-->

Arsip Resensi Toggle

Bercinta dalam Gelap | Fredy S

Fredy S, Seks, dan G30S

Oleh Muhidin M Dahlan

Bercinta dalam Gelap, Fredy SFredy S adalah satu dari delapan manusia yang jalan hidup dan bahkan biodatanya misterius dan (kadang) jadi kontroversi di Indonesia: Gunadarma (kepala arsitek Borobudur), penulis buku Darmogandhul yang tak pernah diketahui jatidirinya, Tan Malaka (politisi pengelana yang pada 2009 kuburannya ditemukan Kepala KITLV Belanda Harry A Poeze di Kediri), Supriyadi (pimpinan PETA Blitar), pemuda penyobek bendera Belanda di Hotel Oranje Surabaya, Ki Panji Kusmin (pengarang cerpen Langit Makin Mendung), dan Imam Sayuti alias Tebo (anak yang lahir dengan bulu tebal yang ditengara sebagai hasil persetubuhan antara gendruwo dan Nasikah di Jember; geger Jatim 1990).

Saya memasukkan Fredy S dalam deretan manusia misterius karena nyaris semua yang menggandrungi roman yang ditulisnya tak pernah tahu siapa dan di mana penulis ini berada (walau saya menduga ia adalah orang Sunda dan paling tidak lama hidup dalam tradisi oral Jawa Barat ketika saya pergoki kerap terbalik-balik menulis frase seperti ‘Fasilitas’ ditulis ‘Pasilitas’).

Kerjaan ini mirip ketika saya mencari sosok Ki Pandji Kusmin sewaktu mengeditori buku Langit Makin Mendung (2004) di mana pengantar saya dirutuki pemeran tokoh Aidit dalam film Pengkhianatan, Syub’asa, di majalah TEMPO, sebagai kesimpulan ngawur ketika saya mengatakan anak Ki Pandji Kusmin pernah kuliah di UGM yang artinya tokoh itu ada dan bukan rekaan H.B. Jassin.

Ketika roman seks mengalami orgasme yang kemudian ledakan buku seks itu didulangulang antara tahun 2002-2004, nama Fredy S adalah ikon. Ia penulis roman yang prolifik, lancar ceritanya, memikat plotnya, dan tentu saja merangsang insting purba pembacanya. Laki-perempuan. Apalagi dilengkapi dengan sosoknya yang misterius. Sempurna sudah.

Nyaris di semua romannya—dan ini menjadi ciri buku roman percintaan dan seks yang tak pernah menuliskan satu halaman biodata pengarang—hanya tercantum ini: Fredy Siswanto. Informasi lain-lain tidak. Orang hanya tahu, Fredy penulis seks. Coba saja ketik nama itu di mesin pencari internet, yang tersasar adalah seks. Semua-muanya seks atau pinjam istilah Arswendo Atmowiloto di awal 1990-an: leer. Di tema apa pun, leer menjadi mindset romannya.

Termasuk ketika Fredy S mengeluarkan roman yang panjang yang berlatar politik riuh PKI di sekitar tahun 1964-1965, peristiwa G 30 S, dan pembasmiannya oleh tentara dan eksponen mahasiswa 1966. Bandingkan dengan judul buku putih pemerintah keluaran Sekretariat Negara RI pada 1994: Gerakan 30 September: Pemberontakan Partai Komunis Indonesia: Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya.

Jarang ada roman yang mengangkat tema ini sebagai latar utama. Ajib Rosidi pernah bikin dengan judul: Anak Tanahair (1985). Saskia Wieringa pernah bikin Lubang Buaya (2003).  Beda segalanya dengan Ajib dan Wieringa, Fredy S membawa tema ini dengan sangat menggairahkan ke pembaca novel pop dengan seks, cinta, perselingkuhan, pelacuran, pemerkosaan, penculikan, dan kekerasan sebagai latar mengiringi tahun-tahun mengerikan itu.

Roman G 30 S ala Fredy ini diterbitkan 4 tahun setelah Arifin C Noer merilis film kolosal legendarisnya pada 1984: Pengkhianatan G 30 S/PKI. Seri ini mencakup 6 roman (Heksalogi Terpidana): #1 Bercinta dalam Gelap, #2 Politik Bercinta, #3 Budak Kehormatan, #4 Penghias Kepalsuan, #5 Belenggu Dosa, dan #6 Badai Telah Reda. Dari segi volume halaman, masing-masing buku rata-rata 200-an halaman. Dilihat tebalnya (1200 halaman), pekerjaan Fredy ini tergolong serius.

Ceritanya: seorang wartawati bernama Tuti Adyatma, redaktur Warta Kota, terlibat perselingkuhan dengan anggota parlemen dan sekaligus Sukarnois: Kusup Tular. Ketika Kusup ngebet menjadikan Tuti sebagai istri dalam gelap sepenuhnya, Tuti menolak. Propaganda cinta pun ditebar. Tular menghubungi komplotan pemuda untuk memfitnah suami Tuti agar Tuti mau melepasnya. Intrik-intrik macam begini ditebar Fredy di ribuan halaman romannya.

Dalam roman ini, PKI dan seluruh keluarga besarnya (Pemuda Rakyat, Lekra, Gerwani), pejabat-pejabat di lingkaran Sukarno, adalah komplotan penjahat yang menghalalkan segala cara untuk tujuan politik dan tentu saja hasrat seksnya. Bagi manusia-manusia komunis adalah hal biasa melakukan kekerasan, penipuan, fitnah. Bahkan keluarga mereka terkesan tak ada yang beres. Kusup selingkuh dengan Tuti, istrinya selingkuh dengan sopir Kusup, sementara anak si Kusup selingkuh dengan pacar si sopir.

Ketika Kusup Tular misalnya, menawarkan “proyek seks” ke Pemuda Rakyat (tak eksplisit disebut), gerombolan itu minta syarat: Kusup Tular menggelontorkan dana untuk kelancaran kas sekretariat dan Kusup Tular tahu beres “proyek seks” itu.

Lain kali, ketika “proyek seks” ini hampir gagal total karena umpan pelacur bernama Giwani (Gerwani?) kepada suami Tuti hampir terbongkar, Kusdit dan Jono mengajukan syarat lain: Kusup Tular menandatangani persetujuan mengganyang Manikebu:

“Kami butuh dukungan Pak Tular. Tepatnya kawan-kawan budayawan…. (butuh sebuah) pernyataan politik… mengganyang Manikebu. Bila perlu beberkan latar belakangnya dengan Nekolim. Biar terasa lebih mantap.”; “(Tular): Ah, Manikebu itu kan kelompok kecil. Manifes Kebudayaan kan? Orang-orang itu kan cuma Jassin, Larto, Gunawan, Bur…” (Seri #2: 89-90)

Porsi dialog optimisme orang komunis macam begini disebar Fredy di banyak halaman, khususnya di seri #1-#3. Dan tentu saja dialognya terjadi di sudut cafe remang, di rumah pelacuran, resor Pulau Seribu, hotel mewah, atau dalam mobil di mana Tuti dan Kusup saling mengecup, saling meraba, dan berujung di atas ranjang.

Terasa sekali, tokoh Tuti di sini adalah korban seks ganas pejabat Sukarno yang—pinjam sebait sajak W.S. Rendra—“tiba-tiba tanpa ujung pangkal ia sebut kau inspirasi revolusi sambil ia buka kutangmu”. (1971: 24)

Tokoh-tokoh seperti Tuti itu—walau tak beres secara moral—dibalik Fredy menjadi srikandi yang berjuang di belakang Manikebu dan pers antikomunis untuk menghadapi komplotan pengacau politik Indonesia yang—lagi-lagi pinjam Rendra: “bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi sambil celananya basah”.

Terkesan kuat, Heksalogi Terpidana Fredy ini adalah sebuah pernyataan sikap sebuah orde, bahwa tak ada dalih apa pun membela komunis dan seluruh anasirnya dari dakwaan sejarah, khususnya terbaca di seri #4, #5, dan #6. Mereka harus diganyang sampai ke akar-akarnya. Tak boleh ada kasihan. Mereka pantas menerima karmanya. PKI-lah aktor utama dari semua kerusakan masyarakat.

Maka, Fredy pun menulis berulang-ulang frase ini tanpa ragu: “G 30 S/PKI”. Dalam soal pola penulisan frase kayak gini, maaf, Fredy S sekubu dengan Taufiq Is, khususnya di buku Prahara Budaya (1995) dan Katasrofi Mendunia (2004).

Kehadiran Heksalogi bertema politik, khususnya G 30 S ini, sekaligus mengingatkan bahwa penulis roman pop dan seks macam Fredy S tak boleh dianggap enteng dan remeh. Pekerjaan Fredy S ini adalah pekerjaan politik dengan konsentrasi utama menggarap pembaca roman-roman pop yang jumlahnya sangat besar.

Kabar Resensi Pekan Keempat September 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

69 Panduan Humanis Menghadapi Wartawan

Karya Devie Rahmawati

Resensi ditulis Ricardi Adnan

Dimuat KOMPAS, 25 September 2011

Judul buku Panduan Humanis Menghadapi Wartawan cukup mencolok. Terkesan berat dan ambisius. Namun, faktanya, buku ini tidak tampil dengan ambisi atau pretensi. Yang ada justru ringan, apa adanya, lepas dan blak-blakan. Akan tetapi, kalau boleh menebak, mungkin percik-percik “humanisme” terletak pada buku ini menggiring pembacanya khususnya mereka yang bekerja di bidang kehumasan untuk melihat ulang sesuatu dari sudut pandang para pekerja media.

Hiburan Masa Lalu dan Tradisi Lokal (Kumpulan Esai Seni, Budaya, dan Sejarah Indonesia

Karya Fandy Hutari

Resensi ditulis Ammar Machmud

Dimuat KORAN TEMPO, 25 September 2011

Buku ini merupakan sebuah jawaban lantang atas pelbagai klaim dari sebagian pihak yang cenderung beragumen bahwa tradisi lokal Nusantara adalah tradisi kolot dan ketinggalan zaman. Melalui karyanya ini, Fandy menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang kaya akan sejarah, seni, budaya, dan tradisional lokal. Namun ironisnya, sebagian dari kita justru “pura-pura” atau “melupakan diri” realitas itu. Fandy membagi buku ini menjadi lima judul utama. Pertama, Panggung Sandiwara Kita, kedua, Budaya Lokal, Ketiga, Di Sekitar Kita, keempat,  Jangan dilupakan, dan yang terakhir Pancaran Layar Putih.

Reborn: Sebuah Catatan Penerapan CBHRM di Bank Jatim

Karya I Novianingtyastuti

Resensi ditulis Mohammad Eri Irawan

Dimuat JAWA POS, 25 September 2011

Buku ini adalah refleksi transformasi di Bank Jatim dalam menerapkan menajemen SDM berbasis kompetensi (Competency based human resources management/CBHRM). Pada mulanya, Bank Jatim tak dikelola dengan prinsip ekonomi perusahaan ideal. Pengelolaan SDM-nya jauh dari profesional. Apa yang disajikan Novianingtyastuti di buku ini, sejatinya makin mengukuhkan segepok riset yang membuktikan  relasi antara pengelolaan SDM dan kinerja perusahaan.

NUhammadiyah Bicara Nasioalisme

Penyunting Binhad Nurrohmat & Moh. Shofan

Resensi ditulis Abd. Sidiq Notonegoro

Dimuat JAWA POS, 25 September 2011

Terkait persoalan kebangsaan, dalam buku rampai ini, intelektual muda muhammadiyah Dr Zuly Qodir mengungkapkan bahwa baik prof Syafi’i Ma’arif maupun prof Dien Syamsuddin pada era kepemimpinan masing-masing di Muhammadiyah menandaskan tentang kebersamaannya dengan Nahdlatul Ulama (NU) dalam mengawal Pancasila sebagai satu-satunya pilihan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia yang tidak bisa ditawar lagi.

Mengalir Bukan Air (Percikan Spirit Hidup)

Karya Imaroh Syahida Dkk

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 25 September 2011

Dalam kelistrikan kita mengenal hukum Ohm. Hukum Ohm mengatakan bahwa besarnya arus (I) berbanding lurus dengan tegangan (V) dan berbanding terbalik dengan dengan besarannya. Resistensi atau hambatan (R). Mungkin persamaan  I=V/R itu hanya kita pahami sebagai rumusan belaka. Ternyata hukum Ohm menyimpan pelajaran hidup bagi kita. Pelajaran dalam hukum Ohm tersebut coba dijelaskan oleh penulis ini. Untuk mendayakan segala potensi demi menggapai cita-cita,  kita perlu memperbesar sumber tegangan. Kita harus memiliki kemauan dan keyakinan yang kuat. Sebaliknya, hambatan-hambatan harus diperkecil mengingat hubungannya yang berbanding terbalik dengan arus potensi kita.

99 Cahaya  di Langit Eropa

Karya Hanum Salsabiela Rais dan Rangga Almahendra

Resensi ditulis Andri Andrianto

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 25 September 2011

bukti adanya kejayaan Islam di Eropa, tampak dari beberapa bangunan kuno dengan ornamen serta simbol-simbol Islam di Eropa. Itulah yang menginspirasi lahirnya buku bertajuk 99 Cahaya di Langit Eropa. Buku ini, merekam napak tilas  peninggalan Islam di Eropa hebatnya diantara bukti sejarah Islam tersebut hingga kini masih ada yang terjaga dan terpelihara dengan baik. Jejak-jejak sejarah kejayaan Islam di Eropa itu mendapat perhatian khusus dalam buku ini. Dengan gaya bahasa yang enak dibaca khas jurnalis, pilihan diksi yang mudah dipaham.

Terapi Berpikir Positif

Karya Dr Ibrahim Elfikri

Resensi ditulis Subroto

Dimuat REPUBLIKA, 25 September 2011

Penulis yang, seorang motivator Muslim dunia, membagi buku ini menjadi lima bagian. Bagian yang pertama: Kekuatan Pikiran. Selanjutnya Berpikir Negatif, Berpikir Positif, dan Sepuluh wasiat Berpikir Positif. Tiap bagian terdiri dari beberapa sub judul dengan pembahasan yang sederhana, ringkas, padat dan mudah dipahami. Disebutkan dalam buku ini bahwa setiap hari manusia menghadapi lebih dari 60 ribu pikiran. Satu-satunya yang dibutuhkan sehumlah besar pikiran ini adalah pengarahan. Jika arah yang ditentukan negatif maka sekitar 60 ribu pikiran yang keluar dari memori kita ke arah yang negatif. Sebaliknya jika pengarahannya positif maka sejumlah pikiran yang sama juga akan keluar dari ruang memori ke arah yang positif

Matinya Seoarang Atheis

Karya Zaim Rofiqi

Resensi ditulis Musyafak

Dimuat SUARA MERDEKA, 25 September 2011

Matinya Seoarang Atheis, kumpulan cerita karya Zaim Rofiqi, hadir menertawakan kegentingan spiritual. Tokoh-tokoh aku dalam cerpen “Matinya Seoarang Atheis”, yang dipetik menjadi buku, mengalami ketegangan iman yang mengguuncang. Alur cerita dirajut dengan kompleks dan berlapis. Pelik penolakan iman dikisahkan melalui tiga tokoh aku yang dihubungkan dalam kesatuan narasi: menggugat ketidakhadiran Tuhan di dalam penderitaan yang bertubi-tubi memecundangi hidup manusia.

Eloh Gue End!!! Sepocong Kisah Kunti

Karya @Kuntisimilikiti

Resensi ditulis Igy

Dimuat TRIBUN JOGJA, 25 September 2011

Buku ini merupakan kumpulan status yang ditulis pada jejaring sosial, seperti Twitter dan Facebook. Eloh Gue End!!! Sepocong Kisah Kunti, karya @Kuntisimilikiti ini susunan katanya berantakan. Bahasa yang dipilih tak baku, jauh dari ejaan bahasa Indonesia yang disempurnahkan. Tapi apa boleh buat, buku ini tersaji demikian apa adanya. Bagi mereka yang tak biasa, apalagi sama sekali tak mengenal bahasa gaul, buku ini sulit bahkan tak bisa di pahami. Namun bagi remaja, membeli atau setidaknya membaca buku ini waiib.

Kabar Resensi Pekan Ketiga September 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Sejarah Teror: Jalan Panjang Menuju 11/9

Karya Lawrence Wright

Resensi ditulis F Budi Hardiman

Dimuat KOMPAS, 18 September 2011

Lebih dari 17.000 orang dievakuasi dan sekitar 3000 orang mati. Lawrence Wright, penulis buku Sejarah Teror ini, mencoba menelisik isi pikiran dan sepak terjang orang-orang yang terkait dengan peristiwa itu.  Dalam bukunya, Wright merangkai banyak sekali peristiwa yang selama ini terserak menjadi sebuah kisah yang utuh yang mampu menerangi latar belakang  kelam gerakan-gerakan Islam radikal yang memuncak pada 9/11, mulai dari Mesir, Afganistan, Sudan, Arab Saudi, Eropa sampai Amerika. Buku pemenang Pulitzer ini adalah hasil riset 5 tahun. Penyajiannya sangat menarik. Di satu saat Wright memberikan deskripsi dan analisis, dan di saat yang lain dia menghidupkan para tokoh dengan dialog dan adegan seperti dalam novel.

Beasiswa Erasmus Mundus: The  Stories  Behind

Karya Dina Mariana dkk

Resensi ditulis Bunga Manggiasih

Dimuat KORAN TEMPO, 18 September 2011

Meutia Zahra, mahasiswa Asal Aceh, tak sanggup menahan tangis saat menjejakkan kaki di Italia pada 2008. Ia ingin sekali bisa berbicara dengan keluarganya, mengabarkan cita-citanya melanjutkan kuliah ke Eropa sudah tercapai. Selain Meutia, 14 penerima beasiswa lainnya menceritakan pengalaman mereka dalam buku ini. Sebagai kumpulan kisah, cara penulisan dan isinya beragam. Kisah mereka tentu bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak muda yang bercita-cita kuliah di luar negeri.

Meraba Indonesia Ekspedisi “Gila” Keliling Nusantara

Karya Ahmad Yunus

Resensi ditulis subroto

Dimuat REPUBLIKA, 18 September 2011

Membaca buku ini seakan kita dibawa penulis untuk ikut dalam pengembaraan penulis yang penuh tantangan. Mengaduk emosi. Kadang gembira, bangga, sedih, getir, trenyuh, bahkan marah. Dengan gaya penulisannya naratif yang mengalir, penulis menyajikan realitas yang ditemuinya apa adanya. Apa yang dilihat, rasakan, dan orang-orang kecil atau orang-orang yang terlibat langsung dalam kehidupan masyarakat di pulau terpencil. Dilengkapi dengan riset mendalam terhadap pulau yang dikunjungi, kita akan disuguhi gambaran persoalan mendalam yang dihadapi masyarakat setempat.

Toponim Kotagede Asal Muasal Nama Tempat

Karya Erwito Wibowo

Resensi ditulis FI Agung Hartono SSos

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 18 September 2011

Buku ini hadir melengkapi buku tentang Kotagede yang pernah diterbitkan sebelumnya. Namun buku ini terasa lebih ‘berwarna’ karena mengulas lebih dalam dan tuntas mengenai penanaman suatu tempat yang kemudian di sebut sebagai toponim. Buku ini menjabarkan secara lebih komprehensif situs-situs bersejarah beserta nama tokoh di sekitar tempat tersebut.

Jadi Benci Merokok dengan Terapi  Asmaul Husna

Karya Ibnu Abdullah Aliman

Resensi ditulis Fajri Andika

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 18 September 2011

Buku yang ditulis Ibnu Abdullah Aliman ini memberikan terapi baru dan langka untuk berhenti merokok dengan aktivasi Asmaul Husna, yaitu As-Salaam, yang bermakna  keselamatan dan terhindar dari segala yang tercela. Selain itu, juga dikupas tentang rokok dan bahaya yang ditimbulkannya , serta diterangkan mengenai pengobatan terhadap kebiasaan merokok melalui pengaktifan nama-nama Allah yang berjumlah 99 dalam kehidupan seorang perokok.

Indonesia Optimis

Karya Denny Indrayana

Resensi ditulis Igy

Dimuat TRIBUN JOGJA, 18 September 2011

Dalam buku ini Denny ingin membuka cakrawala baru agar Indonesia sangat berhak untuk optimistis terhadap capaian yang selama ini terlewatkan begitu saja, tanpa apresiasi yang memadai. Untaian bab demi bab, yang secara total jumlahnya lima bab, berisi fakta berisi data berikut angka statistik yang dikemas secara lincah oleh akademisi Fakultas Hukum UGM tersebut. Ia juga memperlihatkan berbagai opini para pengamat politik yang disebarluaskan oleh media. Bab Menolak Pesimisme, misalnya. Bagian itu merupakan pandangan kritis mengenai posisi media sebagai pilar keempat demokrasi untuk mengontol kerja eksekutif, legislatif, dan yudikatif, yang dari kaca mata Denny  sebagai sebuah pandangan positif.

Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan

Karya Seno Gumira Ajidarma

Resensi ditulis Adhitia Armitrianto

Dimuat SUARA MERDEKA, 18 September 2011

Buku ini merupakan hasil disertasi  Seno saat menempuh program doktoral di Universitas Indonesia. Seturut judul, Seno mengulas ihwal komik Panji Tengkorak yang oleh penciptanya, Hans Jaladara, dibuat hingga tiga kali, yakni 1968,1985, dan 1996. Tiga “periode” Panji Tengkorak itulah yang dibedah Seno menggunakan teori komik dan kajian budaya. Setidaknya ada lima topic yang diperbincangkan Seno dalam buku ini, yakni tentang orientasi visual, permainan kode, politik identitas, bias konstruksi gender, dan ketidakmapanan sistem yang dapat membawa perbincangan kepada kebudayaan sebagai situs perjuangan ideologi.

Naskah Drama Demayu | Kedung Darma Romansha | 2011

Dermayu: Tafsir ulang atas babad Darma Ayu Nagari

Karya Kedung Darma Romansha

Oleh Fairuzul Mumtaz a.k.a Virus

Teks drama ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Ahad, 18 September 2011, jam 16.00 – 18.00. di Angkringan Buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3, Alun-alun Kidul Keraton Yogyakarta.

Kita biasa mengenal cerita rakyat asal-usul suatu daerah dari babad atau buku-buku cerita rakyat yang beredar bebas. Namun, kali ini cerita ditampilkan dengan gaya tutur yang berbeda dan memiliki tangga dramatik yang luar biasa.

Dermayu, sebuah teks cerita rakyat yang dikemas secara berbeda, yaitu dalam bentuk teks drama yang memiliki unsur dramatik.

Teks drama Dermayu ini merupakan cerita rakyat asal-usul kabupaten Indramayu. Selain gaya tutur yang berbeda, teks drama ini juga memberikan tawaran penggalan cerita yang tak ditemukan diberbagai babad atau buku-buku cerita rakyat Indramayu pada umunya.

Ini merupakan hal menarik karena mencoba mengungkap penggalan cerita yang tersembunyi atau sengaja dihilangkan untuk menjaga kejayaan kerajaan pada masa itu. Artinya, ada upaya untuk kembali mencermati dan meluruskan sejarah. Akan tetapi, sejauh mana kecermatan kita dan penilitian macam apa yang sudah kita lakukan untuk meluruskan sejarah tersebut? Mari kita diskusikan.

Kisah dalam teks drama Dermayu bermula dari pengembaraan Wiralodra untuk mencari sungai Cimanuk. Dalam perjalanannya, ia banyak menemui berbagai rintangan. Dari mulai bertemu dengan kakek tua yang kejam hingga gadis ayu bernama Dewi Rarawana yang menginginkan dijadikan istri oleh  Wiralodra.

Mulanya, Wiralodra yang ditemani Ki Tinggil juah tersesat. Beruntung ia bertemu dengan kakek tua bernama Kyai Malih Warna. Namun, pikiran mereka tak sejalan. Kyai Malih Warna menuduh Wiralodra sebagai perampok.

Pertarungan pun tak dapat dihindarkan dan pertarungan tersebut dimenangkan oleh Wiralodra dan Kyai Malih Warna memberikan petunjuk menuju arah Sungai Cimanuk.

Perjalanan dimulai kembali. di tengah hutan belantara, Wiralodra bertemu dengan Dewi Rarawana. Sang Dewi memaksa Wiralodra untuk menikahi. Bahkan ia menjanjikan tahta, harta dan menuruti semua keinginan Wiralodra. Namun Wiralodra menolaknya. Pertengkaran pun kembali terjadi. Wiralodra yang sakti memenangkannya. Sang Dewi lalu melarikan diri. Seketika Wiralodra ingat, sang Dewi itulah petunjuk yang diberikan oleh Kyai Malih Warna.

Wiralodra dan Ki Tinggil mengejar gadis ayu itu dan sampailah mereka di Cimanuk. Babad alas pun dilakukan. Jadilah negeri itu bermana Cimanuk.

Suatu ketika, Ki Tinggil yang dipercaya oleh Wiralodra untuk menjaga Negeri Cimanuk mempersilahkan seorang perempuan untuk ikut bercocok tanam di negeri tersebut. Karena memang begitulah pesan Wiralodra padanya. Siapa pun diperbolehkan singgah dan bercocok tanam di Negeri Cimanuk.

Perempuan itu bernama Endang Darma Ayu. Ia merupakan perempuan cantik dan pandai melakukan apa saja. Dari mulai bercocok tanam hingga ilmu bela diri (silat). Namun semua itu tak berjalan mulus. Ia dianggap membangkang. Ada aturan dan kode etik bahwa ilmu silat hanya boleh dipelajari dan diajarkan kepada kaum ningrat. Namun baginya, siapa pun berhak mempelajarinya.

Kondisi inilah yang memancing amarah Pangeran Guru, Pangeran Palembang. Ia bersama 24 muridnya menyebrang ke tanah Jawa menentang Endang Darma Ayu. Nasib berpihak padaEndang Darma Ayu. Pangeran  guru beserta 24 muridnya meninggal bersamaan.

Peristiwa ini diketahui oleh Wiralodra dan keluarganya. Amarah kembali bergelora. Raja Singalora (ayah Wiralodra)memerintahkan Wiralodra beserta dua adiknya untuk menangkap Endang Darma Ayu dan menghukumnya.

Kenyataan yang terjadi justru sebaliknya. Para lelaki putra Raja Singalodra itu jatuh cinta kepada Endang Darma Ayu. Perjanjian pun dibuat, kalau Endang Darma Ayu kalah terhadap kedua adik Wiralodra dalam pertarungan duel, maka ia harus mau diperistri yang mengalahkan dan kalau ia menang ia berhak memperbudak yang dikalahkan. Dan akhirnya Endang Darma Ayu berhak memperbudak.

Tak sampai di situ. Wiralodra sendiri yang telah jatuh cinta pada Endang Darma Ayu dalam pandangan pertama, ingin masuk dalam perjanjian itu. Namun Endang Darma Ayu menolak. Wiralodra memaksa dan ia kalah oleh jurus ampuh milik Endang Darma Ayu.

Setelah itu, Endang Darma Ayu pergi meninggalkan Negeri Cimanuk. Namun ia berpesan pada Wiralodra, “… hamba janganlah dilupakan…”

Wiralodra menepati janjinya dan mengabadikan nama Endang Darma Ayu. Negeri yang mulanya bernama Cimanuk diganti menjadi Darma Ayu.

Ketika Negeri ini dalam keadaan damai dan tentram, munculnya penjajah yang mereka sebut sebagai orang asing yang dibawa Waduaji dan Nitinegara dari Karawang. Namun Wiralodra tak hanya diam. Ia menyiapkan pasukannya dan mulai berperang melawan penjajah.

Tokoh-tokoh:

Endang Darma Ayu

Wiralodra

Ki Tinggil

Kyai Sidum

Petani (Kyai Malih Warna)

Dewi Rarawana

Pangeran Guru

Pangeran Wisanggeni

Pangeran Bramakendali

Pangeran Bramakusuma

Murid-murid Pangeran Guru

Sultan Cirebon (Sunan Gunung Jati)

Paman Patih

Singalodra (ayah Wiralodra)

Ibu Wiralodra

R. Tanu Jaya

R. Tanujiwa

Wangsanegara

Wangsayudha

Adipati Dipasara

Arya Kemuning

Waduaji

Nitinegara

7 Keajaiban Rejeki | Ippho Santosa | 2010 (Resensi Juara Lomba)

7 Keajaiban Rejeki | Pengarang: Ippho ‘right’ Santosa | PT.Elex Media Komputindo | 2010 | 191 hlm | Rp 84.800 | 978-979-27-6923-4

Berikut ini ada tiga resensi buku “7 Keajaiban Rezeki” yang memenangkan Brain Right Award yang diumumkan pada 27 Agustus 2011.

Resensi Juara I:  Shinta Trilusiani (Bengkulu)

Kedahsyatan Dunia Kanan

Sedekah dengan brutal!
Tolak kemiskinan dengan gahar!
Kita telah dilahirkan untuk menjadi pemenang  bukan pecundang!

Ketika anda memutuskan untuk membaca buku ini, maka seketika itu juga, anda  akan berpetualang di dunia dimana semua hal menjadi mungkin. Ippho ‘right’ Santosa atau yang akrab dipanggil Mr.Right akan menjabarkan keajaiban mengenai hal-hal yang selama ini kita anggap IMPOSSIBLE.

Pendapatan naik 300%? MUNGKIN. Rezeki datang secara melimpah? MUNGKIN. Omset naik hingga 1000%? MUNGKIN. Memenangkan persaingan yang nyaris tidak mungkin dimenangkan? MUNGKIN.

Segera buka halaman per halaman dari buku ini, dan temukan keajaiban-keajaiban yang akan menjadi nyata saat anda memutuskan untuk membaca dan menerapkannya dalam kehidupan anda.

7 Keajaiban Rejeki akan menguraikan banyak anggapan yang mungkin belum kita ketahui selama ini dalam  192  halaman, dengan sampul tebal berwarna coklat tua bergambarkan seseorang yang sedang mengendarai unta. Enterpreuner kelahiran 1977 ini mencoba membandingkan 80% orang di dunia yang ber’kiblat’ ke otak kiri dan mereka, 20% orang di dunia ini yang ber’kiblat’ ke otak kanan. Buku ini mengangkat tema mengenai kedasyatan otak kanan yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di dunia. Mungkin kita masih sangat ingat bagaimana The secret dan The power menggemparkan dunia, lalu mengubah hidup berjuta-juta orang setelah membacanya. Atau fenomena Cashflow Quadrant yang hadir sebagai fenomena yang serupa.

Namun, 7 Keajaiban Rezeki hadir dengan nuansa yang berbeda. Mungkin beberapa dari kita yang sering membaca buku motivasi tahu bedanya. Kebanyakan buku motivasi hadir dengan bahasa ‘dewa’ , bahasa tingkat tinggi yang tidak semua pihak dapat mencernanya. Berbeda dengan 7 Keajaiban Rezeki yang hadir dengan bahasa ‘masyarakat’, yang sederhana namun mengena. Inti pemikiran Ippho Santosa yang tertuang dalam buku 7 Keajaiban Rezeki memang bersumber pada Al-qur’an, hadist yang merupakan pegangan salah satu keyakinan, yakni islam yang sangat kental di buku ini, namun hal ini tidak menjadi penghambat bagi yang memiliki kepercayaan lain, karena di buku ini pula dijelaskan dengan sangat jelas bahwa  berbeda, memiliki, ataupun tidak memiliki kepercayaan sekali pun, kekuatan dari memberi (sedekah) tetap saja akan berbalas. Tidak sedikit pendeta atau mereka yang berbeda agama dengan pengarang buku ini sukses menerapkan 7 Keajaiban Rezeki dalam kehidupan mereka. Sekali lagi, 7 Kejaiban Rezeki tidak mengenal umur, agama, suku, ras, warna kulit atau apa pun juga. Pengarang juga mampu menjabarkan pemikirannya dengan bahasa yang lugas, jelas, dan tegas sehingga tidak terkesan bertele-tele.

7 Keajaiban Rezeki juga menyajikan cara untuk mendapatkan kekayaan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Dengan berani, 7 Keajaiban Rezeki memaparkan keberhasilan mereka yang sukses dengan memanfaatkan petuah yang tertuang disana,  terbukti dengan pengalaman-pengalaman narasumber atau testimoni-testimoni  yang membuat buku ini begitu nyata khasiatnya. Tidak hanya itu, keajaiban yang dirasakan oleh mereka yang berhasil melalui otak kanan, juga akan menyapa anda secara audio melalui CD motivasi yang menjadi bonus pada buku ini. Ditambah lagi dengan beberapa lagu-lagu membakar semangat yang juga tersaji di dalam CD motivasi.

Beberapa kali kita akan tergelitik dengan humor yang disajikan hampir di tiap bagiannya, sehingga jauh dari kesan membosankan, dan hanya di buku ini, penulis berbaik hati untuk tidak mengharuskan orang agar membeli bukunya tapi malah menganjurkan untuk meminjamkan kepada orang lain dan membagi manfaatnya.

Namun tak ada gading yang tak retak. Pun begitu 7 Keajaiban Rejeki. Mungkin pada awalnya, ketika kita tidak mengetahui betapa luar biasanya buku ini, atau sebelum ada rekor MURI yang tertambat disana, atau sebelum ada cap megabestseller yang terpampang  pada covernya, buku ini terkesan biasa-biasa saja. Dari judulnya pun tidak ada rasa ingin tahu yang berhasrat ketika melihatnya. 7 Keajaiban Rejeki? Oh paling buku-buku islami biasa. Tidak ada daya tarik dan greget untuk membacanya. Sebelum kita mengetahui kedahsyatan buku ini, kita pasti juga akan menggeleng melihat harganya yang tidak terhitung murah untuk buku islami biasa.

Mungkin pengarang ingin mengajarkan kita “don’t judge the book by its cover and its price”
Sungguh! Harga ini tidak akan ada apa-apanya dibandingkan dengan seajaib-ajaibnya keajaiban yang hadir di hidup kita ketika kita tuntas dan menerapkannya dalam kehidupan kita. Bahkan kita juga bisa berkonsultasi GRATIS langsung dengan sang penulis, Ippho Santosa atau dengan beberapa narasumber lain.

Jika anda berniat membaca buku ini, jangan ditunda lagi. Tapi ingat satu hal, jika anda memiliki penyakit jantung maka persiapkan dokter spesialis disebelah anda, karena 7 Keajaiban Rezeki akan membuat anda terkejut mendadak, lalu  menampar kemiskinan anda habis-habisan, menghajar anda dengan kebenaran yang luar biasa, menyindir keburukan anda sejelas-jelasnya dan merubah hidup anda sedahsyat-dashyatnya!!!!

Resensi Juara II: Prasetyo Deka (Madiun, Jawa Timur)

The Lord of The Right

Anda pernah mendengar nama Ipho Santosa? pernah membaca buku 7 Keajaiban Rejeki? Kalau belum, jangan minder, kita ada di pihak yang sama. Saya baru mengenal Ipho dan buku 7 keajaiban rejeki ini beberapa waktu yang lalu dari seorang kawan baik. Saat pertama kali melihat tampilan luar, tak banyak yang membuat saya tertarik dari cover kecuali gambar tiga keping uang emas, potongan kata jargon “ rejeki bertambah, nasib berubah”, dan tawaran ‘bonus langsung Rp 1.350.000’. Saya mulai sedikit berminat untuk mencari tahu lebih dalam.

Lembar pertama dan beberapa lembar berikutnya saya hanya menemukan testimonial dari banyak orang tentang dampak buku ini. terus terang satu hal langsung terbersit di otak saya, “ah, ini pasti hanya salah satu dari sekian banyak bentuk tipuan bernama marketing”. Walaupun mulai skeptis, saya paksakan diri untuk membuka lembar demi lembar berikutnya. Apalagi ada jaminan uang kembali 100% kalau saya tak mampu mendapat manfaat apapun dari buku ini.

Sebenarnya saya sudah bersiap untuk menerima ajaran motivasi standart seperti yang biasa saya temui belakangan ini, bombastis tapi tidak realistis dan cepat kempis. Ternyata saya salah besar! Buku ini memberikan sesuatu yang berbeda. Saya lebih suka menyebutnya buku kritisi, bukan buku motivasi. Karena buku ini mengkritisi banyak sekali hal ‘besar’ yang tanpa sadar kita ‘kecilkan’.

Buku ini memaparkan 7 hal hebat, yang berporos pada anugerah yang sangat hebat (otak kanan), dan berdasar pada sumber paling hebat (Al-Quran). Ketujuh hal itu adalah Sidik jari kemenangan, sepasang bidadari, golongan kanan, simpul perdagangan, perisai langit, pembeda abadi, dan pelangi ihtiar.

Di masing-masing bagiannya Ipho bercerita dengan lugas tentang sebuah tema besar, yakni kekuatan cinta, doa, impian, dan sedekah pada keberhasilan seseorang. Tema besar ini kemudian mengerucut pada banyak tindakan positif yang dipengaruhi oleh kekuatan otak kanan, yakni bagian otak yang telah diyakini dan diuji sebagai sumber dari semua tindakan tidak logis dan pusat kreatifitas. Diantaranya adalah ajakan  untuk bersedekah dengan gila-gilaan, dengan satu keyakinan bahwa semakin ‘gila’’ sedekah yang kita keluarkan maka akan semakin ‘gila-gilaan’ pula DIA membalas . Sesuatu yang menurut banyak dari kita yang muslim pun terkadang masih mengerutkan jidat.

Ipho juga mengajak kita untuk menjadi seorang pemenang sejati dengan cara yang sangat islami. Menang dalam pertempuran melawan kemiskinan, kekikiran, kefakiran, dan ketakutan akan kegagalan meraih impian. Tapi sekali lagi saya tekankan, buku ini bukan tentang motivasi sesaat . Buku ini adalah buku tentang kritisi diri agar bergerak maju dalam tindakan yang nyata, dengan memaksimalkan kekuatan tersembunyi kita, yakni otak kanan.

Gaya bertutur yang cukup lugas membawa kita seakan sedang mengikuti seminar Ipho secara privat. Mendengarkan, bertanya, dan bercanda dengan penulis dalam satu kesempatan. Beberapa joke dan selipan pengalaman pribadi membuat buku ini lebih ‘lezat’ untuk dinikmati. Keseimbangan antara usaha dunia dan usaha akherat menjadi kesimpulan akhir yang bisa saya tangkap dari materi buku ini. Materi yang sebenarnya terbilang biasa, dan sering  kita dengarkan di setiap ceramah agama, tapi berhasil ‘diingatkan’ kembali oleh  Ipho Santosa dengan cara yang lebih nikmat dan hebat.

Overall, menurut saya Buku ini seperti air putih, sederhana dan segar, tapi sangat penting untuk siapapun. Lebih lagi, buku ini tetap segar dinikmati kapanpun. Tak perduli saat anda sedang bahagia berlimpah rejeki dan tertawa sepanjang hari, ataukah sedang terpuruk dalam tangis dan merasakan nuansa kegagalan beruntun mendekati permanen.

Saya percaya apapun yang saya tulis disini hanya akan menjadi seperti sebuah resep masakan yang terlihat enak, dan akan tetap ‘terlihat’ enak saja, tanpa bisa anda rasa selama belum anda coba. Jadi, silahkan mencoba membuka dan memahami selembar demi selembar buku ini. Semoga banyak pertanyaan yang terjawab, dan Semoga  menjadi The Lord Of The ‘Right’ selanjutnya. Insya Allah.
Catatan ini saya akhiri dengan kutipan favorit saya di buku ini, “Life is beautiful, love is wonderfull, giving is powerfull”.

Be the right!

Resensi Juara III: Diana AV Sasa (Surabaya, Jawa Timur)

Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri

Kebetulan dalam bahasa Inggris, ‘kanan’  dan ’benar’ itu diterjemahkan jadi ‘right’. Mungkin ini isyarat, kanan itu memang benar. Kebetulan pula, ‘kiri’ dan ‘ketinggalan’ itu sama-sama diterjemahkan jadi ‘left’. Mungkin ini isyarat, kiri itu memang ketinggalan (56)

Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kebetulan yang dengan cemerlang dapat ditemukan Ippho Santosa mengenai ‘pledoi’ mengapa kanan lebih baik ketimbang kiri. Pledoi itu tertuang dalam buku motivasi bertajuk 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari  dengan Otak Kanan. Kebetulan lain yang ia temukan adalah rambu-rambu “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”, dan “Gunakan lajur kiri untuk jalur lambat”. Mungkin ini pula isyarat bahwa untuk mendahului pesaing gunakan otak kanan, gunakan otak kiri kalau ingin ditinggalkan oleh pesaing.

Dengan pledoi itu, Ippho sedang ingin mengetengahkan kehadapan pembaca bukunya, mengenai sebuah konsep berpikir dan bertindak dengan mengutamakan fungsi otak kanan. Ippho mengakui bahwa ia adalah satu dari sedikit motivator di Indonesia yang memilih untuk berpihak ke kanan (mengutamakan otak kanan). Bahkan ia berani mengatakan bahwa untuk hijrah ke sisi kanan dalam Cashflow Quadrant-nya Robert Kiyosaki, maka otak kanan harus diasah. Ippho berkeyakinan bahwa kesuksesan memerlukan peranan EQ(otak kanan) sekitar 80% dan IQ(otak kiri) 20%. Maka yang dibutuhkan adalah dominan kanan, bukan seimbang kanan kiri.

Dalam konsep Ippho, keseimbangan dalam sebuah tim menuntut seorang pemimpin yang dominan kanan, karena ia akan lebih visioner, kreatif, intuitif, impulsif, berpikir holistik, empati ke semua pihak, dan memahami yang tersirat. Dibawahnya, manajer madya adalah mereka yang memiliki keseimbangan otak kanan-kiri, memahami detil, kalkulasi, fokus, dengan keseimbangan kreatifitas, intuisi, dan impati. Sedangkan yang perlu memahami dan menguasai detil dengan penuh adalah para bawahan. (54). Dengan konsep ini, Ippho ingin mengajukan hipotesa bahwa siapapun yang ingin menjadi pemimpin, ingin maju, sukses, dan meraih impiannya maka ia mesti mengoptimalkan kerja otak kanannya. Golongan Kanan melakukan sesuatu karena panggilan jiwa, bukan panggilan kerja. Sepenuh hati, bukan sepenuh gaji, begitu kata Ippho.

Untuk menguraikan cara-cara berpikir otak kanan itu, Ippho memberikan 3 kunci. Kunci pertama adalah penguatan diri, ia menyebutnya Sidik Jari Kemenangan (Lingkar Diri). Ini adalah sebuah langkah dimana seseorang merumuskan cita-cita, harapan, impiannya. Disini Ippho mencoba membangun keyakinan pembaca bahwa kesuksesan adalah milik siapa saja. Karena bagi Tuhan Yang Maha Kuasa, tak ada yang mustahil. Maka pegang kuat-kuat keyakinan akan impian itu. Mengucapkannya sering-sering, membayangkannya terus menerus, menancapkannya dalam pikiran, akan mendorong pada kesadaran batin dan pikiran untuk berusaha mewujudkannya. Setelah itu baru berupaya untuk membuat diri menjadi layak mendapat, meraih impian itu. Kerja keras, dedikasi, integritas, dan kesungguhan adalah kuncinya.

Kunci kedua adalah membangun hubungan baik dengan sekitar, Ini bertolah pada hukum Law of Attraction (LOA), apa yang kau beri itulah yang kau dapat. Ippho menyebut orang tua di urutan teratas untuk menjadi bagian yang layak mendapat perlakuan baik. Ia menyebutnya sebagai Sepasang Bidadari (Lingkar Keluarga). Disini, Ippho ingin menegaskan bahwa orang tua adalah bagian dari kehidupan yang mesti dijaga keseimbangan hubungannya.

Agama manapun pasti menyebutkan tentang urgensi orang tua sebagai sosok yang mesti dihormati, dihargai, dan dijagai karena dari merekalah bermula kehidupan seorang anak manusia. Tak perlu menunggu sukses, baru bisa menyenangkan orang tua, tak perlu menunggu kaya, baru memberi perhatian orang tua. Balikkan, kata Ippho. Berbuat baik dulu pada orang tua, kaya dan sukses mengikuti. Restu mereka adalah Doa. Ini berpikir cara kanan, kesuksesan dilihat dengan keajaiban. Sesuatu yang menjadi rahmat atas perbuatan dan sikap baik. Bukan semata sebuah perencanaan yang baik atas angka-angka.

Kunci ketiga adalah hubungan baik dengan Tuhan. Simak cara Ippho menguraikan kedekatan dengan Tuhan sebagai sebuah titik tolak spiritual a la face book: Pertama, Tuhan mesti Anda add sebagai friend. Terus, banyak-banyaklah ganti status dengan Dia. Terus, banyak-banyaklah komunikasi wall to wall dengan Dia. Nah, begitu Anda sudah akrab, mudah-mudahan Anda akan sering mendapat notification dari Dia, sehingga intuisi Anda lebih peka terhadap sesuatu atau sesorang.

Uraian diatas menarik dan mudah difahami. Karena memang demikian gaya bahasa yang digunakan Ippho; renyah, lugas, dan humoris. Lihat saja bagaimana ia menulis: Gimana sih caranya agar kita bisa akarab dengan Dia? Yah, cobalah bisnis modal dengkul dan bisnis modal jidat. Modal dengkul maksudnya sering-sering bersimpuh. Modal jidat maksudnya sering-sering bersujud. Pembaca akan sering dibuat tertawa karena gaya penulisan Ippho ini memang enak disimak, tidak seperti buku motivasi umumnya yang kaku dan menggurui. Gaya tutur ini membuat pembaca diajak berpikir, menganalisa, dan membuat keputusan sendiri. Ada keintiman interaksi antara penulis dengan sidang pembaca melalui cara penulisan komunikatis seperti ini.

Interaksi dengan pembaca itu juga dibangun dengan berbagai pembenaran disertai bukti-bukti logis untuk mengajak pembaca menganggukkan kepala tanda setuju. Ippho membeberkan tentang apa perlunya bersedekah sekarang atau nanti, banyak atau sedikit. Ippho juga menguraikan apa perlunya menjadi seseorang atau sesuatu yang khas, beda, unik.  Dan tentu saja, seruan ibadah itu tak terlewatkan. Manusia sukses adalah mereka yang dekat dengan Tuhannya melalui cara masing-masing. Ippho menawarkan beberapa cara sesuai yang diajarkan Islam.

Ippho memang layak menyandang sebutan motivator, ia handal dalam berdagang. Konsep menjadi pedagang ini pula yang ia tawarkan sebagai sebuah solusi dari kejumputan berpikir atas masalah pendapatan penghasilan. Ippho menghadirkan kisah-kisah dan logika-logika sehingga berdagang menjadi pilihan yang mestinya tak terbantahkan. Secara implisit, ia menunjukkan bagaimana caranya berdagang, menjual lebih banyak, lebih mahal dan lebih cepat itu. Perhatikan bagaimana ia memberikan sebuah bab khusus dalam buku ini yang ia sebut Bonus Langsung 1.350.000.

Bab dengan hanya 4 halaman itu sesungguhnya adalah semacam brosur pemasarannya. Di sana berisi tentang kandungan CD motivasi yang menyertai buku ini (200 ribu). Kalender,poster,sticker motivasi (100 ribu). Lagu motivasi (50 ribu), serta konsultasi pribadi senilai 1 juta. Bukan hanya itu, disini juga ada kode nada sambung pribadi yang bisa dipasang dalam ponsel. Selain itu, dalam setiap bab, saat memberikan tips, ia juga tak henti-henti menyeru agar pembaca yang merasa termotivasi dengan buku ini supaya meminjamkan atau membelikan buku ini kepada orang lain yang dianggap perlu. Sebuah strategi pemasaran yang sederhana tapi cukup nyata. Dalam tempo 3 bulan, buku ini cetak ulang 7 kali!

Tak ada gading yang tak retak, begitu juga dengan Gading Marten (ini kata Ippho), buku ini menyimpan pula cacat retak disana sini. Endorsement alias testimoni yang sampai 12 halaman di awal dan 10 halaman di akhir membuat semua terasa berbusa-busa. Barangkali ini menjadi khas buku motivasi. Tapi 22 halaman rasanya berlebihan.

Kemudian gambar-gambar yang dihadirkan dalam buku ini terkesan dipaksakan. Terkadang korelasinya tidak jelas antara gambar dan topik bahasan. Ukurannya yang kecil dengan cetakan hitam putih membuat gambar semakin kehilangan makna. Buat apa ada gambar jika tak memberi manfaat bagi pembaca, setidaknya memanjakan mata atau memperjelas teks.

Selain itu, margin kanan dan kiri yang tidak berimbang luasnya menyempitkan kesempatan pembaca untuk membuat coretan ditepian buku. Sebagai sebuah buku motivasi, hendaknya pembaca diberi ruang gerak untuk menuangkan pengalamannya dalam coretan sebagai catatan kesan proses pembacaannya. Terakhir, daftar isi yang tidak memuat sub bab, menjadikan pembaca yang ingin membaca ulang mesti membolak-balik halaman mencari bab apa di bagian mana.

Selebihnya, buku ini cocok bagi siapa saja yang butuh motivasi dan petunjuk tentang bagaimana meraih impian, cita-cita, dan keluar dari masalah-masalah yang selama ini dirasa membuat kehidupan jalan di tempat. Rubah cara berpikir, perbaiki kualitas anda hingga layak mendapat impian itu. Perbaiki hubungan sesama, dan dekatkan diri pada Tuhan. Memberilah sebanyak-banyaknya karena kau akan mendapat yang setara dengannya. Rayakan hidup, dan bernyanyilah seperti arek Suroboyo, “Right…ayo Right…, mlaku mlaku nang Tunjungan…”.

*) Seorang pecinta buku yang memasang sidik jari kemenangan: Di usia 32 tahunku, aku ingin jadi penulis yang diakui kompetensinya, dan bisa hidup dari menulis. Karena penulis adalah profesi, right? Salam Kanan…!!

Sumber: rightbrainaward.com

128 Esai, 1 Buku

6P1wAq8yGaJudul: Tuhan Masih Pidato (kumpulan esai) | Karya: Asdar Muis RMS | Penyunting: Abdul Rahman Abu | Cetakan: Pertama (Agustus 2011) | Penerbit: Citra Pustaka, Yogyakarta | Isi: xxviii+416 halaman | Dimensi: 15×21 cm | ISBN: 978-979-19185-9-6

MAKANYA, sangat sulit mendapatkan ada orang yang suka meninggalkan jabatan, kekayaan, ketenaran yang telah diraihnya. Dapatlah dipastikan, orang-orang seperti itu akan memburu dan berupaya dengan segala cara untuk tetap berada pada posisi yang memberinya rasa nikmat.

Dua kalimat itu menutup karangan berjudul “Lelaki Sifilis di Depan Mesjid”. Esai itu tampil di antara halaman 37-39 dalam buku terbaru karya Asdar Muis RMS: Tuhan Masih Pidato (Citra Pustaka, Agustus 2011). Di bagian akhir karangannya, tertera titimangsa: ditulis di Makasar, 17 November 2006.

Saat menulis esai itu dulu, Asdar menjadi Direktur Pemberitaan Harian Pedoman Rakyat. Di dalam kolom pada Harian Pedoman Rakyat itu pula, setiap pekan, buah pikiran karya Asdar diterbitkan.

Sejauh apa peristiwa yang mengusik benak seorang Direktur Pemberitaan yang bekerja untuk Harian Pedoman Rakyat menemukan penyelesaiannya dalam sebuah karangan? Bukan tidak mungkinkah satu artikel di media cetak secara otomatis menuruti perubahan zaman? Sedangkan dalam esai (yang dua punch-line-nya dikutip di awal resensi ini), pembaca tidak diberitahu banyak tentang bagaimana si tukang parkir sekaligus tukang becak pengidap sifilis itu menderita setelah lima tahun berlalu. Padahal penyakitnya sudah dikisahkan dalam sebuah koran.

Berapa banyak esai – siapapun penulisnya – yang ditulis di masa lalu yang berhasil secara abadi akhirnya melampaui ketermasyhuran nama penulisnya sendiri? Terutama, ketika kejadian yang ditulis itu kemudian lenyap kehilangan nilai keaktualannya. Mungkin tidak banyak dalam sejarah.

Esai di Indonesia, terutama, dipopulerkan Goenawan Mohamad lewat Catatan Pinggir, sebentuk karangan khas dalam majalah berita mingguan Tempo, dulu sampai sekarang. Katanya, semacam marginalia (komentar-komentar pendek di tepi halaman buku yang sedang dibaca). Arief Budiman membahasakan esai sebagai komentar menarik tentang sebuah topik bukan hanya membahas buku bacaan semata.

Asdar Muis RMS, sembari menempatkan posisi yang selalu bernuansa keberpihakan untuk mengritik berbagai persoalan dalam kehidupan yang mengusik kesadarannya, seperti menyalurkan kontemplasi dari buah wawasan yang luwes. Tema karangan yang diusiknya pun nyaris tidak ada batasnya, kecuali ditandai penempatan tanda baca “titik” (.) di akhir esai-esainya yang terkumpul ini.

Tuhan Masih Pidato ialah sebuah karya tentang 1 penulis, 1 penyunting, 8 komentator tentang 128 esai. 128 di antara esainya yang terbit di Harian Pedoman Rakyat dalam kurun waktu 2003-2007 kini dibukukan dengan editor Abdul Rahman Abu. Asdar Muis RMS secara resmi meluncurkan bukunya ini ke publik pembacanya di Makassar, Jumat (19/8/2011).

*)Suar Okezone, 22 Agustus 2011

Obrolan Senja #6: Layang-Layang Abu-Abu (Puisi) | Ira Puspitaningsih

Obrolan Senja: Layang-Layang Abu Abu karya Ira Puspitaningsih

Sabtu, 13 Agustus 2011, 16.00-18.00 (buka puasa bersama)

Angkringan Buku (IBOEKOE), Patehan Wetan 3, Keraton, Alun-Alun Kidul, Yogyakarta

Jika ditanya soal seberapa penting aktivitas menulis, saya pastilah menjawab bila menulis itu penting. Tapi penting di sini bukanlah berarti kemudian saya menjadikan kegiatan menulis sebagai hal yang mutlak dilakukan setiap hari. Apalagi menulis puisi. Puisi adalah aktualisasi diri. Dan puisi kemudian menjadi pengungkapan impresi dan bersifat impulsif. Puisi terlalu spesial jika harus dijadikan hanya sebagai ladang uang.

Dan karena mengikuti suasana hati itulah saya tidak menghasilkan cukup banyak puisi. Dalam 11 tahun saya hanya menghasilkan 70an judul puisi saja. Jumlah yang membuat saya sebenarnya merasa miris.

Dari keseluruhan puisi yang saya tulis dalam rentang waktu tersebut, mayoritas berbicara hal-hal yang sangat privat. Meskipun ada beberapa judul yang ditulis sebagai respon atas suatu peristiwa.

Namun secara umum puisi-puisi saya adalah bagian lain dari diri saya yang tertutup. Puisi-puisi saya juga dengan semena-mena saya kelompokkan menjadi dua bagian. Fase pertama, tahun 2000-2004. Fase kedua, tahun 2005-2011.

Saya membaginya demikian karena ada perbedaan mendasar antara kedua fase tersebut. Fase pertama adalah puisi-puisi yang dibuat ketika masih tinggal di Denpasar. Masa-masa ketika saya masih memiliki banyak sekali waktu pribadi untuk diri sendiri.

Sebagian besar puisi saya tersebut bersifat introvert. Hanya bicara tentang diri sendiri. Sedangkan fase yang kedua adalah puisi-puisi setelah saya pindah ke Jogja. Lingkungan pergaulan yang sebagian besar juga penulis kemudian berpengaruh besar. Kegiatan menulis dan berkesenian kemudian menjadi kegiatan kolektif.

Urusan menulis puisi yang sebelumnya hanya saya lakukan sendiri kemudian dilakukan beramai-ramai bahkan didiskusikan dan dibedah habis-habisan. Kebersamaan ini kemudian banyak melahirkan puisi persembahan untuk yang saya tujukan untuk orang lain yang menginspirasi lahirnya puisi saya.

Sebagai manusia biasa, saya merasa cukup beruntung berkenalan dengan puisi di usia yang belum genap 14 tahun. Sebelumnya, saya remaja yang senang mencoba segala sesuatu. Rasanya tidak ada yang tidak saya coba saat itu.

Saya melatih Pramuka dan PMR di almamater SD, ketua Paskibra dan OSIS di sekolah, Fill Comander di kelompok Drum Band, selalu jadi MC di setiap acara sekolah, menari, menyanyi, atlet senam, komandan kelompok gerak jalan, dan selalu ranking 5 besar di kelas unggulan. Saya mencari jati diri saya dengan banyak hal. Hingga akhirnya bertemu dengan orang yang mengenalkan saya pada puisi.

Merasa menemukan hal baru yang menantang saya belajar menulis puisi secara otodidak. Akibatnya seluruh kegiatan saya terhenti, bersamaan dengan akhir jabatan semua organisasi yang saya ikuti. Kegiatan akademis pun praktis tidak saya suntuki lagi.

Ranking jeblok, teman berkurang, popularitas menurun bersamaan dengan munculnya puisi-puisi saya di koran yang saya publikasikan dengan menyembunyikan nama asli. Saya berjumpa dunia lain. Sebuah labirin tanpa akhir yang setiap jalannya pasti menarik ditelusuri. (Pengakuan Ira Puspitaningsih)

Kabar Resensi Pekan Terakhir Juli 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita www.indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah.

Shin Suikoden: Petualangan Baru Kisah Klasik Batas Air

Karya Eiji Yoshikawa

Resensi ditulis oleh N Mursidi

Dimuat KOMPAS, 31 Juli 2011

Kisah dalam novel ini, tak dapat dimungkiri, dibangun dengan setumpuk tokoh dan alur cerita yang cukup panjang dan berbelit. Tak salah jika satu tokoh dengan tokoh yang lain saling terkait karena memang latar belakang sebagian besar tokoh dalam cerita ini lahir di daerah tertentu dan klan yang beragam. Ujungnya, dalam setiap bab seolah cerita ini tidak memiliki benang merah dan nyaris tidak memiliki kaitan antara satu bab dan bab lain bahkan antara satu tokoh dan tokoh yang lain.  Meski begitu, tidak dapat ditepis bahwa di tangan Eiji Yoshikawa novel ini enak dibaca, mengalir, dan renyah.

Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi

Karya Yasraf Amir Piliang

Resensi ditulis Dudi Sabil Iskandar

Dimuat KORAN TEMPO, 31 Juli 2011

Dalam konteks perubahan dramatis pola keberagamaan karena terpaan media massa, buku Bayang-Bayang Tuhan: Agama dan Imajinasi hadir dan menemukan momentumnya. Karya ini berangkat dari pernyataan kritis-radikal tentang pengaruh  terpaan media massa terhadap keberagaman seseorang. Bagaimana televisi bisa menyihir kesadaran keberagaman seseorang? Mengapa seseorang yang pada awalnya tidak menyukai baju koko, setelah melihat seorang ustad di televisi, mendadak menjadi gandrung akan baju koko? Bagaimana makna kesalehan dapat diproduksi di tengah komoditas?

Madre

Karya Dewi Lestari

Resensi ditulis Kika Dhersy Putri

Dimuat JAWA POS, 31 Juli 2011

Madre adalah buku sederhana tentang hal-hal sederhana di sekitar kita, tapi Dee memilih kata-kata luar biasa untuk ide-idenya. Madre bukanlah cerita tentang ibu, tapi cerita tentang biang roti, pemuda berdarah lintas ras India-China, totalitas dan pengabdian kepada pekerjaan, juga cinta lokasi sebagai bumbu. Layaknya karya-karya sebelumnya, Dee adalah maestro urusan diksi, visualisasi, dan happy ending.

Sebelas Patriot

Karya Andrea Hirata

Resensi ditulis Musyafak

Dimuat JAWA POS, 31 Juli 2011

Novel terbaru Andrea Hirata ini menguak  betapa riwayat sepak bola di negeri ini berpautan dengan sikap patriotik masyarakat pribumi. Olahraga yang paling digandrungi manusia sejagat itu mewadahi imajinasi persatuan dan rasa senasib sepenanggungan bangsa Indonesia.  Sebelas Patriot merupakan penanda yang memaknakan bahwa pesepak bola di negeri ini adalah para pahlawan di lapangan hijau, sebelas patriot itu menanggung martabat bangsa yang tak terperikan.

Pak Beye dan Keluarganya

Karya Wisnu Nugroho

Resensi ditulis Sudaryanto Spd

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 31 Juli 2011

Dibanding tiga buku pendahulunya, yakni Pak Beye dan Istananya, Pak Beye dan Politiknya, serta Pak Beye dan Kerabatnya, nuansa politik pada buku keempat ini lebih cair. Meski begitu, tidak terhindarkan pula saat harus membicarakan keluarga dan dinasti keluarga, khususnya menduga-duga siapa gerangan ‘putra mahkota’ yang dipersiapkan untuk menjaga keberlangsungan politik dan kekuasaan yang berada di tangan Susilo Bambang Yudhoyono sebagai kepala keluarga. Selebihnya buku bertajuk Pak Beye dan Keluarganya ini lebih banyak bertutur mengenai kiprah keluarga (Bu Ani Yudhoyono, Mas Agus, serta istrinya) dan hal-hal kecil mengenai hobi serta kesukaan Susilo Bambang Yudhono sebagai kepala keluarga.

Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat

Karya James Marcus Bach

Resensi ditulis Sigit Setyawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 31 Juli 2011

Sebagai kunci keberhasilan, pendidikan memang berperan vital dalam suatu kemajuan bangsa dan negara terlebih Indonesia, yang hingga kini masih dalam proses berkembang. Tapi ironisnya masyarakat Indonesia masih terkungkung dalam keyakinan bahwa satu-satunya jalan sukses dan maju lewat sekolah dan ijazah. Pemahaman inilah yang dicoba luruskan oleh James Marcus Bach dalam bukunya yang berjudul Tinggalkan Sekolah Sebelum Terlambat. Melalui buku ini, Bach Mengingatkan kembali bahwa memang ada orang-orang yang berpikir dengan cara yang berbeda. Ada orang-orang yang cocok dengan sekolah, tapi ada juga orang-orang yang tidak cocok dengan model sekolah.

Islamic Parenting

Karya M Fauzi Rachman

Resensi ditulis Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 31 Juli 2011

Di buku setebal 134 halaman ini mengurai secara rinci tahapan yang dibutuhkan orang tua untuk mencetak anak-anak yang saleh. Tahapannya dari dasar, mulai dari penentuan pasangan hidup, lalu program kehamilan, melahirkan, perkembangan anak, masa prapendidik, pendidikan hingga faktor yang  mendukung pendidikan anak sehingga terbentuk anak saleh yang mandiri.

Cerita Azra: Biografi Cendekiawan Muslim Azyumardi Azra

Karya Andina Dwifatma

Resensi ditulis Heri Priyatmoko

Dimuat SUARA MERDEKA, 31 Juli 2011

Karya setebal 248 halaman ini telah membuka apa yang ada di balik sosok Azyumardi Azra dalam perjalanan hidupnya. Azyumardi Azra merupakan pakar sejarah dan peradaban Islam dari Indonesia yang diakui oleh ilmuan dunia. Dialah satu-satunya orang Asia yang yang mengantongi gelar Commander of The British Empire pemberian Ratu Inggris atas kiprahnya menjungjung tinggi demokrasi serta mengampanyekan perdamaian lintas agama di jagat internasional. Buku berjudul Cerita Azra ini hadir mengungkapkan kehidupan Azra yang menyimpan aneka keunikan.

Kriminalisasi Berujung Monopoli

Karya Salamuddin Daeng, dkk

Resensi ditulis Redaksi

Dimuat TRIBUN JOGJA, 31 Juli 2011

Buku ini menguraikan secara rinci kasus komoditi tembakau dan rokok, serta kebijakan-kebijakan pemerintah Indonesia yang sering tunduk kepada desakan luar. Bahkan, kadangkala pemerintah mengeluarkan alasan yang justru sangat merendahkan martabat dan kedaulatan bangsa. Penulis mengatakan, industri  tembakau merupakan penyumbang pendapatan negara baik di negara berkembang maupun negara maju. (Aya Hidayah/IBOEKOE)

Face of the World. The light and the darknes (Book I)

beauty-ghostDraft Novel Imam K. Raharja

Bagaimana wujud hantu menurutmu? Apakah menyeramkan seperti yang selama ini direpresentasikan media?

Imam K. Raharja akan mengenalkan Anda dengan hantu yang tidak menyeramkan dalam draft novelnya Face of the Word. The light and the darknes (Book I). Novel ini tidak semata-mata berbicara soal hantu. Jauh lebih luas dan berbobot, termasuk juga konspirasi besar dunia. Sehingga kita akan kesulitan menyederhanakan termasuk jenis novel apakah yang ditulis oleh Imam K. Raharja ini. Apakah termasuk novel misteri? Detektif? Cinta? Eksistensialis? Atau novel konspirasi ala Dan  Brown dengan simbol-simbol aneh dan rumit? Gambarannya begini;

Setahun yang lalu, Randu mengirimkan aplikasi ke sebuah lembaga amal internasional. Panggilan tak datang-datang dalam waktu setahun. Randu pun tak mengharapkannya lagi. Tiba-tiba telepon di rumah berdering dan besoknya Randu harus berangkat ke Afrika. Setelah mengurus berbagai keperluan dibantu staf dari lembaga amal tersebut , Randu baru memberi kabar pada pacarnya, Nira. Tentu saja kaget. Mereka tak terpisahkan sebelumnya.

Keesokan harinya, Randu menunggu Nira di bandara karena harus mengantar ibunya terlebih dahulu. Hingga jadwal keberangkatan, Nira tak datang juga. Randu berangkat tanpa lambaian tangan Nira. Ketakdatangan Nira di Soekarno-Hatta buka di sini. Nira mengalami kecelakan dan tewas.

Kematian Nira tak menyelesaikan cerita, justru sebaliknya. Cerita bergerak pada wilayah yang lebih kompleks dan menegangkan. Dalam dunia kematian, Nira tak sanggup mengingat berbagai hal yang pernah dialaminya semasa hidupanya, pun ketika kematiannya. Bertemulah Nira dengan (semacam) cenayang yang berprofesi sebagai pelacurdi suatu malam, Mina namanya. Pergesekan antara dua dimensi (hidup dan mati) memunculkan kisah-kisah menarik dan ilmiah. Hal-hal mistis yang selama ini kita amini, nyaris dapat dihindari.

Dengan bantuan Mina, Nira akhirnya menemukan kembali ingatannya, meski tak seluruhnya. Sampai di sini, kisah masih baik-baik saja. Hingga akhirnya, datanglah seorang lelaki berkabangsaan Perancis, Friedrich, ke Jakarta, ke Juruk Purut. Tujuannya adalah satu, memburu Nira.

Dalam dunia gelap, ada pertentangan sengit antara The Cyrcle dengan The Steward. Dan kuncinya adalah Nira. Munculnya the Cyrcle dan The Steward terasa cerita bergerak-gerak, meronta-ronta tanpa bisa dikendalikan pembaca. Cerita melaju tanpa batas ruang dan waktu.

Beberapa waktu setelah bekerja, Randu baru dapat kabar kalau Nira meninggal saat berusaha mengejarnya ke Bandara. Randu jadi galau. Dia harus pulang. Kepulangan Randu ke Indonesia justru menambah cerita semakin kompleks. Keluar dari Soekarno-Hatta, ia sudah dikerja-kejar oleh Friedrich. Untung saja ia diselamatkan oleh Mina, yang belum dikenalnya. Mereka lari. Mereka bertemu Dorian dan terkuaklah sejarah kedua kelompok yang saling bertentangan.

Meski telah berlari cukup jauh, Mina dan Randu tak bisa lepas dari kepungan pasukan Friedrich. Mereka diculik dan dibawa ke Instanbul. Di sini, mereka bertemu dengan orang-orang dalam lingkup internasional terdiri dari berbagai kalangan. Di sini, Randu didik ala militer. Dan setelah, peristiwa action kerapkali mewarnai cerita dalam draft novel ini.

Kedua kelompok yang bertentangan itu bukanlah kelompok baru. Mereka hadir puluhan ribu tahun lalu. The Cyrcle pernah menikmati masa-masa kejayaan di masa kegelapan yang melanda Eropa dan masa-masa kerajaan primitif Asia. Mereka juga memiliki peran penting dalam Perang Dunia I &II. Dan saat ini, mereka berusaha mencapai kembali masa keemasan mereka. Tujuan mereka adalah merusak sistem kepercayaan dunia akhirat, surga neraka, baik buruk, dan pemusnahan kata ‘iman’. Sementara kelompok lainnya, bertujuan sebaliknya.

Begitulah sedikit ceritanya. Sungguh luar biasa. Namun, hingga akhir draft novel ini, cerita menggantung dan seperti belum selesai. Ini baru buku I, judulnya. Pembaca musti sabar.

Draft novel milik Imam K Raharja ini ,secara keseluruhan sangat potensial untuk diolah menjadi skenario film ala Hollywood. Cukup bagian Juruk Purutnya saja jika film di Indonesia. Membacanya kita akan teringat adegan dalam film-film Hollywood, dimana cerita dimulai dari peristiwa saat ini dan bergerak menuju kisah masa-masa lampau beserta kekejaman dan kejayaannya. Tak hanya di masa kerajaan, cerita juga terus mengarah ke masa awal modern hingga kecanggihan teknologi saat ini. Itulah sebabnya, draft novel ini tak kenal ruang dan waktu.

Daftar Isi.

1.       Nira

2.       Randu

3.       Arnan

4.       Mina

5.       Namaku Nira

6.       Kabar Dari Jakarta

7.       Kenangan

8.       Kau Kutunggu

9.       Pulang

10.   Ibu

11.   Guru

12.   Friedrich

13.   Perburuan

14.   The Circle

15.   Pengkhianatan

16.   The Great Cycle

17.   Illa

18.   The Memory Of Chamber

19.   Aziv

20.   Triga

21.   Mengingat

22.   Keluarga

23.   Di balik Pintu

24.   Kebenaran

25.   Maran

26.   Penantian

27.   Menantang Sang Pencipta

28.   Konsul

29.   Menghindar

30.   Di atas Roda

31.   Jalan

32.   Kesedihan

Biodata Penulis:

Nama: Imam Kurnia Raharja

Alamat: Blimbingsari, Terban

Tmp/Tgl lahir: Magelang, 3 Februari

Aktivitas: Aikido

Hobi: Baca

Kaya                 : Pernah nulis puisi, 2x dimuat www.poetry.com.

“Inspirasi nulis novel ini datang secara bertahap, karena banyak baca buku spiritual, plus sedikit pengalaman dari kegiatan2, jadilah hobi baca-baca tersebut jadi semacam riset yang membentuk ide buat novel ini, selain pengamatan mengenai betapa anehnya isi pikiran manusia modern.” – Imam Kurnia Raharja

Panduan Resensi

Oleh: Asep Dudinov AR

Resensi buku adalah salah satu jenis penulisan populer yang sering ditemukan di hampir setiap media massa: surat kabar harian maupun majalah yang diterbitkan mingguan.

Di koran pada umumnya, resensi buku hadir pada hari Minggu, walaupun sebagian ada yang memilih hari lain dan digabung dalam suplemen khusus. Sedangkan di majalah tentu saja di awal pekan, di setiap edisi baru muncul. Resensi sepertinya menjadi menu wajib dan sekaligus favorit yang mesti terhidang secara berkala.

Menjadi wajib karena salah satu fungsi media massa adalah menyebarkan gagasan dan ilmu pengetahuan yang diantaranya terdapat dalam buku buku baru. Dan menjadi favorit karena pada rubrik inilah incaran para penulis muda dalam mengasah keterampilan menulis sebelum terjun dalam penulisan opini yang dikenal lebih ketat dan selektif, bersaing dengan penulis senior dan juga para profesor.

Penulis penulis sohor yang kita kenal sekarang macam Goenawan Mohamad, Budi Darma, Eep Saefullah Fatah, Abdul Munir Mulkhan, Fachry Ali, (alm) Gus Dur, dan lain lain juga memulai awal karir kepenulisannya lewat menulis resensi buku di koran dan majalah.

Salah satu yang pernah saya baca adalah resensi Gus Dur terhadap buku Catatan Harian Ahmad Wahib, Pergolakan Pemikiran Islam. Judul resensinya sungguh mengugah untuk dibaca, Bak Tukang Batu Menghantam Tembok, dimuat di salah satu majalah nasional, puluhan tahun yang silam. Dan kita tahu bahwa di kemudian hari Gus Dur menjadi penulis kolom yang jempolan. Piawai merangkai kata dan kokoh dalam argumentasi, dengan struktur kata yang runut dan logis.

Jelas, bahwa menulis resensi buku bukan perkara gampang. tak bisa dianggap enteng dan remeh. Tak bisa digampang-gampangkan dan tak mesti jua dibuat sulit selagi mau belajar.

Dan tentu saja latihan menulis yang konsisten dan terus menerus, tak pernah putus asa karena sekali dua di tolak dan dikembalikan. Mengikuti ucapan Stephen King bahwa “Kalau engkau ingin menjadi penulis ada dua hal yang harus kau lakukan; banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal ini, dan tidak ada jalan pintas”.

Ya, tak ada jalan pintas agar mahir menulis selain membaca dan menulis itu sendiri, termasuk dalam meresensi buku. Menulis, menulis, dan menulis resensi buku adalah cara paling ampuh dalam mengambil gizi saripati buku yang terdapat di dalamnya.

Maka, buku yang berjudul mentereng ini, Berguru Pada Pesohor: Panduan Wajib Menulis Resensi Buku yang ditulis oleh duet penulis handal dari dbuku dan Indonesia Buku, Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan adalah semacam tips dan trik ketika hendak menulis resensi.

Boleh dikatakan sebagai buku how to meresensi. Mungkin seperti petunjuk A sampai Z-nya membuat resensi yang menarik dan menggugah untuk dibaca. Dimulai dari pemilihan judul yang eye catching dan membetot pembaca agar suntuk menelusuri paragraf pertama hingga mengunci kesimpulan pada kalimat terakhir.

Sejatinya, penulisan resensi tak hanya sarana promosi dan membaik baikkan sebuah buku belaka, melainkan juga menimbang buku secara kritis. Di tangan penulis resensi-lah nasib sebuah buku ditentukan, apakah melaju dengan tenang atau malah terbuka “borok borok” buku.

Ini penting bagi khalayak pembaca agar tak percuma ketika menukar rupiah dengan buku yang dibelinya. Dalam bahasa duo penulis buku ini, seorang resensor dituntut mempunyai mata berganda: mata seorang wisatawan yang memandang elok semua sudut dan sekaligus mata seorang penyidik yang awas ke setiap penjuru tempat.

Dengan lincah dan penulisan yang mengalir, kedua penulis buku ini memberikan alur yang mudah untuk diikuti dalam membuat sebuah resensi buku. Dimulai dari pemilihan buku yang akan diresensi, apakah lama atau baru, tergantung dari konteks tujuan penulisan. Koran dan majalah yang menuntut kebaruan tentunya memprioritaskan buku buku baru untuk halaman resensinya. Lain cerita jika kita membuat antologi resensi.

Membuat judul terlihat menarik memang penting, namun jika tak dibarengi dengan alinea pertama yang membikin penasaran orang untuk terus membaca akan menjadi sia sia. Di awal pembuka resensi inilah biasanya seorang resensor mesti memilah dan memilih paragraf yang menjadi “beranda” resensi. Apabila terlihat elok, tak segan akan menuntunnya hingga “halaman” belakang alias paragraf terakhir yang menjadi kunci dari resensi buku.

Apa yang menjadi kelebihan dari buku ini adalah Pertama, bahwa kedua penulis buku ini sudah malah melintang di dunia perbukuan. Menulis bermacam macam buku, dan tentu saja artikel resensi buku yang dimuat di pelbagai media massa, baik koran atau majalah. Jadi, integritas kedua penulis buku tentang panduan resensi buku tak perlu diragukan karena pada kenyataanya dunia resensi buku sudah mendarah daging dan pernah dilakoninya.

Kedua, bahwa buku ini dalam memberikan contoh penulisan resensi selalu mencomot resensi buku yang pernah dimuat di media massa, sehingga tulisannya menjadi gamblang dan penuh dengan contoh. Terkesan agak teknis, namun sesuai dengan judul bukunya, sebuah panduan menulis resensi buku. Kedua penulis ini amat piawai dalam menganalisa contoh contoh penulisan resensi di pagina koran dan halaman majalah.

Ketiga, di bab bab terakhir,  dua penulis ini memberikan bab “bonus” terkait dengan cara menerbitkan antologi resensi buku hingga cara mendapatkan ISBN seteknis teknisnya. Belum lagi penyertaan puluhan alamat media massa yang menyediakan ruangan resensi, lengkap dengan perkiraan honor yang akan didapat oleh seorang resensor jika tulisannya dimuat.

Tak dapat dipungkiri bahwa bahwa asupan ekonomis atas sebuah resensi tak bisa dielakkan karena menulis adalah sebuah kata kerja yang memang pantas untuk dihargai, setidak tidaknya diapresiasi.

Memang tak ada gading yang tak retak, termasuk buku ini. Buku yang secara substansial bagus ini mencatat kealpaan kealpaan teknis, entah salah ketik dari dua penulis sendiri atau salah cetak dari penerbit.

Di halaman 6 misalnya tertulis “amggota” mestinya “anggota”. “dlontarkan” harusnya “dilontarkan” (hal 26), “karya” tertulis “karja” (hal 38). Michael Pearson malah tertulis “Michael Person”, “berikut” tertulis “berokiu” di halaman 63. Mestinya Rommy Fibri ditulis “Tommy Fibri”, harusnya Toeti Kakiailatu malah tertulis “Toeiti Kakilatu” dan lain sebagainya.

Kesalahan juga terjadi pada inkonsistensi penulisan kata dan nama, “frase” di satu halaman, di halaman yang lain tertulis “frasa”,  “Merakesumba” dan “Merekesumba”, “Poeradisastra” dan “Puradisastra”, “Boejong Saleh” dan “Boejoeng Saleh”, “Abdurrachman Surjomihardjo” dan “Abdurrachman Soerjomihardjo”.

Dan yang cukup fatal adalah penyebutan nama judul buku karangan Gola Gong, yang mestinya Catatan Si Roy menjadi “Catatan Si Boy” (hal 76). Kalau tak salah, Catatan Si Boy adalah rekaan Zarra Zetira. Teknis memang, namun agak mengganggu terhadap kenyamanan membaca. Over all, buku ini layak baca dan direkomendasi menjadi pegangan calon resensor buku.

*) DIkutip dari blog https://posterous.com/, 25 Juli 2011

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan