-->

Arsip Resensi Toggle

Tiga Buku "Pelarangan Buku"

2010 12 21_Buku_Cover Tiga Buku Pelarangan - CopyMenentang Peradaban: Pelarangan Buku di Indonesia | Penulis: Jaringan Kerja Budaya | Penerbit: ELSAM | Juli, 1999 | x+180 hlm

Mengubur Peradaban: Politik Pelarangan Buku di Indonesia | Penulis: Fauzan | Penerbit: LKIS | 2002 | xi+200 hlm

Pelarangan Buku di Indonesia: Sebuah Paradoks Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi | Penulis: Tim Peneliti PR2Media | Penerbit: PR2Media dan FES | 2010 | xxvi + 190 hlm

————-

Tiga Mengantar “Clearing House” ke Pekuburan Terakhir

Oleh: Muhidin M Dahlan

Pekan akhir purnama Desember ini, setahun silam, Clearing House Kejaksaan Agung RI mengeluarkan memo klasik: melarang enam bacaan. Kata filsuf politik Rocky Gerung: “Kejaksaan lagi iseng melakukan perbuatan antiperadaban, anti manusia”. Kata sejarawan John Rossa: “Bukti: masyarakatnya baru, tapi negaranya masih lama.”

Memo iseng di alam keterbukaan informasi itu ternyata dibayar mahal. Pada 13 Oktober 2010 atau sehari sebelum Hari Aksara Nusantara dirayakan, Mahkamah Konstitusi mengubur Clearing House Kejaksaan Agung. Menyakitkan bagi aparatus negara Lama, tapi kemerdekaan bagi buku dan masyarakat baru. Tahun 2010, untuk pertama kalinya, semua buku merayakan kebebasannya dari anasir keisengan atas praktik UU No 4/PNPS/1963.

Runtuhnya algojo pembunuh buku itu adalah buah dari perjuangan lama dan terus-menerus masyarakat pencinta buku dan kebebasan mengelola dan mendapatkan informasi. Jika sebelum tahun 2010, perjuangan itu umumnya berbentuk nonlitigasi, yakni protes di jalan, di forum-forum diskusi, dan media massa, maka momentum tahun ini perjuangan model terbaru diambil: perjuangan litigasi (Judical Review ke MK).

Dan berhasil!

Ada tiga buku yang merekam dan mengantar “Clearing House” ke pekuburannya yang terakhir. Menentang Peradaban: Pelarangan Buku di Indonesia (Tim Jaker, ELSAM, 1999), Mengubur Peradaban: Politik Pelarangan Buku di Indonesia (Fauzan, LKIS, 2002), dan Pelarangan Buku di Indonesia: Sebuah Paradoks Demokrasi dan Kebebasan Berekspresi (Tim, PR2MEDIA, 2010).

Tak kebetulan belaka judul ketiga buku ini mirip. Selain tujuannya sama sebagai buku protes, ketiganya juga memajang kutipan data berjenjang dan bertaut. Buku Menentang sepenuhnya menyandarkan datanya pada skripsi Minanuddin di jurusan Ilmu Perpustakaan UI: Pelarangan Buku di Indonesia.

Sementara buku Mengubur umumnya kutipannya bersandar pada buku Menentang. Adapun Pelarangan, sebagaimana diakui oleh para perisetnya di catatan kaki, bersandar pada Mengubur.

Antara buku Menentang dan Pelarangan memiliki fokus yang sama: mempersoalkan litigasi dan keabsahan UU yang dipakai. Tapi ketiga-tiganya setia dengan kronologis perjalanan panjang pelarangan buku di Indonesia: dari masa kolonial hingga era reformasi.

Jamak diketahui bahwa pemerintahan Kolonial Belanda mewariskan prebreidelordonnantie 1930 yang sangat menakutkan bagi aktivis pergerakan dan pemimpin-pemimpin pers. Mangsa pertama aturan ini adalah hoofdredacteur Soeara Oemoem di Surabaya setelah secara bersambung memberitakan Pemberontakan Zeven Provincen (dari Surabaya hingga Aceh) pada 1933.

Namun berbeda dengan data yang termaktub di tiga buku ini, saya mendapatkan data bahwa ujian awal justru terjadi pada 1914 di mana pertama kali pers-pers pergerakan kena sapu bersih sesaat setelah UU Persdelict diumumkan pada 7 Januari. UU yang merupakan edisi revisi dari Drukpers Reglement 1856 ini menghancurkan penulis dan penerbit-penerbit kecil yang memproduksi “batjaan-batjaan liar” dan artikel-artikel kritis seperti Marco, Tjipto, Soewardi, Misbah, Tirtodanoejo, Semaun, dan seterusnya.

Tatkala Sukarno dan aparatus birokrasinya berkuasa, semua yang berbau kolonial diputus. Tapi tidak dengan soal pelarangan buku. Di masa ini, Jenderal A.H. Nasution menjadi tokoh kunci mengonsepsi aturan pelarangan baru. Pada 14 September 1956, berkapasitas sebagai KSAD, Nasution mengumumkan keputusan No PKM/001/9/1956. Isinya:Melarang mentjetak, menerbitkan, menjatakan akan datangnja, menawarkan, menjiarkan, menempelkan, memperdengarkan, atau memiliki tulisan-tulisan, gambar-gambar, klise-klise,  dan lukisan yang memuat atau mengandung ketjaman-ketjaman, persangkaan (insuniaties), bahkan penghinaan terhadap Presiden atau Wakil Presiden…. seterusnya tulisan-tulisan itu memuat berita atau pemberitahuan jang menerbitkan keonaran di kalangan rakjat.” (Menentang, 16; Mengubur, 116)

Aturan ini memangsa, antara lain buku Hoakiau di Indonesia karya pramoedya Ananta Toer, Demokrasi Kita karya Mohammad Hatta, maupun Matinya Petani karya penyair-penyair Lekra

Ketika Dekrit Presiden 1959 dikeluarkan, perkubuan antara Kiri dan Militer berapi-api. Di situasi menegangkan itu, Sukarno mengeluarkan aturan darurat: Penetapan Presiden No 4 tahun 1963 yang berisi “Pengamanan Barang Tjetakan Jang Mengganggu Ketertiban Umum”. PKI tak menolak aturan subversif ini. Militer ikut serta. Buku-buku yang tak sesuai dengan jalan revolusi pun masuk karung. (Menentang, 21-26)

Orde Baru boleh jadi berteriak sengak dengan toa tiap tahunnya di ruang belajar P4 sebagai rezim yang sama sekali baru dan bersih dari rezim sebelumnya. Tapi tidak dalam soal pelarangan buku. Alih-alih mengubur PNPS 1963 yang otoritarian itu, tapi malah mengukuhkannya pada 1969 dan terawetkan. Bahkan setelah 12 tahun Soeharto tumbang dari kekuasaan despotiknya, di masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, pembakaran puluhan ribu eksemplar buku masih berlangsung.

UU No 4 PNPS 1963 itulah yang selama ini menjadi pedoman negara untuk mengontrol bacaan apa yang boleh dan tidak. Agar terlihat “demokratis” dengan suara poliponik, “Clearing House” pun dibentuk pada Oktober 1989. Fungsinya meneliti isi sebuah buku dan memberi rekomendasi langsung kepada Jaksa Agung. Di bawah naungan “Clearing House” yang dikoordinir Kasubdit Wasmedmass & Barcet Kejagung inilah berkumpul lembaga-lembaga: Bakorstanas, Bakin, Bais ABRI (BIN), Departemen Agama, dan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. (Menentang, 37; Mengubur, 139)

Umumnya, jenis barang cetakan yang dilarang itu, antara lain:  penghinaan agama (Menentang, 45-70), komunisme dan pelurusan sejarah (Menentang, 71-89), kritik atas Orde Baru (Menentang, 89-96), maupun seks dan pornografi (Menentang, 97-105).

Dari semua buku yang pernah dicabut nyawanya oleh Clearing House ini, buku Pramlah yang memecahkan rekor. Karena itu, di buku Menentang, karya Pram mendapat “kehormatan” dibahas satu bab khusus yang tidak kita temui di dua buku yang lain. Pram kita tahu menjadi protagonis pelarangan buku di Indonesia. Selain karena Pram adalah tahanan buru dengan tuduhan terlibat G 30 S, juga karena karya Pram dilarang di dua rezim (Orde Lama dan Orde Baru).

Yang menarik adalah, setelah struktur kuasa Orde Baru dipukul Gerakan 98, pelarangan buku kebanyakan diambil alih oleh masyarakat. Karena itu buku Pelarangan membedakan istilah “Pelarangan” dan “Pemberangusan”. Pelarangan dimiliki oleh negara (Clearing House). Sementara Pemberangusan dilakukan sekelompok warga lewat sweeping dan pembakaran. (Pelarangan, 93-95; 109-114)

Satu kaki dari aktor pelarangan buku itu kini telah dilumpuhkan dan jasadnya dikubur oleh Mahkamah Konstitusi pada 2010 tanpa bunga dan sms belasungkawa. Tapi tidak dengan sekelompok warga pemberangus yang hidup di semua urat nadi kota di Indonesia. Para pemberangus inilah yang jadi ancaman berikutnya.*

Cine Book Club #6: Good Night, and Good Luck | George Clooney | 2005

good nightSebagai kelanjutan dari seri pemutaran film-film memperingati Bulan Jurnalistik Desember ini, Komunitas film Cine Book Club Yogyakarta bekerjasama dengan Indonesia Buku memutar film “Good Night, and Good Luck” (11/12) pada pukul 19.00 di Studio 2 Perpustakaan Indonesia Buku, Patehan Wetan No Tiga, Kraton, Yogyakarta.

Film produksi 2005 ini merupakan film kedua yang disutradari sekaligus dibintangi aktor kenamaan Hollywood, George Clooney.  Sejalan dengan keseluruhan tema “film jurnalistik” yang diputar selama bulan Desember oleh komunitas ini, “Good Night, and Good Luck” merupakan film mengenai praktik jurnalisme televisi Amerika Serikat pada tahun 1950-an.

Naskah film ini diangkat berdasarkan kisah nyata mengenai masa-masa genting awal perang dingin saat Amerika dilanda sikap paranoid dengan segala hal yang berbau komunisme.

Seorang senator bernama Joseph McCarthy selama 1950-1954 kondang berkat tuduhannya. Ia menyeru-nyeru bahwa terdapat ratusan orang yang disangka tersangkut aktivitas ataupun bersimpati pada komunisme berada di pemerintahan Amerika Serikat.

Langkah-langkahnya yang penuh teror dan tudingan menyebabkan banyak pihak gentar. Bahkan insan pers turut diam, membiarkan aktivitas senator tersebut yang sebetulnya inkonsistusional.

Satu-satunya pihak yang berani menantangnya adalah sekelompok jurnalis yang bekerja di saluran Columbia Broadcasting System (CBS).  Dipimpin oleh host program “See It Now” Robert M. Murrows, kelompok kecil ini tak gentar melaporkan beberapa tindakan tak pantas sang senator. Termasuk fitnah yang menyebabkan seorang tentara dipecat dari jabatannya hanya karena ayahnya dituduh simpatisan komunis.

Film ini membuka mata penonton, termasuk para penonton pemutaran Cine Book Club, bahwa jurnalisme televisi sebenarnya mampu menampilkan sebuah posisi tawar yang luar biasa sebagai anjing penjaga (watchdog) sistem yang mengarah tiran.

Berbagai kompleksitas kerja seorang jurnalis tergambar dalam film tersebut, termasuk perdebatan antara pemilik stasiun televisi CBS dengan Murrow, bahwa jurnalisme sejatinya tidak netral, menyinggung pemberitaan mereka yang melulu menjatuhkan sang senator tanpa memberikannya hak jawab proporsional.

Film ini, dengan tampilannya yang unik karena berwarna hitam putih, memberi kita gambaran bagaimana kerja ideal jurnalisme televisi seharusnya.

Hasil diskusi anggota Cine Book Club di akhir pemutaran juga bersepakat betapa kontrasnya penggambaran film tersebut dengan kondisi jurnalisme televisi Indonesia akhir-akhir ini. Misalnya yang melulu menjual sensasi seperti dalam kasus Merapi beberapa waktu lalu.

Tak berlebihan rasanya, jika kritikus film kawakan Amerika, Roger Ebert, berpendapat bahwa “Good Night, and Good Luck” adalah salah satu film jurnalisme terbaik sepanjang masa.

Seperti biasanya pula, pemutaran ini diakhiri dengan penyerahan bingkisan kepada dua peserta diskusi paling aktif dari Indonesia Buku. Ini dia yang berutung: Prima SW mendapatkan buku “Kaos Seabad Pers Kebangsaan” dan Mahathir mendapatkan buku “Gelaran Almanak”.

Cine Book Club kali ini mengucapkan terimakasih atas kehadiran pencinta film-film buku dan telah menonton dengan setia. Terutama kepada: Teta, Aya, Khotim, Tutik, Faqih, Dafi, Azka, Jaka Hendra, Rhea, Punkaz, ferry, Khairul, Islah, Panjul, Cahyo, Yemmestrie, Iwan, dan Sukma. (Ardyan M Airlangga/Cine Book Club)

The Art Of Library

Pustakawan 2.0: Gaul, Trendi, dan AhliThe art of library

Oleh: Agus M. Irkham

Ada anomali! Ketika pemerintah menyatakan angka melek aksara lebih dari 90 persen, pada saat yang sama minat masyarakat berkunjung ke perpustakaan masih rendah. Berdasarkan hasil jajak pendapat tentang minat baca yang pernah dilakukan Kompas (14/2/2009) dari total responden yang dicuplik secara sistematis di beberapa kota besar seperti Kota Semarang, Solo, Purwokerto, dan Tegal: 75,5 persen mengaku tidak pernah berkunjung ke perpustakaan dalam sebulan terakhir.

Rendahnya intensitas kunjungan ke perpustakaan tersebut bisa menjadi ukuran rendahnya pula tingkat minat baca. Mengapa perpustakaan? Karena di tempat inilah para pendaras buku berkumpul. Mereka pergi ke perpustakaan dengan sengaja, bukannya iseng. Ramainya jumlah pengujung dapat dibaca sebagai tingginya minat baca. Sebaliknya jika jumlah pengunjung dan peminjam buku bisa dihitung dengan jari, maka itu artinya minat baca masyarakat masih rendah.

Pertanyaannya, faktor-faktor apakah yang membuat orang enggan datang ke perpustakaan? Benarkah semata-mata karena memang tidak mempunyai minat baca? Atau karena faktor lain? Misalnya karena akses ke lokasi yang sulit, kenyamanan ruang baca, sikap para staf/pustakawannya, varian layanan yang diberikan, serta sistem sirkulasi (meminjam dan mengembalikan) yang tidak memudahkan.

Dari beberapa temuan di lapangan, keengganan datang ke perpustakaan (terutama perpustakaan daerah/milik pemerintah) ternyata lebih banyak disebabkan oleh sikap para staf dan pustakawannya yang kurang bersahabat. Rata-rata mereka bermuka masam, jutek, saat melayani pengunjung tidak menunjukkan antusiasme yang tinggi, cenderung malas-malasan, dan sesama staf sering terlihat menggerombol di pojok ruang—ngrumpi. Sudah begitu ketika ditanya tentang suatu buku yang hendak dicari/dibutuhkan, jawaban yang seringkali muncul: silahkan cari sendiri!

Tentu saja sikap demikian sangat tidak menguntungkan bagi upaya mengkampanyekan kegemaran membaca. Pustakawan sebagai orang yang senantiasa berlekatan dengan media baca, seperti buku dan media teks lainnya justru menampakkan diri sebagai pribadi yang tidak menyenangkan. Sebuah promosi negatif, jika tidak mau disebut menggembosi ikhtiar menggenjot minat baca masyarakat.

Ibarat perusahaan, buku adalah produk yang akan dijual, dan pustakawan menjadi pemasarnya (marketers). Dalam proses memasarkan itu, pembawaan diri, sikap, perilaku (attitude) para marketers menjadi faktor kunci yang menentukan keberhasilan. Oleh karenanya membangun kompetensi perilaku atau sikap (behaviour competence) bagi tiap-tiap pustakawan, dalam konteks mengefektifkan perpustakaan sebagai pusat gerai adab sekaligus untuk menghilangkan anomali melek aksara, menjadi sangat penting. Lebih-lebih di tahun-tahun mendatang. Tahun di mana bakal terjadi perubahan besar-besaran menyangkut pergeseran sistem simpan dan temu-kembali, yang semula manual (katalog, koleksi, dan pelayanan berbasis atom/kertas) berubah menjadi digital, otomasi—berbasis image, byte, sistem komputer— library 2.0.

***

Library 2.0 (perpustakaan generasi kedua) mensyaratkan adanya pustakawan yang gaul, trendi, sekaligus ahli. Gaul mempunyai pengertian bahwa seorang pustakawan harus lincah berinteraksi dan berkomunikasi tidak saja dengan pemustaka tapi juga pihak-pihak yang berkepentingan, berkaitan, dan berurusan dengan perpustakaan. Atau lebih tepat disebut sebagai pihak yang berkaitan dengan kampanye peningkatan budaya baca. Misalnya jurnalis, penerbit, toko buku, penulis, klub (pembaca) buku, komunitas literasi, dan media massa. Baik cetak maupun elektronik.

Ia mampu memposisikan diri sebagai jembatan atau penghubung atas berbagai macam bentuk kepentingan antar stakeholders dan shareholders budaya baca. Karena yang sudah-sudah, misalnya penerbit ketika ingin masuk ke perpustakaan, taruhlah perpustakaan daerah (kabupaten/kota) dengan menawarkan program pameran buku kerap menghadapi kesulitan karena tidak ada orang perpustakaan yang berani “pasang badan”. Padahal dalam acara pameran buku itu diadakan pula acara pengiring, seperti bedah buku, jumpa penulis, hingga pelatihan menulis.

Namun karena respon yang diharapkan muncul dari perpustakaan tidak sebesar harapan penerbit, acara yang ditawarkan tersebut menemui kegagalan. Selama ini kegagalan penawaran bentuk kerjasama itu biasaanya karena persoalan dana, dan keterbatasan sumber daya manusia. Padahal kalau mau ditelisik lebih jauh, yang demikian bukanlah sebab, tapi akibat. Akibat dari sikap tertutup dan tidak percaya diri terhadap tawaran kerjasama yang diulurkan dari pihak luar/penerbit.

Maka kebutuhan seorang pustakawan yang gaul dan mempunyai sikap hidup dan pola pikir yang terbuka menjadi penting. Ia akan terus berupaya menambah jejaring, sehingga perpustakaan bisa benar-benar hidup, dan semakin dicintai oleh publik pengguna atau masyarakat pemustaka.

Sikap gaul ini juga bisa memunculkan ikatan emosional yang kuat antara pengunjung dengan pustakawan. Sehingga segala bentuk sikap dan gaya pustakawan berada dalam satu tarikan nafas dengan upaya untuk memasarkan perpustakaan tempat ia bekerja.

Gaul ini juga menyangkut pemanfaatan teknologi. Apalagi di jaman ini, di mana internet semakin tumbuh dan berkembang. Pustakawan harus menjadi orang pertama yang tercerahkan melalui yang ia baca. Pustakawan harus memiliki akun sendiri di situs jejaring sosial, menjadi bagian dari ”jamaah facebookiyah”, mejeng di friendster, juga jika memiliki video yang bagus, tentu yang berkaitan dengan program budaya baca bisa ia unggah ke youtube.

Di situs jejaring sosial tersebut pustawakan bisa berkomunikasi dengan pemustaka secara pribadi, tanpa harus disertai dengan perasaan pekewuh (sungkan) layaknya saat bertemu di kantor. Di situlah seorang pustakawan bisa melampiaskan ”bakat narsis”nya.

Gaul melalui situs jejaring sosial, bisa digunakan pustakawan untuk menginformasikan buku-buku terbaru koleksi perpustakaan, jadwal acara perbukuan, hingga menjadi cara ia ”mengedukasi” publik untuk misalnya bagaimana melakukan katalogisasi buku, baik secara manual maupun elektronik (otomasi). Termasuk misalnya menjadi konsultan bagi keluarga atau pribadi yang ingin mendirikan perpustakaan keluarga, dan taman baca.

Selain aktif di situs jejaring sosial, seorang pustakawan 2.0  wajib hukumnya memiliki website pribadi, minimal blog. Di situ bisa menjadi ajang bagi pustakawan untuk menuliskan catatan-catatan (tidak) penting berkaitan dengan pekerjaannya maupun pengalaman keseharian. Lebih baik lagi jika diisi dengan tulisan atau content yang spesifik. Blog dan website bisa menjadi bukti transformasi diri yang terjadi pada diri pustakawan, dari yang sebelumnya hanya seorang pembaca, bergeser menjadi seorang penulis. Meskipun baru menjadi penulis blog. Menulis di blog juga menjadi cara paling baik untuk menerapkan doktrin manajemen modern: tulis apa Anda dikerjakan, kerjakan apa yang Anda tulis!

***

Pengertian trendi dalam makna yang paling dasar adalah menyangkut penampilan dan cara berpakaian. Selama ini pustakawan memakai seragam atau uniform yang sama, yaitu lazimnya seragam PNS (Pegawai Negeri Sipil). Sehingga terlihat sangat resmi, menjadikan kesan birokratisnya menjadi sangat kental. Seorang pustakawan di tahun-tahun semua serba ”cair” hendaknya menggunakan ”seragam” yang tidak formal. Kalau tidak selama sepekan penuh, minimal seminggu sekali. Taruhlah tiap hari sabtu.

Bentuk tampilan trendi itu misalnya dengan memakai kaos yang bertulisankan kata-kata penuh motivasi yang berkaitan dengan ajakan untuk membaca. Tidak lupa menyematkan pin budaya baca pula di kaos dan topi. Kalau biasanya memakai celana kain, bisa jug memakai celana jeans. Kesan trendi ini akan mempersempit jarak antara pustakawan, yang pada akhirnya perpustakaan sebagai institusi dengan pengunjung. Terutama mereka anak-anak muda.

Secara tidak langsung cara demikian juga memberikan pengertian kepada anak-anak muda, ternyata cinta buku tetap masih bisa berpenampilan modis. Apalagi sekarang era budaya pop yang sangat luber dengan ikon-ikon produk massa seperti kaos, topi, pin dan aksesoris lainnya. Itu semua bisa dipinjam ”bentuk, wujud atau wadahnya” (context) untuk kemudian ”isinya” (content) diubah dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya mempopulerkan perpustakaan (ajakan membaca).

Penindihan ikon budaya pop untuk kampanye budaya baca (dan menulis) juga bisa digunakan sebagai pintu masuk untuk melancarkan program kampanye keberaksaraan fungsional. Contoh sederhana bagi pengunjung, khususnya anak-anak muda yang sudah memiliki usaha pembuatan kaos atau merchandiser atau yang baru akan memulai bisa menggunakan tema ”buku dan budaya baca” sebagai salah satu varian tema produk.

Buku dan aktivitas membaca merupakan produk unggulan, tentu saja cara-cara penawaran yang dipilih pun mestinya dengan cara-cara yang unggul pula Ini penting karena, kesan yang muncul di sebagian besar anak-anak muda, khususnya para remaja, perpustakaan, buku, identik dengan kacamata tebal, tidak keren, tidak gaul, tidak punya teman, terlalu serius, dan tidak fun (menyenangkan).

Dengan perubahan uniform para pustakawan tersebut, apalagi disertai pula dengan perubahan sikap atau attitude, para pengunjung akan semakin tertarik untuk mengenal perpustakaan.

***

Tentu saja sikap dan cara membawa diri (gaul dan trendi) harus diletakkan pada dasar penguasaan keterampilan atau keahlian tertentu. Seorang pustakawan harus mempunyai keahlian yang spesifik (expert), dan bisa mengomunikasikan keahlian yang dimiliki tersebut. Misalnya ada pustakawan yang sangat expert tentang rak buku. Mulai dari model atau pola, pilihan bahan, penempatan, hingga anggaran yang dibutuhkan. Nah dari keahliannya tersebut, bisa ia gunakan untuk menjalin relasi lebih akrab dengan pengunjung, baik pribadi atau pun mewakili institusi, yang hendak membuat rak buku/setup perpustakaan.

Keahlian yang spesifik yang dimiliki seorang pustakawan akan memudahkan perpustakaan dalam membuat varian program layanan. Salah satunya bisa dibuat klub buku yang didasarkan pada minat-minat tertentu. Misalnya ada pustakawan yang ahli di bidang teknologi informasi. Melingkupi perangkat lunak (software) dan perangkat keras (hardware). Sehingga ia bisa menjadi tempat acuan bagi pengunjung yang mempunyai masalah dengan komputer dan jaringan internet. Ia menjadi penggerak utama pembentukan klub komputer. Di setiap pertemuan bisa digunakan untuk membedah buku terbaru tentang komputer, saling berbagai tips aplikasi, termasuk pembicaraan yang mengarah kepada bisnis, dan sebagainya.

Selain itu, diperlukan pula pustakawan yang pintar menulis, dan tulisannya telah banyak dipublikasikan media dan penerbit. Keahlian khusus yang menjadi merk/brand untuk masing-masing pustakawan tersebut dapat menjadi magnet tambahan buat perpustakaan selain buku dan koleksi lainnya. Sehingga ada ikatan emosional-fungsional yang kuat antara pustakawan dengan pemustaka.

Pustakawan yang mahir menulis bisa menggagas klub menulis. Klub tersebut diikuti oleh pemustaka yang tertarik dan berniat belajar menulis. Yang memfasilitasi sekaligus jadi mentor adalah pustakawan yang pandai menulis. Jika tidak pandai, minimal ia mempunyai jejaring ke penulis mapan. Sehingga penulis mapan tersebut bisa dihadirkan di forum klub menulis.

Selain klub menulis bisa saja misalnya menelurkan program Klinik Baca Tulis (KBT). Program ini merupakan peniruan persis atas Posyandu atau Poliklinik yang memberikan pelayanan kesehatan fisik kepada masyarakat luas. Hanya saja, karena KBT, tentu pelayanannya tidak ditujukan kepada masalah fisik (sakit), tapi sakit yang berupa problem-problem membaca dan menulis yang mungkin, melilit mereka. Pasiennya adalah mereka yang ingin belajar membaca dan menulis, sedangkan dokternya adalah para penulis. Pelayanan diberikan secara cuma-cuma alias gratis.

Tujuan utama penggagasan KBT, pertama, adalah untuk mengoptimalkan peranan perpustakaan sebagai penggerak utama (prime mover) menuju masyarakat berkesadaran membaca dan menulis. Sebagai salah satu kegiatan yang dapat membawa masyarakat pada pencapaian peradaban yang tinggi. Kedua, ingin menampung keluhan dan semacamnya berkaitan dengan buku, membaca, dan menulis.

KBT bersedia menjadi keranjang sampah atau wadah apapun yang bermanfaat bagi masyarakat yang ingin meningkatkan kemampuan membaca dan menulisnya. Karena sungguh tidak mudah seseorang yang ingin bertanya soal buku yang baik dan menarik, dan juga soal kegiatan membaca dan menulis yang menyenangkan, menemukan orang yang tepat untuk melayani keinginan bertanya itu.

Ketiga, KBT ingin membuat dan melontarkan isu ke tengah masyarakat tentang pentingnya membaca dan menulis (buku). Merangsang tumbuhnya potensi membaca dan menulis di tengah masyarakat luas. Klinik ini mencoba memangkas kendala-kendala yang mengerangkeng seseorang untuk memunculkan potensi membaca dan menulis.

Konsepsi dan tujuan KBT di atas sebagian besar merupakan penulisan ulang, dengan sedikit modifikasi, atas rumusan Hernowo yang tertulis dalam buku Main-Main dengan Teks Sembari Mengasah Potensi Kecerdasan Emosi (Kaifa, 2004).

Poin pentingnya, keahlian tersebut bukan malah membuat seorang pustakawan menjadi ”tidak tersentuh” tapi justru dengan keahlian khusus yang ia miliki itu bisa menjadi alat untuk sok kenal sok dekat dengan para pemustaka. Sampai di sini, muncul kesadaran baru: perpustakaan sebagai institusi garda terdepan penggerak kampanye budaya baca dan tulis harus mencari formulasi yang tepat untuk ”menjual” kompetensi yang tiap-tiap pustakawan miliki.

Maka dari itu, syarat pengangkatan seorang pustakawan haruslah disertai dengan prasyarat kompetensi dasar atau keahlian khusus yang dikuasi. Kalau belum ahli, perpustakaan harus menciptakan mekanisme yang sifatnya built in (misalnya melalui kebijakan sertifikasi pustakawan) agar para pustakawan yang mempunyai minat di bidang-bidang tertentu itu bisa punya kesempatan belajar lagi untuk semakin mengasah kompetensinya.

Seorang pustakawan generasi kedua juga harus mempunyai jiwa kewirausahaan. Yaitu kemampuan kreatif dan inovatif yang dijadikan dasar, kiat dan sumberdaya untuk mencari peluang menuju sukses institusi. Kreatifitas adalah kemampuan mengembangkan ide dan cara-cara baru dalam memecahkan masalah dan menemukan peluang. Inovasi adalah kemampuan menerapkan kreativitas dalam rangka memecahkan masalah dan menemukan peluang.

Menurut Purbayu Budi Santosa (2004) performa kreatif dan inovatif hanya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki jiwa, sikap dan perilaku kewirausahaan, dengan ciri-ciri: Pertama, penuh percaya diri, indikatornya penuh keyakinan, optimis, berkomitmen, disiplin bertanggungjawab. Kedua, memiliki inisiatif, indikatornya adalah penuh energi, cekatan dalam bertindak dan aktif. Ketiga, memiliki motif berprestasi, indikatornya terdiri atas orientasi pada hasil dan wawasan ke depan. Keempat memiliki jiwa kepemimpinan, indikatornya adalah berani tampil beda, dapat dipercaya, dan tangguh dalam bertindak. Dan yang kelima, berani mengambil resiko dengan penuh perhitungan, oleh karena itu menyukai tantangan.

Saat meluncurkan Toko Buku Gramedia di Grand Indonesia, Jakarta (19/12/2008), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa bangsa yang maju pasti memiliki masyarakat yang maju pula. Masyarakat yang maju ditopang oleh masyarakat yang gemar membaca buku. Reading society menjadi prasyarat utama menuju advance society. Salah satu sarana penting membentuk reading society adalah perpustakaan.

Kaitannya dengan pernyataan Presiden SBY tersebut dalam bayangan saya, andai tiap pustakawan terutama mereka yang bertugas di perpustakaan milik pemerintah mempunyai kompetensi sikap dan skill berupa gaul, trendi, ahli, sekaligus memiliki jiwa kewirausahaan, maka tujuan besar: advance society akan benar-benar segera terwujud.

***

Gaul, trendi, ahli. Tiga lema itu pula yang menjadi salah satu isi dari buku The Art of Library ini. Sejauh amatan saya, harus diakui jumlah literatur atau bacaan yang memuat perkembangan dunia literasi (keberaksaraan), khususnya tentang perpustakaan masih sangat sedikit. Dari yang sedikit itu pun, sebagian besar ditulis oleh orang yang justru tidak berkecimpung secara intens dan langsung di dunia pusdokinfo (kepustakawanan).

Nah, pada titik itulah, kehadiran buku ini menjadi penting. Tidak saja menambah jumlah bacaan yang masih sedikit itu, tapi lantaran ditulis oleh sosok yang telah bertahun-tahun bergelut di bidang arsip, dokumentasi, dan perpustakaan. Karena ditulis oleh seorang praktisi, tentu saja ide dan inspirasi yang muncul di buku ini bersumber dari pengalaman di lapangan. Oleh karenanya, tawaran-tawaran perbaikan dan wacana yang digulirkan pun sangat realistis.

Selain berbicara tentang kualifikasi yang harus dimiliki seorang pustakawan, serta perkembangan dunia baca tulis kaitannya dengan keberadaan perpustakaan, secara khusus, Endang Fatmawati, penulis buku ini, menyoroti perkembangan praksis pengelolaan perpustakaan di perguruan tinggi. Yang demikian wajar, mengingat sosok pustakawan berprestasi nasional ini dalam kesehariannya bekerja di perpustakaan perguruan tinggi (Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro, Semarang).

Pendek kata ini, buku ini merupakan sebuah buku referensi penting dunia literasi yang patut dibaca dan dikoleksi. Buku referensi yang memberikan pijakan pengetahuan (kognisi), afeksi, dan simulasi seni mengelola library.

Judul Buku: The Art of Library–Ikatan Esai Bergizi tentang Seni Mengelola Perpustakaan

Penulis: Endang Fatmawati, S.S., S.Sos., M.Si (Pustakawan Perguruan Tinggi Berprestasi II (DIKTI) 2009

Kata Pengantar: Harkrisyati Kamil (Presiden Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia – ISIPII)

Penerbit: BP UNDIP, Semarang

Tebal Buku: xxii + 315 Halaman

Little Black Book | Nick Hurran | 2004

BookSTACY – Brittany Murphy
DEREK – Ron Livingston
KIPPIE KANN – Kathy Bates
BARB – Holly Hunter
JOYCE – Julianne Nicholson
MOM – Sharon Lawrence
CARL – Stephen Tobolowsky
IRA – Kevin Sussman
DR. RACHEL KEYES – Rashida Jones
LULU FRITZ – Josie Maran LARRY – Jason Antoon
RANDOM – Gavin Rossdale
PHIL – Cress Williams
BEAN – Dave Annable

Director: Nick Hurran
Written By: Elisa Bell and Melissa Carter
Story By: Melissa Carter
Producers: Elaine Goldsmith-Thomas, Deborah Schindler, William Sherak and Jason Shuman

Rahasia yang Menunggu Terungkap
Oleh: Nisa Diani

Buku harian  tidak bisa dipungkiri menjadi sesuatu benda yang menggambarkan pribadi seseorang secara utuh. Di dalamnya berisi tak hanya cerita atau pengalaman pribadi namun juga rahasia-rahasia paling tersembunyi dari kisah hidup seseorang. Kalau dulu buku harian berbentuk cetak dan kertas, kini revolusi baru diciptakan dalam bentuk tekhnologi. Memuat jutaan rahasia mulai cerita, foto-foto pribadi, hingga nomor kontak mantan pacar.

Mungkin rahasia seharusnya tetap menjadi rahasia saja, dan tak usah dibuka.

Kurang lebih seperti itu, kutipan dialog internal dari salah satu tokohnya, yang menjadi titik balik dari film ini.

Sinopsis

Cerita berawal dari kecemburuan Stacy Holt (Brittany Murphy) seorang kru dari sebuah reality-show TV yang ingin menguji kekasihnya Derek (Ron Livingston) atas kesetiaan dan ingin tahu bagaimana masa silam kekasihnya itu. Ia mencari tahu lewat Palm Tungsten C (semacam tekhnologi mirip i-Phone) milik Derek. Dari penelusurannya, ia jadi tahu bahwa Derek pernah mempunyai hubungan dengan tiga perempuan; Lulu Firzt seorang model perempuan terkenal, Joyce seorang koki restoran, dan seorang dokter ginekologi Rachel Keyes

Untuk mengorek-ngorek masa lalu, Derek, Stacy melakukan serangkaian rencana penjebakan. Ia menginterview mantan-mantan Derek dengan mengaku bahwa mereka akan dijadikan subyek utama dalam rangka acara televisi. Lulu yang dijanjikan akan mengisi segmen pembicara “Kegagalan sebuah operasi plastic”, Joyce yang dijanjikan mengisi segmen koki hotel berbakat, dan Rachel Keyes yang dijanjikan mengisi segmen penyuluhan penyakit seks menular.

Stacy selalu bercerita soal segala sesuatunya pada sahabatnya Barb yang juga seorang kru reality show tersebut. Dalam suatu hari Barb memenangkan persaingan sehat atas Stacy dan boss mereka menyetujui Barb memproduseri satu episode siaran langsung reality show tersebut. Dan apa yang terjadi bila cerita tersebut ternyata sebuah cerita milik sahabatnya, Stacy? Maka seperti demikianlah sebuah cerita kehidupan dipaparkan saat segala lekuk perselingkuhan, mata-mematai dan pengkhianatan terjalin dalam rangkaian yang utuh. Tak usah khawatir pada akhir cerita, saya pribadi masih lebih suka cerita film yang berakhir bahagia, dan film ini saya jamin mempunyai kejutan pula di akhir, sama layaknya dengan cerita kehidupan nyata yang selalu penuh kejutan.

Alur

Little Black Book (LBB) sangat cerdas mempermainkan karakter pemainnya. Penonton tentu menyadari bahwa tokoh utama di sebagian besar film adalah “orang baik-baik” namun apa yang disajikan oleh film ini berbeda, bahwa “hero” tak selalu “orang baik-baik”, bahwa manusia adalah manusia.

LBB mampu memutar persepsi tersebut sangat halus dan natural dengan menyajikan konflik batin internal para pelakonnya. Penyajian sudut pandang pertama –aku- versi Stacy mampu menggambarkan konflik batin perempuan (setidaknya saya) bahwa seperti demikianlah perasaan dan mungkin dialog-dialog yang dialami oleh perempuan yang tidak mempercayai pasangannya.

Kejujuran versus kebohongan menjadi latar utama dari cerita ini, disamping juga menggambarkan sebuah dilema ketika kita ingin tahu lebih banyak tentang rahasia hidup pasangan kita, dan mungkin rahasia hidup kita sendiri. Bahwa kadang kala sebuah rahasia ada saatnya tak perlu kita ketahui, tak perlu kita buka dan tak perlu kita korek-korek. Bahwa hidup terkadang perlu dijalani apa adanya, dan tak perlu mengambil pikiran buruk atau berencana terlalu muluk atasnya.

Seperti juga kutipan yang saya rasa bisa menjadi tema utama dari film ini, Hell is empty. All the devils are here… (William Shakespeare, The Tempest).

Nisa Diani, kreator di Komunitas ESOK, Surabaya

200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur! | Ahda Imran, dkk | 2010

bandungJudul : 200 ikon Bandung ; Ieu Bandung Lur!
Penulis : Ahda Imran, dkk
Koordinator Penulis : Zaky Yamani
Penerbit : Pikiran Rakyat
Cetakan : I, Sept 2010
Tebal : xvi+269 hlm

Oleh Tanzil Hernadi

Sebutkan dengan cepat apa yang terlintas dalam benak ketika kita mendengar kata “Bandung”, umumnya Bandung diidentikkan sebagai pusat belanja pakaian dan wisata kuliner, hal ini ditunjang dengan menjamurnya factory outlet dan aneka makanan khas Bandung yang tersebar di berbagai tempat. Hampir setiap akhir pekan wisatawan domestik khususnya penduduk Jakarta menyerbu kota Bandung untuk membeli pakaian sambil menikmati wisata kuliner.

Factory Outlet dan aneka kuliner memang telah menjadi ikon kota Bandung, namun sebenarnya bukan itu saja, ada 200 ikon yang menjadi trade mark kota Bandung! Apa saja? Dalam rangka ulang tahun kota Bandung yang ke 200, Pikiran Rakyat selaku surat kabar lokal terbesar di Jawa Barat merasa perlu untuk mengangkat dan mendokumentasikan ikon-ikonnya sehingga Bandung tak hanya dikenal sebagai kota wisata belanja saja.

Niat untuk mendokumentasikan ikon-ikon Bandung ini terealisasi dalam bentuk sebuah buku yang berjudul “ 200 Ikon Bandung, Ieu Bandung Lur!” Semula ke 200 ikon ini akan ditampilkan untuk dalam satu buku, namun karena keterbatasan waktu dan pertimbangan ekonomis dan ketebalan buku maka buku ini dibagi dalam dua jilid. Hingga tulisan ini dibuat baru buku pertamanya saja yang telah diterbitkan yang mennampilkan seratus ikon di berbagai bidang yaitu ekonomi (tempat usaha), politik, seni, agama, kesehatan, lanskap, pendidikan, dan olah raga yang masing-masing terbagi dalam bab-bab tersendiri.

Sebagai kisah pembuka buku ini menyajikan sejarah berdirinya kota Bandung. Pada tahun 1810 Gubernur Jenderal Daendels bersama bupati Wiranatakusumah II bertandang ke sebuah lokasi hutan yang akan dilewati jalur pembangunan Grote Postweg (Jalan Raya Pos). Sambil menancapkan tongkatnya Daendels berkata “Usahakan saat aku datang lagi ke sini, sebuah kota sudah dibangun!”.

Beberapa bulan kemudian, tepatnya pada 25 September 1810, Bupati Wiranatakusumah II mendapat SK (Surat Keputusan) pemindahan kota kabupaten ke wilayah dimana Daendels menancapkan tongkatnya. Tanggal surat SK itulah yang kini dijadikan patokan sebagai hari lahirnya kota Bandung. Sedangkan tempat dimana Daendels menancapkan tongkatnya itu kini dijadikan titik KM 0 dimana terdapat tugu atau monumen “Kilometer Nol” yang kini letaknya persis di depan kantor Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Jawa Barat atau tepat di seberang hotel Savoy Homan di jalan Asia Afrika Bandung.

Tugu atau monument “Kilometer Nol” tersebut diresmikan gubernur Jawa Barat pada thun 2004. Selain tugu terdapat juga monumen mesin penggilingan (stoomwals) kuno disertai sebuah batu prasasti beruliskan sejarah yang menaungi keberadaannya. Tugu dan monument mesin stoomwals ini didedikasikan bagi rakyat Priangan yang menjadi korban kerja paksa saat membangun Jalan Raya Pos.

Setelah kisah tentang KM 0 buku ini mengurai satu persatu ikon Bandung secara menarik. Ada yang memang mungkin sudah sangat dikenal seperti Gedung Sate,kampus ITB, Gedung Merdeka, dll, tapi ada juga yang mungkin merupakan hal-hal yang belum diketahui khususnya bagi generasi muda Bandung. Kalaupun ikon tersebut sudah dikenal tapi melalui buku ini pembaca akan menemukan kisah-kisah menarik dan unik dibalik ikon-ikon tersebut.

Misalnya fakta tentang ikon Bandung paling terkenal yaitu Gedung Sate. Siapa yang menyangka kalau ternyata di halaman Gedung Sate hingga kini masih tertanam empat jenazah pejuang Bandung yang gugur untuk mempertahankan Gedung Sate dari Pasukan Gurkha dan Nica pada tahun 1945.

Lalu siapa yang tahu jika di Pabrik Kina yang didirikan sejak 1896 itu memiliki lorong bawah tanah yang melintas di jalan Pajajaran yang hingga kini masih dipakai untuk lalu lintas karyawan pabrik yang hendak menyeberang ke pabrik di seberangnya.

Di buku ini akan terungkap pula bahwa Badak Bercula satu yang kini hanya dapat ditemui di Ujung Kulon konon kabarnya pernah memiliki habitat di Bandung saat masih berupa hutan dan rawa-rawa karenanya kawasan itu dinamakan Rancabadak (Rawa Badak) yang sekarang menjadi Rumah Sakit Umum Dr. Hasan Sadikin, karenanya tak heran jika dulu Rumah Sakit tersebut dikenal dengan RS Rancabadak.

Di bidang kuliner selain mengetengahkan Brownies Amanda, lotek Edja, Es Oyen, Cireng Cipaganti, dan sebagainya tercatat pula sebuah warung kopi Purnama di jalan Alketeri Bandung yang ternyata sudah berusia seratus tahun dan tidak boleh ditutup oleh pelanggannya. Walau telah berusia seratus tahun namun warung kopi Purnama tidak pernah berniat untuk mengubah warungnya menjadi Kafe atau lebih besar lagi, jadi ia tetap warung kopi yang bersaja hingga kini.

Masih banyak ikon-ikon menarik lainnya yang dibahas di buku ini , seperti tokoh-tokoh seni (Bimbo, Kang Ibing, Harry Roesli, dll), tempat ibadah (Mesjid Cipaganti, Katedral, Gereja Betel), olah raga ( Pemandian Tjihampelas, Stadion siliwangi, BHHH) dan sebagainya.

Kesemua ikon dalam buku ini disusun dengan gaya penulisan jurnalistik karena para penulisnya adalah wartawan HU Pikiran Rakyat. Dalam menampilkan setiap ikon selalu terdapat sisi unik yang disajikan dengan gaya penulisan feature yang ringkas, padat, dengan bahasa yang mudah dimengerti. Tiap ikonnya umumnya tak lebih dari dua halaman yang dilengkapi dengan sebuah foto hitam putih dan box keterangan berisi data-data tempat seperti tahun berdirinya, alamat, nama pemilik, dsb.

Sebagai buku yang mengungkap ikon-ikon Bandung kehadiran buku ini dapat menjadi pelengkap literatur tentang Bandung yang telah terlebih dahulu hadir seperti buku-buku karya Haryanto Kunto (Wajah Bandung Tempo Doeloe, Semerbak Bunga di Bandung Raya, Balai Agung di Kota Bandung, dll), Bandung Citra Sebuah Kota (Robert PGA Voskuil, dkk ), Jendela Kota Bandung (Her Suganda), dan sebagainya.

Yang agak disayangkan dari buku ini adalah editing yang tidak maksimal karena disana-sini masih ada beberapa kesalahan ketik yang seharusnya bisa dihindari oleh editor yang tentunya telah terbiasa mengedit sebuah harian besar. Kesalahan fatal terdapat di halaman 5 dimana tertulis surat keputusan p[emindahan Ibu kota Kabupaten Bandung tertanggal 25 Mei 1810, seharusnya tanggal 25 September 1810 yang tanggalnya dijadikan acuan untuk memperingati hari jadi kota Bandung.

Kemasan buku yang dikemas secara hard cover dengan penjilidan yang sempurna memang sangat baik untuk buku koleksi, namun hal ini mengakibatkan harga buku menjadi relatif mahal dan mungkin agak sulit dijangkau oleh masyarakat umum. Alangkah bijaknya jika di kemudian hari penerbit bisa menerbitkan edisi paperback sehingga harganya bisa lebih terjangkau dan buku ini dapat dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya warga Bandung yang ingin mengenal kotanya lebih dekat lagi.

Akhir kata, tentunya dengan kehadiran buku ini maka akan menimbulkan interaksi positif antara kota dan warganya. Interaksi yang baik akan lahir jika ada ingatan kolektif di benak warga tempat dia tinggal. Pencatatan, pendokumentasian, dan publikasi ikon-ikon kota seperti yang tersaji dalam buku ini adalah salah satu cara untuk membangun ingatan kolektif tersebut sehingga masyarakat khususnya warga Bandung dapat menyelusuri Bandung tempo doeloe maupun Bandung masa kini sehingga diharapkan dapat semakin mencintai kotanya.

H Tanzil, pembaca buku. Ratusan buku yang sudah diresensinya terkumpul di sini.

The Ghost, Sang Penulis Bayangan | Robert Harris | 2008

GhostJudul: The Ghost
Pengarang: Robert Harris
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, November 2008
Tebal: 320 halaman

Penulis Hantu: Antara Profesionalitas dan Hati Nurani

Oleh: Irwan Bajang

Memoar seorang mantan Perdana Menteri Inggris, Adam Lang, diperkirakan akan menjadi buku otobiografi paling laris dan akan menghasilkan keuntungan jutaan dollar bagi penerbitnya. Buku itu menjadi buku yang ditunggu-tunggu banyak orang, sebuah penuturan perdana menteri yang mundur karena kontroversi cerita di balaik perang dan sifatnya yang keras terhadap terorisme.

Namun sebelum buku itu selesai, seorang ghostwriter atau penulis bayangan yang mengerjakannya, Mike McAra, ditemukan tewas tenggelam setelah terjatuh dari kapal penyeberangan. Ia diduga terlalu mabuk dan terjatuh ke dari kapal ke laut. Penerbit kebingungan dan menunjuk seorang penulis bayangan asal London, seorang yang hasil kerjanya selalu memuncaki daftar buku laris. Ia dipilih menjadi pengganti penulis sebelumnya, dibayar sangat mahal, namun harus merampungkan buku tersebut dalam waktu sebulan.

Di tengah revisi naskah tebal yang pernah ditulis oleh pendahulunya itul, merebak khabar Adam Lang memerintahkan penangkapan warga Inggris lalu diserahkan pada CIA dan menjalani interogasi yang tak berperikemanusiaan. Selain itu, sang penulis baru ini menemukan keganjilan pada kematian McAra dan banyak fakta bahwa perdana menterinya adalah kader binaan lembaga intelejen Amerika.

Sebelum menulis novel ini, Robert Harris, dikenal sebagai penulis buku fiksi dan nonfiksi sejarah. Salah satu novel sejarahnya yang terkenal adalah Imperium: sebuah novel yang menceritakan sejarah kerajaan Romawi. Novel The Ghos rupanya novel Harris yang menyebrang. Novelnya kali ini adalah novel bertema politik, yang konon merupakan bentuk protes atas kekecewaan penulis terhadap pemerintah Inggris di bawah pimpinan Perdana Menteri Inggris Tony Blair yang mendukung serbuan Amerika Serikat ke Irak.

Harris awalnya pendukung sejati Blair namun belakangan berbalik setelah melihat berbagai masalah yang terjadi di Inggris akibat kebijakan luar negerinya. Saat Blair mengundurkan diri Harris mulai menulis novel ini. Tak heran jika kemudian ada kemiripan cerita antara tokoh Adam Lang dengan sosok Tony Blair. Harris mencoba mengambil setting setelah perang antiterorisme dikorbarkan. Ia memfokuskan diri pada merebaknya kontroversi penangkapan tersangka teroris dan pengangkutan mereka memakai pesawat dari Timur Tengah menuju penjara Guantanamo yang berujung pada interogasi yang penuh penyiksaan. Dengan mengisahkan kebijakan Adam Lang yang sepertinya selalu mendukung Amerika Serikat, ia membuka pintu dugaan permaianan badan intelejen di baliknya. Harris juga banyak mencampurkan fakta dan fiksi, misalnya tentang konspirasi perekrutan agen CIA di kampus-kampus pada era 1970-an. Bahkan, penerbit buku ini pada awalnya takut dan akan membatalkan penerbitannya, lantara khawatir muncul tuduhan pencemaran nama baik. Namun meski ada kemiripan, novel ini menciptakan Inggris yang iamjinatif dan berbeda dalam beberapa kasus.

Novel ini memang murni soal intrik politik internasional, namun ini bukan novel yang bikin pusing pembacanya. Harris membumbuinya dengan drama dan romantisme. Bagi peminat bacaan-bacaan triller, tentu saja Anda tidak akan menemukan kepuasan penuh saat membacanya. Novel ini sangat sedikit menyuguhkan adegan kejar-kejaran, baku tembak, atau kontak fisik yang menegangkan. Sempat bosan ketika membacanya, namun kebosanan terobati dengan banyaknya deskripsi yang mengena tapi singkat dan jenaka. Jika penulis lain berlama-lama menulis perasaan atau gejolak emosi tokohnya, maka Harris seringkali mengganti deskripsi yang kemungkinan kelewat panjang dengan analogi yang seringkali lucu dan terkadang sarkastis dengan meminjam mulut tokoh utamanya. Inikah kejeniusan Harris dalam mengeksploitasi sosok tokoh utamanya yang dalam keadaan ini berperan sebagai seorang penulis bayangan.

Penulis bayangan yang acap kali cuek akibat sadar dirinya tak akan ikut kondang meski bukunya sukses sehingga membuang ikatan emosi agar dengan mudah berpindah proyek berikutnya menjadi cocok untuk sarana mendeskripsikan semua hal secara satir tanpa mau berpanjang-panjang yang dengan sendirinya membuat cerita novel tak bertele-tele meski novel ini lumayan tebal. Saking berpegang pada filosofi kerja penulis bayangan yang menjadi tulang penegak badan cerita novel ini, Harris bahkan konsisten menyembunyikan nama dari tokoh protagonisnya. Karena itu tadi, penulis bayangan memang ditutupi identitasnya meski buku yang ditulisnya terkenal.

Alur novel ini sebenarnya sangat lamabat, dan klise. Layaknya kisah-kisah konspirasi lainnya, tokoh utama yang apolitis dan buta soal dunia intelejen tiba-tiba membaca benang merah dari satu fakta ke fakta yang ujungnya ada pada konspirasi besar yang ditutup-tutupi. Lalu ia akan terdorong mengurai fakta yang bak benang kusut, lalu akhirnya ia terjebak sendiri dalam permainan penuh intrik yang membuatnya tak bisa membedakan lagi mana kawan ataupun lawan. Harris berhasil menyuguhkan konflik yang matang. Tokoh protagonis yang apolitik karena pilihan dan pekerjaan itu dipaksanya menjadi peduli dengan urusan politik. Bahkan ia diseret masuk dalam konflik batin antara mengungkap kebenaran yang berarti pengkhianatan terbesar terhadap profesinya atau memilih acuh tak acuh agar tak kehilangan proyek penulisan terbesar dalam hidupnya.

Kutipan-kutipan tentang penulis bayangan diapakai Harris untuk membuka setiap bab. Hal ini menunjukkan dengan jelas, bahwa tokohnya yang semakin terseret ke tengah pusaran masalah dan terus menjauh dari prinsip-prinsip hidup dan pekerjaannya. Harris sangat pelit membagi petunjuk dan memaksa pembacanya mengikuti cerita sampai akhir di mana ia akhirnya membuka semuanya. Berbagai rentetan peristiwa yang disuguhkan serta peran dan aksi para tokohnya baru terasa dan kita pahami setelah buku ini selesai dibaca. Novel ini mengawinkan dunia politik yang penuh intrik, konspirasi intelejen yang disesaki misteri, dengan seluk beluk dunia penerbitan yang ruwet. Sebuah perpaduan yang membuat novel ini kompleks sekaligus cerdas namun tak membuat pembaca jenuh dan pusing. Salut untuk Robbert Harris!!

Irwan Bajang, penyair

Finding Forrester | Gus van Sant | 2000

Finding ForresterPemain: Sean Connery (William Forrester), Laurence Mark (Jamal Wallace)

Tulis Saja, Jangan Berpikir!

“Mulailah menulis, jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja. Yang penting menulis. Tulis naskah pertamamu itu dengan hati. Barulah kemudian kau tulis ulang dengan kepalamu. Kunci utama menulis adalah menulis, bukannya berpikir.”

Itu pelajaran pertama Jamal Wallace dari seorang novelis pemenang Pulitzer yang hanya menerbitkan satu buku kemudian menghilang, William Forrester. Pelajaran itu menjadi sabetan pertama mengasah bakat menulis Jamal hingga menjadi penulis yang berkarakter. Karakter itu ditemukannya setelah menemukan serangkaian latihan demi latihan di kamar William.

Jamal adalah seorang kulit hitam yang tumbuh menjadi remaja di lingkungan Bronx. Kawasan ras kulit hitam yang padat dan kasar. Ia hidup serumah dengan ibunya. Ayahnya pergi lantaran tak tahan dengan omelan ibunya karena jorok. Saudara laki-lakinya ikut pergi setelah ayahnya pergi. Kesepian membawanya ke sudut kamar bersama buku harian. Di lembar-lembar kertas itulah ia torehkan segala kecamuk hati.

Nah, buku-buku harian itu tertinggal di kamar William ketika suatu malam ia lari terbirit-birit setelah terpergok menerobos masuk rumah William tanpa izin atas tantangan kawan-kawannya.

Buku harian itu dikembalikan William dengan melempar tas dari jendela saat Jamal pulang sekolah. Sampai di rumah, Jamal mendapati catatan hariannya dicoret-coret dengan tinta merah. Lebih tepatnya dikoreksi dan diberi komentar.

Di antaranya adalah komentar “paragraf ini fantastik”, “ketelitian”, “bagus sekali”, “menakjubkan”. Juga beberapa koreksi gramatika, dan sebuah pesan: “Saya ingin mendukung penulis ini. Bisakah kita pergi keluar The Bronx sebentar?”

Undangan itu dipenuhi Jamal. Tapi tak semulus harapannya. Dan memang, tak ada tiket gratis memasuki dunia senyap William. Ia akan menerima Jamal kalau menyetorkan 5000 kata tentang: “Mengapa kau akan tetap berada di luar rumahku?” Jamal pun pulang dengan dongkol dan sekaligus mengerjakan tantangan itu. Lima ribu kata itu ditulisnya dari balik kamar di antara teriakan perempuan tetangganya yang sedang diamuk nafsu.

Rupanya, 5000 kata adalah kunci yang berhasil membuka pintu rumah William. Itu juga menjadi pelajaran pembuka yang diterima Jamal mengenai esensi sebuah pertanyaan. Pertanyaan adalah kunci pertama bagaimana memperoleh informasi yang berarti. Karena itu hindari sedemikian rupa menanyakan hal-hal yang jawabannya sudah kita tahu; pertanyaan yang hanya butuh penegasan.

William dan Jamal menyebut model pertanyaan demikian dengan “soup question”. Seperti sup krim yang jika tidak diaduk dan dibiarkan saja, maka akan membuih. Pertanyaan seperti itu lama-lama akan menjadi bualan omong kosong jika diteruskan.

Pelajaran selanjutnya adalah tentang menghormati buku. Selalu kembalikan buku setelah dibaca ke raknya semula dengan rapi. Jangan sekali-kali melipat sudut kertas untuk menandai batas membaca. Itu seperti membuat kuping anjing saja. Menghina penulisnya.

Pelajaran-pelajaran sederhana ini mengalir dalam pertemuan-pertemuan awal William dan Jamal tanpa sengaja. Sebuah pondasi yang dibangun untuk mencintai buku dengan hati melalui hal-hal kecil yang remeh sebelum mereka bersepakat untuk menjadi mentor dan murid.

William mau menjadi mentor asal tak ada pertanyaan tentang pribadinya, keluarganya, dan mengapa hanya satu buku yang ditulisnya. Ia juga meminta jaminan bahwa segala yang ia ceritakan yang terjadi di kamar itu tak akan pernah diceritakan pada orang lain. Jamal menerima semua syarat itu, asal William mengajarinya menulis. Maka pelajaran menulis itu pun dimulai.

Sebagai awal, William meminjamkan judul dan paragraf pertamanya untuk memberi pancingan agar Jamal mampu menemukan kata-katanya sendiri. Strategi itu manjur. Tulisan pertama Jamal mendapat pujian profesor menulisnya di kelas.

Namun profesor itu terus meragukan orisinilitas tulisan Jamal. Bagi sang profesor, seorang anak kulit hitam dari Bronx dan berasal dari sekolah kecil yang miskin sangat meragukan bisa memiliki tulisan sebagus itu.

Jamal tersinggung tulisannya diragukan. Namun ia tak marah. Disimpannya dendam itu untuk memicunya menulis lebih baik. Ia menulis lagi dengan dibantu judul dan paragraf dari William. Lalu ia mengumpulkan tulisannya untuk lomba menulis novelet akhir tahun di sekolah. Sayang setelah menulis itu Jamal lalai tak mengganti judulnya. Begitu saja dibawa ke sekolah dan mengumpulkan untuk lomba menulis.

Kelalaian itu akhirnya menjadi bumerang. Profesornya—yang sejak semula meragukan kemampuannya—menemukan bahwa judul dan paragraf pertama itu pernah diterbitkan atas nama William Forrester di  majalah New Yorker. Jamal lemas tak berdaya. Dewan sekolah mengancam akan menarik beasiswa. Ia akan diampuni jika mau membuat surat permintaan maaf pada semua siswa atas plagiat yang dilakukannya atau mendapat izin dari si empunya paragraf. Jamal tak memilih dua-duanya.

Ia marah sekali pada gurunya, William. Ia menyesal mengapa William tak mengatakan bahwa tulisan itu pernah dipublikasikan sehingga Jamal bisa menyebutkan sumber kutipan.

Tapi William justru berbalik marah karena sejak awal ia sudah menerapkan aturan bahwa apa yang ditulis di kamarnya akan tetap ada di kamarnya, tanpa kecuali. Jamal membela diri. Ketika ia akan minta izin membawa tulisan itu keluar William sedang tertidur pulas. Jamal malah mengumpat dan mengatakan William tak lebih dari seorang pengecut.

“Untuk apa menulis sampai almarimu penuh jika tak ada seorang pun di luar sana yang mengetahui tulisanmu?!”

William naik pitam. Jamal juga. Mereka berseteru.

Jamal tak menulis surat permintaan maaf, tapi juga tak mengatakan pada dewan sekolah atau siapa pun bahwa ia telah mendapat izin dari si empunya paragraf. Ia pegang teguh sumpahnya kepada sang guru. Ia juga siap melepas beasiswanya. Namun sebuah keajaiban terjadi.

Di saat acara pemenang lomba menulis akhir tahun itu hampir diumumkan, tiba-tiba William muncul dan meminta waktu membacakan sebuah paragraf. Seluruh hadirin yang ada di ruangan itu terkejut ketika ia menyebutkan nama sambil menunjuk foto yang tergantung di atas dinding. Mereka terdiam. Apa yang dibaca William sangat menohok perasaan. Kalimatnya sederhana, lugas, dan dalam. Tentang keluarga dan persahabatan. William membacanya dengan sepenuh hati. Hadirin bertepuk tangan riuh.

William katakan bahwa ia ada di ruangan itu karena seorang sahabat mengizinkannya untuk hadir. Sahabat yang tetap melindunginya di saat William tak bisa melakukan hal yang sama. William beritahu semua orang di ruang itu bahwa ia membantu Jamal menemukan kata-katanya dengan meminjamkan kalimatnya asal Jamal tak menceritakan pada siapa pun tentang dirinya. Dan janji itu dipegang teguh.

Meski Jamal nyaris kehilangan segala kebanggaannya sekaligus. Itulah seorang sahabat sejati. Diberitahukannya juga bahwa paragraf yang dibacanya tadi bukan tulisannya, itu karya Jamal. Hadirin terhenyak dan berdecak kagum sebelum kemudian bertepuk tangan riuh lagi. Sebuah tepuk tangan kebanggaan dan penghormatan. Pengakuan akan sebuah karya dan talenta.

Jamal memang menulis karena ia punya bakat. Tapi bakat saja tak cukup. Perlu pengetahuan tentang bagaimana menulis yang baik dan terus berlatih. Dari sanalah pisau bakat itu menjadi kian tajam dan mengkilap. Sungguh sebesar apa pun bakat menulis seseorang, tak akan pernah berkilau jika ia tak terus melatihnya. Tak cukup di situ. Penulis harus mulai membiarkan tulisannya dibaca orang lain. Seorang penulis harus belajar menghakimi tulisannya. Hingga ia bisa terus melakukan perbaikan-perbaikan. (Diana AV Sasa)

* Resensi ini juga dimuat dalam “Para Penggila Buku: Seratus Catatan Di Balik Buku” karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan (IBOEKOE, 2009: 338).

The Grand Design | Stephen Hawking | 2010

01 NOVEMBER 2010
Semesta dalam Genggaman Hawking
Sejak pertanyaan “mengapa kita ada” mengusik manusia berpuluh abad silam, ikhtiar untuk mencari jawabannya tak pernah berhenti. Banyak orang berpaling ke berbagai kekuatan besar di luar manusia. Para filsuf sejak Yunani klasik menyodorkan jawaban-jawaban spekulatif dengan mengandalkan kekuatan logika. Merekalah yang mendominasi pikiran manusia.
Tapi filsafat kini mati, kata Stephen Hawking. Filsafat tak sanggup mengimbangi perkembangan sains modern, terutama fisika. Obor penerang bagi pencarian ilmu pengetahuan kini dipikul para ilmuwan. Walaupun sains modern dianggap baru bermula pada abad ke-17, sumbangannya luar biasa bagi kemajuan peradaban, meski-sayangnya-juga bagi kerusakan.
Bagi Hawking, untuk memahami semesta pada tingkat terdalam, kita perlu beranjak dari sekadar menjawab pertanyaan bernada “bagaimana” menuju “mengapa”. “Bagaimana” adalah pertanyaan praktis yang lazim diajukan ilmuwan. Dengan kemajuan sains, kinilah saatnya kita mengajukan pertanyaan seperti: Mengapa sesuatu ada dan bukan tak ada? Mengapa kita ada? Mengapa hukum tertentu berlaku, dan bukan yang lain? Inilah pertanyaan pamungkas tentang kehidupan dan alam semesta yang secara “tradisional” beredar di ranah filsafat. Hawking, bersama Leonard Mlodinow, berusaha menjawabnya dalam karya mereka yang baru terbit, The Grand Design.
Bukanlah hal baru, sesungguhnya, bahwa ilmuwan berbicara melampaui batas-batas sains. Terutama ketika mereka berbicara tentang gerak, matahari dan bumi, planet dan semesta. Juga ketika Charles Darwin menerbitkan kitabnya, The Origin of Species, Tuhan dibawa-bawa ke dalam arena perdebatan. Revolusi yang ditimbulkan oleh Teori Evolusi menyebabkan orang berdebat di manakah peran Tuhan.
Pada masa yang lama, filsuf adalah juga ilmuwan (minus eksperimentasi). Aristoteles berbicara mengenai logika, etika, dan retorika, sebagaimana ia memikirkan mekanika dan semesta (kosmos). Jika kita memahami apa yang menyebabkan gerak, menurut Aristoteles, kita akan memahami sebab adanya dunia.
Isaac Newton membaca Nicomachean Ethics, yang ditulis Aristoteles berabad-abad sebelumnya. Ia membuat catatan-catatan di bukunya mengenai filsuf Yunani ini. Ia mengajukan “beberapa pertanyaan filosofis”. Newton bertanya: “Dapatkah kita mengetahui, melalui kekuatan logika, apakah materi bersifat kontinu dan bisa dipecah-pecah secara tak terhingga, ataukah diskontinu dan individual?”
Newton, dalam pandangan Hawking, lebih ilmiah dalam memahami gerak. Dia diterima luas berkat hukum gerak dan gravitasinya, yang mampu menjelaskan orbit bumi, bulan, dan planet, bahkan fenomena naik-turunnya permukaan laut. Persamaan gravitasi yang memakai namanya masih diajarkan hingga kini. Newton, bersama barisan ilmuwan seperti Nicolas Copernicus, Johannes Kepler, Francis Bacon, Rene Descartes, dan Galileo Galilei, berupaya menemukan hukum-hukum yang mengatur alam. Mereka berusaha menjawab pertanyaan bagaimana alam ini bekerja.
Lewat perumusan dalam bahasa matematika (Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, 1687), para ilmuwan itu ingin menjawab pertanyaan dengan cara yang melampaui spekulasi. Mereka meninggalkan pandangan sebelumnya, yang mencari tujuan di balik berbagai fenomena, dan menganggap pertanyaan berkaitan dengan Tuhan, roh manusia, dan etika mempunyai signifikansi tertinggi.
Toh, itu bukanlah jalan yang serta-merta menafikan konsekuensi yang lebih luas: filosofis, teologis, maupun praktis. Pandangan heliosentris Copernicus dan Galileo mematahkan pandangan geosentris Ptolemeus yang diikuti Gereja, dan serangan pada keyakinan religius ini telah menimbulkan masalah serius bagi kedua ilmuwan. Bagi Gereja, pandangan heliosentris adalah bidah, meski Descartes mengatakan hukum alam adalah takdir Tuhan dan Newton meyakini sistem tata surya tidak muncul dari kekacauan semata-mata dikarenakan hukum alam. Keteraturan di semesta, kata Newton, “diciptakan oleh Tuhan pada mulanya dan dipelihara olehnya hingga hari ini dalam keadaan dan kondisi yang sama”.
Fisika klasik dari generasi Newton juga mempengaruhi pandangan dunia, menembus wilayah di luar fisika. Selama abad ke-19 para ilmuwan terus mengembangkan model mekanistis alam dalam fisika, kimia, biologi, yang kemudian merambah area ilmu sosial dan psikologi. Fisikawan nuklir Fritjof Capra (The Turning Point) menunjukkan betapa pandangan mekanistis Cartesian-Newtonian mempengaruhi cara manusia memperlakukan alam, bukan untuk memperoleh kearifan, melainkan menguasainya. Alam dipahami dengan cara direduksi jadi bagian-bagiannya.
Dasar-dasar yang dibangun barisan raksasa itulah, seperti matematika dan metode penalaran oleh Descartes (Discourse on Method) dan metode ilmiah oleh Francis Bacon, yang memberikan keyakinan kuat kepada para ilmuwan hingga kini perihal kepastian pengetahuan ilmiah. Sebuah kepastian yang melampaui spekulasi filosofis. Sebuah keyakinan yang kemudian diwarisi Hawking, yang mengagungkan determinisme ilmiah.
l l l
Pengaruh Newton dalam fisika, khususnya, mulai terusik ketika Michael Faraday melakukan eksperimen dan James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan gaya listrik dan magnet menjadi elektromagnetik. Maxwell pula yang menemukan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Inilah masa peralihan menuju fisika modern yang ditandai lahirnya pemikiran revolusioner Albert Einstein tentang relativitas. Di usianya yang baru 26 tahun (1905), Einstein mempublikasikan makalahnya tentang relativitas khusus.
Selama 11 tahun kemudian, Einstein mengembangkan teori baru mengenai gravitasi, yang ia sebut relativitas umum (November 1915). Ia mengajukan pemikiran revolusioner bahwa ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva dan ini terjadi karena distorsi oleh massa dan energi di dalamnya. Ini perombakan besar atas pemikiran Newtonian mengenai ruang dan meletakkan waktu sebagai dimensi yang sama penting di samping tiga dimensi ruang.
Dua tahun sesudah itu, Einstein menerbitkan tulisan berjudul Cosmological Considerations (Tinjauan Kosmologis). Ia menerapkan teori barunya untuk mengkaji alam semesta. Maka dimulailah era kosmologi modern. Sekali lagi Einstein memperlihatkan kepionirannya. Kosmologi mempelajari alam semesta yang sebagian besar telaahnya berdasarkan sejumlah hipotesis, dan gravitasi Einsteinian merupakan konsep terpenting dalam kosmologi.
Semula kosmologi dipandang sebagai pseudo-sains, tapi dua perkembangan penting menjadikannya tak bisa diremehkan lagi. Pertama, terobosan dalam pengamatan astronomi, yang mampu mendeteksi galaksi-galaksi terjauh, membuat semesta menjadi laboratorium untuk menguji model-model kosmologi. Kedua, teori relativitas umum Einstein telah teruji sebagai teori gravitasi yang andal dan akurat yang berlaku di seluruh alam semesta.
Namun fisika klasik Newton dan fisika Einstein kesulitan ketika harus menjelaskan fenomena di dunia atomik dan subatomik. Pada 1920-an, kemampuan para fisikawan dalam memahami alam semesta dihadapkan pada tantangan yang serius. Setiap kali mereka bertanya kepada alam tentang suatu masalah dalam eksperimen atom yang mereka lakukan, alam menjawabnya dengan paradoks, hingga fisikawan Werner Heisenberg berulang kali bertanya pada diri sendiri: “Mungkinkah alam itu absurd sebagaimana yang tampak pada kita dalam eksperimen-eksperimen atom ini?” (Capra, The Tao of Physics, 1975).
Kegagapan menghadapi jagat subatomik itulah yang mendorong para ilmuwan semasa Einstein, seperti Heisenberg, Neils Bohr, Max Planck, Erwin Schr�dinger, Paul Dirac, Louis deBroglie, dan Wolfgang Pauli, merumuskan kerangka konseptual bagi fisika baru. Materi subatom merupakan entitas sangat abstrak yang beraspek ganda, tergantung bagaimana kita memandangnya: sebagai partikel dan sebagai gelombang. Penemuan ini melumpuhkan pengertian klasik tentang obyek padat.
Dualitas partikel/gelombang itu dipahami Bohr sebagai komplementaritas, dan fisikawan Denmark ini kerap mengatakan pengertian ini mungkin juga bermanfaat dalam ilmu di luar fisika. Fisikawan Fritjof Capra termasuk perintis penafsiran yang meluas hingga wilayah spiritualitas. Karyanya yang masyhur, The Tao of Physics (1975), melihat kesejajaran dualitas ini dengan mistisisme Timur. Yin/yang dalam masyarakat Cina, misalnya.
Namun penemuan berikutnya membikin Einstein tak habis pikir. Heisenberg menemukan prinsip ketidakpastian (1926), yang menyatakan kita memiliki keterbatasan dalam mengukur secara serentak posisi dan kecepatan suatu partikel. Partikel subatom tak bisa dipahami sebagai entitas yang mandiri, tapi mesti dilihat dari interaksinya dengan partikel lain. Tercium aroma posmo, memang. Dan inilah dimulainya babak baru bagi peran penting fisika kuantum.
Apa dampak relativitas Einstein dan fisika kuantum? Bom atom yang menjadi kekuatan ampuh untuk menghentikan Perang Dunia II dan kemudian memacu perlombaan senjata antara Uni Soviet dan Amerika Serikat beranjak dari teori relativitas khusus. Teori kuantum memberi landasan kuat bagi pengembangan teknologi informatika, dan kita sehari-hari memanfaatkannya: Internet.
Tak kalah dahsyat dari itu ialah implikasinya atas pemikiran filosofis manusia mengenai diri dan alamnya. Teori relativitas berujung pada gambaran bahwa alam semesta terbatas dalam ruang dan berkembang meluas tak terhindarkan, bermula pada satu peristiwa besar ketika jagat raya lahir dalam suatu Dentuman Besar di awal semesta. Dan Einsteinlah yang membuka jalan bagi kosmologi modern.
Teori kuantum berujung pada gambaran bahwa pada skala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya (bukan di masa sekarang), peristiwa-peristiwa fisik yang terjadi saat itu merupakan kebetulan tanpa sebab. Karena ukuran alam semesta amat-sangat kecil pada saat awal, menurut para penafsir teori kuantum, prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam teori kuantum juga berlaku pada alam itu.
Teori relativitas berujung pada kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada ketidakpastian. Inilah yang membuat Einstein geleng-geleng kepala: “(Rasanya) Tuhan tidak bermain dadu.” Di tengah kegalauannya, Einstein berusaha keras menyatukan gaya-gaya elektromagnetik (yang dipersatukan Maxwell), gaya nuklir lemah, gaya nuklir kuat, dan gaya gravitasi (yang mengatur alam semesta) dalam satu rumusan tunggal dan final, yang oleh sebagian orang disebut Theory of Everything (Teori Segala Hal). Einstein gagal.
Di antara perdebatan yang kelak kerap diceritakan ulang oleh sejarawan sains itu, Edwin Hubble mempublikasikan hasil observasinya bahwa alam semesta mengembang (1929), tiga belas tahun sebelum Stephen Hawking lahir. Hawking memasuki dunia akademis ketika riset kosmologi berbasis relativitas umum Einstein tengah mekar-mekarnya. Barangkali zaman memang menunggu kehadirannya untuk memberikan kontribusi.
Pada awal 1970-an, teori lubang hitam sedang naik daun. Lubang hitam (black hole) adalah istilah yang ditemukan kosmolog AS, John Wheeler (1969), untuk “bintang-bintang yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna”. Di Moskow, Pasadena, Princeton, dan Cambridge, istilah ini pun segera populer.
Hawking, yang batal melakukan riset doktoralnya di bawah Fred Hoyle, penemu istilah Big Bang (Dentuman Besar) pada 1949, mulai bekerja di bawah arahan Dennis Sciama. Sebagai bukan matematikawan murni, Hawking menerapkan teknik matematika yang diperkenalkan Roger Penrose untuk mempelajari lubang hitam. Penrose sendiri kemudian berusaha mencari jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita berpikir” dan “apa yang menjadikan kita manusia” (dua kitabnya: The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind).
Menjelang kelumpuhannya, Hawking mulai menonjol dalam kosmologi, khususnya lubang hitam. Alih-alih memakai tangan untuk menulis dan menggambarkan gagasannya, Hawking mulai beradaptasi untuk menggunakan gambaran mentalnya. Ia berusaha menyatukan teori relativitas tentang gravitasi dan fenomena skala besar dengan teori kuantum mengenai partikel subatom.
Dari coretan-coretan di benaknya saja, Hawking melahirkan Hukum Pertambahan Luas pada permukaan lubang hitam. Bunyinya: “Luas permukaan suatu lubang hitam hanya dapat tetap sama atau bertambah, tetapi tidak pernah berkurang.” Ilham tentang ide ini muncul tiba-tiba. “Begitu hebat pengaruh ini sehingga saya terjaga hampir semalaman,” tutur Hawking.
Pernyataan “tidak pernah berkurang” dalam rumusan Hawking itu mengingatkan pada besaran entropi dalam Hukum Termodinamika II. Entropi (ketidakteraturan) suatu sistem hanya dapat tetap sama atau meningkat, tetapi tidak pernah berkurang (jika sistem itu terisolasi dan dibiarkan mencapai kesetimbangan). Ludwig Boltzmann, fisikawan Austria, pada 1878 menyebutkan definisi entropi sebagai banyaknya kemungkinan dalam melakukan penyusunan molekul. Misalnya, jika suatu keadaan mempunyai banyak cara yang berbeda untuk menyusun molekul-molekulnya, sistem itu mempunyai entropi yang besar.
Ketika benda mencapai kesetimbangan termal, benda itu mempunyai suhu tertentu dan karenanya memancarkan radiasi serta mengalami pertukaran energi dengan lingkungannya. Tapi ketika itu umum orang berpendapat, lubang hitam tidak mungkin memancarkan apa pun. Segala sesuatu bisa jatuh ke dalam lubang hitam, tak ada yang bisa keluar darinya. Cahaya sekalipun.
Namun Jacob Bekenstein, mahasiswa pascasarjana yang dibimbing John Wheeler, berpendapat bahwa lubang hitam mempunyai entropi dan ini mungkin berkaitan dengan hukum pertambahan luas permukaan lubang hitam yang ditunjukkan Hawking. Bekenstein lalu menulis makalah singkat yang mengidentifikasi luas permukaan lubang hitam sebagai entropi lubang hitam.
Hawking menganggap mahasiswa itu telah menyalahgunakan teorinya. Namun pikirannya mulai terusik setelah bersama James Bardeen dan Brandon Carter di Pegunungan Alpen, Prancis, menemukan hukum yang mengatur evolusi lubang hitam berdasarkan relativitas Einstein. Hukum mekanika lubang hitam ini mirip dengan hukum termodinamika. Namun mereka ketika itu menganggapnya kebetulan belaka. Lain halnya bagi Bekenstein. Ia menganggap penemuan itu memperkuat pendapatnya bahwa luas permukaan lubang hitam adalah entropinya.
Kekukuhan pendapat Bekenstein mulai menggoyahkan Hawking. Ia lalu menelaah apa yang bisa terjadi di permukaan lubang hitam dengan memakai prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang meramalkan energi muncul dan lenyap bergantian dalam skala waktu yang ditentukan oleh skala Planck (10-33). Dengan persamaan Einstein, E=mc2, energi ini diubah menjadi partikel dan antipartikel yang silih berganti muncul dan lenyap.
Dalam telaah itulah, Hawking menggabungkan mekanika kuantum dan relativitas umum dalam rumusan tunggal untuk pertama kalinya (1974). Dari sini ia berkesimpulan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya hitam, tapi memancarkan radiasi-Bekenstein benar, rupanya. Jadi, lubang hitam tidak hanya mempunyai entropi, tapi juga suhu, dan mematuhi hukum termodinamika klasik yang ditemukan Boltzmann pada akhir abad ke-19.
Temuan itu diakui amat penting. Hanya beberapa pekan setelah tulisan tentang radiasi lubang hitam diterbitkan, Hawking menerima gelar kehormatan akademik tertinggi Inggris. Di usia 32 tahun, ia diangkat menjadi anggota Fellow of the Royal Society. Ia diundang untuk melakukan riset di Caltech, Pasadena, AS. Ketika itulah Hawking menerima surat pemberitahuan dari Vatikan bahwa ia dipilih oleh Akademi Sains Vatikan untuk menerima medali Paus Paulus XI. Penghargaan ini mulai menggeser riset Hawking dari lubang hitam ke permulaan alam semesta, dengan Dentuman Besar sebagai tesis yang diminati Gereja Katolik Roma.
l l l
Namun sejarah kemudian mencatat Hawking bergerak menjauhi harapan Vatikan. Penafsiran Richard Feynman, jenius fisika dari AS, atas teori kuantum melahirkan apa yang disebut sebagai “sum over histories”. Model kuantum menyebutkan partikel dikatakan tidak memiliki posisi yang pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Dalam tafsiran Feynman, partikel justru mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan kedua titik itu.
Kesimpulan Feynman: suatu sistem bukan hanya memiliki satu sejarah, melainkan setiap sejarah yang mungkin. Ini gagasan radikal, bahkan bagi banyak fisikawan. Dalam teori Newtonian, masa lalu diasumsikan ada sebagai serangkaian peristiwa yang pasti. Menurut fisika kuantum, alam semesta memiliki bukan hanya satu masa lalu, melainkan banyak. Semesta bukan hanya memiliki eksistensi tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari semesta ada secara simultan dalam apa yang disebut quantum superposition.
Penafsiran Feynman inilah yang membangkitkan semangat Hawking untuk memperbaiki teorinya. Dalam sejarah sains, kita telah menemukan serangkaian teori atau model yang lebih baik dan lebih baik, sejak Plato hingga teori klasik Newton sampai teori-teori kuantum modern. “Akankah rangkaian ini akhirnya mencapai suatu titik akhir, teori pamungkas tentang semesta, yang akan mencakup seluruh gaya dan memprediksi setiap observasi yang kita lakukan, ataukah kita akan terus selamanya menemukan teori yang lebih baik, tetapi tidak pernah menemukan satu teori yang tak bisa diperbaiki lagi?” tulis Hawking dalam The Grand Design.
“Kita belum memperoleh jawaban definitif atas pertanyaan ini,” tulis Hawking, “tapi kita sekarang memiliki calon bagi teori pamungkas tentang segala Hal, jika memang ada, yang disebut Teori-M.” Bagi Hawking, Teori-M adalah satu-satunya model yang mengandung seluruh sifat yang harus dimiliki teori yang final. Dan ini melibatkan 10 dimensi ruang dan satu dimensi waktu.
Berpijak pada penafsiran Feynman, Hawking mengatakan, menurut Teori-M, semesta kita tidaklah tunggal. Gagasan seperti ini di masa lampau pernah dilontarkan Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), yang menolak konsep geosentris Ptolemeus-yang berarti mendahului Copernicus maupun Kepler dan Galileo. Al-Razi juga menyebutkan alam semesta ini tidak tunggal dan sangat banyak.
Namun, berbeda dengan Al-Razi yang berpaling kepada adanya pencipta, Hawking berujung di kesimpulan bahwa penciptaan alam semesta tidak memerlukan intervensi sesuatu yang supernatural atau Tuhan. Semesta yang banyak ini muncul alamiah dari hukum fisika. “Masing-masing semesta memiliki banyak sejarah yang mungkin dan banyak keadaan yang mungkin pada masa-masa yang kemudian, misalnya pada masa seperti sekarang, jauh sesudah terciptanya mereka. Semesta adalah prediksi sains.”
Sebuah klaim yang lebih deterministik dibanding pernyataannya 22 tahun lalu dalam A Brief History of Time. “Apabila semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar mandiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki awal maupun akhir: semesta hanyalah ada. Kalau begitu, di mana tempat bagi Sang Pencipta?”
Scientific determinism, yang beberapa kali ditegaskan Hawking, tidak memberi tempat bagi Tuhan. Dalam sejarah perdebatan sains-agama, ini bukan hal baru. Charles Darwin telah memulainya, dan kini diwarisi dengan penuh keyakinan oleh ilmuwan Richard Dawkins (The Selfish Gen dan A Devil’s Chaplain). Dawkins menggusur peran Tuhan dalam penciptaan. Steven Weinber, fisikawan yang meraih Nobel bersama Abdus Salam, dalam Dreams of a Final Theory, menyebutkan semakin sains menukik ke dalam hakikat segala sesuatu, alam semesta ini tampaknya semakin tidak memberi tanda-tanda bahwa ia merupakan jejak Tuhan yang “menaruh perhatian kepadanya”.
Sebagian ilmuwan enggan menarik Tuhan ke dalam arena sains, seperti diwakili Peter Woit, fisikawan dari Universitas Columbia, AS, ketika menanggapi The Grand Design: “Saya lebih suka pada naturalisme dan tidak melibatkan Tuhan dalam fisika.” Fisikawan seperti Paul Davies memilih posisi yang berseberangan dengan Hawking (The Mind of God dan God and the New Physics). Ada banyak posisi dalam menanggapi perkembangan sains (fisika, biologi), dan posisi Hawking adalah salah satunya.
Barangkali tepat belaka pandangan Keith Ward dalam God, Chance and Necessity (1996) bahwa ini adalah perkara interpretasi. Dan Hawking memilih interpretasi materialistik.
Dian Basuki
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/01/IQR/mbm.20101101.IQR134963.id.html
01 NOVEMBER 2010
Semesta dalam Fisika
Sekitar 2.600 tahun silam, Thales mengubah pandangan mitologis mengenai semesta dan kehidupan manusia. Menurut dia, alam konsisten mengikuti prinsip yang bisa dipahami. Pandangan Thales dilanjutkan para pengikutnya, yang lalu menjadi tumpuan proses panjang penggantian ide tentang dewa-dewa dengan konsep semesta yang diatur hukum alam dan diciptakan menurut cetak biru yang suatu saat bisa dipelajari. Tapi proses ini baru benar-benar dimulai setelah 20 abad kemudian.
Elektromagnetisme
Medan elektromagnetik terdapat di balik hampir semua fenomena kehidupan sehari-hari, kecuali gravitasi. Temuan-temuan tentang hal yang mengidentifikasi hubungan erat antara gaya listrik dan magnet ini dimulai dari Hans Christian Orsted (1820). Michael Faraday dan James Clerk Maxwell, antara lain, yang menyempurnakannya. Implikasi teoretis dari temuan tentang elektromagnetik merupakan fondasi dari Teori Relativitas Khusus yang dirumuskan Albert Einstein.
Fisika Kuantum
Teori fisika dari masa Newton merupakan cermin pengalaman sehari-hari, dengan obyek material yang memang eksis, bisa ditentukan lokasinya, mengikuti jalur tertentu, dan seterusnya. Fisika kuantum, yang dikembangkan sejak abad ke-20, merupakan cara memahami alam pada skala atom dan subatom. Model kuantum menyebutkan partikel tak memiliki posisi pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Tapi Richard Feynman belakangan menafsirkan bahwa partikel mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan dua titik secara bersamaan.
Hukum Alam
Konsep modern tentang hukum alam muncul pada abad ke-17. Johannes Kepler adalah ilmuwan pertama yang memahaminya dalam pengertian sains modern. Sesudahnya, antara lain, ada Galileo Galilei dan Rene Descartes. Tapi baru Isaac Newton-lah yang diterima luas, berkat hukum gerak dan gravitasinya. Tiga pertanyaan pokok yang timbul setelah hukum yang mengatur alam diakui adalah (1) dari mana asal-usul hukum itu; (2) apa ada perkecualian, misalnya keajaiban; dan (3) apa hanya ada satu kemungkinan dari hukum itu.
Teori Relativitas
Inilah teori yang memperkaya fisika dan astronomi sepanjang abad ke-20. Melalui empat makalah pada 1905, yang merupakan fondasi Teori Relativitas Khusus, Einstein mengubah persepsi yang dipengaruhi teori mekanika Newton. Tapi orang lebih mengingat teori ini dalam kaitannya dengan bom nuklir. Einstein menerbitkan Teori Relativitas Umum pada 1915, yang menegaskan ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva karena adanya distorsi oleh massa dan energi di dalamnya.
Teori M
“M” di sini bisa berarti “master”, “miracle” (keajaiban), atau “misteri”. Atau malah ketiga-tiganya. Pencetusnya, Edward Witten, mengatakan penafsiran atas “M” bergantung pada selera penggunanya. Sebagai perluasan teori dawai (string theory), yang merupakan ikhtiar menggabungkan fisika kuantum dan teori relativitas umum, inilah teori yang digadang-gadang sebagai teori segalanya, yang menyatukan keempat gaya fisika; Hawking bahkan yakin inilah satu-satunya kandidat teori paripurna tentang semesta. Tapi observasilah yang masih harus membuktikannya.
Realitas
Kebanyakan ilmuwan berpendapat hukum alam merupakan ekspresi matematis dari realitas eksternal, lepas dari siapa pun pengamat yang menyaksikannya. Tapi telaah mengenai bagaimana kita mengamati dan merumuskan konsep tentang alam telah memunculkan pertanyaan apakah realitas obyektif memang ada. Timbul kubu realis dan antirealis. Realisme tergantung-model mempertemukan keduanya pada titik apakah suatu model sesuai dengan pengamatan atau tidak. Maka bisa dikatakan tidak ada model matematika atau teori tunggal yang bisa mendeskripsikan setiap aspek alam semesta.
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/01/IQR/mbm.20101101.IQR134964.id.html
01 NOVEMBER 2010
Ilmuwan Paling Populer
roduser seri animasi terkenal The Simpsons rupanya jatuh cinta pada Stephen Hawking. Setidaknya sudah empat kali ilmuwan Inggris ini muncul dan bergaul dengan keluarga Pak Homer Simpson. Padahal tokoh dunia yang diparodikan dalam seri itu biasanya bintang film, sutradara, atau penyanyi. Sesekali muncul tokoh lain seperti pengarang Harry Potter, J.K. Rowling, serta negarawan top Bill Clinton dan Tony Blair. Sangat jarang ilmuwan seperti Hawking.
Mungkin ia dianggap memiliki “karakter kuat”, gampang diingat penampilannya, karena tak mampu menggerakkan anggota badan dan jika berbicara mesti dengan suara komputer yang dipasang di kursi rodanya. Tidak banyak ilmuwan yang wajah atau penampilannya gampang diingat. Mungkin hanya Albert Einstein yang bisa menyainginya. “Saya pikir, mungkin saya cocok dengan stereotipe ilmuwan sinting atau jenius cacat,” kata Hawking suatu ketika.
Bisa jadi pula produser The Simpsons tertarik karena prestasi akademisnya. Hawking memang menghasilkan penelitian yang spektakuler, terutama yang berkaitan dengan lubang hitam, dan sering membuat pernyataan kontroversial yang menjadi pembicaraan bahkan di kalangan awam. Media massa juga senang karena ia pintar mengungkapkan ide dengan ungkapan yang sedap ditulis.
Dalam buku mutakhir yang dia tulis bersama ilmuwan Leonard Mlodinow, The Grand Design, misalnya, Hawking menyatakan bahwa penciptaan alam semesta tidak harus melibatkan Tuhan. Dua dekade silam, dalam bukunya yang sangat terkenal, A Brief History of Time, ia menyatakan bahwa begitu Teori Penyatuan Agung dapat disusun, ia akan menjadi puncak temuan manusia. “Saat itu, kita bisa mengetahui pikiran Tuhan,” ujarnya.
Kemampuan Hawking secara akademis serta kepandaiannya membuat pernyataan kontroversial itu kemungkinan besar terpengaruh penyakit Lou Gehrig. Penyakit yang disebut pula dengan amyotrophic lateral sclerosis ini membuatnya lumpuh dan bahkan akhirnya tidak bisa berbicara.
Kelumpuhan itu membuatnya bekerja dengan unik. “Saya menghindari persoalan dengan banyak persamaan-saya mengubahnya menjadi pertanyaan geometri,” kata Hawking. “Dengan itu, saya bisa menggambarkan di otak saya.”
Hawking akan membayangkan teori-teori fisika yang njelimet dalam bentuk geometris di dalam otak. Hal ini yang membuat ide dan pikirannya kadang meloncat dibanding para ilmuwan lain. “Saya pikir mungkin benar ia menghasilkan banyak penelitian karena kekurangannya itu,” kata Kip Thorne, ahli fisika teoretis dari Caltech, yang mengenal Hawking sejak awal 1960-an.
Karena sulit berbicara, Hawking terlatih berhemat kata dan membuat ungkapan dramatis. “Ia mesti membuat kalimatnya sepadat mungkin,” kata Bernard Carr, mahasiswa pertama yang bisa tinggal gratis serumah dengan Hawking dan keluarganya pada 1974 sekaligus mendapat bimbingan intens-sebagai ganti, Carr mesti membantu Hawking yang mulai lumpuh parah. “Pembicaraan 15 menit dengan Stephen seperti berbicara dengan orang lain selama beberapa jam.”
Kelumpuhan Hawking tidak datang dalam sekejap. Ia mendapat diagnosis penyakit Lou Gehrig ketika masih 21 tahun. Meski tak termasuk anak yang pintar bermain sepak bola, atau tulisan tangannya seperti cakar ayam, Hawking, lahir 8 Januari 1942, tak merasa sebagai anak yang memiliki koordinasi buruk. Malah, saat mulai kuliah di Oxford pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan tim dayung dan sering mewakili fakultasnya bertanding.
Pada tahun ketiga kuliah itulah Hawking mulai mengalami gejala lumpuh. Kadang ia terjatuh tanpa sebab. Ayahnya membawa dia ke dokter. Setelah mendapat pemeriksaan dua pekan, dia mendapat diagnosis penyakit yang melumpuhkan sebagian anggota badan. Masih ada tambahan pada diagnosis itu: dia akan meninggal dalam beberapa tahun.
Dokter yang merawat tak tahu apa yang mesti dilakukan dan berapa cepat kelumpuhan itu akan menjadi akut-dan mengakhiri segalanya. Jadi, mereka menyuruh Hawking kembali ke kampus dan kembali meneliti fisika teori tentang relativitas dan kosmologi. “Meski saat itu saya tidak banyak mendapat kemajuan karena tidak memiliki banyak latar belakang matematika,” tuturnya dalam satu tulisan.
Hawking sempat stres. Ia mencoba melupakan penyakitnya dengan mendengarkan musik karya komposer Jerman, Wilhelm Richard Wagner. Sebelum diagnosis itu pun Hawking sudah cenderung bosan dengan kehidupannya. Setelah divonis usianya tinggal beberapa tahun, ia merasa hidup begitu berharga. “Biarpun ada awan mendung di atas masa depan, saya temukan, dan ini mengejutkan, bahwa saya menikmati hidup saat itu daripada sebelumnya,” katanya.
Hawking mulai mendapat kemajuan dalam risetnya. Ia kemudian berkenalan, bertunangan, dan menikah dengan Jane Wilde. Hubungan ini memaksanya mendapat pekerjaan sehingga ia melamar ke Cambridge. Mereka memiliki tiga anak, Robert (lahir 1967), Lucy (1970), dan Timothy (1979).
Karier akademis Hawking setelah divonis bakal berumur pendek terus moncer. Bersama Roger Penrose, Hawking menemukan bahwa teori relativitas Einstein menyatakan alam semesta dimulai dari Big Bang (Dentuman Besar) dan berakhir dalam lubang hitam. Hawking kemudian juga memunculkan teori bahwa lubang hitam tak sepenuhnya berwarna hitam. Masih ada cahaya di sana dan disebut Radiasi Hawking.
Hawking juga pintar membuat terobosan ilmiah dari pemikiran orang lain. “Sangat sedikit yang memiliki pemahaman dan pandangan, atau kemampuan, untuk menanyakan hal yang tepat sehingga bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” kata Thorne.
Masalah dengan penyakit tak berhenti di kelumpuhan itu saja. Pada 1985, Hawking kesulitan bernapas. Agar oksigen lebih lancar mengalir, ia dibedah. Akibat lain muncul. Kemampuan bicaranya, yang sebelum bedah saja sudah lemah, setelah bedah menjadi hilang sama sekali alias tak bisa berbicara. Untung saja seorang ahli komputer dari Amerika Serikat, Walt Woltosz, mengirim program komputer bernama Equalizer.
Program itu semula dipasang di komputer meja tapi kemudian dipindah ke komputer yang berada di kursi berjalan. Hawking bisa berbicara 15 kata per menit. Hawking cukup puas dengan sistem komputer yang membuat suaranya seperti suara robot dalam film fiksi ilmiah itu. Hanya satu keluhannya. “Ini membuat saya memiliki dialek Amerika,” kata orang Inggris yang sudah mendapat gelar “Sir” dari Ratu Elizabeth itu.
Nama Hawking menjadi populer setelah menulis buku yang menjelaskan teori-teori penciptaan semesta dengan bahasa sederhana, A Brief History of Time, pada akhir 1980-an. Buku ini di luar dugaan sangat laris. Pernyataannya tentang Tuhan menjadi kontroversial. Selain itu, penampilannya sebagai ilmuwan “aneh”, lumpuh total dan hanya bisa berbicara dengan komputer, menjadikannya sangat terkenal.
Dan penampilan itulah yang membuatnya sering muncul bersama Pak Homer Simpson.
Nur Khoiri
http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2010/11/01/IQR/mbm.20101101.IQR134965.id.html

HawkingSemesta dalam Genggaman Hawking

Oleh: Dian R. Basuki

Sejak pertanyaan “mengapa kita ada” mengusik manusia berpuluh abad silam, ikhtiar untuk mencari jawabannya tak pernah berhenti. Banyak orang berpaling ke berbagai kekuatan besar di luar manusia. Para filsuf sejak Yunani klasik menyodorkan jawaban-jawaban spekulatif dengan mengandalkan kekuatan logika. Merekalah yang mendominasi pikiran manusia.

Tapi filsafat kini mati, kata Stephen Hawking. Filsafat tak sanggup mengimbangi perkembangan sains modern, terutama fisika. Obor penerang bagi pencarian ilmu pengetahuan kini dipikul para ilmuwan. Walaupun sains modern dianggap baru bermula pada abad ke-17, sumbangannya luar biasa bagi kemajuan peradaban, meski-sayangnya-juga bagi kerusakan.

Bagi Hawking, untuk memahami semesta pada tingkat terdalam, kita perlu beranjak dari sekadar menjawab pertanyaan bernada “bagaimana” menuju “mengapa”. “Bagaimana” adalah pertanyaan praktis yang lazim diajukan ilmuwan. Dengan kemajuan sains, kinilah saatnya kita mengajukan pertanyaan seperti: Mengapa sesuatu ada dan bukan tak ada? Mengapa kita ada? Mengapa hukum tertentu berlaku, dan bukan yang lain? Inilah pertanyaan pamungkas tentang kehidupan dan alam semesta yang secara “tradisional” beredar di ranah filsafat. Hawking, bersama Leonard Mlodinow, berusaha menjawabnya dalam karya mereka yang baru terbit, The Grand Design.

Bukanlah hal baru, sesungguhnya, bahwa ilmuwan berbicara melampaui batas-batas sains. Terutama ketika mereka berbicara tentang gerak, matahari dan bumi, planet dan semesta. Juga ketika Charles Darwin menerbitkan kitabnya, The Origin of Species, Tuhan dibawa-bawa ke dalam arena perdebatan. Revolusi yang ditimbulkan oleh Teori Evolusi menyebabkan orang berdebat di manakah peran Tuhan.

Pada masa yang lama, filsuf adalah juga ilmuwan (minus eksperimentasi). Aristoteles berbicara mengenai logika, etika, dan retorika, sebagaimana ia memikirkan mekanika dan semesta (kosmos). Jika kita memahami apa yang menyebabkan gerak, menurut Aristoteles, kita akan memahami sebab adanya dunia.

Isaac Newton membaca Nicomachean Ethics, yang ditulis Aristoteles berabad-abad sebelumnya. Ia membuat catatan-catatan di bukunya mengenai filsuf Yunani ini. Ia mengajukan “beberapa pertanyaan filosofis”. Newton bertanya: “Dapatkah kita mengetahui, melalui kekuatan logika, apakah materi bersifat kontinu dan bisa dipecah-pecah secara tak terhingga, ataukah diskontinu dan individual?”

Newton, dalam pandangan Hawking, lebih ilmiah dalam memahami gerak. Dia diterima luas berkat hukum gerak dan gravitasinya, yang mampu menjelaskan orbit bumi, bulan, dan planet, bahkan fenomena naik-turunnya permukaan laut. Persamaan gravitasi yang memakai namanya masih diajarkan hingga kini. Newton, bersama barisan ilmuwan seperti Nicolas Copernicus, Johannes Kepler, Francis Bacon, Rene Descartes, dan Galileo Galilei, berupaya menemukan hukum-hukum yang mengatur alam. Mereka berusaha menjawab pertanyaan bagaimana alam ini bekerja.

Lewat perumusan dalam bahasa matematika (Newton, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica, 1687), para ilmuwan itu ingin menjawab pertanyaan dengan cara yang melampaui spekulasi. Mereka meninggalkan pandangan sebelumnya, yang mencari tujuan di balik berbagai fenomena, dan menganggap pertanyaan berkaitan dengan Tuhan, roh manusia, dan etika mempunyai signifikansi tertinggi.

Toh, itu bukanlah jalan yang serta-merta menafikan konsekuensi yang lebih luas: filosofis, teologis, maupun praktis. Pandangan heliosentris Copernicus dan Galileo mematahkan pandangan geosentris Ptolemeus yang diikuti Gereja, dan serangan pada keyakinan religius ini telah menimbulkan masalah serius bagi kedua ilmuwan. Bagi Gereja, pandangan heliosentris adalah bidah, meski Descartes mengatakan hukum alam adalah takdir Tuhan dan Newton meyakini sistem tata surya tidak muncul dari kekacauan semata-mata dikarenakan hukum alam. Keteraturan di semesta, kata Newton, “diciptakan oleh Tuhan pada mulanya dan dipelihara olehnya hingga hari ini dalam keadaan dan kondisi yang sama”.

Fisika klasik dari generasi Newton juga mempengaruhi pandangan dunia, menembus wilayah di luar fisika. Selama abad ke-19 para ilmuwan terus mengembangkan model mekanistis alam dalam fisika, kimia, biologi, yang kemudian merambah area ilmu sosial dan psikologi. Fisikawan nuklir Fritjof Capra (The Turning Point) menunjukkan betapa pandangan mekanistis Cartesian-Newtonian mempengaruhi cara manusia memperlakukan alam, bukan untuk memperoleh kearifan, melainkan menguasainya. Alam dipahami dengan cara direduksi jadi bagian-bagiannya.

Dasar-dasar yang dibangun barisan raksasa itulah, seperti matematika dan metode penalaran oleh Descartes (Discourse on Method) dan metode ilmiah oleh Francis Bacon, yang memberikan keyakinan kuat kepada para ilmuwan hingga kini perihal kepastian pengetahuan ilmiah. Sebuah kepastian yang melampaui spekulasi filosofis. Sebuah keyakinan yang kemudian diwarisi Hawking, yang mengagungkan determinisme ilmiah.

Pengaruh Newton dalam fisika, khususnya, mulai terusik ketika Michael Faraday melakukan eksperimen dan James Clerk Maxwell berhasil menggabungkan gaya listrik dan magnet menjadi elektromagnetik. Maxwell pula yang menemukan bahwa cahaya adalah gelombang elektromagnetik. Inilah masa peralihan menuju fisika modern yang ditandai lahirnya pemikiran revolusioner Albert Einstein tentang relativitas. Di usianya yang baru 26 tahun (1905), Einstein mempublikasikan makalahnya tentang relativitas khusus.

Selama 11 tahun kemudian, Einstein mengembangkan teori baru mengenai gravitasi, yang ia sebut relativitas umum (November 1915). Ia mengajukan pemikiran revolusioner bahwa ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva dan ini terjadi karena distorsi oleh massa dan energi di dalamnya. Ini perombakan besar atas pemikiran Newtonian mengenai ruang dan meletakkan waktu sebagai dimensi yang sama penting di samping tiga dimensi ruang.

Dua tahun sesudah itu, Einstein menerbitkan tulisan berjudul Cosmological Considerations (Tinjauan Kosmologis). Ia menerapkan teori barunya untuk mengkaji alam semesta. Maka dimulailah era kosmologi modern. Sekali lagi Einstein memperlihatkan kepionirannya. Kosmologi mempelajari alam semesta yang sebagian besar telaahnya berdasarkan sejumlah hipotesis, dan gravitasi Einsteinian merupakan konsep terpenting dalam kosmologi.

Semula kosmologi dipandang sebagai pseudo-sains, tapi dua perkembangan penting menjadikannya tak bisa diremehkan lagi. Pertama, terobosan dalam pengamatan astronomi, yang mampu mendeteksi galaksi-galaksi terjauh, membuat semesta menjadi laboratorium untuk menguji model-model kosmologi. Kedua, teori relativitas umum Einstein telah teruji sebagai teori gravitasi yang andal dan akurat yang berlaku di seluruh alam semesta.

Namun fisika klasik Newton dan fisika Einstein kesulitan ketika harus menjelaskan fenomena di dunia atomik dan subatomik. Pada 1920-an, kemampuan para fisikawan dalam memahami alam semesta dihadapkan pada tantangan yang serius. Setiap kali mereka bertanya kepada alam tentang suatu masalah dalam eksperimen atom yang mereka lakukan, alam menjawabnya dengan paradoks, hingga fisikawan Werner Heisenberg berulang kali bertanya pada diri sendiri: “Mungkinkah alam itu absurd sebagaimana yang tampak pada kita dalam eksperimen-eksperimen atom ini?” (Capra, The Tao of Physics, 1975).

Kegagapan menghadapi jagat subatomik itulah yang mendorong para ilmuwan semasa Einstein, seperti Heisenberg, Neils Bohr, Max Planck, Erwin Schrodinger, Paul Dirac, Louis deBroglie, dan Wolfgang Pauli, merumuskan kerangka konseptual bagi fisika baru. Materi subatom merupakan entitas sangat abstrak yang beraspek ganda, tergantung bagaimana kita memandangnya: sebagai partikel dan sebagai gelombang. Penemuan ini melumpuhkan pengertian klasik tentang obyek padat.

Dualitas partikel/gelombang itu dipahami Bohr sebagai komplementaritas, dan fisikawan Denmark ini kerap mengatakan pengertian ini mungkin juga bermanfaat dalam ilmu di luar fisika. Fisikawan Fritjof Capra termasuk perintis penafsiran yang meluas hingga wilayah spiritualitas. Karyanya yang masyhur, The Tao of Physics (1975), melihat kesejajaran dualitas ini dengan mistisisme Timur. Yin/yang dalam masyarakat Cina, misalnya.

Namun penemuan berikutnya membikin Einstein tak habis pikir. Heisenberg menemukan prinsip ketidakpastian (1926), yang menyatakan kita memiliki keterbatasan dalam mengukur secara serentak posisi dan kecepatan suatu partikel. Partikel subatom tak bisa dipahami sebagai entitas yang mandiri, tapi mesti dilihat dari interaksinya dengan partikel lain. Tercium aroma posmo, memang. Dan inilah dimulainya babak baru bagi peran penting fisika kuantum.

Apa dampak relativitas Einstein dan fisika kuantum? Bom atom yang menjadi kekuatan ampuh untuk menghentikan Perang Dunia II dan kemudian memacu perlombaan senjata antara Uni Soviet dan Amerika Serikat beranjak dari teori relativitas khusus. Teori kuantum memberi landasan kuat bagi pengembangan teknologi informatika, dan kita sehari-hari memanfaatkannya: Internet.

Tak kalah dahsyat dari itu ialah implikasinya atas pemikiran filosofis manusia mengenai diri dan alamnya. Teori relativitas berujung pada gambaran bahwa alam semesta terbatas dalam ruang dan berkembang meluas tak terhindarkan, bermula pada satu peristiwa besar ketika jagat raya lahir dalam suatu Dentuman Besar di awal semesta. Dan Einsteinlah yang membuka jalan bagi kosmologi modern.

Teori kuantum berujung pada gambaran bahwa pada skala terkecil benda-benda, termasuk jagat raya di awal hidupnya (bukan di masa sekarang), peristiwa-peristiwa fisik yang terjadi saat itu merupakan kebetulan tanpa sebab. Karena ukuran alam semesta amat-sangat kecil pada saat awal, menurut para penafsir teori kuantum, prinsip ketidakpastian Heisenberg dalam teori kuantum juga berlaku pada alam itu.

Teori relativitas berujung pada kepastian, sedangkan teori kuantum berujung pada ketidakpastian. Inilah yang membuat Einstein geleng-geleng kepala: “(Rasanya) Tuhan tidak bermain dadu.” Di tengah kegalauannya, Einstein berusaha keras menyatukan gaya-gaya elektromagnetik (yang dipersatukan Maxwell), gaya nuklir lemah, gaya nuklir kuat, dan gaya gravitasi (yang mengatur alam semesta) dalam satu rumusan tunggal dan final, yang oleh sebagian orang disebut Theory of Everything (Teori Segala Hal). Einstein gagal.

Di antara perdebatan yang kelak kerap diceritakan ulang oleh sejarawan sains itu, Edwin Hubble mempublikasikan hasil observasinya bahwa alam semesta mengembang (1929), tiga belas tahun sebelum Stephen Hawking lahir. Hawking memasuki dunia akademis ketika riset kosmologi berbasis relativitas umum Einstein tengah mekar-mekarnya. Barangkali zaman memang menunggu kehadirannya untuk memberikan kontribusi.

Pada awal 1970-an, teori lubang hitam sedang naik daun. Lubang hitam (black hole) adalah istilah yang ditemukan kosmolog AS, John Wheeler (1969), untuk “bintang-bintang yang mengalami keruntuhan gravitasi sempurna”. Di Moskow, Pasadena, Princeton, dan Cambridge, istilah ini pun segera populer.

Hawking, yang batal melakukan riset doktoralnya di bawah Fred Hoyle, penemu istilah Big Bang (Dentuman Besar) pada 1949, mulai bekerja di bawah arahan Dennis Sciama. Sebagai bukan matematikawan murni, Hawking menerapkan teknik matematika yang diperkenalkan Roger Penrose untuk mempelajari lubang hitam. Penrose sendiri kemudian berusaha mencari jawaban atas pertanyaan “bagaimana kita berpikir” dan “apa yang menjadikan kita manusia” (dua kitabnya: The Emperor’s New Mind dan Shadows of the Mind).

Menjelang kelumpuhannya, Hawking mulai menonjol dalam kosmologi, khususnya lubang hitam. Alih-alih memakai tangan untuk menulis dan menggambarkan gagasannya, Hawking mulai beradaptasi untuk menggunakan gambaran mentalnya. Ia berusaha menyatukan teori relativitas tentang gravitasi dan fenomena skala besar dengan teori kuantum mengenai partikel subatom.

Dari coretan-coretan di benaknya saja, Hawking melahirkan Hukum Pertambahan Luas pada permukaan lubang hitam. Bunyinya: “Luas permukaan suatu lubang hitam hanya dapat tetap sama atau bertambah, tetapi tidak pernah berkurang.” Ilham tentang ide ini muncul tiba-tiba. “Begitu hebat pengaruh ini sehingga saya terjaga hampir semalaman,” tutur Hawking.

Pernyataan “tidak pernah berkurang” dalam rumusan Hawking itu mengingatkan pada besaran entropi dalam Hukum Termodinamika II. Entropi (ketidakteraturan) suatu sistem hanya dapat tetap sama atau meningkat, tetapi tidak pernah berkurang (jika sistem itu terisolasi dan dibiarkan mencapai kesetimbangan). Ludwig Boltzmann, fisikawan Austria, pada 1878 menyebutkan definisi entropi sebagai banyaknya kemungkinan dalam melakukan penyusunan molekul. Misalnya, jika suatu keadaan mempunyai banyak cara yang berbeda untuk menyusun molekul-molekulnya, sistem itu mempunyai entropi yang besar.

Ketika benda mencapai kesetimbangan termal, benda itu mempunyai suhu tertentu dan karenanya memancarkan radiasi serta mengalami pertukaran energi dengan lingkungannya. Tapi ketika itu umum orang berpendapat, lubang hitam tidak mungkin memancarkan apa pun. Segala sesuatu bisa jatuh ke dalam lubang hitam, tak ada yang bisa keluar darinya. Cahaya sekalipun.

Namun Jacob Bekenstein, mahasiswa pascasarjana yang dibimbing John Wheeler, berpendapat bahwa lubang hitam mempunyai entropi dan ini mungkin berkaitan dengan hukum pertambahan luas permukaan lubang hitam yang ditunjukkan Hawking. Bekenstein lalu menulis makalah singkat yang mengidentifikasi luas permukaan lubang hitam sebagai entropi lubang hitam.

Hawking menganggap mahasiswa itu telah menyalahgunakan teorinya. Namun pikirannya mulai terusik setelah bersama James Bardeen dan Brandon Carter di Pegunungan Alpen, Prancis, menemukan hukum yang mengatur evolusi lubang hitam berdasarkan relativitas Einstein. Hukum mekanika lubang hitam ini mirip dengan hukum termodinamika. Namun mereka ketika itu menganggapnya kebetulan belaka. Lain halnya bagi Bekenstein. Ia menganggap penemuan itu memperkuat pendapatnya bahwa luas permukaan lubang hitam adalah entropinya.

Kekukuhan pendapat Bekenstein mulai menggoyahkan Hawking. Ia lalu menelaah apa yang bisa terjadi di permukaan lubang hitam dengan memakai prinsip ketidakpastian Heisenberg, yang meramalkan energi muncul dan lenyap bergantian dalam skala waktu yang ditentukan oleh skala Planck (10-33). Dengan persamaan Einstein, E=mc2, energi ini diubah menjadi partikel dan antipartikel yang silih berganti muncul dan lenyap.

Dalam telaah itulah, Hawking menggabungkan mekanika kuantum dan relativitas umum dalam rumusan tunggal untuk pertama kalinya (1974). Dari sini ia berkesimpulan bahwa lubang hitam tidak sepenuhnya hitam, tapi memancarkan radiasi-Bekenstein benar, rupanya. Jadi, lubang hitam tidak hanya mempunyai entropi, tapi juga suhu, dan mematuhi hukum termodinamika klasik yang ditemukan Boltzmann pada akhir abad ke-19.

Temuan itu diakui amat penting. Hanya beberapa pekan setelah tulisan tentang radiasi lubang hitam diterbitkan, Hawking menerima gelar kehormatan akademik tertinggi Inggris. Di usia 32 tahun, ia diangkat menjadi anggota Fellow of the Royal Society. Ia diundang untuk melakukan riset di Caltech, Pasadena, AS. Ketika itulah Hawking menerima surat pemberitahuan dari Vatikan bahwa ia dipilih oleh Akademi Sains Vatikan untuk menerima medali Paus Paulus XI. Penghargaan ini mulai menggeser riset Hawking dari lubang hitam ke permulaan alam semesta, dengan Dentuman Besar sebagai tesis yang diminati Gereja Katolik Roma.

Namun sejarah kemudian mencatat Hawking bergerak menjauhi harapan Vatikan. Penafsiran Richard Feynman, jenius fisika dari AS, atas teori kuantum melahirkan apa yang disebut sebagai “sum over histories”. Model kuantum menyebutkan partikel dikatakan tidak memiliki posisi yang pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Dalam tafsiran Feynman, partikel justru mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan kedua titik itu.

Kesimpulan Feynman: suatu sistem bukan hanya memiliki satu sejarah, melainkan setiap sejarah yang mungkin. Ini gagasan radikal, bahkan bagi banyak fisikawan. Dalam teori Newtonian, masa lalu diasumsikan ada sebagai serangkaian peristiwa yang pasti. Menurut fisika kuantum, alam semesta memiliki bukan hanya satu masa lalu, melainkan banyak. Semesta bukan hanya memiliki eksistensi tunggal, tetapi setiap versi yang mungkin dari semesta ada secara simultan dalam apa yang disebut quantum superposition.

Penafsiran Feynman inilah yang membangkitkan semangat Hawking untuk memperbaiki teorinya. Dalam sejarah sains, kita telah menemukan serangkaian teori atau model yang lebih baik dan lebih baik, sejak Plato hingga teori klasik Newton sampai teori-teori kuantum modern. “Akankah rangkaian ini akhirnya mencapai suatu titik akhir, teori pamungkas tentang semesta, yang akan mencakup seluruh gaya dan memprediksi setiap observasi yang kita lakukan, ataukah kita akan terus selamanya menemukan teori yang lebih baik, tetapi tidak pernah menemukan satu teori yang tak bisa diperbaiki lagi?” tulis Hawking dalam The Grand Design.

“Kita belum memperoleh jawaban definitif atas pertanyaan ini,” tulis Hawking, “tapi kita sekarang memiliki calon bagi teori pamungkas tentang segala Hal, jika memang ada, yang disebut Teori-M.” Bagi Hawking, Teori-M adalah satu-satunya model yang mengandung seluruh sifat yang harus dimiliki teori yang final. Dan ini melibatkan 10 dimensi ruang dan satu dimensi waktu.

Berpijak pada penafsiran Feynman, Hawking mengatakan, menurut Teori-M, semesta kita tidaklah tunggal. Gagasan seperti ini di masa lampau pernah dilontarkan Fakhr al-Din al-Razi (1149-1209), yang menolak konsep geosentris Ptolemeus-yang berarti mendahului Copernicus maupun Kepler dan Galileo. Al-Razi juga menyebutkan alam semesta ini tidak tunggal dan sangat banyak.

Namun, berbeda dengan Al-Razi yang berpaling kepada adanya pencipta, Hawking berujung di kesimpulan bahwa penciptaan alam semesta tidak memerlukan intervensi sesuatu yang supernatural atau Tuhan. Semesta yang banyak ini muncul alamiah dari hukum fisika. “Masing-masing semesta memiliki banyak sejarah yang mungkin dan banyak keadaan yang mungkin pada masa-masa yang kemudian, misalnya pada masa seperti sekarang, jauh sesudah terciptanya mereka. Semesta adalah prediksi sains.”

Sebuah klaim yang lebih deterministik dibanding pernyataannya 22 tahun lalu dalam A Brief History of Time. “Apabila semesta ada titik awalnya, kita dapat mengira ada penciptanya. Namun, seandainya semesta benar-benar mandiri, tidak memiliki batas atau titik ujung, semesta tidak memiliki awal maupun akhir: semesta hanyalah ada. Kalau begitu, di mana tempat bagi Sang Pencipta?”

Scientific determinism, yang beberapa kali ditegaskan Hawking, tidak memberi tempat bagi Tuhan. Dalam sejarah perdebatan sains-agama, ini bukan hal baru. Charles Darwin telah memulainya, dan kini diwarisi dengan penuh keyakinan oleh ilmuwan Richard Dawkins (The Selfish Gen dan A Devil’s Chaplain). Dawkins menggusur peran Tuhan dalam penciptaan. Steven Weinber, fisikawan yang meraih Nobel bersama Abdus Salam, dalam Dreams of a Final Theory, menyebutkan semakin sains menukik ke dalam hakikat segala sesuatu, alam semesta ini tampaknya semakin tidak memberi tanda-tanda bahwa ia merupakan jejak Tuhan yang “menaruh perhatian kepadanya”.

Sebagian ilmuwan enggan menarik Tuhan ke dalam arena sains, seperti diwakili Peter Woit, fisikawan dari Universitas Columbia, AS, ketika menanggapi The Grand Design: “Saya lebih suka pada naturalisme dan tidak melibatkan Tuhan dalam fisika.” Fisikawan seperti Paul Davies memilih posisi yang berseberangan dengan Hawking (The Mind of God dan God and the New Physics). Ada banyak posisi dalam menanggapi perkembangan sains (fisika, biologi), dan posisi Hawking adalah salah satunya.

Barangkali tepat belaka pandangan Keith Ward dalam God, Chance and Necessity (1996) bahwa ini adalah perkara interpretasi. Dan Hawking memilih interpretasi materialistik.

Ilmuwan Paling Populer

Produser seri animasi terkenal The Simpsons rupanya jatuh cinta pada Stephen Hawking. Setidaknya sudah empat kali ilmuwan Inggris ini muncul dan bergaul dengan keluarga Pak Homer Simpson. Padahal tokoh dunia yang diparodikan dalam seri itu biasanya bintang film, sutradara, atau penyanyi. Sesekali muncul tokoh lain seperti pengarang Harry Potter, J.K. Rowling, serta negarawan top Bill Clinton dan Tony Blair. Sangat jarang ilmuwan seperti Hawking.

Mungkin ia dianggap memiliki “karakter kuat”, gampang diingat penampilannya, karena tak mampu menggerakkan anggota badan dan jika berbicara mesti dengan suara komputer yang dipasang di kursi rodanya. Tidak banyak ilmuwan yang wajah atau penampilannya gampang diingat. Mungkin hanya Albert Einstein yang bisa menyainginya. “Saya pikir, mungkin saya cocok dengan stereotipe ilmuwan sinting atau jenius cacat,” kata Hawking suatu ketika.

Bisa jadi pula produser The Simpsons tertarik karena prestasi akademisnya. Hawking memang menghasilkan penelitian yang spektakuler, terutama yang berkaitan dengan lubang hitam, dan sering membuat pernyataan kontroversial yang menjadi pembicaraan bahkan di kalangan awam. Media massa juga senang karena ia pintar mengungkapkan ide dengan ungkapan yang sedap ditulis.

Dalam buku mutakhir yang dia tulis bersama ilmuwan Leonard Mlodinow, The Grand Design, misalnya, Hawking menyatakan bahwa penciptaan alam semesta tidak harus melibatkan Tuhan. Dua dekade silam, dalam bukunya yang sangat terkenal, A Brief History of Time, ia menyatakan bahwa begitu Teori Penyatuan Agung dapat disusun, ia akan menjadi puncak temuan manusia. “Saat itu, kita bisa mengetahui pikiran Tuhan,” ujarnya.

Kemampuan Hawking secara akademis serta kepandaiannya membuat pernyataan kontroversial itu kemungkinan besar terpengaruh penyakit Lou Gehrig. Penyakit yang disebut pula dengan amyotrophic lateral sclerosis ini membuatnya lumpuh dan bahkan akhirnya tidak bisa berbicara.

Kelumpuhan itu membuatnya bekerja dengan unik. “Saya menghindari persoalan dengan banyak persamaan-saya mengubahnya menjadi pertanyaan geometri,” kata Hawking. “Dengan itu, saya bisa menggambarkan di otak saya.”

Hawking akan membayangkan teori-teori fisika yang njelimet dalam bentuk geometris di dalam otak. Hal ini yang membuat ide dan pikirannya kadang meloncat dibanding para ilmuwan lain. “Saya pikir mungkin benar ia menghasilkan banyak penelitian karena kekurangannya itu,” kata Kip Thorne, ahli fisika teoretis dari Caltech, yang mengenal Hawking sejak awal 1960-an.

Karena sulit berbicara, Hawking terlatih berhemat kata dan membuat ungkapan dramatis. “Ia mesti membuat kalimatnya sepadat mungkin,” kata Bernard Carr, mahasiswa pertama yang bisa tinggal gratis serumah dengan Hawking dan keluarganya pada 1974 sekaligus mendapat bimbingan intens-sebagai ganti, Carr mesti membantu Hawking yang mulai lumpuh parah. “Pembicaraan 15 menit dengan Stephen seperti berbicara dengan orang lain selama beberapa jam.”

Kelumpuhan Hawking tidak datang dalam sekejap. Ia mendapat diagnosis penyakit Lou Gehrig ketika masih 21 tahun. Meski tak termasuk anak yang pintar bermain sepak bola, atau tulisan tangannya seperti cakar ayam, Hawking, lahir 8 Januari 1942, tak merasa sebagai anak yang memiliki koordinasi buruk. Malah, saat mulai kuliah di Oxford pada usia 17 tahun, ia bergabung dengan tim dayung dan sering mewakili fakultasnya bertanding.

Pada tahun ketiga kuliah itulah Hawking mulai mengalami gejala lumpuh. Kadang ia terjatuh tanpa sebab. Ayahnya membawa dia ke dokter. Setelah mendapat pemeriksaan dua pekan, dia mendapat diagnosis penyakit yang melumpuhkan sebagian anggota badan. Masih ada tambahan pada diagnosis itu: dia akan meninggal dalam beberapa tahun.

Dokter yang merawat tak tahu apa yang mesti dilakukan dan berapa cepat kelumpuhan itu akan menjadi akut-dan mengakhiri segalanya. Jadi, mereka menyuruh Hawking kembali ke kampus dan kembali meneliti fisika teori tentang relativitas dan kosmologi. “Meski saat itu saya tidak banyak mendapat kemajuan karena tidak memiliki banyak latar belakang matematika,” tuturnya dalam satu tulisan.

Hawking sempat stres. Ia mencoba melupakan penyakitnya dengan mendengarkan musik karya komposer Jerman, Wilhelm Richard Wagner. Sebelum diagnosis itu pun Hawking sudah cenderung bosan dengan kehidupannya. Setelah divonis usianya tinggal beberapa tahun, ia merasa hidup begitu berharga. “Biarpun ada awan mendung di atas masa depan, saya temukan, dan ini mengejutkan, bahwa saya menikmati hidup saat itu daripada sebelumnya,” katanya.

Hawking mulai mendapat kemajuan dalam risetnya. Ia kemudian berkenalan, bertunangan, dan menikah dengan Jane Wilde. Hubungan ini memaksanya mendapat pekerjaan sehingga ia melamar ke Cambridge. Mereka memiliki tiga anak, Robert (lahir 1967), Lucy (1970), dan Timothy (1979).

Karier akademis Hawking setelah divonis bakal berumur pendek terus moncer. Bersama Roger Penrose, Hawking menemukan bahwa teori relativitas Einstein menyatakan alam semesta dimulai dari Big Bang (Dentuman Besar) dan berakhir dalam lubang hitam. Hawking kemudian juga memunculkan teori bahwa lubang hitam tak sepenuhnya berwarna hitam. Masih ada cahaya di sana dan disebut Radiasi Hawking.

Hawking juga pintar membuat terobosan ilmiah dari pemikiran orang lain. “Sangat sedikit yang memiliki pemahaman dan pandangan, atau kemampuan, untuk menanyakan hal yang tepat sehingga bisa menyelesaikan masalah dengan cara yang mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya,” kata Thorne.

Masalah dengan penyakit tak berhenti di kelumpuhan itu saja. Pada 1985, Hawking kesulitan bernapas. Agar oksigen lebih lancar mengalir, ia dibedah. Akibat lain muncul. Kemampuan bicaranya, yang sebelum bedah saja sudah lemah, setelah bedah menjadi hilang sama sekali alias tak bisa berbicara. Untung saja seorang ahli komputer dari Amerika Serikat, Walt Woltosz, mengirim program komputer bernama Equalizer.

Program itu semula dipasang di komputer meja tapi kemudian dipindah ke komputer yang berada di kursi berjalan. Hawking bisa berbicara 15 kata per menit. Hawking cukup puas dengan sistem komputer yang membuat suaranya seperti suara robot dalam film fiksi ilmiah itu. Hanya satu keluhannya. “Ini membuat saya memiliki dialek Amerika,” kata orang Inggris yang sudah mendapat gelar “Sir” dari Ratu Elizabeth itu.

Nama Hawking menjadi populer setelah menulis buku yang menjelaskan teori-teori penciptaan semesta dengan bahasa sederhana, A Brief History of Time, pada akhir 1980-an. Buku ini di luar dugaan sangat laris. Pernyataannya tentang Tuhan menjadi kontroversial. Selain itu, penampilannya sebagai ilmuwan “aneh”, lumpuh total dan hanya bisa berbicara dengan komputer, menjadikannya sangat terkenal.

Dan penampilan itulah yang membuatnya sering muncul bersama Pak Homer Simpson. (Nur Khoiri)

Semesta dalam Fisika

Sekitar 2.600 tahun silam, Thales mengubah pandangan mitologis mengenai semesta dan kehidupan manusia. Menurut dia, alam konsisten mengikuti prinsip yang bisa dipahami. Pandangan Thales dilanjutkan para pengikutnya, yang lalu menjadi tumpuan proses panjang penggantian ide tentang dewa-dewa dengan konsep semesta yang diatur hukum alam dan diciptakan menurut cetak biru yang suatu saat bisa dipelajari. Tapi proses ini baru benar-benar dimulai setelah 20 abad kemudian.

Elektromagnetisme

Medan elektromagnetik terdapat di balik hampir semua fenomena kehidupan sehari-hari, kecuali gravitasi. Temuan-temuan tentang hal yang mengidentifikasi hubungan erat antara gaya listrik dan magnet ini dimulai dari Hans Christian Orsted (1820). Michael Faraday dan James Clerk Maxwell, antara lain, yang menyempurnakannya. Implikasi teoretis dari temuan tentang elektromagnetik merupakan fondasi dari Teori Relativitas Khusus yang dirumuskan Albert Einstein.

Fisika Kuantum

Teori fisika dari masa Newton merupakan cermin pengalaman sehari-hari, dengan obyek material yang memang eksis, bisa ditentukan lokasinya, mengikuti jalur tertentu, dan seterusnya. Fisika kuantum, yang dikembangkan sejak abad ke-20, merupakan cara memahami alam pada skala atom dan subatom. Model kuantum menyebutkan partikel tak memiliki posisi pasti sepanjang waktu antara titik awal dan titik akhir dalam suatu eksperimen. Tapi Richard Feynman belakangan menafsirkan bahwa partikel mengambil setiap jalur yang mungkin yang menghubungkan dua titik secara bersamaan.

Hukum Alam

Konsep modern tentang hukum alam muncul pada abad ke-17. Johannes Kepler adalah ilmuwan pertama yang memahaminya dalam pengertian sains modern. Sesudahnya, antara lain, ada Galileo Galilei dan Rene Descartes. Tapi baru Isaac Newton-lah yang diterima luas, berkat hukum gerak dan gravitasinya. Tiga pertanyaan pokok yang timbul setelah hukum yang mengatur alam diakui adalah (1) dari mana asal-usul hukum itu; (2) apa ada perkecualian, misalnya keajaiban; dan (3) apa hanya ada satu kemungkinan dari hukum itu.

Teori Relativitas

Inilah teori yang memperkaya fisika dan astronomi sepanjang abad ke-20. Melalui empat makalah pada 1905, yang merupakan fondasi Teori Relativitas Khusus, Einstein mengubah persepsi yang dipengaruhi teori mekanika Newton. Tapi orang lebih mengingat teori ini dalam kaitannya dengan bom nuklir. Einstein menerbitkan Teori Relativitas Umum pada 1915, yang menegaskan ruang-waktu tidak datar, sebagaimana diasumsikan sebelumnya, tapi berbentuk kurva karena adanya distorsi oleh massa dan energi di dalamnya.

Teori M

“M” di sini bisa berarti “master”, “miracle” (keajaiban), atau “misteri”. Atau malah ketiga-tiganya. Pencetusnya, Edward Witten, mengatakan penafsiran atas “M” bergantung pada selera penggunanya. Sebagai perluasan teori dawai (string theory), yang merupakan ikhtiar menggabungkan fisika kuantum dan teori relativitas umum, inilah teori yang digadang-gadang sebagai teori segalanya, yang menyatukan keempat gaya fisika; Hawking bahkan yakin inilah satu-satunya kandidat teori paripurna tentang semesta. Tapi observasilah yang masih harus membuktikannya.

Realitas

Kebanyakan ilmuwan berpendapat hukum alam merupakan ekspresi matematis dari realitas eksternal, lepas dari siapa pun pengamat yang menyaksikannya. Tapi telaah mengenai bagaimana kita mengamati dan merumuskan konsep tentang alam telah memunculkan pertanyaan apakah realitas obyektif memang ada. Timbul kubu realis dan antirealis. Realisme tergantung-model mempertemukan keduanya pada titik apakah suatu model sesuai dengan pengamatan atau tidak. Maka bisa dikatakan tidak ada model matematika atau teori tunggal yang bisa mendeskripsikan setiap aspek alam semesta.

Sumber: TEMPO Edisi 1 November 2010, Rubrik “IQRA”

Betelgeuse Incident – Insiden Bait Al-Jauza

Betelgeuse Incident – Insiden Bait Al-Jauza
oleh Tanzil Hernadi pada 20 Oktober 2010 jam 8:11
[No. 243]
Judul : Betelguese Incident – Insiden Bait Al-Jauza
Penulis : Toba Beta
Penerbit : PT. Bumi  joInitama Semesta
Cetakan : I, Juni 2010
Tebal : 492 hlm
Betelgeuse adalah adalah bintang yang terletak 427 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini merupakan bintang paling terang kedua di rasi bintang Orion dan bintang paling terang kesembilan pada langit malam. Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal daribahasa Arab yang berarti “rumah sang raksasa”.
Bintang yang menurut para ahli astronomi sedang mendekati kehancurannya dan dapat membengkak 100 kali lipat sebelum meledak ini oleh Toba Beta dijadikan judul sebuah novel science fiction Sebuah genre yang boleh dibilang masih jarang digarap oleh penulis-penulis lokal. Ini adalah novel pertamanya dan sekaligus merupakan buku pertama dari sebuah seri yang diberinya nama “Novel berseri petualangan jagad raya : Sandi Semesta”
Yang menjadi dasar dari novel berseri ini adalah sebuah rangkaian peristiwabencana alam sangat dahsyat yang terjadi akibat ledakan kataklismik Gunung Sunda Purba dan Gunung Toba Purba antara 100.000 hingga 50.000 tahun yg lalu. Efek dari Bencana tersebut </span>ternyata memancarkan badaipartikel unik. Badai partikel tersebut terus merambat dan melintasi ruang antarbintang dan mengarah ke suatu sector yang berjarak 36.200 tahun cahaya dari pusat galaksi Bimasakti.
Badai partikel itu akhirnya menghantam bintang Sactir yang berada di kawasan Global Cluster NGC-6101. Ada 10 planet yang mengitari bintang Sactir. Planet kedua dan ketiga terpanggang habis. Namun ada satu planet yang tak terkena bencana dimana di atas planet tersebut ada kehidupan dengan 600 juta jiwa dengan teknologi antarbintang yang canggih. Mereka adalah bangsa Sactirion. Mereka mengira bencana ini diakibatkan oleh sebuah peradaban di bumi sehingga mereka menyiapkan armada perang untuk menghantam bumi dan isinya.
Pada tahun 2056 sebuah pesan dari galaksi lain yang tidak diketahui darimana berasal sampai ke Bumi tepatnya pusat luar angkasa Indonesia. Saat itu Indonesia dikisahkan telah menjadi negara yang sangat maju dalam bidang IPTEK khususnya dalam hal teknologi ruang angkasa dimana Ciwidey – Bandung yang menjadi sentral penelitian ruang angkasa. Karena isi dari pesan itu belum mampu dipecahkan dan khawatir merupakan pesan penting dari kehidupan lain maka para ilmuwan dan petinggi negeri secara rahasia mengadakan rapat darurat untuk mencoba memahami isi pesan tersebut.
Lalu kisah dalam novel ini mundur ke tahun 2016-2037 yang mencertiakan sepak terjang dua orang mahasiswa INTERAIN (Institut Ruang Angkasa Indonesia)yang berlokasi di Ciwidei Bandung bernama Sandi Semesta dan Mira Darwis.Sandi Semesta adalah mahasiswa cerdas yang lahir dari keluarga sederhana. Sedangkan Mira Lesmana adalah putri seorang konglomerat yang memiliki pengaruh luas dan banyak membiayai proyek-proyek luar angkasa Indonesia.
Awalnya keduanya tidak saling mengenal namun sebuah persitiwa perkelahian antara dua geng pemuda yang melibatkan Mira Darwisyang saat itu sedang berpacaran dengan salah satu pimpinan geng tersebut akhirnya membuat mereka bertemu karena secara tidak disengaja Sandi Semesta menyelamatkan Mira dari kejaran anggota geng yang memusuhinya. Setelah kejadian itu Mira putus dengan pacarnya dan lambat laun tumbuh rasa cinta antara Sandi dan Mira
Bertahun-tahun kemudian di jagad raya sana dimana para Dewan Devara yang dalam novel ini dikisahkan menjadi semacam entitas yang mengatur kendali semesta tengah terjadi perselisihan pendapat soal pengaturan semesta raya, pertengkaran mereka mengakibatkan salah satu Dewan Devara yang bernama Bara keluar dengan membawa niat untuk mempengaruhi dan menguasai dewan devara yang ada.
Devara Bara berniat turun ke bumi untuk melakukan hal-hal jahat, niat ini diketahui oleh anggota dewan Devara lain. Devata Talmis yang mengetahui bahwa Bara sedang melakukan aktivitas berbahaya di dalam ruang yang sudah lama diciptakannya di gua Belanda area Taman Hutan Raya Dago, Bandung segera mengejarnya.
Pertemuan mendadak antara dua entitas tersebut menyebabkan kota Bandung dilanda guncangan gempa hebat berkekuatan 6.2 SR. Planet bumi seakan shock akibat peremuan dua kekuatan dahsyat yang muncul spontan di permukaannya. Saat itu kebetulan Mira Darwis dan keluarganya sedang mengunjungi Gua Belanda di Tahura dengan ditemani Dewi yang adalah adik dari Sandi Semesta. Gempa berkekuatan besar itu menyebabkan mulut gua hancur dan mereka terperangkap dalam gua. Mira beserta keluarga bisa selamat keluar dari gua namun Dewi masih terperangkap di dalam.
Sandi Semesta berusaha mencari keberadaan Dewi namun sialnya ia bertemu dengan Bara yang menyandera Dewi, mereka berkelahi dan Sandi terluka parah. Dalam keadaan terluka parah Sandi ‘diambil’ oleh Devara Talmis sedangkan Dewi tetap menjadi sandera Devara Bara. Dengan demikian Sandi dan Dewi tak pernah ditemukan dan dikabarkan hilang dan mati terperangkap dalam gua yang runtuh.
Hilangnya Sandi dan Dewi membuat Mira merasa bersalah, karenanya Mira dengan bantuan orang tuanya melakukan proyek besar-besaran di gua Belanda untuk menemukan Sandi dan Dewi, jikapun tidak ia berharap dapat menemukan jasad mereka berdua. Namun proyek tersebut akhirnya membawa Mira pada sebuah temuan aneh di dalam gua yang berasal dari peradaban yang lebih maju dari manusia. Dan hal ini akan membawa Mira pada sebuah petualangan yang menakjubkan ke sebuah galaksi lain yang tidak mungkin akan ia lupakan.
Sementara di galaksi lain Sandi digembleng oleh Devara Talmis untuk menggantikan posisi Devara Bara. Sandi terus belatih sambil berharap jika kemampuannya telah memadai ia akan mengejar Bara dan menyelamatkan Dewi. Selain itu ada misi lain yang harus diemban oleh Sandi yaitu mencegah terjadinya pertempuran besar-besaran antara bangsa Sactrion dan penduduk bumi.
Secara umum novel ini memang menarik dan ini adalah novel Sci Fiction yang sesungguhnya dimana materi-materi sci-fic tidak hanya sekedar tempelan melainkan menjadi bagian dari sebuah kisah besar yang hendak dibangun oleh penulisnya. Penulis tampaknya tak canggung-canggung untuk mengisahkan kisahnya ini dengan setting di Bandung, Indonesia yang dikisahkan memiliki infrastruktur dan SDM yang hebat dalam teknologi ruang angkasa .
Walau novel ini adalah rekaan belaka namun penulis mendasari semua itu berdasarkan referensi ilmiah sehingga tak menimbulkan kesan sebagai kisah dari negeri khayalan. Apa-apa yang dituliskan mengenai teknologi komunikasi, transportasi, navigasi antara planet, dll dideskpripsikan dengan cukup mendetail sehingga seolah-olah teknologi itu sudah ada dan diterapkan padahal kenyataannya mungkin baru sekedar wacana atau prototipe saja. Namun karena didasarkan pada hal-hal yang ilmiah maka rasanya bukan tak masuk akal bisa di masa depan semua yang terdapat dalam novel ini akan terwujud juga.
Selain memaparkan kehebatan-kehebatan peralatan, pesawat, dan teknologi ruang angkasa yang sudah sangat maju dan, serunya duel antara Sandi dan Bara di Betelgeuse, kisah pertempuran antara pasukan bumi dan mahluk asing novel ini juga menyajikan dialog-dialog filosofis perihal keberadaan alam semesta antara tokoh Sandi dan Devara Talmis sehingga hal ini akan membuka cara berpikir dan wawasan pembaca dalam memaknai alam semesta.
Novel gemuk ini sepertinya memang mencoba memuaskan pembacanya dengan berbagai hal, selain materi sci fiction, penulis juga memasukkan unsur kisah asmara dandunia mahasiswa layaknya sebuah novel roman, mungkin hal ini dimaksudkan agar pembaca tak bosanmembaca novel sci fiction setebal 492 halaman. Namun justru di bagian ini saya rasa ada banyak hal yang terlalu didalami oleh penulis yang mungkin seharusnya bisa dipangkas agar novel ini bisa menjadi lebih ramping dan tidak berlarut-larut dalam kisah yang mungkin bisa mengaburkan pembacanya dari tema sentral novel ini.
Contohnya saat Sandi menolong keluarga kaya dari perampokan, lalu deskripsi keseharian Sandi dan kawan-kawannya di kampus, dan konflik antara dua geng pemuda.Saya rasa bagian ini bisa dipangkas lebih ringkas lagi sehingga pembaca bisa diajak langsung masuk ke inti kisah. Karena judul novel ini adalah Betelguese Incident : Insident di bait al-zura tentunya sejak awal pembaca umumnya akan bertanya-tanya ada insiden apa di Al Zura? Sedangkan di novel ini peritiwa di bait Al zura sendiri baru muncul di bagian-bagian akhir itupun tak banyak.
Sayangnya juga di bagian ketika menceritakan dunia mahasiswa Sandi dan Mira, penulis tak mengeksplorasi perangkat-perangkat teknologi yang mereka pakai saat itu. Kalau saja di bagian ini diceritakan bagaimana teknologi hp, computer, dan gadget2 lain di masa itu tentunya akan lebih menarik lagi.
Setting waktu yang bolak balik antara tahun 2026, 2057, 2032 dan kisahnya yang kompleks juga menuntut pembaca untuk lebih konsentrasi membaca novel ini. Ada beberapa bagian yang tak tuntas tapi memang sepertinya harus seperti itu karena ini merupakan buku pertama dari sebuah novel berseri dan kita baru akan bisa menemukan sebuah gambaran utuh jika sudah membaca seluruh seri dari novel ini. Semoga kemunculan judul berikutnya bisa terbit tak terlalu lama sebelum pembaca lupa akan apa yang telah dibacanya.
Terlepas dari hal-hal diatas ada banyak hal menarik dari novel ini. Dengan cerdas penulis juga mencoba memadukan kondisi geografis sunda kuno dengan misteri semesta yang belum terpecahkan. Penulis tampaknya berhasil menciptakan kisah masa depan yang didasarinya dari peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi di Nusantara ribuan tahun yang lampau
Dan yang luar biasa, seperti telah saya ungkap diatas tak canggung-canggung menuliskan kisahnya dengan sangat Indonesia sehingga ada semangat optimisme yang hendak disampaikan bahwa Indonesia akan menjadi Negara maju di bidang teknologi ruang angkasa. Sebenarnya bisa saja penulis menuliskan setting kisahnya di negera maju atau di Negara antah berantah namun penulis dengan percaya diri meghadirkan setting kisahnya di Indonesia tepatnya di Bandung di kota yang pernah memberinya ide-ide sinpiratif di perjalanan hidupnya.
Toba Beta sedang menciptakan mimpi-mimpi masa depan bagi Indonesia. Akankah 40-50 tahun lagi Indonesia akan sedemikian majunya seperti dalam novel ini. Mimpi telah ditulis dan ditawarkan bagi kita dan generasi di masa depan, tinggal apakah kita mau bersuaha meraih mimpi itu?
Selain itu melihat betapa seriusnya penulis menggarap novel ini saya merasa jika penulis konsisten untuk menulis di jalur ini dan memiliki nafas panjang untuk melanjutkan judul-judul selanjutanya saya percaya ini akan menjadi era kebangkitan genre Sci Fiction lokal yang lama tenggelam dan tak terdengar di khazanah sastra tanah air.
@htanzil

IncidentPenulis: Toba Beta | Penerbit: PT. Bumi  joInitama Semesta | Cetakan: I, Juni 2010 | Tebal: 492 hlm

Oleh Tanzil Hernadi

Betelgeuse adalah adalah bintang yang terletak 427 tahun cahaya dari Bumi. Bintang ini merupakan bintang paling terang kedua di rasi bintang Orion dan bintang paling terang kesembilan pada langit malam. Nama Betelgeuse berasal dari kata Bait al-Jauzā, berasal daribahasa Arab yang berarti “rumah sang raksasa”.

Bintang yang menurut para ahli astronomi sedang mendekati kehancurannya dan dapat membengkak 100 kali lipat sebelum meledak ini oleh Toba Beta dijadikan judul sebuah novel science fiction Sebuah genre yang boleh dibilang masih jarang digarap oleh penulis-penulis lokal. Ini adalah novel pertamanya dan sekaligus merupakan buku pertama dari sebuah seri yang diberinya nama “Novel berseri petualangan jagad raya : Sandi Semesta”

Yang menjadi dasar dari novel berseri ini adalah sebuah rangkaian peristiwabencana alam sangat dahsyat yang terjadi akibat ledakan kataklismik Gunung Sunda Purba dan Gunung Toba Purba antara 100.000 hingga 50.000 tahun yg lalu. Efek dari Bencana tersebut ternyata memancarkan badai partikel unik. Badai partikel tersebut terus merambat dan melintasi ruang antarbintang dan mengarah ke suatu sector yang berjarak 36.200 tahun cahaya dari pusat galaksi Bimasakti.

Badai partikel itu akhirnya menghantam bintang Sactir yang berada di kawasan Global Cluster NGC-6101. Ada 10 planet yang mengitari bintang Sactir. Planet kedua dan ketiga terpanggang habis. Namun ada satu planet yang tak terkena bencana dimana di atas planet tersebut ada kehidupan dengan 600 juta jiwa dengan teknologi antarbintang yang canggih. Mereka adalah bangsa Sactirion. Mereka mengira bencana ini diakibatkan oleh sebuah peradaban di bumi sehingga mereka menyiapkan armada perang untuk menghantam bumi dan isinya.

Pada tahun 2056 sebuah pesan dari galaksi lain yang tidak diketahui darimana berasal sampai ke Bumi tepatnya pusat luar angkasa Indonesia. Saat itu Indonesia dikisahkan telah menjadi negara yang sangat maju dalam bidang IPTEK khususnya dalam hal teknologi ruang angkasa dimana Ciwidey – Bandung yang menjadi sentral penelitian ruang angkasa. Karena isi dari pesan itu belum mampu dipecahkan dan khawatir merupakan pesan penting dari kehidupan lain maka para ilmuwan dan petinggi negeri secara rahasia mengadakan rapat darurat untuk mencoba memahami isi pesan tersebut.

Lalu kisah dalam novel ini mundur ke tahun 2016-2037 yang mencertiakan sepak terjang dua orang mahasiswa INTERAIN (Institut Ruang Angkasa Indonesia)yang berlokasi di Ciwidei Bandung bernama Sandi Semesta dan Mira Darwis.Sandi Semesta adalah mahasiswa cerdas yang lahir dari keluarga sederhana. Sedangkan Mira Lesmana adalah putri seorang konglomerat yang memiliki pengaruh luas dan banyak membiayai proyek-proyek luar angkasa Indonesia.

Awalnya keduanya tidak saling mengenal namun sebuah persitiwa perkelahian antara dua geng pemuda yang melibatkan Mira Darwisyang saat itu sedang berpacaran dengan salah satu pimpinan geng tersebut akhirnya membuat mereka bertemu karena secara tidak disengaja Sandi Semesta menyelamatkan Mira dari kejaran anggota geng yang memusuhinya. Setelah kejadian itu Mira putus dengan pacarnya dan lambat laun tumbuh rasa cinta antara Sandi dan Mira

Bertahun-tahun kemudian di jagad raya sana dimana para Dewan Devara yang dalam novel ini dikisahkan menjadi semacam entitas yang mengatur kendali semesta tengah terjadi perselisihan pendapat soal pengaturan semesta raya, pertengkaran mereka mengakibatkan salah satu Dewan Devara yang bernama Bara keluar dengan membawa niat untuk mempengaruhi dan menguasai dewan devara yang ada.

Devara Bara berniat turun ke bumi untuk melakukan hal-hal jahat, niat ini diketahui oleh anggota dewan Devara lain. Devata Talmis yang mengetahui bahwa Bara sedang melakukan aktivitas berbahaya di dalam ruang yang sudah lama diciptakannya di gua Belanda area Taman Hutan Raya Dago, Bandung segera mengejarnya.

Pertemuan mendadak antara dua entitas tersebut menyebabkan kota Bandung dilanda guncangan gempa hebat berkekuatan 6.2 SR. Planet bumi seakan shock akibat peremuan dua kekuatan dahsyat yang muncul spontan di permukaannya. Saat itu kebetulan Mira Darwis dan keluarganya sedang mengunjungi Gua Belanda di Tahura dengan ditemani Dewi yang adalah adik dari Sandi Semesta. Gempa berkekuatan besar itu menyebabkan mulut gua hancur dan mereka terperangkap dalam gua. Mira beserta keluarga bisa selamat keluar dari gua namun Dewi masih terperangkap di dalam.

Sandi Semesta berusaha mencari keberadaan Dewi namun sialnya ia bertemu dengan Bara yang menyandera Dewi, mereka berkelahi dan Sandi terluka parah. Dalam keadaan terluka parah Sandi ‘diambil’ oleh Devara Talmis sedangkan Dewi tetap menjadi sandera Devara Bara. Dengan demikian Sandi dan Dewi tak pernah ditemukan dan dikabarkan hilang dan mati terperangkap dalam gua yang runtuh.

Hilangnya Sandi dan Dewi membuat Mira merasa bersalah, karenanya Mira dengan bantuan orang tuanya melakukan proyek besar-besaran di gua Belanda untuk menemukan Sandi dan Dewi, jikapun tidak ia berharap dapat menemukan jasad mereka berdua. Namun proyek tersebut akhirnya membawa Mira pada sebuah temuan aneh di dalam gua yang berasal dari peradaban yang lebih maju dari manusia. Dan hal ini akan membawa Mira pada sebuah petualangan yang menakjubkan ke sebuah galaksi lain yang tidak mungkin akan ia lupakan.

Sementara di galaksi lain Sandi digembleng oleh Devara Talmis untuk menggantikan posisi Devara Bara. Sandi terus belatih sambil berharap jika kemampuannya telah memadai ia akan mengejar Bara dan menyelamatkan Dewi. Selain itu ada misi lain yang harus diemban oleh Sandi yaitu mencegah terjadinya pertempuran besar-besaran antara bangsa Sactrion dan penduduk bumi.

Secara umum novel ini memang menarik dan ini adalah novel Sci Fiction yang sesungguhnya dimana materi-materi sci-fic tidak hanya sekedar tempelan melainkan menjadi bagian dari sebuah kisah besar yang hendak dibangun oleh penulisnya. Penulis tampaknya tak canggung-canggung untuk mengisahkan kisahnya ini dengan setting di Bandung, Indonesia yang dikisahkan memiliki infrastruktur dan SDM yang hebat dalam teknologi ruang angkasa .

Walau novel ini adalah rekaan belaka namun penulis mendasari semua itu berdasarkan referensi ilmiah sehingga tak menimbulkan kesan sebagai kisah dari negeri khayalan. Apa-apa yang dituliskan mengenai teknologi komunikasi, transportasi, navigasi antara planet, dll dideskpripsikan dengan cukup mendetail sehingga seolah-olah teknologi itu sudah ada dan diterapkan padahal kenyataannya mungkin baru sekedar wacana atau prototipe saja. Namun karena didasarkan pada hal-hal yang ilmiah maka rasanya bukan tak masuk akal bisa di masa depan semua yang terdapat dalam novel ini akan terwujud juga.

Selain memaparkan kehebatan-kehebatan peralatan, pesawat, dan teknologi ruang angkasa yang sudah sangat maju dan, serunya duel antara Sandi dan Bara di Betelgeuse, kisah pertempuran antara pasukan bumi dan mahluk asing novel ini juga menyajikan dialog-dialog filosofis perihal keberadaan alam semesta antara tokoh Sandi dan Devara Talmis sehingga hal ini akan membuka cara berpikir dan wawasan pembaca dalam memaknai alam semesta.

Novel gemuk ini sepertinya memang mencoba memuaskan pembacanya dengan berbagai hal, selain materi sci fiction, penulis juga memasukkan unsur kisah asmara dandunia mahasiswa layaknya sebuah novel roman, mungkin hal ini dimaksudkan agar pembaca tak bosanmembaca novel sci fiction setebal 492 halaman. Namun justru di bagian ini saya rasa ada banyak hal yang terlalu didalami oleh penulis yang mungkin seharusnya bisa dipangkas agar novel ini bisa menjadi lebih ramping dan tidak berlarut-larut dalam kisah yang mungkin bisa mengaburkan pembacanya dari tema sentral novel ini.

Contohnya saat Sandi menolong keluarga kaya dari perampokan, lalu deskripsi keseharian Sandi dan kawan-kawannya di kampus, dan konflik antara dua geng pemuda.Saya rasa bagian ini bisa dipangkas lebih ringkas lagi sehingga pembaca bisa diajak langsung masuk ke inti kisah. Karena judul novel ini adalah Betelguese Incident : Insident di bait al-zura tentunya sejak awal pembaca umumnya akan bertanya-tanya ada insiden apa di Al Zura? Sedangkan di novel ini peritiwa di bait Al zura sendiri baru muncul di bagian-bagian akhir itupun tak banyak.

Sayangnya juga di bagian ketika menceritakan dunia mahasiswa Sandi dan Mira, penulis tak mengeksplorasi perangkat-perangkat teknologi yang mereka pakai saat itu. Kalau saja di bagian ini diceritakan bagaimana teknologi hp, computer, dan gadget2 lain di masa itu tentunya akan lebih menarik lagi.

Setting waktu yang bolak balik antara tahun 2026, 2057, 2032 dan kisahnya yang kompleks juga menuntut pembaca untuk lebih konsentrasi membaca novel ini. Ada beberapa bagian yang tak tuntas tapi memang sepertinya harus seperti itu karena ini merupakan buku pertama dari sebuah novel berseri dan kita baru akan bisa menemukan sebuah gambaran utuh jika sudah membaca seluruh seri dari novel ini. Semoga kemunculan judul berikutnya bisa terbit tak terlalu lama sebelum pembaca lupa akan apa yang telah dibacanya.

Terlepas dari hal-hal diatas ada banyak hal menarik dari novel ini. Dengan cerdas penulis juga mencoba memadukan kondisi geografis sunda kuno dengan misteri semesta yang belum terpecahkan. Penulis tampaknya berhasil menciptakan kisah masa depan yang didasarinya dari peristiwa-peristiwa geologi yang terjadi di Nusantara ribuan tahun yang lampau

Dan yang luar biasa, seperti telah saya ungkap diatas tak canggung-canggung menuliskan kisahnya dengan sangat Indonesia sehingga ada semangat optimisme yang hendak disampaikan bahwa Indonesia akan menjadi Negara maju di bidang teknologi ruang angkasa. Sebenarnya bisa saja penulis menuliskan setting kisahnya di negera maju atau di Negara antah berantah namun penulis dengan percaya diri meghadirkan setting kisahnya di Indonesia tepatnya di Bandung di kota yang pernah memberinya ide-ide sinpiratif di perjalanan hidupnya.

Toba Beta sedang menciptakan mimpi-mimpi masa depan bagi Indonesia. Akankah 40-50 tahun lagi Indonesia akan sedemikian majunya seperti dalam novel ini. Mimpi telah ditulis dan ditawarkan bagi kita dan generasi di masa depan, tinggal apakah kita mau bersuaha meraih mimpi itu?

Selain itu melihat betapa seriusnya penulis menggarap novel ini saya merasa jika penulis konsisten untuk menulis di jalur ini dan memiliki nafas panjang untuk melanjutkan judul-judul selanjutanya saya percaya ini akan menjadi era kebangkitan genre Sci Fiction lokal yang lama tenggelam dan tak terdengar di khazanah sastra tanah air.

@htanzil

Karamazov Bersaudara | Dostoevsky (Novel Grafis)

karamazov

Judul: Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)
Penulis: Dostoevsky
Penerjemah: Isao Arief
Penerbit: Elexmedia Komputindo
Tebal: 382 hlm
Oleh: Hernadi Tanzil
Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “Karamazov Brother”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.
Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.
Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD, Tokyo Japan.
Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.
Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.
Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.
Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.
Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.
Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.
Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.
Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.
Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.
Selain Karamazov Bersaudara, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain Metamorphosis (Kafka), Crime and Punishment (Dostoevsky), King Lear (Shaskepheare), dan sebagainya.
Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.
@htanzil

Judul: Karamazov Bersaudara (Novel Grafis)

Penulis: Dostoevsky

Penerjemah: Isao Arief

Penerbit: Elexmedia Komputindo

Tebal: 382 hlm

Oleh: Hernadi Tanzil

Buku Ini adalah novel grafis/komik yang diadaptasi dari salah satu karya monumental Vyodor Dostoevsky “Karamazov Brother”. Awalnya saya sama sekali tidak menyangka kalau salah satu masterpiece Dostoyevsky itu bisa diadaptasi ke dalam novel grafis, karenanya begitu melihat bukunya di rak buku komik di TB Gramedia saya langsung membelinya. Ketebalan komiknya juga membuat saya tertantang untuk membacanya. Dikemas dalam ukuran novel komik ini memiliki ketebalan 382 halaman! Wow! Belum pernah rasanya melihat dan membaca komik setebal itu dalam satu buku.

Yang juga membuat saya penasaran adalah pertanyaan bagaimana mungkin sebuah novel serius karya novelis Rusia ini bisa diadaptasi ke dalam komik? Mampukah panel-panel gambar dan kata-kata dalam balon gambarnya ini menyampaikan intisari novel setebal 700-an halaman ke dalam sebuah komik tebal.

Tadinya saya penasaran siapa komikus yang mengadaptasi Kamarazov Brother ke dalam bentuk komik, ternyata setelah melihat halaman copyright nya tak tertulis satu namapun kecuali nama pemegang copyrightnya yaitu VARIETY ART WORKS, EAST PRESS., LTD, Tokyo Japan.

Kisahnya sendiri menceritakan masa muda Aluysha, tokoh utama dan putra ketiga keluarga Karamazov. Ayahnya, Fyodor Karamazov adalah pria miskin yang kemudian menjadi kaya, dan memiliki tanah sehingga menjadi bangsawan dan memiliki istri yang cantik. Namun Fyodor bukanlah pria baik-baik, ia memiliki moral yang bejat, di depan istinya ia kerap bermain wanita dan minum minuman keras. Tak tahan dengan kelakuan suaminya, istrinya melarikan diri. Fyodor tak berubah, istri keduanya menjadi gila dan meninggal dunia, namun ia tak juga jera dan terus hidup seenaknya. Ia terus menumpuk harta, bermain wanita dan minum minuman keras.

Di tengah kehidupan bejat seperti itulah lahir ketiga anaknya, ia tega meninggalkan anak-anaknya dan terus hidup bersenang-senang dengan harta dan wanita-wanitanya sehingga ketiga anak-anaknya ini diasuh oleh keluarga yang berbeda sehingga masing-masing menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Putra sulungnya, Dimitri adalah sosok pemberani yang menjadi tentara, seperti ayahnya ia suka bersenang-senang dan emosional. Ivan, putra kedua menimba ilmu di Moskow dan menjadi intelektual atheis. Dan yang terakhir adalah Aloyshia, pemuda yang baik hati, polos dan memutuskan untuk menjalani kehidupannya di biara.

Suatu saat sang ayah mengumpulkan ketiga anak-anaknya dan menyatakan bahwa ia akan menikah kembali. Foyodor juga menyatakan bahwa kini ia membutuhkan banyak uang karenanya ia tak akan memberikan satu rubel pun uangnya pada ketiga anaknya. Ivan dan Aloyshia tak keberatan dengan keinginan ayahnya namun Dimitri menolaknya apalagi setelah diketahui bahwa wanita yang ingin dinikahi oleh ayahnya adalah Grushenka yang masih menjadi kekasih Dimitri.

Pertemuan ayah dan ketiga anaknya itu menjadi ricuh karena baik Fyodor maupun dimitri saling mempertahankan keinginannya, ayah dan anak teribat perkelahian bahkan hampir saja Dimitri membunuh ayahnya sendiri. Beruntung perkelahian itu berhasil dicegah, Dimitri meninggalkan ayahnya dengan membawa dendam di hatinya dan ia tetap bertekad untuk menghalangi niat ayahnya untuk menikahi kekasih hatinya.

Dari peristiwa inilah kisah keluarga Karamazov berkembang, masing-masing tokoh kelak memiliki konfliknya sendiri-sendiri. Selain kakak beradik Karamazov muncul pula tokoh-tokoh lain yang ikut mewarnai kisah ini. Seperti yang menjadi ciri khas novel2 Dostoyevsky maka aspek psikologis tokoh-tokohnya begitu kental mewarnai sekujur tubuh komik ini.

Tak hanya itu, dengan membaca Karamazov bersaudara ini pembaca diajak memahami situasi sosial dan politik Rusia di abad 19 dimana kebebasan mulai berani diekspresikan namun ketidak adilan masih dirasakan sehingga mulai menimbulkan konflik antara para bangsawan dan rakyat kecil yang saat itu mulai dipengaruhi oleh gerakan komunisme.

Kembali ke pertanyaan di atas, mampukah komik ini mengadaptasi novel serius yg merupakan salah satu masterpiece Dostoevsky? Saya belum pernah membaca versi novelnya jadi saya tak bisa membandingkan antara komik ini dengan novelnya. Namun demikian walau kisah dan karakter tokoh-tokohnya kompleks dan saya tidak terbiasa membaca komik setebal ini saya tetap bisa memahami keseluruhan kisahnya.

Selain kisahnya yang menarik gambaran ekspresi wajah tokoh-tokohnya juga digambarkan dengan begitu baik sehingga mampu menggambarkan karakter dan situasi hati dari masing-masing tokoh2nya sehingga pembaca akan ikut larut dalam dramatisasi kisah yang terdapat dalam buku ini. Penyajian panel-panel gambarnyapun dibuat demikian dinamis, dalam satu halaman bisa terdiri dari 3 sampai 7 panel gambar. Atau kadang ada yang hanya berisi satu atau dua panel saja, bahkan ada dua halaman sekaligus yang hanya berisi satu panel gambar wajah tokohnya sehingga emosi dari si tokoh tergambar dengan jelas.

Terbitnya karya Dostevsky ini dalam bentuk komik ini patut mendapat apresiasi setinggi-tingginya. Novel Karamazov Bersaudara ini hingga kini belum pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Walau kini hadir dalam bentuk komik namun setidaknya ini adalah langkah awal untuk mengenalkan karya ini ke pembaca Indonesia sebelum membaca novelnya.

Selain “Karamazov Bersaudara”, penerbit Elexmedia juga menerjemahkan komik-komik yang diadaptasi dari karya2 sastra dunia dalam seri ‘World Masterpiece’ antara lain “Metamorphosis” (Kafka), “Crime and Punishment” (Dostoevsky), “King Lear” (Shaskepheare), dan sebagainya.

Tentunya kehadiran komik-komik seri World Masterpiece ini sedikit banyak dapat mempopulerkan karya-karya sastra klasik dunia ke pasar pembaca yang lebih luas lagi sehingga karya2 besar ini tak hanya dibaca oleh segelintir pembaca sastra saja tapi dapat juga dibaca dan dipahami oleh pembaca umum. Karena pasar komik manga lebih didominasi oleh pembaca remaja tentu saja akan jadi hal yang positif jika karya2 klasik dunia ini dapat dibaca oleh para remaja yang selama ini membaca Naruto, One Piece, Kungfu Boy, dll.

@htanzil

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan