-->

Arsip Resensi Toggle

Karamazov Bersaudara | Dostoevsky (Novel Grafis)

karamazov

Judul: Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)
Penulis: Dostoevsky
Penerjemah: Isao Arief
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal: 382 hlm
Oleh: Hernadi Tanzil
Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “Karamazov Brother”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.
Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.
Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD, Tokyo Japan.
Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.
Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.
Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.
Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.
Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.
Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.
Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.
Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.
Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.
Selain Karamazov Bersaudara, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain Metamorphosis (Kafka), Crime and Punishment (Dostoevsky), King Lear (Shaskepheare), dan sebagainya.
Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.
@htanzil

Judul: Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)

Penulis: Dostoevsky

Penerjemah: Isao Arief

Penerbit: Elexmedia Komputindo

Tebal: 382 hlm

Oleh: Hernadi Tanzil

Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “Karamazov Brother”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.

Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.

Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD, Tokyo Japan.

Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.

Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.

Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.

Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.

Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.

Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.

Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.

Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.

Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.

Selain “Karamazov Bersaudara”, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain “Metamorphosis” (Kafka), “Crime and Punishment” (Dostoevsky), “King Lear” (Shaskepheare), dan sebagainya.

Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.

@htanzil

Historiografi Perbudakan | Anwar Thosibo (2002)

HistoriografiJudul : Historiografi Perbudakan, Sejarah Perbudakan diSulawesi Selatan Abad XIX
Penulis : Anwar Thosibo
Penerbit : Yayasan Indonesiatera
Cetakan : Pertama, Februari 2002
Halaman : 190 hlm

Riwayat Budak dari Sulawesi Selatan
Oleh: Dedy Ahmad Hermansyah

Sepanjang sejarah peradaban manusia, persoalan perbudakan seperti tak pernah alpa mewarnai setiap perjalanannya. Perbudakan menjadi sesuatu yang diperdebatkan, menyimpan kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya sendiri: ia dianggap berjasa membangun peradaban, tapi sejarah dirinya sendiri kelam tanpa penerang.

Perbudakan, sebagai satu fenomena historis (sekaligus senantiasa aktual), mesti dipahami dalam perspektif yang lebih kontekstual. Sebab, pemahaman yang dangkal dalam melihat fenomena sosio-kultural tempat perbudakan itu hadir, akan membawa kita pada satu kesimpulan dangkal pula. Bahkan, kata ‘perbudakan’ itu sendiri mesti dibedah kembali, dari mana asal kata itu datang, jika kata itu hendak diuji kebsahannya pada satu wilayah yang berbeda.

Dalam perspektif itulah buku “Historiografi Perbudakan, Sejarah Perbudakan di Sulawesi Selatan Abad XIX” ditulis. Mengambil fokus tiga wilayah etnis: Bugis, Makassar dan Toraja. Keprihatinan penulis akan langkanya buku yang mejelaskan tentang perbudakan dari sudut pandang ‘Indonesia-sentris’, atau ‘etnis-sentris’, mendorongnya untuk menjelajahi fenomena perbudakan ‘dari dalam’, serta menguji konsep perbudakan yang kerap digunakan oleh kacamata Eropa untuk melihat perbudakan di Sulawesi Selatan. Usaha ini tentu saja tak bermaksud membela keberadaan perbudakan, melainkan mengajak kita lebih bisa memahami persoalan lebih dalam. Usaha ini juga tentu akan sangat berguna bagi mereka yang bergerak dalam aktifitas anti-perbudakan, agar dalam penyusunan agenda gerakan lebih kontekstual dan lebih efektif.

Buku ini menarik, selain alasan disebutkan sebelumnya—menggunakan sudut pandang Indonesia-sentris dan etno-sentris—juga, sebagaimana disebutkan dalam ‘Pengantar Penerbit’, dapat menjadi catatan sejarah kolonial, sebagai sejarah lokal, berguna juga dalam kajian sosial dan antropologi. Dari tiga alasan itu, kita akan memahami hubungan serta kaitan dan pengaruh antara kolonialisme dengan fenomena sosial dan budaya terkait dengan isu perbudakan.

Hubungan Vertikal Tuan-Hamba: Akar Praktek Perbudakan

Dalam naskah lontara Sulawesi Selatan, disebutkan bahwa masyarakat akan makmur bila anggotanya menempatkan di atas yang di atas, di bawah yang di bawah, di timur yang di timur, dan di barat yang di barat (hal. 89). Isi naskah lontara tersebut menjadi satu legitimasi tersendiri bagi satu hubungan vertikal dalam stratifikasi sosial masyarakat Sulawesi Selatan. Hubungan bersifat hirarkis tersebut, dalam prakteknya penuh goncangan-goncangan, konflik-konflik, kontradiksi-kontradiksi.

Berangkat dari pola hubungan vertikal ini, Anwar Thosibo, penulis buku ini, mengajak kita menjelajah masuk ke dalam akar perbudakan di Sulawesi Selatan. Karakter-karakter serta pola interaksi antar aktor menjadi satu kekhasan tersendiri dalam usaha memahami perbudakan di Sulawesi Selatan.

Hubungan vertikal ini termanifestasi dalam hirarki tuan-hamba. Dalam masyarakat pertanian dikenal dengan ajoareng-joa, dan dalam masyarakat perdagangan dikenal dengan ponggawa-sawi. Ajoareng dan ponggawa adalah tuan yang berasal dari kelas bangsawan atau kelas terkemuka. Sementara joa dan sawi adalah pengikut yang berasal dari kelas bawah yang miskin atau hamba sahaya. Di antara tuan dan hamba, terjalin satu ikatan dan interaksi yang saling membutuhkan. Si hamba membutuhkan sang tuan untuk memperoleh kebutuhan sehari-hari serta perlindungan, sebab itu ia harus menunjukkan kesetiaan kepada tuannya. Sang tuan harus memberi apa yang menjadi kebutuhan si hamba: perawatan, keamanan, makanan dan lain-lain. Yang penting diketahui: hubungan ini bersifat suka rela, artinya dapat diputuskan sewaktu-waktu. Hubungan bersifat suka rela ini, oleh masyarakat Sulawesi Selatan disebut dengan minawang (hal.78).Pola interaksi hirarkis ini kemudian diistilahkan dengan sistem kepengikutan.

Sistem pengikut ini merupakan unsur kunci dalam masyarakat Sulawesi Selatan. Gagal memahami karakter-karakter dalam sistem ini, akan membawa kita pada kegagalan dalam melihat perbedaan nyata antara konsep perbudakan Eropa yang dibawa masuk ke dalam praktek perbudakan di Sulawesi Selatan. Mungkin istilah lokal untuk perbudakan adalah kasuwiang. Kasuwiang merupakan kepercayaan asli yang menunjuk pada laku perbuatan yang dijalani seorang hamba dalam usahanya mendekatkan diri kepada Tuhannya (hal. 166). Kasuwiang ini memiliki kemiripan kategori dengan perbudakan, tapi tak bisa dikatakan sama. Dalam perbudakan, hubungan tuan-hamba didasarkan nyata pada eksploitasi si hamba oleh sang tuan. Sementara dalam kasuwiang, hubungan tuan-hamba sedikit bersifat manusiawi, di mana sang tuan memliki kewajiban melindungi si hamba, dan si hamba memiliki kewajiban untuk mengabdi kepada sang tuan.

Hubungan ini bahkan terkesan saling bekerja sama dan sangat akrab. Antara tuan dan hamba ada ikatan yang erat. Mereka saling membela dan melindungi jika salah satu pihak mendapat kesulitan atau bahaya. Jika harta seorang pengikut atau hamba dicuri, tuannya akan mengatakan, “hartaku dicuri.” (hal. 83).

Meski begitu, konflik kerap kali muncul antara tuan dan hamba. Hal ini terjadi biasanya jika si hamba merasa sang tuan tak mampu lagi memberi jaminan kebutuhan dan keamanan baginya dan keluarganya. Si hamba memiliki hak untuk pergi dan memutuskan hubungan sebagai pengikut si tuan.

Akan tetapi, kasus seperti itu jarang terjadi. Sistem pengikut dalam masyarakat Sulawesi Selatan begitu mengakar. Sekali ikatan minawang itu terjalin, sukar sekali untuk putus. Hamba yang terikat begitu erat dengan tuannya biasanya akan menunjukkan kesetiaan yang dalam untuk tuannya. Contoh paling nyata adalah cerita tentang Karaeng Bonto Kappang asal Maros. Suatu hari ia melarikan diri dari kejaran pasukan Belanda menggunakan perahu. Di tengah sungai ia tenggelam. Pengikut-pengikutnya yang mendiami sebuah kampung kecil di daerah Maros mendengar berita tentang tuan mereka. Mereka pun memutuskan untuk bunuh diri dengan mengiris pergelangan tangan, tanda kesetiaan mereka kepada tuan mereka,Karaeng Bonto Kappang. Kampung itu pun dijuluki dengan kampung ‘turu bela’, artinya ‘ikut mati’. (hal. 84).

Budak: Barang Dagangan

Praktek perdagangan budak sebetulnya telah lama dijalankan jauh sebelum Belanda datang menaklukkan Sulawesi Selatan secara defintif pada 1667. Kerajaan-kerajaan besar yang menang perang akan mendapatkan tawanan. Para tawanan dari kerajaan yang dikalahkan, selain dijadikan budak kerajaan (oleh Belanda disebut Ornamen Slaven), juga dijual ke pulau-pulau seberang. Praktek perdagangan budak ini semakin marak dan merajalela seiring dengan meningkatnya aktifitas produksi barang hasil pertanian mau pun laut. Secara geografis, budak-budak yang dijual diambil dari pegununungan dibawa ke dataran rendah, dari kerajaan-kerajaan kecil ke kerajaan besar yang lebih kaya, dari masyarakat non-muslim ke masyarakat muslim.

Selain itu, maraknya perdagangan budak mulai muncul saat permintaan Belanda akan tenaga kerja meningkat. Belanda kekurangan tenaga kerja untuk dipekerjakan dalam geladak dan galangan kapal, di tempat-tempat kerajinan tangan, dan rumah-rumah pejabat, bahkan untuk mengisi lowongan ketentaraan pada tingkat rendahan (hal. 125). Garis distribusi penyaluran budak untuk Belanda melalui hirarki: lokal, regional, dan tempat penyaluran utama. Sampai dengan taraf tertentu, sistem hirarki ini memenuhi permintaan Belanda, yang tak pernah puas terhadap budak.

Praktek perdagangan perbudakan ini mendapat kritikan serius dari kelompok anti-perbudakan. Kelompok ini muncul dari kalangan liberal Belanda. Pada pokoknya, kaum liberal memperjuangkan kebebasan pribadi manusia dari segala bentuk penindasan dan pengungkungan oleh manusia atas manusia (hal. 145). Tokoh-tokoh yang vocal menyuarakan hal ini adalah Dirk van Hogendorp dan W.R. van Hoevell. Usaha-usaha yang dilakukan untuk mengkritik fenomena perbudakan ini dilakukan dalam banyak cara: tulisan dalam majalah dan buku, protes langsung ke pemerintah Belanda, menyusun konsep pembebasan budak kemudian diusulkan kepada pemerintahan Belanda. Namun, sesungguhnya, mendahului orang Belanda, Raffles telah menerapkan konsep anti-perbudakan saat Inggris menggantikan kekuasaan Belanda di Indonesia. Sayangnya, karena umur kekuasaan Inggris yang singkat, yakni tahun 1812 hingga diambil alih kembali Belanda pada 1818, penerapan konsep itu tidak berjalan maksimal.

Usaha serius itu menghasilkan satu undang-undang tentang penghapusan perbudakan di seluruhNederland Indie yang dikeluarkan pada 7 Mei 1859. Dengan undang-undang ini, secara resmi perbudakan dihapuskan di seluruh Hindia Belanda sejak 1 Januari 1860. Praktek undang-undang ini melalui fase pendataan para budak, kemudian memberi ganti rugi kepada si pemilik budak. Fase ini diambil dengan terlebih dahulu melalui banyak rintangan dan halangan. Rintangan untuk penghapusan perbudakan itu adalah kekhawatiran terjadinya pemberontakan, disebabkan pemilik-pemilik budak adalah orang-orang berpengaruh, kaum bangsawan, yang salah satu penopang keberadaan dan status kebangsawanannya tergantung pada kepemilikan budak.

Akan tetapi, meski telah dibuat dan diberlakukan undang-undang tersebut, pengecualian diberlakukan untuk Sulawesi Selatan. Penindasan terhadap perbudakan pribumi sering dijadikan dalih untuk melakukan intervensi. Baru pada 1863 Belanda memperlihatkan kesungguhan dalam usaha menekan perbudakan di Makassar.

Rumah Arwah (House of Spirit) | Isabel Allende (2010)

Isabel AllendePenerjemah: Ronny Agustinus | Ukuran: 13.5 x 20 cm | Tebal: 600 halaman | Pertama, 1 Juni 2010

ARWAH PARA REZIM
Oleh Fahri Salam

Pada 1982, saat Nobel Sastra diberikan kepada Gabriel García Márquez untuk “penggambarannya yang kaya dengan kombinasi tuturan dongeng rakyat dan realitas, alusi dan kenyataan”, di tahun yang sama, Isabel Allende menerbitkan novel perdananya, La Casa de los Espiritus. Fiksi Allende menambah deretan generasi ‘post-boom’ – suatu gerakan kesusastraan Amerika Latin yang menjangkau dunia internasional dengan antusiasme yang lahap. Pionernya, Cien años de soledad, terbit pada 1967 dari tangan imajinasi Marquez yang mengenalkan realisme magis – pendekatan fiksi dengan menggabungkan realitas dan fantasi.

Jika Gabo mengenalkan Macondo, latar fiktif bagi keluarga Buenda, kisah perjuangan politik di tengah terpaan penindasan dan eksploitasi ekonomi, maka Allende mengenalkan latar negara Latin (alusi untuk Chile) – plus ladang pertanian bernama Tres Marias – dalam kurun pergolakan politik modern sesudah Perang Dunia melalui hikayat keluarga Trueba. Berfokus pada tahun-tahun pergulatan ideologi dunia, sama halnya Soledad, Allende menghembuskan nafas humanisme kepada tokoh-tokohnya dalam Espiritus.

Abad 20 memang penuh gejolak. Sesudah Perang Dunia, geopolitik antara blok Timur dan Barat mengubah peta nasib untuk jutaan umat manusia yang lahir di Dunia Ketiga. Jika kurun nasionalisme membentuk kesadaran akan pahitnya kolonialisme berselimut rasialisme, maka kurun berikutnya adalah kampanye “menangkal bahaya komunisme” untuk Asia, Afrika dan Amerika Latin. Ini era di mana sebagian umat dunia terpaksa mengungsi dari tanah lahir mereka; mereka terusir, mereka hilang secara paksa, mereka memangul senjata, mereka terpisah dari garis keturunan akibat fragmentasi keyakinan politik.

Kaum kiri di Indonesia, sebagian besar di Jawa dan Bali, harus tunggang-langgang mengemasi nyawanya pada 1965. Antara 500,000 hingga 2 juta orang terbunuh. Bagi mereka yang selamat, dituduh simpatisan dan anggota komunis, pemerintahan baru bentukan restu kepentingan modal – kolonialisme baru berkedok kapitalisme – membuka saluran modernisasi wilayah tak bernama Pulau Buru. Ini sebuah lokus isolasi di Kepulauan Maluku bagi sedikitnya 14,000 tahanan politik yang dipaksa mengeraskan otot-ototnya selama setidaknya 10 tahun dalam sistem kamp konsentrasi.

Pada 1974, Timor Leste dipaksa telentang di bawah boot tentara, yang kebanyakan dikirim dari Pulau Jawa. Hingga 1999, jumlah korban mati di negara baru itu sedikitnya 183,000 selama pendudukan ala teknokratisasi militer Indonesia.

Di Amerika Latin, hal sama pun berulang, tak terkecuali Chile. Upaya pendukung militer, terutama dari Amerika Serikat, telah menyalin mentah-mentah apa yang sudah dipraktikkan di Jakarta. Pada September 1973, militer mengkudeta pemerintahan sah presiden sosialis Salvador Allende, yang baru berkuasa tiga tahun. Augusto Pinochet, seperti halnya Mayjen Soeharto, berkuasa kemudian dan menikmati kekayaan di atas banjir darah.

Jutaan korban dibikin sunyi. Sastra, sedikit-banyak, memberikan suara.

Itulah kesan pendek dari garis besar kurun berdarah pada abad 20 sesudah membaca kesaksikan fiksi yang dibawa Allende dalam Espiritus. Buntut kudeta Pinochet, serta menyandang nama keluarga dari garis ayah, yang mengubah semua kehidupannya, Isabel Allende menyelamatkan diri ke Venezuela selama 13 tahun. Pada 1981, Allende mendengar kakeknya, berusia 99 tahun, sekarat di Chile dan mulai mengirimkan surat. Korespondensi surat-surat inilah yang mengilhami penulisan novel tersebut.

La Casa de los Espiritus atau The House of the Spirit (diterjemahkan menjadi Rumah Arwah oleh Ronny Agustinus), menuturkan tiga perempuan berbeda generasi dengan latar pergolakan politik di satu negara Amerika Latin. Kisah bermula dari kedatangan Barrabás, binatang serupa anjing dengan tubuh sebesar monster, yang dibawa buyut Marcos – paman Clara, nenekanda Alba. Clara, yang masih kecil namun sudah memiliki kemampuan sihir bak cenayang, mulai menulis segala kronik keseharian yang melingkari hikayat keluarganya. Esteban Trueba, pemuda bungsu dari keluarga kaya yang bangkrut, jatuh cinta kepada Rosa, yang memiliki kulit terang kebiruan, rambut hijau dan menyimpan keanggunan bahari.

Demi tekadnya menikahi Rosa, Trueba berburu emas, dengan sifatnya yang pemarah dan logis, melihat dunia hanya hitam dan putih. Malang baginya, Rosa mati keracunan tanpa sengaja — yang dialamatkan untuk ayah Rosa, Severo del Valle atas aktivisme politiknya yang berkiblat pada partai liberal.

Dimulailah petualangan Trueba membuka kembali lahan pertanian di ladang Tres Marias, warisan terbengkalai almarhum papanya. Ia kemudian menjadi tuan tanah sukses. Lelah dengan petuangan seksual terhadap gadis-gadis desa, yang dipandangnya sebatas objek ragawi dari cerminan penduduk desa bodoh dan miskin, Trueba menemukan pasangan hidup pada diri Clara, adik Rosa. Lahirlah anak-anak dari pasangan ini: Blanca, bersifat lembut namun pemberontak, serta si kembar Nicolás dan Jaime, yang berbeda watak.

Pada musim panas keluarga ini ikut Trueba ke Tres Marias. Seiring remaja, Blanca menambatkan hatinya pada pemuda dekil Pedro Tercero Garcia, anak petani si mandor Pedro Segundo Garcia. Percintaan tersembunyi dua remaja tanggung ini melahirkan Alba, cucu Trueba yang menjadi anggota keluarga paling disayang oleh Trueba sekaligus mesin penggerak kisah novel ini.

Tercero Garcia adalah manifestasi seniman rakyat, yang membuhulkan impian kaum petani mengolah tanahnya sendiri – melalui kisah sederhana dari lagu-lagu yang dibawakannya tentang ayam dan rubah. Jika ayam dapat bersatu, demikian isi dongeng rakyat Garcia, maka rubah pun akan takut mengganggu kehidupan mereka. Ayam adalah simbolisme kaum tani. Rubah adalah antagonisme tuan tanah dan pemilik modal. Kesadaran Garcia juga ditempa seorang pendeta sosialis yang meyakini “… gereja memang ada di sisi kanan, tapi Yesus Kristus selalu di kiri.”

Betapapun Trueba menyayangi Alba, ia tak pernah memaafkan tindakan Blanca, bahkan mencari-cari Tercero Garcia dan berusaha membunuhnya, lewat pertengkaran sengit, hingga meninggalkan cacat pada tangan Garcia. Bertahun-tahun kemudian mereka bertemu lagi, dalam situasi berbeda, di mana Trueba menjadi tahanan petani Tres Marias dan Garcia datang untuk menyelamatkannya atas permintaan Blanca. Keduanya akan rujuk sesudah Trueba menyadari aktivisme politiknya, yang berada di tangsi militer, berjalan penuh kelokan tajam – membunuh Jaime (dokter pribadi sang Presiden sosialis) dan menyiksa Alba atas dendam pribadi anak haram Trueba – suatu kepercayaan naif Trueba kepada kaum militer lewat kudeta yang disokong negara-negara Barat. Babak kudeta, yang menyuruk keluarga ini hingga tak terperi, merupakan salinan realitas atas peristiwa kudeta Chile pada 1973.

Isabel Allende menggali kehidupan para korban penggulingan berdarah ini sebagai arwah gentayangan yang menggelayut mendung hitam kediktatoran pemerintahan militer Pinochet. Generasi sesudah transisi rezim kotor ini menanggung beban sejarah maha berat di pundaknya. Saat rezim beralih ke arah yang lebih demokratis pada 90-an, baik di Eropa Timur maupun di Asia dan Amerika Latin, berbagai persoalan masa lalu itu terbuka bak kanker kronis yang segera diobati.

Ada negara-negara yang berhasil. Ada yang tersuruk dalam peperangan berlatar etnik. Ada kekerasan komunal di kota-kota terluar dari pusat-pusat kekuasaan. Segera sesudahnya, dunia internasional kembali diingatkan akan sejarah teror masa lalu, yang tak mungkin lagi bersandar pada alibi naif setelah mereka palingkan muka bertahun-tahun.

Latar Espiritus secara umum tak hanya Chile – negara si pengarang; namun juga secara geopolitik adalah negara-negara Amerika Latin. Saat negara Selatan mulai meraih politik populismenya – lewat pemimpin sosialis mereka, dari Venezuela hingga Bolivia — di Indonesia sendiri misalnya, yang mewarisi kejahatan HAM tanpa pernah diadili, masih berada dalam persimpangan, meski proses transisi itu sudah berjalan lebih dari satu dekade.

Bahkan kini yang menonjol populisme kaum kanan, berlatarbelakang agama mayoritas, yang menguasai ruang-ruang publik di jalanan; beberapa di antaranya telah memasuki legitimasi formal, lewat parlemen dan aturan legal. Keyakinan minoritas ditindas. Pemerintah seringkali dengan sengaja membiarkan proses pembusukan kebebasa sipil ini. Kemiskinan menjadi bisul busuk yang menjalar di wilayah-wilayah terluar. Protes-protes pemisahan diri ditekan dan dihancurkan; mereka kembali menjadi korban yang dipaksa untuk bungkam. Kekayaan alam, dari Acheh hingga Papua, dihisap dalam-dalam dan meninggalkan lubang-lubang kehancuran ekologis.

Novel La Casa de los Espiritus ini mengingatkan kita bahwa arwah korban dari para rezim perang kotor itu, untuk sebagian negara, sudah bisa tidur nyenyak di nirvana. Namun di sebagian negara lain, termasuk Indonesia, mereka masih bergentayangan. Mereka terbaring gundah di bahu generasi masa kini, menuntut kedamaian abadi melalui perjuangan yang seringkali bak dongeng sisiphus…

Disclosure:
* Untuk melihat mitologi prosa Allende selalu dimulai pada tanggal 8 Januari, gara-gara pengakuan internasional atas novel ini, sila tengok tautan wawancaranya.
* Untuk keterangan Nobel Sastra 1982 kepada Gabriel Garcia Marquez, lihat jendela ini.
* Untuk website Allende.

Pacar Merah Indonesia (Buku 1 dan 2) | Matu Mona

Pacar Merah Indonesia, Tan Malaka2Klandestin Para Super-Patriot

Oleh: Muhidin M Dahlan

Setelah pemberontakan PKI 1926 yang berlangsung di Banten, Batavia, Semarang, dan Padang dipatahkan dalam hitungan hari oleh pemerintah Hindia Belanda, ribuan pengikut orgaan paling militan di awal tahun 1920-an ini dibui dan dibuang ke Digul. Yang lainnya melarikan diri dan menjadi manusia kalong di negeri orang. Termasuk lima+satu pemimpin mudanya: Semaun, Djamaludin Tamin, Musso, Alimin, Darsono, dan tentu saja Tan Malaka.

Kisah pelarian lima+satu tokoh PKI itu yang kemudian dijadikan Matu Mona (nama pena wartawan Hasbullah Parindurie) sebagai latar cerita.

Spionnage-Dienst (Patjar Merah Indonesia) menjadi judul awal saat roman ini diterbitkan sebagai cerita bersambung di Pewarta Deli, 9 Juli-19 September 1934. Karena mendapat sambutan yang baik, seri cerita ini pun diterbitkan dalam bentuk buku pada 1938 oleh Centrale Courant en Boekhandel (Toko Buku dan Surat Kabar Sentral) di Medan.

Sebagaimana judulnya, roman ini menjanjikan adegan penyamaran yang licin, spionase yang seru dan penuh kejutan, klandestin dengan latar politik pengejaran pimpinan PKI yang ngalong di Eropa, Amerika, dan Asia.

Matu Mona mengaku, ia mengail bentuk roman ini dari dua karya sukses Baronesse Orczy yang sudah diterjemahkan Balai Pustaka pada 1928, yakni Beloet Kena Randjau atau Patjar Merah Terjerat dan Litjin Bagai Beloet. Pacar Merah dalam karya Matu Mona adalah Scarlet Pimpernel dalam karya Orczy.

Kita tentu saja tak mungkin melakukan pencocokan sejarah yang sepersisnya dalam roman Matu Mona ini. Sebagaimana kata “penyambung lidah” dan penemu kuburan Tan Malaka, Harry A Poeze, roman ini “mencampur-adukkan fakta, desas-desus, khayalan”.

Tapi dalam skala minimum, koneksi ke sejarah itu masih bisa dirabai. Misalnya penyebutan nama tokoh-tokohnya, seperti Djalumin, Paul Mussote, Ivan Alminsky, Semaunof, Darsonov yang memiliki kemiripan dengan nama tokoh-tokoh kunci PKI generasi pertama (Djamaludin Tamin, Musso, Alimin, Semaun, dan Darsono), yang menjadi dasar bahwa ini adalah roman sejarah yang diracik dengan bumbu khayal dan mitos yang kadang berlebih.

Atau tentang Tentonstelling Coloniale (Pameran Besar Hindia) di Paris yang merendahkan bangsa Timur yang dikecam penuh amarah oleh Paul Mussote. Peristiwa itu nyata dan kemudian oleh Frances Gouda dalam Dutch Culture Overseas dijadikan panduan penting untuk menjelaskan hubungan yang bias antara penjajah dan negara jajahannya.

* * *

Matu Mona menyebut kelima aktivis kalong itu sebagai Super Patriot dengan Pacar Merah atau Tan Malaka (nama ini tak pernah disebut) menjadi tokoh sentralnya. Pacar Merah dalam roman ini adalah nabi pergerakan Indonesia yang disamakan begitu saja oleh Matu dengan Mussolini di Italia, Stalin di Uni Soviet, Kemal Pasha di Turki (Buku 1: 43), Jose Rizal di Filipina (Buku I: 167), bahkan mirip dengan tokoh fiksi Don Quixot (Buku 1: 193)

Selain menjadi aktivis pergerakan yang misterius—mysteryman (dalam Buku 2 tertulis: mysterieman), Pacar Merah punya koneksi jaringan bawah tanah di banyak negara yang terus menjaga gerakannya dengan cita-cita besar memerdekakan Nusantara. Ia menjadi target utama PID Hindia Belanda di pelbagai negara karena pengaruhnya. Itulah sebab kepalanya dihargai sebesar: 50 ribu dollar. Proses pengejaran Pacar Merah bersama para pelindungnya inilah yang membuat roman ini menjanjikan ketegangan.

Di Buku 1, pembaca akan disuguhkan kisah Pacar Merah menjadi sosok yang “licin bagai belut” (hlm 78) dan dengan lihai berpindah-pindah tempat antar negara seperti: Bangkok, Singapura, Filipina, Indocina, New York, dan berakhir di Hong Kong dengan tertangkapnya Pacar Merah yang kemudian dilepaskan kembali. Sementara di Buku 2, kita akan mengikuti tokoh-tokoh ini gentayangan di Perancis, Spanyol, Jerman, Uni Soviet, dan berakhir di front pertempuran Palestina melawan Zionis Yahudi dengan tewasnya Alminsky dan luka parahnya Pacar Merah.

Dengan bahasa campur baur (Melayu, Inggris, Belanda, Prancis), Matu Mona menggosok kemampuan belut tokoh-tokoh ini lolos dari spionase PID yang ditanam di hampir semua negara. Berderet-deret nama samaran dilekatkan pada Pacar Merah untuk menjadikannya tokoh paling berkabut, seperti Vichitra (di Bangkok), Puting Ulap dan Profesor Martines (Filipina), Tan Min Kha (Indocina), Ibrahim el-Molqa (Arab/Palestina), dan Amru (Samarkand, Kauskasus, Rusia).

Bermacam-macam pula modus coba diracik Matu Mona agar ceritanya selalu menyimpan greget. Di Buku 1, misalnya, pembaca akan disuguhkan peristiwa bagaimana Pacar merah diselundupkan organ bawah tanah Siam-Malaya untuk lolos dari sergapan dalam kapal barang. Atau di Buku 2, bagaimana Darsonov berhasil memperdayai PID Paris dengan bersembunyi di Masjid (hlm 23-24).

Disebutkan juga bahwa Pacar Merah memiliki azimat yang bisa memprediksi apa yang terjadi di masa depan. Termasuk kekuatan gaib. “Aku dapat menghilangkan diriku. Biarpun beribu manusia mengepung,” kata Pacar Merah (Buku 1: 77-80; Buku 2: 46-48). Bahwa Pacar Merah punya aji kekebalan tubuh (Buku 1: 203). Bahwa Pacar Merah punya ilmu hipnotis yang bisa memperdaya PID Moskow (Buku 2: 183, 185). Bahkan Mussote, lewat perjalanan yang melelahkan menembus kembali Indonesia dieluk-elukkan warga sebagai Ratu Adil dengan membagi-bagikan beras dan uang kepada petani melarat. (Buku 2: 161, 163)

Dalam proses penyamaran itu, Pacar Merah dan rekan-rekannya senasib kemudian kita dapatkan menjadi manusia Super Patriot: pribadi-pribadi yang mencintai negerinya, tapi terperangkap menjadi warga tanpa negara selama bertahun-tahun lamanya. Kerinduan yang meraung dan petualangan penuh kesepian itu yang terus dieksploitasi Matu Mona dengan dilengkapi percintaan tanpa seks antara Pacar Merah dengan Ninon Phao (Bangkok), Pacar Merah dengan Agnes Palloma (Filipina), serta Ivan Alminsky dengan Michelle (Paris).

Matu Mona saya kira berlebihan meletakkan Pacar Merah dalam konteks pribadi menjadi kalong politik di Eropa, Amerika, dan Asia. Dari detail yang saya catat di Buku 1 dan 2, Pacar Merah disebut-sebut pribadi luhur tanpa cacat, seorang ksatria budiman (hlm 60), pentolan kebangsaan (hlm 90) yang kalis dari seks, sesosok di mana masa depan pergerakan Indonesia diletakkan di pundahknya.

Apalagi Matu Mona menempatkan Pacar Merah dan rekan-rekannya nyaris selalu hadir dalam momentum sejarah besar pergolakan revolusi di sejumlah negara.

Di Buku I, Matu Mona berada di tengah arus Revolusi Rakyat Thailand (hlm 70) yang hampir meledak, perang besar Tiongkok-Jepang di Indocina/Saigon (hlm 208). Sementara di Buku 2, Matu Mona menempatkannya di perang saudara Spanyol (hlm 50-51), di tengah kelahiran Fasisme Italia dan Perang Ethiopia, kecamuk Nazi Jerman (hlm 70), kediktatoran Kremlin menjadi-jadi (hlm 169), pawai kuasa Syah Iran (hlm. 201), maupun Perang Palestina-Israel (hlm. 78).

Dari segi menjaga ritme keterkejutan, Matu Mona terperangkap pada klise. Di Buku 2, Matu Mona kehilangan daya pukau bercerita sama sekali lantaran nyaris ia hanya mengulangi adegan-adegan detektif, penyamaran, dan tumpukan sindikasi supranatural yang sudah jor-joran disajikan di Buku 1.

Di buku 2 pembaca justru dijejali informasi-informasi ensiklopedis dan kronikal tentang perang dan golak politik besar di Spanyol, Ethiopia, Italia, Prancis, Jerman, India, Iran, Moskow, dan Palestina di tahun-tahun 30-an. Untunglah, pembaca masih tertolong oleh kisah-kisah konyol Darsonov dan kepulangan klandestin Paul Mussote ke Indonesia untuk mengumpulkan basis yang terserpih dan nyaris tak terterangkan dalam sejarah pergerakan.

———

Judul: Pacar Merah Indonesia: Petualangan Tan Malaka Menjadi Buron Polisi Rahasia Kolonial (Buku 1); Pacar Merah Indonesia: Peranan Tan Malaka dalam Berbagai Konflik Dunia (Buku 2)

Penulis: Matu Mona

Penerbit: Beranda, 2010

Tebal: xxxv+271 hlm (Buku 1); xxxii+228 hlm (Buku 2)

Elegy | Isabel Coitex | 2007 (Film-Buku)

Elegy: Kisah Prof Tua yg Malang

Oleh Muhidin M Dahlan

elegyELEGY

Sutradara: Isabel Coitex; Pemain: Ben Kingsley dan Penelope Cruz; Tahun: 2007 (diadaptasi dari novel Philip Roth, The Dying Animal)

Matikan HP. Dan bersantailah sejenak dengan menonton film sendirian. Di rumah yang semua-muanya putih. Seperti rumah terakhir yang menakjubkan. Kali ini giliran film bertitel: Elegy. Kisah seorang tua yang merebut sisa akhir hidupnya dengan buku, sastra, dan kelas mengajar.

Terlalu banyak seks dalam film ini. Tapi yang terpenting adalah sikap Prof David Kepesh atas dunia tua, sebagaimana kata Tolstoy: “Kebahagiaan besar seorang manusia adalah masa tua.” Nyaris nukilan memo Tolstoy itu berseberangan dengan sikap keras kepala filsuf Nietzche yang bilang: “Hidup termalang dan terlaknat justru umur yang melesat sampai tua.”

Mula-mula–dan akhirnya ini yang menguasai nyaris sepanjang film–adalah pengejaran atas intimasi. Ditemukannya tambatan itu pada diri mahasiswinya yang seksi, cerdas, dan menjanjikan: Consuela Castillo. Bersama Consuela, sang prof tua membentangkan perjanjian yang tak pernah terikat.

Prof David adalah khas intelektual pragmatis tua yang selalu merasa isi kepalanya selalu muda. Ia menguasai dengan baik semiotika, kritik seni, menghapal nama dan tempat-tempat yang akrap disebut dalam buku sastra dan sejarah seni Eropa dan Amerika, khatam kajian budaya pop, tanpa cela menyebut deretan nama minuman seperti glenfiddich, bourbon, vodka, cointreu, greund marnies, armagrac. Juga fasih menjelaskan tokoh srikandi cantik dari rimba Amazon, Hippolyta, yang memotong payudara kanannya supaya anak panahnya melesat tepat sasaran tanpa harus membungkuk.

Mirip dengan tema film yang diadaptasi dari novel Garcia Marquez, Love in the Time of Cholera, ini kisah tentang dunia seks kaum tua. Prof David adalah profesor terkemuka lantaran nyaris setiap pekan tampil dalam acara review buku di televisi atau radio, khusus membahas buku-buku bertema budaya pop. Dan tentu saja seks.

Menurut profesor ini, setiap melakukan seks dengan wanita para hamba sahaya umur ini adalah upaya menuntaskan balas dendam atas semua hal yang mengalahkan mereka dalam hidupnya.

Di sebuah diskusi buku di radio, Prof David membahas buku D.H. Lawrence yang dengan indah menulis kisah cinta Lady Chatterly. Bukan soal skandalnya dengan tukang kebunnya, melainkan pertanyaan tentang kesepian kaum tua yang mengejar impian yang terlewat. Dan seks berada dalam daftar impian itu.

Itu dia. Seks. Hanya seks. Bukan pernikahan. Prof David, pemuja warna hitam dan putih, adalah libertarian yang menolak institusi pernikahan dalam hidupnya. Ia menjadi si tua yang sinis. Tapi dia berusaha mengelak dari tuduhan itu. Katanya itu hanya sekadar sikap realistis. Dan dia bersembunyi di sana. Mengajar semiotika, kebudayaan mutakhir, mereview buku setiap pekan di radio ataupun televisi, menulis di New Yorker, bercakap puisi, bercengkerama di kafe favorit, dan macam-macam kegiatan purnadewasa.

Jadinya, film Elegy adalah memoar intelektual dan tindakan sehari-hari menjalani masa tua yang binal, ironi, dan kesepian yang menyertainya. Ia gigih membayar keheningan yang sama setiap harinya; sebuah bahaya halus yang mengintai dari usia yang terus tua; grigisan yang menerus layu.

Inilah kisah profesor tua yang malang yang dengan kesatriaan terakhirnya menolak olok-olok bahwa hidup sampai tua tiada lain adalah hidup yang laknat.

Bintang Merah | CC P.K.I.

1945_Bintang Merah Madjalah

Bintang Merah: Jalan Baru Bagi Kembalinya PKI di Atas Panggung

Terbit pertama kali pada November 1945, Bintang Merah adalah ladang bagaimana pemikiran intelektual-intelektual angkatan muda Partai Komunis Indonesia (PKI) dipupuk. Inilah jurnal yang menjadi penanda kepada publik bahwa PKI bangkit kembali setelah diprovokasi dan dikubur oleh pemerintah kolonial pada 1926. Namun nahas, Bintang Merah ikut terberangus bersamaan dengan kalahnya mereka di Madiun pada September 1948.

Sejak awal berdiri Bintang Merah telah memperkenalkan diri sebagai majalah politik dan diterbitkan Sekretariat Agit-Prop CC PKI. Dengan mengusung jargon ”Mingguan untuk Demokrasi Rakjat” Bintang Merah yang terbit sebanyak dua lembar ini adalah tempat Aidit, Njoto, dan tokoh-tokoh teras PKI menuangkan gagasannya. Masalah kepartaian dan pengumuman tentang CC PKI selalu menghiasi halamannya.

Namun sejak muncul larangan terbit Bintang Merah pimpinan PKI di Yogyakarta kala itu tidak berani menerbitkan kembali.

“Bintang Merah mengetengahkan satu hal bahwa PKI sangat sadar betapa efektifnya media cetak. Bagi PKI, jurnal atau koran bukanlah soal bisnis, tapi soal ideologi, sebagaimana dianut pendahulu-pendahulunya pada periode sebelum 1926. Yang menarik adalah setelah organisasi mereka dikropjok oleh pemerintah, mereka bangkit dengan mula-mula mengorganisasi ide mereka lewat jurnal. Dalam keyakinan anak-anak muda progresif seperti Njoto dan Aidit, Bintang Merah adalah jalan baru dan sekaligus buku pedoman kader membangun dan mendisiplinkan partai.”

Tahun 1949 setelah D.N. Aidit kembali dalam masyarakat, sejak peristiwa razia penangkapan September 1948 di Solo, Aidit dan Lukman segera menerbitkan kembali Bintang Merah untuk “memusatkan seluruh Partai pada satu pimpinan sentral”.

Dalam pengumuman redaksinya, jurnal Bintang Merah terbit kembali sejak 15 Agustus 1950 atau bersamaan dengan waktu peralihan RIS menjadi RI. Duduk di kursi sekretaris redaksi adalah Peris Pardede yang turut serta sebagai redaksi sejak permulaan terbit pada 1945. Pada terbitan ini P. Pardede, M. H. Lukman, D.N. Aidit, dan Njoto menjadi dewan redaksi tatkala terpilih menjadi pimpinan harian politbiro PKI. Di kediaman Pardede, Jalan Kernolong 4 Jakarta, Bintang Merah memasak gagasan-gagasan ideologi mereka sepanjang 1950-1951.

Artikel editorial yang dimuat dalam nomor pertama menyeru kepada semua kaum komunis, kaum patriot dan progresif supaya berkerumum di sekitar Bintang Merah untuk menjadi senjata memperkuat organisasi dan idiologi Partai Komunis Indonesia.

Sejatinya, kelompok yang berkumpul di sekitar Bintang Merah di Jakarta sudah cukup kuat, dan berkembang di seluruh negeri hanya dalam beberapa bulan. Kemajuan itu bisa dilihat dari cetakannya yang semula dicetak 3000, terus naik menjadi 5000, meningkat lagi 7500 dan pada tahun 1951 cetakan kedua mencapai 10.000. Jumlah ini  pun disinyalir terus mengalami peningkatan hingga cetakan-cetakan selanjutnya. Bagi jurnal serius dengan motto Madjalah untuk Demokrasi Rakjat, jumlah cetak itu sudah luar biasa.

Bintang Merah kita memberikan sinar tjemerlang menerangi djalan jang harus ditempuh oleh anggota Partai dan kaum buruh jang sedar akan klasnja. Demikianlah tidak bisa diungkiri lagi, bahwa tersusunnja kembali organisasi-organisasi Partai di-daerah-daerah adalah sebagian besar atas dorongan dan pimpinan BintangMerah kita. Ketjuali itu, bersamaan dengan memberikan dorongan dan pimpinan dalam menjusun kembali organisasi-organisasi Partai didaerah-daerah Bintang Merah kita sekaligus memberikan dasar dan pimpinan untuk memakai sendjata kritik dan self-kritik… ” (Bintang Merah, edisi 1-2 Djanuari 1951)

Jurnal setebal 86 halaman ini memuat artikel-artikel bandingan bagaimana pasang naiknya partai-partai komunis di dunia, baik di Rusia, Tiongkok, maupun Eropa, khususnya Prancis.

Bintang Merah juga memberi dasar-dasar pemahaman bagi Marxisme-Leninisme. Aidit kebagian tugas menulis dengan serius bagian ini, sebagaimana terbaca dalam artikelnya”Dasar-dasar Leninisme” dan ”Karl Marx” yang dimuat bersambung hingga lima kali.

Dari Bintang Merah kita bisa dipahamkan bagaimana anak-anak muda Aidit dan Lukman berselisih dengan rekan-rekannya di Menteng 21 seperti Wikana. Keduanya berkeras memberi tafsir dan makna atas Proklamasi Agustus. Bagi Aidit dan Lukman peristiwa Proklamasi Agustus adalah refleksi besar atas Revolusi Agustus di Uni Soviet.

Bintang Merah memang menjadi mesin penggodokan dan pematangan ideologi organisasi. Maka mereka yang diizinkan menulis di sini hanyalah segelintir orang dalam politibiro, terutama sekali Lukman, Aidit, dan Njoto. Nama yang terakhir ini dalam sebuah artikel panjanganya yang berjudul ”Pemalsuan Marxisme” menolak pengakuan Hatta sebagai seorang komunis. Pernyataan Hatta itu dilansir Njoto dari Harian Sin Po 3 November 1950: ”Apa bedanja antara saja dan seorang komunis? Bedanja jalah melainkan halnja saja masih memegang teguh igama dan seorang komunis tidak mau tahu igama. Lain dari dalam hal igama, tidak bedanja antara saja dan seorang komunis.”

Njoto jelas-jelas menolak pernyataan Hatta itu dengan mengatainya sebagai pengkhianatan atas Marxisme. Sebab di lapangan ekonomi, Hatta sebagaimana dalam percakapannya dengan Liem Koen Hian di Sit Po menganjurkan pembangunan ekonomi secara sosialis tapi menolak nasionalisasi. Terutama nasionalisasi atas perkebunan.

Itu hanya satu contoh bagaimana intelektual-intelektual PKI menyaring sedemikian rupa gagasan yang ”membelokkan” makna Marxisme. Ini terjadi oleh sebab jurnal ini sekaligus menjadi buku panduan bagi kader memahami Marxisme versi Partai Komunis Indonesia.

Pada akhirnya, Bintang Merah adalah jalan baru kedua PKI—setelah ”jalan baru” Musso di Madiun—yang dikelola dan digerakkan oleh anak-anak muda progresif, militan, dan radikal. Jurnal ini merupakan lokomotif pendorong hingga PKI menjadi partai yang diperhitungkan pada Pemilu 1955.  (Rhoma Dwi Aria Yuliantri)

Prahara Budaya (Taufiq Ismail-DS Moeljanto) VS Lekra Tak Membakar Buku (Muhidin M Dahlan-Rhoma Ria Yuliantri)

“LTMB” Melawan “Prahara Budaya”

Oleh Zen Rachmat Sugito

Judul: Lekra Tak Membakar Buku (Suara Senyap Lembar Kebudayaan Harian Rakjat 1950-1965)
Penulis: Rhoma Dwi Aria Yuliantri dan Muhidin M. Dahlan
Penerbit: Merakesumba Yogyakarta, Oktober 2008
Tebal: 582 halaman

Judul: Prahara Budaya (Kilas-Balik Ofensif Lekra/PKI Dkk.)
Penulis: D. S. Moeljanto dan Taufiq Ismail
Penerbit: Mizan, Maret 1995
Tebal: 472 halaman

Sampul_Prahara Budaya01Jika buku Prahara Budaya: Kilas Balik Offensif Lekra susunan Taufik Ismail dan DS Moejanto bisa disebut sebagai “buku hitam Lekra”, maka buku Lekra Tak Membakar Buku bisalah disebut sebagai “buku putih Lekra”.

Prahara Budaya diklaim Taufik Ismail sebagai “upaya meluruskan sejarah yang pernah dibengkokkan”. Klaim itu dilontarkan Taufik saat peluncuran buku Prahara Budaya di Fakultas Sastra UI pada April 1995. Ketika itu, seorang mahasiswa—sembari terisak—bertanya: ”Apakah masih perlu juga pembalasan. Bukankah sudah cukup selama ini hukuman yang diterima mereka (maksudnya aktivis Lekra)?” (Media Indonesia, 2 Juli 1995)

Prahara Budaya dilansir pada 1995, 30 tahun setelah peristiwa 1965, rentang waktu di mana buku-buku sejarah yang beredar semua-muanya berisi stigma dan kampanye hitam terhadap PKI, Lekra dan semua hal yang tersangkut dengan keduanya. Tidak ada yang diluruskan oleh Taufik Ismail karena Prahara Budaya isinya segendang-sepenarian dengan isi buku-buku sejarah yang beredar selama 30 tahun sebelum Prahara Budaya diterbitkan. (lebih…)

Keep Your Hand Moving

Keep your hand movingOleh: Hernadi Tanzil

Judul : Keep Your Hand Moving

Pembicara : Anwar Holid

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, Juli 2010

Tebal : 160 hlm

Ukuran : 13,5 x 17cm

Harga : Rp.35.000

ISBN : 978-979-22-5844-8; 20401100092

Di era cyber ini mengemukakan sesuatu yang ada dalam pikiran seperti pendapat, curhat, gugatan, kisah pribadi dalam bentuk tulisan sudah merupakan hal yang umum. Lihat saja, saat blog begitu populer banyak orang menulis keseharian atau opini dalam blognya. Kemudian diikuti dengan era jejaring sosial seperti multiply, feacebook, twitter, dll yang menggerakkan orang untuk terus menulis apa yang ada dalam benak mereka.

Sesungguhnya semua orang bisa menulis, namun kemampuan untuk menghasilkan ide, mewujudkannya jadi tulisan yang utuh, enak dibaca, serta layak dipublikasi itu perlu dipelajari secara terus menenus. Bagaimana agar semua itu bisa terwujud? Anwar Holid, seorang penulis kolom, editor, yang juga kerap memberikan pelatihan menulis mencoba memberikan tips-tips bagaimana menulis, mengedit, dan memolesnya dalam sebuah buku yang diberinya judul “Keep Your Hand Moving”.

Sejatinya “Keep Your Hand Moving!” adalah slogan yang dicetuskan oleh seorang guru penulisan kreatif Natalie Goldberg yang mengusung metode free writing dimana metodenya yang mengaitkan peran mental dan spiritual dalam menulis ini banyak dipuji-puji, bahkan dianggap berhasil merevolusi dunia buku penulisan.

Sebenarnya prinsip menulis Goldberg ini sederhana saja yaitu “keep your hand moving!” (gerakkan terus tangan kamu!);jangan mencoret dan jangan mengedit waktu menulis; jangan khawatir soal ejaan,tanda bacaan, tata bahasa; lepaskan kontrol; jangan berpikir, tidak mesti logis; carilah urat nadinya.

Keenam prinsip inilah, terutama slogan yg dicetuskan Goldberg ini memberi inspirasi bagi Anwar Holid untuk merumuskan sebuah panduan menulis berdasarkan pengalaman dan pengamatannya selama ini. Ya! Anwar Holid tak sekedar membeberkan prinsip menulis Goldberg, namun di buku ini ia melengkapi apa yang telah diutarakan Goldberg.

Anwar Holid tampaknya hanya mengambil spirit Golberg dalam menggerakkan seseorang untuk menulis, selanjutnya ia memberikan arahan yang lebih praktis dan membumi bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus, mengedit, memolesnya sehingga layak untuk dipublikasikan.

Dalam buku mungilnya ini anwar Holid membagi tulisannya ke dalam delapan bab yang semuanya tersaji dengan padu, ringkas dan padat. Dua bab pertama berbicara mengenai bagaimana kita harus melemaskan saraf menulis dengan cara membiasakan diri menulis sehingga perlu pengkondisian diri agar kita dapat terus menulis.

Disinilah slogan Keep Your Hand Moving diperlukan, gerakkan terus jemarimu!, pokoknya tulis saja walau itu hanya satu paragraph, menjawab email, sekedar respon terhadap segala sesuatu, diari, uneg-uneg, dan sebagainya. Teruslah menulis, dengan demikian diperlukan alokasi waktu dan menyempatkan diri untuk menulis. Bagi penulis pemula Anwar Holid dalam bukunya ini menyarankan agar menulis 10-25 menit setiap harinya untuk membangun kebiasaan menulis.

Saran yang menarik dari Anwar Holid bagi penulis pemula adalah “Jangan takut untuk menyalin dan menempelkan pikiran orang pada tulisan dan pikiran sendiri (copy-paste)”, tentunya dengan sayarat bahwa dalam tulisan itu kita harus mengutarakan bahwa pikiran itu milik orang lain. Ia mengungkapkan bahwa salah satu manfaat copy-and-paste ialah agar kita belajar menggunakan istilah sebagaimana asalnya.

Kemudian di enam bab berikutnya, buku ini memberikan saran-saran praktis ketika kita akan menulis sebuah artikel. Dimulai dari persiapan yang harus dilakukan agar orang bisa menghasilkan tulisan bagus. Menurutnya penulis harus menguasai dua cara menulis, yang pertama adalah menulis otomatis (free writing) yang dilakukan langsung, mengalir, dan mengandalkan intuisi, dengan asumsi segala ide sudah terbayang dalam kepala.

Yang kedua, tulisan disusun lewat outline atau storyline. Biasanya para jurnalis menggunakan teknik ini. Outline ini akan membimbing penulisan agar tetap dalam jalur benang merah yang padu.

Jika tulisan sudah jadi dan kita ingin agar tulisan kita dapat terpublikasikan, buku ini juga memberikan tips-tips bermanfaat agar tulisan kita dapat memenuhi standard penulisan media massa. Syarat yang harus dipenuhi antara lain soal kerapihan tulisan, punya keterbacaan tinggi, paragraf harus padu, tulisan harus tepat, efektif, fokus, dan sebagianya.

Ada banyak hal menarik dan panduan praktis dalam buku ini seperti bagaimana membuat tulisan menjadi istimewa, selain soal menulis ada juga diungkapkan bagaimana mengedit tulisan kita sendiri dan tulisan orang lain, bagaimana bersikap lentur terhadap bahasa, serta berbagai hal yang dapat mengasah kemampuan menulis kita.

Kesemua tips-tips diatas ditulis dengan ringkas, padat, dan mudah di mengerti. Anwar Holid tak hanya memaparkan teori-teori menulis berdasarkan pendapat para pakar menulis melainkan menyajikan hal-hal praktis berdasarkan pengalamannya selama ia berkecimpung di dunia kepenulisan. Pengalamannya dalam memberi traning kepenulisan sedikit banyak ikut memperkaya buku ini karena ia tahu kesulitan utama apa yang biasanya dihadapi oleh para penulis baik penulis pemula maupun penulis yang telah berpengalaman.

Selain berisi tips-tips yang mudah dimengerti, buku ini juga menyajikan beberapa contoh bagaimana menilai sebuah tulisan dengan membuat tabel dua sisi mengenai kebaikan dan keburukan sebuah novel. Sayang contoh praktis seperti ini hanya sedikit sekali (2 contoh) andai saja penulis dapat memberikan berbagai contoh lainnya seperti bagaimana membuat kalimat pembuka yang menarik, keterpaduan antara paragraf, tulisan yang efektif dan fokus dll, tentunya apa yang ditulis dalam buku ini akan semakin mudah untuk dipraktekkan.

Buku ini memang tidak secara otomatis dapat mencetak pembacanya menjadi penulis handal, namun setidaknya dengan membaca buku ini kita akan termotivasi untuk membiasakan diri untuk terus menulis secara baik, sehinggga tulisan kita memiliki tingkat keterbacaan yang tinggi, bebas dari kesalahan umum dan layak untuk dipublikasikan di berbagai media umum.

Akhir kata, seperti yang ditulis oleh Ign. Haryanto, seorang peneliti media dalam endosrmentnya, buku ini sangat berguna untuk para penulis pemula, tetapi juga jadi vitamin tambahan untuk para penulis yang telah lama bergelut dengan dunia kata-kata.

@htanzil

http://bukuygkubaca.blogspot.com/

IL Postino

Oleh: Diana AV Sasa

Il PostinoIL Postino

Sutradara: Michael Radford

Pemain:Philippe Noiret, Massimo Troisi, Maria Grazia

Dilayarlebarkan bersandar pada novel Antonio Skarmeta, Il Postino (1995)

Jalan Puisi dalam Politik

Puisi itu terangkai seperti ini:

Di pulau ini, laut

Semuanya laut

Mengombak dari waktu ke waktu

Berkata ya, lalu tidak,

Lalu tidak

Dalam biru, dalam buih, dalam cangkang

Berkata tidak, lalu tidak

Tak pernah tenang

Laut namaku, ulangnya

Menerjang karang

Tanpa keyakinan

Lalu dengan tujuh lidah hijau dari tujuh macan hijau

Dari tujuh lautan hijau

Membelainya, mencumbunya, membasuhnya

dan menumpahkan di dadanya

Seraya menyebut namanya, akulah laut

Sebait sajak tentang laut itu ditulis senator yang juga diplomat dan politisi di Partai Komunis Chile. Ia peraih nobel kesusastraan dan pujangga paling diperhitungkan di abad 20. Pablo Neruda namanya.

Puisi kedua. Tapi bukan dari Pablo:

Senyummu menebar di seluruh wajahmu serupa kupu

Senyummu serupa mawar

Seperti sebatang galah yang menghujam air

Senyummu adalah buih perak yang menghentak

Aku bahagia ada di sisi perempuan muda yang perawan

Seperti berada di tepi samudera putih

Aku menyukainya

Aku suka diammu

Yang seperti tiada

……

Telanjang

Kau sesederhana telapak tanganmu

Lembut, berkuasa, dan kecil

Bulat, dan bening

Kau memiliki garis bulan, lekuk apel

Telanjang

Kau setipis gandum tak berkulit

Telanjang, kau biru seperti malam di Kuba

Ada anggur dan bintang di rambutmu

Telanjang, kau begitu luas dan kuning

Seperti musim panas di gereja bersepuh emas

Puisi kedua itu ditulis seorang anak nelayan yang tak ingin jadi nelayan. Ia memilih menjadi tukang pos yang setiap hari mengayuh sepeda ke atas bukit di Isla Negra, sebuah kota kecil di bibir pantai Italia.

Dengan tekun ia mengantar surat-surat pada laki-laki paruh baya bernama Pablo Neruda. Ia tinggal di atas bukit. Ke sanalah ia menyerahkan mandat sang pengirim. Hanya seorang, satu alamat, saban hari.

Anak nelayan bernama Mario Ruoppolo itu bukanlah seorang pujangga. Bahkan ia tak mengerti bagaimana menulis puisi. Ia hanya pengagum dari puisi-puisi Neruda. Sama seperti penggemar lainnya. Namun ia ingin sekali bisa menulis puisi. Maka belajarlah ia pada sang maestro yang kebetulan ia jumpai saat mengantar surat.

Bisakah seorang yang tak pernah menulis puisi membuat puisi? Mario mencoba meyakininya dengan mencoba belajar pada pujangga kawakan sekelas Pablo Neruda. Apa yang dilakukan Mario ini sama seperti yang dilakukan tokoh Jamal dalam film Finding Forrester yang belajar pada novelis kawakan William.

Mendapat kesempatan untuk belajar pada sang maestro tentu sebuah peluang emas. Tak setiap orang mendapatkannya.

Jamal sudah membuktikan dengan hasil yang tak mengecewakan. Mario pun sama, tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia bulatkan tekad untuk belajar. Modal dasar untuk menulis sudah ia punya, minat, dan kemauan untuk belajar. Kata Andrias Harefa dalam bukunya Agar Menulis Bisa Gampang, dua hal itu adalah prakondisi yang mesti dimiliki seseorang yang ingin menjadi penulis. Mario memilikinya sudah.

Usaha Mario untuk berkenalan dengan sang maestro bukanlah perjuangan yang mudah. Pablo adalah penulis kenamaan yang acap dielukan ribuan penggemar. Tulisannya mendapat apresiasi dari kalangan sastra dunia. Ia juga pejabat dan politisi yang cukup disegani. Demikian tinggi jarak yang mesti direngkuh Mario untuk menebas batas sosial itu. Seorang tukang pos dan penyair dunia cum politisi Komunis. Maka butuh keberanian yang tak kecil untuk mendekati dan mencoba berteman dengannya. Syukur bisa menjadi guru darimana secuil ilmu bisa mengalir di kepalanya.

Mario melakukan pendekatan dengan tawaran persahabatan. Beberapa cara ia coba. Pablo yang awalnya bersikap dingin, lambat laun menanggapi juga hasrat Mario.

Pablo perlahan mengenalkan jurus dasar menulis puisi, metafora. Ya, metafora. Sebuah langkah menemukan bahasa dengan cara yang tak klise. Di tepi samudera, Pablo menuntun Mario menemukan metaforanya sendiri. Caranya dengan memancing Mario menggunakan sebuah puisi tentang lautan, hingga Mario mampu mengungkapkan perasaannya ketika mendengarkan puisi itu dan mencari pengibaratan dari perasannya. Itulah awal pertama Mario menemukan metaforanya sendiri. Metafora yang segar tapi sekaligus mudah dipahami.

Olah mengolah metafora itu membuat Mario terbiasa mencari persamaan benda satu dengan benda lain, menghubungkan peristiwa satu dengan peristiwa lain. Dan gayung bersambut ketika ia jatuh cinta pada seorang gadis putri pemilik café yang bernama Beatrice Russo. Metafora Mario mengalir sendiri dengan alami dari mulut dan pikirannya yang sudah peka pada pengandaian kata. Perempuan muda itu pun takluk hatinya setelah mendapat serbuan syair demi syair dari tukang pos itu.

Hati terpaut oleh kata, maka pintu pernikahan pun terbuka dan mereka memasukinya berdua dengan Neruda sebagai wali nikah. Persahabatan mereka telah naik satu tingkat pada hubungan yang lebih akrab laiknya saudara.

Ikatan persahabatan itu tak lekang meski kemudian Pablo harus kembali ke negerinya, Chile, karena hukumannya sebagai buangan politik dicabut. Sebagai sahabat yang tak lupa pada kawan lamanya meski ia hanya seorang tukang pos dan anak nelayan kecil, Neruda mengirim surat bernada rindu pada kota kecil tempat tinggal Mario. Beberapa kali Mario dimintainya untuk merekam debur ombak, suara camar di gigir pantai, dan bunyi lonceng.

Ditinggal Pablo, Mario seperti duplikat. Tak hanya puisi cinta yang dikeramnya dari Pablo, tapi juga aktivitas politik. Puisi dan politik adalah anak kandung yang saling membutuhkan. Pernah suatu kali Mario mendengar Pablo mewejang soal prinsip kepenyairannya. Menurut Pablo, ia menulis puisi sebagai bentuk ekspresi dari menyuarakan orang-orang yang bahkan tak mengenal puisinya. Mereka adalah saudara-saudaranya yang terpinggirkan dan termarjinalkan oleh penguasa. Puisi yang ditulisnya mestilah membawa jiwa perlawanan arus bawah. Suara orang-orang paria yang memberangkatkannya ke kursi senator. Dan Mario menubatinya.

Suasana di lapangan riuh rendah saat aksi kudeta itu hendak digelar. Orator di atas panggung meneriakkan nama Mario untuk membacakan sebait dua bait puisi Pablo. Mario menyesak di antara kerumunan revolusioner. Namun belum sampai langkahnya berakhir, sepasukan tentara meringkus dan menghabisinya hingga tewas.

Puisilah menjadi musabab kematian Mario dan dibuangnya Pablo. Puisi memang berkerabat baik dengan politik. Namun kerap politik tak mengakui kekerabatan itu. Politik selalu menjadikannya musuh yang harus enyah. Di mana pun, penyair yang berpolitik kerap menemui nasib yang mengenaskan: Pablo Neruda, Garcia Lorca, Wiji Thukul, untuk menyebut beberapa nama.

Ciuman Hujan, Seratus Soneta Cinta | Pablo Neruda

ciumanDialihbahasakan dari bahasa Inggris yang dikerjakan oleh Stephen Tapscott ke bahasa Indonesia oleh Tia Setiadi | Penerbit Mahda, Yogyakarta | Binding: Softcover | ISBN: 9789791979702 | Halaman: 128

Cinta Paripurna Pablo Neruda

Oleh Abdul Aziz Rasjid

“Matilde: nama sebentuk tumbuhan, atau batuan, atau anggur,/ dari segala hal yang bermula di bumi, dan akhirnya: / kata yang di sana tumbuh fajar pertama yang membuka,/ yang di sana musim panas menyinari jeruk-jeruk yang rekah”.

Begitulah cara Pablo Neruda memanggil, menghikmati serta memuja nama istrinya dalam sebuah soneta. Sebuah nama yang dicinta memang bisa menghasilkan kejutan yang menyentak, menggaungkan sejumlah makna yang sangup menggedor pikiran dan selanjutnya menantang hasrat penyair untuk menuangkannya dalam kejelian untuk melakukan perambahan pengucapan, pemanfaatan kebebasan untuk menghasilkan daya pikat dalam bentuk puisi.

Matilde Urrutia adalah misal yang baik tentang kisah pesona sebuah nama. Dia adalah mantan seorang penyanyi Chili yang pernah dipekerjakan untuk merawat Pablo Neruda ketika terserang flebilitis pada lawatannya ke Meksiko pada akhir 1945 dan akhirnya menjadi istri dari penyair terpenting yang pernah dilahirkan sastra Amerika Latin abad ke-20 itu. Selanjutnya, nama Matilde mengawali madah cinta seratus soneta yang terkumpul dalam buku bertajuk Ciuman Hujan, Seratus Soneta Cinta (2009) yang disulih oleh Tia Setiadi dari buku 100 Love Sonnets karya Pablo Neruda yang dalam versi asli berbahasa Spanyol berjudul Cien sonetos de Amor (1960).

Kiprah Matilde sebagai istri lantas menginspirasi sang maestro pemenang Nobel sastra 1971 itu untuk menghayati aktivitas serta memperhatikan detail-detail sehari-hari yang merujuk pada hubungan rumah tangganya, semisal ketika Matilde Urrutia memasak di dapur, mondar-mandir menyiram bunga-bunga mawar dan anyelir, atau ketika istrinya tengah menyiapkan spraei dan ranjang tidur dengan lagak-lagu tubuhnya yang anggun. Jadi tampak wajar, jika seratus soneta yang dideklarasikan sebagai fondamen cinta itu, dikatakan oleh Pablo Neruda sebagai soneta-soneta kayu yang lahir karena Matilde yang memberi kehidupan.

Apa yang tersirat dalam seratus soneta cinta ini, seakan-akan menggambarkan bahwa keagungan sudah terjelma begitu sempurna dalam diri Matilde, sehingga tak berlebihan memang jika Tia Setiadi sebagai penyulih sekaligus penulis esai pendamping yang bertajuk “Neruda dan Keabadian sebuah Ciuman” mengatakan bahwa bagi Pablo Neruda, jagad raya adalah mikrokosmos sementara Matilde Urrutia adalah makrokosmos.

Dalam soneta XVI, Pablo Neruda menulis: “Aku mencintai segenggam bumi yang tak lain adalah Engkau./ Sebab padang-padang rumputnya, meluas laksana planet,/ Aku tak punya bintang lain. Engkaulah tiruanku/ Atas semesta yang berlipat ganda

Esai pendamping yang ditulis oleh Tia Setiadi itu, memang patut dijadikan perhatian, sebab memuat pula ikhwal hayat dan karya Neruda yang dapat membuat pembaca menjadi akrab dengan sosok dan perjalanan kepenyairan Neruda. Sekaligus juga dapat difungsikan oleh pembaca untuk membantu upaya-upaya penafsiran. Semisal alenia berikut: “Puisi Neruda, lebih dekat ke nafiri kejujuran yang tanpa pretensi, kerendahan hati dan senandung rasa syukur yang tulus pada kemahaluasan hidup. Puisi semacam ini, bisa dipadankan dengan kejernihan dan kepadatan kristal-kristal batuan yang dinafasi oleh tenaga hidup atau denyar-denyar asmara yang berbinar-binar, bagiakan vibrasi gelombang cahaya. Tiap-tiap langkah dalam sajak adalah langkah-langkah kecil menuju keindahan. Tiap-tiap langkah dalam sajak adalah kepergian sekaligus kepulangan”.

Melihat kembali pada pembacaan capaian perkembangan kepenyairan Pablo Neruda, Saut Situmorang dalam sebuah esai yang berjudul “Pablo Neruda dan Imperialisme Amerika Serikat” (2004) memaparkan bahwa secara umum keseluruhan corpus Pablo Neruda yang begitu ekstensif dan bervariasi selalu diklasifikasikan dalam empat perkembangan tematik besar: pertama, puisi cinta seperti yang terdapat pada Duapuluh Sajak Cinta dan Satu Nyanyian Putus Asa dan Sajak- sajak Kapten; kedua, puisi “Material” seperti kumpulan Berdiam di Bumi yang bercirikan kesunyian dan depresi yang membawa kepada pengalaman bawah sadar yang demonik: ketiga puisi epik seperti pada Canto General dan Epic Song yang merupakan semacam usaha reinterpretasi Marxian atas sejarah Amerika Latin dan perjuangan bangsa Amerika Latin melawan penindasan dan ketidakdilan: yang keempat adalah puisi yang berbicara tentang hal remeh temeh, binatang dan tanaman, seperti pada kumpulan Ode Elementer. Sedang Ciuman Hujan, Seratus Soneta Cinta dapat digolongkan sebagai bagaian dari fase terakhir perkembangan gaya pengucapan Pablo Neruda yang beralih dari gaya surealis menjadi realisme sintaksis bahasa sehari-hari yang sederhana dan mudah untuk dimengerti.

Seratus soneta cinta dalam buku ini, terbagi dalam empat perbedaan waktu, yaitu: Pagi terdiri dari 32 soneta (I-XXXII), Senja terdiri dari 21 Soneta (XXXIII-LIII), Petang terdiri dari 25 soneta (LIV-LXXVII) dan Malam terdiri dari 22 Soneta (LXXIX-C).

Pembagian waktu ini, mengungkapkan bahwa hasrat dan rasa cinta Pablo Neruda pada Matilde adalah keabadian tak putus-putus yang sekaligus menjelaskan keberbagaian upaya untuk memperlihatkan pada pembaca tentang keteguhan cinta Neruda pada istrinya.

Hal yang dapat dicermati pada soneta-soneta lainnya, adalah tipikal Neruda yang selalu mengkaitkan soal dalam puisinya dengan keadaan sosial, dimana karena hal itu Pablo Neruda sering disebut sebagai “Penyair dari kemanusiaan yang diperbudak” (poet of enslaved humanity), dalam soneta “XXIX” hal ini paling kental terasaTTK “Engkau datang dari kemiskinan, dari rumah-rumah di selatan,/ dari lanskap-lanskap liar yang dingin dan berlindu/ yang menawarkan pada kita setelah dewa-dewa itu terjungkal/ ke dalam kematian hikmah hidup, yang terbentuk di lempung.// Kau adalah kuda kecil dari lempung hitam, sebuah ciuman/ dari lumpur gelap, Kekasihku, sekuntum popy lempung,/ merpati senja yang terbang sepanjang jejalan,/ tabungan airmata dari masa kecil kita yang melarat.// Gadis kecilku, jantung kemiskinan ada dalam dirimu,/ kakimu terbiasa mengasah batu-batu,/ mulutmu tak selalu punya roti, gula-gula.// Kau datang dari Selatan yang miskin, di mana jiwaku bermula: / di ketinggian langit itu ibumu masih mencuci pakaian/ dengan ibuku. Karena itulah aku memilihmu, mempelaiku.”

Merujuk pada konsepsi Erich Fromm, cinta Pablo Neruda yang dipersembahkan dalam aneka rupa seratus soneta pada istrinya itu, telah mewujud sebagai integritas, ketetapan untuk menjadi diri yang lebih matang, yang memaparkan sebuah usaha untuk menjadi pribadi yang aktif, sadar, dan berproses untuk terus “menjadi”.

Maka, Ciuman Hujan, Seratus Soneta Cinta tampil untuk merayakan cinta yang lebih menawarkan supaya kekurangan dan kelebihan mesti disyukuri lantas dimaknai sebagai modal utama eksistensi cinta, yang pada akhirnya eksistensi itu dengan bersetia mendekati eksistensi lain untuk saling meleburkan diri. Di situlah cinta yang sempurna menetap, dan kita mendapatkan contoh yang luar biasa dalam seratus soneta cinta Pablo Neruda.

Abdul Aziz Rasjid, Peneliti Beranda Budaya, tinggal di Purwokerto

Sumber: Suara Karya, 13 Februari 2010

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan