-->

Arsip Resensi Toggle

Kabar Resensi Pekan Ketiga Nopember 2011

Pram MelawanPram Melawan!

Karya P Hasudungan Sirait, Rin Hidrayati P, dan Rheinhardt

Resensi ditulis Nezar Patria

Dimuat KOMPAS, 20 Nopember 2011

Buku ini menarik karena seperti menghidupkan kembali Pram dan pikirannya. Semangat dan sifat keras kepalanya terhadap kekuasaan yang menindas terasa dalam setiap topik percakapan. Dibagi dalam tujuh bab, Cerita I Sampai Cerita VII, beragam soal di kupas. Selain ihwal mistik dan seks, Pram juga bicara proses kreatifnya sebagai pengarang, tentang PKI, Lekra, Aceh, Papua, presiden, sastra, terorisme, sejarah, film dan sebagainya. Model Tanya jawab sengaja dipilih agar tak merusak gaya khas Pram yang berbicara dengan diksi dan alur yang khas.

Mimpi Sejuta Dolar

Karya Alberthiene Endah

Resensi ditulis Fitria Zulfah

Dimuat KORAN TEMPO, 20 September 2011

Buku yang ditulis Alberthiene Endah ini sungguh mengisahkan perjuangan yang inspiratif. Sebab, buku ini menuturkan kisah tentang seorang mahasiswi berkantong pas-pasan yang kemudian bisa meraih sukses di Singapura. Tak salah jika buku ini meniupkan spirit nyata bahwa usia muda tidak menjadi penghalang untuk meraih kesuksesan.

Cracking Zone

Karya Rhenald Kasali

Resensi ditulis Ahan Syahrul Arifin

Dimuat JAWA POS, 20 Nopember 2011

Buku ini memahamkan kita akan sebuah perubahan yang terjadi, memetakannya dengan teliti, lalu menarik kita bermetafosis menjadi aktor bagi perubahan itu sendiri. Berubah bentuk menjadi seorang cracker, yakni seorang yang mengubah wajah dunia. Dia bukan seorang pimpinan yang hanya melakukan transformasi. Tapi, dia bekerja lebih keras, cerdas, dan beresiko tinggi mengubah tradisi persaingan.

Muhammadiyah Abad Kedua

Karya Dr Haedar Nashir

Resensi ditulis Benni setiawan

Dimuat JAWA POS, 20 Nopember 2011

Untuk transformasi dibidang pemikiran, pendidikan, kesehatan, ekonomi serta usaha-usaha lain yang bersifat unggul dan terobosan, Muhammadiyah dituntut untuk terus berkiprah untuk lebih inovatif . Pembaruan gelombang kedua menjadi keniscayaan bagi Muhammadiyah dalam memasuki fase itu. Memasuki abad kedua, Muhammadiyah akan  sarat masalah dan tantangan. Tapi dengan prinsip dan orientasi gerakannya yang kukuh, Muhammadiyah sangat berpeluang untuk berhasil.

Rasa Cinta (dan Pikir Cinta)

Karya R Valentina Sagala

Resensi ditulis RR Masyithah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 20 Nopember 2011

Buku ini tidak sekadar menulis dengan kritis mengenai keadilan bagi perempuan. Namun buku ini juga memuat puisi karya penulis dan isi buku ditulis dalam dua bahasa: Indonesia dan Inggris. Buku ini merupakan pidato kebudaayan Valentina untuk Peringatan Hari Perempuan Internasional 2011.

Membongkar Kedok Iblis

Karya Jekoi Silitonga

Resensi ditulis Ronny SV

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 20 Nopember 2011

Buku ini mencoba memberikan Warning kepada manusia yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang paling luhur, agar waspada dan tak terlena pada bujukan dan tipu muslihat iblis. Lewat paparan dan gaya sederhana dan mengena, penulis buku ini, tak cuma bicara teori, namun juga dengan logika, dan pengalaman untuk membongkar modus operandi tipu daya setan.

Busyro Muqoddas: Penyuara Nurani Keadilan

Karya Elza Faiz dan Nur Agus Susanto

Resensi ditulis Subroto

Dimuat REPUBLIKA, 20 Nopember 2011

Buku ini menggambarkan siapa sebenarnya alumnus doktor Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta ini. Melalui buku ini, kita bisa melihat Busyro adalah orang yang teguh memegang amanah, menjalin silaturahim, mandiri, memiliki karakter berhati-hati, dan sangat benci terhadap berbagai bentuk ketidakadilan. Kepribadian yang dimiliki Busyro itu tidak datang begitu saja, tetapi didapat dari didikan orang tua yang menanamkan sikap hidup sederhana, ringan tangan, dan peduli terhadap sesama.

Nyanyian Penggali Kubur

Karya Gunawan Budi Susanto

Resensi ditulis Munawir Azis

Dimuat SUARA MERDEKA, 20 Nopember 2011

September 1965 merupakan momentum dimana Indonesia mengalami kesenyapan, sekaligus kepenatan. Kesenyapan yang memungkinkan ada jutaan suara dibungkam, ribuan nyawa dicabut, tubuh dibunuh, dan darah muncrat dalam kegelapan malam. Melalui buku ini, penulis hendak memanggungkan kisah-kisah sunyi itu dalam ruang public keindonesiaan kita yang bergerak dengan masa lalu, namun masih terbebani kegelapan sejarah.kisah-kisah gelap tentang tragedi September 1965 dan efeknya pada masyrakat pinggiran.

Aku Mendakwa Hamka Plagiat: Resensi Hernadi Tanzil

Oleh: Hernadi Tanzil

[No. 273]
Judul : Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964
Penulis : Muhidin M Dahlan
Penerbit : Scripta Manent & Merakesumba
Cetakan : I, Sept 2011
Tebal : 238 hlm

“Aku Mendakwa Hamka Plagiat!” , demikian judul resensi-essei yang ditulis oleh Abdullah SP di harian Bintang Timur “Lentera” 7 September 1962. Sebuah judul yang provokatif di jaman yang memang sedang bergolak di tahun 60an. Resensi yang ditulis oleh Abdullah SP itu menjadi salah satu resensi yang melegenda selama bertahun-tahun dan nyaris mengambil separuh halaman “Lentera “ Bintang Timur saat itu. Tidak hanya itu saja, resensi itu juga menjadi penyulut munculnya dugaan plagiarisme Hamka dan menjadi skandal sastra terbesar dalam sejarah Sastra Indonesia.

Siapa Hamka yang dimaksud Abdullah SP? Hamka adalah akronim dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah (1908-1981) atau yang lebih akrab disapa ‘Buya Hamka’ seorang sastrawan yang dikemudian hari lebih dikenal sebagai ulama besar di Indonesia dan pernah menjadi Menteri Agama dan ketua MUI di masa Orde Baru. Dalam resensi-essai nya itu Abdullah SP mengurai sekaligus membandingkan bagaimana novel best seller Hamka (dicetak sebanyak 80 rb eks) Tenggelamnya Kapal v.d Wijk (1938) memiliki banyak sekali kemiripan dengan novel Magdalena yang merupakan saduran penyair Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi (1876-1942) dari roman yang ditulis pengarang Prancis Alphonse Karr, Sous les Tilleuls

Resensi tersebut akhirnya memunculkan isu plagiarisme Hamka menjadi sebuah skandal sastra yang menjadi polemik hingga dua tahun lamanya (1962-1964). Kubu sastra Indonesia di saat itu terbelah menjadi dua, antara mereka yang mendukung pendapat Abdullah SP dan kubu yang membela Hamka yang dikomandoi oleh HB Jassin dan kawan-kawannya. Selain resensi tersebut salah satu sebab yang juga membuat isu ini menggulir menjadi sebuah skandal besar tentu saja peran harian Bintang Timur dalam lembar kebudayaan Lentera yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer yang dengan intens menyediakan kolom khusus berjudul “Varia Hamka” yang menampung semua pendapat pembaca untuk menanggapi isu ini.

Skandal plagiarisme Hamka yang terekam di lembar-lembar Bintang Timur/Lentera sudah sulit ditemukan, kalaupun masih ada mungkin sudah hampir lapuk dimakan usia dan tercecer di berbagai tempat. Skandal terbesar di dunia sastra ini hampir saja terkubur selama-selamanya dan hilang dari ingatan kita kalau saja buku Aku Mendakwa Hamka Plagiat – Skandal Sastra Indonesia 1962-1964 yang disusun oleh Muhidin M Dahlan, kerani Indonesia Buku ini terbit beberapa waktu yang lalu.

Kehadiran buku ini patut diapresiasi karena dengan ketekunan seorang kerani sejati, Muhidin rela membuka-buka lembar2 Bintang timur yang sudah menguning dan berbau apek untuk mendokumentasikan dan menyatukan kembali halaman-halaman lepas yang tersebar di Bintang Timur/Lentera antara 1962-1964 agar kembali diingat dan dibaca oleh generasi kini.

Secara terstrukur buku ini mencoba mengetengahkan kembali skandal plagiarisme Hamka ke hadapan pembacanya, dimulai dari sinopsis Tenggelamnya Kapal v.d Wijk, resensi-essei pertama dari Abdullah SP yang menyulut kehebohan dunia sastra di tahun 60an, kedudukan Hamka dalam peta sastra Indonesia, bukti-bukti plagiat Hamka, pendapat dan pembelaan HB Jassin terhadap Hamka, dan bab penutup yang mengaitkan isu plagiarisme Hamka dengan isu plagiarisme teraktual di dunia sastra Indonesia.

Dalam bahasan-bahasan di atas, hampir semuanya menarik untuk disimak, dalam buku ini terlihat jelas bagaimana isu yang dilemparkan Abdullah SP ini bukannya tanpa dasar atau sekedar asumsi kosong tanpa dasar, semua pendapat Abdullah SP disertai bukti-bukti dan perbandingan yang ketat dan ilmiah sehingga Abdullah SP kukuh pada pendiriannya bahwa Hamka adalah Plagiator!

Abdullah SP tidak hanya menurunkan resensi yang berbentuk narasi, melainkan juga menggunakan metode “idea-script” dan “idea-sketch” yang membandingkan dua roman itu dengan detail dalam beberapa bagian dalam bentuk tabel perbandingan. Yang menarik, di masa itu penggunaan metode ini baru pertama kalinya digunakan dalam sejarah Sastra Indonesia dalam mencari kemiripan antara novel Hamka dengan novel Al-Manfaluthi. Hal ini berarti dimulainya sebuah babak baru dalam sejarah sastra Indonesia.

Selain membeberkan analisa Abdullah SP dalam resensi-essai nya, buku ini juga mengutip pendapat para pembaca harian Bintang Timur/Lentera dalam kolom “Varia Hamka” yang memang disediakan oleh redaksinya untuk menampung semua pendapat pembaca dalam kasus Hamka termasuk tulisan-tulisan yang membela Hamka yang dibuat HB Jassin bersama teman-temannya.

Dalam salah satu pembelaannya HB Jassin mengusulkan agar novel Magdalena yang ditulis oleh Mustafa Lutfi Al-Manfaluthi dalam bahasa Arab itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia untuk mendapat perbandingang yang obyektif. Sesuai dengan saran HB Jassin, novel tersebut akhirnya diterjemahkan oleh AS. Alatas dan diterbitkan dengan judul Magdalena (Dibawah Naungan Pohon Tilita) pd tahun 1963. Sebenarnya setahun sebelumnya Magdalena diterjemahkan oleh A.S. Alatas , novel tersebut telah diterjemahkan oleh A.S. Patmaji dan dimuat secara bersambung di Bintang Timur. Bagian dari kedua versi terjemahannya ini (Jusuf Hamzah vs A.S alatas) juga disandingkan dalam buku ini.

Dengan diterbitkannya terjemahan Magdalena oleh AS. Alatas, HB Jassin menggunakan kesempatan ini untuk memberikan pembelaannya yang dimuat dalam kata pengantarnya sebagai berikut :

Pada Hamka ada pengaruh Al-Manfaluthi. Ada garis2 persamaan tema, plot dan buah pikiran, tapi jelas bahwa Hamka menimba dari sumber pengalaman hidup dan inspirasinya sendiri…. Maka adalah terelalu gegabah untuk menuduh Hamka plagiat seperti meneriaki tukang copet di senen (hal 147)

Menanggapi pendapat HB Jassin ini Abdullah SP dan kawan-kawannya menyebutkan bahwa itu semua adalah dalih yang dibuat-buat dan seluruh persyaratan definisi palgiarisme yang dikemukakan HB Jassin sendiri terungkap dalam karya Hamka. Lalu bagaimana pendapat Hamka sendiri? buku ini mengungkap bahwa Hamka bergeming dan memilih bungkam.

Singkatnya buku ini mencoba membeberkan beberapa point penting dari artikel-artikel yang pernah dimuat di harian Bintang Timur terkait kasus plagiarisme Hamka selama kurang lebih. Hal menarik yang terungkap dalam buku ini adalah sebuah fakta bahwa sebenarnya Bintang Timur telah menutup kasus Hamka ini tiga bulan setelah serangan bertubi-tubi yang ditujukan pada Hamka tepatnya pada 19 November 1962.

Dalam surat resmi redaksi Bintang Timur yang dimuat pada tgl 19 November 1962 itu terungkap bahwa redaksi menerima larangan dari Peperda (Penguasa Perang Daerah) agar persoalan Hamka tidak dimuat lagi di lembar kebudayaan Lentera/Bintang Timur. Namun kenyataannya kehebohan kasus Hamka ini tidak berhenti begitu saja melainkan terus membesar. Kasus plagiarisme Hamka ini baru benar-benar lenyap saat badai taufan G30 S ikut mengenggelamkan kehebohan dan skandal sastra di atas kapal Van der Wijk dan kapal Bintang Timur pada tahun 1965.

Satu hal yang membuat saya masih penasaran dengan buku ini adalah siapa sebenarnya Abdullah SP si pemicu isu plagiarisme Hamka, buku ini tak menjelaskan siapa sebenarnya Abdullah SP selain keterangan bahwa beliau adalah penulis kelahiran Cirebon (1924) dan mulai menulis sejak revolusi di majalah Republik – Cirebon.

Jika melihat metode perbandingan dan tulisan-tulisan Abdullah SP dalam buku ini sepertinya beliau bukan orang ‘sembarangan’. Ada yang menduga bahwa Abdullah SP adalah nama samaran Pramoedya AT. Sayang buku ini tak mengungkap siapa sebenarnya Abdullah SP, apakah memang penulis tak mengetahuinya atau memang sengaja untuk tidak diungkapkan? Tak ada keterangan sedikitpun akan hal ini dari penulisnya

Sebagai sebuah buku yang mengkronik kasus skandal sastra plagiarisme Hamka buku ini sangat bermanfaat bagi generasi kini yang mungkin sudah tak pernah mendengar lagi kasus ini. Sebelum buku ini terbit, hanya ada satu buku terkait yang ditulis oleh Junus Amir Hamzah dan HB Jasin berjudul Van der Wijk dalam Polemik terbitan Mega Book, Jakarta 1963. Sebenarnya Pramoedya AT dan Lentera saat itu juga sedang mempersiapkan naskah berjudul Hamka Plagiat , sayangnya naskah tersebut tak sempat diterbitkan menyusul tragedi G 30 S.

Dilihat dari karakteristik pembahasan buku ini bisa dikatakan buku ini menjiwai ‘roh’ dari apa yang pernah disusun oleh Pramoedya. Muhiddin M Dahlan dalam kata pengantarnya menulis demikian

Buku yang di tangan pembaca ini, boleh jadi menjadi pengantar untuk niat Pram dan kawan-kawan “Lentera” yang buru-buru sejarahnya disembelih oleh Gestok 1965 dan diantara mereka di-Buru-kan. (hal 12)

Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan

Buku ini dengan gagahnya ditutup dengan bab Plagiat, Keributan, Omong Kosong, dan Kehormatan yang mengungkap kasus-kasus plagiarisme di dunia sastra terbaru. Dalam bab ini dibahas kasus-kasus plagiarisme terkini dengan bahasan yang detail seperti kasus cerpen Perempuan Tua dalam Rasmohon karya Dadang Ari Murtono, kasus puisi Kerendahan Hati Taufik Ismail yang diduga sebagai karya jiplakan dari puisi Be the Best of Whatever You Are karya Douglas Malloch, hingga kasus plagiarisme terkini yang menimpa Seno Gumiro Ajidarma dalam cerpen “Dodolit Dodolibret” sebagai pemenang Cerpen Terbaik Kompas 2011 yang mirip dengan cerpen Tiga Pertapa karya Leo Tolstoy

Dari bab terakhir buku ini akan terlihat bahwa kasus plagiarism dalam sejarah sastra Indonesia tak ada yang sebegitu heboh dan seserius kasus plagiarisme Hamka. Kini kasus-kasus plagiarisme hanyalah heboh sesaat untuk selanjutnya mereda dengan cepat. Tak ada kelanjutan dan luruh dengan sendirinya.

Akhir kata belajar dari apa yang terekam dalam buku ini seperti kasus Hamka kasus plagiarisme sastra Indonesia tak pernah tuntas, hanya menimbulkan kegeraman dan polemik sesaat sebelum terkubur dan terlupakan dalam sejarah sastra kita.

Dari kasus demi kasus yang terjadi nyaris tak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Hukuman bagi orang yang disangkakan plagiator di bidang sastra nyaris tidak ada. Hingga kini tak ada kesepakatan yang jelas dari para sastrawan kita apa yang menjadi tolok ukur sebuah karya sastra masuk dalam kategori plagiat atau tidak. Orang yang pernah diisukan sebagai plagiator seperti Hamka, Chairil Anwar, atau sastrawan-sastrawan lainnya tetap bisa berkarya dan menjadi tokoh sastra yang disegani.

“Jangan-jangan soal plagiat, hanya penulis karya dan Tuhan yang tahu. Dan para pencurinya tetap pada kehormatannya. “ (hal 229)

Kabar Resensi Pekan Kedua Nopember 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Lampuki

Karya Arafat Nur

Resensi ditulis Damhuri Muhammad

Dimuat KOMPAS 13 Nopember 2011

Lampuki dirujuk dari nama sebuah kampung di wilayah pasai adalah realitas remuknya kepercayaan lantaran trauma perang dan iklim ketertindasan yang bagai tidak pernah khatam. Novel berkisah tentang remah-remah militansi seorang pemberontak bernama Ahmadi. Bila sedang aman, lelaki kekar berkumis tebal itu turun gunung, menyulut nyala gairah anak-anak muda Lampuki. Berjanji meluk perihal martabat dan kejayaan bangsa Aceh masa datang bila terbebas dari “penjajahan” orang-orang seberang. Mulut besar si Kumis Tebal itu berbusa-busa, meneriakan ajakan berperang di balai-balai pengajian, kedai-kedai kopi dan Pasar Simpang. Tidak banyak yang tergiur. Alih-alih mengamini, mereka malah sibuk mencari alibi. Sebagian besar malah rela membayar “pajak” ketimbang masuk keluar hutan bersama laskar pimpinan Ahmadi.

The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita?

Karya Nicholas Carr

Resensi ditulis Acep Muslim

Dimuat KORAN TEMPO, 13 Nopember 2011

Internet, lepas dari isi dan cara menggunakannya, sedikit-banyak memberi dampak tertentu bagi pemakainya. Penulis mengemukakan argumen neurologis tentang bagaimana Internet mempengaruhi otak dan cara bertindak manusia. Semua sirkuit saraf kita baik yang terlibat dalam rangsangan merasa, melihat, mendengar, bergerak, berpikir, belajar, memahami, maupun mengingat bisa berubah. Dari “Membaca Buku yang Tidak Selesai Hingga Pikiran yang Dangkal”, salah satu dampak nyata penggunaan Internet terhadap otak, menurut penulis adalah kian sulitnya otak pengguna Internet berkonstrentasi ketika membaca buku. Ia hanya mampu membaca beberapa halaman, kemudian merasa gelisah, dan mulai mencari-cari hal yang lebih menarik dalam buku itu. Atau bosan lalu berhenti membaca. Itu terjadi karena orang terbiasa menggunakan Internet biasa membaca teks-teks yang pendek dan gurih dengan banyak tautan (link) di sekitarnya.

Memoar Seorang Digulis

Karya Mohammad Bondan

Resensi ditulis Hudan Dardiri

Dimuat JAWA POS, 13 Nopember 2011

Dalam torehan tinta sejarah, nama Mohammad Bondan terukir sebagai salah seorang pahlawan bangsa yang turut merintis kemerdekaan Republik Indonesia. Gerakan nasionalismenya bermula ketika dia masuk sebagai anggota Perserikatan Nasional Indonesia (PNI). Perjuangan Bondan  melalui PNI tidak begitu signifikan karena pada 25 februari 1934 terjadi penangkapan besar-besaran yang menimpa semua anggota PNI. Bondan yang menjabat komisaris umum harus rela disekap di penjara bersama anggota lain. Tak hanya itu, perjuangan Bondan untuk membangun perekonomian bangsa diwujudkan pula dengan mengupayakan kemungkinan perdagangan antara Indonesia dan Australia.

Pendidikan Karakter di Sekolah

Karya Moh. Said

Resensi ditulis Amang Mawardi

Dimuat JAWA POS, 13 Nopember 2011

Kunci sukses keberhasilan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas karakter masyarakatnya, yang menyangkut sikap dan perilaku kondusif untuk bisa maju. Intinya keberhasilan suatu bangsa bergantung pada modal sosial, bukan oleh kayanya sumber daya alam, luasnya geografi, atau banyaknya jumlah penduduk semata. Negara yang mempunyai modal sosial yang tinggi, masyarakatnya mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Punya rasa kebersamaan yang tinggi, punya rasa saling percaya, baik vertikal maupun horizontal yang tinggi, dan rendahnya tingkat konflik. Oleh sebab itu, pendidikan karakter perlu diberikan sejak dini.

Agama-Agama Besar Masa Kini

Karya Su’fuat Mansyur

Resensi ditulis Tommy Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 13 Nopember 2011

Banyak agama dan aliran-aliran yang tentunya sangat menarik untuk kita telusuri lebih dalam. Mengapa agama dan aliran itu mudah lahir? Sebenarnya agama itu apa dan bagaimana sejarah agama itu bisa muncul. Buku berjudul “Agama-Agama Besar Masa Kini” menjelaskan seputar agama-agama besar masa kini dan juga sejarah lahirnya, kitab-kitabnya, ajaran-ajaran dari setiap agama yang ada. Buku yang terdiri dari tujuh bab ini cukup memberikan gambaran dan pencerahan bagi kita yang ingin mengetahui seluk-beluk seputar agama-agama masa kini.

Menundukan Media Masa

Karya Jamsari

Resensi ditulis  Sudaryanto SPd

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 13 Nopember 2011

Buku ini terbagi dalam 6 bab. Bab pertama diuraikan pengertian, artikel, jenis artikel jurnalistik dan bentuk artikel jurnalistik. Kemudian bab 2 yang menguraikan segi teknis penulisan opini, artikel serta penulisan keduanya. Sedangkan bab 3 dan 4 merupakan lanjutan dari bab sebelumnya yaitu tentang kiat menulis opini dan artikel di media masa. Buku ini menumbuhkan keinginan dan keberanian diri menulis di media masa.

The Constitutional Law of Indonesia: A Comprehensive Overview

Karya Jimly Asshiddiqie

Resensi ditulis  Lita Tyesta

Dimuat SUARA MERDEKA, 13 Nopember 2011

Pembahasan buku ini dimulai dengan pendefinisian dan duduksoal cakupan hukum tata negara dengan merujuk pada pendapat sejumlah pakar dari dalam maupun luar negeri. Selanjutnya diuraikan tentang perkembangan konstituti Negara Indonesia.

Busyro Muqoddas: Penyuara Nurani keadilan

Karya Elza Fariz dan Nur Agus Susanto

Resensi ditulis Igy

Dimuat TRIBUN JOGJA, 13 Nopember 2011

Buku berjudul Busyro Muqoddas: Penyuara Nurani keadilan ini mengisahkan perjalanan hidup Busyro serta pemikiran-pemikirannya, khususnya dalam penegakkan hukum di Indonesia. Rangkuman dari perjalanan hidup Busyro sejak usia remaja, menjadi fotografer lepas, Anggota Komisi Yudisial periode 2005-2010 hingga menduduki jabatan penting sebagai ketua KPK hingga saat ini. Diuraikan sistematis dalam buku ini. Buku ini juga berisi refleksi pengalaman-pengalaman pria kelahiran Yogyakarta  tersebut, sejak kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, lalu menjadi pengacara HAM beserta berbagai kasus yang pernah dihadapinya saat menjabat sebagai ketua KPK.

Sekaleng Pasir dan Cerita Dua Layang-layang | Mom | Rumah Cinta dari Wafer (Rendra Narendra)

Teks-teks monolog ini pertama kali didiskusikan dalam forum Obrolan Senja pada hari Sabtu, 12 November 2011, jam 16.00 – 18.00. di Angkringan buku, Yayasan Indonesia Buku, Jl. Patehan Wetan No 3 Alun-Alun Kidul, Keraton, Yogyakarta.

Peristiwa Monolog Rendra Narendra

Teks-teks monolog ini ditulis tidak hanya di depan komputer dengan meraba-meraba adegan, tetapi setelah diadakan latihan terlebih dahulu dan setiap dialognya direkam lalu ditulis ulang dan mengalami beberapa perubahan. “naskahnya akan selesai kalo selesai dipentaskan,” begitu aku penulisnya.

Dengan demikian kita bisa membayangkan bahwa teks-teks monolog ini akan selalu hidup di kepala penulisnya. Setiap menemukan hal baru, teks-teks ini akan berubah sebelum ia menemukan panggung yang tepat baginya.

Teks-teks monolog tersebut masing-masing berjudul Sekaleng Pasir dan Cerita Dua Layang-layang, Mom, dan Rumah Cinta dari Wafer.

Teks pertama dengan judul Sekaleng Pasir dan Cerita Dua Layang-layang membawa kita pada ambiguitas makna. Kalau saja penulis tidak memberikan judul “Cerita Dua Layang-layang”, kita akan cukup sulit memahami siapakah yang sebenarnya sedang berdialog itu.

Dialog-dialog yang dibangun menggunakan logika manusia, yang bahkan sulit untuk dipahami dalam sekali baca. Mula-mula kita akan mengira, bahwa yang sedang berdialog itu adalah dua laki-perempuan berpacaran yang ingin menghabiskan akhir pekan bersama.

Sementara di sisi lain, dialog kemudian diarahkan ke logika layang-layang di mana ia ingin diterbangkan menuju senja. Lalu kemudian kembali lagi pada lagika manusia yang menginginkan berciuman dan bercinta dengan kekasihnya. Kalau kita membayangkan layang-layang berciuman, salah satu di antara mereka kemudian akan putus dari benang yang mengikatnya. Apakah demikian yang diharapkan layang-layang itu?

Yang menarik di sini adalah hadirnya sistem waktu. Waktu menjadi batas bagi apa dan siapa saja. Dialog yang satu ingin menafikan waktu, sementara yang lain memberikan batasan bahwa kebersamaan mereka berakhir ketika senja. Tak ada yang bisa mengalahkan waktu, tapi paling tidak kita bisa menafikannya. Lalu saya membayangkan kehidupan penulis dengan kekasihnya, jam malam sungguh mengganggu!

Teks yang kedua tak jelas judulnya. Namun “Mom” mengawali pembicaraan teks. Maka kita beri saja dia judul Mom. Mom, mami, mama, atau ibu yang lebih akrab ditelinga kita. Melihat tipologi dan diksinya¸ kita akan diingatkan dengan bentuk puisi. Ya, yang berjudul Mom lebih mirip dengan puisi. Sama dengan teks pertama di atas, cukup sulit dipahami dalam sekali baca.

Kadang-kadang, kalimat-kalimatnya seperti teks samping yang menjelas adegan tetapi tidak memiliki pembedaaan dengan kalimat-kalimat yang harus didialogkan. Meski demikian, akhirnya terjelaskan juga pada paragraf-paragraf akhir.

Seorang anak membeli sebatang korek api dan menyalakannya di bawah selangkangan perempuan yang sudah cukup tua. Sekali beli ia tak puas lalu ia berkata kepada neneknya, “Vagina itu gelap ya, Nek. Aku takut!”

Si nenek lalu marah dan memukuli pantat anak itu dengan lidi yang diikat untuk mengusir lalat. Bukan jera yang menempel di benak anak itu, melainkan justru rasa penasaran. Ia kembali membeli sebatang korek dan ingin melihatnya lebih jelas. Kemudian ia berulang-ulang melakukannya.

Saat itulah, anak itu merasakan sensasi masokistik atau sadomasokisme.

Masokistik atau sadomasokisme saat ini tidak hanya dipandang sebagai suatu penyimpangan, melainkan dapat dilihat sebagai preferensi atau variasi seksual, gaya hidup, metode pencapaian puncak spiritualitas, pelepas ketegangan dan bahkan, tak mesti melibatkan elemen seksual.

Dalam konteks ini, masokisme adalah penyimpangan seksual di mana seseorang punya kebutuhan untuk mengalami (melibatkan tindakan nyata yang menyebabkan) rasa sakit fisik dan psikologis untuk memperoleh kepuasan seksual dan atau membangkitkan gairah seksual.

Ya. Pada kesempatan yang lain, anak itu kemudian menyadari bahwa yang ia lihat di antara selangkangan itu adalah jalan yang ia tempuh dalam mengenal dunia, jalannya sendiri. Vagina yang ia liat itu ternyata milik ibunya.

Teks ketiga, yang berjudul Rumah Cinta dari Wafer lebih fantastis, yang sebenarnya kisahnya biasa-biasanya. Pilihan diksi dan cara mengimajinasikan membuatnya lebih hidup dari kisah-kisah porno yang mudah kita jumpai saat ini.

Begitulah bercinta. Bagitulah laki-perempuan saling menikmati tubuh lawannya. Saya kurang mampu menuliskannya sebagaimana Rendra Narendra menuliskannya dengan begitu porno.

Tapi yang menarik dari teks ini adalah perlawanan terhadap kehendak Tuhan. Dalam setiap hal mungkin menjadi kehendak Tuhan, namun dalam hal bercinta, itu kehendak manusia. “Terima kasih tuhan, atas segala yang tak menjadi kehendakmu !!” begitulah Rendra menutup tulisannya.

Rendra Bagus Pamungkas. Lahir di Kediri, 21 Maret 1984. Alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Saat ini aktif sebagai aktor lepas, pekerja seni dan sedang menyenangi bermain musik hip hop.

Berguru pada Pesohor: Resensi Hernadi Tanzil

PesohorJudul : Berguru Pada Pesohor

Panduan Wajib Menulis Resensi Buku

Penulis : Diana AV. Sasa & Muhidin M Dahlan

Penerbit : 1# dbuku

Cetakan : I, April 2011

Tebal : 254 hlm

“Bagaimana sih menulis resensi buku itu?” Itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya semenjak saya menulis resensi di blog buku ini. Biasanya saya tidak memberikan jawaban berupa teori ini dan itu melainkan menjawabnya dengan, “Mulailah menulis sekarang juga, tak perlu harus begini begitu, bebaskan dirimu dari semua aturan dan teori, mulailah menulis semua yang ada dalam kepalamu ketika selesai membaca sebuah buku!”

Apakah semudah itu? Sebagai langkah awal saya rasa itulah resep yang paling mujarab untuk melenturkan otot-otot menulis kita, setelah otot-otot menulis kita lentur barulah kita belajar menulis resensi secara baik dan benar. Bagaimana caranya? Kini ada sebuah buku panduan untuk menulis resensi buku yaitu buku Berguru pada Pesohor – Panduan Wajib Menulis Resensi Buku karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan duo pegiat buku yang sebelumnya juga pernah sama-sama menulis buku Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku, (I:boekoe, 2009)

Ya, buku ini memang merupakan sebuah buku panduan bagi para resensor yang ingin meresensi secara baik karena resensi yang baik bukanlah semata menulis sinopsis atau berbagi kesan membaca saja, melainkan seperti yang dikatakan penulisnya resensi adalah sebuah ‘pengadilan’ atas sebuah buku.

Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, oleh karena itu penulis resensi dituntut untuk bermata ganda ; mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik (Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan)

Buku panduan menulis resensi ini mencoba memberi panduan pada pembacanya bagaimana cara menulis resensi buku mulai dari landasan teori pengertian resensi buku, model-model resensi buku, dan bagaimana memilih buku yang akan diresensi hingga langkah-langkah praktis berisi penjelasan dan contoh penulisan resensi mulai dari membuat judul, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, membuat paragraf penutup, dan sebagainya.

Dalam membahas bagian-bagian resensi tersebut terlihat penulis memberikan bobot yang sama pentingnya di semua bagian, mulai dari membuat judul hingga paragraf akhir. Saat membahas bagaimana menaklukkan paragraf pertama, penulis menekankan pentingnya paragraf pertama karena di bagian inilah kita mempertaruhkan mata dan hati pembaca, apakah akan melanjutkan membaca resensi kita atau tidak.

Setelah paragraf pertama dibuat kini bagaimana mengolah tubuh resensi yang merupakan jantung sebuah resensi . Di bagian ini diperlukan keluasan pengetahuan, kritisisme, dan kelihaian resensor dalam meresensi, selain itu kelancaran dan kefasihan peresensi dalam merangkai paragraf juga dipertaruhkan di bagian ini. Buku ini memperlihatkan bagian-bagian penting apa saja yang masuk dalam tubuh resensi seperti bahasan mengenai jenis buku, metode penulisan, tema, bagian vital buku, kisah yang menonjol, kritik, dsb.

Yang sama pentingnya dengan membuat paragraf awal dan mengolah tubuh resensi adalah bagaimana membuat paragraf akhir sebagai paragraf penutup dimana di bagian ini para resensor biasanya memberikan kesimpulan berupa kepada siapa buku yang diresensi tersebut ditujukan, kritik dan saran, atau pujian sebagai pengunci resensinya.

Kesemua bagian diatas disajikan secara terstruktur disertai contoh berupa resensi-resensi yang pernah ditulis dari para resensor mulai dari para penulis ternama di Indonesia mulai dari Tirto Adi Soerjo, Abdullah SP, Syahrir, hingga Goenawan Moehamad yang dikutip dari media cetak dari kurun waktu lebih dari 100 tahun! (1901-2010). Tak hanya media cetak, buku ini juga menyajikan contoh-contoh resensi yang bertebaran di blog-blog buku.

Setelah seluruh tahapan menulis resensi dibahas, buku ini juga memberikan tips-tips bagaimana mematangkan sebuah resensi seperti mengendapkan tulisan untuk dibaca ulang guna memeriksa tata bahasa, kesalahan ketik, hubungan antar paragraf, dll. Penulis juga menyarankan Jika resensi ditulis menggenakan computer maka sebaiknya dicetak diatas kertas dan dibaca ulang sekali lagi dengan mengeluarkan suara agar dapat diketahui kalimat-kalimat mana yang mungkin akan membuat pembaca tersendat saat membaca resensi kita.

Hal yang menarik yang mungkin tidak ada di buku-buku panduan menulis resensi adalah bagian yang mungkin menjadi akhir perjalanan dari semua resensi-resensi yang kita buat yaitu “Menerbitkan Antolologi Resensi Buku” dimana di bab ini penulis memberikan langkah-langkah praktis bagaimana jika resensi-resensi kita bisa dibukukan untuk diterbitkan.

Buku ini juga menyertakan daftar 40 media massa (Koran, majalah, radio, TV) yang menyediakan ruang resensi buku lengkap dengan alamat email, telepon, honor, deskripsi buku –buku tentang resensi buku, dan sebuah essai berjudul “Halaman Resensi buku di Internet” yang mengukuhkan keberadaan blog-blog buku sebagai generasi baru pembaca buku yang bersenang-senang dengan buku dengan menggosipkan dan menuliskan resensinya secara jujur dan apa adanya di blognya masing-masing. Di essainya ini penulis juga menyertakan alamat ink 50 blog buku dan website yang berisi resensi buku.

Setelah membaca habis buku ini saya berani mengambil kesimpulan bahwa hingga kini buku ini adalah buku panduan terbaik dan terlengkap untuk menulis resensi dibanding buku-buku sejenis yang pernah terbit. Contoh-contoh resensi yang diambil dari para resensor wahid dari berbagai media masa selama kurun waktu 100 tahun lebih membuat saya terkagum-kagum dengan ketekunan kedua penulis ini mengutip contoh-contoh resensi dalam buku ini

Melalui contoh-contoh yang beragam dalam rentang waktu yang demikian panjang ini kita akan menemukan resensi-resensi legendaris yang pernah dibuat antara lain “resensi pembunuh buku”di tahun 1977 yang membuat penulis buku yang diresensi ini meminta pada kepala proyek Pengadaan Buku P &K mencabut rekomendasi untuk bukunya. Lalu ada pula resensi yang menjadi polemik di dunia sastra Indonesia selama dua tahun (1960-1962), yaitu resensi-essai Abdullah SP yang membongkar skandal plagiarisme Hamka atas novel Tenggelamnya Vander Wijk, dll.

Sayangnya buku ini tak menampilkan resensi atas novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan di harian Media Indonesia pada tahun 2005 yang dijadikan acuan bagi sebuah ormas Islam untuk mensomasi penulis novel dan Pemred Media Indonesia untuk bertobat dan meminta maaf kepada publik serta menarik novel tersebut dari peredaran dan memusnahkannya untuk menebus dosa yang dilakukannya.

Tak ada gading yang tak retak, walau buku ini telah menjadi yang terbaik dari buku-buku sejenis, buku ini tidaklah sempurna karena bahasan dalam buku ini sedikit sekali menyinggung resensi buku-buku fiksi. Hampir semua bahasan dan contoh dalam buku ini adalah resensi buku-buku non fiksi padahal ada hal-hal khusus yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku fiksi. Andai saja ada buku ini menyertakan bab khusus yang membahas bagaimana meresensi buku-buku fiksi maka buku ini akan semakin kokoh posisinya sebagai buku panduan wajib menulis resensi buku.

Dan yang sangat disayangkan adalah status limited edition yang tertera di sampul depan buku ini sehingga buku ini tidak akan dapat kita temui di toko-toko buku umum, semoga ke depan buku ini bisa dicetak secara masal sehingga buku ini dapat dijangkau lebih luas lagi bagi para penulis-penulis resensi yang ingin membuat resensi-resensi mereka menjadi semakin baik dan berpengaruh pada dunia buku tanah air.

Terlepas dari itu saya member bintang 4 untuk buku ini, dan kini jika ada yang bertanya pada saya “Bagaimana cara menulis resensi?” , saya akan menjawab demikian,

”Tulislah semua kesan-kesan yang ada di kepalamu tentang buku yang telah kaubaca, lalu belajarlah menulis resensi yang baik dari buku Berguru Pada Pesohor”

@htanzil

Untuk memperoleh buku Berguru Pada Pesohor – Panduan Wajib Menulis Resensi Buku silahkan memesannya di sini

Kabar Resensi Pekan Kelima Oktober 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Menggali Bara, Menemu Bahasa; Bahasa Tansi, Bahasa Kreol Buruh dari Sawahlunto

Karya Elsa Putri E Syafril

Resensi ditulis Ricky A Manik

Dimuat KOMPAS, 30 Oktober 2011

Untuk melihat kemunculan bahasa pada masyarakat Sawahlunto Elsa Putri E Syafril mengangkat deskripsi tentang sejarah industri tambang batu bara diwilayah ini. Elsa mengatakan, sejarah masyarakat Sawahlunto dimulai sejak beropersinya Tambang Batubara Ombilin (TBO) dan arus migrasi orang-orang dari berbagai daerah ke Sumatra Barat.  Sejarah tentang masyarakat Sawahlunto menguatkan asumsi Elsa  tentang keberadaan sebuah bahasa yang tercipta dari suatu kondisi perburuan batubara yang membetuk struktur sosial. Golongan masyarakat ini memiliki kemampuan berbahasa yang saling berbeda.

Strategi Hideyoshi, Another Story of The Swordless Samurai

Karya Tim Clark dan Mark Cunnin gham

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat KORAN TEMPO, 30 Oktober 2011

Toyotomi Hideyoshi, mantan gelandangan yang berperawakan seperti monyet dan tidak pandai ilmu bela diri, ternyata dapat menjadi pemimpin tertinggi jepang yang legendaris. Sebagai seorang pemimpin, Hideyoshi selalu menyambut hangat dan ramah kepada setiap tamu yang datang, sekali pun ia petani paling miskin. Inilah kesadaran jiwa yang jarang dimiliki seorang  pemimpin. Banyak pemimpin enggan menyapa rakyatnya dan lupa akan janji-janjinya.

Aku Mendakwa Hamka Plagiat; Skandal Sastra Indonesia 1962-1964

Karya Muhidin M. Dahlan

Resensi ditulis M. Lubabun Ni’am ASShibbamal S

Dimuat JAWA POS, 30 Oktober 2011

Ini bukan skenario yang mengherankan. Sebab pada dasarnya, skandal plagiasi satu ini meski diselesaikan bukan oleh mahkamah sastra kita, tetapi oleh birokrasi dan rezim yang kemudian hari tak hanya menutup skandal ini, tapi juga panggung gerakan kiri Indonesia. Dan, Gus Muh menulis chronic sastra Indonesia ini secara chronicle sehingga plagiasi Hamka adalah satu persoalan lain, yang sekaligus menjadi konteks mengenai seteru idea sastra untuk sastra dan sastra untuk rakyat, adalah siapakah yang memulai pegang arit dan membabat habis roman berjudul Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.

Orang Kristen Naik Haji

Karya Augustus Ralli

Resensi ditulis N. Mursidi

Dimuat JAWA POS, 30 Oktober 2011

Berdasarkan catatan sejarah, sebagaimana diceritakan dalam buku ini, ada beberapa petualangan Kristen yang bergerak hatinya untuk pergi ke Tanah Suci dan menjalankan ritual haji. Ketertarikan mereka memang dipicu penyebab yang beragam. Pesona Tanah Suci seakan menjadi daya tarik tersendiri.

Mempertemukan Dua Hulu; Pelajaran Desentralisasi Fiskal dan Penanggulangan Kemiskinan dari Gunung Kidul

Karya Abdur Rozaki dkk

Resensi ditulis Hazwan Iskandar Jaya

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 30 Oktober 2011

Buku ini menunjukan bahwa asset Gunungkidul, baik secara natural (sumber daya alam), pemerintahan pengambil kebijakan (eksekutif dan legislative), secara modal sosial (guyub dan gotong royong) masyarakatnya merupakan sebuah keniscayaan untuk mengentaskan kemiskinan. Tinggal, bagaimana pemerintah, pusat dan daerah, secara instusional mampu memetakan potensi yang dimiliki, sehingga aliran anggaran itu tepat guna dan tepat sasaran.

Gurunya Manusia

Karya Munif Chatib

Resensi ditulis Ah sujai

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 30 Oktober 2011

Dalam buku ini, Munif Chatib lebih menekankan pada aspek potensi guru. Dengan kata lain, profesionalitas yang harus dimiliki guru, semangat belajar, memahami kondisi siswa, pengajaran yang menyenangkan, memandang setiap murid sebagai juara dan lainnya. Bagi munif, guru haruslah ditempati oleh orang yang benar-benar cerdas.

Dari Kampung ke Kampung

Karya Tim Suara Perempuan

Resensi Ditulis Susie Evidie Y

Dimuat REPUBLIKA, 30 Oktober 2011

Secara garis besarnya, buku ini mengungkap potret sesungguhnya kehidupan terkini masyarakat di Papua. Pembaca akan disuguhi tulisan menarik lengkap dengan foto-fotonya. Disitu tergambarkan bahwa pembangunan fisik Papua mengalami perubahan. Sekolah, puskesmas, pasar, rumah guru yang dibangun secara permanen. Namun banyak ditemukan sekolah, ada muridnya, tetapi tidak ada gurunya. Tidak sedikit pelajar usia SD, SMP, bahkan SMA yang belum bisa berhitung dan membaca. Sisi lain yang dikupas di buku ini mengenai kebiasaan, adat istiadat setempat, serta peristiwa menarik yang hanya terjadi di Papua.

Haji Backpacker 2; Rp 12 Juta Naik Haji

Karya H. Aguk Irawan MN

Resensi ditulis Satmoko Budi Santoso

Dimuat SUARA MERDEKA, 30 Oktober 2011

Buku Haji Backpacker 2; Rp 12 Juta Naik Haji penulis memberikan pemahaman bahwa naik haji tidak harus selalu mahal. Semahal yang saat ini sering dirasakan banyak orang. Sudut pandang dalam penulisan buku ini tidak hanya membidik ibadah formal hajinya saja. Ada penggambaran tempat-tempat tertentu yang cukup khas. Misalnya, Mathaf (museum Masjidil Haram), pasar, Laben Jamal (pemerasan susu unta) dan Pabrik Kiswah (tenun Kiswah Kabah). Meski terkesan ditulis dalam sudut pandang populer, namun buku ini tetap subtantif mengedepankan aspek ibadah sebagai tujuan utama.

Mimpi Sejuta Dolar

Karya Alberthiene Endah | Merry Riana

Resensi ditulis Tribun Jogja

Dimuat TRIBUN JOGJA, 30 Oktober 2011

Buku biografi tentang Merry Riana, secara lengkap menceritakan perjuangan seorang Merry Riana untuk tetap bertahan hidup sewaktu kuliah di NTU singapura. Tiap hari perutnya hanya diisi dengan mi instan dan roti tawar. Biaya kuliah dari dana pinjaman Universitas tetapi tidak bisa mencukupi biaya hidup paling dasar yaitu makan. Menjadi sales asuransi dan produk keuangan, mengantarkan Merry Riana menjadi seorang miliuner hingga membuka lembaga keuangan sendiri.

Kabar Resensi Pekan Keempat Oktober 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

The Filter Bubble; What The Internet Is Hiding From You

Karya Eli Pariser

Resensi ditulis Yudo Anggoro

Dimuat KOMPAS, 23 Oktober 2011

The filter bubble adalah sebuah sistem didunia maya yang menyaring informasi yang berdasarkan siapa kita dan apa yang kita sukai. Algoritma ini akan memberikan informasi yang personal bagi kita. Setiap orang akan mendapatkan informasi yang berbeda sesuai dengan minatnya masing-masing. Sistem ini tidak terlihat, tetapi semakin kita terilibat di dalamnya, akan semakin sulit bagi kita untuk keluar. Buku ini mengingatkan kita akan pentingnya hak mendapatkan informasi yang seimbang.

The Innovstor’s DNA

Karya Jeff Dyer, Hal Gergersen, Clayton M. Christensen

Resensi ditulis Yudo Anggoro

Dimuat KORAN TEMPO, 23 Oktober 2011

Kekuatan buku ini terletak pada riset kolaboratif selama delapan tahun yang melibatkan lebih dari 100 pemimpin perusahaan inovatif dunia untuk merumuskan apa itu DNA innovator. Hasil riset ini meraih posisi runner-up pada acara Harvard Business Review McKinsey Award 2009. Buku ini juga menyediakan beberapa alat ukur untuk mengukur DNA inovator, baik dalam level individu maupun korporasi.

Adonis; Gairah Membunuh Tuhan Cendekiawan Arab-Islam

Karya Zacky Khairul Umam

Resensi ditulis Munawir Aziz

Dimuat JAWA POS, 23 Oktober 2011

Revolusi arab yang terjadi dalam setahun terakhir merupakan bukti adanya kontestasi antara yang stagnan dan yang dinamis dalam struktur kebudayaan masyarakat Timur Tengah. Revolusi kebudayaan Arab itu dipelopori Adonis, penyair kelahiran Qassabin, pegunungan Alawiyyin, Syira, 1930. Adonis yang terlahir sebagai Ali ahmad Sa’id merupakan salah seorang penyair dan intelektual Arab modern yang termasyhur. Dalam buku ini penulis mendedah gagasan Ali Ahmad Sa’id. Penulis berusaha melacak genealogi sastra dan percik pemikran Adonis serta ide gerakan revolusi kebudayaan dunia Arab-Islam.

Rahasia Presentasi Steve Jobs; Bagaimana Tampil Luar Biasa Hebat di Depan Setiap Audiens

Karya Carmine Gallo

Resensi ditulis Erma Diah P

Dimuat JAWA POS, 23 Oktober 2011

Buku ini mengupas tuntas teknik presentasi yang menjadi kunci rahasia Steve Jobs. Gallo membagi buku ini dalam tiga babak. Disetiap babak disajikan sejumlah adegan atau bab. Ada 18 adegan yang masing-masing dijelaskan mendetail.  Babak pertama dalam buku ini memaparkan tahap praktis untuk menciptakan cerita yang menyenagkan. Lalu, babak kedua disampaikan bagaimana cara menciptakan pengalaman, dan babak terakhir adalah memoles diri dan melatih diri.

Membentangkan Ketakutan Jejak Berdarah Perang Global Melawan Terorisme

Karya Shofwan Al Banna

Resensi ditulis Sudaryanto SPd

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 23 Oktober 2011

Melalui bukunya ini, Syafwan berikhtiar menelusuri akibat-akibat dari berbagai kebijakan perang global melalui kebijakan perang global melawan terorisme di berbagai belahan dunia. Ia memotretnya dari lingkup dunia , kemudian menuju ke kawasan Asia Tenggara dan terakhir Indonesia.

Pengakuan-Pengakuan Syaikh Siti Jenar

Karya Argawi Kandito

Resensi ditulis Ali Nur Ichsan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 23 Oktober 2011

Buku ini  adalah salah satu buku yang juga ikut meramaikan kisah jejak kehidupan Syaikh Siti Jenar yang sampai saat ini masih menyisahkan tanda tanya. Secara garis besar buku ini berisikan pengakuan-pengakuan Syaikh Siti Jenar yang disajikan dengan gamblang.  Seperti yang tertulis di halaman 13. Penulis buku ini mengakui bahwa “Buku ini saya tulis berdasarkan kontak langsung antara saya dan Syaikh Siti Jenar di alamnya sekarang. Saya mengklasifikasi apapun yang dilakukannya selama hidup didunia. Beberapa informasi awal yang dipahami masyarakat saya jadikan kunci untuk melakukan klarifikasi. Hasil klarifikasi itulah saya tulis dalam buku ini”.

Menguak Fenomena Mati Suri

Karya F Arifah

Resensi ditulis Hendro sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 23 Oktober 2011

Mati suri merupakan sebuah misteri. Buku ini mencoba memaparkan perihal mati suri ditinjau dari berbagai segi. Pengalaman subjektif orang mati suri berbeda-beda ada yang merasakan ketenangan dan kedamaian, ada yang mengaku berada diterowongan dengan cahaya diujungnya dan bersua dengan roh lainnya. Buku yang mencoba menguak soal mati suri ini bisa memperkaya wawasan meskipun tetap saja sulit menjelaskan secara gamblang.

Sjafruddin Prawiranegara Pemimpin Bangsa

Penyunting Lukman Hakiem, Mohammad Noer

Resensi ditulis Subroto

Dimuat REPUBLIKA, 23 Oktober 2011

Buku ini membahas Sjafruddin dari berbagai tema, mulai dari Pemerintah Darurat Indonesia (PDRI), juga mengenai Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), otonomi daerah, ekonomi, hingga posisinya dalam bingkai sejarah Indonesia. Semua tokoh disini mengungkapkan pemikiran mereka terhadap sosok yang seharusnya dikenal sebagai presiden kedua Indonesia. Dalam semua tulisan di buku ini, semua membela Sjafruddin , bahkan tampak tak ada cela satu pun dalam diri Sjafruddin

Pluralisme Kewargaan; Arah Baru Polotik Keragaman di Indonesia

Karya Zainal Abidin Bagir, et.al

Resensi ditulis Munawir Aziz

Dimuat SUARA MERDEKA, 23 Oktober 2011

Buku ini menawarkan cara pandang alternatif terhadap realitas keragaman agama dan budaya Indonesia, serta kaitannya dengan kontestasi kuasa diruang publik. Penulis, dengan didasari riset yang mendalam atas topik pluralisme dan aplikasinya di negeri ini, mencoba menggali akar keragamaan agama, sebagai bagian penting dalam memaknai keindonesiaan. Buku ini pada intinya, menjadi analisis tanding (counter analys) atas realitas keragaman agama yang hanya ditafsirkan tunggal, yang sering dipakai untuk memaksakan kehendak dan kekerasan kepada kelompok lain.

Art of Stimulating Idea

Karya Bambang Trim

Resensi ditulis Bambang Trim

Dimuat TRIBUN JOGJA, 23 Oktober 2011

Dalam buku The Art of Stimulating Idea, dikupas tentang bagaimana menstimulus ide-ide penulisan. Ketika ide berseliweran sudah tertangkap segeralah menulis. Penulis mengungkapkan Anda adalah pemilik ide. Mungkin suatu saat ide Anda dihakimi orang lain dan dikatakan buruk atau tidak laku. Namun, hal ini masih asumsi segelintir orang yang belum tentu kebenarannya.

Kabar Resensi Pekan Ketiga Oktober 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Syukur Tiada Akhir: Jejak Langkah Jakob Oetama

Karya ST Sularto

Resensi ditulis Mochtar Pabottingi

Dimuat KOMPAS, 16 Oktober 2011

Syukur Tiada Akhir (STA) menampilkan tonggak-tonggak prestasi dan pergulatan pemikiran Jakob Oetama (JO) dalam tujuh bagian, yaitu mengenai tiga “titik balik” penting dalam hidupnya; peranjakannya dari “sang pemula” menjadi “sang pengibar bendera”; prinsip manajemennya dalam memimpin grup Kompas Gramedia; media digital sebagai keniscayaan; kegandrungannya pada gagasan-gagasan besar; obsesi-optimismenya akan kejayaan Indonesia ke depan; dan runduk syukur tulusnya atas segenap prestasi yang telah dianugrahkan oleh Allah padanya.

Toyota Culture, Jantung dan Jiwa Toyota WAY

Karya Jeffrey K. Liker dan Michael Hoseus

Resensi ditulis Dian Basuki

Dimuat KORAN TEMPO, 16 Oktober 2011

Dalam uraiannya yang sangat terperinci dan kaya, dalam buku kelimanya tentang Toyota ini Liker menguraikan hingga ke tinggkat praktis apa makna filosofi bahwa manusia adalah aset terpenting Toyota yang menentukan bangkit dan jatuhnya Toyota. Banyak manejer perusahaan tidak memahami bahwa Toyota berawal dari bisnis keluarga yang berakar pada etika komunitas pertanian kecil di suatu tempat di luar Tokyo. Budaya Toyota didasarkan pada “interaksi kepercayaan”, bukan “interaksi komoditas”.

Satu Tuhan Banyak Agama

Karya Media Zainul Bahri

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat JAWA POS, 16 Oktober 2011

Buku karya Media Zainul Bahri  hadir dan lahir dari konsep pluralisme secara filosofis yang telah didiskusikan oleh beberapa tokoh sufi abad ke-13. Substansi pembahasan buku ini adalah konsep wahdatul wujud (the unity of being). Tuhan, alam, dan manusia pada dasarnya satu, yang berpusat pada Tuhan sebagai wujud absolut, sementara alam dan semesta ada karena keberadaan Tuhan. Alam dan manusia merupakan lokus bagi tajali Tuhan untuk menunjukkan kebeseran-Nya. Konsep itu kemudian oleh Zainul dikaitkan dengan konsep diskursus pluralisme agama.

Krontjong Toegoe

Karya Victor Ganap

Resensi Erie Setiawan

Dimuat JAWA POS, 16 Oktober 2011

Penulis buku Krontjong Toegoe, yakin bahwa keronjong tulen Indonesia yang sama sekali berbeda dari musik-musik dari portugis. Bahkan, di Portugal (nama sekarang Portugis) tidak ditemukan musik keroncong  seperti yang kita kenal di Indonesia. Nama Krontjong Toegoe dalam Khazanah musik Indonesia telah memperoleh jati dirinya tersendiri sebagai jenis musik keroncong yang dilahirkan dari Komunitas Kampung Tugu. Kampung Tugu terletak di kawasan pantai utara Jakarta, sebelah timur wilayah Tanjung Priok yang sejak 1883 ditetapkan sebagai Bandar pelabuhan Kota Jakarta untuk menggantikan pelabuhan Sunda Kelapa atau Jayakarta.

Prinsip Kesehatan & Kedokteran Islam

Karya Titik Kuntari MPH, KH lip Wijayanto, Sikom Msi

Resensi ditulis M Nur Hartini

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 16 Oktober 2011

Seiring dengan semakin mahalnya biaya pengobatan masyarakat cenderung lebih memilih metode pengobatan alternative yang sayangnya mayoritas bertentangan dengan azas ilmiah dan konstruksi hukum Islam. Ilmu kedokteran di dalam proses perkembangannya sejak zaman Hipocrates, kemudian masuk ke masa penyempurnaan oleh ilmuan-ilmuan muslim seperti Ibnu Sina dan terus berlanjut hingga hari ini adalah disiplin ilmu yang ilmiah dan terukur.

Dasar-Dasar Praktikum Keberagamaan dalam Islam

Karya Prof Dr Muslim  A Kadir MA

Resensi ditulis Rohman Abdullah

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 16 Oktober 2011

Sikap menjunjung nilai perdamaian dan saling menghormati demikian yang menjadi pokok bahasan dalam berjudul “Dasar-Dasar Praktikum Keberagaman dalam Islam” Buku karya Prof Dr Muslim A Kadir MA ini, menguraikan kemajemukan yang dimiliki Indonesia. Namun, muslim lebih menekankan pada peran agama. Menurutnya, agama adalah sumber perdamaian.

Beternak dan Bisnis Domba

Karya Tim Penulis MT Farm Bagus Harianto

Resensi ditulis Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 16 Oktober 2011

Buku ini mengawali tentang hewan domba. Mungkin saja masih ada rancu, bahkan tertukar antara domba dan kambing. Sekilas mirip, tapi banyak perbedaan mendasar antar kedua binatang ini, mulai dari genetik, fisik, perilaku, hingga fakta-fakta yang membedakan antara domba kambing terpapar di buku ini. Selanjutnya, buku ini merinci persiapan awal yang harus dilakukan sebelum terjun beternak, mulai pemilihan lokasi terkait kontur tanah dam ketersediaan air bersih harus terjaga sepanjang tahun.

The Art of Drinking: Sejarah Minuman dan Keberminuman

Karya Sumirat Lohjati

Resensi ditulis Musyafak

Dimuat SUARA MERDEKA, 16 Oktober 2011

Buku the Art of Dringking ini cukup menarik dalam mendedahkan  perkara minuman dan keberminuman manusia. Mulanya manusia tidak meminum apapun kecuali air mineral yang didapatkannya dari alam. Mata air dan sungai menjadi sumber minuman yang tidak bisa di lepaskan dalam sejarah kehidupan manusia purba. Selera minuman manusia pun terbentuk seiring eksperimentasinya terhadap bahan-bahan alam yang dijadikannya minuman.

Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang

Karya Ishadi SK

Resensi ditulis Igy

Dimuat TRIBUN JOGJA, 16 Oktober 2011

Buku ini menyajikan sekelumit kisah Dahlan, sosok yang pernah melakukan cangkok hati, melalui testimony berbagai individu. Sebut saja rekan seprofesinya Sabam P Siagian (Jakarta Pos) hingga orang awam semacam Reza Narindra (mahasiswa Teknik ITB). Mereka seragam dalam memberikan testimony mengenai Dahlan. Sejak memimpin PLN, Dahlan membuat beberapa gebrakan, diantaranya “Bebas Byar Pet se-Indonesia” yang hanya di realisasikan dalam tempo enam bulan. Dahlan Iskan, manusia komunikasi yang telah sukses dalam industrialisasi media, termaksud di PLN. Bukti hasil kerjanya merupakan fakta yang bicara.

Kabar Resensi Pekan Kedua Oktober 2011

KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Who Wants To Be  A Smiling Investor

Karya Lukas Setia Atmaja & Thomdean

Resensi ditulis Garin Nugroho

Dimuat KOMPAS, 9 Oktober 2011

Buku kartun investasi ala Indonesia ini memeberikan pengetahuan  bagi pembaca, yakni konsep-konsep dasar, elaborasi, analisis, dan kiat-kiat. Sebutlah pertandingan pengetahuan sederhana antara konsumsi dan investasi, disertai contoh kehidupan sehari-hari  lokal Indonesia, sehingga efektif. Inilah metode berbagai pengetahuan yang diolah serius, ditampilkan secara nakal dan kocak. Lewat kecerdikannya, penulis mengolah bahasa gaul sebagai ruang pengetahuan yang menjadi daya pengetahuan dan daya hidup masyarakat.

Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya

Karya Sieling Go

Resensi ditulis Anwar Siswadi

Dimuat KORAN TEMPO, 9 Oktober 2011

Perjalanan panjang selama 21 hari dituangkan Ling dalam buku Nyanyian Angin di Celah Gemunung Himalaya, yang diluncurkan di Ballroom Eldorado, Bandung, 25 September 2011. Buku ini tak melulu berisi catatan perjalanan Ling yang emosional, tapi juga dilengkapi dengan deskripsi lokasi, harga dan jenis makanan, onkos charge baterai kamera, telepon satelit, kondisi lodge (penginapan rumah kayu) yang layak disinggahi, cerita masyarakat Nepal, buadaya, serta dokumentasi  flora dan fauna Pegunungan Himalaya.

Indonesia, Habis Gelap Terbitlah Terang (Kisah Inspiratif Dahlan Iskan)

Karya Ishadi S.K

Resensi ditulis Benni Setiawan

Dimuat JAWA POS, 9 Oktober 2011

Dahlan Iskan merupakan sosok fenomenal. Ditangannya, Jawa Pos menjadi raksasa bisnis Koran di Indonesia. Tidak kurang dari 190 koran lokal lahir ditangan dinginnya. Dia juga membidani lahirnya 34 televisi lokal, percetakan, bisnis listrik, dan perkebunan. Dahlan Iskan seorang wartawan jebolan pesantren, hanya butuh satu tahun untuk mengatasi masalah itu. Sehingga Dahlan yang menjabat direktur utama/CEO PLN tersebut pada 27 Oktober 2010, kemudian diulang lagi delapan bulan kemudian pada 17 Juni 2011, berani menantang lewat program  Gerakan Sehari Sejuta Sambungan (Grass). Buku ini tidak hanya mendedah keberhasilan Dahlan Iskan dalam menata dan memajukan PLN. Namun, buku ini juga menyajikan kesederhanaan dan semangat keberanian yang dimilikinya dalam memimpin. Memimpin ala jurnalistik yang mampu menyelesaikan persoalan listrik.

Ma’rifat di Padang Arafah

Karya Agus Mustofa

Resensi ditulis Nailunni’am Lc

Dimuat JAWA POS, 9 Oktober 2011

Dalam buku ini, Agus mencoba menyusun serpihan-serpihan hikmah yang berhamburan disekitar Padang Arafah. Dengan cerdas, dia menceritakan berbagai kisah para Nabi menyingkap hikmahnya, dan mendalami tiap cerita tentang Padang Arafah. Padang itu adalah padang tempat Rasulullah SAW memberikan wasiat umum terakhir kepada umatnya.

Orang Kristen Naik Haji

Karya Augustus Raili

Resensi ditulis Irawan Fuadi

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 9 Oktober 2011

Di buku inilah kisah ‘perjalanan berbahaya’ para orientalis pada abad ke-19. Buku yang dalam versi Bahasa Indonesia di beri judul Orang Kristen Naik Haji. Banyak tokoh orientalis direkam jejaknya dalam buku ini, salah satunya adalah Christian Snouck Hurgronje. Hurgronje menyamar dengan nama Abdul Gaffar yang dilahirkan di Brabanat bagian utara Belanda itu pengembaraan intelektualnya mengantarkan menyandang gelar Doktor debgan disertasi berjudul ‘Alasan-alasan Nabi Muhammad Mengadopsi Kebiasaan Pra-Islam dalam Ibadah Haji’. Tujuan perjalanan ini semata untuk objektivitas dan ilmu pengetahuan. Ia ingin mempelajari pengaruh Islam terhadap kehidupan sosial politik dalam masyrakat yang belum tersentuh oleh pengaruh peradaban Barat.

Etika Publik untuk Integritas Pejabat Publik dan Politisi

Karya Haryatmoko

Resensi ditulis Muhammad Muhlisin

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 9 Oktober 2011

Buku ini hadir dengan tujuan membantu memecahkan permasalahan pelik yang terjadi selama ini. Bukan untuk menambah perdebatan panjang atau permasalahan. Penulis buku ini menandaskan etika bukan hanya sebagai kode etik atau norma belaka. Melainkan sarana untuk mengoreksi diri dalam menjalankan tugas dan wewenang pejabat. Etika publik memiliki kontribusi dalam memperhatikan konsekuensi etis.

PHK Bukan Kiamat

Karya Djoko Sungkono Franz Dirgantoro

Resensi ditulis Susie Evidia Y

Dimuat REPUBLIKA, 9 Oktober 2011

Buku ini sebagai spirit mengajak bangkit kembali bagi siapa pun yang mengalami kehilangan pekerjaan. Stop mengeluh , hanya semakin menghabiskan waktu. Muliailah bangkit! Buku setebal 200 halaman ini diawali tips empat minggu menuju sukses pascapensiun. Selanjutnya dibutuhkan persiapan mental, baik bagi diri sendiri maupun keluarga sebelum mendapat pekerjaan baru. Penulis juga menampilkan pengalaman berharga para pensiunan dan korban PHK yang malah menjadi sukses.

Etika Publika untuk Integritas Pejabat Publik dan Politis

Karya Haryatmoko

Resensi ditulis Bernando J Sujibto

Dimuat SUARA MERDEKA, 9 Oktober 2011

Buku yang ditulis oleh Haryatmoko ini menjadi kitab wajib yang harus dipahami oleh semua pejabat publik Indonesia. Ia telah melakukan riset sangat istimewa. Fokus utama kajian etika publik yang ditulis Pak Moko adalah modalitas etika, yaitu bagaimana norma moral, yakni apa yang seharusnya dilakukan, dengan tindakan factual. Namun sayang Pak Moko dalam buku ini tidak memperjelas atau memberikan porsi pembahasan untuk menganalisis “sanksi” dalam konteks etika (pejabat) publik yang seringkali dilanggar.

Kabar Resensi Pekan Pertama Oktober 2011

candik ala KABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Kedaulatan Negara Versus Kedaulatan FIFA
Karya DR Hinca IP Pandjaitan XIII, SH MH ACCS
Resensi ditulis Wildani Hefni
Dimuat KOMPAS, 2 Oktober 2011

Penulis mengungkapkan bahwa FIFA adalah federasi internasioanal sepak bola yang  menguasai dan memiliki kedaulatan atas sepak bola. Namun, penyelenggaraan kompetisi sepak bola professional juga membutuhkan jaminan hukum dan keamanan dari negara yang dituangkan dalam mekanisme perizininan karena itu, sejatinya penyelenggaraan kompetisi dan ruang lingkup lainnya tak hanya dimiliki FIFA. Negara juga ikut andil. Meski semua kajian hukum sepak bola dibeberkan untuk membuktikan kekuasaan FIFA atas sepak bola internasional, namun buku ini justru “mengaburkan” kesahihannya sendiri.

Islam “Mahzab” Fadlullah
Karya Husein Ja’far al Hadar
Resensi ditulis Ahmad Taufik
Dimuat KORAN TEMPO, 2 Oktober 2011

Buku tentang Fadlullah ditulis pengamat masalah keislaman dan Politik Timur Tengah, Husein Ja’far. Namun, berkaitan dengan Yahudi, kaum yang dimusuhi banyak orang Islam secara salah, Fadlullah, ulama asal kota suci Najaf, Irak, justru menyarankan umat Islam berdamai dan menjalin persaudaraan dengan kalangan Yahudi Ortodoks di satu pihak, tapi memerangi kalangan Yahudi-Zionis di pihak lain. Fadlullah juga tak setuju atas gerakan jihad berbasis anarkisme yang diserukan oleh Taliban. Fadlullah menilai Taliban telah salah kaprah dalam menerapkan metode jihad dalam Islam.

Sendratari Mahakarya Borobudur
Karya Timbul Haryono dkk
Resensi ditulis Hendra Sugiantoro
Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 2 Oktober 2011

Diawali dengan pemaparan sejarah Candi Borobudur, buku ini memaparkan data dan fakta semenarik mungkin. Candi yang berlatarbelakang agama Buddha ini berdekatan dengan pertemuan dua sungai, yakni Sungai Elo dan Sungai Progo. Tema yang diangkat sebagai pijakan adalah sejarah dibangunnya Candi Borobudur di bawa kejayaan Maharaja Samaratungga. Alur ceritanya meliputi lima adegan : (1) kehidupan masyarakat  di bukit Menoreh, (2) Kebesaran Kerajaan Mataram Kuno, (3) Gotong Royong Masyarakat di bukit Menoreh, (4) Pembangunan Candi Borobudur, dan (5) berdoa.

Moral dan Etika Elit Politik
Karya Prof Dr Nanat Fatah Natsir
Resensi Ditulis Tommy Setiawan
Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 2 Oktober 2011

Melihat gambaran tingkah laku para elite politik, maka hadirnya buku ‘Moral dan Etika Elite Politik’ Karya Prof Dr Nanat Fatah Natsir ini sangatlah penting guna menyelesaikan problematika yang terjadi pada elite politik kita. Dengan Bangsa Indonesia yang sedang tertimpa krisis multidimensi dari berbagai aspek sehingga dalam hal ini rakyat mempertanyakan tentang kemampuan elite politik kita dalam menyelesaikan berbagai problem itu.

The Survivors Club
Karya Ben SherWood
Resensi ditulis Susie Evidie Y
Dimuat REPUBLIKA, 2 Oktober 2011

Buku ini sebagai kunci menuju rahasia-rahasia dari mereka dari mereka yang hidup dan yang tewas, serta menunjukan bagaimana manusia dapat meningkatkan kesempatan hidup dalam setiap jenis bahaya. Buku ini mengumbar taktik dan strategi  sebelum musibah itu datang. Di antaranya, Ben menceritakan sorang nenek dengan berat 65 kg yang dapat mengangkat mobil Chevy Impala seberat 1.500 kilogram dari atas tubuh putranya.

Candik Ala 1965
Karya Tinuk R Yampolsky
Resesnsi ditulis Bandung Mawardi
Dimuat SUARA MERDEKA, 2 Oktober 2011

Cerita bergerak pada tokoh Nik, perempuan dari keluarga sederhana, tapi rentan dengan kisruh politik 1965. Nik mengisahkan diri saat usia 7 tahun, memberi kesaksian atau keruwetan  politik panas disebuah kampung di Solo. Kota tak tenang, curuga berseliweran, darah mengucur, dan luka-derita menghinggapi. Solo berubah, kota jadi ruang seteru, ketakutan dan kematian. Kesaksian ala bocah ini memeberika deskripsi naif: politik panas 1965 tak meski sesak bahasa-bahasa politis dan sarkastik. Pemakaian judul Cerdik Ala 1965 cukup memeberi pikat atas kemauan cerita, pergolakan dari tokoh dan kota.

Long Live My Family: Komik Biografi Endank Soekamti
Karya Tony Trax
Resensi ditulis Igy
Dimuat  TRIBUN JOGJA, 2 Oktober 2011

Dalam buku ini menorehkan kisah kesuksesan Endank Soekamti yang mendapatkan banyak penggemar fanatic yang tersebar diseluruh wilayah, termaksud Mesir.Komik besutan Tony Trax ini dibalut dalam dalam atmosfir kocak. Namun, jangan harap melihat sajian runtutan gambar bak komik ini. Justru yang akan ditemui adalah balon-balon serta teks dan celetukan-celetukan konyol yang memenuhi setiap lembarnya.

candik alaKABAR BUKU Edisi Khusus RESENSI yang disiarkan RADIO BUKU bekerjasama dengan portal berita indonesiabuku.com. Kabar sepekan resensi buku di sejumlah media di Indonesia. Disusun oleh Aya Hidayah dan dibacakan Ardyan Erlangga.

Kedaulatan Negara Versus Kedaulatan FIFA

Karya DR Hinca IP Pandjaitan XIII, SH MH ACCS

Resensi ditulis Wildani Hefni

Dimuat KOMPAS, 2 Oktober 2011

Penulis mengungkapkan bahwa FIFA adalah federasi internasioanal sepak bola yang  menguasai dan memiliki kedaulatan atas sepak bola. Namun, penyelenggaraan kompetisi sepak bola professional juga membutuhkan jaminan hukum dan keamanan dari negara yang dituangkan dalam mekanisme perizininan karena itu, sejatinya penyelenggaraan kompetisi dan ruang lingkup lainnya tak hanya dimiliki FIFA. Negara juga ikut andil. Meski semua kajian hukum sepak bola dibeberkan untuk membuktikan kekuasaan FIFA atas sepak bola internasional, namun buku ini justru “mengaburkan” kesahihannya sendiri.

Islam “Mahzab” Fadlullah

Karya Husein Ja’far al Hadar

Resensi ditulis Ahmad Taufik

Dimuat KORAN TEMPO, 2 Oktober 2011

Buku tentang Fadlullah ditulis pengamat masalah keislaman dan Politik Timur Tengah, Husein Ja’far. Namun, berkaitan dengan Yahudi, kaum yang dimusuhi banyak orang Islam secara salah, Fadlullah, ulama asal kota suci Najaf, Irak, justru menyarankan umat Islam berdamai dan menjalin persaudaraan dengan kalangan Yahudi Ortodoks di satu pihak, tapi memerangi kalangan Yahudi-Zionis di pihak lain. Fadlullah juga tak setuju atas gerakan jihad berbasis anarkisme yang diserukan oleh Taliban. Fadlullah menilai Taliban telah salah kaprah dalam menerapkan metode jihad dalam Islam.

Sendratari Mahakarya Borobudur

Karya Timbul Haryono dkk

Resensi ditulis Hendra Sugiantoro

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 2 Oktober 2011

Diawali dengan pemaparan sejarah Candi Borobudur, buku ini memaparkan data dan fakta semenarik mungkin. Candi yang berlatarbelakang agama Buddha ini berdekatan dengan pertemuan dua sungai, yakni Sungai Elo dan Sungai Progo. Tema yang diangkat sebagai pijakan adalah sejarah dibangunnya Candi Borobudur di bawa kejayaan Maharaja Samaratungga. Alur ceritanya meliputi lima adegan : (1) kehidupan masyarakat  di bukit Menoreh, (2) Kebesaran Kerajaan Mataram Kuno, (3) Gotong Royong Masyarakat di bukit Menoreh, (4) Pembangunan Candi Borobudur, dan (5) berdoa.

Moral dan Etika Elit Politik

Karya Prof Dr Nanat Fatah Natsir

Resensi Ditulis Tommy Setiawan

Dimuat KEDAULATAN RAKYAT, 2 Oktober 2011

Melihat gambaran tingkah laku para elite politik, maka hadirnya buku ‘Moral dan Etika Elite Politik’ Karya Prof Dr Nanat Fatah Natsir ini sangatlah penting guna menyelesaikan problematika yang terjadi pada elite politik kita. Dengan Bangsa Indonesia yang sedang tertimpa krisis multidimensi dari berbagai aspek sehingga dalam hal ini rakyat mempertanyakan tentang kemampuan elite politik kita dalam menyelesaikan berbagai problem itu.

The Survivors Club

Karya Ben SherWood

Resensi ditulis Susie Evidie Y

Dimuat REPUBLIKA, 2 Oktober 2011

Buku ini sebagai kunci menuju rahasia-rahasia dari mereka dari mereka yang hidup dan yang tewas, serta menunjukan bagaimana manusia dapat meningkatkan kesempatan hidup dalam setiap jenis bahaya. Buku ini mengumbar taktik dan strategi  sebelum musibah itu datang. Di antaranya, Ben menceritakan sorang nenek dengan berat 65 kg yang dapat mengangkat mobil Chevy Impala seberat 1.500 kilogram dari atas tubuh putranya.

Candik Ala 1965

Karya Tinuk R Yampolsky

Resesnsi ditulis Bandung Mawardi

Dimuat SUARA MERDEKA, 2 Oktober 2011

Cerita bergerak pada tokoh Nik, perempuan dari keluarga sederhana, tapi rentan dengan kisruh politik 1965. Nik mengisahkan diri saat usia 7 tahun, memberi kesaksian atau keruwetan  politik panas disebuah kampung di Solo. Kota tak tenang, curuga berseliweran, darah mengucur, dan luka-derita menghinggapi. Solo berubah, kota jadi ruang seteru, ketakutan dan kematian. Kesaksian ala bocah ini memeberika deskripsi naif: politik panas 1965 tak meski sesak bahasa-bahasa politis dan sarkastik. Pemakaian judul Cerdik Ala 1965 cukup memeberi pikat atas kemauan cerita, pergolakan dari tokoh dan kota.

Long Live My Family: Komik Biografi Endank Soekamti

Karya Tony Trax

Resensi ditulis Igy

Dimuat  TRIBUN JOGJA, 2 Oktober 2011

Dalam buku ini menorehkan kisah kesuksesan Endank Soekamti yang mendapatkan banyak penggemar fanatic yang tersebar diseluruh wilayah, termaksud Mesir.Komik besutan Tony Trax ini dibalut dalam dalam atmosfir kocak. Namun, jangan harap melihat sajian runtutan gambar bak komik ini. Justru yang akan ditemui adalah balon-balon serta teks dan celetukan-celetukan konyol yang memenuhi setiap lembarnya.

Warung Arsip Perpustakaan

Tampilkan
Sembunyikan