-->

Arsip Resensi Toggle

Gie: Mati Sunyi si Pohon Oak

Gie_poster-WEBGie (2005)
Sutradara: Riri Reza
Pemain: Jonathan Mulia, Nicholas Saputra, Sinta Nursanti, Lukman Sardi
Film ini merupakan tafsir atas diari Soe Hok Gie berjudul Catatan Harian Seorang Demonstran

Oleh: Muhidin M Dahlan

”Saya mau menulis karena saya tahu saya anak penulis.”
(Gie)

Filsuf Friedrich Nietzsche menulis aforisma ini: ”Nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan. Yang kedua dilahirkan tapi mati muda. Dan yang paling sial adalah berumur tua.”

Gie menyimpan sebaik-baiknya bait aforisma yang diambil dari adegan percakapan antara Midas dan Silenus itu dalam buku hariannya. Sekaligus kata-kata itu menjadi kompas yang menuntun satu putaran hidupnya.

Ya, jalan yang digariskan aforisma itu dibayarnya tunai: mati muda pada usia 27 tahun. Di puncak kesunyian Mahameru.

Film ini menafsir potongan-potongan fragmen dunia Gie, sejak 17 Desember 1942 hingga 16 Desember 1969. Usia yang sangat sebentar. Tapi di sana kita menyaksikan sisi-sisi hidup Gie: seorang penulis catatan harian yang tekun, pembaca buku yang lahap, penonton film yang rakus, pencinta alam yang gigih, dan aktivis idealis di tengah pragmatisme politik yang menyesakkan kalbu.

Posisi Gie memang sulit. Ia lahir dan besar dari keluarga peranakan yang kerap menjadi sasaran ejekan lantaran sejarah kalangan ini di masa lalu sebagai middle class dalam pengertiannya yang negatif: money complex alias maniak ekonomi.

Tapi keluarga Gie adalah keluarga penulis. Cina kere. Jauh dari bayangan peranakan sukses secara finansial. Keluarga yang mempercayakan nasib berdiri kukuh di atas trisula: buku, kesederhanaan hidup, dan kemanusiaan.

Gie menyerap secara baik-baik nilai itu. Sejak kecil ia bergulat dengan buku-buku. Hampir setiap hari ia membaca buku-buku berat. Ke mana-mana buku dikepitnya. Soekarno, Tagore, Steinbeck, Gandhi, Nietzsche, Tolstoy, Lenin, Marx, Sartre, dan Camus.

Asupan bacaan yang begitu banyak itulah yang membangun struktur berpikirnya yang lugas, kritis, dan melawan arus. Watak itu yang mengantarnya menjadi seorang pesimis. Tapi pesimisme Gie adalah pesimisme yang turut serta terjun dalam aksi-aksi. Karena nilai tak akan kokoh dan liat kalau tak diuji dalam medan sejarah.

Dan Gie ambil bagian dalam arus sejarah itu dengan satu prinsip yang ia pundaki sampai mati: ”Saya tak mau jadi pohon bambu, saya mau jadi pohon oak yang berani menantang angin.”

Ketika badai politik menyapu seluruh sudut kampus dan mahasiswa terfaksi-faksi oleh kelompok dan afiliasi partai, Gie dengan caranya sendiri mengambil posisi ”netral”. Yang ia tahu hanyalah bahwa aktivis harus membela kebenaran tanpa pretensi apa pun. Kebenaran itu seksi, maka diperlukan cara-cara terseksi untuk memperjuangkannya.

Salah satu cara terseksi menegakkan kebenaran adalah menulis dan berdemonstrasi.

Gie turut ambil bagian turun ke jalan-jalan melawan kekuasaan Soekarno bersama aktivis-aktivis KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia). Hingga kekuasaan itu rubuh ke tanah.

Tapi ia lantas masygul bahwa militer yang diusungnya untuk menghabisi kekuasaan Soekarno tak lebih dari rezim pembunuh. Di peralihan rezim itu, teman-temannya aktivis bergerombol-gerombol ambil bagian dan menjadi pembesar.

Mestinya Gie bisa memperbaiki nasibnya dengan mengambil sekerat roti dari ingar-bingar peralihan itu. Tak ada salahnya jalan itu. Wajar saja sebagai imbalan setelah mereka sukses mencongkel golongan-golongan tua dari tahta kekuasaan.

Tapi Gie punya wajah lain. Sikap lain. Sukses itu tak boleh lantas membuat kita menepuk-nepuk dada kesombongan dan berhak mengambil secuil keuntungan untuk perbaikan nasib. Jika itu dilakukan, tulis Gie, seorang intelektual telah mengkhianati perannya.

Bagi Gie, seorang intelektual adalah mirip sikap seorang kalangwan yang didefinisikan Zoetmulder, yakni sejenis cendekiawan ”religio poetae”. Sikap askese itu kita temukan dari selarik kalimat Gie yang menyentuh: ”Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita takkan pernah kehilangan apa-apa…”

Karena tak memiliki kepentingan atas kekuasaan itulah Gie bebas melakukan kritik atas kebobrokan politik ditebar kekuasaan dalam semua wajahnya. Bahkan kepada kekuasaan di mana dia turut andil mengangkatnya.

Gie dikenal pembenci Soekarno dan PKI. Tapi tidak karena itu kemudian membenarkan seorang pembenci untuk membantai yang dibencinya secara barbar dan biadab. Apalagi diembel-embeli mendapat “restu” dari Tuhan.

Maka ditulisnya sebuah artikel yang kemudian menjadi artikel pertama yang ditulis cendekiawan Indonesia ihwal aksi pembantaian yang tiada taranya di era modern ini: ”Di sekitar pembunuhan besar-besaran di pulau Bali”.

Artikel itu—juga artikel-artikel kritis lainnya—yang melempar Gie di pojok sepi sejarah. Seorang diri dengan jalan menulis menantang arus pragmatisme yang menohok-nohok akal sehat cendekiawan setelah revolusi padam. Seperti pohon oak, ia melangkah lurus dengan idealisme yang memberontak. Sendiri tanpa massa dan pasukan. Ia hanya berkawan dengan mesin tik, buku-buku, juga nalar yang sehat dan bersih.

Dengan pilihan jalan seperti itu, bukan hanya teman-temannya yang segaris meninggalkannya, tapi juga selingkungannya dalam kampus. Gie sungguh sadar dengan itu. Tapi baginya ia lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan seperti yang tercetak di catatan hariannya pada 30 Juli 1968.

Dan pohon oak yang pemberani itu tak cukup hanya (di)asing(kan). Ia, di tengah jiwa yang sesak dan melankoli, tersungkur di keharibaan sunyi. Di atas puncak Mahameru, ia berjumpa takdirnya: mati muda.

* Esai ini dimuat dalam Penggila Buku: 100 Catatan di Balik Buku (IBOEKOE/DBUKU, 2009)

John Maxwell juga pernah menulis biografi Soe Hok Gie, yang barangkali menjadi satu-satunya buku terlengkap yang mebahas sosok Gie. Resensi buku itu bisa disimak di sini.

NATASHA

NatashaNATASHA, Mengungkapkan Perdagangan Seks Dunia (The Natasha: The New Global Sex Trade)

Victor Malarek |  Zia Anshor (penerjemah) | PT Serambi Ilmu Semesta | 2008 | 358 halaman

Oleh: Ira D Aini

Membaca buku NATASHA, Mengungkapkan Perdagangan Seks Dunia, yang ditulis oleh Victor Malarek, begitu menggetarkan hati dan emosi. Begitukah mereka memperlakukan perempuan yang dianggap barang dagangan?.

Sepenggal cerita dari buku itu:

“Babi gendut yang mandi keringat itu hampir mencapai klimaks dan ia mulai menggumam, “Oh, Natasha! Natasha!” Awalnya kupikir aneh juga rasanya dipanggil dengan nama lain. Tapi aku segera menerimanya sebagai pelarian. Ketika aku larut dalam pikiran dan impian, aku adalah Marika—yang bebas dari penjara ini. Tapi ketika aku sedang bersama seorang laki-laki, aku menjadi seorang perempuan lain—pelacur bernama Natasha yang mati dan dingin dalam diriku.
Natasha adalah mimpi burukku. Marika adalah penyelamatanku. Aku tak pernah memberitahu nama asliku kepada semua laki-laki itu. Dan mereka tak pernah bertanya. “Kami adalah fantasi seks mereka. Manusia-manusia bejat itu berjalan masuk bordil dan sambil nyengir mereka memanggil ‘Natasha!’ seolah-olah kami ini semacam boneka Rusia. Dan kami harus tersenyum dan menghampiri mereka.”

Itulah sepenggal cerita pilu salah seorang korban trafficking, Marika, dalam buku ini. Liputan investigasi yang dalam dan berani ini membuka mata kita tentang apa yang terjadi dalam dunia trafficking—lebih daripada sekadar industri seks, melainkan perbudakan sekejam-kejamnya.

Di tengah masyarakat modern yang konon menjunjung nilai humanistik (meninggikan harkat dan martabat manusia), kejahatan ini terus bergerak dan tumbuh pesat. Lebih dari dua juta orang di dunia terlibat ke dalam perdagangan seks global ini setiap tahun, baik sebagai pembeli ataupun penjual. Keuntungannya fantastis: lebih dari 12 milyar euro per tahun (sekitar 144 triliun rupiah!) di seantero dunia.

Berbagai perangkap
Ada yang langsung diculik, ada yang sudah ditunggu ketika mereka keluar dari panti asuhan, ada yang ditipu dengan iklan pekerjaan di luar negeri. Modus terakhir paling banyak. Mereka diiming-imingi pekerjaan yang layak dan gaji banyak, seperti menjadi pengasuh anak di Yunani, pekerja rumah tangga di Italia dan Prancis, pelayan di Austria dan Spanyol atau menjadi model di Amerika Utara dan Jepang.

Kenyataannya, menurut Malarek, para Natasha itu dikirim ke seluruh penjuru dunia. Mereka hadir di jalan-jalan daerah lampu merah di Austria, Italia, Belgia, dan Belanda. Mereka mengisi rumah-rumah bordil di Korea Selatan, Bosnia, dan Jepang. Mereka bekerja tanpa busana di panti pijat di Kanada dan Inggris. Mereka dikurung sebagai budak seks dalam apartemen di Uni Emirat Arab, Jerman, Israel, dan Yunani.

Mereka dijual ke mucikari, brothels, dan sebagainya, dipaksa melayani lusinan-puluhan laki-laki semalam, tidak mendapat cuti sakit atau cuti haid, dan bahkan tidak dibayar untuk kerja mereka. Semua uang masuk ke kantong si mucikari. Sering mereka disekap beramai-ramai di sebuah kamar, jendelanya dipaku dan pintunya dijaga oleh penjaga yang kekar, tidak boleh keluar. Beberapa bahkan disekap di ruang bawah tanah tanpa ubin dan tanpa kamar mandi, hanya diberi makan satu hamburger per hari dan hanya dipanggil keluar ketika dibutuhkan untuk seks. Dan, ketika mereka “terlalu tua, terlalu sakit, atau terlalu terjangkiti penyakit, mereka dibuang begitu saja.” (hal. 9).

Mudah, Murah, Laris

Sebagai wartawan, Malarek ikut beberapa aksi penggrebekan, mengobrol langsung dengan bos mafia, dan menemukan: ternyata amat mudah membeli perempuan untuk industri seks. Hanya butuh koneksi dan sebuah panggilan telepon. Begitu sebuah brothel ditutup, misalnya, dan para perempuannya dipulangkan, dalam seminggu mereka bisa mendapat “fresh meat” dan siap beroperasi kembali. Harga satu perempuan cantik dan muda bisa $10,000, tapi dalam seminggu modal itu bisa kembali dan setelahnya laba murni. Bahkan, sekarang mereka bisa dilelang lewat Internet.

Singkatnya, dengan keuntungan luar biasa, kemudahan transaksinya, dan hukuman yang ringan, wajar saja industri ini bisa berkembang sepesat-pesatnya.

Tak Peduli dan Korupsi
Selain itu, “yang berwenang” pun sepertinya tidak peduli. .Malarek menggambarkan bagaimana sikap banyak politisi dan polisi yang acuh tak acuh dalam menindak kasus trafficking ini. Mereka mengetahui dan mendengar tapi tak mau berbuat apa-apa. Bahkan, mereka termasuk pihak yang terus mendapatkan keuntungan material dari “perangkap” prostitusi yang bertentangan dengan hak azasi manusia ini.

Ketika tertangkap, banyak bos mafia, mucikari, pemilik brothels ini hanya mendapat hukuman ringan: tiga bulan sampai 2 tahun penjara dan denda yang tak seberapa dibanding penghasilan mereka memperbudak lusinan gadis. Sedihnya lagi, jika pun terselamatkan, gadis-gadis ini tidak diberi perlindungan saksi dan sebagian besar hanya langsung dipulangkan ke negara asalnya. Di sana mafia sudah menanti dan menciduk mereka kembali. Beberapa dibunuh karena berani bersaksi melawan mucikarinya.

Malarek juga secara detail dan lugas mengungkapkan berbagai korupsi yang dilakukan para petugas perdamaian PBB di Serbia, Kosovo dan Bosnia. Termasuk berbagai skandal prostitusi yang melibatkan Eropa, Israel, dan AS.

Bagaimana dengan kita?
Buku ini bisa jadi cermin bagi masalah serupa di Tanah Air. Di Indonesia kasus trafficking bukanlah fenomena baru. Manajer Program IOM Indonesia, Elizabeth Dunlap, mengungkapkan korban trafficking pada periode Maret 2005 sampai Januari 2008 mencapai 3.042 orang. Yaitu bayi perempuan (5), anak perempuan (651), anak laki-laki (134), perempuan dewasa (2.048), dan pria dewasa (206). Dalam standar nasional, biasanya mereka dijual di Batam, Riau, Bangka Belitung, Manado, Papua, DI Yogyakarta, DKI Jakarta. Pada skala internasional, mereka banyak dijajakan di Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Hongkong, Taiwan, Korea, Jepang, Australia, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, Kuwait, Mesir, Palestina, Jordania, Eropa, Inggris, dan AS (Kompas 18/2008).

Data tersebut bukanlah data yang pasti dan keseluruhan, karena kasus trafficking merupakan kejahatan yang sangat ilegal, tersembunyi, dan terorganisasi dengan rapi sehingga tidak bisa dideteksi kepastiannya.

Meskipun telah disahkan UU No. 21/2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang (PTPPO) tetapi sampai saat ini perdagangan manusia terutama perempuan, masih tetap marak di dunia dan bahkan menjadi konsumsi umum yang diekspos di media, tentang perempuan menjadi korban dan dikorbankan.

Badan Reserse dan Kriminal Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia mencatat, tahun 1999 hingga Desember 2007 terdapat 514 kasus. Dengan perincian melibatkan 1.015 orang dewasa (81 persen) dan 238 anak (19 persen). Dari jumlah itu, 422 pelaku ditangkap dengan 278 kasus dalam peradilan, dan 274 kasus dalam penyidikan. (Kompas 18/2008)

Harus berbuat apa?
Jelas, tutur buku ini, tak satu pun negara atau lembaga yang bisa memerangi traficking secara efektif sendirian. Sindikat kejahatan ini bergerak internasional. Kita perlu tekad bulat dan komitmen tegas seluruh dunia untuk mengatasinya. Pemberantasannya harus menjadi kewajiban moral, legal, dan politis. Salah satunya adalah ratifikasi protokol antitrafiking PBB di seluruh dunia dan pelaksanaannya dengan serius.

Kita juga perlu membereskan faktor pendorongnya—kondisi ekonomi dan sosial yang mendorong kaum perempuan pergi dari tanah airnya untuk mencari pekerjaan. Tanpa itu, para pelaku trafiking akan terus punya tempat perekrutan yang subur di antara kaum perempuan yang miskin. Negara harus mencari cara membantu para perempuan itu, tidak hanya dengan pelatihan kecakapan kerja tetapi juga tawaran pekerjaan yang tak menuntut mereka menanggalkan pakaian. Tanpa itu, para pelaku traficking akan terus punya tempat perekrutan yang subur di antara kaum perempuan yang miskin.

Tidak seperti Jakarta Undercover, Malarek benar-benar terkesan peduli. Ada call-to-action. Buku ini cukup untuk membuat kita tak bisa bangun di pagi hari karena mengetahui semua ini terus berlangsung. Para “Natasha” bukanlah pelacur yang memang memilih sendiri secara sadar “profesi tertua di dunia” ini. Mereka adalah budak. lantas siapakah yang peduli?

* Ira D Aini, mahasiswi jurnalistik Universitas Islam Negeri Ciputat. Kunjungi facebook-nya dengan alamat “Ira D Aini”.

Sumber foto: bookoopedia.com

Perahu Kertas karya Dewi Lestari

Perahu KertasPERAHU KERTAS

Dewi Lestari | Bentang Pustaka | 2009

Pengantar: Satukan Mimpi lewat Dongeng
Tak satu pun di antara kita bisa mengatur apa yang akan terjadi nanti, hari ini, atau besok. Termasuk pertemuan kecil antara Kugy dan Keenan. Dua manusia beda karakter itu tak menyadari, banyak hal-hal ajaib menanti setelah pertemuan tersebut.

Diceritakan, Kugy adalah gadis mungil yang hobi berkhayal. Dia sangat suka menuliskan dongeng ciptaannya yang bagi orang lain merupakan hobi tak lazim. Belum lagi kegemarannya menulis surat kepada Dewa Neptunus. Surat tersebut dilipat menjadi perahu kertas dan dihanyutkan di sungai atau laut. Kugy menganggap dirinya seorang agen Neptunus.

Sedangkan Keenan digambarkan sebagai sosok yang cerdas. Kesukaannya di bidang melukis tidak mendapat restu dari ayahnya. Dia justru diarahkan ke bidang bisnis untuk meneruskan perusahaan ayahnya. Berdua, Kugy dan Keenan menjalin persahabatan. Mereka berbagi mimpi dan saling mendukung. Acara nonton bareng atau makan sepulang kuliah jadi rutinitas wajib bersama dua sahabat mereka, Noni dan Eko. Perasaan berbeda mulai muncul di antara Keenan dan Kugy. Namun, mereka berdua memilih menyimpan perasaan tersebut. Apalagi, saat itu Kugy sudah punya pacar.

Konflik mulai muncul di sini. Karena kesalahpahaman, persahabatan Noni dengan Kugy nyaris dikorbankan. Selain itu, ada saja hal-hal yang menghalangi perasaan Keenan dan Kugy. Keduanya harus terpisah beberapa waktu.

Ikuti Jejak si Agen Neptunus Meraih Kebahagiaan
Yakin dengan Kata Hati

Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat, segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan Bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

Bait tersebut adalah potongan puisi Kugy untuk Keenan di salah satu bagian Perahu Kertas. Rasanya, memang tidak ada yang salah dengan usaha menggapai mimpi. Para bookaholic sepakat bahwa hidup berasal dari mimpi.

Wildan Bagus Aditya, Merlin Dwi Yunaniar, Anisah Fathinah, Gadhis Richi Andita, dan Yanuar Satria Putra kagum dengan jalan yang berani diambil Kugy serta Keenan untuk mempertahankan impian mereka.

Cerita yang dimulai dengan pertemuan Kugy dan Keenan tersebut membuat para bookaholic ikut tersenyum dalam diskusi sore itu. “Salut sama Kugy. Sebagai cewek, dia sama sekali nggak jaim. Bener-bener tipikal cewek yang unik. Berantakan, tapi cantik,” ujar Adit, sapaan akrab Aditya, membuka percakapan.

Ucapan Adit tersebut langsung mendapat respons dari Merlin Dwi Yunaniar atau yang akrab disapa Merlin. “Menurut aku, Kugy sama Keenan sama-sama unik. Bayangin aja, kok bisa gitu ya. Keenan klop sama Kugy yang ngaku-ngaku bahwa dia adalah agen Neptunus. Hehehe,” ujar Merlin sembari membayangkan wujud tokoh Keenan dalam dunia nyata.

Jalan cerita novel ini, menurut Gadis (panggilan Richi Gadis Andita) selalu menarik. Setelah membaca, rasanya enggan untuk meletakkan Perahu Kertas. Pengin langsung dibaca sampai habis. “Komplet soalnya. Kami bisa tertawa ngikutin kekocakan si Kugy. Kami bisa ikut terharu waktu Kugy dan Keenan harus merelakan impian mereka. Rasanya pasti sedih banget, tuh,” kata Gadis.

Anisah mengungkapkan, perasaan sebel juga ikut muncul gara-gara ulah Wanda yang sengaja membohongi Keenan demi bisa bersama Keenan. Wanda terkesan menghalalkan segala cara. “Aduh, jangan sampai jadi orang kayak Wanda,” tukas Anisah sebal. Teman-teman yang lain juga setuju dengan Anisah. “Tapi, kadang-kadang kan, kalau sudah masalah perasaan, logika bisa terabaikan,” ujar Anisah.

Ada banyak pelajaran yang bisa diambil bookaholic dari Perahu Kertas. Semangat, perjuangan, dan kerja keras adalah hal yang tak terlewatkan. Lembar demi lembar novel ini membuat bookaholic terhanyut dengan kisah cinta Kugy dan Keenan.

“Sayang, ending-nya kok kurang nendang ya? Gampang ketebak gimana akhir ceritanya,” ujar Yanuar. “Aku kira, bakal ada sesuatu yang beda atau kejutan,” lanjutnya.

Adit sepakat dengan Yanuar. Menurut dia, dia sudah bisa menebak kisah Kugy dan Keenan bakal berakhir happy ending. “Nggak apa-apa happy ending, tapi jalan yang mereka lalui kan nggak gampang. Prosesnya itu lho yang bisa mengocok emosi kita,” ucap Adit.

Merlin, Gadis, dan Anisah mengangguk penuh semangat. “Itu namanya jodoh nggak lari kemana. Kayak salah satu quote-nya, jalan kita berputar, tapi suatu hari kita jadi diri sendiri. Tergapai deh semua cita-cita mereka,” papar Merlin.

Setelah membaca Perahu Kertas, bookaholic jadi terinspirasi. Mereka bertekad kuat meraih impian masing-masing. “Intinya, nggak boleh menyerah,” seru mereka.

CUAP-CUAP

Kaget, Terkejut, dan Terharu
Buku ini seru banget, bikin yang baca ikut ngebayangin kejadian aslinya. Emosiku aja sampai naik turun. Habisnya, ceritanya bikin orang tegang, sih. Di setiap baca novel ini aku sibuk menerka-nerka, habis ini gimana ya? GituÖ Yang paling bikin aku suka adalah novel tersebut nggak gampang ditebak. Kayak cerita Kugy dan Keenan itu. Aku sama sekali nggak nyangka bahwa di bagian akhir ceritanya mereka ketemu lagi setelah sekian lama terpisah. Aku pikir cerita novel itu berakhir menyedihkan, tanpa mempertemukan Kugy dan Keenan sebagai tokoh utama. Apalagi, waktu di akhir novel itu, mereka sudah punya pasangan masing-masing. Waw, antara kaget, nggak nyangka, dan terharu, campur jadi satu.

Gadhis Richi, SMA Hang Tuah 2 Sidoarjo
Buku Favorit: All Series of Raditya Dika
Pengarang: Raditya Dika

– – –

Pengemasan Nggak Biasa
Perahu Kertas? Bagus sih, tapi menurutku ceritanya standar-standar aja. Intinya tentang cinta juga, kan? Masih tentang kehidupan asmara remaja pada umumnya. Cerita-cerita semacam itu sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Jadi, menurutku sih, itu biasa aja. Soalnya sudah banyak novel yang membahas tentang itu. Perahu Kertas hanya satu di antara novel-novel tersebut. Tapi, lain dengan soal pengemasannya. Jangan ditanya, yang jelas aku salut deh buat Dee. Pokoknya keren banget Kalo ceritanya biasa-biasa aja, Dee berhasil membuatnya menjadi luar biasa dengan susunan kata-katanya. Alur ceritanya dibuat sedemikian rupa sehingga aku jadi merasa novel itu keren banget.

Yanuar Satria P, SMAN 2 Surabaya
Buku Favorit: Tinten Herz
Pengarang: Cornelia Funke

– – –

Kisah Sangat Inspiratif
Jadi Surprising! Buku karangan Dee yang satu ini oke banget. Cara dia menyampaikan novel tersebut jika dibandingkan dengan novel-novel terdahulu tuh beda banget. Kalo dulu, aku baca novel Dee sampe pusing-pusing karena nggak mudeng. Susunan kalimatnya susah dicerna. Apalagi, novel terakhir sebelum Perahu Kertas ini, wah… aku nggak ngerti sama sekali ceritanya. Hehehe… Tapi, kalo novel yang sekarang, lancar. Los deh waktu membacanya. Aku sudah nyambung hanya dengan sekali baca. Selain itu, ide ceritanya unik banget. Ada seninya, ada idealisme, dan yang terakhir, cinta tentunya. Itu bagian terfavoritku. Kosakata Dee yang beragam dan unik juga menarik banget buat dibaca.

Merlin Dwi Yuniar, Unair
Buku Favorit: 5 Cm
Pengarang: Dhony Dirgantara

– – –

Ending Kurang Nendang
Buku ini memberikan banyak pandangan hidup untuk menerima kenyataan dan pengorbanan. Di tangan Dee, cerita cinta menjadi sangat bermakna, tanpa tendensi. Tulus, menceritakan cinta yang apa adanya. Alurnya yang progresif dan sedikit flashback menjadikan cerita tersebut sangat enak dibaca. Beberapa kata yang diungkapkan Dee pun sangat menohok. Orang yang membaca karyanya menjadi larut sebagai tokoh dalam novel itu. Ceritanya benar-benar natural, namun unik. Aku sendiri sampai menyayangkan kalau membacanya setengah-setengah. Jadi, sedari malam aku baca tuntas novel itu sampai subuh. Cuman, ada yang bikin aku ngganjel. Cuma Kenapa ending-nya gitu ya?

Wildan Bagus A, ITS
Buku Favorit: Deception Point
Pengarang: Dan Brown

– – –

Perjuangan yang Hebat
Perahu Kertas adalah novel yang bagus. Tidak hanya kisah cinta yang disampaikan. Namun, juga ada pesan-pesan perjuangan dan semangat yang begitu hebat. Coba kita simak kisah Kugy dan Keenan. Mereka punya sifat yang pantang menyerah dan penuh semangat. Saya suka sekali dengan mereka. Terutama Kugy. Ya, Kugy begitu hebat dalam membangkitkan semangat murid-muridnya. Bayangkan, dengan usaha yang sangat keras, dia mencoba untuk bisa meluluhkan hati murid-muridnya di sekolah Alit. Menurutku, itu adalah kisah yang begitu hebat. Sebab, menumbulkan semangat diri sendiri saja sudah sulit, apalagi semangat orang lain. Aku terharu membaca kisahnya. Keren pokoknya!

Anisah Fathinah, SMAN 16 Surabaya
Buku Favorit: Laskar Pelangi
Pengarang: Andrea Hirata

WAWANCARA PENGARANG

Bincang-bincang dengan Dewi Lestari:
1. Apa inspirasi utama Dewi dalam menciptakan Perahu Kertas?
Perahu Kertas sebetulnya naskah lama, kali pertama saya tulis pada 1996, kemudian saya tulis ulang pada 2007. Pada saat itu saya memang ingin menulis cerita yang mengombinasikan kisah cinta dan mengejar cita-cita. Pergelutan yang biasa dihadapi anak-anak kuliahan. Saya terinspirasi dari komik-komik drama serial Jepang yang saya suka (Popcorn, Topeng Kaca) dan juga cerbung-cerbung majalah remaja zaman Hai dulu (Ke Gunung Lagi-Katyusha dll).

2. Bagaimana cara mencegah kejenuhan dari pembuatan Perahu Kertas?
Saya kayaknya nggak sempat merasakan jenuh waktu membuat Perahu Kertas. Sebab, deadline agak sempit. Saya malah sangat bersemangat karena sekaligus sedang bereksperimen dengan sebuah metode penulisan (dari Steve Manning). Dan saya menjadikan Perahu Kertas sebagai “kelinci percobaan”. Kalau capek ya ada, tapi paling istirahat aja sebentar, lalu menulis lagi.

3. Apakah ada rencana untuk membuat novel sejenis Perahu Kertas lagi?
Bisa jadi akan ada novel sejenis yang lahir. Namun, untuk saat ini saya sedang fokus pada pembuatan serial Supernova dulu. Nantinya, kalau seri Supernova sudah selesai, baru memulai proyek yang lain.

* Dikronik dari Harian Jawa Pos Edisi 7 Desember 2009

Sumber gambar: http://www.kutukutubuku.com/2008/_res/picture/11134-perahu_kertas.jpg

Menulis Jadi Mudah dengan Berlatih dan Berlatih

Pagi ini udara segar menebar di selasar pegunungan Lawu tempat saya menyepi beberapa hari terakhir untuk menulis. Jauh di depan saya, dataran luas dan awan yang bergulung membiru terhampar. Kabut-kabut perlahan beranjak naik. Matahari menaburkan kehangatan paginya. Burung-burung menjerit-jerit riuh. Kupu-kupu liar kuning dan hitam berseliweran di kebun depan pondok. Suasana ini yang selalu saya intimi setiap pagi di atas bukit ini. Suasana yang sengaja saya cari untuk menghadirkan situasi kondusif untuk menulis. Saya sedang mempraktikkan jurus ke 25 Naning Pranoto untuk menciptakan produktivitas menulis melalui suasana tempat menulis.

Semalam sebelum tidur, saya memilih program di otak saya: “Saya akan bangun dengan badan segar, pikiran tenang, gairah menulis yang menyala, dan daya kreatif yang meledak”.

Kebiasaan ini saya lakoni sejak saya mengenal panduan teknik meditasi dari Yan Nurindra yang saya dengarkan dari MP3 player setiap kali beranjak tidur. Dan pagi ini saya memang membuka mata dengan kondisi seperti yang saya harapkan. Maka ketika membuka jendela dan cahaya matahari menerobos pondok, saya segera menjinjing laptop ke teras rumah, mengambil buku, menyeduh kopi, dan mulai membaca-menulis.

Buku yang saya baca pagi ini adalah buku karya Hernowo, seorang pakar psikologi menulis. Judulnya Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah. Buku ini desain sampulnya sangat menarik. Pilihan jenis huruf dan ukurannya memikat mata.

Kata “Membuat” yang dicetak dengan warna kuning, kata “Buku” yang mencolok dan besar, serta kata “yang Menggugah” dengan warna merah menyala. Latar belakang buku tebal hitam menyiratkan sebuah rahasia yang misterius dan membuat penasaran. Buku ini kecil saja, hanya seukuran 1/3 folio dengan 303 halaman. Mengesankan bahwa buku ini adalah sebuah kitab panduan yang bisa dibaca cepat, di mana saja, dan ringan.

Saya memegang buku ini di tangan kanan saya, tepat di depan wajah agak ke kanan, Membacanya seperti ketika saya membaca buku Yasin saat malam Jumat. Sesekali jari kiri saya membantu membuka halaman. Membaca buku ini memang ibarat membaca sebuah kitab menulis.

Hernowo tidak menghadirkan jurus-jurus menciptakan buku yang menggugah secara teknis. Ia lebih menekankan pada proses dan pengalaman psikologis menuju penciptaan itu. Ia menyisipkan pengalaman pribadinya dalam berproses menemukan judul dan isi buku-buku larisnya. Pengalaman itu yang coba dipaparkannya untuk menggiring pembaca menemukan sendiri pengalaman dalam prosesnya masing-masing.

Seperti laiknya buku-buku motivasi menulis, Hernowo juga menegaskan pentingnya kemauan dan hasrat sebagai pemicu utama untuk menulis. Selebihnya adalah latihan dan latihan. Dan latihan itu harus setiap hari. Membiasakan menulis catatan harian adalah sebuah cara untuk melatih keprigelan dan kedalaman menulis.

Di sinilah latihan spontan mengalirkan kata-kata itu dimulai. Lepas, tanpa rasa takut, bebas, dan mengalir. Tumpahkan saja semua apa adanya. Lambat laun akan ketemu dengan sendirinya karakter tulisan dan kekhasan seorang penulis. Topiknya bisa apa saja, keseharian saja, apa yang ada di kepala. Sedikit demi sedikit mulai naikkan ke topik yang lebih berbobot. Yang penting mengalir dulu.

Bahasa dan cerita yang mengalir hanya akan lahir dari kebiasaan menulis yang rutin. Mengalir artinya bercerita, bertutur, hingga enak dibaca dan perlu (mengutip jargon Majalah Mingguan Tempo). Buku yang berkarakter akan lahir dari tulisan yang mencerminkan personal penulisnya, mencerminkan kepribadian dan kejiwaannya. Dari sini akan lahir buku-buku yang menggerakkan, buku yang memberi inspirasi pembacanya, buku yang pada akhirnya memberdayakan pembaca. Ide besar yang dipadukan dengan sentuhan personal akan lebih mengena pada diri pembaca.

Bagaimana melahirkan gagasan dan menjadikan materi tulisan bisa bergerak? Hernowo sebagai penulis yang banyak mengkaji teori-teori Quantum, menjajal dan menawarkan metode mind mapping untuk menjabarkan gagasan. Saya juga pernah belajar tentang Mind Mapping ketika belajar di kampus IKIP Surabaya. Saat itu dosen saya mengajarkan bagaimana sebuah gagasan bisa dikembangkan dengan membuat peta pikiran di selembar kertas. Tuliskan saja gagasan utamanya, lalu tarik garis-garis yang menjabarkan gagasan itu lebih spesifik. Dari setiap titik, tarik lagi garis lebih spesifik, terus begitu hingga gagasan itu berkembang menjadi rantai gagasan. Gunakan tinta warna-warni dan gambar-gambar agar lebih interaktif.

Metode yang sama dapat digunakan  untuk memilih judul buku yang “menggigit”. Padukan dengan diskusi bersama beberapa orang sehingga lahir ide-ide dan gagasan yang dapat dipadukan. Utak-atik kata dengan makna yang terselip di baliknya ini bisa menjadi interaksi yang menarik bila dilakukan dengan riang. Tinggal kemudian memikirkan penampilan buku agar sesuai dengan visi dan misi penulis serta judulnya.

Penampilan buku ini bukan semata sampul depan, tapi juga lidah buku, jaket buku, tata letak bab, pilihan huruf, dan tambahan gambar sebagai penyeimbang visualisasi. Hernowo sebagaimana penulis teori Quantum, meyakini pentingnya menyeimbangkan otak kanan dan otak kiri dalam membaca-menulis buku. Otak kiri adalah teks, otak kanan adalah gambar. Maka penting sekali menghadirkan simbol-simbol, ilustrasi, dan dekorasi dalam bentuk gambar untuk memperkuat karakter dan membantu pembaca menemukan inti dari bahasan.

Dalam buku kecilnya ini, Hernowo mempraktekkan hal itu. Beberapa gambar ia sajikan, dekorasi framing juga ada. Ini memberi kesan bahwa buku ini berusaha menampilkan kesan ringan dari bahasan yang berat.

Saya katakan berat karena memang apa yang disampaikan Hernowo adalah sebuah pengalaman dan kajian psikologis yang tak semua orang mampu memahami dengan mudah. Hingga gambar-gambar yang ada bisa cukup membantu. Sayangnya, kontraproduktif dengan apa yang disampaikan, menurut saya Hernowo dan timnya kurang mempertimbangkan jumlah baris dalam satu halaman dan jarak sisi halaman (margin).

Menurut saya, jumlah barisnya terlalu banyak hingga mata juga lelah membacanya. Ukuran hurufnya pun kecil hingga terkesan penuh. Margin yang sempit  menyulitkan saya untuk membuat catatan pinggir dari hal-hal yang saya anggap penting. Sebuah buku yang baik akan memberi kesempatan pembacanya untuk ikut terlibat dalam memaknai apa yang dibacanya. Menyisipkan catatan di pinggir buku adalah bentuk interaksi pembaca dan buku. Maka margin yang luas menjadi penting adanya.

Demikian, kitab menulis ini memaklumkan dirinya ke hadapan pembacanya sebagai sebuah kitab yang perlu “penghayatan”. Ia tak menuturkan aturan yang harus begini tidak boleh begitu. Pengalaman dalam berproses adalah makna spiritual yang wajib didapatkan seorang penulis. Hanya dengan menekuni proses dan terus berlatihlah maka kemampuan menggugah itu akan lahir, mengalir, alami. (Diana AV Sasa)

Langkah Mudah Membuat Buku yang Menggugah

Penulis: Hernowo

Penerbit: Mizan Learning Centre (2004)

Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa

Oleh: Alwi Shahab

Sejarah-Film-Indonesia-WEBKetika Lumiere bersaudara membuat dunia ‘terkejut’ pada 28 Desember 1895, itulah pertama kali sejarah film digoreskan. Mereka melakukan pemutaran kali pertama di depan publik, di Cafe de Paris, Prancis.

Ada beberapa film buatan Lumiere yang diputar pada pertunjukan pertama itu. Ada film tentang para laki dan wanita pekerja di pabriknya, kedatangan kere,ta api di Stasiun La Ciotat, bayi yang sedang makan siang dan kapal-kapal yang meninggalkan pelabuhan.

Salah satu kejadian unik, yaitu saat dipertunjukkan lokomotif yang kelihatannya menuju ke arah penonton, banyak yang lari ke bawah bangku. Itulah awal sejarah ‘gambar idoep’, nama yang melekat sampai 1940-an untuk film.

Di Indonesia, sejarah ‘gambar idoep’ muncul lima tahun berikutnya. Yaitu pada 1900, dilihat dari sejumlah iklan di surat kabar masa itu. De Nederlandshe Bioscope Maatschappij memasang iklan di surat kabar  Bintang Betawi mengabarkan dalam beberapa hari lagi akan diadakan pertunjukan  gambar idoep . Di surat kabar terbitan yang sama pada Selasa 4 Desember 1900 itu, ada iklan berbunyi ”… besok Rebo 5 Desember Pertunjukan Besar yang Pertama di dalam satu rumah di Tanah Abang Kebondjae  moelain pukul 7 malam …”

Bioskop Kebonjahe yang kemudian diberi nama The Roijal Bioscope mulai dioperasikan dengan harga tiket dua gulden untuk kelas 1, satu gulden kelas 2, dan 50 sen kelas 3. Pada masa itu penonton pria dan wanita dipisah. Pertunjukan dengan pembagian kelas-kelas yang kini sudah dihilangkan bioskop kelompok 21, mengikuti pola pertunjukan Komedi Stamboel dan Opera Melayu.

Kelas termurah duduk di bangku papan yang berada di deret depan (stalles), tepat di belakang orkes. Penonton juga diberi  libretto berisi ringkasan cerita film yang akan diputar.

Setelah pemutaran perdananya, Bioskop Kebonjahe segera menjadi terkenal. Namun demikian belum bisa mengalahkan popularitas pertunjukan lain yang sedang digemari masyarakat: Komedi Stamboel (sering disebut Bangsawan atau Opera Melayu). Keduanya adalah pertunjukan sandiwara keliling yang diselenggarakan dalam tenda kain besar. Penontonnya bukan hanya pribumi, tetapi dari semua golongan.

Bahkan film-film  tempo doeloe itu, dalam pemilihan  repertoire -nya juga banyak mengambil cerita dari panggung pertunjukan ini. Mulai dari hikayat-hikayat, seperti  Djoela-Djoeli Bintang Tiga , sampai cerita-cerita realistis seperti  Nyai Dasima.

Di atas hanyalah sepenggal cerita dunia film Indonesia pada tahun-tahun awal  gambar idope di negeri ini. Misbah Yusa Biran, kelahiran Rangkasbitung, Banten, 11 September 1933, telah berkecimpung dalam dunia film sejak 1954. Pada 1967, ia terpilih sebagai sutradara terbaik untuk filmnya Di Balik Cahaya Gemerlapan. Sejak 1971, ia mulai merintis berdirinya lembaga arsip film, Sinematek Indonesia, dan mulai melakukan penelitian sejarah film Indonesia dan penulisan skenario.

Sinematek Indonesia berdiri 1975, sebagai arsip film pertama di Asia Timur. Kini, suami dari artis Hj Nani Wijaya ini sedang menyiapkan penulisan sejarah film 1950-1967, setelah meluncurkan Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa , 6 November 2009.

Film cerita pertama
Tahun 1926 merupakan tonggak bersejarah bagi perfilman Indonesia. Dengan dibuatnya film cerita pertama dongeng Sunda  Loetoeng Kasaroeng. Pembuatan film ini mendapat dukungan dan bantuan besar dari Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Dorongan bupati ini bertolak dari hasratnya untuk mengembangkan kesenian Sunda.

Perhitungan dari segi ekonomis bersumber dari kenyataan bahwa 80 persen pemasukan bioskop berasal dari saku orang Cina dan pribumi. Para pemainnya terdiri dari sepupu dan kemenakan sang bupati. Setahun kemudian (1927) Java Film menggarap film kedua Eulis Atjih. Sebuah drama rumah tangga modern, bukan lagi cerita dongeng.

Tiga hari sebelum pertunjukan berakhir,  Pewarta Soerabaya melaporkan di kota buaya ini film tersebut dibanjiri penonton. Dalam iklan disebutkan: “Liat bagimana bangsa Indonesia tjoekoep pinter maen di dalam film, tida koerang dari laen macem film dari Eropa atawa Amerika”. Yang menarik, saat awal produksi film pertama Indonesia, para calon pemain akan diuji untuk memperlihatkan ”rupa gusar, sayang, kagum, jemu, kasihan, masa bodoh dan kurang ajar”.

Pada 1938 film Terang Boelan tiba-tiba membuat ledakan. Rembulan film Hindia Belanda menampakkan sinar terangnya. Dunia film telah menemukan resep yang bisa digemari penonton, mengalahkan sandiwara panggung.

Film Batavia ini menyedot semua penonton ke bioskop. Lagu ‘Terang Boelan’ yang dinyanyikan oleh Roekiah, kemudian menjadi lagu kebangsaan Malaysia ‘Negaraku’. Meledaknya film ini membuat orang-orang panggung lari ke dunia film. Komponis terkenal Indonesia, Ismail Marzuki, turut memainkan musiknya untuk film ini. Pembuatan film pun mendadak ramai dilakukan dengan resep Terang Boelan .

Di Amerika, sejak 1926 sudah dimulai film bicara. Film Hollywood pertama yang percakapan pemainnya bersuara adalah The Jazz Singer. Penonton Indonesia baru bisa menyaksikan keajaiban itu akhir 1929-awal 1930. Mula-mula kota Surabaya dan Batavia baru menikmati film suara pertama tiga bulan kemudian. Pada masa awal film bersuara di Indonesia, perekaman dialog maupun musik pengiring dilakukan langsung pada saat pengambilan gambar, persis seperti jalur suara yang terdapat pada film sekarang. Indonesia baru bisa membuat film bicara pertama pada 1932. Kemudian disusul  Indonesia Malaise keluaran studio Halimoen Film.

Begitu Jepang memegang kekuasaan di Indonesia (1942-1945), mereka menutup semua studio film, yang kesemuanya milik Cina, kecuali satu milik Belanda, Multi Film. Alasannya agar jangan digunakan untuk membuat film anti-Jepang. Kedua, Jepang pasti tidak percaya kepada para produser Cina peranakan, yang budayanya tidak membantu. Hampir semua film Jepang yang dipertontonkan di Jawa merupakan film propaganda anti-Sekutu. Penonton dihidangkan kemenangan Jepang dalam berbagai front.

Bukan hanya itu, semua bioskop diambil-alih Jepang. Distribusi film diatur langsung oleh pemerintah pendudukan Jepang, yakni Jawa Ehai yang didirikan April 1943. Pada saat itu gedung bioskop yang diambil-alih berjumlah 117 gedung. Sebanyak 95 persen milik orang Cina.

Dalam pengantarnya, penerbit Komunitas Bambu yang menerbitkan buku ini menulis: Buku ini menjadi istimewa bukan saja lantaran paling luas menguraikan sejarah film periode 1900-1950, tetapi juga ditulis oleh Misbach Yusa Biran yang sohor sebagai ‘ensiklopedi berjalan’ film Indonesia.

* Dikronik dari Harian Republika edisi  22 November 2009, dengan judul “Terang Bulan Film Indonesia”.

Novel Leksikon Kamus Khazar

15163_166841319730_736144730_2606101_3545373_aHERNADI TANZIL:

Ingin mencoba menikmati pengalaman baru dalam membaca sebuah novel ? Silahkan mencobanya dengan membaca novel leksikon Kamus Khazar karya Milorad Pavic, profesor sejarah kesusasteraan Universitas Beograd dan salah satu penyair kenamaan Yugoslavia. Walau buku ini diberi judul “Kamus Khazar” (Dictionary of The Khazars) namun ini adalah novel. Tepatnya novel berbentuk kamus atau mungkin lebih tepatnya novel berbentuk ensiklopedia. Nah bagaimana mungkin?

Inilah keunikan buku ini, walau berbentuk seperti ensiklopedia namun ini bukanlah buku yang dapat dijadikan buku referensi karena ini adalah sebuah karya fiksi yang mencampuradukkan sejarah, budaya, dongeng, mimpi dan imajinasi penulisnya tentang sebuah bangsa yang bernama bangsa Khazar.

Bangsa Khazar sendiri pada kenyataannya memang pernah ada. Sejarah mencatat bahwa pada puncak kejayaannya mereka menguasai sebagian besar dari wilayah Rusia selatan sekarang, Kazakhstan barat, Ukraina timur, dan sebagian besar Kaukasus (termasuk Dagestan, Azerbaijan, Georgia, dll.) Bangsa Khazar memasuki catatan sejarah ketika mereka memerangi bangsa Arab dan berrsekutu dengan Kekaisaran Bizentium pada 627 M.

Walau Bangsa Khazar pernah menguasai sebagian besar wilayah Rusia sekarang dan pernah memerangi bangsa Arab namun ironisnya hingga kini sedikit sekali yang dapat kita ketahui tentang bangsa ini, seluruh jejak mereka musnah, tidak menyisakan apa pun yang bisa dipakai untuk mengetahui asal-usul bangsa ini. Konon bangsa Khazar lenyap dari panggung sejarah setelah mereka mengalami peristiwa yang akan menjadi bahasan utama buku ini.

Peristiwa tersebut dikenal dengan istilah ‘Polemik Khazar’ . Sebuah peristiwa besar ketika bangsa Khazar hendak melakukan perpindahan keyakinan dari keyakinan asli mereka ke salah satu dari tiga agama yang telah dikenal pada masa itu yaitu Yahudi, Islam, dan Kristen. Keruntuhan Imperium Khazar terjadi tidak lama setelah perpindahan agama itu saat Kekaisaran Rusia menghancur leburkan bangsa ini (965 – 970 M).

Tidak hanya bangsa ini yang lenyap, tapi kebudayaan, tulisan, dan artefak-artefak budaya merekapun hancur, nyaris lenyap dan hanya menyisakan sedikit bahan yang sangat sulit untuk dijadikan acuan untuk mempelajari kebudayaan Bangsa yang telah punah ini.

Namun minimnya bahan yang bisa diperoleh mengenai bangsa Khazar rupanya tak menyurutkan Milorad Pavic untuk membuat novel mengenai bangsa ini. Hal ini malah memberinya ruang imajinasi yang tanpa batas untuk mengisahkan bangsa Khazar menurut versinya. Dalam hal ini Pavic secara sastrawi mencoba menjajaki dan menyingkap Polemik Khazar ke dalam novelnya secara menarik dan tidak biasa, yaitu dengan cara penyajian layaknya sebuah ensiklopedi.

Dari mana Pavic memperoleh idenya ini? dalam catatan pendahuluannya yang terdapat dalam novel ini, ia mengungkapkan bahwa novelnya ini adalah rekonstruksi ulang dari edisi orisinal kamus Khazar karya Daubmannus yang terbit pada tahun 1691 dan dimusnahkan secara barbar pada tahun 1692 karena dianggap sebagai buku sesat. Untungnya masih ada halaman-halaman atau fragmen-fragmen yang tersisa dari kamus edisi orisinalnya. Berdasarkan lembar-lembar yang tersisa inilah Pavic mencoba merekonstruksi seperti apa kira-kira wujud dan isi dari kamus yang telah lenyap itu.

Sama dengan edisi Daubmannus 1691, Pavic menyajikan bukunya ini dalam tiga bagian utama berdasarkan tiga sudut pandang agama yang saling merebut simpatik penguasa Khazar agar memilih agamanya. Pembagian bab buku ini masing-masing diistilahkan sebagai ‘buku’ , yaitu Buku Merah (perspektif Kristen), Buku Hijau (perspektif Islam), dan Buku Kuning (perspektif Yahudi) yang masing-masingnya memberikan penjelasan tentang bangsa Khazar beserta polemiknya.

Karena setiap bagian disajikan menggunakan sudut pandangnya masing-masing maka tentunya akan ada beberapa bagian yang saling bertentangan, namun ada juga yang memiliki persamaan, atau saling melengkapi satu bagian dengan bagian lainnya.

Tidak hanya polemik Khazar yang dibahas dalam buku ini namun ada berbagai lema lainnya mengenai bangsa Khazar seperti dongeng, anekdot, sejarah, sejarah kamus Khazar karya Daubmannus, dll, bahkan kisah tentang para peneliti bangsa Khazar di masa kini pun ikut mewarnai buku ini.

Dengan gaya penyajian novel seperti halnya sebuah kamus/ensiklopedia yang terususun berdasarkan alfabetikal maka jangan harap kita akan mendapatkan gambaran dan sejarah mengenai bangsa khazar secara kronologis. Akibatnya jika novel ini dibaca secara berurutan dari halaman pertama hingga terakhir, maka pembaca akan dibawa terlempar bolak-balik dari satu masa ke masa lainnya.

Bukan hal yang mudah memang untuk membaca novel ini. Pembaca yang tidak sabaran dan tidak telaten kemungkinan akan menyerah dan mogok di tengah jalan sebelum menamatkannya. Untungnya di awal buku ini, penulis memberikan pendahuluan yang berisi sejarah bangsa Khazar beserta polemiknya secara runut sehingga walau pembaca menyerah di tengah jalan, setidaknya ia bisa memperoleh gambaran umum mengenai bangsa Khazar dan polemiknya.

Seperti halnya ketika kita membaca sebuah ensiklopedia, tentunya kita tak harus membaca buku ini secara berurutan dari halaman pertama hingga akhir. Kita bisa membacanya dari mana saja. Bisa saja kita membacanya berdasarkan lema-lema yang kita sukai atau topic yang ingin kita ketahui. Karena ada tiga bagian yang mungkin akan memiliki lema yang sama, rasanya akan lebih mengasyikan jika kita memilih sat

Seorang Jerman, Westerling, dan Kronik Indonesia

Oleh: Sri Pudyastuti Baumeister

Bekas direktur perusahaan telekomunikasi Jerman mengisahkan kronik pengalamannya selama di Indonesia. Kocak, terang, dan mengangkat fakta-fakta yang jarang diketahui.

Tampaknya tak satu pun orang Indonesia yang akan melupakan nama Raymond Westerling, komandan pasukan khusus Belanda yang membantai sekitar 40 ribu warga Sulawesi Selatan selama 1946-1947. Namun, Horst H. Geerken, pengarang Jerman, mengungkap kembali fakta-fakta mengenai kapten bengis itu, khususnya kisah yang tak tersebut di buku-buku sejarah Indonesia.

Dalam bukunya, Der Ruf des Geckos, 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien (Panggilan Sang Tokek: Pengalaman Mengesankan Selama 18 Tahun Tinggal di Indonesia), yang baru diterbikan bulan ini, Horst menyebut Westerling sebagai “iblis Belanda yang pantas menyandang tudingan penjahat perang”.

Westerling, kata Horst, tak cuma menginstruksikan tembak tengkuk (sebuah metode cepat dan mematikan untuk membunuh), tetapi juga penggal kepala. “Ratusan karung sarat penggalan kepala dilarung ke laut untuk menghilangkan identitas,” tulis pengarang kelahiran Stuttgart, Jerman, pada 1933 itu.

Rentetan kekejaman yang ditunjukkan pemerintah kolonial Belanda terhadap bangsa Indonesia dikritik Horst sebagai sikap ular bermuka dua. “Belanda mengutuk serangan Nazi ke negaranya pada Perang Dunia, tetapi di saat yang sama menjalankan ‘aksi tentara Nazi’ di Indonesia, menjalankan kerja paksa dan pembunuhan massal,” kata Horst kepada Tempo di rumahnya di Bonn, dua pekan lalu.

Jerman menutup seluruh kamp konsentrasi Nazi sesudah Perang Dunia II usai, tetapi Belanda malah membuka banyak kamp konsentrasi baru di Irian Jaya, Sumatera dan pulau-pulau lainnya dua tahun setelah Indonesia merdeka. Para simpatisan yang ikut dalam perang kemerdekaan Indonesia dijebloskan, disiksa dan dibunuh di situ.

Horst tidak sedang berupaya menulis sejarah sebagai seorang sejarawan, tapi fakta-fakta yang gamblang digelar di dalam buku setebal 436 halaman itu mengungkap banyak hal yang jarang diketahui orang. Di Belanda majalah berita VRIJ Nederland menyebutnya sebagai “Buku yang layak dibaca oleh mereka yang mendambakan fakta yang dilakukan bangsa ini (Belanda).” Harian lokal General Anteiger dan Blickpunkt sama-sama menyebut buku ini sebagai “Buku bernilai dengan uraian yang luar biasa tentang perjalanan pembangunan negara muda menjadi negara industri modern.”

Sebagian besar kisah di buku itu ditulis Horst berdasarkan pengalamannya selama 18 tahun (1963-1981) tinggal di Indonesia. Bekas direktur perusahaan telekomunikasi Jerman, AEG Telefunken, cabang Indonesia itu menambahnya dengan riset puluhan buku dan media, seperti harian Frankfurter Algemeine Zeitung dan majalah der Spiegel edisi 1980-an danThe Strait Times edisi tahun 1946, serta wawancara terhadap beberapa veteran RI. Ia perlu tiga tahun untuk menggarap bukunya ini.

Selain kisah Westerling, Horst juga mengungkapkan kisah mencekam dan menegangkan di masa kritis pemerintahan Presiden Soekarno pada 1965. “Amerika Serikat dan Inggris, yang tidak suka dengan Soekarno karena hubungannya kelewat mesra dengan Rusia dan Republik Rakyat Cina, mendukung kudeta Soeharto dan pasukannya,” kata Horst, menganggap Indonesia sebagai tanah airnya yang kedua.

“Saya mendengar seluruh pembicaraan tentang sokongan senjata dari basis Amerika Serikat di Filipina ke Indonesia lewat saluran radio milik saya,” kata Horst, insiyur teknik elektro yang pernah membangun radar “sistem pembacaan dini pertahanan” di akhir 1950-an di Buffalo, Amerika Serikat, sebuah radar yang memberi peringatan dini jika ada serangan bom dan roket dari Uni Soviet ke Amerika dan Kanada. Dengan keahliannya bermain di saluran radio itulah, Horst bisa merekam banyak data keterlibatan Badan Intelijen Pusat (CIA) dalam peristiwa kudeta itu. Horst adalah orang pertama yang membangun saluran radio di Indonesia setelah 40 tahun dilarang keberadaannya oleh Belanda. Ia pula yang membangun stasiun dan studio RRI.

Horst mengaku mengenal Sukarno dengan baik. Seseorang yang, menurutnya, memang dilahirkan sebagai pemimpin. “Dia tahu bagaimana harus membela rakyatnya, dia juga tahu bagaimana mesti bersikap menghadapi lawan-lawannya,” kata Horst.

Di waktu senggang mereka bertemu menyalurkan hobi menyanyi. “Saya malu, Presiden Soekarno fasih menyanyikan lagu militer Jerman Ich habe einen Kameraden, sedang saya tidak,” kata Horst. Karena hubungan akrab itulah, Soekarno mengirim ajudannya untuk mengawal keluarga Horst melewati suasana menegangkan dan berbahaya selama kudeta.

Kronik sejarah itu ditulis Horst dengan gaya populer yang jelas, jernih dan kocak, tetapi serius mengungkap data dan fakta. Kekocakan muncul, misalkan, ketika membahas bahasa Indonesia, yang disebutnya gampang-gampang susah, yang bisa rancu artinya jika tidak jelas terdengar bagi pendatang baru.

Ia bercerita, seorang ekspatriat bertanya kepada gadis muda yang melamar jadi pembantu di rumahnya: “Apakah kau suatu hari mau punya anak?” Sang calon pembantu menjawab, “Kalau Tuhan mau.” Tapi huruf “h” tidak jelas terdengar, maka jadilah bunyinya, “Kalau tuan mau.” Atau ketika seorang nyonya bule menyuruh bujangnya membuka jendela. Tetapi, karena pengucapannya kagok, maka yang terdengar, “Tolong buka celana.” Sang pembantu jadi malu dan keluar dari pekerjaan itu.

“Saya beruntung mendapat kesempatan mukim di Indonesia,” ujar Horst. Pengalaman yang diperolehnya memberi warna yang berbeda dengan kehidupannya di Eropa. Kecintaannya pada alam dan masyarakat Indonesia itulah yang membuatnya terus memperpanjang kontrak kerjanya setiap tiga tahun sampai enam kali berturut-turut.

Dia menghabiskan hari-hari pensiunnya sejak berusia 50-an tahun di Bukit Cinta, Ubud, Bali, dengan menulis buku ini. Secara berkala ia masih menengok Indonesia. “Saya menikmati keindahan alam dan keramahtamahan masyarakat. Bahkan, saat saya berada di Jerman, saya bisa mencium harumnya rokok kretek dan kopi Indonesia,” ujar Horst.

Buku Horst yang diterbitkan penerbit besar Jerman BoD (Book on Demand) ini ternyata cukup laris di pasar. Cetakan pertamanya sebanyak seribu eksemplar beredar pada Juli lalu dalam versi paperback seharga € 24,90 atau sekitar Rp 375 ribu dan hardcover € 39,90 atau Rp 600 ribu. Pada September lalu cetakan kedua mulai beredar. Kini buku itu sedang dialihbahasakan ke bahasa Inggris.

Jika ia melanglang ke desa-desa bunyi tokek terdengar amat mengesankan. Konon bunyi tokek itu berarti pertanda keberuntungan. Horst mengaku mempercayai mitos itu. Itu sebabnya bukunya bejudul dan bergambar cecak besar itu. Ta

nda awal keberuntungan terlihat pada kelarisan bukunya. Meski begitu, “Saya cuma mendapat € 1,45 (Rp 20.600) per buku. Tetapi, saya bukan mencari uang. Yang penting saya bisa berbagi pengalaman dan saya puas dengan karya ini,” katanya.

Diunduh dari Ruang Baca Tempo edisi 26 Oktober 2009

books

Judul Der Ruf des Geckos: 18 erlebnisreiche Jahre in Indonesien
Penulis Horst H. Geerken
Edisi 2
Penerbit BoD – Books on Demand, 2009
ISBN 3839110408, 9783839110409
Tebal

Bahasa

436 halaman

Jerman

Ada Perpustakaan Mewah Terselip di Braga

BragaDi paruh pertama abad ke 20 Bragaweg (Jalan Braga) adalah jalan paling mashyur dan telah menjadi landmark kota Bandung. Jika Bandung pernah dikenal dengan sebutan “Parijs van Java”, tampaknya hanya jalan Braga yang paling mewakili sebutan itu karena Braga merupakan jalan pertokoan yang paling bernuansa Eropa di seluruh Hindia yang memiliki keunikan dan daya tarik yang khas.

Istilah Parijs van Java sendiri hingga saat ini belum diketahui secara pasti kapan tepatnya mulai digunakan. Namun demikian, setidaknya sebuah buku berjudul Boekoe Penoenjoek Djalan Boeat Plesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja yang kemungkinan diterbitkan tahun 1906 telah menyebutkan Bandung sebagai “Parisnya tanah Jawa”. Kenyataannya memang pada masa itu sudah tampak upaya-upaya yang mewujudkanBandung seperti kota Paris seperti mulai dibangunnya societiet, bioskop, café dan restoran, gedung kesenian, serta taman hiburan rakyat yang mampu menghidupkan suasana malam Bandung seperti suasana Paris di malam hari.

Upaya-upaya mewujudkan Bandung yang bernuansa Paris mencapai puncaknya pada masa 1920-1930 terlebih ketika Pasar malam tahunan Jaarbeurs pada tahun 1920 (sekarang lokasi Gedung Kodiklat TNI AD Jl. Aceh) dipromosikan hingga ke luar negeri. Slogan Parijs van Java juga makin populer setelah Boscha sering mengutipnya di berbagai pidatonya. Selain itu di pada masa 1920-1940 Bandung juga dikenal sebagai pusat mode seperti halnya Paris. Saat itu di Braga berdiri berbagai toko mode diantaranya toko mode Au Bon Marche milik orang Perancis yang spesialis menjual pakaian-pakaian mode terbaru dari Perancis.

Di masa kini Braga tak ubahnya seperti jalan-jalan umum lainnya yang padat dan berdebu. Namun di tengah kemacetan Braga pada jam-jam sibuk kita atau suramnya Braga di waktu malam kita masih bisa menikmati sedikit sisa-sisa kejayaan Bandung tempo dulu. Bagaimana caranya? Bacalah buku kecil berjudul Braga – Jantung Parijs van Java, dan kita akan diajak menyusuri sepanjang Braga sambil mengoreh-ngoreh apa saja yang tersisa dari masa keemasan Braga.

Buku setebal 167 halaman ini memang disusun laiknya panduan wisata jalan kaki sehingga pembaca dapat menyusuri sepanjang Braga mulai dari sisi paling selatan di pertigaan jalan Asia Afrika dan Jalan Braga hingga ke berakhir di ujung utaranya di persimpangan Jalan Braga, Jalan Wastukencana, dan Jalan Perintis Kemerdekaan sekarang . Mulai dari gedung bekas toko Van de Vries hingga berakhir di gedung Javasche Bank (kini Bank Indonesia). Ada lebih dari 30 bangunan yang dibahas dalam buku ini, ada yang masih ada hingga kini, namun ada juga yang sudah hilang tak berbekas dan digantikan dengan bangunan yang lebih modern.

Masing-masing bangunan penting sepanjang Braga itu dikisahkan dengan menarik dan cukup detail lengkap dengan kondisinya di masa kini. Dari kisah puluhan bangunan yang terdapat dalam buku ini yang mendapat porsi bahasan yang banyak dibahas adalah Gedung Societeit Concordia (Gedung Merdeka) yang menjadi pusat hiburan masyarakat Belanda di Bandung

Societeit Concordia awalnya adalah nama perkumpulan yang terdiri dari para Preangerlpanter (pengusaha perkebunan di Priangan) dan para elite kota Bandung. Pada 1895 perkumpulan tersebut menempati gedung yang diberi nama Gedung Societeit Concordia. Pada tahun 1940 gedung Societeit Concordia mengalami renovasi yang mengubah penampilannya hingga berbentuk seperti sekarang. Di sinilah Societeit Concordia sebagai perkumpulan kaum elite mencapai puncak popularitasnya

Gedung yang dapat menampung 1.200 orang ini dilengkapi dengan ruang makan, ruang dansa yang luas, ruang bowling serta perpustakaan yang cukup lengkap dengan ruang bacanya . Setiap akhir pekan gedung ini diadakan berbagai pertunjukan seni seperti konser musik (Ismail Marzuki & WR Supratman pernah berkonser di tempat ini) , tonil, dan dansa. Sedangkan di hari minggu pagi gedung ini juga dipakai oleh anak muda Belanda untuk bermain sepatu roda.

Maraknya kegiatan yang dilakukan di dalam gedung ini membuat seorang pelancong Belanda, L.H.C. Horsting menyimpulkan bahwa tidak ada Societeit di seluruh Hindia Belanda yang dapat mengalahkan Societeit Concordia Bandung. Setelah melewati segala kemeriahan dan masa keemasan sebagai pusat hiburan bergengsi pada zaman Hindia Belanda, gedung ini kemudian menjadi terkenal ke seluruh dunia karena menjadi tempat Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955.

Tentunya kita bisa membayangkan bagaimana semaraknya suasana gedung ini di masa lampau, jauh berbeda dengan kondisinya kini yang hanya menjadi sebuah museum bisu yang jarang sekali dipakai untuk aktivitas seni seperti di masa lampau.

Setelah gedung Soceiteit Concordia, gedung legendaris yang mendapat porsi bahasan agak panjang dalam buku ini adalah Maison Bogerijen (Braga Permai) dimana ada lambang kerajaan Belanda yang terpampang di muka restoran ini. Restoran ini dikenal sebagai restoran paling elite di seantero kota yang mendapat piagam restu langsung dari ratu Belanda. Maka dari itu tidak heran jika Maison Bogerijen adalah satu-satunya restoran yang diizinkan menyajikan berbagai hidangan istimewa khas kerajaan Belanda yang tidak bisa ditemukan di sembarang tempat.

Selain kedua gedung diatas, masih banyak gedung-gedung lain yang tak kalah menariknya yang dibahas dalam buku ini seperti gedung DENIS Bank dengan gaya bangunan unik yang merupakan bank pertama kali menggunakan system hipotek di Bandung, Het Snopheus (Sumber Hidangan) , toko mobil Fuchs en Rens yang menjual mobil-mobil terkenal (Peugeot, Renault, Chlyser, Plymouth,dll). Lalu ada pula toko buku van Dorp (sekarang gedung Landmark) yang memiliki cara pemasaran unik yang secara tidak langsung menggiring warga Bandunguntuk kerajingan menanam bunga.

Menarik memang menyusuri spanjang Braga bersama buku ini. Hanya saja satu hal yang disayangkan adalah tak adanya kisah-kisah humanis dibalik keberadaan gedung-gedung yang dibahas dalam buku ini karena buku ini hanya mendeskrpisikan sejarah gedung, fungsi bangunan di masa lampau, arsitek pembuatannya,dll. Jika saja penulis memasukkan sedikit kisah-kisah remeh temeh yang merupakan bagian dari orang-orang yang tingal di gedung-gedung ini tentunya buku ini akan lebih menarik lagi dan gedung-gedung yang dibahas dalam buku ini akan terasa lebih bernyawa jika kita mengunjunginya saat ini.

Karena format buku yang kecil, tidak terlalu tebal, bahasan yang runut, mudah dicerna dan informatif karena dilengkapi dengan daftar istilah, indeks, peta, dan tampilan foto-foto yang tajam membuat buku ini sangat nyaman dibawa sebagai pedoman dalam menyusuri sepanjangBraga untuk menemukan serpihan-serpihan kejayaan Braga di masa lampau.

Selain itu kehadiran buku ini juga ikut melengkapi sejumlah buku tentang Bandung yang telah ditulis selama ini. Satu hal yang menarik, walau dikemas dalam gaya popular, namun salah satu penulis dari buku ini adalah lulusan dari jurusan sejarah. Selama ini buku-buku tentangBandung ditulis oleh budayawan, wartawan, dan ahli planologi.

Namun siapapun yang menulisnya dan apapun yang dibahas mengenaiBandung di masa lampau, buku-buku tersebut, termasuk buku ini bukanlah sekedar hanya menigsahkan kembali sejarah panjang sebuahkota. Ada banyak hal yang positif yang bisa dipelajari, ditimbang, dan mungkin dijadikan teladan khususnya bagaimana mengelola sebuahkota baik untuk masa kini maupun di masa yang akan datang.

Judul : Braga – Jantung Parijs van Java
Penulis : Ridwan Hutagalung & Taufani Nugraha
Penerbit : Ka Bandung
Cetakan : Oktober 2008
Tebal : 168 hlm

Disalin ulang dari blog pribadi Hernadi Tanzil http://bukuygkubaca.blogspot.com/

Perantauan Sebagai Inspirasi Novel

negeri 5 menara::Oleh: Oktamanjaya Wiguna::

Orang berilmu dan beradab tak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, maka engkau akan menemukan pengganti dari kerabat dan sahabatmu. Bersakit-sakitnya, maka manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Sebagaimana kata mutiara Imam Syafii itu, betapapun melelahkannya, petualangan atau perantauan bisa membuahkan pengalaman yang membangkitkan inspirasi. Dan bagi ketiga penulis–A. Fuadi, Nugraha Wasistha, dan Muhammad Najib–petualangan menginspirasi mereka untuk menulis novel.

Dari tanah kelahirannya di Bayur, Sumatera Barat, Ahmad Fuadi merantau ke Jawa untuk meneruskan pendidikan di Pondok Modern Gontor di Ponorogo, Jawa Timur, lantas melanjutkan kuliah ke Washington dan London. Ia menuangkan pengalaman itu dalam novelnya, Negeri 5 Menara, yang jalan ceritanya mirip pengalamannya.

Lewat tokoh Alif Fikri dan lima sahabatnya yang nyantri di Pondok Madani, Fuadi mengisahkan seluk-beluk kehidupan pesantren, yang niscaya asing bagi mereka yang tak pernah mengalaminya. Sepintas, jalan ceritanya mengingatkan kita pada kisah Harry Potter, namun bukan masuk sekolah sihir, melainkan pesantren.

Novel ini memang tanpa sihir atau misteri. Fuadi semata mengisahkan semangat dan pengalaman unik tokoh-tokohnya, yang berupaya maju dalam pendidikan yang inspiratif. Dengan kelucuan yang terasa wajar dan penuh kepolosan khas anak-anak, sesekali ceritanya mengundang tawa.

Dari gaya berceritanya, terkesan Fuadi cukup menguasai bahasa dan kata, sehingga diksinya mantap dan kosakatanya kaya. Deskripsi yang mendetail–namun tak berlebihan–bertaburan dalam novel ini, sehingga membuat dunia Alif terasa begitu hidup.

Dengan pengalaman yang mirip, Muhammad Najib memberikan atmosfer berbeda. Ketua Hubungan Luar Negeri Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini menuangkan saripati pengalamannya melanglang buana ke 30 negara dalam novelnya, Safari.

Novel yang pernah dimuat sebagai cerita bersambung di harian Republika ini mengisahkan Jamal bin Mujahid alias Amal, yang mengambil kuliah di Jerman dan perjalanannya ke berbagai negara, mulai Turki hingga Amerika Serikat. Sosok Najib sebagai pengurus organisasi Islam mempengaruhi tema cerita, sehingga novel ini “terpeleset” pada diskusi serius tentang problema dunia Islam. Halaman demi halaman dipenuhi perdebatan dan tukar pikiran Jamal dengan mahasiswa dan aktivis Islam di berbagai negara.

Hal itu membuat novel ini cenderung kaku, karena tak meluangkan bagi adegan yang deskriptif. Untunglah, Najib menyelipkan kisah asmara dan gambaran karakter Jamal yang terbuka, sehingga novel ini masih memiliki drama yang sempat mengundang rasa penasaran. Cuma sayang, penyuntingan novel ini kurang bersih sehingga terdapat beberapa kesalahan yang mengganggu keasyikan membaca.

Sementara kedua penulis tersebut mendasarkan cerita pada perantauan di dunia nyata, novel Saharakarya Nugraha Wasistha lahir dari petualangannya di dunia imajinasi. Ia mempertemukan tiga tokoh kisah 1.001 Malam, yakni Aladin, Ali Baba, dan Sinbad, dalam satu cerita. Ia menawarkan versinya mengenai kisah legendaris itu, bahkan “mempertemukan” mereka dengan beberapa tokoh dari kisah lainnya.

Ia juga menginterpretasi ulang kisah 1.001 Malam, terutama terhadap versi Walt Disney, yang melepaskan tokoh Aladin dari tradisi dan budaya Islam tempat cerita itu tumbuh. Ia seolah ingin meluruskan bahwa kisah yang berlangsung di Persia (kini Iran) itu sebagai “kisah dakwah”. Sehingga Sinbad, misalnya, ia ceritakan bukan sekadar sebagai pelaut gagah perkasa yang mengarungi samudra dan menghajar monster, melainkan juga sebagai mubalig.

Nugraha, yang berlatar belakang pendidikan desain visual dan lebih sering membuat komik, sangat piawai bermain dengan kata. Ia membangun cerita yang penuh adegan laga, dan mengisahkannya dengan gaya bahasa yang lincah, sehingga ia terkesan memiliki kekayaan repertoire yang beragam sebagai referensi.

Itu terutama terlihat pada berbagai analogi yang ia comot dari berbagai bacaan. Sebut saja saat ia menggambarkan tawa seorang bajak laut yang ia deskripsikan “sedikit mendengus seperti babi hutan Galia”–yang niscaya familiar bagi mereka yang telah membaca komik Asterix.

Setelah dunia perbukuan dibombardir oleh kisah-kisah fiksi Islami yang mengekor Ayat-ayat Cinta, kini lahir novel-novel yang memberi warna berbeda: bahwa kisah cinta, betapapun menjual, tema cerita berupa komedi dan aksi, bahkan diskusi pun, bisa sama menariknya.(Oktamanjaya Wiguna)

Negeri 5 Menara, Pengarang: A. Fuadi Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, Juli 2009 Tebal: xvi + 416 halaman

Sahara,Pengarang: Nugraha Wasistha Penerbit: Serambi, Jakarta, Agustus 2009 Tebal: 335 halaman

Safari , Pengarang: Muhammad Najib Penerbit: Ufuk Press, Jakarta, April 2009 Tebal: 348 halaman

Diunduh dari Media Online Tempo Interaktif Edisi 4 Oktober 2009

Mengurai Krisis 2008 Ala Dahlan Iskan

Oleh Umar Fauzi*)

Krisis finansial yang pernah terjadi tahun 1998, ternyata terulang lagi dipenghujung tahun 2008. Penyebab krisis kali seperti lingkaran setan yang rumit diuraikan dengan bahasa ekonomi. Tapi kerumitan itu bisa diurai dengan bahasa sederhana oleh seorang Dahlan Iskan; Seorang jurnalis yang tidak pernah mengenyam pendidikan ekonomi secara formal, kecuali mengikuti “kuliah umum” perbisnisan seiring gairahnya mengembangkan Jawa Pos.

Dahlan Iskan menguraikannya dalam buku “Kentut Model Ekonomi” (KME). Buku keenam yang ditulis Dahlan Iskan secara berturut-turut setelah 1,5 tahun, pasca transplantasi liver ini merupakan kumpulan ulasannya yang dimuat di Jawapos. Dahlan berusaha menjelaskan dengan gamblang proses transaksi kerakusan orang-orang kapitalis dengan baik dan kontemplatif. Sering kali saya mendengar orang-orang mencemooh kapitalisme yang diciptakan oleh Amerika, namun jarang sekali saya temui penjelasan berarti tentang apa yang  dicemooh itu. Dahlan Iskan berusaha memaparkan kebusukan kapitalisme ini dengan berimbang dan solutif. Tidak sedikit Dahlan Iskan menggunakan kata “kerakusan” untuk selanjutnya mencemooh kapitalisme modern.

Kapitalisme yang mendasari pola ekonomi di krisi 2008 pun ia paparkan dengan bahasa sederhana.  Bermula dari subprime mortagage, sebuah usaha mirip perkreditan rumah yang “bersekongkol” dengan investement banking, semacam Lehman Brother.Investement Banking memberi pinjaman dalam proses perkreditan mortagage, sekaligus mencari penyandang dana. Kemudian, investement banking, dengan kerakusannya, tak lagi mempertimbangkan kepatutan individu yang berhak mendapatkan kredit mortagage. Maka yang terjadi adalah banyak kredit macet.  Banyak yang tidak mampu membayar. Rumah banyak yang di sita. Harga rumah pun ikut turun.

Hal itu belum diperparah oleh usaha perlindungan kredit bagi mereka yang tidak mampu membayar, yang dikenal dengan istilah CDS (Credit Default Swaps). CDS diciptakan oleh Joseph J. Cassano. Dialah yang kemudian yang “dikutuki” orang beramai-ramai. Dengan fasilitas CDS ini  mereka yang gagal,  dapat menikmati lagi fasilitas itu. Cassano menjamin semuanya melalui AIG, perusahaan asuransi terbesar di dunia. Lingkaran setan inilah yang meletuskan krisis finansial edisi 2008.

Mengapa krisis  ini bisa merambah pada negara lain? Beberapa negara terperdaya oleh iming-iming laba dan fasilitas dari investement banking bagi mereka yang mau menginvestasikan dananya. Walhasil setelah kredit macet, dengan seketika “penyandang dana” pun kehilangan uang sejumlah yang ditempatkan. Alih-alih mendapatkan laba dan fasilitas yang dijanjikan, sepersenpun mereka tak mendapatkan kembali uang tersebut. Maka banyak orang (konglomerat) stress. Mereka terpaksa menutup perusahaannya, membangkrutkan diri, dan para pekerjanya di rumahkan. Permainan pun makin rumit karena melibatkan semakin banyak pihak.

Dahlan Iskan menyebut beberapa nama yang secara terpisah adalah pencipta keruwetan yang berbeda-beda. Selain Cassano yang menciptakan CDS, masih ada Howar Sosin dan Randy Rackson yang pernah menciptakan software interest rate swaps yang diharapkan mampu melakukan perhitungan transaksi jangka panjang (puluhan tahun); serta Bernard Lawrence Madoff, yang menciptakan over the counter, sebuah jalan pintas bentuk transaksi perdagangan (uang, saham, obligasi, dan seterusnya) dengan biaya murah dan bunga besar. Dengan transaksi ini Bernie –demikian ia dipanggil– menciptakan kemudahan bagi mereka yang memercayakan uang kepadanya tanpa proses “birokrasi” yang rumit.

Sederhana dan hidup

Begitu sederhana cara tutur Dahlan Iskan sampai-sampai saya yang awam masalah seperti ini pun dapat memahaminya dengan baik, bahkan banyak ekonom yang terperangah oleh kesederhanaan ulasan itu (baca, Kata Pengantar). Kesederhanaan itu mirip dengan apa yang dituturkan Dahlan Iskan sendiri ketika pada suatu kesempatan datang tamu dari investement banking menawarkan banyak fasilitas jika dia mau menempatkan dana di sana: Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya serahkan ke Dirut Jawa Pos Weny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Kesederhanaan itu menjadi jembatan menarik dengan pembaca awam. Salah satunya dapat kita lihat melalui tulisan berjudul “Sebuah Jalan Enak Menuju Bangkrut” yang menjelaskan seluk-beluk tentang bangkrut; atau “Definisi Uang yang Kian Panjang” yang menjelaskan bagaimana uang yang selama ini dipahami orang awam sebagai alat pembayaran untuk membeli barang dan mendapatkan jasa, belum cukup. Tapi di mata orang-orang tertentu, definisi uang seperti itu tidak cukupHarus ditambah sesuai dengan kepentingan masing-masing, begitulah Dahlan Iskan menuliskannya. Sebuah Pilihan kata atau diksi yang menarik, puitis, sederhana, serta mampu merasuki ruang suasana pembaca. Tentu selain penjelasan yang cukup sederhana, pilihan kata yang digunakan Dahlan Iskan cukup menarik, kadang parodis, namun tidak sedikit yang sarkastik.

Selain itu, Dahlan menuturkan beberapa peristiwa dengan cukup dramatis. Itulah yang membuat buku ini terasa “hidup”. Seperti ketika Dahlan menceritakan kebijaksanaan menteri keuangan Sri Mulyani yang tidak bisa mengunjungi ibunya yang sedang kritis. Bahkan ketika akhirnya meninggal dunia. Beliau masih memimpin rapat membahas cara penyelamatan para penabung di bank. Hasilnya, DPR menyetujui suntikan dana sebesar 2 miliar. Begitu juga cerita seputar Bernie, Cassano, serta kebangkrutan dan kehilang uang dalam jumlah besar yang dialami oleh perusahaan maupun individu. Semua dengan bahasa yang enak dibanca dan ringan.

Catatan Sejarah

Dahlan Iskan memang merendah dalam kata pengantarnya, sekaligus memberikan wanti-wanti kepada pembacannya agar tidak terlalu berharap akan kedalaman analisisnya tentang krisis finansial 2008 dalam buku ini. Namun perlu diingat bahwa sejatinya seorang Dahlan Iskan adalah jurnalis. Karena itu mau tidak mau dan wajar jika sebelum menulis, Dahlan telah membekali diri dengan segudang pengetahuan mengenai apa yang akan ditulisannya. Jika dikemudian hari tulisan itu mendapatkan apresiasi baik dari masyarakat, maka itu tak lain adalah diri sang penulisnya yang mampu menafsikan fenomena dengan baik.

Karena itu kumpulan ulasan Dahlan Iskan ini, seyogyanya ditempatkan sebagai sebuah catatan (indah) si penulis tentang fenomena yang terjadi saat ini, dan tidak berharap lebih, untuk dikatakan sebagai sebuah analisis ekonomi. Perpaduan cara tutur jurnalis, sastra (feature), dan bahan dasar ilmu ekonomi ini adalah repertoar menarik. Karenanya buku ini sebenarnya diniatkan/ seyogyanya dikatakan sebagai catatan sejarah. Semacam album yang akan dikenang generasi selanjutnya. Karena itu usaha “mengliping” tulisan Dahlan yang tercerai-berai dalam berbagai edisi Jawa Pos ini menjadi berharga.

Dahlan Iskan menuliskan hal ini pada masa “jalan-jalan” sebagaimana lima buku yang telah terbit. KME pun ditulis selama kebersamaannya dengan presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengikuti berbagai pertemuan puncak 20 kepala negara untuk membahas krisis ini di Amerika Serikat dan menghadiri pertemuan APEC. Kasus ini dengan sendirinya menjawab proses buku ini dan bagaimana orang sekaliber Dahlan Iskan yang tidak punya riwayat formal pendidikan ekonomi, ternyata mampu berbicara banyak untuk menjadi teman pertimbangan SBY selama lawatan untuk berunding masalah terkait ekonomi.

Sebagai sejarah yang memuat fakta saat ini apa adanya, temasuk beberapa foto-foto terkait di dalamnya, KME tidak berlalu begitu saja sebagai paparan fakta-fakta, ada sekelumit harapan di sana-sini yang diselipkan penulisnya. Tentu, selain menjadi jembatan bagi pembaca awan untuk memahami seluk-beluk krisis finansial secara bijaksana. Hal ihwal mengenai berbagai istilah ekonomi; bursa saham, bangkrut, derivatif, dan berbagai intrik ekonomi diulas dengan sangat baik dan sederhana dalam buku ini. Mungkin yang perlu ditambahkan dalam buku ini adalah glosarium, sehingga pembaca lebih mudah menerima berbagai istilah ilmiah secara definitif.

Lebih dari itu, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah “cara tutur” buku dan “cara tutur” koran. Tulisan-tulisan ini sebelumnya memang menjadi catatan di Jawa Pos. Justru itu, ketika telah menjadi buku bebarapa hal terkait “cara tutur” koran harus diadaptasi sesuai “cara tutur” buku, meskipun di dalamnya terdapat sejarah pemuatan. Sehingga kalimat; (Besok pagi, di ruangan ini, saya akan menguraikan bagaimana perusahaan surat kabar..), dan sebagainya, tidak perlu dicantumkan, meskipun berada dalam tanda kurung. Bila buku ini cetak ulang, sebaiknya dilakukan penyuntingan ulang. (Umar Fauzi)

Judul: Kentut Model Ekonomi

Penulis: Dahlan Iskan

Penerbit: Jaring Pena, Surabaya

Cetakan: Februari 2009

Tebal: xxvi + 181 halaman

*) Umar Fauzi aktif di kelompok diskusi Komunitas Rabo Sore (KRS) Surabaya.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan