-->

Arsip Resensi Toggle

Mengurai Krisis 2008 Ala Dahlan Iskan

Oleh Umar Fauzi*)

Krisis finansial yang pernah terjadi tahun 1998, ternyata terulang lagi dipenghujung tahun 2008. Penyebab krisis kali seperti lingkaran setan yang rumit diuraikan dengan bahasa ekonomi. Tapi kerumitan itu bisa diurai dengan bahasa sederhana oleh seorang Dahlan Iskan; Seorang jurnalis yang tidak pernah mengenyam pendidikan ekonomi secara formal, kecuali mengikuti “kuliah umum” perbisnisan seiring gairahnya mengembangkan Jawa Pos.

Dahlan Iskan menguraikannya dalam buku “Kentut Model Ekonomi” (KME). Buku keenam yang ditulis Dahlan Iskan secara berturut-turut setelah 1,5 tahun, pasca transplantasi liver ini merupakan kumpulan ulasannya yang dimuat di Jawapos. Dahlan berusaha menjelaskan dengan gamblang proses transaksi kerakusan orang-orang kapitalis dengan baik dan kontemplatif. Sering kali saya mendengar orang-orang mencemooh kapitalisme yang diciptakan oleh Amerika, namun jarang sekali saya temui penjelasan berarti tentang apa yang  dicemooh itu. Dahlan Iskan berusaha memaparkan kebusukan kapitalisme ini dengan berimbang dan solutif. Tidak sedikit Dahlan Iskan menggunakan kata “kerakusan” untuk selanjutnya mencemooh kapitalisme modern.

Kapitalisme yang mendasari pola ekonomi di krisi 2008 pun ia paparkan dengan bahasa sederhana.  Bermula dari subprime mortagage, sebuah usaha mirip perkreditan rumah yang “bersekongkol” dengan investement banking, semacam Lehman Brother.Investement Banking memberi pinjaman dalam proses perkreditan mortagage, sekaligus mencari penyandang dana. Kemudian, investement banking, dengan kerakusannya, tak lagi mempertimbangkan kepatutan individu yang berhak mendapatkan kredit mortagage. Maka yang terjadi adalah banyak kredit macet.  Banyak yang tidak mampu membayar. Rumah banyak yang di sita. Harga rumah pun ikut turun.

Hal itu belum diperparah oleh usaha perlindungan kredit bagi mereka yang tidak mampu membayar, yang dikenal dengan istilah CDS (Credit Default Swaps). CDS diciptakan oleh Joseph J. Cassano. Dialah yang kemudian yang “dikutuki” orang beramai-ramai. Dengan fasilitas CDS ini  mereka yang gagal,  dapat menikmati lagi fasilitas itu. Cassano menjamin semuanya melalui AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia. Lingkaran setan inilah yang meletuskan krisis finansial edisi 2008.

Mengapa krisis  ini bisa merambah pada negara lain? Beberapa negara terperdaya oleh iming-iming laba dan fasilitas dari investement banking bagi mereka yang mau menginvestasikan dananya. Walhasil setelah kredit macet, dengan seketika “penyandang dana” pun kehilangan uang sejumlah yang ditempatkan. Alih-alih mendapatkan laba dan fasilitas yang dijanjikan, sepersenpun mereka tak mendapatkan kembali uang tersebut. Maka banyak orang (konglomerat) stress. Mereka terpaksa menutup perusahaannya, membangkrutkan diri, dan para pekerjanya di rumahkan. Permainan pun makin rumit karena melibatkan semakin banyak pihak.

Dahlan Iskan menyebut beberapa nama yang secara terpisah adalah pencipta keruwetan yang berbeda-beda. Selain Cassano yang menciptakan CDS, masih ada Howar Sosin dan Randy Rackson yang pernah menciptakan software interest rate swaps yang diharapkan mampu melakukan perhitungan transaksi jangka panjang (puluhan tahun); serta Bernard Lawrence Madoff, yang menciptakan over the counter, sebuah jalan pintas bentuk transaksi perdagangan (uang, saham, obligasi, dan seterusnya) dengan biaya murah dan bunga besar. Dengan transaksi ini Bernie –demikian ia dipanggil– menciptakan kemudahan bagi mereka yang memercayakan uang kepadanya tanpa proses “birokrasi” yang rumit.

Sederhana dan hidup

Begitu sederhana cara tutur Dahlan Iskan sampai-sampai saya yang awam masalah seperti ini pun dapat memahaminya dengan baik, bahkan banyak ekonom yang terperangah oleh kesederhanaan ulasan itu (baca, Kata Pengantar). Kesederhanaan itu mirip dengan apa yang dituturkan Dahlan Iskan sendiri ketika pada suatu kesempatan datang tamu dari investement banking menawarkan banyak fasilitas jika dia mau menempatkan dana di sana: Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Weny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Kesederhanaan itu menjadi jembatan menarik dengan pembaca awam. Salah satunya dapat kita lihat melalui tulisan berjudul “Sebuah Jalan Enak Menuju Bangkrut” yang menjelaskan seluk-beluk tentang bangkrut; atau “Definisi Uang yang Kian Panjang” yang menjelaskan bagaimana uang yang selama ini dipahami orang awam sebagai alat pembayaran untuk membeli barang dan mendapatkan jasa, belum cukup. Tapi di mata orang-orang tertentu, definisi uang seperti itu tidak cukupHarus ditambah sesuai dengan kepentingan masing-masing, begitulah Dahlan Iskan menuliskannya. Sebuah Pilihan kata atau diksi yang menarik, puitis, sederhana, serta mampu merasuki ruang suasana pembaca. Tentu selain penjelasan yang cukup sederhana, pilihan kata yang digunakan Dahlan Iskan cukup menarik, kadang parodis, namun tidak sedikit yang sarkastik.

Selain itu, Dahlan menuturkan beberapa peristiwa dengan cukup dramatis. Itulah yang membuat buku ini terasa “hidup”. Seperti ketika Dahlan menceritakan kebijaksanaan menteri keuangan Sri Mulyani yang tidak bisa mengunjungi ibunya yang sedang kritis. Bahkan ketika akhirnya meninggal dunia. Beliau masih memimpin rapat membahas cara penyelamatan para penabung di bank. Hasilnya, DPR menyetujui suntikan dana sebesar 2 miliar. Begitu juga cerita seputar Bernie, Cassano, serta kebangkrutan dan kehilang uang dalam jumlah besar yang dialami oleh perusahaan maupun individu. Semua dengan bahasa yang enak dibanca dan ringan.

Catatan Sejarah

Dahlan Iskan memang merendah dalam kata pengantarnya, sekaligus memberikan wanti-wanti kepada pembacannya agar tidak terlalu berharap akan kedalaman analisisnya tentang krisis finansial 2008 dalam buku ini. Namun perlu diingat bahwa sejatinya seorang Dahlan Iskan adalah jurnalis. Karena itu mau tidak mau dan wajar jika sebelum menulis, Dahlan telah membekali diri dengan segudang pengetahuan mengenai apa yang akan ditulisannya. Jika dikemudian hari tulisan itu mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat, maka itu tak lain adalah diri sang penulisnya yang mampu menafsikan fenomena dengan baik.

Karena itu kumpulan ulasan Dahlan Iskan ini, seyogyanya ditempatkan sebagai sebuah catatan (indah) si penulis tentang fenomena yang terjadi saat ini, dan tidak berharap lebih, untuk dikatakan sebagai sebuah analisis ekonomi. Perpaduan cara tutur jurnalis, sastra (feature), dan bahan dasar ilmu ekonomi ini adalah repertoar menarik. Karenanya buku ini sebenarnya diniatkan/ seyogyanya dikatakan sebagai catatan sejarah. Semacam album yang akan dikenang generasi selanjutnya. Karena itu usaha “mengliping” tulisan Dahlan yang tercerai-berai dalam berbagai edisi Jawa Pos ini menjadi berharga.

Dahlan Iskan menuliskan hal ini pada masa “jalan-jalan” sebagaimana lima buku yang telah terbit. KME pun ditulis selama kebersamaannya dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengikuti berbagai pertemuan puncak 20 kepala negara untuk membahas krisis ini di Amerika Serikat dan menghadiri pertemuan APEC. Kasus ini dengan sendirinya menjawab proses buku ini dan bagaimana orang sekaliber Dahlan Iskan yang tidak punya riwayat formal pendidikan ekonomi, ternyata mampu berbicara banyak untuk menjadi teman pertimbangan SBY selama lawatan untuk berunding masalah terkait ekonomi.

Sebagai sejarah yang memuat fakta saat ini apa adanya, temasuk beberapa foto-foto terkait di dalamnya, KME tidak berlalu begitu saja sebagai paparan fakta-fakta, ada sekelumit harapan di sana-sini yang diselipkan penulisnya. Tentu, selain menjadi jembatan bagi pembaca awan untuk memahami seluk-beluk krisis finansial secara bijaksana. Hal ihwal mengenai berbagai istilah ekonomi; bursa saham, bangkrut, derivatif, dan berbagai intrik ekonomi diulas dengan sangat baik dan sederhana dalam buku ini. Mungkin yang perlu ditambahkan dalam buku ini adalah glosarium, sehingga pembaca lebih mudah menerima berbagai istilah ilmiah secara definitif.

Lebih dari itu, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah “cara tutur” buku dan “cara tutur” koran. Tulisan-tulisan ini sebelumnya memang menjadi catatan di Jawa Pos. Justru itu, ketika telah menjadi buku bebarapa hal terkait “cara tutur” koran harus diadaptasi sesuai “cara tutur” buku, meskipun di dalamnya terdapat sejarah pemuatan. Sehingga kalimat; (Besok pagi, di ruangan ini, saya akan menguraikan bagaimana perusahaan surat kabar..), dan sebagainya, tidak perlu dicantumkan, meskipun berada dalam tanda kurung. Bila buku ini cetak ulang, sebaiknya dilakukan penyuntingan ulang. (Umar Fauzi)

Judul: Kentut Model Ekonomi

Penulis: Dahlan Iskan

Penerbit: Jaring Pena, Surabaya

Cetakan: Februari 2009

Tebal: xxvi + 181 halaman

*) Umar Fauzi aktif di kelompok diskusi Komunitas Rabo Sore (KRS) Surabaya.

Lelaki Tua dan Laut karya Hemingway

Lelaki-Tua-WEBLELAKI TUA DAN LAUT

Ernest Hemingway | PT Serambi Ilmu Semesta | 2009 | 145 halaman

Pengantar: Keteguhan Kunci Keberhasilan

Memancing memang mengasyikkan. Kalau umpan dilahap oleh target, wah… lega benget. Rasanya, waktu lama yang sudah dikorbankan buat nungguin kail pancing sebanding dengan apa yang kita dapatkan. Seekor ikan yang guede banget, misalnya. Itulah klimaks dari sebuah kegiatan memancing.

Benar apa yang orang kebanyakan bilang, memancing butuh kesabaran ekstra. Tapi, kali ini bukan cuma kesabaran, Ernest Hemingway mencoba menuturkan kisah yang penuh dengan pelajaran hidup mengenai ketabahan dan kerja keras pantang menyerah lewat lembaran-lembaran penuh semangat. Apa pun konsekuensinya harus dihadapi dengan tegar. Termasuk, menunggu hasil pancingan selama 84 hari…

84 hari? Ya, betul. Itulah waktu yang harus dibayar oleh Santiago, nelayan tua yang digambarkan oleh Ernest Hemingway dalam bukunya yang berjudul Lelaki Tua dan Laut. Sesuai judulnya, kisah dalam buku ini menceritakan tentang perjuangan Santiago. Hanya berbekal perahu tua, kail pancing, umpan, dan niat untuk menggapai keberhasilan di dalam 84 hari tersebut, dia menantang lautan untuk mendapatkan ikan marlin raksasa.

Mulai hari pertama hingga terakhir, dia menunggu umpannya disentuh ikan marlin. Tak ada setitik rasa putus asa di dalam hatinya. Terus saja dia tunggu ikan itu sampai datang menghampiri perahu dan umpannya tadi. Akhirnya dia berhasil. Meski, dia harus menghadapi kenyataan bahwa ikan tersebut tak bisa dibawanya ke daratan secara utuh.

Cerita Gigih Santiago, sang Nelayan dalam Lelaki Tua dan Lautan
Jangan Pernah Menyerah

Memancing. Apa sih yang ada di bayangan kalian mendengar kata tersebut? Nunggu, nunggu, dan nunggu. Membosankan? Kata itu tidak ada di kamus Santiago.

Santiago, tokoh utama dalam novel The Oldman and The Sea (Lelaki Tua dan Lautan), digambarkan punya semangat baja. Dia tidak menyerah meski usahanya mencari ikan sering terbentur kegagalan. Santiago sudah menganggap memancing sebagai tujuan hidup. Hal itulah yang coba diteladani para bookaholic kali ini.

Mustaghfiroh, Sena Aditya, Rischa Puspita, Bayu Santoso, dan Debrina Tedjawidjaja sangat mengagumi kegigihan Santiago. Nelayan satu itu dinilai para bookaholic memiliki dedikasi tinggi terhadap profesinya.

“Wow, bener-bener cerita keteladanan yang luar biasa. Santiago, dalam kisahnya, mampu memberi kita pelajaran berarti untuk menjalani hidup. Meski katanya dia sudah nggak punya keberuntungan lagi dalam memancing seperti waktu mudanya dulu, dia tetep keukeuh memancing di lautan lepas demi seekor ikan marlin raksasa,” ujar Firoh, sapaan akrab Mustaghfiroh.

Debrina juga memuji kandungan cerita dalam novel Lelaki Tua dan Lautan itu. Ceritanya sangat inspiratif. Debrina juga memberikan acungan jempol untuk penghargaan Pulitzer atau nobel sastra untuk buku tersebut. Salah satu bagian yang disuka Debrina adalah cover.

“Di bagian cover depan ditulis bahwa manusia bisa dihancurkan, tapi tidak bisa dikalahkan. Itu artinya sebagai manusia kita nggak boleh lemah. Meski harus jatuh bangun kayak Santiago gitu, kita harus tetep semangat,” ujar Debrina.

Ica, panggilan Rischa Puspita, setuju dengan dua bookaholic di atas. Dia juga merasakan keuntungan membaca buku itu. Apalagi kalo bukan pengetahuan tentang kelautan. Sebab, dalam buku itu, beberapa fungsi hewan laut disebutkan.

“Contohnya aja disebutin bahwa minyak ikan hiu itu bermanfaat bagi manusia. Makanya banyak dicari orang. Ato ternyata di laut itu ada ikan bernama marlin yang ukurannya sangat besar,” ujar Ica sambil menyantap spageti yang dipesannya.

“Iya ya, kirain yang namanya cuma artis aja. Marylin Monroe, Ha ha ha…” guyonan Ica disambut tawa keempat bookaholic lain.

Sambil memakan es krim miliknya, Sena ikut nimbrung. Dia lebih terkesan dengan persahabatan Santiago dan Manolin. Dua orang itu tidak punya hubungan darah atau saudara. Namun, saking lengketnya, hubungan dua orang itu seperti saudara kandung. Ada satu cerita yang membuat Sena terharu. Yaitu, ketika Manolin menyambut Santiago pulang dari melaut.

“Tapi omong-omong, spagetiku masih banyak nih. Siapa yang mau bantuin ngabisin ya?” Ica membuka tawaran untuk bookaholic lain. Tanpa pikir panjang, semua tangan bookaholic langsung terangkat, tanda menerima tawaran Ica.

CUAP – CUAP

Usung Kisah Inspiratif
Menyentuh. Nggak percuma deh di depan bukunya ada tulisan pemenang Pulitzer. Sebab, memang aslinya buku ini bisa jadi sumber inspirasi banget. Perjuangan Santiago untuk mendapatkan ikan marlin patut diacungi empat jempol sekaligus. Bayangin aja, dia nggak cuma menaklukkan ikan marlin, tapi dia juga harus mengalahkan ikan hiu yang buas. Selain itu, banyak kata-kata bijak dalam buku ini. Meskipun kadang tersampaikan secara tersirat, nasihat-nasihatnya mengena banget. Di sini, Santiago menemui berbagai halangan sewaktu dia mincing. Namun, dia tidak menghiraukan semua itu. Sebab, dia memiliki satu mimpi yang menjadi pendorong semangatnya.
Debrina Tedjawidjaja, Unair
Buku favorit: Pretty Pritta
Pengarang: Andrei Aksana
Rating: 4

– – –

Menarik Diimajinasikan
Bagi yang suka novel-novel terjemahan, buku ini bisa jadi salah satu pilihan. Tema cerita yang diusung relatif langka. Selain itu, ceritanya menarik buat diimajinasikan. Contohnya, waktu Santiago berhasil mendapatkan ikan itu. Sebelumnya, kan dia harus berjuang untuk melawan hiu, bagian ini seru buat diimajinasikan. Wah, perjuangannya pasti menegangkan. Coba aku ikutan berperan di cerita tersebut. Tak bantuin deh, Pak Santiago! Ha ha. Satu lagi yang menarik adalah pas Santiago berhasil ngedapetin ikan yang selama ini dia tungguin. Ukurannya raksasa.
Bayu Santoso, SMAN 7 Surabaya
Buku favorit: Harry Potter
Pengarang: J.K. Rowling
Rating: 4

– – –

Pekerja yang Tangguh
Sebagai seorang pekerja, Santiago patut dijadikan contoh. Dia adalah seorang nelayan yang supersabar. Nunggu umpan pancingannya disantap ikan marlin sampai 84 hari bakal dia lakoni. Hebatnya, dia melakukannya dengan senang hati tanpa mengeluh. Itu adalah pelajaran hidup yang sangat berharga buat kita. Yakni, kita harus total dalam menjalani sesuatu. Meski cobaannya begitu besar, kita harus tabah. Jangan sampai kita menyerah di tengah jalan. Sebab, di akhir nanti kita bakal mendapatkan hasil yang sepadan dengan apa yang sudah kita usahakan.
Mustaghfiroh Y., SMAN 4
Buku Favorit: 100 Orang yang Mewarnai Jakarta
Pengarang: Benny & Mice
Ratting: 5

– – –

Persahabatan Mengharukan
Seru! Ceritanya sarat petuah dan nasihat tentang kehidupan. Inti cerita ini begitu menyentuh. Terutama, bagian persahabatan antara Santiago dan lelaki muda itu. Nggak tau juga sih itu bisa dikategorikan sebagai persahabatan apa nggak. Tapi, yang jelas, di antara mereka muncul emosi yang kuat. Meskipun si lelaki muda tersebut nggak dibolehin sama orang tuanya melaut dengan Santiago, dia tetap menyambutnya sepulang dari menangkap ikan. Perbedaan usia di antara mereka jauh. Tapi, itu tak menjadi halangan bagi mereka untuk saling berbagi pikiran.
Sena Aditya, SMA Giki 2
Buku Favorit: 10 Things Before I Die
Pengarang: Daniel Ehrenhafi
Rating: 4

– – –

Tularkan Kegigihan
Biasanya, aku tertarik buat baca buku kalau sudah ada pembuktian bagus dari orang lain atau film. Kayak beberapa novel yang difilmkan itu, aku pasti baca. Nah, sama halnya kayak buku ini. Kayak yang aku tahu di beberapa website, buku ini sudah banyak direkomendasiin sama orang. Apalagi, dengan penghargaan Putlizer itu, bikin aku semangat baca. Kenyataannya, emang nggak rugi. Banyak hal baru yang bisa kita dapat dari sini. Intinya, seorang nelayan dengan kegigihannya dalam mendapat ikan. Waw, itu menurutku luar biasa.
Rischa Puspita, Unesa Surabaya
Buku favorit: AAC
Pengarang: Habiburrahman El Shirazy
Rating: 4

* Dikronik dari Harian Jawa Pos Edisi 28 September 2009

Sumber gambar: http://3.bp.blogspot.com/_D54w_K_rzek/SiSdoLOIisI/AAAAAAAABQ8/6_oTmE3WupE/s1600/Lelaki.jpg

Visual (Buku) Punk!

Oleh: FX Koskow Widyatmoko*)

Sabtu sore, 1 Agustus 2009, Jogja National Museum. Hari cerah, cenderung (men)dingin. Buku Punk! Fesyen-Identitas-Subkultur, diluncurkan di Lantai II, gedung bekas Studio Patung (sewaktu bernaung di bawah nama kampus ASRI). Malamnya, di lantai dasar, anak-anak Punk turut merayakan peluncuran buku tersebut dalam ritual musik.

Ini bukan sesuatu yang istimewa. Namun, momen ini menjadi istimewa ketika kita boleh terperangah betapa erat ikatan di dalam subkultur Punk, dan betapa sebagai sebuah subkultur, Punk pun tak enggan untuk duduk bersama orang lain dan membicarakan diri mereka.

Buku Punk! Fesyen-Identitas-Subkultur “ditulis” oleh John Martono (Kapten John) dan Arsita Pinandita Djumadi (Dito). Buku tersebut diterbitkan oleh Halilintar Books, penerbit yang menginisiasikan diri sebagai penerbit visual books. Buku setebal 112 halaman, dicetak dalam dua warna (merah, hitam), baik isi maupun sampulnya. Maka tak heran jika visual (gambar, foto, tipografi) menyikat perhatian saat membacanya. Meski demikian, buku ini kurang mendapat pembicaraan saat acara launching dan diskusi sebagai sebuah (genre) visual books. Tulisan ini adalah sebuah usaha dalam mengapresiasi buku Punk! sebagai sebuah visual books.

Pengalaman membaca

Pengalaman saya membaca buku ini, diam-diam, belumlah akrab dengan visual sebagai unsur (utama) kebahasaan. Selama ini, saya memandang teks (tulisan) sebagai medium utama yang mengantarkan makna tiap-tiap kata yang dituliskan. Seolah-olah, tulisan menjadi perpanjangan lidah, menjadi perpanjangan apa-apa yang hendak dikatakan, menjadi apparatus kebenaran. Sedangkan, sang gambar, sebatas medium pendukung, perannya nomor dua (setelah tulisan). Maka tak heran jika pembaca yang terlanjur meyakini bahwa tulisan sebagai (satu-satunya) medium penyampai kebenaran akan kesulitan melihat visual-visual yang berhamburan dalam buku Punk! Meski demikian, menurut Halilintar Books, mereka mensinergikan tulisan dan gambar sebagai visual books. (hlm. 110)

Tulisan ini hendak menyampaikan mengenai bagaimana membaca visualitas buku Punk! tersebut. Visualitas menjadi penting manakala tulisan diperhatikan tidak sebatas konvensi bahasa verbal. Tulisan diperhatikan melalui tingkat visualitasnya, baik gaya (style)/karakter, jenis huruf, ekspresi, bahkan hingga bagaimana ia diletakkan dalam lembaran-lembaran kertas (layout). Tingkatan ini bukan sebuah usaha kreatif yang berhenti pada tataran indah dalam artian nyaman untuk mata, alias sedap pandang dalam pengertian normal. Pada momen seperti inilah visual-visual dalam buku Punk! tersebut berusaha mampu dalam menghadirkan Punk sebagai sebuah subkultur. Artinya, melalui visualitas tersebut, Punk sebagai sebuah subkultur yang dituliskan, seperti menjadi jurubicara atas diri mereka sendiri: bahwa ukuran-ukuran normal adalah sebuah khayalan.

Meski demikian, jika kita (pembaca) sebatas memandang visual-visual dalam buku ini sebagai penghias, itu mengartikan kita percaya sepenuhnya atas tugas tulisan sebagai penyampai pesan. Apa-apa yang dituliskan dalam buku ini, tak mampu menghadirkan subkultur Punk. Sepertinya Punk dalam konteks penerbitan buku ini, akan memakan beratus-ratus halaman. Sedang, buku ini memilih (medium) visual untuk mengemban misi-misi tertentu dalam menyampaikan apa yang tak disampaikan oleh (medium) tulisan.

Pembaca yang menghendaki dirinya dipuasi dan menuntut terpuasi oleh tulisan, akan terhenyak ketika menemui tulisan-tulisan dalam buku Punk! yang tak seperti buku-buku pada umumnya. Bahkan, bagi yang selama ini merasa (baca: menuntut) nyaman dan mapan bahwa buku (harus) senantiasa demikian, mungkin merasa kecewa. Kekecewaan itu muncul manakala merasai sajian-sajian visual yang bolehlah dikata kurang sedap: warna merah, hitam, abu-abu, latar halaman berupa remasan kertas, juga kain, foto, gambar manual, tulisan tangan yang hadir bersamaan dengan tulisan komputer, juga ekspresi huruf yang kasar. Ke-kurangsedap-an tersebut merupakan salah satu cara dalam menghadirkan Punk, yang rupanya kurang mendapat ruang yang cukup jika sebatas dihadirkan melalui (medium) tulisan.

Hal-hal di atas harus pembaca dapati sendiri ketika membaca buku ini. Meski dibalut melalui latar belakang sejarah, isi buku tersebut kurang memuaskan karena begitu kikir dalam menginormasikan fesyen, subkultur, dan identitas Punk. Namun, buku tersebut justru tidak berusaha membagi tugas antara tulisan dan gambar yang sepertinya tulisan dan gambar memiliki wilayah masing-masing yang senantiasa harus demikian. Buku tersebut mensinergikan tulisan dan gambar. Jika sinergi yang demikian sudah dapat ditemukan, barulah terasa bahwa buku tersebut cukup proporsional dalam memaparkan fesyen, subkultur, dan identitas Punk.

Pembacaan yang demikian memerlukan usaha dalam melupakan kenyamanan dan kemapanan kita, yaitu sebagai pembaca pada buku pada umumnya. Usaha nuntuk melupakan menjadi penting manakala kita, sebagai pembaca buku pada umumnya, terlanjur meyakini bahwa buku adalah tulisan, tulisan, dan selamanya (harus) tulisan. Sedangkan, gambar adalah ilustrasi, ilustrasi, dan selamanya (harus) ilustrasi, yaitu sebagai penghias, penjelas, atau pengisi ruang estetik halaman. Kita harus berani melupakan kenyamanan masa lampau dan memberi ruang dan kedudukan bagi gambar, bahwa dia (visual) mampu untuk menjadi tulisan, tulisan, dan tulisan. Dengan demikian, bukan tulisan sebagai tulisan, atau gambar sebagai tulisan, atau tulisan sebagai gambar, namun sinergi kuduanyalah merupakan satu kesatuan praktik kebahasaan: menulis. Dalam kerangka pemahaman yang demikianlah buku Punk! gebutan Dito dan Kapten John layak kita apreasiasikan.

Membaca: merumuskan diri
Jika kita terlanjur menaruh perhatian dan keyakinan sebatas (medium) tulisan dalam buku ini, maka dengan segera kita kecewa. Kecewa karena (mengukur) begitu minimnya tulisan. Namun, jika kita terlanjur percaya bahwa gambar adalah yang utama, maka dengan segera merasa tersesat dan kehilangan alur keseluruhan. Meski demikian, sebagai pembaca yang diharapkan telah mengalami perluasan pengalaman perseptual, saya menyampaikan bahwa Punk sebagai sebuah subkultur mencoba dihadirkan melalui berbagai jenis medium: gambar, tulisan, dan boleh jadi rabaan serta bau-bauan hasil cetakan.

Dalam buku ini, kadang tulisan menjadi pemandu utama. Manakala sang pemandu mulai lesu darah, atau dinilai terhegemoni kuasa verbal (jargon-jargon/isme-isme), gambar mencoba mengingatkan bahwa dirinya bukan hantu-hantu Punk, namun Punk itu sendiri, yang berusaha hadir melalui pengalaman-pengalaman riil mereka yang terekspresikan (praktik fesyen) dalam lembar-lembar buku. (Membaca) buku ini menyediakan alat dalam melawan kemapanan bagi diri kita, yang selama ini duduk di atas singgasana: pembaca dominan.

Meski demikian, sebagai pembaca dominan yang sedikit banyak mengenali Punk, dalam kadar tertentu visualitas buku ini dirasa kurang (nge)Punk. Barangkali, sang penerbit ternegosiasi oleh (selera) pasar. Atau, barangkali hal tersebut merupakan wujud mengendurnya garis demarkasi Punk itu sendiri. Namun di sini hendak disampaikan bahwa boleh jadi ekspresi visual buku yang demikian merupakan penanda Punk yang secara otentik sedang merumuskan kediriannya kini di sini, yang berbeda dari kultur asalnya. Siapa bilang bahwa Punk sebagai sebuah subkultur tidak mengenal demokratisasi. Halaman-halaman dalam buku ini menuliskan bahwa dalam tubuh Punk dihuni komunitas-komunitas dengan berbagai macam aliran dengan berbagai gaya berpakaian.

Buku ini memberi sumbangan bagi kedirian kita dalam melawan lupa untuk menjadi diri sendiri: bahwa kedirian kita kian ditentukan oleh mekanisme pasar. Selamat membaca, melawan, dan merumuskan diri. Salam.

Judul: Buku Punk! Fesyen-Identitas-Subkultur

Penulis: John Martono (Kapten John) dan Arsita Pinandita Djumadi (Dito)

Penerbit: Halilintar Books (Edisi pertama, Agustus, 2009)

Tebal: 112 halaman

*) FX Koskow Widyatmoko adalah designer sampul buku yang juga dosen DKV ISI Jogja sekaligus penulis buku “Merupa Buku”. Resensi ini dinukil dari catatan pribadi di facebook Koskow Widyatmoko tanggal 26 September 2009

Kisah Sukses Wikipedia

Oleh M. Iqbal Dawami

Wikipedia_sampul bukuJudul: Kisah Sukses Wikipedia :Ensiklopedia Gratis Terbesar Dan Terpopuler di Dunia
Penulis: Andrew Lih
Penerjemah: Alex Tri Kantjono W.
Penerbit: Gramedia, Jakarta
Cetakan: I, 2009
Tebal: xxi + 287 hlm.
———————–

“Bayangkan sebuah dunia ketika setiap orang bisa mendapatkan semua pengetahuan yang telah dicapai oleh manusia secara cuma-cuma. Itulah yang sedang kami usahakan.” (Jimmy Wales, pendiri Wikipedia)

Buku ini adalah kisah proyek ensiklopedia bebas dan multibahasa yang didukung oleh Yayasan Wikimedia. Nama situs Web ini menggabungkan makna dua kata, yakni Wiki (teknologi untuk menciptakan situs Web kolaboratif) dan Ensiklopedi. Sepuluh juta artikel Wikipedia telah ditulis secara kolaboratif oleh relawan-relawan dari seluruh dunia, dan hampir semua artikelnya dapat disunting oleh siapa pun yang dapat mengakses situs Web Wikipedia.

Diluncurkan pada tahun 2001 oleh Jimmy Wales dan Larry Sanger, kini Wikipedia menjadi karya rujukan umum paling besar dan paling populer di Internet. Buku ini menapak tilas sukses fenomenal Wikipedia ke akar-akarnya, dan menampilkan orang-orang yang telah memberikan sumbangan mereka dalam meraih tujuan memberi setiap orang akses bebas ke kumpulan pengetahuan manusia.

Andrew Lih, penulis buku ini, telah menjadi administrator (pengguna yang memperoleh kepercayaan untuk memiliki akses ke fasilitas-fasilitas teknis) di Wikipedia selama lebih dari empat tahun, selain menjadi pembawa acara tetap dalam mingguan Podcast Wikipedia. Dalam buku ini, ia merinci proses kelahiran situs Wikipedia pada tahun 2001, evolusinya, serta pertumbuhannya yang luar biasa, sambil menerangkan reaksi-reaksi budayanya yang lebih besar. Wikipedia tidak hanya sebuah situs web; Wikipedia juga komunitas global yang terdiri atas kontributor-kontributor yang sengaja bergabung berkat hasrat bersama untuk menjadikan pengetahuan sesuatu yang bebas.

Dengan lebih dari 2.000.000 artikel tentang segala sesuatu dari Aa! (Sebuah kelompok penyanyi pop Jepang) hingga Zzyzx, California, yang ditulis oleh banyak sekali kontributor relawan, Wikipedia menjadi situs kedelapan paling populer di World Wide Web. Dibuat (dan dikoreksi) oleh siapa pun yang memiliki akses ke komputer, kumpulan pengetahuan dalam jumlah sangat mengesankan ini tumbuh dengan laju perkembangan yang memesona, lebih dari 30.000.000 kata dalam satu bulan.

Wikipedia adalah ensiklopedia bebas lisensi yang ditulis oleh sejumlah relawan dalam banyak bahasa. Sekarang Wikipedia besar sekali. Ensiklopedia ini berisi lebih dari satu miliar kata, yang menjadikannya beberapa kali lebih besar daripada gabungan Britannica dan Encarta.

Dalam waktu kurang dari satu dasawarsa Wikipedia telah melengkapi sekaligus mengubah dunia ensiklopedia, dengan melibas hampir setiap ensiklopedia yang sudah mapan dalam berbagai bahasa di dunia.

Wikipedia menjadi begitu populer sehingga tanpa disengaja orang mengambil informasi dari dalamnya setiap hari di internet, dan juga semakin sering dirujuk dalam buku-buku, dokumen-dokumen legal, bahkan budaya pop. Namun, hanya sebagian kecil masyarakat pengguna Wikipedia sadar bahwa Wikipedia sepenuhnya dibuat oleh sejumlah besar relawan yang tidak menerima bayaran, dan sering tidak ingin dikenal. Setiap artikel dalam Wikipedia mempunyai sebuah tombol bertuliskan “edit this page”, yang memungkinkan siapa pun, termasuk anonim yang semula hanya “numpang lewat”, menyunting isi setiap entri yang ada.

Karena telah menemukan cara untuk bekerja sama (co-labor), komunitas Wikipedia telah mampu menghasilkan kerja sama sehari-semalam yang lebih cepat daripada kantor pemberitaan mana pun yang bekerja dua puluh empat jam. Wikipedia tidak akan menjadi sepopuler hari ini tanpa laporan-laporan yang tepat waktu dan tersusun rapi secepat kejadian-kejadian yang sedang diberitakan. Dengan cara ini, Wikipedia melanggar peran tradisional sebuah ensiklopedia sebagai rangkuman sejarah yang sudah berlalu. Kebalikannya, Wikipedia bekerja secepat media pemberitaan. Secepat kejadian yang sedang berlangsung, seperti lebah pekerja yang sedang sibuk di sebuah sarang, Wikipedia mencatatkan, menyunting, dan mengorganisasikan berita-berita sampai detik terakhir ke dalam artikel-artikel di situs web ini. Fungsinya sebagai mesin pencatat sejarah yang terus berjalan betul-betul belum pernah memiliki tandingan dan secara unik mengisi “kesenjangan informasi” tradisional yang tercipta oleh selang waktu antara penerbitan surat kabar dan buku sejarah.

Dalam Wikipedia berbahasa Inggris, dengan kegiatan yang tak kenal henti, artikel-artikelnya telah menjadi potret sesaat situasi dunia, yang bertindak sebagai catatan sejarah yang terus dilengkapi.

Awalnya, Wikipedia didominasi oleh sekelompok pengguna yang ahli dalam teknologi komputer. Akan tetapi, setelah menjadi besar dan makin dipandang penting, kelompok pengguna serius dan setia yang tumbuh belakangaan mencakup orang-orang non-teknik—mahasiswa, akademisi, pakar hukum, dan seniman. Mereka yang menemukan kebahagiaan setelah menyumbangkan karya mereka ke dalam proyek ini secara online menemukan bahwa mereka juga ingin bertemu di dunia nyata. Wikipedia adalah sebuah produk maya di sebuah ruang maya, tetapi ia tetap mempunyai implikasi di “ruang pertemuan” fisik.

* Dinukil dari blog resensor. KODE KRONIK IBOEKOE (B Lok  2009 MIDW)

Buku untuk Meditasi Penulis

IMG_0269Buku ini saya rekomendasikan untuk kawan-kawan yang ingin tekun menulis, bercita-cita jadi penulis, atau siapa saja yang ingin belajar menjadi penulis, namun menemukan beberapa kebuntuan di jalan.

Judul : Aku Bisa Menulis! Buku Meditasi untuk Para Penulis

Penulis: Susan Shaughnessy

Penerbit: Mizan Learning Centre (2004)

Hanya Soal Mau Rutin Menulis

“Hanya dengan menulis setiap pagilah seseorang bisa menjadi penulis. Mereka yang tidak melakukan itu akan tetap menjadi amatir” (Gerald Brenan)

Susan Shaughnessy mengingatkan bahwa pada dasarnya seorang penulis adalah orang yang menulis. Mereka menulis dalam kondisi apa pun. Tertekan, gembira, jatuh cinta, bersedih, ke dokter gigi, atau ketika tidak sedang melakukan itu semua. Mereka tetap menulis dalam kondisi pemerintahannya digulingkan atau sedang dibangun kembali. Mereka menulis karena mereka menulis.

Susan menambahkan, pemikiran yang ada di hari ini, ide yang siap mengalir hari ini, tak akan bisa dituangkan esok hari. Waktu yang diluangkan untuk menulis tak pernah sia-sia. Seandainya Anda hanya bisa meluangkan waktu selama 20 menit, dan hanya bisa menuliskan satu atau dua kalimat saja, Anda tetap melakukan sesuatu yang penting. Anda telah menuliskannya.

Kemudian Susan mengakhiri dengan kalimat menggugah: Aku akan menulis hari ini. Inilah kesempatanku untuk melakukan apa yang aku katakan ingin aku lakukan.

Susan menuturkan semua itu ketika membahas tentang cinta. Tak ada salahnya cinta menulis. Tapi cinta saja tak cukup untuk menjadi seorang penulis. Kecintaan itu harus diwujudkan dalam keseharian hingga terbukti. Seorang yang cinta menulis harus menulis setiap hari, demikian tulis Susan.

Menulis memang harus menjadi sebuah ritual. Dilakukan di waktu yang sama dan terus menerus. Sekali berhenti maka ia akan berhenti lagi, lagi, dan lagi. Tak ada hari libur yang tak menyenangkan. Dan sekali libur menulis berarti membuang satu kesempatan berharga untuk mencurahkan ide dalam tulisan. Ide itu akan selalu ada dalam kondisi apa pun. Depresi sekalipun.

Bagi Susan, depresi bukan halangan untuk menulis. Memang menulis tak mampu mengusir depresi, tetapi depresi tak perlu melumpuhkan menulis. Ciamik sekali cara Susan membalikan cara berpikir negatif menjadi positif ini. Kebanyakan penulis akan berkata ia sedang tak dapat menulis karena tengah mengalami depresi akibat masalah lain. Susan membalikkan logikanya. Kalimat menggugah yang ditulisnya: “Hari ini aku kembali meneguhkan janji untuk menulis secara teratur, tanpa tergantung suasana hatiku. Aku tahu aku bisa menulis dengan baik dalam kondisi apa pun.”

Menulis dalam segala kondisi. Dibutuhkan keyakinan dan keteguhan niat untuk itu. Alih-alih menulis dalam kondisi apa pun, banyak orang yang ingin menulis tapi berdalih peralatannya tak menunjang, komputernya lambat—atau tak punya—penanya jelek, kertasnya habis, ruangannya tak nyaman, situasinya kurang pas, masih banyak masalah, atau mood-nya belum dapat. Hambatan-hambatan dalam diri itu sebenarnya bisa diatasi dengan sedikit perubahan cara berpikir.

Bukan komputer, pena, kertas, situasi, ruangan, atau mood-nya yang mesti diubah, melainkan kemauan untuk mau menulis dan melakukannya dengan rutin dalam media apa pun. Komputer hanya alat bantu, jika tak ada komputer masih banyak alat tulis lainnya. Marques de Sade, pengarang dari Perancis itu, sebagaimana tergambar dalam film The Quills, sampai menggunakan darah dan kotorannya untuk menulis hanya karena semua alat tulisnya dirampas. Jika Sade saja bisa, maka siapa pun yang ingin menjadi penulis pasti juga bisa mengatasi hambatan kecil semacam itu. Tak perlu menunggu hidup yang layak dan tenang untuk mulai menulis.

Sade memang mendedikasikan hidupnya untuk menulis. Menjadi penulis sudah menjadi tujuan dan garis hidupnya. Dengan memiliki tujuan maka penulis akan tahu ke mana ia akan menuju dan untuk apa ia ke sana. Tujuan itu juga bisa dijadikan pelecut semangat kembali jika di tengah perjalanan menggapai tujuan ditemukan hambatan. Ini adalah upaya menjadikan menulis sebagai sebuah tujuan dan cita-cita untuk diraih. Sebagai sebuah ritual, menulis memang harus menjadi aktivitas yang berdedikasi.

Simak apa yang dikutip Susan dari Janet Frame berikut ini: ”Satu-satunya hal yang pasti tentang menulis dan upaya untuk menjadi penulis adalah bahwa menulis itu harus dilakukan, bukan diimpikan atau direncanakan tanpa pernah ditulis, atau dibicarakan, tetapi hanya dengan menulis; inilah fakta menyebalkan dan menyakitkan bahwasanya menulis tidak berbeda dengan pekerjaan lainnya.”

Susan adalah seseorang yang telah memilih menulis sebagai pilihan pekerjaannya. Dengan begitu ia bisa merumuskan tujuan, langkah-langkah, dan strategi untuk mewujudkan pencapaian di setiap tahapnya. Seperti halnya pekerjaan lainnya, Susan juga mengalami kendala dalam menulis. Dan seperti bagaimana orang lain menyelesaikan hambatan dalam pekerjaannya, Susan juga memilih teori dan penyelesaian yang tak jauh berbeda.

Susan sadar betul, sebagai sebuah pekerjaan, menulis juga membutuhkan cara bertahan dari terpaan krisis. Naskah yang selalu ditolak, dokumen naskah hilang, keuangan yang carut-marut, adalah hal lumrah seorang penulis di awal karirnya. Pada titik ini seorang penulis tak boleh menyerah. Keadaan justru seringkali terbalik pada titik ini. Yang perlu dilakukan adalah tetap bekerja teratur setiap hari, meski dengan waktu yang sangat terbatas, dan setia pada tujuan awal. Cita-cita untuk menjadi penulis dan terus menulis. Karena menulis sudah menjadi pilihan pekerjaan.

Dan pekerjaan menulis itu harus dimulai. Segera setelah niat dan cita-cita itu terpatri di hati, sekarang, hari ini, duduklah menghadap meja tulis dan mulai menulis. Tentang apa pun. Tak perlu berpikir. Tulis saja semuanya apa adanya. Jangan lagi ada penundaan. Apa yang ada hari ini akan berbeda dengan esok hari. Setiap hari memiliki kisah dan mimpi yang berbeda.

Lompatan-lompatan pemikiran itu disusun dengan apik dan sederhana dalam buku ini. Buku ini ditulis Susan berdasarkan pengalamannya selama bekerja sebagai penulis. Susan membagi setiap halaman untuk sebuah bahasan yang bisa dibaca secara acak. Di tiap halaman ia mengutip kalimat-kalimat menggugah dari penulis lain yang telah lebih dulu mengalami masa-masa sulit kepenulisan. Kemudian ia membuat perenungannya. Lalu membangun sebuah kalimat untuk membangkitkan semangatnya sendiri. Sebuah motivasi dari dalam diri.

Topik motivasi yang dikembangkan Susan hampir mirip dan berulang. Ini memang sesuai dengan pengalaman kebanyakan penulis. Hambatan yang sama seringkali terulang lagi di masa yang berbeda. Dalam kondisi yang berbeda ini maka penyelesaiannya bisa sama bisa juga berbeda. Susan berusaha menghimpun yang terserak itu hingga siapa saja yang ingin menjadi penulis bisa membaca buku itu. Kapan saja, mulai dari mana saja, tak masalah. Tanpa harus membaca keseluruhan isinya, Susan menghadirkan bacaan yang memang digunakan untuk penenangan penulis yang resah. Untuk itu ia harus ringan dan tak menambah beban. (Diana AV Sasa)

Krisdayanti: The Power of Book

Cover 003Judul     : Catatan Hati Krisdayanti : My Life My Secret

Penulis : Albertheine Endah

Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama

ISBN         : 978-979-22-4703-9

Tebal                : 358 + 68 foto

Harga               : Rp. 88000

Jika Anda ingin tidak dilupakan orang segera setelah Anda meninggal dunia, maka tulislah sesuatu yang patut dibaca atau buatlah sesuatu yang pantas untuk diabadikan. (Franklin)

Krisdayanti (KD), begitu orang mengenalnya. Ia dikenang karena lagu-lagunya beberapa kali merajai pasar musik Indonesia hingga manca. Permainan perannya di layar kaca sempat memukau dan menguras air mata ibu-ibu pecinta sinetron. Tampilan panggungnya glamor, atraktif, dan memikat. Setiap gaya rambut, pakaian, hingga alisnya menjadi barometer trend para perempuan. Ia menjadi sorotan halayak. Kiprahnya dikenang dan tercatat dalam sejarah musik tanah air. Ibarat produk, ia adalah barang kelas 1.

Sebagai ‘produk’ kelas 1, KD menjaga sekali kepuasan pelanggannya, dalam hal ini pengemarnya. Untuk itu ia berusaha sebisa-bisanya untuk menjaga kualitas ‘produk’. KD bukan hanya menjaga kualitas suara, tapi juga penampilan panggung dan citra diri seutuhnya. Baginya, pengemar yang sudah membayar mahal untuk melihatnya di panggung, layak mendapat suguhan terbaik. Penata musik, pinata rias, penata kostum, koreografer, hingga tata panggung dilakukan oleh orang-orang terpilih dan terbaik dikelasnya. Penggemar yang mengaguminya sebagai bintang, juga layak mendapat apresiasi penuh. Citra diri sorang bintang dibangunnya dengan pondasi keyakinan, harapan, dan menejemen yang kuat.

Sebagai seorang ‘bintang’, KD bukan hanya ingin populer tapi juga ingin  agar dirinya selalu dikenang penggemarnya, KD menjalankan petikan kalimat Franklin di atas dengan baik. Di jagad tarik suara, ia akan dilupakan jika lagu-lagunya tak lagi memenuhi selera telinga pasar. Tapi KD terus berinovasi. Dan seperti kata Franklin, KD menulis sesuatu yang pantas dibaca orang lain, buku.

Buku itu bertajuk “Catatan Hati Krisdayanti: My Life My Secret” (MLMS), ditulis dan tata ulang oleh Alberthiene Endah, penulis yang sudah akrab dengan dunia artis dan pernah menulis biografi beberapa artis lain seperti Chrisye, Titik Puspa, Anne Avanty, Venna Melinda, dan KD sendiri. Buku ini adalah buku kedua yang mengupas sisi hidup seorang KD, sang diva, sang bintang.

MLMS ditulis dengan semangat berbagi. Menguak rahasia kesalahan di masa lalu, dan membagi pelajaran berharga dari dalamnya. Tentu saja ini bukan hal baru. Banyak orang penting (baca:public figure) yang menguak sisi-sisi gelap dirinya dengan semangat berbagi kisah dan teladan hidup. Namun, sebagai seorang bintang, upaya KD membukukan catatan hidupnya bukan semata karena ingin berbagi. Ini adalah satu dari sekian banyak upaya yang ia lakukan untuk mempertahankan kebintangannya.

Dalam rumus karir KD, eksistensi adalah kunci untuk tetap bertahan dan dikenang sebagai seorang bintang. Ketika pasar musik Indonesia digeruduk musik-musik band dan maskulin, KD harus mempertahankan kebintangannya dengan terus berkarya. Ia tak bisa memaksakan masyarakat untuk selalu menerima musik dan lagunya. Maka ia harus berkarya dalam format lain agar masyarakat terjaga ingatannya akan seorang KD. Dan ia memilih untuk membuat buku (lagi).

Buku adalah monumen perjalanan yang merekam jejak sang bintang. Ketika sang bintang masih menghela nafas, pembacanya dapat menilik kebenaran dari apa yang dikatakan buku dengan memadankannya dengan realitas. Ini tentu berbeda jika buku ditulis ketika sang bintang sudah berkalang tanah. Pembaca hanya bisa membayangkan dan mengira-ngira saja. Itu pula alasan mengapa Omi Intan Naomi menulis proses berkarya Ugo Untoro dalam senirupa justru ketika Ugo masih hidup. Meski tak lama setelah buku itu terbit, Omi rebah untuk selama-lamanya. Namun ia telah meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang:buku. Ugo maupun KD adalah bintang, dan mereka patut membangun monumennya dalam sebuah buku.

Buku pertama KD, “1001 KD”, lebih banyak mengungkap sisi positif KD sebagai bintang. Pencapaian-pencapaian dan pernik-pernik hidupnya yang membentuk citra seorang bintang. Maka MLMS mengimbanginya dengan menampilkan sisi KD sebagai manusia biasa yang tak luput dari alpa dan luput.

Dalam beberapa wawancara dengan media massa, KD menyebutkan bahwa ada tiga rahasia penting yang diungkapnya dalam MLMS. Pertama, KD pernah mengonsumsi narkoba pada 1998 hingga 1999. Kedua, KD pernah ditalak oleh Anang, suaminya. Dan ketiga, ia mengungkapkan bahwa ia pernah operasi plastik. Bagi KD, ketiga hal itu adalah rahasia besar dalam kehidupannya. KD memang bertahan untuk menjaga citra yang dibangunnya dengan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memunculkan sosok KD yang nyaris sempurna :Cantik, tubuh sempurna, populer, materi melimpah, keluarga bahagia,dan banyak kawan.Maka segala hal-hal buruk yang dapat menurunkan citranya wajib segera ditutup dan diupayakan tidak tersiar ke publik. Maka MLMS menjadi semacam sensasi untuk kembali mengetuk ingatan orang akan seorang KD.

Bagi saya, tidak ada yang terlalu mengejutkan dari ketiga rahasianya. Narkoba adalah barang yang sudah akrab dengan dunia selebriti. Media massa sudah banyak merekam kronik artis yang pernah menjajalnya. Sebut saja Roy Marten, Ari Laso, Doyok, Slank, Sheila Marcia, dan lain-lain. Mereka itu yang kebetulan tertangkap, yang masih menikmati surga semu itu juga tak sedikit. Padatnya kegiatan keartisan yang membutuhkan stamina prima, psikologi yang tertekan karena terus menjadi sorotan, hingga lingkungan pergaulan yang akrab dengan dunia malam adalah beberapa alasan yang acap kali terlontar. Narkoba menjadi identik dengan dunia keartisan secara tidak langsung karena media banyak memberitakan artis yang menggunakan barang memabukkan itu. Maka ungkapan KD pernah menghisap shabu-shabu tidaklah terlalu mengejutkan.

Pengakuan bahwa Anang pernah melontarkan talak pada KD gara-gara KD bersikap kasar pada ibu mertuanya juga tak terlampau mengejutkan sebenarnya. Sekali lagi, ini karena media telah banyak memberitakan peristiwa kawin-cerai dikalangan artis. Hingga hal itu menjadi hal yang dianggap biasa bagi kalangan artis dimata penikmat media.

Demikian juga dengan operasi plastik. Sudah bukan gossip atau hisapan jempol jika artis banyak melakukan operasi  plastik untuk merubah atau mempertahankan penampilannya agar tetap prima. Lagi pula, operasi plastik banyak dilakukan untuk membantu mengembalikan kondisi tubuh wanita paska melahirkan yang kendur. Ketika KD melakukannya, sudah tidak aneh. Selain banyak orang melakukannya, beberapa media memang pernah mempertanyakan postur tubuhnya dan melontar tuduhan operasi plastic. Maka pengakua KD kemudian hanya menjadi satu pembenaran saja atas tuduhan itu.

Selebihnya, MLMS layak mendapat apresiasi mengingat tak banyak seniman kita yang memiliki kesadaran untuk membukukan perjalanan hidup dan karirnya sehingga generasi mendatang dapat belajar dari bukunya. Pencatatan ini penting, karena sejarah ditorehkan dari sini. Buku menjadi semacam monumen sejarah hidup. Tempat dimana setiap pencapaian dan peristiwa dikenang. Kita akan mengenal sejarah dengan baik jika kita dapat mengenali sejarah diri kita sendiri, begitu kata Pramoedya. Maka tulislah sejarah hidupmu sebaik-baiknya, serapi-rapinya. (Diana AV Sasa)

Empat Kumpulan Sajak karya WS Rendra (1961)

29 empat kumpulan sajak 1 copySerumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal.
Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa.
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada.

Subagio Sastrowardoyo pernah menulis, dalam bukunya Sosok Pribadi dalam Sajak, bahwa pemujaan tanpa kritik terhadap tokoh-tokoh sastra dan seni di Indonesia terus berlanjut hingga pada tokoh Rendra. Apapun yang dinyatakan Rendra, baik melalui (dalam) sajak maupun teater, dipandang sebagai sesuatu yang menakjubkan.

Hal ini mengakibatkan hilangnya kepekaan (orang (baca: pembaca) terhadap unsur-unsur “membuat sensasi belaka” dan munculnya “pencarian popularitas”, yang justru melemahkan sajak-sajaknya (Rendra) sendiri (Sastrowardoyo, 1980).

Kemudian, dalam buku yang sama, Subagio menganalisis pengaruh Federico Garcia Lorca pada Rendra, khususnya di kumpulan puisi Ballada Orang-orang Tercinta. Gaya bersajak Rendra, yang begitu memerhatikan gejala lahiriah, yang disajikan dalam puisi-puisinya, sangat berbeda dengan beberapa penyair pendahulu, misalnya, Chairil Anwar dan Sitor Situmorang, yang lebih banyak bergulat di pencarian batiniah.

Hal ini mungkin sekali terjadi karena Rendra juga merupakan figur panggung pertunjukan, yang kemudian menganggap puisi sebagai adegan dramatik yang sedang disajikan untuk penonton. Dalam sudut pandang yang lain, justru di sinilah letak peran Rendra dalam narasi sejarah kesusastraan Indonesia.

Rendra menghadirkan sajak-sajak “baru” yang menekankan gejala lahiriah untuk diamati, diserap, dicerna, dan dimuntahkan secara dramatik. Walaupun, menurut penelusuran Subagio dalam buku tersebut, sajak-sajak Rendra tidaklah sepenuhnya “baru” dan “orisinil”.

Dengan sangat ilmiah dan rinci, Subagio membuktikan betapa besar pengaruh Lorca pada kumpulan Ballada Orang-Orang Tercinta. Subagio mengambil cara ucap Rendra, metafora yang dipakai, pencitraan-pencitraan yang sering muncul, judul kumpulan sajak yang dipilih, hingga penyingkatan nama Willibrordus Surendra Broto menjadi WS Rendra (yang sangat ganjil dalam penyingkatan nama di dalam bahasa Jawa), untuk dianalisis faktor-faktor, tokoh, dan karya-karya yang mempengaruhi pembentukannya.

Subagio juga menyatakan bahwa kumpulan puisi Empat Kumpulan Sajak masih merupakan kelanjutan dari balada-balada di Ballada Orang-Orang Tercinta. Hal ini akan sangat kentara jika dilihat dari banyaknya cerita liris pendek, kesamaan banyak citra, dan cara ucap yang dipakai Rendra dalam dua kumpulan puisi tersebut.

Sajak-sajak Rendra dalam Empat Kumpulan Sajak memiliki tema besar: hubungan cinta lelaki dan perempuan. Tema ini sangat kentara dalam dua kumpulan sajak pertama yang berjudul Kakawin Kawin dan Malam Stanza. Sedangkan dalam dua kumpulan sajak yang lain, Nyanyian dari Jalanan dan, khususnya, Sajak-Sajak Dua Belas Perak, isi sajak sudah melebar ke tema sosial.

Kakawin Kawin berisi dua sub judul, yaitu Romansa (11 sajak) dan Ke Altar dan Sesudahnya (9 sajak). Dalam Kakawin Kawin, cerita dimulai dengan sebuah Surat Cinta kepada sang kekasih, dan dilanjutkan dengan beberapa serenada warna-warni yang memiliki nuansa rasa yang berbeda.

Citra yang ditampilkan dalam puisi-puisi ini bersifat naturalis. Pencitraan ini sangat khas dipakai oleh banyak penyair untuk memberikan kesan liris romantis. Contohnya saja, beberapa gerak fauna dipakai untuk mengambarkan hubungan dan perasaan; “Dua ekor belibis bercintaan dalam kolam”, “Engkau adalah putri duyung tergolek lemas mengejap-kejapkan matanya yang indah dalam jaringku”, “kupacu kudaku menujumu” (hal. 13-16).

Misalnya lagi, citra tumbuhan dan bulan muncul berulang kali; “alang-alang dan rumputan/bulan mabuk di atasnya”, “pohon jambu di halaman itu/berbuah dengan lebatnya”,” ..di balik semak itu/sedang bulan merah mabuk”, “tujuh pasang mata peri/terpejam di pohonan”, “sebuah pasangan/telah dikawinkan bulan”, “ketika bulan menjenguknya”, dan lain-lain (Hal. 17-22). Citra-citra ini, yang masih banyak lagi jika ditelusuri, tentu saja sangat mempengaruhi atmosfer yang ditangkap oleh pembaca. Salah satunya adalah munculnya kesan pedesaan yang sangat kental pada puisi-puisi Rendra dalam kumpulan sajak ini.

Kemudian, apakah perbedaan puisi-puisi cinta ini dengan yang lain? Seperti pernah dianalisis Subagio Sastrowardoyo, cara ucap Rendra dan penggunaan metafora-metafora yang dramatik dan ganjil-lah yang membuat puisinya menarik perhatian publik (Subagio, 1980).

Puisi-puisi Rendra didominasi kesan heroik dan penuh semangat, bahkan juga dalam hubungan percintaan. Hal lain yang cukup menarik adalah kujujuran dan ketulusan perasaan-perasaan cinta di beberapa puisinya, misalnya di Episode, Surat Kepada Bunda: Tentang Calon Menantunya, Kakawin Kawin, dan Ranjang Bulan Ranjang Pengantin.

Dalam sajak-sajak tersebut, atau yang memiliki kecenderungan seperti itu, tidak ada yang mencoba menipu dengan, misalnya, mengkontraskan teks dengan teks itu sendiri untuk mencipta kejutan. Alur dalam sebuah sajak sangat mudah ditebak, sedangkan secara umum dari keseluruhan teks sajak yang disatukan itu, nada-nada mengalir dengan irama yang pasti: sesudah menulis surat cinta, lelaki (hampir semua puisi tentang cinta dan hubungan pasangan ini diceritakan oleh lelaki) melamar perempuan idamannya, dan menikahlah pasangan itu di gereja yang diberkahi malaikat. Kemudian, pergilah mereka menikmati ranjang, bernyanyi, dan meraba masa depan bersama.

Sajak-sajak dalam rumpun Malam Stanza tidak jauh berbeda dengan yang terdapat di Kakawin Kawin. Namun, secara keseluruhan, subjek-subjek dari tema cinta sudah melebar.

Kalau dalam Kakawin Kawin yang dibicarakan hanya hubungan kekasih, dalam rumpun bab yang berisi dua puluh sembilan sajak ini pembicaraan sudah meluas, misalnya pembicaraan topik hubungan ibu dengan anak (Batu Hitam, Lagu Ibu, Lagu Serdadu, Ibunda, dan Ia Telah Pergi) dan hubungan lelaki dengan dunia luar, yaitu, hubungan yang bukan hanya dengan kekasihnya saja (Lagu Sangsi, Lagu Angin, Malam Jahat, Rumpun Alang-alang, Mata Anjing, dan Remang-Remang).

Sajak tentang bunda juga dihadirkan secara khusus di sub bab Bunda di bawah rumpun Nyanyian Dari Jalanan. Sajak itu menggambarkan kerelaan dan kelapangan seorang bunda melepas putranya mengembara. Hati bunda digambarkan sebagai “tanah yang dibajak dan diinjak”, yang semakin lama semakin parah tetapi juga semakin subur. Hati bunda, lanjut sajak itu, merupakan “belantara yang rela terbuka”. Penggambaran ini sangat menakjubkan dan terlihat tidak klise. Betapa lapangnya hati yang serupa belantara yang rela terbuka, yang nantinya, tentu saja, akan ditanami berbagai tanaman baru yang entah akan berjenis apa. 

Sementara itu, sajak Lagu Sangsi, Lagu Angin, Malam Jahat, Rumpun Alang-alang, Mata Anjing, dan Remang-Remang secara umum bercerita tentang kebimbangan lelaki atas jalan hidupnya yang masih panjang, yang dibayangi warna-warni lampu dunia berupa naluri pengembaraan lelaki ataupun kehadiran wanita lain yang menyilaukan mata dan, seringkali, membelokkan jalan. Puisi yang dengan sangat jelas memberikan gambaran itu adalah Rumpun Alang-Alang. Berikut kutipannya:


Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal.
Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa.
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada.

Penggambaran sosok lelaki beserta motif-motif yang lebih luas juga dimunculkan dalam sub bab Lelaki, yang terdapat di rumpun kumpulan ketiga, Nyanyian dari Jalanan. Di sini, ruang gerak dan kegelisahan lelaki dilebarkan lagi.

Ada yang bercerita tentang perbuatan serong dengan pelacur, yang digambarkan secara apik melalui citra malam dengan “bulan biru” dan “birahi lelaki yang menggelincir.” Selanjutnya, dalam sajak yang lain, Lelaki Sendirian digambarkan sebagai orang yang “hati”nya berupa “hutan” yang sedang “dilanda topan.”

Selain itu, beberapa sajak lain berbicara tentang pengembaraan, kematian, bocah penjaja serabi yang “terpencil nyanyinya”, dan masa tua yang penuh semangat-juang untuk generasi muda bangsa dan yang begitu gembira menyambut saat penyatuannya dengan bumi.

Dengan porsi yang begitu besar untuk mengeksplorasi lelaki dari beberapa bentuk hidup dan mimpi-mimpinya, kumpulan sajak ini memberikan ruang pemahaman psikologis atas lelaki (setidaknya dalam kumpulan sajak ini saja) yang, jika ditelusuri lagi, akan sangat menarik pembahasannya.

Penggambaran hidup perempuan juga hadir dalam kumpulan sajak ini. Selain tersirat dalam beberapa penggambaran yang mengungkap lelaki dan segala kompleksitas pemikirannya, perempuan secara khusus dibicarakan di bawah sub bab Wanita. Ada tiga sajak dalam kumpulan ini.

Sajak pertama, Nyanyian Perempuan di Kali, berbicara tentang perempuan-perempuan yang sedang mencuci baju di Kali Solo, yang coklat airnya di pagi hari. Sajak ini berbicara melalui beberapa narator: “yang maha tahu,” “kali,” dan “perempuan.” Suasana khas pedesaan mendominasi sajak ini dengan citra-citra: “kerbau-kerbau”, “tikar pandan”, dan, tentu saja, adegan perempuan mencucikan baju “kakanda”-nya di sungai di pagi hari.

Perawan Tua adalah sajak kedua. Sesuai dengan judulnya, sajak ini bercerita tentang layunya perempuan yang kulitnya mengerut dan buah dadanya mulai kisut. Keadaan fisik seorang perempuan, dalam sajak ini, digambarkan begitu penting. Keindahan fisik yang memudar seiring umur menghadirkan rasa sepi yang memilukan bagi perempuan yang belum atau tidak memiliki pasangan. Puisi selanjutnya, Aminah, berbicara tentang seorang kembang desa yang tertipu rayuan lelaki kota. Impiannya hancur setelah dijebak dijadikan pelacur. Gadis malang ini digambarkan sedang berjalan di pematang menuju rumahnya di desa. Sambil membayangkan masa depan, ia sudah bulatkan tekat untuk tetap berjalan di kejatuhannya dan berniat akan bangkit.

Lelaki dan perempuan dalam beberapa kumpulan sajak ini, seperti yang sedikit dipaparkan di atas, digambarkan mempunyai dunia yang cenderung berbeda. Lelaki lebih memiliki hasrat berpetualang dan serong, sedangkan perempuan, selain sosok bunda yang selalu dipuji-puji, cenderung menunggu lelaki yang akan mencintai dan dicintainya. Keteguhan hati perempuan menjadi simbol kekuatannya, sedangkan bagi lelaki, pencarian hidup dengan pengembaraan menjadi ciri khas kelelakiannya.

Namun, keduanya sama-sama tak terhindarkan dari kesepian. Pembahasan lebih lanjut tentang hal ini tentunya akan sangat bermanfaat bagi pemahaman menyeluruh watak puisi-puisi Rendra, khususnya yang berhubungan dengan lelaki dan perempuan.

Puisi-puisi dalam Sajak-Sajak Dua Belas Perak, yang seluruhnya berjumlah dua puluh, mempunyai warna yang lebih beragam. Ada yang bercerita tentang Kenangan dan Kesepian ketika senjata baja yang “menikam diri dari belakang” mengingatkan sang narator pada “langit di desa”, “sawah”, dan “bambu”.

Beberapa sajak membicarakan orang-orang lanjut usia. Nenek yang Tersia Bersunyi Diri bercerita tentang seorang nenek yang merasa sepi karena ditinggalkan orang-orang dekatnya (entah anak-anaknya atau saudara-saudarinya). Begitu sunyinya hidup si nenek tua itu hingga sapaan seorang bocah mampu mengubah perasaan hati menjadi teduh dan berbunga! Seorang nenek yang menemui ajal diceritakan dalam Nenek Kebayan. Nenek yang sudah lupa pada kenangan masa lampau dan sudah jemu pada hari-hari depan begitu nelangsa karena “hidup yang tinggal diisi tidur dan bubur” dan “sudah itu sepi pada dada terbujur” tak juga kunjung usai. Namun, beruntung ia kedatangan tamu malam itu. Seorang “hitam” mengetuk “pintu/dada”-nya. Disambutnya “tamu budiman” itu dan “hilang”-lah sudah esok si Nenek Kebayan.

Isu sosial juga coba diangkat dalam antologi ini, antara lain: Anggur Darah, Mega Putih, dan Pelarian Sia-Sia. Beberapa isu yang diangkat adalah kekerasan. Anggur Darah menceritakan seorang panglima yang berusaha memenuhi hasrat kelelakiannya, meneguk darah “cuma buat tanda megah gagah”. Mega Putih bercerita tentang hilangnya perlindungan terhadap perjuangan yang belum berakhir, sedangkan Pelarian Sia-Sia berbicara tentang masa depan yang tak teraba karena masa lalu yang hitam. Semua sajak sosial disampaikan secara liris. Cara penyampaian ini memberi kesan kemarahan yang terpendam dan kian membesar. Sajak-sajak Rendra yang bertemakan isu sosial dalam Empat Kumpulan Sajak merupakan cikal-bakal sajak-sajak protes yang lebih melambungkan namanya. Kumpulan sajak itu terangkum dalam Blues untuk Bonnie (1971), Sajak-sajak Sepatu Tua (1972), Potret Pembangunan dalam Puisi (1983).

Di sajak Ciliwung yang Manis dalam sub bab Jakarta, penggambaran hidup orang pinggiran disinggung dengan alunan lirik yang elegan. Berikut sajak lengkapnya:

Ciliwung mengalir
Dan menyindir gedung-gedung kota Jakarta
Kerna tiada bagai kota yang papa itu
Ia tahu siapa bundanya.

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.

Dan Jakarta kecapaian
Dalam bisingnya yang tawar
Dalamnya berkeliaran wajah-wajah yang lapar
Hati yang berteriak karena sunyinya.
Maka segala sajak
Adalah terlahir karena nestapa
Kalau pun bukan
Adalah dari yang sia-sia
Ataupun ria yang karena papa.

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lengoknya.

Ia ada hati di kandungnya
Ia ada nyanyi di hidupnya,
Hoi, geleparnya anak manja!

Dan bulan bagai perempuan tua
Letih dan tak diinfahkan
Menyebut langkahnya atas kota.
Dan bila ia layangkan pandangnya ke Ciliwung
Kali yang manis membalas menatapnya!
Hoi! Hoi!

Ciliwung bagai lidah terjulur
Ciliwung yang manis tunjukkan lenggoknya.

Teman segala orang miskin
Timbunan rindu yang terperam
Bukan bunga tapi bunga.
Begitu kali bernyanyi meliuk-liuk
Dan Jakarta disinggung dengan pantatnya.

Sajak di atas merupakan sajak yang “berhasil” melepaskan diri dari citra-citra pedesaan yang mendominasi keseluruhan sajak, melepaskan diri dari metafora yang berlebihan, dan yang penyajian lirisnya terasa mengalirkan pikir seperti sungai Ciliwung yang mengalirkan beban-beban manusia-urban-miskin di kiri dan kanannya.

Sungai Ciliwing yang Manis merupakan kontemplasi diri penyair menangkap fenomena lahiriah di sekitarnya dan yang tersaji secara jujur dan tidak hiperbolik. Tidak seperti kebanyakan sajak Rendra yang lebih nikmat ketika dideklarasikan, puisi ini, meskipun terlihat sangat sederhana dan begitu nyata dan begitu dekat realita yang diambilnya, memberikan ruang pengahayatan pencarian makna yang lebih “dalam” – yaitu pemaparan yang tidak hanya membuat menganga pendengar (pembaca) mengagumi hentakan pengandaian citra-citra dalam sajak, tetapi juga menghadirkan simpati dan menggelitik tindak lanjut pembaca untuk secara “halus” dan “liris” memahami realita.

Di sini, penyair juga berusaha mengungkapkan posisi sajak-sajaknya: Maka segala sajak/Adalah terlahir karena nestapa/Kalau pun bukan/Adalah dari yang sia-sia/Ataupun ria yang karena papa. Sajak-sajak yang terlahir dari kondisi yang demikianlah yang akan disebut sajak-protes.

Penelusuran elemen-elemen intrinsik, yang tak lengkap, tak panjang, dan tak dalam di atas, tentu saja tidak akan memberi kepuasan dalam menjembatani pemahaman atas sajak-sajak Rendra dalam kumpulan ini.

Dibutuhkan perspektif yang berbeda untuk membaca dan memahami sebuah karya sastra, misalnya, dari biografi penyair, keadaan sosial masyarakat, dan dari kerangka politik yang melingkupinya. Sangat diperlukan analisis yang dalam dan komprehensif, seperti yang pernah dilakukan dengan sangat teliti oleh Subagio Sastrowardoyo, untuk mendekati karya-karya Rendra dan untuk tidak mengekalkan mitos tentang seorang Rendra dalam untaian sejarah kesusastraan Indonesia. (Wahmuji)

* Dinukil dari buku Seratus Buku Sastra Yang Harus Dibaca Sebelum Dikuburkan (IBOEKOE, 2009, 1001 halaman)

Antologi Resensi Buku Sastra

Seratus Buku Sastra Indonesia_HITAMJudul Buku : Seratus Buku Sastra Indonesia yang Patut di Baca Sebelum di Kuburkan
Penulis : An. Ismanto dkk.
Penerbit : I:Boekoe, Yogyakarta
Cetakan : I, 2009
Tebal : 1000 halaman

Peresensi : Sungatno*

Di antara buku-buku yang berjejer di rak sebuah Toko Buku di Yogyakarta, saya pernah tertarik pada sebuah buku dan langsung membelinya. Selain penulisnya terasa tidak asing bagi saya, judul buku dan catatan dalam endorsment-nya cukup memikat. Terlebih, ketika pihak toko tidak –atau mungkin lupa- menyediakan contoh buku itu yang bebas dari penjara plastik srink (plastik putih-bening).Sayangnya, setelah melihat-lihat isi yang ditawarkan penulis, minat untuk segera menenggak gagasan-gagasan yang ada tiba-tiba surut.

Tulisan-tulisan dalam buku itu pernah saya nikmati dari beberapa koran sebelum buku itu terbit. Di dalamnya, hanya kumpulan tulisan-tulisan penulis yang pernah dipublikasikan koran dan beberapa makalah yang pernah disampaikan dalam diskusi. “Kok, ngga’ sekalian resensi-resensinya hya..???”, gumamku tanpa berfikir panjang. Waktu itu saya langsung ingat dengan resensi-resensi penulis terhadap buku yang telah banyak dipublikasikan koran dan majalah.

Kodifikasi tulisan-tulisan yang ‘tercecer’ menjadi buku memang memiliki nilai plus. Selain turut memeriahkan dunia literatur, nilai ekonomis pun segera bersanding ketika diterbitkan sekaligus dijual. Apalagi, ketika penerbitan karya-karya itu diberi embel-embel tulisan terbaik atau mendapat anugerah dari sebuah institusi atau komunitas tertentu yang memiliki daya tawar tinggi. Image penulispun segera terdongkrak seiring kesuksesan marketing dan informasi buku. Namun, proses pemasaran buku-buku semacam itu, akan terganjal ketika bertemu dengan pembaca yang tidak memiliki selera untuk mengulang-ulang bacaan yang ajek. Kecuali, bagi mereka yang lunglai dalam strategi pemasaran buku.   

Layaknya para peninjau buku, para penulis tak ubahnya para peresensi (reviewers) buku diberbagai koran, majalah, maupun media massa lainnya. Hanya saja, ada perbedaan antara peresensi di media-media itu dengan peresensi yang ada dalam buku ini. Tentunya, para peresensi di media massa tidak lepas dari aturan-aturan yang mengikat dan menyesuaikan karakter media dan segmen pembacanya. Hal ini tidak lepas dari maujudnya media massa yang berorientasi pada kepentingan ekonomi dan atau kekuasaan. Dalam konteks ini, terasa lumrah ketika ada lebih dari satu media menayangkan resensi buku yang sama namun dengan analisis dan kualitas peninjauan yang berbeda. Termasuk teknik penyampaian, gaya, dan pilihan kata yang digunakan sang peresensi dalam menyajikan apresiasinya terhadap suatu buku.

 Dari sinilah terkadang muncul permasalahan yang berpotensi “menyimpang” dengan apa yang digagas penulis buku; melebihi atau mengurangi.

 Kasus semacam ini juga sering muncul ketika terjadi ketidakseimbangan dalam mengapresiasi antara esensi yang terkandung dalam sang karya dengan teknik penulisannya. Begitu juga dengan luas atau piciknya sudut pandang yang digunakan peresensi akan berpengaruh dalam mengapresiasi. Jika kurang memahami isi dan konteks buku, sebuah buku akan mudah tervonis baik atau jelek, bersahabat atau berbahaya, dan gagal atau sukses dalam mencetuskan ide. Padahal, subjektifitas peresensi tersebut akan berpengaruh pada persepsi calon pembaca terhadap objektifitas sang karya. Sehingga, terasa maklum ketika fakta lapangan menjawab bahwa ada sejumlah buku yang dielu-elukan publik dan ada juga yang dibakar di depan umum sebagai reaksi yang tertumpah dengan cara berbeda.

 Fakta-fakta semacam ini juga terjadi dalam perjalanan buku-buku sastra di Indonesia. Mulai ada yang ditarik dari peredaran, dilarang untuk diterbitkan, dipaksa untuk ganti cover, dicemooh habis-habisan secara “tidak sehat” oleh penulis lain atau publik, dibakar terang-terangan dengan motif pelecehan dan kasus-kasus yang lainnya. Reaksi-reaksi itu pun tidak jarang menyeret penulis buku untuk sekedar beradu fisik atau kekuatan hukum demi mempertahankan –memimjam istilah Pram- anak-anak ruhani mereka.

 Dalam buku inilah, buku-buku sastra Indonesia itu dibingkai dan diulas para penulis dalam satu liang yang sama. Baik yang memiliki masa lalu dipuja-puja atau diinjak-injak, buku-buku itu memiliki nilai-nilai mulia yang patut untuk dikaji dan memiliki pengaruh terhadap cara kita nantinya dalam meneropong karya sastra bangsa ini ke depan. Namun, sebagaimana para penulis pada umumnya, para penulis dan editor buku ini juga memiliki persepsi yang subjektif, meskipun juga menggunakan pijakan-pijakan tertentu. Sehingga, tidak menutup kemungkinan, subjektifitas mereka akan bersimpangan dengan persepsi pembaca. Untuk itu, tidak ada gunanya jika masalah relativitas dalam penilaian buku-buku itu menghalangi sampainya isi buku ini di ranah pengetahuan sastra pembaca.

Meski begitu, buku yang memiliki 1000 halaman ini tidak memiliki kesamaan seratus persen dengan fenomena di atas. Meski tampak mengulang tema pembahasan masa lalu, pembahasannya tidak serta merta mengambil alih kajian yang pernah terpublikasikan baik dalam media massa maupun buku. Walaupun masih ada yang menggunakan pisau analisis yang ‘sama’, dalam menyajikannya tampak memberi corak dan kesan yang cukup berbeda. Semisal, menggunakan pendekatan filsafat bahasa, konteks zaman, dan psikologi penulis.

Selain itu, jika dulu buku-buku itu dibedah dengan berkutat pada –meminjam istilah Goenawan Mohammad- sang karya atau sang penulisnya, dalam buku ini tampak lebih luas. Mulai dari sang karya, sang penulis, sang pembaca, hingga situasi zaman pada masa terbitnya sebuah buku. Begitu juga dengan efek yang ditimbulkan sang karya. Mulai dari jagat sastra Indonesia sendiri hingga publik secara umum, tidak luput dari sentuhan para penulis.

  *) Ketua Lembah Kajian Peradaban Bangsa (LKPB) Yogyakarta

Sumber : [ Batam Pos Edisi Minggu, 14 Juni 2009 ] juga di tayangkan di blog pribadi http://cawanaksara.blogspot.com/2009/07/antologi-resensi-buku-sastra-judul-buku.html

Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan & Kemanusiaan

Penulis: Ahmad Syafii Maarif
Penerbit: Mizan
Edisi: Soft Cover
Tgl Penerbitan: Juni 2009
Tebal: 392
Harga Rp.65.000

syafii buku“Sebagai guru bangsa, Prof. A. Syafii Maarif menyajikan argumen yang begitu kuat dan komprehensif tentang pentingnya mengembangkan keislaman di tanah air dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Tahniah atas masterpiece ini.” —Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya. Sebagai agama-sejarah, Islam telah, sedang, dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Tujuan Islam adalah mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan. Namun, sering kali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gamang menghadapi perubahan dan gagal mengemban misinya menuntun peradaban.

Buku ini memuat gagasan reflektif dari seorang cendekiawan Muslim dan guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif. Refleksi ini lahir dari keprihatinan bahwa umat Islam, sebagai penduduk mayoritas Nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah senafas agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif.

Inilah tantangan sekaligus peluang yang coba dijawab buku ini. Jika keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan telah senafas dalam jiwa, pikiran, dan tindakan umat Muslim Indonesia, Islam Indonesia akan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa. Sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat, yang memberikan keadilan, keamanan, dan perlindungan kepada semua pendudu k Nusantara. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin dan menolak kemiskinan sehingga berhasil dihalau dari negeri ini.

Di tengah keringnya karya cendekiawan Muslim yang menawarkan kesegaran wacana dan solusi, buku ini tampil menawarkan pemikiran yang utuh, mendalam, kreatif, dan berpijak pada pemahaman sejarah yang kokoh tentang isu-isu penting yang menentukan identitas Muslim Indonesia. Sebuah masterpiece yang harus dibaca siapa pun—dari agama, etnis, maupun pandangan politik mana pun—yang menaruh kepedulian terhadap masa depan bangsa Indonesia.

***

“Saya sarankan kepada Mendiknasagar karya Ahmad Syafii Maarif ini dijadikan buku wajib di sekolah, setidaknya sampai tingkat SMA. Karya ini tidak konvensional. Sangat penting bagi keindonesiaan.”
—Dr. Anhar Gonggong, Sejarawan LIPI

* Diunduh dari situs: http://www.maknyoes.com

Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan & Kemanusiaan

Penulis: Ahmad Syafii Maarif
Penerbit: Mizan
Edisi: Soft Cover
Tgl Penerbitan: Juni 2009
Tebal: 392
Harga Rp.65.000

syafii buku“Sebagai guru bangsa, Prof. A. Syafii Maarif menyajikan argumen yang begitu kuat dan komprehensif tentang pentingnya mengembangkan keislaman di tanah air dalam bingkai keindonesiaan dan kemanusiaan. Tahniah atas masterpiece ini.” —Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah, Direktur Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

Islam lahir dan berkembang sepenuhnya dalam darah dan daging sejarah, tidak dalam kevakuman budaya. Sebagai agama-sejarah, Islam telah, sedang, dan akan terus bergumul dengan lingkungan yang senantiasa berubah. Tujuan Islam adalah mengarahkan perubahan itu agar tidak tergelincir dari jalan lurus kenabian, dari jalan keadilan. Namun, sering kali Islam diasingkan dari persentuhan dengan fakta budaya dan sosial. Akibatnya, Islam menjadi ahistoris dan gamang menghadapi perubahan dan gagal mengemban misinya menuntun peradaban.

Buku ini memuat gagasan reflektif dari seorang cendekiawan Muslim dan guru bangsa, Ahmad Syafii Maarif. Refleksi ini lahir dari keprihatinan bahwa umat Islam, sebagai penduduk mayoritas Nusantara, semestinya tidak lagi mempersoalkan hubungan Islam, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Ketiga konsep itu haruslah senafas agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, inklusif.

Inilah tantangan sekaligus peluang yang coba dijawab buku ini. Jika keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan telah senafas dalam jiwa, pikiran, dan tindakan umat Muslim Indonesia, Islam Indonesia akan mampu memberi solusi terhadap masalah-masalah besar bangsa. Sebuah Islam yang dinamis dan bersahabat, yang memberikan keadilan, keamanan, dan perlindungan kepada semua pendudu k Nusantara. Sebuah Islam yang sepenuhnya berpihak kepada rakyat miskin dan menolak kemiskinan sehingga berhasil dihalau dari negeri ini.

Di tengah keringnya karya cendekiawan Muslim yang menawarkan kesegaran wacana dan solusi, buku ini tampil menawarkan pemikiran yang utuh, mendalam, kreatif, dan berpijak pada pemahaman sejarah yang kokoh tentang isu-isu penting yang menentukan identitas Muslim Indonesia. Sebuah masterpiece yang harus dibaca siapa pun—dari agama, etnis, maupun pandangan politik mana pun—yang menaruh kepedulian terhadap masa depan bangsa Indonesia.

***

“Saya sarankan kepada Mendiknasagar karya Ahmad Syafii Maarif ini dijadikan buku wajib di sekolah, setidaknya sampai tingkat SMA. Karya ini tidak konvensional. Sangat penting bagi keindonesiaan.”
—Dr. Anhar Gonggong, Sejarawan LIPI

* Diunduh dari situs: http://www.maknyoes.com

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan