-->

Arsip Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Pertama Mei 2011

KoranBerikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

Yohanes Paulus II-Gereja Berdialog

Karya Krispurwana Cahyadi, SJ

Resensi ditulis oleh Abdul Munir Mulkhan

Dimuat KOMPAS, 8 Mei 2011

Pendekatan dialog tidaklah mudah, namun menunjuk satu hal dalam kaitan dengan kehidupan gereja, yaitu sikap terbuka dan penghargaan otentik pada komunitas pemeluk agama selain Katolik. Buku ini memberikan informasi yang cukup kaya tentang dinamika pergualatan Vatikan dengan realitas keragaman agama, bahkan dengan dirinya sendiri. Sayang, banyak istilah teknis ke-Katolik-an yang asing bagi orang luar Katolik yang memerlukan penjelasan lebih konkret.

Warna-Warni Kata Hati TKI

Resensi ditulis Astri Suryandari

Dimuat KORAN TEMPO, 8 Mei 2011

Surat Berdarah untuk Presiden karya Nadia Cahyani dkk menggambarkan warna-warni kisah para tenaga kerja Indonesia di Hong Kong. Nasib mereka umumnya memang lebih baik ketimbang sesamanya yang bekerja di Arab Saudi atau negeri jiran serumpun Malaysia. Buku ini dibagi menjadi dua bagian, Hong Kong Negeri Seribu Kisah BMI (Buruh Migran Indonesia) selama di Negeri Beton dan Surat-surat untuk Presiden berisi harapan-harapan mereka terhadap pemerintah RI, terutama Presiden. Tidak hanya itu ada juga buku yang ditulis Eni Kusuma, seorang TKI alumnus Hong Kong. Eni menuliskan buku motivasi Anda Luar Biasa. Di buku ini Eni mengisahkan pengalamannya selama menjadi pembantu rumah tangga. Di tengah pekerjaannya yang menggunung, ia berusaha meluangkan waktunya untuk tekun belajar.

Menjadi Guru Untuk Muridku

Karya St. Kartono

Resensi ditulis J. Sumardianta

Dimuat JAWA POS, 8 Mei 2011

Buku ini merupakan endapan pengalaman penulis menjadi guru bersemangat magis dan heroik. Guru yang mau mengerjakan tugas melebihi batas kepatutan. Tidak sekadar prigel mengajar dan membangun relasi manusiawi dengan murid. Selain itu penulis juga mengkritik penyakit akut yang mewabah di sekolah favorit. Para guru tidak sabar menjalani proses pembelajaran. Para murid memperoleh panduan-panduan praktis belajar justru dari lembaga bimbingan belajar.

Bape20 Ketika Jemariku Menari

Karya Bambang Pamungkas

Resensi ditulis Miftakhul Fahamsyah

Dimuat JAWA POS, 8 Mei 2011

Buku ini melukiskan dengan indah cara merawat mimpi dalam balutan profesionalisme. Sikap yang selalu mengedepankan disiplin, kerja keras, dan optimisme. Dalam buku ini Bepe menuliskan kisah-kisahnya. Seperti, kejahilannya terhadap rekan-rekannya di timnas dan Persija Jakarta. Melalui kisah-kisah yang ditulis Bepe, kita bisa belajar bagaimana bangkit dari keterpurukan. Selain itu buku ini memuat pikiran dan pandangan Bepe tentang banyak hal yang di luar sepak bola. Misalnya soal bahaya narkoba.

33 Rahasia Membuka Pintu Rezeki

Karya Abu Umar Hasyim

Resensi ditulis Fauzin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 8 Mei 2011

Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi setiap saat. Apakah berkaitan dengan sandang, pangan, papan atau yang lain yang menjadi kebutuhan dasar hidup. Buku ini menjabarkan pelbagai hal yang bisa membuka pintu rezeki Allah.

Kontroversi Hakim Perempuan pada Peradilan Islam di Negara-negara Muslim

Karya Dr Hj Djazimah Muqoddas SH Mhum

Resensi di tulis Setyaone al Basuceniyi

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 8 Mei 2011

Penulis mengambil berbagai referensi dari Alquran dan berbagai ilmuan dunia, baik fuqoha, ulama, pemikir barat serta ahli hukum. Sebagai buku pegangan, buku ini dirasa cukup menjawab berbagai problem mengenai kontroversi hakim perempuan di Indonesia. Selain itu juga sangat bagus untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama bagi mereka yang masih bingung mengenai kedudukan perempuan dalam ranah politik dan hukum.

Terbanglah ke Angkasa Anakku!

Karya Darwin Saleh Zahedy

Resensi di tulis Syahruddin El-Fikri

Dimuat REPUBLIKA, 8 Mei 2011

Darwin Saleh Zahedy menulis buku ini berdasarkan pengalaman pribadinya. Buku ini menarik dan layak dimiliki setiap orang tua yang menginginkan putra-putrinya cepat menangkap pelajaran dan mudah memahami sesuatu. Selain itu banyak mengemukakan topik-topik terkini dalam dunia pendidikan yang sejalan dengan pendidikan agama, selain itu buku ini juga menguraikan perjalanan pola anak yang mempertahankan keseimbangan  antara ranah logika, estetika, dan etika.

How to Become A Magnet Money

Karya Marie-Claire Carlyle; diterjemahkan Dwi Karyani

Resensi ditulis Noval Maliki

Dimuat SEPUTAR INDONESIA, 8 Mei 2011

Secara sederhana dapat dikatakan menjadi magnet uang berarti mencari kekayaan dalam diri guna menarik kekayaan dari luar. Prinsipnya kita adalah magnet, menarik apa pun yang kita pikirkan ke dalam hidup kita. Hal ini bukan omong kosong belaka, sains telah membuktikan bahwa kita adalah makhluk energik dan kita mampu menarik apa yang kita pikirkan. Buku ini memaparkan keajaiban diri itu dalam urutan yang teratur. Bagian pertama membahas tentang teori bagaimana menjadi magnet uang dan melihat kondisi keuangan pembaca saat ini. Bagian kedua akan melihat bagaimana pembaca dapat mulai menarik uang lebih banyak begitu mengikuti beberapa tahap dasar. Bagian ketiga meletakkan dasar menjadi magnet uang seumur hidup. Cara terbaik untuk membaca buku ini sesuai urutan buku ini ditulis.

Meluruskan Radikalisme Islam

Karya Dr Ali Syu’aibi, Glis Kibil

Resensi ditulis Budi Prasetyo

Dimuat SUARA MERDEKA, 8 Mei 2011

Kelompok Islam fundamentalis yang dituduh sebagai pelaku kekerasan bernuansa agama, bagai tak pernah berhenti menjalankan aksinya. Dirunut dari belakang, eksitensi gerakan fundamentalisme Islam di Indonesia telah ada semenjak lama. Fundalisme Islam di Indonesia seperti halnya di negara lain dipengaruhi oleh pemikiran yang lahir dan berkembang di Timur Tengah. Dua gerakan Islam transional lain yang disebut Kibil dan Syuaibi adalah Hizbut Tahir dan Wahabiyah. Hizbut Tahir adalah gerakan penegakkan syari’ah Islamiyah yang didirikan ulama asal palestina Taqqiyudin An-Nabhani al-Palistini. Sementara Wahabiyah yang didirikan Muhammad bin Abdul Wahab an-Najdi, berikhtiar memurnikan Islam. Paham Wahabi merupakan paham yang mengharamkan tawashul dan istighatsah. Pemikiran-pemikiran itulah yang diadopsi kelompok fundamentalis Islam di Indonesia untuk melegitimasi tindak kekerasan yang mereka lakukan. (Aya/IBOEKOE)

Mencambuk Batu, Sebuah Novel Mitologi.

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOE1Obrolan Senja Angkringan Buku membedah draft novel ini.

Sabtu, 7 Mei 2011
Pukul 16.00 – 18.00 wib
Angkringan Buku IBOEKOE, Jl Patehan Wetan 3, Alun2 Kidul Keraton, Yogya

* * *

Draft Novel Mencambuk Batu Karya Dahlia Rasyad

Oleh: Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus

Saya menduga bahwa nasib Sauya akan sama dengan umak dan mbok-mboknya. Nasib buruk menimpa mereka karena mengagung-agung lelaki, suami mereka. Lelaki, bagi mereka adalah kebahagiaan dunia dan jalan menuju surga. Namun, yang mereka terima justru neraka dunia. Meski mulanya mereka tetap kukuh dengan pandangan tersebut, akhirnya mereka roboh juga.

Nun, istri yang ditinggalkan Sobari, menjadi kepala keluarga setelah meninggalnya sang suami dan menghidupi keempat anaknya. Ia menjadi perempuan yang kasar dan sering megutuk anak-anaknya, terutama Sauya dan Mayasa, dua anak terakhirnya. Ia kerap dipukuli oleh suaminya dan tak pernah diberi nafkah lahir. Anak-anak mereka mengutuk ubaknya, tapi Nun tetap menganggapnya suami mengatar ke pintu surga.

Misna, anak pertama Nun, dicerai suaminya karena tak bisa memberikan keturunan. Sang laki menuduh Misna sebagai perempuan mandul. Lalu dicerai. Dan sang laki lari dengan perempuan lain dari desa seberang. Masih bernasib paling naas. Selama sepuluh tahun lebih bersama Benu dan menghasilkan dua orang anak, ia kerap kali dipukuli sampai berdarah, sampai kurus kerontang. Toh akhirnya ia masih menganggap Benu sebagai pintu menuju surga. Ia pernah diselamatkan oleh Sauya dari amukan lakinya, tapi ia kembali lagi lakinya. Hingga yang terakhir, Sauya hampir membunuh Benu dengan parang kalau saja tak dilerai oleh kyai, Kriya, dan orang-orang kampung.

Tak sampai di sini saja, Masinah akhirnya mati dibunuh oleh Benu di Tanjungan. Semula orang-orang kampung mengira Masinah mati karena dibunuh Hantu Banyu. Tapi Sauya tak puas. Ia berkeyakinan pasti ada hal logis yang dapat menjelaskannya. Ia pun ke kota mengundang seorang dokter. Dan benarlah, akhirnya terbukti. Masinah mati dibunuh orang, suaminya sendiri.

Sauya sendiri mengalami nasib serupa tapi tak seperti mereka bertiga. Ia memiliki pemikiran yang kuat dan logis. Ia menjadi pemikir modern tanpa tersentuh hal-hal modern. Ia dijodohkan. Mulanya ia tak mau karena ia punya cinta dengan lelaki lain yang lebih sholeh. Tapi ditentang oleh Nun karena lelaki yang dicintai Sauya dianggap tak mampu memberikan penghidupan duniawi. Nun akhirnya punya alasan paling kuat, dan Sauya menerima pinangan lelaki kaya. Sauya menikah dan tak mau diboyong oleh suaminya ke London. Ia lebih suka tinggal di Desa Beti karena alasan romantisme.

Anak yang terakhir bernama Mayasa. Ia belum merasakan penderitaan sebagaimana perempuan lain di dalam rumahnya. Meski masih berusia lima belas tahun, ia memiliki keinginan kuat untuk sekolah setinggi-tingginya. Namun harapan itu pupus dengan datangnya pasukan Nippon ke daerah mereka.

Keluarga ini turun dari Gede (nenek) Masiah. Gede Masiahlah yang banyak memberikan petuah dan cerita klasik kepada Sauya meski Sauya tak pernah percaya pada cerita-cerita mistik itu.

Pada bab pertama novel ini, ditampilkan pertentangan antara Sauya dengan umaknya, Nun. Sauya menetang perjodohannya. Konflik tak selesai pada bab ini. Masuk pada kedua, merupakan cerita antara gede Masiah dengan cucunya, Sauya. Bab ini seakan terpotong dengan bab lain. Nyaris tak memiliki hubungan peristiwa. Tak diceritakan apakah kebersamaan Sauya dengan Gedenya membuatnya menjadi gadis yang kuat. Sauya sempat melarikan diri ke hutan dan mencari mawar hitam ketika terjadi pertengakaran antara dirinya dengan Gedenya. Ketika ia pulang ke rumah Gedenya, Masih telah meninggal dunia. Innalillah Wa Inna Ilairojiun.

Bab ketiga merupakan bab paling pokok dalam novel ini. Di sini diungkap segala konflik yang menyeluruh. Masing-masing tokoh akhirnya mendapat bagian penceritaan. Namun yang membuat saya cukup bingung adalah tak ada batasan yang jelas dalam pergerakan peristiwa dan penceritaan tokoh. Tiba-tiba cerita beralih pada tokoh ini, tiba-tiba berganti cerita pada tokoh lain. Saya menduga bahwa draft yang sampai pada saya, hanya sebagian.

Pada daftar isi ada tujuh bab yang harus dirampungkan pembaca, tetapi draft yang saya baca hanya bercerita sampai bab ketiga. Bab ketiga (atau mungkin akhir dari novel ini) diakhiri dengan datangnya Nippon ke daerah tersebut dan mampu diusir oleh Gede Olek, sang punggawa desa. Nippon datang untuk mencari gadis-gadis ayu dari desa Beti dan berhasil diusir dengan Ilmu Gaib.

* * *

Sebagian orang ketika membaca novel ini barangkali akan mengatakan ini novel etnografi. Novel ini sarat dengan lokalitas, dengan rinci menceritakan lokasi, bahasa, kesukuan, dan lain sebagainya. Namun saya lebih nyaman menyebutnya sebagai novel mitologi. Dari awal hingga akhir yang dibicarakan hanya mitos. Entah mitos tradisional ala Levis-Strauss, maupun yang modern ala Barthes.

Mitos dalam karya sastra memiliki dua fungsi. Mengukuhkan dan melemahkan. Novel besutan perempuan cantik Dahlia Rasyad ini hadir untuk melemahkan mitos. Tak hanya mitos-mitos tradisional yang ia lemahkan, seperti mitos Mawar Hitam, laki-laki dan perempuan, anak dan orangtua, kupu-kupu jelmaan peri cantik, Kuuq, Hantu Banyu dan Usang Rimau. Dan mitos modern misalnya kecantikan perempuan, humberger, dan male gaze. Mula-mula, mitos-mitos itu ditampilkan secara keseluruhan, lalu dihajar habis oleh si tokoh utama, Sauya. Meski ia banyak mendapat tentangan dari penduduk desa dan dianggap “budak laknat”, akhirnya ia menang dengan pembuktian rasional. Pelemahan mitos-mitos tersebut disajikan dengan begitu natural melalui sikap keras kepala si tokoh utamanya. Hal ini membuat pembaca tak akan merasa digurui meski apa yang dimunculkan pernah kita lihat atau alami dalam kehidupan sehari-hari kita.

Pelemahan mitos yang paling tampak adalah pada mitos laki-perampuan. Ia dilemahkan dalam persidangan Sauya oleh hukum adat karena nyaris membunuh kakak iparnya. Sauya mempertanyakan hukum adat yang cenderung membela laki-laki dalam hubungan rumah tangga. Seperti lelaki boleh memukul istrinya. Pelemahan mitos ini tak hanya dilihat dari sisi rasional semata, melainkan juga agama. Sauya mengatakan bahwa dalam Alqur’an, lelaki hanya boleh menepuk istrinya, bukan memukul, itupun jika si istri tak mau diajak sholat. Bagian ini diceritakan cukup panjang, dan pada bagian ini pulalah, cerita mulai menarik, hingga akhir novel.

Tokoh utama, Sauya, digambarkan sebagai perempuan yang memiliki pemikiran modern, rasional, dan esensialis tanpa tersentuh dunia modern. Ia gadis yang melawan tradisi, menjunjung logika. Ia seolah-olah melampaui zamannya. Bagaimana tidak, novel ini berkisah pada masa sebelum kedatangan Jepang hingga Jepang datang, yang berarti kira-kira tahun 1940 dan penjajahan Jepang kira-kira tahun 1942-1945. Dan pemikiran yang menentang budaya feodal pada masa itu bagaikan mencari jarum di lautan. Apalagi oleh perempuan desa dan tak tersentuh budaya modern secara lahir dan bathin.

Sayangnya, penulis tak mempertegas dari mana Sauya mendapatkan pemikiran demikian. Dari awal Sauya hanya digambarkan sebagai gadis pembangkang, begitu pula dengan Mayasa, adiknya. Namun Sauya menjadi solusi dalam setiap perkara dan musibah yang menimpa keluarganya.

Mayasa sempat membuat saya kaget tak kepayang, dengan kemunculan humberger. Mayasa meminta umaknya untuk membantunya membuat humberger. Tapi umaknya menolak karena tak tahu apa itu humberger. Dari mana pengetahuan Mayasa mengenai humberger? Koran tak masuk desa itu, radio dan televisi apalagi? Listrik saja belum masuk.

Sebagai novel yang bercerita tentang lokalitas, bahasa lokal cukup dominan dalam setiap dialog antartokoh. Ini sempat membuat saya kelimpungan. Saya harus ditemani sebuah kamus besar dalam menyelesaikan pembacaan. Sebagaimana yang saya alami ini, pemakaian bahasa lokal yang terlalu dominan bisa menjadi kelemahan dalam sebuah novel. Pembaca akan mengalami kesulitan dalam upaya memahami setiap konflik yang muncul. Namun di sisi lain bisa menjadi peluang yang bagus karena menjaga orisinalitas.

Sepanjang pembacaan saya, pemakaian bahasa lokal ini akan cenderung mempersulit pembaca. Pasalnya, kata penyair kondang Mutia Sukma, bahasa lokal yang digunakan adalah bahasa yang berlaku di desa penulisnya saja, bukan bahasa lokal Palembang yang bisa dipahami oleh masyarakat Palembang pada umumnya. Pernahkah penulis novel ini membaca sebuah novel yang dominan bahasa lokal yang tak ia pahami? Hal ini masih perlu dipertimbangkan lagi.

Hal terakhir yang cukup mengusik saya adalah kalimat pengantar utama—harusnya ia menjadi pengusik pertama—tapi ini terjadi setelah saya selesai membaca keseluruhan naskah.

Bunyinya begini, “Baginya yang seorang modernis, esensialisme terasa seperti kotak kecil hitam tanpa pintu-jendela yang memungkinkan seseorang bergerak lebih leluasa dan bernafas lebih lega. Dan pada akhirnya, baginya yang seorang esensialis, pukau modernitas sebagai suatu mesin penghancur hati nurani. Terasa mengerikan, seperti sebuah dinding hitam yang perlahan bergerak menghimpit diri sendiri.”

Kalimat ini terasa lumayan susah dipahami dalam upaya mengetahui kemauan pertama penulis. Seolah mengisyaratkan bahwa novel ini adalah novel yang sangat berat dan penuh pemikiran-pemikiran filsafat barat. Jika pembaca mula-mula memberikan pengartian yang mendalam pada kalimat tersebut, saya khawatir ia akan terpeleset dan kecewa.

* Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus, Koordinator Obrolan Senja

Kabar Resensi Pekan Keempat April 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media massa di Indonesia.

IMG_7687Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa

Karya Ong Hok Ham

Resensi ditulis David Tobing

Dimuat MEDIA INDONESIA, 30 April 2011

Buku ini menyediakan suatu tesis yang mendasar, yakni jurang identitas antara Tionghoa dan pribumi disebabkan oleh politik kolonial Belanda. Tesis tersebut didukung oleh analisis sejarah yang menyingkap fakta relasi harmonis antara Tionghoa dan Pribumi sebelum kedatangan Belanda. Keeratan dan keharmonisan antara Tionghoa dan Pribumi menjadi hilang karena adanya kebijakan politik Belanda yang memisahkan Tionghoa dan Pribumi.

1 Perempuan 14 Laki-Laki

Karya Djenar Maesa Ayu dan kawan-kawan

Resensi ditulis Ibnu Rizal

Dimuat KOMPAS, 1 Mei 2011

Antalogi ini di tulis Djenar bersama empat belas penulis lain, yang seluruhnya adalah laki-laki. Mereka datang dari berbagai profesi dan lintas generasi, empat belas penulis dengan empat belas kepala yang memiliki gagasan yang berbeda. Antalogi ini tetap memperlihatkan beberapa karakteristik yang sangat khas dalam cerpen-cerpen Djenar. Beberapa cerpen dalam antalogi ini mencerminkan latar belakang profesi yang dimiliki oleh rekan penulis Djenar. Meskipun masing-masing cerpen berdiri sendiri-sendiri, di dalamnya tersimpan gagasan besar yang senada.

Pelangi Melbourne: Dua Dunia Satu Cinta

Karya Zuhairi Misrawi

Resensi ditulis Efin Fintiana

Dimuat KORAN TEMPO, 1 Mei 2011

Novel ini membahas kisah cinta lintas bangsa dan agama. Yang mengisahkan seorang seorang pemuda lulusan IAIN yang sedang menjalani kursus bahasa Inggris di Hawthorn English Language Centre, Melbourne. Namanya Zaki Mubarok. Hari pertama menginjakkan kaki di Negeri Kanguru, ia berkenalan dengan Diana Lee, beragama Katolik asal Korea Selatan.  Zaki digambarkan sebagai laki-laki yang alim, banyak mengutip ayat-ayat Al-Quran, rajin dan tekun belajar. Tapi juga tukang merayu. Selain membahas cinta lintas agama dan lintas bangsa, Zuhairi juga membahas kekaguman yang luar biasa kepada Australia.

Ummi Inside

Karya Misbahul Huda

Resensi ditulis Mursyid Burhanuddin

Dimuat JAWA POS, 1 Mei 2011

Buku ini tampil lebih soft atau lebih tepatnya bernuansa for her. Hebatnya, buku ini menggunakan penghampiran eklektik in corporate. Yakni, memadukan tiga gaya selingkung dalam sebuah buku. Tiga bab awal sarat dengan konsepsi normatif, dua bab berikutnya berupa “kolom empiris” nan cair, dinamis, dan seringkali mengejutkan. Lalu ditutup dengan testimoni orang-orang tedekat. Bukan itu saja. Buku ini punya positioning yang bagus. Lantaran sampai kini tak ada lembaga formal yang khusus mencetak menjadi orang tua yang baik dan efektif.

Chiefdom Madinah:  Salah Paham Negara Islam

Karya Dr. Abdul Aziz, MA

Resensi ditulis Ali Rif’an

Dimuat JAWA POS, 1 Mei 2011

Buku ini diracik dengan menggunakan pendekatan dengan metode interprestasi historis-sosiologis. Ada tiga pandangan yang menjadi titik kisar dalam kajian buku ini. Pertama, pandangan yang mewajibkan pendirian negara Islam yang tunduk pada syariat Islam. Kedua, pandangan sekuler dengan memisahkan negara dan agama. Ketiga, pandangan akan internalisasi nilai-nilai Islam dalam praktik bernegara tanpa menyematkan negara Islam atau negara sekuler.

Sihir Betis Ken Dedes

Karya Hoyyima Khoiri

Resensi ditulis Rohman Abdullah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Mei 2011

Buku ini mendedah tuntas perjalanan kisah asmara Ken Arok dan Ken Dedes yang acap kali menimbulkan korban nyawa, tetesan darah dan air mata.

Panduan Pelajar Muslim untuk Meraih Prestasi

Karya Kristya Mintarja M Ed

Resensi ditulis Sabto Triyanto SSi

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 1 Mei 2011

Buku ini berisi renungan yang bisa membukakan hati kita yang selalu tertutup pada masalah-masalah kehidupan khususnya di kalangan pelajar. Renungan tersebut dapat dijumpai di setiap halaman buku ini, gaya bahasa yang dipakai juga mudah dicerna dan menarik untuk dibaca.

Menjadi Dokter Pribadi di Rumah Sendiri

Karya dr Yusuf Alam Romadhon

Resensi ditulis Susie Evidia Y

Dimuat  REPUBLIKA, 1 Mei 2011

Walaupun penulis seorang dokter, tidak selalu menganjurkan sakit harus pergi ke dokter. Namun bisa juga melakukan pengobatan sendiri di rumah. Tentunya dengan pengetahuan dasar untuk melakukan pertolongan atau penanganan suatu penyakit. Pengetahuan itu kita bisa dapatkan dalam buku ini. Bab tiga dalam buku ini berisi tips dan menangani penyakit-penyakit yang biasa muncul dirumah. Mulai dari demam, vertigo, masuk angin, sembelit, pingsan hingga stroke diuraikan dengan rinci serta pertolongan pertamanya. Penulis juga tidak selalu menawarkan bahan-bahan kimia. Dia malah memperkenalkan toga, yaitu tanaman obat keluarga.

Presiden Prawiranegara

Karya Akmal Masery Basral

Resensi ditulis Wisnu Prastya Utomo

Dimuat SUARA MERDEKA, 1 Mei 2011

Novel karya Akmal Masery Basral ini setidaknya memberikan literatur yang memberikan tempat layak bagi Pak Syafrudin dalam sejarah bangsa ini. Novel setebal 370 halaman ini menigisahkan perjuangan Pak Syaf dalam mendirikan PDRI dan melanjutkan eksistensi republik. Perjuangan yang sungguh berat karena dihadapkan pada ancaman kolonialisme yang ingin menancapkan kembali kekuasaan di bumi pertiwi. Penulis menggunakan Kamil Koto untuk menceritakan sosok Pak Syaf. Kamil adalah seorang preman pasar yang insyaf dan kemudian ikut bergerilya bersama PDRI. Novel ini tidak berpretensi menjadi sebuah novel sejarah. Meskipun demikian, novel ini setidaknya menjadi upaya untuk dekonstruksi kemapanan konsep histografi ala penguasa yang ingin menunggalkan tafsir sejarah. (Aya/IBOEKOE)

Kabar Resensi Pekan Ketiga April 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

++++++

PolitikharapanPolitik Harapan: Perjalanan Politik Perempuan Indonesia Pasca Reformasi

Karya Ani Soetjipto

Resensi ditulis David Tobing

Dimuat MEDIA INDONESIA, 23 April 2011

Penulis berbicara tentang perlunya keterwakilan dan keterlibatan perempuan di arena politik. Ani Soetjipto melihat perempuan belum mampu berkonsentrasi di pentas politik Indonesia dan hal itu semakin diperparah dengan terjadinya pembajakan, manipulasi gagasan peran perempuan dalam politik serta ruang politik deliberatif yang semakin menyempit. Refleksi politis yang melahirkan keyakinan Ani Soetjipto untuk segera mengubah strategi perjuangan pergerakan perempuan dari yang berorientasi pada intervensi struktural via negara menjadi penguatan basis. Di sini penulis secara diam-diam menyampaikan bahwa kehidupan-bersama pada dasarnya berbicara tentang harapan, sebuah nyala diujung lorong panjang yang gulita.*

The Why of Work

Karya Dave Ulrich & Wendy Ulrich

Resensi ditulis Suwardi Luis

Dimuat KOMPAS, 24 April 2011

Penulis bermaksud untuk  meyakinkan pembaca bahwa peningkatan kepuasan karyawan melalui penciptaan makna memiliki nilai srategis dalam mendorong kepuasan pelanggan dan tumbuhan finansial perusahaan. Buku ini juga memaparkan bahwa pemberian makna dalam bekerja akan menciptakan dua manfaat. Pencarian makna hidup merupakan bagian dari setiap manusia. Karyawan yang mengerti ‘mengapa’ mengenai target yang harus dicapai, akan bertahan meski ‘bagaimana’ sulitnya pencapaian target tersebut. Kedua, penemuan makna memiliki manfaat riil bagi perusahaan. Karyawan  yang memiliki makna dalam pekerjaannya akan merasa lebih puas, loyal, dan berusaha lebih giat untuk meningkatkan kinerja perusahaan. Buku ini juga layak dibaca bagi pemimpin organisasi pemerintahan baik di pusat maupun daerah.*

Ibnu Khaldun Mukaddimah: Sebuah Karya Mega-Fenomenal dari Cendekiawan Muslim

Karya Ibnu Khaldun

Resensi ditulis Andree Priyantox

Dimuat KORAN TEMPO, 24 April 2011

Dalam buku ini penulis merajut pikiran-pikiran kritis tentang hal-hal yang berkaitan sistem kemasyrakatan dan kenegaraan. Penulis mengaitkan tentang fakta-fakta dan gejala-gejala psikologis, sosial, ekonomi, dan lingkungan terhadap arus sejarah dan kemajuan peradaban manusia, lalu mempelajarinya dengan metode-metode yang masuk akal. Itu sebabnya pada Mukaddimah, Ibnu Khaldun membahas beragam topik, dari gejala sosial, sejarah, filsafat, geografis, lingkungan, sistem pemerintahan, ekonomi, pendidikan sampai ilmu pengetahuan.*

Orang Miskin Boleh Sehat: Potret Layanan Kesehatan

Karya dr Djoko Santoso, Sp.PD.K-GH, PhD

Resensi ditulis Djoko Pitono

Dimuat  JAWA POS, 24 April 2011

Dalam buku ini penulis melengkapi berbagai argumentasinya dengan beragam data terkait dengan layanan kesehatan, baik dalam lingkup nasional maupun lingkup internasional. Buku ini terdiri dari empat bab. Penulis menyoroti kemiskinan dan buruknya kesehatan masyarakat, kesehatan dan kesakitan, pendanaan kesehatan, dan potret (buruknya) layanan kesehatan di negeri ini. Kritik-kritik penulis buku ini memang sangat menyengat, apa lagi sering diberi ilustrasi berbagai insiden memilukan seperti ditolaknya orang-orang miskin berobat di rumah sakit hingga meninggal karena tidak tertolong.*

Rambu-Rambu Jurnalistik, dari Undang-Undang hingga Hati Nurani

Karya Sirikit Syah

Resensi ditulis  Rohman Budijanto

Dimuat  JAWA POS, 24 April 2011

Buku ini berusaha menegakkan kebebasan pers dari sudut kepentingan masyarakat. Mereka potensial menjadi korban, apabila media cetak dan elektronik abai terhadap rambu-rambu, baik nurani maupun aturan. Kebebasan pers tentu bukan bebas untuk menjiplak. Ditunjukan juga media tidak selalu menang (tak selalu benar). Media penyiaran juga tak luput dari ulasan penulis. Yang dicatat pada buku ini, antara lain, betapa kerasnya penolakan atas RUU penyiaran yang memberikan tempat kepada hidupnya televisi lokal. RUU itu dijuluki monster, musuh rakyat, musuh pers.*

Simsalabim! Daun pun jadi Uang: Membuat Energi Alternatif dari Sampah Daun

Karya Muhamad Syariful Banun Gunawan

Resensi ditulis Moh Khalilullah A Razaq

Dimuat  KEDAULATAN RAKYAT, 24 April 2011

Sampah daun tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Buku yang di tulis Muhamad Syariful Banun Gunawan ini akan menjadi solusi terbaik untuk mengubah pola pikir tentang sampah daun. Bahkan kita dapat menemukan gagasan jalan tengah untuk penanganan sampah daun. Dalam buku ini juga dijelaskan bagaimana cara pengolahan sampah daun menjadi energi laternatif masa depan.*

Ranah 3 Warna

Karya A. Fuadi

Resensi ditulis Sudaryanto SPd

Dimuat  KEDAULATAN RAKYAT, 24 April 2011

Membaca Ranah 3 Warna kita seperti terbawa ke alam petualangan Alif Fikri, sang tokoh utama. Yang mempunyai tekad sekeras baja. Ia ingin menjadi seperti Dr Habibie, ahli pesawat  terbang. Ia bersikeras masuk ITB. Namun nasib melemparkannnya ke Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Padjajaran, Bandung. Di Bandung ia bertemu dengan Randai sahabatnya yang kuliah di ITB. Saat itu pun ia bertemu Raisah. Di sela kegiatannya Alif merajut persahabatan, termaksud perasaan cintanya kepada Raisah. Penulis mengisahkan bagaimana Alif berjuang tetap kuliah di Bandung sepeninggal ayahnya, melalui aktivitas menulis di koran-koran. Di akhir kisah Alif berhasil menyelesaikan kuliahnya lulus sebagai sarjana dan pergi ke luar negeri.*

Nama dan Kata Dalam Qur’an, Pembahasan dan Perbandingan

Karya Ali Audah

Resensi ditulis Syahruddin el-fikri

Dimuat  REPUBLIKA, 24 April 2011

Sudah lebih dari 1400 tahun Alquran diturunkan, ratusan pula cabang ilmu yang dihasilkan. Bahkan, jutaan buku telah diterbitkan dan jutaan pula penulis buku tersebut dari berbagai sisi.  Dalam buku ini Ali Audah mengulas sejumlah nama dan kata dalam Alquran. Mulai dari A-Z, dari Adam hingga Zulkarnain. Dari Ababil hingga Zulaikha. Selain itu penulis juga menjelaskan berbagai kisah singkat Nabi dan Rasul berdasarkan keterangan Alquran, hadis, dan periwayatan sahabat. Banyak hal yang bisa ditemukan pembaca dalam buku ini, seperti kisah fir’aun, Haman, Thalut, Jalut, Uzair, Qarun, Luqman, Harun dan Marut, Ya’juj dan Ma’juj, serta sosok yang disebut-sebut sebagai Nabi khidir AS. (Aya/IBOEKOE)

Hidup Itu Indah | Aji Prasetyo | 2010

Oleh: F.X. “Koskow” Widyatmoko

Cendana Art Media | 215 hlm, | 14 x 20 cm

kaver buku hidup itu iOpini, kerap juga disebut pendapat, merupakan suatu cara bicara suatu pihak ke pihak lain (khalayak). Opini publik pun bisa dibangun lewat opini personal yang artinya publik menilai opini personal tersebut mewakili kepentingan/persoalan bersama. Dari sudut pandang ini “yang publik” dibicarakan lewat “yang personal”.

Dengan demikian kedudukan subyek dalam opini menjadi penting untuk diperhatikan karena ia menyangkut(kan) kepentingan bersama (kepublikan). Dalam konteks komunikasi publik, hadirnya opini juga mencirikan seberapa jauh kehidupan demokrasi di suatu tempat (negara) diberlangsungkan.

Lewat opini, rakyat bisa mengetahui tentang warga negara yang lain. Pemerintah bisa tahu pendapat-pendapat rakyat. Rakyat pun bisa tahu bagaimana penyelenggaraan suatu pemerintahan dijalankan, dan tentu saja mengetahu bagaimana sikap birokrat lewat pendapat-pendapatnya di media (massa).

Pun demikian, media massa pun punya ruang beropini seperti tajuk rencana, kartun editorial. Artinya, pendapat redaksi merupakan opini pers tiap-tiap surat kabar.

Jika direntang hingga penerbitan buku, hadirnya suatu buku pun mewakili pandangan penerbit dan penulis bersangkutan (beserta semua testimoni dalam buku tersebut).

Namun, yang perlu juga dijadikan perhatian yaitu bagaimana sebuah buku memunculkan opini/pendapat pembaca. Artinya, opini yang diterbitkan pun memunculkan opini-opini pembacaan. Opini personal pada akhirnya menjadi opini publik yang mana status kebenarannya dalam posisi “tawar-menawar” (saya mau menyebut dialog opini). Jadi, jauh lebih penting merawat dialog dibanding mencari kebenaran final sebuah opini atau menyalahkan mutlak opini tersebut. Lewat dialog opini tersebut keberadaan subyek penulis dan pembaca saling diberi tempat.

Opini Sebagai Komunikasi Wacana

Komunikasi (sebagai) wacana menandaskan hadirnya faktor-faktor di luar kebahasaan. Faktor-faktor tersebut bisa muncul karena kepentingan hingga sentimen. Opini sebagai wacana mesti dilihat dari berbagai faktor seperti framing (pembingkaian), priming (kapan dihadirkan, di mana, lewat media apa), strategi signing (pemilihan tanda untuk pembentukan makna), hingga pemilihan fakta (apa saja yang dipilih dan apa saja yang ditak dihadirkan).

Dalam proses tersebut opini juga terkait faktor-faktor seperti innoncently (kesalahan, kekurangmampuan), internality (kepentingan dari dalam), dan eksternality (kepentingan dari luar). Opini dalam media, dalam pandangan kontruksi sosial, merupakan suatu strategi bagaimana realitas dibaca dan dihadirkan. Opini media merupakan suatu kontruksi atas realitas yang membangun realitas media itu sendiri.

Semula, buku Hidup Itu Indah dapat didudukkan sebagai opini personal dalam artian diciptakan oleh seseorang (Aji Prasetyo). Manakala ia diterbitkan, dan beberapa pihak yang bersepakat dengan opini pencipta, berkemungkinan mengantar opini personal tadi menjadi opini bersama (opini publik).

Hanya saja, tidak semua pihak sepakat dengan realitas opini dalam buku tersebut, dan beberapa pihak tidak serta merta setuju dengan cara beropini, atau cara berwacana dalam buku Hidup Itu Indah.

Saya termasuk yang senang dengan hadirnya buku ini, namun juga berusaha menawar kebenaran-kebenaran yang hadir dalam isi buku tersebut mengingat dalam ruang demokrasi jauh lebih penting merawat dialog dibanding memutuskan setuju atau tidak setuju. Kadang, opini kerap menggoda hanya karena pandangan-pandangan oposisi biner, dualisme, hitam-putih.

Barangkali ini bisa menjelaskan bahwa buku Hidup Itu Indah dalam beberapa bagian merupakan praktek stereotipe yang justeru dikehendaki pembaca yang malah menjelaskan dirinya pembaca yang fanatis. Dan, jangan-jangan, teks-teks yang demikian yang menjadi landasan opini personal (si pencipta) yang dijadikan opini bersama (publik).

Konon, saat ini, pandangan stereotipe ataupun pandangan dualisme/biner kian dihindari, bahwa ada “yang lain”, yang “belum tentu”, yang “tidak selalu”, yang statusnya berada di antara hitam dan putih, berada di antara stereotipe dan menilak untuk di-steretipe-kan/diabsolutkan.

Penutup

Buku Hidup Itu Indah sangat layak diapresiasi karena keberaniannya dalam membongkar fanatisme. Buku ini, dalam pandangan saya, mesti dibaca dengan melupakan cara membaca yang fanatis. Buku ini mesti dibaca dalam status kebenaran yang dialogis.Opini-opini dalam buku ini mesti ditempatkan dalam ruang yang bukan esensialis.

Singkatnya, alih-alih menamai buku ini sebagai komik opini, atau kartun opini, kita boleh menamai buku ini dalam suatu kerja pembacaan yaitu mempertimbangkan (ke)publik(an).

Maka dari itu, kita bisa menakar kebergunaan opini-opini dalam buku ini secara luas dalam hal memandangnya sebagai sebuah teks sosial.

* F.X. “Koskow” Widyatmoko, staf pengajar di Jurusan Diskomvis, ISI, Yogyakarta


hidup itu i _ 2

hidup itu i _ 1

Keterangan: Beberapa halaman isi buku “Hidup Itu Indah”. Isi buku ini mesti dibaca dengan sikap terbuka dalam artian kebenaran-kebenaran teks tersebut bukan untuk kebutuhan melegitimasikan sesuatu namun dalam usaha menuju situasi hidup yang indah. Jika teks buku ini digunakan untuk melegitimasikan kepentingan kita maka pembaca mudah terjebak ke dalam kelompok fanatis (pembaca fanatis) yang justeru fanatis(me) inilah yang mesti dikritik, termasuk oleh sang penulis buku tersebut.

Kabar Resensi Pekan Kedua April 2011

86Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

+ + + + + + + + +


Keliling Indonesia: Dari Era Bung Karno sampai SBY

Karya Gerson Poyk

Resensi ditulis Siska Nurifah

Dimuat MEDIA INDONESIA, April 2011

Sebualan sekali, Media Indonesia menyelenggarakan Obrolan Pembaca Media Indonesia (OPMI). OPMI kali ini membahas buku Gerson Poyk, seorang jurnalis petualang kawakan. Pengalamannya melanglang buana di berbagai pelosok Indonesia sejak 1963 mampu membuahkan laporan penjelajahan negara yang penuh makna. Buku ini juga mengulas kondisi buruk beberapa tempat wisata dan tempat-tempat lainnya di Indonesia, yang ternyata masih sama saja hingga sekarang. Selain itu juga tergambarkan kondisi sosial, budaya, cara hidup masyarakat Indonesia terutama di era Bung Karno.*

Sains Leonardo

Karya Frijof Capra

Resensi ditulis oleh Dian Basuki

Dimuat KORAN TEMPO, 17 April 2011

Buku ini tak hanya memperlihatkan kehebatan Leonardo da Vinci, tapi juga kepiawaian penulisnya dalam mengungkapkan sosok sang tokoh dalam sebuah potret yang koheren. Leonardo dikenal lebih dikenal sebagai pelukis. Namun lelaki ini punya sisi lain yang jarang ditulis. Ia banyak meninggalkan buku-buku catatan tebal dan penuh deskripsi terperinci tentang eksperimen-eksperimennya, gambar-gambar cemerlang, dan analisis mendalam tentang temuannya. Hanya ada sedikit buku tentang sains Leonardo. Sejak entri-entri awal ketika ia memulai penyelidikan ilmiahnya hingga hari-hari terakhirnya ia mengisi buku-buku catatannya dengan deklarasi tentang nilai pentingnya pengamatan metodis dan eksperimentasi. Ia tak pernah lelah dalam menekankan pentingnya sperienza, pengalaman langsung dengan gejala alam. Capra bermaksud menunjukan bahwa dengan bangkitnya pemikiran sistemik dan penekanannya pada jaringan kompleksitas, dan pola-pola organisasi, kita dapat lebih mengapresiasi kekuatan sains Leonardo dan relevansinya dengan dunia modern kita.*

86

Karya Okky Madasari

Resensi ditulis oleh Zulham Mubarak

Dimuat  JAWA POS, 17 April 2011

Novel berjudul 86 ini mengisahkan seorang gadis polos yang bernama  Arimbi yang berprofesi sebagai juru ketik di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Latar belakang ekonomi yang kian membawa gadis ini terjebak dalam korupsi, kolusi, hingga peredaran narkotika. Dalam novel ini juga ditampilkan eskalasi konflik batin Arimbi setelah tertangkap tangan oleh KPK karena terlibat praktik suap dan harus menjalani proses persidangan. Buku ini menawarkan opini bahwa keadilan itu bisa menjadi sebuah relativitas yang akhirnya ditentukan secara subjektif oleh para aparat penegak hukum. Dalam kisah 86 ini kita juga akan dituntun mengeja kembali makna keadilan dan mengevaluasi diri berubah secara saksama.*

Pluralisme Menyelamatkan Agama-agama

Karya Moh. Shofan

Resensi ditulis oleh Tommy Setiawan

Dimuat  KEDAULATAN RAKYAT, 17 April 2011

Buku ini berusaha untuk menegakkan pluralisme di Indonesia. Menurut penulis, menegakkan pluralisme butuh pengorbanan yang sangat besar dan tidak mudah. Pluralisme tidak boleh dibiarkan begitu saja. Perbedaan harus dijadikan sebagai sarana dalam membangun kebersamaan bukan menjadikan ajang perselisihan atau permusuhan.*

Bocah Penjinak Angin

Karya William Kamkwamba dan Bryan Mealer

Resensi ditulis oleh Rosyid Nurul Hakim

Dimuat  REPUBLIKA, 17 April 2011

Buku ini bercerita perjalanan hidup seorang anak yang bernama William Kamkwamba. Ia adalah seorang remaja Malawi yang sangat takut terhadap sihir, yang berusaha membangkitkan sumber energi listrik melalui kincir angin. Pada awalnya, tetangga, teman-teman bahkan ibunya sendiri menganggap William gila. Namun William tidak peduli dia mengerjakan proyek terbesar dalam hidupnya itu. Dengan menggunakan barang-barang yang dianggap rongsokan. William hidup di negara Malawi, yaitu negara yang dilanda bencana kelaparan besar. Bencana itu sangat mempengaruhi kehidupan William Kamkwamba. Bagi William, kelaparan adalah suatu hal yang sangat memprihatinkan. Hal lain yang membuatnya bersedih adalah ia harus putus sekolah karena ayahnya tidak mampu membiayai pendidikannya. Setelah berhari-hari berkutat dengan barang rongsokan kincir angin William berhasil. Hampir setengah tebal buku hanya berisi tentang pola hidup masyarakat Malawi, kepercayaan terhadap sihir, kehebatan ayah dan kakek William dan kondisi kelaparan di Malawi. Buku ini bisa saja dijadikan pelajaran bagi mereka yang sedang berjuang dengan mimpi dan keinginannya.*

Indonesia, Wikileaks, dan Julian Assange

Karya Hendri F Isnaeni

Resensi ditulis oleh M farohul Mukthi

Dimuat SUARA MERDEKA, 17 April 2011

Buku ini memaparkan bocoran-bocoran Wikileaks. Tentu saja Indonesia tak urung menjadi “keisengan” Wikileaks. Beberapa kawat diplomatik negara asing yang menyangkut pemerintah negeri ini pun diumbar ke publik. Selain itu juga seperti upaya AS yang memanfaatkan para pengguna Facebook dan Blogger dalam negeri untuk menyebarkan pengaruh, sikap AS dalam merespons Pemilu di Indonesia tahun 2004, serta dukungan AS dalam memerangi terorisme di Indonesia. Wikileaks adalah situs milik sebuah organisasi nirlaba yang diluncurkan pada 2006. Yang bertujuan menyebarkan informasi kepada semua orang mengenai apa yang dilakukan pemerintah negara-negara di seantero bumi ini. (AYA/IBOEKOE)

Kabar Resensi Pekan Pertama April 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

+ + +

Komik Dunia Kreatif Tanpa Batas

Karya Indiria Maharsi

Resensi ditulis oleh Aris Hasyim

Dimuat MEDIA INDONESIA 9 april 2011

Siapa sangka komik merupakan mediasi dalam dunia edukasi yang sangat berpengaruh memberi pemahaman yang lebih cepat. Dalam buku ini penulis juga menegaskan bahwa peran komik di era modern bukan hanya sebuah mediasi pengumbar mimpi fantasi atau pseudo reality, melainkan juga media yang lebih mengisi dan mengkritisi secara etis dan estetis terhadap perkembangan bangsa.*

Teknik dan Ragam Hias Batik Yogya dan Solo

Karya Tumbu Ramelan

Resensi ditulis oleh Hadriani P | Riska Sri Handayani

Dimuat KORAN TEMPO, 10 April 2011

Buku ini mengajak pembaca untuk tidak meniggalkan batik khususnya batik tradisional. Minimnya pengetahuan generasi sekarang tentang motif batik tradisional  menjadi alasan Sri Soedewi Samsi menulis buku ini. Terdapat 370 koleksi motif batik dalam bukunya. Harapan dari penulis tentang  buku ini dapat meneyebarkan semangat menggunakan batik tulis dan batik cap kepada masyarakat. Buku batik lain yang patut disimak adalah My Batik Story, A silent Labor of  Love karya Ani Bambang Yudhoyono. Buku ini mengisahkan ihwal seni membatik. Juga menjelaskan tentang karakteristik batik dan juga sejarahnya. Juga tentu saja buku The 20th Century Batik Masterpieces karya Tumbu Ramelan. Buku ini menggambarkan lebih detail tentang Batik Indonesia. Dalam 5 BAB buku ini membahas batik dari Yogya, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur maupun Sumatra. Dalam buku ini terdapat penjelasan tentang asal batik, motif, teknik, bahan, cara pewarnaan, tahun pembuatan, hingga ukuran.*

JayaPedoman Menuju Tidak Bahagia

Karya Jaya Suprana

Resensi Ditulis oleh Musyfak Timur Banua

Dimuat  SUARA MERDEKA, 10 April 2011

Buku ini hadir dengan Misi khusus, dalam rangka membongkar cara pandang manusia terhadap kebahagiaan. Dalam penjelasannya  Menyarankan agar orang-orang yang menuju perasaan tidak bahagia harus menhindari sikap-sikap positif, namun sebaliknya seseorang harus mengembangbiakan sikap-sikap destruktif pada dirinya sendiri untuk tidak bahagia.*

Lost Butterfly : Dilema Cinta Mantan Pria

Karya Yandasadra

Resensi Ditulis oleh S.H Rachman Wahyudi

Dimuat JAWA POS, 10 April 2011

Novel yang mengisahkan kaum transgender ini, mengajak pembaca  untuk memahami tentang keterasingan kaum transgender dalam kehidupan masyarakat. Penulis juga memaparkan tentang pernak-pernik kehidupan mereka yang menyimpang. Mengisahkan lelaki jawa yang berprofesi sebagai dosen muda dalam ilmu filsafat dan sosiologi agama. Ia beranggapan bahwa istilah Maria (mantan Pria) lebih tepat daripada waria yang bermakna ganda Wanita dan Pria. Namun secara jelas novel ini mengarahkan pembaca untuk menyimak fenomena transgender dari sisi religius melalui percakapan demi percakapan. Pokok bahasan yang penting dalam novel ini adalah pertentangan pendapat mengenai sah atau tidaknya operasi kelamin.*

Si Buta dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat Lainnya

Karya Rif’an Anwar

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 10 April 2011

Resensi Ditulis oleh Iksan Basoeky

Buku unik ini sangat berbeda dengan buku filsafat lainnya. Buku ini lebih bercorak humoris, gagasan-gagasan filsafat yang ditampilkan juga sangat menarik, tidak kalah dengan buku filsafat yang lain gagasan-gagasan itu juga ditampilkan dengan referensi-referensi filsafat  yang menjelaskan terhadap makna filsofis dalam dunia filsafat.*

Chiefdom Madinah:  Salah Paham Negara Islam

Karya Dr. Abdul Aziz, MA

Resensi Ditulis oleh Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 10 April 2011

Buku ini mengkaji politik Islam yang memahami tentang tiga pandangan yang menyangkut agama dan negara. Yang pertama tentang pandangan yang mewajibkan pendirian sebuah negara Islam. Kedua, pandangan tentang negara sekuler yang meyakini negara sekuler memisahkan urusan negara dan agama. Dan yang ketiga adalah pentingnya internalisasi nilai-nilai Islam dalam bernegara tanpa harus melabeli dengan nama negara Islam, tetapi juga tidak menjadi negara sekuler. Dalam buku ini penulis  mengurai beberapa teori bentuk negara Islam termasuk kelahiran, perkembangan yang kaya inspirasi, hingga keruntuhan negara Madinah. (AYA/IBOEKOE)

The Life Death of Yukio Mishima | Henry Scott (1974)

Mishima 3HENRY SCOTT STOKES. THE LIFE DEATH OF YUKIO MISHIMA Ballantine Books, New York, 1974

PADA 25 November 1970, Yukio Mishima, novelis Jepang terkemuka, melakukan harakiri di Markas Besar Angkatan Darat yang terletak di jantung Kota Tokyo.

Padahal, ketika itu, Mishima, yang lahir di Kimitake, Hiraoka, 14 Januari 1925, memiliki segala impian yang didambakan seorang penulis: kemasyhuran internasional, pujian untuk karya-karyanya, kekayaan, istri, dan anak.

Di samping itu, banyak orang yang mengunggulkan Mishima, yang juga aktif dalam kegiatan teater dan film, bakal mendapat Hadiah Nobel untuk kesusastraan. Bunuh dirinya bukan merupakan suatu tindakan yang diakibatkan oleh tragedi yang menimpa dirinya. Tapi lebih merupakan suatu kejadian yang disaksikan oleh orang banyak dan diatur sedemikian rupa-rapinya. Apakah bunuh diri Mishima merupakan suatu tindakan yang dilatarbelakangi politik? Atau sekadar suatu permainan cinta erotis dengan maut?

Tak ada satu motivasi yang dapat menerangkannya dengan gamblang tindakan Mishima yang begitu terobsesi dengan harakiri, suatu upacara tradisional bunuh diri Jepang. Kritikus sastra dan ahli kesusastraan Jepang, Henry Scott Stokes, yang kenal Mishima secara pribadi, mencoba menerangkan hal-hal di balik tindakan harakiri novelis besar itu, dalam bukunya, The Life Death of Yukio Mishima.

Sebelum Fundoshi Penuh Darah

PAGI itu, 25 November 1970, Yukio Mishima bangun pagi sekali. Ia mencukur mukanya dengan perlahan dan sangat hati-hati. Muka itu adalah muka kematiannya. Karena itu, tak boleh ada luka atau guratan sekecil apa pun. Setelah itu ia mandi dan mengenakan fundoshi putih.

Kemudian dipakainya seragam Tatenoka – organisasi tentara swasta yang dibentuk dan dipimpinya sendiri. Sesudah semuanya rapi, Mishima memeriksa barang-barang yang akan dibawanya hari itu: sebuah tas berwarna cokelat, yang berisi sebuah pedang pendek, setumpuk kertas, dan keperluan lain-lain.

Selain itu, dibawanya juga sebuah samurai panjang dan sarungnya. Di meja ruang duduk diletakkannya sebuah amplop tebal berisi bagian terakhir novel panjangnya, Laut Kesuburan, yang telah dikerjakannya selama enam tahun.

Amplop tebal itu ditujukannya kepada penerbit Sinchosha, yang akan menerbitkan novel tersebut. Pukul sepuluh Mishima menelepon beberapa wartawan kenalan baiknya. Ia minta mereka datang menyaksikan “pertunjukan” yang akan dihidangkannya hari itu.

Tapi Mishima tak menerangkan “tontonan” yang akan disuguhkannya kepada para wartawan tersebut. Tak lama kemudian seorang anggota Tatenokai datang. Ia adalah Chibi-Koga, seorang pemuda bertubuh pendek, berhidung mancung. Mishima menyambut pemuda itu di muka pintu. Dengan tergesa-gesa diberikannya tiga pucuk surat kepada anak itu. Surat-surat itu ditujukannya untuk Chibi-Koga dan dua pemuda lainnya – Fru-Koa dan Oawa.

Yang disebut terakhir adalah seorang pemuda berparas pucat, yang biasa jadi pembawa panji Tatenokai. “Bawalah ini ke mobil,” kata Mishima, menyuruh Chibi-Koga membawa perlengkapan yang telah disiapkannya. “Saya akan segera di sana, dan bacalah baik-baik surat itu sekarang juga.”

Lalu Mishima menyelipkan pedang kecil yang telah disiapkannya di pinggangnya. Sementara itu, penghuni yang tinggal di sebelah rumahnya, seorang laki-laki tua dengan rambut penuh uban, melihat kesibukan Mishima menggumam dengan nada tak setuju, “Ah, dia mau mengadakan acara parade lagi.” Laki-laki itu adalah Azusa Hiraoka, ayah Mishima.

Tak lama kemudian rombongan Tatenokai datang dengan mengendarai sedan Toyota Corolla berwarna putih. Mishima segera masuk ke dalamnya, dan duduk dekat – Chibi-Koga, yang bertindak sebagai pengemudi. Di dalam mobil itu sudah ada FuruKoga, Ogawa, dan Masakatsu Morita. Morita adalah komandan Tatenokai, dan sahabat karib Mishima.

“Apakah kalian sudah membaca surat-surat itu?” tanya Mishima kepada ketiga pemuda yang dikiriminya surat tadi. “Kalian mengerti? Kalian tak boleh bunuh diri. Itu saja.”

Mishima dan Morita akan segera melakukan harakiri. Tiga anggota Tatenokai lainnya mesti hidup terus. Itulah jalan yang akan ditempuh oleh Mishima, seperti yang dikatakan dalam uratnya yang terakhir. Mereka akan menjunjung tinggi slogan yang diagungkan Tatenokai: Hokoku Nippon – Rekonstruksi Kemaharajaan Jepang, slogan semasa Perang Dunia II.

“Mari kita berangkat,” perintah Mishima kepada Chibi-Koga.

Beberapa menit sebelum pukul 11.00, mobil yang dikendarai Mishima dan keempat pengikutnya tiba di pangkalan Ichigaya, yang berada di bawah kekuasaan Jietai (Pasukan Bela Diri Jepang). Letaknya di pusat Kota Tokyo. Penjaga pintu gerbang melihat mereka dan membiarkannya lewat. Kemudian, penjaga itu memberi tahu markas besar militer wilayah timur di Ichigaya bahwa Mishima dan rombongannya telah tiba. Chibi-Koga membawa mobil yang dikemudikannya ke bukit-bukit kecil di markasJietai. Lalu diparkirnya di pinggir lapangan parade besar.

Kelima pemuda itu turun, dan Mishima memimpin mereka sambil menjinjing tasnya. Mayor Sawamoto, ajudan Komandan Pangkalan, Jenderal Kanetoshi Mashita, mempersilakan mereka masuk. Ia menyuruh Mishima dan keempat pengikutnya menunggu di ruang tamu, lalu masuk ke Ruang 201–ruang kerja Jenderal Mashita.

Tak lama kemudian rmbongan Tatenokai itu dipersilakannya masuk. Sawamoto mempersilakan mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Jenderal Mashita, 57 tahun, muncul dari ruang kerjanya. Mishima maju menyambut Komandan Pangkalan itu. Perwira tinggi yang sudah ubanan itu adalah veteran Perang Pasifik. “Saya membawa anggota Tatenokai kepada Anda untuk berkenalan,” kata Mishima.

Lalu ia pun memperkenalkan mereka satu per satu kepada sang jenderal. Atas anjuran Mayor Sawamoto, mereka duduk berkumpul di tengah ruangan.

Dikatakan Mishima bahwa keempatnya adalah anggota terkemuka pasukannya, dan dilaporkannya pula mereka mengenakan seragam Tatenokai, yang berwarna kuning dan hijau, lantaran hari itu mereka akan mengadakan upacara bulanan. Sang jenderal hanya mengangguk-angguk tanpa memperlihatkan kesan tertarik. Sebelum duduk, Mishima melepaskan pedang yang dibawanya dari pinggangnya. Pedang itu diletakkannya di kursi, sehingga Mashita mau tak mau mesti melihatnya.

“Coba bilang, apa gunanya Anda membawa-bawa pedang itu,” tanyanya menyelidik. “Apakah penjaga memperbolehkan Anda masuk dengan membawa pedang itu?”

Dikatakan Mishima bahwa pedang itu adalah pedang militer kuno. Kemudian diperlihatkannya surat kekunan pedang tersebut kepada Mashita. Menurut surat itu pedang yang dibawa Mishima dibuat pada abad ke-17.

Tiba-tiba Mishima mencabut pedang itu dan sarungnya, dan berkata kepada Chibi-Koga, “Sapu tangan!”

Kata itu adalah kode buat Chibi-Koga. Instruksinya agar Chlbi-Koga membekap mulut Jenderal itu dengan tennugui sejenis handuk. Tapi Mashita keburu berdiri. Ia pergi ke mejanya dan mengambil beberapa serbet kertas untuk menyeka pedang tersebut. Chibi-Koga memberikan handuk yang telah disiapkannya kepada Mishima, lalu duduk lagi di kursinya.

Mashita mengayun-ayunkan pedang itu. Ia memuji keindahan pedang kuno tersebut, dan kemudian memberikannya kembali kepada Mishima. Mishima memberi perintah pada Chibi-Koga dengan matanya. Chibi-Koga segera berdiri di belakang sang Jenderal, lalu mencekiknya dengan cara yang kaku. Semua itu merupakan isyarat bagi yang lain untuk bertindak.

Keempat anak buah Mishima masing-masing mengeluarkan seutas tali dari saku mereka. Lalu mereka mengikat kaki dan tangan Mashita, dan mendudukkannya di kursi. Pada mulanya, Jenderal Mashita menyangka bahwa yang dilakukan orang-orang itu adalah latihan komando. Ketika anggota-anggota Tatenokai menarik meja tulis untuk mengganjal pintu masuk, Mashita segera mengerti bahwa Mishima dan pengikutnya tidak main-main.

Ternyata, mereka tak mengetahui bahwa ada lubang pengintip ke ruangan Mashita, sehingga orang-orang di luar bisa mengetahui apa yang terjadi di dalam. Apa yang dilakukan kelima penyerbu itu langsung saja diketahui.

Tapi mereka telah menyandera Jenderal Mashita. Sekitar lima orang tentara mendobrak pintu. Tapi mereka kelihatan ragu-ragu, lantaran tak seorang pun di antara penyerbu yang memegang senjata. Lalu Mishima mengancam dengan pedangnya, sementara di belakangnya Chibi-Koga berdiri tegak dengan memegang pedang pendek.

“Keluar!” bentak Mishima kepada anak buah Mashita.

Salah seorang dari anak buah Mashita yang menyerbu masuk, Kolonel Hara, memegang sebuah pedang kayu. Ia pun tak berani maju, takut Mishima membunuh Mashita. Tapi kemudian anak-anak buah Mashita merangsek maju, sehingga Mishima terpaksa mengayun-ayunkan pedangnya untuk mengusir mereka.

Tiga orang kolonel terluka tangan dan punggungnya. Para pengurung akhirnya mundur karena ancaman Mishima yang mengayun-ayunkan pedangnya yang berlumuran darah itu. Ia menuntut agar semua penghuni pangkalan berkumpul di lapangan parade untuk mendengarkan pidatonya.

Wakil Komandan Pangkalan kemudian minta bantuan polisi untuk menangkap Mishima dan keempat anak buahnya. Mishima kemudian menenangkan diri di dalam ruangan Mashita.

Ia bersama keempat pengikutnya mengenakan hachimaki (ikat kepala) yang berhiaskan matahari terbit dan ditulisi kalimat Shichiso Hokoku – berbakti kepada bangsa dengan tujuh nyawa.

Kata-kata itu adalah slogan kaum Samurai pada Abad Petengahan. Pukul 11.38 terdengarlah raungan sirene mobil-mobil polisi. Polisi-polisi itu mengurung ruangan penyanderaan. Dari kaca-kaca jendela yang pecah, juru potret polisi beraksi mengambil gambar.

Pada pikiran mereka, Mishima dan orangorangnya telah terkurung, dan foto-foto itu akan berguna di pengadilan nanti. Mishima dan Morita kelihatan jelas dari !ensa kamera juru potret polisi itu. Beberapa saat sebelum tengah hari, Morita yang berbadan gempal itu muncul di beranda. Ia diikuti oleh Ogawa. Keduanya memancangkan berdera putih panjang bertuliskan syarat-syarat untuk keselamatan Jenderal mashita.

Salah satu dari tuntutan mereka agar pidato Mishima didengarkan dengan tenang. Kemudian keduanya menjatuhkan selebaran berisi gekibun – manifesto terakhir Mishima, yang ditulis mengikut bunyi pernyataan para pelaku kudeta militer pada 1930-an.

Bunyi manifesto itu: “Marilah kita kembalikan Jepang ke bentuk yang murninya dan biarkan kami mati. Apakah kalian akan menghargai hidup dan membiarkan semangat kebangsaan mati? Kami akan menunjukkan suatu nilai tinggi yang jauh lebih mulia ketimbang penghormatan pada kehidupan. Bukan kebebasan. Bukan demokrasi. Hanya Nippon, Nippon, tanah air sejarah dan tradisi. Jepang yang kita cintai.”

Para prajurit di lapangan upacara itu memungut selebaran tersebut. Sebagian melipatnya, dan memasukkannya ke dalam saku. Tapi ada juga yang langsung membacanya. Mereka masih muda-muda, tak punya pengalaman perang dan tak mengerti kelakuan Mishima hari itu. Selama tak kurang dari 25 tahun Jepang berada dalam kedamaian. Hanya golongan kiri yang menentang aliansi dengan Amerika, faktor paling penting dalam politik luar negeri Jepang. Tak terpikirkan oleh mereka bahwa itu akan diserang oleh golongan kanan. Mereka banyak yang tahu adanya Tatenokai, tapi tak tahu maksud organisasi itu. Mereka pun tak mengerti mengapa Mishima – seorang penulis novel terkenal – melibatkan diri ke dalam kegiatan semacam itu.

Kebingungan mereka bertambah lagi dengan digotongnya tiga perwira yang luka parah ke luar gedung. Mengapa Mishima menyerang perwira-perwira mereka?

Ketika “Kekasih” Menebas “Kekasih”

TEPAT jam 12.00, Mishima muncul di atap gedung, dan naik ke dinding pembatas. Ia mengenakan kaus tangan putih, sehingga noda-noda darah yang tertinggal di sana terlihat Jelas.

“Sungguh sesuatu yang menyedihkan,” kata Mishima memulai pidatonya, “kalau saya harus berbicara kepada para anggota Jietai dalam keadaan seperti ini. Saya pikir Jietai merupakan harapan terakhir untuk Jepang atau jiwa Jepang.”

Sebagian besar mereka yang berkerumun di halaman gedung itu tak mendengar pidatonya, karena raungan helikopter milier yang datang untuk pengamanan. Mishima mengeraskan lagi suaranya. Dari bawah terdengar sumpah-serapah kotor dan teriakan, “Sontoloyo lu, berhenti ngomong.” “Kami tak setuju dengan kau.”

Tapi Mishima mengoceh terus.

“Bangsa kita tak memiliki lagi landasan semangat. Karena itu, kalian tak setuju dengan saya. Kalian tak mengerti Jepang. Jietai mesti membereskan segala-galanya.”

Mishima terus berkhotbah tentang semangat nasionalisme tentang tentara yang harus berperan aktif dalam politik dan mengubah konstitusi Jepang.

“Pada bulan Oktober tahun lalu telah terjadi suatu demonstrasi antiperang. Pemerintah Jiminto (Partai Liberal Domokrasi) mengerahkan polisi untuk membubarkannya. Hanya polisi yang turun tangan dan tentara diam-diam di tansi. Konstitusi kita telah beku, dan tak ada kesempatan buat kita untuk mengubahnya. Apakah kalian akan diam saja?” kata Mishima penuh retorika.

Massa melontarkan lagi umpatan-umpatan dan sorakan menertawakan, tapi Mishima tak peduli.

Ia meneruskan pidatonya, “Kita harus mempertahankan Jepang. Lindungilah Jepang, tradisi kita, kebudayaan kita, sejarah kita, dan kaisar kita! Hari ini, seorang laki-laki mengajak kalian. Dan, saya mempertaruhkan nyawa untuk itu. Apakah kalian mendengar dan mengerti saya? Kalau kalian tak bangkit bersama kami, Jietai pun takkan bangkit, konstitusi takkan diubah. Dan, kalian tak lebih dari serdaduserdadu bayaran orang Amerika. Atau paling banter serdadu Amerika.”

Tak lama kemudian Morita datang mendekati Mishima. Mereka lalu meneriakkan, “Hidup Kaisar. Hidup Kaisar. Hidup Kaisar.”

Dari bawah terdengar teriakan, “Tembak saja mereka, tembak.” Mishima kembali ke teras atap. Kemudian ia masuk ke ruangan, dan diikuti oleh Morita. Mishima masuk kembali ke ruang kerja Jenderal Mashita.

“Mereka tak bisa mendengar aku dengan baik,” katanya kepada para pengikutnya. Tak lama kemudian Morita pun masuk. Mishima mulai membuka kancing-kancing seragamnya. Ia berada di bagian kamar yang tak bisa dilihat dari koridor ataupun dari kaca jendela yang pecah. Sumpal mulut Mashita telah dibuka. Ia memperhatikan Mishima membuka pakaiannya. Ia telanjang sampai ke pinggang, dan ternyata tak mengenakan baju dalam.

“Hentikan,” kata Mashita. “Itu tak ada gunanya.”

Mishima menjawab, “Saya bertekad untuk melakukan ini. Anda tak boleh mengikuti jalan saya. Anda tak bertanggung jawab atas perbuatan saya.”

“Hentikan!” hardik Mashita.

Mishima tak peduli. Ia membuka kedua belah sepatunya dan melemparkannya ke samping. Morita maju, dan mengambil pedang. Kemudian Mishima membuka jam tangannya, dan diberikannya kepada salah seorang pengikutnya.

Lalu, ia berlutut di permadani merah ruangan, kira-kira enam kaki dari kursi Mashita. Dilepaskannya celananya. Fundoshi putih yang dikenakannya kelihatan, Ia hampir telanjang dan dadanya yang kuat terlihat turun-naik oleh napasnya. Morita mengambil posisi di belakangnya sambil bersiap mengayunkan pedang.

Kemudian Mishima mengambil yoroidoshi – pedang pendek yang tajam kedua sisinya dengan ujung yang runcing. Pedang itu dipegangnya dengan tangan kanannya. Ogawa maju membawa mohitsu (kuas) dan selembar kertas. Semula Mishima akan menulis pesannya yang terakhir di kertas itu dengan darahnya.

“Tidak, aku tak memerlukannya,” katanya.

Mishima memijit-mijit satu titik di bagian perutnya sebelah kiri. Kemudian, bagian itu ditusuknya dengan pedang pendek yang dipegangnya. Morita mengangkat samurai tinggi-tinggi sambil memandang tengkuk Mishima. Keningnya basah kuyup oleh keringat. Ujung pedang itu bergoyang dan tangannya bergetar.

Mishima meneriakkan penghormatan terakhir kepada Kaisar, “Tenno Heika Banzai! Tenno Heika Banzai! Tenno Heika Banzai!”

Setelah itu, ia merendahkan kedua pundaknya dan mengeluarkan udara dari paru-parunya. Ia menarik napas dalam-dalam.

Kemudian, “Haa. . .how!” Didorongnya semua hawa dari tubuhnya dengan teriakan akhir yang keras dan liar.

Sejenak kemudian Mishima menusukkan pedang pendek yang telah disiapkannya ke perutnya kuat-kuat. Mengikuti tusukan itu mukanya tiba-tiba putih dan tangan kanannya mulai bergetar. Ditariknya pisau itu dari tubuhnya, lalu ia membuat sayatan-sayatan horisontal di perutnya. Darah mengucur dari sobekan itu membasahi fundoshi yang dikenakannya dengan warna merah. Kepala Mishima kemudian menunduk, sehingga tengkuknya terbuka. Morita sudah siap menurunkan samurai untuk memotong leher pemimpinnya.

“Jangan biarkan aku tersiksa terlalu lama,” pesan Mishima kepada Morita sebelum “upacara” itu.

Morita memegang pedang erat-erat, ketika muka Mishima jatuh ke lantai. Pedang diayun, tapi terlambat. Ayunan itu sangat kuat, tapi meleset ke karpet, jauh dari leher Mishima.

“Ulangi!” teriak seorang pengikut Mishima yang lain.

Morita membabatkan pedang panjangnya sekali, tapi masih meleset. Yang kena malah tubuh Mishima, dan meninggalkan bekas bacokan yang mengerikan.

“Sekali lagi,” ada lagi yang berteriak. Morita sudah tak bertenaga lagi. Furu-Koga maju. Ia punya pengalaman banyak dalam kendo–olah raga pedang Jepang.

“Berikan pedang itu padaku!” katanya pada Morita. Dengan sekali tebasan ia berhasil memisahkan kepala Mishima dari tubuhnya.

“Berdoalah untuk dia!” kata Mashita. Para pemuda itu berlutut sambil menangis tersedu-sedu.

Tapi “upacara” itu belum selesai. Morita menyobek jaket yang dipakainya. Seorang pengikut lain mengambil yoroidoshi dari tangan Mishima yang sudah tak bernyawa dan dengan tubuh digenangi darah. Diserahkannya pisau itu kepada Morita, yang kemudian berlutut setelah melepaskan celana panjangnya.

Diteriakkannya seruan Tenno Heika Banzai tiga kali, lalu ia menusukkan pedang pendek itu ke perutnya.

Tapi, ia tidak cukup kuat, sehingga sayatan di perutnya tidak dalam. Ia berteriak, “Sekarang!”

Furu-Koga berdiri di belakangnya, dan dengan sekali sabetan di leher, kepala Morita tercerai dari tubuhnya, dan jatuh di karpet. Darah mengalir.

Pemuda-pemuda itu berdoa lagi dan menangis tersedu-sedu. “Inilah yang terakhir!” kata Mashita.

“Anda tak perlu khawatir,” kata salah seorang dari ketiga pemua itu. “Tuan Mishima memerintahkan kami untuk tidak bunuh diri, dan menjaga keselamatan Anda.”

Tak lama kemudian polisi berhasil masuk, dan ketiga pengikut Mishima itu ditangkap.

Reaksi pertama orang atas tindakan Mishima itu adalah ketakpercayaan bercampur keraguan. Sejak berakhirnya Perang Dunia II tak pernah ada lagi ritus harakiri di Jepang. Pers Jepang juga setengah tak percaya pada mulanya. Ketika berita itu sampai ke meja redaksi koran terkemuka Mainichi Shimbun, redaktur kota memerintahkan reporternya untuk mengeceknya sekali lagi. Redaktur itu sudah membuat sebuah kepala berita berbunyi, Mishima yang luka-luka dilarikan ke rumah sakit.

Ketika reportase pertama tentang “Insiden Mishima” ditayangkan, ayah Mishima, Azusa Hiraoke, sedang asyik mengisap cerutunya sambil menonton televisi di rumahnya. Ia tengah berpikir untuk menemui kepala polisi, dan meminta maaf kelakuan anaknya. Kemudian muncul berita kedua bahwa Mishima telah melakukan kappuku (menyayat perut).

“Operasi yang modern pasti akan menyembuhkannya,” gumamnya.

Ketika berita ketiga yang menyebut kaishaku (dipenggal) dibacakan penyiar televisi, itu juga tak merupakan kejutan baginya. Karena, “otakku tak mau menerima berita dan kenyataan itu,” kata Hiraoke.

Komentar resmi pertama tentang kematian Mishima datang dari Perdana Menteri Eisaku Sato.

“Dia pasti sudah kerasukan kichigai,” katanya kepada wartawan. Kata itu berarti kurang lebih sinting.

Apa sebetulnya yang menjadi penyebab mereka melakukan harakiri? Jawabnya tak sesederhana seperti yang dikatakan oleh Perdana Menteri Sato. Mengapa Mishima menghalalkan perbuatan itu bagi dirinya sendiri?

Barangkali tokoh-tokoh dalam novel-novelnya bisa bercerita.

Dalam Keruntuhan Seorang Malaikat, tokoh utamanya, Honda, menyesali dirinya lantaran ia “tak kuasa menghentikan waktu”. Karena itu, ia tak menikmati “kecantikan fisik yang lestari”. Ini merupakan suatu hak prerogatif bagi mereka yang mampu “memotong waktu”.

Berlainan dengan Honda, Mishima tak punya minat untuk melepaskan “saat-saat yang penuh keagungan” — saat kecantikan fisik sedang berada di puncak kehidupannya. Kalau apa yang dikatakan dalam Keruntuhan Seorang Malaikat itu benar, bunuh dirinya hanyalah sebuah upaya untuk menghentikan waktu.

“Kecantikan fisik yang lestari” dengan demikian merupakan “hak istimewa” yang dimilikinya. Ini merupakan penjelasan berbau kesusastraan tentang banyak gagasan yang selalu menjadi obsesi hidupnya.

Tapi, tampaknya, itu pun terlalu sederhana apabila kita ingat bahwa Mishima sangat gandrung dengan kedudukan sebagai pemegang peranan. Dalam novel yang disebutkan di atas tersirat bagaimana Honda menikmati pula “saat-saat penuh kemenangan” mempunyai keturunan.

Kalau saja polisi dan tentara di hari nahas November itu bertindak efektif, dan berhasil menggagalkan “pertunjukan” Mishima, sang novelis bisa saja kehilangan “saat-saat penuh kemenangan” tersebut. Kalau itu terjadi, barangkali ia akan menjadi seorang Honda yang tak berhasil “menghentikan waktu”. Walau tokoh utama dalam novel itu – seperti juga Mishima telah dengan rinci melakukan “gladi resik” untuk upacara kematiannya.

Keputusan dari Sauna Misty

BANYAK pengarang, yang sezaman dengan Mishima tak bisa menerima penjelasan sederhana tentang apa yang terjadi. Sikap mereka tetap demkian walaupun bagian terakhir dari novel Mishima yang membawa banyak orang sampai pada kesimpulan tersebut.

Buku Mishima itu diterbitkan tak lama setelah si pengarang mati. Dalam terbitan musim semi 1971, majalah Japan Quarterly menurunkan tulisan Junro Fukashiro yang berjudul Post Mortem.

Tulisan itu menerangkan beberapa teori di balik tindakan bunuh diri Mishima. Fukashiro mengetengahkan beberapa motif, antara lain kegilaan yang tak perlu lagi dijelaskan. Ada lagi “teori estetis” yang beragumentasi bahwa kecantikan yang begitu didambakan dalam karya sastranya hanya mungkin diakhiri dengan kematiannya yang sangat dramatis.

Kemudian ada juga teori tentang “bakat yang sudah tak berkembang lagi”. Teori itu menyatakan bahwa Mishima, yang telah bekerja keras dalam kesusastraan selama 30 tahun, merasa tak bisa menciptakan lagi karya-karya yang monumental. Ia menjadi putus asa, dan itu membawanya ke bunuh diri.

Teori “cinta-bunuh diri” mengatakan Mishima sebenarnya seorang homo yang melakukan shinju (bunuh diri ganda) demi cintanya kepada Morita. Itu dilakukannya sesuai dengan pengejarannya atas erotisme yang paling maksimal.

Terakhir ada Teori “patriotisme” yang berpegang pada dalil bahwa sebenarnya Mishima ingin menggerakkan tentara agar melakukan kudeta. Itu, katanya, akan merealisasikan impiannya agar Jepang menjadi suatu negara bersatu di bawah Kaisar. Persis seperti keadaan sebelum Perang Dunia II.

Walau kita dapat menerima pendapat bahwa Mishima telah memilih “saat-saat yang penuh kemenangan” bagi dirinya, kita mesti menghubungkan kenyataan itu dengan narsisme dan soal homoseksualitas novelis besar tersebut. Kudeta masalah itu adalah aspek kompleks tokoh ini. Banyak yang percaya bahwa homoseksualitas merupakan kunci untuk menerangkan bunuh diri Mishima.

Ada spekulasi bahwa antara Yukio Mishima dan Masakatsu Morita “ada main”. Dan keduanya telah melakukan bunuh diri bagaikan dua orang yang saring mengasihi. Bukti terhadap perkiraan itu cukup kuat. Mishima dan Morita telah merencanakan show itu dengan masak-masak. Mereka membawa tiga anggota Tatenokai lain, dan keduanya memutuskan itu ketika bersama-sama mandi di panti sauna Misty pada 3 November 1970.

Setelah kejadian bunuh diri itu, dua orang yang kenal betul dengan Mishima memberi keterangan yang meyakinkan mengenai novelis tersebut. Salah seorang dari mereka yang mengenal Mishima itu adalah perwira polisi yang telah menyelidiki dosir Mishima. Dari keterangan-keterangan yang telah dibacanya ia yakin Mishima dan Morita adalah sepasang kekasih. Tapi yang tahu betul tentang itu tentu saja kedua orang yang sudah mati tersebut.

Informan lain adalah seorang wanita yang kenal Mishima secara pribadi. Ia seorang politikus terkemuka di Jepang, dan mengerti betul tentang seni. Menurut wanita itu, Mishima pernah mengajaknya kawin, dan mereka berkirim-kiriman surat dengan sangat intens. Saksi wanita itu yakin Mishima cinta betul kepada Morita. Menurut dia, Morita sangat berpengaruh terhadap Mishima. Ia yakin, tanpa pengaruh Morita, Mishima takkan bunuh diri dan kehilangan “saat-saat yang penuh keagungan” yang dicarinya itu.

Hal-hal yang menarik kedua orang itu kebetulan cocok memang. Adalah Morita yang pertama kali menyarankan agar Tatenokai melakukan kudeta. Dosir organisasi itu, yang ada di tangan polisi, memperkuat dugaan tersebut. Jadi, “Tragedi Mishima” mula-mula berasal dari buah pikiran Morita, walaupun pada mulanya Mishima menolak gagasan itu. Mishima baru menyetujui gagasan bunuh diri tersebut beberapa bulan kemudian, karena itu cocok betul dengan bagian akhir dari novelnya.

Mishima, pada waktu itu, baru saja menyelesaikan novel Lautan Kesuburan. Dengan kata lain, Morita masuk ke dalam suatu drama yang sudah dipersiapkan, dan tak sengaja mengutik mekanisme yag memang sudah lama ada.

“Eros” dan “darah” memang memiliki hubungan yang sangat erat dalam karya-karya sastra Mishima. Hal itu pasti merupakan impiannya untuk mencapai kombinasi ideal keduanya dalam kenyataan. Walau Mishima dan Morita telah dengan hati-hati sekali menghancurkan buku harian dan setiap korespondensi mengenai hubungan mereka, sudah dapat dipastikan bahwa kedua orang itu adalah sepasang kekasih.

Morita, pengikut setia dan pengagum yang penuh semangat, telah mendorong Mishima ke dalam suatu tindakan.

Tentang teori kegilaan? Ada kecenderungan menjelang kematian Mishima berada dalam tekanan psikologis yang sangat berat. Ia pada suatu makan malam bersama pernah membayangkan Jepang sedang diancam oleh seekor “ular hijau”. Selain itu, banyak foto yang memperlihatkan Mishima berpose sesuai dengan fantasinya. Salah satu dari foto-foto itu adalah adegan dirinya sebagai St. Sebastian, yang diikat kedua tangannya. Pada masa kanak-kanak, Mishima pernah mengalami orgasme hanya dengan memandang gambar itu.

Tapi harus pula diingat bahwa Mishima adalah seorang aktor baik di dunia nyata maupun dalam tonil.

Jadi, apa yang dipertunjukkan dalam adegan-adegan itu belum tentu hal-hal yang menjadi pikirannya. Kesaksian para ahli mengenai kondisi mental Mishima juga tidak banyak menolong.

Psikolog Dr. Kataguchi, yang pernah memeriksanya dengan ink-blot test pada 1962, tak banyak memberi keterangan yang lebih dari fakta bahwa Mishima seorang homoseks. Setelah kematian pasiennya, psikolog itu menulis sebuah artikel yang melukiskan Mishima sebagai paramoid, psikopat, dan schizophrenik.

Tapi itu bukan sumbangan besar untuk mengerti Mishima. Yang pasti, sepanjang hidupnya, Mishima selalu berusaha mengimbangi kelemahannya dengan tindakan-tindakan yang sangat beraneka ragam. Ia punya naluri sangat besar untuk membuktikan bahwa dirinya bukan orang yang lemah. Dapat dibayangkan betapa berat beban mentalnya. Istrinya dan orang-orang yang dekat dengannya punya perasaan bahwa sesuatu akan terJadi pada Mishima.

Ada sebuah kejadian yang mencerminkan itu.

Pada suatu hari ada seorang pemuda yang bersikeras ingin bertemu dengannya. Ia menunggu berjam-jam di muka pintu – suatu bukti dalam tradisi Jepang, bahwa dirinya sangat berhasrat. Akhirnya, Mishima mengalah, dan mengizinkan pemuda itu masuk.

“Saya sibuk,” katanya tak sabar. “Karena itu, saya hanya mengizinkan Anda untuk hanya mengajukan satu pertanyaan.”

Sumber: TEMPO, Edisi 7 Mei 1988

On Writing | Stephen King | 2005

biografi_on_writingOleh: ANTOK SEREAN

Judul: Stephen King On Writing
Penulis : Stephen King
Penerbit : Qanita
Terbitan : 2005
Halaman :416 hal

Setiap ke toko buku, nama Stephen King tidak masuk daftar belanja. Sebab saya tidak suka cerita thriller. Membeli dan membaca novelnya persis membuang garam ke laut. Tindakan sia-sia. Mending baca buku sastra. Sekaligus bisa memperkaya kemampuan menulis. Yah, ini persoalan selera.

Tetapi, saya tergerak membaca bukunya: On Writing. Ada tiga pertimbangan. Pertama, Diana AV Sasa—Direktur Dbuku Bibliopolis—berulangkali merekomendasikan sebagai bacaan wajib setiap penulis. Tentu, saran penggila buku seperti dia patut didengarkan. Kedua, ini bukan cerita thriller. Lebih ke biografi proses kreatif. Berhubung saya sedang “isi bensin”, maka buku ini saya baca maraton dengan buku Proses Kreatif Jilid 2. Ketiga, tidak resiko rugi. Toh, saya pinjam di perpustakaan. Kalau tidak suka tinggal dikembalikan.

Di luar dugaan, usai baca kata pengantar Remy Sylado, saya terseret ke dalam buku. Stephen King sukses menjerat saya. Prakata Pertama, Kedua, dan Ketiga persis korek api yang menyulut minat pembaca. Selanjutnya, saya terbakar Bagian Pertama (CV dan Apakah Menulis Itu), Bagian Kedua (Kotak Perkakas), Bagian Ketiga (Tentang Menulis), Bagian Keempat (Tentang Kehidupan: Sebuah Catatan Tambahan, Pintu Tertutup Pintu Terbuka, dan Kepustakaan). Seluruhnya terangkum dalam buku mungil 416 halaman. Covernya sempat bikin saya keder: hitam. Memang, saya agak takut cerita hantu, pembunuh berantai, atau penyiksaan. Selalu bikin kebelet pipis.

Ah, pepatah lama itu benar: Don’t Judge A Book from The Cover.

Membaca On Writing seperti bercakap dengan sahabat baik. Saya duduk manis, merokok, dan minum kopi, sambil mendengarkan Stephen King cerita ngalor-ngidul tentang kisah hidupnya. Baginya, bekal penulis sudah ada dalam diri penulis. Bekal itu tidak istimewa. Hanya bersinar bila diasah dan dipertajam. Tentu dengan banyak membaca dan menulis. Penulis tidak dibuat, tapi terbentuk. Proses pembentukaan itu sejalan dengan kehidupan yang dijalani penulis. Maka, On Writing bukan auto biografi, justru semacam curriculum vitae—upaya penulis terbentuk. Bisa dipahami kalau isinya bukan tips menulis, lebih ke cerita masa kecil—embrio hasrat menulis muncul—, bagaimana proses menulis berjalan, tantangan, dan sikapnya menakhlukkan tantangan itu, hingga menghasilkan puluhan karya seperti sekarang.

Kuncinya keteraturan. Di halaman 208 dia menulis: Jadwalku sendiri cukup jelas. Pagi hari adalah waktu untuk apa saja yang tampak baru—komposisi terbaru. Siang hari adalah untuk istirahat siang dan menulis surat. Sore hari untuk membaca, untuk keluarga, permainan Red Sox di televisi, dan memperbaiki tulisan-tulisan yang perlu segera diperbaiki. Pada dasarnya, pagi hari adalah waktu utamaku untuk menulis.

Saya tertohok di bagian Pintu Tertutup Pintu Terbuka. Pintu Tertutup adalah analogi Stephen King membangun dunianya sendiri. Dia memiliki ruang khusus, menutup pintu, dan berjibaku di dalamnya. Tak akan keluar sebelum menghasilkan 2000 kata sehari. Semacam peringatan: Don’t Disturb! Cara ini memungkinkannya melahirkan karya secara konsisten. Patut dicatat, dia menolak kompromi dan keluar hanya untuk hal yang benar-benar penting. Sedangkan Pintu Terbuka adalah tempat karya dibaca orang lain, dipuji dan dikritik. Dia tak akan menyerahkan karya sebelum proses editing usai. Beruntung, Tabby—istrinya—pribadi multifungsi: pengertian sebagai istri dan kritis sebagai pembaca.

Klimaks buku ini ada di halaman 365, Tentang Kehidupan: Sebuah Catatan Tambahan. Nyawanya nyaris pupus gara-gara ditabrak mobil van kala jalan-jalan sore. Kaki bawah patah, lutut kanan robek, pinggang kanan soak, punggung dibedah di delapan tempat, dan tiga puluh jahitan di kepala. Kata dokternya, hanya mukjizat yang bikin dia tetap hidup. Tentulah, hari-hari bergulir dengan terapi kesehatan yang membosankan.

Dahsyatnya, lima minggu setelah kecelakaan, dia kembali menulis. Istrinya tak mencegah, sebab bisa mematikan daya pikirnya. Sengaja memberi ruang nyaman untuk menulis,”Aku bisa menyiapkan sebuah meja untukmu di ruang belakang, di luar pantri. Ada banyak stop kontak di sana—kau bisa memasang komputermu, printer kecil, dan kipas angin.” Dalam keterbatasan, dia menghabiskan musim panas bersuhu 35C dengan menulis buku ini: On Writing. Hebat!

Desember tahun lalu, saya sempat guneman dengan maestro sastra Suparto Brata.

Saya    : “Pak, njenengan biasa nulis jam pinten?”

Beliau  : “Habis Subuh sampai pagi, Dik. Pokok’e gak gelem diganggu nek gak penting tenan.”

Dibandingkan Stephen King dan Suparto Brata, pastilah saya paling malas. Jam segitu enak-enaknya ngorok ngak-ngok kemulan sarung produksi iler. Bagaimana dengan kamu?

Asep Samboja Menulis l Asep Sambodja l 2011

Asep

Asep Samboja Menulis, Tentang Sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra | Asep Sambodja | Ultimus Maret 2011 | xiv +378 halaman | Rp 75.000

Oleh : Slamet Wahedi

Sejarah sastra Indonesia adalah jejak rekam estetika yang ditulis di tengah ketegangan ‘intrik’ pelaku seni dan ambisi politik kekuasaan. banyak peristiwa dan sosok yang kadang terlupakan. Begitu juga banyak gagasan dan pernyataan yang perlu dipertanyakan.

Sejak awal perintisannya (meminja istilah A. Teeuw), kita sepakati pada 1920-an sejarah Indonesia bergerak dalam sangkar ‘emas’. Pihak Belanda yang bertindak sebagai pemegang otoritas penerbitan membonsai dan mengebiri gagasan para pengarang dengan lembaga Balai Pustaka-nya. Bahkan lewat lembaga itu pula , pihak Belanda melabeli beberapa karya anak pribumi dengan tanda silang merh dan isu miring.

Pada masa pasca kemerdekaan, tepatnya pada 1960an, ketegangan sejarah sastra Indonesia semakin menmukan muaranya. Polemik kebudayaan antara Lekra dan Manikebu yang tanpa dihindari juga merupakan ketegangan politik, melahirkan kutub pahamsastra yang terus tarik menarik. Hingga kini, realisme sosialis yang diusung Lekra dan Humanisme Universal yang dikumandangkan Manikebu terus bergulat, bernegosiasi.

yang lebih parah keduanya pun saling sikut. Tak ayal, sejarah sastra yang lahir adalah sejarah sastra yang ditulis dan diperuntukkan orang-orang berkuasa. Dengan kata lain, perjalanan sastra Indonesia mengalami reduksi kenyataan dan kebenaran.

Lalu, bagaimanakah seharusnya sejarah sastra itu ditulis dan dipahami? Mungkin jawaban atas pertanyaan itulah yang dicoba diemban buku Asep Samboja menulis, Tentang sastra Indonesia dan Pengarang-pengarang Lekra.

Mengenai sejarah sastra, buku ini menyarankan pentingnya dilakukanpenulisan ulang dari waktu ke waktu. Hal itu, menurut Asep, berdasar dua alasan. Pertama, bertambahnya jumlah satrawan dan karyanya seiring dengan perkembangan jaman. kedua, untuk leboh mengakomodasi banyaknya karya sastra yang lahir dalam rentang waktu tertentu (hal.9)

Penulisan ulang tersebut juga bisa dimaknai sebagai usaha merekonstruksi sejarah sastra Indonesia. Dengan demikian, beberapa kelemahan dan ‘kesalahan’ penyusunan sejarah sastra kita selama ini dapat disempurnakan. Kaburnya awal sastra Indonesia dan batasan hakikat sastra Indonesia dapat diteliti dan diungkap secara komprehensif. Pun, beberapa karya terabaikan dapat diselamatkan.

Buku yang dikumpulkan dari serakan tulisan almarhum Asep Sambodja di jejaring sosial facebook yang diniatkan sebagai ‘kado’ kenangan 100 hari kematiannya memuat sekitar 52 esai yang terdiri atas dua bagian. Bagian pertama tentang sastrawan dan karyanya dalam mengekslporasi dan pencapaian estetika. Bagian kedua berbicara tentang para pengarang Lekra. Mereka yang terusir dan karya-karyanya yang terabaikan.

Mengenai sastra Indonesia, Asep mencoba menyoroti fenomena dan bahaya kanonisasi sastra dan tarik ulur identitas sastra cyberpunk. Menurut dia , dua gejala kesustraan itu telah mengakibatkan terjadinya ‘perselingkuhan’ dan ketidakjujuran para pelaku seni tentang pencapaian estetika.

Perselingkuhan itu berkutat pada ranah mitos otoritas para empu kuasa estetika. Sedangkan ketidakjujuran yang bisa dirasakan misalnya penolakan anugrah  Magsaysay untuk Pramoedya Ananta Toer. Mereka-yang menolak- telah tidak jujur bahkan tidak adil atas capaian estetika seorang pengarang.

Selain persoalan sejarah sastra yang masih ‘buram’, Asep juga menaruh perhatian terhadap polemik sastra pusat (Goenawan Mohamas cs) dan sastra daerah (Bumiputra). Dalam empat esai bersambungnya, Asep secara panjang lebar mengurai paradoks dan misteri yang terselubung di tengah politik kebudayaan yag ditengarai hanya sebagai arena umpatan, makian, dan fitnahdaripada sebagai arena menemukan gagasan sastra Indonesia yang apik.

Jurnal Bumipoetra yang selama ini begitu gigih dan gencar menyerang Goenawan Mohamad cs dengan berbagai isu miring, terutama sastra perkelaminan, ternyata diam-diam juga memuat sastra yang berbau kelamin. Saya sama sekali tidak menganggap cerpen mini Hasan basri ini buruk. Justru sebaliknya, cerpen hasan basri ini puitis dalam menggambarkan perselingkuhan..yang saya pertanyakan, kenapa Boemipoetra bisa menerima cerpen Hasan Bisri, namun menolak novel Ayu Utami meskipun pada hakikatnya keduanya berbicara mengenai masalah yang sama? (hal.130)

Sedangkan mengenai para pengarang Lekra, Asep berani mengupayakan untuk mereka tempat yang layak. Dalihnya, semata-mata demi pembacaan sejarah sastra Indonesia yang lebih komprehensif. Bukan berdasar tendensi. Apalagi, ambisi politik kekuasaan.

Karena itu, bermunculanlah dalam tulisannya nama-nama pengagarang yang selama ini raib (atau diraibkan). Sebut saja Pramoedya Ananta Toer, A.S. Dharta, Putu Oka Sukananta, Chalik hamid, Mawie Ananta Jonie, H.R. bandaharo, Agam Wispi, dan Hersri Setiawan. Tidak hanya mengapresiasi dalam memberikan ruang nilai yang layak, Asep juga mencoba meluruskan berbagai isu yang sempat dipelintir oleh sebagian mereka yang kini memegang tampuk kekuasaan sastra.

*) Santri Ponpes Mathali’ul Anwar, Sumenep, bergiat di Bibliopolis dan Komunitas Rebo Sore

**) Jawa Pos, 3 April 2011

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan