-->

Arsip Resensi Toggle

Candik Ala 1965: Trauma Sepanjang Riwayat

Oleh: Veven Sp. Wardhana

Yang perlu dicatat pertama kali adalah salah satu penyunting novel ini empu sastra sekelas Goenawan Mohamad–bersama penyair potensial Joko Pinurbo–sekalipun ini pasti bukan buku pertama yang dia sunting (buku investigatif yang saya tulis bersama Herry Barus, Para Superkaya Indonesia: Sebuah Dokumentasi Gaya Hidup, Institut Studi Arus Informasi, Jakarta, 1999, juga dia sunting tanpa harus menyebutkan namanya dalam ko

Kabar Resensi Pekan Kedua Juni 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

Arsitektur yang Membodohkan

Karya Pursal

Resensi ditulis Andreas Yanuar Wibisono

Dimuat KOMPAS, 12 Juni 2011

arsitekturPursal menceritakan arsitektur dengan berpijak pada kebutuhan dan keinginan manusia. Jika arsitektur ini lahir dari manusia, ia pun harus menyesuaikan diri dengan dinamika manusia, bukan sebaliknya. Pada awalnya penjelasan Pursal memberikan cerita sederhana tentang topik, selanjutnya ia akan membawa contoh tersebut pada bidang arsitektur. Untuk menghantarkan pembaca pada pandangannya, ia memberikan contoh pemikiran lain sebelum ia menyatakan pemikirannya. Dalam bukunya ini terasa bahwa Pursal ingin memprovokasi para arsitek lain untuk tidak latah terhadap gaya yang muncul di Barat dan untuk mulai memunculkan kemudian menuliskan pemikirannya sendiri.

Candik Ala 1965

Karya Tinuk R. Yampolsky

Resensi ditulis Veven SP Wardhana

Dimuat KORAN TEMPO, 12 Juni 2011

Novel ini memijak awal pengisahan pada pergolakan politik penuh simbahan darah di Indonesia yang terjadi sekitar 1965/1966. Jika dibagi dalam babakan novel ini sendiri, bab awal mengambil setting tahun 1966/1967. Dua babak ini berfokus pada sosok Nik dan bagaimana sosok Nik memandang persoalan sekelilingnya terutama saat berusia 7 dan 10 tahun kemudian. Dalam babak ketiga, yang diceritakan terjadi pada 1980-an, terutama pada 1983. Ada pergeseran posisi sosok Nik. Babak keempat, terjadi pada 1990-an, terutama 1993 dan April 1998, sebulan sebelum klimaks gerakan reformasi yang melengserkan Soeharto sebagai petinggi negeri yang terlama berpengalaman sebagai presiden.

Peradaban Jawa: Dari Mataram Kuno Sampai Majapahit Akhir

Karya Supratikno Rahardjo

Resensi ditulis Hery Priyatmoko

Dimuat JAWA POS, 12 Juni 2011

Bermodal segepok data dan teori yang tepat, penulis mengurai ciri peradaban sesuai dengan konteks masa. Pulau Jawa berusaha dibentangkan dari abad ke-8 sampai abad ke-15. Perbedaan karakteristik peradaban Jawa Tengah dan Jawa Timur merupakan persoalan yang belum tuntas dijawab hingga detik ini lantaran kajian mengenainya relatif sedikit. Buku yang terbagi menjadi 18 bab ini menjelaskan bahwa lokasi pusat peradaban (pemerintahan) pernah berpindah dari Jawa Tengah ke Jawa Timur pada abad ke-10.

Indonesia, Wikileaks dan Julian Assange

Karya Hendri F. Isnaeni

Resensi ditulis Umar Wirahadi

Dimuat JAWA POS, 12 Juni 2011

Hendri F. Isnaeni adalah jurnalis muda yang berbakat. Buku yang ditulisnya ini memuat 16 isu sensitif yang menggelitik rasa kebangsaan kita. Selain “skandal” Susilo Bambang Yudhoyono, penulis juga menyorot hasil pemilu 2004. Ada juga kasus tewasnya aktivis HAM Munir. Dalam laporan Wikileaks, nyata bahwa pejuang HAM asal Kota Batu tersebut memang tewas dibunuh. Sayang, tidak semua data yang dimiliki wikileaks bisa dibeberkan dalam buku tersebut. Tentang Indonesia, Wikileaks memiliki 3.095 kawat diplomatik dari kedubes AS di Jakarta dan 167 dari Konjen AS di Surabaya. Di antara dokumen itu, 98 masuk kategori rahasia.

Kyai Menjawab, Masalah keagamaan dan kemasyarakatan

Karya H Asyhari Marzuqi

Resensi ditulis Subegjo

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 12 Juni 2011

Buku yang terbagi menjadi tiga bagian ini diawali dengan membahas tentang masalah ibadah, kedua, berisikan tentang masalah muamalah. Dan yang menjadi di penutup pada bagian ini atau pada bagian ketiga, yaitu berisikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan beberapa hal yang penting dalam hidup ini.

Spiritualitas Kematian, Meraih Hidup Indah dan Khusnul Khatimah

Karya Dr H Abdul Mustaqim

Resensi ditulis Bramma Aji Putra

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 12 Juni 2011

Penulis tak hendak menggurui pembaca, namun terasa benar mengajak untuk memahami filsafat kehidupan. Ada nilai penting yang penulis tekankan bahwa menyadari kematian, bukanlah bernilai negatif, sebaliknya akan bernilai positif. Sebab, kita akan berusaha untuk berlaku arif dan bijaksana dalam menapaki episode kematian yang tengah kita jalani.

Si Buta dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat lainnya

Karya Rif’an Anwar

Resensi ditulis Humaidiy AS

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 12 Juni 2011

Berbeda dengan buku-buku filsafat pada umumnya, buku bertajuk Si Buta dari Gua Plato dan 99 Anekdot Filsafat lainnya yang ditulis Rif’an Anwar ini mencoba menawarkan prespektif baru dalam memahami filsafat secara jenaka. Tema-tema filsafat yang biasa ditelaah secara teoritis dan “berat”, diuraikan secara sederhana dan “menggelitik”. Sebagaimana judulnya, yang merupakan plesetan dari serial populer Si Buta dari Gua Hantu, dalam penelusuran halaman demi halaman buku ini pun, pembaca akan dapat mendapati suguhan seputar tema filsafat yang “segar”.

The Doctors

Karya Wahyu Hidayat

Resensi ditulis Subroto

Dimuat REPUBLIKA, 12 Juni 2011

Tiap manusia terlahir lengkap dengan talenta khusus yang dapat menjadi bekal kehidupan. Persoalannya banyak orang gagal menyingkap potensi terpendamnya. Buku The Doctors ini memuat sederet pengalaman empat dokter yang kondang sebagai selebriti. Di balik gemerlap penampilannya di panggung, mereka menjalani perjalanan yang berkeringat untuk menuju kesuksesan. Buku setebal 264 halaman ini menginspirasi pembaca untuk memperjuangkan cita-citanya.

Sejarah Teror: Jalan Panjang menuju 9/11

Karya Lawrence Wright

Resensi ditulis Redaksi

Dimuat TRIBUN JOGJA, 12 Juni 2011

Serangan dahsyat 11 September 2001 oleh Al Qaeda kerap dianggap sebagai tonggak dimulainya pertempuran besar dua peradaban, Barat dan Timur, yang masih terjadi hingga kini. Osama bin Laden sudah mati, namun bayang-bayangnya masih menyisakan banyak pertanyaan. Bacaan dibuka dengan kisah perjalanan Sayyid Qutb, pergolakan di Mesir, dan mekarnya ideologi keras Qutb ketika belajar di Amerika, menyelami kehidupan di sana, yang pada akhirnya melahirkan pokok-pokok pemikiran teokrasi yang sangat keras. Osama dan Zawahiri secara jelas dan bukti-bukti yang meyakinkan telah menggerakan apa yang kini dikenal dengan sebutan jihad global. Lawrence Wright, penulis yang menghabiskan waktu lima tahun untuk penyelesaian buku ini, berhasil memberikan gambaran lengkap kepada kita, sesungguhnya pemerintah AS bisa mencegah operasi teror Al Qaeda 11 September 2001. (Aya/IBOEKOE)

Indigo, The Truth Is Now Here | Budhi Arahato (Toto) | 2011

derma-buku-GELARANIBUKU-IBOEKOE1Judul novel: Indigo, The Truth Is Now Here
Penulis: Budhi Arahato (Toto)
Tebal: 216 (spasi 2)

Obrolan Senja Angkringan Buku membedah draft novel ini.
Jumat, 10 Juni 2011
Pukul 15.30 – 18.00 wib
Angkringan Buku IBOEKOE, Jl Patehan Wetan 3, Alun2 Kidul Keraton, Yogya

Mendobrak Mitos: Kesaksian Orang-orang (Tak) Biasa
Oleh Fairuzul Mumtaz

Bayangkan suatu peradaban di mana sebuah lembaga berisi para manusia yang mampu membaca batin manusia lain dan hewan, melihat peristiwa yang terjadi di tempat lain, menilik kejadian yang akan datang, menggunakan roh sebagai perantara, dan memindai informasi melalui suatu benda. Suatu lembaga dengan kemampuan telekinesis (memindah benda dengan pikirannya), telepati (berkomunikasi dalam jarak jauh), dan teleportasi (berpindah tempat dari tempat yang jauh dalam tempo yang relatif cepat).

Alhasil… interogasi tak diperlukan. Alat-alat transportasi dan komunikasi tak laku. Dokter dan apotek ditinggalkan. Musim dan cuaca bisa dimanipulasi. Sejarah dibongkar, direvisi. Toh kejahatan dan kecelakaan bisa dicegah. Manusia mau tidak mau harus berniat baik, kalau tidak dia bisa bakal masuk penjara atas tuduhan kejahatan-pikiran. Dan sebagainya. Sebuah dunia yang tak terbayangkan.

Novel Indigo merupakan sekumpulan kesaksian tentang suatu dunia yang terkesan irasional, mistis, serba antah-berantah, yang konon dilihat dengan indera keenam (batin) yang kelewat tajam. Membaca Indigo tidak bisa tidak kita merenungkan-ulang keyakinan kita selama ini. Jangan-jangan apa yang kita anggap sebagai mitos itu adalah kebenaran, sedangkan apa yang kita yakini kebenaran rupanya mitos yang terbungkus begitu ciamik?

Indigo bertutur tentang petualangan Ninik dalam memaknai hidup (dan kematian). Bermula dari hobinya kongko di Bonbin UGM, ia terlibat dalam perseteruan antara mahasiswa dengan intel kepolisian. Tradisi tawur dua pihak itu mengantarkan ia berkenalan dengan seorang avatar, seorang air-bender, indigo yang lain (Avatar, Seorang Sarjana yang Menjadi Petugas Cleaning Service). Mengenal sang Avatar ini Ninik turut melacak silsilah keluarganya yang ruwet kayak rambut Einstein (Bilamana Emprit Menjelma Garuda).

Alur kemudian mundur ke masa SMA di mana Ninik akrab dengan 7 indigo lain (Nasib Bukanlah Kesunyian Masing-masing). Masing-masing siswa ini punya spesialisasi indigo. Ada yang jago memanipulasi pikiran, olah tubuh, musik, menggambar, sastra, teknik, fisika, arsitektur. Alur kemudian mundur lagi ke masa SMP kala Ninik minggat ke Jakarta kemudian pulang membaca cinta (Kereta, Lelaki Harum Melati, dan Tarot). Alur kembali lanjut dalam upaya Ninik mencari kakak lelakinya yang minggat ke Jakarta (Asmara Segitiga Maut). Malang, kali ini Ninik pulang membawa duka (Bulan Madu di Pasar Kembang).

Tak menyerah, Ninik kembali ke Jakarta. Dalam upayanya itu ia malah tersesat dan masuk ke sebuah perguruan silat yang aneh. Satu pekan ia digembleng di sana oleh seorang guru yang mistis sekaligus rasional (Main Lupa-lupaan). Pulang dari petualangannya Ninik mendapat undangan untuk hadir dalam sebuah makan malam yang misterius (Makan Malam yang Misterius bersama Buddha, Yesus, dan Muhammad)

Sebagaimana tagline novel ini, The truth is now here, Indigo adalah sebuah undangan bagi kita (calon pembaca) untuk mempertanyakan (dan menemukan) kebenaran macam apa yang ditawarkan di dalamnya. Bukan lagi the truth is out there ala film serial The X-files atau the truth is nowhere ala film-film misteri garapan Hollywood semacam Knowing, Constantine, The Sixth Sense, Final Destination, dan lain-lain.

Lebih dari itu, Indigo menyuarakan kebenaran universal yang bisa ditemui dalam tradisi manapun: ‘Jika kau mau hidup, maka pertama-tama yang harus kau lakukan adalah memahami hidup itu sendiri.’

Ya, bisa jadi Indigo adalah novel filsafat, karena ia mengajak kita merenung tentang hidup dan kehidupan. Bisa jadi pula Indigo adalah novel psikologi, karena ia menyajikan pergolakan batin orang-orang indigo dalam menjalani hidupnya yang tidak umum. Pun sebagai novel spritual, Indigo menawarkan konsep pencarian jatidiri dan upaya perbaikan dunia. Tak cuma itu, Indigo adalah sebuah novel (pengungkapan) misteri, menguak rahasia-rahasia kehidupan.

Percaya atau tidak percaya atas kesahihan kesaksian-kesaksian tersebut (apalagi disajikan dalam bentuk novel (baca: fiksi) dengan sudut pandang orang-pertama), itu urusan kita nanti sebagai pembaca. Sejalan dengan itu, Indigo dikemas dalam gaya penuturan yang kocak dan menghibur, alur yang mengalir luwes, enak dan layak dibaca oleh baik kalangan remaja maupun dewasa, jelata maupun akademisi.

Daftar Isi:

Bagian I
1.       Avatar, Seorang Sarjana yang Menjadi Petugas Cleaning Service…………….
2.       Nasib Bukanlah Kesunyian Masing-masing…………………………………………..
3.       Kereta, Lelaki Harum Melati, dan Tarot……………………………………………….
4.       Asmara Segitiga Maut ……………………………………………………………………….
5.       Bulan Madu di Pasar Kembang …………………………………………………………..
6.       Asmara Segitiga Maut II…………………………………………………………………….
7.       Bilamana Emprit Menjelma Garuda …………………………………………………….
8.       Main Lupa-lupaan………………………………………………………………………………

Bagian II
Makan Malam yang Misterius bersama Buddha, Yesus, dan Muhammad

* Fairuzul Mumtaz, koordinator Obrolan Senja

Kabar Resensi Pekan Awal Juni di Blog Buku

Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah blog buku di Indonesia. Kabar Resensi ini disusun kontributor blog dari Bandung, HERNADI TANZIL.

Tak Bersalah (The Innocent Man)

karya John Grisham
Dimuat di Blog: Baca Buku Fanda http://bukufanda.blogspot.com/
Diposkan, 2 Juni 2011

7 Desember 1982, sebuah pembunuhan terjadi di Ada, sebuah kota kecil di negara bagian Oklahoma, Amerika. Korbannya gadis bernama Debbie Carter, seorang waitress di bar bernama Coachlight. Keesokan harinya Debbie ditemukan tak bernyawa setelah diperkosa di apartemennya sendiri. Karena tak kunjung menuntaskan kasus ini polisi segera menjadi depresi dan segera mengeluarkan “kreativitas” mereka dengan menyeret Ron Williamson yang sudah terkenal sebagai “troublemaker” karena suka mabuk-mabukan dan membuat keributan di bar. Yang membuat buku ini terasa spesial adalah foto-foto mereka yang tersangkut dalam cerita ini. Salut pada John Grisham yang keluar dari kebiasannya menulis fiksi. Ketidak adilan yang dialami orang-orang yang nyata, justru akan menjungkir balikkan emosi anda, dan akhirnya membuat buku ini semakin melekat di hati anda. Empat bintang untukmu John!

Matahari Terbit dan Tirai Bambu; Persaingan Dagang Jepang-Cina di Jawa Pada Masa Krisis 1930-an dan 1990-an
karya Nawiyanto
Dimuat di Blog Merenda Kata Mengukir Makna http://bertualangkata.blogspot.com/
Diposkan 3 Juni 2011

Jepang dan Cina merupakan dua raksasa ekonomi Asia. Mereka bersaing mendapatkan tempat dan konsumen baru dari pelbagai penjuru dunia. Salah satunya di Indonesia. Khususnya di Jawa sebagai pusat perekonomian Indonesia.Buku ini memberikan gambaran persaingan Dagang Jepang dan Cina di Jawa pada tahun 1930-an dan 1990-an. Buku ini juga telah meletakkan dasar pengetahuan yang cukup bagus dalam menjabarkan tentang persaingan bisnis dua raksasa ekonomi di Asia (Jepang dan Cina). Buku karya Alumnus Australian Nasional University ini kaya akan data dan literatur yang menjadi kekuatan dalam mendasarkan kajian dalam historiografi Indonesia modern.

blinkBlink, Kemampuan Berpikir Tanpa Berpikir
karya Malcolm Gladwell
Dimuat di Blog: Review Buku http://hurufbuku.blogspot.com/
Diposkan, 31 Mei 2011

Buku kedua dari Malcolm Gladwell ini berisi tentang kesimpulan yang kita buat berdasarkan kesan pertama kita atas sesuatu. Menurut Gladwell kesan pertama kita atas sesuatu benar – benar kuat, benar – benar penting dan terkadang benar – benar baik. Tentu saja pendapat Gladwell ini mendapatkan banyak kritikan. Bagaimana sebuah kesimpulan dari sebuah kesan bisa dikatakan sebagai sebuah kesimpulan yang baik? Namun, dalam buku ini juga Gladwell menulis bahwa tidak selamanya kesan pertama itu benar. Buku ini memang berisi tentang kesimpulan dari kesan pertama yang baik dan kesimpulan dari kesan pertama yang buruk sekaligus. Buku ini tidak hanya berisi kisah – kisah dari keduanya tetapi juga berisi bagaimana caranya agar kita dapat menarik kesimpulan yang baik dari kesan pertama. Karena banyak orang yang bisa membuat kesimpulan yang baik dari kesan pertama mereka, Gladwell mengatakan bahwa sebenarnya membuat kesimpulan yang baik dari kesan pertama itu bisa dipelajari dan dilatih. Blink juga berisi hal terakhir ini.

Detektif Conan #61
karya Aoyama Gosho
Dimuat di blog: Dear Readers http://floriayasmin.blogspot.com/
Diposkan, 4 Juni 2011

Di komik Conan 61 ini banyak kasus seru kembali muncul! Kasus pertama menampilkan KID SI PENCURI!, kali ini pamannya Sonoko Suzuki yang kaya raya itu (kembali) menantang Kid untuk mencuri sandal berhiaskan permata ungu. Kid muncul ditengah orang banyak namun kemudian menghilang hanya dalam sekejap mata menggunakan teleportasi yang mengejutkan semua orang. Mampu kah Jirokichi Suzuki menangkap Kid? Kasus kedua dialami oleh grup detektif cilik. Seorang pria yang mengendarai Rolls Royce kuno terbakar didalam mobilnya. Diduga penyebabnya adalah puntung rokok yang disambar oleh bensin. Benarkah ini merupakan kecelakaan? Kasus ketiga merupakan miseri pesawat kertas yag menghebohkan kota Beika. Dan yang terakhir adalah kasus yang bersambung ke volume 62 kakaknya Asuza (pelayan di Poirot cafe) dituduh melakukan pembunuhan terhadap atasannya.

Untung Surapati
karya Yudhi Herwibowo
Dimuat di blog : Truly Review http://trulyrudiono.blogspot.com/
Diposkan, 02 Juni 2011

Novel ini mengambil sosok Untung Suropati. Untung lahir di Bali sekitar tahun 1660, wafat di Bangil, Jawa Timur pada 5 Desember 1706. Tidak ada yang tahu siapa orang tuanya secara jelas. Dalam buku ini disebutkan ia merupakan anak dari I Gusti Ngurah Jalantik. Sedikit sekali yang memahami siapa sosok Untung sesungguhnya, buku ini memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai Untung Suropati,yang karena semangat juangnya ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975. Dalam buku ini banyak sekali nuansa sejarah yang dipaparkan dengan teramat sangat mendetail. Bagi saya yang tidak menyukai sejarah sungguh menyiksa! Buku yang berat. Syukur banyak cerita segar yang memberi saya kekuatan dalam menuntaskan buku ini. Misalnya saja aneka makanan yang diuraikan dengan bersemangatnya. Selain itu Informasi seputar tokoh yang di tuangkan dalam bagian yang diberi judul karakter sangat membantu saya memahami cerita.

Emmy and The Incredible Shrinking Rat
karya Lynne Jonell
Dimuat di Blog Book to Share http://perpuskecil.wordpress.com/
Diposkan, 06 Juni 2011

Emmy Addison adalah seorang anak perempuan yang manis. Super manis malah, sampai-sampai tidak ada teman sekelas maupun guru yang mengingatnya atau menganggapnya ada saking membosankannya dia. Satu-satunya teman Emmy adalah tikus peliharaan kelasnya, yang anehnya bisa berbicara dan hanya dimengerti oleh Emmy. Kehidupan Emmy sebelumnya sebenarnya menyenangkan. Bersama ayah-ibunya, Emmy tinggal di atas toko buku yang dikelola oleh keluarganya. Tetapi semuanya berubah saat kakek canggah Emmy yang tidak dikenal, William Addison, mewariskan kekayaannya pada keluarga Emmy, termasuk rumah mewah di tepi Danau Greyson. Akhirnya mereka pindah ke rumah tersebut, dan segalanya langsung berubah. Buku ini sangat menghibur. Mungkin semua dongeng atau cerita anak yang memiliki tokoh binatang memang selalu menyenangkan, layaknya film-film Disney yang sangat familiar. Jalan cerita yang asyik untuk diikuti (meski sangat predictable, tapi masih ada unsur-unsur kejutan yang muncul sesekali), karakter binatang-binatang pengerat yang lucu, dan terjemahan yang enak dibaca.

Kabar Resensi Pekan Pertama Juni 2011

Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

jakartabeatLike This

Karya Jakartabeat.net

Resensi ditulis Furqon Ulya Himawan

Dimuat MEDIA INDONESIA, 4 Juni 2011

Ruangan lantai atas Kedai Kebun Forum, berlangsung sebuah diskusi buku berjudul like this, dan mengambil tema, Jurnalisme Musik dan Relevansinya sebagai Media Kritik Sosial. Buku setebal xii + 440 halaman ini dibedah langsung oleh penerbitnya Jakartabeat.net. M. Taufiqurrahman, pembicara pertama dari Jakartabeat.net mengaku lahirnya buku Like This merupakan ketidakpuasan terhadap media Mainstream yang hanya menulis tentang musik sebagai formalitas sehingga terjebak dalam pusaran tren, gaya, bahkan teknik bermusik saja. Dalam diskusi buku itu, juga hadir Wisnu Martha, Dosen komunikasi UGM, sebagai pembicara kedua. Ada juga Riski Sumerbee selaku musikus yang menjadi pembicara ketiga. Semua pembicara juga sepakat bahwa pemain musik dan jurnalis sama-sama melakukan perubahan dan kritik terhadap kondisi sosial.

Ekonomi Hijau (Green Economy)

Karya Surna Tjahja Djajadiningrat | Yeni Hendriati | Melia Famiola

Resensi ditulis Redaksi Kompas

Dimuat KOMPAS, 5 Juni 2011

Pendekatan buku ini tidak biasa karena tidak langsung membahas tentang ekonomi hijau. Uraian justru diawali dengan bab tentang paradigma yang mengabaikan keberlangsungan lingkungan, diikuti internalisasi lingkngan dalam kebijakan ekonomi, fungsi dan jasa ekosistem, nilai sumber ekonomi sumber daya alam, dan seterusnya. Selain itu juga mengingatkan bahwa implementasi prinsip ekonomi hijau membutuhkan kreativitas, pengetahuan, dan kesertaan masyarakat. Oleh karena itu, perlu perancangan proses ekonomi baru dengan pedoman sepuluh prinsip ekonomi hijau yang memungkinkan penegakan prinsip ekologi berjalan seiring dengan transformasi sosial dan kehidupan ekonomi.

Islam, Sekularisme, dan Demokrasi Liberal: Menuju Teori Demokrasi dalam Masyarakat Muslim

Karya Nader Hashemi

Resensi ditulis Dudi Sabil Iskandar

Dimuat KORAN TEMPO, 5 Juni 2011

Cara pandang Hashemi sebenarnya tidak berbeda dengan Fethullah Gulen, tokoh dialog lintas agama asal Turki, bahwa sekularisasi bukanlah oposisi terhadap agama dan tidak harus dipahami sebagai campur tangan agama dalam gaya hidup masyarakat. Hubungan Islam dan demokrasi, menurut Hashemi, tak hanya saling melengkapi, tapi juga sejalan dengan napas Islam sejak kelahirannya. Ia memberi tiga argumen berbobot. Pertama, dalam masyarakat dimana agama menjadi simbol identitas, jalan demokrasi liberal harus melewati pintu politik agama. Kedua, demokrasi liberal membutuhkan sekularisme, sedangkan tradisi agama tidak dilahirkan inheren sekuler dan memiliki konsepsi khusus tentang demokrasi politik. Ketiga, ada hubungan yang intim antara reformasi agama dan perkembangan politik.

Laduni Quotient (Model Kecerdasan Masa Depan)

Karya Ilung S. Enha

Resensi ditulis Saiful Amin Ghofur

Dimuat JAWA POS, 5 Juni 2011

Buah pena Ilung S. Enha ini hendak membongkar mistisme ilmu laduni. Laduni Quotient (LQ) sesungguhnya merupakan kecerdasan pemikiran yang bersifat rohaniah. LQ tak datang dengan tiba-tiba dan, Ilung dengan trengginas membabar segugus peranti metodologis dalam upaya pencapaian LQ. LQ mengungsung misi memadukan perangkat kecerdasan otak dan perangkat kecerdasan hati otak dan perangkat kecerdasan hati, untuk kemudian dihubungkan ke pusat atmosfer energi roh.

Tokoh + Pokok

Karya Goenawan Mohamad

Resensi ditulis Akhmad Sekhu

Dimuat JAWA POS, 5 Juni 2011

Pembahasan buku ini yang memuat tokoh-tokoh Indonesia, mulai Bung Hatta, Bung Karno, Chairil Anwar Gus Dur, Kartini, Nurcholish Madjid, Pramoedya Ananta Toer, Rendra, Sjahrir, Tan Malaka, hingga Wolter Monginsidi. Sembilan tokoh itu tentu sudah dikenal masyarakat Indonesia, baik sepak terjang maupun kehidupannya. Tapi, di tangan GM, mereka menjadi “lain”. Sembilan tokoh itu “dihidupkan” untuk didiskusikan sisi kompleksitasnya sebagai seorang tokoh dan juga sebagai manusia biasa.

Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia

Karya Akmal Nasery Basral

Resensi ditulis Baramma Aji Putra

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 5 Juni 2011

Inilah novel yang hadir dan menegaskan diri sebagai novel perjangan. Novel ini berkisah tentang Syafruddin Prawiranegara yang memimpin RI selama 207 hari. Setelah Bung Karno, Bung Hatta dan sejumlah menteri RI dikenakan tahanan rumah Belanda, dengan cerdas elite RI mengirimkan telegram kepada Kuding, sapaan akrab Syafruddin yang waktu itu di Bukitinggi Sumatra Barat. Melalui rapat sederhana, Kuding dan beberapa pejabat RI yang tersisa berhasil membentuk Pemerintahan Darurat RI (PDRI).

Menghancurkan Kerajaan Iblis dalam Diri Anda

Karya Ferdi Godjali

Resensi ditulis Ronny SV

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 5 Juni 2011

Begitu nikmatnya pengalaman yang diberikan setan pada manusia, hingga manusia tak bisa lagi merasakan bahwa itu adalah dosa. Buku ini sangat tepat dihadirkan untuk mencegah jangan sampai manusia terjebak, menghadirkan kerajaan iblis didalam dirinya. Berbagai strategi yang disodorkan buku ini untuk membentangi agar tak terbentuk kerajaan iblis dan menghancurkan kerajaan iblis, kalau memang sudah terbentuk dan mengakar dalam tubuh manusia.

Rambu-Rambu Jurnalistik: Dari UU  hingga Hati Nurani

Karya Sirikit Syah

Resensi ditulis Iksan Basoeky

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 5 Juni 2011

Melalui buku ini, Sirikit memberi batasan tertentu bagi seorang jurnalis dalam menjalankan profesinya. Batasan yang dimaksud adalah rambu hukum, kode etik jurnalistik yang harus dipatuhi. Kode etik jurnalistik perlu dipatuhi sebab merupakan kaidah penuntun dan sekaligus memberi arah tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan jurnalis dalam menjalankan tanggung jawabnya. Buku ini penting dijadikan pedoman seorang jurnalis dan mereka yang bekerja dibidang penerbitan media, agar dapat menerapkan praktik-praktik terbaik dalam jurnalisme.

Nyaman Hamil dan Melahirkan

Resensi ditulis Susie evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 5 Juni 2011

Hamil dan melahirkan adalah fitrah yang harus dijalani perempuan. Buku pertama The preganancy Handbook karya Nadia Mulya mengungkapkan bagaimana problema ibu hamil. Hamil identik dengan perut buncit, badan melar, susah bergerak. Pada masa awal makanan tidak ada yang masuk. Setelah itu maunya makan dan makan terus. Ada pula buku kedua Panduan Mempersiapkan Kelahiran karya William Sears, MD dan Martha Sears, RN. Buku ini mengajak pembaca untuk mempersiapkan kehamilan hingga proses melahirkan. Melahirkan perlu persiapan yang matang. Buku ini mengungkap dua latihan melahirkan yang terbaik bagi para bumil. Pertama conditioning exercises melatih otot dan jaringan yang akan digunakan pada saat melahirkan. Kedua aerobic exercises adalah latihan memperlancar penyerapan oksigen dan menguatkan otot jantung.

Diksi Rupa, Kumpulan Istilah dan Gerakan Seni Rupa

Karya Mikke Susanto

Resensi ditulis Tubagus P Svarajati

Dimuat SUARA MERDEKA, 5 Mei 2011

Buku ini memuat lebih dari 2.800 entri yang mencakup istilah dan gerakan seni rupa. Entri-entri itu berasal dari kebudayaan Arab, Bali, Batak, Jawa, Belanda, Cina, Inggris, Prancis, Jerman, Latin, Mesir, Persia, Portugal, Rusia, Sanskerta, dan Spanyol. Umumnya setiap entri disebutkan tiap katanya. Entri dalam bahasa Inggris yang berasal dari kata lain, seperti Latin, misalnya, akan diterangkan muasalnya. Selain seni rupa “modern” umum seperti patung, lukisan, desain, buku ini juga memuat seni rupa “kontemporer” (antara lain komik, mural/grafiti, digital, instalasi, performans, video, arsitektur, fotografi, wayang, batik, kersis, keramik, tekstil dan beberapa seni rupa tradisonal lain. Buku ini juga mencatat lembaga seni yang dianggap penting seperti Rumah Seni Cemeti, Ruangrupa, dan common room.

The Science of Luck

Karya Bong Chandra

Resensi ditulis Tea

Dimuat TRIBUN JOGJA, 5 Juni 2011

Bong Chandra, seorang motivator muda Indonesia, memaparkan tentang 12 rahasia menciptakan keberuntungan secara ilmiah. Buku The Science of Luck ini memang luar biasa, sebab penulisannya mampu memberikan ide-ide cemerlang yang dibeberkan secara lugas dan ilmiah. Buku The Science of Luck bisa menjadi panduan bagi pembaca yang ingin mengubah nasibnya, mendapat keberuntungan tanpa harus lewat jalan mistik. Disini penuis menekankan bahwa setiap orang berhak beruntung, karena keberuntungan itu milik semua orang yang memiliki kemampuan untuk menciptakannya. Untuk mencapai keberuntungan kita harus harus tahu kapan waktu yang tepat untuk mencapainya. (Aya/IBOEKOE)

Kabar Resensi Sepekan di Blog Buku

blog bukuEdisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah blog buku di Indonesia. Kabar Resensi ini disusun kontributor blog dari Bandung, HERNADI TANZIL

Seksualita Kamu Berjubah

karya Romo Paul Suparno, SJ

Dimuat di Blog “For Book Lovers” http://monicpecintabuku.blogspot.com/

Diposkan, 29 Mei 2011

Buku ini mengangkat bagaimana seharusnya kaum rohaniwan menyikapi seks dalam keseharian mereka. Kaum rohaniwan harus dapat memahami arti seksualitas dan dapat menyikapinya dengan baik. Jangan sampai ada rohaniwan yang menolak segala yang terkait dengan seksualitas, menghindari lawan jenis karena merasa mereka sebagai penggoda atau merasa diri menjadi kotor pada saat tengah merasakan dorongan seksualitas. Karenanya mereka harus dapat mengintegrasikan seksualitas dan dorongannya tersebut ke arah pelayanan pada sesama. Romo Paul dalam buku ini juga menjelaskan bahwa tak ada keburukan pada relasi yang bersifat intimacy, solitude dan loneliness; ASALKAN masih dalam batas kewajaran dan dapat diarahkan ke tujuan yang benar dan mengatasinya dengan bantuan Tuhan melalui relasi pada sesama.

“Things Fall Apart” karya Chinua Achebe

Dimuat di Blog Surga Bukuku, http://surgabukuku.wordpress.com/

Diposkan 30 Mei 2011

Novel kultural Nigeria ini menceritakan Okonkwo, seorang lelaki bangsa Ibo – Nigeria yang terkenal tangguh yang memiliki tiga istri dan sebelas anak. Okonwo ini sesungguhnya sangat takut terhadap kegagalan dan kelemahan, ia takut menyerupai ayahnya, yang dianggap seorang pecundang oleh klan Ibo. Dia juga terobsesi menjadi pria sejati, pria yang kaya, kuat, dan dihormati, karenanya dalam sebuah peristiwa ia tega membunuh anak angkatnya sendiri karena takut dianggap lemah. Tetapi semua pencapaiannya menghadapi tantangan nyata ketika misionaris Kristen mulai merambah benua Afrika. Perlahan mereka mencerabuti tradisi dan budaya kaum Ibo. Novel Things Fall Apart memberi banyak wawasan baru mengenai adat istiadat dan budaya klan Ibo di Nigeria.

Of Bees and Mist karya Erick Setiawan

Dimuat di Blog “My book Reviews Cornet” http://annisaanggiana.wordpress.com/

Diposkan, 29 Mei 2011

Novel ini bercerita tentang pengalaman hidup seorang perempuan bernama Meridia dibesarkan di sebuah rumah dimana ayah dan ibunya tidak berbicara satu sama lain. Banyak keganjilan dalam rumah tersebut. Ketika berumur 16 tahun Meridia bertemu dengan Daniel dan menikah di keluarga barunya Meridia menemukan seteru abadinya, dan juga lebah-lebah. Kejadian demi kejadian membuat Meridia harus bertarung untuk mempertahankan keluarga kecilnya. Seiring berjalannya waktu rahasia keluarganya perlahan-lahan terbuka. Erick Setiawan berhasil menciptakan cerita realisme magis yang memikat. Buat saya, tidak kalah asik seperti membaca karya-karyanya Gabriel Garcia Marquez atau Isabel Allende. Penokohan dalam cerita ini juga sangat baik. Jarang sekali menemukan tokoh seperti Eva yang alaihim nyebelin, jahat dan manipulatifnya.

Dari Datuk ke Sakura Emas karya Anwar Fuadi et al

Dimuat di Blog “Book to Share” http://perpuskecil.wordpress.com/

Diposkan, 27 Mei 2011

Keempat belas cerita dari 14 penulis dalam buku yang seluruh hasil royaltinya akan disumbangkan sepenuhnya untuk PDS HB Jassin ini membawa kita terombang-ambing, mulai dari cerita berbau adat, bersetting di Jepang, bertokoh perempuan muda sampai laki-laki tua. Semua membawa kita ke dimensi yang berbeda, dengan gaya penceritaan masing-masing yang unik namun sama kuatnya. Membaca tulisan A.Fuadi yang bertutur detail, dengan Sitta Kirana yang bergaya ala teenlit, tentu menimbulkan kesan berbeda, namun sama mengasyikkannya.

Habibie: Kecil tapi Otak Semua karya A. Makmur Makka

Dimuat di Blog Buku Bermutu http://novalmaliki.blogspot.com/

Diposkan, 26 Mei 2011

Buku tentang B.J. Habibie ini berbeda dengan buku sejenis dalam hal setting dan nuansanya. Karena rentang waktu kejadian yang cukup panjang, maka urutan kejadian disusun tidak berdasarkan kronologis waktu dan aktualitas, tetapi berdasarkan sekat-sekat tema yang sesuai setiap kejadian dan kisah. Sejumlah kisah yang disajikan dalam buku ini merupakan kisah yang dialami penulisnya, maupun dikutip dari berbagai narasumber. Banyak kemungkinan yang bisa tergali dalam buku ini yang disuguhkan secara manusiawi; penderitaan, kesedihan, keluguan, pengorbanan, dan lain-lain. Semuanya menghadirkan serba-serbi kehidupan sang technosof.

Utusan Damai di Kemelut Perang – Peran Zending dalam Perang Toba karya Uli Kozok

Dimuat di Blog “Baca Buku” http://ravibooks.blogspot.com/

Diposkan, 25 Mei 2011

Buku yang ditulis oleh Profesor Uli Kozok, ketua jurusan bahasa Indonesia di Universitas Hawaii ini tidak saja menguraikan sejarah penyebaran agama Kristen di Sumatera Utara oleh Misi Protestan Jerman pada tahun 1860 – 1897, namun juga ideologi yang mendasari misi tersebut dan hubungan antara zending dengan pemerintah kolonial, yang saling mendukung satu sama lain. Penulis buku ini juga berusaha mengungkapkan, bahwa tujuan dan aktivitas zending ini tidak sungguh-sungguh mulia atau sejalan dengan perjuangan bangsa. Membaca buku ini akan menambah pengetahuan kita tentang sebagian sejarah Sumatera Utara yang cukup menarik, yang diuraikan dengan ringkas dan jelas, antara lain disertai dengan terjemahan beberapa surat para misionaris saat perang Toba.

Darmacinta karya Sri Wintala Achmad

Dimuat di Blog “Baca Biar Keren!” http://dionyulianto.blogspot.com/

Diposkan, 24 Mei 2011

Membaca Darmacinta seperti membawa kita kembali ke zaman ketika fiksi dan fakta masih bercampur baur, tempo ketika mitos, legenda, dan epos seolah mewujud dan terbuktikan kebenarannya. Pakem utama ceritanya sendiri adalah tentang pengembaraan Jaka Prayaga dan Dewi Erawati dengan latar belakang situs Candi Borobudur dan candi-candi sekitarnya, lingkungan alam tanah Jawa pada milenium pertama setelah Masehi, Kerajaan Medang Kamulan (840-856 M), Empu Sendok (abad ke-10), hingga terjadinya Maha Pralaya (1006). Tidak hanya perjalanan semata, di dalamnya diselipkan kisah-kisah pewayangan, asal-usul pulau Jawa, penancapan Gunung Tidar oleh Sang Hyang Ismaya agar pulau Jawa tidak terombang-ambing di samudra yang luas, serta kisah-kisah penuh hikmah zaman kuno yang mungkin belum pernah kita dengar walaupun versinya mungkin sudah tidak asing lagi.

Kabar Resensi Pekan Keempat Mei 2011

Koran1Berikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.

86

Karya Okky Madasari

Resensi ditulis Damhuri Muhammad

Dimua KOMPAS, 29 Mei 2011

Dalam novel ini, dunia “lapan-enam” dijelaskan sebagai dunia yang tak lagi tabu, tetapi dunia yang serba tersingkap, serba di benarkan. Dunia yang memelintir kejujuran dan kesetiaan pada kebenaran menjadi cacat historis. Kronologi kisah Arimbi sejak lulus kuliah hingga merantau ke Jakarta lalu diterima sebagai PNS, terasa linear dan datar, sebagaimana kisah orang-orang yang merantau ke Jakarta yang tervisualisasikan dalam fil-film Indonesia tahun 80-an. Lantaran praktik suap-menyuap yang terjadi di lingkungan kerja Arimbi, tak tanggung-tanggung, gadis itu terobsesi hendak mengubah nasibnya dengan jalan pintas itu. Dalam novel ini juga diceritakan ketika Arimbi tertangkap tangan oleh KPK dengan tuduhan menerima suap guna memenagi sebuah perkara besar.

Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia

Karya Prof Dr Raghib as-Sirjani

Resensi ditulis Andree Priyanto

Dimuat KORAN TEMPO, 29 Mei 2011

Dalam buku setebal 880 halaman ini penulis fasih menjelaskan tentang peradaban Islam, yang istimewa dari sudut pandang ilmiah dengan dukung sejumlah fakta data serta alasan-alasan yang nyaris tak terbantahkan. Salah satu perkara yang menarik yang ditulis Dr Sirjani dalam bukunya ini, yang jarang disoroti penulis lainnya, adalah peranan kaum muslim dari sisi akidah, pemikiran, dan sastra. Menurut dia, ketiga hal tersebut memberi sumbangan terhadap kebesaran peradaban Islam pada masa itu. Sementara pada masa itu negara-negara Barat berupaya melepaskan diri dari agama, dunia Arab justru sebaliknya.

Cemburu itu Peluru

Karya Oddie Frente | Andi Tantono | Kika Dhersy Putri |Novita Poerwanto | Erdian Aji

Resensi ditulis M. Syarif Mansyur

Dimuat JAWA POS, 29 Mei 2011

Cemburu itu Buta merupakan kompilasi flash fiction yang dirangkai lima penulis. Disusun dari 20 flash fiction masing-masing penulis yang keseluruhannya berjumlah 100 cerita. Beberapa cerita menegaskan kisah akhirya, namun tak sedikit pun yang membiarkan Anda menyimpulkan sendiri kisah akhirnya. Seperti salah satu judul cerita seperti Sehari Saja menceritakan kecemburuan lelaki terhadap pengalihan kasih sayang istrinya kepada janinnya sendiri. Hal lain yang menarik pada buku ini adalah konsep kemasannya yang dipaketkan dengan DVD yang berisi sembilan film pendek.

Negara Paripurna

Karya Yudi Latif

Resensi ditulis Ahan Syahrul

Dimuat JAWA POS, 29 Mei 2011

Dalam buku ini, Yudi menggambarkan dengan sangat detail segi-segi paling utama dari negara. Pilar kehidupan berbangsa yang sudah selesai disusun oleh para pendiri bangsa. Karya ini dipaparkan Yudi menunjukan relevansi Pancasila terhadap kehidupan berbangsa.  Mulai proses kelahirannya, rasionalitas, hingga pembumian nilai-nilainya. Yudi mampu memaparkannya secara ringan, tanpa menghilangkan substansi nilai-nilai yang terkandung. Itu membuat Pancasila begitu nyaman untuk dipelajari dan dihayati.

Anak Arloji

Karya Kurnia Effendi

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 Mei 2011

Anak Arloji merupakan salah satu judul cerpen yang berada di dalam buku menawan ini. Pemicunya sepele saja sebuah arloji. Arloji ini pemberian dari seorang dokter yang biasa menghadiahkan barang yang berkaitan dengan waktu tersebut kepada pasien yang anak dalam kandungannya diyakini akan lahir dengan selamat. Dan ada seseorang anak yang anaknya memang lahir dengan selamat, tapi beberapa waktu kemudian meninggal, padahal ia juga mendapat hadiah arloji dari dokter yang baik itu. Kecemasan dan kegelisahan yang luar biasa menghantui hati manusia yang ‘curiga’ terhadap takdir.

Senar Mesem

Karya R Toto Sugiharto

Resensi ditulis Satmoko Budi Santoso

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 Mei 2011

Novel bertajuk Semar Mesem ini adalah novel yang mencoba mendudukkan diri pada upaya penggalian tokoh alternatif yang diharapkan menjadi contoh budi baik. Semacam suri tauladan. Tokoh tersebut, ternyata bisa dijumput dari epos dunia pewayangan yang akrab menjadi hiburan masyarakat. Melalui tokoh Semarlah penulis novel buku ini mencoba menggali sejumlah contoh konsep, pemikiran, filosofi, maupun tidakan Semar. Dari sudut pandang yang sering cenderung berperspektif humor aspek penceritaan dalam novel ini mengalir lancar. Penulis bagai dalang mbeling yang lincah mengkritik berbagai pihak, terutama yang berkaitan dengan upaya mewujudkan kemakmuran rakyat.

Aborsi di Indonesia Dalam Angka

Karya dr Titik Kuntari MPH

Resensi ditulis H lip Wijayanto Msi

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 29 Mei 2011

Ketika membaca buku ini, kita akan menjadi tahu bahwa aborsi adalah masalah paling serius bagi perempuan modern melebihi penyakit kanker serviks, kanker payudara dan lain-lain. Aborsi kriminalis memiliki probabilitas kegagalan yang sangat besar karena umumnya memang dilakukan secara mal-praktik yang berujung kepada kematian (mortalitas) perempuan yang melakukannya.

1435 Detik-detik Jatuhnya Konstantinopel ke Tangan Muslim

Karya Roger Crowley

Resensi ditulis Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 29 Mei 2011

Kaum nasionalis modern menganggap pengepungan Konstantinopel sebagai perang antara Yunani dan Turki. Anggapan yang keliru. Kedua belah pihak tidak akan terima. Konstantinopel adalah garis depan perseteruan panjang antara Islam dan Kristen demi keimanan yang hakiki. Konstantinopel menjadi incaran karena lebih dari seribu tahun sebagai pusat dunia Barat. Ancaman dan gempuran menjadi langganan Konstantinopel. Namun, kota yang dianggap sebagai surga dunia ini sanggup bertahan dan semakin berkuasa. Ajalnya jatuh di tangan Sultan Usmani dengan berbekal senjata canggih, armada laut yang tangguh dan puluhan ribu pasukan setia melawan Konstantinopel. Suku ini memiliki ciri yang khas dibandingkan orang Byzantium. Penyerbuan demi penyerbuanUsmani ke Konstantinopel dirinci oleh penulis dengan detail.

Hukum dan Ancaman Keberlangsungan Industri Rokok

Penyunting Zamruhi

Resensi ditulis Musyafak Timur Banua

Dimuat SUARA MERDEKA, 29 Mei 2011

Rokok di Nusantara telah mengalami evolusi panjang, menyentuh batas-batas sosial, ekonomi, tradisi, budaya, bahkan agama. Namun hukum di Republik ini masih memperkarakan rokok dengan tidak mencakup segala ranah itu: masih parsial. Buku ini mewakili sebagian ketegangan perbincangan terkait rokok. Di tengah tarik-menarik kepentingan ini, pemerintah ditengarai belum mengambil kebijakan (policy) yang bisa menciptakan kebajikan (wisdom) bagi semua pihak. Mestinya kebijakan pemerintah juga memberikan proteksi kepada perusahaan rokok dalam negeri, jika memang industri tembakau masih diharapkan kontribusi ekonomisnya.

Menjadi Guru Untuk Muridku

Karya ST Kartono

Resensi ditulis Tea

Dimuat TRIBUN JOGJA, 29 Mei 2011

Buku ini berisikan kisah inspiratif yang ditulis dalam bahasa lugas dan mudah dicerna. Ada 70 cerita yang ditulis ST Kartono mengenai pengalaman antara guru dan murid. Salah satunya yang berjudul Guru Inspiratif. Selain kisah guru inspiratif juga ada kisah lainnya seperti belajar konsisten, mengoreksi dengan tinta merah, menutup pintu gerbang, guru yang mengajarkan kejujuran, membiasakan berterima kasih, hingga guru yang sukanya menghukum siswa.

Kartosoewirjo Mimpi Negara Islam

Karya Nugroho Dewanto

Resensi ditulis Abdul Hopid

Dimuat HARIAN JOGJA, 26 Mei 2011

Buku ini memberikan wawasan tentang gerakan NII di Indonesia jelas menggambarkan  bagaimana metamorfosis gerakan paham NII, terutama pasca 1962 sampai tahun 2000-an, bahkan sampai sekarang. Ada mata rantai gerakan yang tidak terputus, selalu ada penerus untuk cita-cita negara Islam. Buku setebal 145 halaman ini berisi tentang persoalan kekinian yang yang sedang hangat dibicarakan media, yaitu tentang NII. (Aya/IBOEKOE)

Kabar Resensi Pekan Ketiga Mei 2011

KoranBerikut ini adalah KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia.


Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar & Zuraida Sanawi.

Karya Rosihan Anwar

Resensi ditulis ST Sularto

Dimuat KOMPAS, 22 Mei 2011

Membaca buku ini ibarat membaca novel. Sebuah memoar percintaan yang dikemas sebagai memoar otobiografi perjalanan hidup Rosihan Anwar. Buku ini secara tidak langsung telah mengangkat sejumlah keteladanan. Keteladanan kerja keras, tidak mudah menyerah, tidak puas, kritis, dan senantiasa menggugat. Tidak hanya upaya kerja keras merebut hati Ida, terutama kedua orangtuanya, tetapi juga sikap kerja dan semangatnya yang terus menulis hingga akhir hayat.*

9 Summers 10 Autumns, Dari Kota Apel ke The Big Apple

Karya Iwan Setyawan

Resensi ditulis Poernomo Gontha Ridho

Dimuat KORAN TEMPO, 22 Mei 2011

Dalam novel ini, Iwan menceritakan perjalanan hidupnya sebagai anak sopir angkot di Kota Batu, Malang, hingga sukses bekerja di AC Nielsen, perusahaan multinasional di New York, Amerika Serikat. Iwan menceritakan kisah hidupnya kepada seorang bocah laki-laki yang ditemuinya ketika Iwan dirampok dan dipukuli berandalan. Saat itu Iwan bergegas menuju ke Manhattan untuk melihat pesta kembang api dalam menyambut hari kemerdekaan. Selain kisah hidup Iwan, novel ini juga menceritakan perjuangan orang tua, kakaknya, dan Iwan hingga bisa kuliah di Institut Pertanian Bogor Jurusan Statistika. Menjadi lulusan terbaik dan mendapat pekerjaan di perusahaan multinasional sampai akhirnya mendapat tawaran di New York dan bermukim di sana selama 10 tahun.*

Gurita Pacitan

Karya M. Ari Mukhlason | Aswika Budhi Arfandy | Guntur S. Prabandaru

Resensi ditulis  Bambang H Irwanto

Dimuat  JAWA POS, 22 Mei 2011

Dalam buku ini penulis menyorot bahwa kegiatan pertambangan banyak mendatangkan kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten pacitan. Selain itu disuguhkan  data-data berita media yang sudah pernah dilansir, baik cerita maupun elektronik. Dalam buku ini, berbagai problem di Pacitan disorot. Mulai pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS), penegakan hukum, dan tudingan terjadinya kriminalisasi, pendidikan, pertanian, kondisi infrastruktur, kesehatan, serta kehutanan hingga pariwisata.*

Tinggalkan Sekolah sebelum Terlambat, Belajar Cerdas Mandiri dan Meraih Sukses dengan Metode Bajak Laut

Karya James Marcus Bach

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat  JAWA POS, 22 Mei 2011

Buku ini bercerita tentang tentang kegembiraan kita karena bertanggungjawab atas pemikiran-pemikiran kita sendiri. Tulisannya blak-blakan, liar, dan nakal, namun sangat inspiratif. Sementara itu, metode-metodenya belajar ala bajak laut sangat unik dan ingin mentransfer cara belajar mandiri kepada pembaca. Buku ini adalah karya cerdas tentang cara menjadi orang cerdas yang berbeda. Selain itu juga buku ini ingin mendekonstruksi kemapanan sistem pendidikan yang berlangsung di berbagai belahan dunia. Sebagaimana diakui penulisnya, buku ini tidak berbicara tentang sekolah. Namun, Bach berbagi pengalamannya tentang sekolah untuk menekankan beberapa perbedaan antara mendidik diri sendiri dan pendidikan formal.*

Bisa Asal Mencoba (Kumpulan Cerita Anak)

Karya Maftuha Jalal

Resensi ditulis Subagjo

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Mei 2011

Bisa Asal Mencoba, demikian salah satu judul buku cerita yang ada dalam buku ini, yang kemudian diangkat pula oleh penulisnya menjadi judul dari buku ini. Buku ini merupakan kumpulan cerita anak. Setiap cerita dalam buku ini kita akan menemukan delapan cerita yang semuanya tentunya memiliki nilai hikmah kehidupan atau pelajaran sendiri-sendiri.*

Reality Check: Panduan Blak-blakan Untuk Mengungguli Pesaing Bisnis

Karya  Guy Kawasaki

Resensi ditulis Iksan Basoeky

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 22 Mei 2011

Dalam buku ini penulis memberikan kunci sukses bagaimana menghadapi pasar, memainkan nama, branding, membuat kerangka analisis dan strategi masuk pasar kaum global. Dalam konteks penjualan itu sendiri, penulis mengajak sang penjual lebih peka terhadap situasi di lapangan.*

Putihkan Internet

karya Redaksi Republika

Resensi ditulis Slamet Riyanto

Dimuat REPUBLIKA, 22 Mei 2011

Buku yang terbagi menjadi enam bagian ini bercerita bagaimana kalangan pesantren bersentuhan dengan internet. Dalam bab pertama buku ini mengulas sejarah dan peran pesantren sebagai salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Bab dua buku ini memaparkan berbagai contoh kesenjangan penguasaan teknologi Indonesia. Bab ketiga buku dengan ketebalan 189 halaman ini mengulas dilema masuknya teknologi khususnya internet di lingkungan pesantren. Selain itu buku ini juga merangkum testimoni dari para kiai dan ustadz tentang pentingnya internet di pesantren sebagai media dakwah. Dipaparkan pula secara matematis pentingnya memutihkan internet.*

Banalitas Kekerasan, Telaah Pemikiran Hannah Arendt tentang Kekerasan Negara

Karya Rieke Diah Pitaloka

Resensi ditulis Ahmad Khotim Muzakka

Dimuat SUARA MERDEKA, 22 Mei 2011

Dalam buku ini Rieke menyebut lima syarat agar penerapan hukum tak terperosok ke dalam tindakan kekerasan. Pertama, pemerintahan  berdasarkan pada konstitusi. Kedua, asas legalitas menunjukan yang merujuk pada hukum yang berlaku. Ketiga, pemisahan kekuasaan dalam fungsi pemerintahan, keempat kebebasan kekuasaan kehakiman. Yang terakhir, jaminan perlindungan terhadap kebebasan dan hak asasi manusia.*

Kekuatan Diam

Karya Louis Couperus

Resensi di tulis Tea

Dimuat TRIBUN JOGJA, 22 Mei 2011

Novel ini berkisah tentang pemberontakkan terhadap pemerintah kolonial Belanda, serta bangkitnya gerakan tak terlihat dari suku-suku di Indonesia untuk merebut kemerdekaan. Novel yang berkisah tentang kehidupan Indonesia tempo dulu, namun dituturkan dalam sudut pandang orang Belanda. Penulis menyoroti peradaban timur yang kaya dan misterius . Dia menggambarkan Van Oudjick untuk memberadabkan pribumi dan memperkuat nilai-nilai Eropa. Buku ini rencananya difilmkan di Belanda. Pengarang mengangkat pemikiran dan pandangan orang Belanda tentang masyarakat Jawa dan filosofinya, cara mereka menyikapi alam dan kekuatan yang ada di dalamnya dan juga takhayul. (Aya/IBOEKOE)

Sekilas tentang Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku

Warning: INI BUKAN REVIEW.

Saya hanya akan menulis sekelumit kesan-kesan pribadi mengenai buku Berguru Pada Pesohor ini, karena bakal agak aneh kan kalau saya meresensi buku panduan meresensi buku? (mulai jelimet…)

Buku Limited Edition yang sukses bikin saya penasaran ini kemarin mendarat juga di tangan saya. Bikin penasaran karena buku ini mengupas teknik-teknik dan berbagai tips untuk meresensi buku. Dan tentu saja bikin penasaran karena daftar blog buku Indonesia yang dimuat di bagian akhir buku ini, walaupun sudah pernah melihat beberapa fotonya di note FB nya mbak Truly Rudiono, tapi tetep aja penasaran pingin lihat secara langsung :D

Keren kan kalo blog anda dimuat di buku (congkak mode on :D )

Sekilas membaca-baca sebagian isi buku ini, saya mengambil kesimpulan kalau buku ini sebenarnya diperuntukkan bagi mereka yang ingin menekuni resensi buku secara serius, dan arahnya lebih ke media cetak (koran berskala nasional atau daerah) ketimbang dunia maya. Resensi-resensi yang dimuat sebagai contoh dalam buku ini pun kebanyakan adalah resensi buku-buku “kelas berat”, misalnya buku-buku Pramoedya Ananta Toer dan Goenawan Mohamad. Belum lagi berbagai buku non fiksi yang judulnya berbunyi seperti, “Abad Prahara, Ramalan Kehancuran Ekonomi Dunia Abad ke-21”, “Utang dan Korupsi Racun Pendidikan”, “Sosialisme Religius: Suatu Jalan Keempat”.

Aduh ampuuuuuuun, saya sejauh ini nggak sanggup melahap buku-buku macam beginiaaaannn….!!! Bisa jadi benar apa yang ditulis penyusun pada bab Halaman Resensi Buku di Internet tentang para blogger buku:

Mereka adalah generasi peresensi baru buku dengan menggunakan medium baru yang lebih egaliter dan lebih leluasa. Jika generasi peresensi lama masih memperebutkan halaman-halaman koran nasional dan daerah dengan mempertimbangkan selera redaktur buku masing-masing koran tersebut, maka generasi baru ini membaca buku dan menuliskannya kembali dengan semangat sangat personal tanpa takut tulisannya ditampik.

– hal. 239

Mereka adalah pembaca yang ingin bersenang-senang dengan buku. Mereka mencoba melihat buku sebagai barang mainan dan hiburan yang tak perlu dipandang berat, apalagi harus dilihat dengan kaca pembesar segala.

– hal.241

I read for fun! I read for pleasure! Saya yakin sebagian besar teman-teman blogger buku setuju dengan pernyataan saya ini.

Namun, teknik-teknik dan tips menulis resensi yang dijabarkan dalam buku ini benar-benar membantu mereka yang ingin belajar menulis resensi buku dengan baik dan benar (seperti saya). Walaupun (mungkin) tak ada niat untuk terjun dalam dunia resensi buku di media cetak, buku ini memberikan tambahan ilmu berharga bagi para pecinta buku yang suka menulis resensi. Dan kedua penulis, Diana AV Sasa dan Muhidin M. Dahlan, sangat-sangat kompeten di bidangnya untuk menyusun sebuah buku seperti Berguru pada Pesohor ini.

Dan ternyata, saat membolak-balik halaman-halaman buku ini, saya beberapa kali ketemu dengan nama Hernadi Tanzil. Bahkan ada foto sang rahib 1 halaman penuh! Bisa ditebak deh bagaimana kiprah sang rahib dalam dunia resensi buku sampai namanya jadi sebeken itu. (hormat pada rahib, mohon ilmu… #edisi serial silat) =p

Oh ya, sedikit saja kritik tentang fisik buku… Bahan kertas covernya terlalu tipis, jadi gampang rusak. Judul bab yang ada di bagian kanan atas halaman kadang-kadang hurufnya tidak tercetak dengan benar (loncat). Juga ada beberapa foto yang dimuat di buku ini beresolusi rendah, jadi kurang enak dilihat, apalagi dalam warna hitam putih. Semoga menjadi masukan yang membangun buat penerbit.

Ingin tahu lebih banyak atau tertarik memiliki buku ini? Silakan loncat ke link berikut: http://indonesiabuku.com/?p=9308

Oleh: 

Bukan Sekadar Panduan

Masih bingung dan tidak tahu bagaimana meresensi buku? Bacalah buku ini! Ingin tahu rekam jejak sejarah resensi di Indonesia? Bacalah buku ini. Ya, buku ini mengandung dua hal itu. Jadi, boleh dikata buku ini merupakan kiat meresensi buku plus-plus. Kita tidak hanya diberi tahu bagaimana cara meresensi buku, tetapi juga informasi pelbagai kisah dunia resensi tempo doeloe di Indonesia. Gabungan keduanya menjadikan unik dan istimewanya buku ini. Haqqul yaqin, suatu hal yang tidak bisa ditemukan dalam buku-buku sejenisnya.

Buku yang ditulis oleh dua orang ini diawali dengan “iming-iming” manfaat dan keuntungan meresensi buku, dilihat dari sisi psikologi, jaringan, ekonomi, dan keilmuan. Meresensi memberi suntikan spiritualitas bagi penulisnya (psikologi), mengetahui bagaimana cara menulis buku (keilmuan), di samping mendapatkan kemasyhuran (jaringan), dan meraup rupiah (ekonomi).

Setelah itu, dijelaskan syarat sah dan rukun meresensi buku. Syarat sahnya cuma satu, yakni membaca. Ya, membaca buku yang hendak diresensi. Membaca hukumnya fardhu ‘ain. “Membaca bagi peresensi adalah pekerjaan mutlak. Bukan peresensi buku kalau tak membaca buku yang diresensinya.” (hlm. 23). Membaca tidak sembarang membaca. Membaca seorang peresensi itu membaca tingkat tinggi. Kedua penulis ini mengibaratkan mata baca seorang peresensi buku itu gabungan dari mata wisatawan dan mata seorang penyidik. Satu sisi memuji, sisi lain mengeritik. Boleh lah saya mengibaratkan hal yang senada, tangan kanan memberikan madu, tangan kiri menyuguhkan racun.

Sedang rukun meresensi buku yakni membuat judul menggugah, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, dan mengunci paragraf terakhir. Ada beberapa jenis judul yang kerap muncul di media massa yang bisa kita tiru, di antaranya: sarkastis; “Aku Menuduh Hamka Plagiat!” (Abdullah SP, Bintang Timur, 7 September 1962), ironi; “Cina, Komunis yang Pro-Adam Smith” (Elba Damhuri, Republika, 23 November 2008), dan tindakan tokoh; “Menyelami Pikiran Kiki Syahnakri” (Moh. Samsul Arifin, Jawa Pos, 18 Januari 2009).

Ada juga yang membuat judul dari segi waktu; “Hikayat Orang Indonesia di Negeri Belanda” (Ahmad Musthofa Haroen, Ruang Baca Koran Tempo, 4 Desember 2008), penulis; “Mencederai Kundera” (Nirwan Dewanto, Tempo, 22 Januari 2001), pertanyaan; “Siapa di Balik Kematian Tan Malaka?” (Yunior Hafidh Hery, Suara Pembaruan Online, 15 April 2007), metafora; “Menulis itu Seperti Para Darwis yang Menari sampai Trance” (Muhidin M Dahlan, Kompas, 1 Juli 2001), dan lain-lain.

Tak jarang orang masih bingung dan kesulitan bagaimana membuat kalimat pertama yang kemudian bisa dikembangkan menjadi sebuah paragraf. Tidak hanya itu, bagaimana membuat paragraf pertama yang membuat orang “jatuh cinta” pada pandangan pertamanya. Ya, paragraf pertama menurut penulis buku ini ibarat halaman rumah. Halaman harus asri nan elok dan memikat; tidak hanya bersih tapi juga harus sesuai “fengshui”-nya, agar orang merasa nyaman saat hendak memasuki rumahnya.

Pembahasan ini menjadi penting, karena ternyata dibutuhkan keahlian dalam membuka paragraf pertama. Penulis buku ini mengumpulkan model-model paragraf pertama yang kerap dipakai oleh para peresensi di pelbagai media massa, yaitu model tema dan metode, pertanyaan, penulis buku, gaya penulisan, deskripsi, kisah yang paling menarik, fisik buku, kritik, kutipan, keunggulan buku, perbandingan, angka unik, dan puisi. Tidak ada alasan lagi bukan untuk merasa kesulitan membuka paragraf pertama?

Tentu saja ada hal yang lebih penting lagi yaitu membuat tubuh resensi. Pembuatannya haruslah fokus, mengarah pada satu sasaran. Tubuh resensi bisa difokuskan pada soal jenis buku (Saleh A. Djamhari, Tempo, 04 Maret 1989), metode penulisan (Muhidin M Dahlan, Jawa Pos, 21 September 2008), tema (Redaksi, Tempo, 21 November 1992), bagian vital (Gatot Widayanto, Ruang Baca Koran Tempo, 28 Desember 2010), atau juga kisah pribadi peresensi yang dikaitkan dengan buku yang diresensinya (Hasan Aspahani, Ruang Baca Koran Tempo, 25 Februari 2009). Dan masih banyak lagi.

Setelah menyelesaikan tubuh resensi, kini tinggal mengunci paragraf terakhir. Paragraf ini berisikan tiga hal: pertama, kepada siapa buku tersebut ditujukan. Rincinya, buku tersebut pas untuk pembaca seperti apa, dilihat dari tema, isi, penyajian, atau bahkan nilai ekonomis. Kedua, kritikan. Hal ini bisa mengeritik pendekatan, terjemahan, desain, riset naskah, maupun tata bahasa. Ketiga, pujian, bisa memuji pendekatan, terjemahan, dan lainnya sebagaimana mengeritik.

Rukun yang terakhir adalah proses akhir penulisan resensi. Jika resensi sudah selesai, tugas selanjutnya adalah pengendapan. Silakan Anda beristirahat sampai pikiran Anda jernih kembali, entah itu tidur, jalan-jalan, maupun kegiatan lainnya. Nah, setelah segar, silakan lihat kembali resensi Anda secara keseluruhan untuk direvisi, siapa tahu ada yang harus dibenahi. Kedua penulis ini menyarankan dua hal dalam proses editing: membaca dengan mengeluarkan suara dan meminta orang lain untuk membacakannya.

Sebagaimana dikatakan di muka bahwa buku ini sejatinya bukan sekadar panduan meresensi buku, tetapi juga tempias dengan kisah-kisah seputar dunia resensi. Misalnya, resensi pembunuh buku yang legendaris yaitu resensi Puradisastra berjudul “Dari Barat, atau Islam?” (Tempo, 16 september 1978). Resensi tersebut membuat buku yang diresensinya ditarik kembali dari pasaran. Dahsyat, bukan? Atau resensi “Aku Menuduh Hamka Plagiat” (Bintang Timur, 7 September 1962) karya Abdullah SP. Resensi ini menyulut kontroversial selama bertahun-tahun. Mahadahsyat, bukan? Nah, data historis semacam itu menjadi kelebihan tersendiri buku ini.

Buku ini merupakan sumbangsih yang amat berharga bagi siapa saja yang mau belajar menulis resensi buku. Sebuah buku yang pantas dibaca juga bagi insan-insan peresensi buku, umumnya pencinta buku. Akhirul kalam, janganlah putus asa dan merasa tak punya bakat meresensi sebelum membaca buku ini. Iqra![]

*) M Iqbal Dawami, penikmat teh dan gogodoh.

PesohorJudul: Berguru Pada Pesohor; Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis: Diana AV Sasa&Muhidin M Dahlan
Penerbit: 1#dbuku
Cetakan: I, April 2011
Tebal: 266 hlm.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan