, Jurusan llmu Fisika yakin, jika kultur membaca dan cinta buku sudah terbangun, pembaca akan melindungi sendiri buku itu.

“Sekarang para peminjam bahkan ikut melayani pengunjung baru yang ingin pinjam,” jelasnya.

Membangun kultur membaca dan menulis jauh lebih penting dari membisniskan perpustakaan. Bahkan keluarga sederhana yang jauh dari berkecukupan rela menghabiskan isi kantong untuk mengelola rumah baca yang jika dilihat dari luar lebih menyerupai gubuk sederhana. Sebuah gubuk yang ternyata bisa mengobarkan pencerahan (Muhammad Burhan-74)

*) Dikronik dari Suara Merdeka, 4 Mei 2010

Tang Lebun:Cafe,Buku,Film

Tang 3I:BOEKOE,SURABAYA: Teman-teman pecinta buku di Surabaya akan dimanjakan lagi dengan munculnya satu tempat nongkrong yang bernuansa cafe dipadu dengan sinematek (film) dan perpustakaan mini. Tang Lebun namanya.

Tang Lebun yang dalam bahasa Madura berarti sarangku rumahku ini adalah cafe milik Arik Rahman, seorang pegiat film indie di Surabaya. Cafe mungil yang menempati bekas tempat Billiard di Jl Karangmenjangan Gg 2 ini disetting dengan dinding batu bata merah abu-abu dan poster film. Karena Arik juga penggemar film, maka disediakan pula layar lebar untuk memutar film.

Silain film, Arik juga menyukai buku. Koleksi buku dari kakek dan ayahnya ia tata dengan rapi di beberapa sudut cafe. Buku-buku itu cukup beragam. Dari sastra, politik, filsafat, komik, hingga seni budaya. Beberapa koleksi lawasnya cukup membangkitkan gairah masa kecil tentang buku-buku cerita anak-anak terbitan balai pustaka.

Sambil membaca atau nonton film, kita bisa sembari mengudap beberapa makanan kecil dengan resep ala Tang Lebun yang harganya cukup bersahabat di kantong. Jika berkunjung kesana dimalam hari, suara jangkrik akan memberi nuansa pedesaan yang sunyi dan melenakan.

Cafe ini tersembunyi di gang kecil, maka baiknya setelah masuk Gang 2 lihat kanan jalan hingga menemukan gang kecil. Tang Lebun ada sekitar 500 meter dari jalan utama. Atau tanyakan saja ke penduduk sekitar, bekas tempat billiard. (DS)

Rumah Penerbitan Ininnawa Makassar

Sumber: Kompas

Sumber: Kompas

Oleh Didit Putra Erlangga dan Nasrullah Nara

Ingar-bingar unjuk rasa mahasiswa di Makassar yang berujung rusuh sudah menjadi suguhan sehari-hari layar televisi. Begitu mendengar kata ”Makassar”, seketika ingatan kolektif khalayak tertuju pada situasi onar.

Di balik hiruk-pikuk mahasiswa di jalan raya, sekelompok mahasiswa dan sarjana lintas disiplin ilmu mencoba mengimbangi stigma itu dengan kegiatan intelektual. Menerjemahkan hasil penelitian bertema sosial-budaya dan kemudian menerbitkannya dalam bentuk buku merupakan keseharian anak-anak muda yang dikenal sebagai komunitas Ininnawa ini. Dalam bahasa setempat, ininnawa artinya harapan dan cita-cita.

Hasilnya, enam tahun terakhir, 20 judul buku mengenai kajian masyarakat Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat telah terbit. Masyarakat Bugis, Makassar, Toraja, dan Mandar yang mendiami jazirah selatan Pulau Sulawesi kini bisa mendapatkan literatur seputar kebudayaan mereka sendiri yang selama ini didominasi pihak asing. Tanpa perlu susah payah menerjemahkan, warga setempat bisa membacanya dan membeli buku dengan harga terjangkau.

Liana Siraji, mahasiswi FISIP Universitas Hasanuddin, misalnya, bisa membeli hasil terjemahan itu cukup dengan merogoh kocek rata-rata Rp 60.000 per buku. Dua-tiga kali lebih murah ketimbang buku aslinya.

Sebutlah, misalnya, Warisan Arung Palakka: Sejarah Sulawesi Selatan Abad Ke-17 karya Leonard Y Andaya (pengajar sebuah universitas di Hawaii, Amerika Serikat). Buku ini coba menyajikan sudut pandang alternatif atas perseteruan Arung Palakka dengan Sultan Hasanuddin.

Judul lain Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar: Pengetahuan Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar 1300- 2000. Hasil penelitian Thomas Gibson, peneliti Universitas Rochester, Amerika, ini mengulik simbol-simbol budaya dan kekuasaan di Makassar.

Setahun terakhir, sebuah buku pembelajaran seksual bersumberkan kitab Lontara’ sempat membuat heboh khalayak karena kevulgarannya menyaingi buku Kamasutra. Hasil penelitian Mukhlis Hadrawi itu terpajang di toko-toko buku dengan judul Assikalaibineng: Kitab Persetubuhan Bugis.

”Kami ingin mendekatkan warga jazirah selatan Sulawesi dengan literatur budaya mereka sendiri, baik secara geografis maupun secara ekonomi,” kata Anwar Jimpe Rachman, Direktur Penerbitan Ininnawa.

Nurhady Sirimorok, perintis komunitas Ininnawa, mengungkapkan, hasil penelitian pihak asing jarang kembali ke Sulawesi dengan sendirinya. Umumnya berakhir dalam bentuk jurnal ilmiah dengan bahasa akademik atau terbukukan di luar negeri. Padahal, di satu sisi, sebagian besar masyarakat di daerah ini belum tentu paham akar kebudayaan sendiri.

Menerjemahkan naskah asing barulah setengah dari mekanisme Ininnawa. Agar tidak bias makna, Jimpe dan rekan-rekannya harus getol memasukkan informasi terbaru dan mengonfirmasi langsung beberapa hal kepada penulisnya.

Umumnya, pemilik naskah asli tidak menuntut pembayaran royalti. Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde (KITLV) Leiden, Belanda, misalnya, malah turut menanggung biaya cetak untuk buku Kuasa dan Usaha di Masyarakat Sulawesi Selatan. Buku tersebut ditulis Roger Tol, Kees van Dijk, dan G Acciaioli.

Muhlis Hadrawi, salah satu penulis, melihat ketulusan pihak asing itu sebagai komitmen mengangkat penerbit lokal.

Hindari subyektivitas

Dosen antropologi Universitas Hasanudin, Yahya Kadir, menilai literatur dari peneliti asing bisa menjadi pengimbang dari literatur peneliti lokal yang sulit menghindari subyektivitas. Sejumlah tulisan bahkan bisa menyadarkan bahwa beberapa ritual yang dianggap lumrah ternyata memiliki makna lebih dalam.

Contohnya, buku Perkawinan Bugis: Refleksi Status Sosial dan Budaya di Baliknya. Buku tersebut ternyata secara obyektif mampu mengungkap nilai di balik meriahnya pesta pernikahan suku Bugis sebagai ekspresi penguasaan sumber daya ekonomi. ”Kita bisa berkaca dari sudut pandang yang lebih netral,” ujarnya.

Komunitas Ininnawa, yang terintis 10 tahun silam, setidaknya telah ikut mewarnai peradaban di jazirah selatan Sulawesi. Euforia unjuk rasa dan gemuruh roda kapitalisme perlu diimbangi gerakan kultural.

Sumber: Kompas, 6 Februari 2010

Perpustakaan SDN Kertajaya

Lima Persen Dana Operasional Sekolah untuk Perpustakaan

Lima tahun lalu, SDN Kertajaya menyulap gudang menjadi perpustakaan. Mereka juga punya banyak strategi untuk menumbuhkan minat baca siswa. Kerja keras sekolah itu akhirnya membuahkan penghargaan juara lomba perpustakaan SD negeri se-Surabaya.

Upik Dyah Eka N.

BEBERAPA slogan terpampang jelas di dinding perpustakaan. Salah satunya berbunyi, Tiada hari tanpa membaca. Membaca mengubah duniamu. Tulisan itu tampak mencolok karena berukuran lebih besar daripada slogan lain.

“Sebelumnya, anak-anak di sini memang kurang giat membaca. Makanya, kami terus mengingatkan dengan slogan-slogan itu,” kata Lusiatingsih, pengelola Perpustakaan SDN Kertajaya.

Menumbuhkan minat baca memang bukan hal mudah. Apalagi, siswa SD lebih tertarik bermain daripada pergi ke perpustakaan. Problem itulah yang coba dipecahkan pengelola sekolah.

Mereka merancang formulasi untuk menarik perhatian siswa. Namun, jalan yang ditempuh SDN Kertajaya tidaklah mudah. Sebab, awalnya sekolah itu tidak punya perpustakaan yang representatif. Jangankan koleksi bacaan yang lengkap, gedung saja mereka tidak punya.

Nah, pada 2004, sekolah mulai meng­ge­ber program menumbuhkan minat baca. Mereka mengubah sebuah gudang un­tuk menyimpan barang bekas dan arsip menjadi sebuah ruangan yang cu­kup me­wah, setidaknya untuk sekolah negeri.

Tembok ruangan berukuran 6 x 4 meter dipermak habis. Sebuah AC (air con­ditioner) dipasang untuk membuat siswa nya­man ketika membaca. Sebuah televisi 29 inci ikut menghiasi ruangan. “Kami juga meng­hiasi perpustakaan dengan pernak-pernik lucu,” ujar Lusiatingsih.

Misalnya, memasang poster dan slogan imbauan membaca. Namun, semua fasilitas itu dirasa belum cukup untuk menarik minat siswa ke per­pus­takaan. Sekolah kemudian getol ber­bu­ru buku untuk mengisi rak-rak di ruangan yang sudah ber-AC tersebut. Saking semangatnya, SDN Kertajaya mengalokasikan lima persen anggaran operasional sekolah untuk melengkapi fasilitas perpustakaan.

Hasilnya, kini perpustakaan itu memiliki 1.100 koleksi buku referensi serta 2.000 buku paket dan buku BOS (bantuan operasional sekolah). Per­pus­takaan juga dilengkapi puluhan DVD dan VCD berisi ensiklopedia.

Gedung sudah ready, koleksi juga cukup banyak. Sekolah lantas membuat program penunjang untuk menum­buh­kan minat baca siswa. Caranya, mem­berlakukan jam khusus untuk pergi ke perpustakaan. Aturan itu berlaku wajib bagi seluruh siswa.

“Anak-anak digilir bergantian setiap kelas untuk membaca buku di perpustakaan. Cara ini paling efektif untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak pada membaca dan perpustakaan,” ucap Lusiatingsih.

Pelayanan serta administrasi juga ikut diperbaiki. Setiap buku wajib memiliki kode buku dan nomor klasifikasi. Buku yang dipinjam dan dikembalikan akan dicatat dalam buku harian. Katalog dan kantong buku harus ada dalam setiap buku.

Administrasi yang cukup baik me­ngan­tarkan perpustakaan itu menjadi juara satu lomba perpustakaan tingkat SD negeri se-Kota Surabaya. Peng­hargaan diberikan pada April 2009. “Penghargaan itu jadi pemicu anak-anak untuk gemar membaca,” ucap lulusan Unair tersebut.

Pengunjung jadi semakin banyak. Dia mengaku, yang berkunjung setiap hari bisa mencapai 500 murid. Meski capai menghadapi tingkah siswanya, ibu dua anak tersebut merasa senang melihat anak didiknya rajin membaca buku. (*/fid)

Dikronik dari Koran Jawa Pos, 10 Januari 2010 dengan judul Asli “Upaya SDN Kertajaya menumbuhkan Minat Baca yang Berbuah Penghargaan”

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan