-->

Arsip Resensi Toggle

Merajut Makna | Putu Laxman (ed) | 2009

Oleh Subhan Ahmad

Merajut MaknaMerajut Makna: Penelitian Kualitatif Bidang Perpustakaan dan Informasi | Putu Laxman Pendit (editor), Ambar Yoganingrum, Evalien Suryanti, Kalarensi Naibaho, Laely Wahyuli, Laksmi, Ninis Agustini Damayanti | Cita Karyakarsa Mandiri | Jakarta, 2009

Di tengah ramai pemberitaan perihal PDS HB Jassin, muncul nama seorang akademisi ilmu perpustakaan dan informasi yakni Bu Ninis. “Seorang pustakawan selain bertanggung jawab atas pengelolaan koleksi juga harus bisa menjadi konsultan bagi pengunjung yang ingin mengakses koleksi,” ujar Bu Ninis.

Komentar tersebut mengingatkan saya untuk membaca kembali tulisan-tulisan tentang ilmu perpustakaan dan informasi, khususnya mengenai peralihan paradigma perpustakaan dari fokus koleksi ke pemakai. Kemudian muncul kebetulan-kebetulan yang mengarahkan saya untuk berpikir perihal bagaimana pustakawan (lebih) memahami pemustaka dan kebutuhannya.

Kebetulan-kebetulan itu antara lain: diskusi mengenai “Peran Sosial Pustakawan” di milis ICS, promosi buku terbitan “Cita Karyakarsa Mandiri” oleh Mbak Clara melalui halaman facebook “Griya Smart Kita”, serta membaca resensi buku “Seeking Meaning” yang ditulis oleh seorang Pustakawan bernama Mark Lindner.

Saya memaknai kebetulan-kebetulan tersebut di atas sebagai rambu-rambu agar saya kembali fokus membaca buku ilmu perpustakaan dan informasi agar tidak melenceng dari khittah sebagai Pustakawan.

Dan akhirnya, akhir Maret lalu saya memperoleh kiriman buku “Merajut Makna”. Saya berencana membuat serial resensi sesuai dengan setiap bab dalam buku itu. Sehingga, mudah-mudahan, akan ada sepuluh tulisan dalam serial catatan Mozaik Makna ini. Mudahan-mudahan. Semoga. Insyaallah.

Sebagai pembuka, saya hanya memuat salinan beberapa paragraf dari tulisan “Pengantar Editor”, khususnya halaman 9-10.

# # #

Selama beberapa dekade di awal kemunculan ilmu perpustakaan dan informasi, pendekatan kualitatif belum banyak ditengok orang. Paradigma yang berkembang ketika para ilmuwan memulai upaya penelitian bidang perpustakaan dan informasi adalah paradigma positivis yang dibawa dari ilmu alam atau dari ilmu sosial yang berorientasi pada sains. Sebelum penelitian kualitatif menjadi populer, bidang perpustakaan dan informasi memerlukan perubahan paradigma terlebih dahulu. Perubahan itu adalah perubahan dari objektivisme ke konstruktivisme.

Dalam perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi, perhatian kepada manusia ini sebenarnya sudah lama muncul, walau gaungnya seringkali kalah oleh perhatian pada kemajuan teknologi dalam pengertian teknik, alat, dan mekanisme. Kita dapat menyimak, misalnya, ulasan Sutton (1998), tentang kerisauan yang muncul di kalangan pustakawan karena para peneliti cenderung mengabaikan aspek manusiawi dalam kepustakawanan maupun ilmu perpustakaan dan informasi. Kerisauan ini sudah diungkapkan sejak 1970an. Bahkan dalam beberapa hal, seorang pustakawan senior di Amerika Serikat, Jesse Shera, di tahun 1950an sudah menyuarakan keraguan para peneliti ilmu perpustakaan dan informasi tentang fokus penelitian mereka. Ia mengakui bahwa ada aspek subjektif selain hal-hal yang objektif dalam pengelolaan pengetahuan. Tetapi Shera tidak terlalu tegas menganjurkan peralihan paradigma dari positivis ke interpretivis dan konstruktivistis. Penulis lain, yaitu Curtis Wright (1979) lah yang dengan tegas mengatakan bahwa kepustakawanan tidak dapat begitu saja dianggap sebagai ilmu pasti-alam dan ia dengan jelas menganjurkan alternatif interpretivisme sebagai pengganti positivisme dalam ilmu perpustakaan dan informasi.

Ilmu perpustakaan dan informasi hanya akan mengisolasi dirinya sendiri kalau mengandalkan metode ilmu pasti-alam dan positivisme belaka

Satu dekade setelah Wright mengemukakan kritiknya, Harris (1986) mengulangi kritik itu dan mengajukan argumentasi yang mengatakan bahwa ilmu perpustakaan dan informasi hanya akan mengisolasi dirinya sendiri kalau mengandalkan metode ilmu pasti-alam dan positivisme belaka. Ia mengkritik positivisme karena menyebabkan kepustakawanan kehilangan kontak dan sensitivitas terhadap masalah-masalah sosial. Bersama Harris, penulis-penulis lain, misalnya Grover dan Glazier (1985) dan Benediktsson (1984) mulai menggunakan prinsip-prinsip interpretivisme untuk mengkaji persoalan ilmu perpustakaan dan informasi. Metode kualitatif semakin populer setelah beberapa penulis menguraikan secara lebih populer setelah beberapa penulis menguraikan secara lebih rinci teknik dan prosedur kualitatif, seperti misalnya yang dilakukan Natoli (1989), Mellon (1990), dan Glazier dan Powell (1992).

Subhan Ahmad, pustakawan dan kontributor portal Indonesia Buku

Orang-orang Pesisir | Mahwi Air Tawar

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOEREDAKSI: Buku ini masih sebuah draft novel. Dibahas pertama kali di halaman Perpustakaan Indonesia Buku (Sabtu, 02/04/2011) sebagai bagian dari proses pengayaan dan pengujian proses kreatif. Bahkan sejak naskah masih berada dalam sapihan. Berikut ini adalah sekilas rangkuman isi (draft) novel karya Mahwi Air Tawar, sastrawan berdarah Madura.

* * *

Kampung Nelayan, Desa Legung, Desa Jongkang, dua cinta menjangkiti tanpa mengenal usia. Satu cinta dari Markoya, janda muda beranak satu diperebutkan birahi lelaki sekampung, dan cinta yang lain, dari anaknya,  Munati, gadis belasan tahun yang dimenangi oleh Julantip, lelaki kecil usia belasan tahun anak kepala desa. Kisah cinta sederhana yang kaya dalam kentalnya tradisi kampung nelayan di pesisiran Madura.

Desa Legung merupakan daerah pesisir pantai. Mata pencaharian utama penduduknya adalah nelayan. Sebagaimana daerah pesisir lainnya, mereka pintar dan rajin merawat tradisi; Remo, Karapan Sapi, Tandak, Ludruk, dan satu lagi, mistik. Lain hal dengan Desa Jongkang, memang tak jauh dari Legung, tapi penghidupan mereka sudah berbeda. Jongkang merupakan daerah tepian bukit kapur, penduduknya menghabiskan waktu dengan bekerja menjadi penambang kapur, sesekali buruh angkut bagi nelayan di Desa Legung ketika musim penghujan.

Dua daerah berbeda, satu berorientasi laut dan satunya lagi darat, terikat cerita yang memikat.

Mula-mula. Julantip, anak semata wayang Durakkap, kepala desa yang blater tak tertandingi dan cucu dari Keaji Osen, seorang guru ngaji, dukun, dan pawang hujan, jatuh cinta pada Munati. Jatuh cinta lebih awal dari usia yang belum semestinya, membuatnya menahan derita lebih lama. Sejak itu, Julantip merasa tidak terima jika ada yang berbuat jahat pada Munati atau ibunya, bahkan hanya sekadar gunjingan ibu-ibu kampung. Cinta Julantip seakan menemu puncak cemara. Cinta dalam hatinya pelan-pelan membentuk kebencian pada siapa saja yang mengeruk hal-hal buruk pada Munati dan Markoya. Lebih-lebih bagi yang berani mengganggu keduanya. Kepada pengganggu itu, Ia akan mengancam untuk memberitahukan kepada Durakkap dan Keaji Osen bahwa ia dijahati, pengakuan yang sedikit menyimpang. Tamatlah riwayat pengganggu itu. Seperti halnya Sattap, ia diusir oleh Keaji Osen karena mencabuli Julantip. Tentunya dengan kesaksian yang sedikit dilebih-lebihkan oleh Julantip.

Di sisi yang lain, Markoya, janda beranak satu, juga merupakan anak seorang blater, bajing, dan pembunuh, Haji Sattar namanya, teman bajing Durakkap. Markoya memiliki tubuh indah, bahenol, atau singkatnya dambaan hasrat seksual laki-laki. Karena kelebihan yang dimiliki oleh Markoya tersebut, perempuan-perempuan kampung kemudian mempergunjingkannya. Menuduh Markoya sebagai pelacur, perempuan penggoda laki orang. Sementara bagi laki-laki, Markoya seringkali mendapat perlakuan yang cukup istimewa. Lebih-lebih Durakkap, ia memperlukan Markoya dengan sangat baik. Suatu kali, Markoya dilaporkan kehilangan sesuatu, di saat yang sama, seseorang juga melapor ada warga yang kehilangan. Namun durakkap lebih mendahulukan Markoya. Hal ini tentu saja membuat cemburu Sitti, Istri Durakkap. Namun, Sitti tak dapat berbuat apa-apa dalam budaya patriarki itu. Sitti hanya menangis hingga tidur. Perempuan mana mau dimadu, bahkan hanya dalam perasaan.

Durakkap adalah lelaki paling berkuasa di Desa Legung, ia menjadi kepala desa setelah menggulingkan penguasa sebelumnya. Kesalahannya hanya sederhana, kepala desa sebelum Durakkap membatalkan acara Rokat Tase, acara tradisi Desa Legung. Penduduk tidak terima, lebih-lebih Durakkap dan bajing-bajing lainnya, karena mereka dianggap perusuh. Selang sehari, rumah kepala desa dan saudara-saudaranya berhasil dimasuki maling. Beberapa hari kemudian, kepala desa yang alumni perguruan tinggi islam itu mangkir dari jabatannya untuk selamanya. Maka, jadilah Durakkap kepala desa.

Kisah dalam novel ini berakhir dengan penceritaan tentang Haji Sattar, yang cukup gagah berani melawan nasib yang digariskan bagi desanya sebagai penambang batu. Ia mencari peruntungan lain. Benarlah, ia mendapatkannya. Uang yang ia dapat dikumpulkan dan direncanakan untuk membeli tanah. Namun yang terjadi lain, Haji Sattar mulai berkanalan dengan bajing-bajing dan blater, maka ia maling, menjadi kaya, dan akhirnya terlibat judi, miskinlah ia tak punya apa-apa. Lalu ia berniat menemui seorang dukun meminta ilmu memenangkan judi. Sesampainya di rumah dukun, niat berguru itu hilang dan tergantikan dengan niat maling karena melihat barang-barang indah di rumah dukun. Niatnya diketahui oleh dukun, namun dukun itu mempersilahkan Haji Sattar mengambil barang-barangnya. Setelahnya, Haji Sattar Hilang.

Novel ini terdiri dari lima bab pendek-pendek tanpa subjudul, yang bisa dirampungkan sekali duduk. Yang mencengangkan dari karya penulis terkenal Mahwi Air Tawar ini adalah kisah-kisah yang tak tahu kapan dan di mana ia harus berakhir. Seolah-olah, penulis memberikan otoritas penuh kepada pembaca untuk merampungkannya sendiri. Atau jangan-jangan… (saya berikan otoritas penuh pada anda untuk merampungkan kalimat ini).

Fairuzul Mumtaz a.k.a. Virus, Koordinator Obrolan Senja di Angkringan Buku

Kabar Resensi Pekan Keempat Maret 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

PAJAK itu ZAKATPajak Itu Zakat: Uang Allah untuk Kemaslahatan Rakyat

karya Masdar Farid Mas’udi (Mizan, 2010)

Resensi ditulis oleh Deddy Arsya

Dimuat KOMPAS, 27 Maret 2011

Di tengah gelombang ketidakpercayaan terhadap dunia perpajakan, terutama dipicu oleh beberapa kasus pajak yang marak belakangan ini, publikasi Pajak Itu Zakat mungkin patut dibaca sebagai bahan pertimbangan. Menurut buku ini, pajak dan zakat dapat diakomodasikan karena konsep dasar pajak maupun zakat sama-sama untuk kebaikan bersama. Keselarasan prinsip-prinsip dasar antara pajak dan zakat ini menjadi acuan bagaimana menjadikan pajak sebagai zakat atau sebaliknya. Buku ini menawarkan beberapa prinsip sederhana: pertama, kepada wajib pajak cukup dengan berniat zakat ketika membayar pajak, maka pajak yang dibayarkan sudah menjadi zakat. Oleh karena itu, wajib pajak telah berhak mendapatkan pahala berzakat. Kedua, kepada pejabat dan aparat negara anggaplah diri sebagai ‘amil. Kelolalah uang pajak dengan penuh ketakwaan kepada Allah selaku Pemiliknya, sebagaimana layaknya mengelola zakat. Dan, ketiga, kepada semua pihak, langsung maupun wakilnya, awasilah setiap rupiah dari uang pajak itu agar benar-benar dibelanjakan untuk kemaslahatan segenap rakyat, terutama yang lemah.*

7 Tahun Menggali Pemikiran dan Tindakan Pak Harto

karya Wiranto (Citra Kharisma Bunda, 2011)

Resensi ditulis oleh: Dudi Sabil Iskandar

Dimuat KORAN TEMPO, 27 Maret 2011

Buku ini terdiri atas delapan bab, yakni Politik, Perekonomian Nasional, Masalah Kerja Sama Internasional, Industrialisasi dan Penguasaan Teknologi, Pembangunan Pertanian, Masalah Kesejahteraan Rakyat, Lingkungan Hidup, serta Pribadi. Karya ini merupakan hasil dialog Wiranto selama tujuh tahun dengan Soeharto (1991-1997), termasuk tiga tahun ketika menjadi ajudan. Berlawanan dengan buku-buku yang umumnya menghujat, soeharto dalam buku ini ditampilkan sebagai sosok yang sangat arif dan visioner.*

Bahasa, Citra, Media

karya Howard Davis, Paul Walton (ed.) (Jalasutra, 2010)

Resensi ditulis oleh Muhammad Muhlisin

Dimuat SEPUTAR INDONESIA, 27 Maret 2011

Kesemua esai dalam buku ini menarik wawasan dari sejumlah disiplin yang telah mapan maupun yang baru muncul, termasuk sosiolinguistik, analisis wacana, pragmatika, semiotika, dan sosiologi komunikasi. Setelah disatukan, semua esai ini merepresentasikan contoh karya kontemporer terbaik dan paling menarik mengenai topik bahasa, pencitraan, dan kajian media.Analisisnya terikat kuat dengan ilustrasi yang antara lain mencakup bahasa radio, gambar diam dari televisi, kartun, iklan, dan tata letak surat kabar.*

AVIAPEDIA: Ensiklopedia Umum Penerbangan

karya Singgih Handoyo & Dudi Sudibyo

Resensi ditulis oleh Anton Chrisbianto (Kompas, 2011)

Dimuat SEPUTAR INDONESIA, 27 Maret 2011

Angkutan udara Indonesia berkembang pesat pascaderegulasi penerbangan pada 2000. Jumlah maskapai penerbangan berjadwal meningkat lebih dari 15 maskapai (airlines), padahal sebelumnya hanya 5 airlines. Buku ini masuk dalam ceruk yang lain yang belum pernah ada. Yakni buku pintar penerbangan. Kamus Pesawat, sebut saja demikian. Istilah-istilah penerbangan dalam buku ini disajikan secara populer, menggunakan pendekatan/ pola penulisan berita yang mengandung unsur: 5W+1H,yaitu: what (apa), why (kenapa), who (siapa), when (kapan), where (di mana), dan how (bagaimana). Dengan demikian, istilah-istilah penerbangan menjadi mudah dimengerti dan dipahami pembaca.*

Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi

karya Syaikh Idahram

Resensi ditulis oleh Wildani Hefni

Dimuat JAWA POS, 27 Maret 2011

Kelompok Salafi wahabi adalah pengikut Muhammad ibnu Wahab yang lahir di Uyainah, Najd, Arab saudi. Salafi lahir pada abad 18 atau 1200 tahun setelah masa Rasulullah. Sementara di Indonesian mulai populer pada 1995 bersamaan dengan terbitnya majalah Salafi yang diprakarsai Ja’far Umar Thalib. Di antara faktor diterimanya paham Salafi Wahabi di Indonesia adalah medan dakwah Nusantara yang berhadapan langsung dengan ajaran animisme, dinamisme, dan pengaruh HIndu Budha. Titik kulminasi setelah paham ini menyebar, wabah takfir, tasyrik, tabdi, dan tasykik begitu gampang ditempelkan kepada sesama Muslimin. Mereka kian gampang mencela kaum yang tidak sekelompok, khususnya ulama dan dai, serta menyematkan gelar-gelar buruk dari hasil terkaan “ijtihad” mereka sendiri.*

Mata Air Peradaban: Dua Milenium Wonosobo

karya HA Khloq Arif dan Otto sukatno CR (LKIS, 2010)

Resensi ditulis oleh Husnun N Djuraid

Dimuat JAWA POS, 27 Maret 2011

Sesuai judulnya, buku ini mengisahkan sejarah Wonosobo. Menurut tarikh, Pemerintah Kabupaten ini berdiri pada 24 Juli 1825. Pada tahun yang sama terjadi Perang Diponegoro. Adalah Muh Ngarpah dan Mulya sentika, dua orang anak buah Pangeran diponegoro, bersama pasukannya mencapai kemenangan gemilang dengan memukul mundur pasukan Belanda di darah Legorok (perbatasan Magelang-Wonosobo). Atas prestasi itu, Diponegoro memberi gelar KRT (Kanjeng Raden Tumenggung) Satjanegara kepada muh Ngarpah dan KRT Kertanegara kepada MULYA Sentika. Setelah itu, KRT Setjanegara diangkat menjadi bupati pertama Wonosobo untuk masa jabatan 1825-1832. Sedangkan KRT Kertanegara menjadi bupati Wonosobo periode 1857-1863.*

Musa Versus Firaun

karya Rusydi al-Badrawi (Lentera Hati, Jakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Subroto

Dimuat REPUBLIKA, 27 Maret 2011

Buku ini mengisahkan kisah Firaun berhadapan dengan Musa. Firaun yang dimaksud di sini adalah putra Ramses II yang melakukan penindasan dan pengejaran terhadap orang-orang Israel hingga tenggelam di Laut Merah. Buku enam bab ini mengurai kisah itu dengan mengutip informasi-informasi dalam Al-Quran. Juga menjelaskan ulang lokasi terbelahnya Laut Merah yang informasinya masih simpang siur. Gambaran menjelang ajal Firuan dijelaskan pula dengan ekspresif. Buku ini dilengkapi pula dengan foto-foto dan gambar, walau sayang foto banyak yang kabur.*

Menjadi Guru Idola

karya Ahmad Zuhdi Firdaus (Gen-K Publisher, 2010)

Resensi ditulis oleh: FL Agung Hartono

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Maret 2011

Buku ini memaparkan bagaimana menjadi guru yang mampu menjadi idola bagi anak didiknya dalam lima bab. Seperti guru dalam proses pendidikan dan guru sebagai sahabat. Sebagai sahabat, guru adalah teman siswa ketika siswa ada masalah, tidak konsentrasi, nakal dan usil, serta bagaimana mengelola anak didik yang sok pandai atau terlalu pandai.*

Membangun Kepribadian dan Watak Bangsa Indonesia yang Harmonis dan Integral

karya Ki Fudyartanta (Pustaka Pelajar, 2010)

Resensi ditulis oleh Imam Nawawi

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Maret 2011

Menurut penulis buku ini, pendidikan nasional belum menunjukkan hasil yang signifikan. Pengelola pendidikan masih cenderung setengah hati dalam menunjukkan kinerjanya shingga pendidikan kita masih jauh dari harapan publik, khususnya orang tua murid. Apalagi mampu bersaing secara kompetitif dengan perkemabngan pendidikan di tingkat internasional. Padahal, pendidikanlah sarana membangun kepribadian dan watak kebangsaan.*

Kegalauan Identitas: Agama, Etnisitas dan Kewarganegaraan pada Masa Pasca Orde Baru

karya Martin Ramsted & Fadjar Ibnu Tufail (Grasindo, 2011)

Resensi ditulis oleh Munawir Aziz

Dimuat SUARA MERDEKA, 27 Maret 2011

Buku ini merupakan hasil riset dari sembilan peneliti yang telah bekerja bertahun-tahun di sejumlah kawasan Indonesia. Secara mendasar, buku ini membahas dinamika pergolakan pelbagai masyarakat lokal di Indonesia. Beberapa riset yang terangkum, antara lain membahas perselisihan di Minangkabau, persoalan identitas di Bali, sengketa agama di Papua, kerusuhan di Ambon, perdamaian di Minahasa, dan persoalan hak intelektual.*

(Disusun: Muhidin M Dahlan)

Pengantin Teroris | Abu Ezza

jihad(Tinjauan atas Novel “Pengantin Teroris: Memoar Jihad NA”)

Oleh : Rijal Mumazziq Zionis[2]

Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, maka binasalah langit dan bumi ini dan semua yang ada di dalamnya” QS. Al-Mu’minun : 71

Dunia terorisme di Indonesia, jika diamati, sulit diberantas karena dua faktor; pemahaman dan interpretasi teks suci yang dilakukan secara serampangan, yang didukung kondisi ekonomi, sosial, politik di Indonesia yang masih labil. Faktor lainnya adalah pihak aparat masih menerapkan pendekatan kekerasan dalam memberantas aksi terorisme berkedok agama. Sungguhpun metode ini berhasil, namun efek yang dihasilkan tak kalah mengerikan. Bibit-bibit teroris muncul bak jamur di musim hujan, mereka ditempa di organisasi bawah tanah yang menggunakan metode penggemblengan melalui brainwashing, perekrutan terbatas, penggunaan sistem sel, yang didukung logistik memadai. Ironisnya, para perekrut gerakan ini di antaranya, adalah bekas-bekas narapidana tindak terorisme. Terbukti, jika penjara tak membuat mereka jera, tapi malah membuat mereka lebih canggih (karena selnya pun ditempatkan bersama-sama dengan terpidana terorisme lainnya).

Dan, aksi penyadaran anggota teroris agar kembali ke siratal mustaqim, ternyata bukan menggunakan cara-cara kekerasan, karena mereka akan terus melakukan aksi perlawanan, melainkan dengan menggunakan cara-cara yang lembut nan elegan. Dan, dalam novel Penganten Teroris inilah, saya menemukan kisah “taubat”nya seorang mantan teroris justru bukan dengan digebuki dan dicuci otak, tetapi menyentuh simpul-simpul hatinya. Sukree, eks-mujahid Afghanistan asal Malaysia, yang sepulangnya dari Afghanistan melanjutkan ekspansi “jihad”nya ke Indonesia pada medio 1990-an hingga tahun 2003, menebar terror bom bunuh diri dalam aksi Bom JW. Marriot Jakarta. Tentu bukan dirinya yang melakukan aksi itu, tetapi dua orang anak didiknya, yang pengetahuan agamanya masih polos tapi memiliki semangat beragama yang menggebu.  Mereka inilah yang menjadi “pengantin”, sandi bagi calon pengebom bunuh diri, yang konon, dijanjikan dinikahkan dengan bidadari surga. Hasil gemblengan Sukree inilah yang banyak menebar terror bom di Indonesia.

Konon, organisasi Jamaah Islamiyah, organisasi yang menjadi induk semang Sukree, ini adalah otak di balik aksi pengeboman di Tanah Air. Menurut Syekh Ali Muhammad Syarief dan Syekh Najih, dua anggota JI yang telah “murtad” dari kelompok ini, ada empat hal yang sangat berbahaya dari organisasi ini. Pertama, fanatik terhadap pendapat sendiri dan menolak pendapat orang lain. Pola pikir yang keras di antara mereka tak jarang berujung pada pemaksaan pemahamannya sehingga berujung pada kekerasan pula. Kedua, memahami teks agama secara harfiyah, misalnya, dalam memahami ayat-ayat mutasyabihat mengenai ayat perang tanpa mengindahkan tujuan dan sebab turunnya ayat tersebut. Ketiga, mereka biasanya berlebih-lebihan dalam pengharaman. Dalam perspektif mereka, segala sesuatu yang tidak berlandaskan syariah adalah haram. Keempat, mereka sangat mudah sekali mengkafirkan orang lain atau pemerintah (h.120-121). Nah, faktor terakhir inilah yang membahayakan, sebab poin ini dijadikan alasan dan legitimasi pengeboman yang terjadi di Indonesia. Jika seseorang telah (dianggap) kafir, maka kekerasan atau pertumpahan darah, adalah “diperbolehkan”.

Poin-poin di atas, secara sekilas bisa mengingatkan kita pada ekstrimis Khawarij yang hidup beberapa abad silam. Secara organ gerakan, kelompok ini telah punah, tetapi secara pemikiran dan ideologi, Neo-Khawarij dengan pola gerakan yang lebih canggih telah menjadi orok yang membahayakan Islam sendiri.

Dan, Sukree, tokoh novel ini adalah bagian dari gerakan Neo-Khawarij yang secara kasat mata bernama Jamaah Islamiyah. Sebagai anggota kelompok ini, empat faktor di ataslah yang dia pakai sebagai landasan pengkaderan. Sebagai orang yang ditempa di medan perang selama beberapa tahun, nalar yang ia gunakan adalah logika kekerasan. Tak heran jika Sukree menyebut pemerintah Malaysia, Indonesia dan negara-negara lain yang tak memakai sistem Islam(i) sebagai Taghut (setan). Alhasil pemerintah “beginian” ini hukumnya, menurut mereka, boleh diperangi. Pola pikir yang dianut Sukree ini merupakan landasan dasar epistemologi mereka dalam melancarkan aksinya. Dasar epsitemologi inilah yang rata-rata menjadi ruh gerakan organisasi-organisasi Islam ekstrem. Memang, setelah perang Afganistan usai, para veteran mujahidin ini pulang ke negaranya masing-masing. Ada yang berdakwah secara damai, ada pula yang bergabung dalam organisasi-organisasi khas “mujahid”, seperti NII, Jamaah Islamiyah, dan Majelis Mujahidin Indonesia (saat ini bermatamorfosis menjadi Jamaah Ansharut Tauhid). Dan di antara yang paling militan adalah Jamaah Islamiyah.

Setelah banyak mengkader beberapa “mujahid” di Indonesia, Sukree akhirnya menemukan kesadaran kembali ke jalan Islam damai. Bukan pentungan polisi yang menyadarkannya, bukan peperangan yang membuatnya kembali, bukan penangkapan teman-temannya yang membuatnya “taubat”, tetapi justru perlakuan penjaga penjara-lah yang membuatnya merenung tentang aksi “jihad”nya selama ini. Setelah tertangkap dan ditahan, seorang sipir penjara; tua, beruban, ramah, dan beragama Nasrani (!) memperlakukannya secara lembut ketika ia mau shalat. Perlakuan inilah yang menggetarkan nuraninya; seorang Nasrani yang menghormati ibadah pemeluk agama lain dan mempercayainya meskipun ia seorang tersangka teroris. Getaran hati ini sebenarnya jauh hari pernah ia rasakan tatkala adiknya, Salmah, mengkritisi cara “Jihad”nya.

Melalui novel ini, Sukree, yang disampul ditulis dengan inisial NA,[3] digambarkan sebagai seorang Mujahid (tatkala di Afghanistan) yang agak “cengeng” dan perasa. Lihatlah bagaimana sebagai calon petempur meratapi kepergian Rahman (teman masa kecilnya yang gagal jadi Mujahid di Afganistan gara-gara kangen anak istri). Lihat pula bagaimana novel ini berakhir dengan perenungan Sukree terhadap aksi yang banyak merugikan orang lain (yang membuatnya “taubat”), setelah ia diperlakukan dengan hormat oleh penjaga penjara yang nasrani tua. Atau bagaimana perasaannya yang mengharu biru tatkala meninggalkan orangtua dan adik perempuannya tatkala mau pergi Jihad ke Indonesia.

Dalam banyak hal, novel ini kurang memiliki deskripsi karakter tokoh yang kuat. Semuanya ditampilkan kurang detail. Selain itu beberapa kontradiksi juga terjadi, misalnya orang tua Sukree di banyak halaman awal ditulis dengan nama Masdikun dan Miranah, namun di halaman akhir banyak tertulis menggunakan nama Pak Abas dan Bu Saemah (sejak halaman 114), calon tunangan Sukree yang diawal bernama Azizah, di halaman pertengahan hingga akhir banyak ditulis dengan menggunakan nama Indah.

Namun, kemampuan Abu Ezza mengeksplorasi sisi lain terorisme di Indonesia memang pantas diapresiasi. Ini adalah upaya bagaimana mengungkap aspek terorisme dari aspek yang lain. Seorang “Mujahid” ternyata tak setangguh aksinya di beberapa epos. Pejuang, teroris, mujahid, tukang perang, pemberontak, atau apaun sebutannya, tetaplah manusia. Ia memiliki nurani. Kalaupun saat ini kita berupaya mencegah dan memberantas aksi terorisme, bukan dengan cara kekerasan, kawan! Caranya? Sentuh hatinya! Demikianlah Abu Ezza mengajarkan kepada kita melalui novel Pengantin Teroris. Wallahu A’lam Bisshawab.

[1] Makalah ini dipersembahkan dalam diskusi dan bedah novel “Pengantin Teroris: Memoar Jihad NA” karya Abu Ezza, yang dilaksanakan di Pesantren al-Husna Surabaya, Selasa 1 Maret 2011)

[2] Bakul Buku Keliling sekaligus Direktur Penerbit IMTIYAZ Surabaya. 085 645 311 110. Email: rizziq_zio84@yahoo.com

[3] Kalau tak salah tebak, NA adalah inisial dari Nasir Abbas. Beberapa nama dalam novel ini memang menggunakan nama samara, misalnya (kalau tak salah tebak), Abdullah Sungkar disamarkan menjadi Abdussamad, Abu Bakar Ba’asyir disamarkan menjadi Abdul Halim, dan sebagainya.

Hilangnya Halaman Rumahku | G B Subanar

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOEREDAKSI: Buku ini masih sebuah draft novel. Dibahas pertama kali di halaman Perpustakaan Indonesia Buku (14/03/2011) sebagai bagian dari proses pengayaan dan pengujian proses kreatif. Bahkan sejak naskah masih berada dalam sapihan. Berikut ini adalah sekilas rangkuman isi (draft) novel karya Romo GBS Banar, pengajar di Universitas Sanata Dharma.

* * *

Betapa Satirnya Negeri Ini

Saksikanlah di kota-kota besar. Tak ada yang sulit untuk didapatkan. Keinginan apa yang tak terpenuhi jika kita hidup di kota besar? Teknologi, ilmu pengetahuan, hiburan, atau fasilitas modern lainnya yang mampu memanjakan hidup kita. Semua ada dan dapat diraih selama di kantong ada kertas-kertas yang berharga. Tentu saja ini cerita klasik, dan kita mengalaminya sendiri(?).

Dan lihatlah di kampung-kampung kecil. Harus bersusah payah untuk memperoleh sesuatu. Kadang mereka musti hijrah ke kota untuk memperolah yang diinginkan. Termasuk dalam pendidikan. Namun, hijrah itu tak dapat dilakukan oleh setiap orang di kampong. Alternatifnya, orang yang pintarlah yang harus datang ke kampung. Mengajarkan ilmu pengetahuannya yang dibawa dari kota. Dan tentu saja, ini juga kisah biasa. Tapi semangatnya bukan hal biasa. Wow!

Begitulah kisah Suryo dalam novel Hilangnya Halaman Rumahku (HHR) karya G.B. Subanar, dimulai. Kisah satire kenyataan negeri ini.

Suryo, sarjana pendidikan umum dari universitas di Jakarta, harus menjalani ikatan dinas dengan menjadi pengejar di daerah terpencil Maluku. Empat tahun lamanya. Mulanya barangkali keterpaksaan, lalu menjadi biasa, akhirnya berkesan, dan bahkan sangat berkesan bagi Suryo dan daerah di mana ia bekerja.

Menjadi guru, bagi Suryo, ternyata bukan hanya bagaimana mengajarkan ilmu kepada peserta didik, melainkan juga bagaimana menjadi agent of change bagi masyarakatnya. Hal ini dibuktikan oleh Suryo. Perubahan yang diinginkan tentu saja bukan perubahan besar semacam revolusi. Kecil saja, namun mampu membentuk. Sebuah perubahan dari dalam kelas. Memberi penyadaran pada generasi setelahnya.

Suryo menjadi pengajar bagi ilmu eksakta meski sebenarnya bukan faknya. Begitulah guru di kampung kecil, ia harus bisa menjadi guru mata pelajaran apa saja. Suryo berasal dari Jawa (Jogja). Kesukuannya yang Jawa menjadi suku yang diagungkan, nomor wahid, sementara yang lain hanya sub. Dan berbekal suku Jawanya itu, ia melaksanakan misi suci.

Sebagai lelaki dan sudah umur, keterlibatannya dengan seorang perempuan merupakan hal wajar. Ia bertemu dengan seorang dokter cantik yang juga dari Jawa (Malang, tepatnya), yang baru beberapa bulan datang ke tempat terpencil itu, juga karena ikatan dinas. Dokter cantik itu vita namanya. Malaria yang mempertemukan mereka. Suryo terkena malaria dan Vita yang menyembuhkannya. Malarindu tropikangen akhirnya menyelimuti mereka. Dan mereka tahu bagaimana menemukan obatnya, salfatirangkul.

Meski cinta tersambut, tubuh perpeluk, dan bibir saling menggigit, namun jalan tak semulus angan. Cinta Suryo tengelam bersama Vita di kedalaman laut. Vita mati, dikemanakan cinta Suryo? Suryo memilih menjadi lelaki yang cemen dengan tidak memilih perempuan mana pun pengganti Vita. Padahal, dua perempuan layaknya bidadari sempat terhidang di depannya. Wow!

Meski, persoalan cinta sempat mengemuka, ternyata hanyalah sebuah pemanis. Kisah-kisah sosial, budaya, politik, agama dan pendidikan lebih mendominasi dalam novel HHR ini. Termasuk juga kisah satire dan krirtis yang selama ini dialami daerah-daerah yang konon tidak diperhatikan oleh Negara. Novel HHR ini menunjukkan fakta-fakta yang filosofis atas kesatiran negeri ini.

Setelah tugasnya selama empat tahun selesai, Suryo mendapatkan beasiswa untuk meneruskan kuliahnya  di UNY, daerah asalnya. Kesatiran negeri ini ternyata belum berhenti. Suryo masih banyak memperlihatkannya melalui sungai kali Code.

Kisah dalam novel ini ditutup dengan revolusi 1998 dan kerusuhan yang terjadi di Maluku dan Ambon. Namun, sekali lagi, Suryo tak melakukan perubahan dengan cara menjadi bagian dari revolusi, tapi hal kecil. Kalau dulu dari dalam kelas, sekarang dari dalam lingkaran diskusi mahasiswa Maluku-Ambon yang kuliah di Yogyakarta. Kecil saja, sederhana, namun membentuk.

Dan selanjutnya, pembaca akan dihadapkan pada kedalaman falsafah Jawa dan hikmah-hikmah kehidupan lainnya. Selamat mendengarkan ceramah dari seorang Romo!

Daftar Isi

01. *SERANGAN MALARIA    03
02. *MENJADI GURU SERBA BISA   37
03. *MELINTASI PADANG ALANG-ALANG   85
04. *NEGERI ANGIN   153
05. *KETERBATASAN MENGATASI ALAM 189
06. *PULANG KAMPUNG   217
07. *NAIK RUMAH – MEMILIH HIDUP MEMBUJANG  269
08. *YANG TERASING DI TANAH SENDIRI 303
09. *AMOK     341

(Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus)

Kabar Resensi Pekan Pertama Maret 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

membumikanMembumikan Al Quran Jilid 2: Memfungsikan Wahyu dalam Kehidupan

karya M Quraish Shihab (Lentera Hati, 2011)

Dimuat REPUBLIKA, 6 Maret 2011

Buku ini bertujuan untuk menjawab masalah bangsa yang penuh dengan ketidaknyamanan, kebingungan, dan problem yang mengimpit umat. Pesan khusus buku ini ditujukan kepada kepala Negara yang keblinger dengan jabatannya,  Melalui tulisan-tulisan Quraish Shihab, selain menyampaikan pesan kepada kepala Negara, buku ini mengupas berbagai persoalan yang ditinjau dari sudut pandang Al-Quran. Bab pertama membahas tuntutan keberagaman yang menggali dari konsep dasar keislaman, agama dan rasa aman, serta mengulas apa yang salah dalam beragama di Indonesia, buku ini memuat pula tuntutan Alquran berkaitan dengan perubahan dan tantangan zaman, termasuk apa hukumnya kloning, serta bagaimana dunia kedokteran dalam pandangan teologi Islam dijelaskan rinci oleh pakar tafsir quran ini.

Secangkir kopi untuk relawan karya Mohammad al-Azhir (Semesta Pro-U Media, 2011)

Resensi ditulis oleh Sururudin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 6 Maret 2011

Buku ini mengisahkan perjuangan seorang relawan di aceh  pada saat terkena bencana tsunami. Dalam kisahnya Wahid Nugroho pemeran utama novel ini sedang mengerjakan skripsinya tentang konflik di Aceh, dan pada saat bersamaan terjadi bencana tsunami di Aceh. Berbagai hal dialami oleh tokoh utama mulai dari hal-hal yang berkaitan dengan posko pengungsian hingga pertemuannya dengan GAM. Ikhlas membantu sesama merupakan misi dari kisah inspiratif ini.

Abal-abal Produk Cina karya Paul Midler (Ufuk Press, Jakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Benni Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 6 Maret 2011

Buku ini menungkap aksi tipu-tipu atau memalsu berbagai macam produk yang dilakukan oleh warga cina,  budaya memalsu di cina sudah berlangsung sejak dinasti Qing pada abad ke-18, berkat budaya memalsu, sejarah membuktikan, cina menjadi Naga Asia. Cina menjadi pengekspor dan produknya telah membanjiri seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia.

Aku Jatuh Cinta Lagi pada Istriku

karya Mardi Luhung (Komodo Books, 2011)

Resensi ditulis oleh: Salamet Wahedi

Dimuat JAWA POS, 6 Maret 2011

Kumpulan cerpen ini menyuguhkan kekuatan metarealitas dan daya kritis mampu menghadirkan ruang-bangun cerita: liar, memukau sekaligus penuh magis. Jalinan suasana yang dibangun benar-benar menciptakan dunia keberadaan yang menawarkan ruang tafsir atas realitas dan sekitarnya. Lebih jauh, persoalan metarealitas Mardi tak sekedar menghadirkan dunia baru. Dunia yang penuh keliaran penghuninya, diluar itu Mardi juga melakukan dialog akan rentang waktu dan cinta.

Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia?

karya Imam Supriyono (SNF Consulting, Surabaya, 2010)

Resensi ditulis oleh J. Sumardianta

Dimuat JAWA POS, 6 Maret 2011

Buku yang ditulis managing director SNF Consulting ini tidak sedang mengutuki lorong gelap. Dia mengobarkan obor harapan di ujung terowongan. Mengubah mentalitas pengusaha di Indonesia, yang hanya jago kandang sekelas ayam, menjadi elang yang mendunia. Selain itu penulisnya melaporkan produk, merek dagang, dan korporasi bisnis international bergentayangan di sekujur belahan dunia, tanpa kecuali bangsa Indonesia,  karena para CEO-nya memiliki segudang keberanian.

Adat dalam Politik Indonesia editor Jamie D. Davidson, David Henley, Sandra Moniaga  (KITLV-Pustaka Obor, Jakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Munawir Aziz

Dimuat SUARA MERDEKA, 6 Maret 2011

Buku ini merupakan ulasan komperhensif tentang muasal, muatan politis ideologis, maupun kritik terhadap bangkitnya masyarakat adat di Indonesia. Lima belas tulisan panjang dalam buku ini merupakan riset substansial untuk membaca maupun menafsir ulang identitas masyarakat adat Nusantara.

Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak karya Endang R Sedyaningsih (Kepustakan Populer Gramedia, 2010)

Resensi ditulis oleh Veven Sp Wardhana

Dimuat KOMPAS, 6 Maret 2011

Buku ini menjadikan Kramat Tunggak sebagai ”maksiatur” bagi kompleks prostitusi sejenis di kawasan mana pun di negeri ini. Penulisnya, Endang R Sedyaningsih-Mamahit yang sejak Oktober 2009 menjadi Menteri Kesehatan, membeberkan bahwa janda muda menduduki jumlah terbanyak sebagai penghuni kompleks. Secara tersirat pernikahan dini sangat rentan dengan konflik tak teruraikan karena belum matangnya psikologi, mental, dan rohani pasangan sehingga perceraian menjadi menu cepat saji, secepat jalan keluar yang menyertainya—salah satunya: menjadi PSK. Karakteristik PSK dalam buku ini ditulis sedemikian rinci, serinci penulisan perihal karakteristik para germo, manajemen germo, ragam rumah bordil dalam lingkungan kompleks, serta karakteristik tamu yang bertandang, serta menyangkut empat ragam motivasi menjadi PSK: terpaksa karena keadaan, ikut arus, terdorong frustrasi, dan sekadar mencari nafkah. (Disusun: Teta Fathiyah)

Cine Book Club: Bulan Film Buku Tanah Air

Studio 1 Gelaran Indonesia Buku Jalan Patehan Wetan No. 3, Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta, Indonesia

gieYOGYAKARTA–Tanpa terpengaruh segala hiruk pikuk impor mengimpor kemarin, Cine Book Club tetaplah santai dan memutar film segala rupa. Akan tetapi bila bulan ini kami sepenuhnya memutar film dalam negeri, itu bukanlah perkara politis. Sesuai dengan kebijakan kami untuk memutar film terkait momentum, maka sejalanlah pilihan tersebut karena Maret merupakan Bulan Film Nasional.

Tak ada salahnya pula , selama bulan Maret, kita bisa bersikap lebih kontemplatif, hingga akhirnya meninjau kembali, ke arah mana sebetulnya karya film kita menuju. Karya-karya yang kami putar merupakan film populer pada masanya, dan kebanyakan kontemporer. Namun tetap tak melupakan kriteria kami, harus melibatkan buku dan juga proses kreatif.

Berikut jadwal pemutaran kami bulan ini:

1. “Gie” – 5 Maret 2011 ( sutradara Riri Reza; 147 min)

Siapa tak kenal Soe Hok Gie dan “Catatan Seorang Demonstran”-nya? Sempat menjadi kontroversi pada tahun 2005 sebab Gie-nya Riri Reza dianggap tak akurat secara historis. Namun, kafilah tetap berlalu. Berhasil menggondol banyak penghargaan di FFI 2006, inilah Gie yang dipotret dari sudut pandang personal, bahkan cenderung apolitis katanya. Silahkan Anda nilai lagi setelah lima tahun pemutaran perdananya.

2. “Telegram” – 12 Maret 2011 (Sutradara: Slamet Rahardjo Djarot; 82 min)

Diangkat dari novel Putu Wijaya, sutradara terpandang Slamet Rahardjo Djarot menampilkan ilusi yang dialami seorang wartawan di ibukota terkait banyak pilihan hidup. Berkisar tentang Daku (dimainkan Sujiwo Tejo), seorang lajang dari Bali yang bekerja sebagai reporter di Jakarta. Daku berhubungan dengan Norma (Anne J. Cotto), seorang wanita yang terpaksa menjadi pelacur karena kemiskinannya.  Di sisi lain. Daku bersembunyi dan terperangkap dalam kehidupan khayalnya yang indah dengan Rosa (Ayu Azhari), perempuan muda yang cantik dan mampu mengobati rasa sepi yang membakar dirinya. Telegram sepertinya tak akan lagi menjadi sekadar benda pos usai anda menonton film ini.

3. Novel Tanpa Huruf “R” – 19 Maret 2011 (Sutradara: Aria Kusumadewa; 85 min)

‘Novel Tanpa Huruf R’ adalah sebuah kisah antara dunia nyata dan tak nyata yang tak jelas batas dan alasannya. Drum (Agastya Kandou) adalah seorang pria dengan masa lalu yang berliku-liku dan diwarnai kekerasan. Ibunya hilang di laut ketika mereka lari dari desanya. Sementara ayahnya meninggal tertabrak mobil di depan matanya. Kekasihnya, seorang gadis keturunan Tionghoa mati dibantai dalam kerusuhan.  Karya Aria yang lebih matang setelah “Beth” untuk kemudian disusul “Identitas”. Pantas disimak dan diperbincangkan lebih lanjut.

4. “Fiksi” – 26 Maret 2011 (Sutradara: Mouly Surya; 90 min)

Anda boleh merasa pernah menyaksikan Fiksi. Atau malah belum pernah sama sekali dan hanya mendengar gegap-gempitanya di mana-mana. Tidak bijak menilai seuatu tanpa kita mengetahuinya sendiri.  Cerita Alisha (Ladya Cheryl) wanita berumur 20 tahun yang membuntuti Bari (Donny Alamsyah) hingga kemudian terobsesi dengannya, representatif sekali sebagai film tentang buku, seuai kriteria kami. Baik buruk kualitasnya? Mari kita bicarakan bersama di akhir pemutaran saja.

Setiap pemutaran dimulai pukul 19.00 tepat, tentunya di Gelaran Indonesia Buku, Patehan Wetan 3, Alun-Alun Kidul, Kraton, Yogyakarta. Ajak kawan, pacar, ayah-ibu, adik, kakak, paman, bibi, siapapun dia. Sebab semua pemutaran gratis, tersedia pula makanan dan minuman, serta tak lupa, beragam hadiah menarik bagi peserta diskusi usai pemutaran yang beruntung. Mari Menonton Buku, Mari Membaca Film! (Ardyan M Erlangga)

Kabar Resensi Pekan Keempat Februari 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

KelilingKeliling Indonesia: Dari Era Bung Karno sampai SBY, Catatan Perjalanan Wartawan Nekat

karya Gerson Poyk (Libri, 2010)

Dimuat MEDIA INDONESIA, 26 Februari 2011

Buku ini menggambarkan wajah Indonesia yang gamblang. Melalui tulisan-tulisan Gerson, Indonesia tampil sebagai kemajemukan, keragaman pandangan yang hidup berdampingan. Di buku ini, naluri jurnalistk pencatat fakta berpadu dengan jiwa sastra penyelisik makna. Dengan demikian, makna tentang Indonesia perlahan-lahan tampil dalam kesadaran pembaca. Indonesia yang degil, yang sama sekali belum berubah, adalah salah satu kutub pemaknaan dari 56 cerita tentang perjalanan jurnalistik si wartawan nekat ini.

Dosa-Dosa Nurdin Halid karya Erwiyantoro (Galangpress, Yogyakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Baskoro Yudho

Dimuat JAWA POS, 27 Februari 2011

Demonstrasi menuntut Nurdin Halid mundur dari kursi ketua umum PSSI terus mengalir. Mengapa gelombang anti Nurdin itu begitu massif dan merata di seluruh tanah air? Sebagian besar jawaban dari pertanyaan itu bisa ditemukan di buku ini. Buku karya jurnalis senior ini mengurai sejumlah kontroversi yang dilakukan Nurdin selama memimpin organisasi yang berdiri sejak 1930 tersebut. Kontroversi itu bermuara pada karut-marutnya kompetisi dan nihilnya prestasi timnas.

Our Choice: Rencana untuk Memecahkan Krisis Iklim karya Al Gore (Kanisius, Yogyakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Benni Setiawan

Dimuat JAWA POS, 27 Februari 2011

Buku ini merupakan pengembangan dari buku Al Gore sebelumnya dengan misi mendorong penghentian bahan bakar fosil dan segera beralih ke energi yang dapat diperbarui. Mantan wakil presiden AS ini menegaskan krisis yang kita alami saat ini akibat manusia menggunakan terlalu banyak sumber energi yang berbahan bakar fosil. Tak mudah mengatasi krisis ini. Tapi jika kita semua memilih untuk mengatasinya, apa yang tak bisa diubah.

Justin Bieber: Never Say Never

karya Chas Newkey-Burden (Ufuk Press, 2010)

Justin Bieber: First Step 2 Forever: My Story

karya Justin Bieber (Kaifa, 2011)

Resensi ditulis oleh Tessa Febiani

Dimuat KORAN TEMPO 27 Februari 2011

Wajah penyanyi remaja yang imut ini menjadi idola yang paling digilai oleh ramaja di dunia. Karena itu tak salah dua penerbit di Indonesia menjual kisah tentang Justin. Wajah yang imut itu tak pelak menjadi sampul yang memang jualan menggiurkan. Secara substansi, dua buku ini tak ada bedanya. Cuma, teknik penulisan Never Say Never dibuat bergaya novel, sementara First Step 2 Forever bergaya buku harian yang oleh sebab itu diklaim sebagai otobiografi.

Tuhfat

karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Resensi ditulis oleh Heri Ruslan

Dimuat REPUBLIKA, 27 Februari 2011

Kitab atau buku yang terdiri dari 17 bab itu merupakan kitab klasik ihwal pendidikan anak. Juga disertai hukum-hukum fikih hingga kiat-kiat praktis mendidik anak. Lebih jauh, Ibnu Qayyim mengupas ragam argumentasi yang memperkuat perintah memperbanyak keturunan dan dasar filosofis di balik amar tersebut.

Six Suspects karya Vikas Swarup  (Bentang, Yogyakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Satmoko Budi Santoso

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Februari 2011

Novel terjemahan ini memberikan pembelajaran memikat soal kompleksitas cerita. Bagai tumpang tindih, banyak persoalan berkelindan dalam satu buku novel. Sesuai judulnya, novel ini bercerita tentang 6 tersangka dalam pembunuhan seseorang yang bernama Vicky Ray. Vicky seorang play boy kaya raya yang membangun imperium industri dari nol. Ia terlibat dalam insider trading di bursa saham. Sampai-sampai ia juga menggelapkan pajak, menyuap pejabat dan mengakali pajak perusahaan. Perbuatan ala mafioso semacam itu masih dipersering dengan melakukan pelecehan dan pembunuhan terhadap orang-orang kecil. Anehnya, ia tak pernah tertangkap, selalu berhasil menemukan celah keluar dari jangkauan hukum.

Self Publishing: Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri karya Miftachul Huda (Samudra Biru, 2010)

Resensi ditulis oleh Siti Khulashoh

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 27 Februari 2011

Buku bergenre PANDUAN atau HOW TO ini mengajak pembaca yang memulai menulis buku untuk menerbitkannya sendiri. Bisa? Ya, tentu. Setelah menjelaskan serba-serbi self publishing, penulis meloncat bagaimana mencari jalan pemasaran. Semuanya diramu dengan bahasa yang luwes. Buku ini membuat profesi kepenulisan tiba-tiba menjadi begitu gampang.

Buku-Buku Biografi Pasca G 30 S

Resensi ditulis oleh oleh Bonnie Triyana

Dimuat TEMPO, 28 Februari 2011

Setelah kejatuhan Soeharto, paling tidak lebih dari sepuluh kesaksian dalam bentuk memoar, biografi, dan aotobiografi dari mereka yang selamat (survivor) dalam pergolakan politik 1965-1969 telah diterbitkan. Beberapa di antaranya Memoar Pulau Buru karya Hersri Setiawan, Dari Salemba ke Pulau Buru karya Kresno Saroso, Dari Gontor ke Pulau Buru karya H Achmadi Moestahal, Pergulatan Muslim Komunis karya Hasan Raid, serta Tahun yang Tak Pernah Berakhir: Esai-esai Sejarah Lisan yang disunting John Roosa, Ayu Ratih, dan Hilmar Farid. Buku-buku tersebut mengisahkan pengalaman kolektif survivor yang bertahan hidup dari genggaman zaman yang penuh teror, kesewenangan penguasa, penindasan, dan ketidakpastian hukum atas mereka yang dituduh terlibat dalam G-30-S 1965.

Dikumpulkan Muhidin M Dahlan

Kabar Resensi Pekan Ketiga Februari 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

Warta Kota

Warta Kota

Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main karya Rudi Badil dan Indro Warkop (KPG, Jakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Reza Akbar Felayati

Dimuat JAWA POS, 20 Februari 2011

Siapa tak kenal Warkop yang digawangi Dono, Indro, Kasino? Mereka adalah pelawak legendaris yang dipunyai Indonesia. Bahkan grup lawak sekelas Bajaj dan Project Pop menyebut grup Warkop sebagai terbesar sepanjang sejarah perlawakan. Bukan hanya merambah panggung dan radio, tapi juga dalam satu dekade 90-an, Warkop menguasai film komedi Indonesia. Buku ini sebagian besar berisi dokumentasi banyolan-banyolan personel Warkop sejak masih siaran di radio Prambors.


Pluralisme Menyelamatkan Agama-Agama karya Moh Shofwan (Samudra Biru, Yogyakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Haeri Fadly

Dimuat JAWA POS, 20 Februari 2011

Indonesia pada awal pembuka tahun ini dihujani oleh kekerasan agama yang memilukan. Salah satu yang tergugat adalah pemahaman kita atas agama. Buku ini menawarkan cakrawala baru dan sekaligus membongkar fosil radikalisme keagamaan yang sudah bersarang dalam benak sebagian kelompok. Sebab, radikalisme dan ekstremisme menjadi ancaman bagi masa depan peradaban Nusantara.


Untuk Indonesia Yang Kuat: 100 Langkah untuk Tidak Miskin

karya Ligwina Hananto  (Literati, 2010)

Resensi ditulis oleh Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA 20 Februari 2011

Tak ada manusia di dunia ini yang ingin hidup terjepit dalam kemiskinan. Semuanya ingin kehidupan yang mapan. Dan itu yang dicita-citakan oleh negara. Yaitu sebuah kelas masyarakat  yang kuat. Cirinya: memiliki sejarah kredit yang sehat, punya dana darurat, punya rumah sendiri, dan memiliki proteksi. Menurut penulisnya, masyarakat kelas seperti ini yang menopang kehidupan ekonomi negeri. Jika kelas menengah ini sehat, maka akan merembes ke kelas yang bawah. Benarkah? Wina membeberkannya dalam 100 langkah agar hidup tak miskin.


Notes From Qatar: Positive, Persistence and Pray

karya Muhammad Assad (Elex media Computindo, Jakarta, 2011)

Resensi ditulis oleh Utami Widowati

Dimuat KORAN TEMPO, 20 Februari 2011

Buku ini ditulis anak muda berusia 23 tahun dan lulusan University of Technology, Malaysia. Buku ini sendiri dikumpulkan dari pilihan tulisan terbaik Assad di halaman blognya. www.muhammadassad.wordpress.com sejak November 2001 dan dikunjungi 150 ribu orang tiap tahun. Dinamakan catatan dari Qatar karena ditulis ketika Assad tinggal di Qatar. Tulisannya renyah dan isinya macam-macam yang menyelimuti kehidupan Assad di negeri minyak itu.


Epistemologi Tafsir Kontemporer karya Dr Abdul Mustaqim  (LKIS, Yogyakarta, 2010)

Resensi ditulis oleh Musyafak Timur Banua

Dimuat SUARA MERDEKA, 20 Februari 2011

Di tengah ingar-bingar kekerasan atas nama agama, penting untuk melihat kembali pola penafsiran umat atas kitab sucinya. Khususnya, umat islam atas Alquran. Buku ini menganjurkan perlunya epistemologi baru yang meliputi metode dan pendekatan. Karena sungguh cilaka bila penafsiran diserahkan kepada watak primordialisme dan radikalisme. Buku ini menjawab mendesaknya tafsir Alquran yang menghidupkan Alquran untuk masa terkini. Studinya bertuuan menjalelaskan hakikat tafsir, metode, serta validitas tafsir di era kontemporer. Untuk usaha kontemporerisasi tafsir itu, penulis buku ini meramu pelbagai pemikir tafsir terkemuka, antara lain: Fazlur Rahman, Arkoun, Na’im, Hanafi, Asghar Ali, Abu Zayd, maupun Syahrur.


Menggapai Matahari karya Dermawan Wibisono (Inti Medina, 2010)

Resensi ditulis oleh oleh RR Masyitah

Dimuat KEDUALATAN RAKYAT, 20 Februari 2011

Novel ini mengisahkan perjalanan seorang anak miskin yang bertekad memperbaiki kehidupannya. Tekad ini diwujudkan  dengan belajar keras sehingga mampu menembus pendidikan yang baik hingga perguruan tinggi di sekolah terbaik negeri ini. Latar kisah ini di Banyumanik. Hanya sekian kilometer dari kota Semarang.


Putri Kandita: Kemelut Putri Prabu Siliwangi karya Aan Merdeka Permana (Edelwaiss, 2010)

Resensi ditulis oleh oleh Fadmi

Dimuat KEDUALATAN RAKYAT, 20 Februari 2011

Novel ini berlatar Kerajaan Padjajaran. Mengisahkan salah seorang putri Prabu Siliwangi yang mempersatuka Kerajaan Sunda dan Galuh. Kecantikan Putri Kandita yang memikat hati para satria di negerinya ternyata membuahkan petaka. Putri tercantik itu beserta ibunya, Nyi Sri Dewi Parangka Hayu terkena santet amat mengerikan dan menjijikkan, sehingga harus dibuang.


Message from an Unknown Chinese Mother karya Xinran Xue (Penerbit Buku Kompas, 2011)

Resensi ditulis oleh Maria Hartiningsih

Dimuat KOMPAS, 20 Februari 2011

Buku ini mempertegas posisi Xinran sebagai penulis tentang pelanggaran hak-hak asasi perempuan di China, sekaligus aktivis dan pekerja sosial melalui Yayasan Mothers’ Bridge of Love. Latar belakang sebagai wartawan membuat perspektif buku ini sangat tajam, gaya bertuturnya terukur, detailnya terinci, dilengkapi konteks politik pada setiap fakta yang diungkapkan. Karya-karya Xinran selalu menegaskan bahwa melalui kisah, tindakan manusia menjadi sejarah. Termasuk rasa bersalah akibat tindakan keji yang terus mengimpit, yang menyebabkan angka bunuh diri sangat tinggi di kalangan perempuan di China.

Hariman dan Malari karya Imran Hasibuan, Airlambang, dan Yosef Rizal (Q-Communication, 2011)

Dimuat TEMPO, Edisi 14 Februari 2011

Ada tiga nama yang selalu terkait dengan Peristiwa 15 Januari 1974 alias Malari: Soemitro, Ali Moertopo, dan Hariman Siregar. Dua nama pertama adalah jenderal yang bergesekan dan disebut-sebut berada di belakang kejadian yang mendorong pemerintah Orde Baru semakin sistematis melakukan represi. Sedangkan Hariman pemimpin mahasiswa yang melakukan demonstrasi, yang berakhir dengan kerusuhan. Banyak berharap bahwa buku ini berusaha membeberkan data-data soal gesekan Hariman dengan tentara. Tapi tidak. Malari hanya ditulis sekitar 40 halaman-mulai bab “Jalan Menuju Malari” sampai pengalaman di penjara. Sepertiga buku berisi kehidupan Hariman dari masa kecil sampai sekarang, sepertiga lagi tentang pandangan orang terhadap dirinya, dan dalam sepertiga terakhir buku dipaparkan tulisan-tulisan Hariman. Jadi, buku ini soal Hariman.

Atala, Sebuah Epos untuk Nusantara | Totto Arahato

derma buku, GELARANIBUKU, IBOEKOEREDAKSI: Buku ini masih sebuah draft novel. Dibahas pertama kali di halaman Perpustakaan Indonesia Buku (10/02/2011) sebagai bagian dari proses pengayaan dan pengujian proses kreatif. Bahkan sejak naskah masih berada dalam sapihan. Berikut ini adalah sekilas rangkuman isi (draft) novel karya Totto Arahato.

Latar Belakang

Novel ini dilatar-belakangi oleh rasa prihatin penulis atas kondisi bangsa Indonesia yang sudah 65 merdeka namun tak kunjung berdaulat secara politik, ekonomi, dan budaya.

Menimbang bahwa SDM Indonesia yang cerdas sesungguhnya melimpah dan SDA yang meruah, tentunya ada yang keliru dalam pengelolaan negara.

Dalam hal ini penulis melakukan riset. Ia merumuskan permasalahan, solusi-solusi, dan akhirnya menyusunnya dalam bentuk novel.

Sebagai ungkapan cintanya kepada Ibu Pertiwi, penulis memaksudkan novel Atala ini sebagai prototipe (baca: wacana alternatif) sebuah negara yang berdaulat secara politik, ekonomi, dan budaya. Melalui Atala penulis menawarkan solusi-solusi atas permasalahan mendasar negara ini. Atala membangun rasa optimistis dan mengajak pembaca untuk tergerak membangun negara ini.

Sinopsis

Republik Atala gonjang-ganjing. Dari pemerintahan presiden pertama hingga terakhir, ke-10, tak satu pun mampu mewujudkan nuansa kemerdekaan yang senyatanya. Sistem pemerintahan runyam; birokrasi ber-KKN ria; negara ricuh dalam konflik-konflik internal; moral bangsa amburadul; rakyat sengsara.

Puncaknya, tindakan makar dikobarkan oleh Empati, Empat Perwira Tinggi, pada 17 Agustus 2033. Meski kudeta berdarah tersebut mampu diredam, Presiden Ali Wiratama stroke; Wapres Junaedi gagal jantung. Dalam situasi kenegaraan yang karut-marut, Jagadama, komandan Paspampres, ditunjuk oleh Presiden untuk menjalankan Pemerintahan Darurat hingga pilpres berikutnya digelar.

Pasangan Jagadama–Putritama yang dijagokan oleh Partai Jaminan Rakyat (PIJAR), partai terbesar di Atala, memenangi pemilu. Namun belum genap satu hari pelantikan Presiden RA ke-11, Istana Nagara diduduki oleh Gerakan Bersih-bersih Atala (GABA), sebuah organisasi gelap binaan Empati. Istana Nagara dapat direbut kembali, para pelaku makar pun dibekuk, namun mesti dibayar dengan nyawa sang Wakil Presiden.

Energi kesedihan dan kemarahan Jagadama alihkan dalam upaya mati-matian membangun negara. Berpedoman pada program-program pilpres ia menggelar pemerintahan bersama wapres baru, Tetuka Harimurti, beserta sepuluh genius-gila alumni RSJ Merah-Putih yang duduk dalam Kabinet Perubahan. Mereka juga dibantu oleh ilmuwan Imam Adyawarman yang berotak Edison dan Laksamana Nikola Domingo yang tegas nan pedas, bersatu-padu mewujudkan negeri yang mandiri dan makmur.

Dalam kurun waktu 25 tahun Jagadama mengelola negara, bangsanya mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan menjadi bangsa yang maju, bangsa unggul yang disegani bangsa-bangsa lain.

Proses Kreatif

Penulis memilih genre epos berupa naskah politik-utopia yang termasuk gres dalam pasar novel Indonesia. Novel Atala dikemas dalam 9 bab yang berisi riwayat para tokoh dengan gaya penuturan yang kocak dan alur yang mengalir. Dengan demikian, penulis berharap Atala mempunyai pangsa pasar yang luas, enak dibaca oleh kalangan remaja maupun dewasa, jelata maupun akademisi.

Khazanah Pustaka

Dalam proses kreatifnya, penulis terinspirasi oleh buku Atlantis, The Lost Continent Finally Found karya Prof. Arysio Santos dan artikel Sejarah Majapahit dari berbagai sumber. Untuk memperkaya data, penulis memanfaatkan terutama Wikipedia (entri: Majapahit; Gajah Mada; Pemberontakan Kuti; Sistem Politik RI; dll) dan kolom Opini Tempo dan Kompas.

Daftar Isi Novel Atala

Peta Republik Atala ~ 6
Pembuka ~ 7

1. Restorasi Atala
Dengan percaya, kita bisa! ~ 8

2.Republik Atala
Bukan romantisisme, bukan utopia ~ 18

3. Sang Putri Jelita dan Pengawal Ca’em
Pengulangan, penghalusan, pembebasan ~ 32

4. Vila Hantu
Hantu superiorisme membayangi dunia ~ 48

5. 10 Asas Skeptisisme
Lumba-lumba di matamu ~ 104

6. Kebun Mawar Kekasih
Alien kiriman dari surga ~ 120

7. Bagus di bulan Agustus
Hantu homoseksual ~ 129

8. Padam
Hitam-putih-pelangi negeriku ~ 142

9. Homo orgasmos spiritualis
Fakir miskin dan anak-anak telantar dipelihara oleh Negara ~ 159

Penutup ~ 172

(Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus)

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan