-->

Arsip Resensi Toggle

The Man Who Loved Books Too Much

the man who loves book so much

Para Pemburu dan Pembela Buku
Oleh Muhidin M Dahlan
“Gila atau waras, mereka menyelamatkan peradaban” – Wilmarth Sheldon Lewis
Secara dialektis di dunia buku terdapat dua golongan yang terus-menerus berseteru: (1) para pencela dan pemangsa buku dan (2) pemburu dan pembela buku.
Untuk golongan pertama, bisa disebutkan 7 jenis: api, air, kutu, debu, pembakar buku, negara (totaliter) dan aparatusnya, dan pemalas (baca buku). Ketujuh setan buku itulah yang terus-menerus mengusik dan merongrong dengan pelbagai cara buku-buku yang berseberangan dengan keyakinan mereka.
Sementara itu di sudut lain ada pembela buku yang tak kalah heroik dan gilanya melakukan pembelaan atas buku. Alllison Hoover Bartlett lewat buku The Man Who Loved Book Too Much membantu menunjukkan jenis watak penggila buku ini secara blak-blakan, terus-terang, ironi, dengan narasi-narasi sederhana. Dua tokoh yang memiliki satu kecintaan tapi berada pada dua cara yang berseberangan dijadikan Barlett sebagai kendaraan kepada pembaca untuk memasuki dunia buku yang lebih sublim.
John Gilkey, salah satu tokoh historis dalam buku ini, adalah bibliomaniac, tapi sekaligus bibliocrime. Dia adalah maling buku nomor satu di seantero Amerika yang terkenal licin dengan penyamaran yang sempurna. Walaupun maling, cita-citanya sebetulnya mulia. Ia ingin memiliki perpustakaan, punya koleksi buku-buku utama dan langka. Paling tidak seratus buku terbaik sepanjang masa menurut versi Modern Library.
Masalahnya dia miskin. Ia tak punya timbunan uang seperti halnya kolektor-kolektor buku langka segagah ahli botani Jefferson Fritpatrick yang saat mangkat meninggalkan 90 ton buku. Karena itu, tujuan mulianya, apa boleh buat, mesti ditempuh dengan cara yang keliru: mencuri.
Namun ia adalah maling yang lihai dan pola pencurian yang nyaris berbeda sama sekali dengan pendahulunya yang nyaris klasik seperti Stephen Carie Blumberg yang mencuri 23.600  judul buku dari 268 perpustakaan di 45 negara bagian. Curiannya setara 20 juta dollar dan dibutuhkan 3 petikemas, 879 peti besar, dan 17 kuli angkut yang bekerja selama 2 hari.
Gilkey juga berbeda dengan Guglielmo Libri (1803-1869), si juru katalog manuskrip sejarah di pelbagai perpustakaan umum di Prancis. Namun, profesi itu juga yang mengantar Libri menjadi maling buku langka. Caranya: dia menukar buku-buku langka dengan buku-buku yang tak terlalu berharga. Tapi yang kerap dilakukannya adalah membawa pulang buku yang sengaja tak dimasukannya dalam katalog. Hasil curiannya diperkirakan 1.5 juta euro di zaman sekarang. Libri dihukum 10 tahun penjara setelah ditangkap pada 1850. (hlm 196)
Gilkey tidak beroperasi di perpustakaan seperti Libri. Tak juga mesti memanjat dinding perpustakaan tengah malam untuk menguras isinya seperti dilakukan Blumberg. Gilkey hanya memalsukan kartu kredit pelanggan di toko baju tempatnya numpang kerja. Dengan kartu kredit palsu itu ia menipu toko-toko buku langka yang bertebaran di Amerika. Sebut saja Kayo, Argonaut, Brick Row, Thomas Goldwasser, Black Oak Books, Jeffrey Thomas Fine and Rare Books, Robert Dagg, dan Mo’e Books. (hlm. 224)
Sementara di sudut lain, ada kisah Ken Sanders, seorang makelar buku terkenal. Ia dibuat frustasi oleh rentetan hilangnya buku  langka dalam jaringan ABAA (semacam organisasi kolektor dan toko-toko buku langka). Lantaran polisi hanya bisa geleng-geleng kepala oleh jenis kriminal buku ketika dilaporkan, Sanders pun memutuskan konversi profesi menjadi bibliodick. Sejenis intel partikelir untuk mengusut pencurian buku.
Dari drama adu kelihaian dua sosok bibliomania ini kita kemudian dihamparkan mozaik cerita bahwa ada sekelompok manusia yang melihat dan memperlakukan bukus secara ganjil.
Bagi Gilkey, buku adalah benda visual yang tampak menarik ketika berjajar di rak (hlm 70). Karena itu ia memimpikan sebuah perpustakaan pribadi di mana dengan akumulasi buku di dalamnya Gilkey yang miskin menancapkan impian suatu saat menjadi bangsawan (hlm 209). Lantaran melihat buku sebagai benda visual, ia bermimpi akan menyewa seniman untuk memvisualkan seratus novel terbaik yang disukainya dan ia akan menggelar pameran besar untuk itu.
Sanders tak kalah sengitnya. Baginya, ketika memegang sebuah buku yang sudah tua dan buram, terkadang dia bisa merasakan nilainya dengan cara misterius yang sama dengan cara petani tembakau menilai cuaca yang akan datang berdasarkan aroma tertentu di udara (hlm 200). Karena itu, buku mestinya didapatkan karena rasa cinta dan kegembiraan terhadapnya. Atau dalam kata-kata kolektor Eugene Field yang menulis The Love Affairs of a Bibliomaniac (1986): “Terlalu sedikit orang yang sepertinya menyadari bahwa buku memiliki perasaan. Tetapi aku tahu sesuatu hal lebih baik daripada orang lain, yaitu buku-bukuku mengenalku dan mencintaiku.”
Menganggap buku sebagai objek investasi—sebagaimana kebanyakan kolektor yang tak suka buku dan baunya—akan mengubahnya menjadi sekadar barang dan komoditas. Hal itu akan mengurangi nilai warisan budayanya dan tidak hanya mengecilkan suatu buku, tapi juga pengarang dan pembacanya. “Serahkan masa depan perut babi itu kepada Wall Street,” geram Sanders. (hlm 114)
Namun para kolektor tak bergeming. Di tangan kolektor inilah harga buku mirip lukisan: menjadi tak wajar di mata makelar-makelar di bursa saham. Jika lukisan yang diburu adalah kepemilikan satu-satunya, maka buku bagi kolektor, selain manuskrip awal, adalah edisi pertama (hlm 126). Dan jangan harap buku itu dibaca. Mereka seperti mengikuti dengan khusyuk nasihat Winston S. Churchill bahwa ketertarikan atas buku adalah apa yang disimbolkan oleh buku, dan bukan ceritanya.
“Apa yang harus kulakukan dengan semua bukuku? Baca mereka. Tapi jika tak bisa membacanya, pegang mereka, atau tepatnya timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka. Jadikan temanmu. Jika tak bisa, setidaknya jadikan kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka,” kata Churchill. (hlm. 105)
Bagi pemburu, pembela, dan pencinta buku yang kutipan kisah-kisahnya diorkestrasi oleh Barlett dalam buku ini, justru was-was dan jerih bahwa yang lebih bengis ketimbang pencurian buku oleh bibliomania seperti Gilkey, Libri, atau Blumberg, ternyata adalah penghancuran. Sejak Qin Shi Huang di Cina yang pada tahn 213 SM memerintahkan pembakaraan semua buku bertema pertanian, pengobatan, atau ramalan, hingga pembakaran 25 ribu buku sastra yang dilakukan Nazi.
Menurut Barlett, dorongan menakutkan untuk menghancurkan atau menekan buku merupakan pengakuan terhadap kekuatannya. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada naskah ilmu pengetahuan, politik, dan filsafat, tapi juga buku puisi dan fiksi yang tenang, yang bagaimana pun memiliki kapasitas besar untuk mengubah kita. (hlm. 256)
Oleh karena itu, para pembela dan pemburu buku ini akan melakukan tindakan apa saja untuk melawan agresi para pemusnah dan pembenci buku. Bahkan yang paling absurd sekalipun,s eperti dalam adegan akhir film Fahrenheit 451 (1966): sekelompok pemuja buku menghapal semua isi buku sebelum dihancurkan oleh pemangsa-pemangsanya.

Oleh Muhidin M Dahlan

“Gila atau waras, mereka menyelamatkan peradaban” – Wilmarth Sheldon Lewis

Secara dialektis di dunia buku terdapat dua golongan yang terus-menerus berseteru: (1) para pencela dan pemangsa buku dan (2) pemburu dan pembela buku.

Untuk golongan pertama, bisa disebutkan 7 jenis: api, air, kutu, debu, pembakar buku, negara (totaliter) dan aparatusnya, dan pemalas (baca buku). Ketujuh setan buku itulah yang terus-menerus mengusik dan merongrong dengan pelbagai cara buku-buku yang berseberangan dengan keyakinan mereka.

Sementara itu di sudut lain ada pembela buku yang tak kalah heroik dan gilanya melakukan pembelaan atas buku. Alllison Hoover Bartlett lewat buku The Man Who Loved Book Too Much membantu menunjukkan jenis watak penggila buku ini secara blak-blakan, terus-terang, ironi, dengan narasi-narasi sederhana.

Dua tokoh yang memiliki satu kecintaan tapi berada pada dua cara yang berseberangan dijadikan Barlett sebagai kendaraan kepada pembaca untuk memasuki dunia buku yang lebih sublim.

John Gilkey, salah satu tokoh historis dalam buku ini, adalah bibliomaniac, tapi sekaligus bibliocrime. Dia adalah maling buku nomor satu di seantero Amerika yang terkenal licin dengan penyamaran yang sempurna.

Walaupun maling, cita-citanya sebetulnya mulia. Ia ingin memiliki perpustakaan, punya koleksi buku-buku utama dan langka. Paling tidak seratus buku terbaik sepanjang masa menurut versi Modern Library.

Masalahnya dia miskin. Ia tak punya timbunan uang seperti halnya kolektor-kolektor buku langka segagah ahli botani Jefferson Fritpatrick yang saat mangkat meninggalkan 90 ton buku. Karena itu, tujuan mulianya, apa boleh buat, mesti ditempuh dengan cara yang keliru: mencuri.

Namun ia adalah maling yang lihai dan pola pencurian yang nyaris berbeda sama sekali dengan pendahulunya yang nyaris klasik seperti Stephen Carie Blumberg yang mencuri 23.600  judul buku dari 268 perpustakaan di 45 negara bagian. Curiannya setara 20 juta dollar dan dibutuhkan 3 petikemas, 879 peti besar, dan 17 kuli angkut yang bekerja selama 2 hari.

Gilkey juga berbeda dengan Guglielmo Libri (1803-1869), si juru katalog manuskrip sejarah di pelbagai perpustakaan umum di Prancis. Namun, profesi itu juga yang mengantar Libri menjadi maling buku langka.

Caranya: dia menukar buku-buku langka dengan buku-buku yang tak terlalu berharga. Tapi yang kerap dilakukannya adalah membawa pulang buku yang sengaja tak dimasukannya dalam katalog. Hasil curiannya diperkirakan 1.5 juta euro di zaman sekarang. Libri dihukum 10 tahun penjara setelah ditangkap pada 1850. (hlm 196)

Gilkey tidak beroperasi di perpustakaan seperti Libri. Tak juga mesti memanjat dinding perpustakaan tengah malam untuk menguras isinya seperti dilakukan Blumberg.

Gilkey hanya memalsukan kartu kredit pelanggan di toko baju tempatnya numpang kerja. Dengan kartu kredit palsu itu ia menipu toko-toko buku langka yang bertebaran di Amerika. Sebut saja Kayo, Argonaut, Brick Row, Thomas Goldwasser, Black Oak Books, Jeffrey Thomas Fine and Rare Books, Robert Dagg, dan Mo’e Books. (hlm. 224)

Sementara di sudut lain, ada kisah Ken Sanders, seorang makelar buku terkenal. Ia dibuat frustasi oleh rentetan hilangnya buku  langka dalam jaringan ABAA (semacam organisasi kolektor dan toko-toko buku langka).

Lantaran polisi hanya bisa geleng-geleng kepala oleh jenis kriminal buku ketika dilaporkan, Sanders pun memutuskan konversi profesi menjadi bibliodick. Sejenis intel partikelir untuk mengusut pencurian buku.

Dari drama adu kelihaian dua sosok bibliomania ini kita kemudian dihamparkan mozaik cerita bahwa ada sekelompok manusia yang melihat dan memperlakukan bukus secara ganjil.

Bagi Gilkey, buku adalah benda visual yang tampak menarik ketika berjajar di rak (hlm 70). Karena itu ia memimpikan sebuah perpustakaan pribadi di mana dengan akumulasi buku di dalamnya Gilkey yang miskin menancapkan impian suatu saat menjadi bangsawan (hlm 209). Lantaran melihat buku sebagai benda visual, ia bermimpi akan menyewa seniman untuk memvisualkan seratus novel terbaik yang disukainya dan ia akan menggelar pameran besar untuk itu.

Sanders tak kalah sengitnya. Baginya, ketika memegang sebuah buku yang sudah tua dan buram, terkadang dia bisa merasakan nilainya dengan cara misterius yang sama dengan cara petani tembakau menilai cuaca yang akan datang berdasarkan aroma tertentu di udara. (hlm 200)

Karena itu, buku mestinya didapatkan karena rasa cinta dan kegembiraan terhadapnya. Atau dalam kata-kata kolektor Eugene Field yang menulis The Love Affairs of a Bibliomaniac (1986): “Terlalu sedikit orang yang sepertinya menyadari bahwa buku memiliki perasaan. Tetapi aku tahu sesuatu hal lebih baik daripada orang lain, yaitu buku-bukuku mengenalku dan mencintaiku.”

Menganggap buku sebagai objek investasi—sebagaimana kebanyakan kolektor yang tak suka buku dan baunya—akan mengubahnya menjadi sekadar barang dan komoditas. Hal itu akan mengurangi nilai warisan budayanya dan tidak hanya mengecilkan suatu buku, tapi juga pengarang dan pembacanya.

“Serahkan masa depan perut babi itu kepada Wall Street,” geram Sanders. (hlm 114)

Namun para kolektor tak bergeming. Di tangan kolektor inilah harga buku mirip lukisan: menjadi tak wajar di mata makelar-makelar di bursa saham. Jika lukisan yang diburu adalah kepemilikan satu-satunya, maka buku bagi kolektor, selain manuskrip awal, adalah edisi pertama. (hlm 126)

Dan jangan harap buku itu dibaca. Mereka seperti mengikuti dengan khusyuk nasihat Winston S. Churchill bahwa ketertarikan atas buku adalah apa yang disimbolkan oleh buku, dan bukan ceritanya.

“Apa yang harus kulakukan dengan semua bukuku? Baca mereka. Tapi jika tak bisa membacanya, pegang mereka, atau tepatnya timang mereka. Pandangi mereka. Biarkan terbuka. Jadikan temanmu. Jika tak bisa, setidaknya jadikan kenalanmu. Jika mereka tidak bisa memasuki lingkaran kehidupanmu, setidaknya jangan ingkari keberadaan mereka,” kata Churchill. (hlm. 105)

Bagi pemburu, pembela, dan pencinta buku yang kutipan kisah-kisahnya diorkestrasi oleh Barlett dalam buku ini, justru was-was dan jerih bahwa yang lebih bengis ketimbang pencurian buku oleh bibliomania seperti Gilkey, Libri, atau Blumberg, ternyata adalah penghancuran.

Sejak Qin Shi Huang di Cina yang pada tahn 213 SM memerintahkan pembakaraan semua buku bertema pertanian, pengobatan, atau ramalan, hingga pembakaran 25 ribu buku sastra yang dilakukan Nazi.

Menurut Barlett, dorongan menakutkan untuk menghancurkan atau menekan buku merupakan pengakuan terhadap kekuatannya. Dan hal ini tidak hanya terjadi pada naskah ilmu pengetahuan, politik, dan filsafat, tapi juga buku puisi dan fiksi yang tenang, yang bagaimana pun memiliki kapasitas besar untuk mengubah kita. (hlm. 256)

Oleh karena itu, para pembela dan pemburu buku ini akan melakukan tindakan apa saja untuk melawan agresi para pemusnah dan pembenci buku. Bahkan yang paling absurd sekalipun,s eperti dalam adegan akhir film Fahrenheit 451 (1966): sekelompok pemuja buku menghapal semua isi buku sebelum dihancurkan oleh pemangsa-pemangsanya.

Judul : THE MAN WHO LOVED BOOKS TOO MUCH
Penulis : Allison Hoover Bartlett
Penerjemah : Lulu Fitri Rahman
Editor : Indradya Susanto Putra
Genre : Kisah Nyata
Penerbit : Alvabet
Cetakan : I, April 2010
Ukuran : 13 x 20 cm (plus flap 8 cm)
Tebal : 300-an halaman
ISBN : 978-979-3064-81-9
Harga : Rp. 59.900,-

Sumber: Jawa Pos, 30 Mei 2010

R.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)

TEMPO
KARTINI, SEBUAH PLAGIAT
Nomor T11091850
Edisi 11/09
Halaman 16
Rubrik Buku
Subyek RESENSI BUKU
12  May  1979
Deskripsi
PENGARANG: SOLICHIN SALAM JAKARTA: GUNUNG MURIA, 1979 RESENSI
OLEH: SOEROTO. (BK)
R.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)
Oleh: Solichin Salam
Penerbit: Gunung Muria, Jakarta, 1979.
ADA dua buku baru mengenai Kartini. Ditulis oleh Solichin Salam.
Dengan maksud untuk memperingati 100 tahun lahirnya Kartini.
Saya baca dengan banyak harapan. Memang segala apa yang mengenai
Kartini menarik bagi saya. Maklum, saya anak kelahiran Japara.
Dan Ibu saya (alm.) mengenal Kartini baik sekali. Tatkala saya
masih kecil, ibuku sering cerita tentang Kartini.
Cerita-ceritanya itu ada yang diulang-ulang berkali-kali,
sehingga mengendap dalam ingatan saya, sampai sekarang.
Saya baca buku Solichin dengan banyak harapan. Mungkin ada
hal-hal yang baru, yang mengungkap segi baru dalam kehidupan
Kartini. Atau dalam perjuangannya. Sayang, saya tidak
menemukannya, setidak-tidaknya tidak banyak.
Ada bagian-bagian yang lucu atau menggelikan. Umpamanya bab:
“Dunia seabad yang lalu.” Di situ disajikan nama orang-orang
yang dilahirkan dalam abad yang lalu, dan kita oleh Solichin
diberondong dengan nama yang hebat-hebat, yang sedikit banyak
membuat kita menjadi “groggy”. Albert Einstein dijajarkan dengan
Stalin; Sarojini Naidu bersama-sama dengan Von Papen(!) dan
Ch’en Tu-hsiu. Dengan pejelasan bahwa yang terakhir adalah guru
Mao Tsetung.
Sementara itu, dalam membaca buku Solichin Salam selanjutnya,
saya rasa ada sesuatu yang aneh. Saya pikir-pikir apa, ya?
Rasanya, seperti saya sudah pernah baca di tempat lain.
Ya, benar juga, kalimat-kalimat dalam buku Solichin Salam itu
terdapat juga dalam buku Sitisoemandari Soeroto, Kartini. Sebuab
Biografi (Pen. Gunung Agung, Jakarta, 1977).
Ini sungguh keterlaluan! Yang jelas ialah: halaman 29 (kira-kira
tiga perempat); halaman 30 seluruhnya, dari garis paling atas
sampai garis paling bawah; begitu pula halaman 31 dan 32
seluruhnya diambil dari buku Sitisoemandari. Halaman 16
sebagian; halaman 21 sebagian; halaman 33 sebagian. Halaman 68,
bab “Butiran Mutiara Kata” seluruhnya dijiplak dari buku
Kartini. Sebuah Biografi. Halaman 69 sebagian.
Wetenschappelijke Bladen
Itu yang dapat saya temukan. Mungkin masih banyak lagi, sebab
tidak selalu mudah untuk menemukannya. Sebab kadang-kadang ia
juga “pintar”. Umpamanya di halaman 21. Di buku Kartini. Sebuah
Biografi ditulis:
Bacaan-bacaan lain dari Kartini ialah antara lain
Maatschappelijk Werk in Indie dan Henri Borel. Tetapi ia juga
tertarik kepada buku Fielding mengenai agama Budha, dan bukunya
Felix Ort. Syair-syair De Genestet yang sering dikutipnya sudah
kami sebut di atas. Tetapi bukunya Bas Veth yang tidak simpatik
terhadap tanah Jawa, dikecamnya. Ia juga menyebut-nyebut nama
Marie Metz Koning dan vosmaer (halaman 145).
Solichin menulis dalam bukunya:
Bacaan-bacaan lain dari Kartini di antaranya ialah
Maatschappelijk Werk in Indie dari (!!) Henri Borel. Selain itu
ia tertarik juga kepada bukunya Fielding mengenai, Agama Budha,
demikian juga buku karya Felix Ort, Apabila syair-syair De
Genestet sering dikutipnya, maka sebaliknya bukunya Bas Veth
yang tidak simpatik terhadap Tanah Jawa, dikecamnya. Selain itu
Kartini sering menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan
Vosmaer,” (halaman 21).
Ada juga yang lucu. Dalam buku Kartini. Sebuah Biografi di
halaman 154 ditulis; mengenai pembacaan Kartini:
“Belum lagi kita sebut majalah-majalah seperti Belang en Recht,
Wetenschappelijke Werken, De Gids, dan suratkabar-suratkabar
yang selalu juga diikuti dengan banyak perhatian.”
Dalam buku Solichin, halaman 21:
“Selain yang sudah tersebut di atas, belum lagi kita sebut
berbagai majalah seperti Belang in Recht, Wetenschappelijke
Werken, De Gids dan surat-surat kabar yang senantiasa diikutinya
dengan penuh perhatian.”
Apa yang lucu di sini? “Wetenschappelijke Werken” dalarn
Kartini. Sebuah Biografi itu salah. Harusnya: “Wetenschappelijke
Bladen”. Solichin tidak tahu itu, dan kutip saja:
“Wetenschappelijke Weken”!
Saya terpaksa menyatakan bahwa Saudara Solichin Salam telah
melakukan plagiat atau pembajakan besar-besaran atas buku
Sitisoemandari: Kartini. Sebuah Biografi.
Soeroto

Oleh: Soeroto

kartiniR.A Kartini, Seratus Tahun (1879-1979)  | Solichin Salam | Gunung Muria, Jakarta, 1979.

Ada dua buku baru mengenai Kartini. Ditulis oleh Solichin Salam. Dengan maksud untuk memperingati 100 tahun lahirnya Kartini.

Saya baca dengan banyak harapan. Memang segala apa yang mengenai  Kartini menarik bagi saya. Maklum, saya anak kelahiran Japara. Dan Ibu saya (alm.) mengenal Kartini baik sekali. Tatkala saya masih kecil, ibuku sering cerita tentang Kartini. Cerita-ceritanya itu ada yang diulang-ulang berkali-kali, sehingga mengendap dalam ingatan saya, sampai sekarang.

Saya baca buku Solichin dengan banyak harapan. Mungkin ada hal-hal yang baru, yang mengungkap segi baru dalam kehidupan Kartini. Atau dalam perjuangannya. Sayang, saya tidak menemukannya, setidak-tidaknya tidak banyak.

Ada bagian-bagian yang lucu atau menggelikan. Umpamanya bab:  “Dunia seabad yang lalu.” Di situ disajikan nama orang-orang yang dilahirkan dalam abad yang lalu, dan kita oleh Solichin diberondong dengan nama yang hebat-hebat, yang sedikit banyak membuat kita menjadi “groggy”. Albert Einstein dijajarkan dengan Stalin; Sarojini Naidu bersama-sama dengan Von Papen(!) dan  Ch’en Tu-hsiu. Dengan pejelasan bahwa yang terakhir adalah guru Mao Tsetung.

Sementara itu, dalam membaca buku Solichin Salam selanjutnya, saya rasa ada sesuatu yang aneh. Saya pikir-pikir apa, ya? Rasanya, seperti saya sudah pernah baca di tempat lain.

Ya, benar juga, kalimat-kalimat dalam buku Solichin Salam itu terdapat juga dalam buku Sitisoemandari Soeroto, Kartini. Sebuaf Biografi (Pen. Gunung Agung, Jakarta, 1977).

Ini sungguh keterlaluan! Yang jelas ialah: halaman 29 (kira-kira  tiga perempat); halaman 30 seluruhnya, dari garis paling atas sampai garis paling bawah; begitu pula halaman 31 dan 32 seluruhnya diambil dari buku Sitisoemandari. Halaman 16 sebagian; halaman 21 sebagian; halaman 33 sebagian. Halaman 68, bab “Butiran Mutiara Kata” seluruhnya dijiplak dari buku Kartini. Sebuah Biografi. Halaman 69 sebagian.

Wetenschappelijke Bladen

Itu yang dapat saya temukan. Mungkin masih banyak lagi, sebab tidak selalu mudah untuk menemukannya. Sebab kadang-kadang ia juga “pintar”. Umpamanya di halaman 21. Di buku Kartini. Sebuah Biografi ditulis:

Bacaan-bacaan lain dari Kartini ialah antara lain Maatschappelijk Werk in Indie dan Henri Borel. Tetapi ia juga tertarik kepada buku Fielding mengenai agama Budha, dan bukunya Felix Ort. Syair-syair De Genestet yang sering dikutipnya sudah kami sebut di atas. Tetapi bukunya Bas Veth yang tidak simpatik terhadap tanah Jawa, dikecamnya. Ia juga menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan vosmaer (halaman 145).

Solichin menulis dalam bukunya:

Bacaan-bacaan lain dari Kartini di antaranya ialah Maatschappelijk Werk in Indie dari (!!) Henri Borel. Selain itu ia tertarik juga kepada bukunya Fielding mengenai, Agama Budha, demikian juga buku karya Felix Ort, Apabila syair-syair De Genestet sering dikutipnya, maka sebaliknya bukunya Bas Veth yang tidak simpatik terhadap Tanah Jawa, dikecamnya. Selain itu Kartini sering menyebut-nyebut nama Marie Metz Koning dan Vosmaer,” (halaman 21).

Ada juga yang lucu. Dalam buku Kartini. Sebuah Biografi di halaman 154 ditulis; mengenai pembacaan Kartini:

“Belum lagi kita sebut majalah-majalah seperti Belang en Recht,  Wetenschappelijke Werken, De Gids, dan suratkabar-suratkabar yang selalu juga diikuti dengan banyak perhatian.”

Dalam buku Solichin, halaman 21:

“Selain yang sudah tersebut di atas, belum lagi kita sebut berbagai majalah seperti Belang in Recht, Wetenschappelijke Werken, De Gids dan surat-surat kabar yang senantiasa diikutinya dengan penuh perhatian.”

Apa yang lucu di sini? “Wetenschappelijke Werken” dalam Kartini. Sebuah Biografi itu salah. Harusnya: “Wetenschappelijke Bladen”. Solichin tidak tahu itu, dan kutip saja: “Wetenschappelijke Weken”!

Saya terpaksa menyatakan bahwa Saudara Solichin Salam telah melakukan plagiat atau pembajakan besar-besaran atas buku Sitisoemandari: Kartini. Sebuah Biografi.

Sumber: TEMPO, No T11091850, Edisi 11/09, 12  May  1979, hlm 16 dengan judul resensi “KARTINI, SEBUAH PLAGIAT”

Panggil Aku Kartini Saja

Judul Buku: Panggil Aku Kartini Saja
Penulis: Pramoedya Ananata Toer
Penerbit: Lentera Dipantara, Jakarta
Cetakan: I, Juli 2003
Halaman: 301 halaman
JANGAN PANGGIL DIA RADEN AJENG!
P
ada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”
Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.
Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Pemahaman model demikian membayangi juga beberapa karya-karya penting tentang sejarah Indonesia. Kronik Sejarah Nasional Indonesia V yang disusun Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Di buku yang dianggap sebagai versi “resmi” sejarah Indonesia itu, Kartini cuma disebut dalam tiga helai halaman saja (237-239). Sebagai bandingan, lihatlah pula A History of Modern Indonesia karya M.C. Ricklefs. Karya yang dianggap salah satu kronik terbaik sejarah Indonesia modern yang ditulis orang asing itu bahkan hanya menyebutnya dalam dua paragraf saja. Di situ bukan cuma perkara kuantitas berapa kali ia disebut, melainkan kedua kronik itu juga menyederhanakan peran Kartini melulu sebagai pelopor emansipasi perempuan, khususnya di bidang pendidikan.
Cuma segelintir yang mencoba mencari tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan –seperti yang coba ditunjukkan oleh Pram dengan penuh semangat di buku ini– juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”.
Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.
Dalam kata pengantar untuk bukunya ini, Pramoedya Ananta Toer menulis: “… Kartini disebut-sebut… bukan sebagai manusia biasa, …serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya menjadi palsu, karena kebesaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jenderal mitos-mitos tentangnya.”
****
Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14) Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang dikemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.
Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu.”
Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis.” Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.
Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”? Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.
Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106). Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu dikemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.
Rasa setiakawan yang diserukannya itu ia tujukan kepada dua arah sekaligus: bangsawan pribumi yang doyan dijilat dan para penjajah Eropa. Kartini dengan cerdas berhasil memetakan watak kebanyakan bangsawan pribumi yang doyan “jilat ke atas, injak ke bawah”. Sukar membayangkan bahwa pada masa di mana feodalisme masih kuat berurat, Kartini yang juga adalah seorang bangsawan, lantang menulis: “Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu.”
Dan itu tak cuma diucapkan. Ia mempraktekkannya langsung. Ia menolak dipanggil Raden Ajeng. Ia juga melarang adik-adiknya untuk menyembah dan membungkuk jika hendak berlalu di depannya, suatu aturan yang sebenarnya menjadi norma yang pantang dilanggar di rumah Kartini. Tapi toh ia lakukan juga. Kartini juga tegas mengatakan bahwa adat yang dihayatinya hanya kewajiban menghormat pada orang tua. Selain dari itu ia kritik habis.
Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa balajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya. Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini? Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.
Dalam surat-suratnya, kita akan ketahui juga betapa Kartini telah dengan jeli membaca maksud dan kehendak di balik kebaikan pemerintah kollonial lewat program Politik Etis. Ia sadar, bahwa pribumi boleh melakukan apapun, kecuali mencoba untuk menyamai apalagi melampaui orang-orang Belanda. “Orang Belanda menertawakan dan mencemoohkan kebodohan kami, tetapi bila kami coba memajukan diri kami, sikapnya pun terhadap kami mengancam,” tulisnya kepada Ny. Ovink Soer. Samar-samar, ia mengerti bahwa kebaikan yang dilakukan Belanda pada pribumi dan dirinya dalam bentuk politik etis, tak lebih dalam kerangka kepentingan kolonial.
Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. “Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku, katanya kepada Ny. Ovink Soer. Di lain waktu, Kartini juga berkeyakinan bahwa Eropa sebenarnya bisa berbuat dan membuka kemungkinan baru yang lebih baik bagi pribumi. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.
Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “…dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.
Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.
Lewat karyanya ini, Pramoedya menerangkan kalau silap paham dan penyederhanaan peran serta pemikiran Kartini adalah strategi pemerintahan kolonial Belanda. Mereka memang memunculkan Kartini sebagai pribadi maju demi kepentingan kampanye politik etis mereka, untuk membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak kalah dengan Inggris di India dalam hal memajukan pribumi. Tetapi mereka mencoba menutupi peran dan pikiran Kartini, terutama yang berkaitan dengan kritiknya terhadap ketimpangan relasi antara “yang terjajah” dengan “yang dijajah”.
Argumen yang sama pernah diajukan pula oleh Pram dalam bukunya yang lain, Sang Pemula, untuk menjelaskan musabab kenapa pribadi R.M. Tirtoadhiseoerjo dengan peran dan sumbangannya yang demikian besar bagi pergerakan nasional bisa nyaris tak dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia. Bedanya, peran dan kontribusi Tirto menurut Pram diamblaskan oleh pemerintah kolonial melalui tangan DR. Rinkes, sedang Kartini peranannya disederhanakan pemerintah kolonial via tangan keluarga Abendanon, yang dalam terbitan Door duisternis tot Licht, terlampau banyak menyortir surat-surat Kartini yang isinya jauh lebih “galak”.
***
Panggil Aku Kartini Saja bukanlah karya tanpa nila. Dalam beberapa bagian, Pramoedya tampak agak berlebihan dalam melakukan interpretasi. Hanya karena pernah membaca karya penting kaum feminis macam Berthold Maryan-nya Huygens dan Hilda van Suylenberg, Pram berani mendedahkan interpretasi betapa “…Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru.” (hal. 169)
Ketika Kartini mengaku telah membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sedjarah TanahAir Belanda), Pram juga dengan berani memberi interpretasi bahwa buku itulah “…yang meresapkan pengertian dalam kalbu Kartini, bahwa kekuatan sesuatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar kecilnya jumlah penduduk, …pastilah Kartini mengagumi perjuangan patriotik Willem van Oranje, …dan juga mengagumi perlawanan kesatuan rakyat jelata yang dinamai Watergauzen.” (hal. 145) Interpretasi itu mungkin agak berlebihan, mengingat dalam suratnya, Kartini hanya menyebut betapa menyenangkannya membaca buku itu. Lain tidak.
Dalam historiografi, interpretasi tentu saja bukan barang haram. Tak ada historiografi tanpa interpretasi. Tetapi, interpretasi hanya dimungkinkan selama sumber-sumber sejarah (baik primer atau sekunder) itu tersedia secara memadai. Di sinilah barangkali pangkal soal terletak. Seperti diakui Pram di pengantarnya, bahan-bahan untuk penelitian ini memang amat terbatas. Alasan klasik ketiadaan dana menjadi pangkalnya. Ujungnya, Pram tak mungkin mencari sumber penting lain yang hanya bisa diperoleh di Belanda sana.
Demikianlah, sekalipun di sana-sini kental dengan corak analisis realisme sosialis yang memang teguh dianut Pram, buku ini menjadi salah satu interpretasi paling luas dan terbaik tentang Kartini yang pernah ditulis orang Indonesia. Lewat buku ini, pembaca akan mengenal kehidupan Kartini dengan lebih seksama. Pembaca akan mengerti pula, betapa minat Kartini tak cuma di bidang pengajaran perempuan, melainkan juga pada lapangan seni. Dengan sumber-sumber yang jauh lebih lengkap ketimbang Door duisternis tot Licht, Pram secara luas membahas Kartini sebagai pribadi yang memiliki bakat di bidang membatik, melukis, musik dan tentu saja, karang-mengarang.
Pram juga berani melakukan telaah tentang aspek kejiwaan/mentalitet Kartini (bab VI: Sedikit tentang Kondisi kejiwaan Kartini). Telaah kejiwaan yang dilakukannya memang tidak sebanding dengan In Search of Nixon: A Pscychohistorical Inquiry-nya Bruce Mazlich atau telaah kejiwaan seorang Musa oleh Freud lewat esai Moses and Monotheism. Tetapi, mengingat Pram tidak pernah mengecap pendidikan sejarah secara formal, apa yang dilakukannya agak mengejutkan. Dalam bentuknya yang sederhana dan longgar di sana-sini, ia telah menerapkan apa yang di hari ini lazim disebut sebagai psikohistori atau sejarah kejiwaan.
Karya ini memang tidak memenuhi target seperti yang dipancangkan penulisnya sendiri yang bermaksud menghadirkan Kartini “bukan sebagai dewa-dewa”. Pasalnya, buku ini lebih banyak berisi senarai puja-puji dan minim kritik terhadap Kartini. Barangkali, penerbitan dua jilid terakhir naskah Panggil Aku Kartini Saja bisa memenuhi hasrat itu. Sayangnya, kuku bengis nan bar-bar Orde Baru telah menghancurkan dua jilid terakhir buku ini, sehingga cuma dua jilid awal ini saja yang bisa kita nikmati.
Lewat buku ini, Pram ingin mengingatkan betapa kita pernah memiliki Kartini: perempuan yang dikepung berlapis-lapis kerterbatasan dan hambatan, tetapi justru memiliki cita-cita dan potensi yang jauh lebih besar dari yang pernah kita kira sebelumnya.
Membaca buku ini mengingatkan saya pada bait keempat sajak Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem. Di sajaknya itu, Joko Pinurbo menulis: “Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon dan Stella: ingin rasanya aku menembus gerbang cakrawala.”
Barangkali, Kartini sebenarnya telah berhasil menembus gerbang itu.

Oleh: Zen RS

kartini pramPanggil Aku Kartini Saja | Pramoedya Ananata Toer | Lentera Dipantara, Jakarta | Juli 2003 | 301 halaman

Pada 1899, seorang perempuan pribumi menampik dipanggil Raden Ajeng. Sebagai putri seorang bupati, sebenarnya ia berhak menerima penghormatan itu. Tapi setegasnya ia tolak. Di sebuah suratnya, perempuan itu menulis: “Panggil Aku Kartini saja—itulah namaku!”

Apa yang menarik dari kutipan di atas? Singkat saja: Kartini (diam-diam) sudah melakukan pemberontakan atas nilai-nilai kebudayaan Jawa yang feodalistik. Tentu saja ini simpulan yang mengagetkan. Bukan apa-apa, masalahnya pemahaman kita terhadap Kartini memang amat terbatas, jika tidak disebut dangkal, atau bahkan reduksionistik: Kartini adalah pelopor emansipasi perempuan. Simak pula ritus yang diadakan tiap 21 April sebagai selebrasi kelahirannya: lomba masak-memasak atau rias-merias, sedang Ibu-ibu Dharma Wanita atau PKK mendadak pakai kebaya.

Sedemikian lama pemahaman sempit tentang Kartini itu bertahan. Pemahaman model demikian membayangi juga beberapa karya-karya penting tentang sejarah Indonesia. Kronik Sejarah Nasional Indonesia V yang disusun Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. Di buku yang dianggap sebagai versi “resmi” sejarah Indonesia itu, Kartini cuma disebut dalam tiga helai halaman saja (237-239). Sebagai bandingan, lihatlah pula A History of Modern Indonesia karya M.C. Ricklefs. Karya yang dianggap salah satu kronik terbaik sejarah Indonesia modern yang ditulis orang asing itu bahkan hanya menyebutnya dalam dua paragraf saja. Di situ bukan cuma perkara kuantitas berapa kali ia disebut, melainkan kedua kronik itu juga menyederhanakan peran Kartini melulu sebagai pelopor emansipasi perempuan, khususnya di bidang pendidikan.

Cuma segelintir yang mencoba mencari tahu, kalau Kartini bukan sekadar pelopor emansipasi perempuan, melainkan–seperti yang coba ditunjukkan oleh Pram dengan penuh semangat di buku ini– juga “pengkritik yang tangguh dari feodalisme Jawa dengan segala tetek bengek kerumitannya”, sekaligus juga sebagai “pemula dari sejarah modern Indonesia”.

Panggil Aku Kartini Saja adalah biografi yang mencoba menelusuri riwayat Kartini selengkap-lengkapnya, termasuk peran-peran yang selama ini terlampau disederhanakan, berikut segala kelebihan dan kekurangannya sebagai manusia.

Dalam kata pengantar untuk bukunya ini, Pramoedya Ananta Toer menulis: “… Kartini disebut-sebut… bukan sebagai manusia biasa, …serta menempatkannya ke dalam dunia dewa-dewa. Gambaran orang tentangnya dengan sendirinya menjadi palsu, karena kebesaran tidak dibutuhkan, orang hanya menikmati candu mitos. Padahal Kartini sebenarnya jauh lebih agung daripada total jenderal mitos-mitos tentangnya.”

****

Pramoedya langsung mengajak pembacanya berpolemik dengan mengatakan “Kartini sebagai pemikir modern Indonesia pertama-tama, yang tanpanya, penyusunan sejarah modern Indonesia tidaklah mungkin.” (hal. 14)

Ini jelas menantang. Pram bukannya tidak mengerti betapa posisi Kartini di kalangan Indonesia sendiri masih diperdebatkan. Alih-alih menyebutnya “pahlawan bangsa”, sementara orang malah lebih menganggap Kartini sebagai “orang Belanda” yang dididik dengan cara dan dalam kultur Belanda, yang dikemudian hari juga hanya menulis dalam Belanda, bukan Melayu atau Jawa.

Masalahnya, demikian Pram, Kartini memang tidak pernah mendapat pelajaran bahasa Melayu atau Jawa (hal. 204). Pelajaran yang diterimanya di Sekolah Rendah memang hanya bahasa Belanda. Tetapi bukan berarti Kartini tak mencoba belajar menulis bahasa Melayu dan Jawa. Dalam surat bertarikh 11 Oktober 1902 untuk karibnya, Stella Zeehandelaar, Kartini sudah berangan-angan: “Kelak aku akan menempuh ujian bahasa-bahasa pribumi, Jawa dan Melayu.”

Tapi faktanya, Kartini cuma dikenal sebagai pengarang berbahasa Belanda. Hal ini bisa jadi berkait erat dengan pilihan Kartini yang lebih memilih audiens yang berbahasa Belanda. Jadi ini soal pilihan. Lantas, kenapa Kartini lebih memilih pembaca berbahasa Belanda? Pram menjawab: “Kartini memang dengan sadar hendak memberikan arah baru pada kaum intelektual yang pada masa itu berbahasa Belanda. Lagi pula, jika ia menulis bahasa Jawa, toh masih amat sedikit publik Jawa yang bisa baca-tulis.” Ia khawatir yang ia tulis akan sia-sia.

Lantas, bagaimana menjelaskan Kartini sebagai “pemikir Indonesia modern pertama yang menjadi pemula sejarah Indonesia modern sekaligus”? Pram memberi ancang-ancang: Jangan lupakan kenyataan historis betapa Kartini saat itu hidup dalam taraf kesadaran nasional yang paling awal, yang masih berbentuk embrio serta masih jauh dari kebulatan. Dengan ancang-ancang itu, kita tak keget sewaktu membaca Door duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang) kita tak temui kata “kesadaran nasional”, “nasionalisme”, “demokrasi”, “negara”, “bangsa” hingga “kemerdekaan”. Tanpa pemahaman akan latar historis Kartini hidup, kita berarti tak mau tahu akan posisi Kartini.

Dalam gumpalan otak dan hati Kartini, kesadaran nasional itu muncul dalam bentuknya yang “halus dan diam-diam”, tapi bukannya tak disadari. Simak kata-katanya: “Rasa setiakawan memang tiada terdapat pada masyarakat Inlander, dan sebaliknya yang demikianlah justru yang harus disemaikan, karena tanpa dia kemajuan Rakyat seluruhnya tidak mungkin.” (hal. 106).

Kita tahu, frase “setiakawan” yang disebutnya itu dikemudian hari kembali muncul dalam bentuk yang berbeda, tapi dengan arti yang kurang lebih hampir sama, yaitu “persatuan dan kesatuan”.

Rasa setiakawan yang diserukannya itu ia tujukan kepada dua arah sekaligus: bangsawan pribumi yang doyan dijilat dan para penjajah Eropa. Kartini dengan cerdas berhasil memetakan watak kebanyakan bangsawan pribumi yang doyan “jilat ke atas, injak ke bawah”. Sukar membayangkan bahwa pada masa di mana feodalisme masih kuat berurat, Kartini yang juga adalah seorang bangsawan, lantang menulis: “Tiada yang lebih gila dan bodoh daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya itu.”

Dan itu tak cuma diucapkan. Ia mempraktekkannya langsung. Ia menolak dipanggil Raden Ajeng. Ia juga melarang adik-adiknya untuk menyembah dan membungkuk jika hendak berlalu di depannya, suatu aturan yang sebenarnya menjadi norma yang pantang dilanggar di rumah Kartini. Tapi toh ia lakukan juga. Kartini juga tegas mengatakan bahwa adat yang dihayatinya hanya kewajiban menghormat pada orang tua. Selain dari itu ia kritik habis.

Dalam bentuk yang mungkin tak disadarinya, ia juga menjadi pelopor kesetiakawanan yang melintasi batas teritori dan budaya. Ketika Kartini terpaksa menampik beasiswa balajar ke Belanda, ia memohon (merekomendasi) agar beasiswa itu dialihkan saja kepada seorang pemuda Sumatera yang menurutnya amatlah pandai dan berbakat yang sayangnya tidak memiliki kecukupan biaya.

Siapa pemuda yang dimaksudkan Kartini?

Tak lain adalah Haji Agus Salim. Kartini tidak merekomendasikan salah satu adik perempuannya maupun pemuda Jawa lain yang ia kenal. Dengan demikian, pinjam bahasa Pram, ia sudah terbebas dari jebakan “provinsialisme”.

Dalam surat-suratnya, kita akan ketahui juga betapa Kartini telah dengan jeli membaca maksud dan kehendak di balik kebaikan pemerintah kolonial lewat program Politik Etis. Ia sadar, bahwa pribumi boleh melakukan apa pun, kecuali mencoba untuk menyamai apalagi melampaui orang-orang Belanda. “Orang Belanda menertawakan dan mencemoohkan kebodohan kami, tetapi bila kami coba memajukan diri kami, sikapnya pun terhadap kami mengancam,” tulisnya kepada Ny. Ovink Soer.

Samar-samar, ia mengerti bahwa kebaikan yang dilakukan Belanda pada pribumi dan dirinya dalam bentuk politik etis, tak lebih dalam kerangka kepentingan kolonial.

Kartini memang banyak mengemukakan kekaguman pada kebudayaan Eropa. “Pergi ke Eropa! Sampai napasku yang penghabisan akan tetap jadi cita-citaku,” katanya kepada Ny. Ovink Soer.

Di lain waktu, Kartini juga berkeyakinan bahwa Eropa sebenarnya bisa berbuat dan membuka kemungkinan baru yang lebih baik bagi pribumi. Hanya saja penting diingat, bahwa Kartini tidak buta dan terpesona habis oleh prestasi bangsa Eropa. Kartini sudah sadar bahwa Eropa bukan satu-satunya pola yang harus diikuti. Ia juga sadar bahwa Eropa bukanlah surga.

Yang ia lakukan dan katakan karenanya bukanlah pembenaran terhadap penjajahan. Sama sekali tidak. Pram yakin, Kartini “…dengan ketajaman daya observasinya melihat kekuatan-kekuatan yang ada pada penjajah, mengambilnya, dibawanya pulang, untuk memperlengkapi bangsanya dengan kekuatan baru.” (hal. 124) Mungkin lebih tepat dikatakan, Kartini melakukan penguasaan atas realitas dan lantas menggunakannya.

Adalah luar biasa membayangkan seorang perempuan bumiputera berusia duapuluh (saat Kartini mulai menulis surat-suratnya), yang cuma tamatan Sekolah Rendah, tanpa kesempatan meneruskan sekolah, dan hanya susah payah belajar sendiri, bisa sedemikian maju pikiran, pengetahuan dan kepeloporannya. Karenanya janggal jika pribadi dengan kemampuan dan jasa yang demikian besar hanya dirayakan dan dihormati dengan ritus lomba masak-memasak dan rias-merias.

Lewat karyanya ini, Pramoedya menerangkan kalau silap paham dan penyederhanaan peran serta pemikiran Kartini adalah strategi pemerintahan kolonial Belanda. Mereka memang memunculkan Kartini sebagai pribadi maju demi kepentingan kampanye politik etis mereka, untuk membuktikan bahwa pemerintah kolonial tidak kalah dengan Inggris di India dalam hal memajukan pribumi.

Tetapi mereka mencoba menutupi peran dan pikiran Kartini, terutama yang berkaitan dengan kritiknya terhadap ketimpangan relasi antara “yang terjajah” dengan “yang dijajah”.

Argumen yang sama pernah diajukan pula oleh Pram dalam bukunya yang lain, Sang Pemula, untuk menjelaskan musabab kenapa pribadi R.M. Tirtoadhiseoerjo dengan peran dan sumbangannya yang demikian besar bagi pergerakan nasional bisa nyaris tak dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Bedanya, peran dan kontribusi Tirto menurut Pram diamblaskan oleh pemerintah kolonial melalui tangan DR. Rinkes, sedang Kartini peranannya disederhanakan pemerintah kolonial via tangan keluarga Abendanon, yang dalam terbitan Door duisternis tot Licht, terlampau banyak menyortir surat-surat Kartini yang isinya jauh lebih “galak”.

*****

Panggil Aku Kartini Saja bukanlah karya tanpa nila. Dalam beberapa bagian, Pramoedya tampak agak berlebihan dalam melakukan interpretasi. Hanya karena pernah membaca karya penting kaum feminis macam Berthold Maryan-nya Huygens dan Hilda van Suylenberg, Pram berani mendedahkan interpretasi betapa “…Kartini telah sampai pada teori tentang Revolusi Sosialis, yang bertujuan merobohkan nilai-nilai secara total, dan menggantinya dengan nilai-nilai baru.” (hal. 169)

Ketika Kartini mengaku telah membaca De Varlandsche Geschiedenis (Sedjarah TanahAir Belanda), Pram juga dengan berani memberi interpretasi bahwa buku itulah “…yang meresapkan pengertian dalam kalbu Kartini, bahwa kekuatan sesuatu negeri sama sekali tidak terletak pada besar kecilnya jumlah penduduk, …pastilah Kartini mengagumi perjuangan patriotik Willem van Oranje, …dan juga mengagumi perlawanan kesatuan rakyat jelata yang dinamai Watergauzen.” (hal. 145)

Interpretasi itu mungkin agak berlebihan, mengingat dalam suratnya, Kartini hanya menyebut betapa menyenangkannya membaca buku itu. Lain tidak.

Dalam historiografi, interpretasi tentu saja bukan barang haram. Tak ada historiografi tanpa interpretasi. Tetapi, interpretasi hanya dimungkinkan selama sumber-sumber sejarah (baik primer atau sekunder) itu tersedia secara memadai. Di sinilah barangkali pangkal soal terletak.

Seperti diakui Pram di pengantarnya, bahan-bahan untuk penelitian ini memang amat terbatas. Alasan klasik ketiadaan dana menjadi pangkalnya. Ujungnya, Pram tak mungkin mencari sumber penting lain yang hanya bisa diperoleh di Belanda sana.

Demikianlah, sekalipun di sana-sini kental dengan corak analisis realisme sosialis yang memang teguh dianut Pram, buku ini menjadi salah satu interpretasi paling luas dan terbaik tentang Kartini yang pernah ditulis orang Indonesia. Lewat buku ini, pembaca akan mengenal kehidupan Kartini dengan lebih seksama. Pembaca akan mengerti pula, betapa minat Kartini tak cuma di bidang pengajaran perempuan, melainkan juga pada lapangan seni.

Dengan sumber-sumber yang jauh lebih lengkap ketimbang Door duisternis tot Licht, Pram secara luas membahas Kartini sebagai pribadi yang memiliki bakat di bidang membatik, melukis, musik dan tentu saja, karang-mengarang.

Pram juga berani melakukan telaah tentang aspek kejiwaan/mentalitet Kartini (bab VI: Sedikit tentang Kondisi kejiwaan Kartini). Telaah kejiwaan yang dilakukannya memang tidak sebanding dengan In Search of Nixon: A Pscychohistorical Inquiry-nya Bruce Mazlich atau telaah kejiwaan seorang Musa oleh Freud lewat esai Moses and Monotheism. Tetapi, mengingat Pram tidak pernah mengecap pendidikan sejarah secara formal, apa yang dilakukannya agak mengejutkan. Dalam bentuknya yang sederhana dan longgar di sana-sini, ia telah menerapkan apa yang di hari ini lazim disebut sebagai psikohistori atau sejarah kejiwaan.

Karya ini memang tidak memenuhi target seperti yang dipancangkan penulisnya sendiri yang bermaksud menghadirkan Kartini “bukan sebagai dewa-dewa”. Pasalnya, buku ini lebih banyak berisi senarai puja-puji dan minim kritik terhadap Kartini. Barangkali, penerbitan dua jilid terakhir naskah Panggil Aku Kartini Saja bisa memenuhi hasrat itu. Sayangnya, kuku bengis nan bar-bar Orde Baru telah menghancurkan dua jilid terakhir buku ini, sehingga cuma dua jilid awal ini saja yang bisa kita nikmati.

Lewat buku ini, Pram ingin mengingatkan betapa kita pernah memiliki Kartini: perempuan yang dikepung berlapis-lapis kerterbatasan dan hambatan, tetapi justru memiliki cita-cita dan potensi yang jauh lebih besar dari yang pernah kita kira sebelumnya.

Membaca buku ini mengingatkan saya pada bait keempat sajak Dari Raden Ajeng Kartini untuk Maria Magdalena Pariyem. Di sajaknya itu, Joko Pinurbo menulis: “Seperti kukatakan pada Ny. Abendanon dan Stella: ingin rasanya aku menembus gerbang cakrawala.”

Barangkali, Kartini sebenarnya telah berhasil menembus gerbang itu.

* Zen RS, kontributor utama situs Indonesia Buku

Satu Abad Kartini (1879-1979)

TEMPO
BUNGA RAMPAI UNTUK KARTINI
Nomor T11091844
Edisi 11/09
Halaman 16
Rubrik Buku
Subyek RESENSI BUKU
12  May  1979
Deskripsi
PENGARANG: ARISTIDES KATOPPO JAKARTA: SINAR HARAPAN, 1979
RESENSI OLEH: GOENAWAN MOHAMAD. (BK)
SATU ABAD KARTINI (1879-1979)
Disusun oleh Aristides Katoppo dll.
Penerbit: Sinar Harapan, 1979
DI antara karnaval Kartini tahun ini banyak hal mungkin terbuang percuma. Tapi buku ini pasti tidak. Dicetak mewah tapi
cukup artistik (yang menyebabkan harganya jadi Rp 2500) kumpulan karangan ini merupakan salah satu buku terbaik yang pernah
terbit di Indonesia tentang emansipator dari Jepara itu.
Memang, pilihan karangan terasa kurang diikat oleh satu konsep yang jelas. Dalam pada itu bisa juga dicatat bahwa kumpulan
karangan ini sama sekali tak merekam golongan wanita yang belum “dibebaskan”: kaum babu, yang biasanya menyebabkan para wanita
lain punya waktu untuk tak cuma jadi ibu rumahtangga; para pelacur, yang biasanya hampir tak pernah diingat pada 21 April.
Dengan kata lain, buku ini, seperti juga 99% acara seabad Kartini, cuma mondar-mandir di puncak piramid kenyataan sosial.
Apakah itu sebabnya Toeti Aditama, dalam tulisannya di buku ini, nampak belum puas dengan kebebasan wanita kita?
Tapi baiklah. Di luar ketimpangannya, buku ini sangat menarik, sepanjang para penulisnya bercerita tentang sejarah Kartini,
reportase latar hidupnya dan masalah di zamannya. Sayang hampir semuanya kekurangan fokus yang jelas, dan cuma bagian-bagian
tertentu saja dari tulisan yang meletupkan sesuatu yang penting.
Dalam hubungan itu patut dibaca tulisan Dr. Haryati Soebadio, terutama bagian yang mengkaitkan zaman Kartini dengan bangkitnya
feminisme di Eropa. Juga tulisan Ny. Aisyah Dahlan, yang mengemukakan banyak data tentang inspirasi Kartini di kalangan
wanita Islam Indonesia — satu hal yang masih sedikit diketahui.
Dari tulisan-tulisan itu mungkin kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa apa yang disebut emansipasi wanita di Indonesia mungkin
bukanlah sekedar suatu kelanjutan dari gerakan yang sama di Eropa. Kartini memang menggemakan itu. Tapi kesezamanannya
dengan feminisme Eropa di akhir abad ke-19, dan cepatnya pengaruh Kartini sendiri secara meluas di Indonesia, melintasi
pelbagai suku dan agama, menunjukkan adanya dinamika tersendiri dalam masyarakat kita waktu itu sudah. Suatu studi sejarah
sosial di Indonesia tentang wanita barangkali akan mengemukakan hal-hal yang jarang diduga.
Misalnya bagaimana sebenarnya seluk-beluk lebih lengkap Sultanah Safiatuddin di Aceh di abad ke-17? Bagaimana pula dengan Siti
Aisya We Tenriolle, kepala negara di Sulawesi Selatan di pertengahan abad ke-19? Harsya W. Bachtiar, yang menulis tentang
perlunya penelitian sejarah lebih lanjut di seantero Nusantara, agar kita tak cuma menerima bahan lama dari orang asing, berjasa
menyebut kedua tokoh itu. Tapi kita tentu ingin tahu adakah hadirnya seorang sultan wanita dengan sendirinya merupakan
indikator kedudukan tinggi wanita pada umumnya di suatu masyarakat.
Mengharukan
Tapi tentu saja fenomena Kartini bukanlah terbatas kepada masalah hubungan pria-wanita, betapapun berapi-apinya para
“feminis” Indonesia melontarkan klise-klise tentang itu tanpa henti. Dalam buku ini Menteri P&K Daoed Joesoef, untuk kata
pengantar, juga berbicara tentang Kartini, pendidikan dan kebebasan manusia. Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo melihat
posisi Kartini dalam sejarah pemikiran Indonesia di zamannya. S. Takdir Alisjahbana, dengan menarik sekali, berbicara tentang
Kartini sebagai tokoh yang terlibat, dan terbelah, oleh hipokrisi Belanda dengan politik etis dan konsep Timur-Barat-nya.
Namun yang paling mengharukan dari buku ini ialah bahwa ia ditulis oleh sejumlah orang Indonesia dari pelbagai suku,
meskipun Kartini dulu hanya berbicara tentang “perempuan Jawa”. Juga bahwa ia diprakarsai oleh seorang Kristen (Prof. Ihromi),
yang mengundang penulis Islam untuk berbicara. Kenyataan itu saja membuktikan bagaimana kita memang layak berbangga tentang
Kartini — dan tentang tanahair kita yang cuma satu ini.
Goenawan Mohamad

Oleh Goenawan Mohamad

Satu Abad KartiniSatu Abad Kartini (1879-1979)  | Disusun oleh Aristides Katoppo dll. | Penerbit: Sinar Harapan, 1979

Di antara karnaval Kartini tahun ini banyak hal mungkin terbuang percuma. Tapi buku ini pasti tidak. Dicetak mewah tapi cukup artistik (yang menyebabkan harganya jadi Rp 2500) kumpulan karangan ini merupakan salah satu buku terbaik yang pernah terbit di Indonesia tentang emansipator dari Jepara itu.

Memang, pilihan karangan terasa kurang diikat oleh satu konsep yang jelas. Dalam pada itu bisa juga dicatat bahwa kumpulan karangan ini sama sekali tak merekam golongan wanita yang belum “dibebaskan”: kaum babu, yang biasanya menyebabkan para wanita lain punya waktu untuk tak cuma jadi ibu rumahtangga; para pelacur, yang biasanya hampir tak pernah diingat pada 21 April.

Dengan kata lain, buku ini, seperti juga 99% acara seabad Kartini, cuma mondar-mandir di puncak piramid kenyataan sosial. Apakah itu sebabnya Toeti Aditama, dalam tulisannya di buku ini, nampak belum puas dengan kebebasan wanita kita?

Tapi baiklah. Di luar ketimpangannya, buku ini sangat menarik, sepanjang para penulisnya bercerita tentang sejarah Kartini, reportase latar hidupnya dan masalah di zamannya. Sayang hampir semuanya kekurangan fokus yang jelas, dan cuma bagian-bagian tertentu saja dari tulisan yang meletupkan sesuatu yang penting.

Dalam hubungan itu patut dibaca tulisan Dr. Haryati Soebadio, terutama bagian yang mengkaitkan zaman Kartini dengan bangkitnya feminisme di Eropa. Juga tulisan Ny. Aisyah Dahlan, yang mengemukakan banyak data tentang inspirasi Kartini di kalangan wanita Islam Indonesia — satu hal yang masih sedikit diketahui.

Dari tulisan-tulisan itu mungkin kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa apa yang disebut emansipasi wanita di Indonesia mungkin bukanlah sekedar suatu kelanjutan dari gerakan yang sama di Eropa. Kartini memang menggemakan itu. Tapi kesezamanannya dengan feminisme Eropa di akhir abad ke-19, dan cepatnya pengaruh Kartini sendiri secara meluas di Indonesia, melintasi  pelbagai suku dan agama, menunjukkan adanya dinamika tersendiri dalam masyarakat kita waktu itu sudah. Suatu studi sejarah sosial di Indonesia tentang wanita barangkali akan mengemukakan hal-hal yang jarang diduga.

Misalnya bagaimana sebenarnya seluk-beluk lebih lengkap Sultanah Safiatuddin di Aceh di abad ke-17? Bagaimana pula dengan Siti Aisya We Tenriolle, kepala negara di Sulawesi Selatan di pertengahan abad ke-19? Harsya W. Bachtiar, yang menulis tentang perlunya penelitian sejarah lebih lanjut di seantero Nusantara, agar kita tak cuma menerima bahan lama dari orang asing, berjasa  menyebut kedua tokoh itu. Tapi kita tentu ingin tahu adakah hadirnya seorang sultan wanita dengan sendirinya merupakan indikator kedudukan tinggi wanita pada umumnya di suatu masyarakat.

Mengharukan

Tapi tentu saja fenomena Kartini bukanlah terbatas kepada masalah hubungan pria-wanita, betapapun berapi-apinya para  “feminis” Indonesia melontarkan klise-klise tentang itu tanpa henti. Dalam buku ini Menteri P&K Daoed Joesoef, untuk kata pengantar, juga berbicara tentang Kartini, pendidikan dan kebebasan manusia.

Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo melihat posisi Kartini dalam sejarah pemikiran Indonesia di zamannya. S. Takdir Alisjahbana, dengan menarik sekali, berbicara tentang Kartini sebagai tokoh yang terlibat, dan terbelah, oleh hipokrisi Belanda dengan politik etis dan konsep Timur-Barat-nya.

Namun yang paling mengharukan dari buku ini ialah bahwa ia ditulis oleh sejumlah orang Indonesia dari pelbagai suku, meskipun Kartini dulu hanya berbicara tentang “perempuan Jawa”. Juga bahwa ia diprakarsai oleh seorang Kristen (Prof. Ihromi), yang mengundang penulis Islam untuk berbicara. Kenyataan itu saja membuktikan bagaimana kita memang layak berbangga tentang Kartini — dan tentang tanahair kita yang cuma satu ini.

Sumber: TEMPO, T11091844, Edisi 11/09, 12 Mei 1978, hlm 16 dengan judul resensi “BUNGA RAMPAI UNTUK KARTINI”

Balibo Five Melawan Lupa

Ia muda, menyimpan semangat perlawanan, dan percaya bahwa media masa adalah bagian penting dari pilar kekuasaan. Media memiliki kekuatan untuk merubah pandangan dunia. Ramos Horta, tokoh pemimpin kemerdekaan Fretelin Timor Leste, membujuk Roger East, seorang wartawan senior di Australia untuk mau menjadi kepala kantor berita pertama di Timor Leste. Ramos membutuhkan kantor berita agar ia dapat mengabarkan kepada dunia mengenai apa yang terjadi di negerinya. Dan dia percaya, East mampu melakukan tugas itu. East menulis dengan hasrat, dengan api, dan Timor Leste butuh wartawan yang menulis dengan dua kekuatan itu.

Awalnya, Roger East menolak. Ia sarankan agar Horta mencari wartawan yang lebih muda. Saran East terlambat. Ramos pernah mendatangkan 5 orang wartawan muda dari Australia. Dan mereka hilang. Horta memberikan data mengenai kelima wartawan itu. Setelah mempelajari berkas yang diberikan Horta, East terhenyak. Dan ia berangkat menuju Dili, Timor Leste.

East tiba di Timor Leste dalam suasana perang dan kemiskinan. Namun disana masih ada hotel terbaik yang bisa jadi tempat beristirah. Hotel senyap yang dijaga seorang lelaki dan anak perempuannya yang masih kecil, Juliana. Gadis kecil resepsionis hotel itulah yang kelak akan bersaksi di depan Komisi Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi (CAVR) Timor Leste mengenai tewasnya Roger East dalam invasi Indonesia di kota Dili. Disana pula, tiga minggu sebelumnya,  kelima wartawan Australia itu pernah menginap sebelum kemudian pergi ke Balibo, daerah perbatasan Indonesia dan Timor Leste.

Roger berkeras mencari tahu tentang keberadaan kelima jurnalis yang hilang. Bersama Ramos Horta, ia mengumpulkan informasi mengenai mereka. Meski agak sulit, mereka menemukan sedikit demi sedikit jejak wartawan-wartawan itu. . Dari seorang gerilyawan diperoleh informasi bahwa kelima wartawan itu pergi ke daerah Maliana, disana ada sebuah Sekolah Misionaris yang menjadi tempat mereka tinggal. Perjalanan ke Maliana hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki selama 14 jam. Tak ada pilihan lain, mereka mesti menempuh perjalanan itu.

Perjalanan panjang itu bukan hanya menguras tenaga fisik, melelahkan, tapi juga mendorong munculnya tekanan emosional. Dalam perjalanan, mereka sempat ditembaki oleh helikopter. Mereka juga menyaksikan mayat-mayat bergelimpangan di jalanan. Kampung-kampung senyap tanpa penghuni. Bahkan ketika mereka menemukan Sekolah Misionaris yang dicari telah menjadi bangunan kosong tak berpenghuni, emosi mereka memuncak karena tekanan psikologis.

Ramos dan East berdebat panjang tentang tujuan perjalanan. East memikirkan kelima watawan yang hilang dan keadilan untuk mereka. Sementara, Horta, menganggap bahwa misi mereka lebih dari sekedar itu. Ia ingin East menulis tentang negerinya, rakyatnya, agar dunia terbuka matanya. Kelima wartawan itu melakukan liputan dengan dorongan gairah itu: kemanusiaan. Bagi Horta, niatan East sungguh tidak adil dan dangkal. Merekapun berpisah ditengan perjalanan.

East melanjutkan perjalanannya seorang diri. Ketika tiba di Balibo, kota itu telah menjadi sunyah.Disebuah sekolah, mereka hanya menemukan kelas-kelas yang kosong. Darah yang membercak di tembok, dan abu yang menggunung di halaman. Dalam flashback, ditempat itu lah kelima wartawan itu tewas dengan tragis.

Lima orang wartawan itu baru saja tiba di Balibo, Oktober 1975. Tapi serangan dari tentara Indonesia sudah dimulai. Mereka berusaha sebisanya untuk mengabadikan peristiwa itu. Mereka mendapat gambar bagaimana para tentara itu setelah melepas seragam tentara kemudian menggantinya dengan pakaian biasa. Sempat juga direkamnya keberadaan enam kapal Indonesia yang terlihat dari benteng Portugis di Balibo. Peperangan tidak berimbang. Tentara Timor Leste terdesak mundur. Kelima wartawan itu ikut bergerak mundur.

Dalam situasi terjepit, mereka mencoba bertahan. Salah satu diantara mereka bahkan menderita ashma dan kambuh. Dengan setengah keyakinan bahwa jurnalis tak akan diserang dalam perang, mereka mencoba menyerahkan diri. Tapi malang, bukannya diselamatkan, ketika berkata bahwa mereka jurnalis, justru berondongan peluru yang didapat. Mereka tewas. Semua film hasil rekaman mereka dimusnahkan. Juga tubuh mereka, lebur menjadi abu. Tak ada jejak tersisa.

Menemukan kenyataan bahwa kelima wartawan muda itu tewas dan bukannya hilang, East terguncang jiwanya. Ia demikian tertekan. Namun ia melanjutkan tugas kelima anak muda itu. Mengabarkan pada dunia tentang apa yang terjadi. Kantor Berita Timor Leste ia pimpin dengan seorang juru ketik membantunya. Malang, Indonesia melakukan invasi di Dili, tepat dimana kantornya berada. Melihat tentara Indonesia mulai memasuki kota, Roger masih berusaha menulis laporan tentang peristiwa itu. Sebelum kemudian pintu kantornya didobrak, dan tubuhnya diserang peluru bertubi. Kantornya dihancurkan. Mesin ketik, kertas, berkas-berkas, semua dimusnahkan. East tewas bersamaan dengan musnahnya semua alat produksinya. Alat yang ia pakai untuk menulis. Menulis kabar untuk dunia.

Film ini mencoba menguak kebenaran mengenai tewasnya kelima wartawan Australia di Balibo. Greg Shackleton, Tony Stewart dan Gary Cunningham dari Channel 7, Brian Peters dan Malcolm Rennie dari Channel 9 sebelum berangkat ke Timor Leste juga sempat dilanda kebimbangan. Bukan hal mudah ketika seorang jurnalis ditugaskan dimedan konflik. Resikonya adalah nyawa. Dan resiko itu akhirnya mereka tempuhi. Meninggalkan semua orang terkasih, demi tugas jurnalistik.

Dalam faktanya, pemerintah Indonesia telah menyatakan bahwa kelima wartawan itu tewas tanpa sengaja di tengah baku tembak antara tentara dan kelompok Fretilin. Versi ini telah diterima Pemerintah Australia. Tapi Ramos Horta, sebagai presiden Fretelin Timor Leste berkeyakinan lain. Menurut Ramos Horta, pejabat Indonesia telah memerintahkan tentara untuk membakar mayat kelima wartawan itu untuk menyembunyikan bukti pembunuhan. Mereka menghilangkan bukti penyiksaan bahwa para wartawan itu ditangkap hidup-hidup lalu dibunuh dengan brutal.

Balibo Five menunjukkan dengan gamblang dan menyentuh, bagaimana seorang jurnalis di daerah konflik mesti bertahan antara tugas dan kekhawatiran keselamatan pribadi. Dalam film ini ditunjukkan alasan kelima wartawan itu bertahan sudah bukan lagi sekedar melaksanakan tugas kantor, tapi demi kemanusiaan. Mereka melihat ketidakadilan di Timor Leste dan ingin dunia, Negara-negara lain (khususnya Perserikatan Bangsa-Bangsa) mengetahui itu dan melakukan tindakan.

Tugas mereka adalah mengabarkan apa yang terjadi di daerah konflik. Mereka sudah melihat kenyataan yang terjadi dilapangan. Dan kabar itu mereka siarkan hingga dunia mendengarnya. Tapi kebenaran mengenai diri mereka sendiri tak terungkap. Meski tahun 2007, seorang koroner Australia yang meninjau kembali bukti-bukti kematian menemukan bahwa para wartawan itu tewas saat mereka mencoba menyerahkan diri kepada tentara Indonesia dan merekomendasikan agar para pembunuhnya dituntut atas kejahatan perang, namun seruan itu tak didengar. Keberadaan film ini dimaksudkan agar pemerintah Australia bergerak dan melakukan tindakan penuntutan atas kejahatan perang.

Tiga puluh tahun lebih peristiwa Balibo dan tawasnya Roger East itu dikuburkan tanpa kejelasan. Balibo Five mencoba melawan untuk mengingatkan kembali atas tewasnya kelima wartawan itu. Pekerja jurnalistik sebagai pejuang penyebar kabar  di daerah konflik, layak mendapat keadilan. Mereka menulis dan menyuarakan kondisi medan perang dengan pertaruhan nyawa. Dan waktu yang menggiring dunia pada lupa, mesti dilawan. Balibo Five melawan lupa itu. (Diana AV Sasa)

Foto diambil dari: www.cbc.ca/arts/film/story/2009/…mor.html

The Reader: Aib Buta Aksara

Sejauh mana seseorang akan bertahan memegang sebuah rahasia? Hanna Schmitz mengenggam kuat-kuat rahasianya hingga ajal tiba. Ia memilih menjalani sisa hidupnya dalam penjara dari pada membuka rahasia. Ini adalah rahasia yang tak ingin ia kuak meski hidupnya menjadi pertaruhan. Ia malu bila rahasia itu diketahui orang lain. Hanna tak mau seorangpun tahu bahwa ia buta huruf.

Hanna seorang petugas kontrol tiket kereta trem di Jerman. Pekerjaannya saban hari adalah meminta tiket pada penumpang, kemudian melubanginya. Ia tak butuh ketrampilan baca tulis untuk melakukan itu. Dan tak seorang pun tahu rahasia itu. Hingga pertemuan dengan seorang bocah umur 15 tahun di sebuah sore yang hujan membawanya pada perkenalan dengan tradisi membaca.

Bocah itu Michael Berg. Hanna menolong Mike ketika muntah di depan apartemennya, sepulang sekolah pada suatu sore. Pertemuan pertama itu membawa Hanna dan Michael pada pertemuan kedua lalu ketiga. Di pertemuan ketiga inilah, dua manusia beda umur 21 tahun itu malakukan persetubuhan. Pengalaman pertama bagi Michael. Dan sepanjang musim panas Michael membagi kesenangan baru bagi Hanna: membaca buku diantara persetubuhan.

Hanna tak ingin Micahel tahu bahwa ia tak bisa membaca. Ia malu.“Aku lebih suka mendengarmu”, kilahnya. Maka Michael pun mulai membacakan buku demi buku. Dari The Odyssey, The Lady with the Little Dog, Adventures of Huckleberry Finn, hingga komik Tintin. Saban satu buku satu percintaan, begitu aturannya. “Bacakan, lalu kita bercinta”,kata Hanna. Membaca buku berhadiah persetubuhan itu pun menebar di ranjang, di meja makan, hingga di kamar mandi.

Dan musim panas berlalu. Hanna mendapat promosi untuk bekerja di kantor, tidak lagi di atas trem. Itu berarti ia harus meninggalkan kota sekaligus meninggalkan kekasih yang tekun membacakan buku untuknya. Tepat dihari ulang tahun Michael, usai sebuah percintaan, Hanna pergi tanpa pamit.

Perjumpaan mereka terjadi bertahun kemudian ketika Michael telah menjadi seorang mahasiswa fakultas hukum Universitas Heidelberg. Professor Rohl meminta mahasiswanya untuk mengamati sebuah persidangan. Itu adalah sidang yang sedang memproses kejahatan perang (Nazi) atas 6 orang terdakwa perempuan penjaga SS.  Sebuah kebakaran menyebabkan 300 orang Yahudi meninggal dalam kamp konsentrasi karena pintu gereja tidak dibuka oleh penjaga SS. Salah satu diantara terdakwa itu adalah Hanna.

Sidang menyudutkan Hanna. Lima orang kawannya yang lain mengatakan bahwa Hanna lah yang bertanggung jawab atas semua keputusan. Ia yang bertandatangan atas laporan daftar urutan pembinasaan orang-orang dalam kamp. Hanna menolak tuduhan itu. Setiap keputusan selalu disepakati bersama. Pengacara meminta Hanna membuktikan bahwa bahwa tulisan tangan dalam laporan bukanlah tulisannya. Sebuah kertas dan pulpen disodorkan padanya. Hanna terdiam. Tak bereaksi. Saat itulah Michael tahu bahwa Hanna sesungguhnya tak dapat membaca menulis. Ia mendapat alasan mengapa Hanna lebih suka dibacakan buku. Juga mengapa Hanna nampak bingung ketika membaca menu restoran.

Dan mengakui bahwa ia tak dapat membaca menulis adalah aib bagi Hanna. Maka ia memilih mengakui bahwa dirinyalah yang menulis laporan itu. Kertas dan pulpen itu tak sedikitpun disentuhnya. Bagi Hanna, lebih baik ia dituduh membantai 300 orang dari pada harus mengakui bahwa ia buta huruf. Ia genggam rahasia itu baik-baik.

Michael gusar. Ia tahu kebenarannya. Hanna tak menulis laporan itu, apalagi menandatanganinya. Menulis namanya sendiri pun Hanna tak mampu. Michael mengalami dilema. Satu sisi ia memiliki tanggung jawab moral untuk mengatakan apa yang diketahuinya. Disisi lain ia harus menghormati Hanna yang sangat kukuh memegang rahasianya. Michael menghormati itu. Dan, Hanna mendapat vonis seumur hidup. Rahasia itu tetap terjaga.

Selama Hanna dalam penjara, Michael telah menikah dan memiliki seorang anak perempuan. Namun pernikaha itu tak berjalan lama. Michael memilih berpisah. Ada perasaan dari masa lalunya yang terus merundungnya dengan rasa bersalah.

Pencerahan datang ketika Michael membuka beberapa buku lawasnya dan teringat percintaan dengan Hanna semasa ia bocah. Michael kemudian tergerak untuk membaca, merekamnya, dan mengirimkan kaset pada Hanna di penjara. Mendapati kiriman kaset-kaset buku itu, Hanna seperti menemukan semangat baru dalam penjara. Ia mendengarkan semua buku. Menanti kiriman baru saban minggu. Michael pun menghabiskan waktu dengan membaca berkardus-kardus bukunya. Semua dibaca, direkam, dikirimnya. Buku cerita lucu, novel, hingga komik.

Hanna terbiasa mendengarkan. Selain kaset, ia juga dikirimi buku oleh Michael. Dari sana, ia belajar menulis. Ia mendengar kata ‘the’ dan ia dapati huruf-huruf yang membentuk kata ‘the’ dalam buku. Hanna menemukan sendiri metode belajar menulisnya. Ia mencari bunyi dan rangkaian hurufnya dalam buku. Perlahan, ia dapat menulis surat pendek. Ia kirimkan surat-surat untuk Michael, namun tak pernah berbalas. Meski kaset-kaset tepat dikirimkan Michael.

Hingga masa pembebasan untuk Hanna tiba. Sebagai satu-satunya kenalan Hanna, Michael diminta Kepala Penjara utuk menjemput dan mencarikan tempat tinggal untuk Hanna. Setelah 30 tahun, pertemuan dua manusia yang memendam hasrat itu terjadi. Semua sudah berubah. Meski dinanti, namun pertemuan itu menguak luka masa lalu.

Usai pertemuan, Hanna menggantung diri di kamarnya dengan menjadikan buku-buku sebagai pijakan. Ia selesaikan kebutaannya pada aksara dengan kematian. Sebuah kaleng teh berisi uang dan tabungan di bank ia tinggalkan untuk diberikan pada Ilana, salah seorang korban selamat. Uang itu kemudian disumbangkan untuk organisasi yang bergerak menangani buta huruf pada orang dewasa, terutama Yahudi. Rahasia itu terbayar sudah. Bagi Hanna, lebih memalukan mengakui dirinya buta huruf daripada mengakui ia telah membantai 300 nyawa. Dibawanya rasa malu itu ke kubur gelap tepat di ujung pencerahan yang ia dapati setelah mampu membaca-menulis.(Diana AV Sasa)

Libri di Luca

libri di luca

MISTERI KELOMPOK PEMBACA BUKU

Oleh: Hernadi Tanzil

Masih ingatkah kita akan pengalaman masa kecil ketika kita sedang dibacakan cerita oleh orang tua kita ? Tentunya sangat mengasikan karena biasanya kita akan terpukau oleh ceritanya sehingga kita seolah-olah berada dalam kisah yang sedang kita dengar itu.

Namun pernahkah terpikirkan oleh kita bahwa sebuah buku yang dibacakan akan memberi pengaruh yang lebih dahsyat lagi? Bukan hanya sekedar memukau pendengarnya dan menjadikan apa yang ada dalam buku terasa begitu nyata melainkan dapat mempengaruhi jiwa , pikiran, dan persepsi mereka yang mendengarnya. Hal inilah yang terpikirkan oleh Mikkel Birkegaard penulis muda Denmark yang ia tuangkan dalam novel perdananya yang berjudul Libri di Luca .

Dalam karyanya ini Mikkel menceritakan mengenai para pembaca buku yang dapat mempengaruhi jiwa dan pikiran mereka yang mendengar apa yang sedang dibacanya. Para pembaca ini disebut dengan Lector, yaitu mereka yang melatih sebuah seni membaca keras-keras dari sebuah teks sehingga dapat memberi penekanan sesuai dengan keinginan si Lector. Dengan demikian hal ini akan mempengaruhi persepsi mereka yang mendengarkan isi dari sebuah teks yang dibacanya

Lector ini sendiri dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok pemancar yang dapat mempengaruhi persepsi pendengar terhadap tulisan yang sedang dibacanya, dan kelompok penerima yang mampu mempengaruhi persepsi seseorang yang sedang membaca sebuah buku. Jika dua kelompok ini disatukan makan akan tercipta sebuah sinergi yang dahsyat yang dapat mempengaruhi dunia sesuai dengan apa yang diinginkan para Lector. Di tangan mereka, buku bisa menjadi sebuah senjata!

Novel ini diawali dengan kisah kematian Luca Campelli seorang Lector yang memiliki sebuah toko buku antik terkemuka di Kopenhagen Denmark yang diberinya nama “Libri di Luca”. Kematiannya sangat ironis karena Luca Campelli meninggal secara mendadak di toko buku kebanggaannya ketika ia sedang membaca buku antik yang sangat ia sayangi.

Luca hanya memiliki seorang anak yang bernama John, seorang pengacara handal. Namun walau John adalah anak tunggalnya hubungan antara Luca dengan anaknya tidaklah sedekat hubungan antara seorang ayah dan anak pada umumnya sehingga tak heran jika John tidak pernah benar-benar mengenal ayahnya.

Kematian Luca otomatis membuat toko buku Libri di Luca diwariskan pada John. Dengan bantuan Iversen selaku sekretaris pribadi Luca dan Katherine, pegawai kepercayaan Luca lambat laun John mulai mengenal aktifitas ayahnya beserta isi dari Libri di Luca yang menyimpan begitu banyak buku-buku berharga.

Melalui penuturan Iversen akhirnya terungkap bahwa Libri di Luca ternyata merupakan markas sebuah perkumpulan rahasia pecinta buku yang terdiri dari para Lector yang memiliki kekuatan mempengaruhi pendengarnya baik sebagai pemancar maupun penerima . Dan yang paling mengejutkan bagi John adalah ternyata tanpa disadarinya dirinyapun mewarisi kemampuan ayahnya sebagai seorang Lector.

Tidak berapa lama setelah kematian Luca, toko buku Libri di Luca mendapat serangan bom yang menghanguskan sebagian toko buku antik tertua di Kopenhagen itu. Hal ini membuat John Iversen dan Katherne menaruh curiga bahwa kematian Luca bukanlah kematian biasa melainkan ada pihak-pihak yang ingin menghancurkan Libri di Luca beserta perkumpulan rahasianya.

Kematian Luca dan serangan terhadap Libri di Luca memang pada akhirnya menimbulkan kecurigaan diantara para anggota perkumpulan, antara Lector penerima dan pemancar saling mencurigai sehingga perkumpulan rahasia ini nyaris terpecah belah. Kecurigaan John dan kawan-kawannya akhirnya mengerucut pada kemungkinan adanya Organisasi Bayangan diluar perkumpulan rahasia Libri di Luca yang bertujuan untuk memecah belah Perkumpulan dan mempengaruhi para Lector untuk dapat menguasai dunia lewat kekuatannya.

Pencarian siapa dalang dari kekisruhan ini tak mudah. John dan kawan-kawan harus berpacu dengan waktu, taruhannya adalah nyawa mereka sendiri dan nyawa para Lector yang satu persatu tewas dengan berbagai cara. Pencarian ini ternyata membawa John, Iversen, dan Katherene melintas benua menuju Mesir, dimana pernah berdiri dan kini sedang dibangun kembali sebuah Perpustakaan terbesar di dunia di Alexandria – Mesir (Bibliotheca Alexandria). Ternyata di tempat ini pulalah cikal bakal terbentuknya perkumpulan rahasia para lector.

Bagi para pecinta buku novel ini akan menjadi sangat menarik karena mengupas tentang buku dan pembacanya. Buku di tangan seorang lector bisa menjadi sebuah alat yang mempengaruhi dunia. Selain itu Mikkel juga dengan menarik memadukan sebuah fakta sejarah mengenai Bibliothica Alexandrina, perpustakaan paling besar sedunia yang pernah ada di muka bumi ini dengan kisah thriller fantasi yang menghibur.

Plot cerita yang disuguhkan Mikkel dibangun secara perlahan dan mencapai klimaksnya di bagian akhir. Berbagai fakta dibeberkan secara rinci sehingga pembaca bisa memahami logika dari sebuah kisah yang dibangun. Seperti kitah-kisah misteri lainnya, pembaca akan dibuat terkecoh menduga siapa yang menjadi dalang dari misteri kematian Luca Campelli. Jadi bersiap-siaplah untuk terkaget-kaget di bagian akhir novel ini.

Yang agak disayangkan dalam novel ini adalah kurangnya penulis mengeksploitasi kisah ketika berada di Bibliothica Alexandrea. Setting di Alexandrea ini baru muncul di bagian-bagian akhir, andai saja setting di perpustakaan ini lebih diekplorasi lebih banyak lagi tentunya novel ini akan lebih menarik dan membuat wawasan pembaca mengenai Bibliothica Alexandrea semakin bertambah.

Saya juga agak menyayangkan deskripsi yang berlebihan mengenai kekuatan seorang Lector yang dengan kekuatan yang dimilikinya bisa menimbulkan fenomena lecutan-lecutan api, asap, cahaya, dll. Andai saja fenomena fisik seperti itu dihilangkan dan diganti dengan deskripsi mengenai bagaimana keadaan jiwa dan pikiran seseorang yang telah dipengaruhi oleh seorang Lector tentunya kesannya akan lebih dramatis dan dalam dibanding dengan menonjolkan fenomena fisiknya.

Terlepas dari hal di atas bagaimanapun novel ini sangat menghibur, gambaran toko buku antik Libri di Luca dan perpustakaan terbesar di dunia yang pernah ada di Bibliothek Alexandria, serta kemampuan seorang lector yang mempengaruhi pendengarnya pasti akan menarik minat para bibliophile dan para pembaca umumnya untuk melahap habis novel ini.

Selain itu novel ini juga berhasil menempatkan posisi pembaca buku ditempat terhormat sebagai tokoh sentral dan merupakan ruh dari keseluruhan novel ini, berbeda dengan novel-novel lain yang kadang menempatkan tokoh seorang pembaca buku hanya sebagai pelengkap cerita dengan sosok seorang berkacamata tebal yang terasing dalam dunianya sendiri.

Dari semua hal diatas tak heran jika novel ini mencuri perhatian para pembaca buku fiksi dan menuai sukses, hal ini terbukti ketika cetakan pertamanya sebanyak 10.000 ekslempar ludes hanya dalam waktu tiga hari saja. Novel ini juga telah diterjemahkan ke dalam tujuh belas bahasa dan menjadi International Best Seller. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi penulisnya karena ini adalah novel perdananya.

Judul : Libri di Luca
Penulis : Mikkel Birkegaard
Penerjemah : Fahmi Yamani
Penyunting : Moh. Sidik Nugraha
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Cetakan : I, Nov 2007
Tebal : 588 hlm

*) Dikronik dari situs pribadi Hernadi Tanzil, bukuygkubaca.blogspot.com

Seabad Pers Kebangsaan

seabadkebangsaanJudul Buku: Seabad Pers Kebangsaan (1907-2007): Bahasa Bangsa, Tanah Air Bahasa
Supervisi: Taufik Rahzen
Koordinator Riset dan Penulisan: Muhidin M Dahlan
Periset: Agung Dwi Hartanto, Arahman Topan Ali, Argus Firmansah, Dian Andika Winda, Iswara N Raditya, Mahtisa Iswari, M Yuanda Zara, Petrik Matanasi, Reni Nuryanti, Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Sunarno, Tunggul Tauladan
Lukisan sampul: Dipo Andy
Penerbit: I:BOEKOE, Desember 2008
Tebal: 1184 halaman (edisi hitam putih)
Ukuran: 15×24 cm (hardcover)

HARGA: Rp 625.000,- (Bebas Ongkos Kirim di seantero Jawa)

Karena hanya cetak terbatas, maka penerbit hanya menerima pesanan. Untuk pemesanan hubungi: 087839137459 (Nurul Hidayah/Jogja)

MAU BUKU INI? KLIK

Kebangsaan adalah sebuah proses panjang dan melelahkan ihwal perumusan apa yang disebut identitas untuk pemuliaan manusia. Karena itu kebangsaan kerap disandingkan dengan perjuangan mencipta kondisi tumbuhnya situasi kemanusiaan yang di kemudian hari memadat menjadi semangat baru bernegara, yakni nasionalisme. (lebih…)

Catcher In The Rye

salinger
Penulis: J.D. Salinger
Penerjemah: Gita Widya Laksmini
Penerbit: Banana Publisher
Tahun: 2005 – cetakan I
Tebal: 300 hal
Oleh: Endah Sulwesi

Novel ini diterbitkan pertama kali pada 1951 di Amerika Serikat, tempat kelahiran penulisnya, Jerome David Salinger. Pria kelahiran 1919 ini berayahkan Yahudi dan ibu berdarah Skotlandia. Dari ibunya yang berprofesi sebagai aktris inilah ia mewarisi darah seni dan menuntunnya menekuni bidang penulisan. The Catcher In The Rye adalah karya yang mengangkat nama dan reputasinya sebagai penulis.

Alkisah, adalah seorang remaja pria berusia enambelas tahun yang baru saja dikeluarkan dari sekolahnya karena tidak lulus ujian. Dari lima mata pelajaran yang diujikan, hanya satu saja yang lulus : Bahasa Inggris.

Holden Caulfield, anak yang tidak lulus itu, sebenarnya cukup cerdas. Terbukti ia diterima di Pencey Prep, sekolah paling favorit di Agerstown, Pensylvania.  Pencey adalah sekolah entah ke berapa yang disinggahi Holden setelah ia dikeluarkan dari sekolah-sekolah sebelumnya dengan kasus yang nyaris sama.
Peristiwa itu terjadi pada bulan Desember menjelang hari Natal. Sebenarnya, Holden masih punya waktu tiga hari lagi sebelum benar-benar harus hengkang dari Pencey. Namun, pertengkaran dengan teman sekamarnya, memaksa ia harus meninggalkan sekolahnya itu lebih cepat.

Dalam kebingungannya tak tahu harus ke mana – ia tak berani pulang ke rumah – Holden lantas terdampar dari satu penginapan ke penginapan lainnya, menghabiskan sisa uang sakunya di bar dan klub-klub malam dengan menenggak minuman keras serta ‘main perempuan’. Tingkahnya yang sok dewasa itu sering  menimbulkan kelucuan atau malah keharuan. Ia membenci hampir semua orang dan segala hal dalam hidupnya, kecuali kedua orang adiknya :  Phoebe dan Allie. Phoebe pulalah yang kemudian membuat Holden membatalkan niatnya untuk kabur dari rumah selamanya.

Kisah ini hampir seluruhnya disampaikan dalam bentuk monolog Holden yang dipenuhi umpatan dan caci-maki kepada semua orang dan segala hal : teman sekamarnya, kakaknya, kepala sekolahnya, film-film Hollywood, sekolahnya, pemain piano di bar, pemilik klub, dan apa sajalah. Dituturkan dalam bahasa percakapan sehari-hari yang ringan, akrab, dan gaul, sehingga kita seperti sedang mendengarkan curhat seorang sahabat yang berlagak tak pedulian, sok berani, namun jujur setengah mati.

Sesungguhnyalah, Holden tidak benar-benar seorang pemarah. Ia hanya berani mengumpat dan mengomel dalam hati. Terbungkus oleh sifat-sifat pemberangnya, sejatinya ia adalah sosok pribadi lembut yang rapuh serta gampang terharu oleh hal-hal kecil.

Konon, masa remaja adalah masa paling sulit dalam hidup seseorang. Masa-masa labil saat seseorang mencoba menemukan identitas dan jati diri. The Catcher In The Rye dengan sangat menawan memaparkan gejolak jiwa, emosi, mimpi-mimpi, serta soal betapa repotnya menjadi seorang remaja (Amerika) berusia enambelas tahun. J.D. Salinger berhasil menghidupkan karakter utama berikut peristiwa-peristiwa yang menyertainya. Dan ia mengakhiri novel psikologi ini dengan sangat menyentuh, menerbitkan rasa haru.

Sungguh mengagumkan, buku yang ditulis lebih dari limapuluh tahun lalu, masih tetap menarik dibaca hari ini.

Sayangnya, dalam edisi bahasa Indonesia ini, ada terjemahan yang terasa kurang tepat, yaitu untuk kata “we” yang seharusnya diterjemahkan sebagai “kami”, sering diterjemahkan menjadi “kita”.

Sumber: Blog Buku Endah Sulwesi.

Bibliografi Gus Dur

Oleh Ahmad Subhan*

Gus Dur adaGus Dur 2lah salah satu Presiden Indonesia yang cukup banyak dan beragam buku dituliskan tentang pribadi, kehidupan, serta kontroversi seputar gagasan dan langkah politiknya. Ada yang memuji, membantah, menggugat, melawan, bahkan menjadikannya seolah-olah bahan lelucon. Dari segi proses penulisan, beberapa buku bisa dimasukkan dalam kategori fast book, ada juga yang merupakan hasil penelitian doktoral. Buku cerita bergambar yang mengisahkan kehidupan Gus Dur kecil untuk segmen pembaca anak-anak juga ada. Biografi Gus Dur yang ditulis dalam aksara Cina pun ada.

Ke depan, bisa jadi buku tentang Gus Dur akan menjadi tren pasar buku, baik lewat cara cuci gudang, cetak ulang, maupun buku baru. Untuk itu, tidak ada salahnya bila menyimak bibliografi Gus Dur.

Bibliografi ini disusun dengan bantuan Google Buku. Pembaca dapat menyimak beberapa halaman buku-buku dalam bibliografi ini dengan mengakses tautan yang tersedia. Penulis juga memanfaatkan berbagai ulasan perihal buku-buku Gus Dur di internet sebagai sumber sekunder sekaligus bumbunya. Tulisan pertama di bawah judul Bibliografi Gus Dur ini membahas buku Biografi Gus Dur karya Greg Barton.

* * *

Biografi yang Paling Otoritatif

Judul         : Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid

Penulis      : Greg Barton

Penerbit   : PT LKiS Pelangi Aksara, 2003

Tebal         : 516 halaman

Saat ini, buku tentang Gus Dur yang paling kuat menjadi rujukan adalah karya Greg Barton. Versi perdana buku ini dalam bahasa Inggris, diterbitkan oleh Equinox Publishing pada 2002 dengan judul “Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid”. Tahun 2003 LKiS menerbitkannya dalam versi Indonesia yang diterjemahkan oleh Lie Hua. Cobalah periksa catatan-catatan kaki dalam profil Gus Dur di Wikipedia Indonesia, buku-buku karya Barton adalah sumber utamanya. Kekuatan buku ini juga terlihat dari catatan bahwa paling sedikit buku ini sudah mengalami delapan kali cetak ulang.

Kualitas buku ini tak lepas dari rekam jejak Barton yang cukup dalam dalam mendalami Gus Dur, NU, dan kajian perihal pemikir dan pemikiran Islam di Indonesia. “Biasanya seorang penulis biografi tokoh hanya memerlukan beberapa waktu untuk mempelajari dokumen dan mewawancarai keluarga dan kawan dekat tokoh tersebut. Saya termasuk yang beruntung, sebab selain sudah melakukan penelitian terhadap pemikiran Gus Dur selama bertahun-tahun, saya juga mendapatkan pengalaman menarik, masuk dalam keseharian dan kehidupan emosional Gus Dur dari dekat. Saya selalu bersama Gus Dur selama tujuh bulan dari 21 bulan masa kepresidennya,” aku Barton.

Barton mengenal Gus Dur sejak akhir dekade 80-an, Barton juga menghasilkan beberapa buku yang mengaji Islam di Indonesia, antara lain: 1) Nahdlatul Ulama, Traditional Islam and Modernity (bersama Greg Fealy, 1996); 2) Gagasan Islam Liberal: Telaah terhadap Tulisan-tulisan Nurcholish Madjid, Djohan Effendi, Ahmad Wahib dan Abdurrahman Wahid, 1968-1980; 3) Difference and Tolerance: Human Rights Issues in Southeast Asia (1994); dan 4) Abdurrahman Wahid: Muslim Democrat, Indonesian President (2002). Barton juga produktif membawakan paper tentang studi Islam di Indonesia dalam forum-forum internasional.

Dalam situsnya, LKiS menekankan isi perihal hubungan sipil-militer selama masa awal reformasi, dan era tersebut ialah era kepemimpinan Abdurrahman Wahid yang berlangsung sejak 20 Oktober 1999. Suatu era ketika sejumlah kebijakan penting dihasilkan dalam rangka penegakan supremasi sipil, keberhasilan militer Indonesia melakukan konsolidasi internal, serta masa penuh ketegangan antara hubungan sipil (Presiden Abdurrahman Wahid) dengan militer. Lantas kita tahu bahwa militer tidak mendukung Gus Dur dalam pemberlakuan dekrit, hingga kemudian ia dimakzulkan pada 23 Juli 2001.

Barton membatasi ujung isi buku ini pada akhir tahun 2001, masa diturunkannya Gus Dur dari kursi kepresidenan RI. Dalam acara diskusi buku biografinya pada tahun 2002, Gus Dur berseloroh, “Sehabis buku ini saya akan bikin kumpulan artikel dengan judul ‘Kolom dan Artikel Era Lengser’.”

Kalaupun hendak disebut kelemahan, buku ini menurut Yenny Wahid mengatakan tidak mampu mengungkap secara menyeluruh pribadi ayahnya. Karenanya, Yenny berharap di masa mendatang akan ada buku serupa yang bisa mengungkapkan sisi lain dari Gus Dur. Sedangkan Pramoedya Ananta Toer yang mengaku belum membaca buku ini, beropini bahwa buku-buku biografi tokoh terkemuka di Indonesia lebih banyak ditulis orang asing. “Bukan hanya biografi, tetapi juga buku sejarah mungkin karena objektifitas dipandang sangat tinggi,” kata Pram.

* Ahmad Subhan, Pustakawan IRE Yogyakarta dan kontributor Portal Online Indonesia Buku

**) Simak beberapa halaman “Biografi Gus Dur” di sini

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan